KAMPUNG
NAGA
Oleh : Ariefah Shidqiya Rahmah
Menuju Kampung Naga 2017-2021
Sekitar empat tahun yang lalu, aku dan keluarga mengunjungi Kota Tasikmalaya untuk ke (entah) sekian kalinya. Mengunjungi tempat yang tak ada ubahnya. Rumah nenek, sawah, tukang bubur di pagi hari, kecuali kucing yang sekarang sudah beranak.
Sejujurnya aku tak begitu ingat bagaimana bisa aku sampai pada Kampung Naga. Lagi pula, hanya foto yang diunggah oleh Bapakkulah yang berjasa mengingatkanku tentang cerita di hari itu. Di tambah dengan mengunjungi beberapa website supaya aku bisa mengingat kembali tentang apapun yang diceritakan warga Kampung Naga.
Dokumentasi pribadi
Tibalah di sana kami disambut oleh seorang tour guide. Di depannya terdapat tugu kujang pusaka yang megah. Oiya, katanya, untuk sampai ke lokasi perkampungan, kami harus menuruni 400 anak tangga dari batu yang dilapisi semen selebar 2 meter. Siapa juga yang ingin menghitung anak tangga? Rasa lelah sudah terlebih dahulu menghampiri kami. Kami akhirnya sempat berlarian karena tiba-tiba hujan turun membasahi Kampung Naga. Terlihat pemandangan alam yang begitu asri. Dengan rumah-rumah yang seragam menghadap kiblat yang sama. Kami lalu berteduh di salah satu selasar rumah warga sambil mengobrol tentang
Foto dok Pemkot Tasikmalaya
budaya dan tradisi yang berlaku di Kampung Naga. Betapa uniknya, kampung ini hanya terdiri dari 103 rumah penduduk yang jumlahnya tidak boleh bertambah atau pun berkurang. Rumah-rumah di sana berbaris rapi dan sejajar dari timur hingga barat mengikuti arah matahari. Barisan rumah menghadap utara atau selatan dengan dua pintu masuk, ditambah jendela-jendela. Para pemiliknya seolah tak ingin saling menonjolkan diri sehingga membiarkan bangunan rumah mereka terbangun seragam.
Di Kampung Naga terdapat pantangan atau pamali yang merupakan ketentuan hukum yang tidak tertulis dan mereka junjung tinggi. Misalnya tata cara membangun dan bentuk rumah, letak, arah rumah, pakaian upacara, kesenian, dan sebagainya. Bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus panggung, bahan rumah dari bambu dan kayu. Atap rumah harus dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang, lantai rumah harus terbuat dari bambu atau papan kayu. Rumah harus menghadap ke utara atau ke selatan dengan memanjang kearah Barat-Timur. Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Rumah tidak boleh dicat, kecuali dikapur atau dimeni. Bahan rumah tidak boleh menggunakan tembok, walaupun mampu membuat rumah tembok atau gedung.
Uniknya, rumah di sini tidak boleh dilengkapi dengan perabotan, misalnya kursi, meja, dan tempat tidur. Rumah tidak boleh mempunyai daun pintu di dua arah berlawanan. Karena menurut anggapan masyarakat Kampung Naga, rezeki yang masuk ke dalam rumah melaui pintu depan tidak akan keluar melalui pintu belakang. Untuk itu dalam memasang daun pintu, mereka selalu menghindari memasang daun pintu yang sejajar dalam satu garis lurus.
triptrus.com
travel.kompas.com
https://travel.detik.com
Di pinggiran kampung yang dikelilingi kolam ikan terdapat sebuah masjid, satu balai kampung, dan satu bangunan utama yang disebut Bumi Ageung. Ketiga bangunan itu menjadi pusat formasi rumah-rumah di sana. Masjid menjadi rumah ibadah satusatunya di kampung berpenduduk Islam, agama yang sudah mereka anut sejak awal tempat ini berdiri. Bumi Agueng menjadi tempat sakral masyarakat setempat untuk menyimpan benda-benda pusaka adat : tombak dan keris.
Rumah ini tidak boleh dijadikan objek foto, pagar bambu yang memagarinya menandakan bahwa bangunan itu keramat. Adapun Bale Patemon merupakan semacam balai pertemuan warga. Tempat-tempat tersebut biasanya akan ramai pada saat ritual yang digelar pada bulan-bulan sakral. Ketika itu, warga Kampung Naga wajib memakai pakaian adat dan mandi di sungai.
https://journal.sociolla.com/
Hajat Sasih Hajat Sasih merupakan ritual terbesar yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga yang bertujuan untuk memohon keberkahan kepada leluhur dan sebagai wujud syukur kepada Sang Pencipta. Ritual ini dilakukan enam kali setiap tahunnya sesuai penanggalan kalender Hijriah.
Pareum Obor Asal-usul Kampung Naga disebut dengan “Pareum Obor” yang berati matinya penerangan. Hal ini berkaitan dengan sejarah Kampung Naga itu sendiri. Mereka tidak mengetahui asal-usul kampungnya. Warga Kampung Naga menceritakan bahwa hal ini disebabkan oleh terbakarnya arsip/sejarah mereka pada saat pembakaran Kampung Naga.
kumparan.com
Terlepas dari itu semua, seluruh warga masih tetap memegang teguh ajaran-ajaran para karuhun. Sejak awal para penduduk sepakat untuk hidup tanpa listrik. Mereka beralasan keberadaan listrik dapat berdampak tidak baik bagi kehidupan mereka. Walaupun tanpa listrik, mereka tetap bisa menikmati tontonan televisi atau siaran radio berbekal aki yang disambungkan dengan kabel.
Hujan pun reda, kami memutuskan untuk mengelilingi kampung ini. Benar saja, semua rumah di sini tampak sama. Penduduknya pun ramah.
Salah satu warga Kampung Naga yang membuat dan menjual kerajinan dari bambu, yaitu gelas bambu.
Dokumentasi pribadi
Teu saba, teu soba. Teu banda, teu boga. Teu weduk, teu bedas. Teu gagah, teu pinter..
Sedikit Refleksi Mengunjungi tempat-tempat di Indonesia dengan berbagai keunikannya masing-masing, khususnya Kampung Naga ini membuatku banyak berpikir dan ingin lebih mengetahui nilai-nilai dari budaya dan kemasyarakatan. Banyak sekali hal-hal yang tak kumengerti. Bagaimana bisa, sekelompok orang hidup dan menghidupi satu adat yang turun temurun tanpa mengetahui asal usul dari lahirnya kehidupan mereka sendiri? Bagaimana bisa kondisi yang seperti itu membuat mereka setia dan cinta pada tanah air mereka sendiri? Tapi mungkin memang begitu ya, banyak orang mendapat kehidupan yang nyaman tanpa harus mengetahui alasan-alasan yang jelas dan “benar” mengapa harus begini dan begitu. Gak semua orang yang terlalu peduli untuk menguraikan dasardasar kehidupannya untuk mengetahui siapa dirinya. Dan juga, ada berbagai macam alasan untuk bisa setia dan mencintai : keluarga yang harmoni, alam yang asri, masyarakat yang serasi. Walau begitu, aku ingin sedikit-sedikit mendalami dan mencintai ragamnya budaya di seluruh pelosok negeri.
Mungkin saja, cinta memang hadir tanpa alasan-alasan yang berarti. Tapi setidaknya, setiap orang memiliki arti dan cara mencintai sendiri.