Skip to main content

MEDIVET XV 2018 - Animal's Heroes

Page 1

MediVet ISSN 0215-7535

Media Informasi Veteriner

Edisi XV / 2018

Vegan Diet for Pets

Menyehatkan atau Menyiksa? th

Equestrian Sports 18 Asian Games 2018

Kesejahteraan Hewan adalah Prioritas

Sterilisasi Hewan Kesayangan :

Yes or Yes

BSO Selingan Laprak dan Praktikum

Animal’s HEROES


Point of View Editor’s Letter

3

Hippofocus Equestrian Sports 18th Asian Games 2018 : Kesejahteraan Hewan adalah Prioritas 4 Sterilisasi Hewan Kesayangan : Yes or Yes 7

Redaksi Pelindung Prof. Dr. drh. Siti Isrina Oktavia Salasia Penasehat drh. Agung Budiyanto, MP., Ph.D. Pembina drh. Agus Purnomo, M.Sc. Ketua BPPM FKH UGM Gita Sevti Ariska Putri Pimpinan Umum Nadia Liswardani Destinanda Pimpinan Redaksi Hessy Kusuma Cahyanti Pimpinan Usaha Nyi Raden Nokeu Q.C. Sekretaris Anisa Rachmawati F. Bendahara Isna Fitranuansa K. Editor Tri Hendarwati Layouter Prisca Andini N. Reporter Savana Annisa R., Bela Citra A., Anindita Noviana P., Taki Zata A., Angelica Meita A., Leandra Arielle V., M. Fawwaz F. Pracetak Siti Dyani L. Distribusi Adynanda Cahyo S.

Anterature Vegan Diet for Pets : Menyehatkan atau Menyiksa?

9

PawďŹ le Berkat Nyamuk, Prestasi Bertumpuk

11

Bettertell Puisi TTS Cerpen

12 13 14

Buzz Seberapa Sering Kamu ke Perpustakaan 16 Naik Turun FKH 19 Eyes BSO : Selingan Laprak dan Praktikum 21 Kenali Profesi Kedokteran Hewan UGM 24 Style Review Film : Tengkorak

25

Bettertell Komik

26

BPPM Galeria

27

BADAN PENERBITAN PERS MAHASISWA Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada

Jalan Fauna No 2, Karangmalang, Yogyakarta bppm.fkh.ugm.ac.id

@bppmfkhugm

bppm.fkh@ugm.ac.id

@jfa4756i

2 MediVet

Edisi XV / 2018

Model Cover Leandra Arielle V. Anjing : Pablo


El

H

aloo, para pembaca MediVet yang terkasih. Syukur kepada Tuhan, karena atas berkat dan rahmat-Nya MediVet edisi ke XV tahun 2018 ini dapat terbit meskipun banyak kesulitan dan rintangan. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penerbitan MediVet : Animal's Heroes. Semoga dengan terbitnya MediVet tahun ini, bisa membantu meningkatkan motivasi teman-teman dalam menjadi dokter hewan dan memberikan pengetahuan yang lebih. Tentunya masih banyak kesalahan dalam bahasa dan penulisan, kami mohon maaf. Kami harap untuk kedepannya MediVet dapat dikemas lebih baik lagi.

Editor’s Letter

Animal’s Heroes Hewan adalah binatang yang dapat berkomunikasi dan berekspresi dengan caranya masing-masing. Tidak selalu hewan yang meneteskan air mata berarti mereka bersedih, bisa saja itu adalah kondisi siologis mereka. Tidak selalu juga hewan yang “terlihat” tersenyum berarti mereka bahagia. Akan tetapi sebagian besar manusia tidak dapat memahami mereka dan hanya bisa menerka-nerka apa yang hendak mereka ungkapkan, sebagian lagi bahkan tidak peduli Ketika semakin sedikit orang yang peduli dengan eksistensi hewan-hewan ini, dokter hewan diharapkan lebih peduli kepada mereka. Mahasiswa yang saat ini sedang belajar untuk menjadi dokter hewan bisa menggunakan waktu dalam perkuliahan mereka dengan sebaik mungkin agar bisa menjadi dokter hewan yang cerdas nantinya. Salah satu proses yang perlu dijalani adalah Koasistensi atau PPDH yang bertujuan agar dalam praktiknya nanti dokter hewan dapat menangani pasien dengan lebih baik. Selain itu, perlu diberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya hewan-hewan ini dalam hidup kita, dan apa yang baik untuk mereka. Seperti apakah memberi makan hewan karnivora dengan makanan yang dibuat dari tumbuhan itu baik atau apakah tepat untuk sterilisasi hewan kesayangan. Tak lama ini ini telah berlangsung ASIAN GAMES 2018 di Indonesia dan salah satu cabangnya adalah Equestrian Sports. Di sini peran dokter hewan dibutuhkan tidak hanya dalam mengurus kesehatan hewan (khususnya kuda), namun juga dalam transportasinya, dan sebagainya. Pahlawan menurut KBBI adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Tidak hanya dokter hewan yang bisa menjadi pahlawan bagi para binatang, seluruh masyarakat juga bisa. Mahatma Gandhi pernah mengatakan, “The greatness of a nation and it's moral can be judged by the way it's animals are treated.” Tanah Air tercinta, Indonesia memiliki banyak sekali satwa yang menjadi harta kebanggaan kita. Mari bersama kita menjaga keberadaan mereka. (Hessy)

MediVet

Edisi XV / 2018

3


drh. Dinar (atas, kedua dari kiri) bersama koleganya di depan Jakarta International Equestrian Park, Pulonas

4 MediVet

Edisi XV / 2018


Hippofocus

MediVet

Edisi XV / 2018

5


6 MediVet

Edisi XV / 2018


Hippofocus

STERILISASI HEWAN KESAYANGAN:

YES OR YES ! Pemeliharaan anjing dan kucing oleh manusia kini semakin sering ditemui, bahkan hewan peliharaan tersebut juga dianggap sebagai bagian dari kehidupan pemiliknya. Namun, perlakuan yang tidak bertanggungjawab terhadap hewan peliharaan dapat menimbulkan permasalahan. Sebagai contoh, bila jumlah kucing peliharaannya yang terlalu banyak dan pemilik tidak sanggup untuk memeliharanya, tanpa pikir panjang akan dibuang begitu saja. Sebagian masyarakat akan kasihan, namun lebih banyak yang merasa terganggu dengan keberadaan hewan liar domestik tersebut, belum lagi permasalahan penyakit zoonosis yang ditimbulkan. Solusi yang ditawarkan adalah sterilisasi pada hewan peliharaan seiring dengan pro dan kontra yang masih terus bergulir. Beberapa pihak mengatakan bahwa sterilisasi adalah solusi terbaik, sedangkan pihak lainnya beranggapan bahwa itu merupakan pelanggaran terhadap kesejahteraan hewan karena mencegah hewan melakukan tindakan alaminya. BPPM FKH UGM telah melakukan wawancara dengan salah satu tenaga medis Rumah Sakit Hewan (RSH) Prof. Soeparwi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, yaitu drh. Kurnia. Ditemui di sela kegiatan beliau, wanita kelulusan FKH UGM tahun 2010 ini memberikan penjelasan mengenai sterilisasi pada hewan kesayangan. Berikut hasil wawancara yang telah dilakukan*: *kalimat bold : pewawancara, italic : drh. Kurnia Mengapa perlu dilakukan sterilisasi pada hewan kesayangan? Hewan kesayangan, seperti anjing dan kucing, memiliki organ reproduksi dan memiliki kebutuhan bereproduksi. Secara alamiah, kebutuhan ini mendasari tingkah laku hewan dan menjadi bagian dari animal instinct. Apabila kita memelihara hewan, tentunya wajib memenuhi segala kebutuhannya, seperti makan, minum, tempat tinggal layak, kebutuhan medis, kasih sayang, termasuk juga kebutuhan bereproduksi. Apabila salah satu kebutuhan tidak terpenuhi, pastinya akan membuat hewan tersebut menderita dan menimbulkan permasalahan lain. Tidak terpenuhinya kebutuhan makan dan minum, akan membuat hewan kelaparan, malnutrisi, sakit, bahkan menyebabkan kematian. Namun, apabila kebutuhan bereproduksi yang tidak terpenuhi, sedangkan kebutuhan lainnya tercukupi, juga akan menimbulkan masalah. Organ reproduksi jantan akan menghasilkan sperma dan testosterone. Testosterone ini mempengaruhi tingkah laku kejantanan seperti rangsangan kawin, mempertahankan daerah kekuasaan dan menjadi penguasa di antara pejantan lainnya. Pejantan dalam puncak birahi juga lebih sensitif, beberapa cenderung agresif dan sangat fokus untuk kawin. Apabila tidak tersedianya hewan betina atau justru pemilik melarang untuk kawin, pejantan akan stres dan semakin agresif. Hal ini bisa berdampak pada menurunnya nafsu makan (karena yang dipikirkan hanya keinginan kawin), perkelahian dengan hewan lain, sulit dikendalikan bahkan ada yang berpotensi menjadi galak ataupun menggigit. Anjing betina memiliki organ ovarium (indung telur) dan uterus (rahim). Organ ini mengeluarkan hormon estrogen dan progesterone dalam tiap siklus reproduksinya. Akti itas estrogen dan progesterone tanpa adanya kebuntingan akan

mengakibatkan penebalan dinding rahim dan menyebabkan terjadinya cystic hyperplasia endometritis. Adanya infeksi bakteri membuat cystic hyperplasia endometrisis melanjut menjadi pyometra (peradangan rahim disertai nanah). Pyometra beresiko terhadap kematian hewan. Penanganan yang efektif saat ini, dengan tindakan operasi mengangkat ovarium dan uterus. Hewan peliharaan yang memiliki kebebasan bereproduksi juga akan menimbulkan masalah, anaknya akan semakin bertambah dan tentunya akan membutuhkan biaya dan fasilitas pemeliharan yang lebih. Begitu juga dengan hewan yang dipisahkan (tidak dikawinkan/dilarang kawin) selama musim kawin juga tentunya menimbulkan masalah yang telah dijelaskan sebelumnya. Hal ini menjadi dilema tersendiri. Sterilisasi menjadi solusi bagi permasalahan hewan yang tidak dikawinkan dan solusi bagi permasalahan yang ditimbulkan akibat tingkah laku yang berkaitan dengan aktivitas reproduksi hewan. Apa yang dilakukan saat sterilisasi? Sterilisasi pada hewan jantan dilakukan dengan teknik kastrasi yaitu mengambil organ testis, sehingga tidak menghasilkan sperma dan testosterone. Pada hewan betina dilakukan dengan teknik ovariohysterectomy (OH) yaitu mengangkat organ ovarium dan uterus. Seluruh proses sterilisasi ini dilakukan oleh dokter hewan ahli dengan peralatan dan prosedur standar serta dilakukan dalam keadaan terbius total sehingga hewan tidak merasa kesakitan. Sterilisasi juga memiliki beberapa syarat, yaitu telah berkembang organ reproduksi, hewan dinyatakan sehat, tidak ada kejadian penyakit menular (virus) di lingkungannya, serta tidak sedang masa estrus (birahi) pada hewan betina. Tanda-tanda hewan telah berkembang organ reproduksinya diawali dengan masa puber dimana hewan mulai tertarik dengan lawan jenis dan bertingkah seperti sedang kawin. Namun, puber bersifat relatif, maksudnya berbeda pada masing-masing hewan. Secara isik, pada hewan jantan ditandai sudah turunnya testis ke dalam kantong testis. Anjing dan kucing betina memiliki siklus reproduksi yang berbeda, pada anjing

MediVet

Edisi XV / 2018

7


betina akan keluar darah dari vagina selama 14-28 hari yang disebut estrus (beberapa menyebut loop) yang menandakan a n j i n g s i a p u n t u k b e ra n a k . Ku c i n g b e t i n a t i d a k mengeluarkan darah seperti halnya pada anjing, tetapi akan terlihat kecentilannya, berguling-guling di atas lantai, teriak-teriak dan mengangkat pantatnya bila daerah pantat disentuh. Patokan usia memudahkan pemilik untuk m e n e n t u k a n w a k t u u n t u k m e n s t e r i l h e w a n n y a . Mempertimbangkan telah berkembangnya organ reproduksinya, usia minimal dilakukannya sterilisasi yaitu 79 bulan pada hewan jantan dan 6 -7 bulan pada hewan betina. Apa saja yang perlu dipertimbangkan sebelum melakukan sterilisasi hewan? Sebelum melakukan sterilisasi, pemilik harus menetapkan tujuan dari tindakan tersebut. Beberapa hal yang bisa dipertimbangkan, misalnya kontrol populasi hewan peliharaannya, mencegah agresi itas pejantan, mengurangi stres saat musim kawin, sampai dengan pertimbangan mencegah penyakit-penyakit reproduksi. Beberapa pemilik hewan mengaku kewalahan apabila hewan kesayangannya beranak pinak yang tidak terkendali, sehingga pemilik tidak sanggup dalam menyediakan tempat, pakan, kebutuhan medis dan biaya pemeliharaan lainnya. Hal ini dapat menjadi pertimbangan untuk melakukan sterilisasi. Kasus lain yang pernah terjadi, ada seekor anjing Rottweiler jantan yang beranjak dewasa mulai menunjukkan karakter agresif, memiliki kecenderungan menyerang pejantan lain dan sulit dilatih. Pemilik memutuskan untuk mensteril anjingnya dengan tujuan untuk mengendalikan sifat agresifnya. Beberapa bulan setelah steril, tentu dengan pelatihan disiplin dan kasih sayang pemilik, anjing mulai menunjukkan sifat tenang, bersahabat dan tidak menyerang pejantan lain, bahkan sikapnya terlihat seperti anak anjing yang manja. Meskipun demikian, semua kembali pada tujuan pemilik dan kesanggupan dalam memelihara yang layak sesuai prinsip animal welfare. Bagaimana dengan perubahan pada hewan setelah dilakukan sterilisasi? Pasca tindakan steril ada proses kesembuhan luka selama 714 hari. Hewan akan memerlukan perawatan intensif seperti meminum antibiotik secara teratur, perawatan luka operasi, serta mengurangi pergerakan dan aktivitasnya dengan memasukkan dalam kandang selama proses kesembuhan l u k a n y a . P e n g g u n a a n E l i z a b e t h c o l l a r s a n g a t direkomendasikan agar hewan tidak menjilat dan menggigit luka sebelum kulit dan jaringan kering dan menyatu. Perlu diwaspadai adanya perubahan metabolisme dan penurunan aktivitas pasca steril, yang dalam jangka waktu panjang membuat hewan beresiko terkena obesitas dan diabetes. Hindari pemberian pakan yang tinggi karbohidrat dan gula, serta memperbanyak bermain, jogging bersama ataupun pelatihan agility bersama hewan. Selain pada hewan kesayangan, bagaimana pandangan Dokter mengenai sterilisasi pada hewan domestik liar lainnya? Hewan domestik liar yang dimaksud adalah anjing dan

8 MediVet

Edisi XV / 2018

PROFIL NARASUMBER drh. Kurnia Yogyakarta, 13 April 1986 2011-sekarang : Tenaga Medis RSH Prof. Soeparwi FKH UGM Kontak : 08122703216 Instagram : kurnia.menik kucing tanpa tuan yang hidup bebas berkeliaran. Hewan tersebut tentunya punya kebebasan dalam kawin dan beranak pinak, sehingga populasinya seringkali susah untuk dikendalikan dan sebagian sulit untuk dijinakkan karena terbiasa hidup bebas. Meskipun ada yang mau mendekati manusia untuk mendapatkan makanan dan merasa nyaman karena kasih sayang manusia. Keberadaan hewan domestik liar tersebut berisiko terhadap penyebaran penyakit serta ketidaknyamanan sosial bagi penduduk dan bagi hewan itu sendiri (persaingan sumber makanan, persaingan pasangan, perebutan wilayah, dll). Berbagai penyakit dapat ditularkan dari satu hewan ke hewan lain dan beberapa bersifat zoonosis (dapat menular dari hewan ke manusia). Penyakit menular antar hewan bisa berupa penyakit kulit (scabies, caplak, kutu, demodex), cacing, virus (panleukophenia, rhinotracheitis, canin parvo virus, distemper), chlamydiosis, diare, parasit darah, dll. Penyakit zoonosis yang umumnya dijumpai adalah rabies dan leptospira. Pengendalian populasi diharapkan mampu mengurangi dampak negatif dari keberadaan hewan domestik liar tersebut, serta perlunya kesadaran masyarakat agar tidak ‘membuang’ hewan di pasar, restoran maupun tempat sampah. Hal ini menyebabkan pertambahan hewan domestik liar yang juga tidak terjamin kesejahteraan hewannya. Pengendalian populasi yang paling ‘manusiawi’ tentunya dengan sterilisasi karena dilakukan dengan pembiusan total dan memiliki beberapa persyaratan medis. Pengendalian populasi dalam jumlah besar, terlebih dahulu dilakukan pendataan jumlah populasi dan rencana hewan yang akan disterilisasi. Jangan sampai sterilisasi membuat semua hewan tidak dapat beranak pinak yang berujung pada kepunahan dan ketidakseimbangan rantai makanan di wilayah tersebut, serta tetap menggunakan prosedur standar medis untuk menghindari resiko infeksi, kesakitan ataupun kematian. Sebagai penutup, adakah pesan untuk pembaca? Bila kita memutuskan untuk memelihara hewan, haruslah berupaya untuk memenuhi segala kebutuhannya, termasuk melakukan perkawinan. Namun, bila tidak sanggup untuk mengawinkan atau merawat anak-anaknya, lebih baik dilakukan sterilisasi pada hewan tersebut. Sterilisasi merupakan salah satu solusi dari permasalahan sosial atau penyakit pada anjing dan kucing yang diliarkan. Karena ada beberapa penyakit yang timbul pada hewan yang tidak disteril, untuk pengendalian sifat, dan pengendalian populasi. Larangan steril diberlakukan apabila tidak ada tenaga ahli, peralatan yang sesuai standar atau kondisi hewan yang tidak sehat. (Adynanda dan Nadia)


Anterature

MediVet

Edisi XV / 2018

9


10 MediVet

Edisi XV / 2018


Paw le

MediVet

Edisi XV / 2018

11


Bettertell

12 MediVet

Edisi XV / 2018


Bettertell

MediVet

Edisi XV / 2018

13


Bettertell

14 MediVet

Edisi XV / 2018


MediVet

Edisi XV / 2018

15


Buzz

16 MediVet

Edisi XV / 2018


MediVet

Edisi XV / 2018

17


18 MediVet

Edisi XV / 2018


Buzz

MediVet

Edisi XV / 2018

19


20 MediVet

Edisi XV / 2018


Eyes

MediVet

Edisi XV / 2018

21


22 MediVet

Edisi XV / 2018


MediVet

Edisi XV / 2018

23


Eyes

Kenali Profesi Kedokteran Hewan UGM pelantikan susulan akan dilaksanakan bulan Juni, tapi itu tergantung jumlah mahasiswa yang dilantik.

Pengambilan sampel serum ayam, stase kodin (Foto: Osi)

Program Profesi Dokter Hewan (PPDH) atau sering disebut koas/koasistensi adalah studi lanjut setelah mahasiswa menyelesaikan studi S1 Kedokteran Hewan. Koas lebih mengarah pada praktik, mengajarkan mahasiswa untuk menerapkan ilmu-ilmu yang telah mereka terima saat kuliah. Setiap mahasiswa koas akan dibimbing oleh satu dosen pembimbing dalam menyelesaikan kasusnya Pendaftaran PPDH di Universitas Gadjah Mada dilakukan secara online yang dilanjutkan pembayaran melalui bank, kemudian mahasiswa yang sudah terdaftar menjadi mahasiswa profesi akan mendapat NIM baru. Untuk pembayaran dari tahun 2017 sampai tahun 2018 digunakan sistem UKT yaitu mahasiswa membayar biaya koas sesuai jumlah UKT masing-masing saat menempuh studi S1. Sistem ini ditentukan oleh fakultas dan mungkin dapat berubah untuk tahun-tahun mendatang. Mahasiswa PPDH akan koas selama 3 semester (1,5 tahun) dan selanjutnya akan dilantik menjadi dokter hewan setelah memenuhi syarat 38 SKS, 6 SKS tiap stase koas kecuali kodil 8 SKS. Untuk saat ini, UGM hanya menerima mahasiswa yang telah menyelesaikan studi S1 Kedokteran Hewan di UGM, tidak mahasiswa dari universitas lain. Hal ini dikarenakan keterbatasan fasilitas dan dosen di FKH UGM sendiri. Mahasiswa koas akan dibagi dalam beberapa kelompok oleh PPDH, masing-masing kelompok terdiri dari 15-17 orang. Kelompok-kelompok ini dibagi menjadi 2 periode atau gelombang. Setelah gelombang 1 mulai masuk koas, 2 minggu kemudian gelombang 2 mulai koas. Dalam satu semester mahasiswa koas akan mendapat dua stase yang diselesaikan dalam 7-8 minggu, 7 minggu untuk masa aktif koas dan 1 minggu sebagai masa transisi untuk menyelesaikan administrasi maupun hal-hal yang masih kurang. Selesai tidak selesai, perputaran koas akan terus berjalan. Misalnya jika sudah wisuda bulan Agustus, maka koas akan dimulai dari bulan September, sehingga bulan Desember tahun depan sudah bisa pelantikan. Namun terkadang ada mahasiswa koas yang pelantikannya tertunda. Biasanya

24 MediVet

Edisi XV / 2018

Koas terdiri dari enam stase, yaitu: koasistensi reproduksi dan kebidanan (korep), koasistensi diagnosa laboratorik (kodil), koasistensi kesehatan masyarakat veteriner dan administrasi dinas (kodin), koasistensi klinik interna hewan kecil (incil), koasistensi klinik interna hewan besar (inbes), serta koasistensi bedah dan radiologi. Koas bisa dilaksanakan di dalam FKH UGM maupun di luar kota, bahkan di luar negeri. Dr. drh. Tri Untari, M.Si mengatakan bahwa koas di luar negeri dapat dilaksanakan dengan rekan FKH UGM di luar negeri jika memang ada mahasiswa yang meminta, dengan catatan biaya perjalanan dan keseharian ditanggung oleh mahasiswa sendiri. Beliau menjelaskan bahwa biaya dari UKT tidak hanya untuk koas tapi juga operasional lainnya yang mendukung terlaksananya koas tersebut, sehingga sangat tidak cukup jika harus membiayai masingmasing mahasiswa ke luar negeri/luar kota. Salah satu hal yang diantisipasi oleh calon-calon mahasiswa koas adalah biaya yang perlu dikeluarkan dalam menjalani koas. Ibu Untari menyebutkan untuk biaya tersebut tergantung kebutuhan setiap lab dan kasus yang diperoleh mahasiswa, tidak dapat dipastikan sebesar apa biaya yang perlu disiapkan untuk koas di luar biaya UKT yang dibayarkan tiap semester. Dr. drh. Untari berpesan, “Untuk mahasiswa S1 mulai sekarang kuasai ilmu pengetahuan dasar karena akan bermanfaat dan dibawa sampai lulus. Jadilah mahasiswa yang berprestasi dan selalu mengembangkan diri. Untuk mahasiswa profesi harus mempunyai keterampilan. S1 menguasai teori, mahasiswa profesi bisa mengaplikasikan teori yang sudah didapat di S1. Selain itu, attitude yang baik itu yang lebih berperan. Attitude (sopan santun), bagaimana menghargai orang lain, cara berkomunikasi yang baik, pengaruhnya 80%�. (Hessy,Tri)

Operasi kasus mandiri, stase bedah (Foto: Osi)


Style

MediVet

Edisi XV / 2018

25


dikel as hey,namakamu s i apa? ci hmaba, gat au pes ona cowokgondr ong

*baper

kor s aj ur us an s ebel umnya

i t udibel akang kat i ngya?

i yas i h. . .mukanya t ua

A. e m s oni j e B t 997 ber 9 0 Al / PU / 8 1 232 4 / 7 1

guemaba kok. . . .

uwuuu~ maba t uaaa~

KTMnyaada ber apadi dompet ?

! ! K K I S I R E B

kat i ng t ua

maba t ua

das ar maba_-

kamukenalkat i ngcewe i t u?

yangdi maks ud

e w e C as l icowo

h i mas maba

Kat i ng


BPPM Galeria


BADAN PENERBITAN PERS MAHASISWA Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada

Jalan Fauna No 2, Karangmalang, Yogyakarta bppm.fkh.ugm.ac.id

@bppmfkhugm

bppm.fkh@ugm.ac.id

@jfa4756i


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
MEDIVET XV 2018 - Animal's Heroes by BPPM FKH UGM - Issuu