Skip to main content

Pukat - Iwan Yusuf

Page 1

p u k at I w a n

Y u s u f


p u k at I w a n

Y u s u f


p u k at

Hendro Wiyanto

Di seberang kamar tempatku mengi­nap —hotel kecil lang­ ga­nan­ku

ka­lau

sedang

ber­

ada di Jogja— pa­­ra tu­kang me­ manfaatkan tirai tipis ber­­­bahan plastik di arena tempat me­­­reka mencangkuli tanah. Pagi itu ta­ bir kelabu memagari pan­­dang­­ an­­ku ke arah gerumbul in­dah hi­­jau tumbuhan di halaman. Be­ ta­pa “modern” penglihatan yang terasa ber­cadar. 4

Iwan menjumput bahan baru untuk kar­ya­ nya —segulung kawat kasa— ketika mengi­ kuti “transit”, program residensi untuk se­ ni­man mu­da di Selasar Sunaryo Art Space (SSAS), Bandung, dua tahun lalu. Dia selalu tertarik pa­da rupa-rupa bahan, yang berasal dari alam mau­pun olahan pabrikan. Ketika mengeksekusi pro­yek seni buminya di Danau Limboto (2013) dia gunakan berton-ton tanaman eceng gondok (eichhornia crassipes) untuk menghidupkan lagi mi­­tos telapak kaki raksasa, muasal sumber air di Limboto. Berminggu-minggu dia nyemplung ke da­­lam danau yang sekarat, tertambat oleh pukat ni­ lon degil milik para petambak ikan. Seperti yang dikerjakannya dengan jaring-kasa ketika di Bandung, dia merajut raut lembab wajah nelayan, men­­cadarnya dengan riakriak halus tenunan grid atau jejala.


/ t r aw l

Across the room where I stayed— a small hotel where I often stayed when I am in Jogja—the handy­ men were using a thin plastic curtain in the area where they were digging the ground. That morning a grey veil fenced off my sight from the beautiful clus­ ter of green plants growing in the front yard. How “modern” is this veiled sight.

Iwan was pinching a new material for his work—a roll of wire-mesh—when he was at­ tending “transit”, a residency program for young artists in Selasar Sunaryo Art Space (SSAS), Bandung, two years ago. He is always interested to various materials, the natural or the industrial fabrication. When he was exe­ cuting his earth art project in Limboto Lake (2013) he used tonnes of water hyacinth (eichhornia crassipes) to revive the legend of the gi­ ant foot prints, the origin of the water source of Limboto. For weeks he dived into the dy­ ing lake, tethered himself with a gnarly nylon trawl of the fish farmers. Just like what he did with the wire-mesh in Bandung, he knitted the damp face of the fishermen, veiled them with the soft ripples of the grid or netting.

5


Kini kita sudah sangat terbiasa dengan barang pa­brikan, keluaran mesin-mesin industri di mana-mana. Tapi jejalah “estetika” rupa pabrikan yang me­nyandang kekhasan olahan masih cukup lang­ka dikerjakan para seniman. Iwan rupanya pu­nya intuisi untuk menjajal sembarang material se­ba­gai wahana olah artistik karyanya. Ia otodidak yang memiliki kepekaan bawaan untuk merasarasa­kan kekhususan rupa dan wanda, takjub oleh ekspresi mikro dan sembarang rinci sifat per­mu­kaan alam dan barang. “Pesan” seharihari di sekeliling kita yang tanpa sadar selalu kita sentuh dan cerap, sekaligus terlewat. Bahan pukat nilon yang halus, lentur dan ber-grid-grid itu menjadi wahana Iwan untuk berkarya di pa­meran ini. Grid adalah pembidangan terbagi, pe­cahan suatu luasan yang menghasilkan ter­tib susunan, himpunan satuan rampak yang teru­kur. Grid atau jejala merupakan pola bentuk beru­ lang. Perulangan yang tanpa akhir terkadang mengi­ngat­kan kita akan susunan keserupaan (self-similar) yang lebih kompleks dan canggih, ke­aja­ib­an fractal yang memberi kita kekekalan rasa ber­ira­ma. Permainan grid pada lembaran pukat halus yang digunakan Iwan menarik perhatian kita pada ber­bagai efek rupa: tipis bercadar, garis-garis bersilangan seperti arsiran rumit pada gambar, raut kasar

6

yang menohok kita sebagai kulit tebal, se­ tumpukan barik, atau sebaran bidang-bidang lepas. Tapi bukan pola satuan grid pada bahan pukat yang mau dipertontonkan Iwan, melainkan efek oto­matis-optisnya, main-mata dengan sifat dan rupa permukaan bahan, citra ilusi


sensitivity to senses the particularity of vi­ sual and physiognomy, astonished by micro expressions and any details of characteris­ tic of the surface of nature and objects. The “daily” messages around us that we subcon­ sciously touch and absorb, and at the same time missed.

Now we are very used to manufactured ma­ terials, products of industrial machineries everywhere. But “aesthetic” exploration of manufactured visuals that bears the particu­ larity of refineryis still a rarity to be done by artist. Iwan apparently has the intuition to try out any materials as a medium of his work artistic process. He is self-taught with innert

The fine, elastic and gridded nylon trawl is a medium for Iwan in creating his works in this exhibition. A grid is a space division, frac­ tions of an area that generates and orderly arrangement, a set of measured simultane­ ous units. The endless repetition sometimes reminds us to a more complex and sophisti­ cated arrangement of self-similars, fractal magic that will give us a rythmic sense of eternity. The grid play in the fine trawl sheet used by Iwan attracts our attention to vari­ ous visual effect: thinly veiled, overlapping lines like a complicated shading in a drawing, coarse expression that strikes us like a thick skin, a set of lines, or distribution of loose fields. But it is not the grid unit pattern in the trawl material that Iwan wishes to display, instead it is the automatic-optical effect, the eye-trick with the characteristics and visuals of the material surface, illusive images or virtual trick generated. One of the best examples re­

7


atau tipuan ma­ya yang ditimbulkan. Salah satu contoh terbaik me­ngenai pemanfaatan bahan kasa-kawat (wire-mesh) baru-baru ini telah dipertontonkan oleh seniman muda, Park Seung Mo di berbagai pa­meran. Iwan, sebagaimana Seung Mo, bukanlah je­nis seniman (pseudo) formalis dengan kecen­ de­rungan analitis seperti Mahendra Yasa, Wiyoga atau dedengkotnya sekalian, Sol LeWitt. Pe­cahan bagi-rata pada pukat itu di mata Iwan menakjubkan untuk dilihat utuh sebagai ke­se­lu­ruh­an, gestalt rupa yang mengandung greget ar­tis­tik. Ia mempertajam kepekaan kita pada sifat maya dan ketrans­ pa­ranan, efek cadar, gelap-te­rang, ketebalan, ke­khususan bobot-massa barang olah­an pa­ brikan. Katakan saja, ia seniman estetik pe­ sulap bahan. Sudah sejak lama sejarawan seperti Sudjoko menepuk pundak kita agar tidak mere­meh­ kan ba­han-material lokal di alam kemo­dern­ an. Per­ha­tikan, misalnya bahan dan ru­pa topi-pandan pa­da masyarakat di Timor. Itu tidak pernah cu­kup disebut sebagai hasil ke­ pe­rajinan. Katanya, anyam­an itu mesti kau ra­sa-rasakan, tidak sema­ta kau tuduh sebagai kerja mengulang tanpa ke­pe­kaan. Sumbersum­ber kepekaan modern ki­ta, begitu lebih kurang kata sang sejarawan, sebaiknya ber­ an­­jak saja dari apa yang terhampar di sekitar.

8

Ce­pat atau lambat, maklumat Sudjoko mung­ kin akan menyerempet kepala Iwan. *** Semakin modern, semakin kita kaya grid, jala-jala yang menabrak penglihatan seharihari, di sembarang tempat. Kemodernan bisa disimbolkan sebagai grid, idea, tetanda atau “geometri” mufakat pada operasi rumus-formal, kemangkusan (keefektifan, berhasil guna), tapi juga — kalau kita mau— menyiratkan godaan atau seduksi. Yang terakhir itu barangkali tidak sepenuhnya


garding the utilization of wire-mesh recently has been displayed by the young artist, Seung Mo, not the type of (pseudo) formalist artists with analytical tendencies such as Mahendra Yasa, Wiyoga, or even the prominent leader, Sol LeWitt. The evenly distributed division of the trawl in Iwan’s eyes is amazing to be seen as a whole, the visual gestalt containing ar­ tistic exhiliration. It sharpens our sensitivity toward the virtual and transparency, the veil effect, dark-light, thickness, the specificity of mass-weight of a manufactured objects. Let’s just say, he is an material aesthetic magician artist.

Long has it been that historians like Sudjoko pat our shoulders so we will not underesti­ mate local materials in the nature of moder­ nity. Pay attention, for example the material and visual of the Timorese folk pandan hats. It will not suffice to be called as a craft pro­ duction. He said, the weaving must be sensed, it is not merely accused to be the repetitive work without any sensitivity. The sources of our modern sensitivity is so lacking, the his­ torian explained, we better start from what is available in our surrounding. Sooner or later, Sudjoko’s warning perhaps might graze Iwan’s head. *** The more modern, the more we are rich of grids, the nets that bump our vision everyday, everywhere. Modernity can be symbolized as grids, ideas, symbols, or “geometry” approval to the formula-formal, functionality (effectivity, efficiency), but also—if we wanted—implies temptation or seduction. The last one is perhaps not entirely realized by Iwan when expossing the trawl and the grid nets in a two-dimensional space. We are outside the imagery and veil, but the form and visual are at the same time inside and outside the veil. We are tempted to drill on and embrace those behind the veil.

9


disadari oleh Iwan ketika memapar pukat dan jejaring grid pada bidang dwimatra. Kita di luar citra dan cadar, tapi bentuk atau rupa itu sekaligus di dalam dan di luar cadar. Kita selalu tergoda untuk mencecar dan merengkuh yang di sebalik cadar. Bahan pukat nilon yang digunakan Iwan lentur dan luwes seperti air. Bahan pabrikan lokal itu mudah melar, memain-mainkan luasan mata-pukat rapat atau lebar. Eksperimen Iwan dengan kelenturan bahan pukat melahirkan berbagai pola citraan garib atau ganjil. Citra pelukis-bangsawan Jawa, Raden Saleh yang direkam oleh Carl Johann Baehr, sekitar 1840, dalam ikat kepala dan bungkus busana tebal berwarna gelap menghadirkan rupa relief bergaya realis klasik. Potret Sudjojono langsung identik dengan “jiwa ketok”, melalui sepasang matacermin bolong. Sebaliknya, kita disuguhi raut acakadut dan kampungan Affandi tua yang tembus pandang, mengambang dengan senyum kebahagiaan, matanya menyipit sebagai tetanda siasat pada hidup.

tapi cara Iwan menghormat pada tokohtokoh itu boleh jadi menyimpan parodi tersendiri. “Bulan Berdarah”, dan “Rebutan Aspal”, misalnya menunjukkan ketangkasan penggunaan simbol. Sungguh kebangetan, kalau “lukisan dianggap bisa lahir dari dan hancur oleh sebuah partai dan rezim,” celoteh Iwan. “Bulan Berdarah” selesai dikerjakan persis pada 30 September 2015, tetenger paling bermakna pada peristiwa jagal pada sejarah nasional. Kebablasan pula, kalau lukisan yang cetha wela-wela palsu dikukuhkan dengan argumen palsu, layaknya barang asli. Ia mengingat flora dan fauna dalam khasanah masyhur seni lukis Widayat yang menjadi grid simbolis-magis pada alam. Burung-burung sang pelukis sudah raib dari rumahnya, diharapkan kembali ke haribaan utopis sang seniman selama hidup: museum kekekalan. Itu cara-cara Iwan memukat peristiwa. +++

Yogyakarta, 13 November 2015 Rujukan naratif melalui potret seniman jadul adalah cara sang otodidak mendekat pada tokoh-tokohnya, upayanya belajar pada sejarah seni rupa yang tak henti diperdebatkan. Apropriasinya tidak tajam,

10


The nylon trawl used by Iwan is supple and flexible like the water. The local manufactured material easily expands, plays on the width of the net hole tight or wide. Iwan’s experiments with the trawl flexibility creates various imagery pattern, peculiar or strange. The image of the Javanese painter-prince, Raden Saleh, was recorded by Carl Johann Baer, circa 1840, the head wrap and thick dark colored clothing presented a realist classic relief visual. Sudjojono’s portrait is immediately identical to the “visible soul”, through the pair of see through mirror eyes. On the contrary we are presented with the ragged and rough face of the old see-through Affandi, floating with a smile of happiness, his eyes narrowing as a symbol of cunningness to life.

exactly at 30 September 2015, the most meaningful symbol in the event of massacre of the national history. It is also excessive, if a painting that is bluntly and blatantly fake is inaugurated with fake arguments, as if it is a real object.

The narrative reference through classic artist portraits is the way of the self-taught artist to approach the characters, his effort to learn from the endlessly debated history of art. His appropriation is not sharp, but the way Iwan pay homage to these figures could be a parody in its own. “Bulan Berdarah” (Bloody Moon), and the “Rebutan Aspal” (Fighting for Original but Fake), for example, displays the knack in symbolism. It is outrageous if “a painting can be created from and destroyed by a party and regime,” Iwan said. “Bulan Berdarah” was finished

Yogyakarta, 13 November 2015

He remembers the flora fauna in Widayat’s famous painting repertoir that becomes a symbolic-magical grid in nature. The painter’s birds are gone from his home, hoped to return to the painter’s utopian embrace during his life: the museum of eternity. These are the ways of Iwan in trawling events.+++

11


12


Potret jaring troll di atas kanvas 200 x 200 cm 2015

Detail from Potret

13


1840 jaring troll, waring, cat plastik di atas kanvas 200 x 200 cm 2015

Detail from 1840

14


15


16


Jiwa Ketok jaring troll, cat plastik dan cermin di atas kanvas 220 x 140 cm 2015

17


Burung-burung Ingin Kembali ke Rumahmu jaring troll dan waring di atas kanvas 220 x 140 cm 2015

18


Rebutan Aspal jaring waring di atas kanvas 200 x 130 cm 2015

19


20


Lukisan Palsu jaring waring di atas kanvas 200 x 170 cm 2015

Detail from Lukisan Palsu

21


Asap Kuning jaring waring dan cat plastik di atas kanvas 185 x 185 cm 2015

Detail from ASAp kuning

22


23


Bulan Berdarah jaring waring dan cat plastik di atas kanvas 220 x 140 cm 2015

24


Iwan Yusuf Born in Gorontalo, North Sulawesi, May 19, 1982. Self-taught artist. Lives & works in Batu, Malang, East Java.

So lo P ro j e cts 2013

Menghadap Bumi Art Project, Danau Limboto, Gorontalo, Indonesia.

2012

Bayi Angsa, Gunung Banyak, Batu, Malang, Indonesia

2007

Seni Rupa Menghadap Bumi, Galeri Surabaya, Surabaya, Indonesia

G ro u p E x hibitio ns 2015

Pameran lukisan bersama, Riden Baruady Gallery, Gorontalo

Biennale Jatim # 6, Surabaya

Treasure of Culture, GOR Ganesa, Batu, Malang

Bale Project, Bazaar Art Jakarta, Jakarta

2010

Jakarta Art Award, North Art Space, Ancol, Jakarta

2009

Biennale Jatim III, Orasis Art Gallery, Surabaya. Surabaya Insight, Galleri Zoso Art Space, Surabaya.

2008

Of No Value, Orasis Art Gellery, Surabaya Kompetisi Pelukis Muda Jatim, Bang Wetan, Surabaya.

Tahu Campur, Balai Pemuda, Surabaya.

2011 Jakarta Biennale # 14, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta

Art to Art, Museum Empu Tantular, Surabaya

Jatim Biennale IV, Orasis Art Galley, Surabaya

Amazing Grace, Orasis Art Gallery, Surabaya

Imaji Ornamen, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta

2007

Matra Realis, Balai Pemuda, Surabaya

2014 Transit #2, Selasar Sunarjo Art Space (Bandung), Gallery Canna (Jakarta) Melancholia, Sangkring Art Project, Yogyakarta 2013 Transit #2: Zona Transisi, Selasar Sunarjo Art Space, Bandung Rumahku, Galeri Raos, Batu, Malang 2012

Pameran Seni Rupa, Esa Sampoerna Museum, Surabaya Malaysia Expo

25


Catalogue for A solo exhibition by Iwan Yusuf Pukat Curator Hendro Wiyanto English Translator Mirna Adzania Published by D Gallerie Jakarta, Indonesia December 2015 Edition 500 copies Designed by Kotasis Kamar Desain 3x3x3 Surabaya, Indonesia www.kotasis.com

Printed in Indonesia


Jl. Barito I No.3, Kebayoran Baru, Jakarta 12130 | +62 21 739 9378 | dgalleriejakarta@gmail.com | www.dgalleriejakarta.com


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Pukat - Iwan Yusuf by dgalleriejakarta - Issuu