majalah tahunan no.4 OKTOBER 2023
Jogja Darurat Sampah Koherensi Permasalahan Sampah Terhadap Ekonomi
Ke Sa DITERBITKAN OLEH BPPM KLIRING FEB UPNVY
Transformasi Pengelolaan Sampah di UPNVY Sikapi Penutupan TPA Piyungan, Begini Realita di Jalanan
M
Elut Pah
MELILIT asa
salam redaksi Halo seluruh pembaca. Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga kami dapat menerbitkan Majalah Tahunan BPPM Kliring 2023. "Kemelut Sampah Melilit Asa" merupakan tema yang kami angkat dalam majalah tahunan kami. Permasalahan sampah menjadi momok yang membuat pening masyarakat Yogyakarta akhir-akhir ini. Yogyakarta sedang kritis sampah, Jogja Darurat Sampah. Hal ini merupakan buntut dari penutupan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan yang biasanya menjadi tempat terakhir pembuangan sampah. Meski kini telah dibuka kembali secara terbatas, nyatanya masyarakat setempat masih kebingungan. Ke mana sampah-sampah ini harus mereka buang? Masyarakat butuh solusi nyata, bukan aksi tanpa makna. Oleh karena itu, kami membahas permasalahan sampah dan menuangkannya dalam karya jurnalistik Majalah Tahunan BPPM Kliring 2023. Dalam Majalah Tahunan 2023, kami menyajikan sembilan rubrik. Prolog sebagai pembuka membahas mengenai informasi umum. Liputan Utama yang dibagi menjadi dua liputan, membahas mengenai keadaan darurat sampah di Yogyakarta serta rumah tangga sebagai penghasil sampah terbanyak. Rubrik Sosial Ekonomi berisi dua topik, mengulas kebisaan membuang sampah sembarang dan koherensi permasalahan sampah terhadap ekonomi. Rubrik Seputar Kampus membahas mengenai pengelolaan sampah di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) dan minimnya kesadaran membuang sampah di kampus. Rubrik Tokoh membahas impresi pekerja kebersihan. Dilanjutkan dengan Inspiratif yang membahas kegiatan positif sebagai bentuk partisipasi terhadap lingkungan dan berbagai inovasi pengelolaan sampah. Opini berisi pendapat mahasiswa tentang isu sampah. Rubrik Hiburan berisi cerita pendek dan galeri mini. Kemudian di akhir ada epilog sebagai penutup. Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pembuatan Majalah Tahunan ini. Semoga majalah ini dapat bermanfaat, memberikan wawasan baru, dan dapat memberikan suatu langkah kecil bagi permasalahan yang ada. Akhir kata, selamat membaca dan salam pers mahasiswa! Redaktur Pelaksana: Annisa Widya Nur Fauzia
LAYOUTER NANDA W.O. | RIEN A. | DWI YULIYANTI 01
Pimpinan Umum: Atriken Natasha Wakil Pimpinan Umum: Azahra Dita Pramesti Bendahara: Aristyani Putri Kayna Kepala Divisi Administrasi & Humas (Adminhum): Elok Hilda Amani Staff Adminhum: Putri Lestari Ritma Septiana Nur C Nazwa Asyifa Mayla K Kepala Divisi Redaksi: Dwi Yuliyanti Staff Redaksi: Annisa Nur Widya Fauzia Sania Rintis Adristi Otviani Ntaba Kepala Divisi PSDM: Asoka Listyaningrum Staff PSDM: Sepiani Br Sembiring Permata Aghna Dina Ariyani Retno Mularsih Kepala Divisi Perusahaan: Fitra Ferrarista Syahrani Staff Perusahaan Muhammad Hilmi Fayyaz Bunaya Dwi Tresnani Irna Aryani Kepala Divisi Desain & Aritistik (Desart): Nanda Wahyu Oktavia Staff Desart Rien Arfan
MAJALAH TAHUNAN 2023
DAFTAR ISI Salam Redaksi Daftar isi prolog Informasi Umum Liputan Utama Jogja Darurat Sampah Problematika Sampah Rumah Tangga Sosial Ekonomi Kebiasaan Membuang Sampah Sembarangan Koherensi Permasalahan Sampah Terhadap Ekonomi Seputar Kampus Transformasi Pengelolaan Sampah di UPN "Veteran" Yogyakarta Pasca Penutupan TPA Piyungan Masyarakat UPN "Veteran" Yogyakarta Vs Tanggung Jawab Kebersihan Tokoh Sikapi Penutupan TPA Piyungan, Begini Realita di Jalanan Opini Presiden Gen Z -Rian Fahardhi Content Creator -Dwi Sasetyaningtyas Kalau Bukan Kita Siapa Lagi! Inspiratif Tempat-tempat Ini Punya Cara Keren dalam Mengelola Sampah Bersihkan Diri, Bersihkan Dunia: Yang Muda Menjadi Duta Hiburan Satria Resik Epilog Menuju Ambang Tanpa Batas Galeri
MAJALAH TAHUNAN 2023
01 02 03 04 07 09 11 13 15 17 18 18 19 20 22 25 27 28
02
PROLOG
D
aerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sedang mengalami darurat sampah karena Tem-
Meski pembukaan TPA Regional Piyungan terbatas, situasi darurat sampah di sejumlah lokasi di DIY belum dapat diperbaiki. Permasalahan tersebut terlihat dari penumpukan sampah yang dibuang sembarangan di pinggir jalan bahkan di tempat umum. Isu sampah yang tidak terangkut di Yogyakarta, yang sebenarnya merupakan kota wisata, mulai menimbulkan kekhawatiran. Bahkan belakangan ini, tampak beberapa sampah rumah tangga dibuang sembarangan di pinggir jalan, juga di pinggir jalan desa.
pat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Piyungan tak bisa beroperasi secara maksimal. Akibatnya, banyak warga yang kebingungan untuk menangani sampahnya. Ada beberapa tumpukan sampah di banyak
tempat, bahkan beberapa penduduk setempat membakar sampah mereka sehingga mencemari udara. Kondisi sampah yang tidak terkendali mengakibatkan TPA Piyungan, Bantul, Yogyakarta ditutup sejak (23/07/2023). Hal ini dilakukan karena kapasitas TPA Piyungan yang sudah mencapai maksimal. Volume timbunan sampah di Zona A dan B melebihi daya tampung sehingga tidak mampu menerima tambahan sampah. Permasalahan ini muncul akibat TPA Regional Piyungan yang terletak di Kabupaten Bantul, DIY tidak dapat berfungsi secara normal. Pada kenyataannya, selama ini tempat pembuangan sampah tersebut menampung sampah dari Bantul, Sleman, dan Yogyakarta. Sekitar 700 ton sampah biasanya dibuang ke tempat pembuangan sampah di Piyungan setiap harinya.
Akibat area penampungan sampah yang hampir penuh, Pemerintah Daerah Yogyakarta telah merencanakan penutupan TPA Piyungan mulai 23 Juli hingga 5 September 2023.
Penutupan total berlangsung selama beberapa hari. Kemudian, dengan kuota harian 100 ton, TPA dibuka kembali secara terbatas pada 28 Juli untuk menerima sampah dari kota Yogyakarta.
03
Undang-Undang No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah menetapkan peraturan untuk masih
pengelolaan sampah. Sayangnya, ada kekurangan dalam hal
penerapan peraturan ini. Tidak hanya itu, aturan ini juga mencantumkan target tanggal lima tahun untuk mengubah seluruh TPA di Indonesia menjadi TPA saniter (sanitary landfill). Namun, pada
kenyataannya, sebagian besar TPA hanya digunakan sebagai tempat penyimpanan sampah, bukan untuk pengelolaannya. Selain itu, metode pemantauan dan penilaian dari pihak yang berwenang masih kurang. Karena itu, gunungan sampah ini tidak pernah ditangani sepenuhnya sejak tahun 2021.
MAJALAH TAHUNAN 2023
LIPUTAN UTAMA
Penulis: Sania Rintis Adristi, Nazwa Asyifa Mayla Karin Editor: Annisa Nur Widya Fauzia
T
empat Pembuangan Sampah Terpadu Piyungan atau yang disingkat TPST Piyungan merupakan tempat pembuangan akhir (TPA) regional yang menerima sampah dari daerah Kota Yogyakarta,
Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul. Pada Rabu, (06/09/2023) TPST Piyungan dibuka kembali secara terbatas setelah sempat ditutup sejak (22/07/2023). TPST Piyungan sempat ditutup karena beberapa alasan. Dilansir dari jogjaprov.go.id, ditutupnya TPST Piyungan ini guna memperluas daya tampung sampah di TPST Piyungan karena daya tampung TPST Piyungan sudah overload. Kapasitas TPST Piyungan dapat menampung 650 ton sampah per hari. Namun, sampah yang diangkut dari Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Sleman mencapai lebih dari 700 ton per hari. Hal ini menyebabkan sampah yang diproduksi tidak seimbang dengan daya tampung di TPST Piyungan.
Infografis: Sania Selain daya tampung yang kurang pada TPST Piyungan, penutupan ini juga disebabkan oleh akses jalan lalu lintas yang terganggu. Jalan menuju TPST Piyungan yang seharusnya menjadi fasilitas masyarakat menjadi tercemar oleh sampah, banyak sampah yang tercecer di jalan dan membuat masyarakat setempat kurang nyaman. Akhirnya, TPST Piyungan sempat ditutup karena adanya protes dan keluhan dari masyarakat sekitar terkait masalah bau tidak sedap dan pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh tempat pembuangan sampah tersebut. Penduduk sekitar merasa terganggu dengan bau tidak sedap dan potensi dampak negatif lainnya terhadap kesehatan dan lingkungan mereka. Dengan perimbangan masalah di atas, Pemerintah Kota Yogyakarta mengeluarkan surat edaran Pemda DIY dan Sekda DIY Nomor 658/8312. Adanya penutupan sementara TPST Piyungan ini, pemerintah berhadap agar masyarakat di masing-masing kabupaten dapat mengelola sampah secara mandiri. Dampak Penutupan TPST Piyungan Penutupan sementara TPST Piyungan ini tentu menyebabkan dampak yang signifikan terhadap masyarakat. Salah satu dampak yang dirasakan masyarakat secara langsung yaitu semakin
MAJALAH TAHUNAN 2023
04
LIPUTAN UTAMA tingginya polusi udara di Provinsi Yogyakarta. Hal ini dikarenakan beberapa masyarakat memilih untuk membakar sampah mereka sehingga menyebabkan polusi udara semakin tinggi. Pembakaran sampah ini tentunya akan menambah masalah kesehatan masyarakat setempat. Tak sampai disitu, pada rentang waktu ditutupnya TPST Piyungan, terjadi fenomena penumpukan sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Banyak sampah-sampah yang berserakan dan dibuang di pinggir jalan, trotoar, dan sungai. Penumpukan ini terjadi karena masyarakat membuang sampah rumah lantaran ditutupnya depo sampah atau penampungan sampah sementara yang ada di Yogyakarta. Dilansir dari akun x.com/merapiuncover, penumpukan sampah salah satunya terjadi di kawasan wisata Alun-alun Kidul Yogyakarta, daerah lampu merah Kentungan, dekat Proyek Pasar Godean, Jalan Magelang, Jalan Sastrodipuran, daerah wisata Prawirotaman, selatan Flyover Jombor, dekat Pasar Pathuk, dan lokasi lainnya. Dampak dari penutupan TPST Piyungan ini juga dirasakan oleh para pengusaha, terutama yang bergerak di bidang perhotelan dan restoran (F&B). Usaha perhotelan dan restoran tentu saja menghasilkan sampah yang banyak tiap harinya. Agar tidak menumpuk, sampah harus dibuang setiap harinya. Namun, para pengusaha kesulitan untuk membuang sampah mereka karena banyak pengangkut sampah yang tidak datang seperti biasanya. Pembukaan Kembali TPST Piyungan Setelah ditutup selama kurang lebih dua bulan, TPST Piyungan dibuka kembali. Setelah pembukaan ini, terdapat perubahan dalam pengelolaan, khususnya dalam segi daya tampung sampah. Daya tampung sampah di TPST Piyungan menjadi berkurang karena kondisi lapangan yang kekurangan tempat untuk menampung sampah-sampah baru. “Jumlah sampah yang masuk berubah dibandingkan sebelum tutup kemarin, karena saat ini kapasitas dibatasi, mengingat kondisi di lapangan juga sudah susah,” ucap operator jembatan timbang TPST piyungan, Eko Sulistyo. Dibukanya kembali TPST Piyungan ini tentunya melalui banyak pertimbangan dari pihak Pemerintah Kota Yogyakarta, bahkan pihak pemerintah kota membuat jadwal setiap harinya untuk membatasi masuknya sampah di lokasi tersebut. “Mulai pada tanggal 5 September, sampah masuk hanya yang terdapat jadwalnya saja, jadwal tersebut diberikan dari Dinas Lingkungan Hidup,” lanjut Eko Sulistyo. Dengan kebijakan ini, diharapkan masyarakat dapat mengolah sampah secara mandiri untuk mengurangi volume sampah yang akan ditransfer ke TPST Piyungan. Walaupun TPST Piyungan sudah dibuka kembali, masih terdapat sampah-sampah yang tergeletak di pinggir jalan di area DIY. Salah satunya adalah penumpukan sampah di area Kotabaru yang terjadi pada (8/10/2023). Penumpukan sampah tersebut terjadi di sepanjang jalan sekitar TPS Kotabaru. Hal ini menjadi fokus masyarakat sekitar dan berakhir dengan pembersihan yang dilakukan pemerintah setempat.
Sumber: x.com
05
MAJALAH TAHUNAN 2023
LIPUTAN UTAMA Apa yang Dilakukan Pemerintah? Dengan adanya permasalahan di atas, pemerintah tentunya bertindak untuk menangani permasalahan tersebut dengan solutif. Masalah di TPST Piyungan memiliki pola yang sama dan terjadi hampir setiap tahun. Selain mengurangi daya tampung dan membentuk jadwal setiap harinya, Pemerintah Kota Yogyakarta juga harus memikirkan dampak dari sampah ini, baik dari sisi internal maupun eksternal TPST Piyungan. Pemerintah dapat mengedukasi atau menerapkan peraturan tentang pengolahan sampah sehingga masyarakat dapat mengolah sampah mereka secara mandiri dan mengurangi dampak negatif sampah. Hingga saat ini, hal yang sudah dilakukan pemerintah untuk menangani kasus ini antara lain membangun area baru sebagai tempat penampungan sampah yang diperkirakan akan rampung pada bulan Oktober tahun ini. Kini, belum ada solusi masif dari pemerintah untuk membantu mengurangi penumpukan sampah di wilayah TPST Piyungan, selain penambahan tempat dan pengurangan kapasitas sampah setiap harinya. Pemerintah telah merencanakan desentralisasi sampah pada tahun 2024. Pemerintah Kabupaten Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta telah mempersiapkan rencana desentralisasi dan pengolahan sampah agar tidak hanya mengandalkan TPST Piyungan saja. Dilansir dari harianjogja, Kota Yogyakarta menyiapkan Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Nitikan dan Karangmiri. Sedangkan di Kabupaten Bantul, pengolahan sampah dilakukan di beberapa tempat yaitu TPS3R Guwosari, TPS3R Murtigading, Intermediate Transfer Facility (ITF) Pasar Niten, dan TPST Modalan. Di samping itu, pada saat ditutupnya TPST Piyungan, Pemerintah Kabupaten Sleman telah menyiapkan TPSS (Tempat Penampungan Sampah Sementara) yang berlokasi di Tamanmartani. Pengolahan sampah di Kabupaten Sleman Pengolahan sampah dipusatkan di TPSS Tamanmartani yang akan menghasilkan kompos dan Refuse Derived Fuel (RDF). TPSS tersebut dapat menampung lima puluh ton sampah per hari hanya untuk Kabupaten Sleman saja. TPSS ini dibuka sejak tanggal 7 Agustus 2023 dan akan ditutup saat TPST Piyungan dibuka kembali. Pada dasarnya, yang bertanggung jawab atas permasalahan sampah ini bukan hanya pemerintah saja, masyarakat juga harus sadar dan melakukan hal hal positif untuk mengurangi sampah yang menumpuk. Salah satu hal yang dapat dilakukan yakni melakukan 3R (reduce, reuse, recycle) agar sampah lebih bermanfaat dan mengurangi limbah rumah tangga sehingga permasalahan sampah ini akan cepat rampung dengan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat.
MAJALAH TAHUNAN 2023
06
LIPUTAN UTAMA
S
ampah menjadi salah satu masalah lingkungan yang rumit dalam penyelesaian-
nya. Keberadaan sampah terkait erat dengan kebersihan, kesehatan, kenyamanan, dan estetika lingkungan. Sampah rumah tangga, dihasilkan dari aktivitas sehari-hari, merupakan jenis sampah yang tak terhindarkan. Setiap rumah tangga menghasilkan sampah dalam berbagai bentuk. Setiap jenis sampah memiliki tata cara pengelolaan yang berbeda, sehingga masyarakat perlu mengetahui jenis sampah tersebut serta cara pengelolaannya. Melalui pengelolaan sampah tersebut, kita bisa ikut serta dalam memelihara lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Namun, saat ini masih terjadi pembuangan sampah rumah tangga bukan pada tempat yang sesuai, tidak semua masyarakat memahami dampak negatif yang mungkin terjadi akibat pembuangan sampah sembarangan tersebut. Dampak dari limbah rumah tangga terhadap lingkungan memerlukan perhatian khusus dari pemerintah dengan memberlakukan aturan yang jelas dan tegas mengenai lingkungan hidup. Hal tersebut perlu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga mereka. Sampah rumah tangga terdiri dari tiga jenis utama :
Problematika Sampah Rumah Tangga
Sumber: Pinterest
Penulis: Dina Ariyani, Ritma Septiana Nur C Editor: Otviani Ntaba
Sampah Organik. Sampah organik terdiri dari bahan-bahan yang mudah mengalami pembusukan seperti dedaunan, buah busuk, sayur busuk, sisa dari makanan, dan lain sebagainya. Sampah organik dapat dikelola dengan menjadikannya sebagai pupuk kompos yang bermanfaat sebagai nutrisi bagi tanaman. Sampah Anorganik. Jenis sampah ini meliputi bahan-bahan yang tidak mudah mengalami pembusukan, seperti plastik, kaca, logam, serta barang-barang elektronik. Sampah anorganik dapat dikelola dengan melakukan daur ulang dan inovasi produk daur ulang, atau membuangnya ke tempat yang sesuai. Sampah Berbahaya. Sampah berbahaya mengandung zat-zat yang membahayakan lingkungan, seperti baterai, cat, obat-obatan kadaluarsa, dan produk kimia rumah tangga. Sampah jenis ini harus dibuang di tempat khusus untuk menghindari pencemaran lingkungan. Proses pengelolaan sampah rumah tangga termasuk: 1. Pemilahan sampah: Pisahkan sampah organik, anorganik, dan berbahaya sejak awal. Gunakan wadah atau tempat sampah terpisah untuk setiap jenis sampah. 2. Daur ulang: Usahakan untuk mendaur ulang sampah anorganik seperti kertas, plastik, kaca, dan logam. Dengan mendaur ulang, kita dapat mengurangi kebutuhan akan bahan baku baru dan dampak lingkungan. 3. Pembuangan sampah berbahaya: Pastikan sampah berbahaya dibuang di tempat pembuangan sampah yang sesuai, seperti pusat daur ulang atau tempat pembuangan sampah berbahaya yang diatur dengan baik.
07
MAJALAH TAHUNAN 2023
LIPUTAN UTAMA
Data
menunjukkan
bahwa
sampah
rumah
Praktik ini dapat menyebabkan gangguan
Lingkungan
kesehatan. Oleh karena itu, pengalihan dari
tangga merupakan jenis sampah terbanyak di Indonesia.
Menurut
Kementerian
Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada tahun 2021 sampah
rumah
sebesar
42,23%
tangga
memiliki
terhadap
kontribusi
total
sampah
nasional. Situs Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) juga mencatat bahwa
rumah tangga menempati peringkat pertama sebagai
sumber
sebesar
40%.
sampah
Dari
dengan
persentase
kontribusi
tersebut,
57%
didominasi oleh sampah organik, terutama sisa makanan, kayu, ranting, dan daun. Oleh karena itu,
pengelolaan
menjadi
sangat
dampak
sampah
penting
untuk
pencemaran
lingkungan.
sampah
terselesaikan
sepenuhnya.
telah
kembali,
masalah
di
tangga
mengurangi
dan
Permasalahan menjadi
rumah
kerusakan
Yogyakarta
utama
yang
Meskipun
masih
belum
Tempat
Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan dibuka
sampah
masyarakat
aktivitas
pengelolaan
masih
mengalami
hambatan. Contohnya, Ibu Ari Suparmi (35), penduduk
Kelurahan
Yogyakarta,
mengalami
pembuangan
jasa
penjemputan
Kota
kesulitan
sampahnya.
berlangganan kendala
Giwangan,
Meskipun
pembuangan sampah
dalam
telah
sampah,
membuatnya
sulit membuang sampah dengan baik. Harga
berlangganan sebelumnya adalah Rp20.000,00 per bulan. Namun, karena petugasnya sakit, penjemputan sampah tidak dapat dilakukan. Meskipun
terdapat
Tempat
Pembuangan
Sampah (TPS), waktu bukanya yang tidak tetap membuat Bu Ari sulit mengandalkannya. Menurut
Peraturan
Nomor
10
syarat
teknis
pembakaran
Tahun
Daerah 2012
sampah
Kota
Pasal
yang
pengelolaan
Yogyakarta
41,
pelaku
sampah
dapat
tidak
memenuhi
dikenakan sanksi pidana kurungan atau denda. Pemerintah
Kota
Yogyakarta
menegakkan
aturan ini dengan tegas, sehingga penduduk
pernafasan
dan
dampak
negatif
pada
pembakaran menjadi penggunaan tempat sampah yang memadai lebih aman.
Pengelolaan sampah rumah tangga yang tidak benar dapat menyebabkan dampak serius bagi lingkungan dan kesehatan, terutama bagi masyarakat sekitar lokasi pembuangan sampah. Masyarakat setempat tentu akan terganggu dan merasa tidak nyaman akibat bau tak sedap dari sampah tersebut. Dampak negatif yang timbul akibat pengelolaan sampah rumah tangga yang tidak tepat meliputi pencemaran lingkungan, pembuangan sampah dan limbah secara sembarangan, serta praktik pengelolaan sampah yang tidak memadai. Pencemaran dapat terjadi pada berbagai elemen lingkungan, mulai dari air, udara, hingga tanah. Pencemaran air, misalnya, dapat mengakibatkan rusaknya ekosistem air dan bercampurnya zat-zat kimia berbahaya dalam sumber air. Dampak ini juga berdampak negatif pada kesehatan manusia, menyebabkan penyakit seperti diare, tifus, cacingan, dan kolera. Selain itu, sampah juga dapat menyebabkan banjir, karena keberadaannya dapat menyumbat saluran air sehingga meningkatkan risiko banjir dan tentu saja merugikan manusia. Pengelolaan sampah rumah tangga yang sesuai dengan prosedur sangat penting untuk mengurangi dampak pencemaran dan kerusakan lingkungan. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah pemilahan sampah, yang meliputi pemisahan sampah organik dan anorganik. Proses pemilahan ini dapat memudahkan dalam proses pengolahan sampah. Pengolahan sampah organik dapat dilakukan dengan mengubahnya menjadi pupuk kompos. Caranya, dengan menyisihkan sampah organik dan membiarkannya terurai secara alami atau dengan menggunakan teknologi pengomposan. Pupuk kompos ini bermanfaat untuk menyuburkan tanaman.
setempat termasuk Bu Ari terpaksa membuang sampahnya di sungai. Lokasi rumah Bu Ari yang
padat dan sempit merupakan faktor berbahaya untuk melakukan pembakaran sampah.
MAJALAH TAHUNAN 2023
08
sosial ekonomi
Kebiasaan Membuang Sampah Sembarangan Penulis: Elok Hilda Amani, Putri Lestari Editor: Dwi Yuliyanti
B
erbicara mengenai sampah, tentu tidak akan terlepas dari kebiasaan manusia. Sampah yang tidak terkelola dengan baik adalah imbas dari kesadaran yang masih minim. Kebiasaan buruk ini akan tetap mendarah daging jika tidak ada kesadaran dalam diri.
Menurut perspektif psikoanalisis, perilaku menyampah manusia didasarkan pada tiga pilar kepribadian, diantaranya, dorongan biologis (Das Id) yang berprinsip pada kesenangan dan bersifat egoistik, kedua dorongan psikologis (Das Ego), dan ketiga dorongan sosial (Das Superego). Ketika manusia membuang sampah sembarangan, akan muncul sifat egoistik berupa Not in My Backyard Syndrome (NIMBY). Ia akan merasa bahwa selagi itu bukan di lingkungan rumahku, bebas mau buang sampah di mana saja. Namun, ketika ada orang lain yang menyampah di rumahnya, ia akan sangat marah. Jadi selagi bukan di kawasan wilayahnya, ia akan merasa baik-baik saja membuang sampah sembarangan. Prinsip selanjutnya kesenangan, menurut prinsip ini, membuang sampah asal saja lebih menyenangkan daripada harus repot-repot mencari tempat sampah. Selain itu, adanya kebiasaan “dilayani” yang selama ini melekat di masyarakat, seperti pelayanan petugas kebersihan sehingga mereka akan merasa itu bukan tanggung jawabnya, karena ada petugas yang membersihkan. Prinsip yang terakhir yaitu, manusia sangat pelupa, padahal sudah berkali-kali diingatkan untuk tidak membuang sampah di sungai tapi masih tetap saja dilakukan.
maka mereka akan merasa punya konsekuensi yang harus ditanggung ketika membuang sampah sembarangan. Oleh karena itu, sangat perlu untuk menindak tegas para pelaku menyampah ini. Adanya pembentukan karakter inilah perspektif behaviour bekerja, di mana masyarakat harus dilatih agar mau membuang sampah pada tempatnya,
sekaligus memilah sampah mana yang organik, anorganik, dan dapat didaur ulang. Selain itu, diperlukan juga adanya punishment atau sanksi yang memberatkan para pelaku menyampah ini. Adanya mekanisme pembiasaan dan pemberian sanksi akan membentuk perilaku masyarakat yang mau tempatnya.
membuang
sampah
pada
Adapun menurut perspektif kognitif, pengetahuan dan pengalaman terkait dengan sampah yang berbeda, akan
menghasilkan persepsi yang berbeda, baik
sikap dan perilakunya terhadap sampah. Hal terpenting yang perlu disadari adalah ketika seseorang yang memiliki persepsi positif terhadap perilaku membuang sampah, maka itu akan melahirkan proses persuasi, dimana individu atau orang lain, akan mengikuti perilaku itu. Proses ini dapat dilakukan melalui media seperti pendidikan, penyuluhan, maupun pengiklanan. Namun, jika seseorang itu tidak memiliki pengetahuan dan kesadaran akan dampak negatif terkait perilaku menyampah, maka akan terbentuk perilaku membuang sampah sembarangan.
Adapun menurut perspektif behavioristik, perilaku membuang sampah sembarangan terbentuk oleh lingkungan. Besar kemungkinan orang yang menyampah tidak akan mendapat hukuman (dikenai denda). Mereka hanya mendapat kesenangan bahwa sudah terbebas dari sampah yang ia bawa saja. Berbeda ketika mereka membuang sampah dan langsung kena tegur atau denda,
09
MAJALAH TAHUNAN 2023
sosial ekonomi Dari perspektif lain, yaitu perspektif humanistik, perilaku membuang sampah sembarangan terkait kebutuhan manusia yang tidak ada habisnya, semakin banyak kebutuhan manusia maka akan semakin banyak sampah yang terkumpul. Seperti di banyak negara maju, tingkat kebutuhan negara maju akan kebutuhan sejalan dengan kebutuhan menghargai alamnya. Tingkat kesejahteraan juga memiliki korelasi dengan perilaku membuang sampah. Adanya hubungan positif antara kesejahteraan masyarakat dengan membuang sampah menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kesejahteraan maka perilaku membuang sampah pada tempatnya akan semakin tinggi. Peningkatan kesejahteraan akan meningkatkan pemenuhan kebutuhan tiap individu yang selanjutnya berdampak pada perilaku ramah lingkungan termasuk memilah sampah. Membuang sampah sembarangan tidak hanya berdampak bagi diri sendiri, tetapi juga bagi lingkungan hidup. Dampak kebiasaan buruk ini bukan hanya dampak jangka pendek, tapi juga akan berkepanjangan.
Banjir merupakan bencana yang bisa terjadi karena kebiasaan membuang sampah sembarangan. Jika banyak sampah dibuang ke sungai maka aliran air bisa tersumbat sehingga jika hujan deras datang bisa mengakibatkan banjir. Hal ini dapat menghambat kegiatan masyarakat dan menimbulkan berbagai penyakit. Terlepas dari itu semua, apapun alasan manusia menyampah sembarangan bukan hal yang patut dibenarkan. Kegiatan konsumsi dalam diri manusia perlu diimbangi dengan kesadaran pola pikir untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan. Akan lebih baik lagi jika ada kemampuan untuk mengolah sendiri sampah yang dihasilkan. Tentu keseimbangan ekosistem akan lebih terjaga sehingga tidak akan membuat dampak buruk yang berkepanjangan.
Pencemaran lingkungan merupakan dampak secara langsung dari kebiasaan membuang sampah sembarangan. Tanah, air, dan udara dapat tercemar jika sampah-sampah dibuang sembarangan dan tidak dikelola dengan baik. Tanah yang tadinya subur dapat berubah menjadi tandus karena terkena zat berbahaya yang terkandung dalam sampah. Air bersih yang biasa digunakan makhluk hidup dapat menjadi keruh dan berbau tidak sedap karena tercampur zat berbahaya yang ada dalam sampah. Udara juga bisa berubah menjadi kotor akibat banyak sampah yang menumpuk dan tidak dikelola dengan baik. Tanaman dan hewan bisa cepat mati akibat pencemaran tersebut. Hal ini tentu sangat buruk jika terus terjadi. Tanaman dan hewan tentu berhak hidup dengan aman di lingkungan yang sehat. Begitu juga manusia, manusia harus bisa menjaga kebersihan lingkungan agar ekosistem berjalan baik.
MAJALAH TAHUNAN 2023
10
sosial ekonomi
Koherensi Permasalahan Sampah terhadap Ekonomi Penulis: Irna Aryani, Dwi Yuliyanti Editor: Sania Rintis Adristi
Permasalahan sampah tidak hanya mengganggu dinamika sosial dan lingkungan. Namun, juga dari sisi perekonomian. Yogyakarta, selain dikenal sebagai kota pelajar, juga kota pariwisata yang sering menjadi destinasi para turis. Kegiatan wisata inilah yang akan mendorong perekonomian rakyat di area wisata dan sekitarnya. Namun, apa yang terjadi jika permasalahan sampah tak kunjung ditangani?
Dampak Sampah terhadap Pariwisata Jogja
Dilansir dari Radar Jogja, dampak penutupan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan beberapa waktu yang lalu sempat berdampak buruk pada sektor pariwisata. Banyak onggokan sampah yang berceceran di sepanjang jalan atau bahkan membanjiri kawasan wisata. Tentu hal ini menyita perhatian pengunjung wisata, terutama turis asing. Datang berniat liburan, malah disambut dengan bau sampah yang bertebaran. Pada Agustus lalu, kawasan Alun-Alun Selatan kota Yogyakarta dihiasi dengan tumpukan sampah. Kebanyakan jenis sampah yang bertebaran adalah sampah plastik yang berwarna hitam. Hal ini tentu membuat kenyamanan wisatawan terganggu karena bau yang tak sedap.
Sumber: iNews.ID Tak hanya itu, tumpukan sampah juga ada di sekitar Pasar Beringharjo, kawasan dekat Malioboro. Padahal kawasan ini merupakan vital objek wisata di Yogyakarta. Berdasarkan tvonenews.com, hal ini telah dikonfirmasi oleh Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Yogyakarta bahwa telah dilakukan upaya sosialisasi mengenai upaya pengelolaan sampah kepada pihak yang terlibat di sektor pariwisata. Semua pihak di kawasan wisata wajib melangsungkan proses pemilahan hingga pengolahan sampah berkelanjutan. Bagi lingkungan dan kesehatan manusia, sampah dapat menjadi masalah global serta menjadi ancaman serius. Tingginya populasi manusia seiring dengan tingginya konsumsi manusia atas
suatu barang dinilai cepat meningkatkan produksi sampah secara signifikan. Paradigma lama yang digunakan atau konsep ekonomi linear sangat tidak relevan dengan permasalahan ini. Sehingga perlunya kesadaran akan hal ini, dengan keluar dari paradigma lama menuju konsep baru.
11
MAJALAH TAHUNAN 2023
sosial ekonomi Atasi Permasalahan Sampah dengan Ekonomi Sirkular Ekonomi sirkular merupakan suatu konsep yang menerapkan Resource, Recovery dan Reuse (3R) yang bertujuan untuk mengurangi limbah, mendaur ulang, mengolah sampah dengan efisien, dan meminimalkan pemborosan sumber daya dengan merancang produk dengan mempertimbangkan komponen yang berkelanjutan sehingga dapat mempertahankan nilai produk serta meminimalkan kerusakan sosial dan lingkungan. Model ini bertentangan dengan ekonomi linear konvensional, di mana barang tersebut diproduksi, digunakan, dan dibuang menjadi sampah.
Beberapa langkah dapat diterapkan untuk melakukan transisi menuju ekonomi sirkular, seperti mendesain produk yang bertujuan untuk membuat masa pakai yang lama atau dapat
didaur ulang, sumber daya yang dilakukan dalam proses produksi harus lebih efisien, dan adanya pengelolaan limbah untuk memulihkan kandungan energi.
Dalam menerapkan transisi menuju ekonomi sirkular, akan lebih efektif jika semua komponen suatu masyarakat turut serta seperti adanya kesadaran masyarakat sebagai konsumen untuk mengurangi konsumsi terhadap barang sekali pakai dan memilih produk yang diproduksi dengan berkelanjutan atau dapat didaur ulang. Selain itu, kesadaran seorang produsen juga perlu ditingkatkan untuk mempertimbangkan setiap produk yang akan dirancang. Tentunya dengan dorongan pemerintah dalam menetapkan regulasi mengenai ekonomi sirkular. Selain pergeseran penerapan ekonomi linear menjadi ekonomi sirkular, diperlukan juga pengelolaan sampah yang baik
sebagai komponen penting guna mencapai suatu pembangunan berkelanjutan. Hal ini dapat membantu melindungi lingkungan, mencegah polusi, meningkatkan kesehatan masyarakat serta memanfaatkan sumber daya dengan efisien. Pengelolaan Sampah dalam Konteks Pembangunan yang Berkelanjutan Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, pengelolaan sampah yang baik harus mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan untuk mencapai tujuan keberlanjutan jangka panjang. Pembangunan berkelanjutan merujuk pada upaya untuk menciptakan kehidupan yang lebih berarti, tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan. Chung dan Lo (2003: 123) memakai empat faktor dalam mengevaluasi keberlanjutan pengelolaan sampah di Hongkong, yaitu faktor lingkungan pencapaian
masyarakat.
MAJALAH TAHUNAN 2023
yang mendukung (kesesuaian lingkungan), ekonomi yang optimal, dan penerimaan oleh
12
SEPUTAR KAMPUS
Transformasi Pengelolaan Sampah di UPN “Veteran” Yogyakarta Pasca Penutupan TPA Piyungan Penulis: Aristyani Putri Kayna, Bunaya Dwi Tresnani Editor: Annisa Nur Widya Fauzia
S
ampah merupakan salah satu permasalahan
yang tak terhindarkan dalam kehidupan sehari-hari, pengelolaannya menjadi semakin penting dalam menjaga kebersihan lingkungan. Namun, ketika Yogyakarta mendapati dirinya berada dalam kondisi darurat sampah pasca penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan, UPN “Veteran” Yogyakarta memilih menghadapi tantangan ini dengan melakukan transformasi dalam pengelolaan sampah.
Sebagai solusi atas penutupan TPA Piyungan, UPN “Veteran” Yogyakarta telah mengambil langkah proaktif dengan mengadakan hubungan kerja dalam mengelola sampahnya dengan pihak swasta. Sebelumnya, pihak kampus berkolaborasi bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman untuk mentransfer sampah-sampah dari tempat pembuangan sementara (TPS) di dalam lingkungan kampus ke TPA Piyungan. Seiring dengan ditutupnya TPA Piyungan akibat sampah yang overload , pihak kampus memutuskan untuk mencari alternatif lain yang lebih efisien. Menurut Kepala Bagian Umum, Hukum, dan Tata Laksana (UHTB) UPN “Veteran” Yogyakarta, Bambang Widiasmoro, DLH Sleman saat ini hanya mampu mengangkut sampah seminggu dua kali, sedangkan frekuensi ini tidak memungkinkan untuk dilaksanakan karena banyaknya sampah yang menumpuk meskipun sudah disisir setiap harinya. Oleh karena itu, transformasi kerja sama dengan pihak swasta diambil untuk mengatasi masalah ini. Meskipun demikian, pihak kampus tidak menutup kemungkinan untuk tetap melanjutkan kerjas ama dengan DLH Sleman di tahun 2024 sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam mengelola sampah.
13
Penanganan mengenai sampah di UPN "Veteran" Yogyakarta telah diatur dengan sistem yang terorganisasi, yaitu sistem kumpul-angkut-buang. Dengan menerapkan cara ini, seluruh sampah yang berasal dari gedung-gedung dan area terbuka kampus dikumpulkan pada satu tempat seperti tempat sampah atau gerobak. Kemudian, petugas kebersihan bertanggung jawab untuk mengangkut sampah-sampah ini menuju TPS yang terletak di dalam lingkungan kampus. Setiap pagi, sampahsampah yang telah terkumpul di TPS akan diambil dan diangkut oleh truk pengangkut sampah yang bekerja sama dengan kampus, hasil dari kerja sama dengan pihak swasta. Sebagai contoh, terdapat delapan belas petugas kebersihan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Dari total delapan belas petugas kebersihan, masing-masing jurusan memiliki empat petugas kebersihan dan fakultas sendiri memiliki tiga petugas yang bertanggung jawab atas kebersihan gedung di FEB. Setelah para petugas yang bertugas selesai mengumpulkan sampah di kawasan FEB, kemudian mereka mengangkut sampah tersebut ke TPS di lingkungan UPNVY sebelum selanjutnya ditindaklanjuti oleh pihak swasta yang bekerja sama dengan kampus. Kampus UPN "Veteran" Yogyakarta telah menempatkan sebanyak 5 titik TPS yang strategis. Salah satunya terletak di Kampus 2 yang berada di Babarsari, sementara empat TPS lainnya terdapat di Kampus 1. Di Kampus 1 sendiri, TPS ditempatkan di empat titik strategis, antara lain di sekitar auditorium, dekat klinik UPN, di belakang markas Menwa, dan di sebelah selatan Fakultas Teknologi Mineral (FTM).
MAJALAH TAHUNAN 2023
SEPUTAR KAMPUS Di kampus UPNVY, tempat sampah tersebar di berbagai titik dan sudah diklasifikasi berdasarkan jenisnya seperti sampah residu, anorganik, dan organik. Namun jika diperhatikan lebih jauh, sampah-sampah yang ada di dalamnya justru berbaur, tidak terpisah berdasarkan jenis. Menurut hasil observasi yang kami lakukan terhadap sepuluh mahasiswa, lima diantaranya tidak memisahkan sampah lalu dibuang berdasarkan jenisnya. Menurut salah satu sumber, hal ini dikarenakan masih minimnya edukasi mengenai sampah apa saja yang perlu dipisahkan menurut jenis sampah tersebut. Menanggapi hal tersebut, diharapkan kebijakan yang mengatur para civitas akademika untuk membuang sampah sesuai jenisnya serta edukasi yang cukup dan merata untuk masyarakat kampus mengenai jenis-jenis sampah. Hal ini dilakukan dalam rangka pengelolaan sampah di UPNVY. Perlu kita ingat bahwa pengelolaan sampah di kampus, khususnya di UPNVY, sebenarnya tidak semata mata hanya pekerjaan petugas kebersihan. Akan tetapi, mahasiswa sebagai masyarakat kampus sudah seharusnya turut ikut berpartisipasi dalam mengelola sampah yang ada di kampus. Sesederhana dengan tidak membuang sampah sembarangan juga sudah terhitung memberikan kontribusi mahasiswa dalam pengelolaan sampah.
MAJALAH TAHUNAN 2023
14
SEPUTAR KAMPUS
Masyarakat UPN “Veteran” Yogyakarta Vs Tanggung Jawab Kebersihan Penulis: Azahra Dita Editor: Otviani Ntaba
Permasalahan sampah bukan lagi menjadi pembahasan yang tabu. Kesadaran individu akan menjaga kebersihan umum dan membuang sampah sembarangan masih sangat rendah, termasuk di UPN “Veteran” Yogyakarta. Hal ini dapat dilihat dari beberapa titik yang sering kali terdapat sampah berserakan yang dibiarkan begitu saja. Pengelolaan sampah di UPN “Veteran” Yogyakarta bisa dikatakan sudah cukup baik, tapi tidak demikian dengan kesadaran mahasiswanya yang sering kali meninggalkan sampah di tempat umum, seperti kantin fakultas dan gazebo di depan gedung jurusan yang selalu menjadi sasaran empuk untuk ‘membuang’ sampah. Alfionita, salah seorang mahasiswa kampus 1, mengatakan, “Mereka apatis terhadap lingkungan, tidak memikirkan dampaknya di masa depan. Padahal mereka juga belajar di sini. Ibaratnya, satu sedotan plastik saja mereka abaikan begitu saja.” Pengelolaan sampah memang menjadi tanggung jawab seorang petugas kebersihan yang memang untuk itu mereka digaji, tetapi bukan berarti ‘semua’ yang menyangkut sampah dan kebersihan menjadi tanggung jawab mereka. “Kalau masalah ini sih klise ya, tapi kalau sampah pribadi ya itu jadi tanggung jawab pribadi seperti botol minum, tapi kan tidak semua orang memiliki kesadaran itu. Nah, itulah sebabnya ada tugas kebersihan yang memang tupoksinya mengurus sampah yang ada di kampus.” ujar Daffa, salah satu mahasiswa kampus 1. Pengelolaan sampah di UPN “Veteran” Yogyakarta diatur secara nonformal melalui koordinasi dan komunikasi antar petugas di lapangan. Dalam pengumpulannya, sampah di UPN ”Veteran” Yogyakarta terbagi
15
menjadi dua bagian yang didasarkan pada sumber sampah. Proses pengumpulan sampah disapu oleh petugas kebersihan halaman yang kemudian, sampah dedaunan di ruang terbuka hijau dikumpulkan, lalu dimasukkan ke gerobak sebelum dibuang ke bak sampah atau Tempat Penampungan Sementara (TPS). Sementara, pengumpulan sampah di setiap gedung dilakukan oleh petugas kebersihan dengan memindahkan sampah dari yang mulanya berada di tong sampah di semua ke bak yang lebih besar, sebelum dibuang ke TPS terdekat dari gedung tersebut.
Sumber: x/@yupien_fess
Fasilitas yang disediakan oleh UPN “Veteran” Yogyakarta sebenarnya sudah cukup memadai untuk meningkatkan kebersihan lingkungan di universitas. Tempat sampah sudah tersedia di berbagai sudut. TPS dalam lingkungan universitas juga sudah lebih dari satu, yang mana hal tersebut bisa dikatakan sebagai jumlah yang ‘cukup’, seperti area dekat parkiran Jurusan Teknik Lingkungan dan di dekat Selasar Barat Auditorium. Namun, mungkin dalam pengolahannya, UPN “Veteran” Yogyakarta bisa menerapkan sistem daur ulang sampah sehingga sampah tersebut bisa memiliki nilai guna kembali.
MAJALAH TAHUNAN 2023
Tokoh
SIKAPI PENUTUPAN TPA PIYUNGAN, BEGINI REALITA DI JALANAN Penulis: Atriken Natasha | Editor: Dwi Yuliyanti
T
empat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan yang mulai beroperasi pada tahun 1996
Dampak Penutupan TPA Piyungan Kepada Penyapu
awalnya hanyalah sebuah lembah yang dilapisi tanah agar menahan laju pencemaran. Namun, pada tahun 2022-2023, TPA ini sudah membentuk pegunungan sampah yang melebihi kapasitas minimal yang sudah ditentukan pemerintah daerah setempat. Membludaknya sampah di TPA Piyungan membuat Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sepakat untuk menutup TPA Piyungan di pertengahan tahun 2023 ini. Sebelumnya pada awal tahun, tepatnya bulan Januari 2023, TPA yang terletak di Dusun Ngablak dan Watu Gender, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul ini juga pernah ditutup oleh warga setempat dikarenakan sampah yang berada di TPA sudah membentuk gunung kecil yang membuat warga setempat resah. Menindaklanjuti hal tersebut, pemerintah daerah melalui perantara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melakukan koordinasi lanjut bersama dengan pengelola TPA Piyungan. Keluarnya surat edaran Bupati Sleman Nomor 035 Tahun 2023 mengenai penutupan pelayanan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Regional Piyungan dari tanggal 23 Juli hingga 5 September 2023 menjadi hari libur dari penggunaan TPA Piyungan ini. Alasan terbesar mengapa TPA Piyungan ini ditutup adalah karena overload, di mana tinggi sampah sudah melebihi batas aman yaitu yang awalnya empat belas meter, kini sudah mencapai ketinggian enam belas meter. Saat penutupan ini berlangsung, Pemerintah DIY menganjurkan untuk melakukan pemilihan dan pemilahan sampah terlebih dahulu yang dilakukan di tingkat kabupaten atau kota sebelum ditransfer ke TPA. Lalu, dengan adanya kebijakan tutupnya TPA Piyungan dan adanya anjuran untuk memilih dan memilah sampah, apakah hal ini akan berdampak pada pekerja yang menyapu jalanan?
MAJALAH TAHUNAN 2023
Sumber: Canva
Penutupan TPA Piyungan seluas 12,5 hektar tidak emiliki dampak yang cukup besar kepada para penyapu jalanan. “TPA Piyungan yang tutup tidak memberi kami penambahan tugas atau tidak ada efek yang besar, akan tetapi bedanya hanya di letak banyaknya sampah yang harus kami kumpul tiap harinya. Hal ini karena banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan di pinggir-pinggir jalanan, sehingga sampah yang terkumpul lebih banyak dari biasanya,” ungkap pak Tarno, penyapu jalanan yang ditemui pada Kamis siang (05/10/2023). Pada kenyataannya para penyapu jalanan sangat menyayangkan perilaku masyarakat yang membuang sampah di pinggir-pinggir jalan, sehingga membentuk lembah sampah yang sangat mengganggu pengguna jalan terutama pejalan kaki. Tidak hanya di pinggir jalan saja, sampah juga banyak ditemukan di sungai-sungai kota Yogyakarta dan tentunya ini sangat berpotensi menyebabkan pencemaran air. Penyapu jalanan yang sedang bertugas juga menjelaskan bahwa ada beberapa jalan di kota Yogyakarta yang dipenuhi oleh sampah, salah satunya adalah Jalan Munggur, Kota Yogyakarta. Diketahui bahwa sampah-sampah ini kian menutupi garasi rumah dari salah satu pemilik rumah yang berada di Jalan Munggur ini. Hal ini tentunya karena disebabkan oleh penutupan TPA Piyungan dan tidak adanya depo-depo sampah baru yang dapat menampung sampah rumah tangga.
16
Tokoh Banyaknya sampah yang bertebaran di jalanan maupun di sungai tidak membuat penyapu jalanan merasa terbebani, mereka tetap melakukan tugas sebagaimana mestinya. “Kami tetap melakukan tugas kami dan selalu memberikan yang terbaik untuk kebersihan Kota Yogyakarta, kami selalu setia dengan rutinitas kami untuk menyapu jalan sesuai jadwal yaitu setiap pagi hari dan malam hari,” jelas pak Tarno.
Antara Pendapatan dan Realita TPA Piyungan tutup berimbas kepada banyaknya sampah-sampah yang betumpuk di jalanan, sungai, perumahan lalu berujung kepada tambah beratnya tanggung jawab yang harus dipikul penyapu jalan. Namun meskipun begitu, gaji yang mereka dapat perbulan tidak naik mengingat jam kerja mereka yang tidak bertambah. Tetapi hal ini tidak menjadi masalah bagi penyapu jalan karena mereka merasa gaji yang diberikan sudah sebanding dengan tugas yang mereka kerjakan. “Walaupun kami harus membersihkan lebih banyak sampah kami tidak apa-apa jika gaji tidak dinaikkan, karena ini merupakan konsekuensi dari pekerjaan yang kami ambil,” tutur pak Tarno. Bukan hanya gaji saja yang menjadi patokan dalam mereka bekerja, melainkan ada hal yang membuat mereka nyaman untuk tetap berdinamika, yaitu peralatan dan perlengkapan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Peralatan dan perlengkapan yang diberikan kepada masing-masing penyapu jalan cukup memadai dan dapat mendukung mereka dalam bekerja.
Harapan Penyapu Jalan Kepada Pemerintah Kota Yogyakarta
Total produksi harian sampah kota Yogyakarta yang mencapai 200 tonper hari seharusnya membuat Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Dinas Lingkungan Hidup mengambil langkah proaktif untuk mengatasi ini. “Jogja sudah memasuki masa darurat sampah, seharusnya pemerintah harus lebih cekatan daripada sebelumnya,” kata pak Tarno. Menghadapi sampah yang semakin menggunung wajarnya pemerintah memikirkan dampak lain yang akan timbul dari masalah ini. Sehingga harapannya bagi pemerintah untuk segera membuka depo-depo sampah yang lebih banyak lagi, melakukan sosialisasi daur ulang sampah, melakukan koordinasi di tingkat kabupaten untuk meminimalisir tumpukan sampah, dan paling penting untuk menambahkan petugas kebersihan.
Harapan Penyapu Jalan Kepada Masyarakat Yogyakarta
Kata-kata yang berisikan “kebersihan sebagian dari iman” sepertinya sudah menjadi asing di telinga masyarakat Yogyakarta. Pasalnya, sudah sekian banyak tulisan untuk tidak membuang sampah sembarangan yang diletakkan di pinggir jalan tidak menyurutkan perlakuan untuk membuang sampah sembarangan. Oleh karena itu, petugas kebersihan khususnya para penyapu jalan memiliki harapan yang sangat besar untuk masyarakat Yogyakarta maupun para pengunjung di kota ini untuk tetap menjaga kebersihan kota istimewa ini. Dimulai dari perilaku mandiri yaitu: memilih dan memilah sampah organik dan anorganik, melakukan recycle, membuang sampah pada tempatnya, serta mengurangi pemakaian barang-barang yang sulit terurai. Menghadapi masa darurat sampah ini diperlukan kesadaran dan komitmen bersama untuk mengubah perilaku berbudaya terhadap lingkungan. Pengelolaan sampah yang baik akan berdampak juga kepada kestabilan hidup bermasyarakat.
17
MAJALAH TAHUNAN 2023
opini Presiden Gen Z -Rian Fahardhi
D
ikutip dari konten Tiktok-nya, Rian turut mengapresiasi aksi Pandawara Grup
dalam membersihkan sampah. "Jangan saling menyalahkan, ini hanya masalah kesadaran," begitu caption yang tertera pada konten Pandawara Grup. Pandawara Grup adalah sekumpulan orang pemuda yang melakukan pembersihan sampah di berbagai sungai di Indonesia. Gerakan mereka yang membersihkan sampah berawal dari kesadaran dan keresahan pribadi, di mana banjir yang seringkali menggenangi tempat tinggalnya. Aksi ini tidak memerlukan anggaran bermiliarmiliar. Meskipun Pandawara hanya membawa alat sederhana, namun kegiatan mereka menghadirkan solusi dan mengundang simpati masyarakat.
Content Creator - Dwi Sasetyaningtyas
S
elama lima tahun ke belakang, Tyas menerapkan hidup minim sampah dan
telah mendirikan startup yang bergerak di bidang keberlanjutan, yaitu Sustaination. Startup ini menjual produk-produk ramah lingkungan dan mengedukasi untuk beralih ke gaya hidup yang minim sampah. Content creator ini juga pernah kuliah di Belanda, jurusan Master of Sustainable Energy Technology. Tyas setuju bahwa Indonesia tidak akan pernah bersih karena permasalahan sampah sudah mendarah daging. Tapi bukan berarti persoalan hanya tentang orang yang buang sampah sembarangan. Kini tidak hanya membuang sampah pada tempatnya. Namun kita juga harus bisa mulai mengurangi sampah dengan 6R (Rethink, Refuse, Reuse, Reduce, Recycle, ROT). Tujuannya adalah untuk mengurangi volume sampah sehingga kita tidak perlu membuang sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Sumber: tiktok/@rianfahardhi
Pandawara Grup dengan kebiasaannya ini adalah budaya yang seharusnya menjadi wajah Indonesia. Sungguh aksi mereka nyata nan menginspirasi. Menjadi pahlawan tidak perlu pengakuan. Pandawara Grup adalah salah satu bentuk manifestasinya. Kini harus lebih banyak lagi Pandawara Grup versi lain yang peduli akan kepentingan bersama sesuai dengan passion dan skill masingmasing. Tapi sinergi bersama untuk membangun Indonesia ini akan terasa kurang dan sangat disayangkan jika pemerintah tidak sama sekali mengambil peran untuk senantiasa memberikan dukungan dan bantuan agar Pandawara Grup tidak berakhir menjadi pahlawan yang terpinggirkan.
MAJALAH TAHUNAN 2023
Sumber: tiktok/@sasetyaningtyas
18
opini
Kalau Bukan Kita Siapa Lagi! Penulis: Dwi Yuliyanti Editor: Otviani Ntaba
I
su lingkungan hidup baru-baru ini banyak menjadi perbincangan di kalangan publik. Terutama di Yogyakarta, permasalahan sampah telah menjadi rahasia umum yang kian
sulit ditangani. Penutupan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan menjadi awal permasalahan sampah di Yogyakarta yang memicu perubahan luar biasa. Masyarakat kota tidak bisa lagi membuang sampah seperti biasanya, bahkan tagar #jogjadaruratsampah menjadi trending beberapa waktu yang lalu.
Menyikapi hal tersebut, kita sebagai kaum terpelajar seharusnya peka dan peduli terhadap isu lingkungan. Tempat yang kita huni, bumi yang kita pijak, adalah alam yang harus dijaga kelestariannya. Pandawara Grup telah menjadi contoh nyata yang menggugah kesadaran kita, terutama generasi muda. Bahkan content creator ini telah memiliki subscribers lebih dari 70 ribu di youtube dan 2,2 juta pengikut di instagram. Konten yang disajikan ialah konten bersih-bersih tempat kotor di Indonesia agar terbebas dari sampah.
Bumi menyediakan cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, tetapi tidak untuk keserakahan setiap orang.
- MAHATMA GANDHI Beberapa waktu lalu juga sempat terdengar kabar bahwa ada sedikit konflik antara Pandawara Grup dengan pemerintah desa setempat. Polemik itu bermula ketika Pandawara Grup membuat video instagram yang melontarkan kalimat Pantai Loji ialah pantai terkotor nomor empat di Indonesia. Pantai Loji berada di kecamatan Simpenan, Sukabumi, provinsi Jawa Barat. Pandawara
mengajak
kabupaten
seluruh
elemen
masyarakat untuk turut andil membersihkan pantai tersebut pada 6-7 Oktober 2023. Konflik tersebut berakhir
damai dengan klarifikasi bahwa istilah “pantai terkotor” bukanlah nominasi, tapi urutan kunjungan Pandawara. Pandawara juga menegaskan bahwa tujuannya bukan untuk mencari keributan, tapi kesatuan untuk memerdekakan lingkungan yang mengalami kerusakan.
19
Dari contoh nyata tersebut membuat kita berbenah untuk menjadi pribadi yang lebih berguna bagi lingkungan sekitar. Menjaga kelestarian lingkungan bukan hanya tanggung jawab oknum atau satu elemen saja, tapi juga seluruh elemen masyarakat. Kesadaran masyarakat inilah yang perlu ditingkatkan, tentu dengan peran pemerintah melalui kebijakan. Kini bukan hanya sekedar mengurangi, tapi juga mencegah penggunaan plastik yang berlebih.
Pembiasaan memilah sampah dari rumah merupakan
kampanye
yang
perlu
digaungkan. Bukan kita yang tidak bisa, tapi hanya belum terbiasa. Mari samasama
saling
menjaga
kelestarian
kita. Kalau bukan kita, siapa lagi!
bumi
MAJALAH TAHUNAN 2023
inspiratif
Tempat-tempat Ini Punya Cara Keren dalam Mengelola Sampah Penulis: Fitra Ferrarista Syahrani | Editor: Annisa Nur Widya Fauzia
Di sini, sampah-sampah yang tadinya dapat mencemari lingkungan dapat disulap menjadi sisir, gelas, botol, kacamata, mangkok, piring, bahkan dapat diolah menjadi balok yang nantinya digunakan untuk membuat kursi, meja, sofa, dan masih banyak lagi. Untuk pembuatan satu bangku memerlukan dua puluh kilogram sampah plastik dan membutuhkan waktu produksi kira-kira tiga jam.
D
ewasa
ini,
banyak
permasalahan
sampah
yang
harus dihadapi oleh berbagai daerah di Indonesia,
contohnya TPA Bantar Gebang di Bekasi yang harus menampung sekitar 7.500 hingga 7.800 ton per hari dan TPA Piyungan di Bantul, Yogyakarta yang kapasitas sampahnya sudah overload. Menurut World Bank 2020, negara kita saat ini masuk lima besar negara penghasil sampah terbanyak di dunia dengan kurang lebih 35 juta ton sampah per tahun. Sekitar tujuh ton sampah tersebut merupakan sampah plastik yang kita gunakan setiap harinya. Hal ini sangat disayangkan mengingat sampah plastik sulit terurai di dalam tanah, butuh waktu puluhan hingga ratusan tahun. Sementara itu, jika dibakar akan menimbulkan polusi udara yang dapat membuat lingkungan tercemar. Hal ini membuat kita seharusnya menyadari akan pentingnya mengelola sampah dengan bijak. Meskipun banyak masyarakat Indonesia yang belum terbiasa untuk memilah dan mengolah sampahnya, sudah ada beberapa daerah yang mendaur ulang sampah sehingga mengurangi pencemaran lingkungan sekitarnya. Di Bali ada tempat untuk daur ulang sampah yang bisa mengubah sampah menjadi barang-barang keren yang bernilai guna. Tempat ini bernama Ecollabo8.
MAJALAH TAHUNAN 2023
Hasil dari barang-barang buatan Ecollabo8 ini banyak dibeli oleh hotel-hotel mewah di Bali, bahkan pernah mendapat pesanan dari Marvel untuk membuat palu Thor. Tentu saja kualitas barang yang diproduksi Ecollabo8 memperhatikan nilai guna barang sehingga hal ini menjadi salah satu solusi mengurangi sampah dan lebih ramah lingkungan. Beralih ke Yogyakarta, tepatnya di TPS Go-Sari, Kalurahan Guwosari, Pajangan, Bantul. Kini mereka dapat mengelola kurang lebih satu ton sampah setiap hari menggunakan konsep zero waste dengan cara memilah sampah menjadi empat bagian. Bagian tersebut antara lain sampah organik membusuk, sampah organik taman, rosok, dan residu. Sampah organik yang membusuk diolah dan dibuat budidaya maggot, sampah taman dimanfaatkan untuk kompos, dan rosok akan dilakukan transaksional yang residunya akan dibakar menggunakan incinerator.
20
inspiratif Pada tahun 2023, Kalurahan Guwosari mendapat Dana Keistimewaan (Danais) dari Pemerintah Daerah Provinsi Yogyakarta sebesar Rp1,6 miliar untuk pengolahan sampah. Alokasi danais pada tahun 2023 ini disalurkan menjadi dua termin, dengan termin I sebesar tujuh ratus juta rupiah dan termin II sebesar sembilan ratus juta rupiah. Anggaran danais ini diharapkan dapat membantu TPS Go-Sari dengan cara mempersiapkan infrastruktur untuk mengubah sampah organik menjadi maggot dan kompos. TPS Go-Sari memiliki dua belas pekerja yang dapat mengurus sampah sebanyak satu ton. TPS ini menjadi unit usaha BUMKal yang menghasilkan profit retribusi sebesar tiga puluh ribu rupiah per bulan pada tingkatan rumah tangga, lima puluh ribu rupiah per bulan pada warung atau rumah makan, 250 ribu rupiah per bulan untuk pondok pesantren, sekolah, dan taman edukasi yang dikalikan volume sampah. Untuk hasil jual beli maggot mendapatkan untung berkisar antara tujuh ribu rupiah sampai sepuluh ribu rupiah per kilogram. Kegiatan operasional TPS Go-Sari ini memakan biaya delapan belas hingga dua puluh juta rupiah. Daerah lainnya yang telah memilah dan mengolah sampah secara terpadu jatuh kepada Kabupaten Banyumas. Bermula dari keterpaksaan karena tempat pembuangan akhir (TPA) yang dikelola Pemerintah Daerah Banyumas ditutup sehingga muncul ide dan inovasi mengelola sampah agar dapat bernilai ekonomis. Tempat mendaur ulang sampah ini bernama tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) yang telah memiliki mesin pemilah sampah organik dan anorganik. Pengelolaan sampah ini dilakukan dengan caranya sendiri yakni berbasis kelompok swadaya masyarakat (KSM). Masyarakat diajak ikut serta dalam memilih dan menjual sampahnya kepada Pemerintah Kabupaten Banyumas menggunakan aplikasi Sampah Online Banyumas yang biasa disingkat Salinmas dan juga Ojeke Inyong dengan singkatannya Jeknyong. Sampah yang telah dipilah kemudian diolah dengan hasil berupa paving, atap, bata, pupuk kompos, dan biji plastik yang bernilai ekonomis. Daerah lain di Indonesia yang belum mempunyai cara untuk mengolah sampah sudah semestinya memiliki pandangan yang terbuka karena melihat daerahdaerah dan tempat-tempat yang sudah mulai melek daur ulang sampah. Jika semua memiliki pemikiran yang sama untuk mengelola sampah dengan baik maka pengelolaan ini dapat ditangani secara terintegrasi oleh pemerintah pusat. Lebih baik dimulai dari kesadaran diri sendiri untuk sadar memilah sampah organik dan anorganik serta mengurangi penggunaan bahan plastik karena sampahnya akan terurai sangat lama. Ayo jaga bumi kita dari sampah dan polusi dengan dimulai dari diri sendiri.
21
MAJALAH TAHUNAN 2023
inspiratif
Bersihkah Diri, Bersihkan Dunia: yang Muda Menjadi Duta Penulis: Sepiani Br Sembiring, M Hilmi Fayyaz | Editor: Sania Rintis A
L
ingkungan dan kebersihan adalah dua aspek yang tak
terpisahkan dengan menjaga keseimbangan alam dan kualitas hidup manusia. Manusia sudah seharusnya berperan menjadi elemen penjaga keseimbangan alam. Namun, seringkali kita mengabaikan peran tersebut. Pada kenyataanya, masyarakat sebagai elemen penjaga alam dan lingkungan sekitar kerap melupakan tugasnya. Melainkan sebaliknya, masyarakat seringkali merusak alam yang seharusnya dijaga dengan baik.
Sumber: geotimes.id
Karena kurangnya kesadaran masyarakat tentang menjaga alam dan lingkungan sekitar, maka munculah duta-duta peduli lingkungan. Salah satu contoh masyarakat yang menyuarakan peduli lingkungan adalah Pandawara. Pandawara ini merupakan sekumpulan pemuda yang melakukan aksi peduli lingkungan dengan membersihkan tempat-tempat yang sudah tercemar oleh sampah. Tempat-tempat seperti sungai yang sudah penuh dengan sampah dan juga pantai yang dipenuhi dengan sampah sehingga merusak ekosistem yang ada. Pandawara merupakan penggerak masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam aksi mereka. Mereka juga memberikan edukasi peduli lingkungan melalui konten-konten yang disebarkan melalui akun sosial media pandawara. Dikutip dari Wikipedia, pandawara telah membersihkan lebih dari 80 titik diseluruh wilayah indonesia. Dengan adanya pandawara ini diharapkan masyarakat teredukasi dan mempunyai kesadaran diri untuk menjaga alam dan lingkungan sekitar. Karena semua lapisan masyarakat memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang setara dalam membersihkan dan menjaga lingkungan sekitar. Seluruh masyarakat dihimbau agar peduli terhadap lingkungan sekitar terutama untuk kebersihan lingkungan. Tidak terlepas juga dari kalangan mahasiswa yang memiliki peran menjadi agent of change untuk membantu memelihara lingkungan sekitar. Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta merupakan kampus hijau yang sangat menjaga lingkungan dan juga kebersihan. Bukan hanya pihak kampus saja yang peduli dengan lingkungan, mahasiswanya juga ikut bagian dalam hal peduli lingkungan. Banyak mahasiswa yang mengikuti gerakan peduli lingkungan yang diadakan organisasi kemahasiswaan. Selain dengan mengikuti kegiatan peduli lingkungan yang dilakukan oleh organisasi kemahasiswaaan, ada juga mahasiswa yang menjadi duta lingkungan di luar kampus.
MAJALAH TAHUNAN 2023
22
inspiratif Our Movement With Humman (OMH)
Kegiatan Our Movement with HUMMAN Sumber: HUMMAN
Our Movement with HUMMAN atau biasa disingkat OMH, merupakan agenda tahunan yang menjadi salah satu program kerja dari divisi Pengabdian Masyarakat Himpunan Mahasiswa Program Studi Manajemen (HUMMAN) UPN “Veteran” Yogyakarta. Bertempat di Pantai Pasir Kadilangu Kulon Progo, kegiatan yang dilakukan pada tahun ini berupa membersihkan pantai dan menanam bibit tanaman bakau. Tema yang dibawakan kali ini adalah “who plants tree, plants a hope” yang bermakna bahwa kegiatan menanam bakau kali ini juga menanam harapan bagi masyarakat di sekitar pantai Pasir Kadilangu. Hak itu seperti yang dikatakan oleh narasumber kami, Puspita, selaku ketua pelaksana OMH 2023. “Seperti menanam pohon, tapi bukan menanam pohon saja, juga menanam harapan untuk lingkungan maupun masyarakat di sekitar pantai tersebut,” ucap Puspita.
Kegiatan penanaman tumbuhan bakau di pantai ini merupakan upaya pencegahan abrasi yang sudah
mulai terjadi di pantai tersebut. Apabila terus dibiarkan, dampak yang ditimbulkan bisa menjadi sangat berbahaya bahkan berpotensi bencana alam. Selain itu, bakau yang ada di Pantai Pasir Kadilangu juga dikatakan sebagai salah satu wisata yang mempunyai daya tarik tinggi yang dikelola langsung oleh warga lokal, yang mana keuntungannya akan kembali kepada warga setempat. Maka, penanaman bakau ini juga turut mendukung kegiatan pariwisata Pantai Pasir Kadilangu yang secara tidak langsung turut membantu pertumbuhan ekonomi warga lokal. OMH ini diharapkan dapat menjadi wadah dan inspirasi untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian bagi warga UPN “Veteran” Yogyakarta, masyarakat sekitar, juga bagi khalayak umum akan pentingnya
menjaga lingkungan. Narasumber kami yang lain, Riza, selaku panitia OMH pada akhir wawancara juga berpesan, “pesan saya marilah kita sebagai orang yang terlibat langsung dalam menjaga kebersihan lingkungan untuk menjaganya dengan baik, karena dampaknya akan secara langsung kita rasakan ketika lingkungan di sekitar kita penuh akan sampah yang berserakan.” Dimas Diajeng Kabupaten Bantul 2023 Secara umum, Dimas Diajeng ini adalah duta wisata. Sebagaimana duta wisata pada umumnya, Dimas Diajeng bantul adalah pemuda-pemudi yang diharapkan mampu mempresentasikan dan membantu tugas Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul untuk mengenalkan potensi pariwisata dan kebudayaan yang ada di Kabupaten Bantul. Dimas Diajeng ini diharapkan dapat mengenalkan potensi atau daya tarik pariwisata yang ada. Bukan hanya pariwisata tetapi juga memahami dan menjalankan filosofi luhur kebudayaan. Chevira Nur Fathonah merupakan mahasiswi angkatan 2020 jurusan akuntansi UPN “Veteran” Yogyakarta yang terpilih menjadi Diajeng Agro dan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul. Dimas Diajeng Agro dan Lingkungan Hidup ini diharapkan dapat berkontribusi untuk mewujudkan Bantul Projotamansari. Projotamansari merupakan semboyan Kabupaten Bantul, yang memiliki makna Produktif, Profesional, Ijo Royo-Royo, Tertib, Aman, Sehat, Asri.
23
Sumber: instagram.com/dimasdiajengbantul
MAJALAH TAHUNAN 2023
inspiratif Untuk menjadi Dimas Diajeng perlu melalui banyak tahapan untuk menguji Dimas dan Diajeng ini apakah layak atau tidak. Chevira menyebutkan bahwa dalam tahapan tersebut ada Motion Challenge. Motion Challenge ini dilaksanakan untuk mengukur seberapa besar kapasitas pengetahuan peserta dan kemampuan peserta dalam berkomunikasi. “Nah, kebetulan saat Motion Challenge, topik yang aku peroleh adalah kekeringan di Kapanewon Dlingo. Dimana aku menjelaskan terkait beberapa cara untuk mengatasi kekeringan tersebut seperti mengadakan droping air, sosialisasi penggunaan air secara efektif dan efisien, sosialisasi terkait potensi tanaman yang memungkinkan untuk ditanam saat itu, membuat sumur, dan sebagainya,” ujar Chevira. Saat wawancara dengan Chevira, reporter juga menanyakan pendapatnya tentang kesadaran membuang sampah yang ada di lingkungan kampus UPN “Veteran” Yogyakarta. Beliau berpendapat bahwa kesadaran
membuang sampah di lingkungan kampus sudah cukup baik karena tidak ada lagi sampah yang berserakan. Hal tersebut dikarenakan sudah disediakan tempat sampah di setiap sudutnya. Chevira juga mengatakan bahwa peran mahasiswa sebagai agent of change harus ditingkatkan untuk lebih peduli
terhadap lingkungan. Terutama lingkungan kampus yang dijadikan rumah kedua bagi para mahasiswa untuk menuntut ilmu dan aktivitas lainnya. Dengan adanya kesadaran serta budaya mahasiswa membuang sampah dan menjaga lingkungan di kampus tentu akan menjadi suatu kebiasaan yang baik yang nantinya mereka bawa saat mereka berada di luar kampus. Kesadaran tentang membuang sampah dan menjaga lingkungan menjadi salah satu peran mahasiswa dalam membantu Pemerintah DIY dalam menangani kasus sampah. Dalam menciptakan suatu lingkungan yang sehat dan kondusif perlu adanya kerja sama dari semua elemen kampus baik mahasiswa, dosen, dan seluruh civitas akademika. Perubahan dapat kita lakukan dari dalam diri sendiri kemudian lakukan dengan lingkungan sekitar secara perlahan, seperti membiasakan untuk selalu membuang sampah pada tempatnya, membawa botol minum atau tumbler, kurangi membeli makanan dan minuman kemasan plastik serta biasakan mematikan AC, lampu, kran setelah selesai
digunakan. Setelah melihat beberapa contoh tersebut orang-orang tentu akan termotivasi untuk saling menjaga lingkungan. “Jadilah mahasiswa yang peka terhadap keadaan lingkungan karena peninggalan terbaik kita di masa depan adalah lingkungan yang aman dan terjaga,” ujar Cheriva saat ditanyai pesan untuk teman-teman mahasiswa. Sebagai perwakilan perubahan, Duta Kebersihan dan Lingkungan Hidup memiliki tanggung jawab besar dalam memotivasi masyarakat agar lebih memperhatikan kelestarian lingkungan dan mengambil tindakan positif. Mereka bukan hanya memelihara kebersihan fisik, tetapi juga agen perubahan sosial yang dapat mengubah perilaku dan pola pikir orang-orang terkait lingkungan. Dalam dunia yang semakin terpapar oleh masalah lingkungan seperti polusi plastik, perubahan iklim, dan kerusakan ekosistem, peran Duta Kebersihan menjadi semakin penting.
MAJALAH TAHUNAN 2023
24
HIBURAN
SATRIA RESIK Penulis: Retno Mularsih Editor: Dwi Yuliyanti
S
uara tangis bayi di tengah gemuruhnya hujan terdengar sampai ke dalam rum-
ah Ujang. Pelan tapi pasti Ujang mendekati kotak besar yang ditutupi payung besar berwarna hitam. Terdengar tangisan bayi berselimut kain sutra. Segera Ujang membawa bayi itu ke gubuk tua miliknya. Dipeluknya bayi itu agar dia tidak kedinginan, terdapat secarik kertas lusuh yang tulisannya sudah luntur. Entah apa maksud tulisan itu. Di sela-sela kain sutra itu terdapat kalung emas. Mungkin orang tua bayi ini menitipkan bayinya untuk dia rawat. Di kejauhan tampak seorang wanita muda yang menangis di tengah hujan. Dia adalah ibu dari bayi yang ditinggalkannya dekat rumah Ujang. Berharap semoga bayinya baik-baik saja.
Sumber: canva
Bayi laki-laki yang ditemukan Ujang diberi nama Satria Resik berharap semoga dia bisa menjadi pahlawan untuk kebersihan alam semesta. Cita-cita panjang untuk tetap menjaga lingkungan sekitar dari tumpukan sampah, meskipun dia seorang pemulung tapi rumah Ujang bersih rapi dan terawat. Tampak barang rongsokan yang dikumpulkannya tertata rapi di sudut rumahnya. Ujang tinggal sebatang kara, istrinya sudah meninggal dua tahun lalu. Sekarang Ujang merasa kehadiran Satria menjadi obat pelipur lara di tengah usianya yang semakin tua.
25
Sepuluh tahun sudah Satria dirawat oleh Ujang. Bayi yang ditemukannya di tengah hujan itu sudah tumbuh menjadi anak yang tampan dan pintar, untuk anak yang ikut memulung. Satria beberapa kali ikut belajar bersama komunitas belajar dari sebuah kampus dekat tempat tinggalnya. Dia diajari membaca dan menulis. Satria anak yang cepat menangkap semua yang diajarkan oleh kakak-kakak mahasiswa itu, sampai Lizzie, salah satu mahasiswa yang ikut komunitas terheran-heran melihat Satria. Dia tidak seperti anak pinggiran pada umumnya, wajahnya tampan, tinggi, dan dia termasuk anak yang pintar meskipun tidak sekolah dasar. Satria sangat antusias untuk belajar setelah dia membantu Ujang mencari barang rongsokan untuk dijual. Bagi Satria, dia sangat mengagumi sosok Ujang yang sudah susah payah merawat dan membesarkannya seorang diri. Pada suatu ketika, Ujang jatuh sakit dan dia tidak ada uang untuk berobat. Satria susah payah mencari uang untuk pengobatan ayahnya itu. Dia sampai rela tidak ikut kelas belajar. Lizzie yang mencari keberadaan Satria beberapa hari akhirnya mencari tahu keberadaan tempat tinggal Satria. Akhirnya atas bantuan teman-teman yang lain, Lizzie membawa Ujang ke rumah sakit. Ujang memberikan kalung emas yang ditemukan bersama bayi Satria kepada anaknya itu.
MAJALAH TAHUNAN 2023
HIBURAN Selama Ujang di rawat, Satrialah yang menyapu jalanan, mencari rongsokan, dan membersihkan sampah di sekitarnya. Dia tidak bisa membiarkan rumah atau lingkungannya kotor.
Satria mendapatkan penghargaan dari walikota. Hal ini membuat orang di sekitarnya bangga termasuk Ujang. Satria mengenakan kalung yang ditinggalkan orangtua kandungnya.
Hingga suatu saat keadaan Ujang semakin memburuk, akhirnya Satria menemani ayahnya di rumah sakit setiap hari. Seminggu sudah dia merawat ayahnya di rumah sakit. Pada suatu waktu, hujan deras turun setiap hari. Hingga pada akhirnya banyak daerah banjir. Tapi tidak dengan lingkungan tempat Satria tinggal. Sesekali dia pulang ke rumah untuk membersihkan sampah di lingkungannya. Sampai orangorang yang tinggal dekat daerah itu merasa kagum dan iba. Merekalah yang membantu membiayai pengobatan Ujang.
Tak lama setelah itu, seorang wanita menyadari berita dan kalung yang dikenakan oleh Satria. Dia adalah ibu kandung Satria, kalung itu adalah kalung pemberian bapak walikota yang tidak lain adalah kakek Satria. Ibu Satria merasa sangat senang anaknya masih hidup sampai sekarang. Satria adalah anak korban broken home, di mana ayahnya meninggal saat dia belum dilahirkan.
Setelah kondisi Ujang membaik, Satria pamit untuk membantu korban bencana banjir. Untuk anak seusianya, Ujang tidak pernah melarang Satria untuk berbuat baik. Dia selalu mengajarkan kebaikan pada Satria. Hingga dia tumbuh menjadi anak yang sangat peduli terhadap lingkungannya. Ketua RT di tempat tinggal Satria merasa sangat bangga karena di tengah musibah yang dialami Ujang, Satria masih membantu merawat lingkungan tempat tinggal mereka. Wilayah mereka tidak kebanjiran karena aliran airnya tidak tersumbat oleh sampah. Berbeda dengan daerah lain yang pembuangannya terhambat oleh tumpukan sampah.
Momen haru pun terjadi saat Satria bertemu dengan keluarga kandungnya. Mereka sangat menyesal karena itu, dan tak lama kemudian Satria tinggal bersama keluarganya beserta Ujang. Kehidupan mereka menjadi lebih baik lagi. Satria bisa sekolah dan dia tetap membantu untuk membersihkan lingkungannya dari sampah. Bagi Satria, dimanapun dia berada kita tetap harus menjaga lingkungan dari sampah agar terhindar dari berbagai macam penyakit dan musibah kelak. Dari kisah Satria kita belajar untuk selalu peduli terhadap kebersihan lingkungan, menjaga dan merawatnya. Tetap menjadi orang yang berguna dimanapun kita berada, mulai dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya.
Satria dan relawan banjir yang lain membantu mengevakuasi dan membersihkan sampah yang menyumbat di daerah banjir, sampai relawan yang lain dibuat terkagum kagum oleh kegigihan Satria. Dia punya tenaga yang kuat, ulet, dan sabar dalam membersihkan sampah yang mungkin menjijikkan bagi sebagian orang. Akhirnya banjir dapat tertangani, salah satunya berkat Satria. Dia diwawancarai oleh wartawan dan masuk berita hingga koran. Banyak yang kagum terhadap Satria. Hingga suatu ketika, dia diundang untuk hadir di acara walikota.
MAJALAH TAHUNAN 2023
26
EPILOG
Menuju Ambang Tanpa Batas Penulis: Dwi Yuliyanti Editor: Annisa Nur Widya Fauzia
Dokumentasi Kliring
Pers mahasiswa yang lebih dari sekedar organisasi. Ini bukan hanya
KLIRING - tentang keorganisasian, tapi juga tentang kepenulisan.
Menjadi mahasiswa adalah tantangan sekaligus peluang. Mahasiswa yang berambisi tidak
hanya untuk akademik, tapi juga untuk menyuarakan asumsi dan persepsi. Memang konteks pers sangat berbeda dengan bidang kami di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Namun bukan hal yang mustahil bukan, jika mau belajar? Pembelajaran kami selama setahun kebelakang adalah perjalanan yang melelahkan. Bukan semata memperbaiki kapasitas di ambang sebelumnya. Tapi juga melaju untuk melahirkan konsep baru.
Ibarat kapal, saat awal berlayar telah gugur beberapa awak kami. Cukup membuat gaduh hingga jiwa rasanya hampir terbunuh. Terlepas dari itu, rasa memiliki tak kalah jauh. Meski terkadang raga terlalu asyik dengan denyut dalam tubuh. Alhasil, kapal yang telah menaungi badai itu, kini hampir berlabuh. Tersisa nafas terakhir untuk menuntaskan buntut karya mungil penuh coretan. Di belahan kertas mungil ini, kami melontarkan karya mengenai “Kemelut Sampah Melilit Asa.” Subjek ini berangkat dari keresahan kami sebagai manusia, yang berambisi untuk berguna bagi sesama. Kemelut barang tak berguna sangat membuat kami gundah gulana. Bagaimana bisa kami diam saja? Saat keadaan tidak baik-baik saja. Akankah begini seterusnya? Asa kami dikebiri. Melilit penuh duri yang tak kunjung ada solusi.
Bukan hanya kami, tapi juga insan lain juga menjerit penuh resah. Banyak hal yang mereka lewatkan, udara yang bersih, lingkungan yang damai, dan ekosistem yang terjaga. Jika kritik harus dibarengi dengan solusi, lantas manusia mana yang tega makan enak, sudah digaji, tapi kebanyakan janji? Coretan ini tidak bermaksud menyalahkan, semua hanya butuh kesadaran. Mari sama-sama berusaha agar bermakna menjadi manusia, yang memanusiakan manusia. Tentu, buntut karya mungil penuh coretan ini bukanlah kesempurnaan. Terlalu banyak cacat cela yang membabi-buta. Proses garapan yang minim waktu, terlalu banyak tenaga yang habis tak tersisa, hingga lain hal yang tak bisa kami sebutkan. Di ambang ini, kami akhirnya bisa bernafas lebih lega. Ambang yang akan menjadi pijakan ambang selanjutnya, yang lebih bermakna dan berkelas, menuju ambang tanpa batas.
27
MAJALAH TAHUNAN 2023
GALERI
Lokasi: Jalan Ring Road Barat, Area Sawah, Nogotirto, Gamping, Sleman pada Selasa (17/10/2023) Sumber: Dwi Yuliyanti
Lokasi: Koridor Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPNVY Kampus 1 pada Kamis (17/08/2023) Sumber: Dwi Yuliyanti
MAJALAH TAHUNAN 2023
28
Big thanks to our sponsorship
Big thanks to our sponsorship
YUK NULIS! Kamu hobi nulis dan ingin karyamu dimuat di website Kliring? Bisa banget!! Kirim karyamu ke bawah ini bppmkliring@gmail.com
bppmkliring
bppmkliring
www.bppmkliring.com
bppm_kliring