Skip to main content

SWARA UNJ Edisi 1 - April 2017

Page 1

Edisi 1 - April 2017 Sapa Redaksi, Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang atas berkat Rahmat dan Kuasa-Nya dapat mempermudah proses pembuatan SWARA UNJ edisi kali ini. Pada edisi kali ini, SWARA UNJ terbit dengan isu yang masih menjadi isu regional Jakarta, yakni Reklamasi Teluk Jakarta. Setiap dari kita punya ruang berpendapat, pembaca bebas memilih dimana akan menempatkan dirinya dalam kasus yang tak kunjung selesai ini. Semoga bermanfaat.

MASIH H PERLUKA A DA N YA ASI REKL AM (?)

Jakarta, 19 April 2017 - Keresahan yang terjadi akibat reklamasi besar-besaran yang dilakukan di teluk Jakarta, membuat kami mewawancarai salah satu dosen Transportasi Fakultas Teknik, Dr. Henita Rahmayanti, M.Si untuk mengulik fakta dibalik reklamasi. Beliau menuturkan bahwa “Reklamasi merupakan penambahan lahan dengan peraturan yang diperbolehkan dan merupakan sebuah alternatif untuk pertumbuhan sebuah kota karena minimnya lahan tanah yang ada. Salah satu kota yang sudah berhasil nemerapkan reklamasi yaitu Dubai. Beberapa wilayah di Indonesia juga pernah dilakukan reklamasi salah satunya adalah kota Manado. Tujuan utama dari reklamasi yaitu untuk memperbaiki kondisi dari wilayah itu sendiri. Salah satu contohnya adalah saat tepi pantai yang ada terkena abrasi, maka reklamasi diperlukan untuk hal tersebut.”

Beberapa pertanyaan lainnya yang kami ajukan adalah sebagai berikut : “Apa dampak reklamasi dari segi lingkungan dan masyarakat?” Dampak negatif dari reklamsi yang termuat dalam AMDAL yaitu akan merubah bentang lahan, karena semakin panjangnya aliran air dari hulu ke hilir akan membuat proses jalanya air semakin lama dan akan membuat genangan yang menghasilkan permasalahan baru berupa sedimentasi. Selain itu, kerusakan ekosistem laut juga terjadi ketika perairan ditutup oleh tanah hasil reklamasi. Volume air yang semakin naik juga menjadi hal yang ditakutkan karena akan membuat permukaan tanah semakin menurun hal dan juga banjir rob yang melanda Ibu Kota Jakarta.

SWARA UNJ EDISI APRIL

1


Dari segi kemasyarakatan, kita harus jeli lagi mempertanyakan bahwa reklamasi ini untuk siapa. Karena dengan adanya reklamasi besar-besaran yang ada di Jakarta membuat masyarakat miskin ibu kota semakin tersingkirkan dari wilayahnya sendiri dan mereka akan digantikan oleh penduduk luar Indonesia yang mampu membeli bangunan-bangunan mewah hasil reklamasi tersebut. “Jika ada isu terkait tidak diperbolehkanya reklamasi karena melarang AMDAL, bagaimana tanggapan akan hal tersebut?” Peraturan yang tertuang dalam UU No. 32 tahun 2009 menyatakan bahwa menteri dapat melakukan pengawasan kalau perizinan pembangunan dikeluarkan oleh pemda (pemerintah daerah) apabila diduga ada pelanggaran serius dibindang lingkungan hidup. Reklamasi sebenarnya adalah salah satu teknologi yang diterapkan untuk merubah dan memperbaiki kondisi lahan yang terbatas yang sudah semakin

menurun fungsinya. Akan tetapi reklamasi teluk Jakarta terlalu besar untuk dilakukan karena akan merubah drastis ekosistem yang ada. Reklamasi ini bisa diberhentikan oleh menteri pembangunan jika ada indikasi penyalahgunaan kebijakan yang dikeluarkan untuk reklamasi. Reklamasi yang sekarang sedang hangat dibicarakan bukan hanya milik pemerintah yang menginginkan perubahan wilayah menjadi lebih baik, tetapi banyak tangan-tangan tersembunyi yang memanfaatkan lemahnya pengawasan pemerintah indonesia untuk dijadikan perputaran ekonomi bangsa lain. “Lantas, apa peran mahasiswa yang katanya kaum intelektual terhadap kasus seperti ini?”, “Perdalam isunya, buat kajian strategisnya dan lantangkan bahwa yang benar harus selalu dibela dan yang salah harus segera diadili.”

Salam redaksi Mentari Diyah Utami

REKLAMASI UNTUK SIAPA [?] Oleh: Feri Ardiansyah

Menjadi sebuah pertanyaan besar, ketika negeri yang elok dengan 14.572 pulaunya yang sebagian besar masih belum berpenghuni, belum mampu memberikan kesejahterahan untuk rakyatnya. Muncul pertanyaan besar ada apa dengan negeri ini ? Beberapa waktu terakhir, negara dalam konteks ini Pemprov DKI Jakarta, mencanangkan sebuah megaproyek bertajuk “Reklamasi”. Secara logika sederhana sungguh ironi, pasalnya negeri dengan ribuan pulau tak berpenghuni-nya, mengapa dengan mudahnya pemerintah ingin menambah 17 pulau baru di pesisir utara? Untuk siapa nantinya pulau-pulau tersebut dibuat? Reklamasi teluk Jakarta menjadi trending topic dalam beberapa waktu terakhir. Pasalnya, megaproyek ini turut menyeret sejumlah nama pejabat publik. Penangkapan Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Mohammad Sanusi pada 31 Maret 2016 kemudian disusul pemanggilan Gubernur DKI Jakarta oleh KPK menjadi bumbu dalam drama panjang

SWARA UNJ EDISI APRIL

2

pengusutannya. Jika dikaji berdasarkan perspektif hukum, sosial, ekonomi, dan ekologi pun dalam pembangunan proyek reklamasi ini banyak ditemukan berbagai macam penyelewengan dan kecacatan. Lapisan mahasiswa hingga kini telah melakukan berbagai kajian terkait kasus ini, namun yang menjadi ironi, sampai saat ini belum ada satu pun kajian yang berhasil menemukan keuntungan yang didapatkan oleh rakyat atas pembangunan megaproyek reklamasi. Dalam prinsip pembangunan, reklamasi bertujuan untuk menambah luasan daratan untuk suatu aktivitas yang sesuai di wilayah tersebut. Sebagai contoh pemanfaatan lahan reklamasi adalah untuk keperluan industri, terminal peti kemas, kawasan pariwisata, dan pemukiman. Reklamasi juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan konservasi wilayah pantai. Namun prinsip pembangunan ini harus melihat aspek kebutuhan dan keberpihakan terhadap masyarakat luas, bukan keberpihakan terhadap golongan yang dapat mematikan kehidupan rakyat.


A

“Ketentuan Reklamasi yang sebetulnya hal biasa, tapi pemerintah harus mengatur dan memastikan bahwa reklamasi diperbolehkan untuk apa prioritasnya,” - Susi Pudjiastuti (Menteri Kelautan dan Perikanan) sindonews.com/04-05-2016

B

C D

E

F

G

N

M

H I

J

O

Q

P

L K

Reklamasi pantai akan berdampak terhadap aktifitas sosial, lingkungan, hukum, ekonomi, bahkan memicu pembangunan sarana prasarana pendukung lainnya. Dengan adanya reklamasi, diharapkan kebutuhan akan lahan akan terpenuhi. Namun disisi lain perlu dikaji ulang kembali mengenai dampak negatif yang akan terjadi. Dimulai dari meningkatkan potensi banjir, kerusakan lingkungan dengan tergusurnya pemukiman nelayan dari pemukiman pantai, hingga matinya mata pencarian masyarakat pesisir teluk utara Jakarta. Sederet aksi protes dan unjuk rasa untuk menyatakan penolakan reklamasi dari berbagai elemen

masyarakat dan mahasiswa pun turut mewarnai. Perkembangan terakhir, gugatan untuk diberhentikannya proyek reklamasi di PTUN Jakarta yang dilakukan oleh nelayan dan masyarakat yang tergabung dalam Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta, dimenangknan oleh rakyat. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa reklamasi teluk Jakarta sarat dengan masalah dan sama sekali tidak pro rakyat. Jelas sampai saat ini kita mampu melihat dan menilai dimana keberpihakan atas pembangunan proyek reklamasi. Nurani kita mampu untuk menjawab apakah proyek ini untuk kepentingan rakyat atau hanya untuk kepentingan pemodal?

13 Tim UNJ, Lolos Pendanaan Dikti! Oleh: M. Ihsan Nurdin Siapa yang tidak tahu mengenai ajang bergengsi yang selalu diadakan setiap tahunnya oleh Kemenristekdikti, yakni Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM). Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, kegiatan ini diadakan menjelang pertengahan tahun, dimulai dengan pendaftaran melalui universitas masing – masing hingga pengumuman tim-tim yang lolos menjelang akhir tahun. Untuk ke sekian kalinya, pada tahun 2017 UNJ kembali berprestasi lewat 13 Tim PKM yang lolos didanai pemerintah. Ketigabelas Tim tersebut, yaitu:

3. Tim Aswin Bimo Subandoro – PKMKC Judul: Prototype MARCURY (Manufacture Security System) Sistem Keamanan Nirkabel dengan Mengantisipasi Kebocoran Gas dan Kebakaran Pada Industri Berbasis Mikrokontroler 4. Tim Fuji Lestari – PKMPE Judul: Sintesis Polimer Kolesteril Akrilat dengan Metode UV Curing Menggunakan Lampu Merkuri

1. Tim Delia Ayu Wiguna – PKMPE Judul: Pengembangan Spesifisitas Rapid Kit Tes Demam Tifoid Dengan Pendekatan Antigen Capture

5. Tim Agus Nur Hidayat - PKMPE Judul: Potensi Pemanfaatan Sampah Kaleng Minuman yang Mengandung Alumunium Sebagai Elektroda dalam Pembuatan Sel Surya Sederhana Berbasis Photoelectrochemical

2. Tim Bianca Rachel Lontoh – PKMM Judul: Child Lego sebagai Upaya Pembentukan Karakter Anak di Rusun Jatinegara Kaum Jakarta

6. Tim Susana Aprilia Betakore – PKMKC Judul: KOMPEABOR (Baskom Pintar Etching Printed Circuit Board)

SWARA UNJ EDISI APRIL

3


7. Tim Yuki Putri Pertiwi – PKMPE Judul: Pengujian Sensitivitas Primer Spesifik Salmonella Typhimurium dan Escherichia Coli Sebagai Dasar Pengembangan Rapid Kit Tes Foodborne Pathogen

sedang melakukan proses pembuatan PKM-nya, yaitu Tim Aswin Bimo Subandono dan Fariz Alhamra. Kedua Tim tersebut berasal dari Jurusan D3 Elektronika.

8. Tim Eko Cahyono – PKMKC Judul: C Prototipe PORTWEDER (Portable Weather Detector)

Dalam salah satu kesempatan wawancara, kedua Tim menyebutkan kunci dari lolosnya mereka adalah “Membaca” lingkungan sekitar dan jadilah lebih “Peka”. “Keresahan yang dirasakan oleh sekitar adalah permasalahan yang harus diselesaikan pertama, sehingga dapat terasa kebermanfaatannya untuk sekitar.” tambah Aswin. Selain ide, support dari orang – orang sekitar pun tak luput dari kunci kelolosan mereka, terutama birokrasi terdekat seperti kepala program studi serta dosen pembimbing.

9. Tim Veronika Fresty Florestina – PKMM Judul: Menemukenali Anak Berkebutuhan Khusus Melalui Program ASKLING (Asesmen Keliling) di Wilayah Jakarta Timur 10. Tim Fariz Alhamra – PKMKC Judul: CRITTING BADOT (Car Security System Monitoring Based on STNK) 11. Tim Bunga Tri Astuti – PKMK Judul: BONRAM (Abon Jamur Tiram Rasa Rendang) 12. Tim Nurfitriyanie – PKMPSH Judul: Hubungan Emotional Regulation dan Self Efficacy dengan Perilaku Seks Beresiko Pada Remaja Perempuan 13. Tim Sarah – PKMPSH Judul: Hubungan Antara Keharmonisan Keluarga Dengan Resiliensi Pada Remaja Dari sekian banyak tim diatas, Tim SWARA UNJ berkesempatan untuk mewawancarai dua tim yang sedang melakukan proses pembuatan PKM-nya,

Untuk meningkatkan persentase agar lolos, diskusi dengan sekitar dan ahli pun juga diperlukan, guna melengkapi kekurangan dari ide yang kita punya. Waktu penyusunan pun juga harus diperhatikan. Yang tak kalah penting dalam penyusunan PKM sendiri, harus memiliki judul yang unik, menarik, serta jelas agar dapat mudah dipahami. Terakhir yang paling penting agar ide dapat diterima adalah orisinalitas serta kebermanfaatannya karena ide yang fresh akan memiliki nilai tersendiri dalam penilaian nya, dan kebermanfaatannya pun akan semakin terasa. Berharap dengan prestasi ini tidak serta-merta menjadikan kita berpuas diri dan semakin mendorong mahasiswa dalam mengembangkan hal hal yang bermanfaat untuk khalayak umum. Semoga.

Tim Redaksi Coming Soon: SWARA UNJ Edisi 2 - Mei 2017

“Menyambut Pemimpin Baru Jakarta” Berdasarkan hasil quick count berbagai lembaga survei di Indonesia, Putaran Kedua Pilkada DKI Jakarta dimenangkan oleh pasangan nomor urut 3, Anies Baswedan & Sandiaga Uno dengan perolehan suara 57%, sementara pasangan nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama & Djarot Saiful Hidayat memperoleh 43% suara. Hasil quick count tersebut pun akhirnya menutup perjalanan panjang Pilkada DKI Jakarta untuk masa jabatan 2017-2022. Lalu, apa saja harapan warga Jakarta terkhusus mahasiswa/i UNJ kepada Gubernur & Wakil Gubernur baru? Baca ulasannya di SWARA UNJ edisi 2 - Mei 2017.

SWARA UNJ EDISI APRIL

4

Pemimpin Redaksi Aprillia Lusiana Desainer & Layouter Purjoko Yulianto M. Harits Abdurrahman Penulis Ihsan Nurdin Yania Wahyu Pangestika Citra Nindi Umayah Aliffia Pramestiwi Nur Auliya Ramadhaniah Editor Luthfiah Mamluatul Inayah

Kritik & Saran


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
SWARA UNJ Edisi 1 - April 2017 by SWARA BEM UNJ - Issuu