
Revitalisasi Sastra Anak dalam Revitalisasi Sastra Anak dalam
![]()

Revitalisasi Sastra Anak dalam Revitalisasi Sastra Anak dalam


Suatu hari, saat istirahat makan siang, sang majikan berbicara kepada
Sampuraga untuk merantau ke Mandailing untuk mencari rezeki lebih.
Mendengar itu, hati Sampuraga tergerak. la ingin sekali mengubah nasib bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi ia juga glot pasonang umaknya.

Malam itu, Sampuraga berbicara kepada umaknya dengan penuh
keyakinan. Dengan berat hati tapi penuh harapan, sang ibu merelakan kepergian Sampuraga, la memeluk anaknya erat-erat sambil berlinangan air mata.
Kata seperti “Umak” dan “giot pasonang umak”
menunjukkan bagaimana bahasa Mandailing mencerminkan hubungan kekeluargaan dan nilai

hormat kepada orang tua dalam budaya Mandailing.


Sesampainya di tempat rantauan, Mandailing, sampuraga bekerja sangat rajin sampai akhirnya
dia jadi kaya raya dan menikah dengan putri cantikKarena rajin dan jujur, sang majikan sangat menyukainya. Tak lama kemudian, majikannya memberikan modal usaha kepada Sampuraga untuk berdagang sendiri.
Dengan modal itu, Sampuraga berdagang dengan penuh semangat. Dalam waktu singkat, usahanya berkembang pesat. Satu toko menjadi dua, dua menjadi banyak. Sampuraga pun menjadi
salah satu pedagang terkaya di Mandailing.
Melihat keberhasilan Sampuraga, sang majikan merasa kagum dan memutuskan untuk
menjodohkannya dengan putri kesayangannya. Sampuraga menerima dengan gembira. Pesta pernikahan pun dipersiapkan dengan sangat meriah.
Merantau: Orang Mandailing punya tradisi pergi ke
tempat jauh untuk belajar mandiri dan jujur.
Sampuraga hebat karena berani merantau!

Pesta Sampuraga sangat mewah dan meriah, hingga menggunakan gordang sambilan juga sampai mengundang banyak orang.

Tradisi seperti Gordang Sambilan dan nilai
Dalihan Na Tolu memperlihatkan bagaimana
bahasa dan budaya saling berkaitan dalam masyarakat Mandailing.


"Itu Bukan umakku!"
"Pergi! Aku tidak kenal nenek tua
ini! umakku sudah lama meninggal!"

Umak datang jauh-jauh jalan kaki
karena rindu. Tapi Sampuraga malah

malu dan tidak ingin mengakui
ibunya ibunya yang pakaiannya
compang-camping, bahkan
sampuraga sampai mengusir
umaknya sendiri
Durhaka: Tidak berbakti atau jahat
kepada orang tua. Ini perbuatan yang
sangat dibenci dalam budaya kita.


Umak berjalan keluar dari pesta dengan langkah gontai dan hati yang hancur. Ia menangis sambil berdoa kepada Tuhan dengan segenap hatinya.
Seketika itu, langit yang tadinya cerah mendadak berubah gelap. Angin kencang berhembus. Lalu hujan deras turun dengan derasnya, mengguyur seluruh tempat pesta.
Banjir besar datang tiba-tiba. Air meluap dan menghancurkan segala sesuatu di tempat itu. Sampuraga beserta seluruh isi pesta tenggelam bersama banjir.

Sirambas, Nama desa lokasi kolam itu.
Artinya "Tempat yang bergemuruh"
eperti suara air panas yang mendidih).


Sampai sekarang, tempat itu menjadi kolam air panas yang berasap di Desa Sirambas,
Mandailing Natal. Peristiwa ini dipercaya sebagai akibat dari perbuatan Sampuraga yang
durhaka kepada ibunya, sehingga melanggar nilai budaya Mandailing seperti Dalihan Na Tolu
yang mengajarkan untuk menghormati orang tua dan keluarga.
Dalihan Na Tolu: Orang Mandailing diajarkan
untuk selalu hormat kepada orang tua dan keluarga. Kalau dilanggar, hidup kita tidak akan tenang.

Apa pembelajaran yang kita dapat pada hari ini?
Berbakti kepada orang tua adalah kewajiban paling utama.
Sampuraga lupa bahwa semua yang ia miliki
kepandaian, kejujuran, dan kerja. kerasnya
berasal dari didikan ibunya. Tanpa ibu, ia tidak ada dan tidak akan pernah menjadi siapasiapa.

Kekayaan dan jabatan tidak boleh membuat kita lupa diri.
Sampuraga berubah ketika ia kaya. la menjadi
sombong dan malu dengan kondisi ibunya yang sederhana. Kekayaan seharusnya
membuat kita lebih bersyukur dan lebih baik bukan sebaliknya.
https://wordwall.net/resource/110546482



Kesimpulan dari petualangan kita hari ini adalah bahwa
kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari harta yang
melimpah seperti milik Sampuraga, tetapi dari sejauh
mana kita menjaga kejujuran dan rasa hormat kepada
orang tua, terutama Umak. Melalui legenda ini, kita belajar
bahwa kekayaan bisa habis dan hilang, namun kasih
sayang ibu dan identitas budaya, seperti bahasa
Mandailing yang kita pelajari adalah warisan berharga
yang harus kita jaga selamanya agar tidak menyesal di kemudian hari. Melalui cerita Legenda Sampuraga, pembaca diharapkan dapat mengenal nilai budaya
Mandailing serta memahami hubungan bahasa dan
budaya dalam kajian Etnolinguistik


