ANALISIS KEMAJUAN INOVASI DI LIVERPOOL SEBAGAI KOTA PESISIR PADA KOMPONEN PEMBELAJARAN, JEJARING, PENGETAHUAN, DAN KERUANGAN
Proses inovasi bagi Kota Liverpool perlu memerhatikan sisi ilmu pengetahuan, sektor perindustrian, sumberdaya manusia, bisnis dan keuangan, serta infrastruktur atau aspek fisik kotanya. Mersey Tunnel menjadi infrastruktur inovatif yang digunakan untuk menghubungkan Liverpool Wallasey dan Birkenhead merupakan salah satu inovasi yang tengah dikembangkan Liverpool selain kawasan Waterfront yang bersinggungan langsung dengan Kota Pelabuhannya. Selain itu inovasi dalam ranah built environment, terdapat konsep Local Energy Efficiency Ambitions and Priorities, Measures we are taking to result in significant Energy Efficiency improvements of our residential accommodations. Konsep itu bertujuan untuk efisiensi energi dan pengurangan penggunaan CO2. Selain itu ada juga konsep inovasi sister city yang bertujuan untuk menjalin jejaring dengan kota-kota yang dinilai memiliki beberapa kesamaan karakteristik dengan Kota Liverpool. Sister city ini bertujuan untuk mengembangkan potensi kota-kota tersebut dan bukan tidak mungkin juga mengatasi beberapa kendala yang ada di kota tersebut.
Sumber: Google Image
Liverpool
PENDAHULUAN P entingnya proses perencanaan pembangunan di masing-masing daerah menjadi tanda bahwa setiap daerah harus dapat meminimalisir kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam proses pembangunan dengan harapan pelaksanaan pembangunan daerah dapat berjalan lebih efektif sesuai dengan yang telah direncanakan. Permasalahan yang dihadapi masing-masing daerah berbeda-beda. Permasalahan dan tantangan yang timbul di perkotaan seringkali menjadi dorongan bagi masyarakat untuk mengatasinya dengan cara yang kreatif dan inovatif. Untuk mengatasi masalah tersebut, Charles Landry (2006) menyatakan bahwa salah satu solusi menghadapi tantangan-tantangan yang ada adalah perencanaan kota yang dapat mendorong pengembangan suatu kota menjadi lebih atraktif. Untuk itu, perencanaan suatu kota memerlukan pemikiran yang kreatif dan inovatif dengan memperhatikan aspirasi warga kota mengenai kebutuhan mereka dan mempertibangkan kehidupan keseharian masyarakat serta perubahan gaya hidupnya (Landry, 2006) Dalam perkembangnnya, Kota Liverpool telah mengalami kebangkitan yang luar biasa. Hal tersebut ditandai dengan pesatnya pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi, berkembangnya perusahaan-perusahaan besar , dan juga kebangkitan budaya yang dinamis. Potensi pertumbuhan, aset inovasi ,dan peluang pasar yang dimiliki Kota Liverpool menjadikannya berpotensi sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi dan inovasi skala nasional. Hal tersebut dikarenakan Liverpool memiliki beberapa kelebihan, seperti perekonomian yang kuat, peningkatan penerapan sains dan teknologi terbarukan, jaringan perekonomian dan inovasi yang luas, manufaktur bernilai tinggi, letaknya yang dekat dengan laut, serta maraknya perkembangan industri digital dan kreatif. Akan tetapi,
Liverpool turut memiliki tantangan berupa kebutuhan akan koordinasi antarlembaga yang lebih baik dalam hal intervensi dan investasi untuk memastikan terungkapnya potensi yang dimiliki Liverpool sendiri. Keragaman budaya yang dimiliki oleh Kota Liverpool memicu pertumbuhan ekonomi yang berbasis pada inovasi dan kreativitas. Dalam upaya menghadapi tantangan struktural di Liverpool, inovasi memainkan peran penting dalam mewujudkan potensi ekonomi yang lebih luas. Dalam pasar ekonomi yang lebih maju dan canggih, inovasi semakin menjadi kunci keberhasilan. Hal ini menuntut keharusan untuk bersaing pada konten dan nilai barang, tidak hanya berdasarkan harga saja. Sehingga dapat dikatakn bahwa inovasi memainkan peran penting dalam perkembangan Kota Liverpool. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik inovasi kota, mengidentifikasi inovasi sebagai bagian dari ekosistem pembangunan berbasis ilu pengetahuan, dan mengidentifikasi inovasi kota pesisir dan pulau-pulau yang tangguh dan berkelanjutan berdasarkan wilayah studi Kota Liverpool Dalam penulisan tulisan ini, terdapat tujuan dan sasaran yang hendak dicapai penulis. Penulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kemajuan inovasi di Liverpool sebagai kota pesisir pada komponen pembelajaran, jejaring, pengetahuan, dan keruangan. Adapun sasaran dari penulisan ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik inovasi kota, mengidentifikasi inovasi sebagai bagian dari ekosistem pembangunan berbasis ilu pengetahuan, dan mengidentifikasi inovasi kota pesisir dan pulau-pulau yang tangguh dan berkelanjutan berdasarkan wilayah studi Kota Liverpool. Dalam proses terpenuhinya data-data atau informasi yang dibutuhkan dalam tulisan ini, terdapat metode dan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam
penulisan ini. Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan penulis untuk mendapatkan data dalam suatu penelitian. Dalam proses terpenuhinya informasi yang dibutuhkan dalam tulisan ini, pengumpulan data diperoleh dari hasil studi literatur. Studi literatur dilakukan dengan cara menghimpun data-data atau referensi teori yang berhubungan dengan topik yang diangkat. Data yag digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder. Sistematika penulisan makalah ini dimulai dengan abstraksi yang berisi intisari makalah. Kemudian dilanjutkan dengan pendahuluan yang berisi latar belakang, tujuan dan sasaran, metode, ruang lingkup, dan sistematika makalah. Selanjutnya penulisan makalah ini dilanjut dengan pemaparan gambaran umum Kota Liverpool yang terdiri dari gambaran demografi, ekonomi, serta sejarah dan budaya. Dilanjutkan dengan bagian analisis yang berisi identifikasi inovasi di Kota Liverpool sesuai dengan sasaran penulisan makalah. Tulisan ini diakhiri dengan penyampaian kesimpulan analisis dan rekomendasi penerapan inovasi-inovasi tersebut di Indonesia.
Sumber: Google Image
Gambaran Umum
Sumber: Google Image
Liverpool
merupakan sebuah kota dan distrik metropolitan di Merseyside, Inggris. Secara geografis, kota ini terletak di muara Sungai Mersey, tepatnya di bagian barat laut Inggris. Liverpool didirikan pada tahun 1207 dan menjadi sebuah kota pada tahun 1880. Kota Liverpool telah lama menjadi pelabuhan utama bagi Britania Raya. Dulunya, Liverpool adalah kota pelabuhan dengan banyak kapal asing dari negara Eropa lainnya yang merapat di pelabuhan utamanya, yaitu Albert Dock. Liverpool dikenal akan inovasinya dalam kesehatan publik, transportasi, infrastruktur, dan social reform. Dengan sejarahnya sebagai kota pelabuhan, Liverpool sudah jelas memiliki populasi penduduk yang beragam dari seluruh dunia. Pada tahun 2016, jumlah penduduk di LIverpool mencapai 487.600 jiwa. Dengan luasnya sebesar 111.84 km2, Liverpool memiliki kepadatan penduduk sebesar 3.889 jiwa per km2. Populasi Liverpool tertinggi terjadi pada tahun 1930-an, yaitu sebanyak 846.101 jiwa yang tercatat dalam sensus 1931, sebelum suburban-
suburbanisasi dan pembentukan kota-kota baru di wilayah tersebut. Populasi penduduk Liverpool memiliki umur yang lebih muda daripada penduduk Inggris secara keseluruhan, dimana 42,5 % dari populasi Liverpool di bawah usia 30, dibandingkan dengan rata-rata bahasa Inggris sebesar 37,7 %. Pada Juli 2014, 66 % populasi penduduk Liverpool berada dalam usia kerja. Perekonomian Liverpool merupakan salah satu perekonomian kota yang kuat di Britania Raya. Pada tahun 2006, nilai tambah bruto (GVA) kota Liverpool adalah sebesar ÂŁ 7,626 juta dengan angka per kapita sebesar ÂŁ 17,489, yang berada di atas rata-rata keseluruhan North West England. Ekonomi Liverpool telah mengalami pertumbuhan yang kuat sejak pertengahan 1990-an, dengan GVA-nya meningkat 71,8% antara 1995 dan 2006 dan pekerjaan meningkat 12% antara 1998 dan 2006. PDB per kapita diperkirakan mencapai $ 32.121 pada tahun 2014, dan total PDB mencapai $ 65,8 miliar. Secara umum, struktur ekonomi Liverpool didominasi oleh industri sektor jasa, baik publik maupun swasta. Pada tahun 2007, lebih dari 60% dari semua pekerjaan di kota berada di sektor administrasi publik, pendidikan, kesehatan, perbankan, keuangan dan asuransi. Komponen penting lain dari ekonomi Liverpool adalah sektor pariwisata dan rekreasi. Liverpool adalah kota ke-6 yang paling banyak dikunjungi di Inggris dan salah satu dari 100 kota yang paling banyak dikunjungi di dunia oleh wisatawan internasional. Liverpool merupakan pusat budaya penting di Britania Raya yang menggabungkan unsur musik, seni per-
tunjukan, museum dan galeri seni, sastra, serta kehidupan malam yang unik. Liverpool dikenal secara internasional untuk musik dan diakui oleh Guinness World Records sebagai World Capital City of Pop. Liverpool pun turut dikenal sebagai tempat kelahiran grup musik The Beatles serta telah berada di garis depan gerakan Beat Music sejak tahun 1960, yang akhirnya akan menciptakan gagasan British Invansion. Kota ini merupakan pusat budaya yang penting tidak hanya di barat laut Inggris, tetapi juga Kerajaan Inggris secara lebih luas. Kontribusinya terhadap budaya internasional diakui pada tahun 2008, ketika dijuluki sebagai European Capital of Culture. Liverpool termasuk dalam daftar kota-kota bergengsi yang berkontribusi pada seni, musik, sastra, film dan desain. Kota ini telah diresmikan oleh UNESCO United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation) sebagai anggota Creative Cities Network. UNESCO sendiri merupakan badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bertujuan untuk mempromosikan perdamaian dan keamanan dengan mempromosikan kerjasama internasional melalui pendidikan, sains, dan budaya untuk menghormati keadilan dan penegakan hukum secara universal. Dengan bergabung dengan Creative Cities Network, kota-kota anggotanya termasuk Liverpool berkomitmen untuk berkolaborasi dan mengembangkan kemitraan dengan tujuan untuk mempromosikan kreativitas dan industri budaya, berbagi pengalaman, memperkuat partisipasi dalam kehidupan budaya, dan mengintegrasikan budaya dalam strategi dan rencana pembangunan ekonomi dan sosial.
Sumber: Google Image
Inovasi terkait teknologi dan tata ruang.
Inovasi terkait organisasi dalam mendorong kolaborasi.
T
P
erdapat berbagai macam inovasi yang diterapkan oleh pemerintah daerah di Kota Liverpool dalam berbagai konteks yang bertujuan untuk mengembangkan perekonomian daerah. Salah satunya adalah inovasi di bidang teknologi yang memudahkan mobilitas penduduk dalam beraktivitas yaitu Mersey Tunnel. Mersey Tunnel terdiri dari tiga terowongan utama yang menghubungan Kota Liverpool dengan wilayah luar yaitu Mersey Railway Tunnel dan Queensway Tunnel yang menghubungkan Liverpool dengan Birkenhead dan Kingsway Tunnel yang menghubungkan Liverpool dengan Wallasey. Liverpool merupakan salah satu kota di negara Inggris bagian barat yang wilayahnya berbatasan langsung dengan wilayah perairan. Hal ini membuat penduduk memiliki kesulitan untuk melakukan perpindahan keluar Kota Liverpool karena harus menggunakan transportasi air, khususnya jika ingin melakukan perpindahan ke Birkenhead dan Wallasey yang datarannya terpisah dengan Kota Liverpool karena terdapatnya sungai yang memisahkan yaitu Sungai Mersey. Pada abad 19, Kota Liverpool memiliki isu strategis di bidang transportasi yaitu transportasi air yang beroperasi di pesisir Kota Liverpool menuju Birkenhead menciptakan eksternalitas tinggi yang menyebabkan terhambatnya perkembangan pembangunan daerah. Hal ini membuat Pemimpin Dewan Kota Liverpool saat itu, Sir Archibald Salvidge, menciptakan skema alternatif untuk mengurangi dampak dari permasalahan tersebut yaitu dengan merealisasikan pembangunan terowongan yang menghubungkan Liverpool dengan Wallasey dan Birkenhead. Pembangunan terowongan ini merupakan salah satu inovasi yang dilakukan pemerintah dalam bidang teknologi yang bertujuan untuk menanggapi isu strategis guna memberikan pelayanan kepada publik dalam standar optimal.
ada aspek perindustrian Liverpool banyak berkolaborasi dengan berbagai universitas dan institusi atau lembaga untuk pengembangan beberapa hal. Di antaranya yaitu seputar life sciences and healthcare dengan Astra Zeneca, Bristol Myers Aquibb Eli Lillly, Redx Pharma and Baxter Healthcare. Sedangkan advanced manufacturing dengan Jaguar Land Rover, BAC Mono, Getrag, UTC Johnson Controls, Unilever, dan Joloda International, etc. Untuk ranah low carbon, logistic, marine and maritime, food, drink and agriculture berkolaborasi dengan Stobart Group, Peel Ports, Maersk Line, Cammell Laird, Bibby Distribution, Acal Energy, Typhoo Tea and Halewood International, etc. Terakhir untuk digital and creative berkolaborasi dengan Lime Pictures, Conker Media, New Mind, Lucid Games, River Motion, etc. Inovasi dengan institusi guna terciptanya layanan prima.
S
elain itu, terdapat inovasi lainnya di Kota Liverpool yaitu inovasi dalam bidang pelayanan publik berupa jalur pejalan kaki cepat. Jalur ini melayani pejalan kaki yang memiliki tingkat kesibukan tinggi untuk mempermudah mereka dalam melakukan mobilitas. Jalur pejalan kaki cepat di Liverpool merupakan jalur pejalan kaki cepat pertama yang diterapkan oleh pemerintah di Negara Inggris. Menurut media populer inggri Independent, jalur pelajan kaki cepat tersebut dihadirkan pemerintah kota menyusul adanya hasil poling yang menyebutkan sebanyak 47 persen masyarakat menganggap para pejalan lamban adalah hal yang menyebalkan dan mengganggu. Inovasi ini merupakan salah satu tindakan pemerintah .
Penerapan jalur pejalan kaki cepat ini dilatarbelakangi oleh sebuah penelitian sosial yang dilakukan oleh National Geographic pada tahun 2014 mengenai pentingnya memisahkan jalur pejalan kaki. Setelah adanya hasil penelitian tersebut, pemerintah melakukan survei mengenai tanggapan masyarakat lokal terhadap ide penerapan jalur jalan cepat. Hasil survei menunjukkan bahwa ide jalur cepat bagi para pejalan kaki ini didukung banyak kaum muda yakni sebanyak 69 persen sementara lansia hanya mendukung ide tersebut sebanyak 37 persen. Alasan utama mereka setuju diterapkannya jalur cepat adalah agar pejalan kaki dapat menghemat waktu perjalanan. Inovasi dengan sistem pembelajaran (proses inovasi).
D
ari gambar di atas diketahui bahwa proses inovasi di kota liverpool menyangkut 4 hal yaitu health and wellbeing, creative and digital dan
solutions for sustainable growth, advanced manufacturing. Di lain sisi disebutkan juga beberapa aset inovasi yang utama untuk mendorong pertumbuhan. Dalam dokumen “Liverpool City Region Innovation Plan 2014-2020� pun disebutkan beberapa kunci inovasi, di antaranya pengembangan ilmu pengetahuan, perindustrian, sumber daya manusia, bisnis dan keuangan, serta infrastruktur atau aspek fisiknya. Inovasi dengan jejaring (spesialisasi dan kombinasi).
L
iverpool membuka pintu jejaring dengan banyak kota di dunia lewat konsep sister city-nya. Beberapa kota dijadikan sister city-nya tersebut karena dianggap memiliki beberapa kesamaan karakteristik maupun potensinya. Konsep sister city ini diharapkan menjadi peluang bekerja sama antara Kota Liverpool dengan kota yang bersangkutan. Dengan begitu Liverpool yang notabene disebut kota budaya
Sumber: Google Image
Sumber: Google Image yang bisa terbilang maju dapat belajar banyak hal dari kota-kota tersebut. Salah satu contoh kota yang dijadikan sister city tersebut adalah Kota Surabaya (Kompas, 2018). Kota Surabaya dipilih karena menurut Joe Anderson selaku Wali Kota Liverpool terdapat beberapa kesamaan antara dua kota tersebut. Salah satunya yaitu industri maritimnya, menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di Asia, fokus pembangunan perkapalannya, dan menjadi pusat bisnis penting. Fokus kerja sama kedua kota ini adalah penguatan pada aspek perekonomian, manajemen pelabuhan dan kemaritiman, kota pintar, pembangunan sumberdaya manusia, dan industri kreatif (Liverpoolvision, 2018).
Inovasi dengan pengetahuan (sustainable competitive advantage).
D
alam ranah ilmu pengetahuan Liverpool menjadi salah satu situs penelitian dan inovasi terpenting di Inggris. Terdapat 4 universitas sebagai pusat peneltian unggul yang sangat kuat penelitiannya pada ranah complemenntary health, biosciense-related discipline, advanced materials, advanced computing, accelerator science & digital technology, dan built environment. Selain itu juga terdapat Sci-Tech Daresbury, yang merupakan satu dari dua kampus besar sains nasional. Kunci penelitiannya yakni ada pada scientific/high-performance computing.
Untuk pembangunan sumber daya manusia dikembangkan dalam aspek pendidikan. Dengan adanya universitas-universitas besar, terdapat setidaknya 50.750 lulusan yang memiliki standar kualifikasi tinggi setiap tahunnya. Dengan level kemampuan yang juga terus berkembang setiap tahunnya. Selain itu terhitung sekitar 14% penduduk Liverpool merupakan pelajar yang masih mengenyam bangku pendidikan sekolah. Dengan pembangunan pada sektor pendidikan ini lah yang nantinya akan berdampak pada pembangunan sumber daya manusia ke depannya Sementara itu pada aspek fisik atau infrastruktur yang digunakan untuk berinovasi, terdapat beberapa situs penelitian atau science park and incubation. Dengan disediakan lahan sekitar 22000m2 untuk ruang perkantorannya, dan 7500m2 untuk laboratoriumnya. Situs penelitian itu di antaranya Liverpool Science Park, MerseyBIO, The Health Business and Technical Park, dan Scie-Tech Daresbury. Kesemuanya itu menyajikan penelitian dalam ranah life science, dan high value manufacturing and low carbon sectors (Liverpool LEP, 2015). Selain itu juga pada sisi hiburan, kehadiran grup musik The Beatles pada pertengahan abad ke-20 memiliki pengaruh besar dalam perkembangan ekonomi wilayah di Kota Liverpool. Perekonomian wilayah Kota Liverpool yang sebelumnya sempat terpuruk akibat revolusi industri menemukan titik balik ketika The Beatles lahir dan menarik perhatian pecinta musik di seluruh dunia.
Dilansir dari media populer inggris BBC pada tahun 2016, sejauh ini grup musik The Beatles telah memberikan pengaruh untuk perekonomian Kota Liverpool sebesar kurang lebih 1,6 triliun rupiah melalui sektor pariwisata. Terlebih lagi, sektor pariwisata Kota Liverpool berkembang lebih cepat ketika Liverpool dinobatkan sebagai salah satu kota musik organisasi dunia yaitu UNESCO pada tahun 2015 akibat keberadaan komunitas musik live di Liverpool, begitu juga pendidikan musik, wisata musik dan kemampuan kota ini dalam melahirkan segudang talenta berbakat di bidang musik. Pemerintah daerah berinovasi dalam mengembangkan perekonomian daerah dengan memanfaatkan predikat Kota Liverpool yang dinobatkan sebagai kota musik serta predikat Liverpool sebagai kota yang melahirkan grup musik The Beatles. Salah satu inovasi yang diciptakan adalah dengan membangun sebuah museum yang diharapkan dapat memajukan perekonommin daerah melalui sektor pariwisata yaitu Museum The Beatles yang terletak di Kawasan Waterfront, Albert Dock. Museum ini menceritakan perjalanan hidup grup musik The Beatles dari awal terbentuk hingga waktu kegugurannya serta memajang beberapa peninggalan The Beatles yang tentunya dapat menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara khususnya para pecinta musik.
Sumber: Google Image
Inovasi kota pesisir yang berkelanjutan.
L
iverpool merupakan salah satu kota pesisir yang ada di Britania Raya. Dahulu kota tersebut memiliki pelabuhan yang bisa dibilang paling sibuk di dunia. Sisa-sisa kejayaan pelabuhan dahulu pun masih ada hingga sekarang. Sisa-sisa itulah yang sekarang dibuat juga menjadi kawasan wisata untuk menarik daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Kawasan tersebut adalah kawasan waterfront Liverpool. Kawasan waterfront ini pun telah ditetapkan UNESCO sebagai salah satu situs waisan dunia. Menurut sebuah artikel dalan green-growth.org.uk dikatakan bahwa Kota Liverpool menjadi kota yang pertama di antara kota-kota lainnya di Britania Raya yang bergabung salah satu program PBB yaitu UN-HABITAT World Urban Campaign. Program tersebut adalah suatu penghargaan atau penilaian sebagai 100 kota yang layak menjadi contoh pembangunan berkelanjutan dalam suatu kota. Nick Small, salah satu Dewan Kota Liverpool mengatakan “Ini merupakan suatu perkembangan yang menarik dan penghargaan yang besar.
Hanya 21 kota sejauh ini yang baru bergabung dengan 100 kota initiatif pada UN-HABITAT dan Liverpool adalah kota pertama di Britania Raya yang bergabung. Memang pantas jika Kota Liverpool masuk ke dalam bagian yang sudah dijelaskan tadi karena mereka sudah memperhatikan sustainable development dari sejak lama. Pada tahun 2008, Liverpool ditunjuk sebagai European Capital of Culture bersama Kota Stavanger di Norwegia. Dalam mendukung hal tersebut dibuatlah sebuah Sustainable Development Plan yang sekaligus menanggapi dan mempertimbangkan perubahan iklim yang terjadi. Hal-hal yang diperhatikan yaitu persampahan, pengelolaan energi, transportasi, ruang terbuka hijau, perumahan, dan lainnya. Salah satu target yaitu zero carbon dengan cara mengurangi pengeluaran zat karbon dalam setiap kegiatan. Seperti yang dilansir liverpoolexpress.co.uk, sejak tahun 2012 hingga berita ini diterbitkan (tahun 2016) Kota Liverpool telah mengalaami peningkatan dalam penggunaan energi terbarukan sebesar 550% (dari 589 sampai 3.131) dan telah mengurangi produksi 558.000ton CO2 dan rata-rata Kota Liverpool bisa menurangi produksi CO2 70.000 ton per tahunnya. Disebutkan pula 7 hal yang membantu program low carbon tersebut yaitu: Collective Switching; Liverpool LECCY; Penggunaan panel surya pada Exhibition Centre; Mengganti lampu penerangan
jalan dengan lampu LED secara bertahap; Liverpool University’s Combined Heat and Power Plant (CHP) and Energy Centre; The Museum of Liverpool museum tri-generation plant; dan REECH (Renewables and Energy Efficiency in Community Housing). Adapun penerapan Home Energy Conservation Act (HECA) yang dilakukan di Kota Liverpool. HECA menerapkan suatu persyaratan kepada semua yang berkuasa untuk menyampaikan rencana mereka untuk mendapatkan efisiensi energy yang terus meningkat. Departemen Strategi Bisnis, Energi, dan Industri mengeluarkan sebuah panduan untuk pemilik-pemilik rumah untuk membuat laporan HECA mereka. Laporan tersebut memuat antara lain: Local Energy Efficiency Ambitions and Priorities; Measures we are taking to result in significant Energy Efficiency improvements of our residential accommodations; Measures we propose to cost effectively deliver Energy Efficiency improvements in residential accommodation by using area based/street roll outs; Timeframe for delivery of national and local partners. Berkaitan juga dengan pembangunan, Kota Liverpool pun menerapkan standar BREEAM (Building Research Establishment Enviromental Assessment Method) pada setiap bangunan yang di bangun di Kota Liverpool.
BREEAM itu sendiri merupakan metode terbaik di dunia dalam penilaian dan sertifikasi tingkat sustainability sebuah bangunan. Lebih dari 250.000 bangunan telah tersertifikasi BREEAM dan lebih dari 1.000.000 bangunan yang sudah mendaftar untuk sertifikasi di lebih dari 50 negara di seluruh dunia. Contohnya, gedung Museum of Liverpool sudah tersertifikasi BREEAM dan mendapat nilai “very good� untuk tingkat sustainable-nya. Pembangunan tersebut mengarahkan Kota Liverpool untuk lebih menggunakan energy terbarukan dalam setiap pembangunan, pengurangan produksi CO2 dari setiap kegiatan, serta menyadarkan masyarakat akan pentingnya dampak dari suatu sustainable development.
Sumber: Google Image
Sumber: Google Image
k e s i m p u l a n
D
alam fokus pengembangan inovasinya, Liverpool berfokus pada ranah health and wellbeing, creative and digital dan solutions for sustainable growth, advanced manufacturing. Setiap ranah inovasi memiliki program-program yang berhubungan dengan ranah inovasi lainnya. Dengan menjalin kerja sama melalui konsep sister city merupakan salah satu upaya menjalankan proses inovasi itu sendiri. Pasalnya Dunia sudah interconnected dan pengembangan inovasi pun harus dilakukan dengan belajar kepada banyak kota lainnya. Kota Liverpool memiliki keindahan dan daya tarik yang tinggi lewat wisata pelabuhannya atau sering disebut waterfront. Terdapat banyak museum-museum yang dapat dikunjungi. Tak heran, Liverpool menjadi salah satu kota di Inggris dengan wisatawan terbanyak baik dari lokal maupun mancanegara. Kota Liverpool pun tetap memperhatikan keberjalanan kotanya dengan kebijakan pembangunan berkelanjutan yang diusungnya. Liverpool pun terpilih dalam 100 kota paling initiatif dalam UN-HABITAT World Urban Campaign dan menjadi percontohan dalam pembangunan berkelanjutan.
R e k o m e n d a s i
H
al yang baik apabila di Indonesia pun sudah mengonsep bukan hanya pemenuhan kebutuhan dasarnya saja, namun juga segala hal yang berhubungan dengan inovasi. Karena tanpa disadari hal tersebut akan engembangkan potensi-potensi yang ada pada daerah tersebut. Terlebih lagi mengonsep ranah apa saja yang harus dikembangkan dan diinovasikan, agar prosesnya tidak kemana-mana dan tepat sasaran. Terlebih lagi inovasi-inovasi yang akan dikonsepkan harus berbasis ramah lingkungan dan hemat energi. Karena inovasi yang bisa dibilang pembaharuan tentunya ke arah efektivitas dan efisiensi suatu kota dalam menjalankan sistem kehidupan di perkotaannya.
DAFTAR PUSTAKA Darbyshire. Design Liverpool 50 – Sustainable Development. The City of Liverpool Liverpool LEP. 2018. Liverpool City Region Innovation Plan 2014-2020. Liverpool Vision. 2018. Liverpool Signs Indonesian Agreement. Diakses 02 April 2018 pukul 06.54 WIB dari http://www.liverpoolvision.co.uk/news/latest-news/liverpool-signs-indo nesian-agreement/ Kompas. 2018, 23 Maret. Kunjungan Wali Kota Liverpool ke Surabaya, Hunting Foto Hingga Tanda Tangani MoU Sister City. Kompas. Diakses 02 April 2018 pukul 06.51 WIB dari https://biz.kompas.com/read/2018/03/23/082750328/kunjungan-wali-kota-liver pool-ke-surabaya-hunting-foto-hingga-tandatangani-mou https://en.wikipedia.org/wiki/BREEAM (Diakses pada tanggal 1 April 2018) https://www.liverpoolexpress.co.uk/liverpool-winning-race-cut-carbon-footprint/ (Diakses pada tanggal 1 April 2018) http://liverpool.gov.uk/council/strategies-plans-and-policies/housing/home-energy-conserva tion-act/ (Diakses pada tanggal 1 April 2018) https://www.visitliverpool.com/things-to-do/maritime-and-heritage/liverpool-waterfront (Diak ses pada tanggal 1 April 2018) https://www.green-growth.org.uk/article/liverpool-becomes-exemplar-sustainable-city (Diakses pada tanggal 1 April 2018)
Liverpudlian Never Walk Alone. Amanda Dian Widyasti K. (15416203) Wahyu Gede Sadewo (15416205) Fikri Achmad Nugraha (15416208) Jedy Ilyasa Zulardy (15416222)