UntukMemenuhiTugasMataKuliahManajemen IsudanKrisis
![]()
1.
Shafrinda Luthfia Z J - 154200014
Diah Rahayu Agustin -154200035
3.
2. Believe Ayu Ashafaa - 154200045
4.
Maritza Luthfi El Fahmi - 154200059
Pendahuluan
Identifikasi Risiko dan Dampak PT Pertamina
Perencanaan Respon
Krisis
Identifikasi Stakeholder
Komunikasi Krisis dengan
Skala Prioritas
Rencana Strategi
Tindakan Responsive Solusi Alternatif
Evaluasi Hasil
Pertamina adalah perusahaan milik negara (BUMN) terbesar di Indonesia dalam hal pendapatan dan labanya. Perusahaan ini aktif di sektor hulu dan hilir industri minyak dan gas Sektor hulu meliputi eksplorasi dan produksi minyak, gas dan energi panas bumi, sementara kegiatan hilir mencakup pengolahan, pemasaran, perdagangan dan pengiriman.
Perusahaan ini didirikan pada tahun 1957 dengan nama Permina tapi mengubah namanya menjadi Pertamina setelah merger dengan Pertamin pada tahun 1968. Pertamina menjadi sumber besar pendapatan bagi pemerintah Orde Baru Presiden Soeharto pada tahun 1970-an, sehingga memungkinkan investasi besar dalam infrastruktur negara dan program penanggulangan kemiskinan yang berhasil. Meskipun demikian, mismanajemen (kesalahan pengelolaan) dan korupsi hampir menyebabkan kebangkrutan pada tahun 1975
Perusahaan ini memproduksi banyak komoditas seperti bahan bakar, minyak tanah, LPG (Bahan bakar gas cair), LNG (Gas bumi cair), dan petrokimia. Pertamina adalah produsen minyak mentah terbesar kedua di Indonesia setelah Chevron Pacific Indonesia (merupakan anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Chevron Amerika, salah satu perusahaan energi terintegrasi terkemuka di dunia). Saat ini, Pertamina memiliki enam kilang minyak di Indonesia yang memiliki kapasitas produksi gabungan sebesar satu juta barel minyak per hari (bph).
Jumat (03/03/2023) Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) atau Depo Pertamina di Plumpang, Jakarta Utara terbakar. Dugaan awal insiden kebakaran disebabkan oleh kebocoran pipa bahan bakar minyak. Warga panik akibat angin kencang yang membuat api merambat ke pemukiman yang tidak jauh dari lokasi kebakaran dengan jarak hanya 5-6 meter
Sebelum insiden kebakaran terjadi, warga sekitar mencium bau Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menyengat hingga kemudian terdengar ledakan yang terdengar dan munculnya kobaran api yang membuat warga Plumpang panik. Kebakaran ini menyebabkan 18 orang meninggal dunia dan 50 orang lukaluka. Api menyambar hingga mengakibatkan ratusan warga mengungsi. Adapun pertamina dan warga yang terdampak mengalami kerugian baik secara materil maupun non materil.
Depo Plumpang memiliki kapasitas tangki timbun sebesar 291 889 km serta menyuplai sekitar 20% kebutuhan bahan bakar minyak di Indonesia dan sekitar 25% dari total SPBU Pertamina. Setelah insiden kebakaran tersebut, Pertamina memastikan bahwa stok BBM akan tetap aman dimana Depo Plumpang tetap mengantisipasi kebutuhan BBM di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya dengan alih suplai dari Terminal BBM sekitarnya.
PT Pertamina memiliki komitmen tanggung jawab terhadap korban (Pembiayaan)
PT Pertamina yaitu tim Pertamina Patra Niaga menggunakan jalur kerjasama dengan Pertamedika IHC maupun sejumlah Rumah Sakit di Jakarta untuk merujuk serta memberikan pengobatan kepada korban beserta keluarga.
PT Pertamina membuat komitmen dalam pembuatan keputusan untuk penanganan dengan dua opsi yaitu Pemindahan Depo Plumpang atau pemindahan rumah warga sekitar depo.
Pihak - Pihak seperti Pemadam kebakaran dan kepolisian cepat tanggap dalam menangani kasus saat terjadinya peristiwa
Pemerintah daerah setempat optimal dalam menurunkan pihak terkait dalam memecahkan permasalahan.
Standar keamanan dan operasional PT
Pertamina
khususnya di Depo
Plumpang belum ideal
Belum
terselesaikannya sengketa tanah antara PT
Pertamina dengan
Warga setempat
Perumahan di daerah plumpang sangat berdekatan satu sama lain sehingga api yang berkobar menjadi cepat menyalur dan menghasilkan kerusakan serta menghabisi banyak korban jiwa
Tata ruang dan denah yang buruk sehingga tidak ada ruang apabila terjadinya ledakan.
Hal ini dikarenakan kebakaran tersebut memakan banyak korban dan mengakibatkan beberapa konflik di masyarakat sekitar. Saat terjadinya peristiwa kebakaran, media mempublikasikan pemberitaan yang memberikan highlight besar ke PT Pertamina. Dengan kerugian yang tercipta, maka beberapa pihak akan memandang buruk kinerja PT Pertamina sebelum adanya penanganan kasus.
Kepercayaan Masyarakat Menurun
Hal ini dikarenakan berbagai persepsi dan sudut pandang masyarakat tercipta akibat pemberitaan yang diangkat oleh media. Pemberitaan ini biasanya berisi mengenai penyudutan terhadap PT Pertamina dan pandangan sebelum pihak PT Pertamina memberikan statement resmi mengenai tanggung jawab kasus tersebut.
Penyalahgunaan identitas
Akan terdapat beberapa oknum yang mengaku menjadi korban dan meminta pertanggungjawaban walaupun pada kenyataanya mereka bukanlah korban dari
Depo Plumpang Hal ini dapat terjadi di kemudian hari dikarenakan rumah penduduk yang terkena di sekitar depo plumpang tidak memiliki sertifikat kepemilikan tanah tempat tinggalnya. Sehingga kesempatan ini akan bisa dimanfaatkan oleh beberapa oknum jahat.
Perlawanan Terhadap Misi Perusahaan
Dengan peristiwa kebakaran Depo Plumpang akan menyebabkan kesulitan PT Pertamina dalam melebarkan sayapnya. Pelebaran usaha khususnya untuk membangun kilang / depo baru akan terhambat akibat kepercayaan masyarakat hilang setelah kasus ini. Masyarakat akan memiliki anggapan atau opini bahwasannya PT Pertamina akan menciptakan kerusakan yang lebih parah dengan pembukaan lahan kilang / depo baru.
2017 lalu Pertamina melakukan pendataan yang dibantu oleh Survei Indonesia. Berdasarkan pendataan tersebut total warga yang tinggal di wilayah Depo Plumpang mencapai 34.700 orang dengan 9.234 KK. Kebakaran Depo Plumpang mengakibatkan sekitar 20-30 rumah terbakar dengan jumlah 17 orang meninggal dunia, 50 orang mengalami luka-luka, serta 579 orang terdampak kebakaran Depo Plumpang dimana para warga tersebut telah diungsikan ke enam titik posko pengungsian. Jumlah korban tersebut masih bersifat sementara. Pertamina bersama media terus memberikan update informasi terkait data korban kebakaran Depo Plumpang yang dibantu oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta.
Jajaran Direksi Pertamina Patra Niaga menemui langsung korban maupun keluarga korban yang terdampak insiden Depo Plumpang di sejumlah rumah sakit dan menyampaikan rasa duka dan keprihatinannya atas musibah yang terjadi sebagai bentuk komitmennya untuk bertanggung jawab penuh kepada korban.
Tim Pertamina Patra Niaga terus berkoordinasi dan bekerja sama dengan Pertamedika IHC untuk merujuk para koarban ke rumah sakit agar para korban diberikan penanganan terbaik dan bantuan untuk keluarga korban yang menunggu di rumah sakit diantaranya di RS Pusat Pertamina, RS Pusat Pertamina Jaya, RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, RSUD Koja, RSUD Tugu Koja, RS Pelabuhan, RS Pekerja, RS Firdaus, RS Yarsi, RS Mulyasari, dan RS Polri Kramat Jati. Pihak Direktur Utama Pertamina Patra Niaga membentuk tim Pertamina Peduli di setiap rumah sakit tersebut untuk memonitor kondisi, mendampingi, dan membantu korban dan keluarga setiap hari.
Pertamina bekerja sama dengan Koramil, Kelurahan Tugu Selatan, RPTRA Rasela Rawabadak dan Puskesmas, Kelurahan Rawa Badak Selatan, dan Palang Merah Indonesia untuk menyediakan posko pengungsi di lokasi aman untuk warga yang tinggal di sekitar Integrated Terminal Jakarta, Plumpang Pertamina sendiri menyalurkan bantuan sebesar Rp1,72 miliar per 11 Maret 2023 untuk korban kebakaran. Bantuan sebesar Rp1,26 miliar atau 74 persen berasal dari Pertamina Group, dan Rp451 juta atau 26 persen berasal dari BUMN.
Manajemen Isu dan Krisis
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan pihak Pertamina membentuk Tim Gabungan dengan PT Pertamina Patra Niaga, lembaga terkait, dan aparat penegak hukum untuk menginvestigasi penyebab terjadinya kebakaran di Depo Plumpang, Jakarta Utara. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir pemerintahan Pertamina untuk mengusut tuntas kebakaran yang merenggut korban jiwa tersebut. Tim Gabungan tersebut melakukan evaluasi dan merefleksi menyeluruh terkait internal Depo Plumpang demi menghindari kejadian serupa terulang
Pertanggungjawaban
PT Pertamina berencana membentuk satu direktorat khusus yang menaungi keselamatan dan kesehatan kerja atau health, safety, security and environmental (HSSE) usai insiden kebakaran Depo Plumpang. Direktorat tersebut nantinya akan mengurusi sekaligus memantau pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja di seluruh sub holding Pertamina. Adapun Pembentukan direktorat khusus itu merupakan amanat langsung dari Menteri ESDM Arifin Tasrif dan Menteri BUMN Erick Thohir.
Kuadran II
Warga Plumpang, Polisi, Karyawan, SPBU, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM )
Buzzer, Ormas Kuadran IV
Manajemen Isu dan Krisis
Kuadran I
BUMN, ESDM, Lembaga Eksekutif (Presiden, Wakil Presiden, Menteri, Kementerian Perhub), Legislatif (MPR, DPR, DPD), Media massa, Pemegang Saham, Investor, Pemerintah daerah, Dewan Komisaris
Kuadran III
Pelanggan Pertamina, RS, PMI, Relawan, Personel Gulkarmat (Pemadam Api), Lembaga
Penelitian dan Perguruan Tinggi, Kontraktor, Netizen
KuadranI
KuadranII
Membuatlaporanterkaitsegalabentukprogres perkembangantindakanpenyelesaianpermasalahan sepertipembentukantimdanpembentukantanggung jawabperusahaan.Pelaporandataatauinformasiterkini terkaitdatakorbandanperkembanganbantuanyang diberikanPTPertamina
Sosialisasidanpenyuluhanmengenaikondisiterkinidalam memastikanopinipubliktetapbaikkepadaperusahaan Koordinasidenganpihakterkaitdalammemastikan keadaanmasyarakatyangkondusifakibatdarikejadian kebakaranDepoPlumpang.
KuadranIII
KuadranIV
Koordinasikerjasamadalampenanganankorbanjiwa kejadianKebakaranDepoPlumpang,Koordinasikerjasama dalampenelitian(research)mengenaikejadianKebakaran DepoPlumpang.
Menindaktegaspenyebarisuhoaksakankejadian kebakarandepoplumpangyangberakibatpadapenurunan citraperusahaanPTPertamina
Perencanaan manajemen krisis merupakan alat referensi yang berisi daftar informasi kontak, pengingat apa yang dilakukan dalam sebuah krisis, dan formulir yang harus digunakan untuk mendokumentasi respon krisis pada kebakaran pipa di depo Pertamina Plumpang Perencanaan manajemen krisis membantu menentukan tugas, mengumpulkan informasi, dan sumber referensi.
Tim krisis terdiri dari public relations, legal, keamanan, operasi, keuangan dan sumber daya. Tim krisis dipersiapkan untuk memonitor lingkungan, mencermati isu-isu baru, mengumpulkan data atas isuisu, mempersiapkan rencana, dan menentukan media yang akan digunakan
Perencanaan Manajemen Krisis
Tim Manajemen Krisis
Depo Pertamina Plumpang menyiapkan juru bicara, Fadjar Djoko Santoso untuk mewakili perusahaan, mengeluarkan pernyataan resmi dan menjawab pertanyaan selama krisis kebakaran Pertamina Plumpang. Pertamina juga menyiapkan juru bicara cadangan untuk menggantikan jika juru bicara utama ada halangan. Juru bicara harus memberikan informasi yang jelas kepada publik agar tidak timbul isu-isu yang lain.
Tim krisis depo Pertamina Plumpang bisa menyusun pesan yang akan digunakan saat krisis kebakaran pipa di depo Plumpang. Pesan yang disiapkan meliputi pertanyaan manajemen puncak, release berita, dan situs.
Pertamina dapat memberikan klarifikasi dan informasi tentang kebenaran kasus melalui web Pertamina.com.
Pihak depo Pertamina Plumpang memberikan respon langsung saat kejadian pada konferensi pers, pihak pertamina memfokuskan pada penanganan kebakaran pipa penerimaan BBM di Terminal Plumpang Pertamina juga akan menjaga akurasi dengan mengecek semua fakta penyebab kebakaran di depo Plumpang, jumlah korban, menyampaikan bentuk pertanggungjawaban, membentuk tim gabungan, membentuk direktorat khusus pertanggungjawaban dan akan selalu menginformasikan kepada publik.
Pesan Krisis
Direktorat Jenderal Migas akan melakukan investigasi menyeluruh untuk mencari penyebab kejadian kebakaran guna perbaikan kedepannya. Hal tersebut digunakan pihak Pertamina untuk melakukan evaluasi dan perbaikan pada instansi dan peralatan yang digunakan Pihak pertamina juga akan memastikan keselamatan dan memberikan bantuan pada warga yang terdampak dengan cara menyediakan posko untuk mengungsi, memberikan jaminan biaya perawatan di rumah sakit, memberikan santunan bagi keluarga korban yang meninggal dunia, pengamanan pasokan BBM, dan pembuatan buzzer zone.
Dalam upaya mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap Pertamina, maka pemenuhan janji kepada publik menjadi hal yang salah satu hal yang sangat krusial. Meskipun pada kenyataannya penyebab kebakaran dan kerusakan pada pemukiman bukanlah tanggung jawab teknis yang harus dilakukan oleh
Pertamina, namun perusahaan tersebut tetap harus merealisasikan janji kepada publik dengan bertanggung jawab secara moral dan materiil penuh atas insiden tersebut. Salah satu janji
Pertamina adalah pemberian ganti rugi dana kepada korban dan memastikan pasokan BBM untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah Jawa Bagian Barat tidak mengalami kendala dan penyaluran BBM kembali normal.
Publik Mendapat Informasi
Perkembangan Upaya Pemulihan dan Perkembangan
Penyidikan
Arus informasi mengenai perkembangan kasus Depo Plumpang kepada publik harus masif dilakukan meskipun kasus tersebut telah mereda perlahan - lahan. Hal tersebut dilakukan agar tidak terjadinya kesimpangsiuran informasi yang tersebar di publik.
Analisa Upaya Manajemen Krisis
Upaya yang telah dilakukan oleh Pertamina dalam menghadapi kasus kebakaran Depo Plumpang tentunya dilakukan guna meredam krisis yang ada. Upaya - upaya yang telah dilakukan oleh Pertamina berupa pertanggungjawaban berupa moral maupun materiil.
Kerusakan yang disebabkan oleh kebakaran Depo Plumpang, tentu memberikan dampak yang signifikan pada kerusakan pemukiman warga sekitar yang mengakibatkan mereka kehilangan tempat tinggal. Maka Pertamina mendirikan posko pengungsian pada beberapa titik yang tentunya aman dari lokasi bencana.
Sebagai bentuk komitmen Pertamina terhadap proses pemulihan korban maupun masyarakat terdampak, Pertamina memberi bantuan dalam wujud berupa kebutuhan dasar seperti makanan dan pakaian, dapur umum, biaya perawatan korban, dan biaya pemakaman. Selain itu Pertamina juga memberikan bantuan dana untuk fasilitas kontrakan atau hunian sementara bagi masyarakat yang sebelumnya mengungsi dan rumahnya terdampak.
Demi terjaganya kelangsungan kebutuhan akan minyak, maka Pertamina melakukan sebuah langkah solusi berupa pengamanan pasokan cadangan dari terminal bahan bakar minyak terdekat yaitu Terminal BBM
Tanjung Gerem, Terminal BBM Cikampek, dan Terminal BBM Ujung Berung. Selain itu, pengamanan pasokan dapat didukung dari Kilang Cilacap dan Balongan yang nantinya dapat disalurkan melalui jalur laut ke Terminal BBM Tanjung Priok
Sebagai langkah solutif dalam menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat sekitar Depo Plumpang, maka Pertamina menyediakan buffer zone, zona aman, zona pembatas antara tembok terluar Depo BBM dengan masyarakat. Buffer zone ini setidaknya harus ada sekitar 50 meter keliling Depo Masyarakat harus dijauhkan sejauh 50 meter dari pagar terluar Depo BBM Plumpang. Jika dihitung secara kasar, maka dibutuhkan tanah sekitar 10 Ha mengelilingi Depo yang diperkirakan sepanjang 2 km keliling Depo. Tanah ini masih milik Pertamina secara sah
Manajemen Isu dan Krisis
1.
Strategi krisis harus direncanakan secara matang. Kecepatan penanganan tidak bisa menyelesaikan masalah apabila tim manajemen krisis tidak mempersiapkan dengan baik strategi apabila terjadi masalah besar.
2. Meningkatkan standar keamanan objek vital agar tidak terjadi lagi hal serupa
4.
Perbaikan hubungan dengan stakeholder khususnya masyarakat yang dekat dengan Depo Plumpang.Hal ini untuk menindaktegas pengelolaan lahan milik PT Pertamina yg lain agar tidak terjadi kejadian serupa
3. Melakukan mapping ulang pada wilayah rawan ledakan