Edisi 4 - Juli 2017 Sapa Redaksi, Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang atas bekat Rahmat dan Kuasa-Nya, SWARA UNJ Edisi ke-4 ini dapat terselesaikan dengan baik. Masih segar dalam ingatan, saat-saat dimana kita baru mulai mengenal sebuah lingkungan baru, suasana yang benar-benar sangat jauh berbeda dengan kehidupan kita semasa sekolah dulu, ya, Dunia Kampus. Edisi SWARA UNJ kali ini dengan bangga kami persembahkan untuk seluruh Mahasiswa/i Baru Universitas Negeri Jakarta dan “SELAMAT DATANG DI KAMPUS PERJUANGAN”. Berisi tentang beberapa sentilan untuk kamu yang kini sudah beralih status dari Siswa menjadi Mahasiswa. Semoga dapat menjadi sebuah tuntunan untuk kamu yang masih tak tau arah jalan. Semoga.
KAMU BUKAN LAGI SISWA, UBAH POLA PIKIRMU! Oleh: Luthfiah Mamluatul Inayah
Well, first of all, selamat! Resmi sudah kamu menyandang gelar MAHASISWA. Selamat datang di kampus peradaban, kampus pendidikan, kampus hijau, dan sebutan-sebutan lain untuk Universitas Negeri Jakarta, satu-satunya kampus negeri di ibu kota. Jangan bayangkan kehidupan kampus seperti di ftv-ftv yang akan kamu dapatkan di dunia kampus sungguhan, ya! Pertama, patut kamu sadari bahwa meskipun secara praktis tugasmu masih sebagai pelajar, perbedaan sebutan ‘siswa’ dan ‘mahasiswa’ pastilah beralasan. Ada tambahan kata ‘maha’ di statusmu sekarang. Maha yang berarti sesuatu yang lebih tinggi tingkatannya, sedangkan siswa adalah pelajar atau seseorang yang menuntut ilmu. Jadi, coba mulai ubah pola pikir yang kamu punya selama 12 tahun menjadi siswa tentang bagaimana menuntut ilmu karena sekarang statusmu sudah naik tingkat. BEM UNJ akan mencoba menjabarkan apa saja perbedaan yang akan kamu alami setelah menjadi mahasiswa dan memasuki dunia perkuliahan.
1. Dosen ≠ Guru Jangan berharap dosen akan menanyakan keberadaanmu yang berkali-kali absen, tugas yang belum juga kamu kumpulkan, atau mengapa nilai UTS/UAS-mu jeblok lalu memintamu untuk memperbaikinya. Well, mungkin memang ada tipe dosen yang seperti itu, tapi tidak untuk kebanyakan. Meskipun tugas dosen dan guru adalah sama yaitu untuk mengajar dan membimbingmu dalam memahami pelajaran, tapi kamu akan merasakan perlakuan yang berbeda dari dosen dan guru, ada perubahan besar yang akan kamu alami karena peran dosen lebih dan bukan hanya sekedar mendiktekan pelajaran padamu. Tinggalkan pikiran sempitmu yang beranggapan kalau untuk belajar, kamu hanya tinggal menunggu pengajar menjabarkan dengan rinci materi di depan kelas lalu dengan sabar menerangkannya berkali-kali kepadamu hingga kamu mengerti. Kebanyakan dosen tidak akan memperlakukanmu seperti itu.
SWARA UNJ EDISI APRIL
1
Lalu bagaimana caranya kamu belajar di bangku perkuliahan? Nah, disinilah peran lebih seorang dosen. Biasanya, di awal perkuliahan dosenmu akan menjabarkan kontrak kuliah yang harus dipahami, disepakati, dan ditaati oleh baik pihak dosen maupun mahasiswa. Materi selama satu semester, bobot penilaian, peraturan selama di kelas, minimal kehadiran, penugasan, waktu UTS dan UAS dibahas bersama. Jika sudah mencapai kesepakatan, maka proses perkuliahan akan berjalan sesuai kontrak kuliah tersebut. Itulah mengapa kebanyakan dosen tidak akan repot menanyakan sedikitnya presentase kehadiranmu di kelas karena kontrak yang sudah jelas tadi, jadi jika kamu sudah melewati batas absen yang sudah disepakati, maka otomatis dosen akan memutuskan kamu gagal/tidak lulus dalam mata kuliahnya. Begitupun dengan penugasan. Eits! Jangan langsung menilai buruk dosenmu, ya. Pastilah ada alasan dibaliknya. Coba pikirkan, jika kamu sudah menjadi mahasiswa, maka umurmu tak lagi dalam jenjang remaja yang kepribadiannya masih labil, tapi sadarlah kalau kamu sudah memasuki tahap awal dewasa. Yang artinya kedisiplinan dan tanggung jawabmu mesti ditingkatkan. Jika sudah begitu, maka kontrak kuliah yang ketat sekalipun tidak akan menjadi masalah.
3. Belajar Bukan Hanya di Kelas Sekali lagi, singkirkan pola pikirmu yang beranggapan bahwa belajar hanya bisa dilakukan di kelas atau laboratorium. Lebih dari itu, di universitas kamu akan menemukan banyak tempat untuk belajar. Sebagai contoh, 2 tahun lalu UNJ mewajibkan mahasiswanya mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai salah satu mata kuliah yang menuntut mahasiswa untuk terjun langsung ke masyarakat pedesaan terpencil. Di KKN lah kita dapat belajar untuk langsung mengaplikasikan dan mengembangkan ilmu yang kita dapat selama kuliah dalam rangka berperan aktif menyelesaikan permasalahan masyarakat. Begitupun dengan mata kuliah Praktek Kerja Mengajar (PKM) untuk kamu mahasiswa pendidikan, kamu akan langsung mengajar bidang ilmumu di sekolah dan mempraktekan teori-teori mata kuliah pendidikan. Belum lagi Praktek Kerja Lapangan (PKL) bagi beberapa jurusan yang melatihmu untuk mengaplikasikan teori-teori yang sudah kamu kuasai di perusahaan-perusahaan atau dunia industri. Ketiga mata kuliah tersebut merupakan beberapa contoh bahwa belajar, melatih, dan mengembangkan ilmu di dunia kuliah, bukan hanya dilakukan di kelas. 4. Keinisiatifanmu Sangat Dituntut
2. Bidang Ilmu yang Lebih Terfokus Nah, poin ini-lah yang akan paling terasa perbedaannya. Jika di sekolah kamu belajar setidaknya 5 atau lebih bidang ilmu yang berbeda, maka di perkuliahan bidang akademik-mu akan lebih terfokus. Program studi Teknik Elektro misalnya, maka mata kuliahnya akan fokus pada dunia kelistrikan meskipun mata kuliah-mata kuliah dasar seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pancasila, Pendidikan Agama, dll, tetap akan kamu dapatkan. Terlebih jika jurusan/prodi yang kamu ambil adalah Pendidikan, maka kamu pun akan mempelajari beberapa mata kuliah pendidikan seperti Psikologi Perkembangan, Landasan Ilmu Pendidikan, Profesi Pendidikan, Teori Belajar & Pembelajaran, dll. Tidak berhenti sampai di situ, biasanya di tahun ke 3, kamu juga akan dihadapkan dengan “peminatan jurusan/prodi� yang akan membuat bidang ilmu yang kamu pelajari lebih terfokus lagi. Misalnya program studi Pendidikan Teknik Elektro yang mempunyai 3 peminatan, yaitu Pembangkit Tenaga Listrik, Instalasi Listrik, dan Otomasi. Lebih spesifik bukan? Kamu harus memilih satu di antara pilihan peminatan yang ada sesuai minat dan track record nilai-nilaimu serta anjuran dari Dosen Pembimbing Akademik-mu.
SWARA UNJ EDISI APRIL
2
Catat, ya! Di universitas, kamu harus lebih peka dan inisiatif. Misalnya, masih berkesinambungan dengan poin pertama, jika kamu sudah mengetahui materi-materi yang akan dipelajari selama satu semester di kontrak kuliah, maka kamu harus berinisiatif untuk mempelajari materi-materi tersebut sendiri dari buku, jurnal, maupun artikel di internet. Jangan menunggu dosen menerangkannya, tapi mulailah untuk mandiri dalam belajar! Jika ada bagian yang belum kamu mengerti dari suatu materi, barulah kamu bisa menanyakannya pada dosenmu. Jadi tatap muka di kelas sebaiknya diisi dengan lebih banyak bertanya bagian-bagian sulit daripada memulai dari dasar, cara tersebut akan lebih efisien dan efektif dalam memahami suatu materi. Selain itu, kamu akan menemukan dosen yang lebih banyak mengajakmu untuk berdiskusi. Ya, belajar dengan cara diskusi! Misalnya diskusi mengenai suatu fenomena atau suatu masalah yang sedang berlangsung di masyarakat dan menghubungkannya dengan materi bidang studimu. Di sini kamu dituntut untuk berinisiatif dan berani mengemukakan pendapat di depan kelas. Tentunya pendapat yang beradasar pada teori ya. Jadi, mulai dari sekarang, inisiatif lah!
5. Penelitian dan Inovasi Selain mengetahui hal yang sebelumnya tidak kamu ketahui, di bangku kuliah kamu juga harus menemukan. Caranya dengan meneliti dan berinovasi. Jika kamu sudah berinisiatif untuk mempelajari materi-materi kuliah sendiri tanpa menunggu dosen, kamu juga akan menemukan bagian-bagian menarik dari materi tersebut. Rasa ingin tahu dan ide-ide juga timbul. Maka sebagai seorang akademisi, rasa ingin tahu tersebut bisa kamu jawab dengan meneliti, sementara ide-ide dieksekusi sambil berinovasi. Ada suatu wadah tepat bernama Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) yang diadakan oleh Ristekdikti. Dalam program tersebut, kamu dapat menuangkan hasil penelitian dan inovasimu untuk kemudian dibiayai oleh Ristekdikti sebagai dana pengembangan. Pihak kampus berperan penting dalam mendorong mahasiswanya untuk antusias mengikuti program tahunan ini. Ada 7 jenis PKM, diantaranya PKM-GT (Gagasan Tertulis), PKM-K (Kewirausahaan), PKM-P (Penelitian), PKM-T (Penerapan Teknologi), PKM-M (Pengabdian Masyarakat), dan PKM-KC (Karsa Cipta). Dosen pun turut berperan aktif untuk membimbingmu dalam meneliti dan berinovasi. Tak sedikit mahasiswa yang meneruskan PKM-nya sebagai objek skripsi atau tugas akhir. Meneliti dan inovasi sebaiknya sudah kamu mulai dari tahun pertama kuliah untuk kemudian dijadikan kebiasaan.
Lakukanlah sebanyak mungkin penelitian dan inovasi selama kamu menjadi mahasiswa karna selain berguna untuk meningkatkan intelektualitas dan sumbangsihmu kepada masyarakat, CV-mu juga akan lebih diperhitungkan nantinya jika ada sederet pengalaman research dan inovasi. Dan yang terpenting, tidak semata hanya tentang hasil, tapi juga prosesnya karena kamu akan belajar banyak dari proses. 6. Peranmu di Masyarakat Menjadi mahasiswa merupakan salah satu cara mempersiapkan diri untuk menjadi seorang individu yang akan terjun dan berkontribusi di masyarakat, negara, maupun dunia. Kepribadian, pola pikir, dan intelektualitasmu akan diasah. Kamu dituntut untuk peka terhadap permasalahan sosial lalu mencoba menemukan solusinya dengan ilmu yang telah kamu pelajari di kuliah. Pemikiran yang kritis juga sudah sepatutnya dimiliki mahasiswa yang akan memberikan sumbangsih berupa pengaplikasian ilmu di masyarakat. Masih banyak lagi aspek yang belum dibahas di artikel ini, tetapi semoga kamu sedikit tergerak atau bahkan mulai mengubah pola pikirmu. Jadikan masa kuliahmu sebagai simulasi dunia pasca kampus sebagaimana orang-orang bijak berkata bahwa universitas merupakan miniatur negara yang berkewajiban memberikan rakyatnya kesejahteraan dan kemakmuran.
SWARA UNJ EDISI APRIL
3
Aku Siap Ikut MPA! Oleh: Aprillia Lusiana
Halo, Readers. Wah, ada yang baru nih. Apaan tuh yang baru? Tentunya seluruh Mahasiswa/Mahasiswi Baru UNJ dong. Terkhusus untuk adik-adik mahasiswa baru yang baru saja bergabung ke dalam kampus perjuangan ini, kami ucapkan SELAMAT DATANG. Mengingat masa-masa saat penulis juga masih menjadi Mahasiswa Baru (Maba), ada satu hal yang sangat mengusik seluruh hati Maba, tidak hanya di UNJ mungkin, tetapi juga seluruh Maba di Indonesia. Hal apa tuh? Yap, hal yang paling buat hati gelisah adalah terkait MPA. Nah loh, apa sih tuh MPA? MPA adalah singkatan dari Masa Pengenalan Akademik. Jika dikampus lain, mungkin biasa disebut dengan OKK dan berbagai sebutan lain. MPA ini adalah kegiatan yang dibuat sedemikian rupa oleh kakak-kakak tingkat dari seluruh prodi dan fakultas yang ada di UNJ untuk membantu teman-teman Maba mengenal lebih jauh mengenai berbagai hal yang harus diketahui selama masa perkuliahan. Dimulai dari bagaimana cara menggunakan siakad, urus beasiswa dan lain sebagainya. Pokoknya sangatlah rugi bagi teman-teman yang tidak bisa bergabung dalam kegiatan ini. Lalu, pertanyaan yang cukup banyak muncul dalam proses terlaksanannya MPA adalah, “ada peloncoan-peloncoan gitu gak sih ka?�.
SWARA UNJ EDISI APRIL
4
Peloncoan-peloncoan saat prosesi awal masuk kampus itu udah terlalu ‘old fashion’ ya teman-teman. Di zaman sekarang ini nih, sudah tidak ada yang namanya peloncoan-peloncoan seperti itu. Bahkan untuk menjalankan kegiatan MPA ini kakak-kakak dari BEM Fakultas dan Prodi yang bekerja pun diawasi oleh sebuah tim khusus untuk menghindari kejadian peloncoan-peloncoan macam itu. Jadi silahkan buang jauh-jauh mindset tentang peloncoan-peloncoan ini ya. Sedikit bocoran, mungkin nanti teman-teman Maba akan bertemu sama kakak-kakak yang sedikit tegas dalam melakukan pekerjaannya, tapi semata-mata itu dilakukan membuat teman-teman tertib menjalankan proses MPA ini, dan bukan untuk maksud yang lain. Lain hal, selain berbagai hal yang akan berguna selama proses perkuliahan nanti, dalam proses MPA teman-teman Maba juga akan mendapatkan berbagai hal untuk bisa sustain selama berada di kampus perjuangan ini, diantaranya : 1. Teman Baru Selama proses MPA, teman-teman mau tidak mau, suka tidak suka akan dipaksa untuk membuka lingkungan pertemanan yang baru. Beberapa tugas yang akan diberikan oleh kakak-kakak tingkat nanti pastinya akan membuat teman-teman untuk mulai berkenalan dengan orang baru. Orang baru, teman baru.
2. Tugas MPA pemanasan tugas kuliah Dari beberapa pernyataan diatas, pasti teman-teman banyak yang bertanya, “Loh MPA ada tugas juga? Tugasnya apa aja tuh?”. Tenang, jangan sedih dulu saat mendengar kata tugas ya teman-teman, karena semua tugas yang diberikan oleh kakak-kakak pastinya sudah dipertimbangkan dengan baik kok, dan tidak asal dalam memberikannya. Jadi kerjakan dengan ikhlas dan sebaik-baiknya ya. Selain itu, jangan pernah anggap tugas selama MPA itu berat teman-teman, karena naanti saat masa perkuliahan benar-benar berlangsung, tugas-tugas yang diberikan pastinya akan lebih banyak dan lebih memusingkan. Jadi bisalah kita sebut MPA kita sebagai sarana ‘pemanasan’.
kuliah, bisa bertanya tugas-tugas yang sulit dan berbagai manfaat lain. Kamu pasti nanti akan merasakan sendiri. Dijamin. 4. Menemukan panutan Saat MPA berlangsung, teman-teman biasanya akan dimanjakan dengan dihadirkannya lulusan hebat dari fakultas atau program studi masing-masing. Teman-teman dipastikan akan bertemu dengan orang-orang hebat yang dapat mengingspirasi. Tinggal bagaimana teman-teman mau atau tidak menjadikan mereka sebagai panutan. Untuk saat ini tahan rasa penasarannya, dan nanti rasakan sendiri. Selamat mencari panutan dan jati diri. 5. Focus Group Discussion (FGD)
3. Lebih dekat dengan kakak senior Jangan salah paham dulu ya, dekatnya bukan sama yang ‘itu’ loh, tapi yang lain. Selama MPA pasti banyak pertanyaan yang muncul di benak teman-teman tekait kampus dan berbagai hal. Nah, sasaran yang paling utama untuk bertanya adalah kakak senior kan? Ya betul, selama MPA inilah juga kesempatan bagi teman-teman Maba untuk lebih dekat dan lebih mengenal kakak-kakak senior loh. Disisi lain ada yang bertanya lagi “Loh buat apa kenal kakak senior?”. Wah jangan salah, kenal sama kakak senior itu manfaatnya banyak loh. Dari mulai bisa pinjem buku-buku diktat
Last but not least, selama masa MPA teman-teman juga akan dipertemukan dalam sebuah kelompok kecil. Kelompok-kelompok kecil inilah yang nantinya digunakan untuk lebih membuat info terkait MPA lebih terstruktur dan merata. Di lain sisi, kelompok kecil ini juga digunakan untuk membahas isu-isu terkini yang sedang booming untuk dibahas dan didiskusikan bersama. Nah, dengan sebanyak itu manfaat yang akan teman-teman dapatkan selama MPA, masih yakin untuk tidak hadir nih?
SWARA UNJ EDISI APRIL
5
PDKT yuk dengan Universitas Negeri Jakarta Oleh: Mutiara Kinanti
Selamat datang di #KampusPergerakanIntelektual, Universitas Negeri Jakarta! Wah, sudah gak terasa ya gelar siswa kamu telah berubah menjadi mahasiswa. Rasa senang dan haru sedang menyelimuti kamu sebagai mahasiswa baru atau disebut maba. Khususnya, kamu nih maba UNJ. Namun, sudah seberapa jauh sih kamu kenal UNJ? Tak kenal maka tak sayang, pendekatan alias PDKT yuk dengan UNJ! 1. UNJ, ex-IKIP Jakarta yang dulunya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UI Tahun 1964, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta lahir dari Kepres No.1 Th. 1963 yang ditetapkan intergrasi sistem kelembagaan pendidikan guru. Pengintergrasian ini berdasarkan wilayah terdekat institusi, oleh karena itu Fakultas
SWARA UNJ EDISI APRIL
6
Keguruan dan Ilmu Pendidikan UI, beralih menjadi IKIP Jakarta. Kemudian di tahun 1999, IKIP diberi gerak untuk mengembangkan ilmu kependidikan dan non kependidikan dalam wadah universitas. Tepatnya 4 Agustus 1999, IKIP Jakarta berubah menjadi Universitas Negeri Jakarta dan peresmiannya dilakukan oleh Presiden RI 31 Agustus 1999 di Istana Negara. 2. Terdapat 8 Fakultas di UNJ UNJ mempunyai delapan Fakultas lho, antara lain; Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Teknik (FT), Fakultas Ilmu Sosial (FIS), Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIO), Fakultas Ekonomi (FE), dan Fakultas Pendidikan Psikologi (FPP). Jadi, kamu berada di fakultas mana nih?
3. Say no to "Jurusan", but "Program Studi atau PRODI" Yaps, sejak 2015, istilah "jurusan" di UNJ sudah dihilangkan dan berubah menjadi "program studi". Berdasarkan Pemendikbud No. 154 Th. 2014 tentang Rumpun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Gelar Kelulusan Perguruan Tinggi, salah satunya nomenklatur program studi, sehingga penamaan jurusan terkonsentrasi menjadi program studi. Hal ini gak cuman di UNJ aja lho, tapi di universitas se-Indonesia.
Mulai dari lembaga-lembaga kesenian, olahraga, radio, televisi, pers, menwa, kerohanian, pecinta alam, pecinta anak, koperasi, KSR, hingga legislatif dan eksekutif mahasiswa di tingkat universitas menjadi kesatuan yang disebut Gedung G. Karena base camp unit kegiatan mahasiswa ini terletak di Gedung G, Kampus A UNJ. Buat kamu yang ingin aktif selain kegiatan akademik, bisa banget main ke Gedung G untuk tahu minatmu.
4. Istilah "Gedung G", untuk kamu yang anak Unit Kegiatan Mahasiswa banget
Hal-hal tersebut hanya sebagian kecil yang akan kamu kenali saat berada di UNJ lhoo. Jangan sungkan untuk kenal UNJ lebih dalam.
Jika di SMA kamu mengenal ekskul, maka di UNJ kamu akan disuguhkan bermacam-macam unit kegiatan mahasiswa yang ciamik punya.
Yuk, lebih dekat biar makin akrab dengan UNJ. Selamat datang sekali lagi di UNJ dan selamat ber-PDKT ria!
Tanda Tanya: Salah Program Studi Oleh: Mutiara Kinanti
ECONOMY ENGINEERING
Apakah kamu merasa salah memilih program studi? Selamat! Berarti, kamu ditakdirkan untuk membaca artikel ini sampai habis. Salah pilih program studi (prodi), merupakan istilah buat kamu yang cuman mau coba aja siapa tau keterima. Saat diterima oleh prodi coba-coba-aja, kamu malah jadi galau "ambil atau gak ambil ya...". Lha, kok gitu! Perasaan "kesasar".
Memang tidak terelakan, mari kita sedikit mengingat apa yang sudah kamu lalui. Ketika kamu mendaftar, terdapat berbagai macam pilihan program studi yang akan kamu pilih. Pilihan kamu sendiri kah? Atau orang tuamu? Pada akhirnya, pilihan program studi ini berujung menjadi alat "tos-tosan" kamu supaya dapat berkuliah di perguruan tinggi idamanmu. Terpaksa atau tidak terpaksa, disitu kamu sudah melalui tahap pertama "memilih".
SWARA UNJ EDISI APRIL
7
Ketika proses pendaftaran, sudah pastinya perlu proses melengkapi pemberkasan untuk kamu yang melalui jalur SNMPTN, atau kamu yang rela begadang, belajar tiada henti bagi kamu pejuang SBMPTN dan Jalur Mandiri untuk menghadapi proses tes seleksi. Tahap kedua, "perjuangan" yang kamu lalui ini gak mudah. Belum lagi harus bertarung dengan ribuan calon mahasiswa yang sama sepertimu, ingin berkuliah di tempat idaman. Pengumunan tiba! Namun, ketika tempat idaman diraih namun program studi yang dipilih tidak sesuai...
Setiap yang tersesat, akan ada jalan pulang bila menemukannya. Bertemu teman baru, lingkungan baru, berkenalan dengan ilmu baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Di sini "penerimaan" sebagai tahap terakhir. Kamu secara perlahan mulai menerima bahwa kamu berada di salah satu program studi yang secara tidak langsung pernah kamu pilih, perjuangkan dan akhirnya kamu putuskan menjadi salah satu jalan hidup pendidikanmu.
Hal "memutuskan" berada ditahap ketiga, renungkan proses yang sudah kamu lewati. Akankah kamu melepas proses perjuanganmu? Atau melanjutkan apa yang sudah kamu lewati?
Ketika itu semua kamu lakukan dengan ikhlas, kamu akan menikmati apa yang sedang kamu jalani. Kamu juga akan menyadari betapa banyak orang yang ingin merasakan berkuliah di prodimu. Hanya rasa syukur yang dapat mencerminkan keadaanmu.
Akhirnya, kamu melanjutkan itu semua dengan label "tersesat di program studi".
Let it move, selamat berjuang untuk menemukan jalan!
Coming Soon: SWARA UNJ Edisi 5 - Agustus 2017
Tim Redaksi Pemimpin Redaksi Aprillia Lusiana
“Mahasiswa dan Kemerdekaan” Menjadi sebuah kontemplasi ketika kedua kata diatas ditempatkan di dalam satu plot tulisan yang sama. “Mahasiswa” dan “Kemerdekaan”. Saat mendengar kedua kata tadi, sebagian dari kita pasti langsung bertanya dengan berbagai pertanyaan, apa peran mahasiswa dalam menggaungkan kemerdekaan? Bagaimana kita harus bergerak melawan keterbatasan yang kemerdekaan telah hadirkan dengan embel predikat “mahasiswa” dibelakang? Apakah hanya sebatas melakukan penelitian, mengerjakan berbagai tugas kuliah, lalu selesai? Lalu, apa esensi terpenting dalam mengisi kemerdekaan sebagai seorang mahasiswa? Temukan jawabannya pada SWARA UNJ edisi selanjutnya.
SWARA UNJ EDISI APRIL
8
Desainer & Layouter Purjoko Yulianto M. Harits Abdurrahman Penulis Ihsan Nurdin Yania Wahyu Pangestika Citra Nindi Umayah Aliffia Pramestiwi Nur Auliya Ramadhaniah Editor Luthfiah Mamluatul Inayah
Kritik & Saran