Halaman 9
Halaman 10
Halaman 18
Memanggil Mayoritas Diam
Navigasi Kehidupan Digital
Orang Lumpuh Terakhir di Yerusalem
Wa r t a G e re j a Ma s e h i Advent Hari Ketujuh
02 - 2019
Ibadah di Tempat Terpencil Oleh: Bill Knott
S As
Cerita Sampul Secara teratur membantu pengoperasian kamera, termasuk lengan penyangga setinggi 6 meter, di gereja Loma Linda University, California. Dia sangat bersemangat menjalankan perannya sehingga untuk berlatih dia memasang lengan penyangga kamera sendiri di ruang tamu rumah orang tuanya. Foto Sampul: Kevin Ekvall
Fokus 10 Navigasi Kehidupan Digital Firman 18 Orang Lumpuh Terakhir di Yerusalem 26 Pertanyaan Alkitab Dijawab Gereja Saya 16 Wawasan Global 21 Suara Milenial 22 Menengok ke Belakang Iman yang Hidup 24 Iman dalam Tindakan 27 Kesehatan dan Kebugaran 28 Bolehkah Saya Menceritakan Sebuah Kisah 30 Iman yang Bertumbuh—Halaman untuk Anak-anak
elama lebih dari setengah abad saya datang ke sini untuk beribadah. Tempat ini adalah rumah rohani bagi saya seperti halnya gereja-gereja di mana saya kerap hadir, atau bahkan berkhotbah. Tetapi tidak ada perangkat audio yang membantu paduan suara, kecuali angin yang berbisik melalui pohon pinus raksasa yang mengelilingi tempat kudus ini. Dan tidak ada pengkhotbah di depan mikrofon, meskipun Anda bisa mendengar kata-kata Roh berbicara di dalam kalbu: “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” Tidak ada dengung sistem pendingin udara untuk mengurangi panas ketika saya datang beribadah di pagi bulan Juli yang panas. Tidak ada tungku gas yang melawan kelembaban dengan gelombang udara hangat ketika saya duduk di sini dalam kabut dingin bulan Februari. Dan fungsi penerangan hanyalah apa yang digantung oleh Bapa di langit ribuan tahun yang lalu— “yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang” (Kej. 1: 16). Tidak ada layar resolusi tinggi menemui saya di serambi, tempat pengumuman potluck dan pelayanan kaum bapak, tidak ada juga papan iklan berkedap-kedip di samping jalan yang mengiklankan khotbah minggu ini. Di sini, di lereng bukit yang menghadap ke barat, di atas hamparan hijau di tanah yang saya cintai, saya menyembah Tuhan sejak orang tua saya pertama kali membawa saya ke sini pada usia 9 tahun. Ditarik oleh ketenangan tempat yang sederhana dan terpencil ini, saya telah puluhan kali kembali ke sini untuk berdoa, biasanya sendirian, mendengarkan paduan suara burung penyanyi di pagar tanaman di bawah; merasakan hujan di wajah saya yang menengadah di tengah badai musim semi; menarik mantel lebih erat lagi ketika tempat kudus ini diselimuti salju. Tempat ibadah outdoor ini—mereka menyebutnya Cathedral of the Pines—telah menjadi tempat saya datang untuk bertemu Tuhan yang telah ada sebelum dan terus ada setelah semua teknologi. Semua itu, dinding dan penerangan, karpet dan mikrofon, tayangan video dan sistem pemanas yang berfungsi dengan lancar terkadang benar-benar mengaburkan realitas Allah yang agung dan tak terjangkau. Layar dan gambar sering menjadi kenangan utama kita dalam pertemuan dengan “Tuhan [yang] duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci” (Yes. 6: 1). Kecuali pada saat-saat kita mencari Tuhan di tempat-tempat di mana kita menghadapi ukuran kita yang sebenarnya di alam semesta milik Allah, kita berada dalam bahaya menciptakan Tuhan “seturut gambaran kita sendiri,” seseorang yang bisa masuk ke layar iPad atau smartphone kita. Setelah Anda membaca Adventist World bulan ini dan mengikuti diskusi tentang bagaimana orang percaya dapat menggunakan teknologi digital secara bijak, letakkan majalah Anda dan temukan saat teduh Anda dengan berdiri di bawah langit terbuka dan bernyanyi bersama saya: “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi” (Mzm. 8: 2).
Kami percaya pada kekuatan doa, dan kami menyambut permohonan doa yang dapat dibagikan kepada staf mingguan kami yang beribadah setiap hari Rabu pagi. Kirim permintaan Anda ke prayer@adventistworld.org, dan doakan kami saat kami bekerja bersama untuk memajukan kerajaan Allah. 2
02 - 2019 AdventistWorld.org
Momen Berita
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh menyelenggarakan festival kemerdekaan beragama pan-Afrika di Stadion Nasional Amahoro di Kigali, Rwanda. Sekitar 30.000 orang menghadiri pertemuan tersebut, di antaranya delegasi urusan kebebasan beragama dari hampir 30 negara, perwakilan organisasi hak asasi manusia, pejabat pemerintah, cendekiawan dan para pengusaha Afrika. Foto: Abraham Bakari
AdventistWorld.org 02 - 2019
3
Berita Singkat
“Pekerjaan besar dan rumit terpampang di hadapan kita. Namun itu semua bisa dicapai. Saya meninggalkan tempat ini dengan penuh harapan.” —Susana Tonda, Direktur Sename, National Services for Minors di negara Chili. Tonda menyatakan hal itu di sebuah seminar tentang keluarga asuh dan perlindungan hak-hak mereka yang disponsori ADRA di San Sebastian University di Santiago, Chili. Para pemimpin ADRA Chili melaporkan bahwa organisasi ini telah bekerja sebagai rekanan resmi Sename untuk membantu anak-anak dan remaja yang membutuhkan rumah singgah, dalam 24 tahun terakhir ini.
18.793 Jumlah bangunan yang rusak atau hancur akibat api unggun yang menimbulkan kebakaran di California Utara, Amerika Serikat. Kebakaran di bulan November itu meliputi area seluas 15,3 hektar dan menyebabkan 88 orang meninggal—yang terbesar dalam sejarah kebakaran di California. Di antara bangunan yang rusak itu terdapat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Paradise, yang terbakar habis, dan pusat medis Feather
River—bagian dari jaringan rumah sakit Adventist Health yang mengalami kerusakan pada sebagian bangunannya setelah berhasil mengevakuasi semua pasien dan staf.
“Saya bercitacita menjadi roda gigi dalam sebuah komunitas yang dapat menjadi kuat bersama dalam kasih Yesus, sehingga kasih-Nya dapat ditunjukkan melalui kita kepada sesama orang Eropa.” —Helgi Jónsson, seorang dokter dan psikiater Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, yang baru-baru ini terpilih sebagai Direktur Pelayanan Kesehatan untuk Divisi TransEropa. Jónsson, yang berasal dari Islandia, bekerja sebagai konsultan kejiwaan dan juga melayani dalam sistem kesehatan Denmark.
“Pemerintah tidak bisa sendirian dalam memenuhi kebutuhan penduduknya. Karena itu kita perlu membantu pihak yang berwenang.” —Elie Weick-Dido, Ketua Divisi Afrika Tengah Barat (WAD) di Abidjan, Côte d’Ivoire. Para pemimpin dan staf WAD baru-baru ini memberikan sumbangan sekitar 300 bangku ke distrik sekolah yang berada dekat Abobo. Distrik sekolah ini melayani 15 sekolah dasar dan tiga taman kanak-kanak, dengan tempat duduk yang sangat terbatas dan padat. Sumbangan tersebut merupakan bagian dari rencana terpadu Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh sebagai badan agama dan sosial dalam mendukung upaya pemerintah untuk meningkatkan kehidupan warganya.
Elie Weick-Dido menyapa beberapa siswa penerima bantuan di luar sekolah mereka di Abobo, Abidjan, Côte d’Ivoire Foto: WAD News
4
02 - 2019 AdventistWorld.org
Berita Singkat
130
Tingkat Pendidikan Orang Advent di Seluruh Dunia 12% Lulusan Politeknik atau Ahli Madya 25% Lulusan Perguruan tinggi 14% Pernah di Perguruan Tinggi tetapi tidak mendapat gelar 20% Sekolah Menengah Atas 13% Sekolah Menengah Pertama 15% Sekolah Dasar 0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
22
24
26
28
Sumber: Adventist Global Church Member Survey, 2013
“Kami menemukan, di antara banyak hal yang kami dapatkan, bahwa hampir 70 persen mobil di pulau ini memiliki radio yang hanya menerima frekuensi hingga 90 MHz.� —Colin Dunn, manajer proyek untuk instalasi stasiun radio Advent yang baru di negara kepulauan Kiribati, Pasifik Selatan. Lisensi radio Adventist Hope adalah 91 MHz, tetapi Dunn dan timnya menemukan bahwa sebagian besar mobil di pulau itu dilengkapi dengan radio yang dapat menyetel hingga maksimum 90 MHz. Berupaya mencari solusi, penyiar radio Tarataake Angirio mengunjungi mantan presiden Kiribati, pemegang lisensi frekuensi 89 MHz yang tidak digunakan. Mantan presiden tersebut kemudian secara resmi melepaskan lisensinya untuk Adventist Hope.
30
Orang Advent Inggris yang menjadi penentang dalam Perang Dunia I. Sebagian melayani di unit-unit nontempur; sedang yang lain berakhir di penjara atau dihukum dengan kejam. Eropa baru-baru ini memperingati ulang tahun ke-100 Hari Gencatan Senjata, saat permusuhan Perang Dunia I secara resmi berhenti di front Barat.
5 sampai 10 Jumlah kelompok Pathfinders yang mulamula akan dibentuk di berbagai sekolah umum di seluruh negara kepulauan Jamaika. Kementerian Pendidikan Jamaika memberikan kesempatan bagi organisasi pemuda Advent (Pathfinders) untuk mendirikan klub di sekolah dasar dan menengah di seluruh negeri. Pathfinders adalah organisasi yang membantu orang muda dalam mengembangkan keterampilan hidup dan disiplin yang diperlukan untuk menjadi pemimpin di gereja dan masyarakat. AdventistWorld.org 02 - 2019
5
Berita Mendalam
Pusat Penginjilan Digital Didirikan di Filipina
Tujuannya adalah untuk menghubungkan kontak radio dengan pelajaran Alkitab dan pemuridan.
Oleh: Edward Rodriguez, Divisi Asia Pasifik Selatan
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh meresmikan pusat penginjilan digital Adventist World Radio (AWR) yang pertama di Silang, Cavite, Filipina. Center for Digital Evangelization (CDE) ini bertujuan untuk terhubung dengan para pendengar radio dan mengundang mereka untuk mendalami Kekristenan dan Yesus melalui pelajaran Alkitab dan sumber-sumber daring lainnya. Karena semakin banyak CDE didirikan di wilayah lain di dunia, AWR telah mengindikasikan bahwa pusat penginjilan ini akan bermitra dengan kantor divisi dan institusi Advent lainnya guna meningkatkan pengaruh gereja di dunia daring. Tujuan lain dari pusat ini adalah menggunakan media sosial sebagai alat tambahan
untuk penginjilan, kata penyelenggara. Situs-situs media sosial seperti Facebook, WhatsApp, YouTube, dan Instagram, adalah beberapa sarana yang digunakan oleh para penginjil digital untuk menjangkau mereka yang mencari informasi rohani secara daring. Para administrator dan tamu dari kantor pusat AWR, Divisi Asia-Pasifik Selatan (SSD), dan pejabat konferens hadir dalam peresmian pusat penginjilan ini. Melihat banyaknya panggilan dan pesan yang masuk setiap hari melalui program radio dan media sosial yang sedang berlangsung, AWR berharap bahwa komunikasi dari pendengar tidak “menguap” begitu saja tetapi akan berfungsi sebagai awal
Gereja Advent di wilayah Asia Pasifik Selatan, bekerja sama dengan Adventist World Radio, baru-baru ini meresmikan Pusat Penginjilan Digital di Silang, Cavite, Filipina.
Foto: Southern Asia Pacific Division News 6
02 - 2019 AdventistWorld.org
dari sebuah perjalanan spiritual. “Ada ribuan orang di seluruh dunia yang dengan sengaja mendengarkan program kami. Tetapi sebagian besar berhenti di sana,” jelas Kyle Allen, Wakil Ketua Adventist World Radio. “Kita perlu menemukan cara agar kita dapat terhubung, berteman dengan mereka, dan membuat mereka merasa diperhatikan. Di situlah pusat penginjilan digital (CDE) masuk.” Setelah upaya pemrograman radio yang sukses di Afrika, Filipina, dan Jepang, para pemimpin AWR melihat perlunya pusat ini dibentuk untuk memenuhi kebutuhan pendengar yang terus meningkat. “Pada tahap pertama, pusat penginjilan digital memfokuskan perhatiannya pada India dan Filipina. Kelompok perintis yang terdiri dari empat hingga delapan misionaris digital akan pergi ke Filipina selama satu tahun misi,” kata Karen Glassford, Direktur Pusat Penginjilan Digital AWR. “Mereka akan dilatih untuk memfasilitasi penginjilan melalui telepon, dan bagaimana membuat setiap panggilan menghasilkan lebih banyak percakapan di masa depan,” tambahnya. “Satu program radio mengarah pada hubungan, kemudian pada penawaran doa atau pelajaran Alkitab. Ada kemungkinan tak terbatas untuk berbagi tentang Yesus hanya dengan satu panggilan,” Glassford bercerita. Glassford adalah personil paling anyar di keluarga Adventist World Radio, yang direkrut untuk membantu pengembangan berkelanjutan lembaga ini melalui pusat penginjilan digital. Sebelumnya wanita ini bekerja di Institute for World Mission di kantor pusat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh.
Berita Mendalam
Sampel Sel Dikirim ke Stasiun Luar Angkasa Internasional
Proyek penelitian rumah sakit Advent untuk mempelajari efek dari gaya berat mikro pada otot.
Oleh: Florida Hospital News and Adventist Review
Beberapa penduduk Florida tengah, Amerika Serikat—setidaknya bagian kecil dari diri mereka—sekarang berada di luar angkasa. Sel-sel otot dari para peserta penelitian di Institusi Penelitian Metabolisme dan Diabetes (TRI) Hospital Florida itu diluncurkan ke Stasiun Luar Angkasa Internasional pada pertengahan November 2018, sebagai bagian dari percobaan untuk memeriksa efek keadaan tanpa bobot (microgravity) terhadap kesehatan otot. “Kami tahu microgravity memiliki efek yang sangat merugikan pada otot kerangka. Setelah lama tinggal di ruang angkasa, astronaut kembali dalam kondisi yang sangat lemah dan sering tergantung pada kursi roda sampai otot mereka dapat pulih,” kata Paul Coen, seorang peneliti di TRI. “Percobaan ini akan memungkinkan kita untuk mempelajari efek dari microgravity pada biologi sel otot.” Mengalami Masalah Kesehatan Translational Research Institute for Metabolism and Diabetes (TRI) adalah bagian dari jaringan Florida Clinical Institutes, yang bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara laboratorium penelitian dan tempat tidur pasien. Peneliti dan profesional medis berkolaborasi dalam uji klinis untuk mengatasi beberapa masalah kesehatan terbesar saat ini, seperti obesitas, diabetes, dan penyakit pembuluh darah jantung. Temuan dari luar angkasa ini menjadi penting karena hasil penelitian juga dapat diterapkan untuk menemukan perawatan atas berkurangnya massa otot karena usia, yang dikenal sebagai sarcopenia, demikian para pejabat institut mengungkapkan. Sampel sel berasal dari delapan peserta dalam penelitian terbaru tentang penuaan dan kehilangan massa otot, yang didukung oleh National Institute
Roket Antares, dengan Cygnus yang membawa pasokan untuk pesawat luar angkasa, siap untuk lepas landas di Wallops Flight Facility milik NASA di Virginia.
Foto: NASA/Joel Kowsky
on Aging pemerintah AS dan dipimpin oleh Coen. Mereka dijadwalkan untuk lepas landas pada 16 November 2018, pukul 04:23, di atas kapal kargo Cygnus dari pangkalan NASA di Wallops Island, Virginia. Cygnus akan dibawa ke ruang angkasa di atas roket Antares buatan Northrop Grumman. Bagaimana Cara Kerjanya Sel-sel itu naik ke orbit pada “lab on a chip” yang sebagian dikembangkan oleh Siobhan Malany, seorang ilmuwan di Sanford Burnham Prebys Medical Discovery Institute dan presiden Micro-gRx. Karena sel memiliki rentang hidup yang terbatas, para peneliti hanya memiliki waktu singkat untuk mempelajari efek microgravity, kata Malany. “Kami berharap bisa mendapatkan tujuh hari keadaan tanpa bobot; kemudian sampel akan diawetkan, dibekukan, dan disimpan sampai mereka dibawa kembali ke kapsul SpaceX Dragon,” katanya. “Istilahnya, mereka dikirim kepada kami melalui FedEx dari tengah laut.” Tim akan mempelajari perubahan ekspresi gen dalam sel yang dikirim ke ruang angkasa dibandingkan dengan sel yang tersisa di bumi. Setiap chip berukuran sedikit lebih kecil daripada kartu nama, kata Malany, dengan empat kotak berukuran 2 sen-
timeter. Dua chip dikirimkan ke ruang angkasa, membawa delapan percobaan terpisah. Sebagai informasi, laboratorium itu terkandung dalam kotak berukuran 10 cm x 30 cm, termasuk papan, elektro nik, pompa, cairan, dan mikroskop kecil yang akan mengambil banyak gambar selama perjalanan sel-sel di orbit, kata Malany. Misi selanjutnya akan membawa kamera dan tambahan elektronik untuk memantau kontraksi otot. Tentang Hospital Florida Dibuka pada tahun 1908, Hospital Florida adalah institusi perawatan kesehatan berbasis iman yang berfokus untuk memberikan perawatan menyeluruh bagi pasien. Ini adalah salah satu rumah sakit terbesar yang tidak mencari laba di negara ini, dengan jumlah kunjungan pasien di atas 2 juta per tahun—lebih banyak dari rumah sakit lain di AS, menurut American Hospital Association. Hospital Florida adalah anggota Adventist Health System, yang memiliki hampir 50 rumah sakit dan ratusan tempat perawatan di 11 negara bagian. Setelah proses penggantian nama, Adventist Health System dan Hospital Florida dikenal sebagai AdventHealth mulai bulan Januari 2019. AdventistWorld.org 02 - 2019
7
Fokus Berita Divisi Afrika Selatan–Samudra Hindia (SID)
3.873.848 Keanggotaan SID 31 Desember 2017
20
Jumlah liter air bersih gratis per orang per hari dari kios Adventist Development and Relief Agency (ADRA) yang baru saja dipasang di Mocuba, Mozambik. Kios ini akan menyuplai air kepada lebih dari 1.000 orang. Distrik Mocuba di provinsi Zambezia di Mozambik telah menderita kekurangan air bersih selama bertahun-tahun. Kekeringan yang berkepanjangan di Afrika Selatan telah memperburuk situasi. (^-)
450
Jumlah peserta pertemuan tingkat pertama Adventist Laymen’s Services and Industries (ASI) di wilayah SID. Peserta berasal dari Zambia, Zimbabwe, Angola, Malawi, Madagaskar, Mozambik, Botswana, Swaziland, Namibia, Seychelles, Mauritius, Principe, dan Afrika Selatan. Sumbangan sekitar 40.000 dolar AS dikumpulkan selama acara ASI. Lebih banyak lagi sumbangan mengalir kemudian untuk memenuhi kebutuhan anggaran yang diusulkan sekitar 50.000 dolar AS. Dana akan digunakan untuk mendukung empat proyek misi.
“Saya tidak mengerti mengapa satu-satunya ahli bedah ortopedi di Zimbabwe yang memenuhi syarat untuk mengoperasi leher saya tersedia pada hari operasi darurat saya.” —Alfred C. Machona, seorang mahasiswa teologi di Solusi University Zimbabwe, setelah mengalami tabrakan mobil yang membuat tulang belakangnya terkilir dan menyebabkan luka dalam yang mengancam jiwa istrinya, beruntung. Sejak saat itu Machona mereflek sikan keadaan unik yang menyelamatkan hidupnya dan istrinya. Satu-satunya ahli bedah ortopedi kompeten yang berencana untuk menghabiskan Natal di luar negeri, melakukan operasi darurat Machona di pagi hari dan terbang dengan pesawat pada sore harinya.
“Budaya Advent yang tidak ingin berbaur dengan masyarakat harus berubah. Kita adalah garam dunia. Garam yang tercecer dari botol tidak bisa digunakan; dan itu tidak pernah menguntungkan siapa pun. Garam yang keluar dari botol harus memengaruhi apa yang ada di sekitarnya. Kami membawa pesan kasih Allah yang terakhir untuk dunia yang binasa di zaman akhir ini. Menjadi garam bagi dunia ini adalah keharusan bagi para pengikut Yesus Kristus.” —Solomon Maphosa, Ketua GMAHK SID.
Foto: Southern Africa-Indian Ocean Division 8
02 - 2019 AdventistWorld.org
Perspektif
Memanggil Mayoritas Diam Mengapa kita perlu bicara tentang kelelahan (burnout), depresi, bahkan bunuh diri yang menimpa kalangan pendeta. Artikel berikut pernah tampil di AdventistReview.org. Karena sifat universal dari masalah yang dibahas, kami menampilkannya pada Adventist World bulan ini.—Editor Beberapa bulan yang lalu sebuah berita yang mengganggu muncul di news feed saya. “Gereja California Terguncang Setelah Pendetanya Bunuh Diri,” bunyi tajuk itu—dan sesaat jantung saya berdegup kencang. Andrew Stoecklein, pendeta utama dari gereja Injili Inland Hills di Chino, California, meninggal dunia setelah mencoba bunuh diri sehari sebelumnya. Situs web gereja menampilkan seorang pendeta muda yang dinamis dengan seorang istri yang luar biasa dan tiga putra remaja. Apa tekanan, derita, dan rasa sakit yang mendorong anak muda kepunyaan Allah ini untuk melangkah ke kekelaman bunuh diri yang tak bertepi? Kita tidak suka berbicara tentang kelelahan, depresi, atau bunuh diri ketika sedang berbicara tentang pendeta Advent. Namun semua emosi dan kondisi di atas adalah kenyataan saat ini yang dialami pendeta Advent juga. Pemimpin rohani, pendeta yang dinamis, pengkhotbah yang bersemangat, penginjil yang sempurna—mereka semua terus menghadapi tantangan pelayanan yang nyata dalam
Oleh: Gerald A. Klingbeil, associate editor, Adventist World
dunia yang digerakkan oleh media dengan tweet dan postingan Facebook yang terus-menerus, di mana ruang pribadi menjadi semakin berkurang. Menggembala itu sulit dan terkadang bisa sangat membuat kesepian. Pendeta hidup dalam mode “on” hampir sepanjang waktu. Mereka harus seperti itu. Mereka harus menjadi penggembala yang selalu merawat kawanan yang beragam dan acapkali sakit. Kita mengharapkan mereka menjadi jenius administrasi, memimpin orangorang dari berbagai lapisan masyarakat dengan kebutuhan dan pengalaman berbeda yang tidak selalu cocok. Mereka harus melihat melampaui tembok-tembok bangunan gereja untuk menjangkau yang belum terjangkau dan hilang. Mereka harus mengawasi struktur dan perawatan gedung gereja, sementara pada saat yang sama harus selalu hadir di dalam dunia yang mengharapkan liputan media penuh. Saya seorang pendeta yang sudah di urapi, dan saya sering merasa kewalahan dengan kebutuhan yang saya lihat di sekitar saya. Jadi apakah yang bisa kita, anggota jemaat lakukan? Berikut adalah empat saran praktis: Pertama, beritahukan lagi dan lagi kepada para pendeta Anda betapa mereka dihargai. Saya tahu bahwa sebagian besar anggota mengasihi dan menghargai para pendeta mereka, tetapi apakah kita pernah menyatakannya? Sebagian besar waktu ketika seorang pendeta mendengar dari anggotanya adalah saat mereka tidak bahagia atau saat terjadi konflik. Umpan balik positif akan sangat membantu untuk menguatkan seorang
pendeta yang mengalami tekanan setiap hari. Ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh terkadang tidak setuju dengan pendeta. Namun sering yang kita tidak setuju itu adalah cara seperti Kristus sementara menguatkan hubungan kita dengan penuh kasih. Kedua, buka hati Anda dan, jika mungkin, rumah Anda untuk pendeta Anda. Kapan terakhir Anda mengundang keluarga pendeta untuk makan tanpa adanya suatu kepentingan? Ketiga, komitlah untuk berdoa bagi keluarga pendeta Anda setiap hari. Hal-hal indah terjadi ketika kita berdoa untuk orang lain. Tuhan akan menghilangkan sikap kita yang terlalu kritis. Keempat, genggam tangan pendeta Anda ketika ada kebutuhan untuk dukungan penuh atas suatu keputusan. Jangan lupa bahwa pendeta bukanlah pahlawan super. Seperti kita semua, mereka manusia dan lemah, dan bisa salah. Terkadang memegang lengan pendeta Anda berarti menjadi relawan untuk merawat tiga anak mereka yang masih kecil sehingga pasangan pastoral memiliki malam (atau akhir pekan) bebas untuk diri mereka sendiri dan kebutuhan mereka sebagai pasangan. Terkadang memegang lengan pendeta Anda berarti angkat bicara dalam rapat dewan ketika nada diskusi menjadi sumbang atau topik menjadi terlalu pribadi. Saya memanggil mayoritas yang diam dalam jemaat Advent untuk mendukung para pendeta yang bekerja keras, dan terkadang tersakiti. Ayo, bergegaslah, dan lakukan segera sebelum kita membaca tajuk berita lainnya yang menyedihkan. AdventistWorld.org 02 - 2019
9
Fokus
Navigasi Kehidupan Digital
S Perspektif global dalam membesarkan anak-anak Kristen di era digital ini.
aat ini saya bertanggung jawab untuk Laboratorium Media Pelayanan Adventist Review dan sangat terlibat dalam media dan teknologi mutakhir, namun sebelumnya saya tumbuh sebagai seorang anak misionaris di Madagaskar dan Afrika Barat yang tidak terpapar teknologi tinggi hingga usia 17 tahun. Kesenangan dan permainan terpusat pada membuat mobilmobilan dan pernak-pernik lainnya dari bahan sisa. Saya tidak akan menukar pengalaman masa kecil saya untuk apa pun, karena itu mengembangkan kemampuan berpikir kreatif saya, sangat jauh di luar “kotak” pakem, untuk menemukan solusi yang berbeda. Di Silicon Valley Amerika Serikat, para eksekutif tingkat tinggi melihat secara langsung bahwa terlalu banyak paparan teknologi akan berpotensi membahayakan anak-anak. Beberapa bahkan mengatakan bahwa platform media sosial dan desain game menciptakan kecanduan pada individu yang normal. Karyawan raksasa teknologi seperti Google, Apple, dan Yahoo mengirim anak-anak mereka ke sekolah di mana para guru lebih memilih pendekatan belajar yang langsung dan berdasarkan pengalaman, yang sangat kontras dengan kecenderungan yang makin meningkat untuk mengisi ruang kelas dengan perangkat elektronik terbaru. Sebaliknya, kampus-kampus ini melihat peran imajinasi dalam belajar dengan pendekatan yang lebih holistik. Di era digital kita, teknologi semakin menjadi bagian terbesar dari kehidupan kita. Tetapi menavigasi secara efektif (karena kebaikan datang bersama keburukan) sangat penting bagi orang tua Kristen. Apa manfaatnya, dan apa perangkapnya? Baca terus untuk mendengar perspektif dari orang tua, pendidik, dan profesional teknologi tentang bagaimana menjadikan teknologi sebagai bantuan dan bukan penghalang bagi perkembangan mental, emosional, dan spiritual anak Anda. —Daryl Gungadoo, Inggris. Apakah yang Harus Dilakukan Orang Tua? Beri Contoh Saya seorang ibu dari anak berusia 6 tahun dan 4 tahun. Mereka jarang sekali mendapat kesempatan untuk menatap layar. Kesempatan itu hanya terjadi saat dalam perjalanan udara (mereka menggunakan tablet yang tersedia di pesawat) atau ketika mereka sakit di rumah (mereka bisa menonton beberapa episode acara favorit mereka). Selain dari saat-saat itu, mereka boleh menonton acara kartun musiman atau kisah-kisah pelajaran Sekolah Sabat. Meskipun kami memahami bahwa teknologi hadir dalam kehidupan mereka dan akan tetap demikian, kami juga percaya ada waktu dan tempat untuk itu. Sebenarnya mereka dapat mempelajari semua yang mereka butuhkan melalui perangkat elektronik, tetapi mereka akan kehabisan waktu untuk bermain, untuk menikmati alam bebas, untuk menjadi kotor dan menikmatinya, serta mengalami dunia sekitar dengan kelima indra mereka. Layar sangat adiktif. Sekali Anda menyerah, Anda akan mudah terpikat. Ini tidak hanya berlaku untuk anak-anak tetapi juga untuk orang dewasa. Ke mana pun kita pergi, kita melihat orang-orang menatap ponsel mereka, ekspresi mata mereka kosong, tenggelam dalam gerakan di layar yang bergulir tiada akhir. Banyak di antara mereka adalah orang tua. Mereka memiliki anak-anak kecil yang berdiri di samping mereka, mendambakan perhatian mereka. Mereka mengajukan pertanyaan yang dijawab dengan “yaa,” “mmmh,” tanpa benar-benar mengetahui apa yang diminta oleh anak-anak mereka. Jika kita saja begitu kecanduan, bagaimanakah kita bisa berharap anak-anak tidak menjadi seperti itu? Perangkat elektronik adalah pengasuh bayi yang mudah dan murah. Media memberikan kepuasan instan dan tingkat stimulasi yang tinggi sehingga sulit untuk disingkirkan. Setelah dua jam video, bagaimanakah anak-anak diharapkan untuk “menghasilkan sesuatu?” Makin banyak waktu layar yang kita berikan, semakin banyak yang mereka inginkan. Persis seperti narkoba. AdventistWorld.org 02 - 2019
11
Kami tumbuh tanpa teknologi sama sekali, jadi kami pergi keluar dan bermain dengan anak-anak lain. Permainan nyata, interaksi nyata, percakapan nyata, dan pemecahan masalah. Saat ini semakin jelas bagaimana orang bersembunyi “di balik” layar untuk menjadi orang yang mereka inginkan namun tidak berani diwujudkan dalam kehidupan nyata, karena takut ditolak dan banyak alasan lainnya. Kita kehilangan kemampuan untuk terhubung dengan orang lain, untuk hadir tanpa bantuan 20 percakapan paralel melalui Messenger, WhatsApp, Telegram, Facebook, Instagram, Snapchat, dan sebagainya. Apakah yang terjadi dengan hadir pada saat ini dan menikmatinya, serta memberikan perhatian penuh kepada orang ada di hadapan kita? Tidak adil bahwa untuk kenyamanan kita sendiri anak-anak kita kehilangan kesempatan itu. Mereka akan kehilangan pertemanan nyata, pengalaman nyata, dan yang paling penting, masa kanakkanak yang nyata, di mana mereka menghabiskan waktu berkualitas bersama orang tua, tertawa, bermain,
membaca, berbicara, mencintai, dan merasa dicintai. Kami ingin menciptakan lingkungan bagi anak-anak untuk mengembangkan buah Roh (kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan [Gal. 5: 22]). Waktu layar yang berlebihan jelas tidak kondusif untuk Galatia 5. Sebaliknya, kami juga mengamati anak-anak yang kurang dalam keterampilan sosial dan bahasa, tidak sabaran, agresif, dan mengalami keterlambatan perkembangan emosional, rentang perhatian yang lebih pendek, dan bahkan gangguan kesehatan. Pertanyaan paling penting yang harus kita tanyakan kepada diri kita adalah: “Apakah waktu layar telah merebut kehidupan anak-anak kita?” Ketika kita melihat jawaban untuk pertanyaan itu, bagaimana kita bisa tidak bertindak? —Asun Olivan, Spanyol Teknologi: Kawan atau Lawan? Sebagai kepala sekolah, saya tidak dapat menyangkal bahwa komputer telah menjadi bagian integral dari pendidikan modern. Di Newbold
Gangguan Turun, Fokus Meningkat Media dan Pengembangan Karakter
Adventist World associate editor Gerald Klingbeil baru-baru ini berbicara dengan Delwin García, Kepala Great Lakes Adventist Academy, sebuah sekolah berasrama yang terletak di Cedar Lake, Michigan, Amerika Serikat, tentang penggunaan media di kalangan pelajar Sekolah menengah atas. Great Lakes Adventist Academy memiliki kebijakan yang membatasi
School, anak-anak didik kami menggunakan laptop untuk berbagai tujuan pembelajaran. Guru-guru kami juga menggunakannya untuk merencanakan dan mengajar, begitu pula sistem administrasi kami dilakukan secara daring, semua dengan hasil yang sangat baik. Internet telah membuka dunia informasi instan yang memungkinkan anak-anak untuk menempuh pembelajaran mereka secara mandiri dan meningkatkan pengetahuan mereka. Tetapi kita semua tahu bahwa komputer tidak terbatas untuk belajar, dan di sinilah masalah mulai muncul. Masalah utama sering dikaitkan dengan aspek hiburan dan media sosial di dalam komputer. Hal itu dapat memiliki efek sangat negatif pada pengembangan kesadaran sosial anakanak dan kemampuan mereka untuk menjaga diri. Meskipun sangat populer, media sosial bukannya tanpa masalah. Di satu sisi, kita dapat terhubung dengan teman-teman dari masa lalu, membina koneksi daring dengan teman-teman lain dari teman-teman kita (biasanya
akses ke perangkat media pribadi (termasuk ponsel) di kalangan siswa ketika mereka berada di kampus. Apa yang memotivasi dewan sekolah dan fakultas untuk memasukkan kebijakan ini? Dengan munculnya smartphone, orang-orang seolah membawa superkomputer di saku mereka. Saya menggunakan ponsel saya untuk semuanya. Itu adalah alat yang luar biasa. Tetapi itu juga bisa menjadi alat penghancur. Orangorang muda kita memiliki jadwal yang sangat sibuk sehingga ponsel juga bisa menjadi gangguan besar. Kami menyadari bahwa dengan smartphone orang muda dapat mengakses apa yang mereka inginkan, kapan saja. Banyak anak muda yang terjerat pornografi, kecanduan media, dan video games. Kami sedang berjuang sekuat tenaga untuk membantu meminimalkan godaan itu dan membantu mengekang keinginan untuk selalu menatap layar di depan mereka. Ceritakan pengalaman Anda dengan kebijakan ini. Sebagian besar orang tua yang kami ajak bicara tentang kebijakan ponsel kami memberikan helaan nafas lega, atau pujian, atau desah haleluya. Bukan mereka yang sedang kita perjuangkan. Kami telah berbagi penelitian dengan para staf, dan tim kami mendukung kebijakan untuk tidak mengizinkan siswa memiliki perangkat komputer pribadi mereka sendiri. Sebenarnya para siswalah yang paling mengalami kesulitan
yang belum pernah kita temui secara pribadi), dan melacak siapa saja yang mengizinkan kita untuk mengikuti mereka. Kita dapat bergabung dengan chat room dan ngobrol dengan orangorang dari seluruh dunia. Banyak orang melakukan interaksi daring lebih jauh lagi, menggunakannya untuk berkencan, mendengarkan musik, menonton film, dan untuk berbelanja. Banyak budaya anak muda (terutama remaja muda hingga dewasa) terkait erat dengan media sosial dan games, yang pada gilirannya berpengaruh negatif dalam bagaimana orang muda berinteraksi dengan orang lain. Begitu juga, kemampuan untuk mengeklik dengan kecepatan tinggi dari situs ke situs di perangkat elektronik dapat menyebabkan ketidaksabaran di dunia nyata. Kemampuan untuk “membuang� sesuatu yang tidak relevan atau membutuhkan waktu terlalu lama untuk dibaca, tidak dapat diterapkan pada hubungan antar manusia di dunia nyata. Dan hal itu dapat mengakibatkan ketidaksabaran yang berlebihan, yang berimbas
pada ketidakmampuan untuk selaras dengan laju “dunia nyata� yang lebih lambat. Volume komunikasi melalui perangkat komputer juga menciptakan evolusi bahasa dan cara penulisannya. Anak-anak harus diajarkan bagaimana memisahkan bahasa formal dari obrolan informal yang terjadi di media sosial, yang sering disertai emosi sebagai pengganti kata-kata. Salah satu aspek perubahan yang sangat mengkhawatirkan adalah keamanan dalam kehidupan digital kita. Terlalu mudah bagi orang-orang bejat untuk membujuk anak-anak agar mau bertemu dengan mereka. Bujukan yang mengarah pada pelecehan seksual dan pengedaran narkoba telah menjadi begitu umum sehingga semua personil staf sekolah harus secara rutin dilatih untuk mengajar anak-anak cara melindungi diri mereka di dunia daring. Untungnya, sekarang tindakan membujuk anak-anak secara daring telah ditetapkan sebagai kejahatan di Inggris, sehingga polisi dapat segera melakukan penangkapan berdasarkan
menghadapi fakta bahwa mereka harus hidup tanpa ponsel selama 25 hari dalam sebulan. Saya meyakinkan mereka bahwa tidak ada siswa yang meninggal karena tidak memiliki ponsel. Kenyataannya adalah bahwa setelah beberapa minggu atau beberapa bulan, beberapa siswa mendekati kami dan berkata: “Tahukah Anda, ini adalah hal yang baik. Saya memiliki persahabatan yang lebih baik sekarang, karena tidak terganggu oleh sahabat bohongan yang saya miliki secara daring.� Kemungkinan besar kami adalah satu-satunya sekolah Advent, setidaknya yang saya tahu, yang tidak mengizinkan siswa untuk memiliki perangkat seluler atau tablet. Kami tidak mengizinkannya, titik. Kita hidup di abad kedua puluh satu, dengan banyak teknologi di sekitar kita. Bagaimanakah Anda mempersiapkan anak-anak muda itu untuk memasuki dunia yang dipenuhi media? Kami menyadari bahwa kami berada di abad kedua puluh satu, dan kita menyediakan komputer dan komunikasi. Kami memiliki telepon di asrama; para siswa dapat menggunakan sambungan telepon rumah secara gratis. Kami memiliki stasiun Skype, di mana mereka dapat berinteraksi “tatap muka� dengan orang tua mereka saat mereka berada di
pesan seksual yang tidak pantas. Orang tua harus menganggap serius ancaman ini dan selalu memasang pengaman (parental control setting) yang kuat pada komputer anak-anak mereka. Bayangan tentang seorang asing tak diundang hadir di rumah, meskipun kehadiran itu bersifat maya, benarbenar menakutkan. Meskipun penggunaan berbagai teknologi dapat menghadirkan ancaman serius, itu juga sangat berharga, dan dibutuhkan. Memang kita tidak harus membuang semua itu, karena perangkat itu dapat membantu kita menciptakan dan mempelajari hal-hal menakjubkan. Komputer atau internet tidak pernah menyebabkan masalah, melainkan orang-orang yang menggunakannya. Menjadikan komputer sebagai alat yang kita kendalikan ketimbang membiarkannya mengendalikan kita adalah langkah pertama menuju hubungan yang sehat antara manusia dan internet. Kita harus mengajari anak-anak pentingnya manajemen waktu, perilaku yang baik, dan bagaimana menjaga diri
asrama. Kami memiliki laboratorium komputer di kampus, dan semua senior kami memiliki komputer di kamar mereka, di mana mereka dapat mengakses Facebook, dan mereka dapat mengakses Internet atau surel. Perbedaannya, sekolah memiliki akuntabilitas. Kami memiliki komputer itu, dan kami memasang filter. Meskipun kami tidak mungkin memfilter semuanya, para siswa mengetahui bahwa ada tirai tanggung jawab yang harus dipatuhi di sana. Ketika Anda melihat para lulusan pergi, dan kadangkadang kembali setelah satu atau dua tahun untuk akhir pekan alumni, bagaimanakah Anda melihat kepatuhan itu bertahan? Kami mencoba mengajarkan prinsip. Beberapa kritikus kebijakan kami akan mengatakan: “Bagaimanakah mereka bisa menjalankan prinsip-prinsip yang Anda ajarkan jika mereka tidak memiliki akses ke media?� Faktanya, kami memberi mereka akses ke media, tetapi dalam lingkungan yang terkendali. Hal lain yang kami temukan adalah bahwa karena siswa menjalani detoksifikasi sepanjang bulan, tingkat gangguan yang mereka alami menurun dan tingkat fokus meningkat. Pada saat itulah kami benar-benar dapat fokus pada pengembangan karakter. Untuk itulah kami ada di sini sebagai sistem sekolah Advent. Bukan hanya akademis, tetapi juga karakter. AdventistWorld.org 02 - 2019
13
mereka tetap aman saat menggunakan teknologi. Seperti hal lain dalam hidup, komputer hanya berbahaya jika kita mengizinkannya.—Jaki Crissy, United Kingdom.
Games Bukan Sekadar Permainan Sebagai seorang pengusaha pemula di bidang media berbasis Alkitab dan seorang ayah, hal terbaik yang dapat saya lakukan adalah memastikan bahwa media yang saya ciptakan dan media yang saya izinkan untuk dikonsumsi oleh anak saya adalah sehat pada berbagai tingkat yang berbeda tetapi saling berhubungan. Sementara efek fisik perangkat pada anak-anak kita (perkembangan mata, kerusakan jaringan biologis yang terpapar radiasi, WiFi, frekuensi data) adalah hal yang penting, konten yang mereka konsumsi dapat memperkuat atau bahkan melemahkan kompas moral dan hubungan mereka dengan Tuhan. Terlepas dari penanda merah yang lebih jelas dalam program anak-anak, ada konten-konten yang lebih halus yang luput dari perhatian kita dan dapat memiliki dampak negatif jangka panjang pada anak-anak kita. Hal tersebut dapat dipisahkan dalam dua tingkatan: Level produksi dan level cerita. Sebagai orang tua, kita harus menggunakan kacamata khusus untuk memeriksa media yang dikonsumsi anak-anak kita. Di tingkat produksi, selain menjauhkan program-program yang memiliki terlalu banyak lampu
berkedip dan musik yang rumit dan bertempo tinggi, kita sering abai memperhatikan waktu perpindahan antar adegan. Penelitian menunjukkan bahwa untuk anak-anak kecil, adegan yang hanya berlangsung selama tiga hingga lima detik dan kemudian pindah ke adegan yang berbeda dapat menyebabkan masalah fokus (attention deficit issues). Waktu ideal untuk perpindahan adegan adalah 20 detik. Teknologi baru yang muncul, seperti virtual reality, dapat menghadirkan media yang lebih alami, di mana pengguna dapat mengontrol pembingkaian yang tepat dari tindakan tersebut, karena perangkat yang mereka pakai bertindak seperti gerbang lewat mana mereka dapat melihat ke dalam dunia nyata. Pada level cerita, program negatif akan lebih sulit untuk dihindari, tetapi berikut ini ada beberapa petunjuk yang dapat dikenali. Apakah penekanan lebih pada hiburan daripada moral cerita? Tujuan dari semua media adalah untuk menginformasikan dan menyampaikan pesan. Jika pesannya adalah lebih pada hiburan, maka hendaknya muncul pertanyaan di benak kita tentang apakah kita harus membiarkan anak-anak mengonsumsinya atau tidak. Apakah tokoh jahat digambarkan dengan cara yang menarik dan keren di mata anak-anak, meskipun tindakan mereka salah? Kita harus sangat berhati-hati di sini. Musuh jiwa kita
menghendaki kita untuk tertarik dan tenggelam dalam sikap memberontak dan kejahatan. Kita perlu mengajari anak-anak kita bagaimana menolak yang salah dan memilih yang benar. Penelitian telah menunjukkan bahwa ketika kita menonton atau terlibat dalam media, apa yang kita lihat langsung melewati filter moral otak kita. Pada kedalaman tertentu kita tidak bisa membedakan antara yang salah dan benar, fakta dan fiksi. Mengonsumsi media agak seperti bermimpi, meski kita sadar sepenuhnya. Tindakan yang kita lihat di layar diterjemahkan ke dalam alam bawah sadar kita sebagai sesuatu yang sedang kita lakukan. Jadi ketika kita menyaksikan aksi kekerasan di layar, di tingkat bawah sadar seolah-olah kita sendiri yang melakukan tindakan itu. Efek itu lebih berat ketika karakter utama yang melakukan aksi tersebut. Terlebihlebih dalam games, yaitu pemain dapat melakukan tindakan yang akan menyebabkan mereka masuk penjara jika terjadi di dunia nyata. Dunia sekular jelas tidak mengakui adanya saling keterkaitan itu. Tetapi sebagai pengikut Yesus Kristus, kita dipanggil untuk lebih berhati-hati dan lebih bijaksana tentang apa yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, karena dengan menyaksikan, demikianlah kita. —Karl DaSilva, Skotlandia Media Digital Bisa Mengubah Budaya Saya tumbuh di abad yang berbeda,
Apakah yang bisa kita lakukan? Dalam membantu anakanak kita menjaga keseimbangan dalam dunia digital, berilah teladan.
masa ketika buku perpustakaan memiliki kartu indeks yang dicap dengan tanggal jatuh tempo sebelum Anda membawanya pulang. Ketika kami membutuhkan otoritas tertinggi tentang topik tertentu untuk pekerjaan rumah, kami pergi ke bagian referensi di perpustakaan dan mencari Encyclopedia Britannica. Anak-anak sekarang mencari Google, YouTube, dan seabrek jejaring sosial untuk memasok informasi dan mendidik diri mereka sendiri. Di pulau-pulau Pasifik Selatan, media digital telah memberi dampak besar pada semua orang, bahkan pada corak budaya Kepulauan Pasifik. Ada laporan kasus kekerasan oleh pria terhadap istri mereka yang menghabiskan terlalu banyak waktu di Facebook ketimbang menyiapkan makan malam tepat waktu. Perselisihan ditayangkan di media sosial ketimbang didiskusikan secara langsung. Ada cara untuk menyelesaikan masalah, dan menggunakan media sosial bukanlah cara yang pantas dalam suasana kekeluargaan. Saya hanya dapat berbicara dari sudut kecil penduduk asli Fiji dalam memandang fenomena global yang menurut saya belum benar-benar kita pahami. Konsumsi media digital di pulau-pulau kami telah menciptakan generasi konsumen yang dahaga. Pepatah “ketidaktahuan adalah berkat� tidak lagi berlaku ketika orang muda dibombardir dengan iklan gadget, pakaian, makanan, kendaraan bermotor, aktivitas sosial, dll. Anak-anak kepulauan dipengaruhi oleh media
P
sosial sama seperti rekan-rekan mereka di bagian dunia lain. Sering dijumpai pandangan salah bahwa hidup di Kepulauan Pasifik lebih lambat, lebih santai, dan kurang canggih. Ini mungkin benar di tempattempat tertentu, tetapi jika Anda tinggal di pusat-pusat kota dengan paket data cukup, Anda memiliki dunia di tangan Anda. Dahulu, anak-anak kepulauan agak terasing. Tetapi dengan kedatangan media digital, mereka terdorong ke dalam dunia yang mereka (seperti kita semua) coba untuk kendalikan. Mereka mungkin belum kecanduan games seperti sebaya mereka di Australia dan Selandia Baru, namun mereka tidak tertinggal jauh di belakang. Orangorang muda Pasifik saat ini aktif memperbarui akun WhatsApp, Facebook, dan Instagram mereka dengan mahir. Media digital juga telah mengubah beberapa praktik budaya di wilayah tersebut. Contohnya, dahulu ketika ada pertunangan, kelahiran anak, atau pengumuman kematian, protokol tradisional tertentu diikuti. Tetapi masuknya media sosial dan perangkat digital berdampak pada bagaimana peristiwa penting dalam kehidupan itu dikomunikasikan dan dirayakan. Sampai di sini tampak seolah-olah dampak media digital benar-benar negatif, tetapi tidak sepenuhnya demikian. Media digital telah memberi orang-orang muda Kepulauan Pasifik suatu jalan untuk menyamakan kedudukan dengan orang-orang lain
ara penulis tajuk utama kami menyajikan aspek-aspek yang berbeda dalam membesarkan anak-anak di dunia yang semakin digital. Kami telah mengumpulkan beberapa kiat mereka. Sementara banyak hal baik datang dari kemajuan teknologi, ada juga bahayanya. Ada yang dapat dilakukan oleh orang tua, kakek-nenek, wali, dan pendidik untuk membantu anak-anak menemukan keseimbangan yang sehat berkaitan dengan teknologi dan lingkungan digital mereka. Berikut ini beberapa tips singkat untuk memulainya. | Pikirkan apa yang paling besar pengaruhnya dalam membentuk karakter anak Anda. Pilih penggunaan media secara bijaksana berdasarkan nilai-nilai tersebut. l Saat memperkenalkan anak-anak pada teknologi, ingatlah
Anak-anak sekarang mencari Google, YouTube, dan seabrek jejaring sosial untuk memasok informasi dan mendidik diri mereka sendiri. di seluruh dunia. Namun, masalahnya yang penting adalah bagaimana orang tua secara aktif berkomunikasi dengan anak-anak tentang cara yang tepat dalam menggunakan sumber daya ini. Media digital tidak akan lenyap. Jadi keterampilan yang perlu dipelajari adalah bagaimana menggunakannya secara efektif. Saya menjadi semangat ketika melihat bagaimana para pemuda Fiji menggunakan media sosial untuk mengundang dan menginspirasi teman-teman mereka untuk menghadiri kegiatan remaja gereja. Media sosial dengan cepat menjadi cara paling efektif untuk menjangkau generasi muda kita, jadi adalah demi kepentingan terbaik orang tua dan mereka yang bekerja dengan anak-anak untuk memahami di mana anak-anak berada dan membimbing mereka tentang cara terbaik menempuh perjalanan ini. —Litiana Turner, Fiji
bahwa orang tua dan pengasuh adalah contoh dan teladan terbaik bagi mereka. | Alih-alih diasuh oleh layar tablet, berhentilah sejenak dan luangkan waktu berharga yang sangat dibutuhkan oleh anak-anak. l Insaf: Pikirkan bagaimana penggunaan teknologi tertentu membimbing anak-anak kita untuk mengembangkan buah Roh. Dan ya, Anda dapat menemukan hal-hal di internet yang dapat membantu Anda. Pilah dan pilih, lalu galilah lebih dalam. | Tidak apa-apa jika anak-anak mengalami momen-momen kebosanan. Kreativitas akan tumbuh saat mereka harus menemukan cara untuk menghibur diri dengan apa yang ada di sekitar mereka. Semua itu bisa dilakukan! AdventistWorld.org 02 - 2019
15
Wawasan Global
Terus Berusaha Kita Hampir Tiba di Rumah
B
elum pernah menjadi lebih penting untuk bekerja bersama sebagai umat Allah yang sisa daripada di hari-hari penutupan sejarah dunia ini. Ketika kita makin jelas melihat tanda-tanda kedatangan Kristus, kebutuhan akan kesatuan di antara umat Allah yang sisa pun semakin nyata. Ukuran sebenarnya dari keberhasilan gereja terletak pada pengabdiannya yang tak tergoyahkan kepada Yesus Kristus dan komitmennya yang teguh terhadap misi dan pesan yang diberikan Allah dalam Wahyu 14. Kita harus terus berjalan bersama Kristus, karena Alkitab menunjukkan bahwa berbalik dari kesetiaan kepada Tuhan dan firman-Nya dapat membawa konsekuensi yang menghancurkan. Ketika Hawa berpaling dari Firman Allah, ia membuka dirinya terhadap tipuan ular. Ketika istri Lot menolehkan kepalanya untuk memandang rumahnya, ia kehilangan nyawanya. Ketika putra-putri Israel hendak berpaling dari Tanah Perjanjian dan kembali ke Mesir, tubuh mereka terbaring di padang pasir. Paulus menasihati: “Saudarasaudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp. 3: 13, 14). Komitmen Teguh Inilah jalan iman yang dialami oleh Habel, Henokh, Nuh, Abraham, dan Sara. “Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini” (Ibr. 11: 13). Komitmen mutlak kepada Allah dan memegang teguh firman-Nya adalah yang dikehendaki Tuhan dari orang-orang pilihan-Nya. “Segenap jalan, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kamu jalani, supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki” (Ul. 5: 33). Selama umat Allah tidak tergoyahkan 16
02 - 2019 AdventistWorld.org
dalam pengabdian mereka kepada Tuhan dan firman-Nya, kesuksesan mereka dijamin. Namun berulang kali mereka mengubah langkah iman mereka dan berbalik ketakutan. Di perbatasan Tanah Perjanjian, mereka berseru: “’Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?’ Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: ‘Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir’” (Bil. 14: 3, 4). Doktrin atau Keinginan Sendiri? Berabad-abad kemudian Paulus memerintahkan Timotius untuk memberitakan Firman. “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng” (2 Tim. 4: 3, 4). Penting untuk dicatat, bahwa di Israel kuno maupun di gereja Kristen, umat Foto: Brad Barmore
Tuhan akan tunduk kepada para pemimpin yang menuruti keinginan mereka dan menjauh dari perintah Allah serta kembali ke dunia dari mana mereka telah dibebaskan. Hal ini tidak dapat dibiarkan. Kita tidak boleh menyimpang dari arah yang Tuhan tunjukkan kepada kita seturut firman-Nya. Berdiri teguh di atas batu karang Alkitab yang kokoh di tengah-tengah arus budaya modern yang bergegas menuju kehancuran, akan membuat kita seolah-olah sedang mengasingkan diri dari masyarakat. Tetapi mencari perkenan Allah harus selalu menjadi prioritas utama kita. Kesetiaan yang konsisten kepada Kristus dan firman-Nya hanya dimungkinkan melalui kuasa Roh Kudus. Kita dipanggil ke level kekuatan rohani yang tidak dapat dicapai melalui usaha manusia. Kita harus sepenuhnya bergantung pada Roh Allah yang bekerja di dalam hati kita untuk mencapai “tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Ef. 4: 13). Dia yang memanggil kita secara pribadi adalah Allah yang sama yang mendirikan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh sebagai umat-Nya yang sisa dengan mandat untuk mewartakan pekabaran tiga malaikat kepada setiap bangsa, suku, bahasa, dan kaum (lihat Wahyu 14: 6). Tujuan yang tampak jauh dan tak dapat dicapai ini harus ditempuh secara terorganisasi dengan kerja sama para pekerja gereja dan anggota awam yang berdedikasi. Ellen White menulis: “Pekerjaan Allah di bumi ini tidak pernah akan diselesaikan sebelum pria dan wanita sebagai anggotaanggota gereja kita beramai-ramai terjun ke dalam pekerjaan itu, dan menyatukan usaha mereka dengan usaha para pendeta dan pegawai gereja.”1 Waktunya Bekerja Melalui kuasa Roh Kudus kita harus menjembatani kesenjangan antara cita-cita besar yang kita rindukan dan
tugas-tugas praktis yang kita hadapi jika kita ingin menuntaskannya di generasi ini. Kita harus menyadari bahwa langkah pertama dalam menyelesaikan pekerjaan ini akan berhasil. “Kita semua harus menjadi mitra kerja Allah,” tulis Ellen White. “Tidak ada pemalas yang diakui sebagai hamba-Nya. Para anggota gereja harus secara perorangan merasa bahwa hidup dan kemakmuran gereja dipengaruhi oleh perbuatan mereka.”2 Hembuskan napas kehidupan ke dalam Sekolah Sabat dengan datang tepat waktu dengan berbekal Alkitab dan pelajaran Sekolah Sabat, siap untuk dengan antusias membahas apa yang telah Anda pelajari. Biarkan anggota yang lebih tua melihat orang-orang muda dalam pertemuan doa melayangkan syafaat di hadapan takhta kasih karunia Allah. Layanilah mereka yang kurang mampu dengan menjadi sukarelawan di pelayanan masyarakat. Bawalah dan sebarkan literatur penginjilan ke mana pun Anda pergi. Mintalah kepada akademi atau universitas Advent setempat agar waktu, tenaga, dan uang yang dihabiskan untuk kegiatan olahraga universitas selama satu tahun dialokasikan untuk pelatihan penginjilan, pemrog raman, dan penjangkauan langsung kepada masyarakat. Milikilah porsi suara di gereja Anda dengan menghadiri pertemuan gereja dan menerima, ketika komite pencalonan memanggil, posisi tanggung jawab —tidak peduli seberapa besar atau kecil. Untuk memenuhi harapan Tuhan agar Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dapat menjadi umat akhir zaman-Nya yang sisa, bukan hanya “kita” sebagai denominasi, tetapi Anda dan saya secara pribadi harus bekerja untuk Kristus dalam melayani orang lain. Saat kita mengizinkan Roh Kudus untuk mengubah kita menjadi serupa dengan Yesus, kita akan secara otomatis mulai melakukan pekerjaan yang diminta-Nya dari kita. Karakter Kristus akan terlihat dalam apa yang
Langkah pertama dalam menyelesaikan pekerjaan ini akan berhasil. kita lakukan, bukan hanya dalam apa yang tidak kita lakukan. Ellen White menggambarkan hasilnya: “Bila tabiat Kristus diperlihatkan dengan sempurna dalam jemaat-Nya, barulah Ia akan datang untuk menerima mereka sebagai milik-Nya. Adalah kesempatan yang istimewa bagi setiap umat Allah, bukan saja untuk menunggu, tetapi untuk melekaskan kedatangan Tuhan kita. Kita semua adalah orang yang mengaku sebagai pengikut-Nya yang mengeluarkan buah kepada kemuliaan-Nya, betapa cepatnya seluruh dunia akan ditaburi dengan benih Injil. Dengan segera penuaian besar yang terakhir sudah sedia dan Tuhan akan datang untuk mengumpulkan gandum yang berharga itu.”3 Hujan akhir akan segera turun, memberdayakan umat Allah yang tunduk sepenuhnya kepada-Nya. Kristus akan segera datang! Dia memanggil setiap kita untuk maju dalam iman, dan menyerahkan hidup kita kepada kuasa Kristus yang akan menjadikan kita serupa denganNya. Tuhan memanggil pribadi kita masing-masing untuk melakukan pengorbanan yang diperlukan guna menjadi gereja yang digerakkan oleh misi. Ellen G. White, Pelayan Injil (Bandung, Indonesia Publishing House, 1995), hlm. 306. Ellen G. White, Penuntun Pelayanan Kristen (Bandung, Indonesia Publishing House), hlm. 15. 3 Ellen G. White,Seri Membina Keluarga (Bandung, Indonesia Publishing House) jld. 5, hlm. 46, 47. 1
2
Ted N. C. Wilson adalah Ketua Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh sedunia. Artikel dan komentar tambahan tersedia dari kantor presiden di Twitter: @pastortedwilson dan di Facebook: @Pastor Ted Wilson. AdventistWorld.org 02 - 2019
17
Renungan
Orang Lumpuh Terakhir di Yerusalem
Apakah hubungannya dengan orang lain yang disembuhkan Yesus?
OLEH: DANIEL BOSQUED
18
02 - 2019 AdventistWorld.org
Foto: Kasper Rasmussen
P
ernahkah Anda melewatkan sebuah kesempatan besar? Apakah sesuatu yang baik terjadi pada semua orang kecuali Anda? Pernahkah Anda merasa bahwa Tuhan telah memberkati banyak orang, tetapi Dia baru saja melewati Anda? Sebuah kisah dalam Alkitab dapat mencerminkan perasaan itu. Ini adalah kisah penyembuhan orang lumpuh dalam Kisah Para Rasul 3. Kita tahu bahwa ia lumpuh sejak lahir; bahwa ia berusia lebih dari 40 tahun (Kis. 4: 22); bahwa ia duduk setiap hari meminta sedekah di gerbang Indah di Bait Suci; dan bahwa selama pelayananNya Yesus tidak menyembuhkannya. Dia mungkin adalah salah satu dari orang terakhir di Yerusalem yang tidak merasakan sentuhan penyembuhan Yesus.
Sebuah Hubungan Sebelum kita mengulas kisah ini, mari kita ingat kisah tentang pria lain yang muncul dalam Injil, orang itu sembuh di Kolam Betesda (Yohanes 5: 2–9). Yesus memperhatikan dia karena dia sakit selama 38 tahun. Yesus mendekatinya, dan setelah dialog singkat menyembuhkannya dengan perintah sederhana: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah” (ay. 8). Unsur penting dari kisah ini adalah bahwa Yesus-lah yang mendekatinya. Biasanya orang sakit yang dibawa kepada Yesus, atau seseorang meminta tolong atas nama mereka. Tetapi pada kesempatan ini, dari semua orang sakit di Betesda (“sejumlah besar” [ayat 3])—Yesus memilihnya. Saya terkejut saat menyadari adanya kemungkinan kisah Yohanes 5 ini terkait dengan Kisah Para Rasul 3. Betesda terletak di kota Yerusalem, dan orang lumpuh dalam Yohanes 5 telah sakit selama 38 tahun. Itu adalah waktu yang sama dengan kawan kita di Kisah Para Rasul, karena dikatakan bahwa dia berusia lebih dari 40 tahun tidak lama setelah kematian Yesus. Jadi ketika penyembuhan di Betesda terjadi di Yohanes 5, ia berusia sekitar 38 tahun juga. Jadi mereka sakit dalam kurun waktu yang sama. Barangkali teman kita juga pernah berada di Betesda pada waktu-waktu lain, di antara kerumunan orang sakit: “orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh” (ayat 3). Siapa tahu? Ketika Yesus berjalan melalui Betesda sebelum mencapai orang lumpuh, Dia melewati orang sakit lain, mungkin orang lumpuh yang lain. Dia berjalan di samping tempat tidur mereka; Dia mendengar tangisan mereka; tetapi Dia tidak menyembuhkan mereka. Kenapa? Ellen White mengamati bahwa Yesus ingin menyembuhkan lebih banyak orang pada hari itu, “tetapi hari itu adalah hari Sabat. Orang banyak sedang menuju ke Bait Suci untuk berbakti dan Ia mengetahui bahwa penyembuhan semacam itu akan menimbulkan prasangka orang Yahudi sehingga dapat mengakhiri pekerjaan-Nya dengan tiba-tiba.”1 Yesus memiliki alasan untuk setiap tindakan-Nya. Kita tahu bahwa Ia tidak dapat menyembuhkan semua orang tanpa menghalangi pekerjaan-Nya, tetapi mengapa ia memilih yang lumpuh ini dan bukan yang lain? Sekali lagi, Ellen White mencatat bahwa ini adalah kasus yang putus asa: “Usahanya yang tekun untuk mencapai maksudnya, serta kecemasan dan kekecewaannya yang terus menerus, dengan cepat menghabiskan tenaganya yang masih tersisa.”2 Orang lumpuh itu tampaknya akan menyerah. Yesus mengetahuinya dan memilihnya. Mungkin orang-orang cacat dari Kisah Para Rasul dan Yohanes saling kenal. Mungkin mereka bahkan saling bertemu lagi. Bisakah Anda bayangkan percakapannya? “Kamu berjalan!” “Ya, Yesus menyembuhkan saya!” “Di mana dia?” “Saya tidak tahu. Dia ada di Betesda beberapa saat yang lalu. ” Apa yang akan muncul dalam pikiran mereka? Sukacita karena kesembuhan salah
seorang dari mereka? Harap-harap cemas untuk mencoba disembuhkan juga? Mungkin mereka mulai mencari Yesus di Betesda. Setidaknya dua kali Yesus melakukan beberapa mukjizat pada saat yang sama di Yerusalem, keduanya di Bait Suci. Satu di awal pelayanan-Nya (Yoh. 2), dan yang lainnya di akhir pelayanan-Nya (Mat. 21). Tentang kesempatan pertama, Ellen White menulis bahwa setelah menyucikan Bait Suci, Yesus tetap menerima orang sakit yang datang kepada-Nya. “Semua mendapat perhatian. Masing-masing disembuhkan dari penyakit apa pun yang dideritanya.”3 Pada kesempatan kedua “datanglah orang-orang buta dan orang-orang timpang kepada-Nya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya” (Mat. 21: 14). Ellen White menambahkan bahwa mereka yang kembali ke halaman “berdiri tertegun di depan peristiwa yang mengherankan. Mereka melihat orang sakit disembuhkan, orang buta celik matanya, orang tuli dapat mendengar, dan orang timpang melompat-lompat kegirangan.”4 Yesus menyembuhkan semua orang yang hadir. Tetapi teman kami tidak ada di antara mereka. Untuk beberapa alasan dia merindukan banyak kesembuhan Yesus. Mungkin dia mulai merasa bahwa dia selalu berada di tempat yang salah. Kesempatan Lain Pada kesempatan lain, Yesus mengambil inisiatif untuk bertemu dengan mereka yang membutuhkan Dia. Misalnya, dengan wanita Samaria “Ia harus melewati daerah Samaria” (Yoh. 4: 4); dengan wanita Kanaan “Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon” (Mat. 15: 21); dengan orang-orang Gerasa yang kerasukan ”Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa.” (Markus 5: 1). Jadi kitab Injil menceritakan setidaknya ada tiga jenis penyembuhan: (1) orang yang datang kepada Yesus dan disembuhkan; (2) orang-orang yang dibantu oleh orang lain, seperti orang yang dibawa ke atap AdventistWorld.org 02 - 2019
19
Pria itu tidak lagi meminta keajaiban; dia hanya ingin bertahan hidup. rumah di Kapernaum (Markus 2); dan (3) orang yang mencari Yesus. Yang menarik, kawan kita di Kisah Para Rasul 3 tidak termasuk 3 kategori itu. Biasanya ketika Yesus melewati sebuah kota, tidak seorang pun yang dibiarkan sakit. Bukti apakah yang kita miliki untuk merekonstruksi kisah tentang orang lumpuh di Kisah Para Rasul 3 dan Yesus? Ellen White menulis tentang dia: “Orang yang malang ini telah lama merindukan untuk melihat Yesus, supaya ia dapat disembuhkan; tetapi ia hampir tak berdaya, dan jauh dari tempat pekerjaan Tabib besar itu.”5 Kasusnya adalah pencarian yang putus asa dan sia-sia. Yesus tidak mencari dia, dia tidak menemukan Yesus, dan tidak ada yang membawanya kepada Yesus. Ellen White menggambarkan upaya terakhirnya untuk melihat Yesus: “Permohonan-Nya menyebabkan beberapa teman untuk membawanya ke gerbang bait suci, tetapi setelah tiba di sana, ia menemukan bahwa Dia yang menjadi pusat harapannya telah dihukum mati dengan kejam.”6 Bayangkan bagaimana perasaannya! Saya membayangkan dia menangis: “Mengapa, Tuhan? Semua telah disembuhkan kecuali aku!” Empat puluh tahun tidak bisa berjalan. Empat puluh tahun mimpi yang hancur. Empat puluh tahun mencoba untuk disembuhkan. Tetapi dia selalu berada di tempat yang salah. Dan ketika akhirnya dia dekat dengan Yesus, dia diberitahu bahwa Yesus telah dibunuh. Teman kita itu harus berkabung. Mungkin setelah waktu tertentu dia menerima kenyataan bahwa dia tidak akan pernah bisa sembuh. Sambil menyeka air matanya ia berpikir, 20
02 - 2019 AdventistWorld.org
setidaknya saya tidak akan menjadi beban bagi siapa pun. Saya masih bisa minta sedekah. Saya akan melakukannya sepanjang sisa hidupku. “Tolong bawa saya ke Bait Suci,” dia mungkin meminta kepada teman-temannya. Membaca kisah dengan cara ini, membuat semuanya masuk akal. Pria itu dibawa setiap hari ke pintu Bait Suci. Ketika dia melihat para murid, dia “meminta sedekah” (Kis. 3: 3). Perhatikan, dia tidak lagi meminta keajaiban; dia hanya ingin bertahan hidup. Sesuatu yang Lebih Baik Tetapi ketika Petrus mendekat, dia berkata kepada lelaki itu: “Lihatlah kepada kami.” Dia menatap mereka, berharap untuk menerima sesuatu dari mereka. Kemudian Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku”(ayat 5, 6). Rasanya seperti jerami terakhir. Lelucon yang buruk. Tetapi saya suka membayangkan percakapan Petrus dengan teman kita itu: “Saya tidak memiliki apa pun yang kamu harapkan, karena saya adalah penjelajah waktu (time traveller). Saya di sini untuk mengingatkan Anda tentang mimpimu. Saya datang untuk memberikan apa yang Anda cari. Saya membawakan Anda sesuatu dari Yesus orang Nazaret.” Ellen White mengamati: ”Sementara Petrus menyatakan kemiskinannya, maka orang yang lumpuh itu berubah; tetapi mukanya bersinar kembali dengan pengharapan, sementara rasul itu melanjutkan ‘Tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus orang Nazaret itu, berjalanlah!’”7 Apa? Dalam nama Yesus? Yesus hidup? “Lalu ia [Petrus] memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu. Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah. Seluruh rakyat itu melihat dia berjalan sambil memuji Allah” (Kis. 3: 7–9). Kisah yang luar biasa!
Penyembuhan untuk Semua Saya tidak tahu di mana Anda berada. Mungkin Anda sudah lama disembuhkan di Betesda. Mungkin Yesus menemukan Anda di sana dan menyembuhkan Anda secara langsung. Mungkin Yesus harus berkeliling karena Anda berada jauh sekali. Mungkin seseorang membawa Anda kepada Yesus, atau teman-teman yang baik meminta Yesus untuk menyembuhkan Anda. Atau mungkin Anda seperti kawan kita itu, yang duduk di pintu Bait Suci dengan mimpi-mimpi yang hancur, frustrasi oleh perasaan tak terbantahkan bahwa Allah telah melewatimu. Anda mungkin merasa dilupakan oleh Tuhan. Orang lumpuh terakhir dari Yerusalem. Jika demikian, kisah Anda belum berakhir. Cara-cara Tuhan tidak dapat ditebak, tidak terjangkau, dan tidak dapat dimengerti. Karena ketika kita tidak mengharapkannya, seorang utusan Tuhan dapat datang ke dalam hidup kita dan berbicara kepada kita dalam nama Yesus dari Nazareth. Setiap hari kita bertemu orang-orang seperti kawan kita yang lumpuh itu. Diseret-seret. Di gerbang Bait Suci. Putus asa. Tanpa ilusi. Mereka tidak lagi meminta keajaiban. Mereka merasa telah dilupakan oleh Tuhan. Misi kita, seperti halnya Petrus dan Yohanes, adalah mengingatkan mereka akan janji di dalam nama Yesus: Jangan menyerah. Tetap percaya. Tetap yakin. Karena pada suatu hari tidak terlalu lama lagi, di sana di Bait Allah Yang Maha-Tinggi, Anda juga akan berjalan, melompat, dan memuji Tuhan. Ellen G. White, Alfa dan Omega (Bandung, Indonesia Publishing House, 2015) jld. 5, 6 hlm. 206. Ibid., hlm. 206. 3 Ibid., hlm. 162. 4 Ibid., jld.6, hlm. 214. 5 Ellen G. White,Alfa dan Omega (Bandung, Indonesia Publishing House, 2015)) jld. 7, hlm. 48. 6 Ibid., hlm. 48. 7 Ibid., hlm. 58. 1
2
Daniel Bosqued, Ph.D., mengajar Perjanjian Baru di River Plate Adventist University di Libertador San Martin, Entre Rios, Argentina.
Suara Milenial
Yesus dalam Pergaulan yang Buruk
A “
pakah Anda benar-benar mau pergi ke sana untuk menemui pendeta Anda? Tempat itu tidak lain dari sebuah pub!” Petugas keamanan yang kebingungan itu menatap saya dengan tidak percaya. Saya tersenyum dan mengangguk. Ya, sulit untuk dipercaya bahwa siapa pun akan memasuki kampus universitas untuk bertemu dengan pendetanya di The Joint. The Joint adalah area rekreasi dengan meja bundar di udara terbuka tempat para siswa bertemu untuk bersosialisasi. Dimulai sebagai restoran, tempat itu menjadi terkenal karena ketidaksopanan, alkohol, dan obat-obatan. “Tuhan, Dimuliakanlah nama-Mu hari ini melalui kami,” saya berdoa ketika saya melewati kampus universitas padat yang menjadi tempat tinggal bagi lebih dari 70.000 siswa Kenya dan negara lain. Siswa-siswa ini membutuhkan Anda, Tuhan. Bagaimanakah kami dapat berbagi kasih-Mu kepada mereka semua? Kelompok belajar Alkitab kami, yang terdiri dari dua pendeta, seorang misionaris ekspatriat, sahabat saya, dan saya, telah setuju untuk bertemu untuk sesi mingguan kami di The Joint. Setelah memulai seri pemuridan, kami memutuskan sudah waktunya untuk keluar dari zona nyaman dan mengikuti apa yang kami yakini sebagai panggilan Tuhan. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,” (Mat. 28: 19) adalah ayat tema kami, dan perintah “Pergilah!” perintah bagi kami. “Yesus tahu bahwa murid-murid-Nya perlu menjelajahi wilayah yang tidak dikenal dan pergi ke tempat orang-orang, termasuk Samaria “sekular” dan ujung-ujung bumi. Kami tahu persis di mana Samaria kami berada. Kami duduk di salah satu meja dan melihat ke sekeliling pada siswa yang bersosialisasi. Musik diputar di latar belakang, dan botol bir yang pecah berserakan di tanah. Saya bisa mencium bau ganja. Tempat apa itu! Kami berdoa dan meminta Tuhan membuka pintu untuk bersaksi dan menjangkau komunitas siswa yang membutuhkan Tuhan tetapi tidak mengenal-Nya.
Chad dan Brian, dua mahasiswa, duduk di meja kami, dan kami mulai berbincang ringan tentang studi dan kehidupan kampus mereka. Chad adalah pemuda yang cerdas, fasih dan vokal, dan melibatkan kami dalam percakapan. Brian, ditutupi oleh tato dan dengan rambut gimbal yang menutupi mata merahnya, tampak tidak tertarik dan pergi setelah beberapa saat. Segera kami mulai berbagi tentang hal-hal rohani dengan Chad. Sangat mengherankan kami, dia memberi tahu kami bahwa dia berasal dari latar belakang Advent. Namun, dia telah berhenti pergi ke gereja beberapa tahun yang lalu. Matanya menyala saat kami berbagi tentang kasih Tuhan. Darah Kristus yang ditumpahkan di Kalvari dapat menyelamatkan siapa saja! Tidak ada yang dikecualikan. Chad tampaknya menyerap setiap kata. Di akhir percakapan dia berjanji akan membagikan kebenaran ini kepada teman-temannya dan mengundang mereka minggu berikutnya untuk pelajaran Alkitab kami. Tuhan sedang bergerak di jantung komunitas pelajar sekular ini! Ketika saya pulang ke rumah hari itu, merasakan cahaya hangat telah melayani seseorang di tempat yang paling tidak mungkin, saya menyadari bahwa itulah Amanat Agung—panggilan untuk menjelajah keluar dari zona kenyamanan “gereja” ke tempat orang-orang berada. Yesus sendiri berteman dengan pemungut cukai, pelacur, dan orang berdosa dengan satu-satunya tujuan untuk merebut kembali hati mereka untuk kekekalan. Mengapakah Dia masuk dalam pergaulan yang “buruk” itu, yang membuat para pemimpin agama di zamannya kecewa? Dia memiliki hati bagi mereka yang terhilang. Dia meninggalkan zona kenyamanan surgawi-Nya dan mengubah mereka yang terhilang menjadi murid-murid-Nya. Itulah panggilan-Nya untuk Anda dan saya lakukan hari ini.
Frederick Kimani, M.D., seorang dokter konsultan yang lahir di Nairobi, Kenya, sangat bersemangat membangun jembatan antara Tuhan dan orang muda melalui musik.
AdventistWorld.org 02 - 2019
21
Menengok ke Belakang
Kisah Kita Memiliki Makna
Georg Riffel (kiri) adalah salah satu misionaris Advent pertama ke Argentina. Albert Stauffer, salah satu penginjil literatur pertama di Amerika Selatan, tiba pada tahun 1891. Foto: Izin dari Penulis
Kisah Tuhan akan dipahami lebih baik ketika kita menceritakan kisah kita sendiri.
U
ni Konferens Argentina membuka Heritage Center di River Plate Adventist University pada tanggal 21 Oktober 2018. Para pengunjung belajar tentang sejarah gereja Advent di Amerika Selatan dan Argentina melalui pengalaman kehidupan nyata para misionaris awal. Mengapakah menceritakan kisah mereka? Tuhan berkomunikasi dengan kita melalui kisah-kisah yang merupakan kesaksian hidup. Cerita membantu kita merenungkan tindakan Tuhan. Membaca atau mendengarkan serta menceritakan kisah orang lain itu penting karena kita melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup mereka. Kisah Menghubungkan Orang Kisah menciptakan komunitas. Georg Riffel menerima pekabaran Advent di Kansas, Amerika Serikat. Keyakinannya begitu kuat sehingga ia berada di antara kelompok pertama misionaris Advent untuk melakukan perjalanan ke Argentina. Ketika mereka membagikan kesaksian mereka tentang hubungan mereka dengan Yesus dan kedatangan-Nya yang segera, mereka menulis sejarah dengan hidup mereka. Mereka mengembangkan persahabatan dan berbagi minat yang sama dan terhubung dengan mereka. Para misionaris ini menciptakan ikatan dengan mereka yang mencari kebenaran dan menemukan hati yang bersedia menerima Injil. Setiap kota dan budaya menjadi terhubung dengan kisah-kisah yang mereka hidupi dan bagi bersama. Kisah adalah Kita Para misionaris pertama mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Kristen Advent. Narasi mereka mencerminkan fakta bahwa penting bagi mereka untuk percaya pada harapan pasti kembalinya Yesus. Hal itu menciptakan situasi baru yang mereka hadapi. 22
02 - 2019 AdventistWorld.org
Heritage Center berusaha untuk mendengarkan cerita orang lain, membuka jendela yang memberi kita pandangan sekilas tentang bagaimana orang lain melihat diri mereka sendiri, dan apa yang mereka lakukan sebagai hasilnya. Ketika misionaris pertama tiba di Crespo, Entre RĂos, Argentina, mereka membagikan kesaksian kepada teman-teman baru mereka. Usaha yang berani ini membawa tantangan baru bagi gereja Advent. Para pekerja ini menulis surat kepada General Conference untuk meminta lebih banyak misionaris bagi Argentina. Dari kisah mereka, kita dapat melihat ke belakang dan belajar tentang keputusan mereka, keberhasilan mereka, kesalahan mereka, dan sikap mereka. Kita dapat menangkap sekilas kehidupan mereka, dan kesetiaan mereka, sambil menghargai tantangan yang mereka hadapi. Kisah Memberi Makna Ketika General Conference mengetahui tantangan untuk menjangkau tempat-tempat yang berbeda di wilayah Amerika Selatan yang luas, mereka mengirim lebih banyak misionaris. Foto: Courtesy of the Author
The Heritage Centre di River Plate Adventist University diresmikan 21 Oktober 2018. Koleksinya memaparkan sejarah misi Advent di Amerika Selatan.. Sekelompok penginjil literatur bergabung dengan para pemimpin gereja dalam pemotongan pita ketika pusat itu dibuka untuk pengunjung.
Pada tahun 1891 tiga penginjil literatur pertama tiba di Amerika Selatan: Clair Nowlen, Edwin Snyder, dan Albert Stauffer. Richard Craig tiba pada tahun 1893. Dia bertanggung jawab untuk mengurus toko buku dan mengarahkan para penginjil literatur. Craig dan keluarganya menetap di Buenos Aires. Mereka mendirikan sekolah di rumah mereka sendiri. Dengan demikian dia dan istrinya mulai menambahkan kisah-kisah para siswa mereka, seperti ketika kita membangun tembok bata demi bata. “Bangunan” yang kita kenal sekarang sebagai gereja dimulai sebagai hasil dari satu kehidupan yang menyentuh yang lain, dan menyentuh yang lain, dan seterusnya. Kisah yang kita baca dan dengar tentang orang lain mengingatkan bahwa kita tidak sendirian. Persepsi yang berbeda membawa kedalaman dan keluasan tentang cara Tuhan bekerja dalam kehidupan orang lain, memberi kita pemahaman yang lebih baik tentang sejarah kita sendiri. Pepatah mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk menghindari kesalahan masa lalu adalah dengan mengingat pelajaran yang bisa diambil darinya. Kisah sebagai Otobiografi Teologis Kisah bercerita tentang bagaimana Firman menjadi daging untuk semua orang. Itu menceritakan tentang kehadiran Allah dalam tragedi dan perayaan kehidupan. Sejarah kita terdaftar dalam narasi besar dari konflik kosmik—kisah penebusan. Rencana Allah sangat besar, dan kehidupan kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengannya. Tetapi kita memiliki peran, seperti halnya para misionaris di masa lalu. Ini memberi kita harapan dan makna di tengahtengah tragedi dan rasa sakit, serta keberanian untuk maju. Tidak semua misionaris masih muda. Lucy Post, wanita lajang pertama yang mengajukan diri untuk pergi ke Amerika Selatan, berusia hampir 50 tahun ketika ia mulai menjadi misionaris. Keputusannya diilhami oleh kisah-kisah yang dia dengar dari para misionaris. Lucy Post tiba di Amerika Selatan pada bulan Juli 1895, pertengahan musim dingin di Belahan Bumi Selatan. Setelah kedatangannya, ia menghabiskan waktu bersama keluarga saudara laki-lakinya, yang tinggal di Nueva Palmira, Uruguay. Lima minggu kemudian, pada tanggal 31 Agustus 1895, Post mengorganisasi jemaat Advent pertama di negara itu—Sekolah Sabat yang terdiri dari lebih dari 20 orang yang dia kunjungi sejak kedatangannya. Setiap Kisah adalah Anugerah Tidak ada dua cerita yang persis sama. Itulah sebabnya mengapa setiap kisah sangat penting: Mengingatkan kita betapa indahnya Tuhan.
Saya adalah satu-satunya saya di alam semesta ini. Kisah saya yang unik adalah anugerah paling luar biasa yang saya miliki. Saya adalah satu-satunya saya di alam semesta ini. Kisah saya yang unik adalah anugerah paling luar biasa yang saya miliki. Jika saya tidak menceritakannya, maka kisah itu tidak akan terdengar. Ketika kami berbagi kisah kami, setiap cerita menjadi harta karun yang suci, hadiah yang meremajakan kehidupan semua orang yang mendengarnya atau membacanya. Dalam pengertian ini, setiap kisah, momen, atau situasi adalah transenden. Tidak sulit untuk membayangkan banyak kisah menarik dan unik dari wilayah Anda yang menceritakan apa yang Tuhan lakukan di gereja Advent tempat Anda tinggal. Sejarah tidak berakhir dengan apa yang terjadi di masa lalu; itu meluas ke masa kini, dan melontarkan kita ke masa depan. Saya mengundang Anda untuk bergabung dengan orang-orang percaya di masa lalu, sekarang, dan masa depan untuk melihat apa yang Tuhan dapat lakukan melalui kita dalam lembaran sejarah anugerah-Nya. Silvia C. Scholtus, Ph.D., Direktur Heritage Center di River Plate Adventist University, Libertador San Martín, Entre Ríos, Argentina.
AdventistWorld.org 02 - 2019
23
Iman dalam Tindakan
Berbagi Firman Tuhan di Museum Inggris Suatu Pendekatan yang Unik
H
ai! Saya memimpin tur gratis ke tujuh atraksi terbaik di Museum Inggris. Kita akan menyaksikan sejarah 4.000 tahun dalam 45 menit. Kita akan berangkat dalam lima menit. Kami tidak menerima tip.” Saya berdiri di tangga depan salah satu museum arkeologi paling bergengsi di dunia, mengajak pengunjung untuk mengikuti tur saya. “Apakah yang menarik?” Semua orang ingin tahu. “Saya seorang mahasiswa tingkat master,” saya menjelaskan. “Saya baru menyelesaikan dua bulan penelitian arkeologi di Yunani dan Turki. Saya hanya satu minggu di London sebelum kembali ke Amerika Serikat untuk menyelesaikan studi saya, jadi saya akan berbagi sedikit tentang apa yang telah saya temukan.” 24
02 -2019 AdventistWorld.org
Apa yang tidak mereka ketahui adalah bahwa saya berada di London untuk perjalanan misi bersama istri, Caitlin; kakak, Jakob Serns; ayah, Dan Serns; dan teman saya Austin McKey. Di pagi hari, tim kecil kami membagikan ribuan traktat Alkitab kepada orang-orang di daerah wisata. Di malam hari kami bermitra dengan gereja lokal untuk membantu memulai pelajaran Alkitab di lingkungan mereka. Di sore hari saya memimpin tur penginjilan di British Museum. Jakob adalah “asisten tur” saya, Caitlin menjadi fotografer, dan Dan serta Austin memainkan peran peserta tur. Kami berdoa agar Tuhan menggunakan tur ini untuk membuka hati orang-orang terhadap firman-Nya. Kelompok yang Berkembang Orang-orang bergabung dengan tur kami, sekitar 8 hingga 45 peserta. Minggu itu kami memimpin lebih dari 400 orang di 12 tur di British Museum. “Tur Tujuh Atraksi Terbaik” saya melihat sebuah artefak dari masing-masing peradaban dunia Barat: (1) Mesir, (2) Asyur, (3) Babel, (4) Persia, (5) Yunani, (6) Roma, dan (7) Eropa yang terpecah. Tujuan saya adalah menggunakan sejarah dan arkeologi untuk secara bertahap memvalidasi Alkitab sebagai Firman Tuhan. Untuk Mesir dan Asyur saya mendapat koneksi ke Yusuf dan Hizkia. Pada artefak-artefak dari Babilon saya mempresentasikan gambar besar dari Daniel 2. Sepanjang sisa tur kami melihat ramalan dipenuhi oleh artefak demi artefak. Pada akhirnya saya membagikan bagaimana nubuat Alkitab berlanjut ke masa depan. Saya mendorong kelompok wisata saya untuk memeriksa Daniel 2 di Alkitab untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Kami juga menawarkan panduan belajar Alkitab gratis dari Amazing Facts untuk studi lebih lanjut. Kami memiliki orang-orang dari berbagai negara, budaya, dan latar belakang agama. Beberapa peserta tur kami berasal dari negara-negara di mana ilegal untuk berbicara secara terbuka tentang mata pelajaran yang saya sajikan di tur. Sungguh menggetarkan melihat Tuhan membuka pikiran orang dan menantang wawasan mereka. Pelajaran dari Hizkia Ketika kelompok tur saya sampai ke relief Lakhis dari Asyur, saya menceritakan kisah tentang Raja Sanherib. Tujuannya adalah untuk mengambil alih Israel (Yehuda) dan membuktikan dirinya lebih kuat dari Allah Israel. Penaklukannya sangat sukses. Dia merebut kota demi kota di Israel—46 kota seluruhnya. Lakhis adalah pemberhentian terakhir sebelum ibu kota Israel di Yerusalem. Relief Lakhis menggambarkan kisah penghancuran yang dilakukan Sanherib terhadap orang Israel pada pertempuran Lakhis. Sekarang tidak ada yang menghalangi jalan orang-orang Asyur untuk menguasai ibu kota dan negara. Ada 185.000 tentara Sanherib mengepung Yerusalem. Mereka mengirim surat ancaman kepada orang Israel. “Jangan dengarkan Allahmu! Dia tidak bisa menyelamatkanmu! Jangan dengarkan rajamu! Dia juga tidak bisa menyelamatkanmu! Menyerah sekarang! ” Raja Hizkia menerima surat itu dengan kesusahan. Dia Foto: Courtesy of the Author
membawanya ke dalam Bait Suci dan membentangkannya di hadapan Allah Israel. Dia berdoa: “Tuhan, Engkau memilih kami sebagai sebuah bangsa untuk mewakili karakter-Mu kepada bangsa-bangsa di sekitar kami. Dengarlah ancaman dari musuh kami yang mengklaim mereka lebih kuat dari-Mu. Maka sekarang, ya TUHAN, Allah kami, selamatkanlah kiranya kami, supaya segala kerajaan di bumi mengetahui, bahwa Engkau sendirilah Allah, ya TUHAN” (2 Raja-raja 19). Kemudian saya menunjukkan kepada peserta tur Prisma Taylor, yang menceritakan kisah lain dari Sanherib. Prasasti Sanherib mengatakan bahwa dia mengambil 46 kota di Israel dan mengurung Raja Hizkia di Yerusalem “seperti seekor burung dalam sangkar.” Jadi mengapa dia berhenti? Kenapa dia pergi? Pagi hari setelah doa Hizkia, 185.000 prajurit Sanherib yang mengelilingi Kota Yerusalem ditemukan tewas. “Anda boleh menduga bagaimana mereka meninggal,” kata saya, “tetapi saya dapat memberi tahu Anda bahwa itu bukan oleh tentara Israel.” Beberapa terkejut karena mereka dipaksa untuk secara cerdas mempertimbangkan adanya Allah yang secara ajaib campur tangan dalam sejarah manusia. Dalam sebuah tur, seorang wanita dari Inggris bertanya kepada saya: “Apakah Anda benar-benar percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah?” “Ya, itulah yang diklaim oleh Alkitab,” kataku. “Ini klaim yang unik dan berani. Itu benar-benar kebohongan, atau memang benar. Dari semua yang telah saya pelajari, bukti-bukti tampaknya menunjukkan bahwa itu benar.” Artefak tepat di depan matanya menghadapkannya untuk secara serius mempertimbangkan—mungkin untuk pertama kalinya—bahwa mungkin ada Allah yang berkomunikasi dengan orang-orang secara jelas, dapat dipercaya, dan mudah dimengerti. Menghadapi Hambatan Allah bekerja melalui tur. Namun, tidak butuh waktu lama, sebelum kami menjumpai beberapa hambatan. Staf British Museum mulai memperhatikan kami. Museum ini menawarkan tur gratis sendiri, biasanya dengan tidak lebih dari setengah lusin peserta. Siapa gerombolan orang ini yang memimpin orang-orang melalui museum beberapa kali setiap sore? Saya secara terbuka berbagi beberapa ide Alkitabiah yang tidak populer. Jadi kami mulai mendapatkan perhatian dari staf museum, dan ketegangan mulai terasa. Akhirnya, di pertengahan minggu, ada konfrontasi. Ada 40 orang peserta tur dan saya berdesakan di depan patung Aphrodite, dewi seks Yunani. Saya menjelaskan tentang Kuil Aphrodite di Korintus, yang dihuni 300 hingga 1.000
pelacur kuil. Saya berbagi tentang seorang pendatang baru di kota bernama Paulus yang memberi orang-orang Korintus beberapa gagasan baru yang mengejutkan tentang seks dan mulai membacakan kisahnya dari Alkitab (1 Kor. 6). Dari sudut pandang mata saya, saya bisa melihat anggota staf museum tampak semakin tidak nyaman. “Paulus percaya bahwa orang dapat berubah, bukan dengan kekuatan mereka sendiri tetapi oleh kekuatan Yesus Kristus, yang, dinyatakannya, telah mati dan bangkit dan adalah Juruselamat manusia,” lanjut saya. Kata-kata berikutnya nyaris keluar dari mulut saya ketika anggota staf datang memotong. “Berhenti! Berhenti! Anda tidak dapat melakukan ini di sini!” Dia menyela, terlihat kesal. Saya bertanya-tanya dalam hati apakah ini adalah akhir dari tur British Museum saya. Lalu dia berkata: “Anda menghalangi jalan.” Saya menyadari apa yang sedang terjadi. Dia tidak memiliki otoritas atas apa yang saya katakan, melainkan atas apakah sebuah kelompok orang menghalangi jalan atau tidak. Kelompok kami terlalu besar untuk area kecil itu. Jadi saya menjawab, “Tidak masalah; kami akan menuju artefak selanjutnya.” Beralih ke peserta tur, saya berkata: “Mari kita pergi ke batu Rosetta.” Dua anggota staf museum “menyamar” ikut tur kami sore itu. Saya melihat radio-radio yang tersembunyi di bawah jaket mereka. Di akhir tur, salah satu dari mereka menjadi yang pertama memberi tepuk tangan meriah. Dia kemudian berkata: “Ini adalah salah satu presentasi terbaik yang pernah saya dengar! Saya belum pernah mendengar sejarah dan Alkitab bercampur secara demikian!” Beberapa hari kemudian saya memberinya buku Ellen White: The Great Hope. Kami tidak pernah punya masalah lain di museum sepanjang sisa minggu ini. Yahweh memastikan bahwa firman-Nya didengar. Tuhan berbicara kepada siapa saja yang mau mendengarkan. Dia berbicara melalui Alkitab. Dia berbicara melalui sejarah dan arkeologi. Dia berbicara melalui orang-orang—bahkan seorang pemandu wisata yang tampak remaja, tidak resmi, bersama timnya di sebuah museum terkenal. Tuhan akan memastikan firman-Nya didengar. Maukah Anda membiarkan Dia berbicara melalui Anda? Lihat rekaman video dasar dari tur online di www. youtube.com/top7tours.
Dustin Serns, pendeta Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Port Orchard di Washington, Amerika Serikat, suka menyampaikan tentang Yesus dan misi-Nya bersama istrinya, Caitlin, dan putri mereka, Quinn.
AdventistWorld.org 02 - 2019
25
Dustin Serns (kanan) membagikan sejarah dan nubuatan Alkitab saat memimpin tur di British Museum di London.
Pertanyaan Alkitab Dijawab
Kematian dalam Penciptaan
P J
Apakah ada kematian di alam semesta sebelum dosa masuk? Ini adalah pertanyaan yang jawabannya tampak jelas, namun agak sedikit rumit karena fakta bahwa para ahli tidak mampu merumuskan definisi “kematian” yang diterima secara umum. Selain itu, Alkitab tampaknya tidak menganggap tanaman itu hidup, dan oleh karenanya mereka tidak mati, melainkan hanya memudar atau mengering. Bukan niat saya untuk mendefinisikan kematian, tetapi untuk menjawab pertanyaan Anda. 1. Dosa dan Kematian Alkitab menetapkan korelasi langsung antara dosa, kematian alami, dan kematian akhir zaman. Adam dan Hawa mengalami kematian sebagai akibat pemberontakan mereka terhadap sang Pencipta (Kej. 2: 17). Setelah dosa, kejatuhan dan kematian menemukan jalan masuk ke dunia, dan sebagai akibatnya semua berdosa dan semua mati (Rm. 5: 12). Kematian, seperti dosa, bersifat universal dan tak terhindarkan. Sebenarnya, itu adalah upah dosa (Rm. 6: 23). Upah utama dosa adalah kematian rohani di mana si pendosa yang tetap memberontak dipisahkan selama-lamanya dari Allah dengan cara dilenyapkan dari alam semesta (Why. 20: 10, 14, 15). Bagi orang-orang berdosa yang bertobat, kematian alami bukanlah akhir, tetapi hanya tidur di dalam Kristus sampai hari kebangkitan. Tubuh orang percaya belum ditebus dari kuasa maut (Rm. 8: 23), sampai pada saat kedatangan Kristus (1 Kor. 15: 53–56). 2. Penciptaan dan Kematian Allah, yang adalah hidup itu sendiri, adalah satusatunya asal dari semua kehidupan. Dia tidak menciptakan alam semesta yang ada dengan sendirinya, mela26
02 - 2019 AdventistWorld.org
inkan alam semesta yang memiliki awal dan, secara teoritis, bisa berakhir; namun bukan Allah penyebabnya. Allah adalah Pribadi yang melalui kehadiran dan kuasa-Nya menopang ciptaan-Nya sedemikian rupa sehingga terus berlanjut. Keabadian adalah atribut Ilahi yang tidak dimiliki oleh makhluk Tuhan dalam diri mereka (1 Tim. 6: 16). Apakah ini berarti bahwa semua makhluk secara alamiah dan menurut definisinya fana—artinya, bahwa hanya masalah waktu sebelum mereka mati? Tentu tidak! Itu berarti bahwa niat dan rancangan Ilahi Allah adalah untuk menjadikan makhluk-makhluk eksistensi yang tidak akan pernah mati, karena Dia akan selalu mendukung mereka. Artinya, tidak ada kematian sebelum Kejatuhan. 3. Hidup dan Kematian Setelah mencapai kesimpulan itu, dapat dikatakan bahwa sebelum kejatuhan, kematian hanya diketahui pada tingkat konseptual, tetapi tidak pada tingkat pengalaman. Ini terjadi karena ciptaan, seperti yang kami nyatakan di atas, tidak ada dengan sendirinya. Pastilah ada suatu kesadaran yang menjadi dasar semua makhluk. Ini mungkin terdengar seperti spekulasi, tetapi ternyata tidak. Konsep kematian diperkenalkan oleh Allah sebelum kejatuhan ketika Dia berkata kepada Adam, “tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kej. 2: 17). Ular itu mengatakan bahwa ajal bukanlah kematian; tidak ada kematian. Ini adalah salah satu kebohongan kosmik yang paling radikal yang diucapkan oleh makhluk dalam upaya untuk mengangkat semua makhluk ke tingkat Ilahi. Kematian adalah hasil dari dosa, tetapi kehidupan adalah hasil dari kematian Kristus bagi mereka yang percaya (Roma 5: 17).
Angel Manuel Rodríguez pensiun setelah melayani gereja sebagai pendeta, profesor, dan teolog.
Kesehatan dan Kebugaran
Mengelola Teknologi Demi Kebaikan Kesehatan Kita Anak-anak kami baru saja memasuki usia remaja mereka. Banyak teman mereka memiliki ponsel cerdas dan menggunakannya terus-menerus. Sepertinya kami akan menemui kegagalan dalam mengatur penggunaannya secara bijak, dan juga menjaga apa yang kami nilai sebagai paparan wajar terhadap waktu layar. Haruskah kami terus mencoba?
T
entu saja, ya! Kita hidup di era yang paling terhubung sepanjang masa. Namun tampaknya orang-orang bercakap tanpa makna yang mendalam satu sama lain. Kami baru-baru ini menyaksikan sebuah keluarga memasuki ruang tunggu bandara—ibu, ayah, dan empat anak-anak berusia antara 4 hingga 16 tahun. Ketika mereka berkeliling mencari tempat duduk, anak yang berusia 4 tahun dengan marah melambaikan ponselnya, berulang kali berteriak: “Saya perlu Wi-Fi!” Anak-anak yang lebih tua sedang mendengarkan musik melalui earphone sehingga tidak mengetahui apa yang terjadi. Tidak jarang pula kita melihat keluarga di restoran terpaku pada perangkat mereka. Mungkinkah mereka saling mengirim SMS? Kami berharap demikian, karena mereka jarang bercakap. Media sosial sangat membantu dalam menjaga teman-teman mendapat informasi dan diperbarui. Internet menyediakan harta karun berupa informasi bermanfaat di ujung jari kita. Kemajuan ini harus jelas, hati-hati, dan digunakan dengan bijaksana. Untuk semua informasi yang baik di luar sana, informasi yang berbahaya dan merusak juga ada. Selain itu, cara alat-alat ini digunakan dapat menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan, termasuk “depresi facebook,” penindasan maya, pornografi, dan kecanduan layar. Untuk Diperhatikan l Membawa ponsel ke tempat tidur itu tidak sehat, merampas tidur dan istirahat kita. l Panggilan masuk dapat mengganggu tidur dan meningkatkan kekhawatiran “kehilangan” pada apa yang terjadi, sehingga kecemasan pun timbul. Ditam-
bah kelelahan yang terjadi siang harinya. l Peningkatan kecemasan, depresi, dan harga diri rendah mengikuti tidur yang tidak memadai. l Penggunaan media sosial yang tidak dikelola dan pada waktu tidur dapat meningkatkan tekanan untuk terjaga setiap saat dan semakin mengganggu tidur yang sehat. l Waktu-waktu keluarga yang berkualitas dan bebas ponsel perlu diadakan secara teratur. Makan bersama keluarga memberikan kesempatan seperti itu dan menghasilkan manfaat yang sehat. Tetap menjaga waktu layar yang optimal dan sehat di keluarga. Orang tua harus memimpin dengan memberi contoh. Anak-anak kita mungkin berharap orang tua berhenti memakai ponsel dan bercakapcakap dengan mereka. Kami merekomendasikan edisi Adventist Review yang bagus, tersedia di arsip online. Temanya “Rearing Children in a Technological World: What to Do, What to Avoid,” 27 Oktober 2011. Isinya informatif, seimbang, dan sumbernya sangat baik—semuanya lebih relevan saat ini ketimbang waktu pertama kali diterbitkan. Ketika sampai pada nasihat-nasihat bijak dari Tuhan, umat Allah haruslah “mengajarkannya berulang-ulang kepada anakanakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (Ul. 6: 7). Mari terus berbicara dengan anak-anak kita, berkomunikasi dengan mereka, mencintai mereka tanpa syarat, dan bahkan memahami mereka. Mereka adalah gereja hari ini—dan mereka layak mendapatkannya!
Peter N. Landless, seorang ahli jantung nuklir bersertifikat, adalah Direktur Adventist Health Ministries di General Conference. Zeno L. Charles-Marcel, seorang ahli internis bersertifikat, adalah seorang Associate Director Adventist Ministries di General Conference.
AdventistWorld.org 02 - 2019
27
Pemakaman Nona Azalea
N “Bolehkah Saya Menceritakan Sebuah Kisah?” OLEH: DICK DUERKSEN
28
02 - 2019 AdventistWorld.org
ona Azalea, lajang dan tidak pernah menikah, tinggal di kamar kecil yang penuh cinta di atas tokonya. Tokonya menyimpan barang-barang sederhana yang mungkin ingin dibeli orang tanpa harus berjalan jauh ke pasar-pasar besar. Rumahnya dikenal sebagai “tempat aman,” selalu diisi dengan suasana yang penuh cinta. Pada hari pemakamannya, pendeta menyaksikan saat pelayat datang. Tangga-tangga batu mengarah dari jalan ke pintu-pintu kayu lebar, langkah-langkah lama, terkelupas dan dipakai oleh puluhan tahun pemuja. Dua diakenes, sarung tangan putih mereka yang lembut satu-satunya yang tidak berwarna hitam dalam seragam ibadah mereka, memimpin para anggota dan para tamu ke kursi-kursi kosong sampai semua dipenuhi orang-orang yang telah belajar tentang kasih dari Nona Azalea. *** Baris depan tetap kosong, disediakan untuk kelompok yang sangat khusus yang diantar ke tempat mereka saat musik mulai dimainkan. Mereka tiba sebagai individu, beberapa dengan teman-teman, banyak dengan anak-anak kecil, masing-masing mengisi tempat kehormatan sedekat mungkin dengan Nona Azalea. Paduan suara yang terampil menyanyikan lagu-lagu pujian, nyanyian yang dinyanyikan oleh Nona Azalea pada begitu banyak hari ibadah. Jemaat, vibratos yang diperkuat oleh kehilangan teman baik, bergabung dengan paduan suara, mengangkat musik sedemikian kuat sehingga dinding-dinding menonjol keluar dan langit-langit tampak terbuka lebar sehingga semua surga bisa mendengar. Setelah banyak nyanyian, doa yang panjangpanjang, dan banyak lagi nyanyian, pendeta,
dengan jubah khususnya, berjalan perlahan ke mimbar kayu seukuran perahu kecil. Tempat kudus itu senyap sekarang, seolah siap untuk mendengar yang terburuk. “Dia sudah pergi,” pendeta itu mulai. “Kanker jahat akhirnya mengambilnya dari kita. Tetapi bahkan saat kesehatan fisiknya meredup, cahaya cinta Nona Azalea tetap terang. Kita semua akan merindukannya.” “Kami semua mengenal Nona Azalea dengan sangat baik,” pendeta melanjutkan. “Dan masing-masing dari kita mencintainya seperti dia mencintai kita.” Gereja dipenuhi dengan gumam “amin,” “haleluya,” dan seruan keras “Terima Kasih, Yesus!” “Seperti yang kita semua tahu, Nona Azalea selalu ingin memiliki anak tetapi tidak pernah mencapai mimpinya.” Sekali lagi gereja meletup dalam afirmasi dan kesedihan. Kemudian pendeta mengangkat tangannya untuk menenangkan umatnya. “Namun,” katanya, “Nona Azalea tidak mengubur bakat keibuannya, tetapi memilih dari antara kita 21 anak: 21 anak tanpa ibu; 21 anak tanpa ayah; 21 anak-anak yang tinggal di selokan kota kita; 21 anak yang membutuhkan cinta; 21 anak-anak yang belajar kasih Tuhan di rumah Nona Azalea; 21 anak-anak yang diberi karunia kasih sayang seorang ibu; 21 anak-anak Tuhan—anak-anak Nona Azalea! ” Pendeta melambaikan tangannya ke barisan depan dan membungkuk pada tamu-tamu istimewa. Lama sekali sampai suara jemaat memuji Tuhan, Nona Azalea, 21 anak, dan satu sama lain, mereda. Ketika keheningan akhirnya kembali, pendeta melanjutkan. *** Foto: Dylan Nolte
“Saat ini, sebagai bagian paling penting dari layanan kasih dan ibadah ini, ke-21 anak-anak Nona Azalea datang untuk memberi tahu kami tentang ibu mereka.” Satu demi satu mereka maju ke depan, menceritakan kisah-kisah yang sudah diketahui semua orang. Tidak ada yang baru di sana, karena Nona Azalea telah mencintai masing-masing anak-anak ini di dalam lingkungan jemaat ini. Ketika 20 anak telah menceritakan kisah mereka, pendeta melambaikan tangan untuk paduan suara untuk bernyanyi lagi. Paduan suara, berjubah emas, menyanyi seakan Gabriel membawa segerombolan malaikat untuk ikut bernyanyi. Ketika musik berhenti, Cindy berdiri, si anak nomor 21. Anak bungsu Nona Azalea. Dia tidak datang sendirian. Di sampingnya ada seorang gadis kecil, memegang erat tangan ibunya. “Namaku Cindy, dan aku anak Nona Azalea yang kedua puluh satu,” dia memulai. “Nona Azalea menemukanku satu malam di belakang tempat sampah. Saya meringkuk di kotak kardus besar, dan malam itu dingin. Sangat dingin. Saya baru saja melahirkan seorang bayi perempuan kecil seorang diri di dalam kotak kardus saya. Saya takut memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Saya membutuhkan dorongan narkotika, dan saya juga tahu saya membutuhkan beberapa kain bersih, air, dan popok. Tetapi saya tidak punya uang, jadi saya mencoba untuk mendapatkan keberanian untuk masuk ke udara dingin dan menemukan seorang pria yang mungkin akan membayar saya cukup uang sehingga saya bisa membeli beberapa popok.” Gereja terdiam dalam jeda menakutkan
seperti yang terjadi tepat sebelum badai besar meratakan rumah Anda. “Nona Azalea menemukanku di sana, saat itu. Dia pasti tahu—karena dia datang dengan selimut bersih dan air hangat. ” “‘ Ikutlah denganku, nak,’” katanya. “Lalu Nona Azalea menggendongku dan bayiku di jalanan dan menaiki tangga ke rumahnya. Rumah itu bersih, rumah paling indah yang pernah saya lihat. Dia mengisi bak mandi dengan air hangat, mencuci bayi saya, mencuci saya, memberi kami pakaian dan makanan lezat. Sepanjang waktu dia bernyanyi dan mencintai kami seperti kami adalah manusia nyata yang berharga!” Ada kemungkinan bahwa semua orang di gereja menangis ketika Cindy berbicara. Semua orang mengenang kisah mereka sendiri ketika bersentuhan dengan cinta Nona Azalea. “Butuh waktu,” Cindy akhirnya melanjutkan. “Nona Azalea akhirnya membantu saya melepaskan narkotika dan bekerja dengan saya setiap hari sehingga bayi saya tumbuh menjadi gadis yang normal, bahagia, dan sehat.” “Nona Azalea membantu saya mendapatkan pendidikan yang benar dan merawat putri saya ketika saya mengambil kelas. Dia membantu saya mendapatkan pekerjaan yang layak di sini, di kota. Setiap hari dia mengajari saya tentang Yesus dan membantu saya menjadi bagian dari ini, keluarga gereja kita.” “Tidak, Nona Azalea tidak punya anak. Tetapi aku, nomor 21, adalah anak perempuannya yang paling beruntung! Nona Azalea menunjukkan saya cinta, dan bahkan lebih baik lagi, menunjukkan kepada saya tentang Yesus. ” Gereja meletus dengan sukacita, semua orang mengangkat tangan mereka dalam pujian, semua orang berteriak “Haleluya!” Dan semua orang menyanyikan “Amazing Grace” lebih nyaring daripada yang pernah dinyanyikan sebelumnya. “Nona Azalea tidak pernah punya anak,” kata pendeta itu. “Tetapi rumah surgawinya akan dipenuhi keluarga!” “A-A-A-A-A-MIN!”
Dick Duerksen, seorang pendeta dan pencerita yang tinggal di Portland, Oregon, Amerika Serikat, dikenal di seluruh dunia sebagai “penyebar anugerah.”
Penerbit Adventist World adalah majalah periodik internasional milik Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Sedunia. Divisi Asia-Pasifik Utara adalah penerbitnya. Penerbit Eksekutif dan Pemimpin Redaksi Bill Knott Manajer Percetakan Internasional Chun, Pyung Duk Komite Koordinasi Adventist World Si Young Kim, ketua; Yutaka Inada, German Lust, Chun Pyung Duk; Han, Suk Hee; Lyu, Dong Jin Associate Editors/Directors, Adventist Review Ministries Lael Caesar, Gerald A. Klingbeil, Greg Scott Redaksi Bertempat di Silver Spring, Maryland Sandra Blackmer, Stephen Chavez, Costin Jordache, Wilona Karimabadi Redaksi Bertempat di Seoul, Korea Pyung Duk Chun, Jae Man Park, Hyo Jun Kim Manajer Operasional Merle Poirier Editor-at-large /advisors Mark A. Finley, John M. Fowler, E. Edward Zinke Manajer Keuangan Kimberly Brown Dewan Managemen Si Young Kim, ketua; Bill Knott, sekretaris; P. D. Chun, Karnik Doukmetzian, Suk Hee Han, Yutaka Inada, German Lust, Ray Wahlen, Ex-officio: Juan Prestol-Puesán, G. T. Ng, Ted N. C. Wilson Pengarah Seni and Desain Jeff Dever, Brett Meliti
Penerbit Penerbit Advent Indonesia (anggota IKAPI Jawa Barat)
Jalan Raya Cimindi 72 Bandung, 40184
Ketua Yayasan R. Situmorang Ketua Bidang Usaha S. Manueke Bendahara W. Purba Pemimpin Redaksi J. Pardede Redaksi Pelaksana dan Desain Isi Angky Tumbal Tim Redaksi S.P. Silalahi; F. Parhusip; F. Ngantung; S. Susanto; F. Manurung; U. Martin. Penerjemah: W. Kamajaya Kepada para Penulis: Silakan mengirimkan naskah yang siap diterbitkan, melalui alamat redaksi 12501Old Columbia Pike, Silver Spring, MD 20904-6600, U.S.A. Atau melalui fax: +1 (301) 680-6638 Surel: worldeditor@gc.adventist.org Situs: www.adventistworld.org Kecuali diberitahu, semua kutipan ayat Alkitab diambil dari ALkitab Terjemahan Baru. © 1974 Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Digunakan dengan izin.
AdventistWorld.org 02 - 2019
29
Iman yang Bertumbuh
Halaman untuk Anak-anak
Apollo: Bagaimana Satu Burung Kecil Menjadi Terkenal
A
pollo adalah seekor burung kakatua yang suka perhatian. Pada hari pertama Kristina, pemiliknya, membawanya pulang untuk tinggal bersamanya, Apollo mengikutinya di dapur sementara dia memasak makan malam. Dia baru berusia 6 bulan. Kaki kecilnya berlari sangat cepat untuk menyusulnya, karena dia terlalu muda untuk terbang. Tak lama kemudian Apollo belajar terbang. Setiap kali ada orang yang masuk ke ruangan, dia akan terbang ke bahu mereka dan mulai bersiul dengan lagu-lagu favoritnya. Bagaimanakah Apollo belajar bernyanyi? Kristina mengajarinya setiap hari. 30
02 - 2019 AdventistWorld.org
Dia juga belajar bermain cilukba dengan Kristina, yang sangat menyenangkan hatinya. Suatu hari Kristina membuat video Apollo bermain cilukba. Dia ingin ibu dan ayahnya untuk melihat betapa hebatnya Apollo, jadi dia menaruhnya di YouTube untuk dilihat orang tuanya. Kristina terkejut ketika banyak orang dari seluruh dunia mulai menonton video Apollo dan menekan tombol “suka�. Segera video Apollo mencapai lebih dari 100.000 pemirsa! Semua orang menyukai Apollo. Ia menjadi sangat populer. Tak lama kemudian Kristina menerima sebuah surel. Sebuah perusahaan ingin membayar Kristina untuk
menggunakan video Apollo di TV. Mereka mengirim Kristina 250 dolar AS! Wow! Apollo dan Kristina kaya! Kristina membelikan Apollo mangkuk makanan baru yang mengilap dan beberapa mainan baru. Kristina mencari nama Apollo secara daring dan menemukan bahwa orang-orang menulis blog tentangnya. Orang-orang ini tidak tahu apa-apa tentang kehidupan nyata Apollo, tetapi mereka mengambil gambar dari video dan mengarang cerita tentang dia. Orang lain membuat video mereka sendiri dengan burung mereka sendiri, meniru Apollo karena mereka ingin menjadi populer juga. Apa yang terjadi pada Apollo Illustrasi: Xuan Le
OLEH: KRISTINA DALEY
Harta Karun Alkitab “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?”
(Luk. 9: 25)
tidak terjadi begitu saja pada hewan peliharaan paling lucu—itu juga terjadi pada orang-orang. Pernahkah Anda mengunggah gambar atau video di Facebook, Instagram, atau YouTube dan mengawasi dengan saksama untuk melihat apakah Anda akan mendapat banyak pemirsa? Pernahkah Anda melihat unggahan temanmu dan cemburu dengan seberapa banyak perhatian yang mereka dapatkan? Terkadang kita mencoba menggunakan bakat kita untuk mendapatkan lebih banyak perhatian. Di lain waktu kita mencoba meniru orang lain sehingga kita bisa menjadi keren dan populer. Tetapi apa yang terjadi jika
unggahan atau bakat Anda tidak mendapatkan banyak “suka” atau banyak perhatian? Jika kita menentukan nilai kita hanya dengan apa yang orang lain pikirkan, kita bisa menjadi sedih dan kesepian. Yesus adalah sahabat sejati kita. Dia ingin kita tahu bahwa kita berharga bagi-Nya apa pun yang terjadi. Dia sangat mengasihi kita sehingga Dia mati di kayu salib sehingga kita dapat menghabiskan waktu bersama Dia selamanya di surga. Ketika Yesus ada di bumi, Dia menanyakan kepada para murid-Nya pertanyaan yang sangat penting: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasa-
kan atau merugikan dirinya sendiri?” (Luk. 9: 25). Jadi alih-alih meniru orang lain untuk mencoba menjadi populer, mengapa tidak menghabiskan waktu untuk meniru sahabat kita yang terbaik dan sempurna, Yesus? Ketika kita meniru Yesus, kita menjadi teman yang lebih baik bagi orang lain, dan versi terbaik dari diri kita yang unik. Kisah Apollo mengingatkan kita bahwa perhatian pada media sosial sangat kecil dibandingkan dengan persahabatan khusus yang Yesus ingin miliki bersama kita.
Tonton Apollo Main Cilukba! bit.ly/2qM6Ltg AdventistWorld.org 02 - 2019
31