Skip to main content

Fresh Graduated Portofolio

Page 1

Fresh Graduated Architecture

DIMAS DWI MUKTI PURWANTO Riwayat Hidup dan Portofolio Desain Terkurasi


Fresh Graduated Architecture

REKAPITULASI DESAIN

Isometri

Siteplan

Tampak

Potongan

Tampak

Siteplan

Potongan I

Desain Prototype


Fresh Graduated Architecture

DAFTAR ISI PERJALANAN BELAJAR ARSITEKTUR

Resume Perjalanan Belajar Arsitektur Curriculum Vitae (CV)

TUGAS AKHIR

Taman Budaya Sleman (S1) -

Analisa

01

-

Konsep

13

-

Desain

33

Eksterior

Interior

KOMPETISI

Pasar Barang Konsumsi Konteks Pandemi COVID-19, di Kemang

Eksterior

II

-

Analisa

73

-

Konsep

77

-

Desain

83


Fresh Graduated Architecture

PERJALANAN BELAJAR DIPLOMA Bercita - cita menjadi arsitek sudah saya miliki ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan, jurusan Teknik Gambar Bangunan. Melanjutkan cita - cita, setelah lulus mengawali pendidikan dasar arsitektur dengan mengambil jenjang Diploma 3 di Akademi Teknik Arsitektur YKPN Yogyakarta, sehingga pada periode ini saya mendalami dasar - dasar teknis dalam perancangan arsitektur.

Selain belajar dari dosen pengampu, diluar kampus juga belajar dari karya - karya arsitektur, bertemu langsung dengan arsitek maupun penghuninya, untuk berdiskusi. Salah satunya ketika menjadi ekspeditor (Yogyakarta Jawa Tengah) bersama tim kurator Pavillion Indonesia "Sunyata : The Poetic of Emptiness". Sedangkan kompetisi arsitektur diikuti untuk memperdalam dan menstrukturkan kemampuan design thinking.

Memulai pendidikan teknis menggambar Bangunan di SMK Negeri 1 Madiun

2015

2016

Memulai pendidikan formal arsitektur (D3) di Akademi Teknik Arsitektur YKPN Yogyakarta

2017

2018

Ekspeditor di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah untuk Pavillion Indonesia, Venice Architecture Biennale 2018 "Sunyata : The Poetic of Emptiness"

LEGENDA

PENDIDIKAN

PEKERJAAN

KONTRIBUTOR

III

KOMPETISI

EKSKURSI


Fresh Graduated Architecture

PERJALANAN BELAJAR SARJANA Melanjutkan pendidikan dasar arsitektur untuk memupuk kemampuan design thinking dengan mengambil jenjang Sarjana di Universitas Mercu Buana Jakarta. Dijalani sekaligus bekerja sebagai desainer interior di Archipelago Interior and Construction, yang kemudian berlanjut menjadi periset dan penulis arsitektur di Omah Library. Waktu banyak dihabiskan dengan berdiskusi bersama dosen pengampu. Salah satunya dengan pak Yulianto Sumalyo, tentang menyikapi kekayaan budaya, material, dan ketrampilan ketukangan lokal di Nusantara, dari arsitek - arsitek Hindia Belanda.

Diskusi tersebut mengantarkan pada kesempatan mengerjakan proses penerbitan (mendesain) naskah "Sejarah, Tata Ruang, dan Arsitektur Keraton Yogyakarta". Setahun kemudian mengerjakan penerbitan (mendesain) naskah "Arsitektur Hindia Belanda" dibawah naungan OMAH Library. Dalam periode yang sama menjadi koordinator webinar diskursus arsitektur terkait, dan menulis buku berjudul "Alvar Aalto : the magic of architect's life". Dan yang terakhir menulis dan mendesain buku "Begawan Padmanaba : Mohammad Danisworo".

Melanjutkan pendidikan formal arsitektur (S1) di Universitas Mercu Buana Jakarta

2019

2020

2021

Desainer Interior di Archipelago Interior and Construction untuk proyek - proyek perkantoran, retail, dan residensial Merencanakan revitalisasi "Kampung Batik" di Kampung Krapyak, Pekalongan

Tim drafter PT. Waskita Karya untuk proyek tol Pemalang - Batang

2022

"Podomoro Design Festival 3.0" (2020) Pasar barang konsumsi pasca pandemi COVID-19 di Kemang

mengerjakan pekerjaan literasi sebagai penulis dan periset di Omah Library

Relawan (Menulis) bersama Omah Library

Ekskursi mempelajari karya - karya arsitek yang ada di Jakarta, Bandung, dan Surabaya

Mendirikan firma arsitektur di Madiun

Ekskursi ke Jawa (Yogyakarta, Klaten, Kediri, dan Surabaya) untuk mempelajari karya - karya arsitek Hindia Belanda dan Romo Mangunwijaya. Ekskursi ke Bali untuk mempelajari arsitektur vernakular hingga neovernakular

"Unexpected Space" (2018) Perpustakaan di tepian sungai Code

IV


Fresh Graduated Architecture

"

DIMAS DWI MUKTI PURWANTO

Bercita - cita menjadi arsitek dengan mengembangkan arsitektur di kota kelahiran

Lahir : Madiun, 7 Maret 1996 Alamat : J.l Mangga Gg.VII No.18 Kota Madiun Email : dimasdwi731996@gmail.com Telepon : 08983452277 Media Sosial Instagram : @dimasdwimuktipurwanto Linkedin : Dimas Dwi Mukti Purwanto

"

PERJALANAN BELAJAR ARSITEKTUR Memulai perjalanan belajar arsitektur dengan mengambil jenjang diploma 3 di Akademi Teknik Arsitektur YKPN Yogyakarta untuk menguasai kemampuan teknis arsitektur. Selama masa kuliah sebagian besar waktu dihabiskan untuk memperkaya wawasan. Salah satunya di ranah pekerjaan kuratorial membantu tim kurator Pavillion Indonesia sebagai ekspeditor dalam penggalian data studi preseden. Sedangkan dalam ranah perencanaan arsitektur, salah satunya turut serta berpartisipasi dalam program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh), merumuskan penyelesaian persoalan banjir rob rutin yang terjadi di kampung batik Krapyak, Pekalongan. Dalam tahap berikutnya, memperdalam ilmu arsitektur dengan mengambil jenjang sarjana di Universitas Mercu Buana Jakarta untuk menguasai kemampuan design thinking. Masa belajar dilalui bersamaan dengan bekerja sebagai desainer interior di Archipelago Interior Design & Construction yang kemudian berlanjut bekerja sebagai penulis dan periset arsitektur di OMAH Library. Selain itu, aktif juga sebagai pemantik pada forum diskusi arsitektur juga berpartisipasi dalam pameran arsitektur.

PENDIDIKAN ARSITEKTUR

PEKERJAAN LITERASI

2015 - 2018 Jurusan Teknik Arsitektur Akademi Teknik Arsitektur YKPN Yogyakarta

Tim Penulis - Buku "Alvar Aalto : the magic of architect's life" (2020), bersama OMAH Library - Buku "Begawan Padmanaba Mohammad Danisworo" (2022), bersama OMAH Library

2019 - 2021 Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Mercu Buana Jakarta

:

Desainer Buku - Buku "Sejarah dan Tata Ruang Arsitektur Keraton Yogyakarta" (2020), ditulis oleh Yulianto Sumalyo

KOMPETISI DESAIN

Arsitektur - "Unexpected Space" (2018) Posisi ke 3 Perpustakaan di tepian sungai Code

- Buku "Arsitektur Hindia Belanda" (2021), ditulis oleh Yulianto Sumalyo

Koordinator Serial Webinar - "Wacana Arsitektur Nusantara" dari Omah Library

- "Podomoro Design Festival 3.0" (2020) Posisi 4 Pasar barang konsumsi pasca pandemi COVID-19 di Kemang

- "Perjalanan Mengenal Indonesia" dari JAAI dan Omah Library - "Wacana Arsitektur Bentuk | Form" dari Omah Library V


Fresh Graduated Architecture

KESAN DARI GURU “Saya mengenal Dimas dari salah satu teman saya Ren Katili. Saya melihat ketekunannya dalam mengejar cita - cita menjadi arsitek. Di posisinya yang masih kuliah, Dimas telah memberikan lebih dari ekspektasi saya.”

"Potensial dan punya semangat.”

Realrich Sjarief

Yulianto Sumalyo

KETRAMPILAN SOFTWARE

KONTRIBUTOR

2017 - Ekspeditor di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah untuk Pavillion Indonesia, Venice Architecture Biennale 2018 "Sunyata : The Poetic of Emptiness"

Analisa Desain - Google Spreadsheet (online), Program ruang (Besaran ruang) - Google Dokumen (online), Riset preseden dan storytelling desain

2018 - Merencanakan revitalisasi "Kampung Batik" di Kampung Krapyak, Pekalongan

- Google Slide (online), Storyboard dan moodboard

Konseptual Desain - Adobe Ilustrator, konseptual desain

2019 - Relawan (Menulis) bersama Omah Library

Diagram

- Photoshop, Editing gambar perspektif PEMANTIK DISKUSI

Gambar Arsitektur - Autocad, gambar 2 dimensi

Arsitektur - "Klinik Arsitektur" (2019) Korelasi arsitektur kesehatan penghuni

- Sketchup, gambar 3 dimensi

Render Arsitektur - V-Ray, Render gambar perspektif

terhadap

- "Inklusif VS Ekslusif" (2020) Korelasi arsitektur terhadap kehidupan ber-rumah tangga masyarakat Jawa

- Lumion, Render animasi dan gambar perspektif - Adobe Premiere, Editing animasi

PAMERAN Arsitektur - "Labirin" (2019) Desain hunian di kawasan dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi

Tata Letak (Panel) - Adobe Indesign, Panel presentasi - Canva, Panel presentasi (online)

BAHASA - Pribumi : Bahasa Indonesia dan Jawa

HOBI Menulis Arsitektur

- Dasar : Bahasa Inggris (Baca - Tulis)

Ekskursi Arsitektur

VI


TUGAS AKHIR SARJANA

TAMAN BUDAYA SLEMAN ANALISA

01


Taman Budaya Sleman

02


Potensi Substansial Arsitektur (Eksplorasi Material)

Sentra Bata Godean, Sleman

Sentra Genteng Godean, Sleman 03


Taman Budaya Sleman

Di Yogyakarta dan sekitarnya memiliki pengrajin dan material lokal yang berkualitas. Seperti material bangunan olahan dari tanah liat dan pengrajin pahat batu, dimana kedua potensi ini akan menghasilkan rancangan Taman Budaya yang otentik.

Kerajinan Pahat Batu, Muntilan

Sentra Gerabah Kasongan, Bantul 04


Taman Budaya Sleman

Peluang Pemakai Ruang

Sektor Event

Sektor Pendidikan

Artjog

Universitas Gadjah Mada

Jogjarockarta

Universitas Negeri Yogyakarta

Jogja Netpac Asean Film Festival

Institut Seni Indonesia - Yogyakarta

Dari sektor event dan festival, banyak komunitas potensial yang perlu diwadahi. Sehingga rancangan fitur - fitur ruang perlu didukung dengan spesifikasi ruang yang berkualitas seperti kualifikasi akustik ruang maupun ruang pertunjukan yang ideal. 05


Taman Budaya Sleman

Kompetitor Taman Budaya Sleman

Gedung Serbaguna

Taman Budaya

Jogja Expo Center (Gedung serbaguna)

Taman Budaya Kulon Progo

Jogja Nasional Museum (Gedung Pameran)

Taman Budaya Gunung Kidul

Plaza Ngasem (Amphiteater terbuka)

Taman Budaya Yogyakarta (Gedung Pertunjukan)

Studi kompetitor menyimpulkan bahwa tidak ada satupun bangunan kultural yang Merepresentasikan Konteks Lokal dengan mengoptimalkan Kerajinan dan Material Lokal. Padahal mereka adalah potensi terbesar dalam menghasilkan desain yang Otentik. 06


Pendekatan Perancangan Arsitektur (Berkelanjutan -> Regional)

Brundtland report (1987)

Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (1992) @Rio de Janeiro

Merujuk kepada komitmen pengembangan peradaban yang berkelanjutan. Bahwa arsitektur Taman Budaya ini akan berkontribusi melalui rancangan yang secara sosial mampu melibatkan peran ketrampilan lokal, memasukkan pertimbangan konteks lingkungan seperti iklim dan ekologi, yang akan memberi dampak signifikan bagi ekonomi lokal melalui desain yang memaksimalkan performa material lokal.

Sunyata : The Poetic of Emptiness (2018)

Ketukangan : Kesadaran Matrerial (2014)

Indonesia khususnya Yogyakarta memiliki potensi dari aspek Tangible berupa kekayaan material yang melimpah dan ketrampilan ketukangan yang mumpuni, dan dari aspek Intangible memiliki kekayaan berupa filosofi ruang (spiritual) yang masih lestari hingga sekarang. Sehingga rancangan Taman Budaya akan mengawinkan kedua aspek tersebut untuk menciptakan inovasi pengalaman ruang yang otentik. 07


Taman Budaya Sleman

Dalam konteksnya di Indonesia (Arsitektur Berkelanjutan) paling relevan diimplementasikan melalui pemakaian Material Lokal yang melibatkan Pengrajin Lokal, dengan mempertimbangkan iklim setempat sehingga mampu menghasilkan pengalaman ruang yang otentik.

Fisika Bangunan (1980)

Wastu Citra (1988)

Dari aspek performa (fungsi) bangunan, untuk menghasilkan desain yang otentik, rancangan akan mempertimbangka konteks iklim dalam menciptakan pengalaman ruang yang nyaman sekaligus aman terhadap konsekuensi - konsekuensinya. Dengan tetap mempertimbangkan aspek estetika, desain akan memasukkan nilai - nilai seni dan kultur lokal khususnya Jawa.

Strange Detail (2007)

The Eyes of the Skin (2005)

Ruang akan dirancang untuk menghasilkan pengalaman yang mampu menyentuh sensibilitas indra manusia (mendengar, melihat, meraba dan mencium) melalui rekayasa volume ruang yang dikombinasikan dengan ketrampilan tukang dalam mengolah material lokal. Sehingga mampu menghasilkan inovasi arsitektur yang otentik (tidak pernah dirasakan di tempat lain). 08


Analisa Makro (Skenario Pencapaian ke Taman Budaya)

UTARA

09


Taman Budaya Sleman

Skenario Pencapaian Taman Budaya mempertimbangkan jenis infrastruktur jalan yaitu Jalan Provinsi, Jalan Kabupaten, dan Jalan Desa. Sehingga rancangannya direkayasa agar sirkulasi keluar / masuk pengunjung tidak mengganggu lalu lintas.

Luas persil 23.193 m2

UTARA

LEGENDA : Jalan dengan intensitas kepadatan tinggi (Jalan Provinsi) Jalan dengan intensitas kepadatan sedang (Jalan Kabupaten) Jalan dengan intensitas kepadatan rendah (Jalan Desa) Skema jalan satu arah Skema jalan dua arah

Simpang tiga Simpang empat Lokasi Persil

10


Analisa Mikro (Potensi Persil)

Jalan Kabupaten selebar dua kendaraan besar, terhubung dengan persil bagian utara.

Jalan Kabupaten Terdapat simpang empat pada posisi hook persil, namun terhalang oleh bangunan rumah tinggal yang bukan persil Taman Budaya.

Simpang Empat

Jalan Desa

Jalan desa selebar satu kendaraan besar, terhubung dengan persil bagian barat.

11


Taman Budaya Sleman

Di sekitar persil memiliki potensi untuk mengoptimalkan performa rancangan salah satunya persawahan, sungai, air terjun, dan simpul dua kelompok infrastruktur yaitu jalan kabupaten dan jalan desa.

Terdapat air terjun di sungai bagian timur persil, suaranya terdengar hingga radius 100 meter. Air terjun ini terjadi karena elevasi sungai makin ke selatanmakin menurun.

Air Terjun Jenis sungai cenderung seperti tebing, cukup curam dan sulit diakses secara fisik.

Sungai Jenis Curam

Area Persawahan

Pemandangan ke arah persil adalah area persawahan dengan latar belakang pepohonon rimbun tepian sungai.

12


TUGAS AKHIR SARJANA

TAMAN BUDAYA SLEMAN KONSEP

13


Taman Budaya Sleman

14


Konsep Kawasan (Alur Kendaraan Bermesin - Pola Tata Ruang)

LEGENDA : Skenario sirkulasi pengunjung (satu arah)

Skenaria sirkulasi pengelola (dua arah)

15


Taman Budaya Sleman

Skenario sirkulasi kendaraan bermesin diletakkan di bagian terluar persil sehingga tidak akan mengganggu aktivitas pengunjung. Sedangkan pola tata ruang dirancang dengan alur sirkulasi linier (sekuensial), selaras dengan bentuk persil yang memanjang.

LEGENDA : Sumbu Imajiner

16


Konsep Kawasan (Tata Ruang Kawasan - Tata Letak Bangunan)

LEGENDA : Zona Penerima Zona Fungsi Utama Zona fungsi pengelola

17


Taman Budaya Sleman

Peletakan zona dan blok bangunan berpijak dari potensi pemandangan dari dalam persil berupa sungai dan persawahan di bagian timur dan persawahan di bagian barat. Sedangkan Volume tiap blok bangunan di desain untuk mencapai kenyaman termal yang ideal dengan merekayasa teriknya sinar matahari tropis melalui strategi pembayangan.

1.000 Sqm

3760 Sqm 700 Sqm

700 Sqm

720 Sqm

700 Sqm

Panggung

LEGENDA : Gedung Penerima : Drop Off, Lobi dan Resepsionis

Gedung Literasi : Perpustakaan dan Diorama

Lingkungan Pendopo : Pendopo / Ruang Pertunjukan dan Ruang Rias

Gedung Pengelola : Unit Pengelola Terpadu dan Sekretariat Bersama

Gedung Pertunjukan : Auditorium, Studio dan Retail Musik, Kafetaria, dan Lavatori

Museum : Pusat Komunitas Agraria

Gedung Pameran : Galeri Seni Rupa, Workshop Kesenian, Amphiteater, Mushalla, Resto, dan Homestay

18


Konsep Kawasan (Integrasi Bangunan - Tropical Climate)

LEGENDA : Jalur kendaraan bermesin untuk pengelola Jalur kendaraan bermesin untuk pengunjung Jalur pejalan kaki pengunjung

19


Taman Budaya Sleman

Jalur pejalan kaki didesain untuk tidak bersinggungan dengan jalur kendaraan bermesin, dengan mempertimbangkan bahwa tiap blok bangunan mudah dijangkau terkait pengelolaan dan perawatan. Sedangkan dinding compound didesain untuk mereduksi teriknya sinar matahari sekaligus beban angin terhadap blok bengunan.

LEGENDA : Dinding compound

20


Konsep Kawasan (Rain Harvesting - Pembayangan)

1

2

3

4 9

8 5

A

18.00 WIB 6

06.00 WIB

7

10 17

13

12

11

B 16 14

15

UTARA LEGENDA : 1

Gerbang masuk kawasan

8

Mushalla

15

Unit pengelola terpadu

Parkir pengunjung

2

Gedung penerima

9

Gedung literasi

16

Sekretariat bersama

Parkir pengelola

3

Pendopo

10

Restoran

17

Pusat komunitas agraria

Alur kendaraan pengunjung

4

Auditorium dan lavatori

11

Retail cenderamata

Zona penerima

Alur kendaraan pengelola

5

Galeri seni rupa

12

Kolam air tawar

Zona fungsi utama

Alur pengunjung pejalan kaki

6

Workshop kesenian

13

Homestay

Zona pengelola

Alur pengelola pejalan kaki

7

Amphiteater

14

Aula

Dinding compound

21


Taman Budaya Sleman

Iklim tropis lembab yang terdiri dari musim hujan dan kumarau direkayasa melalui metode rain harvesting. Dimana air hujan ditampung di kolam, lalu difilter dan didaur ulang hingga layak didistribusikan ke lavatori dll. Sedangkan kenyamanan termal dioptimalkan melalui strategi pembayangan dan stack effect, sekaligus mengoptimalkan potensi pemandangan.

18.00 WIB

06.00 WIB

Hujan

Stack effect

Waterfall View point

Tampias

Pompa Kolam Distribusi Filter

POTONGAN A

18.00 WIB

06.00 WIB

Hujan

Waterfall View point View point

Sawah

Pompa

Kolam

Filter

Taman

Distribusi

POTONGAN B 22


Konsep Arsitektur (Operasi Bentuk dan Ruang, Gerbang Masuk Kawasan)

Tanah

Udara Air Api

1 Bentuk Dasar Menggunakan bentuk dasar empat (sekawan) buah balok, untuk merepresentasikan elemen alam yaitu tanah, udara, air, dan api.

Ke Ba Ka

pal

a

dan ki

2 Morfologi Arsitektur Membentuk imaji kepala, badan, dan kaki dari tubuh manusia, dimana kaki yang berperan menopang batang tubuh (torso), sedangkan kepala sebagai mahkota. Hingga akhirnya terbentuklah candi yang monumental.

3 Fitur Ruang

Tempat Duduk

Celah yang terjadi antara candi - candi difungsikan sebagai pagar sekaligus seating area, sedangkan satu celah lainnya untuk akses masuk kawasan.

Gerbang Masuk Kawasan

23


Taman Budaya Sleman

Operasi bentuk pada gerbang kawasan terinspirasi dari bentuk candi yang memiliki morfologi kepala, badan, dan kaki. Jumlahnya empat atau sekawan dalam bahasa Jawa, yang memiliki filosofi bahwa tanah, udara, air, dan api yang saling bersinergi dalam pembentukan siklus kehidupan di bumi.

Mahkota

Pengatap

4 Atap Atap masing - masing candi merupakan mahkota yang indah. Didesain dengan bentuk bertingkat menyerupai tumpang sari. Sedangkan masing - masing candi terhubung layaknya tangan yang saling bergandengan melalui elemen pengatap.

Pengatap

5 Prototipe Terminal

Tempat Duduk

Secara lebih spesifik, pagar difungsikan sebagai ruang tunggu dengan fitur tempat duduk beratap lengkap dengan tempat cuci tangan.

Tempat Cuci Tangan

Kepala

6 Prototipe Candi Badan

Candi merupakan penanda kawasan sehingga bentuknya monumental dan mudah diingat melalui elemen kaki yang kokoh menahan badan yang tegak, dan memiliki keindahan puncak yang berundak.

Kaki

24


Konsep Arsitektur (Operasi Bentuk dan Ruang, Gedung Penerima)

U

B

1 Bentuk Dasar S

Volume balok paling ideal dan efisien untuk pola aktivitas linier, karena seluruh ruang dapat diakses tanpa ada ruang negatif.

T

Koridor

2 Volume Ruang Mengurangi sebagian mendapatkan beranda.

Ruang Penerima (Lobi)

volumenya

untuk

Pull Beranda

Dinding

3 Dinding Merekayasa pola aktivitas yang bersifat mengarahkan melalui pola perletakan dinding.

25


Taman Budaya Sleman

Secara spasial, bentuk ruang didesain spesifik sebagai fungsi pengarah sekaligus menangkap pemandangan. Sedangkan secara termal terjadi pada bagian atap (kepala) yang didesain untuk merespon iklim tropis lembab dengan strategi air stack effect melalui implementasi bentuk atap yang lebar, berlapis (tumpang sari), dan berongga.

4 Lantai Mengangkat elevasi lantai untuk menangkap pandangan ke arah gerbang masuk kawasan tanpa terhalang kendaraan.

Permukaan Lantai

5 Transportasi Vertikal Menyediakan akses vertikal berupa tangga dengan 8 tingkat (Hasta Brata) dan bidang miring untuk difabel.

Tangga

Bidang Miring

6 Atap Bentuk atap berundak didesain untuk strategi air stack effect yang terinspirasi dari bentuk tumpang sari, sedangkan permukaannya yang lebar (visor topi) adalah strategi pembayangan.

Visor Topi Atap Berundak

26


Konsep Arsitektur (Operasi Bentuk dan Ruang, Gedung Auditorium)

1 Bentuk Dasar Atas pertimbangan efisiensi ruang, desain auditorium dirancang dengan skenario panggung yang dipandang dari satu arah. Sehingga skenario ini paling relevan didukung oleh bentuk dasar volume balok.

2 Volume Ruang

Auditorium

Mengurangi sebagian volumenya untuk mendapatkan hall yang terbuka. Hall sangat diperlukan untuk auditorium sebagai ruang tunggu sebelum pertunjukan dimulai.

Pull

Outdoor Hall Servis + Transportasi Vertikal

Dari Backstage

Akses Talent

Keluar

3 Dinding Tata letak dinding untuk menciptakan pola ruang yang ideal terhadap aktivitas user auditorium. Ini mencakup rekayasa integrasi alur pengunjung dan talenta mulai dari masuk hingga keluar gedung.

Keluar Masuk

27


Taman Budaya Sleman

Operasi bentuk auditorium bermula dari ide skenario panggung yang dipandang dari satu arah dengan tipe audiens pandangan ke panggung sedikit keatas, sejajar, dan kebawah. Sedangkan atapnya merupakan representasi bangunan tropis lembab yang merekayasa teriknya matahari dengan aliran air yang mengalir menuruni atap berundak.

Backstage

Panggung

4 Lantai Dasar + Transportasi Vertikal

Akses Talen

Lantai auditorium didesain untuk tiga tipe audiens, sehingga elevasi panggungnya ditinggikan. Yaitu, audiens dengan pandangan panggung sedikit keatas (1), sejajar (2), berada di lantai dasar, sedangkan pandangan kebawah (3) berada di lantai mezzanine. Kedua lantai terhubung melalui tangga dan lift di indoor hall.

1. Lantai Dasar 3. Mezzanine Transportasi Vertikal

2. Lantai Dasar

Retail Musik

5 Lantai Atas + Transportasi Vertikal

Studio Kafetaria

Menghadirkan bentuk ruang loft untuk mengoptimalkan integrasi pandangan antara studio dan retail musik melalui kafetaria. Sedangkan aksesnya melalui tangga dan lift yang terhubung dengan indoor hall auditorium.

Transportasi Vertikal

T U 6 Atap

View Point

Bentuk atap bagian barat didesain untuk mereduksi teriknya sinar matahari melalui desain atap berundak yang mengalirkan air. Sedangkan sisi utara menangkap pemandangan gunung merapi, selatan menangkap aerial kawasan taman budaya dan persawahan, dan timur menangkap matahari terbit dan persawahan.

Atap Berundak

S

B

28


Konsep Arsitektur (Operasi Bentuk dan Ruang, Gedung Literasi)

T

1 Bentuk Dasar

U

Pola aktivitas dalam ruang literasi didesain dengan alur linear, untuk memudahkan integrasi kegiatan perpustakaan mulai dari pusat informasi, koleksi hingga ruang baca. Sehingga bentuk ideal adalah balok.

S

B

2 Volume Ruang Membentuk volume yang menyerupai bukit sehingga memiliki fitur atap yang berfungsi, sekaligus mampu mengoptimalisasi potensi pemandangan alam, dalam mendukung kenyamanan user terkait sumber inspirasi.

Bidang Miring

Gedung Literasi

3 Dinding Dinding

Masuk

Keluar Ribbon Window Lantai Dasar

29

Membuat ribbon window sehingga terjadi ventilasi silang sekaligus mendapat pemandangan area persawahan dan kawasan taman budaya seluas hampir 360 derajat.


Taman Budaya Sleman

Gedung literasi didesain untuk menangkap pemandangan hampir 360 derajat untuk mendukung kegiatan literasi terkait sumber inspirasi. Sehingga kombinasi ribbon window dan struktur jamur menjadi paling ideal. Sedangkan bentuk atap bidang miring untuk menangkap pemandangan ke seluruh kawasan, persawahan hingga gunung merapi.

4 Lantai + Transportasi Vertikal Elevasi lantai mengunakan prinsip loft, sehingga volume ruang yang memanjang terasa luas dan tinggi dengan elevasi langit langitnya yang variatif. Sehingga suasana ruang literasi dapat saling terintegrasi baik secara visual melalui void.

Tangga

Taman Mezzanine 3

Mezzanine 2

Mezzanine 1

5 Struktur Pendukung Menggunakan sistem struktur jamur sebagai pendukung konsep pandangan 360 derajat dan prinsip loft. Sedangkan secara spasial sebagai acuan perletakan furniture koleksi dan memudahkan kategorisasi buku dll.

Struktur Jamur

Struktur Konvensional

6 Atap

Bidang Miring

Atap didesain untuk dapat diakses dan memiliki pemandangan aerial kawasan hingga lingkungan sekitar, termasuk area persawahan maupun gunung merapi.

Akses ke Atap View Point 2

View Point 1

30


Konsep Arsitektur (Operasi Bentuk dan Ruang, Resto & Cenderamata)

U T

1 Bentuk Dasar Bentuk site memanjang dengan pola linear (sekuensial) sehingga balok menjadi bentuk paling ideal.

B S

Resto & Cenderamata

2 Volume Ruang Kolam

Elemen air dihadirkan di beranda bangunan melalui kolam dangkal dan tenang sebagai optimalisasi kenyaman termal iklim tropis.

Pull

Atap Berundak yang mengalirkan air

3 Atap Elemen atap didesain berbentuk berundak untuk mengalirkan air. Air digunakan sebagai filter teriknya sinar matahari, sehingga ruang dalam memiliki pengalaman bias cahaya yang spektakuler.

31


Taman Budaya Sleman

Gedung resto dan cenderamata dikonsepsikan sebagai pendobrak ekonomi lokal, sehingga perlu didukung dengan desain yang monumental. Berpijak dari faktor iklim, teriknya matahari difilter dengan aliran air. Sehingga selain menghasilkan keindahan yang spektakuler pada interior, eksterior tampak natural sebagai air terjun.

Akses visual & Fisik ke kolam Lantai Dasar

4 Lantai Bentuk lantai dasarnya memanjang mengikuti bentuk bangunan yang didesain dengan pola aktivitas sekuensial.

Bumi Air Angin Bulan Matahari Laut Gunung Api

5 Struktur Pendukung

Struktur Pendukung

Struktur pendukung (kolom) didesain berjumlah delapan untuk merepresentasikan nilai - nilai kebijaksanaan Hasta Brata.

Akses Kolam Atap berundak dan berongga Struktur Pendukung

6 Prototipe Tumpang Sari Ketika musim hujan bias cahaya akan menembus air terjun, saat kumarau cahaya akan menembus celah - celah tumpang sari.

Kolam

32


TUGAS AKHIR SARJANA

TAMAN BUDAYA SLEMAN DESAIN

33


Taman Budaya Sleman

Gerbang Kawasan

Ruang Utilitas

Restoran & Cenderamata

Area Parkir

Workshop & Galeri Seni

Lingkungan Homestay

Gedung Penerima

Mushalla

Pusat Komunitas Agraria

Pendopo

Amphiteater

Sekretariat Bersama

Auditorium

Gedung Literasi

Unit Pengelola Terpadu

34


A

1 3

D

2 C

B

4 E

5

1

F G A H

6

I

9 7

1 B 2 3 8

A

4 C 5

B

9 10

D

7

E

6

C F 8 G

10

H

9

Utara

I

SITEPLAN

35

0

12

36

108


A

1 3

D

2 C

B

4 E

5

F G A H

6

I 7

1 B 2 3 8

A

4 C 5

B

9 10

D

7

E

6

C F 8 G

10

H

9

Utara

I

BLOKPLAN

36

0

12

36

108


Gedung Auditorium Pendopo Gedung Penerima Mushalla

Gerbang Kawasan

Unit Pengelola Terpadu

Pusat Komunitas Agraria

Gedung Literasi

Restoran & Cenderamata

Pintu Masuk Pengunjung

TAMPAK DEPAN

Gedung Auditorium Gerbang Kawasan

Gedung Penerima

Pusat Komunitas Agraria

Pendopo

Gedung Literasi

Unit Pengelola Terpadu

Sekretariat Bersama

TAMPAK KANAN

Gedung Auditorium Pendopo

Amphiteater

Gedung Penerima Gerbang Kawasan

Pintu Masuk & Keluar Pengelola

Lingkungan Homestay

Unit Pengelola Terpadu

Pintu Keluar Pengunjung

TAMPAK KIRI

Gedung Auditorium Lingkungan Homestay

Sekretariat Bersama

Workshop

Galeri Seni

Amphiteater TAMPAK BELAKANG

37


Hall

Studio

Air Terjun Berundak

Drop off

Compound

Ruang Informasi

Retail Auditorium

Kafetaria

Beranda + 24.15 + 19.25 + 14.85 + 9.30

+ 18.00 + 12.25 + 9.30 - 0.15

- 0.15

Gerbang Masuk Kawasan

Kolam

Kolam Beranda

Area Parkir

Ruang Pompa & Gudang

Pendopo

Koridor

Backstage Akses Pengelola

Backstage

Storytelling - Potongan A

POTONGAN A

Pengunjung masuk melalui gerbang kawasan melewati area parkir dengan beberapa pohon peneduh untuk mencapai gedung penerima. Di dalamnya termasuk lobi, beranda, ruang informasi, dan koridor yang mengantarkan pengunjung ke lingkungan pendopo. Pendopo berfungsi sebagai ruang pertunjukan atau bersantai. Memiliki kolam penampungan air hujan di sekelilingnya. Sedangkan Auditorium adalah ruang seni pertunjukan yang dilengkapi fasilitas penunjang berupa studio, retail, dan kafetaria di bagian atapnya.

Atap Gedung Literasi Gedung Penerima

Gerbang Masuk Kawasan

Auditorium Diorama

Galeri Seni

Pendopo

Backstage + 12.90

+ 9.30 + 3.60 + _ 0.00 Mushalla

Koleksi Area Persawahan

Ruang Baca Semi-Terbuka

Perpustakaan

Ruang Baca Terbuka

Workshop Kesenian

Koridor

Akses Pengelola

+ 0.90 - 0.15 - 2.40

Amphiteater

Storytelling - Potongan B

POTONGAN B

Setelah melalui auditorium, pengunjung akan menemui lingkungan amphiteater. Di dalamnya termasuk blok bangunan yang terpadu yaitu amphiteater, galeri seni rupa, dan workshop kesenian. Terhubung dengan gedung literasi melalui koridor. Sedangkan gedung literasi merupakan bangunan di tengah area persawahan. Di dalamnya termasuk ruang perpustakaan, koleksi, dan diorama. memiliki fitur atap hijau yang bisa diakses pengunjung. Kedua blok bangunan ini dilengkapi fasilitas peribadatan berupa mushalla.

Bathroom Air Terjun Berundak Gerbang Masuk Kawasan

Gedung Penerima

Pendopo

Kamar Tidur Living & Kitchen

+ 9.30 + 7.20 + 3.50 - 0.15 Area Persawahan

Kolam

Gedung Literrasi

Alun - Alun

Restoran & Cenderamata

Storytelling - Potongan C

Akses Pengelola POTONGAN C

Setelah gedung literasi, sekuen berikutnya adalah gedung restoran & cenderamata. Gedung ini meiliki pemandangan persawahan. Orientasi menghadap barat, sehingga teriknya sinar matahari di filter dengan air yang terjun melalui atap berundak - turun ke kolam penampungan. Sedangkan di baliknya adalah lingkungan homestay. Orinentasi menghadap timur untuk memaksimalkan sinar matahari pagi yang menyehatkan. Memiliki fitur alun - alun, pemandangannya sungai dan sawah.

38


Aksonometri

39


Taman Budaya Sleman

Dalam skala kawasan, aspal digunakan untuk permukaan yang dipijaki oleh kendaraan, beton digunakan untuk permukaan yang dipijaki oleh pejalan kaki, rumput sebagai permukaan area hijau, sedangkan bata untuk dinding compound. Sedangkan dalam skala arsitektur menggunakan material bata, beton, kaca, dan kayu.

6 Dinding (Compound)

Bata

5 Bangunan

Bata

Beton

4 Pedestrian

Beton

3 Area Hijau

Rumput

2 Sirkulasi Kendaraan Bermesin

Aspal

1 Siteplan 40

Kaca

Kayu


Gedung Penerima

41


42


Atap Datar Material Beton

Skylight Kaca

Skylight Kaca

Atap Berundak Atap Datar Dinding Compound Kisi - Kisi Kayu Pohon Tajuk Melingkar

Material Bata

Tampak Kiri

Dinding Compound

Material Beton

Pohon Tajuk Melingkar

Atap Berundak

Material Bata Koridor ke Pendopo

Rumput Gajah

43

Dinding Compound


Skylight Kaca

Dinding Compound Material Bata

Tampak Atas

Kolom Bahu Dayang

Skylight Kaca

Atap Berundak Material Bata

Pohon Tajuk Melingkar

Rambatan Tangga Plat Baja

Atap Berundak

Dinding Compound

Tampak Depan

Tampak Kanan

Skylight Kaca Atap Berundak

Atap Datar Material Beton

Perkerasan Aspal

Tampak Belakang

Tampak

0

44

3

9

12


+12.25 +9.30

+1.20 0.00

Parkir

Pusat Informasi Pedestrian

+12.25

+12.25

+9.30

+9.30

+4.00 +1.20 0.00 0.00

Drop Off Pedestrian

Beranda

Koridor

Koridor ke Pendopo

Potongan C

D

1

2

1 Parkir

3

2 Pusat Informasi

4

3 Tangga 4 Pedestrian

45


+12.25 +9.30

+2.40 +1.20

Koridor Potongan A

+12.25

+12.25

+9.30

+9.30

+2.40 +1.20 -0.15 -0.15 Pusat Informasi

Parkir

Koridor

Pusat Informasi

Tangga

Drop Off

Pedestrian Potongan B

Potongan D

C 6

A 5

B 5 Beranda 6 Koridor 7 Drop Off

8

8 Ramp 7

9 9 Pedestrian Denah Denah dan Potongan

0

46

3

9

12


1

Gerbang masuk

2

Gedung penerima, dipandang dari pedestrian gerbang masuk

47


3

Dari resepsionis, memandang ke arah parkiran dan taman depan

4

Koridor menuju lingkungan pendopo

48


Gedung Auditorium

49


50


B

9

8

10

6

7

A 9 11 5

4 3

2

1

1 Hall Terbuka

4 Lift Pengunjung

7 Audiens

10 Toilet

2 Hall

5 Shaft

8 Backstage

11 Lift Servis

3 Lavatori

6 Panggung

9 Ruang Rias

Lantai Dasar

0

3

9

21

B

23 20

22 21

19

21

18

26 28

A

25 24 27 31

29

17 30

17 Hall

20 Lobi Studio

23 R.Tunggu

26 Meeting Room

29 Lift Pengunjung

18 Kafetaria

21 Studio Musik

24 Toko Pertunjukan

27 Lift Servis

30 Lavatori

19 Co - Working

22 Studio Rekaman 25 Gudang

28 Taman

31 Shaft Lantai Satu

0

51

3

9

21


B 14

13

A

14 15

12 16

12 Hall

14 Audiens

13 Audiens

15 Lift Pengunjung

16 Lavatori Lantai Mezzanine

0

3

9

21

B

34 31

32

33

A 36

35 37

38

31 Hall + Meeting Room

33 Operator

35 Co - Working

37 Lift Servis

32 Cyclorama

34 Media Centre

36 Teras

38 R. Utilitas Lantai Dua

0

52

3

9

21


Skylight Kaca

R. Mesin Lift Skylight Kaca

Balok

Kolom

Material Beton

Air Terjun

Material Bata Pohon Tajuk Melingkar

Kolam

Rumput Gajah

Tampak Depan

0

3

9

+24.15

21

+24.15

+21.65 +19.85

+19.25 +17.15 +14.85

+14.85

+10.88 +7.95 +5.25

+5.25

+2.40 0.00

0.00

Lantai Dua Lantai Satu Lantai Mezzanine Lantai Dasar

Hall+Meeting Room Studio Musik Audiens

Co - Working

Koridor Toko Pertunjukan Void

Audiens Hall Terbuka

Audiens

Potongan B

0

53

3

9

21


Skylight Kaca

Material Beton

Pohon Tajuk Melingkar

Kolom

Air Terjun

Material Bata

Pohon Tajuk Melingkar Kolam Pintu Keluar Auditorium Pintu Masuk R. Pompa + Gudang

0

Tampak Samping Kiri

3

9

+24.15

21

+24.15 +21.65

+19.25

+19.25

+17.45

+17.15

+14.85

+14.85

+10.88 +7.95

+7.65

+5.25 +4.50

+2.55

+0.90

0.00

0.00

-1.20 Lantai Dua Co - Working

Lantai Satu Lantai Mezzanine Lantai Dasar Semi Basement

Kolam

Hall

Co - Working

Kafetaria

Toko Pertunjukan

Audiens Tribun

Audiens

Audiens Tribun

Audiens

Teras Teras Taman

Panggung

Backstage

Potongan A

R.Pompa & Tangki Air 0

54

3

9

21


5

Lobi Auditorium

6

Hall auditorium

55


7

Auditorium, dipandang dari stage

8

Auditorium, dipandang dari kursi audien

56


Gedung Literasi

57


58


B

B

04

A

A

06

03 02

C

C

01

01 Ruang Pustakawan

03 Koridor

05 R. Baca Semi - terbuka

02 Perpustakaan

04 Taman Baca

06 Diorama

Lantai Satu & dua

0

59

3

9

12


B

B

A

A

09

07

C

C

08

07 Diorama

08 Ruang Koleksi

09 Ruang Baca di Atap

Lantai Tiga & Atap

0

60

3

9

12


Material Bata

Jendela Swing

Material Bata

Jendela Swing Pintu Masuk Ribbon Windows

Rumput Gajah

Ribbon Windows

Tampak Depan

0

3

9

12

+3.85 +2.50 +0.75 0.00 Ruang Baca di Atap Ruang Baca Semi-terbuka Ruang Baca Semi-terbuka Potongan A

0

3

9

12

61

Taman


Pohon Tajuk Melingkar

Pohon Tajuk Melingkar

Atap Hijau Jendela Swing

Rambatan Tangga Baja Jendela Swing

Kolom Bulat

Ribbon Windows

Tampak Samping Kanan

0

3

9

Tampak Belakang

12

0

3

9

12

+9.30

+5.775 +4.20 +2.625 +0.75 0.00 -0.75 Ruang Baca di Atap

Ruang Koleksi Diorama

Diorama Koridor

Ruang Pustakawan

Perpustakaan

Perpustakaan

Potongan B

0

3

9

12

62

Potongan C

0

3

9

12


9

Pintu masuk gedung literasi

10

Interior gedung literasi

63


11

Tangga menuju atap gedung literasi

12

Gedung literasi, dipandang dari atap gedung unit pengelola terpadu

64


Gedung Restoran dan Cenderamata

65


66


Skylight Kaca

Atap Berundak

Kolam Ikan

Skylight Kaca

Material Bata

Air Terjun

Kolom

Air Terjun

Koridor Masuk Potongan D

Atap Berundak

Koridor ke Lingkungan Homestay

67


Atap Datar Beton

Dinding Compound

Tampak Atas

Atap Berundak

Skylight Kaca

Dinding Compound

Koridor ke Zona Pengelola

Material Bata

Tampak Depan

Tampak Kanan

Skylight Kaca

Dinding Compound

Material Bata Tampak Belakang Tampak

0

68

3

9

12


+9.30

+2.40

0.00 Cenderamata

+9.30

+9.30

+2.40

+2.40

0.00

-0.90

Cenderamata

Kolam Ikan

Restoran (Seating)

Koridor Potongan D

C

01 02

03

01 Dapur

02 Seating

69

03 Kolam Ikan


+9.30

+2.40 0.00 -0.30 Restoran (Dapur) Potongan A

+9.30

+9.30

+2.40

+2.40 0.00

-0.90

Retail Cenderamata

Koridor

-0.30 Kolam Ikan

Seating

Dapur

Koridor Potongan B

Potongan C

D

A

04

B 05

04 Retail Cenderamata

05 Koridor Denah Denah dan Potongan

0

70

3

9

12


13

Koridor menuju ke restoran & cenderamata, mushalla, dan gedung literasi

14

Ke arah kiri menuju ke restoran & cenderamata, lurus menuju gedung literasi, dan kanan mushalla

71


15

Restoran & cenderamata, dipandang dari gedung literasi

16

Interior restoran & cenderamata

72


Pasar Barang Konsumsi

KOMPETISI

PASAR BARANG KONSUMSI ANALISA

73


Fresh Graduated Architecture

PASAR BARANG KONSUMSI Dalam konteks pandemi COVID-19 kali ini, kegiatan berdagang perlu menjadi prioritas masalah yang harus segera dipecahkan mengingat kebutuhan sehari - hari harus tetap terpenuhi dengan catatan kita semua perlu menjaga protokol kesehatan dengan jarak sosial. Bangunan dengan fungsi fresh market yang mewadahi kegiatan berdagang sayur, buah, daging dan ikan harus menjadi hal yang perlu diprioritaskan. Dalam skala makro idenya adalah memecah pasar besar menjadi pasar - pasar kecil yang disebar di titik - titik tertentu diseluruh bagian kota.

Pasar barang konsumsi di Kemang, dipandang dari simpuljalan kemang Raya - Kemang Utara A

74


Pasar Barang Konsumsi

RASIO JUMLAH PASAR YANG IDEAL

keputusan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah No.534/KPTS/M/2001

Rasio jumlah pasar terhadap jumlah penduduk adalah 1:30.000 yang artinya 1 pasar melayani maksimal 30.000 ribu orang

2,3 JUTA PENDUDUK (DEMAND)

62 PASAR (SUPPLY)

36 RIBU PENDUDUK

75


Pasar Barang Konsumsi

URGENSI PASAR BARANG KOSUMSI DI JAKARTA SELATAN

Dengan penduduk yang mencapai 2,3 juta, Kota Jakarta Selatan perlu memiliki 76 pasar

+

Kota Jakarta Selatan perlu menambah 14 pasar lagi untuk dapat memenuhi rasio standar jumlah pasar terhadap penduduknya

76


Pasar Barang Konsumsi

KOMPETISI

PASAR BARANG KONSUMSI KONSEP

77


Pasar Barang Konsumsi

MEMPERLUAS PERSEBARAN PASAR Memecah pasar besar menjadi bagian - bagian kecil yang disebar di seluruh bagian kota untuk meminimalisir intensitas pengunjung sekaligus menekan penyebaran virus COVID19. Dengan solusi demikian, pasar menjadi tempat berbelanja yang sehat mengingat fungsinya yang tidak dapat digantikan dan akan terus dibutuhkan setiap harinya.

Jika diperhitungkan secara peruangan, kecamatan Mampang Prapatan membutuhkan 4 - 5 pasar lagi dengan luas kisaran 1500m2 untuk dapat memenuhi kebutuhan sekaligus dapat dinilai cukup sebagai pasar sehat yang mampu menjaga protokol kesehatan COVID-19.

78


Pasar Barang Konsumsi

KONSEP ARSITEKTUR Dalam skala mikro, skenario alur pengunjung didesain dengan pola linier untuk menekan simpangan antar pengunjung. Setiap kios akan menerapkan metode bidang puzzle. Sedangkan pengalaman yang akan terjadi adalah berada di ruang terbuka dengan atap berlubang tertembus tajuk pohon sebagai naungan bangunan sekaligus penyejuk ruang. Pada pagi dan sore hari cahaya matahari akan menembus seluruh ruangan.

Jika site adalah 1500m2 dengan koefisien dasar bangunan seluas 50%, dengan durasi rata-rata kegiatan berbelanja adalah 30 menit/ orang maka apat dikatakan bahwa selama 30 menit pasar ini mampu mengokupansi 333 pelanggan jika melayani selama 16 jam

Mengacu pada standar protokol kesehatan bahwa Luas sirkulasi setiap orang adalah 1,5m x 1,5m = 2,25 m2

Per tahun 2017 jumlah kepala keluarga di Kecamatan Mampang Prapatan adalah 49.108 kepala keluarga

Sehingga satu buah pasar mampu melayani sekitar 10.666 (kepala keluarga) pelanggan dalam durasi bukaa 16 jam dalam sehari.

79


Pasar Barang Konsumsi

Dengan menerakpan metode puzzle berbentuk bidang persegi berukuran 1,5 m x 1,5 m yang mengacu pada jarak minimal jarak sosial, pengunjung dapat berbelanja dengan nyaman. Perbandingan antara pengunjung dan jumlah puzzle adalah 1:2, yang artinya untuk 1 pengunjung perlu ada 2 puzzle. Satu puzzle untuk ruang dengan kapasitas 1 orang sedangkan satu puzzle sebagai ruang bergerak.

Akses Masuk Ruang Belanja & Ruang Antri

Puzzle Jarak Sosial 1,5 x 1,5 m = 2,25 m2

Kios Pedagang

Akses Keluar Ruang Belanja

80


Pasar Barang Konsumsi

POLA SIRKULASI

Lokasi desain berada tepat di persimpangan antara jalan Kemang Raya dan jalan Kemang Utara A sehingga akses pengunjung dapat melalui sisI jalan Kemang Raya dan keluar melalui sis jalan Kemang Utara A. Sedangkan sirkulasi pengunjung dikonsepsikan dengan alur linier untuk mengurangi potensi bersimpangan dengan pengunjung lain atas pertimbangan jarak sosial.

Lokasi Desain

Pola Sirkulasi Pintu Keluar Pengunjung

Lahan Tetangga

Jalan Kemang Utara A

Jalan Kemang Raya

Sirkulasi

Pintu Masuk Pengunjung

Site

81

Jalan Raya


Pasar Barang Konsumsi

TATA RUANG

Memiliki 4 zona utama sebagai bangunan dengan fungsi fresh market yaitu zona sayuran, zona buah - buahan, zona ikan, dan zona daging. Memiliki 2 zona sebagai fungsi pendukung yaitu kantor pengelola yang meliputi ruang kerja, kepala pasar, ruang pertemuan dan pos penjaga dan restroom yang meliputi toilet wanita, toilet pria dan difable.

Kantor Pengelola

Zona Buah - Buahan Restroom

Zona Sayuran

Zona Ikan Zona Daging

Kantor Pengelola

Zona Buah - Buahan

Restroom

Zona Sayuran

Zona Daging

Zona Ikan

82


Pasar Barang Konsumsi

KOMPETISI

PASAR BARANG KONSUMSI DESAIN

83


Pasar Barang Konsumsi

Pasar barang konsumsi di Kemang, dipandang dari jalan Kemang Utara A

84


85


KONTEKS LINGKUNGAN : Terdapat sungai Krukut dimana ketika hujan besar dapat menimbulkan potensi banjir pada site. Oleh karena itu hal ini ditanggapi dengan bangunan panggung.

Posis site berada tepat di sudut perempatan sehingga dapat memiliki 2 akses dari jalan utama dan jalan kampung

LEGENDA : 1

Ruang Penerima/ Drop Off

2

Lobby

3

Parkir Pengelola

4

Ramp Pengunjung

5

Parkir Pengunjung

6

Kios

7

Ruang Tunggu

8

Kantor Pengelola

9

Kolam

10

Dry Garden

11

Restroom Pria

12

Restroom Wanita

13

Restroom Difable

14

Storage

15

Janitor

16

Ruang Tunggu

17

Ruang Penjemputan

18

Pangkalan Ojek

19

Loading Dock

20

Tempat Pembuangan Sementara

21

Ramp Service Siteplan

86


Pasar Barang Konsumsi

87


TAMPAK UTARA

TAMPAK TIMUR

88


89


POTONGAN A

POTONGAN B

90


Pasar Barang Konsumsi

SEKUENSIAL RUANG (INTERIOR)

PENUTUP ATAP BITUMEN

STRUKTUR KOLOM BAMBU

LANTAI BETON FIN. SEMEN POLIS

Rumput Gajah Mini

PENUTUP LANTAI DEK KAYU

PERKERASAN GRASS BLOCK

91


Pasar Barang Konsumsi

PROTOTYPE RETAIL

SKYLIGHT KACA TEMPERED

PLASTIK DROPLAT

RANGKA PINTU KAMUFLASI BESI HOLLOW

DAUN PINTU KAMUFLASE BAMBU

LANTAI BETON FIN. SEMEN POLIS

92


Pasar Barang Konsumsi

SEKUENSIAL RUANG (INTERIOR)

01

Lobi berfungsi drop off dan ruang tunggu, sedangkan aksesnya melalui tangga dan bidang miring

02

Kantor Pengelola didesain menghadap taman sehingga membangkitkan produktivitas kerja

93


Pasar Barang Konsumsi

SEKUENSIAL RUANG (INTERIOR)

03

Ruang belanja berpuzzle, didesain mempertimbangkan kenyamanan termal sirkulasi udara dan cahaya.

04

Restroom didesain memiliki taman dengan tumbuhan yang beraroma wangi, seperti kamboja

94


Pasar Barang Konsumsi

RENCANA ANGGARAN BIAYA

95


96


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Fresh Graduated Portofolio by Dimas Dwi - Issuu