Skip to main content

project kelompok 11_20260402_090333_0000

Page 1


Revitalisasi Sastra Anak dalam Revitalisasi Sastra Anak dalam

Legenda Sampuraga melalui

Legenda Sampuraga melalui

Pendekatan Etnolinguistik dan Media Pendekatan Etnolinguistik dan Media

Sampuraga Mau Merantau

Suatu hari, saat istirahat makan siang, sang majikan berbicara kepada

Sampuraga untuk merantau ke Mandailing untuk mencari rezeki lebih.

Mendengar itu, hati Sampuraga tergerak. la ingin sekali mengubah nasib bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi ia juga glot pasonang umaknya.

Malam itu, Sampuraga berbicara kepada umaknya dengan penuh

keyakinan. Dengan berat hati tapi penuh harapan, sang ibu merelakan kepergian Sampuraga, la memeluk anaknya erat-erat sambil berlinangan air mata.

Kata seperti “Umak” dan “giot pasonang umak”

menunjukkan bagaimana bahasa Mandailing mencerminkan hubungan kekeluargaan dan nilai

hormat kepada orang tua dalam budaya Mandailing.

Sampuraga Jadi Orang Kaya di Mandailing

Sesampainya di tempat rantauan, Mandailing, sampuraga bekerja sangat rajin sampai akhirnya

dia jadi kaya raya dan menikah dengan putri cantikKarena rajin dan jujur, sang majikan sangat menyukainya. Tak lama kemudian, majikannya memberikan modal usaha kepada Sampuraga untuk berdagang sendiri.

Dengan modal itu, Sampuraga berdagang dengan penuh semangat. Dalam waktu singkat, usahanya berkembang pesat. Satu toko menjadi dua, dua menjadi banyak. Sampuraga pun menjadi

salah satu pedagang terkaya di Mandailing.

Melihat keberhasilan Sampuraga, sang majikan merasa kagum dan memutuskan untuk

menjodohkannya dengan putri kesayangannya. Sampuraga menerima dengan gembira. Pesta pernikahan pun dipersiapkan dengan sangat meriah.

Merantau: Orang Mandailing punya tradisi pergi ke

tempat jauh untuk belajar mandiri dan jujur.

Sampuraga hebat karena berani merantau!

Pesta Besar & Gordang Sambilan

Pesta Sampuraga sangat mewah dan meriah, hingga menggunakan gordang sambilan juga sampai mengundang banyak orang.

Tradisi seperti Gordang Sambilan dan nilai

Dalihan Na Tolu memperlihatkan bagaimana

bahasa dan budaya saling berkaitan dalam masyarakat Mandailing.

Kedatangan Umak

"Itu Bukan umakku!"

"Pergi! Aku tidak kenal nenek tua

ini! umakku sudah lama meninggal!"

Umak datang jauh-jauh jalan kaki

karena rindu. Tapi Sampuraga malah

malu dan tidak ingin mengakui

ibunya ibunya yang pakaiannya

compang-camping, bahkan

sampuraga sampai mengusir

umaknya sendiri

Durhaka: Tidak berbakti atau jahat

kepada orang tua. Ini perbuatan yang

sangat dibenci dalam budaya kita.

Doa Umak & Badai Dahsyat

Umak berjalan keluar dari pesta dengan langkah gontai dan hati yang hancur. Ia menangis sambil berdoa kepada Tuhan dengan segenap hatinya.

Seketika itu, langit yang tadinya cerah mendadak berubah gelap. Angin kencang berhembus. Lalu hujan deras turun dengan derasnya, mengguyur seluruh tempat pesta.

Banjir besar datang tiba-tiba. Air meluap dan menghancurkan segala sesuatu di tempat itu. Sampuraga beserta seluruh isi pesta tenggelam bersama banjir.

Sirambas, Nama desa lokasi kolam itu.

Artinya "Tempat yang bergemuruh"

eperti suara air panas yang mendidih).

Sampuraga Jadi Kolam Air Panas

Sampai sekarang, tempat itu menjadi kolam air panas yang berasap di Desa Sirambas,

Mandailing Natal. Peristiwa ini dipercaya sebagai akibat dari perbuatan Sampuraga yang

durhaka kepada ibunya, sehingga melanggar nilai budaya Mandailing seperti Dalihan Na Tolu

yang mengajarkan untuk menghormati orang tua dan keluarga.

Dalihan Na Tolu: Orang Mandailing diajarkan

untuk selalu hormat kepada orang tua dan keluarga. Kalau dilanggar, hidup kita tidak akan tenang.

Pesan Moral & Waktunya Main!

Apa pembelajaran yang kita dapat pada hari ini?

Berbakti kepada orang tua adalah kewajiban paling utama.

Sampuraga lupa bahwa semua yang ia miliki

kepandaian, kejujuran, dan kerja. kerasnya

berasal dari didikan ibunya. Tanpa ibu, ia tidak ada dan tidak akan pernah menjadi siapasiapa.

Kekayaan dan jabatan tidak boleh membuat kita lupa diri.

Sampuraga berubah ketika ia kaya. la menjadi

sombong dan malu dengan kondisi ibunya yang sederhana. Kekayaan seharusnya

membuat kita lebih bersyukur dan lebih baik bukan sebaliknya.

https://wordwall.net/resource/110546482

Kesimpulan

Kesimpulan dari petualangan kita hari ini adalah bahwa

kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari harta yang

melimpah seperti milik Sampuraga, tetapi dari sejauh

mana kita menjaga kejujuran dan rasa hormat kepada

orang tua, terutama Umak. Melalui legenda ini, kita belajar

bahwa kekayaan bisa habis dan hilang, namun kasih

sayang ibu dan identitas budaya, seperti bahasa

Mandailing yang kita pelajari adalah warisan berharga

yang harus kita jaga selamanya agar tidak menyesal di kemudian hari. Melalui cerita Legenda Sampuraga, pembaca diharapkan dapat mengenal nilai budaya

Mandailing serta memahami hubungan bahasa dan

budaya dalam kajian Etnolinguistik

TERIMAKASIH Sampai Jumpa Semua

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
project kelompok 11_20260402_090333_0000 by Shopi Dila - Issuu