Skip to main content

Eka-citta Edisi XLV/45 (2017)

Page 1

EDISI XLV/OKTOBER/2017

Vegetarian

Meditasi

Dalai Lama

PIKIRAN Pilar dari Realitas


graduates

1. Monica, S.E. Ilmu Ekonomi

2. Shawn Kelvin, S.Farm. Farmasi

3. Devina, S.H. Ilmu Hukum

4. Alfrin, S.IP. Hubungan Internasional

5. Leow Jie Gui, S.KG. Kedokteran Gigi

6. Lardawan S., S.KG. Kedokteran Gigi

7. Tan Yun Ru, S.KH. Kedokteran Hewan

8. Choong Choi Yan, S.KH. Kedokteran Hewan

9. Winoto Angkasa, S.KH. Kedokteran Hewan

10. Kevin Thomas, S.Si. Kimia

11. Jeffry, S.T. Teknik Industri

12. Wisely Taman, S.T. Teknik Sipil

13. Ariď€ n Ardianto, S.TP. TPB

14. Dwi Reinaldy Gunawan, S.T. Teknik Kimia

15. Shinta Yuwono, S.TP. TPHP


Salam Redaksi Namo Buddhaya, Dunia modern yang berkembang dengan sangat pesat sekarang menimbulkan pertanyaan tentang posisi agama-agama di dunia terhadap banyak hal yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Pada umumnya, agama Buddha dalam pandangan umat awam adalah sebuah agama yang sudah kuno, suasana kuil dengan asap yang mengepul dan lantunan doa-doa dalam bahasa kuno yang memperparah kesan terhadap agama Buddha. Agama Buddha seolaholah adalah agama yang sudah jauh dari konteks modern dewasa ini. Dalam Eka-citta edisi XLV ini, kami membawakan tema “Pikiran� di mana agama Buddha mempunyai spesialisasi dalam hal ilmu pikiran dan itu banyak digunakan sebagai pelajaran psikologi timur di banyak universitas di dunia. Ini menunjukkan bahwa di masa sekarang maupun masa mendatang, agama Buddha masih akan tetap relevan. Kebahagiaan yang merupakan tujuan nomor satu semua makhluk hidup menunjukkan bahwa ajaran Sang Buddha untuk melenyapkan penderitaan adalah sebuah ajaran yang akan tetap bermanfaat bahkan di masa mendatang. Selama 45 tahun kehidupan sebagai seorang Buddha, Buddha Gautama terus menerus menyebarkan Dhamma yang telah Beliau temukan dan semuanya tergantung pada kita apakah kita melaksanakannya atau tidak. Harapan kami, pembaca menjadi semakin termotivasi untuk mendalami ajaran Buddha dan ilmu sains modern serta bersemangat untuk melaksanakan pengembangan batin (citta-bhavana). Semoga Tiratana selalu melindungi.

Mettacitena, Redaksi

PIKIRAN

1


Daftar Isi Salam Redaksi Daftar Isi Cover Issue info: apakah orang buddhis vegetarian? Dalai lama review: bakti sosial Kamadhis ugm galeri dies natalis kamadhis ugm ke-27 Review: Dhammasanti Trisuci Waisak 2561 B.E. Kamadhis UGM 2017 info: all about meditation Dhammapada Atthakatha wawacara resensi pojok kampus kontak dhamma PonoKamad

Pelindung Pembina

1 2 3 10 14 17 20 23 26 29 31 33 35 38 40

: Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng : Dr. Dr. Ir. Effendie Tanumihardja, S.U., MM Dr. Endang Soelistiyowati, S.Pd., M.Pd Penanggung Jawab : Sukhemadewi Pimpinan Umum : Joanna Gautami Djuasa Redaksi : Hery Ciaputra; Laura Haryo; Novie Chiuman; Ricky Setiawan Penyunting dan Tata letak : Michael Tanoto; Cindy Pricillia; Faustine Kachina; Sherly Shenjaya; Vicken Iklan dan Pemasaran : Tiandi Widayat; Juson; Marcel Wirabrata Kami dari tim Eka-citta memohon maaf atas segala kesalahan dalam penulisan maupun informasi pada Eka-citta. Kami menerima kritik dan saran yang dapat disampaikan via email: ec.kamadhisugm@gmail.com

2

PIKIRAN


Cover Issue Pikiran: Pilar dari Realitas oleh: Hery Ciaputra Agama Buddha mempunyai peranan besar dalam bidang psikologi. Dikatakan bahwa agama Buddha adalah sains mengenai pikiran. Buddha, jauh sebelum Aquinas atau Heisenberg, menekankan ke u n g g u l a n p i k i ra n d a l a m persepsi dan bahkan dalam “penciptaan” realitas. Salah satu konsep sentral dalam Buddhisme adalah gagasan tentang “segala sesuatu diciptakan oleh pikiran”. Perbedaan apa pun antara subjek dan objek adalah khayal dan dipilah-pilah oleh kesadaran ya n g d i s k r i m i n a t i f. D a l a m Avata m s a ka S u t ra b a b 2 0 , Buddha menggunakan sebuah metafora: “Pikiran adalah seperti seorang seniman Yang melukis seluruh dunia … Bila seseorang mengetahui cara kerja pikiran Sebagaimana ia secara universal menciptakan dunia Orang ini lalu melihat Buddha Dan memahami sifat dasar Buddha yang sejati dan aktual.”

Sumber: http://www.hermespress.com/psychic2x.jpg

Dunia di sekitar kita yang kaya akan tekstur berbeda hanyalah ilusi yang dikonstruksi di dalam kepala kita. Dunia yang sebenarnya tidak memiliki bau, rasa, suara, maupun warna. Jika kita dapat merasakan dunia sebagaimana adanya, kita tidak akan mengenalinya sama sekali. Indra-indra kita menerima informasi seperti cahaya, suara, bau yang mendukung pemikiran bahwa realitas ada di luar sana. Kenyataannya, persepsi dan realitas tidak banyak berhubungan dengan yang ada di luar tetapi lebih kepada yang terjadi di dalam pikiran kita. Kita sering berpikir bahwa kita sedang melakukan observasi terhadap alam, tetapi

PIKIRAN

3


sebenarnya pikiran kita sendirilah yang sedang diobservasi. Kita adalah subjek dan objek dari metodologi kita sendiri. Lagi pula, pikiran ini melingkupi keseluruhan alam semesta; tidak ada dunia yang berada di luar pikiran dan tidak ada apa pun yang tidak d i k a n d u n g d a l a m p i k i ra n , menurut Buddha. Di dalam kitab Abhidhamma dan kitab aliran Yo g a c a r a s e p e r t i Samdhinirmocana Sutra, dijelaskan secara rinci mengenai berbagai macam kondisi pikiran dan kategori kesadaran. Tidaklah mengherankan bila banyak neuroscientist dan psychotherapist terkemuka di dunia menjadi pelopor dalam mempelajari agama Buddha sebagai objek studi seperti terapi u n t u k g a n g g u a n t i d u r, penyembuhan terhadap pemikiran dan bentuk-bentuk m enta l ya n g n egat if, pemahaman terhadap proses terjadinya mimpi, tidur, dan proses kematian. Pikiran adalah Pelopor dan Pencipta Fenomena Menurut salah satu aliran pemikiran Buddhisme yaitu

4

PIKIRAN

aliran Yogacara (Cittamatra), dunia ini adalah manifestasi dari pikiran kita. Dunia dan alam semesta yang kita amati ini sesungguhnya merupakan proyeksi tiga dimensi dari pikiran kita sendiri. Fenomena yang kita persepsikan sebagai realitas bukanlah realitas absolut karena masing-masing individu memproyeksikan pemikirannya sehingga tidak ada realitas tunggal yang berlaku untuk semua orang. Individu telah mendistorsi realitas tersebut dengan kacamata berwarnanya masing-masing yang diciptakan dari benih energi karma individu pada kehidupan-kehidupan sebelumnya. Hal ini dibahas oleh Michael Talbot dalam bukunya Holographic Universe dan B. Alan Wallace dalam dua bukunya yang b e r j u d u l T h e Ta b o o o f Subjectivity dan Choosing Reality. Talbot mengumpamakan alam semesta tidak lebih nyata daripada sebuah hologram yang merupakan suatu objek tiga dimensi yang diproyeksikan ke dalam ruang (space) pikiran kita. Talbot, dalam bukunya berjudul Mysticism and The New Physics, mengungkapkan “Kesadaran manusia mempengaruhi


realitas.” Psikoterapi dan Neurosains (Ilmu Saraf) Dr. Carl G. Jung, seorang pendiri Psikologi Analitik dan pelopor Psikologi Modern, telah menunjukkan bahwa psikologi analitik sangat dekat persamaannya dengan metode Buddhisme yang esensinya terkait dengan masalah asal mulanya penderitaan, metode dalam mengatasinya, kategori mental states, dan pemahaman mendalam mengenai kesadaran (consciousness).

Sumber: http://markepsteinmd.com/?page_id=2(google)

Mark Epstein, dalam bukunya berjudul Thoughts Without a Thinker, berusaha menggabungkan ilmu kejiwaan barat dengan ajaran Buddha. Dalam bukunya, disebutkan bahwa ingatan-ingatan yang hilang, emosi yang menyakitkan, khayalan, dan nafsu untuk menghancurkan dapat

ditemukan akarnya pada ajaran Buddha. Dengan ditemukan akarnya, maka ajaran Buddha menawarkan suatu penyembuhan bagi seseorang yang mengalami gang guan kejiwaan. Contoh aplikasi nyata atas hal tersebut adalah dengan dimasukkannya metode meditasi relaksasi dan penanaman p e m i k i ra n p o s i t i f p a d a 1 2 langkah pengobatan depresi mental yang telah terbukti b e r h a s i l . Pa d a ra n g ku m a n pembuktian keberhasilannya, meditasi relaksasi disebut sebagai strategi kognitif, yang kemudian didefinisikan sebagai “metode belajar untuk meningkatkan pikiran positif dan menurunkan pikiran negatif untuk mengenali pikiran irasional dan mengubahnya, serta untuk menggunakan pelatihan diri guna menangani situasi bermasalah”. Hal ini amat dekat kaitannya dengan agama Buddha apabila kita mengingat bahwa salah satu petikan dari Abhidhamma yaitu “pikiran adalah pelopor”. Dalam strategi kognitif, sama seperti halnya dalam agama Buddha, kita

PIKIRAN

5


d i a j a r k a n u n t u k mengembangkan pikiran positif te r h a d a p l i n g ku n ga n k i ta , membuang segenap pikiran negatif, serta mengenali pikiran irasional yang oleh Sang Buddha disebut sebagai khayalan atau delusi pikiran dan mentransformasikannya menjadi pikiran yang mengarah ke kebajikan (kusala-citta). Dengan mengenali dan mewaspadai segenap pikiran, maka kita akan dapat mengendalikan diri dengan lebih baik serta dapat menangani masalah dengan lebih baik pula. Salah satu metode pengenalan akar dari pikiran negatif yang di praktikkan dalam Buddhisme yaitu meditasi penembusan (vipassana). S e b a ga i co nto h d a r i pikiran negatif adalah perasaan marah. Setelah kita mengenali perasaan marah dengan meditasi penembusan, maka kekuatan dari emosi kemarahan akan berkurang sampai suatu saat a ka n h i l a n g . S e m a k i n k i ta mengenali suatu pikiran negatif, semakin sulit bagi pikiran negatif itu untuk berkembang dan m e l u m p u h ka n p i k i ra n k i ta menjadi kacau. Jadi menurut

6

PIKIRAN

psikoterapi versi Buddhisme, kita harus berani menghadapi musuh dan berusaha mengenalinya sehingga suatu hari musuh tersebut menjadi teman baik kita. Kita tidak boleh lari dari musuh (pikiran negatif), karena suatu hari musuh tersebut pasti akan menyergap kita pada saat kita lengah. Sebaiknya kita mengenali musuh kita dan setelah mengenalinya, kita ke m u d i a n m e n ga n g ga p nya sebagai saudara sehingga musuh akan menurunkan senjatanya dan akhirnya menjadi “jinak�. Daniel Goleman, dalam bukunya berjudul Destructive Emotions menceritakan dialog yang berlangsung antara Dalai Lama dan para pakar psikolog barat. Salah satu tema dari buku tersebut membahas cara-cara dalam mengatasi keadaankeadaan emosi yang bersifat destruktif seperti kemarahan, kecemburuan, dan nafsu yang tak terkendalikan. Filsafat Buddhis memberitahukan ke p a d a k i ta b a hwa s e m u a ketidakbahagiaan dan konflik antar-perorangan terletak pada “tiga racun�: nafsu, kemarahan, dan delusi. Filsafat Buddhis juga menyediakan penangkal dengan


perangkat psikologis canggih yang mengagumkan – yang sudah dikonfirmasi oleh neurosains modern. Dengan menggunakan teknologi modern, para ilmuwan mampu melihat ke dalam otak pusat yang mampu menenangkan ke m u r ka a n d a n ke ta ku ta n seseorang. Ilmuwan tersebut juga mampu mempertunjukkan bahwa strategi-strategi latihanpenyadaran (awarenesstraining) seperti meditasi untuk memperkuat stabilitas emosional – dan menumbuhkan suasana hati yang positif. Dari beberapa kali dialog yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir ini antara timur dan barat dalam hal psikologi dan psikoterapi, dapat disimpulkan bahwa metode psikoterapi dan ajaran ilmu kejiwaan di barat belum mencapai tingkatan yang dituntut di timur. Medard Boss, seorang filsuf terkemuka asal Swiss, pernah menyatakan bahwa dipandang dari segi a j a ra n , t in g ka h la ku g u r u , metode dan tujuan psikoterapi, psikoterapi barat sangat tidak memadai. Menurut Medard, jika dibandingkan dengan tingkat pemurnian diri yang dituntut di

latihan timur, maka “Analisa latihan barat yang paling baik sekali pun tidak lebih dari suatu kursus pengantar saja bagi timur”. Kepribadian Ideal Berikut kita akan membahas sedikit mengenai suatu tipe ideal kepribadian yang sehat sebagaimana yang diajarkan oleh Sang Buddha dalam Abhidhamma. Tipe ideal kepribadian yang sehat disebut arahat. Sifatsifat kepribadian ditransformasikan secara permanen dimana semua motif, persepsi, perbuatan yang sebelumnya dilakukan di bawah pengaruh faktor-faktor tak sehat akan lenyap. Rune Johansson, dalam karyanya The Psychology of Nirvana, telah menggali dari Abhidhamma mengenai ciri-ciri k h a s ke p r i b a d i a n s e o ra n g Arahat, yang mana hal tersebut meliputi: Ÿ Terbebasnya rasa tamak, ketakutan, kebencian, pandangan sempit, hawa nafsu, kemarahan, sikap membeda-bedakan, dan lain sebagainya. Ÿ Diliputi oleh sikap-sikap seimbang dalam memandang

PIKIRAN

7


orang lain, tenang dalam semua keadaan, waspada, keterbukaan, kepekaan, dan lain sebagainya. Transformasi kepribadian semacam itu yang dianggap terlalu radikal oleh dunia barat, sangat jauh melampaui objektif dan harapan psikoterapi di barat. Dilihat dari kacamata para psikolog dunia barat, sifat-sifat kebajikan tersebut terlalu susah dan mulia untuk diwujudkan. Meskipun demikian, seorang Arahat mempunyai sejumlah kemiripan dengan orang-orang yang mengalami aktualisasi sepenuhnya sebagaimana yang ada pada tulisan-tulisan Maslow dan Rogers. Selain itu, Arahat adalah suatu tipe ideal hasil dari pencapaian akhir bagi suatu pelatihan bertahap yang tidak mungkin hanya terjadi semalam saja. Dari sini kita bisa melihat bahwa tujuan akhir psikologi Buddhis adalah jauh melampaui apa yang diharapkan dari ilmu psikologi di barat. Tanpa Diri (Anatta) David Eagleman, seorang neuroscientist yang telah meneliti otak manusia selama 20 tahun memberikan perumpamaan akan proses terbentuknya realitas sebagai

8

PIKIRAN

b e r i k u t : “Kadang mudah u n t u k berasumsi bahwa ada satu bagian otak y a n g mengendalikan S u m b e r : semuanya, https://www.apqc.or g/2013-knowledge- tetapi faktanya management-o t a k l e b i h conference-keynotespeakers kompleks dari itu. Bayangkan otak adalah sebuah kota. Apabila kita menanyakan di mana letak ekonomi kota itu, maka tidak akan ada jawaban tunggal untuk itu. Malahan ekonomi itu muncul dari interaksi dari semua elemen. Dan begitu juga dengan realitas. Informasi mentah dari persepsi dikumpulkan oleh reseptor sensoris kita. Diubah menjadi sinyal elektris lalu ditransportasikan memutari otak kita melalui neuron. Diproses d a n m e n j a d i re a l i ta s k i ta . Beberapa bagian dari kota otak dikhususkan untuk penglihatan. Yang lainnya untuk mendengar, sentuhan, dan seterusnya. Meskipun telah dibagi untuk penglihatan, ada jalan-jalan yang d ik h u s u s ka n u nt u k wa r n a , bentuk, dan gerakan. Tetapi seperti di kota, tidak ada bagian


kota yang bekerja dalam isolasi. Malahan setiap bagian kota saling membutuhkan interaksi satu sama lain. Entah bagaimana dari interaksi ini muncul realitas kita. Meskipun terdengar aneh, dunia ini hidup di dalam otak kita. Hanya simulasi yang dibuat ulang dengan sempurna. Dan sangat mungkin apabila tiap otak memberikan pandangan terhadap dunia yang berbeda”. Inilah anatta! Sang Buddha mengajarkan bahwa ke p r i b a d i a n k i ta – ke l i m a kelompok kehidupan– tidak dapat diidentifikasikan sebagai 'diri', sebagai landasan identitas pribadi yang bertahan dan bersubstansi. Pengertian tentang 'diri' hanya bisa dianggap sah secara konvensional, sebagai cara mudah yang nyaman untuk menunjukkan situasi gabungan yang tidak bersubstansi. Namun sebenarnya tidak ada entitas yang tertinggi dan kekal, yang berada pada inti keberadaan kita. Pengertian tentang 'diri', yang

diperlakukan sebagai suatu yang tertinggi, dianggap oleh Sang B u d d h a s e b a ga i h a s i l d a r i ketidaktahuan. Artikel ini dibuat untuk menunjukkan bahwa meskipun telah kuno, Buddhisme masih sangat relevan di zaman sekarang ini maupun di masa yang akan datang dan j u g a mengajak para pembaca untuk m u l a i mendalami Dhamma dan belajar bermeditasi.Se moga Tiratana s e l a l u melindungi. Sadhu… Sadhu… Sadhu…

Sumber: www.shutterstock.com

Daftar Pustaka: Anggawati, Lanny dan Dra Wena Cintiawati (terjemahan). 2004. Majjhima Nikaya: Kitab Suci Agama Buddha. Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna. Eagleman, David. 2015. The Brain: The Story of You. New York: Pantheon Books Taniputera, Ivan, Dipl. Ing. 2003. Sains Modern dan Buddhisme. Yayasan Penerbit Karaniya, Anggota IKAPL.

PIKIRAN

9


INFO Apakah Umat Buddha Harus Vegetarian? oleh:Laura Haryo

Adanya ajaran tekad tidak m e m b u n u h d a l a m Pa n c a s i l a s i k k h a d a n t i d a k bermata pencaharian industri hewan dalam Aṅguttara Nikāya V: 177 membuktikan betapa p e n t i n g ny a Ka r u ṇ ā ( b e l a s kasihan) dan Avihiṁsā (ketidakkekerasan) seperti yang diajarkan dalam Buddhisme. Wajar apabila orang awam yang m e m a h a m i a d a ny a a j a ra n tersebut dalam Buddhisme m e ny i m p u l ka n s e h a r u s nya semua orang Buddhis adalah vegetarian. Buddha sendiri bukanlah seorang vegetarian dan tidak pernah secara eksplisit mengajarkan para siswa untuk

10

PIKIRAN

menjadi vegetarian. Di zaman Buddha, Buddha termasuk s e o ra n g b h i k k h u s e h i n g ga Buddha dan para muridnya perlu melakukan piṇḍapāta (menerima persembahan makanan) untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Mereka tidak sepatutnya memilih-milih makanan yang telah diberikan para dermawan sehingga mereka akan menyantap apa saja yang telah diserahkan dalam mangkuk dengan penuh rasa terima kasih dan dengan merenungkan berkat makanan itulah, mereka bisa melanjutkan kehidupan spiritualnya. Selain itu, ajaranNya belum dikenal secara umum sehingga para dermawan umumnya belum tahu tentang Karuṇā dan Avihiṁsā sehingga makanan yang biasanya diberikan masih mengandung daging. Saat piṇḍapāta itulah saat pertama kali dermawan menemui Buddha dan para s i s wa nya . Ke m u d i a n , p a ra dermawan mengundang Buddha


dan para siswanya untuk makan bersama dalam rumah mereka. Setelah makan, Buddha biasanya membabarkan Dhamma (ajaran Buddha) untuk membalas jasa dan menjawab keingintahuan mereka. Persembahan makanan menjadi salah satu pintu masuk dalam Dhamma oleh umat awam. Mungkin karena melihat adanya potensial besar umat memahami Dhamma setelah mempersembahkan makanan itulah, Buddha tidak melarang para siswanya untuk memakan daging dengan beberapa syarat. Ada sepuluh macam daging yang dilarang untuk dimakan, yaitu: manusia, gajah, kuda, anjing, ular, singa, harimau, macan, beruang, dan hyena (Vinaya Pitaka). Diluar dari 10 macam daging tersebut boleh dimakan dengan syarat daging tersebut tidak terlihat, terdengar, dan dicurigai dibunuh khusus untuk dimakan mereka (Jivaka Sutta). U m at B u d d h i s m a s i h mengonsumsi daging karena Buddha memperbolehkan siswanya untuk mengonsumsi apa pun, termasuk daging asalkan memenuhi syarat dan karena kepercayaan

mengonsumsi daging dari pasar dengan hewan yang tidak secara khusus dipesan untuk dibunuh tidak menimbulkan karma buruk karena tidak dengan sengaja berbuat buruk dan tidak melanggar tekad tidak membunuh. Namun pada zaman sekarang, akses untuk mempelajari Dhamma lebih mudah dibandingkan dengan pada zaman Buddha sehingga seharusnya cara untuk belajar Dhamma bukan hanya dari persembahan makanan saja. Perlu diingat kembali bahwa apabila mengonsumsi apa pun hanya untuk memenuhi keinginan nafsu, maka akan menimbulkan karma buruk. Semua orang takut akan hukuman; Semua orang takut akan kematian. Setelah membandingkan orang lain dengan diri sendiri, hendaknya seseorang tidak membunuh atau mengakibatkan pembunuhan. (Dhammapada X: 129) Dhammapada X: 129 dapat dijadikan bukti bahwa Buddha mengajarkan perlunya

PIKIRAN

11


kebijaksanaan salah satunya supaya tidak membunuh atau mengakibatkan pembunuhan. Dengan mengurangi konsumsi daging, kita bisa mengurangi jumlah pembunuhan hewan. Apabila pesanan daging berkurang, penjagal hewan juga akan mengurangi pembunuhan.

Sumber: freepik.com

Menjadi vegetarian merupakan hak masing-masing individu. Kita perlu jujur pada diri sendiri mengenai jumlah konsumsi daging yang sesungguhnya diperlukan tubuh kita, bukan karena kebiasaan mengonsumsinya dan kenikmatannya. Tubuh kita sebenarnya tidak memerlukan asupan daging yang terlalu banyak, mungkin cukup hanya mengonsumsinya beberapa kali dalam sebulan. Apabila kita sudah mengurangi konsumsi

12

PIKIRAN

daging, sudah berencana menjadi vegetarian, atau bahkan sudah menjadi vegetarian perlu diingat kembali alasan mengurangi konsumsi daging. Hati-hati supaya tidak terbawa ego, merasa lebih baik dari mereka yang memakan daging. Sesungguhnya, vegetarian juga bukan tidak membunuh. Misalnya banyak serangga yang terbunuh pada saat membajak sawah, pemberian insektisida, maupun dalam proses distribusinya. Karena sekeras apa pun kita berusaha kematian akan tetap terjadi. Akan tetapi, bukan berarti kita pasrah dan menyalahkan diri sendiri karena tidak serius berusaha. B a n y a k o r a n g mengonsumsi daging karena kebiasaan. Memakan daging sudah dimulai sejak bayi sehingga mungkin kita merasa ada yang kurang apabila konsumsi daging dikurangi atau bahkan dihentikan. Bisa saja karena banyak dari kita belum menelusuri peristiwa yang terjadi di tempat penyembelihan hewan sehingga jarang merenungkan bagaimana sebenarnya proses yang terjadi


dibalik sajian daging yang lezat di atas meja kita. Kesimpulannya adalah tidak semua Buddhis adalah vegetarian. Konsep vegetarian dalam Buddhisme berbeda dari satu aliran dengan aliran lain. Pada umumnya, aliran T h e r a v a d a t i d a k m e l a ra n g ko n s u m s i d a g i n g a s a l ka n memenuhi syarat; aliran Mahayana biasa selalu menyarankan para umatnya u n t u k m e n j a d i v e g e ta r i a n sehingga para Saṅgha wajib

vegetarian, sedangkan tidak semua umat perumah tangganya vegetarian; aliran Vajrayana mulai menyarankan umatnya untuk menjadi vegetarian sejak banyak yang berpindah ke India sehingga terpengaruh konsep vegetarian. Vegetarian bukanlah ke h a r u s a n , t e t a p i d e n ga n berusaha mengurangi konsumsi d a g i n g k i ta d a p a t mengembangkan salah satu aspek dari Karuṇā dan Avihiṁsā dalam diri kita.

Daftar Pustaka Dhammananda, K. Sri. 2002. What Buddhists Believe. Kuala Lumpur: Buddhist Missionary Society Malaysia. Kumar, Mindah-Lee. 2014. “Are Buddhists Vegetarian or Vegan?” Diakses dari https://www.enthusiasticbuddhist.com/are-buddhists-vegetarian-vegan/ pada tanggal 20 Juli 2017.

sumber: freepik.com

PIKIRAN

13


INFO Dalai Lama oleh: Ricky Setiawan

Sumber: http://www.nationalgeographic.com/travel/dest inations/asia/bhutan/dalai-lama-guidehappiness-travel-tips/

Dalai Lama merupakan sebutan atau panggilan bagi para pemimpin spiritual masyarakat Tibet. “Dalai” berarti “Lautan”, sedangkan “Lama” berasal dari kata Sansekerta yang berarti “G u r u ”. J a d i “ D a l a i L a m a ” memiliki arti Guru Lautan. Jika diperdalam, artinya adalah seorang guru spiritual yang ilmunya sedalam lautan. Dalai Lama dipercaya sebagai reinkarnasi dari Avalokitesvara, salah satu tokoh Buddhis yang terkenal dengan belas kasihnya. Berdasarkan Dalai Lama yang ke-14, Avalokitesvara memiliki hubungan yang baik dengan

14

PIKIRAN

masyarakat Tibet. Avalokitesvara berjanji kepada Sang Buddha akan membimbing dan melindungi masyarakat Tibet. Rencana utama (master plan) ini akan berlangsung secara bertahap oleh teokrasi Dalai Lama di Tibet. Garis keturunan Dalai Lama dimulai sejak 1391. Dimulai oleh “Gendun Drup” seorang biarawan yang menjadi terkenal karena gelarnya sebagai “Dalai Lama yang pertama”. Setelah memimpin cukup lama (sekitar 83 tahun), Gendun Drup meninggal dunia dan digantikan oleh Dalai Lama yang berikutnya. Pada ujung usianya, dia melakukan tur ajaran terakhir ke Biara Narthang dengan berjalan kaki. Pada saat kembali ke Tashilhunpo, Ia meninggal dalam kobaran api kemenangan, dan diakui telah mencapai tingkat keBuddha-an. Setelah melalui berbagai rintangan dan permasalahan dalam mempertahankan garis ket u r u n a n , s a at i n i ga r i s


keturunan Dalai Lama sudah mencapai yang ke-14, yaitu Tenzin Gyatso. Tenzin Gyatso lahir pada tanggal 6 Juli 1935. Terlahir sebagai anak dari keluarga petani di sebuah dusun kecil berlokasi di Takster, Amdo, timur laut Tibet. Pada usianya ya n g ge n a p d u a ta h u n , I a ke m u d i a n d i j u l u k i s e b a ga i reinkarnasi dari Dalai Lama yang ke-13 (Thubten Gyatso). Pada usianya yang ke-6, Te n z i n G y a t s o m e m u l a i mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan kebiaraan (monastic). Kurikulum pembelajaran itu berasal dari tradisi Nalanda yang terdiri dari 5 subyek mayor dan 5 subyek minor. Kelima subyek mayor itu adalah logika, seni rupa, tata bahasa Sansekerta, kedokteran, dan yang paling terakhir adalah filosofi Buddhis yang di mana juga

sumber: tibet.net/wp-content/uploads/2011/09/HHDL.png

terbelah menjadi 5 kategori, yaitu Prajnaparamita (perfection of wisdom), Madhyamika (the philosophy of middle way), Vinaya (the canon of monastic discipline), Abidhamma (metaphysics) dan Pramana (logic and epistemology). Kemudian diikuti 5 subyek minor yang terdiri dari: puisi, drama, astrologi, karangan, dan sinonim. Pada usia 23, Ia berhasil menyelesaikan ujian tahap akhirnya di kuil Lhasa's Jokhang dengan gelar Geshe Lharampa, ekuivalen dengan gelar doktor tertinggi pada filosofi Buddhis. Terdapat beberapa hal yang dapat diingat dari eksistensi Dalai Lama, salah satunya adalah pergerakan dalam menginisiasi perdamaian pada 21 September 1987. Di mana pada saat itu, Dalai Lama mengajukan 5 poin rencana perdamaian untuk memperbaiki kekacauan yang terjadi di Tibet saat itu. Kelima poin itu adalah: Transformasi T i b e t s e c a r a ke s e l u r u h a n menjadi zona yang damai, pengabaian kebijakan pemindahan penduduk China yang mengancam eksistensi rakyat Tibet; menghargai hak asasi manusia dan kebebasan

PIKIRAN

15


demokrasi warga Tibet; pemulihan dan perlindungan untuk lingkungan alam yang dimiliki Tibet serta pengabaian p e n g g u n a a n T i b et s e b a ga i sarana untuk memproduksi senjata nuklir dan pembuangan limbah nuklir; dan memulai negosiasi dengan sungguhsungguh terkait dengan status masa depan Tibet dan hubungan antara masyarakat Tibet dan China. Sampai pada pertengahan Maret 2011, Dalai Lama ke-14 memutuskan untuk mengurangi bebannya terkait otoritasnya

yang temporer, akan tetapi Beliau masih menjadi kepala negara Tibet. Sampai pada pertengahan tahun 2011, tepatnya pada 29 Mei, Ia secara formal menandatangani dokumen untuk memindahkan jabatannya (handover of a p o s i t i o n ) s e b a ga i o t o r i ta s tertinggi kepada pemimpin yang terpilih nantinya. Dengan begitu, Beliau dengan resmi telah menghentikan tradisi Dalai Lama yang telah berlangsung selama 368 tahun dalam menjadi kepala spiritual warga Tibet.

Daftar Pustaka Biography.com Editors, 2017. Dalai Lama. Biography. Diakses pada tanggal 5 Agustus 2017. https://www.biography.com/people/dalai-lama-9264833 DalaiLama.com Editors, n.d. Brief Biography. DalaiLama. Diakses pada tangga 5 Agustus 2017. https://www.dalailama.com/the-dalai-lama/biography-and-daily-life/briefbiography

sumber: www.dalailama.com/assets/pages/2014-05-15-Frankfurt-G08por.jpg

16

PIKIRAN


Bakti Sosial Kamadhis UGM “Together We Build, In Virtue We Unite" oleh: Filbert Utomo

Dokumentasi Bakti Sosial Kamadhis UGM

Bakti Sosial (Baksos) Kamadhis UGM merupakan salah satu acara rutin yang dilaksanakan oleh Kamadhis UGM setiap tahunnya. Tahun ini, acara baksos ini diadakan di Desa Girikarto,

Kecamatan Panggang, Gunung Kidul, D.I. Yogyakarta. Lokasi baksos tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya, dan Kedatangan Kamadhis UGM disambut dengan antusias oleh warga desa tersebut.

PIKIRAN

17


B a k t i s o s i a l d i a d a k a n selama 3 hari 2 malam yang dimulai dari Jumat malam hingga Minggu. Kegiatan yang dilakukan pada hari Sabtu yaitu sosialisasi mengenai manfaat tanaman rosela. Para warga mendengarkan dengan antusias mengenai manfaat apa saja yang dapat dihasilkan oleh tanaman tersebut. Setelah itu, seminar mengenai cara mengatasi hama pada tanaman cabai diadakan. Seminar itu disampaikan oleh s a u d a r i R a h ay u W i d ya st u t i , mahasiswi Fakultas Teknologi Pertanian. Desa ini memiliki banyak kebun cabai, tetapi sebagian dari tanaman tersebut terserang hama. Oleh karena itu, panitia membuat seminar untuk memberi pengetahuan kepada warga desa untuk mengatasi hama tersebut. Setelah itu, volunteer bersama warga pergi ke ladang untuk mempraktikkan apa yang telah diajarkan. Pada malam harinya, panitia dan volunteer mengikuti puja bakti yang diadakan oleh vihara di desa tersebut. Para warga dan volunteer pun turut antusias b e r ta nya - j awa b p a d a d i s ku s i Dhamma yang diadakan setelah puja bakti selesai. Pada hari Minggu, terdapat 2 kegiatan yang diadakan oleh panitia, yaitu: pemeriksaan

18

PIKIRAN

kesehatan dan sekolah minggu. Para panitia dan volunteer juga dibagi menjadi 2 bagian. Pada bagian sekolah minggu, anak-anak di desa tersebut diajari mengenai pelajaran sekolah mereka. Selain itu, ada demo mengenai bagaimana cara mencuci tangan yang benar kepada anak-anak tersebut. Di bagian pemeriksaan kesehatan, para warga dengan antusias mengikuti kegiatan tersebut. Ini terlihat dari banyaknya warga yang antre untuk diperiksa. Sekolah Minggu diadakan di vihara d i d e s a te rs e b u t , s e d a n g ka n pemeriksaan kesehatan diadakan di balai desa. Meskipun demikian, panitia di kedua tempat tersebut dapat berkomunikasi dengan baik selama acara berlangsung. Setelah pemeriksaan kesehatan berakhir, panitia dan volunteer membereskan balai desa dan vihara tersebut dan bersiapsiap untuk melakukan perjalanan kembali ke Yogyakarta. Bakti sosial Kamadhis UGM tahun ini mengangkat tema "Together We Build, In Virtue We Unite", yang artinya bersama-sama kita membangun dan bersatu dalam kebajikan. Semoga Kamadhis UGM dapat menyebarkan aksi kebajikan ini untuk tahun-tahun selanjutnya. S u ks e s Ka m a d h i s U G M . V i va Kamadhis!


Dhammasanti Trisuci Waisak 2561 B.E. Kamadhis UGM oleh: Swissinda Dhammasanti Trisuci Waisak 2561 B.E. Kamadhis UGM 2017 merupakan salah satu program kerja Bidang Dhamma dan Pendidikan yang ditujukan dalam memperingati salah satu hari besar umat Buddha, yaitu Waisak. Pada tahun ini, Dhammasanti Trisuci Waisak mengangkat tema “Harmony in Dhamma� dengan harapan akan terciptanya kehidupan bermasyarakat yang harmonis dengan berlandaskan Dhamma. Acara Dhammasanti Trisuci Waisak tahun ini terbagi menjadi tiga rangkaian acara yang dimulai dengan puja bakti, kemudian food charity, dan ditutup dengan main event yang dilaksanakan pada satu hari yang sama, yaitu pada tanggal 20 Mei 2017. Puja bakti dilaksanakan pada pagi hari pukul 08.00-10.00 WIB di Ruang Sidang I Gelanggang Mahasiswa UGM dengan mengundang Bhante Bhadrapalo sebagai pengisi dhammadesana. Sebelum puja bakti dimulai, peserta juga dipersilahkan untuk memberikan dana makanan kepada Bhante Bhadrapalo di Ruang Sidang III Gelanggang Mahasiswa UGM sejak pukul 07.00 WIB. Acara dilanjutkan dengan food charity yang dilaksanakan pada pukul 10.00-12.00 WIB di sepanjang Jalan Malioboro. Food charity merupakan kegiatan membagikan makanan gratis kepada saudara-saudara yang kurang mampu dengan menentukan sasaran pembagian makanan sesuai Perda D.I. Y. no. 1 tahun 2014 tentang Penanganan Gelandangan dan Pengemis. Selesai menjalani kedua rangkaian acara tersebut, peserta diizinkan pulang terlebih dahulu untuk bersiap-siap menghadiri main event yang dimulai pada pukul 15.00 WIB hingga pukul 20.30 WIB di Viglosia Building. Pada saat main event, peserta yang hadir dipersilahkan untuk berfoto terlebih dahulu di photobooth yang telah disediakan sebelum menuju tempat pemandian rupang untuk memandikan rupang Buddha. Acara kemudian dibuka dengan sambutan oleh MC dan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Himne Gadjah

PIKIRAN

23


Mada, dan Mars Kamadhis. Acara kemudian dilanjutkan dengan laporan Ketua Panitia Dhammasanti Trisuci Waisak 2561 B.E. Kamadhis UGM, yaitu saudara Jou, Gerry Septian Riseno; sambutan Ketua Umum Kamadhis UGM, yaitu saudari Sukhemadewi; sambutan kedua Pembina Kamadhis UGM, yaitu Romo Effendi Tanumihardja dan Ibu Endang Soelistiyowati. Setelah itu, acara diisi dengan berbagai rangkaian penampilan mulai dari penampilan Band I, penjelasan hikmah Waisak, pertunjukkan drama, permainan Teka Teki Silang (TTS), penampilan Band II, Stand Up Comedy Buddhis, pembacaan Dhammapada, pemutaran video singkat, dan ditutup dengan penampilan panitia. Penampilan Band I yang terdiri dari Ricky Setiawan, Henson Husada, dan Febrian Kachina membawakan dua lagu, yaitu Imagine karya John Lennon dan Semoga Semua Hidup Berbahagia. Penjelasan hikmah Waisak diberikan oleh Dr. Hastho Bramantyo dengan inti penjelasan mengenai harmonisasi beragama. Pertunjukkan drama yang diperankan oleh Faustine Kachina; Adelin Theresia Can; Kwan, William Kurniawan; Herlin Puspita Kuarso; Gian Neorika; Pandapotan Sitinjak; Devina; Cindy; dan Fernando Wijaya mengangkat cerita harmonisasi keluarga yang dibungkus dengan nilai humor yang tinggi sehingga membawa tawa bagi para penonton. Penampilan Band II terdiri dari Faustine Kachina, Adelin Theresia Can, Alvin Ramli, dan Yudho Christin membawakan mash-up lagu Let It Be dan Heal the World dan dilanjut dengan lagu Ehipassiko. Stand Up Comedy Buddhis yang dibawakan oleh Prinanda Radiatus mengikuti tema acara yaitu, Harmony in Dhamma berhasil menyampaikan tema acara dan juga menghibur para peserta. Pembacaan Dhammapada oleh Joanna Gautami, Juson, Filbert Utomo, dan Patricia Gozali sukses mengantarkan suasana menuju ke puncak acara, yaitu penampilan panitia. Sebelum penampilan panitia dimulai, diputarkan terlebih dahulu video singkat bermakna komunikasi di dalam keluarga sebelum akhirnya panitia maju ke panggung untuk menyanyikan lagu Hadirkan Cinta yang ditemani oleh warna-warni glow stick yang diberikan kepada peserta. Penampilan panitia membawa kita semua ke penghujung acara Dhammasanti Trisuci Waisak 2561 B.E. Kamadhis

24

PIKIRAN


UGM 2017 yang diharapkan akan memberikan kenangan baik bagi para peserta yang turut serta hadir dalam acara tersebut

Dokumentasi Dhammasanti Trisuci Waisak 2561 B.E. Kamadhis UGM 2017

PIKIRAN

25


Info All About Meditation “ Hidup adalah permainan pikiran kita, kalau kita bisa adjust, kita akan bahagia. Musuh paling kejam adalah pikiran kita, sahabat paling setia juga adalah pikiran kita. Manage pikiran dengan meditasi. Selama kita bisa mengelola pikiran, kita pasti bahagia� - Bhante Sri Pannavaro MahatheraDi dalam kehidupan ini, terkadang banyak hal yang berjalan tidak sesuai dengan keinginan kita. Saat itulah muncul perasaan yang tidak menyenangkan, bahkan sering kali mengeluh atas kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Padahal pada dasarnya, semua kejadian adalah netral. Hanya pikiran kita yang memberikan bumbu suatu peristiwa menjadi m e ny e n a n g ka n a t a u t i d a k menyenangkan. Seringkali ketika menemukan suatu masalah, manusia akan kehilangan pikiran untuk berpikir jernih sehingga menimbulkan pikiran negatif dan

26

PIKIRAN

oleh: Dewi Karina

perasaan menjadi tidak menyenangkan. Dalam ajaran agama Buddha, kita dianjurkan agar selalu waspada kapan dan di mana pun. Oleh karena itu, meningkatkan kewaspadaan dapat dimulai dari meditasi. Di dalam kehidupan ini, terkadang banyak hal yang berjalan tidak sesuai dengan keinginan kita. Saat itulah muncul perasaan yang tidak menyenangkan, bahkan sering kali mengeluh atas kejadian yang tidak di inginkan terjadi. Padahal pada dasarnya, semua kejadian adalah netral. Hanya pikiran kita yang memberikan bumbu suatu peristiwa menjadi m e ny e n a n g ka n a t a u t i d a k menyenangkan. Sering kali ketika menemukan suatu masalah, manusia akan kehilangan pikiran untuk berpikir jernih sehingga menimbulkan pikiran negatif dan perasaan menjadi tidak menyenangkan. Dalam ajaran Buddha, kita dianjurkan agar selalu waspada kapan dan di manapun. Oleh karena itu, untuk


meningkatkan kewaspadaan dapat dimulai dari meditasi. Ketika bermeditasi, otak dapat menjadi lebih sehat dan pikiran menjadi tenang. Selain itu, sebuah studi dari Harvard mengungkapkan bahwa meditasi dapat meningkatkan fungsi otak teru ta m a terh a d a p em o s i, memori dan daya tangkap. Meditasi juga dapat membuat seseorang menjadi lebih santai, mengurangi pikiran negatif dan stress sehingga dapat tidur dengan nyenyak pada malam hari. Di dalam buku “Meditasi Tentang Persepsi� yang ditulis oleh Bhante Gunaratana, langkah awal dalam memulai meditasi sebenarnya cukup sederhana dan mudah dilakukan bila diiringi dengan niat yang k u a t . B e b e ra p a c a ra a w a l memulai meditasi adalah sebagai berikut : a. Pergilah ke tempat yang sunyi Tempat yang sunyi bukanlah semata-mata harus di hutan atau jauh dari perkotaan. Namun, adalah tempat yang jauh dari urusan kehidupan sehari-hari misalnya saja d i d e kat l a p to p , te l e p o n genggam yang mungkin akan

menganggu konsentrasi saat kita bermeditasi nantinya. b. Ambillah postur yang stabil dan nyaman Buddha menyarankan sikap duduk, bersila dan menegakkan punggung. Tetapi juga dimungkinkan bila i n g i n b e r b a r i n g , b e rd i r i ataupun berjalan yang mana tubuh dapat nyaman dan s a n t a i u n t u k m e m p e r ta h a n ka n p o s i s i tubuh tersebut. c. Bersikaplah lembut dan konsisten Meditasi merupakan suatu kegiatan yang dapat membuat tubuh kita sendiri nyaman dan santai, oleh karena itu pemilihan waktu bermeditasi merupakan cara yang lembut untuk menyemangati dan menopang praktek bermeditasi. Pilihlah waktu disaat tidak ada kesibukan, bebas dari gangguan pekerjaan, atau disaat terjaga dan tidak mengantuk. d. Bersikap fleksibel dan positif Sebagai pemula dalam bermeditasi lima hingga sepuluh menit secara rutin sudah cukup membantu

PIKIRAN

27


menenangkan pikiran. Apabila sudah mulai terbiasa, maka dapat diperpanjang waktunya menjadi dua puluh hingga tiga puluh menit sehari. Meditasi sebaiknya bukan dianggap suatu kewajiban yang harus dilakukan, karena pikiran

akan menjadi tidak santai bila sesuatu menjadi kewajiban. Namun meditasi harus dianggap sebagai kegiatan yang fleksibel dan positif dapat menenangkan pikiran dan memberikan manfaat baik secara personal maupun spiritual.

sumber: freepik.com

28

PIKIRAN


Dhammapada Atthakatha Kisah – kisah Dhammapada oleh: Ricky Setiawan Syair 1 Suatu hari, Cakkhupala Thera berkunjung ke Vihara Jetavana untuk melakukan penghormatan kepada Buddha. Malamnya, saat melakukan meditasi berjalan kaki, Sang Thera tanpa sengaja menginjak banyak serangga hingga mati. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali rombongan bhikkhu yang mendengar kedatangan Sang Thera bermaksud mengunjunginya. Di tengah jalan, di dekat tempat Sang Thera menginap, mereka melihat banyak serangga yang mati. “Iiih, mengapa banyak serangga yang mati di sini?” seru seorang bhikkhu. “Aah, jangan-jangan...”, celetuk yang lain. “Jangan-jangan apa?” sergah beberapa bhikhhu. “Jangan-jangan ini perbuatan Sang Thera!” jawabnya. “Kok bisa begitu?” tanya yang lain lagi. “Begini, sebelum Sang Thera berdiam di sini, tak ada kejadian seperti ini. Mungkin Sang Thera terganggu oleh serangga-serangga itu hingga merasa jengkel dan akhirnya Ia membunuhnya.” “Itu berarti ia melanggar vinaya, maka perlu kita laporkan kepada Sang Buddha!” seru beberapa bhikkhu. “Benar, mari kita laporkan kepada Buddha, bahwa Cakkhupala Thera telah melanggar vinaya”, timpal sebagian besar dari bhikkhu tersebut. Alih-alih dari mengunjungi Sang Thera, para bhikkhu itu berubah haluan, berbondong-bondong menghadap Buddha untuk melaporkan temuan mereka, bahwa 'Cakkhupala Thera telah melanggar vinaya!'. Mendengar laporan para bhikkhu, Sang Buddha bertanya, “Para bhikkhu, apakah kalian telah melihat sendiri pembunuhan itu?” “Tidak Bhante”, jawab mereka serempak. Buddha kemudian menjawab, “Kalian tidak melihatnya, demikian pula Cakkhupala Thera juga tidak melihat serangga-serangga itu, karena matanya buta. Selain itu, Cakkhupala Thera telah mencapai

PIKIRAN

29


kesucian arahat. Ia telah tidak mempunyai kehendak untuk membunuh.” “Bagaimana seorang yang telah mencapai arahat tetapi matanya buta?” tanya beberapa bhikkhu. Kemudian, Buddha menceritakan kisah di bawah: Pada kehidupan lampau, Cakkhupala pernah terlahir sebagai seorang tabib yang andal. Suatu ketika, datang seorang wanita miskin. “Tuan, tolong sembuhkanlah penyakit mata saya ini. Karena miskin, saya tak bisa membayar pertolongan tuan dengan uang. Akan tetapi, apabila sembuh, saya berjanji dengan anak-anak saya akan menjadi pembantu tuan”, pinta wanita itu. Permintaan itu disanggupi oleh sang tabib. Perlahan-lahan, penyakit mata yang parah itu mulai sembuh. Sebaliknya, wanita itu menjadi ketakutan karena apabila penyakit matanya sembuh, ia dan anak-anaknya akan terikat menjadi pembantu tabib itu. Dengan marah, ia berbohong kepada sang tabib bahwa sakit matanya bukannya sembuh, malahan bertambah parah. Setelah diperiksa dengan cermat, sang tabib tahu bahwa wanita miskin itu telah berbohong kepadanya. Tabib itu menjadi tersinggung dan marah, tetapi tidak diperlihatkan kepada wanita itu. “Oh, kalau begitu akan kuganti obatmu”, demikian jawabnya. “Nantikan pembalasanku!” serunya dalam hati. Benar, akhirnya wanita itu menjadi buta total karena pembalasan sang tabib. Sebagai akibat dari perbuatan jahatnya, tabib itu telah kehilangan penglihatannya pada banyak kehidupan selanjutnya. Mengakhiri ceritanya, Buddha kemudian membabarkan syair di bawah ini: “Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.” Setelah khotbah Dhamma itu berakhir, ada bhikkhu yang hadir terbuka mata batinnya dan mencapai tingkat kesucian arahat dengan mempunyai kemampuan batin analitis 'pandangan terang' (patisambhida).

30

PIKIRAN


Wawancara Nama Tempat, tanggal lahir Pendidikan Terakhir Pekerjaan Hobi

: Victor Andreas : Medan, 25 November 1991 : S1 : Pegawai Swasta : Main Badminton

Saudara Victor katanya pernah menjadi Ketua Umum Kamadhis UGM. Apakah benar? Bagaimana usaha saudara Victor dalam mencapai posisi tersebut? Benar. Sebenarnya, bukan masalah usaha dalam mencapai posisi tersebut karena ini bukan sebuah pertandingan yang kalau menang selesai sudah, melainkan lebih dari itu. Menurut saya, ini adalah sebuah kesempatan untuk mengabdi berlandaskan niat untuk bekerja demi umat Buddha terutama bagi mahasiswa UGM yang beragama Buddha Apa saja kendala yang saudara Victor hadapi selama menjadi pengurus Kamadhis UGM? Kendala mendasar bagi saya (dan mungkin juga semua mahasiswa) adalah membagi waktu antara perkuliahan dan organisasi. Tentu menjadi dilema ketika kita dipesankan oleh orang tua kita untuk kuliah yang baik, bukan untuk mengurus organisasi (yang bahkan tidak ada hubungan dengan jurusanmu). Bagaimana saudara Victor mengatasi kendala-kendala tersebut? Bersyukur selama setahun kepengurusan, semua berjalan dengan baik. Harus diingat bahwa di Kamadhis UGM, kita bekerja bukan hanya sendiri melainkan satu keluarga. Kami mulai melakukan pembagian waktu sehingga perkuliahan pun tidak terganggu (secara teori sih begitu :D). Walau pada akhirnya, ketika menjelang pelaksanaan acara-acara, perkuliahan pun menjadi terganggu. Tapi.... saya rasa selama setahun menjadi pengurus, saya sangat-sangat menikmati proses perkuliahan dan berorganisasi.

PIKIRAN

31


Bagaimana tanggapan saudara Victor mengenai perkembangan Buddha Dhamma di Yogyakarta ini? Saya kurang mengikuti perkembangan Buddha Dhamma D.I. Y. akhir-akhir ini. Yang saya tahu adalah semakin banyak acara Buddha bertaraf nasional maupun internasional yang diadakan di D.I. Y. atau sekitarnya. Hal ini memberikan kesempatan bagi kita untuk memperdalam pemahaman ajaran Buddha, kontribusi dan mencari pengalaman dalam setiap acara seperti perayaan Waisak dan Asadha yang diadakan di Candi Borobudur. Apakah ada harapan-harapan yang belum tercapai pada masa saudara Victor menjadi pengurus? Tentu saja ada harapan yang belum tercapai. Apakah ada kejadian-kejadian menarik yang terjadi semasa saudara Victor menjadi pengurus Kamadhis UGM? Banyak kejadian menarik namun mungkin yang terlintas dan masih saya kenang adalah harus mengantar empat dewan pengurus balik ke kos masing-masing (1 di Karang Gayam, 1 di Karang Malang, 1 di Pogung Baru, 1 di Sendowo......seandainya dulu ada Go-Jek...) setelah selesai rapat tengah malam hanya dengan satu motor. Bahkan ketika terlalu malam, cenglu-bonceng telu pun jadi. Haha. Selain itu, ada juga rutinitas berkunjung ke rumah Romo Effendi, pembina setiap bulan untuk memberikan laporan dan berdiskusi tentang kegiatan Kamadhis UGM (Sebenarnya Romo selalu menyuguhkan pisang rebus atau salak yang mantap banget :D) Apa pesan-pesan saudara Victor untuk teman-teman Kamadhis UGM yang sekarang maupun yang akan datang? Untuk semua teman-teman Kamadhis UGM, mari kita mulai mendukung dan mengikuti semua acara Kamadhis UGM. Hadir sebagai perwakilan Kamadhis UGM dalam perlombaan, kepanitiaan, forum lintas agama, dan sebagainya. Bersuara dan berkaryalah demi kemajuan Kamadhis UGM.

32

PIKIRAN


resensi Ruang dan Waktu di Mata Anak Indigo oleh: Laura Haryo Judul buku Pengarang Penerbit Tahun Terbit Tebal buku

:Ruang dan Waktu di Mata Anak Indigo :Paramita Devi :Ehipassiko Foundation :Cetakan keempat, April 2011 :86 halaman

Sumber: Ehipassiko.or.id

Penulis, Paramita Devi Darmawan, adalah seorang perempuan asal Tangerang yang mempunyai kemampuan untuk melihat dan berkomunikasi dengan makhluk halus, serta melihat kelahiran lampau diri sendiri dan orang lain. Ia terlahir dalam keluarga yang mempunyai kualitas batin yang baik. Mereka sekeluarga rajin membaca parittážą, bermeditasi, dan berdana kepada saáš…gha bhikkhu. Buku ini menceritakan tentang pengalaman penulisnya sebagai anak indigo. Awalnya, Paramita Devi menceritakan tentang dirinya sendiri dan keluarganya. Sebelum ia menceritakan kemampuannya untuk melihat dan berkomunikasi dengan hantu, ia menceritakan kisah pertemuan pertama kedua orang tuanya dan masa kecilnya. Kemudian, ia menceritakan jenis-jenis hantu dari kitab Buddhis yang telah ditemuinya. Suatu hari, Paramita Devi pernah merasa sangat ketakutan pada hantu yang ditemuinya sehingga muncul keinginan untuk menghilangkan kemampuannya untuk melihat hantu. Namun berkat dukungan Ayahnya, ia semakin rajin bermeditasi. Ia menjadi mampu mengatasi ketakutannya dan keajaiban datang, ia berhasil mengembangkan kemampuan untuk melihat dan berkomunikasi dengan dewa-dewi. Sejak itulah, Paramita Devi mulai dijauhi para hantu dan dilindungi oleh dewa-dewi. Berkat adanya dukungan dewa, ia akhirnya juga mempunyai kemampuan untuk melihat kelahiran lampau diri sendiri dan orang lain. Ada juga

PIKIRAN

33


diceritakan kisah-kisah kelahiran lampaunya dan bagaimana buku ini disetujui untuk diterbitkan. Buku ini cukup menarik perhatian, terutama bagi pembaca yang penasaran mengenai makhluk halus dan orang indigo. Paramita Devi menjelaskan apa yang dialaminya dengan bahasa sehari-hari dan juga mengilustrasikan beberapa jenis makhluk halus yang ditemuinya dengan lukisan tangannya sendiri sehingga pengalamannya lebih mudah dipahami.

sumber: ehipassiko.or.id

sumber: ehipassiko.or.id

Buku ini mungkin bisa lebih baik lagi apabila kejelasan waktu kejadian bertemu dengan para makhluk halus ditulis dengan lebih detail dan penulisan ceritanya lebih sistematis. Frase seperti “kejadian belum lama ini”, “baru kulihat”, “persisnya kapan pertama kali aku mengalaminya, aku sudah lupa”, dll dapat memberi kesan meragukan kebenaran. Peningkatan kesistematisan dianjurkan supaya tidak banyak terjadi pengulangan penyampaian cerita. Secara keseluruhan, buku ini memberi kita motivasi untuk melakukan hal bajik, bersyukur dengan semua kelebihan dan kekurangan diri sendiri, dan tetap berjuang dalam menghadapi masalah. Selain itu, buku ini juga secara tidak langsung memberitahu kita bahwa hal yang telah dijelaskan Buddha, seperti mengenai adanya dunia lain, bisa dibuktikan. Buku ini juga tersedia dalam bentuk e-book di www.ehipassiko.or.id.

34

PIKIRAN


pojok kampus Interfaith Discussion between Indonesian and the US Students oleh: Swissinda Interfaith discussion merupakan salah satu acara rutin yang diselenggarakan oleh Fakultas Filsasat UGM setiap semesternya. Interfaith discussion merupakan suatu sarana dialog antara mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa Amerika yang berasal dari SIT Study Abroad. Acara tersebut ditujukan untuk membangun sikap toleransi dengan memahami perspektif masing-masing agama yang terdapat di Indonesia. Sikap toleransi dianggap penting karena Indonesia merupakan negara pluralis di mana agama merupakan salah satu identitas yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan kewarganegaraan. Untuk menunjang harmonisasi pluralistis beragama di Indonesia, diskusi lintas agama dapat menjadi forum yang baik dalam mencapai tujuan tersebut. Pada tanggal 3 Maret 2017 lalu, diadakan interfaith discussion yang mengusung tema “Mengenal dan Memahami Keberagaman Agama serta Tantangannya di Indonesia.� Poin utama yang dibahas pada diskusi kali ini adalah mengenai eksistensi masing-masing agama yang dikaitkan dengan isu toleransi dan bagaimana relevansinya dengan pancasila sebagai ideologi Indonesia. Presentasi setiap agama dilakukan secara bergilir dan diakhiri dengan presentasi dari pihak SIT Study Abroad mengenai kehidupan beragama di Amerika. Topik yang diangkat sesuai dengan keadaan Indonesia yang saat ini yang mengalami isu intoleransi sehingga diskusi ini menjadi sarana pemahaman peserta mengenai perspektif dari masing-masing agama dalam menghadapi isu tersebut. Hal yang menarik dari interfaith discussion tersebut adalah

PIKIRAN

35


suasana dari diskusi tersebut. Peserta yang berasal dari latar belakang beragam bukan menjadi hambatan dalam membahas perbedaan yang ada, melainkan justru membuka wawasan baru atas keberagaman yang terdapat pada masing-masing sosial dan budaya. Pemahaman yang dilakukan dengan pikiran terbuka dan rasa hormat pada sesama menghasilkan atmosfer diskusi yang nyaman walaupun membahas isu yang cenderung sensitif. Selain mendapatkan wawasan baru dan memupuk rasa perdamaian, acara tersebut juga memberikan kesempatan untuk mengenal teman-teman dari belahan dunia lainnya dan saling bertukar pengalaman.

Laporan Keuangan Eka-citta edisi 44/XLIV

36

Saldo Awal

Rp

2.676.960,00

Sponsor Special Sambal Sponsor Megalink Sponsor Semangat baru Donasi a.n. Tugu Mas Donasi a.n. Aida Sentani Donasi a.n. Anonim Donasi a.n. Hery Ciaputra Subtotal Pendapatan

Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

300.000,00 120.000,00 120.000,00 100.000,00 250.000,00 20.000,00 100.000,00 1.010.000,00

Cetak Proposal (2 muka, 3 lbr, @8.800) Cetak Draft (2 kali, @2.750) Cetak Cover (2 muka, 79 lbr, @3.200) Cetak Isi Buku Hitam Putih (120 eks, @2.000) Cetak isi Warna (39 eks, @3.300) Cetak Sticker Eka-citta Cetak Gantungan Kunci @3.900 Potong Cover Jilid Eka-citta Subtotal Pengeluaran

Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

26.400,00 5.500,00 252.800,00 240.000,00 128.700,00 15.000,00 19.500,00 25.000,00 170.000,00 882.900.00

Saldo Akhir

Rp

2.804.050,00

PIKIRAN


Anumodan, Tim Eka-citta Kamadhis UGM mengucapkan terima kasih kepada donatur,

Eddy Ngatemo Semoga jasa-jasa kebajikan atas dana yang dipersembahkan dapat menyokong pembabaran Dhamma serta pematangan parami yang dipupuk dalam kehidupan.


kontak dhamma Rubrik ini diasuh oleh Romo Effendie Tanumihardja. Bila pembaca ingin men girim p ertanyaan d ap at d ikirim ke e-mail E ka-citta: ec.kamadhisugm@gmail.com. Pertanyaan terpilih akan dijawab dari hasil diskusi dengan Romo Effendie. 1. Apabila kita meng-eutanasi (suntik mati) makhluk hidup baik manusia/hewan saat makhluk hidup itu tidak punya harapan untuk hidup itu termasuk menanam karma buruk atau tidak? - Dari sabda Buddha: “Cetana itulah yang kusebut dengan Kamma�. Maka dapat disimpulkan perbuatan apapun yang dilakukan (kamma/karma) oleh pikiran, ucapan dan/atau badan jasmani yang diawali dengan cetana (niat) akan memberikan karma. Karma itu baik, atau buruk, atau netral tergantung kepada baik, buruk, atau tanpa cetana itu sendiri. Harapan hidup yang kecil sekali (0 %), metta (cinta kasih) dan karuna (rasa kasihan) melihat manusia atau binatang yang menderita kesakitan, logika rasional merasakan kesulitan keluarga dalam hal pembiayaan bagi yang sakit, keterbatasan alat dan tempat pasien, dan berbagai varian alasan lain, semua itu juga akan mempengaruhi berat ringannya kammaphala (buah karma) atau kammavipaka (akibat karma) yang akan muncul. Pengetahuan mendalam tentang hal ini tentu perlu disadari penuh oleh pasien, keluarga pasien, pemilik binatang, maupun oleh dokter dan dokter hewan yang merawat atau yang akan mengeksekusi. 2. Apa makna/pemaknaan arca, patung, relief (seperti di candi), dan penggambaran-penggambaran lainnya dari sisi Buddhisme? - Buddha semasa hidup tidak pernah menganjurkan apalagi meminta untuk membuat gambaran dirinya dalam bentuk patung atau gambar. Beliau hanya menunjukkan rasa terima kasihnya kepada pohon Bodhi yang sudah memayungi selama beliau samadhi di bawah rimbunnya daundaun pohon Bodhi. Peristiwa ini memberikan pelajaran kepada kita untuk selalu ingat budi. Ingat kepada apa dan siapa yang sudah memberikan banyak kemudahan, kelancaran, dan kesuksesan bagi kita. Kita pernah mendengar ada istilah anak/murid yang Bo Hauw (Puthauw) dan orang yang Bo Put Gie. Penamaan yang tidak nyaman. Rupang, relief dan penggambaran lain yang ada di vihara, candi, dan lain, bisa, boleh, atau harus kita maknai sebagai pengingat, obyek penghormatan, penyadar, penginspirasi, atau pemotivasi tergantung macam objek ataupun kebutuhan kita sebagai umat Buddha. 3.Dalam Buddhisme, adakah ditunjukan bagaimana cara mengajar/memberi tahu yang paling benar? Mengingat kadang kala, berbicara dengan baik tidak selalu bisa diterima.

38

PIKIRAN


- Buddha saat mengajar selalu melihat siapa pesertanya (tingkat batin, kemampuan penerimaan, dsb), sehingga apa yang disampaikan oleh Buddha dapat cepat dipahami oleh pendengarnya. Teori ini sekarang dikembangkan oleh ahli pendidikan, bahwa kalau mengajar, materinya disesuaikan dengan kualifikasi pendengarnya. Sebagai pegangan bagi kita umat Buddha bagaimana kita berbicara dengan bijak sehingga isi pembicaraan kita bisa diterima dengan baik, berikut adalah langkahlangkahnya: a. Kita berpegang kepada salah satu dari Jalan Utama Beruas Delapan saja yaitu Samma-vaca (ucapan benar). Minimal memenuhi 4 syarat yaitu: ucapan itu benar, ucapan itu beralasan, ucapan itu berfaedah dan ucapan itu tepat pada waktunya. b. Kita berpegang pada kewajiban guru kepada murid-muridnya yang harus membimbing murid dengan kasih sayang dan penuh pengertian sehingga murid menjadi pandai dan bijaksana. c. Kita ingat bagaimana menjadi teman yang baik (Kalyana-mitta) yang selalu mengingatkan teman untuk selalu hidup dan berperilaku yang baik. 4. Apakah pekerjaan sebagai aktor/aktris merupakan mata pencaharian yang benar? - Pekerjaan apa pun sepanjang tidak merugikan diri sendiri, tidak merugikan orang lain, memberi manfaat untuk diri sendiri dan memberi manfaat kepada orang lain itu merupakan pekerjaan yang benar. Dengan berkembangnya zaman, maka tentu kita tidak dapat hanya berpegang kepada Samma ajiva (Mata Pencaharian Benar) untuk menghindari 5 objek perdagangan, yaitu: 1) makhluk hidup, 2) senjata, 3) daging atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan makhlukmakhluk hidup, 4) minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan ketagihan, dan 5) racun. Varian mata pencaharian sekarang ini begitu banyaknya sehingga harus bijaksana memilah dan melaksanakan mata pencaharian berdasar pada konsep Buddha Dhamma, antara lain tidak melanggar pancasila. Mata pencaharian berbasis teknologi informasi, multi-level, jasa keuangan, jasa konsultan, dan masih banyak lagi belum ada pada zaman Buddha. Oleh karena itu kita harus sadar dalam memilih dan melaksanakan mata pencaharian yang hasilnya akan memberikan kusalakammaphala bagi kita dan keluarga.

PIKIRAN

39


Ponokamad

Apabila dalam pengembaraanmu Anda dapat menemukan seseorang teman yang berkelakuan baik, pandai, dan bijaksana, hendaknya Anda berjalan bersamanya dengan senang hati dan penuh kesadaran untuk mengatasi semua bahaya.

Dhammapada XXIII: 328

40

PIKIRAN


Kamadhis UGM

@uhp2234o

kamadhis_ugm

@KamadhisUGM

kamadhis.ukm.ugm.ac.id ec.kamadhisugm@gmail.com


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Eka-citta Edisi XLV/45 (2017) by Eka-citta Kamadhis UGM - Issuu