Sains Bangunan D
PENGENDALI N TERM L
Arranged by Kelompok 5
OUR TEAM Shafa Afifah Athariq 210606110042
Jasmine Aretha Salsabila 210606110043
Dwina Syafitrie Robustina 210606110057
CONTENTS Team Introduction Kenyamanan Termal Faktor Kenyamanan Termal Suhu Udara (air temperature) Kelembapan Udara (air humidity) Kecepatan Udara (air speed/velocity) Radiasi Termal (thermal radiation)
Kendala Kenyamanan Termal Strategi Pengendalian Termal Shade and Filter Recessed Sun Spaces Transitional Spaces Secondary Skin
Double Glass Adsorbing and Reflective Glass Low-E Glass Pemilihan Kaca Thermal Insulation Insulative Wall Thermal Mass Roof Thermal Insulation Zone Strategies Building Orientation Core Zone Green Strategies Landscape Green Roof and Skycourt Green Wall Cooling Effect Secondary Skin
KENYAMANAN TERMAL Kenyamanan termal merupakan keadaan pikiran manusia yang mengekspresikan kepuasan terhadap lingkungan sekitar. Kenyamanan ini dirasakan oleh tubuh bila terdapat keseimbangan antara panas yang dihasilkan dengan perolehan panas.
Tubuh manusia menghasilkan panas dari hasil metabolisme, dan berusaha mencapai suhu ± 37 °C. Panas hasil metabolisme ±20% dan sisa ±80% terbuang melalui konduksi, konveksi, radiasi, dan evaporasi. Tubuh manusia juga memperoleh panas dan dingin melalui lingkungan.
Metabolisme Evaporasi +/- Konduksi Konveksi +/- Radiasi = 0 - = Pelepasan Panas + = Perolehan Panas
Cara Perpindahan Panas: Konduksi langsung antar benda. Konveksi melalui udara. Radiasi melalui proses pelepasan gelombang (energi elektromagnetik). Evaporasi melalui keringat, peluh, dan pernapasan.
FAKTOR KENYAMANAN TERMAL
Bila udara jenuh air (tingkat kelembapan tinggi), maka keringat sulit menguap dan terjadi ketidaknyamanan termal pada tubuh. Bila udara kering, keringat mudah menguap dan tubuh mudah merasakan kenyamanan termal (meskipun suhu udara cukup tinggi). Kecepatan udara juga berperan penting dalam terjadinya pergantian udara dalam ruang, sehingga udara dengan suhu dan kelembapan tinggi dapat tergantikan oleh udara dengan suhu dan kelemaban yang lebih rendah.
Faktor yang memengaruhi kenyamanan termal: Faktor Lingkungan/ Eksternal
Udara memengaruhi terhadap kenyamanan termal. Contohnya, evaporasi melalui keringat (cara paling efektif untuk melepas panas tubuh), keringat menguap dan mendinginkan tubuh hanya jika udara masih mampu menampung uap air.
Faktor Personal: Jenis aktivitas dan pakaian juga memengaruhi kenyamanan termal. Semakin berat kerja tubuh maka semakin tubuh menghasilkan panas. Semakin tebal pakaian, maka panas tubuh semakin sulit dilepas.
Faktor Personal/ Internal
Faktor Lingkungan: Faktor lingkungan bersifat fluktuatif (naik-turun) sepanjang waktu karena perubahan cuaca dan perbedaan cuaca setiap daerah. Keadaan ini bisa menjadi potensi maupun kendala dalam perolehan kenyamanan termal.
Suhu udara (air temperature) Kelembapan udara (air humidity) Kecepatan udara (air speed) Radiasi termal (thermal radiator)
Tingkat aktivitas activity level) Pakaian (clothing)
(personal
FAKTOR
KENYAMANAN TERMAL
Penyebab utama perubahan dan perbedaan suhu udara adalah perbedaan intensitas radiasi panas matahari yang diterima. Matahari meradiasikan energi panas dalam intensitas konstan, tetapi tidak semua daerah dapat menerima panas matahari karena faktor tertentu. Faktor ini memengaruhi suhu udara.
Suhu Udara Air Temperature Faktor Penentu Iklim dan Cuaca: 1. Rotasi Bumi (Perputaran bumi pada porosnya) Mengakibatkan terjadinya siang dan malam, serta perubahan sudut jatuh sinar matahari. Malam hari, tidak ada radiasi panas matahari yang dapat diterima dan suhu udara menjadi dingin. Sore hari, sinar matahari menempuh atmosfer dengan jarak yang lebih jauh, intensitas radiasi panas yang diterima menurun dan udara hangat. Siang hari, penerimaan intensitas panas diterima jauh lebih banyak dibanding sore dan malam sehingga udara cenderung panas. 2. Revolusi Bumi (Peredaran Bumi mengelilingi matahari) Mengakibatkan terjadinya pergantian musim. Daerah utara dan selatan bumi mengalami 4 musim (panas, gugur, dingin, semi), dan pada kondisi terdekat dengan matahari (puncak musim panas) akan mengalami suhu udara sangat panas melebihi daerah khatulistiwa. Pada kondisi terjauh dari matahari (puncak musim dingin), suhu udara mendekati atau dapat dibawah titik beku
3. Kondisi Langit (sky condition) Awan, debu, dan gas polusi, serta awan panas hasil aktivitas gunuh berapi dapat menghalangi penerimaan radiasi panas matahari bumi 4. Topografi dan Elevasi Bumi Kontur pada bumi (pembentuk dataran dan pegunungan) menghasilkan perbedaan elevasi (dihitung dari permukaan laut (dpl)). Semakin tinggi elevasi maka suhu udara cenderung rendah Matahari terbit dan tenggelam (cahaya melalui atmosfer dengan jarak lebih jauh)
Panas Udara Meningkat
Siang hari (cahaya melalui atmosfer dalam jarak lebih pendek
Tubuh Memperoleh Panas (konveksi udara dan konduksi radiasi material)
Ketidaknyamanan termal
Keseimbangan Termal Terganggu
FAKTOR
KENYAMANAN TERMAL
Kelembapan Udara Air Humidity Nilai kelembapan udara adalah indikator banyaknya kandungan uap air di udara.
Semakin banyak uap air udara
Udara semakin lembap
Relative Humidity RH merupakan cara pengkuran kelembapan paling umum digunakan. RH 100% menyatakan bahwa udara telah mencapai titik jenuh (tidak dapat menampung uap air jika tidak terjadi penguapan) Sumber Uap Air Udara: 1. Penguapan air permukaan sebagai sumber utama (contoh: kolam, danau, sungai, dan laut) 2. Penguapan air (yang terkandung) dalam tanah 3. Respirasi/pernapasan dan transpirasi/penguapan (contoh: air yang terkandung pada tumbuhan).
Cara mengukur kelembapan udara:
RH =
AH SH
x 100 %
RH = Relative Humidity, potensi penguapan (%) AH = Absolute Humidity, jumlah uap air dalam unit massa udara (g/kg)/ unit volume udara (g/m³) SH = Saturation-pont humidity, jumlah uap air yang dapat dikandung oleh udara pada suhu tertentu (g/kg; kg/m³; g/m³)
Udara semakin lembab
Keringat sukar menguap
Ketidaknyamanan termal
Pelepasan panas tubuh terhambat
FAKTOR
Arah angin dite dapat diprediksi berdasarkan kecenderungan yang terjadi (prevalling wind). Kecepatan udara yang berubahubah setiap waktu dapat dikalkulasikan menjadi kecepatan rata-rata, yang menjadi acuan dalam menentukan apakah angin itu potensi atau kendala.
KENYAMANAN TERMAL
Kecepatan Udara
Air Speed
Udara bergerak karena perbedaan suhu dan perbedaan tekanan. Pergerakan udara Zona suhu dingin dan tekanan tenggi
Zona suhu panas dan tekanan rendah
SIANG HARI
Note: Tekanan udara menurun jika udara memuai akibat panas Udara hangat naik dari atas daratan Udara dingin terdorong dari laut
Indonesia yang beriklim lembap membutuhkan kecepatan udara antara 0,6-1,5 m/det untuk mencapai kenyamanan termal. < 0.6 - 1.5 m/det
0.6 - 1.5 m/det
> 0.6 - 1.5 m/det
Kendala
Potensi
Kendala
Pergantian udara semakin sulit
Kenyamanan Termal
Pergantian udara terlalu cepat
Kenyamanan termal membutuhkan udara dengan kecepatan cukup dan arah tepat, yang dapat dikendalikan dengan desain bangunan dan olah tata tanaman, agar mengoptimalkan potensi dan mengantisipasi kendala.
MALAM HARI
Optimalisasi Udara dalam Daerah Tropis Lembap: Udara dingin terdorong dari daratan
Udara hangat naik dari laut
Kecepatan gerak udara cukup
Udara panas dan lembap dapat terganti
Memperoleh kenyamanan termal
Udara menjadi dingin dan kering
Tubuh mengurangi panas dengan mengeluarkan keringat
FAKTOR
KENYAMANAN TERMAL
Radiasi Termal
Radiasi panas matahari menyebabkan udara dan permukaan bumi panas. Pantulan panas (di siang hari) dan reradiasi panas (di malam hari) dari permukaan bumi juga meningkatkan suhu udara di atasnya.
Thermal Radiation
Radiasi panas yang dilepas permukaan bumi
Radiasi matahari yang diterima
Energi matahari terdiri atas panas dan cahaya yang diradiasikan/dipancarkan menembus atmosfer hingga diterima lapisan bumi
A
B
C
D
20% 5%
23% 25%
Permukaan Bumi
A: Dipantulkan permukaan bumi (5%) B: Dipantulkan awan (20%) C: Diserap atmosfer (25%) D: Menyebar ke tanah (23%) E: Langsung ke tanah (27%)
100%
A
50%
Permukaan Bumi
B
C
Faktor perolehan radiasi panas memengaruhi peningkatan suhu udara:
matahari
yang
1. Jenis Material Permukaan: Material memiliki albedo yang berbeda. Semakin tinggi albedo, kemampuan pantul radiasi diterima akan semakin tinggi. Atmosfer E 2. Sudut Jatuh Sinar Matahari (terkait waktu): Posisi matahari berubah sepanjang hari, semakin kecil altitude 27% maka sinar matahari semakin miring dan intensitas radiasi panas yang diterima akan semakin kecil. Namun pada sore hari, akumulasi sepanjang hari mengakibatkan energi radiasi panas tetap bersuhu udara tinggi walaupun sudut jatuh miring. 3. Lokasi di Bumi terkait Pola Lintasan Matahari (sunpath): Penerimaan radiasi panas matahari juga dipengaruhi lokasi di bumi karena pola lintasan matahari Atmosfer memiliki perbedaan spesifik. A: Radiasi gelombang panjang 20% 4. Orientasi Bangunan dan Bukaan: B: Penguapan lalu Tidak semua sisi bangunan memperoleh radiasi 20% C: Konveksi lalu intensitas radiasi panas yang sama radiasi 10% walau berada di lokasi yang sama.
FAKTOR
KENYAMANAN TERMAL
Radiasi Termal
Thermal Radiation
3. Lokasi di Bumi terkait Pola Lintasan Matahari (sunpath): Penerimaan radiasi panas matahari juga dipengaruhi lokasi di bumi karena pola lintasan matahari memiliki perbedaan spesifik. 4. Orientasi Bangunan dan Bukaan: Tidak semua sisi bangunan memperoleh intensitas radiasi panas yang sama walau berada di lokasi yang sama. Pola lintasan matahari berubah setiap waktu. Di daerah khatulistiwa, matahari tidak selalu tepat terbit di timur dan terbenam di barat. Pemilihan material permukaan dan orientasi bangunan
Memengaruhi perolehan kenyamanan termal
Menentukan perolehan radiasi panas matahari
KENDALA
KENYAMANAN TERMAL
Semakin banyak dan besar kendala
Kenyamanan termal semakin sulit dicapai
Kendala dalam memperoleh kenyamanan berbeda secara spesifik di setiap zona iklim.
Indonesia dengan iklim tropis basah, memiliki beberapa kendala dalam memperoleh kenyamanan termal, yakni: Suhu udara tinggi (high air-temperature) Kelembapan udara tinggi (high air-humidity)
Ketidaknyamanan termal
Kecepatan udara rendah (low air-speed)
Kondisi cuaca yang diperlukan atau paling optimal untuk mencapai kenyamanan termal di Indonesia, yakni: Suhu udara 24 °C < T < 26 °C
Peningkatan suhu udara
termal
Kelembapan udara 40% < RH < 60% Kecepatan udara 0,6 m/det < v < 1,5 m/det
Kenyamanan Termal
KENDALA
KENYAMANAN TERMAL
Antisipasi atas kendala yang terjadi harus dilakukan pada kondisi tertentu. Modifikasi iklim menjadi iklim mikro diharapkan tidak hanya mengandalkan teknik pasif desain bangunan, tapi juga teknik aktif oleh peralatan mekanis seperti AC, exhaust, dan sejenisnya. Teknik Pasif
Alternatif Utama
Teknik Aktif
Alternatif Lainnya
Contoh antisipasi kendala termal di Indonesia: 1. Reduce solar-heat gain (mengurangi perolehan panas dari radiasi matahari). 2. Increase passive-cooling effect (tingkatkan efek pendinginan secara pasif). 3. Optimize natural-ventilation system (pengoptimaliasi sistem penghawaan alami)
Kenyamanan Termal
Teknik Pasif pada Desain Bangunan
Strategi Pengendalian Termal
Modifikasi Iklim Site menjadi Iklim Mikro
Kenyamanan Termal
Bagan antisipasi kendala perolehan kenyamanan termal di Indonesia: Suhu udara tinggi (high air-temperature)
Reduce solar heat gain
Kelembapan udara tinggi (high air-humidity)
Increase passive cooling effect
Kecepatan udara rendah (low air-velocity)
Optimize naturalventilation system
Teknik pasif dan/atau teknik aktif
Kenyamanan termal
STRATEGI
PENGENDALIAN TERMAL
Strategi pengendalian termal untuk iklim tropis basah (Indonesia):
1. Shading Devices Peneduh bangunan, bisa berupa sirip penangkal sinar matahari (SPSM), bidang dinding, atap balkon, atap lebar, kisi-kisi (louvre), dan kerai otomatis (automated blinds)
Shade and Filter Shade: strategi pengendalian termal menggunakan sun shader (komponen fasad atau bagian bangunan yang berfungi membayangkan sinar matahari). Sun shader bersifat masif dan tanpa lubang, hingga tidak ada sinar matahari yang dapat diteruskan/ditransmisikan. Filter: strategi pengendalian termal menggunakan sun filter (komponen fasad bangunan yang berfungsi menyaring sinar matahari). Sun filter berlubang dan/atau bersifat transparan, sehingga masih ada radiasi panas matahari yang masuk ke dalam bangunan/ruang.
Pertimbangan dimensi shading devices: Kebutuhan Pembayangan (terkait sudut jatuh sinar matahari) Kebutuhan View (semakin besar dimensi atau semakin rapat komponen shading devices, view semakin tebatas) Kebutuhan Estetika (dimensi shading devices harus proporsional terhadap dimensi fasad bangunan)
STRATEGI
PENGENDALIAN TERMAL
Sirip Penangkal Sinar Matahari (SPSM): berupa sirip pada fasad yang terintegrasi dengan desain bukaan cahaya. Jumlah sirip bisa tunggal maupun ganda (bersusun/berjajar). Bidang dinding dapat berupa dinding tambahan pada bidang fasad atau dinding pembentuk subtract yang mengelilingi bukaan cahaya.
tal izon r o
al rtic e V
E
H
Tipe: 1. SPSM Horizontal (horizontal devices): efektif untuk sinar matahari dengan altitude tinggi (10.00-14.00) pada fasad timur dan barat. 2. SPSM Vertikal (vertical devices): efektif untuk sinar matahari dengan altitude rendah (08.00-10.00, 14.0016.00) pada fasad utara dan selatan. 3. SPSM Gabungan Horizontal dan Vertikal (eggcrate- devices): efektif untuk berbagai altitude sinar matahari
crate g g
Balkon: balkon akan memberi pembayangan pada fasad di bawahnya. Balkon sempit hanya memberikan pembayangan terbatas, balkon yang lebar akan memberikan pembayangan lebih banyak dan bukaan cahaya dapat dibuat lebih besar.
Atap Lebar: atap lebar akan memberikan pembayangan pada fasad di bawahnya. Udara pada ruang eksterior yang dinaugi atap menjadi lebih sejuk dan dapat dioptimalkan untuk penghawaan alami.
STRATEGI
PENGENDALIAN TERMAL
Kisi-kisi (louvre): sirip-sirip pendek yang disusun rapat dengan sudut kemiringan tertentu (horizontal dan vertikal), agar dapat memfilter penerimaan radiasi panas matahari. Bila altitude sinar matahari kecil (sore), pembayangan dapat dibantu oleh tirai.
Kerai Otomatis (automated blinds): louvre yang bersifat fleksibell (sudut kemiringan siripnya dapat diubah menggunakan monitor penggerah sesuai sudut jatuh sinar matahari. Perletakkan kerai otomatis dapat di luar maupun di dalam ruangan.
Recessed
Louvre memiliki celah di antara sirip-siripnya, sehingga tidak terjadi akumulasi udara panas di daerah yang dibayangi.
Sun Spaces
Recessed Sun Spaces merupakan subtract pada lantai bangunan, sehingga menghasilkan pembayangan terhadap radiasi panas matahari. Recessed Sun Spaces dapat berbentuk balkon pada setiap lantai. Suhu udara yang memiliki pembayangan akan lebih sejuh dan dapat dimanfaatkan untuk penghawaan alami.
STRATEGI Recessed
PENGENDALIAN TERMAL
Sun Spaces
Pertimbangan dimensi Recessed Sun Spaces: 1. Kebutuhan Pembayangan (terkait sudut jatuh sinar matahari) 2. Kebutuhan View (semakin dalam subtract ,maka view semakin terbatas) 3. Kebutuhan Estetika (dimensi subtract harus proporsional dengan dimensi fasad)
Transitional Spaces Transitional Spaces merupakan subtract pada bangunan dengan dimensi cukup besaar sebagai pembayang terhadap radiasi panas matahari dan ruang transisi udara sebelum masuk ke dalam bangunan dan dapat diperoleh iklim mikro. Pertimbangan dimensi Recessed Sun Spaces: 1. Kebutuhan Pembayangan (terkait sudut jatuh sinar matahari) 2. Kebutuhan Estetika (dimensi subtract tetap memberikan estetika pada fasad)
Transitional Spaces membutuhkan bagian lantai yang dialihkan menjadi ruang terbuka untuk sirkulasi udara, fasad dibuat bukaan udara dan pintu aksesibilitas ke luar bangunan. Untuk estetika dan suplai oksigen, ruang terbuka dapat berupa taman (skycourt). Transitional Spaces berdampak pada efektivitas luas ruang yang di komersialkan, tetapi menekan biaya operasional untuk kebutuhan jangka panjang karena mgngurangi beban AC, perolehan udara alami, dan pengurangan biaya pencahayaan akibat perolehan cahaya alami dan pembayangan terhadap bukaan udara/cahaya.
STRATEGI Secondary
PENGENDALIAN TERMAL
Skin
Secondary Skin merupakan kulit/selubung bangunan kedua yang berfungsi sebagai filter penerimaan radiasi panas matahari. Secondary skin tidak hanya terletak di depan bukaan, tetapi dapat menutupi keseluruhan fasad bangunan.
Beragam jenis material dapat digunakan sebagai secondary skin dan teknis pemasangan tertentu diperlukan untuk mengoptimlkan sirkulasi udara yang keluar masuk bukaan tetap lancar.
Double Pertimbangan dimensi Secondary Skin: 1. Kebutuhan Filter (Semakin rapat lubang, maka semakin kecil radiasi panas matahari yang diteruskan) 2. Kebutuhan View (keterbatasan view menjadi kendala karena umumnya secondary skin diletakkan pada fasad yang ruang di dalamnya tidak diorientasikan ke luar bangunan.
Glass
Double Glass adalah kaca ganda yang digunakan untuk memfilter transmisi radiasi panas matahari masuk ke dalam bangunan.
STRATEGI
PENGENDALIAN TERMAL
SECARA TEORITIS
Sebagian kecil energi panas (termasuk sinar ultraviolet) DITRANSMISIKAN Sebagian besar energi cahaya dapat masuk ke dalam bangunan
Material Double Glass
Susunan Double Glass
untuk penghematan energi operasional bangunan dengan penerangan alami
Aluminium Frame
KEUNTUNGAN : Menurunkan beban kerja AC dengan percobaan tebal total double glass 24 mm
Wood Frame
U-PVC Frame
Dapat mereduksi bising dari kemampuan insulasi spacer/rongga udara. Dapat menurunkan beban kerja AC
Clear Glass pertama 6 mm
Spacer 12 mm
Clear Glass kedua 6 mm
Dapat diperoleh reduksi energi listrik hingga hanya 35,5 % dari semula
STRATEGI
PENGENDALIAN TERMAL
ABSORBING & REFLECTIVE GLASS Kaca Penyerap & Reflektif
Adsorbing and Reflective
ENERGI RADIASI MATAHARI
Energi Panas
Secara teoritis jika dijumlahkan angka absorption, reflectance, dan transmittance pada energi characteristic bernilai 1 atau 100%
Energi Cahaya
Spesifikasi kaca serap (Absorbing Glass) dan Kaca Pantul (Reflective Glass) : 1. Karakteristik Energi (Radiasi panas & radiasi cahaya) Absorpsi = Kemampuan serap Reflektans = Kemampuan mantul Transmitans = Kemampuan transmisi/meneruskan Faktor Solar = angka solar factor Transmisi UV = Kemampuan transmisi ultraviolet 2. Karakteristik cahaya (Hanya radiasi cahaya) Reflektans = Kemampuan pantul Transmitans = Kemampuan transmisi/meneruskan 3. Perolehan panas relatif (Relative heat gain) 4. Koefisien peneduh (Shading Coefficient)
Solar Factor adalah jumlah radiasi matahari radiasi panas dan radiasi cahaya) yang diperoleh di dalam ruang, dari transmittance dan absorption. Heat Gain adalah jumlah radiasi panas matahari (tidak termasuk radiasi cahaya) yang diperoleh di dalam ruang dari transmittance dan absorption. Besarnya heat gain tergantung sudut jatuh sinar matahari terhadap bidang kaca Shading Cifficient (SC) adalah kemampuan transmisi radiasi matahari (radiasi panas dan radiasi cahaya) kaca dibandingkan kemampuan transmisi kaca tunggal/bening clear glass 1/8 inci sekitar 3 mm
ABSORBING & REFLECTIVE GLASS Kaca Penyerap & Reflektif
Kemampuan Absorbing Glass dan Reflective glass ditentukan oleh:
1. Ketebalan Kaca Variasi tebal kaca meliputi 3, 4, 5, 6, 8, 10, san 12 mm Dengan warna yang sama, semakin tebal kaca :
Kemampuan serap (Absorption) semakin tinggi Kemampuan transmitans semakin rendah
Kemampuan rata rata absorption 55 % Kemampuan rata rata transmittance 45 %
Dengan warna yang sama, semakin tebal kaca :
Angka Solar factor, relative heat gain, shading coefficient semakin rendah Reflective glass, cenderung semakin rendah
2. Warna Kaca Dengan Ketebalan kaca yang sama, Semakin gelap warna :
Kemampuan serap (Absorption) semakin tinggi
Dengan Ketebalan kaca yang sama, Semakin gelap warna :
Angka Solar factor, relative heat gain, shading coefficient semakin rendah
Kemampuan transmitans semakin rendah
Terang gelap warna kaca akan mempengaruhi kualitas view
Kaca serap (absorbing Glass) adalah mono tinted glass, yaitu kaca tunggal dengan pemberian sedikit warna dari logam sehingga memiliki kemampuan menyerap energi radiasi panas matahari. logam yang digunakan adalah kobalt, besi dan selinium
ABSORBING & REFLECTIVE GLASS Kaca Penyerap & Reflektif
SPESIFIKASI SOLAR HEAT ABSORBING COLORED GLASS - PANASAP BLUE [SUMBER : ASAHIMAS,2008] Energy Characteristic
Standard Thickness (mm)
Reflectance %
Transmittance %
Absorption %
UV Transm %
Solar Factor %
6.0
7
54
39
28
65
8.0
6
44
50
22
58
10.0
6
38
56
20
53
12.0
6
34
60
17
51
Standard Thickness (mm)
Light Characteristic Reflectance% Transmittance%
Relative Heat Gain kcal/m2hr
Btu/ft2hr
Shading Coefficient
6.0
7
75
449
165
0,75
8.0
6
68
405
149
0,67
10.0
6
66
378
139
0,61
12.0
6
65
359
132
0,58
ABSORBING & REFLECTIVE GLASS Kaca Penyerap & Reflektif
SPESIFIKASI SOLAR HEAT ABSORBING COLORED GLASS - PANASAP DARK BLUE [SUMBER : ASAHIMAS,2008] Energy Characteristic
Standard Thickness (mm)
Reflectance %
Transmittance %
Absorption %
UV Transm %
Solar Factor %
6.0
5
43
52
23
58
8.0
5
33
62
18
50
10.0
5
28
67
16
46
12.0
5
23
72
14
43
Standard Thickness (mm)
Light Characteristic Reflectance% Transmittance%
Relative Heat Gain kcal/m2hr
Btu/ft2hr
Shading Coefficient
6.0
6
58
405
149
0,66
8.0
5
49
405
149
0,57
10.0
5
43
334
123
0,52
12.0
5
36
310
114
0,49
ABSORBING & REFLECTIVE GLASS Kaca Penyerap & Reflektif
Reflective Glass adalah kaca berlapis satu (mono coated glass), yaitu kaca tunggal dengan lapisan tipis (coating campuran oksida logam sehingga memiliki kemampuan emantulkan energi radiasi panas matahari.
Di Indon esia
Radiasi Panas adalah kendala
Radiasi Cahaya adalah potensi
Maka, dalam pemilihan reflective glass, angka yang harus diperhatikan adalah reflectance dan solar factor dari karakteristik energi serta transmittance dari karakteristik cahaya Spesifikasi reflective glass jenis stopsol supersilver clear untuk ketebalan kaca 6 mm dan 8 mm yang dibandingkan dengan clear glass 6 mm
Dibandingkan dengan kaca bening, dengan ketebalan yang sama 6 mm, kaca supersilver mentransmisikan radiasi matahari lebih rendah (61%) sehingga solar factor lebih rendah (66%)
ABSORBING & REFLECTIVE GLASS Kaca Penyerap & Reflektif
SPESIFIKASI ENERGY CHARACTERISTIC DARI SOLAR HEAT REFLECTIVE GLASS STOPSOL SUPERSILVER CLEAR [SUMBER : ASAHIMAS,2008] Standard Thickness (mm) 6.0
8.0
Energy Characteristic
Coating Position
Reflectance %
Transmittance %
Absorption %
UV Transm %
Solar Factor %
#1
20,4
60,8
18,8
36,2
66
#2
16,7
60,8
22,5
36,2
?
#1
20,9
60,8
18,5
36,2
?
#2
17,8
60,8
21,6
36,2
?
Dibandingkan dengan kaca bening, dengan ketebalan yang sama 6 mm, kaca supersilver mentransmisikan radiasi cahaya matahari lebih rendah (67%)
ABSORBING & REFLECTIVE GLASS Kaca Penyerap & Reflektif
SPESIFIKASI LIGHT CHARACTERISTIC DARI SOLAR HEAT REFLECTIVE GLASS STOPSOL SUPERSILVER CLEAR [SUMBER : ASAHIMAS,2008] Standard Thickness (mm) 6.0
8.0
Light Characteristic
Coating Position
Reflectance %
Transmittance %
#1
28,2
66,9
0,77
#2
26,4
66,9
0,78
#1
28,7
66,6
0,76
#2
27,2
66,6
0,78
Shading Coefficient
ABSORBING & REFLECTIVE GLASS Kaca Penyerap & Reflektif
SPESIFIKASI SOLAR HEAT REFLECTIVE GLASS - STOPSOL SUPERSILVER BLUE [SUMBER : ASAHIMAS,2008] Standard Thickness (mm) 6.0
8.0
12.0
Energy Characteristic
Coating Position
Reflectance %
Transmittance %
Absorption %
UV Transm %
Solar Factor %
#1
22
42
36
18
52
#2
13
42
45
18
54
#1
21
38
41
16
49
#2
11
38
51
16
52
#1
19
28
53
12
42
#2
9
28
63
12
45
ABSORBING & REFLECTIVE GLASS Kaca Penyerap & Reflektif
SPESIFIKASI SOLAR HEAT REFLECTIVE GLASS - STOPSOL SUPERSILVER BLUE [SUMBER : ASAHIMAS,2008] Standard Thickness (mm) 6.0
8.0
12.0
Coating Position
Light Characteristic Reflectance% Transmittance%
Relative Heat Gain kcal/m2hr
Btu/ft2hr
Shading Coefficient
#1
30
56
367
135
0,60
#2
22
56
386
142
0,62
#1
30
53
351
129
0,56
#2
19
53
370
136
0,60
#1
29
48
307
113
0,48
#2
15
48
326
120
0,52
ABSORBING & REFLECTIVE GLASS Kaca Penyerap & Reflektif
SPESIFIKASI SOLAR HEAT REFLECTIVE GLASS - STOPSOL SUPERSILVER DARK BLUE [SUMBER : ASAHIMAS,2008] Standard Thickness (mm) 6.0
8.0
12.0
Energy Characteristic
Coating Position
Reflectance %
Transmittance %
Absorption %
UV Transm %
Solar Factor %
#1
23
34
43
16
46
#2
11
34
55
16
49
#1
23
28
49
14
41
#2
9
28
63
14
45
#1
21
18
61
10
34
#2
7
18
75
10
39
ABSORBING & REFLECTIVE GLASS Kaca Penyerap & Reflektif
SPESIFIKASI SOLAR HEAT REFLECTIVE GLASS - STOPSOL SUPERSILVER DARK BLUE [SUMBER : ASAHIMAS,2008] Standard Thickness (mm) 6.0
8.0
12.0
THE SUMMIT APARTMENT
Coating Position
Light Characteristic Reflectance% Transmittance%
Relative Heat Gain kcal/m2hr
Btu/ft2hr
Shading Coefficient
#1
32
41
332
122
0,53
#2
16
41
354
130
0,56
#1
32
36
302
111
0,47
#2
13
36
329
121
0,52
#1
29
26
258
95
0,39
#2
9
26
286
105
0,45
STRATEGI Low-E
PENGENDALIAN TERMAL
Low-e glass (low emissivity glass) adalah kaca dengan emisivitas rendah, sehingga mampu memfilter pemerimaan radiasi panas matahari
Glass
LOW-E GLASS
Emisivitas adalah kemampuan permukaan material untuk melepas energi panas dengan cara radiasi dengan angka antara 0-1 Angka 0 Dimiliki oleh benda mutlak yang berfungsi sebagai reflektor sehingga tidak ada energi panas yang dapat diserap untuk kemudian dilepaskan Angka 1 Dimiliki oleh benda hitam sempurna yang dapat menyerap seluruh energi panas yang diterima untuk dilepaskan kemudian Low-e glass mampu memantulkan sebagian besar gelombang panjang yang mengandung energi panas dan sinar ultraviolet. di sisi lain tetap mentransmisikan energi cahaya yang terlihat mata untuk masuk ke dalam bangunan
LOW-E GLASS Kualitas Low-e glass ditentukan oleh :
1) Kualitas Coating Terkait jumlah layer coating (satu atau dua kali) dan komposisi metal yang digunakan untuk coating, yaitu perak (Ag), tin-okoside (Sn02), dan nikel-kromium (NiCr).
3) Jenis gas pengisi rongga udara (Spacer) Rongga udara (spacer) berfungsi sebagai instulasi termal. Gas yang umum diisikan pada rongga adalah udara kering atau gas argon untuk mencegah heat loss dari dalam bangunan
OUTSIDE INSIDE
2) Lokasi Coating Metal
4)Jenis kaca
Low-e glass adalah kaca ganda dengan keistimewaan coating metal khusus pada salah satu permukaannya. Coating metal ada permukaan nomor 2 atau 3. Coating di no 2 Coating di no 3
pada
Secara umum/normal
Untuk mencegah heat loss dari dalam bangunan
Perbedaan jenis kaca menentukan kemampuan spesifik terkait radiasi matahari (absorption, reflectance, transmittance, solar factor, UV transmission, heat gain, dan shading coefficient)
LOW-E GLASS
Low-e glass memiliki kemampuan setara dengan 50 mm glass wool dalam menginsulasi radiasi panas matahari
SPESIFIKASI LOE-E GLASS JENIS HYBRID GLAZING SPACIA-21 Transmittance (%)
Low E (1)
Low E (1)
Low E (2)
Low E (2)
Low E (2)
Low E (2)
Gas Space
Argon 9
Argon 12
Argon 9
Argon 12
Argon 9
Argon 12
Inner Glass
SPACIA ST
SPACIA ST
SPACIA ST
SPACIA ST
SPACIA ES
SPACIA ES
Reflective Colour
Blue
Blue
Green
Green
Green
Green
Total Glass Thickness (mm)
18
21
18
21
18
21
Transmittance (%)
42,7
42,7
29,7
29,7
22,8
22,8
Reflectance (%)
27,5
27,5
38,6
38,6
40,1
40,1
Absorption(%)
29,8
29,8
31,7
31,7
37,1
37,1
15,2
15,2
7,4
7,4
2,8
2,8
Transmittance (%)
63,6
63,6
58,2
28,2
53,3
53,3
Reflectance (%)
21,7
21,7
19,0
19,0
16,8
16,8
Shading Coefficient
0,59
0,59
0,40
0,40
0,36
0,36
Solar Heat Gain
0,52
0,52
0,35
0,35
0,32
0,32
Glass Combination
Solar Radiation
UV Light Transmission (%) Visible Light
Low E (1) = Single Layer Silver Coating Low E (2) = Double Layer Silver Coating
LOW-E GLASS Dari spesifikasi Low- glass pada tabel diperoleh kesimpulan : 1. Sedikit perbedaan ketebalan kaca (3mm) tidak memengaruhi spesifikasi. 2. Agar Low-e glass makin efektif, pilih coating metal dua lapis dengan kualitas kaca dalam (inner glass) yang baik. 3. Makin rendah angka transmittance dan solar heat gain, makin tinggi angka reflectance.
Contoh penerapan Low-e glass (disebut clear redlective insulating vision glass) pada d=fasad Burj Khalifa di Dubai yang memiliki iklim sangat panas
Curtain Wall Detail
STRATEGI
PENGENDALIAN TERMAL
Pemilihan
PEMILIHAN KACA
Kaca
Pertimbangan Dalam Pemilihan Kaca :
1.Kemampuan Kaca melalui Selectivity Selectivity adalah hasil bagi atau rasio antara angka transmittance dari light characteristic (hanya transmisi radiasi cahaya) terhadap angka solar factor.
Semakin besar angka selectivity
Kaca semakin efektif
karena, semakin besar perolehan energi cahaya dibandingkan energi panas.
Angka solar factor adalahjumlah radiasi matahari (radiasi panas dan radiasi cahaya) yang diperoleh di dalam ruang, dari transmittanse dan absorption.
Selectivity = LT/SF = LIGHT TRANSMITTANCE/SOLAR FACTOR
SPESIFIKASI SOLAR HEAT REFLECTIVE GLASS- STOPSOL SUPERSILVER BLUEGREEN [SUMBER : ASAHIMAS, 2008] Energy Characteristic
Standard Thickness (mm)
Coating Position
Reflectance %
Transmittance %
Absorption %
UV Transm %
Solar Factor %
6.0
#1
18
33
49
?
47
Standard Thickness (mm)
Coating Position
Reflectance %
Transmittance %
6.0
#1
25
49
Light Characteristic
selectivity = LT/SF = 49/47 =1,04
Shading Coefficient ?
PEMILIHAN KACA
Berikut grafik light transmittance (LT), Solar Factor, dan selectivity untuk beberapa absorbing glass 6 mm jennis panasap dan reflective glass 6 mm jenis stapsol
Grafik Light Transmittance (LT) dari absorbing glass dan reflective glas 6mm
Grafik Solar Factor dari absorbing glass dan reflective glas 6mm
Grafik Selectivity dari absorbing glass dan reflective glas 6mm
Berdasarkan grafik maka dapat diketahui bahwa absorbing glass jenis panasap cenderung memiliki selectivity lebih baik daripada reflective glass jenis stapsol
PEMILIHAN KACA
Pertimbangan Dalam Pemilihan Kaca :
2. Perolehan Kenyamanan Termal dan Efek Silau Double glass memiliki kemampuan : 2X Single glass 4X Low-e glass 8X Low-e glass dengan rongga udara/spacer yang vakum (kedap udara) Karena reflectance kaca, ada sebagian radiasi matahari dan silau yang dipantulkan permukaan kaca ke sekitar bangunan. Absorbing glass Reflective Glass
Angka reflectance masih sehingga dapat diabaikan.
kecil,
3. Energi Operasional Bangunan Terkait Kenyamanan Termal Semakin tebal dan gelap warna kaca
Pantulan radiasi terbesar terjadi pada Low-E glass yang dapat mencapai 40% Pantulan radiasi akan sedikit memanaskan suhu udara lingkungan dan silau yang terjadi akan mengurangi kenyamanan visual
Semakin kecil penerimaan radiasi panas matahari Semakin mudah usaha untuk mencapai kenyamanan termal baik secara alami maupun buatan
Di sisi lain, apabila kaca terlalu tebal atau warna terlalu gelap, maka semakin kecil juga light transmittance Solusi
Terlihat signifikan
Semakin rendah angka solar factor
Diperlukan tambahan energi dan biaya operasioanal untuk sistem penerangan buatan saat siang hari,
PEMILIHAN KACA
Pertimbangan Dalam Pemilihan Kaca :
3. View, Ekonomi, Estetika, dan Maintenance Semakin besar bidang kaca
RISIKO
SOLUSI
Semakin baik kemampuan kaca
Semakin besar perolehan view
Semakin banyak radiasi panas matahari yang masuk ke dalam bangunan Bukaan pada fasad harus diorientasikan dengan tepat Diberi proteksi seperti shading devices, recessed sun spaces, dan ruang transisi.
Biaya pengadaan (harga) cenderung semakin tinggi
Penggunaan Low-E glass lebih tepat digunakan untuk bangunan komersial.
Estetika terkait oleh pemilihan warna kaca bersifat subjektif
Terang gelap warna dapat memengaruhi perolehan kenyamanan termal
Maintenance
Terkait oleh risiko kemungkinan terjadinya pengembunan pada spacer/rongga udara kaca ganda
Pemberian
Desiccant
Desiccant : material bersifat absorbent (mampu menyerap kelembapan udara)
Berupa butir-butir silika yang terintegrasi dengan sealing material di dalam rongga udara. dengan pemilihan jenis kaca yang baik (transmisi radiasi panas rendah) dan dibantu oleh silika maka pengembunan ini dapat dicegah Dari strategi shade & filter, utamakan teknik pasif melalui shading devices, recessed sun spaces, dan transitional spaces Penggunaan kaca khusus berupa double glass, absorbing glass, adalah alternatif berikutnya, bila kendala radiasi panas matahari masih belum dapat diantisipasi.
STRATEGI Thermal
PENGENDALIAN TERMAL
Insulation
THERMAL INSULATION Pertimbangan pemilihan material Insulative Wall :
Insulasi termal adalah strategi pengendalian termal melalui penggunaan material yang mampu mereduksi perpindahan panas. Perpindahan panas dapat direduksi dapat direduksi karena material tersebut memiliki kemampuan konduksi panas (thermal condition) yang rendah dan kemampuan memantulkan daripada menyerap radiasi panas (thermal condition)
1) Konduktivitas Conductivity
Panas
(Thermal
dalam satuan W/mk (dibaca lambda dalam satuan watt per meter kelvin kemampuan menghantarkan panas yang dinyatakan dalam jumlah panas yang ditransmisikan melalui material seluas 1 m2 setebal 1 m sehingga terjadi kenaikan suhu 1 k Konduktivitas panas (thermal conductivity) dipengaruhi kerapatan masa (density). Makin tinggi kerapatan massa
Makin tinggi konduktivitas panas
makin mudah menghantarkan panas makin mudah menghantarkan panas makin mudah meningkatkan suhu dalam ruang
THERMAL INSULATION 2)Kerapatan Massa (Density) dalam satuan kg/m3 (dibaca rho dalam satuan kilogram per meter kubik) Jumlah massa (m) per volume (v) dari suatu material
3)Transmitans panas (Thermal transmittance) (U) (U) dalam satuan W/m2k (dibaca U dalam satuan watt per meter persegi kelvin) Jumlah panas yang ditransmisikan dalam 1 detik melalui material seluas 1 m2 sehingga terjadi kenaikan suhu 1 k makin mudah menghantarkan panas Makin tinggi Transmitans panas
makin mudah meningkatkan suhu dalam ruang
4) Kapasitas Panas Spesifik (Specific Heat capacity) (c) c dalam J/kgK (dibaca c dalam joule per kilogram kelvin) Jumlah panas yang dibutuhkan untuk meningkatkan suhu 1 kg material agar naik sebesar 1 k Makin lama material memanas
Makin tinggi kapasitas panas spesifik
menghambat perpindahan panas masuk ke dalam bangunan
STRATEGI INSULASI TERMAL 1. Insulative Wall 2. Thermal Mass 3. Roof Thermal Insulation
STRATEGI Insulative
PENGENDALIAN TERMAL
Wall Thermal Insulation
INSULATIVE WALL Merupakan pengendalian termal menggunakan material dinding bangunan dengan thermal conductivity dan transmitans panas (thermal trasnmittance) rendah, sehingga memiliki kemampuan menginsulasi panas, maka perpindahan panas masuk kedalam bangunan pun dapat direduksi Pertimbangan pemilihan material insulative wall yaitu : 1. Kerapatan massa (density) : Makin rendah density cenderung sulit menghantarkan panas 2. Warna dan Tekstur : Makin muda warna dan makin halus tekstur maka makin memantulkan panas
Material dengan konduktivitas panas (Thermal Conductivity) tinggi/kemampuan insulasi thermal rendah yaitu logam Material dengan konduktivitas panas (Thermal Conductivity) sedang/kemampuan insulasi thermal sedang yaitu beton, batu bata, semen, kaca dan keramik. Material dengan konduktivitas panas (Thermal Conductivity) rendah/kemampuan insulasi thermal tinggi yaitu kayu, PVC, glass wool, mineral wool, rock wool, bitumen, fiberglass dan gypsum board. Kemampuan insulasi : Material batu alam <Material batu bata dan beton < Material tumbuhan (paling baik). Jika logam digunakan sebagai material dinding bangunan maka harus dilapisi material insulator panas yang memiliki thermal conductivity dan thermal transmittance rendah.
Thermal Insulation
THERMAL MASS Merupakan pengendalian termal menggunakan material dinding bangunan dengan density tinggi dan specific heat capacity tinggi, sehingga memiliki kemampuan menghambat perpindahan panas masuk ke dalam bangunan. Pertimbangan pemilihan material thermal mass yaitu : 1. Kerapatan massa (density) : Makin tinggi makin mudah menyimpan panas. 2. Ketebalan : Makin tebal material, makin banyak panas yang dapat disimpan dan makin lama proses perpindahan panasnya. Thermal mass lebih tepat digunakan di iklim panas kering (arid) yang mengalami fluktuasi suhu ekstrim antara siang dan malam. Material yang digunakan adalah tanah yang bersifat (adobe).
PENGENDALIAN TERMAL
STRATEGI Mass
Thermal
Saat siang hari thermal mass menyimpan panas dan melepas (reradiasi) saat malam hari sehingga diperoleh penghangatan). Contoh thermal mass di indonesia 1. Penggunaan beton untuk struktur dinding geser (shear wall) bangunan. Thermal mass ini disebut juga structural mass. 2. Batu alam digunakan sebagai pembungkus dinding bangunan
PENGENDALIAN TERMAL
Thermal Insulation
ROOF THERMAL INSULATION Merupakan penggunaan material yang dapat berfungsi sebagai insulasi termal, sehingga dapat mereduksi perpindahan panas ke ruang bawah atap. Pemilihan material insulasi termal tergantung sumber panas diluar atau didalam bangunan. Material insulasi termal atap diantaranya : 1. Glass wool dan rock wool Digunakan di iklim dingin Thermal conductivity rendah. Efektif digunakan jika sumber panas berasal dari dalam bangunan yaitu udara yang dihangankan oleh pemanas. Berbentuk lembaran dengan ketebalan 2 inc/ 5 cm, 3 inc/7,5 cm atau 4 inc/10 cm. Pemasangan : di sisipkan diantara rangka atap.
STRATEGI
Insulation
Roof Thermal
2. Alumunium foil Dingunakan di iklim panas Emissivity rendah dan reflectivity sangat tinggi. Efektif digunakan jika sumber panas dari luar bangunan yaitu matahari. Emissivity sangat rendah 0,03-0,05 dimana radiasi panas matahari yang direradiasikan hanya 3% sampai 5% dari 100% yang diterima. Reflectivity sangat tinggi 0,95-0,97. Dimana rasiasi panas matahari yang dipantulkan 95%-97% dari 100% yang diterima. Berbentuk lembaran dengan ketebalan 0,2 mm. Reduksi perpindahan panas lebih efektif jika diberi bantalan udara dengan tebal keseluruhan 4mm/8mm. Pemasangan : disisipkan diantara rangka atap (umum: dibawah reng)
Thermal Insulation
ROOF THERMAL INSULATION 3. Aspal (bitumen) dan serat kayu Digunakan di iklim panas. Thermal conductivity rendah. Bitumen dan serat kayu dicampurkan pada bahan penutup atap dapat memperoleh kemampuan insulasi termal yang baik. 4. Styrofoam Digunakan di iklim panas. Thermal conductivity rendah. Digunakan sebagai atap dapat menjadi insulasi termal yang baik. Bentuk berupa panel komposit yang diperkuat kabel kawat (wire mesh) yang dilapisi beton pada permukaan luarnya.
Kesimpulan : pemilihan material di iklim yang panas utamakan tumbuhan dan batu bata untuk dinding insulasi. Batasi beton dan batu alam untuk massa termal dan tambahkan insulasi termal atap menggunakan alumunium foil atau penutup atap dengan konduktivitas termal rendah.
STRATEGI
PENGENDALIAN TERMAL
Zone
ZONE
Strategies
Merupakan strategi pengendalian termal melalui pengaturan orientasi bangunan (alokasi bukaan) terkait penerimaan radiasi panas matahari dan alokasi zona bangunan yang dapat digunakan sebagai buffer/penahan radiasi panas matahari (zona servise, zona core) Strategi zone
1. Building orientation. Merupakan pengendalian termal dengan cara perencanaan alokasi bukaan Cahaya (termasuk bukaan udara) yang berpotensi dalam penerimaan radiasi panas matahari ke dalam bangunan. Pertimbangan alokasi bukaan pada strategi building orientation : Sudut jatuh sinar matahari dan arah angin Di Indonesia : radiasi panas adalah kendala. Usahakan bukaan berada di utara dan Selatan.
2. Core zone Merupakan pengendalian termal dengan cara perencanaan alokasi core bangunan agar menjadi penahan penerimaan radiasi panas matahari. Pertimbangan dalam alokasi core pada strategi core zone : 1. Arah datang radiasi panas matahari. Core disisi timur atau barat bangunan. 2. Fungsi. Core berisi ruang servis bukan prioritas dalam memperoleh kenyamanan termal. Kesimpulan : dari strategi zone untuk mengantisipasi kendala panas matahari usahakan building orientation kearah utasa dan Selatan. Sementara core dialokasikan pada sisi timur dan barat.
STRATEGI Green
PENGENDALIAN TERMAL
Strategi green terdiri atas :
1. Lanskap
Strategies
GREEN Merupakan strategi pengendalian termal menggunakan vegetasi melalui desain lanskap dan pengadaan vegetasi di bangunan, baik itu pada atap maupun dindingnya, sehingga memperoleh iklim mikro yang menunjang perolehan kenyamanan termal. Vegetasi mampu membentuk iklim mikro melalui efek pembayangan, fungsi insulasi termal, dan pendingin udara secara pasif dimana uap air hasil respirasi/pernapasan tumbuhan saat penguap mengambil panas dari udara.
Lanskap dibatasi pada pemilihan dan penataan vegetasi pasa site, agar terbentuk iklim mikro yang menunjang perolehan perolehan kenyamanan termal melalui pembayangan dan passive cooling. Efektifitas strategi ini berubah sesuai pertumbuhan vegetasi yang tumbuh membesar dan dapat rontok daunnya. Pertimbangan pemilihan dan penataan vegetasi pada lanskap 1. Optimasi pembayangan. Vegetasi yang mampu memberi pembayangan secara optimal dibagian yang dibutuhkan (dapat berupa pohon besar berdaun lebat dan kanopi lebar (kanopi yang dapat dipilih adalah full-crowned,vase, spreading, layered, dan weeping)). 2. Alokasi vegetasi. Titik tumbuh vegetasi ditata agar terintegrasi dengan system penghawaan alami. Bila angina dalah potensi maka jarak vegetasi tidak rapat dan tidak menghalangi udara. Bila angin adalah kendala makan jarak vegetasi dapat dibuat lebih rapat dan menjadi penahan untuk menurunkan kecepatan angin.
Green
2. Green roof & skycourt GREEN ROOF Merupakan strategi pengendalian termal dengan cara pengadaan vegetasi diatap agar diperoleh insulasi termal terhadap radiasi panas matahari dan terbentuk iklim mikro pada bangunan Pertimbangan green roof 1. Jenis tanaman. Jenis taman intensif atau taman eksentif tergantung pemilihan vegetasi. 1. intensive garden Green roof untuk vegetasi keras seperti pohon tinggi besar. Dengan ini maka dibutuhkan media tanam yang tebal juga (dapat mencapai ketebalan 1,5 m). agar akar tidak terlalu dalam pilih vegetasi akar serabur. 2. Extensive garden Green roof untuk vegetasi lunak seperti Semak, perdu dan rumput. (keseluruhan tebal green roof dapat 15 cm saja) 2.Teknis. Struktur bangunan, waterproof, irigasi dan drainase
SKYCOURT Skycourt merupakan strategi pengendalian termal dengan cara pengadaan vegetasi di recessed sun spaces dan traditional spaces agar diperoleh passive cooling dan terbentuk iklim mikro pada bangunan yang diperlukan untuk sistem penghawaan alami. Pertimbanagn skycourt 1. Jenis vegetasi yang sesuai dengan ruang yang tersedia. 2. Teknis. Struktur bangunan, waterproof, irigasi dan drainase.
3. Green WALL Merupakan strategi pengendalian termal dengan cara pengadaan vegetasi di fasad atau dinding bangunan agar diperoleh insulasi termal dan passive cooling sehingga terbentuk iklim mikro pada bangunan yang dieprlukan untuk system penghawaan alami. Pertimbangan strategi green wall 1. Jenis vegetasi yang dapat tumbuh pada media tanam yang sangat terbatas. 2. Teknis. Struktur bangunan, waterproof, irigasi dan drainase. Bentuk strategi green wall 1. Fasad hijau (green facades). Berupa dinding fasad yang langsung dirambati oleh vegetasi. Akar vegetasi tetap di dalam tanah. Dinding dapat rusak karena lembab. 2. Living wall/biowalls. Berupa dinding modular. Umumnya terbuat dari Vertical Greening Module (VGM) berbahan plastic polypropylene lengkap dengan geotextile, sistem irigasi dan media tanam yang disusun vertical untuk dipasangkan pada dinding bangunan.
Kesimpulan : strategi green untuamana desain lanskap yang menunjang kenyamanan termal disarankan untuk membuat green roof pada atap datar beton dan diberi vegetasi pada recessed sun spaces dan transitional spaces.
STRATEGI Cooling
PENGENDALIAN TERMAL
Effects
Merupakan strategi pengendalian termal melalui efek pendingin Udara didinginkan secara pasif tanpa bantuan alat mekanis oleh proses pengupan uap air. Karena kandungan uap air bertambah (terjadinya peningkatan kelembapan udara) maka agar tidak menghambat perolehan kenyamanan termal strategi ini membutuhkan system ventilasi/sirkulasi udara yang baik.
Kesimpulan : pastikan sistem ventilasi/sirkulasi berjalan dengan baik agar udara yang bertambah lembab oleh uap air tidak menghambat perolehan kenyamanan termal.
COOLING EFFECT
STRATEGI
PENGENDALIAN TERMAL
SECONDARY SKIN
Secondary Skin
Merupakan kulit/selubung bangunan sebagai filter penerimaan radiasi matahari.
kedua panas
Alokasi tidak sekedar bukaan didepan tetapi dapat menutup keseluruhan fasad. Secondary skin bukan cladding/pembukus bangunan yang langsung menempel pada dinding fasad, tetapi memiliki jarak pemasangan tertentu. Pertimbangan dalam secondary skin 1. Kenyaman termal. Tergantung banyak lubang yang dapat meneruskan radiasi matahari. 2. Kemudahan konstruksi. Tergantung material yang digunakan. 3. Estetika dan kebutuhan view. Bersifat subjektif 4. Durability/daya tahan. Karena terekspos maka harus tahan dengan perubahan cuaca.
Teknis pemasangan 1. Jarak minimal ruang antara dinding secondary skin dan fasad 40-60 cm. 2. Bila berupa papan/bilah/batang beri celah 3 cm 3. Apapun material yang digunakan, bagian atas dan bawah ruang antara dinding vasad dan secondary skin usahakan terbuka. Material : kayu, bambu, alumunium, besi, baja ringan enamel-finished alumunium metal, fosted glass dan vegetasi.
TH NKYOU!