RambuSolo Pemakaman di Tana Toraja Oleh : Ariefah Shidqiya Rahmah
allposters.com
transitionabroad.com
Kali ini aku mengunjungi Tana Toraja melalui tulisan-tulisan orang. Banyak sekali keunikan yang aku dapati di sana, salah satunya adalah Rambu Solo, sebuah upacara adat pemakaman di Tana Toraja. Yang membuatku tercengang adalah, ternyata pemakaman ini menjadi pemakaman dengan biaya termahal di dunia. Bagaimana tidak? Upacara ini menghabiskan ratusan bahkan milyaran rupiah. Pada awalnya aku berpikir bahwa hal ini hanya penghamburan yang tak perlu. Karena menurutku, pemakaman itu cukup dengan mendoakan dan mengebumikan mayat. Tapi aku yakin, dari adanya berbagai macam kondisi, pemahaman, dan keyakinan, hal ini perlu dikaji lebih dalam sehingga aku tak memandangnya sebelah mata.
Tana Toraja Tana Toraja merupakan salah satu daerah di Sulawesi Selatan. Di daerah ini terdapat suku Toraja yang berada di pegunungan dengan kebudayaan khas Austronesia asli.
Pergerakan dan perubahan budaya Suku Toraja sangat dipengaruhi oleh Aluk Todolo. Aluk berarti jalan, aturan, hukum, keyakinan, agama. Sedangkan Todolo berarti leluhur. Agama ini merupakan agama purba yang meyakini bahwa Puang Matua adalah Sang Pencipta dan menurunkan agama yang di dalamnya terdapat aturan kehidupan bagi manusia. Aluk Todolo menjadi tali pengikat dan landasan kesatuan suku Toraja. Kemanapun orang Toraja pergi harus selalu “kembali” ke rumah Tongkonan atau rumah leluhurnya.
Menurut Aluk Todolo, mati adalah suatu proses perubahan status sematamata dari manusia fisik di dunia kepada manusia roh di alam gaib. Upacara ini ibarat gerbang bagi jenazah untuk memasuki alam yang baru. Semakin banyak hewan yang dikurbankan maka semakin tinggi derajat jenazah ketika berada di Puya. Rambu Solo bagi suku Toraja merupakan salah satu bentuk bakti seorang anak kepada orang tua dan pengikat tali silaturahim dalam keluarga besar. Anak-anaknya akan berlomba untuk mengurbankan hewan sebanyak-banyaknya agar orang tuanya mendapat kedudukan yang tinggi di Puya. 1001indonesia.net
Jika upacara ini belum dilakukan, masyarakat Toraja menganggap jenazah seperti orang sakit. Mereka tetap memberi makan, minum, dan mengajak jenazah berbicara. Perlakuan ini berakhir ketika upacara sudah dilakukan : memindahkan jenazah dari tongkonan ke Liang (kuburan) yang berupa gua di tebing batu. Masyarakat Toraja percaya, semakin tinggi (gua tebing batu) tempat jenazah diletakkan, maka semakin cepat rohnya sampai menuju Puya, dunia arwah/akhirat yang berada di sebelah selatan wilayah Tana Toraja.
Di tempat ini, ruh yang meninggal akan berubah menjadi arwah gentayangan (Bombo), arwah setingkat dewa (To Mebali Puang), atau arwah pelindung (Deata). Wujud perubahan tersebut tergantung dari kesempurnaan upacara Rambu Solo. Hewan kurban seperti kerbau dan babi pada upacara pemakaman, harta benda, dan perhiasan-perhiasan lainnya merupakan bekal yang akan dipergunakan di alam gaib. Sebelum mayat dikuburkan, terlebih dahulu dilakukan pemberkatan jenazah dan diiringi oleh nyanyian puji-pujian.
Ternyata, bentuk Upacara Rambu Solo ini dilakukan sesuai strata sosial masyarakatnya. Upacara ini dibagi ke dalam beberapa tingkatan, yaitu :
1. Upacara Dissili Ritual pemakaman untuk strata paling rendah, atau anak-anak yang belum mempunyai gigi.
2. Upacara Dipasangbongi
idblackpacker.com
Upacara pemakaman untuk rakyat biasa yang hanya dilakukan dalam satu malam saja. Upacara tingkat ini memiliki 4 bentuk, yang masing-masingnya berbeda mulai dari mengorbankan babi 4 ekor, sampai kerbau 2 ekor.
3. Upacara Dibatang atau Digoya Tedong Upacara pemakaman untuk kalangan bangsawan menengah. Upacara ini dibagi menjadi 3 jenis, yang masing-masing dilakukan selama 3, 5, dan 7 hari. Jumlah kerbau dan babi yang dikorbankan juga bervariasi mulai dari 3-7 ekor.
4. Upacara Rapasan
beontheroad.com
Upacara yang dikhususkan bagi bangsawan tinggi. Jenis upacara ini dilakukan dua kali dalam rentang waktu setahun. Upacara pertama disebut Aluk Pia, sedangkan upacara kedua disebut Aluk rante. Dibagi menjadi 3 jenis, jumlah babi dan kerbau yang disembelih dalam upacara ini bervariasi mulai dari 9 ekor hingga di atas 100 ekor.
"Kenapa semua sisa hasil usaha orang Toraja dilakukan untuk penguburan? Harta harus dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk sosial, supaya membiasakan anakanaknya (mendiang) tidak tergantung pada warisan.”
Traveltomtom.com
Di sini aku belajar bahwa kematian bukan akhir dari kehidupan. Ada banyak cara agar kita tetap abadi. Karena alam dan bumi akan terus mengalirkan kebaikan-kebaikan yang telah kita tanam. Banyak pihak yang akan merasakan manfaat dari karya-karya yang telah dipahat kuat-kuat. Maka menanam kebaikanlah sehingga berbuah kebahagiaan dan keabadian. Allah berfirman: "Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah pun dia akan melihat balasannya." (QS al-Zalzalah: 7-8)