MENELISIK
![]()
Tak selalu ingar bingar dengan perkotaan, seringkali kebahagiaan hadir oleh pemandangan indah di tempat bersejarah tersembunyi di tengah kota. Goa Sunyaragi di Kota Cirebon menyajikan susunan bangunan yang membentuk goa-goa indah. Rimbun dedaunan, susunan batu yang diam, ditingkahi gemericik air yang menari. Damai tak terbantahkan penuh dengan kenangan.
Hawa sejuk selalu menyelimuti Goa Sunyaragi. Pagi atau sore hari adalah waktu yang sangat cocok untuk mengunjungi tempat ini. Berada di tengah kota. Akses yang mudah, lingkungan yang ramah juga membuat tempat wisata di tengah Kota Cirebon ini menjadi semakin unik. Jalan menuju Goa Sunyaragi juga dapat diakses melalui Google Maps, akses mudah dan jalanan berupa sudah berupa aspal halus. Seperti tidak ada kesulitan untuk mengunjungi tempat ini. Yang paling indah adalah pemandangan dari menara pengawas, yang terletak lebih tinggi dari semua bangunan yang ada di sana.
Bapak Marmo, Sosok Penjaga Keamanan dan Guide Gua Sunyaragi
Bagi para wisatawan yang baru sekali mengunjungi Goa Sunyaragi, tidak perlu khawatir, karena disini terdapat pemandu yang sangat ramah dan bersedia menjelaskan apa saja yang ingin kamu ketahui terkait goa itu.
Dari area parkir yang luas, kami dapat masuk ke dalam Goa Sunyaragi dengan tiket yang terjangkau. Ditemani Pak Marmo, seorang security sekaligus guide kami masuk ke dalam kawasan Goa. Semuanya serba hijau, kecuali susunan bebatuan yang membentuk goa-goa indah dan kokoh. Sayang sekali pandemic Covid-19 membuat Goa Sunyaragi tak lagi ramai oleh kunjungan para wisatawan.
Goa Sunyaragi tidak bermula dan muncul begitu saja menjadi sebuah gua. Bangunan yang berada pada tengah kota Cirebon ini memiliki sejarah panjang pembentukan hingga menjadi seperti yang kita lihat sekarang. Bangunan tua ini didirikan oleh Cicit Gunung Jati yaitu Pangeran Kararangen pada 1703 Masehi. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah merupakan salah satu anggota dari wali songo. Sebagai ulama, beliau menyebarkan ajaran islam satu–satunya di Jawa Barat. Pangeran Kararangen atau yang kerap disapa Pangeran Arya Carbon ialah cicit dari anggota Wali Songo tersebut yang merupakan pendiri Goa Sunyaragi.
Asal muasal adanya gua ini ternyata sebuah ide untuk peralihan gunung sembung (saat itu digunakan sebagai pemakaman raja–raja ) sudah penuh akan lautan kuburan. Dikupas lebih mendalam, Goa Sunyaragi pada awalnya, disekitar bangunan gua ini terdapat sungai yang cukup luas yaitu Danau Jati.
Gua ini memiliki kesinambungan dengan keraton Cirebon, dari awal pembangunan hingga saat ini. Kedekatan dengan keraton pada zaman dahulu mulanya karena bangunan ini dibangun untuk meningkatkan ilmu kanuragan dan tempat untuk membekali para prajurit serta petinggi keraton dalam mempelajari teknik berperang. Selain petinggi dan prajurit keraton, pemimpin keraton atau yang kita tahu disebut dengan sultan, dulunya menggunakan tempat ini sebagai pesanggrahan dan tempat bertapa.
Dikarenakan memiliki hubungan yang dekat dengan keraton Cirebon maka gua ini disebut juga dengan taman sari sunyaragi. Sunyaragi sendiri merupakan gabungan dari dua kata, “sunya” yang berarti sunyi dan “ragi” berarti raga.
Jika melihat gua lain yang berada pada sebuah bangunan bawah tanah atau pada tempat yang gelap, Goa Sunyaragi memiliki salah satu ciri khasnya pada awal pembuatannya. Bangunan buatan ini didirikan pada lahan seluas 15 hektar. Disebut gua karena banyak bangunan lain yang mengelilinginya.
Mengamati lebih detail pada setiap sudut seluruh gua yang ada, ada dua hal yang menarik perhatian. Tinggi pintu pendek membuat kita bertanya–tanya, mengapa tidak disejajarkan dengan tinggi manusia pada umumnya. Tinggi pintu ini memiliki makna agar menghormati terhadap orang yang lebih tua. Batu karang menjadi dasar tembok bangunan gua–gua yang ada dalam Goa Sunyaragi ini. Batuan karang yang menjulang tinggi ini merekat sangat erat dengan satu hal yang menggabungkannya.
Perekat batuan karang ini bukan tembok semen, seperti bangunan yang kita lihat dalam berbagai bangunan bersejarah ataupun bangunan zaman sekarang. Namun, putih telur menjadi bahan pokok perekat batuan karang yang menjadi sebuah tembok yang menjulang pada gua. Putih diartikan suci dan telur ditafsir sebagai bulat menjadi sebuah artian mendalam mengapa putih telur digunakan. Lambang kesucian dan pembulatan tekat lah yang menjadi pokok gagasan utamanya.
Direkatkan tanpa pola membuat bangunan ini memiliki kesan seni yang begitu menawan. Batu kapur menjadi pilihan Sang Sultan dalam membangun. Penggunaan batu karang memiliki makna “dunia manusia”. Hal ini didapatkan dari mimpi Syarif Hidayatullah mengenai bangunan yang tidak memiliki pola serasi.
Sewaktu itu, Sunan bertemu dengan muatan bongkahan karang milik kapal Tiongkok dan mirip dengan mimpinya. Maka dari itu, inilah salah satu hal yang mendasari mengapa batuan karang digunakan dalam pondasi gua. Dua ciri khas gua ini, tinggi pintu dan pondasi bangunan dengan batuan karang memang selaras dengan ajaran agama Islam yang disebar oleh Sunan Gunung Jati.
Kondisi Saat
Berjalan sebagai situs cagar budaya selama bertahun–tahun dari sepeninggalan Sunan Gunung Jati membuat tempat ini ditaburi banyak sejarah. Sebagai tempat wisata, tentunya banyak sekali wisatawan pergi ke tempat ini untuk berwisata maupun mencari info sejarah Goa Sunyaragi. Namun sayangnya, pada awal tahun 2020 muncul sebuah virus baru yang mengubah tatanan kehidupan manusia. Bukan hanya di Indonesia namun juga di seluruh dunia. Virus Bernama Covid–19 ini membuat perubahan besar pada Goa Sunyaragi. Di tengah era pandemi Covid–19, Goa Sunyaragi memiliki masa jatuh bangun yang begitu sulit.
Selama hampir dua tahun pandemi, Goa Sunyaragi ditutup total tanpa masuknya wisatawan kedalam situs gua. Sebenarnya, dapat dikatakan aktif pada awal pandemi
tahun 2020 namun hanya satpam dan pekerja lain yang stand by untuk menjaga tempat. Sedikit demi sedikit, pada tahun 2021 portal wisata pada gua ini perlahan kembali dibuka walaupun tidak sepenuhnya.
PNS Cagar Budaya setempat sebelum pandemi bekerja di tempat ini sebagai pekerja seperti guide dan pengurus bangunan. Namun, dikarenakan pandemi dan tempat ini sempat ditutup maka banyak pegawai yang dikurangi. Salah satunya pegawai dinas cagar budaya yang sudah tidak lagi bekerja. Sebagai gantinya, karyawan di Goa Sunyaragi yang setiap waktu menjaga menjadi pekerja dan menjabat sebagai guide.
Sebenarnya banyak sekali kegiatan yang dapat diadakan di Goa Sunyaragi. Namun selama pandemi hingga sekarang, baru beberapa kegiatan dipulihkan secara perlahan mengikuti situasi dan kondisi. Nonton bareng di panggung budaya, kesenian topeng sintren hingga festival keraton nantinya akan hadir Kembali meramaikan Gua Sunyaragi.
Sesuai dengan anjuran Kementerian Kesehatan setiap tempat dan pribadi harus menerapkan Protokol Kesehatan. Di tempat wisata ini terdapat pemberlakuan protokol kesehatan seperti cek suhu, cuci tangan, dan pemakaian masker. Vaksinasi (belum bisa diterapkan) dikarenakan banyak masyarakat sebagai orang awam yang tidak paham akan vaksinasi, termakan hoax sehingga banyak dari mereka tidak mau untuk di vaksin.
Goa Sunyaragi memiliki keunikannya sendiri.
Setelah berjalan dan bercerita dengan Pak Marmo, ternyata kami menemukan fakta-fakta unik. Gua ini memiliki 10 gua yang memiliki nama berbeda dengan fungsi yang berbeda pula.
Goa Pengawal merupakan sebuah bangunan yang berfungsi sebagai tempat bagi para pengawal raja dan sultan yang datang di Goa Sunyaragi. Goa ini berada tepat di paling depan bangunan taman sari. Hal ini dikarenakan sebuah pengawal harus siap mengawal raja kemana pun kepergiannya. Dapat dikatakan juga bahwa para pengawal yang berada di goa ini harus “siap sedia” setiap waktu datangnya raja atau sultan sebagai petingginya saat itu. Raja dan sultan tentu saja diharuskan memiliki pengawal karena mereka merupakan orang-orang penting dibalik gagahnya sebuah pemerintahan keraton berjalan.
Gua Pande Kemasan memiliki dua kata
yang bermakna berbeda. “Pande” yang memiliki arti pembuatan dan “Kemas” ditafsir sebagai cinderamata. Namun dalam Artian luasnya, gua ini memiliki makna pembuatan senjata. Pada masanya dahulu, tempat ini digunakan sebagai pembuatan senjata para pengawal, prajurit, penjaga dan segenap orang dalam lingkup kesultanan atau keraton. Mengingat, pada zaman dahulu masih belum secanggih sekarang dan digunakan sebagai alat penjagaan sultan atau raja mereka. Secara mudah dapat dikatakan sebagai tempat pembuatan senjata perlindungan diri.
Goa Simanyang merupakan sebuah tempat untuk berjaga prajurit penjaga. Tiap–tiap bangunan goa memiiki fungsinya masing–masing. Sama halnya dengan penjaga dan prajurit, mereka memiliki tempat singgasana yang berbeda di tempat ini. Pembedaan tempat keduanya memang di sengaja dan sudah dipikirkan secara matang. Alasan utamanya di karenakan prajurit pengawal dan penjaga memiliki ruang dan sistematika kerja yang berbeda. Pengawal bertugas mengawal raja sedangkan penjaga hanya menjaga tempat dan berdiam di satu tempat tersebut atau yang sudah ditentukan. Di tempatnya ini, para penjaga mengamati situasi dan kondisi serta menerima laporan akankah kedatangan sultan atau raja dalam waktu dekat. Nantinya mereka akan menjalankan tugas dengan membuat laporan kepada para prajurit pengawal bersiap menyambut raja dan sultan.
Kata Langse memiliki arti sebagai tirai atau hordeng. Mungkin bagi kebanyakan orang akan terpikirkan sebuah kain yang menjulang untuk menutupi jendela atau hal lain jika mendengar kata hordeng. Namun, hordeng dalam Goa Langse ini berasal dari tetesan air yang berasal dari atas goayang turun ke bawah, saking derasnya aliran airnya hingga menyerupai hordeng. Jika kita berada di bawah dan orang lain berada diatas, terkadang salah satu pihak sulit untuk melihat seperti kaca hitam pada jendela rumah.
Kambang. Bangunan Bale Kambang sendiri digunakan sebagai tempat penabuhan gamelan saat raja, sultan maupun tamunya datang. Penarinya berada di pelataran milik Gua Arga Jumut ini untuk mengiri tabuhan gamelannya. Tempat dengan bentuk lingkaran seperti bangunan eropa ini terdiri dari kata “Arga” yang bermakna jamuan dan “Jumut” didefinisikan mengambil atau mencomot.
Melihat sekian tahun lalu saat bangunan ini masih digunakan, berdiri dari gua ini ternyata dahulunya disekelilingi oleh penampungan air yang digunakan sebagai media dan wadah pengairan melalui lorong-lorong tua. Air yang mengalir tersebut dimaksudkan sebagai pendingin dan air wudhu bagi umat muslim.
Goa Arga Jumut merupakan bangunan paling tinggi dibandingkan dengan bangunan goa lain. Terdiri dari 2 lantai, Dua lantai bangunannya memiliki fungsi yang berbeda. Lantai pertama berfungsi sebagai peristirahatan Sultan, Raja maupun tamu dengan fasilitas yang lebih memadahi. Tempat ini dilengkapi dengan ruang makan, meja makan dan lain sebagainya. Seluruh makanan yang dipersiapkan berasal dari tempat penyimpananya yaitu gua pawon.
Terdapat dua Lorong yang dikenal dengan “pintu instan” dan memiliki mitos yang pada zaman dahulu dipercaya.
Goa Arga Jumut berada di dekat Bale
Goa Peteng dideskripsikan sebagai goa gelap. Tidak sembarang orang dapat menggunakan bangunan gelap ini. Para Prajurit pilihan lah yang dapat mengakses goa ini. Mereka dapat menggunkan tentunya disesuaikan dengan pekerjaan yang dibawahinya. Dikarekan tugasnya mengawal dan menjaga raja dan sultan, tentunya mereka harus memiliki bekal–bekal dalam menjaga secara maksimal. Maka dari itu, para prajurit ini menggunkan Goa Peteng sebagai tempat menimba ilmu kekebalan tubuh dengan bertapa. Lama waktunya tidak menentu, bahkan niat awalnya terkadang terselesaikan tidak pada waktunya. “Tergantung niat sama keikhlasannya, terkadang ada prajurit yang sudah niat 40 hari namun karena ketulusan dan keikhlasannya baru 3 atau 2 hari sudah dapat wangsit.” Ungkap bapak Marmo selaku kemanan dan guide.
Goa ini memiliki arti dari kata “lawa” yaitu kelelawar Diberikan nama Lawa karena menurut cerita yang beredar, pada zaman dulu terdapat pohon gambir. Kelelawar menggantung di pohon gambir ini, tidak hanya berjumlah satu atau dua ekor namun sangat banyak dan tidak bisa dihitung. Sehingga, saat tempat ini sudah menjadi cagar budaya, para pegawai memutuskan untuk menebang pohon tersebut untuk menghilangkan kelelawar yang bersekutu di pohon tersebut. Keputusan untuk menebang pohon tentunya dengan pertimbangan karena di khawatirkan akan merusak situs cagar budaya tersebut. Maka dari peristiwa itulah kemudian tempat ini diberi nama “lawa”.
Saat mendengar kata “Pawon” terlintas dalam benak orang jawa berpikir bahwa ini merupakan tempat memasak. Namun, tampaknya kata pawon ini tidak memiliki arti sama pada Goa Sunyaragi. Disini, “pawon” memiliki makna sebagai penyimpanan makanan. Goa Pawon digunakan sebagai tempat untuk menyimpan makanan yang sudah siap saji (sudah dimasak, siap santap) untuk mempersiapkan ketika sultan, raja atau tamunya datang. Tempat ini memiliki fungsi yang sangat baik. Sebagai penyimpanan makanan, mereka dapat menahan makanan agar tidak cepat basi selama dua hingga tiga jam. Hal ini dikarenakan pada zaman dahulu suhunya tidak seperti sekarang. Dinginnya suhu saat itu dapat digunakan sebagai penyimpanan makanan secara alami yang tentunya berbeda dengan suhu sekarang yang panas dan membutuhkan bantuan kulkas sebagai alat pendingin.
Bangunan dengan tinggi tiga meter bagian bawah dan 6 meter bagian atas ini memiliki beberapa sejarah dan fakta menarik. Goa Padang Ati memiliki artian “padang” yaitu terang dan “ati” yakni hati. Secara garis besar, goa ini diartikan untuk membuat hati kita terang.
Saat membaca artian luas makna dari goa ini tentunya akan berpikir bahwa tempat ini digunakan sebagai penenang hati dan pikiran. Tentu saja benar, Goa Padang Ati digunakan sebagai tempat bertapa saat seseorang (penjaga, pengawal prajurit, raja, sultan dan lainnya) mengalami kegundahan hati dan berniat menenangkan diri.
Goa ini berasal dari kata “langgeng” atau berarti abadi. Menurut cerita yang beredar, pada zaman dulu terdapat salah seorang pejabat keraton yang singgah untuk bertapa di tempat ini. Setelah melakukan bertapa, pejabat tersebut dengan ajaib memiliki masa jabatan yang ia pegang lama dan langgeng. Maka dari itu, salah satu hal yang mendasari goa ini dinamai dengan kata “kalanggengan” dikarenakan dengan kisah pejabat keraton tersebut
Selain kisah pejabat tersebut, terdapat pohon dari buah kalengkong atau kelengkeng di sekitar Goa Kelanggengan. Entah karena berada pada goa dengan nama langgeng ini, namun nyatanya pohon ini sudah berusia 300 tahun sesuai dengan bangunan di dekatnya yang berarti abadi. Namun sayangnya, pohon ini belum pernah berbuah sama sekali.
Selain Bangunan Gua tadi, terdapat beberapa bangunan yang menjadi fasilitas pelengkap di Gua Sunyaragi. Untuk melihat informasi lengkapnya, kami jelaskan informasi menarik mengenai bangunan ini.
Bangunan pertama adalah Gedung pesanggrahan. Mendengar Namanya bagi Sebagian orang sudah tau makna dibalik kata pesanggrahan sendiri yaitu tempat peristirahatan. Gedung ini digunakan sebagai tempat untuk tidur maupun menginap sultan atau raja saat berkunjung ke Gua Sunyaragi. Sultan dan Raja saat memiliki kegiatan dan pulang dari keraton menginapnya di tempat ini.
Namun itu dahulu, saat sultan dan raja masih ada. Saat ini, Gedung Pesanggrahan digunakan sebagai gedung serba guna. Siapa pun dapat menggunakan Gedung ini dengan memenuhi peraturan yang sudah ada. Untuk biayanya, acara berskala besar dilihat dari segi jalannya acara namun jika skala kecil hanya membayar uang kebersihan dengan nominal sukarela.
Selain itu, pada bangunan Gedung ini terdapat kolam pesanggrahan. Air – air yang ditampung dalam kolam mini nantinya akan dialirkan kepada 10 gua yang ada di Gua Sunyaragi. Pada dasarnya, kolam pesanggrahan ini dibuat hanya sebagai pemanis atau memperindah tempat dengan kesan arsitektur yang dibuatnya.
Bangsal Jinem merupakan bangunan yang ada di dalam kompleks Goa Sunyaragi, terletak diantara
Goa Pengawal dan Goa Simanyang. Bangunan ini berbentuk podium menghadap ke lapangan (alun-alun) dan letaknya sedikit ke atas dari permukaan dasar. Bangsal Jinem memiliki ketinggian sekitar empat meter dari permukaan.
Kata "jinem" berasal dari dua kata, yakni ‘puji’ yang berarti sanjung dan ‘gunem’ yang berarti bicara, sehingga artinya adalah ucapan yang mengandung sanjungan atau pujian. Dengan adanya arti dari jinem tersebut, dulu bangunan ini disucikan.
Dahulu kala, di depan Bangsal Jinem ini terdapat genangan air setinggi mata kaki yang digunakan sebagai pembersih telapak kaki kita agar menjadi suci sebelum memasuki ruangan Bangsal Jinem ini. Selain itu, filosofi kata jinem juga berasal dari kata ‘siji’ yang berarti satu dan ‘enem’ yang berarti enam. Kata satu disini merujuk pada tuhan yang satu yakni Allah Swt. dan kata enam merujuk pada rukun iman yang berisi enam hal, yang harus umat islam percayai.
Dahulu, sultan selalu menyempatkan memberi pengarahan dan doa bagi para prajurit yang akan melakukan latihan ataupun atraksi dalam ketangkasan peperangan dan bela diri di alun-alun Sunyaragi (lapangan yang berada di depan Bangsal Jinem), pengarahan dan doa tersebut selalu disertai puji-pujian terhadap Allah Swt. Bangsal Jinem berfungsi sebagai tempat sultan dan keluarga serta para pengawalnya menyaksikan prajurit yang sedang latihan perang atau bela diri di alun-alun Sunyaragi.
Struktur bangunan Mande Beling ini terdiri dari lantai yang dibuat menggunakan marmer yang sangat berkilau seperti kaca, kemudian sekelilingnya ditempelkan pecahan-pecahan piring yang biasa disebut dengan beling. Sehingga penamaan bangunan dengan menggunakan nama Mande Beling berasal dari kata mande yang berarti bangunan, dan beling yang berarti pecahan piring.
Mande Beling tepat berada di depan Goa Peteng dan Patung Perawan Sunti. Mande Beling berbentuk bangunan joglo tanpa dinding (terbuka) dengan memiliki atap sirap berbentuk krucut.
Mande Beling memiliki fungsi untuk berisitirahat atau santai-santai para sultan ketika berkunjung ke Goa Sunyaragi. Konon katanya, apabila kita menggosokkan tangan kita pada permukaan Mande Beling, kemudian permukaannya menjadi mengkilap maka itu memiliki arti bahwa hati kita sebening kaca.
Ruangan ini merupakan ruangan khusus untuk putra-putri keraton, dibangun dengan susunan batu bata dan dinding yang hampir sama dengan bangunan sekarang namun tetap dihiasi dengan ornamen-ornamen khas Gua Sunyaragi yang menggunakan batu karang.
Tempat ini disebut juga Ruang Panembahan, dahulu merupakan ruang khusus untuk putra sultan menggembleng diri, di dalamnya terdapat kamar petirtaan dengan menggunakan pintu gebyog sebagai penyekatnya, dan juga tempat sholat dengan mahtabnya.
Kaputren untuk putri (perempuan) dan kamar Kaputran atau Panembahan untuk putra (laki-laki). Bangunan ini saling berhadapan satu sama lain, Kaputran atau Panembahan berada di sebelah selatan, dan kaputren berada di sebelah utara. Dahulu kala bangunan ini digunakan untuk para putra-putri raja belajar dengan guru-guru yang didatangkan oleh sultan, untuk beristirahat, dan juga digunakan sebagai ruangan untuk penggemblengan.
Ruangan ini dilengkapi dengan ruang peristirahatan, petirtaan, ruang rias, dan tempat sholat sehingga digunakan juga oleh putra-putri sultan untuk beribadah seperti shalat dan berzikir. Dua kamar ini memiliki perbedaan hanya dari segi pembatasnya saja, Kamar Kaputren lebih tertutup dibandingkan dengan Kamar Panembahan.
Dari Goa Peteng menuju Goa
Arga Jumut akan melewati bangunan joglo tanpa dinding yang diberi nama Bale Kambang. Bale yang memiliki arti balai (bangunan) atau tempat orang-orang berkumpul, dan Kambang yang berarti mengambang atau mengapung diatas air.
Sesuai dengan namanya bangunan ini berada di atas kolam air yang besar, sehingga pada zaman dahulu ketika kolam tersebut masih berfungsi dengan baik bangunan ini akan terlihat seperti mengapung. Bale Kambang memiliki empat tiang penopang dan dilengkapi dengan atap sirap. Seluruh bagian dari bangunan ini dibuat dengan menggunakan kayu.
Dengan posisinya yang mengapung seringkali bangunan ini terlihat seperti terombang-ambing, sehingga apabila dikaitkan dengan kehidupan, ketika ingin memasuki bangunan ini kita harus memiliki pendirian, begitupun ketika kita menjalani kehidupan sehari-hari, pendirian harus dikuatkan agar kita tidak mudah terombang-ambing oleh hal-hal yang dapat memberikan dampak buruk bagi kehidupan kita, dan tidak mudah terhasut oleh orang lain.
Fungsi dari bangunan ini seringkali digunakan sebagai tempat bermain gamelan pada waktu-waktu tertentu seperti ketika ada sultan atau raja berkunjung ke Gua Sunyaragi ataupun ada tamu yang datang. Ketika gamelan dimainkan tentu dilengkapi dengan hiburan tarian yang dilakukan oleh penaripenari keraton yang menari didepan pelataran Gua Arga Jumut.
Menara Pengawas tepat berada diatas Goa Peteng, ketinggiannya sekitar delapan hingga sepuluh meter dari permukaan dasar. Menara Pengawas ini memiliki bentuk seperti joglo dengan atap sirap seperti bangunan Mande Beling.
Bangunan ini tidak berukuran besar karena luasnya hanya sekitar dua meter persegi. Sesuai dengan namanya dan letaknya dipaling puncak diantara bagian bangunan Goa Sunyaragi lainnya, bangunan ini berfungsi sebagai pengawasan seluruh keadaan yang terjadi di Goa Sunyaragi. Segala penjuru dapat dilihat dari bangunan ini ketika kita berada di dalamnya.
Dahulu kala, menara pengawas ini digunakan untuk mengawasi atau mengantisipasi musuh-musuh yang datang ataupun mengawasi keamanan dan ketertiban keberlangsungan kegiatan yang dilakukan di kawasan Goa Sunyaragi. Pada bangunan ini juga dibawahnya memiliki ruangan yang berisi bak air yang ditutup dengan papan kayu jati yang digunakan sebagai pendingin ruangan dibawahnya yakni Kamar Kaputran atau Panembahan dan Kamar Kaputren.
Bangunan ini terletak di depan Goa Peteng dan Patung Garuda Dililit Ular serta bersebelahan dengan pohon kelengkeng yang sudah berusia 300 tahun.
Monumen Cina ini tidak berbentuk seperti monumen biasanya yang memiliki tinggi rata-rata lebih dari dua meter.
Monumen ini hanya berbentuk bangunan kecil yang hanya memiliki tinggi sekitar satu meter dan lebar sekitar dua meter. Monumen Cina ini dibangun sebagai bentuk pengabdian dan penghargaan (apresiasi) untuk para saudara kita yang berasal dari Cina yang ikut serta dalam pembangunan gua-gua yang berada di komplek Gua Sunyaragi dahulu kala ketika proses pembangunan.
Keberadaan Cina yang sudah ada sejak dahulu kala di Indonesia, khusunya wilayah Cirebon sehingga mereka berpartisipasi dan ikut serta terhadap hal-hal yang terjadi, termasuk pembangunan Goa Sunyaragi ini. Selain itu, Monumen Cina ini juga dibangun untuk menghormati istri dari Raden Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yakni Putri Ong Tien yang juga berasal dari Cina.
Garuda Dililit Ular berada di samping
Goa Kelanggengan. Patung ini memiliki filosofi bahwa burung garuda yang dapat terbang sampai ke langit yang tinggi, kemudian ular yang menggambarkan sebagai masalah. Sehingga dari filosofi tersebut berarti burung garuda yang dapat terbang sejauh dan setinggi manapun tetap akan menemui dan menghadapi masalah. Filosofi tersebut sama seperti kita semua, sebagai manusia. Walaupun kita memiliki kegagahan yang luar biasa dan kehormatan yang tinggi, pasti kita tetap akan menghadapi masalah, selama kita masih hidup. Walaupun setelah kematian kita tidak tahu masalah tersebut apakah benar-benar terselesaikan ataupun tidak, tapi secara kasat mata selama kita hidup kita akan menghadapi masalah.
Tepat di depan patung Garuda Dililit Ular terdapat pohon kelengkeng yang berusia tiga ratus tahun. Dengan usia yang sudah lebih dari tiga abad, pohon ini diberikan penyanggah buatan oleh pihak pengelola Goa Sunyaragi agar tetap tumbuh ke atas dan tetap hidup. Sejak dahulu kala mulai dari baru tumbuhnya pohon ini hingga sekarang pohon kelengkeng ini tidak berbuah, hanya tumbuh batang dan daunnya saja.
Selain patung Garuda Dililit Ular, di dalam kompleks Goa Sunyaragi juga terdapat Patung Gajah yang letaknya berada di belakang patung Garuda Dililit Ular dan disamping Goa Peteng. Patung Gajah ini memiliki filosofi sebagai tahun pendirian dari Goa Sunyaragi, yakni Gajah Derum Tirta Linuwih yang menunjukkan angka tahun 1458 Saka atau 1536 Masehi, atau istilah lainnya adalah candrasengkala. Selain itu, Patung Gajah disini juga menggambarkan bahwa dahulu kala ada seekor gajah yang bermain dikolam bersamaan dengan anak-anak kecil keraton. Gajah yang memiliki belalai menyemprotkan airnya kepada anak-anak keraton sebagai hiburan dan permainan. Orang-orang Cirebon menyebutnya guyonan yang berarti bercanda.
Kolam air ini tepat berada di depan
Gedung Pesanggrahan, sudah ada sejak
pembangunan Goa Sunyaragi sedari dulu kala. Kolam air ini merupakan tempat penampungan utama air yang digunakan diseluruh bagian Goa Sunyaragi (sesuai dengan julukannya sebagai taman air). Air dari kolam ini dialiri ke seluruh bagian-bagian Goa Sunyaragi. Namun untuk saat ini, kolam air tersebut hanya digunakan sebagai kolam ikan air tawar biasa yang dapat digunakan untuk memancing oleh warga sekitar.
Blorotan atau blaratan yang berarti tumpah bagi orang Cirebon sehingga memiliki makna sebagai tempat keluar, seperti makanan tumpah yang keluar dari wadahnya. Pintu Blorotan ini sebenarnya digunakan sebagai pintu keluar dari kompleks Goa Sunyaragi. Pintu ini berada di sebelah Goa Pawon yang berada di sekitar kompleks Goa Peteng dan Mande Beling.
Selain bangunan-bangunan yang bernilai sejarah seperti goa-goa, Gedung Pesanggrahan, Bangsal Jinem, dan lain-lain yang ada di komplek Goa Sunyaragi, tempat ini juga sudah dilengkapi dengan panggung budaya yang dihiasi dengan tulisan Goa Sunyaragi sebagai bentuk identitas tempat wisata sejarah ini.
Panggung budaya ini akan langsung kita lihat ketika kita mulai memasuki kompleks Goa Sunyaragi. Tentunya sebagai panggung budaya yang digunakan untuk penampilan-penampilan budaya yang membutuhkan penonton, maka di depan panggung ini juga dibangun tempat duduk seperti tempat duduk stadion yang bertingkat (tribun). Panggung budaya ini berfungsi sebagai fasilitas acara-acara besar yang dilaksanakan di Goa Sunyaragi.
Beberapa acara-acara yang pernah dilaksanakan di panggung budaya Goa Sunyaragi yakni nobar (nonton bareng), kesenian sintren, tari topeng, dan lain-lain. Beberapa tahun lalu juga, panggung budaya ini digunakan sebagai panggung Festival Keraton yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo.
M i t o s P a t u n g P e r a w a n S u n t i
Patung Perawan Sunti berada tepat di depan Goa Peteng yang satu arah dengan bangunan Mande Beling. Patung Perawan Sunti ini memiliki mitos apabila seorang perawan (gadis) yang menyentuh patung ini ketika berkunjung ke Gua Sunyaragi maka akan menjadi perawan sunti (perempuan yang tidak menikah hingga tua).
Namun, untuk saat ini hanyalah mitos belaka. Sebenarnya, Patung Perawan Sunti ini hanya memberikan pelajaran bahwa harus patuh terhadap perintah orang tua, terutama anak gadis. Orang tua sering meminta anak-anaknya agar tidak berdiri ataupun duduk di tengah pintu karena akan menghalangi orang-orang yang ingin masuk. Mitos ini dicontohkan ketika ada keluarga yang ingin melamar seorang gadis, namun gadis tersebut duduk atau berdiri di tengah pintu maka tamu akan terhalang dan tidak jadi masuk, sehingga lamarannya tidak dilaksanakan.
Hal tersebut sesuai dengan letak Patung Perawan Sunti yang tepat berada di depan pintu masuk Goa Peteng. Namun namanya juga mitos sehingga kita tidak perlu mempercayainya, kita tetap harus percaya kepada tuhan yang menciptakan. Walaupun kemungkinan banyak orang-orang yang masih awam masih mempercayainya.
Bagian belakang Goa Sunyaragi tepatnya berada di belakang Goa Arga Jumut terdapat ruang hidangan yang juga dilengkapi dengan dua lorong. Lorong ini memiliki ukuran panjang satu meter dan tingginya kurang dari satu meter masing-masingnya, posisinya bersebelahan dan hanya dibatasi dinding setebal 10 cm.
Konon katanya apabila kita memasuki lorong tersebut maka akan berpindah ke lain tempat dalam waktu yang singkat. Lorong kanan dipercayai dapat menuju ke Cina (tempat asal putri Ong Tien) dan Gunung Jati (sebuah daerah di Kabupaten Cirebon yang menjadi pusat penyebaran Islam Syekh Syarif Hidayatullah), kemudian lorong kiri dipercayai menuju ke Mekah (kiblat umat muslim) dan Madinah (berziarah ke makam Nabi Muhammad Saw.).
Hingga saat ini mungkin beberapa orang masih ada saja yang mempercayai mitos dari lorong ini, tapi dengan berkembangnya zaman rata-rata menganggap hal ini hanyalah mitos belaka yang tidak mungkin terjadi. Sebab, kemungkinan dahulu kala orang-orang yang memasuki lorong ini kemudian berpindah itu hanyalah sukma dan jiwanya saja, namun untuk raganya tetap berada di lorong tersebut.
Goa Sunyaragi yang letaknya di tengah-tengah kota mungkin bagi orang yang belum mengetahui lebih dalam akan merasa heran dan sebuah keanehan, karena terdapat gua ditengah kota. Sebenarnya penamaan Goa Sunyaragi ini tidak sesuai makna dari kata gua atau goa itu sendiri. Goa Sunyaragi sebenarnya berasal dari kata ‘guha’ bukan ‘gua’ atau 'goa'. Hal ini disebabkan karena pengertian dari gua sendiri itu adalah suatu hal yang dibangun oleh alam dengan sendirinya (secara alami) sedangkan 'guha' dibentuk seperti lorong-lorong seperti gua. Namun karena penyebutan agar lebih mudah, sehingga penyebutan ‘guha’ terbiasa disebut dengan ‘gua’ dan 'goa'.
Ketika Indonesia berada pada masa penjajahan Belanda, Goa Sunyaragi ini juga mengalami dampaknya, yakni terkena ledakan bom Belanda sehingga ada beberapa bagian-bagian yang runtuh dan perlu ditahan dengan tiang atau penyanggah buatan yang dibuat oleh pengelola. Renovasi di Goa Sunyaragi dilakukan sesuai dengan kebutuhan saja, ketika salah satu bagian atau bangunan di komplek Goa Sunyaragi mengalami kerusakan, maka langsung dilakukan renovasi agar dapat tetap bertahan dan tidak semakin rusak.
Hingga saat ini baru dua bangunan yang telah mendapatkan renovasi penyanggahan yakni Goa Arga Jumut dan Ruang Hidangan Sultan atau Raja. Kedua bangunan tersebut direnovasi selain dampak dari adanya ledakan bom, juga disebabkan karena struktur tanah yang berubah menjadi miring. Struktur tanah yang miring tersebut tentunya berpengaruh dengan bangunan diatasnya, sehingga diperlukan penyanggah agar bangunan tersebut tetap berdiri tegak.
Tentunya dengan melakukan renovasi pasti memiliki perbedaan dengan keaslian dari Goa Sunyaragi itu sendiri, salah satu perbedaan yang dapat terlihat adalah penggunaan ukuran batu bata yang berbeda. Batu bata yang asli memiliki ukuran dua kali lipat dibandingkan batu bata pada masa sekarang yang digunakan sebagai renovasi. Selain itu, dahulu bangunan ini ditempelkan dengan menggunakan putih telur, namun ketika renovasi hanya menggunakan semen dan pasir biasa saja.
Selain renovasi, Goa Sunyaragi ketika sebelum adanya pandemi dilengkapi dengan permainan-permainan yang menunjang wisata, seperti adanya permainan sepeda gantung. Namun karena terdampak pandemi, Goa Sunyaragi sempat mengalami penutupan dan tidak ada pengunjung, maka permainan itu gulung tikar dan belum diadakan kembali hingga saat ini.
Warga sekitar sangat berpengaruh bagi keberlangsungan wisata Goa Sunyaragi ini, pengaruh-pengaruh tersebut bisa berupa meningkatkan ekonomi dengan adanya lapangan pekerjaan, tempat berdagang, dan lain-lain. Sebagai wisata nasional bahkan internasional tentunya banyak wisatawan yang berkunjung, hal ini dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk berjualan makananmakanan ringan, minuman ringan, dan lainlain. Pihak pengelola tidak melarang warga sekitar untuk berjualan, hanya menertibkan saja. Namun sayangnya untuk pekerjaan mengelola Goa Sunyaragi tidak terdapat upah tetap karena disini lebih bersifat sukarela sehingga upah yang didapat hanya berasal dari baringan (sedekah) saja yang bersumber dari penjualan tiket masuk dan dana lainnya.
Foto bersama sosok dibalik keamanan Gua Sunyaragi, Bapak Marmo
Foto bersama Penjaga Pintu Keluar Goa Sunyaragi
Potret Wisatawan yang sedang mengunjungi keindahan Goa Sunyaragi