Skip to main content

SWARA UNJ Edisi 5 - Agustus 2017

Page 1

Edisi 5 - Agustus 2017 Sapa Redaksi, Pemuda. Apa yang terbesit di kepala sebagian dari kita saat kata-kata ini di sebutkan. Lalu apa peranan pemuda disaat kemerdekaan Indonesia di perjuangkan? Dalam SWARA UNJ edisi kali inim akan dibahas peranan yang telah dimainkan para pemuda selama proses perjuangan kemerdekaan serta yang harus dilakukan untuk mengisi kemerdekaan yang sudah sedemikian sulitdiperjuangkan. Berisi juga filosofi dari berbagai perlombaan yang sering dilakukan saat perayaan hari kemerdekaan. Semoga tulisan dalam edisi kali ini dapat menjadi sebuah pengingat bagi perjuangan parapemuda. Segenap tim SWARA UNJ mengucapkan Selamat Hari Kemerdekaan RI yang ke- 72. MERDEKA

PERAN MAHASISWA DALAM MENGISI KEMERDEKA AN Oleh: Luthfiah Mamluatul Inayah

Pasca dijatuhkannya bom atom di Jepang pada 6 dan 9 agustus 1945 oleh Amerika Serikat, para pemuda dengan cepat memanfaatkan peluang tersebut untuk menyatakan kemerdekaan. Meski tidak sejalan dengan golongan tua, namun desakan pemuda yang menuntut Soekarno untuk segera menyusun naskah proklamasi sebagai simbol terbebasnya Indonesia dari penjajah, merupakan salah satu alasan kita dapat memperingati 72 tahun 17 Agustus ‘45 di tahun ini Pemuda memang tumpuan harapan akan menjadi seperti apa bangsa ini kelak. Masa depan bangsa, terlihat dari seperti apa pemudanya sekarang. Mahasiswa, yang sebagian besarnya adalah generasi muda, mau tidak mau turut andil di dalamnya. Maka mahasiswa yang bagaimana yang dibutuhkan

supaya “Indonesia dapat menjadi negara adikuasa� bukan angan-angan dan omong kosong saja? Karena nyatanya, semua material dan potensi sudah kita miliki sejak lama. Tetapi bukan lagi dengan mengangkat senjata mahasiswa berjuang, mari kita mulai dari tiga peran mahasiswa. Agent Of Change: Tidak cukup dengan menjadi penggagas perubahan, tapi juga menjadi objek atau pelaku perubahan. Jika mengubah bangsa ini masih dirasa terlalu berat, orang bijak berkata, maka mulailah dari merubah diri sendiri terlebih dahulu. Kembali kepada hakikat mahasiswa yang juga disertai pemikiran solutif

SWARA UNJ EDISI AGUSTUS

1


Social Control: peduli, peka, kaji, lalu suarakan. Kebijakan yang baik sistem dan/atau pelaksanaannya tidak berpihak pada rakyat, sebagai akademisi yang juga pihak independen, mahasiswa sudah sepatutnya bergerak dalam keadaan tersebut. Jiwa kepedulian sosial terhadap masyarakat mutlak dimiliki yang juga adalah bagian dari masyarakat. Subsidi pendidikan yang bersumber dari uang rakyat untuk dinikmati mahasiswa pun sudah cukup menjadi alasannya.

Iron stock: siapkan diri untuk menjadi pemimpin. Building Future Leader rasanya memang pas dipilih menjadi moto UNJ untuk sekaligus mengingatkan mahasiswanya yang berkewajiban menyiapkan diri untuk memimpin bangsanya sendiri di kemudian hari. Maka tidak melulu hanya mengejar prestasi akademik, tapi soft skill seperti leadership, kemampuan memposisikan diri, dan sensitivitas yang tinggi juga tak kalah penting.

SEJARAH PEMUDA DALAM MERAIH KEMERDEKAAN Oleh: Laela Majid

72

Tahun Indonesia Merdeka

“…. 17 Agustus tahun ’45, itulah hari kemerdekaan kita, hari merdeka nusa dan bangsa. Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka…” Itulah sepenggal lagu yang biasa diputar menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sebuah negara yang dijajah kemudian terlahir. Lagu yang membawa semangat terbebas dari penjajahan bangsa lain. Tujuh puluh dua tahun yang lalu bertempat di jalan Pegangsaan Timur No.56, seorang bapak bangsa memproklamasikan berdirinya satu negara yang sudah lama ada dibawah bayang-bayang penjajahan bangsa Asing. Negara dengan modal kekayaan sumber daya alam terbaik itu harus merasakan penderitaan akibat kebijakan yang tidak berpihak padanya.

SWARA UNJ EDISI AGUSTUS

2

Culture stelsel, rodi, romusha adalah bagian dari kesengsaraan mereka. Banyak jiwa yang melayang ketika pembuatan jalan Anyer-Panarukan, pun tak sedikit yang mati dalam keadaan lapar. Lepas dari Belanda tak berarti lepas dari penjajahan, Jepang kemudian datang dan menduduki Indonesia. Awal bulan Agustus 1945 menjadi rentetan peristiwa menjelang kemerdekaan. Jepang yang saat itu ikut serta dalam Perang Asia Pasifik harus menelan pil pahit akibat dihantamnya kota Hiroshima dan Nagasaki oleh pasukan Sekutu. Kota itu luluh lantak karena dahsyatnya ledakan bom atom. Jepang semakin terdesak hingga akhirnya menyerah di tanggal 14 Agustus 1945.


Mendengar Jepang bertekuk lutut pada Sekutu, Golongan Muda yang terdiri dari Sutan Sjahrir, Chaerul Saleh, Darwis dan Wikana tidak tinggal diam, mereka mendesak agar Golongan Tua untuk secepatnya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Alasannya sederhana karena Indonesia saat itu sedang dalam kondisi tidak ada yang menguasai ( vacuum of power). Ternyata tokoh Golongan Tua terutama Soekarno dan Hatta menolak tegas usulan tersebut. Kemerdekaan Indonesia haruslah melalui mekanisme PPKI, tidak terburu-buru karena khawatir terjadi pertumpahan darah, kembalinya tentara Belanda ke Indonesia juga dianggap lebih berbahaya dari pada sekedar waktu pelaksanaan proklamasi itu sendiri, Begitu kira-kira alasannya. Rupanya inilah yang menyebabkan ketidaksepahaman antara Golongan Muda dan Golongan Tua. Golongan Muda beranggapan bahwa PPKI adalah bentukan Jepang dan tidak menginginkan bahwa Indonesia merdeka disebabkan “hadiah� dari Jepang.

Detik-detik menjelang pembacaan proklamasi cukup menegang, penantian panjang selama beratus-ratus tahun akhirnya tiba. Tepat pukul 10.00 hari Jumat, 17 Agustus 1945 Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Sang Saka Merah Putih berkibar gagah membumbung di bumi khatulistiwa. Suara riuh gembira rakyat menyambut kemerdekaan seperti mengudara, menyeruak ke langit ibu pertiwi siang itu. Indonesia Merdeka! Indonesia Merdeka! Merdeka! Inilah negeri tempat lahir beta dibuai dan dibesarkan ibunda, biarpun saya pergi jauh, tidak kan hilang dari kalbu, disinilah tempat berlindung di hari tua sampai akhir menutup mata. Dirgahayu Indonesiaku, jayalah negeriku!

Filosofi Lomba-lomba dan Tradisi Unik pada Peringatan Hari Kemerdekaan. Oleh: Aprillia Lusiana

Ternyata, terdapat berbagai makna filosofis yang cukup mendalam di setiap perlombaan dan tradisi yang sering kita lakukan saat perayaan Hari Kemerdekaan. Beberapa diantaranya mengajarkan mengajarkan kerja sama tim, gotong-royong, hingga makna mendalam lainnya. Berikut kami ulas beberapa lomba dan tradisi yang paling sering dilakukan saat peringatan Hari Kemerdekaan.

1. Panjat Pinang

Dalam permainan ini dibutuhkan kekompakan serta kerja sama tim yang baik untuk mencapai satu tujuan. Selain kedua hal tadi, filosofi mendalam yang terdapat pada permainan ini adalah makna kerja keras yang sesugguhnya untuk dapat menggapai kesuksesan.

SWARA UNJ EDISI AGUSTUS

3


4. Tradisi Tumpengan

2. Bakiak

Permainan bakiak dapat dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat dari mulai anak-anak hingga orang dewasa. Untuk itu, makna filosofis yang dapat ditarik dalam permainan bakiak ialah bahwa kerja sama setiap golongan masyarakat sangat diperlukan untuk turut andil demi kemajuan negara. 3. Tarik Tambang

Tradisi Tumpengan yang sejak dulu sudah ada ini bermakna hubungan antara manusia dengan Tuhan, dan juga alam dengan manusia. Tradisi ini biasa dilakukan sebagai rasa ungkapan syukur kepada Tuhan atas berkah lingkungan alam yang subur dan asri. Pada zaman dahulu, tumpengan hanya dilakukan ketika panen raya terjadi oleh para petani di daerah Jawa, namun lambat laun tradisi tumpengan semakin meluas hingga kini hadir di berbagai acara yang bermakna sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Masa Kuasa.

Makna filosofis dibalik permainan tarik tambang diantaranya ialah melatih kerja keras, gotong royong sekaligus taktik untuk dapat mengalahkan lawan. Hal ini juga selaras dengan perjuangan bangsa Indonesia saat berusaha merebut kemerdekaan. Coming Soon: SWARA UNJ Edisi 6 - September 2017 “BULAN SEPTEMBER SEBAGAI BULAN SARJANA NASIONAL �

September sebagai Bulan Sarjana Nasional, ada yang pernah dengar? Atau mungkin ada yang ingat peringatan Hari Sarjana Nasional tersebut diperingati pada tanggal berapa di Bulan September? Bagi kamu yang menjawab 29 September, jawaban kamu tepat sekali. Tanggal 29 September merupakan hari yang diperingati sebagai Hari Sarjana Nasional. Mengapa demikian? SWARA UNJ edisi selanjutnya akan mengulik serba-serbi mengenai Bulan Sarjana Nasional dengan berbagai hiruk-pikuknya. Nantikan ya! selesai? Lalu, apa esensi terpenting dalam mengisi kemerdekaan sebagai seorang mahasiswa? Temukan jawabannya pada SWARA UNJ edisi selanjutnya.

SWARA UNJ EDISI AGUSTUS

4

Tim Redaksi Pemimpin Redaksi Aprillia Lusiana Desainer & Layouter Bayu Hidayat Putra Purjoko Yulianto Moch. Razan Dwi A Penulis Luthfiana Mamluatul Inayah Aprillia Lusiana Laela Sitinur Lela Editor Luthfiah Mamluatul Inayah

Kritik & Saran


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
SWARA UNJ Edisi 5 - Agustus 2017 by SWARA BEM UNJ - Issuu