EDISI : OKTOBER 2019
S WA R A Suara Mahasiswa dan Rakyat
LESTARI BATIKKU KESAKTIAN PANCASILA WISUDA SEPTEMBER PELANTIKAN PRESIDEN SUMPAH PEMUDA UNJ BULAN INI
Dibalik “Kesaktian” Pancasila
1
SWARA Edisi Oktober
Tanggal 1 Oktober diperinga� sebagai Hari Kesak�an Pancasila. Pada hari ini, 54 tahun yang lalu, pecah Gerakan 30 September (G30S) yang menewaskan
beberapa
perwira
Angkatan
Darat--mereka lantas ditetapkan sebagai pahlawan revolusi. Apa yang terjadi setelahnya sudah kita ketahui bersama: pembantaian massal terhadap orang-orang yang dituding PKI atau komunis. Diku�p dari Menguak Misteri Sejarah (2010) karya Asvi Warman Adam, penetapan Hari Kesak�an Pancasila dilakukan lewat Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Darat tertanggal 17 September 1966. Itu harus diperinga� oleh Angkatan Darat. Menteri/Panglima AD yang juga Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Keter�ban (Pangkopkam�b) saat itu adalah Soeharto. Inilah orang yang nan�nya mengambil-alih kekuasaan ter�nggi dari Sukarno, menjadi Presiden RI ke-2 sekaligus mengakhiri riwayat Orde Lama dan menggan�nya dengan rezim Orde Baru. Pada 24 September 1966, seper� yang tertulis dalam Dokumen Terpilih Sekitar G30S/PKI (1997), Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian mengusulkan supaya peringatan Hari Kesak�an Pancasila juga dilakukan oleh seluruh jajaran Angkatan Bersenjata. Soeharto, yang juga menjabat Menteri Utama Bidang Pertahanan dan Keamanan, lantas mengeluarkan surat keputusan tertanggal 29 September 1966 yang menetapkan bahwa Hari Kesak�an Pancasila diperinga� oleh “seluruh slagorde (jajaran) Angkatan Bersenjata dengan mengikutsertakan massa rakyat.”
SWARA Edisi Oktober
2
Asvi Warman Adam dalam buku bertajuk Membongkar Manipulasi Sejarah: Kontroversi Pelaku dan Peris�wa (2009) menuliskan,
masyarakat
sesungguhnya
mempertanyakan apakah peris�wa 30 September 1965 relevan dikaitkan dengan kesak�an Pancasila? Gerakan 30 September, sebut Asvi, merupakan upaya perebutan kekuasaan dan �dak ada hubungannya dengan kehebatan Pancasila. Aksi kudeta itu sendiri gagal karena kecerobohan pelakunya dalam merancang strategi militer dan menerapkannya di lapangan. Menurut aturan tertulis, sebenarnya �dak ada keharusan bagi presiden, wakil presiden, dan ketua lembaga �nggi negara serta para menteri untuk menghadiri peringatan Hari Kesak�an Pancasila. Namun di era Orde Baru, acara ini seakan-akan menjadi seremonial wajib. Dan itu terjadi hingga sekarang. Selasa (1/10/2019) pagi, Presiden Joko Widodo menjadi inspektur upacara Hari Kesak�an Pancasila, di Monumen Pancasila Sak�, Lubang Buaya, Jakarta Timur.
3
SWARA Edisi Oktober
Prosesi Hari Kesak�an Pancasila Semasa Orde Baru, ada semacam ritual pengibaran bendera untuk memperinga� peris�wa G30S dan Hari Kesak�an Pancasila. Pada 30 September, bendera dinaikkan setengah �ang. Esok harinya, atau 1 Oktober, bendera dinaikkan secara penuh. Prosesi pengibaran bendera selama dua hari itu bisa dimaknai sebagai berikut: Bendera setengah �ang yang dikibarkan pada 30 September dimaksudkan sebagai tanda duka nasional setelah terbunuhnya beberapa perwira militer AD. Di Jakarta, para jenderal itu adalah Ahmad Yani, Soeprapto, M.T. Haryono, Siswondo Parman, D.I. Panjaitan, Sutoyo Siswodiharjo, serta Pierre Tendean yang merupakan ajudan Jenderal A.H. Nasu�on. Sedangkan di Yogyakarta, ada dua perwira militer yang juga menjadi korban, yaitu Katamso dan Soegiyono. Keesokan harinya, bendera dinaikkan secara penuh sebagai simbol kemenangan berkat “kesak�an Pancasila” yang mampu menangkal ancaman ideologi komunis. Ritual semacam ini seolah dipaksakan harus dilakukan oleh seluruh elemen bangsa se�ap tanggal 30 September dan 1 Oktober. Namun, setelah Soeharto lengser dan Orde Baru runtuh saat Reformasi 1998, prosesi ini jarang diterapkan lagi meski �dak hilang sama sekali.
Sumber: h�ps://�rto.id/sejarah-hari-kesak�an-pancasila-hanya-untuk-pahlawan-revolusi-ei3k
SWARA Edisi Oktober
4
Hari Batik Nasional: Lestari Batikku Se�ap tanggal 2 di bulan Oktober, Indonesia memperinga� Hari Ba�k Nasional. Ba�k merupakan salah satu warisan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat seluruh Indonesia. Lalu bagaimana sejarahnya sampai hari ba�k bisa jatuh pada tanggal 2 Oktober? Apa saja fakta unik tentang ba�k?
5
SWARA Edisi Oktober
Sejarah Ba�k Kata ba�k berasal dari bahasa
semenjak zaman Kerajaan Majapahit,
Jawa yaitu “ambha�k”, yang merupa-
dan menjadi sangat populer di akhir
kan gabungan dari kata “amba” yang
tahun 1700-an. Buk� bahwa kerajaan
berar� kain lebar; dan “��k” yang
Majapahit yang pertama kali menerap-
berar� ��k. Sehingga bila kedua makna
kan ba�k di Indonesia ada pada sisa-si-
digabung, ba�k memiliki ar� sebuah
sa peninggalan ba�k yang ada di
kain bergambar yang pembuatannya
wilayah Mojokerto dan Bonorowo
dilakukan
menghubungkan
(sekrang Tulungagung) yang merupakan
sebuah
bekas wilayah kerajaan Majapahit.
��k-��k
dengan menjadi
gambar
tertentu. Di Indonesia, ba�k dipercaya
SWARA Edisi Oktober
6
Salah satu ciri khas ba�k adalah cara penggambaran mo�f pada kain yang menggunakan proses pemalaman, yaitu menggoreskan malam (lilin) yang ditempatkan pada sebuah wadah yang bernama
can�ng.
Namun
seiring
dengan berkembangnya zaman, proses pembuatan ba�k �dak hanya dengan pemalaman saja. Saat ini sudah ada ba�k cap (menggunakan cap/cetakan
Pembuatan Batik Tulis
yang sudah tergambar mo�f ba�k kemudian dicelupkan kedalam lilin) dan ba�k prin�ng (menggunakan mesin cetak
teks�l),
sementara
ba�k
tradisional yang dibuat dengan proses Pembuatan Batik Cap
pemalaman disebut sebagai ba�k tulis.
Penetapan Hari Ba�k Nasional Ba�k Indonesia pertama kali diperkenalkan pada dunia Internasional oleh Presiden Soeharto pada pertengahan tahun 80-an saat mendatangi Konferensi PBB. Pemerintah Indonesia kemudian menda�arkan ba�k sebagai warisan budaya pada tahun 2008 ke UNESCO.
7
SWARA Edisi Oktober
Pembuatan Batik Print
Setelah diterima secara resmi pada 9 Januari 2009, barulah beberapa bulan kemudian yaitu tepatnya pada 2 Oktober, UNESCO menetapkan ba�k
desain simbolik yang ada, ba�k merep-
sebagai Warisan Kemanusiaan untuk
resentasikan krea�vitas dan spritualitas
Budaya Lisan dan Nonbendawi (Master-
warga Indonesia”.
pieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada sidang keempat Komite Antar Pemerintah yang diselenggarakan di Abu Dhabi. Tanggal penetapan ini lah yang pada akhirnya diperinga� sebagai Hari Ba�k Nasional. Melansir
dari
laman
resmi
UNESCO, ada beberapa alasan mengapa ba�k ditetapkan sebagai Warisan Kebudayaan
Non-Benda
Indonesia.
UNESCO telah memperha�kan bahwa ba�k
seringkali
dipakai
dalam
kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, mulai dari pekerja kantor, pelajar, hingga
dalam
acara
pernikahan
maupun pertunjukan seni. Alasan lainnya menurut UNESCO yaitu "Ba�k juga diwariskan dalam keluarga selama bergenerasi-generasi.
Seni
Fakta Menarik Seputar Ba�k
1
Malaysia pernah mengklaim bahwa ba�k adalah budaya milik mereka. Latar belakang budaya yang miri ini lah yang menjadi penyebab perseteruan perebutan hak milik. Beruntung pemerintah Indonesia telah menda�arkan ba�k menjadi warisan budaya Indonesia ke UNESCO, sehingga Malaysia pun sudah berhen� mengklaim hak milik buaya ba�k.
2
Se�ap daerah di Indonesia memiliki mo�f ba�k yang berbeda. Perbedaan ini
dapat
terjadi
dikarenakan
masing-masing daerah memiliki ciri khas budayanya sendiri. Seper� ba�k Cirebon yang iden�k dengan mo�f
ba�k
megamendung, dan ba�k di daerah
berhubungan dengan iden�tas budaya
Jawa Tengah yang iden�k dengan mo�f
orang Indonesia, dan lewat warna serta
parang.
SWARA Edisi Oktober
8
3
Tidak hanya rakyat Indonesia yang suka memakai ba�k, beberapa public figure dari luar negeri pun pernah memakai ba�k dalam acara tertentu. Seper� Kate Middleton, Lilly Collins, Sehun dan Kai EXO, Siwon Super Junior, sampai Nelson Mandela (Presiden Afrika Selatan). Lantaran Nelson Mandela gemar mengenakan ba�k di beberapa acara, masyarakat Afrika Selatan sampai menamai kain tersebut dengan nama "Mandela's Shirt".
4
Ba�k menjadi salah satu penyumbang devisa negara dengan nominal yang cukup besar. Di tahun 2015 saja total ekspor ba�k ke luar negeri mencapai Rp 2,1 Triliun! Negara Amerika Serikat adalah negara terbanyak pengimpor ba�k dari Indonesia. Disusul Jerman, Jepang, dan Korea Selatan.
Sebagai rakyat Indonesia, sudah seharusnya kita merasa bangga dengan budaya ba�k yang sudah diwariskan sejak dahulu kala. Tugas kita saat ini adalah tetap menjaga dan melestarikan ba�k agar �dak tergerus zaman. Jadi, sudahkah kamu berbangga untuk mengenakan ba�k? Yuk mulai sering pakai ba�k, Sobat Muda!
Sumber: h�ps://www.kompasiana.com/amp/anasfergiawan/5996930ea53b3b095074�d2/kebudayaan-asli-ba�k-indonesia h�ps://www.idn�mes.com/hype/fun-fact/amp/rahmadila-eka-putri/fakta-tentang-ba�k-c1c2 h�ps:/./www.goodnewsfromindonesia.id/2016/03/28/makna-ba�k-parang-yang-tak-sembarangan
9
SWARA Edisi Oktober
Wisuda UNJ Semester Genap 2018/19 SWARA Edisi Oktober
10
SIGMA TV UNJ
Rabu (25/09/2019) Wisuda Semester Genap
Universitas Negeri Jakarta Tahun Akademik 2018/2019 bertempat di Jakarta Interna�onal Expo (JIEXPO) Kemayoran, Jakarta Pusat. Dihadiri oleh 3.629 wisudawan dari 8 fakultas yang terdiri dari program diploma sebanyak 600 wisudawan, program sarjana dengan 2.624 wisudawan, program magister dengan 282 wisudawan, serta program doktor sebanyak 123 wisudawan. Acara dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama dimulai dari pukul 08.00 dihadiri oleh wisudawan dari Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Fakultas Ilmu Sosial (FIS), Fakultas Matema�ka dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), serta Fakultas Ilmu Olahraga (FIO). Acara dibuka dengan penampilan tari tradisional, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mengheningkan Cipta yang dipersembahkan oleh Unit Kesenian Mahasiswa (UKM) Universitas Negeri Jakarta.
Sumber: HUMAS UNJ
11
SWARA Edisi Oktober
Sumber: HUMAS UNJ
Sesi kedua dihadiri oleh wisudawan dari Fakultas Teknik (FT), Fakultas Ekonomi (FE), dan Fakultas Pendidikan Psikologi (FPPsi). Pada wisuda semester genap tahun ini terdapat 17 wisudawan terbaik, diantaranya: 1. Shasa Reginanda S1 PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) dengan IPK 3.91 2. Tita Desyara S1 Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) dengan IPK 3.76 3. Syifa Fadhilah Hamid S2 Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) dengan IPK 3.93 4. Maulana La�f S1 Pendidikan Kimia Fakultas Matema�ka dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dengan IPK 3.85
SWARA Edisi Oktober
12
5. Slamet Maulana S2 Pendidikan Fisika Fakultas Matema�ka dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dengan IPK 3.93 6. Imelda Rahmadan� D3 Hubungan Masyarakat Fakultas Ilmu Sosial (FIS) dengan IPK 3.67 7. Reksi S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) dengan IPK 3.94 8. Retno Bas�yah Ningsih S1 Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Olahraga (FIO) dengan IPK 3.83 9. Salma Rodhiyatunnisa D3 Tata Boga Fakultas Teknik (FT) dengan IPK 3.85 10. Nuraina Farihah S1 Pendidikan Tata Boga Fakultas Teknik (FT) dengan IPK 3.78 11. Achmad Mukahar S2 Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Fakultas Teknik dengan IPK 3.73 12. Amrina Jayan� D3 manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi (FE) dengan IPK 3.88 13. Ami Safitri S1 Pendidikan ekonomi Fakultas Ekonomi (FE) dengan IPK 3.88 14. Budiman S2 Manajemen Fakultas Ekonomi (FE) dengan IPK 3.91 15. Tiffany Veronica S1 Pendidikan Psikologi Fakultas Pendidikan Psikologi (FPPsi) dengan IPK 3.82 16. Es�k Wijayasari S2 Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) dengan IPK 3.99 17. Jahani S3 Ilmu Manajemen Pascasarjana Fakultas Ekonomi (FE) dengan IPK 3.92 Setelah pembacaan wisudawan terbaik, acara dilanjut dengan pengucapan ikrar wisudawan, pemindahan tali toga wisudawan, dan diakhiri dengan foto bersama masing-masing fakultas. (SigmaTV/MN)
13
SWARA Edisi Oktober
Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Periode 2019- 2024
SWARA Edisi Oktober
14
Minggu,
20
Oktober
2019
merupakan hari Pelan�kan Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024. Pelan�kan
yang
dilaksanakan
di
Gedung MPR/DPR ini ternyata molor hampir satu jam. Pelan�kan Joko Widodo - Ma'ruf Amin seharusnya sudah dimulai pukul 14.30 WIB dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Namun, pantauan dari Kompas.com, acara baru dimulai pukul 15.29 WIB. Pelan�kan Jokowi dan Ma'ruf Amin dihadiri sejumlah tamu pen�ng. Berdasarkan informasi terakhir, kepala negara/utusan yang akan hadir, diantaranya Hassanal
Sultan
Brunei
Bolkiah,
Darussalam
Wakil
Presiden
Republik Rakyat China Wang Qishan, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, Perdana Menteri Australia Sco� Morrison, Raja Eswan�ni Raja Mswa� III, Wakil Presiden Myanmar Henry Van Thio, Wakil Presiden Vietnam Dang Thi Ngoc Thinh, Depu� Perdana Menteri Thailand Wissanu Krea-ngam, Utusan Khusus Presiden Amerika Serikat Hon. Elaine L. Chao,
15
SWARA Edisi Oktober
Utusan Khusus Presiden Uni Emirat Arab Nahyan Mabarak Al Nahyan, Utusan Khusus Kaisar Jepang, Utusan Khusus Presiden Korea Noh Young-min, Utusan Khusus Presiden Laos Saleumxay Kommasith, Utusan Khusus Presiden Suriname Soewarto Mustadja, Utusan Khusus Serbia Zoran Djordjevic. Berikut jadwal agenda pokok sidang paripurna dalam rangka pelan�kan presiden dan wakil presiden: 14.30 WIB : Lagu Kebangsaan Indonesia Raya 14.33 WIB : Mengheningkan Cipta dipimpin Ketua MPR
15.30 WIB : Pimpinan MPR melanjutkan memimpin Sidang Paripurna MPR 15.35 WIB : Pembacaan Doa 15.40 WIB : Penutupan Sidang Paripurna MPR oleh Ketua MPR 15.45 WIB : Lagu Kebangsaan Indonesia Raya 15.48 WIB : Sidang Paripurna MPR selesai Rabu, 23 Oktober 2019 Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin telah mengumumkan 14.36 WIB : Pembukaan Sidang Paripurna MPR oleh Ketua MPR dan pembacaan Keputusan KPU oleh Pimpinan MPR 14.56 WIB : Pengucapan Sumpah Presiden 14.58 WIB : Pengucapan Sumpah Wakil Presiden 15.00 WIB : Penandatanganan Berita Acara Pelan�kan 15.05 WIB Penyerahan Berita Acara
susunan menteri dalam kabinet yang akan membantunya menjalani roda pemerintahan
periode
2019-2024.
Pengumuman susunan menteri dalam kabinet ini dilangsungkan di Istana Negara. Berikut nama menteri kabinet 2019-2024
dan
kementerian
atau
lembaga yang dipimpinnya, disusun berdasarkan da�ar yang dibacakan Joko Widodo.
Pelan�kan oleh Pimpinan MPR (Menuju tempat duduk : pertukaran tempat duduk Wakil Presiden) 15.07 WIB : Pimpinan MPR melanjutkan memimpin Sidang Paripurna MPR 15.12 WIB : Pidato Presiden
SWARA Edisi Oktober
16
1. Menteri Koordinator Bidang Poli�k Hukum dan Keamanan: Mohammad Mahfud 2. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian: Airlangga Hartarto 3. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: Muhajir Effendy 4. Menteri Koordinator Bidang Kemari�man dan Investasi: Luhut Binsar Panjaitan 5. Menteri Pertahanan: Prabowo Subianto 6. Menteri Sekretaris Negara: Pra�kno 7. Menteri Dalam Negeri: Tito Karnavian 8. Menteri Luar Negeri: Retno Lestari Marsudi 9. Menteri Agama: Fachrul Razi 10. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia: Yasonna Laoly 11. Menteri Keuangan: Sri Mulyani Indrawa� 12. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan: Nadiem Makarim 13. Menteri Kesehatan: dokter Terawan 14. Menteri Sosial: Juliari Batubara 15. Menteri Ketenagakerjaan: Ida Fauziah 16. Menteri Perindustrian: Agus Gumiwang Kartasasmita 17. Menteri Perdagangan: Agus Suparmanto 18. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Arifin Tasrif 19. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat: Basuki Hadimuljono 20. Menteri Perhubungan: Budi Karya 21. Menteri Komunikasi dan Informa�ka: Johnny G. Plate 22. Menteri Pertanian: Syahrul Yasin Limpo 23. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Si� Nurbaya 24. Menteri Kelautan dan Perikanan: Edhy Prabowo 25. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Ter�nggal dan Transmigrasi: Abdul Halim Iskandar
17
SWARA Edisi Oktober
26. Menteri Agraria, Tata Ruang, dan Kehutanan: So�an Jalil 27. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kepala Bappenas: Suharso Monoarfa 28. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: Tjahjo Kumolo 29. Menteri BUMN: Erick Thohir 30. Menteri Koperasi dan UKM: Teten Masduki 31. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Krea�f: Wishnutama 32. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak: Gus� Ayu Bintang Darmava� 33. Menristek dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional: Bambang Brodjonegoro 34. Menteri Pemuda dan Olahraga: Zainudin Amali 35. Kepala Staf Kepresidenan: Moeldoko 36. Sekretaris Kabinet: Pramono Anung 37. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal: Bahlil Lahadalia 38. Jaksa Agung: ST Burhanuddin
Sumber: h�ps://www.kompas.com/tren/read/2019/10/20/153815565/pelan�kan-jokowi-maruf-amin-akhirnyadimulai-molor-hampir-satu-jam h�ps://m.cnnindonesia.com/nasional/20191021075434-32-441381/da�ar-lengkap-menteri-kabinetindonesia-maju-jokowi
SWARA Edisi Oktober
18
Sejarah
Sumpah Pemuda 19
SWARA Edisi Oktober
Merdeka! Kalimat itu begitu sakral di saat masa perjuangan Indonesia untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Kemerdekaan itu kemudian didapat pada 17 Agustus 1945, yang tentunya tak bisa lepas dari pengaruh dan kerja keras para pemuda. Pemuda memang memiliki peran pen�ng dalam sejarah Republik Indonesia. Berkat desakan pemuda yang "menculik" Soekarno dan Mohammad Ha�a ke Rengasdengklok, Jawa Barat, Indonesia kemudian memproklamasikan kemerdekaannya. Tujuh tahun setelah berdirinya Budi Oetomo pada 1908 misalnya, para pemuda mulai bangkit meskipun masih dalam suasana kesukuan. Bangkitnya pemuda didasari seorang bernama Sa�man yang memiliki semangat berkobar yang menjadi motor penggerak bagi pergerakan pemuda. Tri Koro Darmo menjadi wadah awal dari perhimpunan pemuda. Kelak, para pemuda menyatukan tekadnya demi Indonesia dalam sebuah momentum yang dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
SWARA Edisi Oktober
20
Tri Koro Darmo Dilansir dari buku Indonesia dalam Arus Sejarah (2013), organisasi Tri Koro Dharmo merupakan perkumpulan pelajar yang berdiri pada 7 Maret 1915. Anggotanya didapat dengan menjaring pelajar bumiputra yang berasal dari perguruan dan sekolah-sekolah yang ada di Jawa. Tri Koro Dharmo yang secara bahasa memiliki makna �ga tujuan mulia (sak�, buk�, bak�), menginginkan
sebuah
perubahan
dari
cara
pandang pemuda akan kondisi yang terjadi di Indonesia. Karena terdapat
Situasi kemudian berubah saat
sebuah desakan akan keanggotaan Tri
sejumlah tokoh masuk ke dalam
Koro Dharmo lebih luas, maka nama
Perhimpunan
dari perkumpulan ini diubah menjadi
Tjipto
Jong Java.
Soewardi
Menginspirasi Sebenarnya, sudah ada perkumpulan pemuda sebelum Tri Koro Dhamo dengan nama Perhimpunan Indonesia. Namun, organisasi yang dibentuk pada 1908 itu hanya sebatas perkumpulan mahasiswa yang belajar di Belanda dan belum menunjukan peran ak�fnya di Indonesia.
21
SWARA Edisi Oktober
Indonesia,
misalnya
Mangoenkoesoemo Soerjaningrat
(Ki
dan Hajar
Dewantara) pada 1913. Kelak, muncul nama tokoh lain yang dihasilkan Perhimpunan Indonesia dan tercatat berperan pen�ng dalam kemerdekaan, misalnya Sutan Sjahrir dan Mohammad Ha�a. Barulah setelah para mahasiswa Perhimpunan Indonesia itu kembali ke Tanah Air, mereka mulai berhimpun dan bergerak demi kemerdekaan Indonesia.
anak bangsa menjadikan mereka berkumpul lagi. Kongres Pemuda II digelar, dengan kepani�aan dari berbagai perkumpulan. Sugondo Djojopuspito dari PPPI sebagai ketua, Djoko Marsaid dari Jong Java sebagai wakil ketua, Mohammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond sebagai sekretaris, dan Amir Sjarifuddin dari Jong Batak sebagai bendahara. Mereka berkumpul di Batavia (Jakarta) dan mulai menyatakan sebuah kesepakatan bersama akan Mereka merasa membutuhkan
pen�ngnya
persatuan
pemuda.
dukungan untuk bisa bersatu demi
Deklarasi pun dilakukan, dan dikenal
kemerdekaan. Muncul inisia�f untuk
dengan nama "Sumpah Pemuda".
bisa
menggabungkan
perhimpunan
pemuda
dari ke
para dalam
sebuah musyawarah besar. Kongres Pemuda I akhirnya dilakukan pada 30 April sampai 2 Mei 1926. Ceramah-ceramah yang diberikan dalam kongres itu belum bisa menyatukan
persatuan
Indonesia.
Masih adanya ego kedaerahan yang kuat dari �ap kelompok. Pada 27 sampai 28 Oktober 1928, kebanggaan dan rasa senasib para pemuda sebagai
SWARA Edisi Oktober
22
Is�lah "Sumpah Pemuda" sendiri �dak muncul dalam putusan kongres tersebut, melainkan diberikan setelahnya. Adapun hasil dari Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 itu adalah: Pertama: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, yaitu pada 1959, tanggal 28 Oktober ditetapkan sebagai Hari Sumpah Pemuda melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959. Sumpah Pemuda dimaknai sebagai momentum bersatunya para pemuda, yang kemudian bergerak bersama dan berjuang menuju Indonesia merdeka.
Sumber: h�ps://nasional.kompas.com/read/2018/10/28/06360091/ sejarah-sumpah-pemuda-tekad-anak-bangsa-bersatu-demikemerdekaan
23
SWARA Edisi Oktober
Agenda UNJ di Bulan November Studi Banding ke Padang
FIK
Fescom M3D
FPPSI
FMIPA
Psychology Expo
SWARA Edisi Oktober
24
FT
Sospol Training camp Dialog Civitas Akademika FT BlueFest
FIS
FE
DCA (Dialog Civitas Akademika) SEC (Sospol Economic Camp) Fes�val Entrepreneur
FIP FBS
25
FIS Mengabdi LKTIN Kominfo FIS Awards Social Fest
FIP Mengabdi FGT AC Closing Dekan Cup
JIYUU MATSURI SAFAR (Semarak Fes�val Arab) MATARA (Mahakarya Tari Nusantara)
SWARA Edisi Oktober
Tim Redaksi SWARA BEM UNJ 2019 PIMPINAN REDAKSI
Annisa Endah
EDITOR -
REPORTER
Aulia Masenza Nurjannah Yohanna Rizka Amalia Alif Aditya B.R Frinny F.
-
Aulia Widya P. Aisyah Amalia Khoiru Muthi’ah Diah K. Fauziyah Eddy Prasetyo M. Fikriandi
LAYOUT - M. Faris Muslim - Khoirul Umam - Faiz Azhar A.
- Merdeka Berpikir, Merdeka Berkarya SWARA Edisi Oktober
26