1|
|2
REDAKSI Pelindung
Prof. Drh. Teguh Budipitojo, MP., Ph. D.
Penasihat
drh. Agung Budiyanto, M.P., Ph.D.
Pembina
drh. Agus Purnomo, M.Sc.
Ketua BEM
Ilham Muhammad Fauzan
Penanggung Jawab
Nurfaaiza Nakhwa Aaqila
Pimpinan Umum
Ratna Elysia Ikhani
Pimpinan Redaksi
Mutiara Kinasih R.
Pimpinan Usaha
Editor
Zyahwa Aan Rizqi Rahmadani Siwi Meylina Rahmi Ratna Elysia Ikhani Stifani Khamidah
Reporter
Aulia Nur Sya’bani Mutiara Kinasih R. Nisrina Noor Alia Nurmala Hawani Nurul Hilda Rafi Surya Indrastata
Layouter
Nisrina Noor Alia Rafi Surya Indrastata
Pracetak
Raisya Yuniar Irmanda
Sirkulasi-arsip
Theodorik Dwi Kantjono
Nisrina Noor Alia
Sekretaris
Nurul Hilda
Bendahara
Nurmala Hawani
3|
Editor’s Letter Sebelumnya kami ucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan kehendaknya Buletin Veteriner tahun 2022 ini dapat tercetak dan dipersembahkan kepada pembaca. Pada tahun ini B-Vet memilih tema “ Hewan Liar ” yang akan membahas tentang segala informasi mengenai satwa liar, meliputi perlindungan, hak kepemilikan, kesejahteraan, fakta menarik seputar satwa liar dan isuisu hangat lainnya. Dengan maraknya pemeliharaan satwa liar yang kini sudah seperti menjadi tren dikalangan masyarakat membuat pengaruh yang besar pada kehidupan satwa liar. Kami berharap artikel-artikel tentang satwa liar ini akan menambah pengetahuan para pembaca setia. Akhirnya, kami ingin berterima kasih kepada penulis, kontributor, serta narasumber atas segala bantuannya sehingga B-Vet ini dapat terbit, kami juga ingin meminta maaf atas segala kekurangan yang ada. Semoga B-vet akan terus membawakan artikel yang menarik kedapannya.
Selamat Membaca
|4
DAFTAR ISI
KONTEN HIPPOFOCUS (7) Bolehkah Kita Memeliha Satwa Liar
Classic (19) Kadal Terbesar di Dunia Ada di Indonesia? (12) Apakah COVID-19 bisa menular ke hewan? (14) Kondisi Kebun Binatang Selama Penutupan (16) Di Balik Lucunya Goyangan Beruang
Bettertell (23) Cinta Metafora
Style (25) Yogyakarta Tidak Ada Habisnya (27)Manusia Garing : Makanan Untung Mahasiswa dengan Harga Miring (29) Turning Red: Memaknai Pubertas Melalui Film
5|
|6
Bolehkah Kita Memelihara Satwa Liar?
S
Sumber gambar: Unsplash.com
Sumber gambar: Unsplash.com
aat ini, memelihara satwa liar marak terjadi di Indonesia. Banyak orang menganggap memelihara satwa liar sebagai simbol kesuksesan dan status sosial. Ada banyak video dan foto di media sosial yang menunjukkan betapa menggemaskannya singa, kukang, orangutan, dan lain sebagainya. Banyak yang percaya bahwa satwa liar dapat dijadikan hewan peliharaan yang baik. Bahkan, publik figur yang merupakan pecinta hewan kerap menunjukkan kemesraan dengan hewan-hewan eksotis. Sepintas, hewan ini mungkin tampak jinak dan tidak berbahaya. Namun, pada kenyataannya, proses menjinakkan hewan tidak semudah membesarkan mereka sejak kecil dan memperlakukannya seperti hewan peliharaan.
Kami ingin mendengar pendapat dari drh. Sugeng mengenai kepemilikan dan bolehkah kita memelihara satwa liar, berdasarkan pandangan beliau.
Pada kesempatan kali ini, kami mewawancarai drh. Sugeng Dwi Hastono yang kerap disapa dokter Sugeng. Beliau merupakan seorang dokter hewan lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada pada tahun 2002 dan membuka praktik di Lampung dengan kliniknya yang bernama Amanah Veterinary Services.
Berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P.20/MENLHK/SETJEN/ KUM.1/6/2018, terdapat 919 jenis satwa liar yang dilindungi. Terdiri atas 562 jenis burung, 37 jenis mamalia, 37 jenis reptil, 26 jenis insekta, 20 jenis ikan, 127 jenis tumbuhan, sembilan jenis dari krustasea, mollusca dan xiphosura, serta satu jenis amphibi.
Bagaimana pandangan dan pendapat anda mengenai seseorang yang memelihara satwa liar ? liar? Indonesia memiliki undangundang nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Pada Pasal 21 ayat 2, disebutkan bahwa setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa dilindungi baik dalam keadaan hidup maupun mati.
7|7|
Hukum di Indonesia hanya melindungi satwa yang berada di daftar itu. Misal seseorang memiliki gajah afrika. tetapi di Indonesia tidak. Aturan hukum yang ada di Indonesia tidak membahas mengenai hukum memelihara satwa liar dilindungi yang bukan berasal dari Indonesia. Oleh sebab itu, orang– orang yang memelihara satwa dilindungi di luar satwa indonesia tidak terikat oleh hukum ini. Dalam pemanfaatan dan pengawatan, satwa liar dilindungi tersebut boleh dimanfaatkan setelah F2. Misal, sepasang rusa yang beranak, anakan rusa tersebut merupakan F1. Apabila rusa F1 tersebut beranak lagi, maka anakan rusa tersebut merupakan F2. Ketika rusa F2 tersebut beranak lagi, maka anakan rusa tersebut yang boleh dimanfaatkan, seperti diperjualbelikan. Pemanfaatan ini ada aturannya, seperti sertifikat yang menunjukkan rusa tersebut merupakan hasil penangkaran yang dibuktikan dengan adanya silsilah peranakan rusa tersebut. Namun, yang menjadi poin penting di sini adalah “Wildlife is not bad”. Ketika seseorang memiliki harimau kemudian mengajak harimau tersebut untuk jalan-jalan di komplek atau di jalanan, hal itu merupakan edukasi yang kurang bagus. Intinya, “Wildlife is Wildlife”(satwa liar tetaplah satwa liar). Mungkin pada saat itu jinak, tapi suatu ketika akan menjadi ancaman bagi orangorang di sekitarnya. Minggu lalu pada 20 April 2022, seorang pawang harimau di Taman Rekreasi MargaSatwa (TRMS) Serulingmas Banjarnegara, Jawa Tengah tewas diterkam harimau saat memberi pakan di kandang. Kejadian tersebut
|8
diduga terjadi karena kandang makan belum terkunci rapat sehingga harimau keluar dan menuju ke area kandang besar dan langsung menerkam sang pawang dari belakang serta menggigit bagian tengkuknya. Hal ini membuktikan apapun kondisinya satwa liar tetaplah satwa liar. Poin kedua, lebih dari 70% penyakit zoonosis berasal dari satwa liar. Dalam konsep One Health, manusia tinggal di pemukiman sedangkan satwa liar tinggal di hutan. Lingkungan sekitar manusia dan lingkungan yang mengarah ke hutan harus dijaga dalam kondisi yang baik sehingga lingkungan tersebut tidak rusak, dan tidak akan ada satwa yang ke luar hutan ataupun sebaliknya. Diharapkan, penyakit yang ada pada satwa liar hanya beredar pada satwa liar saja dan penyakit pada manusia hanya beredar pada manusia saja. Sayangnya, kenyataan yang terjadi tidak seperti itu. Contohnya adalah kasus African Swine Fever (ASF) pada babi yang sudah merajalela, dan sering ditemukan pada babi hutan atau celeng yang menjadi mangsa harimau. Setelah ditelusuri, banyak sekali kemungkinan penyebabnya. Misal, seorang peternak babi membuang bangkai babi pada aliran sungai yang menuju ke hutan. Pemburu yang menggunakan alatnya untuk memotong babi kemudian alat tersebut digunakan untuk berburu. Bisa juga kemungkinan lain seperti anjing pemburu yang mungkin di rumahnya diberi makan daging babi positif ASF. Oleh sebab itu, kita tidak boleh mendekati satwa liar atau mendekatkan satwa liar ke kita, seperti mengambil satwa liar dan menjadikannya sebagai hewan peliharaan. Hal itu sama saja dengan mendekatkan sumber penyakit
kepada kita. Poin ketiga, mengenai animal welfare. Ada sebuah fakta menyedihkan dari kehidupan primata (lutung, beruk, monyet ekor panjang dan primata lainnya). Saat mereka masih kecil, mereka selalu digendong oleh induknya. Bayibayi primata itu kerap dijual dengan harga yang murah. Untuk mengambil bayi primata, induknya harus dibunuh karena induk primata terus memeluk anaknya. Seekor primata setiap tahunnya melahirkan satu kali. Ketika satu induk primata mati, kita akan kehilangan beberapa calon individu selama beberapa tahun kedepan karena induk yang mati tidak bisa bereproduksi lagi. Apabila perilaku seperti ini terus dipertahankan (misalnya selama 10 tahun kedepan), mungkin kita tidak akan tahu siamang ataupun kukang itu seperti apa karena mereka punah. Kita hanya bisa melihat video ataupun fotonya. Bahkan, pergi ke hutan pun bisa jadi hutannya sudah tidak ada. Semakin banyak orang yang berminat memelihara satwa liar seperti hewan kesayangan. Hal ini memberikan peluang bagi pemburu untuk semakin aktif mencari satwa liar dan menjualnya dengan harga yang tidak masuk akal
Menurut anda apakah boleh kita memelihara satwa liar? Kembali kepada “Wildlife is still wildlife”. Apabila kita memelihara, pasti ada resikonya. Salah satunya adalah zoonosis. Misalnya begini, kemarin sawit dan minyak goreng langka dengan alasan bahan bakunya susah. Kemudian, kebun sawit diperlebar dengan membabat hutan yang menjadi tempat tinggal satwa liar.
Perluasan perkebunan tersebut membuat habitat asli satwa liar menjadi sempit, dan rusak. Satwa liar yang ada bisa jadi hilang atau mengganggu pemukiman warga. Kenapa harus memelihara satwa liar? Sementara hewan peliharaan yang lain masih banyak jenisnya. Contoh sederhana, seseorang membeli kura-kura brazil ketika masih kecil seharga dua puluh ribu. Kura-kura tersebut bertumbuh besar dan akan semakin repot untuk mengurusnya. Karena alasan itu, kura-kura kemudian dibuang ke sungai dan menginvasi spesies asli Indonesia di sungai tersebut. Niat baik belum tentu benar. Pada hari cinta puspa dan satwa terdapat kegiatan untuk melepaskan kura-kura, tetapi yang dilepaskan adalah kura-kura brazil. Contoh lainnya adalah pelepasan burung love bird ke alam liar. Kedua kegiatan itu dapat menyebabkan invasif spesies. Niat baiknya bagus, ingin melepaskan burung. Namun, burung yang dilepas bukan spesies asli indonesia. Seperti burung macaw, di negara asalnya burung ini dilindungi dan sudah ditangkarkan sehingga bisa diperjualbelikan. Namun, burung ini akan membahayakan satwa endemis andai dilepas di Indonesia. Menyayangi tidak harus memiliki. Misalnya, di depan rumah ada pohon jambu. Sengaja dibiarkan tumbuh besar agar burung-burung bisa hinggap di sana dan kita bisa mendengarkan kicauannya tanpa harus di kandangkan. Daripada mengandangkan burung tersebut, lebih baik menanam pohon yang lebih banyak untuk tempat tinggal bagi burung tersebut. Hal ini jauh lebih bagus, positif terhadap lingkungan karena kan membuat lingkungan tersebut
9|9|
menjadi asri dan sumber air akan banyak. Positif bagi kita sebagai manusia karena suplai oksigen akan terpenuhi dan positif bagi satwa juga karena memiliki tempat tinggal. Sehingga hal-hal sepele seperti ini yang harus digalakkan.
Bisakah anda menceritakan pengalaman sebagai dokter hewan menangani satwa liar yang dipelihara? Dokter hewan mempunyai kewajiban untuk menolong pasien sesuai dengan sumpah dokter hewan dan kode etik. Namun, dokter hewan juga harus taat hukum saat mengetahui satwa liar dilindungi dan dipelihara itu merupakan hal yang salah. Pernah suatu ketika, ada seorang pemilik hewan datang dengan membawa burung kakatua jambul kuning yang kakinya patah akibat dirantai. Yang dilakukan dokter hewan adalah memberikan edukasi terlebih dahulu bahwa burung kakatua merupakan satwa liar yang dilindungi, dan seharusnya tidak boleh dipelihara tanpa izin penangkaran dari kementerian kehutanan melalui BKSDA. Selain memberikan edukasi, dokter hewan juga harus memberikan pertolongan kepada kakatua itu. Sebelum ditangani, diperlukan surat pernyataan tentang dokter hewan yang sudah menjelaskan kepada si pemilik hewan bahwa hewan yang dibawa merupakan satwa yang dilindungi dan itu melanggar hukum. Surat tersebut dibuat untuk jaga-jaga. Apabila pemilik kakatua itu ditangkap polisi karena memelihara satwa yang dilindungi, kemudian ditelusuri ternyata pernah dibawa ke klinik dokter hewan, otomatis
|10
dokter hewan tersebut menjadi saksi atau tersangka karena turut memelihara satwa yang dilindungi. Surat itu bisa digunakan untuk membela diri karena dokter hewan tersebut sudah pernah menjelaskan bahwa hewan yang dibawa ke klinik merupakan satwa yang dilindungi.
Apakah ada jalan keluar dari permasalahan ini selain edukasi, untuk mengurangi peminat yang ingin memelihara satwa liar? Selain dengan edukasi, harus ada hukuman untuk membuat efek jera. Contoh sederhananya seperti bayi primata tadi. Pasarnya akan terus ada jika pembelinya juga masih ada. Tugas dokter hewan yang pertama adalah mengedukasi sesuai kemampuan masing-masing dengan memanfaatkan media sosial. Kedua, harus ada punishment. Pembeli satwa liar harus ditangkap, kemudian ditanyakan asal-usul dari satwa liar tersebut dan ditelusuri hingga pemburunya tertangkap. Sesuai dengan UU No 5 Tahun 1990, Pasal 40 ayat 2 mengatur: “Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat [1] dan ayat [2] [menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup] serta Pasal 31 ayat [3] dipidana penjara paling lama 5 [lima] tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000,00 [seratus juta Rupiah].” ayat [3] dipidana penjara paling lama 5 [lima] tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000,00 [seratus juta Rupiah].” Harus ada efek jera, edukasi belum tentu membuat pelaku sadar. Para
pembeli satwa liar tersebut diedukasi dan diberi hukuman. Harapannya, rantai penjualan satwa liar tersebut akan terputus seiring berjalannya waktu. Dok Sugeng juga sering memberikan edukasi kepada anak-anak kecil yang tinggal di pinggir hutan. Kelak mereka akan tumbuh dewasa. Apabila mereka memiliki anggota keluarga yang menjadi pemburu, anak yang diedukasi tadi diharapkan tidak mengikuti jejak keluarganya sebagai pemburu setelah dewasa. Lebih bagus lagi jika anak ini ikut mengedukasi orang tuanya untuk menghentikan kegiatan eksploitasi satwasatwa yang ada di hutan. Itulah salah satu upaya Dok Sugeng untuk memberikan edukasi sesuai dengan kemampuan beliau.
Apakah ada pesan untuk para pembaca yang bisa kita lakukan dalam menangani kasus memelihara satwa liar ini? Laporkan. Ke mana harus melaporkannya? Jika kita melihat unggahan media sosial mengenai penjualan satwa liar, yang bisa kita lakukan adalah dengan melaporkannya kepada kepolisian daerah atau organisasi penyelamat. Kedua lembaga atau badan ini biasanya memiliki akun media sosial sebagai jalur aduan langsung sehingga kita bisa melaporkannya kapan saja. Langkah ini memang sangat sederhana, tetapi memiliki dampak yang cukup besar bagi keberlangsungan hidup satwa liar. Dengan kita melaporkan postingan mengenai penjualan satwa liar, kita juga bisa menjaga satwa liar dari tangan para pembeli ilegal.
(Nurmala)
Sumber gambar: Unsplash.com
11|
Kadal Terbesar di Dunia Ada di Indonesia?
T
idak diragukan lagi, Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman flora dan fauna, terutama dalam hal ragam satwa. Berdasarkan data dari laman Profauna, terdapat sekitar 300 ribu spesies hewan yang hidup di Indonesia atau setara dengan 17% spesies hewan di dunia. Bahkan, Indonesia menjadi negara dengan jumlah spesies mamalia terbanyak di dunia, yaitu sekitar 515 spesies. Keanekaragaman satwa di Indonesia bukan tanpa sebab, Indonesia sendiri secara geografis terletak di antara Benua Asia dan Benua Australia, serta Samudera Hindia dan Samudra Pasifik. Hal ini menyebabkan Indonesia memiliki keanekaragaman satwa. Persebaran fauna di Indonesia terbagi menjadi tiga tipe, yaitu tipe Asiatis, Australis, dan Peralihan. Fauna tipe Asiatis memiliki karakteristik seperti hewan-hewan dari dataran Asia. Contoh fauna tipe Asiatis adalah gajah, harimau, badak, dan beruang madu. Fauna tipe Australis memiliki karakteristik, yaitu berasal dari Australia, misalnya hewan marsupial seperti possum, kanguru, dan walabi. Terdapat juga ekidna, burung kasuari, burung cenderawasih, dan beberapa jenis ular. Fauna tipe Peralihan memiliki karakteristik, yaitu gabungan dari tipe Asiatis dan Australis. Beberapa hewan tipe Peralihan merupakan hewan endemik Indonesia yang tidak ada di daerah lain, seperti komodo, anoa, dan babi rusa.
Sumber gambar: Unsplash.com
|12
Indonesia memiliki komodo (Varanus komodoensis) yang merupakan spesies kadal terbesar di dunia. Komodo memiliki panjang tubuh mencapai 3 meter dan berat 150 kg. Dilansir dari laman detik.com, komodo digolongkan
12|
Sumber gambar: Unsplash.com
sebagai satwa endemik dan kini terancam punah. Habitat komodo sendiri hanya dapat ditemukan di Indonesia, terutama di Kepulauan Timur Indonesia. Komodo disebut-sebut sebagai satwa yang berasal dari benua hijau atau Australia. Pada 900 ribu tahun lalu, komodo bermigrasi dari Australia ke Kepulauan Timur Indonesia hingga tiba di Pulau Flores. Komodo di Australia telah mengalami kepunahan sekitar 50 ribu tahun yang lalu. Hal ini tercatat dalam jurnal PLOS One yang terbit pada 2009 silam. Saat ini, habitat komodo banyak ditemukan di Indonesia, seperti Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Gili Motang, dan sebagian kecil di bagian utara dan barat Flores. Terdapat juga Taman Nasional Komodo yang dikelola oleh Unit Pelaksana Tugas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.
di London. Di kebun binatang inilah, komodo betina dirawat tanpa pasangan. Beberapa telur dari cengkeramannya menegaskan bahwa walaupun tidak ada pejantan yang berkontribusi, komodo betina tetap mampu bereproduksi. Lalu, mengapa jika komodo betina dapat bereproduksi secara aseksual, komodo tetap saja tergolong dalam hewan yang terancam punah? Penyebab kepunahan komodo dilansir dari republika.co.id, menurut IUCN adalah perubahan iklim. Perubahan iklim menyebabkan naiknya permukaan laut dan berpotensi mengurangi habitat yang cocok bagi komodo setidaknya 30% dalam 45 tahun mendatang. Dampak dari perubahan iklim ini dapat berimbas langsung pada kepunahan komodo, mengingat komodo merupakan spesies dataran rendah yang hanya dapat hidup pada ketinggian kurang dari 900 meter di atas permukaan laut.
Terdapat fakta menarik dari kadal raksasa yang satu ini, yaitu komodo betina dapat berkembangbiak tanpa kawin. Pada tahun 2006, peneliti memverifikasi bahwa komodo betina dapat bereproduksi secara aseksual melalui proses yang disebut parthenogenesis. Penelitian ini dilakukan pada dua kebun binatang yang berlokasi
Selain fakta mengenai komodo betina yang dapat bereproduksi secara aseksual, komodo juga memiliki indera penciuman yang kuat. Komodo diketahui dapat mencium bau sampai jarak 5 – 11 km. Komodo lebih mengandalkan indera pembau ketimbang penglihatan meskipun mereka memiliki penglihatan yang baik. Pada saat membau, komodo
|13
13|
akan menjulurkan lidahnya. Saat inilah mereka menangkap partikel zat kimia dari tanah dan udara. Selain itu, komodo merupakan hewan yang senang bermain walaupun komodo terlihat buas dan menyeramkan. Cara komodo berinteraksi dengan objek terbukti tanpa agresi atau motivasi untuk makan dan dapat dianggap sebagai bermain.
(Hilda)
Referensi : Aini, N. (2021). Komodo terancam Punah Akibat Dampak Perubahan Iklim. Diakses pada tanggal 22 April 2022 melalui https://www.republika. co.id/berita/qz1gg2260223/komodot e r a n c a m - pu n a h - a k i b at - d a mp a k perubahan-iklim-part1 Ius. (2021). 5 Fakta Komodo, Hewan Khas yang Ada di Negara Indonesia. Diakses pada tanggal 22 April 2022 melalui https://www.detik.com/edu/detikpedia/ d-5653659/5-fakta-komodo-hewankhas-yang-ada-di-negara-indonesia
Sumber gambar: Unsplash.com
|14
14|
15|
Manusia Garing
Makanan Untung Mahasiswa dengan Harga Miring
M
ahasiswa kerap disebut “manusia irit”. Hidup merantau dan jauh dari keluarga mengharuskan kita untuk berhemat karena harus benar-benar mengerti, mana yang keperluan dan mana yang keinginan. Secara tak langsung, mahasiswa dituntut untuk bisa memprioritaskan keperluan, mulai dari ongkos transportasi, keperluan kos, uang untuk jajan, hingga biaya yang tak terduga. Agar semua kebutuhan tersebut dapat terpenuhi, salah satu caranya adalah dengan menghemat uang jajan.. Para “manusia irit” ini bisa terbilang “untung” karena makanan di Jogja biasanya sangat bersahabat dengan kantong mahasiswa. Kuliner Jogja yang pertama kita bahas, tentunya, adalah ayam geprek. Harga ayam geprek yang biasa dijual itu biasanya berkisar antara 9–15 ribu rupiah. Keunikan yang menambah kelezatan ayam geprek adalah nasinya seringkali bisa diambil sendiri sehingga jumlahnya bisa diatur sesuai selera. Tak jarang, ada toko yang menjual paket ayam geprek disertai teh manis gratis. Beberapa merek ayam geprek yang sudah terkenal di Jogja adalah Ayam Geprek Susu (Preksu), Ayam Geprek Bu Rum, Ayam Geprek Kuah Tongseng Bu Made, dan Ayam Geprek Mas Kobis.
|16
Sumber gambar: Unsplash.com
Makanan kedua adalah kuliner yang ada di setiap sudut jalan di Jogja, yaitu Angkringan. Angkringan bisa jadi tempat untuk mencari sarapan ringan, tapi mengenyangkan. Harga nasi bungkusnya berkisar antara 2–5 ribu rupiah berdasarkan isiannya. Tentunya, nasi bungkus tidak akan lengkap tanpa beragam sate seharga 2 ribu rupiah, serta gorengan tempe dan tahu yang biasanya seharga 500–1000 rupiah. Selanjutnya, ada Warung Spesial Sambal atau yang biasa dikenal dengan Warung SS. Untuk mahasiswa yang cari makanan yang gurih-gurih pedas, tentu wajib menepi ke Warung SS. Berbagai jenis sambal, sayur, dan lauk tersedia disini. Harga makanan di tempat ini juga sangat terjangkau dengan kisaran harga mulai dari 2 ribu rupiah hingga 15 ribu Setelah ketiga tempat di atas, tentu belum lengkap tanpa Warung Bubur Kacang Ijo yang biasa dikenal dengan Warung Burjo. Tak hanya menyediakan bubur kacang ijo, tetapi juga ada olahan mie, mie tek-tek, magelangan, nasi telor, juga ayam geprek yang ikut melengkapi daftar menu di Warung Burjo. Tempat kuliner yang satu
ini sudah sangat terkenal dan tersebar di sekitaran kampus. Ciri khas yang bisa ditemui adalah lambang mie instan yang begitu familiar, khususnya di kalangan mahasiswa. Warung Burjo memiliki tempat tersendiri di hati mahasiswa yang berhemat. Disamping harganya yang miring, Warung Burjo juga biasanya buka selama 24 jam dan bisa dijadikan tempat berkumpul mahasiswa, terlebih lagi untuk berkumpul ketika lapar di malam hari. Dari keempat rekomendasi makanan dengan harga miring yang tentunya bersahabat dengan kantong mahasiswa, tentunya setiap mahasiswa sudah memiliki makanan favoritnya sendiri. Namun, empat contoh di atas merupakan contoh makanan yang tidak mungkin tak pernah dijelajahi oleh anak kos. Segarnya ayam geprek, khasnya angkringan, gurih pedasnya sambal, bubur kacang ijo yang praktis, serta hangatnya mie instan kuah di malam hari membuat berbagai makanan tersebut menjadi favorit semua mahasiswa rantau. Dari keempat makanan di atas, manakah yang menjadi favorit kalian? (Aulia)
Sumber gambar: Unsplash.com
17|
Apakah COVID-19 Bisa Menular ke Hewan?
B
Sumber gambar: Unsplash.com
eberapa waktu belakangan ini, dunia dihebohkan dengan pandemi COVID-19 yang menyebar ke seluruh dunia. Pandemi ini disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang termasuk ke dalam keluarga besar coronavirus. Meskipun pola penyebaran dan asal-mula penyakit yang menyebabkan pandemi yang menggemparkan seluruh dunia ini belum dipastikan, peneliti menduga bahwa virus ini berasal dari hewan liar yang bermutasi, kemudian menyerang manusia. Dalam kasus ini, virus SARSCoV-2 diduga berasal dari pasar Wuhan yang menjual hewan yang biasa dimakan manusia. Hewan-hewan yang dijual di pasar ini diduga kurang sehat, apalagi banyak hewan liar yang juga dijual. Pasien-pasien pertama yang terpapar pun memiliki riwayat kontak dengan pasar tersebut. Virus yang menyebabkan wabah penyakit pernapasan ini merupakan keluarga besar virus RNA untai tunggal (+ssRNA) yang dapat diisolasi pada spesies hewan yang berbeda dan manusia. Awalnya, virus ini berasal dari kelelawar, kemudian berpindah ke inang mamalia lain, yaitu musang palem Himalaya untuk SARS-CoV dan unta dromedaris untuk MERS-CoV, sebelum melompat ke manusia.
|18
Selain pada manusia, virus ini diketahui juga dapat menular ke satwa liar. Dilansir dari data Office of International des Epizooties (OIE) selaku organisasi kesehatan hewan dunia, telah tercatat 500 kasus satwa liar yang diduga terinfeksi COVID-19 pada 10 spesies di 30 negara hingga saat ini. Di Indonesia, kasus satwa liar yang telah dilaporkan adalah dua harimau sumatra bernama Hari dan Tino di Taman Margasatwa Ragunan (TMR). Keduanya terkonfirmasi positif COVID-19 sehingga harus diisolasi di kebun binatang lain. Contoh kasus lainnya datang dari luar negeri, yakni seekor harimau di kota New York yang terkonfirmasi positif COVID-19 setelah jatuh sakit dan kesulitan bernapas. Harimau ini diduga tertular dari penjaga kebun binatang yang sebelumnya terinfeksi COVID-19. Dengan demikian, penularan virus SARS-CoV-2 dari manusia ke hewan sangat mungkin terjadi. Sebaliknya, apakah manusia bisa tertular COVID-19 dari hewan? Sejauh ini belum ada bukti yang dapat membuktikan bahwa COVID-19 bisa ditularkan dari hewan ke manusia. Namun, potensi penularan tetap ada. Kabar terbaru dari jurnal Virulence Editorial yang diterbitkan pada akhir Januari 2020, menyatakan bahwa reservoir hewan ini dapat menimbulkan risiko bagi manusia di masa mendatang karena adanya potensi virus untuk berevolusi pada spesies tersebut dan dapat menular ke manusia lagi. Meskipun risiko masih belum jelas, diperkirakan vaksin COVID-19 pada hewan akan dibutuhkan Gejala COVID-19 yang dialami hewan cukup sama dengan manusia. Hewan yang terinfeksi dapat mengalami demam, batuk, kesulitan bernapas, lesu,
bersin, pilek, kotoran pada mata, muntah, dan diare. Sementara itu, pengobatan untuk kasus COVID-19 pada satwa liar hanya bertujuan untuk mengurangi gejala klinis yang terlihat. Hewan dapat sembuh dengan sendirinya setelah berhasil membentuk antibodi di dalam tubuhnya. Oleh karena itu, tingkat kematian hewan akibat COVID-19 sangat rendah. Karena potensi penyebaran virus COVID-19 terhadap hewan tetap ada, sangat disarankan bagi kamu yang terinfeksi COVID-19 untuk waspada dalam merawat hewan peliharaan. Sebagaimana prosedur pencegahan terjadinya penularan virus antarmanusia, kamu harus membatasi kontak dengan hewan peliharaanmu agar mereka tidak ikut tertular. Sebaiknya, hewan peliharaan juga dilarang masuk ke dalam kamar yang digunakan untuk isolasi mandiri. Apabila tidak memungkinkan, kamu dapat meminta tolong kerabat atau keluarga untuk merawatnya.
Untuk menghindari penularan COVID-19 terhadap hewan, hal yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut: • Menjaga kebersihan • Rajin mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir sebelum dan setelah kontak dengan hewan • Menjauhkan hewan dari penderita covid-19 • Memastikan orang yang bertugas memelihara hewan sudah mendapat vaksin covid-19 • Memakai masker dan sarung tangan saat bersama hewan yang sakit • Jangan memakaikan hewan masker karena akan membahayakan mereka • Hindari tempat-tempat yang berkerumun (Mutiara) Referensi Amanda, G. (2020, June 11). Makin Banyak Hewan Terinfeksi Covid-19, Perlukah Khawatir. Retrieved from Republika online: https://republika.co.id/ berita/q8et4r328/makin-banyak-hewanpositif-covid-19-perlu-khawatir_html Kurniawan, I. D., Suryani, Y., Kusumorini, A., & Akbar, R. M. (2020). Analisis Potensi Kelelawar (Chiroptera) sebagai Reservoir Alami SARS-COV-2 penyebab Covid-19. Jurnal Biologi, 1-10. Wahyuni, Hendrawati, F., Amaliah, F., & Muflihanah. (2021). COVID-19 pada Hewan. Medik veteriner, 1-7.
Sumber gambar: Unsplash.com
19|
STYLE
Yogyakarta Yogyakarta Tidak Ada Habisnya
Tidak Ada Habisnya Sumber gambar: Unsplash.com
|20
Sumber gambar: Unsplash.com
20|
I
stimewa, satu kata yang bisa menggambarkan Yogyakarta di benak kita. Selalu ada tempat yang bisa dijadikan cerita. Kekentalan budaya, kenikmatan kuliner, hingga keramahan warganya membuat kota istimewa ini wajib menjadi salah satu provinsi yang dimasukkan ke dalam bucketlist wisata setiap orang. Disamping budaya, kuliner, dan lingkungannya, ada banyak pusat wisata yang bisa dikunjungi. Kata “bosan” sepertinya tidak bisa diucapkan ketika sudah berada di Jogja. Selalu banyak tempat baru yang tersebar di sana dan menarik untuk dikunjungi. Ingin menikmati keramaian sekaligus berbelanja oleh-oleh? Malioboro bisa dijadikan pilihannya. Mata kita seakan menjadi tidak fokus karena dijajah oleh barisan toko cinderamata dan makanan khas Jogja, yaitu Gudeg. Tak hanya itu, kita juga bisa menikmati jalanan dengan menaiki becak ataupun delman di Malioboro. Selain Malioboro, masih ada banyak tempat yang bisa dikunjungi. Ingin relaksasi sekaligus melihat Jogja dari ketinggian? HeHa Sky View bisa menjadi solusinya. Ada waktu yang tepat untuk datang ke tempat ini, yaitu siang menuju sore agar dapat menikmati indahnya perbukitan, ditambah dengan suguhan pemandangan sunset dan hamparan lampu yang tampak berkelip apabila terus menunggu hingga matahari tenggelam. Tak perlu takut untuk lapar dan haus karena di tempat ini juga ada restoran yang menyediakan banyak pilihan makanan dan minuman.
|21
Belum sempurna rasanya jika berkunjung ke suatu tempat, tetapi belum disambut oleh riakan ombak. Salah satu pantai yang letaknya sekitar 1 jam perjalanan darat dari HeHa Sky View, yaitu Pantai Sadranan juga menyuguhkan pemandangan yang tak kalah indah. Pantai ini merupakan salah satu dari barisan pantai gunung kidul. Pantai Sadranan menyajikan hamparan pasir putih dengan hiasan terumbu karang yang indah. Pantai ini tergolong lebih sepi dibandingkan pantai lain di jajaran pantai gunung kidul. Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di sana, salah satunya snorkeling. Hanya dengan merogoh kocek 35-50 ribu rupiah, wisatawan sudah bisa menikmati wisata bawah laut selama kurang lebih 1 jam. Variasi kegiatan lainnya, yaitu mendayung kano di atas deburan ombak dan air laut yang jernih. Bagi yang ingin menikmati keindahan sunset tanpa perlu khawatir pulang malam, sudah tersedia camping ground dan penginapan. Pantai, bukti, air terjun, hutan pinus, museum, kafe, dan masih banyak lagi tempat wisata yang bisa kalian eksplor lebih jauh bersama teman dan keluarga. Itulah beberapa alternatif wisata yang bisa kalian datangi. Menurut kalian, tempat apa yang kalian eksplor? Bagaimana kalian akan menjelajahi indahnya bentangan kota istimewa ini?
(Aulia)
21|
Kondisi Kebun Binatang Selama Penutupan
P
enutupan kebun binatang selama pandemi menyebabkan masalah baru bagi perawatan satwa-satwa yang menghuni tempat tersebut. Pihak kebun binatang menutup akses untuk wisatawan sebagai bentuk tindak lanjut adanya pandemi Covid-19. Hal ini menyebabkan turunnya pendapatan kebun binatang yang penghasilan utama nya berasal dari tiket masuk pengunjung/ wisatawan. Perubahan yang terjadi akibat pandemi ini tidak hanya berakibat pada perekonomian masyarakat, tetapi berimbas juga pada kesejahteraan hewan (animal walfare). Minimnya dana yang dihasilkan oleh pihak kebun binatang sangat berpengaruh pada sistem pengelolaan satwa, salah satunya adalah pengurangan kualitas/kuantitas makanan hewan untuk menghemat pengeluaran. Kebun binatang Bandung Zoological Garden memiliki strategi sendiri untuk menangani masalah tersebut, yaitu dengan mengganti komposisi pakan hewan-hewan karnivora (hewan pemakan daging, seperti singa dan harimau) yang biasanya hanya diberi makan campuran berupa bagian dari sapi, saat ini diganti dengan daging ayam atau mengkombinasikan daging sapi dan daging ayam agar lebih terjangkau. Bahkan, pihak pengelola Bandung Zoological Garden berencana untuk mengurangi jumlah rusa agar dapat memenuhi pakan binatang lainnya.
|22 |22
Sementara, untuk satwa herbivora (pemakan tumbuhan), substitusi pakan dilakukan dengan mengganti apel yang mahal dengan apel yang murah. Hal yang sama juga terjadi di Medan Zoo, banyak satwa terancam kelaparan lantaran pihak pengelola tidak sanggup memenuhi kebutuhan pakan. “90 persen kebun binatang di Indonesia selama penutupan tak mampu memberi satwa makan lebih dari sebulan” kata Rahmat, Ketua Umum Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia. Tidak hanya berdampak pada perawatan satwa-satwa, penutupan kebun binatang juga menyebabkan pihak kebun binatang harus menekan karyawan serta masyarakat di sekitar kebun binatang yang menggantungkan hidup melalui wisata kebun binatang sehingga gaji karyawan dipangkas dan beberapa karyawan dirumahkan. PKBSI juga membuka penggalangan dana yang diperuntukkan untuk merawat satwa dan memenuhi kesejahteraan karyawan. Donasi yang terkumpul akan disalurkan ke kebun binatang yang tersebar di seluruh Indonesia. Rahmat mengatakan, kebun binatang yang mendapat bantuan terlebih dahulu adalah kebun binatang Medan karena berada dalam kondisi yang termasuk kritis.
Beruntungnya, saat ini kebun binatang sudah boleh dibuka kembali karena kasus positif sudah mulai menurun sehingga kebun binatang mendapat pemasukan dari tiket yang terjual. Meski demikian, pengunjung diwajibkan untuk menaati protokol kesehatan yang menjadi syarat masuk seperti sudah melakukan vaksin 2 dosis, melakukan check in dan check out menggunakan aplikasi pedulilindungi, dan menggunakan masker. (Mutiara)
Raferensi Anonymous. (2021, Januari 21). Masa Depan Kebun Binatang Bandung di Masa Pandemi. From Bandung zoo: http://www.bandung-zoo.com/berita/ masa-depan-kebun-binatang-bandungdi-masa-pandemi Fadila, N. J., Novitasari, D., Suwandono, L., & Utama, H. G. (2022). Zoovi: Sebuah Proses Perubahan. Journal Anthology, 2(1): 67-71. Rizal, J. G. (2020, Mei 5). Nasib Kebun Binatang Indonesia Saat Pandemi Corona. From Kompas.com: https://www.kompas. com/tren/read/2020/05/05/064200465/ nasib-kebun-binatang-indonesia-saatpandemi-virus-corona?page=all
Sumber gambar: Unsplash.com
23|
Di Balik Lucunya Goyangan Beruang
Sumber gambar: Unsplash.com
P
ernah melihat atraksi beruang madu? Beruang madu yang bisa melakukan beberapa aksi layaknya manusia, dapat terlihat lucu dan menjadi hiburan tersendiri bagi pengunjung, seperti bermain gitar, menangkap lingkaran, menangkap bola, menaiki sepeda roda tiga, dan berjoget dengan iringan musik dangdut. Beruang yang sudah dilatih akan terlihat berbeda sekali dengan yang berada di alam liar. Apakah sebenarnya atraksi beruang madu (yang membuatnya terkesan lucu) sudah sesuai dengan konsep animal welfare? Tapi, sebelum kita ulas sampai sana, kenalan dulu dengan beruang madu, yuk! Beruang madu dengan nama latin Helarctos malayanus adalah fauna yang dinobatkan sebagai simbol dari provinsi Bengkulu dan maskot kota Balikpapan. Pada umumnya, beruang madu memiliki bulu yang berkilau dengan warna hitam, bermata cokelat atau biru, dan hidungnya relatif lebar. Di bawah bulu leher beruang madu terdapat tanda berwarna oranye yang dipercaya
|24
menggambarkan matahari terbit. Beruang madu cenderung berjalan dengan empat kaki. Bentuk kukunya yang melengkung memudahkan beruang madu untuk memanjat pohon dan menggali sarangsarang untuk mencari madu. Beruang madu termasuk golongan omnivora yang sering memakan aneka buah-buahan dan tanaman hutan hujan tropis, juga serangga, burung, dan binatang kecil lainnya. Beruang madu lebih bersifat soliter, sama seperti beruang lain. Mereka cenderung berkumpul dalam kelompok keluarga. Hasil observasi menunjukkan bahwa beruang madu termasuk satwa yang cerdas dan lincah. Perkembangbiakan beruang madu cenderung sulit lantaran anak yang dilahirkan setiap masa bunting hanyalah satu atau dua ekor. Beruang madu diamati memiliki sistem tersendiri untuk menunda perkembangan telur supaya dapat memastikan anaknya akan lahir dalam kondisi induk dan lingkungan baik. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya konservasi untuk melestarikan habitat dan populasi beruang madu.
Konservasi yang baik itu sendiri memuat beberapa syarat minimum agar beruang madu merasa nyaman untuk tinggal. Dilansir dari ABTA Animal Welfare Guidelines, sebuah konservasi harus memperhatikan aktivitas keseharian hewannya agar kebutuhannya juga bisa terpenuhi. Beberapa fasilitas penunjang yang diperlukan, antara lain tempat yang higienis, ketersediaan air bersih untuk minum, pemberian pakan yang sesuai, luas kandang atau tempat konservasi yang memungkinkan hewan untuk bergerak bebas agar tidak stres dan terhindar dari konflik antar spesies atau dengan spesies lain, tersedianya sarana untuk melakukan perilaku alami, serta tersedianya akses dokter hewan. Jika hewan tersebut ditampilkan untuk sebuah atraksi, yang diperbolehkan hanyalah aktivitas yang sesuai dengan perilakunya di alam. Untuk beruang madu, perilaku alami yang sesuai di alam adalah berjalan dengan empat kaki, serta kemampuan mereka untuk memanjat dan menggali. Aksi seperti bermain gitar, menangkap lingkaran, menangkap bola, naik sepeda roda tiga, dan berjoget dengan iringan musik dangdut tidak sesuai dengan perilaku alami beruang madu. ABTA secara gamblang menulis pelarangan atraksi yang menampilkan beruang untuk menari. Namun, kok, atraksi seperti ini masih tetap ada? Bahkan, di tempat dengan label konservasi seperti sebuah kebun binatang. Kasihan sekali, ya, nasib beruang madu ini. Tidak hanya perkembangbiakan mereka lambat, di tempat konservasi malah dieksploitasi dan disuruh beratraksi pula.
Hmm, mungkin salah satu solusi yang terpikirkan di benak kalian adalah dengan adanya peraturan dari pemerintah. Namun, sebagai pembaca ataupun bagian dari kalangan masyarakat biasa, kita juga bisa ikut andil, lho, dalam menyelamatkan nasib beruang madu dan satwa liar lain dari eksploitasi berupa atraksi yang tidak sesuai dengan perilaku alami mereka. Atraksi diadakan oleh pihak penyelenggara karena ada pasarnya, yaitu penontonnya. Kalau bangku penonton sepi, tentu pihak penyelenggara akan menghentikan kegiatan atraksi itu karena dinilai tidak menguntungkan. Nah, sampai sini tentu kalian sudah tahu, kan, harus melakukan apa untuk ikut menyelamatkan beruang madu dan satwa liar lainnya? Xixixi.
(Siwi dan Nakhwa) Referensi : ABTA. 2013. ABTA Animal Welfare Guidelines : Global Welfare Guidance for Animals in Tourism. Beruang Madu GL Zoo Pandai Berjoget. 2022. Diakses pada 20 April 2022 melalui https://gembiralokazoo.com/beruangmadu-glzoo-pandai-berjoget.html. Winarno, G. D. dan Harianto, S. P. 2018. Perilaku Satwa Liar (Etologi). Bandar Lampung : Penerbit Aura.
25|
Turning Red: Memaknai Pubertas Melalui Film
Story: 8 Voice Actor: 9 Visual: 8,5 Set Design: 9 Sound & Music: 7,5 |26
26|
A
pa jadinya jika seseorang tiba - tiba berubah menjadi seekor panda merah (red panda) ketika mengalami gejolak emosi? Salah satu film animasi garapan studio Pixar dengan judul Turning Red menceritakan tentang remaja putri bernama Mei (voice actor) berusia 13 tahun yang sedang tumbuh dewasa di kota Toronto. Mei mengidolakan boy band bernama 4 Town yang akan menggelar konser di kotanya. Melihat hal tersebut, Mei dan teman temannya berencana menonton konser. Namun, tanpa diketahui ternyata Mei mempunyai kutukan turun temurun yang mengakibatkan dirinya dapat berubah menjadi seekor panda merah (red panda) ketika ia sedang mengalami gejolak emosi. Di sisi lain, Mei harus berursan dengan sikap Ibunya yang cukup protektif. Film yang disutradari oleh Domee Shi ini memiliki alur cerita yang ringan dan mudah diikuti tetapi dengan nilai - nilai kehidupan yang sering ditemui di sekitar kita. Konflik yang disuguhkan sangat sesuai dengan kehidupan remaja pada usianya yaitu ingin mencari jati diri. Pengisi suara dalam film ini sangat sesuai dengan watak tiap tokoh seperti Abby yang cerewet dan Miriam yang kalem. Film ini juga bercerita soal dukungan support sytem dalam menghadapi ekspektasi keluarga. Mei yang tiba-tiba berubah menjadi panda merah justru mendapatkan dukungan dari teman terdekatnya. Sementara itu, Ming, Ibu Mei tidak suka dengan kehadiran temanteman Mei yang dipikir membawa pengaruh buruk.
perangkat - perangkat yang membuat kita bernostalgia seperti tamagochi dan kaset pemutar cd. Budaya Asia khususnya Cina dituangkan dalam film ini. Seperti orang tua Mei yang tergolong cukup protektif dan sangat mementingkan hasil studi. Di zaman sekarang kita sering menyebutnya overprotective parent yang sangat identik dengan orangtua di Asia. Komedi yang ditawarkan terkesan pas dengan porsinya dan tidak lebay. Membuat kita semakin mudah untuk menikmati filmnya. Soundtrack dalam film ini tergolong memorble dan easy listening karena 4 Town berhasil membawakan lagu lagu boyband yang enak sekali didengar. Ibarat uang logam yang memiliki dua sisi, film ini juga terdapat kelemahan. Pada saat adegan menuju klimaks terasa kurang mendalam dan kurang membuat penonton menguras air mata dimana kebanyakan film Pixar lain seperti Toy Story, Finding Nemo dan The Incredible berhasil membuat para penontonnya mengusap air matanya di adegan menuju klimaks. Tetapi film ini masih dapat mengobati kerinduan kita dengan film garapan Pixar. Apakah film pixar kedepannya akan jauh lebih bercerita tentang realita kehidupan?
(Theo)
Latar yang diambil dalam film ini adalah tahun 2000-an di kota Toronto, Kanada. Susana pada tahun ini sungguh nyata dibuktikan hadirnya
|27
27|
Cinta Metafora Oleh: Rafi Surya Indrastata Lihat dunia penuh cerita Liar bebas meluncur ke angkasa raya Rasa cinta terpesona pada sebuah permata Ingin rasa pergi lari angin kubawa Impian indah tak pernah sirna Harapan angkasa penuh dengan duga Jiwa hati bisa menggapainya Rasa bunga yang dibawa sang kuasa Kan pergi dari tanah penuh angkara Negeri warna indah penuh posana Gapai suluruh asa dengan rasa bangga Buat seluruh bunga menjadi berwarna Gejolak rasa yang tek pernah diduga Rezeki aura dari sang maha kuasa Rasa suka penuh dengan air mata Penguasa, biarkan hamba memilikinya Bersama lari menuju nirwana
|28
29|
|30
31|
|32