Page 1

Mimbar Opini 23

Banjarmasin Post SENIN 13 AGUSTUS 2012

TAJUK

Testimoni Antasari TIDAK ada hujan tidak ada petir, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar bikin gerah istana. Antasari menyebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memiliki andil dalam skenario skandal Bank Century. SBY lah yang disebutnya memimpin rapat pembahasan pencairan dana talangan kepada Bank Century sebesar Rp 6,7 triliun. ‘Nyanyian’ terpidana kasus pembunuhan itu membuat istana gelagepan . Dan, apa yang disampaikan Antasari itu ‘diamini’ oleh istana. Bahkan, Presiden SBY secara tersirat membenarkan adanya pembahasan masalah bailout Century. Meski tidak secara gamblang bentuk rapat yang dimaksud Antasari, namun SBY mengakui pemerintah sangat berkepentingan menyelamatkan Bank Century agar tidak memicu krisis moneter di Indonesia. Dan, SBY pun mengaku sudah melihat bakal adanya risiko politik dari kebijakan bailout Century. Dalam perjalanannya, skandal Century begitu mengharu-biru jagad politik di negeri ini tiga tahun silam. Skandal Century seakan dijadikan ajang bagi para koboy di Senayan untuk pamer diri. Mereka dengan leluasa menginterogasi sejumlah pejabat tinggi pemerintah di antaranya Wapres Boediono --kala bailout Century menjabat Gubernur BI-- dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Dan, para koboy di Komisi III DPR seakan memenangi game ketika Sri Mulyani terpaksa harus melepaskan kursi Menteri Keuangan untuk terbang ke Amerika Serikat menjadi salah satu direktur Bank Dunia. Lantas bagaimana kelanjutan skandal Century yang oleh DPR telah direkomendasi ke penegak hukum? Hingga kini, baik kepolisian, kejaksaan sampai KPK terkesan ogah-ogahan mengurai masalah hukum Century. Hanya Rober t Tantular, bekas bos Bank Centur y yang ketiban sial harus meringkuk di penjara, lantaran tak sempat kabur ke luar negeri. Dua rekannya yang asal Pakistan sudah lebih dulu mencuri start kabur ke luar negeri dari kejaran aparat penegak hukum di Indonesia. Kembali ke Antasari. Tidak jelas apa sebenarnya dia tiba-tiba begitu reaktif membuka cerita luka lama Century. Ini menjadi menarik. Me-

ngapa ketika menjabat ketua KPK yang begitu ditakuti para koruptor di jagad negeri ini, Antasari tidak responsif bahkan diam seribu bahasa atas skandal Century. Mengapa justru ketika jasmaninya terkungkung di balik teralis besi, dia baru curhat ke publik? Ada apa ini sebenarnya? Yang pasti, testimoni Antasari dari balik jeruji besi itu telah memicu pro dan kontra. Benarkah Antasari diundang Presiden SBY hadir bersama sejumlah pejabat penting plus para penegak hukum khusus membahas skenario penyelamatan Bank Century? Sejumlah orang dekat presiden menyatakan tidak ada pertemuan yang khusus membahas masalah bailout Century. Namun, isu itu sudah keburu digulirkan Antasari yang tentu bisa kembali memanaskan suhu politik menjelang pilpres yang tidak lama lagi. Dan, SBY pun mengakui cost politic dari skandal Century bisa menjadi dagangan paling moncer di matras politik negeri ini, menjelang akhir masa jabatannya. Apa yang disampaikan Antasari sejujurnya tidak memiliki makna apa-apa. Mengapa begitu? Hal itu seharusnya diutarakannya ketika dia memiliki power yang didukung undang-undang sebagai ketua KPK. Mengapa dia bungkam ketika ada sebuah kelicikan dan kejahatan, padahal dia adalah aparat penegak hukum. Artinya apa? Antasari secara sadar telah mengintrodusir fungsinya sebagai penegak hukum, dan ikut larut dalam permainan politik. Terlepas dari keruh politik, yang perlu dipertanyakan adalah sampai mana sebenarnya penyelesaikan masalah hukum skandal Century. Publik curiga penanganan skandal Century hanya sebuah permainan konyol para elit politik semata. Dengan kata lain, Century tak lebih hanya dijadikan alat barter politik kotor para elit di negeri ini. Untuk apa dibentuk Pansus Century yang tidak sedikit menguras uang rakyat, kalau toh akhirnya hanya menguntungkan posisi politik para elit. Jadi, sekali lagi, apa yang disampaikan Antasari tidak akan pernah bisa mengurai tuntas skandal Century. Yang terjadi justru momen bagi para elite politik untuk pamer diri agar bisa kembali dipilih pada 2014. (*)

SUARA REKAN

Bersiap Rutinitas Mudik IDULFITRI kurang lebih masih satu minggu. Tapi suasana lebaran sudah merebak dan terasa di mana-mana. Tengok saja suasana di malmal, Pasar Baru, atau pasar tradisional. Semua bergerak untuk memenuhi kebutuhan yang sama: kebutuhan lebaran. Warga pun menyerbu bazar-bazar Ramadan yang digelar sejumlah instansi untuk mendapatkan barang dengan harga lebih murah. Atau coba singgah sejenak jelang tengah malam di gerai waralaba besar. Ter nyata belanja tengah malam alias midnight sale, benar-benar menyedot pengunjung untuk datang dan memborong barang-barang kebutuhan lebaran. Tak terbayangkan bagaimana situasi saat akhir pekan terakhir jelang lebaran, pasti akan lebih ruwet, semrawut, dan macet total. Lebaran memiliki daya magis untuk menggerakkan orang banyak dari kalangan bawah hingga atas. Dari rakyat jelata hingga penguasa. Semua memiliki kesibukan sendiri untuk menyambut hari besar itu. Begitu pula dengan para perantau. Mereka sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri untuk pulang kampung atau mudik. Tiket kereta api dipesan sejak dua bulan sebelum berangkat. Walau tiket dipesan sejak lama, tetap saja banyak yang tidak kebagian tiket. Berapapun tarif angkutan, para pemudik ini tidak peduli, yang penting bisa pulang. Magnet bernama kampung halaman memang membuat siapapun merasa perlu berjuang lebih keras lagi agar bisa berkumpul dan bersilaturahmi dengan sanak keluarga di tanah ke-

lahiran. Berdasarkan perhitungan instansi terkait, sedikitnya 5,6 juta pemudik yang akan melintasi wilayah Jawa Barat. Bisa dipastikan dengan berkurangnya jumlah penduduk sebanyak itu, Jakarta sebagai ibukota negara akan terlihat kosong seolah tak berpenghuni. Agar perjalanan para pemudik ini aman dan nyaman, pemerintah berupaya keras agar perbaikan- perbaikan jalan yang rusak bisa selesai seminggu sebelum lebaran. Perbaikan di jalur Pantura, pembuatan jalan lingkar Gentong, semua dikebut agar bisa beres tepat waktu. Kepolisian mengoptimalkan pengamanan di jalan raya dan di permukiman agar pemudik bisa selamat tiba di kampung halaman dan tetap merasa aman walau meninggalkan rumah. Jika dipikir lebih mendalam, untuk urusan mudik ke kampung halaman yang tergolong urusan duniawi saja, kita begitu mempersiapkannya secara maksimal. Bagaimana pula halnya dengan mudik yang hakiki, yaitu kembali ke kampung akhirat, sudahkah kita mempersiapkannya secara maksimal? Ramadan yang sedang kita jalani ini sesungguhnya adalah bekal yang sangat besar dan banyak menuju mudik hakiki itu. Tinggal bagaimana kita menyikapinya, apakah mau memiliki bekal yang banyak ke kampung yang sebenarnya atau hanya membekali diri untuk pulang ke kampung kelahiran saja? Mumpung masih ada hari-hari terakhir Ramadan yang lebih mustajab dan berkah, mari manfaatkan sebaik-baiknya waktu yang tersisa sebagai bekal persiapan mudik hakiki. (*)

Kasus SARA di Panggung Kampanye MESKI Ramadan sering ditandai suasana sejuk dan kondusif, namun isu dan berita politik panas tak henti bermunculan. Salah satunya kasus SARA yang menimpa Raja Dangdut Rhoma Irama. eperti banyak diberitakan, Rhoma dalam suatu ceramah salat Tarawih menghimbau masyarakat DKI, terkait Pilkada Gubernur, agar lebih memilih pemimpin muslim, dan bukan sebaliknya. Ini dikaitkan dengan pasangan Jokowi Ahok, di mana Basuki Cahya Purnama (Ahok) dikatakan nonmuslim. Dan orangtua Jokowi juga dinyatakan nonmuslim, yang ternyata tidak benar. Apa yang dikatakan oleh Rhoma Irama sebenarnya perkara normatif biasa. Artinya jika dilihat dari ranah agama tidak masalah. Sebab dalam nash agama dan banyak buku agama memang disebutkan demikian. Para ulama lain pun sering berbicara hal yang sama. Kita tidak perlu menggugat dan meragukan nash tersebut. Tetapi agama lebih berbicara umum, tidak menyebut nama dan pihak tertentu. Sementara yang dilakukan Rhoma, langsung menyebut nama. Inilah yang terasa vulgar. Apabila Rhoma berposisi sebagai ulama dan di luar momentum pilkada, penyebutan itu mungkin bisa dipahami. Tapi karena terkait momentum pilkada, dan Rhoma dianggap berada di posisi pasangan Foke-Nachrawi, maka keadaannya jadi lain. Apalagi, UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah telah mengatur hal tersebut. Pasal 78 butir b menyatakan, dalam kampanye dilarang menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan, calon kepala daerah / wakil kepala daerah dan / atau partai politik. Pelanggar ketentuan ini terancam pidana penjara paling sedikit tiga bulan dan paling lama 18 bulan, dan/atau denda paling sedikit Rp 600 ribu dan paling banyak Rp 6 juta. Mengacu hal ini Panwaslu DKI memanggil Rhoma Ira-

S

Oleh: Ahmad Barjie B ma. Kabarnya Rhoma sampai menangis, bukan karena tersudut tapi karena terharu, sebab fans dan pendukung tumpah ruah memberikan semangat kepada sang Raja Dangdut yang kerap tampil ala ulama ini. Kabar terakhir, unsur pidana yang disangkakan kepada Rhoma Irama sudah terbukti, sebab ada kaset video rekaman ceramah Rhoma yang bernuansa SARA tersebut. Besar kemungkinan kasus ini akan dilanjutkan ke sidang pengadilan. Mengingat Rhoma seorang figur publik saya memperkirakan, jika kasus ini berlanjut ke persidangan dan penuntutan pidana, perkaranya akan semakin panas dan ramai. Masih Ddebatable Kasus yang menimpa Rhoma kelihatannya masih debatable. UU mengatur bahwa yang diancam pidana adalah “menghina” agama, suku, dan seterusnya. Yang tentu perlu dibuktikan secara meyakinkan (di pengadilan nanti) adalah apakah ceramah Rhoma itu bermaksud dan bertendensi menghina atau bukan. Ini PR tidak sederhana bagi para penegak hukum. Saya menduga, Rhoma tidak bermaksud menghina pasangan lain dan itu sudah ditegaskannya berkali-kali. Jika ditarik ke belakang, ba-

nyak sekali lagu Rhoma Irama yang sangat bernuansa demokrasi dan menghormati pluralitas SARA dan Bhinneka Tunggal Ika di Indonesia. Antara lain kita bisa mengingat lagu Seratus Tiga Puluh Lima Juta Penduduk Indonesia, serta lagu Pancasila. Dan dalam banyak lagu yang lain, tidak ditemui adanya nuansa penginaan terhadap pluralitas. Kealfaan Rhoma saya kira, ia kurang tahu isi dan substansi UU Nomor 32 tahun 2004 di atas serta peraturan perundang-undangan pemilu lainnya beserta sanksi pidananya. Kekurangtahuan demikian mungkin juga dialami banyak ulama, tokoh, dan pihak lainnya. Boleh jadi para politisi dan tim sukses pilkada selama ini juga demikian. Buktinya dalam pilkada masih ada ungkapan “putra daerah dan bukan putra daerah”, “urang banua asli atau pendatang”, dsb. Jika kita konsisten, ini juga dapat dikenakan pasal 78 butir b, sebab mengaitkan pilkada dengan primordialisme suku dan ras tertentu. Mengingat adanya kontroversi, maka untuk kasus Rhoma Irama akan lebih baik jika tidak dilanjutkan kepada persidangan oleh pengadilan dan penuntutan. Apa yang menimpa Rhoma sudah cukup sebagai pembelajaran politik, bahwa dalam suasana kampanye tidak elok mempersoalkan SARA, terlebih dengan cara menunjuk atau menyebut nama orang secara langsung. Tanpa disidangkan pun kasus ini dapat memberi efek jera bagi siapa saja. Dengan tidak menuntut lebih lanjut, saya kira kubu Jokowi - Ahok akan lebih diuntungkan. Berarti mereka lebih memiliki sikap arif, bijaksana dan pemaaf. Akan lebih baik jika potensi dan konsentrasi kubu Jokowi difokuskan untuk memenangkan Pilkada DKI putaran kedua September mendatang. Dengan tidak menuntut, publik akan melihat pasangan ini berjiwa besar, negawaran dan lebih memilikirkan persoalan besar kenegaraan ketimbang persoalan citra dan nama baik. Juga dengan tidak menuntut, akan memudahkan

Apabila Rhoma berposisi sebagai ulama dan di luar momentum pilkada, penyebutan itu mungkin bisa dipahami. Tapi karena terkait momentum pilkada, dan Rhoma dianggap berada di posisi pasangan FokeNachrawi, maka keadaannya jadi lain. bagi pasangan Jokowi - Ahok untuk melakukan rekonsiliasi dan komunikasi politik sekiranya memang nanti. Sebaliknya jika kasus SARA yang menjerat Rhoma Irama sampai disidang dan dituntut, masalahnya akan panjang, isu politik akan terus memanas dan menyulitkan untuk rekonsiliasi. Jalur hukum tidak selalu lebih baik dan berhasil dalam menyelesaikan suatu masalah, terlebih masalah politik. Tapi semua ini terserah kepada kubu Jokowi-Ahok sendiri. Bagi Rhoma, tak ada salahnya minta maaf secara pribadi. Sikap itu bukan berarti merevisi nash yang ia sampaikan, melainkan sekadar minta maaf kalau sikapnya menyinggung dan merugikan kubu lain, karena ada kemungkinan Rhoma juga keliru dan kurang teliti. Di tengah masih banyaknya persoalan negara dan daerah, sementara nasib rakyat belum mengalami perbaikan signifikan, rakyat memang lebih berpikir pragmatis. Mereka mencoba memilih pemimpin yang diyakininya mampu mengubah nasibnya ke arah yang lebih baik. Dalam kondisi demikian, kampanye pemilu/pilkada yang bernuansa ideologis tidak begitu diperlukan. (*) Penulis buku-buku sejarah di Banjarmasin

Tulisan Opini bisa dikirim ke email: redaksi@banjarmasinpost.co.id (Maksimal 5.000 karakter tanpa spasi). Sertakan nama, alamat lengkap, nomor telepon, nomor rekening dan fotokopi (KTP). Opini yang terbit akan kami berikan imbalan ke nomor rekening penulis. Terima kasih. Artikel yang masuk batas waktu pemuatannya maksimal dua minggu.

Transportasi Pulang Kampung Murah nan Nyaman

Utamakan Keselamatan dan Kenyamanan Homepage: http//www.banjarmasinpost.co.id Penerbit SIUPP

: PT Grafika Wangi Kalimantan : SK Menpen No. 004/SK MENPEN/ SIUPP/A.7/1985 tgl 24 Oktober 1985 Sejak Tanggal : 2 Agustus 1971 Direktur Utama : Herman Darmo

e-mail : redaksi@banjarmasinpost.co.id Pemimpin Umum : Pangeran H Rusdi Effendi AR Pendiri : Drs H J Djok Mentaya (1939-1994) Drs H Yustan Aziddin (1933-1995) Pangeran H Rusdi Effendi AR

Banjarmasin Post Group Pemimpin Redaksi: Yusran Pare Wakil: Harry Prihanto Redaktur Pelaksana: Dwie Sudarlan Pjs Manajer Peliputan: Elpianur Achmad Pjs Asisten Manajer Peliputan : R Hari Tri Widodo Manajer Produksi: M Taufik Redaktur Eksekutif: Muhammad Yamani (Banjarmasin Post), Mulyadi Danu Saputra (Metro Banjar), Irhamsyah Safari (Serambi UmmaH), Ribut Rahardjo (Online/Radio). Manajer Redaksi: Irhamsyah Safari Wakil: Agus Rumpoko Redaktur: Sigit Rahmawan A, Umi Sriwahyuni, Syamsuddin, Alpri Widianjono, Kamardi, Mahmud M Siregar, Aya Sugianto, Sofyar Redhani, M Royan Naimi, Siti Hamsiah. Asisten:Eka Dinayanti, Murhan, Anjar Wulandari, Aries Mardiono, Ernawati,Idda Royani. Staf Redaksi: Sudarti (Reporter Senior), Hanani, Burhani Yunus, AM Ramadhani, Halmien Thaha, Syaiful Anwar, Mohammad Choiruman, Anita Kusuma Wardhani, Syaiful Akhyar, Khairil Rahim, Ibrahim Ashabirin, Eko Sutriyanto, Sutransyah, Faturahman, Irfani Rahman, Jumadi, Edi Nugroho, Budi Arif RH, Doni Usman, Mustain Khaitami (Kabiro), Hari Widodo, Ratino, M Risman Noor, Salmah, George Edward Pah, Rahmawandi, M Hasby Suhaily, Helriansyah, Didik Triomarsidi (Kabiro), Nia Kurniawan, Mukhtar Wahid, Rendy Nicko Ramandha, Restudia, Yayu Fathilal, Aprianto, Frans, Nurholis Huda. Fotografer: Donny Sophandi, Kaspul Anwar. Tim Pracetak: Syuhada Rakhmani (Kepala), M Syahyuni, Aminuddin Yunus, Syaiful Bahri, Edi Susanto, Sri Martini, Kiki Amelia, Rahmadi, Ibnu Zulkarnain, Achmad Sabirin, Rahmadhani, Ahmad Radian, M Trino Rizkiannoor. Design grafis/illustrator: Ivanda Ramadhani. Biro Jakarta: Febby Mahendra Putra (Kepala), Domuara Ambarita, Murdjani, Antonius Bramantoro, Budi Prasetyo, Fikar W Eda, FX Ismanto, Johson Simandjuntak, Rahmat Hidayat, Yulis Sulistyawan, Choirul Arifin, Hendra Gunawan, Sugiyarto

Pemimpin Perusahaan: A Wahyu Indriyanta General Manager Percetakan: A Wahyu Indriyanta Pj Asisten General Manager Percetakan : Suharyanto Wakil PP (Bidang Humas dan Promosi): M Fachmy Noor Pj Asisten Manajer Iklan : Helda Annatasia (08115803012) Manajer Sirkulasi : Fahmi Setiadi - Riadi (08115003012) Alamat: Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No 16 Banjarmasin 70111, Telepon (0511) 3354370 Fax 4366123, 3353266, 3366303 Bagian Redaksi: Ext 402-405 ; Bagian Iklan: Ext. 113, 114 Bagian Sirkulasi: Ext. 116, 117 Pengaduan Langganan: 08115000117 (0511) 3352050 Biro Jakarta-Persda: Redaksi, Jl Pal Merah Selatan No 12 Lantai II Jakarta 10270, Telp (021) 5483008, 5480888 dan 5490666 Fax (021) 5495358 Perwakilan Surabaya: Jl Raya Jemursari 64 Surabaya, Telp (031) 8471096/ 843428, Fax (031) 8471163 Biro Banjarbaru: Jl Wijaya Kusuma No 11 Telp (0511) 4780356, Biro Palangka Raya: Jl Tjilik Riwut Km.2,5 Palangka Raya, Telp (0536) 3242361 Tarif Iklan: zDisplay Umum: Hitam Putih (BW): Rp 22.500/mmk Berwarna (FC): Rp 45.000/mmk zDisplay Halaman 1: Hitam Putih (BW): Rp 45.000/mmk Berwarna (FC): Rp 90.000/mmk zIklan kolom/Duka Cita: Hitam Putih (BW): Rp 15.000/mmk Berwarna (FC): Rp 30.000/mmk zIklan Kuping: (FC) Rp 100.000/mmk zIklan Baris: (FC) Rp 20.000/baris: (BW): Rp 15.000/baris zIklan Satu Kolom : (FC)Rp 30.000/mmk, (BW): Rp15.000/mmk Catatan: Harga belum termasuk PPN 10%. Harga Langganan: Rp 75.000/bln Percetakan: PT Grafika Wangi Kalimantan Alamat: Lianganggang Km 21 Landasan Ulin Selatan Banjarbaru Telepon (0511) 4705900-01 Isi di luar tanggung jawab percetakan Setiap artikel/tulisan/foto atau materi apa pun yang telah dimuat di harian “Banjarmasin Post” dapat diumumkan/dialihwujudkan kembali dalam format digital maupun nondigital yang tetap merupakan bagian dari harian “Banjarmasin Post”. WARTAWAN “BANJARMASIN POST GROUP” SELALU DIBEKALI TANDA PENGENAL DAN TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA/MEMINTA APA PUN DARI NARASUMBER.

SEBENTAR lagi Idul Fitri tiba. Bagi sebagian masyarakat ini saat tepat berkumpul bersama sanak-saudara di kampung halaman. Inilah yang menyebabkan arus mudik lebaran terjadi. Kegiatan mudik seringkali membawa pengalaman tersendiri. Tentu saja, kita tidak akan bicara tentang suka-duka mudik, tetapi tentang bagaimana Anda memilih transportasi tepat untuk mudik dilihat dari segi keuangan. Mudik lebaran dengan apa? Itulah yang terlintas di otak kita saat Ramadan tiba. Sebaiknya harus pintar memilih jasa transportasi, berikut tips yang bisa diberikan bagi yang ingin memilih jasa transportasi untuk mudik lebaran.

Pilihlah jasa transportasi yang aman, murah dan nyaman. Carilah jasa transportasi yang bisa memuat cukup banyak anggota keluarga seperti rental mobil murah. Saat memilih jasa transportasi umum sebaiknya harus memesan lebih awal sebelum. Contoh pesan tiket kereta api, tiket pesawat, sewa mobil dan sebagainya. Memilih jasa transportasi seperti rental mobil dan rental bus harus dipesan sebelum hari H agar harga atau tarif rental tidak mahal dan Anda mendapatkan mobil sewaan yang sesuai dengan keinginan. Carilah jasa transportasi yang memberikan fasilitas asuransi kecelakaan seperti kereta api, pesawat dan kapal laut. Jika Anda menggunakan

mobil sewaan sebaiknya memilih mobil besar yang bisa memuat anggota keluarga. Mintalah referensi dari anggota keluarga atau teman yang sudah mengenal betul transportasi apa yang aman dan nyaman. Agar pulang kampung dengan lancar. Anda perlu melakukan persiapan cermat sehingga aman dan nyaman di perjalanan hingga tiba di rumah, di antaranya mempersiapkan dana yang dibutuhkan, tujuan pulang kampung Anda, transportasi yang akan digunakan, memperhatikan barang-barang yang dibawa. Jika menggunakan kendaraan pribadi, periksa dulu kendaraan, dan kelengkapannya, mempersiapkan fisik, perbekalan dan menentukan

Abdul Hadi Sutrisno Guru MAN 1 Banjarmasin

dimana waktu istirahat, manfaatkan kecanggihan teknologi yang ada seperti GPS untuk memantau jalan dan membawa uang cash secukupnya. Selamat mudik lebaran dan berhati-hati! (*)

Di Banua Cukup Sepeda Motor ALAT transportasi mudik lebaran untuk wilayah Banua kita, tidak terlalu padat seperti di Pulau Jawa. Selain jarak pulang kampung tidak terlalu jauh jumlah pemudiknya juga tidak membeludak seperti di Pulau Jawa. Itulah sebabnya, banyak pemudik di Banua yang memilih menggunakan kendaraan roda dua atau sepeda motor. Banyak manfaat menggunakan sepeda motor ketika pulang kampung. Salah satunya adalah memudahkan bila hendak bersilaturahmi.

Di kampung biasanya jarak rumah keluarga lumayan jauh. Walau antardesa maka jaraknya bisa belasan kilometer. Jadi kiatnya membawa kendaraan sangat membantu. Selain itu, angkutan lokal di kampungkampung lebih sulit dari di kota. Maka mudik lebaran menggunakan kendaraan roda dua, maish menjadi favorit. Biasanya, untuk keluarga yang agak besar namun tidak memiliki mobil, maka istri dan anak-anak mudik menggunakan taksi. Para suami dan anak lelaki meng-

gunakan sepeda motor. Tentu ini murah meriah. Tapi satu hal jangan sampai lupa sebelum berangkat. Servis dulu kendaraan, bawa juga perlengkapan bengkel untuk berjaga kalau ada masalah mesin di jalanan. Dan, yang terpenting gunakan helm standar serta berdoa sebelum berangkat. Insya Allah selamat. (*) M Ihsan Kompleks Sungai Andai Banjarmasin

Tema minggu depan: Silaturahim dan Saling Memaafkan via Internet SAMPAIKAN komentar Anda maksimal 500 karakter secara santun ke redaksi@banjarmasinpost.co.id, disertai salinan kartu identitas diri dan foto (mohon jangan pasfoto). Komentar terbaik untuk tiap minggunya, mendapat kenang-kenangan manis dari BPost. Jadi, saatnya Anda bicara demi kebaikan bersama.


OPINIE  

OPINI BANJARMASIN POST

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you