Skip to main content

SKRIPSI KONSEP PERLINDUNGAN ANAK DALAM PANDANGAN ISLAM DAN UNDANG UNDANG "RIKI ARI DARMAWAN"

Page 1

i


Judul Buku: KONSEP PERLINDUNGAN ANAK DALAM PANDANGAN ISLAM DAN UNDANG-UNDANG NEGARA REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERLINDUNGAN ANAK Penulis

: Riki Ari Darmawan

Editor

: Dr. Bahruddin, M.Si : Ecep Ishak Fahriduddin, MA

Edisi

: Penelitian

Penerbit PSP Nusantara Tangerang Jl. Perintis Kemerdekaan II Cikokol Tangerang Banten 15118 Telp. (021) 22252432 Copyright@2020 Page Layout: 15 x 21 (A5) Jumlah Halaman 105 lembar

Dilarang mencetak ulang atau memphoto copy buku ini tanpa sepengetahuan ijin penerbit. Penerbit tidak bertanggungjawab atas originalitas dan isi buku ini. Isi buku sepenuhnya hak penulis. ISBN: Dicetak oleh PSP Nusantara Tangerang Bekerjasama dengan STISNU Nusantara Tangerang Pada tahun 2019

ii


iii


iv


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT. atas segala kuasa dan karunia yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “KONSEP PERLINDUNGAN ANAK DALAM PANDANGAN ISLAM DAN UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERLINDUNGAN ANAK”. Skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Program Studi S1 Hukum Keluarga Islam Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama STISNU NUSANTARA TANGERANG. Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis menyadari bahwa banyak mendapat bantuan berupa bimbingan, arahan dan saran dari berbagai pihak. Penulisan skripsi ini merupakan sebuah tugas untuk memperoleh gelar strata 1 (S1) Program studi Hukum Keluarga Islam. Adapun tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk menambah wawasan dan pengetahuan pada mata kuliah yang dipelajari, agar kami semua menjadi mahasiswa yang berguna bagi Agama, Bangsa dan Negara. Dengan segala daya dan upaya serta bantuan, bimbingan maupun pengarahan dan hasil diskusi dari berbagai pihak dalam proses penulisan skripsi ini, maka dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tiada batas kepada : 1. Bapak KH. A. Baijuri Khotib, MA, selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang. 2. Bapak Dr. H. Muhamad Qustulani, MA, Hum (Waka Akademik), Bapak H. Fahmi Irfani, MA. Hum (Waka Bid. Keuangan dan Kemahasiswaan), Bapak Nurullah, MM (Waka Kerjasama dan Kelembagaan). 3. Bapak Ecep Ishak Fariduddin, MA selaku Ketua Program Studi Hukum Keluarga. v


4. Bapak Dr Bahruddin, M.Si. Selaku dosen Pembimbing I, dan Bapak Ecep Ishak Fariduddin, MA. Selaku dosen Pembimbing II. Syukron Katsiron penulis haturkan atas waktu yang telah beliau limpahkan untuk bimbingan, arahan, serta motivasi dalam menyelesaikan penulis skripsi ini. 5. Segenap Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang, yang telah menyampaikan pengajaran, mendidik, membimbing, serta mengamalkan ilmunya dengan ikhlas. Semoga Allah SWT memberikan pahala-Nya yang spadan kepada Beliau semua. 6. Staf serta karyawan Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang, Penulis ucapkan terima kasih atas partisipasinya dalam penyelesaian skripsi ini. Semoga apa yang telah saya peroleh selama kuliah di Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang ini, bias bermanfaat bagi semua pembaca, khususnya bagi saya pribadi.

Tangerang

Juli 2020 Penyusun

Riki Ari Darmawan

vi


Motto Seberat dan sebesar masalah yang kau hadapi saat ini, percayalah, bahwa Allah sedang menaikkan derajatmu dan tidak pernah melebihi batas kemampuanmu ~QS Al Baqarah 286

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, kecuali mereka mengubah keadaan mereka sendiri ~QS Ar Ra’d 11

Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap QS. Al-Insyirah,6-8)

vii


PROGRAM STUDI S1 HUKUM KELUARGA ISLAM STISNU NUSANTARA TANGERANG SKRIPSI, TAHUN 2020 RIKI ARI DARMAWAN 14.15.01.16 KONSEP PERLINDUNGAN ANAK DALAM PANDANGAN ISLAM DAN UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERLINDUNGAN ANAK ABSTRAK Arus globalisasi dibidang komunikasi dan informasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta perubahan gaya dan cara hidup sebagai orang tua yang telah membawa perubahan sosial yang mendasar dalam kehidupan masyarakat yang sangat berpengaruh terhadap nilai dan perilaku anak. Penyimpangan tingkah laku atau perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh anak, antara lain, disebabkan oleh faktor diluar diri anak tersebut. Identifikasi Masalah : identifikasi masalah pada penelitian ini adalah Hak perlindungan anak dapat dilaksanakan dengan menunaikan hak anak dan kewajiban anak, Pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab memberikan dukungan fasilitas dalam penyelenggara perlindungan anak. Batasan Masalah : Penelitian ini hanya dibatasi oleh konsep perlindungan anak dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2012 dan Pandangan Islam secara Al-Qur’an dan Hadist. Rumusan Masalah : rumusan dalam penelitian ini adalah konsep untuk meningkatkan kualitas anak dalam hal positif bagi masyarakat dan keluarga terutama dalam studi pustaka dalam konsep perlindungan anak dalam pandangan Islam dan Undang-Undang Dasar, sebagai penanaman psikologis anak terhadap masyarakat Kota Tangerang. Kata Kunci : Perlindungan anak, Undang - Undang, Al Qur’an dan Hadist viii


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................... PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ....................................... LEMBAR PERSETUJUAN .......................................................... LEMBAR PENGESAHAN........................................................... MOTTO.......................................................................................... PEDOMAN TRANSLITERASI ................................................... KATA PENGANTAR ................................................................... ABSTRAK..................................................................................... DAFTAR ISI .................................................................................

i ii iii iv v vi x viii xi

BAB I PENDAHULUAN ............................................................ A. Latar Belakang ............................................................. B. Identifikasi Masalah ..................................................... C. Batasan Masalah........................................................... D. Rumusan Masalah ........................................................ E. Manfaat Penelitian........................................................ F. Kajian Pustaka terdahulu yang relevan ........................ G. Sistematik Penulisan .................................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................. A. Tinjauan tentang anak secara hukum ........................... 1. Pengertian anak ...................................................... 2. Hak-hak anak ......................................................... 3. Perlindungan hukum terhadap anak ....................... B. Tinjauan mengenai tindak pidana anak........................ 1. Pengertian tindak pidana anak ............................... 2. Bentuk tindak pidana anak ..................................... C. Macam-macam kenakalan dan sebab kenakalan anak . 1. Macam-macam kenakalan anak ............................. 2. Sebab-sebab kenakalan anak.................................. D. Definisi, hak-hak, dan perlindungan anak…. ................ 1. Devinisi anak .......................................................... a. Perlindungan hukum........................................ b. Perlindungan bidang agama ............................

1 1 4 5 5 6 6 8 10 10 10 11 15 22 22 23 25 25 28 35 35 38 40

ix


c. Perlindungan bidang kesehatan ...................... d. Perlindungan bidang pendidikan .................... e. Perlindungan bidang sosial .............................. f. Perlindungan bidang khusus............................ E. Pengertian tindak pidana dan unsur tindak pidan ..... 1. Pengertian tindak pidana .................................. 2. Unsur - unsur tindak pidana ............................. F. Tinjauan tindak pidana anak .................................... 1. Devinisi tindak pidana anak .............................. 2. Bentuk tindak pidana anak ................................ G. Tinjauan mengenai penyidikan dalam tindak pidana........................................................................ 1. Devinisi penyidikan .......................................... 2. Proses penyidikan terhadap anak ....................... H. Hambatan dalam mewujudkan perlindungan hukum terhadap anak ............................................... a. Pengetahuan anak mengenai masalah hukum.... b. Anak tidak didampingi oleh penasihat............... c. Kurangnya perhatian organisasi sosial............... I. Pendapat hakim mengenai pelaksanaan perlindungan hukum ................................................ J. Pendapat Anak tentang perlindungan hukum ........... BAB III METODE PENELITIAN ............................................ A. Upaya Perlindungan Hukum terhadap Anak sebagai Pelaku Tindak Pidana Kekerasan Anak di tingkat Penyidikan. ……………………………. … B. Kendala Penyidik dalam memberikan Perlindungan Hukum terhadap Anak sebagai Pelaku Tindak Pidana Kekerasan Anak di Kepolisan Resort Tangerang………………………

41 42 43 44 48 48 50 54 54 57

BAB IV PENUTUP ..................................................................... A. Kesimpulan .................................................................. B. Saran.............................................................................

57 57 58

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................

59

x

59 59 62 66 67 69 71 76 81 84

86

100


BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Anak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan hidup manusia dan kelangsungan sebuah bangsa dan Negara. Dalam konstitusi Indonesia, anak memiliki peran strategis yang secara tegas dinyatakan bahwa Negara menjamin hak setiap anak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Oleh karena itu, kepentingan terbaik bagi anak patut dihayati sebagai kepentingan terbaik bagi kelangsungan hidup umat manusia. Konsekuensi dari ketentuan Pasal 28 B Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945 perlu ditindak lanjuti dengan membuat kebijakan pemerintah yang bertujuan melindungi anak.1 Anak perlu mendapat perlindungan dari dampak negatif perkembangan pembangunan yang cepat, arus globalisasi dibidang komunikasi dan informasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta perubahan gaya dan cara hidup sebagai orang tua yang telah membawa perubahan sosial yang mendasar dalam kehidupan masyarakat yang sangat berpengaruh terhadap nilai dan perilaku anak. Penyimpangan tingkah laku atau perbuatan melanggar hukum yang dilakukan

1 Undang-undang system

peradilan pidana anak 2012 (UU RI No. 11 Tahun 2012), sinar grafika, cetaka kedua maret 2014. Hal. v

1


2

oleh anak, antara lain, disebabkan oleh faktor diluar diri anak tersebut. 2 Bantuan hukum dalam sistem peradilan anak sangat diperlukan untuk mencegah timbulnya trauma pada anak yang telah melakukan tindak pidana, selain mencegah timbulnya trauma pada anak, bantuan hukum juga diperlukan agar anak yang sedang dipidanakan tidak menjadi objek dari hukum tetapi menjadi subjek hukum serta memberi pengarahan kepada orang tua/wali anak yang tidak mengetahui hukum agar mengetahui mengenai hukum yang akan diberlakukan terhadap perbuatan anak. 3

2 Undang-undang system

peradilan pidana anak 2012 (UU RI No. 11 Tahun 2012), sinar grafika, cetaka kedua maret 2014. Hal. v-vi 3 Undang-undang system peradilan pidana anak 2012 (UU RI No. 11 Tahun 2012), sinar grafika, cetaka kedua maret 2014. Hal. vi


3

Kesalahan dalam membentuk kepribadian anak merupakan kejahatan paling nista, sebab hal itu dapat mengakibatkan terjadinya kehancuran perjalanan hidup dan masa depan anak “Mutiara hati” yang tercemar kepribadiannya ini dapat menjadi anak bangsa yang perilaku-perilakunya merugika dirinya, orang tua, masyarakat, dan Negara. Anak-anak yang tercemar kepribdiannya itu akhirnya menjadi beban yang menakutkan masyarakat, karena perilakuperilakunya yang mendatangkan kekacauan, kerusakkan dan kerugian besar baik secara material maupun non-material. Ketenangan dan kedamaian masyarakat terganggu akibat berbagai bentuk penyimpangan dan pelanggaran norma-norma yang dilakukan anak-anak.4 Perjalanan hidup anak-anak (remaja bersatus pelajar) itu tidak bisa dilepaskan dengan bebas tanpa pengawasan, control dan bimbingan. Mereka wajib di didik agar perilakunya tegak lurus mengarah pada jalan kebenaran.5 Mereka, anak-anak itu tidak bisa dibiarkan memilih dan menempuh jalan hidupnya sendirian. Mereka tidak boleh dilepaskan seperti anak panah yang lepas dari busurnya yang mencari sasaran (korban) dan mengarungi rimba kehidupan yang ganas dan buas. Harus ada pihak lain yang cukup berpengaruh atau dapat memberikan pengarahan, bimbingan 4 Pendidikan HAM,

Modal Fundamental Bagi Anak Didik Indonesia, terbitan CV. Fauzan Inti Kreasi Jakarta. Karangan, Drs. Moh. Irfan, SH., M.Pd, Drs. Abdul Wahid, SH., MA, Drs. Moh. Khoirul Huda , cetakan pertama, Februari 2014. Hal. iii 5 Pendidikan HAM, Modal Fundamental Bagi Anak Didik Indonesia, terbitan CV. Fauzan Inti Kreasi Jakarta. Karangan, Drs. Moh. Irfan, SH., M.Pd, Drs. Abdul Wahid, SH., MA, Drs. Moh. Khoirul Huda , cetakan pertama, Februari 2014. Hal. v


4

atau didikan yang mengajak dan mempengaruhi kepribadiannya agar mau memilih, memuja dan menegakkan ajaran kebenaran. 6 Anak-anak didik merupakan sumber daya manusia yang diharapkan dapat menjadi penerus kehidupan bangsa. Kelanjutan hidup bangsa dan kejayaan bumi pertiwi ini tidak akan terlepas dari peran-peran remaja-pelajar di masa depan. Jika ingin melihat bagaimana corak kehidupan bangsa di kemudian hari, maka kepribadian remaja yang hidup sekarang, yang kelak akan memegang kunci perjalanan sejarah bangsa ini, yang wajib diperhatikan secara serius. 7

B.

IDENTIFIKASI MASALAH

Adapun identifikasi masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Hak perlindungan anak dapat dilaksanakan dengan menunaikan hak anak dan kewajiban anak. 2. Pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab memberikan dukungan fasilitas dalam penyelenggaraan perlindungan anak 3. Pandangan Islam tentang anak adalah upaya sadar yang dilakukan pendidik kepada peserta didik yang bertujuan membentuk anak menjadi insan kamil 6 Pendidikan HAM,

Modal Fundamental Bagi Anak Didik Indonesia, terbitan CV. Fauzan Inti Kreasi Jakarta. Karangan, Drs. Moh. Irfan, SH., M.Pd, Drs. Abdul Wahid, SH., MA, Drs. Moh. Khoirul Huda , cetakan pertama, Februari 2014. Hal. v 7 Pendidikan HAM, Modal Fundamental Bagi Anak Didik Indonesia, terbitan CV. Fauzan Inti Kreasi Jakarta. Karangan, Drs. Moh. Irfan, SH., M.Pd, Drs. Abdul Wahid, SH., MA, Drs. Moh. Khoirul Huda, cetakan pertama, Februari 2014. Hal. v- vi


5

yang dilakukan dalam lingkup keluarga, sekolah dan masyarakat 4. Hak perlindungan anak dalam pendidikan Islam dapat dilaksanakan dengan dua tahap yaitu cara pandang terhadap anak dan cara memperlakukan anak. C.

BATASAN MASALAH Penelitian ini hanya dibatasi oleh konsep perlindungan anak dalam : - Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2012 - Pandangan Islam secara Al-Qur’an dan Hadist Oleh sebab itu dalam hal ini penulis membatasi masalah-masalah agar pembahasan menjadi lebih jelas, terarah dan tidak meluas. Penulis membatasi tulisan ini dengan membahas isi dari Undang-Undang Republik Indonesia No.11 Tahun 2012 tentang perlindungan anak dan konsep perlindungan anak menurut pandangan islam.

D.

RUMUSAN MASALAH Berdasarkan judul di atas, rumusan dalam penelitian ini adalah konsep untuk meningkatkan kualitas anak dalam hal positif bagi masyarakat dan keluarga terutama dalam studi pustaka dalam konsep perlindungan anak dalam pandangan Islam dan Undang-Undang Dasar, sebagai penanaman psikologis anak terhadap masyarakat Kota Tangerang. Dan rumusan studi kasus tersebut sebagai berikut: 1. Bagaimanakah upaya perlindungan hukum terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana kekerasan anak di tingkat penyidikan ?


6

2. Bagaimanakah kendala penyidik dalam memberikan perlindungan hukum terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana kekerasan anak di Kota Tangerang ? E.

F.

MANFAAT PENELITIAN a. Secara teoritis Memberikan keilmuan tentang perlindungan anak serta mampu mengaplikasikan perlindungan anak dalam kehidupan sehari-hari. b. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan suatu gambaran untuk kehidupan sehari-hari baik dalam aspek Undang-Undang maupun dalam segi pandangan Islam.

KAJIAN PUSTAKA TERDAHULU YANG RELEVAN Untuk melakukan penelitian dan analisa mendasar terhadap perlindungan anak dalam pandangan Islam dan Undang-Undang Dasar dalam mensosialisasikan program mengenai konsep perlindungan terhadap anak, maka peneliti menelusuri beberapa hasil penelitian sebelumnya yang relevan untuk dijadikan sebagai bahan perbandingan, di antaranya: 1. Hilman Reza pada tahun 2014 yang berjudul: Peran Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam mengatasi kekerasan seksual terhadap anak. Jenis peneltian yang digunakan yaitu fenomenologi dan menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah dengan mengumpulkan data melalui beberapa teknik. Pengolahan data dilakukan dengan


7

mengadakan studi teori dengan teori kenyataan yang ada di tempat penelitian.8 2. Anggita Putri Afrilia pada tahun 2012 yang berjudul: implementasi program kekerasan terhadap anak di pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak (P2TP2A) DKI Jakarta. Anggita menggunakan jenis penelitian fenomenologi positivistik dan menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, perekaman, dan kaji dokumen. Sedangkan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu model Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.9 3. Haidir Ali pada tahun 2014 yang berjudul: Peran Lembaga Perlindungan Anak bagi anak jalanan di Kota Makassar. Haidir menggunakan jenis penelitian fenomenologi dan menggunakan pendekatan kuantitatif. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu penelitian pustaka dan penelitian lapangan. Sedangkan analisis data yang digunakan yaitu data primer maupun sekunder akan dianalisis secara kualitatif yaitu urutan menurut mutu, yang berlaku dengan kenyataan sebagai gejala data primer 8 http://repositori.uinalauddin.ac.id/5305/1/FITRIA%20NURUL%20FATNISAH.pdf 9 Anggita Putri Afrilia, “Implementasi Program kekerasan terhadap anak di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A) DKI Jakarta”. Jurnal (Jakarta: Fak. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi IlmuAdministrasi Negara Konsentrasi sumber daya manusia depok, 2012)


8

yang dihubungkan dengan teori-teori dalam data sekunder.10 Berdasarkan keterangan diatas maka peneliti ingin mengajukan perbandingan dengan menggunakan judul Konsep perlindungan anak menurut Undang-Undang No.11 Tahun 2012 dan menurut pandangan islam dengan menggunakan sistem psikologis anak terhadap masyarakat dan Negara. G.

SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan yang digunakan terdiri dari 5 (lima) bab yang salling berkaitan antara satu bab dengan bab lainnya, dan tiap-tiap bab terdiri dari beberapa sub bagian yang disusun secara sistematik, sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN akan memaparkan mengenai latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan masalah, manfaat penelitian, kajian pustaka terdahulu yang relevan, serta sistem penulisan. Disini penulis akan mengangkat mengenai permasalahan tentang penyebab yang sangat mempengaruhi anak tersebut terutama dalam hal psikologi anak. BAB II TINJAUAN PUSTAKA yang berisi tentang bagaimana memahami sifat dan kemau an anak untuk masyarakat dan orang tua, dan mencegah anak agar tidak terjerumus kedalam hal kriminalisasi, serta mendidik anak agar masa depannya tidak menyimang dengan ajaran agama, bahwa seorang anak terlahir dalam keadaan suci (membawa moral keagamaan). BAB III METODE PENELITIAN yang berisi tujuan penelitian, waktu dan tempat penelitian, jenis penelitian, dan 10

file:///D:/SKRIPSI/KAJIAN%20PUSTAKA/FITRIA%20NURUL%20FATNIS AH.pdf


9

metode pengambilan data. Penelitian yang dilaksanakan adalah mengkaji dalam studi pustaka yang terkait tentang konsep perlindungan anak dalam pandangan Islam maupun dalam Undang-Undang Dasar untuk keterkaitan dengan perlindungan anak. Bab ini juga akan memaparkan mengenai konsep pendidikan yang diterapkan untuk anak sejak dini agar anak tersebut tidak salah untuk mengambil tidakan dalam perilaku sehari-hari. BAB IV PENUTUP yang berisi tentang kesimpulan dan saran, dalam bab ini penulis menyimpulkan dari hasil-hasil pengkajian seluruh bab kemudian ditarik suatu kesimpulan.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Anak Secara Umum 1. Pengertian Anak Anak adalah generasi penerus bangsa dan penerus pembangunan, yaitu generasi yang dipersiapkan sebagai subjek pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan dan pemegang kendali masa depan suatu Negara, tak terkecuali Indonesia. Dalam Undang-Undang No.3 Tahun 1997 tentang pengadilan Anak, Terdapat definisi Anak, Anak Nakal, Anak Didik Pemasyarakatan. Yang di maksud dengan Anak dalam UndangUndang ini yaitu orang yang dalam perkara Anak Nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin. Anak Nakal adalah Anak yang melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi Anak, baik menurut peraturan perundangundangan maupun menurut peraturan Hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.11 Sedangkan Dalam Undang-undang No.11 Tahun 2012 Tentang sistem peradilan pidana Anak, pengertian anak menurut Undang-undang ini yang disebut Anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana. Dalam Undangundang ini juga terdapat Lembaga-lembaga antara lain :

11

Undang-undang No 11 Tahun 2012 tentang sistem pradilan pidana Anak Hal 6

10


11

Lembaga pembinaan khusus Anak (LPKA) yaitu lembaga atau tempat Anak menjalani masa pidananya, Lembaga penempatan Anak sementara (LAPAS) yaitu Tempat Sementara bagi Anak Selama proses peradilan berlangsung dan Lembaga penyelengaraan kesejahteraan Sosial (LPKS) yaitu lembaga atau tempat pelayanan sosial yang melaksanakan penyelengaraan kesejahteraan sosial yang melaksanakan penyelengaraan kesejahteraan sosial bagi Anak.12 2. Hak - hak anak Berikut ini merupakan hak-hak anak menurut beberapa peraturan perundang-undangan yang berlaku Di Indonesia antara lain: a.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Kesejahteraan Anak dalam Bab II Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Kesejahteraan Anak, mengatur tentang hak-hak anak atas kesejahteraan, yaitu: 1. Hak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan. 2. Hak atas pelayanan. 3. Hak atas pemeliharaan dan perlindungan. 4. Hak atas perlindungan lingkungan hidup. 5. Hak mendapatkan pertolongan pertama. 6. Hak untuk memperoleh asuhan. 7. Hak untuk memperoleh bantuan. 8. Hak diberi pelayanan dan asuhan. 9. Hak untuk memeperoleh pelayanan khusus.

12

Undang-undang No 11 Tahun 2012 tentang sistem pradilan pidana Anak Hal 7


12

10. Hak untuk mendapatkan bantuan dan pelayanan.13 b. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Pelayanan, Perawatan, Pendidikan, Pembinaan Anak, dan Pembimbingan Klien Anak Bab IV yaitu: 1. Anak yang ditahan ditempatkan di LAPAS 2. LAPAS wajib menyelenggarakan pendidikan, dan pelatihan keterampilan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 3. LAPAS wajib melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program sebagaimana dimaksud pada nomor (2). 4. Pembimbing kemasyarakatan melakukan penelitian kemasyarakatan untuk menentukan penyelenggaraan program pendidikan dan pembinaan.14 5. Anak yang berstatus Klien anak, menjadi tanggung jawab LAPAS15 6. Anak yang belum selesai menjalankan pidana di LAPAS dan telah mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Pemuda. 7. Dalam hal anak telah mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun, tetapi belum selesai menjalani pidana, anak dipindahkan ke lembaga

13

Undang - Undang sistem peradian pidana anak 2012 (UU RI NO. 11 TAHUN 2012) Hal. 109 tentang hak anak 14 Undang - Undang sistem peradian pidana anak 2012 (UU RI NO. 11 TAHUN 2012) Hal. 50 tentang pelayanan anak 15 Undang - Undang sistem peradian pidana anak 2012 (UU RI NO. 11 TAHUN 2012) Hal. 51 tentang pelayanan anak


13

pemasyarakatan dewasa dengan memperhatikan kesinambungan pembinaan anak.16 c. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Perlindungan Anak dalam Undang-Undang Perlindungan Anak ini, hak-hak anak diatur dalam Pasal 4 - Pasal 18, yang meliputi: 1. Hak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. 2. Hak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan. 3. Hak untuk beribadah menurut agamanya. 4. Hak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial. 5. Hak memperoleh pendidikan dan pengajaran. 6. Bagi anak yang menyandang cacat juga hak memperoleh pendidikan luar biasa, sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan juga hak mendapatkan pendidikan khusus.17 7. Hak menyatakan dan didengar pendapatnya. 8. Hak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang. 9. Bagi anak penyandang cacat berhak memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial. 10. Bagi anak yang berada dalam pengasuhan orang tua/ wali, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan: 16

Undang - Undang sistem peradian pidana anak 2012 (UU RI NO. 11 TAHUN 2012) Hal. 51 tentang pelayanan anak pasal 86 17 Undang - Undang sistem peradian pidana anak 2012 (UU RI NO. 11 TAHUN 2012) Hal. 51 tentang perlindungan anak dalam pasal 4 - 18 Hal, 36


14

a. diskriminasi; b. eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual; c. penelantaran; d. kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan; e. ketidakadilan; f. perlakuan salah lainnya. 11. Hak untuk memperoleh perlindungan dari : a. penyalahgunaan dalam kegiatan politik; b. pelibatan dalam sengketa bersenjata; c. pelibatan dalam kerusuhan sosial; d. pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan; e. pelibatan dalam peperangan. 12. Hak untuk memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum. 13. Setiap anak yang dirampas kebebasannya hak untuk : a. mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang dewasa; b. memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku; c. membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang tertutup untuk umum. 14. Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual atau yang berhadapan dengan hukum berhak dirahasiakan.


15

15. Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku tindak pidana berhak mendapatkan bantuan hukum dan bantuan lainnya.18 3. Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dalam perkembangannya perlindungan terhadap anak di bidang hukum juga diatur dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Perlindungan hukum terhadap anak di Indonesia, telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan, namun secara khusus diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Menurut pasal 1 nomor 2 , UndangUndang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak disebutkan bahwa. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak, meliputi: a. Perlindungan di bidang Agama 1) Perlindungan untuk beribadah menurut agamanya. 2) perlindungan anak dalam memeluk agamanya dijamin oleh negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, orang tua, wali, dan lembaga sosial. Perlindungan anak dalam memeluk agamanya meliputi pembinaan,

18

Undang - Undang sistem peradian pidana anak 2012 (UU RI NO. 11 TAHUN 2012) Hal. 51 tentang pelayanan dan pengawasan anak, hal. 62


16

pembimbingan, dan pengamalan ajaran agama bagi anak.19 b. Perlindungan di bidang Kesehatan 1) Pemerintah wajib menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang komprehensif bagi anak. 2) Orang tua dan keluarga bertanggung jawab menjaga kesehatan anak jika tidak mampu melaksanakan tanggung jawab, maka pemerintah wajib memenuhinya. 3) Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib mengusahakan agar anak yang lahir terhindar dari penyakit yang mengancam kelangsungan hidup dan/atau menimbulkan kecacatan 4) Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib melindungi anak dari upaya transplantasi organ tubuhnya untuk pihak lain.20 5) Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib melindungi anak dari perbuatan : a. pengambilan organ tubuh anak atau jaringan tubuh anak tanpa memperhatikan kesehatan anak; b. jual beli organ dan/atau jaringan tubuh anak; c. penelitian kesehatan yang menggunakan anak sebagai objek penelitian tanpa seizin orang tua

19

Undang - Undang sistem peradian pidana anak 2012 (UU RI NO. 11 TAHUN 2012) Hal. 51 tentang perlindungan di bidang keagamaan hal. 103 20 Undang - Undang sistem peradian pidana anak 2012 (UU RI NO. 11 TAHUN 2012) Hal. 51 tentang perlindungan di bidang kesehatan hal. 108


17

dan tidak mengutamakan kepentingan yang terbaik bagi anak.21 c. Perlindungan di bidang Pendidikan 1) Pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan dasar minimal 9 (sembilan) tahun untuk semua anak. 2) Anak yang menyandang cacat fisik dan/atau mental diberikan kesempatan yang sama dan aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan biasa dan pendidikan luar biasa. 3) Anak yang memiliki keunggulan diberikan kesempatan dan aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan khusus. 4) Pemerintah bertanggung jawab untuk memberikan biaya pendidikan dan/atau bantuan cuma-cuma atau pelayanan khusus bagi anak dari keluarga kurang mampu, anak terlantar, dan anak yang bertempat tinggal di daerah terpencil. 5) Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya.22

d. Perlindungan di bidang Sosial 1) Pemerintah wajib menyelenggarakan pemeliharaan dan perawatan anak terlantar dalam hal penyelenggaraan

21

Undang - Undang sistem peradian pidana anak 2012 (UU RI NO. 11 TAHUN 2012) Hal. 51 tentang perlindungan di bidang kesehatan hal. 109 22 Undang - Undang sistem peradian pidana anak 2012 (UU RI NO. 11 TAHUN 2012) Hal. 51 tentang perlindungan di bidang pendidikan hal. 200


18

pemeliharaan dan perawatan pengawasannya dilakukan oleh Menteri Sosial. 2) Pemerintah dalam menyelenggarakan pemeliharaan dan perawatan wajib mengupayakan dan membantu anak, agar anak dapat : a. berpartisipasi; b. bebas menyatakan pendapat dan berpikir sesuai dengan hati nurani dan agamanya; c. bebas menerima informasi lisan atau tertulis sesuai dengan tahapan usia dan perkembangan anak; d. bebas berserikat dan berkumpul; e. bebas beristirahat, bermain, berekreasi, berkreasi, dan berkarya seni budaya; f. memperoleh sarana bermain yang memenuhi syarat kesehatan dan keselamatan. 3) Anak terlantar karena suatu sebab orang tuanya melalaikan kewajibannya, maka lembaga, keluarga, atau pejabat yang berwenang dapat mengajukan permohonan ke pengadilan untuk menetapkan anak sebagai anak terlantar. 4) Penetapan pengadilan sebagaimana dimaksud sekaligus menetapkan tempat penampungan, pemeliharaan, perawatan anak23 e. Perlindungan Khusus 1) Perlindungan khusus bagi anak yang menjadi pengungsi dilaksanakan sesuai dengan ketentuan hukum humaniter.

23

Undang - Undang sistem peradian pidana anak 2012 (UU RI NO. 11 TAHUN 2012) Hal. 51 tentang perlindungan di bidang pendidikan sosial dan kebudayaan hal. 214


19

2) Perlindungan khusus bagi anak korban kerusuhan, korban bencana, dan anak dalam situasi konflik bersenjata, meliputi: a. pemenuhan kebutuhan dasar, yaitu: pangan, sandang, pemukiman, pendidikan, kesehatan, belajar dan berekreasi, jaminan keamanan, dan persamaan perlakuan; b. pemenuhan kebutuhan khusus bagi anak yang menyandang cacat dan anak yang mengalami gangguan psikososial. 3) Perlindungan khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum, anak yang berkonflik dengan hukum dan anak korban tindak pidana, meliputi: a. perlakuan atas anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan hak hak anak; b. penyediaan petugas pendamping khusus anak sejak dini; c. penyediaan sarana dan prasarana khusus; d. penjatuhan sanksi yang tepat untuk kepentingan yang terbaik bagi anak; e. pemantauan dan pencatatan terus menerus terhadap perkembangan anak yang berhadapan dengan hukum; f. pemberian jaminan untuk mempertahankan hubungan dengan orang tua atau keluarga; g. perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan untuk menghindari labelisasi.24 4) Perlindungan khusus bagi anak yang menjadi korban tindak pidana meliputi:

24

Pendidikan HAM, Modal Fundamental Bagi Anak Didik Indonesia. Cetakan Pertama, Februari 2014. CV. Fauzan Inti Kreasi Hal. 38


20

a. upaya rehabilitasi, baik dalam lembaga maupun di luar lembaga; b. upaya perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan untuk menghindari labelisasi; c. pemberian jaminan keselamatan bagi saksi korban dan saksi ahli, baik fisik, mental, maupun sosial; d. pemberian aksesibilitas untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan perkara. 5) Perlindungan khusus bagi anak dari kelompok minoritas dan terisolasi dilakukan melalui penyediaan prasarana dan sarana untuk dapat menikmati budayanya sendiri, mengakui dan melaksanakan ajaran agamanya sendiri, dan menggunakan bahasanya sendiri. 6) Perlindungan khusus bagi anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, meliputi: a. penyebarluasan dan/atau sosialisasi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual; b. pemantauan, pelaporan, dan pemberian sanksi; c. keterlibatan berbagai instansi pemerintah, perusahaan, serikat pekerja, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat dalam penghapusan eksploitasi terhadap anak secara ekonomi dan/atau seksual. 7) Perlindungan khusus bagi anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), dan terlibat dalam produksi dan distribusinya, dilakukan melalui upaya pengawasan, pencegahan, perawatan, dan rehabilitasi oleh pemerintah dan masyarakat.


21

8) Perlindungan khusus bagi anak korban penculikan, penjualan, dan perdagangan anak dilakukan melalui upaya pengawasan, perlindungan, pencegahan, perawatan, dan rehabilitasi oleh pemerintah dan masyarakat.25 9) Perlindungan khusus bagi anak korban kekerasan meliputi kekerasan fisik, psikis, dan seksual dilakukan melalui upaya : a. penyebarluasan dan sosialisasi ketentuan peraturan perundang-undangan yang melindungi anak korban tindak kekerasan; dan pemantauan, pelaporan, dan pemberian sanksi. 10) Perlindungan khusus bagi anak yang menyandang cacat dilakukan melalui upaya : a. perlakuan anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan hak anak; b. pemenuhan kebutuhan-kebutuhan khusus; c. memperoleh perlakuan yang sama dengan anak lainnya untuk mencapai integrasi sosial sepenuh mungkin dan pengembangan individu. 11) Perlindungan khusus bagi anak korban perlakuan salah dan penelantaran dilakukan melalui pengawasan, pencegahan, perawatan, dan rehabilitasi oleh pemerintah dan masyarakat.26

25

Pendidikan HAM, Modal Fundamental Bagi Anak Didik Indonesia. Cetakan Pertama, Februari 2014. CV. Fauzan Inti Kreasi Hal. 42 26 Pendidikan HAM, Modal Fundamental Bagi Anak Didik Indonesia. Cetakan Pertama, Februari 2014. CV. Fau zan Inti Kreasi Hal. 43


22

B. Tinjauan mengenai Tindak Pidana Anak 1. Pengertian Tindak Pidana Anak Tindak pidana anak adalah tindak pidana yang dilakukan oleh anak-anak. Tindak pidana anak dapat dihubungkan dengan istilah Juvenile Deliquency, yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan beragam istilah, yaitu kenakalan anak, kenakalan remaja, kenakalan pemuda, taruna tersesat, ataupun jalin quersi anak. Secara etimologis dapat dijabarkan bahwa “Juvenile” berarti “anak” sedangkan “Deliquency” berarti “kejahatan”. Dengan demikian “Juvenile Deliquency” adalah “Kejahatan Anak ”, sedangkan apabila menyangkut subjek atau pelakunya, maka Juvenile Deliquency berarti penjahat anak atau anak jahat (Tholib Setiady, 2010: 176). Romli Atmasasmita yang dikutib oleh Wagiati Soetodjo. 27 menyebutkan bahwa yang dimaksud juvenile delinquency adalah: Setiap perbuatan atau tingkah laku seseorang anak di bawah umur 18 tahun dan belum kawin yang merupakan pelanggaran terhadap norma-norma yang berlaku serta dapat membahayakan perkembangan pribadi si anak yang bersangkutan. Selain itu, Dr. Fuad Hasan dalam Sudarsono juga merumuskan bahwa juvenile delinquency, adalah perbuatan anti sosial yang dilakukan oleh anak remaja yang bilamana dilakukan orang dewasa dikualifikasikan sebagai tindak pidana (Sudarsono, 2004: 11). Kartini Kartono dalam Tholib Setiady 27

Kitab Undang-Undang Sistem Peradilan Anak 2012, UndangUndang No. 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum, Penerbit Sinar Grafika Hal. 109.


23

juga merumuskan bahwa yang dikatan sebagai juvenile delinquency adalah: Perilaku jahat/dursila, atau kejahatan/kenakalan anakanak muda, merupakan gejala sakit (patologi) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial sehingga mereka itu mengembangkan bentuk pengabaian tingkah laku yang menyimpang (Tholib Setiady, 2010: 177). 28 A. Qiram SM dalam Rusli Muhammad dan Hanafi menyatakan bahwa tingkah laku orang dewasa adalah tingkah laku yang sempurna, sedangkan perangai anak si anak apabila diselidiki adalah merupakan suatu kritik nilai saja, karena dalam proses pertumbuhan ke masa remaja, sedang dalam proses mencari identitas diri (Rusli Muhammad dan Hanafi, 1994: 91). Dalam proses pencarian jati diri tersebut, terkadang anak-anak tidak dapat mengendalikan diri sehingga mudah melakukan kenakalan yang menjurus pada tindak kejahatan. 29 2. Bentuk Tindak Pidana Anak Menurut Sudarsono, norma-norma hukum yang sering dilanggar oleh anak-anak remaja pada umumnya adalah pasalpasal tentang: a. Kejahatan-kejahatan kekerasan A. Pembunuhan 28 REMAJA DAN MASALAHNYA, Mengupas Berbagai Bentuk Kenakalan Remaja Seperti Narkoba, Free Sex, & Pemecahannya, Pengarang Prof. Dr. Sofyan S. willis, M.Pd. Penerbit, ALFABETA BANDUNG, kutipan dari (Wagiati Soetodjo, 2010: 11). Hal 11 29 REMAJA DAN MASALAHNYA, Mengupas Berbagai Bentuk Kenakalan Remaja Seperti Narkoba, Free Sex, & Pemecahannya, Pengarang Prof. Dr. Sofyan S. willis, M.Pd. Penerbit, ALFABETA BANDUNG, Hal. 4 4


24

B. Penganiayaan b. Pencurian 1. Pencurian biasa 2. Pencurian dengan pemberatan 3. Penggelapan 4. Penipuan 5. Pemerasan 6. Gelandangan 7. Anak sipil 8. Remaja dan narkotika.30 Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, dinyatakan bahwa tindak pidana anak merupakan salah satu dari pelanggaran terhadap pasal 489, 490, 492, 497, 503, 505, 514, 517, 518, 519, 526, 531, 532, 536, dan 540, yaitu: a. Pelanggaran keamanan umum, seperti: 1) Mabuk di muka umum dan merintangi lalu lintas, menganggu ketertiban, atau mengancam keamanan orang lain. 2) Menyebabkan kebakaran di muka umum. b. Melakukan pelanggaran terhadap ketertiban, meliputi: 1) Membuat kegaduhan, keramaian sehingga mengaganggu masyarakat. 2) Menggelandang. 3) Penadah. 4) Pemalsuan. c. Melakukan pelanggaran kesusilaan, meliputi:

30 REMAJA DAN MASALAHNYA, Mengupas Berbagai Bentuk Kenakalan Remaja Seperti Narkoba, Free Sex, & Pemecahannya, Pengarang Prof. Dr. Sofyan S. willis, M.Pd. Penerbit, ALFABETA BANDUNG, kutipan dari (Sudarsono, 2004: 32)


25

1) Menyanyikan lagu, berpidato, dan menyebarkan tulisan yang melangggar kesusilaan di muka umum. 2) Mabuk di muka umum.31 C. Macam-macam Kenakalan Anak dan Sebab-sebab Kenakalan Anak a. Macam-macam Kenakalan Anak Sri Widowati Wiratmo Soekito yang dikutib oleh Tholib Setiady mengatakan bahwa pada umumnya terdapat empat macam kenakalan anak-anak (remaja) yaitu: 1. Delik kriminal yang dilakukan anak-anak (para remaja) 2. Delik lain yang tidak dicantumkan dalam peraturanperaturan yang berlaku bagi orang dewasa 3. Pre-deliquency atau pelanggaran terhadap norma educatif 4. Anak-anak yang berada (in need of care and protection) atau memberikan ketentuan-ketentuan kesejahteraan anak.32 Dr. Wagiati Soetodjo, S.H., M.S yang dikutib oleh Tholib Setiady, menyatakan bahwa gejala kenakalan anak (remaja) akan terungkap apabila kita meneliti bagaimana cirriciri khas atau ciri-ciri umum yang amat menonjol pada tingkah laku dari anak-anak puber tersebut, antara lain: 1. Rasa harga diri yang semakin menguat dan gengsi yang terlalu besar serta kebutuhan untuk memamerkan diri, 31 REMAJA DAN MASALAHNYA, Mengupas Berbagai Bentuk Kenakalan Remaja Seperti Narkoba, Free Sex, & Pemecahannya, Pengarang Prof. Dr. Sofyan S. willis, M.Pd. Penerbit, ALFABETA BANDUNG, Hal. 47 32 REMAJA DAN MASALAHNYA, Mengupas Berbagai Bentuk Kenakalan Remaja Seperti Narkoba, Free Sex, & Pemecahannya, Pengarang Prof. Dr. Sofyan S. willis, M.Pd. Penerbit, ALFABETA BANDUNG, kutipan dari(Tholib Setiady, 2010 : Hal 179).


26

2.

3.

4.

5.

sementara lingkungan masyarakat dewasa ini sedang demam material di mana orang mendewakan kehidupan atau kemewahan, sehingga anak-anak muda usia yang emosi dan mentalnya belum matang serta dalam situasi labil maka dengan mudah ia ikut terjangkit nafsu serakah dunia material. Apabila anak tidak mampu mengendalikan emosi-emosi yang semakin menekan, kemudian pengawasan dan pendidikan dari orang tua kurang, maka akan mudah sekali anak muda (remaja) terjerumus dengan melakukan kriminal misalnya mencuri, menodong, dan menggarong demi mendapatkan penghasilan tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga dan cucuran keringat. Energi yang berlimpah-limpah mewujudkan diri dalam bentuk keberanian yang condong melebih-lebihkan kemampuan diri sendiri misalnya terefleksi pada kesukaan anak muda untuk kebut-kebutan di jalan raya. Senang mencari perhatian dengan jalan menonjolkan diri, misalnya dengan jalan mabuk-mabukan minuman keras. Corak hidupnya bercorak tidak bersifat sosial dan keluar dari pada dunia objektif kearah dunia subjektif sehingga ia tidak lagi suka pada kegunaan-kegunaan teknis yang sifatnya pragmatis, melainkan lebih suka bergerombol dengan kawan sebaya. Pencarian suatu identitas kedewasaan cenderung melepaskan diri dari identitas maupun identifikasi lama dan mencari aku “ideal” sebagai identitas baru serta substitusi identifikasi yang lama.33

33

REMAJA DAN MASALAHNYA, Mengupas Berbagai Bentuk Kenakalan Remaja Seperti Narkoba, Free Sex, & Pemecahannya, Pengarang


27

Hal-hal tersebut, dapat dimengerti dimana fase remaja merupakan fase transisi dimana tingkah laku anti sosial yang potensial menimbulkan kehilangan kontrol dan kendali emosi. Apabila tidak diiringi dengan tanpa adanya pembinaan dan pengawasan yang tepat dari semua pihak, anak gejala kenakalan ini akan menjadi tindakan-tindakan yang mengarah kepada tindakan yang bersifat kriminalitas. Lebih tegas lagi dinyatakan oleh Adler yang dikutib oleh Tholib Setiady, yang menyatakan bahwa tingkah laku yang menjurus kepada masalah juvenile delinquency menurutnya adalah: 1. Kebut-kebutan di jalananan mengganggu keamanan lalu lintas yang membahayakan jiwa sendiri dan orang lain. 2. Perilaku ugal-ugalan, berandal, urakan yang mengacaukan ketentraman lingkungan sekitarnya. Tingkah laku ini bersumber pada kelebihan energi dan dorongan primitif yang tidak terkendali serta kesukaan menteror lingkungan. 3. Perkelahian antar geng, antar kelompok, antar sekolah, antar suku (tawuran), sehingga kadang-kadang membawa korban jiwa. 4. Membolos sekolah lalu bergelandang sepanjang jalan atau bersembunyi di tempat-tempat terpencil sambil melakukan eksperimen bermacam-macam kedurjanaan dan tindakan a-susila. 5. Kriminalitas anak, remaja dan adolesens antara lain berupa perbuatan mengancam, intimidasi, memeras, mencuri, mencopet, merampas, menjambret, menyerang, merampok, menganggu, menggarong, melakukan Prof. Dr. Sofyan S. willis, M.Pd. Penerbit, ALFABETA BANDUNG, kutipan dari(Tholib Setiady, 2010 : Hal 181-182).


28

pembunuhan dengan jalan menyembelih korbannya, mencekik, meracun, tindak kekerasan, dan pelanggaran lainnya. 6. Berpesta pora sambil mabuk-mabukkan, melakukan hubungan seks bebas atau orgi (mabuk-mabukan yang menimbulkan keadaan kacau balau) yang menganggu sekitarnya.34 b. Sebab-sebab Kenakalan Anak Kenakalan remaja dapat terjadi karena beberapa sebab, hal tersebut timbul karena ada motivasi dari remaja itu sendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu perbuatan dengan tujuan tertentu. Motivasi juga sering diartikan sebagai usaha-usaha yang menyebabkan seseorangatau kelompok tertentu tergerak untuk melakukan suatu perbuatan karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau membuat kepuasan dengan perbuatannya. Motivasi tersebut dapat berbentuk motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Dr Wagiati Soetodjo dalam Tholib Setiady, menyatakan bahwa motivasi motivasi intrinsik adalah dorongan atau keinginan pada diri seseorang yang tidak perlu disertai perangsang dari luar, sedangkan motivasi ektrinsik adalah dorongan yang datang dari luar diri seseorang.35

34 REMAJA DAN MASALAHNYA, Mengupas Berbagai Bentuk Kenakalan Remaja Seperti Narkoba, Free Sex, & Pemecahannya, Pengarang Prof. Dr. Sofyan S. willis, M.Pd. Penerbit, ALFABETA BANDUNG, kutipan dari(Tholib Setiady, 2010 : Hal 180-181). 35 REMAJA DAN MASALAHNYA, Mengupas Berbagai Bentuk Kenakalan Remaja Seperti Narkoba, Free Sex, & Pemecahannya, Pengarang


29

Selanjutnya Romli Atmasamita, menyatakan bahwa: 1. Yang termasuk motivasi intrinsik dari kenakalan remaja a. Faktor intelegensia b. Faktor usia c. Faktor kelamin d. Faktor kedudukan anak dalam keluarga 2. Yang termasuk motivasi ektrinsik dari kenakalan remaja a. Faktor keluarga b. Faktor pendidikan dan sekolah c. Faktor pergaulan anak d. Pengaruh media sosial36 . c. Jenis Pidana dan Tindakan Bagi Anak Nakal Berdasarkan ketentuan Pasal 69 Undang-Undang No. 11 tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, dinyatakan bahwa seorang anak dapat dijatuhi pidana setelah berumur 14 tahun, sedangkan anak yang belum berusia 14 tahun hanya dapat dikenai tindakan. Selanjutnya jenis pidana dan tindakan yang dapat dijatuhkan bagi anak nakal, yakni: 1.

Jenis Pidana Bagi Anak Nakal

Selanjutnya dalam Pasal 71 Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, anak dapat dijatuhi pidana sebagai berikut: a.

Pidana Pokok

Prof. Dr. Sofyan S. willis, M.Pd. Penerbit, ALFABETA BANDUNG, kutipan dari(Tholib Setiady, 2010 : Hal 180). 36 REMAJA DAN MASALAHNYA, Mengupas Berbagai Bentuk Kenakalan Remaja Seperti Narkoba, Free Sex, & Pemecahannya, Pengarang Prof. Dr. Sofyan S. willis, M.Pd. Penerbit, ALFABETA BANDUNG, kutipan dari(Tholib Setiady, 2010 : Hal 183-189).


30

1. pidana peringatan 2. pidana dengan syarat: a. pembinaan di luar lembaga b. pelayanan masyarakat c. pengawasan. 3. pelatihan kerja 4. pembinaan dalam lembaga 5. penjara. b. Pidana tambahan terdiri atas: 1. perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana, 2. pemenuhan kewajiban adat. Selanjutnya apabila dalam hukum material di ancam pidana kumulatif berupa penjara dan denda, pidana denda diganti dengan pelatihan kerja. Pelaksanaan pidana yang dijatuhkan kepada Anak dilarang melanggar harkat dan martabat anak. 37 2.

Tindakan Bagi Anak Nakal

Tindakan yang dapat dijatuhkan kepada anak menurut Pasal 82 ayat (1) Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, meliputi: 1. 2. 3. 4.

37

pengembalian kepada orang tua/Wali penyerahan kepada seseorang perawatan di rumah sakit jiwa perawatan di LPKS

Romli Atmasasmita, Peradilan Anak di Indonesia, Mandar Maju, 1997, Bandung, hal. 166.


31

5. kewajiban mengikuti pendidikan formal dan/atau pelatihan yang diadakan oleh pemerintah atau badan swasta 38

d. Tinjauan Mengenai Pembinaan Anak Pidana 1. Pengertian Anak Pidana Anak Pidana termasuk dalam anak didik pemasyarakatan selain anak negara dan anak sipil. Menurut Undang-Undang No 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, Anak Pidana yaitu anak yang berdasarkan putusan pengadilan menjalani pidana di LAPAS Anak paling lama sampai berumur 18 (delapan belas) tahun. 2. Pembinaan Anak Pidana Dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, dinyatakan bahwa Pemasyarakatan adalah kegiatan untuk melakukan pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan berdasarkan sistem, kelembagaan, dan cara pembinaan yang merupakan bagian akhir dari sistem pemidanaan dalam tata peradilan pidana. Berdasarkan pengertian tersebut, maka inti dari pemasyarakatan berarti pembinaan terhadap WBP supaya nantinya dapat kembali ke masyarakat dengan baik39 . Guna melaksanakan pembinaan tersebut diperlukan suatu sistem, yang 38

Undang – undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, Pasal

28B ayat 39 REMAJA DAN MASALAHNYA, Mengupas Berbagai Bentuk Kenakalan Remaja Seperti Narkoba, Free Sex, & Pemecahannya, Pengarang Prof. Dr. Sofyan S. willis, M.Pd. Penerbit, ALFABETA BANDUNG, kutipan dari (Nashriana, 2011: 153)


32

dinamakan sistem pemasyarakatan. Selanjutnya dalam Pasal 2 dinyatakan bahwa: Sistem pemasyarakatan diselenggarakan dalam rangka membentuk Warga Binaan Pemasyarakatan agar menjadi manusia seutuhnya, menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab. 40 sistem pemasyarakatan juga berfungsi untuk menyiapkan Warga Binaan Pemasyarakatan agar dapat berintegrasi secara sehat dengan masyarakat, sehingga dapat berperan kembali sebagai anggota masyarakat yang bebas dan bertanggung jawab. Pembinaan terhadap anak Pidana, menurut ketentuan dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dilakukan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Proses Pembinaan terhadap narapidana yang dalam Undang-Undang Pemasyarakatan menggunakan istilah Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). dimulai sejak yang bersangkutan masuk ke dalam Lembaga Pemasyarakatan. 41 Pembinaan yang dilaksanakan dalam sistem pemasyarakatan tidak terlepas dari instansi pelaksananya. Pembinaan yang dilakukan hanya dapat diberikan kepada narapidana bukan kepada tahanan, karena di samping kasusnya belum tuntas dan belum memperoleh keputusan dari pengadilan 40

Lilik Mulyadi, Pengadilan Anak Di Indonesia, CV.Mandar Maju, 2005, Bandung, hal. 55. 41 Mardjono Reksodiputro, Kriminlogi dan Sistem Peradilan Pidana, (Pusat Pelayanan dan Pengabdian Hukum Universitas Indonesia), 1997, Jakarta, hal. 84.


33

yang mempunyai ketetapan hukum yang tetap dan ia juga masih dalam proses penyidikan dan berstatus tersangka. Menurut Peraturan Pemerintah No 31 tahun 1999 Tentang Pembinaan dan Pembibingan Warga Binaan Pemasyarakatan, Pembinaan adalah kegiatan untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku, profesional, kesehatan jasmani dan rohani Narapidana dan Anak Didik Pemasyaraktan. 42

Menurut Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. M. 02-PK.04. 10 Tahun 1990 Tentang Pola Pembinaan Narapidana/Tahanan, Pembinaan dan Pola Pembinaan ini meliputi: a. Pelayanan Tahanan ialah segala kegiatan yang dilaksanakan dari mulai penerimaan sampai dengan tahap pengeluaran tahanan. b. Pembinaan Narapidana dan Anak didik ialah semua usaha yang ditujukan untuk memperbaiki dan meningkatkan akhlak (budi pekerti) para narapidana dan anak didik yang berada di dalam Lembaga Pemasyarakatan/Rutan (intramural treatment). 43 Dalam ketentuan Bab II mengenai Metode Pembinaan dinyatakan bahwa metode pembinaan/bimbingan meliputi :

42

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 20. 43 M. Nasir Djamil, Anak Bukan Untuk Dihukum, Sinar Grafika, 2013, hal.1.


34

a. Pembinaan berupa interaksi langsung yang sifatnya kekeluargaan antara pembina dengan yang dibina (warga binaan pemasyarakatan). b. Pembinaan bersifat persuasif edukatif yaitu berusaha merubah tingkah lakunya melalui keteladanan dan memperlakukan adil di antara sesama mereka sehingga menggugah hatinya untuk melakukan hal-hal yang terpuji, menempatkan warga binaan pemasyarakatan sebagai manusia yang memiliki potensi dan memiliki harga diri dengan hak-hak dan kewajibannya yang sama dengan manusia lainnya. c. Pembinaan berencana, terus menerus dan sistematis. Berdasarkan Peraturan pemerintah No 31 tahun 1999 tentang pembinaan dan pembibingan Warga Binaan Pemasyarakatan, dijelaskan dalam Pasal 15 ayat (1) bahwa, Pelaksanaan pembinaan Anak Didik Pemasyarakatan dilakukan oleh Pembina Pemasyarakatan. Selanjutnya dalam Pasal 19 meliputi: a. Pembinaan tahap awal meliputi: 1. masa pengamatan, pengenalan dan penelitian lingkungan paling lama 1 (satu) bulan; 2. perencanaan program pembinaan kepribadian dan kemandirian; 3. pelaksanaan program pembinaan kepribadian dan kemandirian; 4. penilaian pelaksanaan program pembinaan tahap awal. b. Pembinaan tahap lanjutan meliputi: 1. perencanaan program pembinaan lanjutan; 2. pelaksanaan program pembinaan lanjutan; 3. penilaian pelaksanaan program pembinaan lanjutan;


35

4. perencanaan dan pelaksanaan asimilasi. c. Pembinaan tahap akhir meliputi: 1. perencanaan program integrasi; 2. pelaksanaan program integrasi;44

program

D. Definisi Anak, Hak – Hak Anak, dan Perlindungan Hukum Anak. 1. Definisi Anak Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), anak adalah keturunan kedua. Dalam Undang – undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, dikatakan bahwa anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa anak adalah tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita – cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan.8 Oleh karena itu, agar setiap anak kelak mampu memikul tanggung jawab tersebut, maka ia perlu mendapat kesempatan yang seluas – luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial, dan berakhlak mulia, perlu dilakukan upaya perlindungan serta untuk mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan

44

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 38.


36

jaminan terhadap pemenuhan hak – haknya serta adanya perlakuan diskriminasi.45 ”kecuali dilihat oleh orang tuanya sebagai penerus generasi juga anak itu dipandang pula sebagai wadah di mana semua harapan orang tuanya kelak kemudian hari wajib ditumpahkan, pula dipandang sebagai pelindung orang tuanya kelak bila orang tua itu sudah tidak mampu lagi secara fisik untuk mencari nafkah” Berikut ini merupakan pengertian anak menurut beberapa peraturan perundang-undangan yang berlaku Di Indonesia antara lain: 1) Undang – undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dalam Pasal 45 menyatakan hal penuntutan pidana terhadap orang yang belum dewasa yang berumur di bawah enam belas tahun karena melakukan suatu perbuatan, hakim dapat menentukan: memerintahkan supaya yang bersalah itu dikembalikan kepada orang tuanya, walinya atau pemeliharanya, tanpa dikenakan suatu pidana apa pun; atau memerintahkan supaya yang bersalah itu diserahkan kepada pemerintah tanpa pidana apa pun, bila perbuatan tersebut merupakan kejahatan atau salah satu pelanggaran berdasarkan Pasal 489, 490, 492, 496, 497, 503-505, 514, 517-519, 526, 531, 532, 536, dan 540 KUHP, serta belum lewat dua tahun seiak dinyatakan bersalah karena melakukan kejahatan atau salah satu pelanggaran tersebut di alas,

45

Moeljatno, 2009. Asas-asas Hukum Pidana, Rineke Cipta,Jakarta Hal. 30


37

2) Undang – undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, Anak adalah orang yang dalam perkara Anak Nakal telah mencapai umum 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin. 3) Undang – undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dinyatakan bahwa anak adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya. 4) Undang – undang Nomor 35 Tahun 2014 Perubahan atas Undang – undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak dinyatakan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. 5) Convention On The Rights Of Child (1989) yang telah diratifikasi pemerintah Indonesia melalui Keppres Nomor 39 Tahun 1990 disebutkan bahwa anak adalah mereka yang berusia 18 tahun kebawah. 6) Undang – undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan membolehkan bekerja 15 tahun, 7) Undang – undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memberlakukan Wajib belajar 9


38

tahun, yang dikonotasikan menjadi anak berusia 7 sampai 15 tahun. 8) Undang – undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak menyatakan Anak yang Berkonflik dengan Hukum yang selanjutnya disebut Anak adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana. Berdasarkan beberapa ketentuan diatas, maka dapat dinyatakan dapat diperoleh suatu kesimpulan bahwa penetapan batas umur anak adalah relatif tergantung pada kepentingannya. 46

a. Perlindungan Hukum Dalam kaitannya dengan perlindungan hukum terhadap anak di Indonesia, telah ditegaskan dalam Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 bahwa “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Menindaklanjuti hal tersebut maka pemerintah telah membuat berbagai peraturan perundangundangan yang memuat mengenai hak – hak anak. Wagiati Soetodjo dalam bukunya Hukum Pidana Anak mengklasifikasikannya sebagai berikut: a) Bidang hukum, melalui Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak. Leden Marpaung, 2009. Asas – Teori - Praktik Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta. Hal 89 46


39

b) Bidang kesehatan melalui Undang-Undang No. 9 Tahun 1960 tentang Pokok-pokok Kesehatan, diatur dalam Pasal 1, Pasal 3 ayat (1), dan Pasal 9 ayat (2). c) Bidang pendidikan diatur melalui Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 ayat (1) dan Undang-Undang No. 12 Tahun 1954 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah, diatur dalam Pasal 19 dan Pasal 17. d) Bidang ketenagakerjaan, melalui Ordonansi tanggal 17 Desember 1925 tentang Peraturan Pembatasan Kerja Anak dan Kerja Malam bagi Wanita jo Ordonansi tanggal 27 Februari 1926 stbl. No. 87 Tahun 1926 ditetapkan tanggal 1 Mei 1976 tentang Peraturan Mengenai Keselamatan Kerja Anak-anak dan Orangorang muda di atas Kapal jo Undang-Undang No. 1 Undang-Undang Keselamatan Kerja stbl. 1947 No. 208 jo Undang-Undang No. 1 Tahun 1951 yang memberlakukan Undang-Undang Kerja No. 12 Tahun 1948 di Republik Indonesia.

e) Bidang kesejahteraan sosial, melalui Undang-Undang No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. 47

47

Paulus Hadisuprapto, Delinkuensi Anak Pemahaman dan Penanggulangannya, (Malang: Selaras, 2010), hal. 11.


40

Dalam perkembangannya perlindungan terhadap anak di bidang hukum juga ditur dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Perlindungan hukum terhadap anak di Indonesia, telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan, namun secara khusus diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang 21 Perlindungan Anak. Menurut pasal 1 nomor 2 , UndangUndang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak disebutkan bahwa: Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. 48 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, meliputi: b. Perlindungan di bidang Agama 1) Perlindungan untuk beribadah menurut agamanya. 2) Perlindungan anak dalam memeluk agamanya dijamin oleh negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, orang tua, wali, dan lembaga sosial. Perlindungan anak dalam memeluk agamanya meliputi pembinaan, pembimbingan, dan pengamalan ajaran agama bagi anak.

Khumaidi Tohar, Artikel “Memahami perilaku Delinkuensi dan Rasionalisasinya” (Jakarta: 2007), hal. 2. 48


41

c. Perlindungan di bidang Kesehatan 1) Pemerintah wajib menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang komprehensif bagi anak. 2) Orang tua dan keluarga bertanggung jawab menjaga kesehatan anak jika tidak mampu melaksanakan tanggung jawab, maka pemerintah wajib memenuhinya. 3) Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib mengusahakan agar anak yang lahir terhindar dari penyakit yang mengancam kelangsungan hidup dan/atau menimbulkan kecacatan

4) Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib melindungi anak dari upaya transplantasi organ tubuhnya untuk pihak lain.

5) Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib melindungi anak dari perbuatan : a) Pengambilan organ tubuh anak dan/atau jaringan tubuh anak tanpa memperhatikan kesehatan anak; b) Jual beli organ dan/atau jaringan tubuh anak; dan c) Penelitian kesehatan yang menggunakan anak sebagai objek penelitian tanpa seizin orang tua dan


42

tidak mengutamakan kepentingan yang terbaik bagi anak. 49 d. Perlindungan di bidang Pendidikan 1) Pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan dasar minimal 9 (sembilan) tahun untuk semua anak. 2) Anak yang menyandang cacat fisik dan/atau mental diberikan kesempatan yang sama dan aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan biasa dan pendidikan luar biasa. 3) Anak yang memiliki keunggulan diberikan kesempatan dan aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan khusus. 4) Pemerintah bertanggung jawab untuk memberikan biaya pendidikan dan/atau bantuan cuma-cuma atau pelayanan khusus bagi anak dari keluarga kurang mampu, anak terlantar, dan anak yang bertempat tinggal di daerah terpencil. 5) Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya. 50

49

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 552 50

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 554


43

e. Perlindungan di bidang Sosial 1) Pemerintah wajib menyelenggarakan pemeliharaan dan perawatan anak terlantar dalam hal penyelenggaraan pemeliharaan dan perawatan pengawasannya dilakukan oleh Menteri Sosial. 2) Pemerintah dalam menyelenggarakan pemeliharaan dan perawatan wajib mengupayakan dan membantu anak, agar anak dapat : a) Berpartisipasi; b) Bebas menyatakan pendapat dan berpikir sesuai dengan hati nurani dan agamanya; c) Bebas menerima informasi lisan atau tertulis sesuai dengan tahapan usia dan perkembangan anak; d) Bebas berserikat dan berkumpul; e) Bebas beristirahat, bermain, berekreasi, berkreasi, dan berkarya seni budaya; dan memperoleh sarana bermain yang memenuhi syarat kesehatan dan keselamatan. 3) Anak terlantar karena suatu sebab orang tuanya melalaikan kewajibannya, maka lembaga, keluarga, atau pejabat yang berwenang dapat mengajukan permohonan ke pengadilan untuk menetapkan anak sebagai anak terlantar.


44

4) Penetapan pengadilan sebagaimana dimaksud sekaligus menetapkan tempat penampungan, pemeliharaan, dan perawatan anak. 51 f. Perlindungan Khusus 1) Perlindungan khusus bagi anak yang menjadi pengungsi dilaksanakan sesuai dengan ketentuan hukum humaniter. 2) Perlindungan khusus bagi anak korban kerusuhan, korban bencana, dan anak dalam situasi konflik bersenjata, meliputi: a) Pemenuhan kebutuhan dasar, yaitu: pangan, sandang, pemukiman, pendidikan, kesehatan, belajar dan berekreasi, jaminan keamanan, dan persamaan perlakuan; dan b) Pemenuhan kebutuhan khusus bagi anak yang menyandang cacat dan anak yang mengalami gangguan psikososial. 3) Perlindungan khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum, anak yang berkonflik dengan hukum dan anak korban tindak pidana, meliputi: a) Perlakuan atas anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan hak-hak anak;

51

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 635


45

b) Penyediaan petugas pendamping khusus anak sejak dini; c) Penyediaan sarana dan prasarana khusus; d) Penjatuhan sanksi yang tepat untuk kepentingan yang terbaik bagi anak; e) Pemantauan dan pencatatan terus menerus terhadap perkembangan anak yang berhadapan dengan hukum; f) Pemberian jaminan untuk mempertahankan hubungan dengan orang tua atau keluarga; dan g) Perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan untuk menghindari labelisasi. h) Perlindungan khusus bagi anak yang menjadi korban tindak pidana meliputi: - Upaya rehabilitasi, baik dalam lembaga maupun di luar lembaga; - Upaya perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan untuk menghindari labelisasi; - Pemberian jaminan keselamatan bagi saksi korban dan saksi ahli, baik fisik, mental, maupun sosial; dan - Pemberian aksesibilitas untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan perkara. 4) Perlindungan khusus bagi anak dari kelompok minoritas dan terisolasi dilakukan melalui penyediaan prasarana dan sarana untuk dapat menikmati budayanya sendiri,


46

mengakui dan melaksanakan ajaran agamanya sendiri, dan menggunakan bahasanya sendiri. 5) Perlindungan khusus bagi anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, meliputi: a) Penyebarluasan dan/atau sosialisasi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual; b) Pemantauan, pelaporan, dan pemberian sanksi; dan c) Pelibatan berbagai instansi pemerintah, perusahaan, serikat pekerja, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat dalam penghapusan eksploitasi terhadap anak secara ekonomi dan/atau seksual. 6) Perlindungan khusus bagi anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), dan terlibat dalam produksi dan distribusinya, dilakukan melalui upaya pengawasan, pencegahan, perawatan, dan rehabilitasi oleh pemerintah dan masyarakat. 7) Perlindungan khusus bagi anak korban penculikan, penjualan, dan perdagangan anak dilakukan melalui upaya pengawasan, perlindungan, pencegahan, perawatan, dan rehabilitasi oleh pemerintah dan masyarakat.


47

8) Perlindungan khusus bagi anak korban kekerasan meliputi kekerasan fisik, psikis, dan seksual dilakukan melalui upaya : a) Penyebarluasan dan sosialisasi ketentuan peraturan perundang-undangan yang melindungi anak korban tindak kekerasan; dan b) pemantauan, pelaporan, dan pemberian sanksi. 9) Perlindungan khusus bagi anak yang menyandang cacat dilakukan melalui upaya : a) Perlakuan anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan hak anak; b) Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan khusus; dan c) Memperoleh perlakuan yang sama dengan anak lainnya untuk mencapai integrasi sosial sepenuh mungkin dan pengembangan individu. 10) Perlindungan khusus bagi anak korban perlakuan salah dan penelantaran dilakukan melalui pengawasan, pencegahan, perawatan, dan rehabilitasi oleh pemerintah dan masyarakat. 52

52

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 668


48

E. Pengertian Tindak Pidana dan Unsur Tindak Pidana 1. Pengertian Tindak Pidana Pengertian tindak pidana yang di muat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) oleh pembentuk undang-undang sering disebut dengan strafbaarfeit. Para pembentuk undang-undang tersebut tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai strafbaarfeit itu, maka dari itu terhadap maksud dan tujuan mengenai strafbaarfeit tersebut sering dipergunakan oleh pakar hukum pidana dengan istilah tindak pidana, perbuatan pidana, peristiwa pidana, serta delik. Seperti yang diungkapkan oleh seorang ahli hukum pidana yaitu Moeljatno yang berpendapat bahwa pengertian tindak pidana yang menurut istilah beliau yakni perbuatan pidana adalah : ”Perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa melanggar larangan tersebut” Jadi berdasarkan pendapat tersebut di atas pengertian dari tindak pidana yang dimaksud adalah bahwa perbuatan pidana atau tindak pidana senantiasa merupakan suatu perbuatan yang tidak sesuai atau melanggar suatu aturan hukum atau perbuatan yang dilarang oleh aturan hukum yang disertai dengan sanksi pidana yang mana aturan tersebut ditujukan kepada perbuatan sedangkan ancamannya atau sanksi pidananya ditujukan kepada orang yang


49

melakukan atau orang yang menimbulkan kejadian tersebut. Dalam hal ini maka terhadap setiap orang yang melanggar aturan-aturan hukum yang berlaku, dengan demikian dapat dikatakan terhadap orang tersebut sebagai pelaku perbuatan pidana atau pelaku tindak pidana. Akan tetapi haruslah diingat bahwa aturan larangan dan ancaman mempunyai hubungan yang erat, oleh karenanya antara kejadian dengan orang yang menimbulkan kejadian juga mempunyai hubungan yang erat pula. 53 Adapun perumusan tersebut yang mengandung kalimat “Aturan Hukum Pidana” dimaksudkan akan memenuhi keadaan hukum di Indonesia yang masih mengenal kehidupan hukum yang tertulis maupun hukum yang tidak tertulis, Bambang Poernomo juga berpendapat mengenai kesimpulan dari perbuatan pidana yang dinyatakan hanya menunjukan sifat perbuatan terlarang dengan diancam pidana. Maksud dan tujuan diadakannya istilah tindak pidana, perbuatan pidana, maupun peristiwa hukum dan sebagainya itu adalah untuk mengalihkan bahasa dari istilah asing straftbaar feit namun belum jelas apakah disamping mengalihkan bahasa dari istilah straftbaar feit dimaksudkan untuk mengalihkan makna dan pengertiannya, juga oleh karena sebagian besar kalangan ahli hukum belum jelas dan terperinci menerangkan 54 53

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 725 54

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 738


50

pengertian istilah, ataukah sekedar mengalihkan bahasanya, hal ini yang merupakan pokok perbedaan pandangan, selain itu juga ditengah-tengah masyarakat juga dikenal istilah kejahatan yang menunjukkan pengertian perbuatan melanggar norma dengan mendapat reaksi masyarakat melalui putusan Hakim agar dijatuhi pidana. 2. Unsur – Unsur Tindak Pidana Unsur tindak pidana terbagi atas 2 (Dua) unsur, yakni unsur formal dan unsur material, unsur formal meliputi 13 : -

-

-

-

Perbuatan manusia, yaitu perbuatan dalam arti luas, artinya tidak berbuat yang termasuk perbuatan dan dilakukan oleh manusia. Melanggar peraturan pidana. dalam artian bahwa sesuatu akan dihukum apabila sudah ada peraturan pidana sebelumnya yang telah mengatur perbuatan tersebut, jadi hakim tidak dapat menuduh suatu kejahatan yang telah dilakukan dengan suatu peraturan pidana, maka tidak ada tindak pidana. Diancam dengan hukuman, hal ini bermaksud bahwa KUHP mengatur tentang hukuman yang berbeda berdasarkan tindak pidana yang telah dilakukan. Dilakukan oleh orang yang bersalah, dimana unsur-unsur kesalahan yaitu harus ada kehendak, keinginan atau kemauan dari orang yang melakukan tindak pidana serta Orang tersebut berbuat sesuatu dengan sengaja,


51

-

mengetahui dan sadar sebelumnya terhadap akibat perbuatannya. Kesalahan dalam arti sempit dapat diartikan kesalahan yang disebabkan karena si pembuat kurang memperhatikan akibat yang tidak dikehendaki oleh undang-undang. Pertanggungjawaban yang menentukan bahwa orang yang tidak sehat ingatannya tidak dapat diminta pertanggungjawabannya. Dasar dari pertanggung jawaban seseorang terletak dalam keadaan jiwanya. 55

Unsur material dari tindak pidana bersifat bertentangan dengan hukum, yaitu harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat sehingga perbuatan yang tidak patut dilakukan. Jadi meskipun perbuatan itu memenuhi rumusan undang-undang, tetapi apabila tidak bersifat melawan hukum, maka perbuatan itu bukan merupakan suatu tindak pidana. Unsur-unsur tindak pidana dalam ilmu hukum pidana dibedakan dalam dua macam, yaitu unsur objektif dan unsur subjektif. Unsur objektif adalah unsur yang terdapat di luar diri pelaku tindak pidana. Unsur ini meliputi : -

55

Perbuatan atau kelakuan manusia, dimana perbuatan atau kelakuan manusia itu ada yang aktif (berbuat sesuatu), misal membunuh (Pasal 338 KUHP), menganiaya (Pasal 351 KUHP).

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 742


52

-

-

Akibat yang menjadi syarat mutlak dari delik. Hal ini terdapat dalam delik material atau delik yang dirumuskan secara material, misalnya pembunuhan (Pasal 338 KUHP), penganiayaan (Pasal 351 KUHP), dan lain-lain. Ada unsur melawan hukum. Setiap perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh peraturan perundang-undangan hukum pidana itu harus bersifat melawan hukum, meskipun unsur ini tidak dinyatakan dengan tegas dalam perumusan. 56

Unsur lain yang menentukan sifat tindak pidana : Ada beberapa tindak pidana yang untuk mendapat sifat tindak pidanya itu memerlukan hal-hal objektif yang menyertainya, seperti penghasutan (Pasal 160 KUHP), melanggar kesusilaan (Pasal 281 KUHP), pengemisan (Pasal 504 KUHP), mabuk (Pasal 561 KUHP). Tindak pidana tersebut harus dilakukan di muka umum. Unsur yang memberatkan tindak pidana. Hal ini terdapat dalam delik-delik yang dikualifikasikan oleh akibatnya, yaitu karena timbulnya akibat tertentu, maka ancaman pidana diperberat, contohnya merampas kemerdekaan seseorang (Pasal 333 KUHP) diancam dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun, jika perbuatan itu mengakibatkan luka-luka

56

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 752


53

berat ancaman pidana diperberat lagi menjadi pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun. Unsur tambahan yang menentukan tindak pidana. Misalnya dengan sukarela masuk tentara asing, padahal negara itu akan berperang dengan Indonesia, pelakunya hanya dapat dipidana jika terjadi pecah perang (Pasal 123 KUHP). 57 Tindak pidana juga mengenal adanya unsur subjektif, unsur ini meliputi : -

-

-

-

57

Kesengajaan (dolus), dimana hal ini terdapat di dalam pelanggaran kesusilaan (Pasal 281 KUHP), perampasan kemerdekaan (Pasal 333 KUHP), pembunuhan (Pasal 338). Kealpaan (culpa), dimana hal ini terdapat di dalam perampasan kemerdekaan (Pasal 334 KUHP), dan menyebabkan kematian (Pasal 359 KUHP), dan lainlain. Niat (voornemen), dimana hal ini terdapat di dalam percobaan atau poging (Pasal 53 KUHP) Maksud (oogmerk), dimana hal ini terdapat dalam pencurian (Pasal 362 KUHP), pemerasan (Pasal 368 KUHP), penipuan (Pasal 378 KUHP), dan lain-lain Dengan rencana lebih dahulu (met voorbedachte rade), dimana hal ini terdapat dalam membuang anak sendiri (Pasal 308 KUHP), membunuh anak sendiri (Pasal 341

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 768


54

KUHP), membunuh anak sendiri dengan rencana (Pasal 342 KUHP). 58 F. Tinjauan Tindak Pidana Anak 1. Definisi Tindak Pidana Anak Tindak pidana anak adalah tindak pidana yang dilakukan oleh anak-anak. Tindak pidana anak dapat dihubungkan dengan istilah “Juvenile Deliquency”, yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan beragam istilah, yaitu kenakalan anak, kenakalan remaja, kenakalan pemuda, taruna tersesat, ataupun jalin quersi anak. Secara etimologis dapat dijabarkan bahwa “Juvenile” berarti “anak” sedangkan “Deliquency” berarti “kejahatan”. Dengan demikian “Juvenile Deliquency” adalah “Kejahatan Anak ”, sedangkan apabila menyangkut subjek atau pelakunya, maka Deliquency” berarti penjahat anak atau anak jahat.

“Juvenile

Setiap perbuatan atau tingkah laku seseorang anak di bawah umur 18 tahun dan belum kawin yang merupakan pelanggaran terhadap norma-norma yang berlaku serta dapat membahayakan perkembangan pribadi si anak yang bersangkutan. Selain itu, Dr. Fuad Hasan dalam Sudarsono juga merumuskan bahwa “Juvenile Delinquency”, adalah perbuatan 58

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 778


55

anti sosial yang dilakukan oleh anak remaja yang bilamana dilakukan orang dewasa dikualifikasikan sebagai tindak pidana. Khumaidi Tohar juga merumuskan bahwa yang dikatan sebagai “Juvenile Delinquency” Perilaku jahat/dursila, atau kejahatan/kenakalan anakanak muda, merupakan gejala sakit (patologi) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial sehingga mereka itu mengembangkan bentuk pengabaian tingkah laku yang menyimpang. 59 Juvenile Delinquency merupakan istilah yang dalam bahasa Indonesia melahirkan berbagai macam istilah dengan latar belakang pemikiran sendiri-sendiri. Salah satu terjemahan Juvenile Delinquency adalah perilaku delinkuensi anak. Menurut Pasal 1 Huruf 2 Undang-Undang No.3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, terdapat dua kategori perilaku anak yang dapat membuat seorang anak berhadapan dengan hukum yakni status offences dan criminal offences. Status Offence adalah perilaku kenakalan anak yang apabila dilakukan oleh orang dewasa tidak dianggap sebagai kejahatan, seperti tidak menurut, membolos sekolah atau kabur dari rumah; sedangkan Criminal Offence adalah perilaku kenakalan anak yang apabila dilakukan

59

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 42


56

oleh orang dewasadianggap kejahatan atau pelanggaran hukum. 60

Namun terlalu ekstrim apabila tindak pidana yang dilakukan oleh anak-anak disebut dengan kejahatan, karena pada dasarnya anak-anak memiliki kondisi kejiwaan yang labil, proses kemantapan psikis menghasilkan sikap kritis, agresif dan menunjukkan tingkah laku yang cenderung bertindak mengganggu ketertiban umum. Hal ini belum dapat dikatakan sebagai kejahatan, melainkan kenakalan yang ditimbulkan akibat dari kondisi psikologis yang tidak seimbang dan si pelaku belum sadar dan mengerti atas tindakan yang telah dilakukannya. 61 Ada beberapa faktor penyebab yang paling mempengaruhi timbulnya kejahatan yang dilakukan anak, yaitu: 1) Faktor lingkungan 2) Faktor ekonomi/ sosial 3) Faktor psikologis Tindakan kenakalan yang dilakukan oleh anak-anak merupakan manifestasi dari kepuberan remaja tanpa ada maksud merugikan orang lain seperti yang diisyaratkan dalam suatu perbuatan kejahatan yang tercantum dalam Kitab Undang60

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 822 61

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 825


57

Undang Hukum Pidana (KUHP) dimana pelaku harus menyadari akibat dari perbuatannya itu serta pelaku mampu bertanggung jawab terhadap perbuatannya tersebut. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran diri dari orang tua anak yang bersangkutan bahwa anak juga berpotensi menjadi pelaku perbuatan terlarang menurut hukum yang berlaku. 62 2. Bentuk Tindak Pidana Anak Menurut Sudarsono, norma-norma hukum yang sering dilanggar oleh anak-anak remaja pada umumnya adalah Pasal – pasal tentang : a) Kejahatan – kejahatan kekerasan 1) Pembunuhan 2) Penganiayaan 3) Pemerkosaan 4) Pemukulan 5) Intimidasi b) Kejahatan terhadap suatu benda 1) Pencurian biasa 2) Pencurian dengan pemberatan c) Penggelapan 1) Penipuan 2) Pemerasan 3) Gelandangan

62

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal.832


58

4) Narkotika 63 Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, dinyatakan bahwa tindak pidana anak merupakan salah satu dari pelanggaran terhadap Pasal 489, 490, 492, 497, 503, 505, 514, 517, 518, 519, 526, 531, 532, 536, dan 540, yaitu: a) Pelanggaran keamanan umum, seperti: - Mabuk di muka umum dan merintangi lalu lintas, menganggu ketertiban, atau mengancam keamanan orang lain. - Menyebabkan kebakaran di muka umum. b) Melakukan pelanggaran terhadap ketertiban, meliputi: - Membuat kegaduhan, keramaian sehingga mengaganggu masyarakat. - Menggelandang. - Penadah. - Pemalsuan. - Perusakan informasi di muka umum. c) Melakukan pelanggaran kesusilaan, meliputi: - Menyanyikan lagu, berpidato, dan menyebarkan tulisan yang melangggar kesusilaan di muka umum. 64

63

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 843 64

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 856


59

G. Tinjauan Mengenai Penyidikan dalam Tindak Pidana 1. Definisi Penyidikan Definisi penyidikan seperti yang terkandung di dalam Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana Pasal 1 Ayat ( 2 ) dan UndangUndang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Pasal 1 Ayat ( 13 ) memuat pemahaman yang sama tentang penyidikan yaitu serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan cara yang diatur dalam undang-undang untuk mencari serta mengumpulkan barang bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. 65 Dalam sistem hukum Indonesia sesuai dengan UndangUndang RI Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana pada Pasal 6 Ayat ( 1 a ) disebutkan bahwa penyidik adalah pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. Kemudian Pasal 7 Ayat ( 1 g ) bahwa karena kewajibannya penyidik memiliki wewenang : a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana;

65

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 863


60

b. Melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian; c. Menyuruh berhenti seseorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka; d. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan; e. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat; f. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang; g. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; h. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara; i. Mengadakan penghentian penyidikan; j. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab 66 Selanjutnya di dalam Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana Pasal 10 Ayat ( 1 ) bahwa dalam melaksanakan kewenangannya penyidik di bantu oleh Penyidik pembantu. Kemudian Pasal 11 juga menyebutkan bahwa Penyidik pembantu memiliki wewenang seperti penyidik kecuali mengenai penahanan yang wajib diberikan dengan pelimpahan wewenang dari penyidik. 67

66

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 885 67

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 892


61

Berkaitan dengan tugas dan tanggung jawabnya yang mengacu kepada Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana, yang mana sesuai pula dengan ketentuan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, Polri sebagai penyidik tindak pidana berwenang untuk : a. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan; b. Melarang setiap orang meninggalakan atau memasuki tempat kejadian perkara untuk kepentingan penyidikan; c. Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka penyidikan; d. Menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri; e. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat; f. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; g. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; h. Mengadakan penghentian penyidikan; i. Menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum; j. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab. Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, untuk kepentingan penyidikan, pihak Kepolisian sebagai penyidik berwenang melakukan penangkapan yang selanjutnya


62

melakukan penahanan terhadap anak yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup. Bukti permulaan cukup adalah bukti yang berupa keterangan – keterangan dan data yang terkandung di dalam dua diantara : 1) Laporan Polisi. 2) B.A.P di Tempat Kejadian Perkara. 3) Keterangan saksi termasuk saksi ahli (visum Repertum). 4) Barang bukti.

et

2. Proses Penyidikan Terhadap Anak sebagai Pelaku Kejahatan Seperti halnya orang dewasa, anak sebagai pelaku tindak pidana juga akan mengalami proses hukum yang identik dengan orang dewasa yang melakukan tindak pidana, arti kata identik disini mengandung arti ”hampir sama”, yang berbeda hanya lama serta cara penanganannya. Lama penahanan pada tingkat penyidikan untuk anak – anak di tahap pertama adalah 7 (tujuh) hari dan jika proses penyidikan belum selesai dapat di perpanjang selama 8 (delapan) hari, jadi totalnya adalah 15 (lima belas) hari. Sedangkan untuk orang dewasa pada proses penyidikan tahanan dewasa untuk tahap pertama di tahan selama


63

20 (dua puluh) hari dan dapat di perpanjang paling lama 40 (empat) hari jadi totalnya adalah 60 (enam puluh) hari. 68 Di samping itu, penanganan oleh petugas Polri atau penyidik terhadap anak – anak tidak sama dengan penyidik untuk orang dewasa, hal ini di atur di dalam Pasal 26 Undang – undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Penangkapan dan penahanan terhadap anak pelaku kejahatan atau anak yang berhadapan dengan hukum diatur dalam Pasal 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, dan 40 Undang – undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak bahwa : Penangkapan anak yang berhadapan dengan hukum sama seperti penangkapan terhadap orang dewasa yang dilakukan sesuai dengan ketentuan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yaitu pada Pasal 19 dan penangkapan tersebut dilakukan guna kepentingan pemeriksaan untuk paling lama 1 ( satu ) hari. Penahanan tahap pertama terhadap anak yaitu dilakukan hanya berlaku paling lama 15 (dua puluh) hari dan apabila belum selesai, atas permintaan penyidik dapat diperpanjang oleh

68

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 53


64

penuntut umum yang berwenang untuk paling lama 5 (lima) hari. 69 Dalam waktu 15 (lima belas) hari, Polri sebagai penyidik tindak pidana sudah harus menyerahkan berkas perkara yang bersangkutan kepada Penuntut Umum. Apabila jangka waktu tersebut dilampaui dan berkas perkara belum diserahkan maka tersangka harus dikeluarkan dari tahanan demi hukum. Perbedaan antara penahanan terhadap anak dengan penahanan orang dewasa terletak di jangka waktu perpanjangan penahanan apabila proses penyidikan belum selesai. Jika anak – anak diperpanjang paling lama 8 (delapan) hari tapi jika orang dewasa dapat diperpanjang paling lama 40 (empat puluh) hari. Disamping itu penahanan terhadap anak dilaksanakan di tempat khusus untuk anak di lingkungan Rumah Tahanan Negara, Cabang Rumah Tahanan Negara atau di tempat tertentu. Pasal 27 Undang – undang Sistem Peradilan Pidana Anak menyebutkan bahwa penahanan dilakukan setelah dengan sungguh-sungguh mempertimbangkan kepentingan anak dan/atau kepentingan masyarakat. Alasan penahanan harus dinyatakan secara tegas dalam surat perintah penahanan. Tempat penahanan anak harus dipisahkan dari tempat tahanan orang

69

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 56


65

dewasa dan selama anak ditahan, kebutuhan jasmani, rohani serta sosial anak harus dipenuhi. 70 Proses penyidikan terhadap anak yang berhadapan dengan hukum yang diatur dalam Undang – undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, Pasal 26 ayat (1) dan (3) menetapkan bahwa : 1) Penyidikan terhadap perkara anak dilakukan oleh Penyidik yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia atau Pejabat lain yang ditunjuk oleh Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia. 2) Syarat untuk dapat ditetapkan sebagai penyidik sebaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : - Telah berpengalaman sebagai penyidik - Mempunyai minat, perhatian, dedikasi, dan memahami masalah anak, dan - Telah mengikuti pelatihan teknis tentang peradilan anak. 71 Selanjutnya, di dalam Pasal 18 dan Pasal 19 ayat (1) dan (2) Undang – undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak menetapkan bahwa :

70

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 62 71 Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 68


66

Pasal 18 “Dalam menangani perkara anak, anak korban, dan/atau anak saksi, pembimbing kemasyarakatan, pekerja sosial profesional dan tenaga kesejahteraan sosial, penyidik, penuntut umum, hakim, dan advokat atau pemberi bantuan hukum lainnya wajib memerhatikan kepentingan terbaik bagi anak dan mengusahakan suasana kekeluargaan tetap terpelihara.”

Pasal 19 1) Identitas anak, anak korban, dan/atau anak saksi wajib dirahasiakan dalam pemberitaan di media cetak ataupun elektronik 2) Identitas sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi nama anak, nama anak korban, nama anak saksi, nama orang tua, alamat, wajah dan hal lain dapat mengungkapkan jati diri anak, anak korban, dan/atau anak saksi.

H. Hambatan Dalam mewujudkan Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dalam Persidangan Serta Upaya-Upaya Untuk Menyelesaikan Hambatan Tersebut. Menurut keterangan IG.Eko Purwanto SH.M.Hum hakim di Pengadilan Negeri Kudus yang memeriksa perkara anak, hambatanhambatan yang dipandang sangat menghambat didalam proses persidangan guna mewujudkan pelindungan hukum terhadap anak memang dirasakan tidak ada. Hal ini


67

terlihat pada kenyataan bahwa setiap pemeriksaan tindak pidana anak dilakukan di Pengadilan Negeri Kudus selalu dapat diselesaikan dengan baik. Akan tetapi dalam pemeriksaan perkara anak selalu muncul adanya beberapa hambatan dalam upaya pemberian perlindungan anak, hal ini didasarkan pada pengalaman hakim yang memeriksa perkara anak (wawancara dengan IG.Eko Purwanto SH.M.Hum) hambatan-hambatan tersebut antara lain:72 a. Pengetahuan anak mengenai masalah hukum masih terbatas Suatu yang wajar jika seorang anak masih buta dan awam terhadap masalah hukum, dengan keadaan tersebut menyebabkan upaya perlindungan hukum terhadap anak mengalami kendala. Keterbatasan pengetahuan anak mengenai masalah hukum tentunya menyebabkan anak menjadi tidak tahu tentang apa yang sebenarnya menjadi hak-haknya. Keterbatsan tersebut juga menyebabkan anak lebih bersikap pasrah pada saat diperiksa, anak merasa dengan telah melakukan tindak pidana dirinya sepenuhnya bersalah. 73 Rasa bersalah tersebut menyebabkan anak memfonis dirinya sendiri bahwa ia layak dan pantas menerima segala yang dijatuhkan kepadanya, hal tersebut sering terlihat dalam pemeriksaan terhadap anak yang melakukan tindak pidana. Situasi yang demikian ini sangat rentan terhadap perlakukan semena-mena terhadap anak, apabila hal tersebut terjadi, 72

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 74 73 Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 77


68

tentunya menandakan bahwa perlindugan hukum terhadap anak khususunya dalam proses pengadilan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Yang terjadi hak-hak anak sering diabaikan dan tidak dijamin pelaksanaanya. Dalam tingkat pemeriksaan, anak justru berhak mendapat penjelasan dan bantuan hukum guna kepentingan pemeriksaan perkaranya. Anak diharapkan dapat mengetahui masalah hukum yang sedang dialaminya, anak juga diharapkan mengetahui akan hak-haknya sehingga ia dapat menuntut hakhaknya untuk dilaksanakan. Namun demikian, pelaksanaan perlindungan hukum terhadap anak juga merupakan kewajiban dari para pejabat penegak hukum seperti penyidik, penuntut umum, dan hakim yang berperan dalam pemeriksaan perkara anak. Mengingat ciri dan sifat anak yang khas dan demi perlindungan terhadap anak maka ada baiknya para penegak hukum juga turut berperan dalam mewujudkan perlindungan hak-hak anak didalam hukum.74 Dalam melaksanakan perannya tersebut, hakim pengadilan Negeri Kudus mengalami hambatan dengan adanya kendala terbatasnya pengetahuan.anak dibidang hukum. Keadaan anak tersebut, tentunya menyebabkan anak menjadi terbatas pula pengetahuanya mengenai apa yang menjadi haknya, anak sering menjadi tidak mengerti apa yang harus ia perbuat. Apalagi yang sering terjadi terdakwa anak tidak didampingi oleh penasehat hukum, tentunya anak yang berperkara tersebut tidak dapat mengajukan pembelaan terhadap 74

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 80


69

tuntutan yang diajukan penuntut umum, mengajukan saksi-saksi yang nantinya dapat menguntungkan dirinya atau mengajukan upaya hukum atas putusan yang dijatuhkan kepadanya, pendapat tersebut dibenarkan oleh Bapak Zulkarnaen SH hakim Pengadilan Negeri Kudus (sesi wawancara). Itu semua dapat terjadi, maka dengan sendirinya anak tidak melaksanakan apa yang menjadi haknya. Dengan demikian, tentunya usaha untuk menjamin terlaksananya hak-hak anak dan terlaksananya perlindungan hokum terhadap anak menjadi terhambat. b. Anak Tidak Didampingi oleh Penasehat Hukum Ketiadaan penasehat hukum yang dapat mendampingi terdakwa didalam proses pengadilan disebabkan bukan tidak ada seorangpun penasehat hukum, akan tetapi disebabkan anak memang tidak mau untuk didampingi oleh penasehat hukum dan ia lebih memilih untuk menghadapi perkaranya sendiri. Sebagai contoh adalah perkara No 208/Pid.B/2007/PN .Kds atas nama Muh Yulianto bin Masdi dimana hakim telah menawarkan untuk didampingi oleh penasehat hokum tetapi terdakwa menolak. Kendala kedua ini dirasakan oleh hakim Pengadilan Negeri Kudus sebagai suatu yang sangat menghambat terlaksananya proses perlindungan hukum terhadap anak yang sedang berperkara di muka persidangan. 75 Kehadiran penasehat hukum dalam suatu pemeriksaan dalam proses pengadilan mempunyai fungsi membela kepentingan hokum terdakwa di persidangan. Ia berperan aktif dalam rangka mengungkapkan kebenaran materiil terhadap 75

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 82


70

perkara terdakwa. Hadirnya penasehat hukum yang mendampingi terdakwa akan sangat membantu tugas hakim dalam menjamin terlaksananya perlindungan hukum terhadap anak. Penasehat hukum sebagai seorang yang mempunyai atau mengerti masalah hukum akan menutup kekurangan anak yang pada dasarnya masih terbatas pengetahuannya mengenai masalah hukum. Penasehat hukum bisa memberikan penjelasan mengenai masalah hukum dan dapat pula pelaksana hak-hak terdakwa. Namun hal tersebut tidak akan terjadi manakala anak tidak didampingi oleh penasehat hukum. Di Pengadilan Negeri Kudus , dalam pemeriksaan perkara anak dipersidangan lebih dari satu kali dijumpai bahwa anak tidak mau didampingi oleh penasehat hukum. Dengan demikian maka Hakim di Pengadilan Negeri Kudus sering mengalami kesulitan dalam menjamin dan melindungi usaha pelaksanaan hak-hak anak sebagai terdakwa.76 Dalam menangani setiap kasus disatu sisi hakim meminta dan menawarkan kepada terdakwa untuk melaksanakan haknya sebagai wujud usaha tersebut. Namun disisi lain, anak yang tidak didampingi oleh penasehat hukum dan terbatas pengetahuanya mengenai masalah hukum mengalami kesulitan untuk dapat melaksanakan hak-haknya. Pihak penuntut umum dengan lancarnya mengajukan dakwaan, tuntutan, replik, dan pertanyaan kepada para saksi yang diajukan. Namun sebaliknya, pihak terdakwa yang sebetulnya mempunyai kesempatan yang sama tidak dapat berbuat apa-apa

76

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 85


71

dan lebih cenderung bersikap pasrah terhadap putusan yang dijatuhkan oleh hakim. 77 Ada kalanya anak menyampaikan pembelaan secara lisan itu saja karena hakim memberikan penjelasan kepadanya terlebih dahulu, namun yang dirasakan oleh hakim dari pengalaman yang terjadi dalam praktek pengadilan, isi dari pembelaan yang mereka sampaikan cenderung merupakan suatu ungkapan penjelasan dan meminta kepada hakim untuk menghukum mereka dengan hukuman yang seringan mungkin berkaitan dengan keadaan dirinya. Tentunya hal demikian akan menjadi kesulitan bagi hakim dalam melaksanakan perlindungan hukum terhadap anak yang berperkara pidana didalam suatu proses pengadilan. c. Kurangnya Perhatian organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan mengenai tindak pidana anak. Dewasa ini lembaga-lembaga kemasyarakatan dirasa kurang turut berperan dalam membina anak yang berperkara secara pidana, terutama organisasi yang berada ditingkat desa, hal ini dipandang oleh hakim Pengadilan Negeri Kudus merupakan salah satu contoh penghambat untuk melakukan pembinaan terhadap anak. Organisasiorganisasi sosial kemasyarakatan dirasa sangat potensial untuk melakukan penaggulangan suatu tindak pidana anak sehingga anak tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan dirinya dan masyarakat. Dengan melibatkan

77

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 88


72

anak dalam suatu kegiatan tentunya akan mengarahkan anak untuk melakukan tindakan positif. 78 Mengingat bahwa hambatan-hambantan yang muncul merupakan fakta dari anak atau terdakwa sendiri, bukan berarti tiada upaya di Pengadilan Negeri Kudus untuk mengatasi hambatan tersebut, sebagai wujud dari kewajiban terhadap perlindungan dan pembinaan terhadap anak Pengadilan Negeri Kudus dalam upaya mewujudkan pelaksanaan perlindungan hukum terhadap anak yang berperkara dengan tindak pidana hakim mengupayakan suatu usaha mengatasi hambatanhambatan tersebut, adapun upaya-upaya yang ditempuh untuk mengatasi hambatan –hambatan tersebut adalah: 1) Berkaitan dengan hambatan mengenai masalah keterbatasan anak tentang masalah hukum, maka ditempuh suatu usaha dengan memberikan sedikit banyak penjelasan kepada anak mengenai masalah hukum. Keterangan yang dapat diberikan kepada anak jalanya proses persidangan dan permasalahan hukum mengenai perkara anak. Penjelasan tersebut diberikan setiap kali diadakan pemeriksaan atau persidangan, tentunya sebatas apa yang akan dilaksanakan dalam sidang saat itu. Penjelasan itu diharapkan mampu memberikan tambahan pengetahuan, penerangan atau arahan mengenai permasalahan hukum yang sedang dialaminya. Dengan demikian anak dapat mengikuti jalanya persidangan dengan mengetahui permasalahan hukum 78

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 93


73

yang dihadapinya. Memberikan penjelasan kepada anak bukan merupakan suatu hal yang mudah, mengingat masih terbatas pengetahuannya mengenai hukum serta kemampuan anak untuk menangkap dan memahami suatu materi yang diberikan terbatas pula terutama mengenai hal-hal yang baru baginya. 79 Akan hal ini diperlukan kejelian bagi seorang hakim untuk memberikan penjelasan. Penjelasan tersebut harus dalam bahasa yang bisa dimengerti oleh anak dan sesuai dengan tingkat kemampuan anak, demikian pula dalam menyampaikan apa yang menjadi hak anak dalam persidangan, penyampaianya juga harus tepat mengingat tingkat kemampuan anak, sehingga anak dapat mengerti apa saja yang menjadi haknya serta dapat melaksanakan haknya.80 2) Hambatan kedua yang dihadapi adalah dalam pemeriksaan di depan persidangan tidak didampingi oleh penasehat hukum. Alasan siding tidak didampingi oleh penasehat hukum karena anak memang tidak mau untuk didampingi oleh penasehat hukum dan lebih memllih untuk menghadapi perkaranya sendiri. Melihat alasan ini mengapa anak tidak mau untuk didampingi oleh penasehat hukum maka upaya untuk mengatasi hambatan tersebut ditempuh dengan cara memberikan pelayanan cuma-cuma kepada terdakwa untuk melaksanakannya. 79

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal.97 80 Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 122


74

Pengadilan Negeri Kudus bekerja sama dengan lembagalembaga bantuan hukum serta dengan beberapa kantor bantuan hukum untuk mewujudkan terlaksananya perlindungan hukum terhadap anak yang berperkara di sidang pengadilan. Hal ini dilakukan sepenuhnya semata-mata untuk kepentingan si anak yang memang berhak mendapat bantuan hukum. Namun bila si anak menginginkan untuk tidak didampingi oleh penasehat hukum dan pihak Pengadilan sudah menawarkan bantuan hukum secara prodeo , tetapi si terdakwa anak tetap tidak mau dan ingin menghadapi perkaranya sendiri, untuk kepentingan tersebut, hakim tetap memberikan kebebasan bagi anak dan semua keputusan diberikan kepada anak yang berperkara. Namun dalam hal anak yang diancam pidana lebih dari lima tahun sesuai pasal 56 ayat (1) KUHAP, pelaku yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses pengadilan wajib didampingi dan menunjuk penasehat hukum bagi terdakwa. Apabila dalam hal ini terdakwa tetap ingin menghadapi perkaranya sendiri tanpa didampingi oleh penasehat hukum, Pengadilan meminta kepada terdakwa untuk membuat surat pernyataan bermaterai yang menyatakan bahwa terdakwa tidak didampingi oleh penasehat hukum dan ingin menghadapi sendiri perkaranya di sidang pengadilan. Surat pernyataan bermaterai tersebut kemudian ditanda tangani oleh terdakwa. 81 81

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 123


75

Dalam hal ini hakim berpendapat bahwa tanpa didampingi oleh penasehat hukum bukan berarti bahwa hak-hak anak menjadi lebih berkurang. Dalam setiap pemeriksaan hakim selalu memberikan kesempatan kepada anak yang berperkara untuk melaksanakan hakhaknya, hal ini dilakukan untuk kepentingan anak sendiri, walaupun tidak bisa berjalan dengan maksimal setidaknya hakim di Pengadilan Negeri Kudus selalu menekankan dan memberikan penjelasan mengenai hak anak disetiap pemeriksaan. Semua hal tersebut dilakukan untuk menjamin terlaksananya hak-hak anak sebagai terdakwa guna perlindungan hukum terhadap anak sebagai terdakwa dalam setiap proses pengadilan.82 3) Untuk kepentingan dalam usaha pembinaan anak, Pengadilan Negeri Kudus berkerjasama dengan organisasi-organisasi sosial yang bergerak dibidang sosial dan pendidikan mengadakan suatu usaha pembinaan terhadap terdakwa anak, kerjasama tersebut bertujuan untuk membina anak dan untuk mencegah agar anak tidak mengulangi perbuatanya lagi yaitu melakukan tindak pdana. Dalam hal ini Pengadilan Negeri Kudus juga bekerjasama dengan pondok pesantren yang diharapkan anak memperoleh pembinan khusus dibidang kerohaniannya. Disamping itu terdakwa yang masih berstatus sebagai pelajar atau siswa dari suatu sekolah , 82

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 125


76

Pengadilan juga menjalin kerjasama dengan pihak sekolah. Kerjasama tersebut bertujuan menjamin anak tetap dapat memperoleh pendidikan dan sekolah anak masih tetap berlanjut, karena bagaimanapun juga anak adalah harapan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Dalam teori obyektivitimenya Kung Sung Yang. 83 John Locke, Emile Durkhem, Linton dan Kardiner, David dan Sneyder ( Ahmadi. 2002;40 ) bahwa individu dalam hal ini anak hanya sebagai subyek masyarakat yang baik buruknya ditentukan oleh faktor sosiologis yakni segala sesuatu yang terjadi dimasyarakat sebagai pengalaman sekaligus ajaran . Bahkan Arif Gosita dalam disertasinya mengemukakan sanks alternatif sebagai pennganti pidana penjara karena pidana penjara adalah bentuk perwujudan perlindungan hukum yang semu.( Gosita)84 I. Pendapat Hakim mengenai pelaksanaan perlindungan hukum terhadap anak di Pengadilan Negeri Kudus. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan hakim IG.Eko Purwanto SH. M.Hum bahwa pelaksanaan perlindungan hukum bagi anak yang melakukan tindak pidana di Pengadilan Negeri Kudus dapat berupa : memperlakukan anak secara manusiawi, menyediakan sarana dan prasarana khusus. Pelaksanaan tersebut didasarkan 83

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 126 84 Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 128


77

pada Undang-undang perlindungan anak, tetapi hal tersebut dapat ditambahkan misalnya usia anak yang masih relatif muda dan masa depan anak dikemudian hari. Perlindungan tersebut akan terlihat nyata dan dapat anda temui dalam proses pengadilan anak. Saya berikan contoh yang dapat anda pelajari yaitu kasus Mh Yulianto bin Masdi yaitu perkara yang saya tangani. (wawancara dg IG. Eko Purwanto SH. M.Hum)85 Perlindungan hukum yang nampak dalam pemeriksaan pekara tersebut diantaranya: 1) Pemeriksaan dilaksanakan dalam sidang yang tertutup untuk umum 2) Disidangkan oleh hakim anak 3) Pemeriksaan saksi dihadiri oleh terdakwa 4) Putusan hakim tidak selalu didasarkan atas pertimbangan hasil penelitian kemasyarakatan.86 Bahwa pemeriksaan tindak pidana tersebut dilaksanakan berdasarkan ketentuan Undang-undang nomor 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Sebelum dilaksanakan sidang pemeriksaan hakim terlebih dahulu membaca laporan hasil penelitian kemasyarakatan dan pemeriksan tersebut disidangkan oleh hakim anak. Dalam hal pemeriksaan saksi-saksi hakim Pengadilan Negeri Kudus lebih memilih untuk menghadirkan terdakwa, hal ini didasarkan penilaian hakim mengenai kondisi kejiwaan anak, 85

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 20 06, Semarang, hal. 132 86 Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 123


78

kehadiran terdakwa akan memudahkan untuk menangkal setiap keterangan saksi yang dianggapnya tidak benar. Hakim dalam mengambil keputusan selain didasarkan atas berat ringannya tindak pidana yang dilakukan, peristiwa yang terjadi dalam persidangan juga didasarkan atas laporan hasil penelitian kemasyarakatan. 87 Dalam melakukan pemidanaan terhadap tindak pidana anak hakim tetap memperhatikan segala suatu yang terbaik bagi anak, yang terbaik bukan berarti membebaskan terdakwa akan tetapi memberikan putusan sesuai dengan tingkat kesalahan anak, sehingga anak dapat berfikir menghadapi masa depan yang lebih baik dan bertanggung jawab. Hambatan-hambatan dalam pelaksanaan perlindungan hokum terhadap anak diantaranya : anak tidak didampingi oleh penasehat hukum, pengetahuan anak yang masih terbatas mengenai masalah hukum dan kurangnya perhatian masyarakat ataupun lembaga – lembaga social terhadap pelaku tindak pidana anak. Adapun upaya dalam mengatasi hambatan tersebut adalah dengan jalan memberikan pengarahan kepada anak yang berperkara hali ini dilakukan pada saat sidang pemeriksaan seta merangkul lembaga-lembaga sosial ataupun lembaga bantuan hukum untuk membantu anak yang sedang atau telah berurusan dengan hukum. 88

87

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal.124 88 Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 132


79

Ada sedikit tambahan yang penulis sampaikan, pada saat mencoba mewawancarai seorang Hakim lainya yaitu Wahid Usman SH.MH dimana dalam wawancara tersebut Wahid Usman SH.MH menjelaskan mengenai pengangkatan seorang Hakim Anak, dari ungkapan beliau bias disimpulkan bahwa selain berdasarkan surat keputusan dari Ketua Mahkamah Agung, untuk bisa menjadi seorang Hakim Anak jua harus memiliki pengalaman sebagai Hakim di lingkunan Peradilan Umum serta mempunyai minat, perhatian dedikasi, dan memahami masalah anak. 89 Menurut pengalaman beliau tidak semua persyaratanpersyaratan tersebut dimiliki oleh seorang calon Hakim Anak. Seorang Hakim Anak meskipun telah mendpat surat keputusan dari Ketua Mahkamah Agung atas usul katua Pengadilan Negeri yang bersangkutan melalui ketua Penadilan Tinggi. Menurut pengamatan beliau pengangkatan seorang Hakim Anak bisa dibilang sekedar formalitas saja, mengenai syarat untuk bisa menjadi seorang Hakim Anak tidak semuanya memahami masalah anak. Pengangkatan seorang untuk menjadi Hakim Anak hanya karena factor masih kurangnya Hakim Anak, jadi pengangkatan tersebut kurang sesuai dengan regulasi yang ada yaitu pasal 10 tahun 1997 Undang-Undang Peradilan Anak. J. Pendapat Pengacara mengenai pelaksanaan pelindungan hukum terhadap anak dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri Kudus.

89

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 133


80

Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Nur Selamet SH seorang pengacara. Pada prinsipnya karena anak masih dalam taraf perkembangan maka masih membutuhkan pembinaan baik dari orang tua maupun masyarakat. Berhubungan dengan perlindungan hukum terhadap anak yang melakukan tindak pidana maka anak wajib memperoleh perlindungan ukum sesuai dengan ketentuan pasal 64 angka (2) Undangundang Perlindungan Anak, perlindungan tersebut berupa : 1. Perlakuan atas anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan hak-hak anak; 2. Penyediaan petugas pendamping kusus anak sejak dini; 3. Penyediaan sarana dan prasarana kusus; 4. Penjatuhan sanksi yang tepat untuk kepentingan yang terbaik bagi anak; 5. Pemantauan dan pencatatan terus menerus terhadap perkembangan anak yang berhadapan dengan hukum; 6. Memberikan jaminan untuk mempertahankan hubungan dengan orang tua atau keluarga dan; 7. Perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan untuk menghindari labelisasi Tetapi saya menyadari ada beberapa hal yang tidak dapat dilaksanakan oleh Pengadilan karena terbentur sarana dan prasarana yang dimiliki maupun faktor lain, misalnya pemberitaan media massa, dewasa ini sulit untuk mencegah hal tersebut karena arus demokrasi, media massa dapat memberitakan hal-hal yang seharusnya tidak boleh diberitakan Beberapa perlindungan hukum yang dapat dilihat pada saat proses persidangan di Pengadilan Negeri Kudus diantarnya:


81

adanya laporan pembimbing kemasyarakatn, disidangkan oleh hakim anak, sidang tertutup untuk umum dan lain sebagainya.90 Sehubungan dengan tindak pidana yang anda jadikan contoh penelitian, dan setelah membaca uraian perkara tersebut kami berpendapat bahwa Pengadilan Negeri Kudus sudah memberiakn perlindungan hukum sesuai dengan ketentuanketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bahwa berat ringannya putusan hakim didasarkan atas keyakinan hakim dengan berdasar pada kasus perkasus (incaso). Dan saya yakin semua putusan yang diambil merupakan sesuatu yang terbaik bagi anak . J. Pendapat Anak tentang perlindungan Pengadilan Negeri Kudus.

hukum di

Berdasarkan hasil wawancara dengan terdakwa yaitu Muh Yulianto bin Masdi, selama diproses di Pengadilan Negeri Kudus terdakwa ditempatkan dalam tahanan yang terpisah dengan orang dewasa dan mendapat perlakuan yang wajar, bahkan kalau tiba waktunya untuk melaksanakan sholat terdakwa dipersilahkan untuk melakukan ibadah terlebih dahulu. Dalam pemeriksaan di Pengadilan Negeri Kudus terdakwa didampingi oleh orang tua dan hakim yang memeriksa menggunakan pakaian biasa tidak memakai toga dan selama

90

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponego ro, 2006, Semarang, hal. 138


82

proses persidangan tidak dilihat oleh orang banyak layaknya proses pemeriksaan orang dewasa.91 Ketika penulis bertanya mengenai perlindungan hukum dengan polosnya terdakwa menjawab ”tidak tahu”. Menurut orang tua korban yang turut mendampingi, bahwa keluarganya tidak tahu masalah hukum dan dia merasa berterima kasih kepada hakim Pengadilan Negeri Kudus yang memfonis anaknya 5 (lima) bulan dimana lebih ringan jika tunutan yang diajukan oleh jaksa penuntut umum yaitu 7 (tujuh) bulan.

91

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006, Semarang, hal. 145


83


BAB III METODE PENELITIAN Perlindungan terhadap anak yang berkonflik dengan hukum menjadi suatu kajian yang tiada hentinya dilakukan dengan berbagai upaya, mulai dari mengadopsi Konvensi Hak Anak menjadi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 201 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, hingga merubah Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang mulai berlaku efektif Agustus 2014. Hal ini ditujukan untuk merubah paradigma hukum pidana terhadap anak dengan jala memberi ruang dan kesempatan bagi anak-anak untuk dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan apa yang dicitacitakannya. Tingkat pengawasan yang lemah yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan mampu merubah perilak anak dari yang baik menjadi nakal, sementara tindakan nakal tersebut, tidak serta merta menjadi kesalahan anak, terdapat tanggungjawab keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, pidana bagi anak yang berkonflik dengan hukum harus dibedakan proses dan penanganannya sebagai upaya penyelamatan masa depan dan sebagai tanggungjawab negara yang menjamin hak-hak anak agar dapat terpenuhi untuk tumbuh dan berkembang Pada bab ini akan diuraikan tentang beberapa masalah perlindungan hukum terhadap anak yang bermasalah dengan hukum, sehingga akan didapatkan suatu konstruksi hukum, dimana perlindungan anak yang berhadapan dengan hukum harus mendapatkan perhatian

84


85

serius, sehingga hukum yang dibentuk dapat bermanfaat bagi anak tersebut. A. Upaya Perlindungan Hukum terhadap Anak sebagai Pelaku Tindak Pidana Kekerasan Anak di tingkat Penyidikan. Hasil penelitian pada unit PPA Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resort Tangerang sejak diberlakukannya Undang – Undang Sistem Peradilan Pidana Anak Nomor 11 tahun 2012 yaitu tanggal 31 Juli 2014 sampai dengan tahun 2017, terdapat sejumlah laporan polisi yang masuk merupakan tindak pidana kekerasan fisik yang melibatkan Anak, antara lain :

Tabel 1.1 Laporan Tindak Pidana Kekerasan Anak Di Kepolisian Resort Tangerang No.

Tahun

Laporan Fisik

1

2014

10 laporan

2

2015

12 laporan

3

2016

9 laporan

4

2017

12 laporan

Jumlah 43 laporan

Kekerasan


86

ketentuan dalam Undang-undang dengan ancaman pidana terendah sebagaimana dapat dilihat dari data dibawah ini : Tabel 1.2 No

Tahun

1

2014

Penangkapan dan Penggeledahan Didepan Umum 2 Pelaku anak

Tidak Ditahan

Diversi

2

2015

2 Pelaku anak

10 Pelaku anak

10 Pelaku anak

3

2016

1 Pelaku anak

9 Pelaku anak

9 Pelaku anak

4

2017

3 Pelaku anak

13 Pelaku anak

11 Pelaku anak

8 Pelaku anak

39 Pelaku anak

38 Pelaku anak

9 Pelaku anak

8 Pelaku anak

Sumber : Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kepolisian Resort Tangerang. 92 Perkara pidana yang dilakukan oleh anak-anak pada umumnya ketentuan yang dilanggar adalah peraturan pidana yang terdapat dalam Kitab Undang – Undang Hukum Pidana (KUHP), maka penyidikannya dilakukan oleh penyidik umum dalam hal ini penyidik Polri. Sejalan akan diberlakukannya Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak, telah dipertegas bahwa penyidikan terhadap perkara anak nakal dilakukan oleh penyidik Polri dengan dasar hukum Pasal 26 ayat (1) Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan yang 92

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 325


87

pada intinya menyebutkan bahwa ”penyidikan terhadap perkara anak dilakukan oleh penyidik yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kepolisian RI atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Kapolri”. 93 Meskipun penyidiknya penyidik Polri, akan tetapi tidak semua penyidik Polri dapat melakukan penyidikan terhadap perkara anak nakal. Undang – Undang Sistem Peradilan Pidana Anak dikenal adanya penyidik anak, yang berwenang melakukan penyidikan. Penyidik anak diangkat oleh Kapolri dengan Surat Keputusan Khusus untuk kepentingan tersebut. Undang - Undang Sistem Peradilan Pidana Anak melalui Pasal 26 Ayat (3) menetapkan syarat – syarat yang harus dipenuhi oleh seorang Penyidik adalah: 1. Telah berpengalaman sebagai penyidik. 2. Mempunyai minat, perhatian, dedikasi dan memahami masalah anak. 3. Telah mengikuti pelatihan teknis tentang peradilan Anak. Perlindungan hukum terhadap anak dalam proses peradilan dilakukan dimulai semenjak tingkat penyelidikan, penyidikan, penuntutan, pemeriksaan di sidang pengadilan sampai pada pelaksanaan putusan pengadilan tersebut. Selama proses peradilan tersebut , maka hak-hak anak wajib dilindungi oleh hukum yang berlaku dan oleh sebab itu harus dilakukan secara konsekuen oleh pihak-pihak terkait dengan penyelesaian masalah anak nakal tersebut. 93

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 328


88

Penyidikan itu sendiri, berarti serangkaian tindakan penyidik, dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam Undang – Undang ini untuk mencari dan mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya, sedangkan bukti, dalam ketentuan tersebut di atas adalah meliputi alat bukti yang sah dan benda sitaan/barang bukti. Kewenangan dan ketentuan mengenai penyidikan diatur di dalam Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana yang menjadi dasar hukum pidana formil di Indonesia. Penyidikan terhadap anak tersebut haruslah dalam suasana kekeluargaan sebagaimana diatur dalam Pasal 18 Undang – Undang RI Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak menetapkan bahwa : Dalam menangani perkara Anak, Anak Korban, dan/atau Anak Saksi, Pembimbing Kemasyarakatan, Pekerja Sosial Profesional dan Tenaga Kesejahteraan Sosial, Penyidik, Penuntut Umum, Hakim, dan Advokat atau pemberi bantuan hukum lainnya wajib memperhatikan kepentingan terbaik bagi Anak dan mengusahakan suasana kekeluargaan tetap terpelihara. Menurut Aiptu Hasmawati Hamzah, ketetapan ini menghendaki bahwa pemeriksaan dilakukan dengan pendekatan secara efektif dan simpatik.23 Efektif dapat diartikan, bahwa pemeriksaannya tidak memakan waktu lama, dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, dan dapat mengajak tersangka memberikan keterangan yang sejelasjelasnya. Simpatik maksudnya pada waktu pemeriksaan, penyidik bersikap sopan dan ramah serta tidak menakut – nakuti


89

tersangka. Tujuannya adalah agar pemeriksan berjalan dengan lancar, dikarenakan seorang anak yang merasa takut sewaktu menghadapi penyidik, akan mengalami kesulitan untuk mengungkapkan keterangan yang benar dan sejelas-jelasnya. Aiptu Hasmawati Hamzah juga menambahkan, pada waktu pemeriksaan tersangka, penyidik tidak memakai pakaian seragam dan hanya memakai pakaian yang sopan, dikarenakan seorang anak juga dapat tertekan ketika melihat seragam Polisi. 94

Bentuk perlindungan hukum terhadap pelaku anak pada tahap penyidikan selanjutnya ialah, wajib dirahasiakan yang sesuai dengan aturan Pasal 19 ayat (1) Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Tindakan penyidik berupa penangkapan, penahanan, dan tindakan lain yang dilakukan mulai dari tahap penyelidikan hingga tahap penyidikan, wajib dilakukan secara rahasia. 95 Secara garis besarnya tugas – tugas penyidikan terdiri dari tugas menjalankan operasi lapangan dan tugas administrasi hukum. Berdasarkan Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, terdapat tugas-tugas penyidik yang berhubungan dengan tugas yang meliputi : 1. Penangkapan Mengenai tindakan penangkapan diatur dalam ketentuan-ketentuan KUHAP. Berdasarkan Pasal 16 KUHAP 94

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 325 95 Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 330


90

dapat diketahui bahwa tujuan penangkapan tersangka ialah untuk kepentingan penyelidikan dan kepentingan penyidikan. Perintah penangkapan dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti yang cukup (Pasal 17 KUHAP). Pelaksana tugas penangkapan dilakukan oleh petugas kepolisian Negara RI, dengan memperlihatkan surat tugas dan memberikan kepada tersangka surat–surat perintah penangkapan yang mencantumkan identitas tersangka. Menyatakan alasan penangkapan, dan uraian singkat perkara kejahatan yang dipersangkakan,serta mengemukakan tempat tersangka diperiksa (Pasal 18 KUHAP). Pengertian penangkapan berdasarkan KUHAP Pasal 1 butir (20) menetapkan bahwa: “Penangkapan adalah suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan penyidikan atau penuntutan dan atau peradilan dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini”. Wewenang penangkapan dalam menangani anak yang berhadapan dengan hukum harus pula memperhatikan asas hukum pidana yaitu Presumsion Of Innocence ( Asas Praduga Tak Bersalah). Dalam melakukan penangkapan diperhatikan hak - hak anak sebagai tersangka, seperti hak mendapat bantuan hukum pada setiap tingkat pemeriksaan menurut tata cara yang ditentukan oleh undang-undang (Pasal 54 KUHAP). KUHAP tidak mengatur secara tegas bukti cukup atau tidak. Hal ini tidak mencerminkan perlindungan hukum terhadap anak, oleh karena itu, perlu diatur secara tegas dalam KUHAP yang berlaku secara khusus untuk anak.


91

Kedudukan anak dalam proses pemeriksaan penyidikan terdapat nuansa yang menimbulkan hak-hak anak secara khusus yang dapat mengesampingkan upaya paksa dan tindakan paksa dari proses penyidikan. Kontak awal antara anak dan polisi harus dihindarkan dalam suasana kekerasan fisik dan psikis sehingga dalam proses penyidikan terdapat hak-hak anak yang meliputi : 1. Terhadap keluarga anak sebagai tersangka wajib diberitahukan terlebih dahulu baik melalui surat maupun lisan sebelum proses penangkapan dilakukan. 2. Penangkapan terhadap anak tidak dibolehkan dengan menggunakan alat atau senjata upaya paksa atau wewenang paksa. 3. Tersangka anak haru segera mendapat bantuan hukum secara wajib dan cuma – cuma (dalam penangkapan penyidik penuntut umum harus mengikutsertakan seorang pengacara yang kelak akan menjadi penasehat hukum anak tersebut). 4. Tersangka anak atau orang belum dewasa harus segera mendapatkan proses pemeriksaan. 5. Hak untuk mendapatkan ganti kerugian sebagai akibat dari kesalahan. 2. Penahanan Setelah tindakan penangkapan, dapat dilakukan tindakan penahanan. Berdasarkan Pasal 1 ayat 21 KUHAP menetapkan bahwa : “Penahanan adalah penempatan tersangka atau terdakwa di tempat tertentu oleh penyidik, atau penuntut umum atau hakim


92

dengan penetapannya, dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini”. 96 Berdasarkan wewenang tersebut maka setiap instansi penegak hukum memiliki wewenang untuk melakukan penahanan. Penahanan oleh penyidik anak atau penuntut umum anak atau hakim anak dengan penetapan, dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang No.11 tahun 2012 dan KUHAP, menentukan bahwa tersangka atau terdakwa dapat ditahan. Dikarenakan adanya istilah “dapat” ditahan, berarti penahanan anak tidak selalu harus dilakukan, sehingga dalam hal ini penyidik diharap betul-betul mempertimbangkan apabila melakukan penahanan anak. Menurut Pasal 21 ayat (1) KUHAP, alasan penahanan adalah dikarenakan ada kehawatiran melarikan diri, agar tidak merusak atau menghilangkan barang bukti, agar tidak mengulangi tindak pidana. Menurut hukum acara pidana, menghilangkan kemerdekaan seseorang tidak merupakan keharusan, tetapi untuk mencari kebenaran bahwa seseorang melanggar hukum, kemerdekaan seseorang itu dibatasi dengan melakukan penangkapan dan penahanan. Maka dari itu, Penahanan Anak harus memperhatikan kepentingan yang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan anak baik fisik, mental, maupun sosial anak serta mempertimbangkan kepentingan masyarakat misalnya dengan ditahannya anak akan membuat masyarakat aman dan tentram. 97

96

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 331 97 Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 331


93

Tempat penahanan anak, harus dipisah dari tempat penahanan orang dewasa dan selama anak ditahan, kebutuhan jasmani, rohani, dan sosial anak harus tetap dipenuhi berdasarkan Pasal 33 ayat (4) dan ayat (5) Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Penahanan anak ditempatkan lembaga penempatan anak sementara (LPAS) atau lembaga Penyelenggaraan kesejahteraan social (LPKS) apabila belum terdapat (LPAS), tempatnya terpisah dari narapidana anak. Hal ini dilatar belakangi oleh pertimbangan psikologis, untuk menghindari akibat negatif sebab anak yang ditahan belum tentu terbukti melakukan kenakalan, bergaul dengan narapidana anak, dikhawatirkan dapat menularkan pengalaman-pengalamannya kepada anak yang berstatus tahanan, dan mempengaruhi perkembangan mentalnya. Dalam praktek, diketahui bahwa tahanan anak digabung dengan orang dewasa, dengan alasan bahwa tempat penahanan di lembaga pemasyarakatan orang dewasa belum penuh. 98 Hal ini sangat berbahaya dan tidak mencerminkan perlindungan anak. Narapidana anak dan tahanan anak, berpengaruh dengan sikap dan tindakan tahanan dewasa. Anak bisa saja mengetahui pengalaman-pengalaman melakukan kejahatan yang belum pernah didengar dan dilakukannya, atau bahkan anak dapat menjadi korban pelecehan seksual selama berada dalam tahanan Penyidikan dalam hal ini tindak pidana kekerasan fisik yang merupakan termasuk tindak pidana ringan, memang sangat dimungkinkan untuk melakukan upaya diversi, 98

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 412


94

termasuk juga menghentikannya berdasarkan Pasal 109 ayat (2) KUHAP. Adapun alasan pemberian wewenang penghentian penyidikan ada dua yaitu ; 1. Untuk menegakan prinsip penegakan hokum yang cepat, tepat, dan biaya ringan, sekaligus untuk tegaknya kepastian hukum dalam kehidupan masyarakat. Jika penyidik berkesimpulan bahwa hasil penyelidikan dan penyidikan tidak cukup bukti atau alasan untuk menuntut tersangka ke pengadilan, penyidik secara rmenyatakan penghentianpemeriksaan penyidikan, agar dengan demikian segera tercipta kepastian hokum, baik bagi penyidik sendiri, terutama kepada tersangka dan masyarakat; 2. Agar supaya penyidik terhindar dari kemungkinan tuntutan ganti kerugian, jika perkaranya diteruskan ternyata tidak cukup bukti atau alasan untuk menuntut atau menghukum, dengan sendirinya memberi hak kepada tersangka/terdakwa untuk menuntut ganti kerugian berdasarkan Pasal 95 KUHAP. 99 Sedangkan dalam praktiknya, menurut Aiptu Hasmawati Hamzah alasan penghentian penyidikan adalah : 1. Delik yang terjadi merupakan delik aduan yang dapat dilakukan pencabutan; perbuatan yang terjadi bukan merupakan perbuatan pidana; atau hanya melanggar norma – norma yang ada dalam masyarakat.

99

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 415


95

2. Anak masih sekolah dan masih dapat dibina orang tuanya, sehingga anak tersebut dikembalikan kembali kepada orang tuanya dan kasusnya tidak akan dilimpahkan ke kejaksaan untuk dilakukan penuntutan ke pengadilan. 3. Adanya perdamaian antara pihak anak nakal dengan korban. Perlindungan dalam proses penyidikan kepada anak terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh anak adalah sebagai bentuk perhatian dan perlakuan khusus untuk melindungi kepentingan anak. Perhatian dan perlakuan khusus tersebut berupa perlindungan hukum agar anak tidak menjadi korban dari penerapan hukum yang salah yang dapat menyebabkan penderitaan mental, fisik dan sosialnya. 100 Penegak hukum sangat berperan dalam proses perlindungan terhadap Anak pada tahap penyidikan. Penegak hukum dalam hal ini POLRI wajib menyelenggarakan perlindungan terhadap Anak. Peran dan upaya POLRI terlihat melalui : 1. Pelaksanaan Diskresi Kepolisian Tindakan diskresi yang dapat dilakukan oleh lembaga Kepolisian harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut : a. Bukan merupakan suatu bentuk pelanggaran yang nyata terhadap suatu kaidah hukum, sehingga tujuan dari diskresi bertentangan dengan kaidah hukum tertentu. Hal 100

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 414


96

ini dapat diartikan bahwasanya diskresi hendaknya memiliki keserasian dengan hukum positif maupun hukum lainnya yang berlaku dimana diskresi oleh lembaga kepolisian tersebut diputuskan untuk diambil. Di Indonesia dikenal beberapa macam kaidah hukum yang diakui dan diperbolehkan untuk diterapkan, meliputi hukum yang dibentuk oleh negara atau biasa disebut dengan hukum positif yang diterapkan dan ditaati oleh masyarakat, selanjutnya Indonesia juga mengenal adanya hukum agama, dimana hal ini sesuai dengan dengan dasar negara kita yang mengatakan bahwasanya kehidupan negara hendaklah berjalan sesuai dengan prinsip pengakuan terhadap adanya Tuhan yang dalam Pancasila terdapat pada sila pertama. Kemudian Indonesia juga mengakui serta melindungi eksistensi penggunaan hukum adat atau kebiasaan yang dilakukan oleh suatu masyarakat jika mereka menghadapi suatu persoalan. b. Sejalan, selaras, dan sesuai dengan adanya kewajiban hukum dimana menimbulkan keharusan tindakan tersebut dilakukan. Dengan kata lain, tindakan yang diambil yang mana termasuk dalam kategori diskresi, oleh kaidah lain ditentukan sebagai suatu kewajiban yang wajib ditegakkan. c. Diharuskan sesuai dengan asas kepatutan, dapat diterima oleh akal dan pikiran manusia yang sehat yang juga merupakan anggota dari lingkungan dimana tindakan tersebut diambil, serta tidak melebihi apa yang sudah dientukan sebagai


97

kewenangannya sebagai akibat dari jabatan yang dipangkunya. 101 Diskresi Kepolisian itu dapat juga berwujud dari penerapan hukum itu sendiri (Applicating the Law). Bahkan dapat berupa penciptaan hukum (Creating the law) meskipun lingkupnya terbatas dan sifatnnya temporer. 2. Pelasakanaan Diversi Substansi yang paling mendasar dalam Undang – Undang nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak adalah pengaturan secara tegas mengenai Keadilan Restoratif (Restorative Justice) dan Diversi yang dimaksudkan untuk menghindari dan menjauhkan Anak dari proses peradilan sehingga dapat menghindari stigmatisasi terhadap Anak yang berhadapan dengan Hukum dan diharapkan Anak dapat kembali ke dalam lingkungan sosial secara wajar. Oleh karena itu, sangat diperlukan peran serta semua pihak dalam rangka mewujudkan hal tersebut. Proses itu harus bertujuan pada terciptanya Keadilan Restoratif, baik bagi Anak maupun bagi korban. Keadilan restorative merupakan suatu proses Diversi, yaitu semua pihak yang terlibat dalam suatu tindak pidana tertentu bersama-sama mengatasi masalah serta menciptakan suatu kewajiban untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik dengan melibatkan korban, Anak dan masyarakat dalam mencari solusi untuk memperbaiki, rekonsiliasi, dan menenteramkan hati yang tidak berdasarkan pembalasan.

101

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 419


98

Pelaksanaan Diversi yang dilakukan oleh Unit PPA Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resort Tangerang dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang Sistem Peradilan Pidana Anak yaitu Pada saat proses penyidikan, Penyidik/Penyidik Pembantu melakukan upaya Diversi dengan proses sebagai berikut : a. Permintaan Penelitian Kemasyarakatan, setelah dilakukan pemeriksaan sebagai Anak yang berkonflik dengan hukum (pelaku), Pihak Penyidik/Penyidik Pembantu, melakukan permintaan Penelitian Kemasyarakatan dengan tujuan Pihak Pembimbing Kemasyarakatan dapat meneliti latar belakang, kondisi psikologi Anak, sehingga kepentingan Anak tetap diutamakan.

b. Proses Musyarawah, setelah menerima hasil penelitian dari Balai Pemasyarakatan Tangerang, Pihak Penyidik/Penyidik Pembantu dan Pembimbing Kemasyarakatan melakukan mediasi terhadap kedua belah Pihak dengan disaksikan oleh Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Pemerintah Desa / Kelurahan dan Pihak Sekolah. Apabila musyawarah mufakat diperoleh dan ada kesepakatan antara kedua belah pihak, Pihak Penyidik/Penyidik Pembantu membuat Berita Acara Kesepakatan Diversi dan ditandatangani oleh Kedua Pihak dan keluarga, Pembimbing Kemasyarakatan, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Pemerintah Desa / Kelurahan dan Pihak Sekolah dengan terlebih dahulu Kedua belah pihak baik Anak sebagai Korban tindak


99

pidana dan Anak yang berkonflik dengan hukum membuat surat pernyataan bahwa tidak akan melanjutkan perkara tersebut. Penyidik/Penyidik Pembantu dalam proses Diversi (musyawarah) bersikap netral dengan tidak memihak ke salah satu pihak, namun berupaya mencari jalan keluar / solusi terbaik untuk Anak sehingga terjadi kesepakatan bersama tanpa merugikan salah satu pihak dan juga memberi pemahaman kepada kedua belah pihak bahwa proses Diversi ataupun musyawarah adalah cara terbaik yang dapat ditempuh untuk penyelesaian perkara diluar proses peradilan. Penyidik/Penyidik Pembantu Apabila tidak tercapai kesepakatan antara kedua belah pihak atau musyawarah gagal, Pihak Penyidik/Penyidik Pembantu membuat Berita Acara Tidak ada Kesepakatan Diversi dan ditandatangani oleh Kedua Pihak dan keluarga, Pembimbing Kemasyarakatan, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Pemerintah Desa / Kelurahan dan Pihak Sekolah. c. Proses Penetapan Diversi, dalam hal Diversi diterima, Pihak Penyidik/Penyidik Pembantu melakukan permohonan Penetapan Diversi kepada Pengadilan Negeri Sungguminasa dengan dilampirkan hasil Penelitian Kemasyarakatan oleh Balai Pemasyarakatan Tangerang, Surat Perintah Penyidikan dan Berita Acara Kesepakatan Diversi dari Kepolisian Resort Tangerang. Proses penetapan ini merupakan kewenangan dari Pihak Pengadilan Negeri.


100

d. Lanjut Perkara, dalam hal Diversi ditolak / tidak ada kesepakatan antara kedua belah pihak, Pihak Penyidik/Penyidik Pembantu melanjutkan / menyerahkan perkara tersebut ke Kejaksaan Negeri Tangerang untuk diproses lanjut sesuai dengan ketentuan yang berlaku namun tetap memperhatikan kepentingan Anak. 102 3. Faktor Pendukung Dalam Proses Penyidikan Anak Adapun faktor pendukung dalam proses penyidikan anak yaitu antara lain : a. Infrastuktur (sarana dan prasarana). Pada saat pemeriksaan, Anak yang berhadapan dengan hukum tidak berada di ruangan yang sama dengan orang dewasa, walaupun Ruangan pemeriksaan menggunakan ruangan yang sama. Apabila terdapat pemeriksaan terhadap Orang dewasa dan Anak di waktu yang sama, Penyidik/Penyidik pembantu memindahkan pemeriksaan terhadap Orang dewasa di ruangan yang berbeda. Tidak hanya perlakuan yang berbeda dengan orang dewasa namun pembedaan tersebut juga terdapat dalam registrasi administrasi penyidikan, dimana registrasi berkas perkara Anak baik penahanan, penangkapan, surat panggilan memiliki nomor register yang berbeda dan memiliki pengarsipan tersendiri.

102

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal.420


101

b. Kualifikasi Penyidik/Penyidik Pembantu. Kualifikasi Tenaga Penyidik / Penyidik Pembantu yang ada di Unit PPA Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resort Tangerang sebagai berikut : Penyidik Penuh : 2 (dua) Orang, terdiri dari : KAPOLRES & KASAT RESKRIM ; Penyidik Pembantu : 5 (lima) Orang, terdiri dari : 2 (dua) POLWAN dan 3 (tiga) POLKI. Penyidik / Penyidik Pembantu yang ada berpengalaman sebagai penyidik, mempunyai minat, perhatian, dedikasi dan memahami masalah anak serta telah mengikuti pelatihan teknis tentang peradilan Anak melalui pelatihan – pelatihan dan pendidikan pengembangan spesialis (DIKBANGSPES BRIGADIR POLWAN PPA) yang diadakan oleh Lembaga Pendidikan POLRI. B. Kendala Penyidik dalam memberikan Perlindungan Hukum terhadap Anak sebagai Pelaku Tindak Pidana Kekerasan Anak di Kepolisan Resort Tangerang. Kendala timbul dari faktor keluarga dan lingkungan, dalam praktiknya menurut Aiptu Hasmawati Hamzah, banyaknya anak yang telah menjadi residivis atau anak tersebut pernah dihukum dan mengulangi lagi tindak kejahatan yang serupa khususnya tindak kejahatan kekerasan anak merupakan kurangnya tindakan pencegahan oleh orang tua anak tersebut. Artinya, apabila anak tersebut telah digolongkan sebagai residivis akan ada pertimbangan untuk pemberian pemberatan hukuman yang akan diberikan.


102

Tabel 1.3 Pelaku Anak Tindak Pidana Kekerasan Anak yang Digolongkan Sebagai Residivis No 1 2 3 4 Jumlah Sumber : Kepolisian

Tahun 2014 2015 2016 2017

Resdivisi Anak 3 anak 5 anak 3 anak 4 anak 15 anak Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Resort Tangerang.

Berdasarkan data diatas, pelaku anak tindak pidana kekerasan fisik yang digolongkan sebagai residivis di yurisdiksi Kepolisian Resort Tangerang memang menjadi salah satu kendala yang harus diberikan tindakan pencegahan mengingat anak merupakan salah satu aktor penerus generasi di kehidupan berbangsa dan bernegara. 103 Kekuasaan Penyidikan adalah tahap yang paling menentukan dalam operasionalisasi Sistem Peradilan Pidana Terpadu tersebut dalam rangka tercapainya tujuan dari Penegakan Hukum Pidana, karena pada tahap penyidikanlah dapat diketahui adanya tersangka suatu peristiwa kejahatan atau tindak pidana serta menentukan tersangka pelaku kejahatan atau tindak pidana tersebut sebelum pelaku kejahatan tersebut pada akhirnya dituntut dan diadili di pengadilan serta diberi sanksi pidana yang sesuai dengan perbuatannya. Tanpa melalui proses 103

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 423


103

atau tahapan penyidikan maka secara otomatis, tahapan-tahapan selanjutnya dalam proses peradilan pidana yaitu tahapan penuntutan, pemeriksaan di muka pengadilan dan tahap pelaksanaan putusan pidana tidak dapat dilaksanakan. 104 Pada tahap penyidikan, penyidik wajib mengupayakan Diversi, yang bertujuan mencapai perdamaian antara korban dengan anak, menyelesaikan perkara anak di luar proses peradilan, menghindarkan anak dari perampasan kemerdekaan, mendorong masyarakat untuk berpartisipasi, menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak. Dalam melakukan penyidikan anak, penyidik wajib meminta pertimbangan atau saran dari pembimbing kemasyarakatan, dan apabila perlu juga dapat meminta pertimbangan atau saran dari ahli pendidikan, ahli kesehatan jiwa, ahli agama, atau petugas kemasyarakatan lainnya. Akan tetapi, dalam mewujudkan itu semua terutama perintah dari dasar hukum Undang – Undang nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak masih ditemukan beberapa kendala baik secara normatif maupun secara praktiknya. 105 Kendala normatif dalam mewujudkan perintah Undang – Undang nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak sebagai dasar hukum materiil ialah masih berlandaskan dengan hukum formil Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana. Sebagai contoh dalam praktiknya, Pasal 32 ayat (3) Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem 104

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 425 105 Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 427


104

Peradilan Pidana Anak menentukan bahwa alasan penahanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dinyatakan secara tegas dalam surat perintah penahanan. Pelanggaran atau kelalaian atas Pasal 32 ayat (3) Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, tidak diatur dengan tegas akibat hukumnya, sehingga dapat merugikan anak. 106

Penahanan anak, didasarkan atas pertimbangan kepentingan anak dan kepentingan masyarakat yang harus dinyatakan secara tegas dalam surat perintah penahanan. Dalam praktik di daerah hukum Kepolisian Resort Tangerang, inilah salah satu kendala perlindungan hukum kepada pelaku anak, sebagaimana pihak pelapor dan/atau korban menginginkan agar supaya para pelaku anak ditahan, sehingga apabila para pelaku anak tidak ditahan, pihak pelapor dan/atau korban berasumsi kepada penyidik bahwa laporannya itu tidak dijalankan sesuai dengan hukum yang Kendala lain dalam praktiknya di daerah hukum Kepolisan Resort Tangerang, sebagaimana faktor lingkungan yang tentunya sangat berperan fundamental, para anak – anak kebanyakan bergaul atau bersosialisasi tidak pada lingkungan yang seharusnya, para anak – anak ini bergaul atau bersosialisasi dengan tidak sesama anak – anak bahkan mereka cenderung bergaul atau bersosialisasi dengan orang yang lebih dewasa, akibatnya banyak diantara anak – anak ini terpengaruh dengan kebiasaan orang yang lebih dewasa. Tentu peran orang tua sangat diperlukan disini, akan tetapi kebanyakan dari anak – anak ini menyatakan bahwa 106

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 430


105

ketika orang tua mereka bekerja ataupun tidak berada di lingkungan rumah, hal inilah yang menjadi kesempatan untuk mereka bergaul dan bersosialisasi dengan bebas bahkan melewati batas. Perlu diperhatikan juga bahwa tempat penitipan anak yang layak di daerah hukum Kepolisian Resort Tangerang memang hampir dikatakan belum maksimal sebagai solusi tempat para anak – anak bergaul atau bersosialisasi sesama anak – anak. 107

107

Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA, (Burgerlijk Wetboek), Penerbit Fokusmedia cetakan pertama, Hal. 433


BAB IV PENUTUP KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan uraian dan pembahasan mengenai “kontroversi kastrasi sebagai efek jera pelaku pedofil ditinjau dari perspektif hukum dan HAM” maka dapat diambil kesimpulan bahwa pedofil merupakan seseorang yang memilih menunjukan aktivitas seksual kepada anak yang berumur kurang dari 13 tahun. Seseorang untuk dapat dikatakan pedofil setelah menjalani pemerikasaan psikologis, karena tidak semua pelaku kejahatan seksual terhadap anak-anak merupakan pedofil. Kekerasan seksual yang dilakukan oleh pedofil mempunyai dampak buruk terhahap korban. Kasus kekerasan seksual di Indonesia setiap tahunnya bertambah. Maraknya kasus kekerasan seksual terhadap anak menjadi perhatian pemerintah untuk membuat Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang (Perppu). Di Indonesia kastrasi menjadi wacana hukuman tambahan bagi pelaku kekerasan seksual pada anak yang kemudian direalisasikan dalam isi Perppu Nomor 1 Tahun 2016 perubahan kedua Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014. Hukuman tambahan kastrasi menimbulkan kontroversi di berbagai pihak karena dinilai melanggar HAM bagi pelaku, tetapi disisi lain diharapkan mampu untuk melindungi anakanak dan memberikan efek jera bagi pelaku pedofil. Hukuman yang ada di Indonesia masih ringan bagi pelaku pedofil.

106


107

B. Saran Berdasarkan uraian dan pembahasan di atas, maka diperlukan saran atau masukan-masukan mengenai “kontroversi kastrasi sebagai efek jera pelaku pedofil ditinjau dari perspektif hukum dan HAM” adalah sebagai berikut: 1. Orang tua sebaiknya menjaga anak-anaknya dari ancaman pelaku pedofil yang saat ini marak terjadi di Indonesia. 2. Pemerintah sebaiknya segera mengambil langkah nyata untuk memberikan efek jera kepada pelaku pedofil. Salah satunya dengan adanya hukuman tambahan, agar jumlah korban kekerasan seskual terhadap anak tidak meningkat. Kastrasi yang menimbulkan kontroversi sebagai hukuman tambahan harus benar-benar dikaji jika akan dijadikan landasan hukum untuk menghukum pelaku pedofil.


108

DAFTAR PUSTAKA Adami Chazawi. 2014. Pelajaran Hukum Pidana Bagian I. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Abdul Wahid dan Muhammad Irfan. 2001. Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Seksual Advokasi atas Hak Asasi Perempuan. Bandung: Refika Aditama. Donald Albert Rumokoy dan Frans Maramis. 2014. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Dwidja Prayitno. 2013. Sistem Pelaksanaan Pidana Penjara Di Indonesia. Bandung: Refika Aditama. Endang Sutrisno. 2007. Bunga Rampai Hukum dan Globalisasi. Yogyakarta: Genta Press. Hendrojono. 2005. Kriminologi Pengaruh Masyarakat dan Hukum. Jakata: Srikandi

Perubahan

Ishaq. 2012. Dasar-Dasar Ilmu Hukum. Jakarta: Sinar Grafika. Luh Ketut Suryani dan Cokorda Bagus Jaya Lesmana. 2009. Pedofil Penghancur Masa Depan Anak. Jakarta: Pustaka Populer Obor Maidin Gultom. 2014. Perlindungan Hukum terhadap Anak dan Perempuan. Bandung: Refika Aditama.

Merry Magdalena. 2014. 10 Pedofil Paling Berbahaya Di Dunia. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. Mukhtie Fadjar. 2005. Tipe Banyumedia Publishing.

Negara

Hukum.

Malang:


109

Nashriana. 2011. Perlindungan Hukum Pidana bagi Anak di Indonesia. Jakarta: Rajawali Press. Peter Mahmud Marzuki. 2009. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Kencana Rika Saraswati. 2009. Hukum Perlindungan Anak Di Indonesia. Bandung: Citra Aditya Bakti. Setya Wahyudi. 2011. Implementasi Ide Diversi dalam Pembaruan Sistem Peradilan Anak Di Indonesia. Yogyakarta: Genta Publishing. Abdulsalam, R. 2007. Sistem peradilan pidana. Jakarta : Restu agung. Andi Hamzah, 2006, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, Cet.5, Sinar Grafika, Jakarta. Andi Sofyan, Nur Azisa. 2016. HUKUM PIDANA. Pustaka Pena Press : Makassar. Barda Nawawie Arief, Beberapa Aspek Hak Asasi Manusia Ditinjau dari Sudut Hukum Pidana, Makalah Seminar Nasional Hak Asasi Manusia diselenggarakan oleh FH. UNDIP, tanggal 25 Januari 1993 Chandra Gautama, 2000, Konvensi Hak Anak Panduan Bagi Jurnalis, Lembaga Studi Pers Dan Pembangunan : Jakarta. Erdianto Efendi, 2011. Hukum Pidana Indonesia Suatu Pengantar. Yang Menerbitkan PT Refika Aditama: Bandung.


110

Fatahilla A.Syukur. 2011. Mediasi Penal: Penerapan Restorative Justice di Pengadilan Anak I ndonesia. Depok : Indie Pre Publishing. . Kadja, Thelma Selly M, 2000, Perlindungan Terhadap Anak Dalam Proses Peradilan, Jurnal Hukum Yurisprudensia. Kartini Kartono, 1992, Pathologi Sosial (2), Kenakalan Remaja, Rajawali Pers : Jakarta, Khumaidi Tohar, 2007. Artikel “Memahami perilaku Delinkuensi dan Rasionalisasinya”. Jakarta. Leden Marpaung, 2009. Asas – Teori - Praktik Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta. Lilik

Mulyadi, 2005. Pengadilan CV.Mandar Maju, Bandung.

Anak

Di

Indonesia,


111


112

KONSEP PERLINDUNGAN ANAK DALAM PANDANGAN ISLAM DAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERLINDUNGAN ANAK SKRIPSI

Diajukan sebagai syarat untuk memperoleh S1 (Strata 1) Pada Program Studi Hukum Keluarga Islam Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama Nusantara (STISNU NUSANTARA) Tangerang, Tahun Akademik 2019-2020

Oleh : RIKI ARI DARMAWAN NIM: 14.15.01.16

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM STISNU NUSANTARA TANGERANG 2020


113

2020


114


115


116


117


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
SKRIPSI KONSEP PERLINDUNGAN ANAK DALAM PANDANGAN ISLAM DAN UNDANG UNDANG "RIKI ARI DARMAWAN" by cakepprinting - Issuu