Page 1

War ta Ge re j a Mas ehi Advent Hari Ketujuh

02 — 2018


Tujuan

Pernikahan—dan Penyatuan—Hikmat ukraina

Halaman Sampul Legor dan Mary Pysarenko tinggal bersama dengan kucing mereka, Melman, di Kiev, Ukraina. Mereka berjumpa pada Malam Tahun Baru melalui sebuah media sosial. “Musim dingin adalah waktu terbaik untuk memulai sebuah hubungan,” kata Mary. “Jika seseorang menyukai Anda yang berpakaian sweater lusuh, jaket canggung, topi lucu, dan hidung merona merah, maka itulah cinta sejati.” Ketika mereka bertemu, Mary tidak tahu apa-apa tentang Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Legor telah setia pergi ke gereja sejak masa kanak-kanak. Beberapa bulan kemudian Mary pun dibaptis. “Tuhan memberkati saya dengan banyak teman, dan seorang suami terbaik!” Kata Mary. Legor bekerja sebagai penyunting film/video, dan Mary bekerja sebagai sekretaris. Gambar Sampul: Andriy Drozda

Fokus 10 Untuk Memiliki dan Mempertahankan Firman 20 Apa yang Kita Percayai 26 Pertanyaan dan Jawaban Alkitab Gereja Saya 16 Pandangan Global 24 Menengok ke Belakang Iman yang Hidup 18 Iman dalam Tindakan 22 Roh Nubuat 27 Kesehatan dan Kebugaran 28 Bolehkah Saya Menceritakan Sebuah Kisah? 30 Iman yang Bertumbuh—Halaman untuk Anak- anak.

2

02 - 2018 AdventistWorld.org

P

ada suatu hari di bulan Januari 36 tahun yang lalu, saya dan istri kembali pada kesibukan masing-masing setelah bulan madu yang manis selama liburan Natal. Di belakang kapel seminari seorang kawan menyampaikan ucapan selamat: “Hai, Bill. Saya dengar Anda sudah menikah!” Tersipu-sipu layaknya seorang pengantin baru, saya menjawab: “Ya, betul, kami sudah menikah. Pernikahan kami tanggal 13 Desember.” Ada jeda panjang ketika ia mengamati wajahku, dan kemudian mengutarakan kalimat yang terus melekat di ingatan saya. “Bukan, Bill,” katanya pelan. “Upacara pernikahannya tanggal 13 Desember. Tapi butuh beberapa tahun untuk sebuah pernikahan.” Dari semua ucapan selamat yang disampaikan oleh keluarga dan undangan kepada kami selama hari-hari pertama yang menakjubkan dalam pernikahan yang baru dibentuk itu, kata-kata Rick adalah yang paling berkesan. Ia mengetahui dari 10 tahun pengalamannya bahwa proses pernikahan itu lebih lama dibandingkan upacara resmi yang dipimpin oleh pendeta. Penyatuan dua kehidupan kami akan ternyata lebih mirip seperti pekerjaan mengelas besi: Sama-sama membutuhkan panas dan gesekan supaya ikatannya bertahan lama. Dibutuhkan proses pelelehan dan penekukan jika dua orang ini akan membangun suatu kesatuan permanen yang dinyatakan oleh Kitab Suci dan diberkati secara berlimpah oleh Tuhan. Kata-kata bijak dari teman saya itu, pada gilirannya, telah dibagikan kepada puluhan pasangan yang saya persatukan dalam perkawinan selama 36 tahun ini. Saya pun menyaksikan senyuman menyetujui dari para pasangan di jemaat ketika saya mengulangi kata-kata itu saat khotbah di pernikahan—dan bahkan senyum pengakuan dari pasangan yang mengikuti sesi konseling pra-pernikahan. Di dasar hati kita mengerti bahwa, tidak ada sesuatu yang begitu penting bagi pengalaman hidup manusia seperti kesatuan permanen yang saleh dapat dicapai oleh sebuah pernyataan singkat atau pencatatan di kantor catatan sipil. Membutuhkan waktu bagi kita—bahkan, bertahun-tahun—untuk mempelajari bagaimana menjadi orang yang didambakan oleh pasangan, dan untuk mempelajari kasih yang tidak mementingkan diri sendiri seperti Yesus. Dia yang memberkati perkawinan di Kana juga memberkati pernikahan orang Kristen dengan janji bahwa Dia dapat menjadi pendamai, rekonsiliasi, dan sukacita kita. Sambil membaca edisi Adventist World edisi baru ini, undanglah Tuhan yang menciptakan pernikahan untuk menyatakan kehendak-Nya dan sukacita-Nya bagi Anda.


Momen Berita

Kelapukan struktural di gedung Graceland Adventist School di India mengalami perbaikan serius. Sebagai hasilnya, Maranatha International telah membangun 12 ruang kelas yang baru. Foto: Maranatha Volunteers International

AdventistWorld.org 02 - 2018

3


Berita Singkat

persen dari 500 siswa yang mendaftar di San Yu Adventist School, Singapura, berasal dari keluarga Advent. Memperingati 110 tahun pendidikan Advent, satu-satunya sekolah Advent di Singapura menunjukkan perbaikan penting dalam fasilitasnya, termasuk penambahan ruangan, sebuah elevator, dan tulisan besar di muka gedung yang berbunyi: “FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” 4

02 - 2018 AdventistWorld.org

70

Loma Linda Memperingati 50 Tahun Pencangkokan Organ Tubuh

Loma Linda University Health merayakan 50 tahun pencangkokan organ tubuh. Sebuah perjamuan makan siang diadakan untuk menghormati kecemerlangan para pembaru medis dan ahli bedah serta kemurahan hati para donatur dan keluarga mereka. Sampai dengan tanggal 30 Oktober 2017, Transplantation Institute telah berhasil melakukan 2.962 pencangkokan ginjal, 808 pencangkokan jantung, 661 pencangkokan hati, dan 227 pencangkokan pankreas.

65.72 Film-film Advent Menerima Penghargaan

60

Dua film yang diproduksi gereja Advent di Amerika Selatan menerima penghargaan di International Christian Film Festival (FICC). Film O Resgate: Salvação ao Extremo (Pertolongan: Keselamatan yang ekstrem), memenangkan penghargaan Film Durasi sedang Terbaik dan menuai trofi Film Penginjilan Terbaik. Film yang kedua, Escolhas (Pilihan), menerima pengharaan Film Fiksi Terbaik.

50

40

30

26.06

Di dalam jendela 10/40

10

tahun 2015

Di luar jendela 10/40

—George Jackson, Ketua Program Biologi/premed di Middle East University (MEU), Libanon. [Para pelajar MEU bergabung dengan 47.859 pelari maraton lainnya di Beirut, sementara anggota gereja Advent lainnya menyemangati para pelari dan memberikan mereka air minum].

Jumlah anggota gereja Advent per 10.000 penduduk pada

Secara Global

“Melihat Maronit, Katolik, Suni, Hindu, ateis, Syiah, dan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh berlari bersama menunjukkan bahwa masih ada sekelompok orang yang percaya bahwa perdamaian itu mungkin.”

5.84

2.000 pengunjung menghadiri sebuah seri KKR di dekat Lahore, Pakistan. Seratus lima puluh enam orang dibaptis dan akan melanjutkan pembinaan di dalam kelompok-kelompok yang diadakan oleh Pakistan Seminary and College.


Berita Singkat

“Saya berharap mereka selalu bebas dari tirai dan penutup jendela sehingga orang yang berlalu-lalang dapat melihat kelompok yang sedang beribadah.” —David Neal dari Divisi Trans-Eropa berkomentar tentang jendela-jendela yang menjulang dari lantai hingga langit-langit di sebuah gereja Albania baru yang menghadap ke sebuah jalan yang ramai. Gereja yang berada di sebuah ibu kota itu didirikan 25 tahun yang lalu setelah kejatuhan komunisme, tetapi hingga saat ini belum memiliki gedung sendiri.

“Bagi saya, mengajar di sebuah sekolah Advent bukanlah sebuah pekerjaan—ini sebuah pelayanan” —Seorang guru Advent di Hong Kong turut serta dalam sebuah diskusi panel pada sebuah pertemuan yang dihadiri 120 orang guru dari 5 sekolah Advent di Konferens Hong Kong—Makau. Gereja Advent Rwanda Mendapat Pujian Anggota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Rwanda mendapatkan pujian dari pejabat tinggi pemerintah untuk sumbangsih mereka bagi masyarakat melalui pelayanan bulanan yang dilakukan pada setiap hari Minggu terakhir setiap bulannya. “Bila Anda menggunakan waktu yang berharga ini untuk melakukan pelayanan masyarakat, Anda sedang menambahkan sebuah soko guru bagi pilar-pilar yang membangun negeri ini. Saya berterima kasih kepada Anda untuk hal ini,” kata Cyriaque Harelimana, menteri negara yang bertanggung jawab atas pengembangan sosial ekonomi.

Studio TV Skandinavia Mengembangkan TV Pola Hidup Sebuah stasiun swasta yang berafiliasi pada Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yang berbasis di Swedia, mengadakan acara peletakan batu pertama pembangunan sebuah stasiun televisi yang baru. Fasilitas baru itu akan memudahkan staf produksi untuk menciptakan program Advent yang lebih beragam. “Sungguh suatu sukacita melihat TV Pola Hidup ini berkembang dan menjadi mitra Anda dalam misi,” kata Tor Tjeransen, Direktur komunikasi Konferens Uni Norwegia, pada upacara tersebut.

“Ini adalah pertama kalinya beliau memeluk saya selama hidup saya.” —Samuel Saw, Ketua Divisi Asia Pasifik Utara, berbicara tentang saat ayahnya keluar dari air setelah dibaptis. Samuel membaptis ayahnya yang berusia 76 tahun setelah bertahun-tahun berpisah.

Foto: dimuat dengan izin dari Keluarga Saw & Adventist Mission AdventistWorld.org 02 - 2018

5


Berita Selanjutnya

Di Fiji Setiap Ahli Kesehatan Bisa Turut serta dalam Program Kesehatan Advent

Berolahraga adalah sebuah strategi untuk mengatasi penyakit tidak menular.

Oleh Tracey Bridcutt, Adventist Record

Asosiasi ahli kesehatan di Fiji (Fiji Medical Association/FMA) membuat program kesehatannya yang bernama Complete Health Improvement Program (CHIP) bagi semua dokter di Fiji. Complete Health Improvement Program adalah sebuah program pengayaan yang direka untuk mengurangi faktor-faktor risiko penyakit melalui penerapan kebiasaan kesehatan yang lebih baik dan penyesuaian pola hidup yang diperlukan. Resolusi untuk menerapkan CHIP dibuat dalam konferensi tahunan FMA, yang pada tahun 2017 ini berfokus pada apa yang dilakukan oleh organisasi-organisasi non pemerintah untuk mengatasi masalah penyakit-penyakit tidak menular (noncommunicable diseases/NCDs), termasuk diabetes dan penyakit jantung, yang sedang berkembang di Fiji. Sekretaris FMA Alipate Vakamocea, yang

juga adalah Direktur Kesehatan Misi Fiji dari Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, memberikan sebuah pemaparan tentang CHIP. “Saya berbicara tentang bagaimana empat orang dokter Fiji meninggal karena NCDs setelah mengikuti konferensi yang lalu, dan betapa mereka masih berusia muda, yaitu antara akhir 20-an hingga awal 40 tahun,” katanya. “Ini sungguh mengejutkan bagi peserta konferensi. Kemudian mereka berbicara tentang CHIP dan manfaat-manfaatnya, dan banyak sekali perhatian yang diberikan.” Salah seorang ahli patologi Fiji yang terkemuka membagikan kesaksian tentang bagaimana CHIP telah mengubah hidupnya. Ahli kesehatan mancanegara lainnya yang menghadiri konferensi juga memberikan dukungan mereka terhadap CHIP, dengan menyebut hal tersebut sebagai sebuah upaya yang baik. “Karena tema konferensi ini ada-

Direktur kesehatan Fiji Mission Alipate Vakamocea

Foto: Adventist Record 6

02 - 2018 AdventistWorld.org

lah tentang NCDs, menu makan siang yang disajikan pun vegetaris, yang merupakan kejutan bagi banyak dokter, karena mereka menyukai daging,” kata Vakamocea. “Namun demikian, kami ingin membagikan pesan bahwa, inilah saatnya bagi kami para dokter untuk menjaga kesehatan diri sendiri dan mempraktikkan apa yang kami nasihatkan.” Konferensi ini juga meneguhkan lima resolusi yang ada dan menambahkan yang keenam: Bahwa FMA menjadikan CHIP terbuka bagi semua dokter di Fiji.

Potensi untuk Misi Vakamocea mengatakan bahwa ini adalah perkembangan yang menarik, sebuah kesaksian tentang kekuatan CHIP untuk mengubah kehidupan. Misi Fiji juga akan mengadakan upaya kesehatan lain, yaitu dengan membuka pusat kebugaran, yang menyajikan sebuah kafe, toko makanan kesehatan, toko buku, dan ruang-ruang perawatan. “Kami menerima dana dari Persembahan Sabat Ketiga Belas untuk sebuah pusat kebugaran,” kata Vakamocea. “Kami akan mendirikannya di Suva [Ibu Kota Fiji] karena dengan demikian ia akan memenuhi banyak aspek dari misi Advent, termasuk pelayanan kesehatan menyeluruh dan misi untuk perkotaan. Aktivitas-aktivitas di seputar kesehatan ini mencerminkan visi dari Misi Uni Trans-Pasifik (Trans Pacific Union Mission/TPUM), seperti diungkapkan oleh ketuanya Maveni Kaufononga dalam pertemuan Divisi Pasifik Selatan akhir tahun yang lalu. Kaufononga mengatakan bahwa kesehatan adalah fokus yang terutama di wilayahnya. “Hampir segala sesuatu yang kami lakukan di TPUM menyangkut kesehatan,” katanya. “Kami di Fiji saat ini boleh jadi merupakan bangsa yang paling tidak sehat di seluruh Divisi Pasifik Selatan, tapi pada tahun 2030 kami akan menjadi bangsa yang paling sehat.”


Berita Selanjutnya

Sukarelawan Rumania Menyelesaikan Misi Kemanusiaan di Irak

Tim ADRA mengirimkan bantuan medis dan psikologis.

Oleh ADRA Rumania dan Inter-European Division News

Sekelompok sukarelawan dari ADRA Rumania memberikan bantuan medis dan psikologis kepada para pengungsi di Irbil, Irak.

Foto: ADRA Romania, Trans-European Division News

Pada bulan November 2017 intervensi kemanusiaan solidaritas internasional untuk pengungsi yang ke-9 beroperasi di Irbil, Irak. Kegiatan ini diadakan atas kerja sama dengan proyek Hope for Immigrants dari Adventist Development and Relief (ADRA). Proyek tersebut, yang mendapat dukungan dari 10 sukarelawan ADRA Rumania, menawarkan bantuan medis dan psikologis. Di awal bulan Agustus tahun 2017 sebuah situasi di Irak bagian utara menyebabkan para sukarelawan harus kembali ke kemah pengungsian Hassan Sham U2 untuk membantu mereka yang berlindung di sana selama pertempuran berlangsung. Bantuan medis dan psikologis diberikan di rumah sakit ADRA/Adventist Help, yang terletak di wilayah yang memiliki lebih dari 100.000 pengungsi. Para sukarelawan ADRA Rumania dengan profesi beragam, termasuk profesional medis, memutuskan untuk menggunakan talenta, sumberdaya,

dan waktu mereka, untuk mengumpulkan dana dan bahan-bahan secukupnya dan kembali ke Irak. Meskipun beberapa material tertahan selama beberapa saat di perbatasan Turki dan Irak, para sukarelawan itu berhasil menyediakan perawatan medis dan gigi untuk banyak orang. Dalam misi kemanusiaan pertama ADRA Rumania di awal tahun 2017, para sukarelawan menyadari bahwa meskipun para pengungsi itu sulit mendapatkan buku, namun mereka masih ingin melanjutkan pendidikan. Dalam jeda waktu antara dua misi kemanusiaan, para sukarelawan mengumpulkan sumbangan sebanyak 300 buku dan membuat sebuah perpustakaan untuk para pengungsi saat mereka kembali ke sana. “Kami gembira dapat membantu pada saat yang tepat di rumah sakit,” kata Mihai Brasov, sukarelawan yang menjadi wakil penyelia koordinator proyek ADRA, Hope for Immigrants. “Karena ketegangan bersenjata di

wilayah ini menyusul referendum kemerdekaan Kurdishtan, rumah sakit tersebut ditutup, dan para sukarelawan dipaksa untuk meninggalkan negara ini. Kedatangan kami di sana memberikan harapan bagi para pengungsi.” “ADRA Rumania berhasil membawa setitik harapan ke dalam kemah pengungsi dan para sukarelawan yang bekerja di rumah sakit,” lanjut Brasov. “Bantuan masih dibutuhkan! Jika Anda seorang dokter atau perawat, Anda memiliki kesempatan besar untuk menjadi sukarelawan dan tindakan Anda akan membawa perbedaan antara hidup dan mati bagi orang yang dirundung masalah itu.” ADRA Internasional dan ADRA Rumania, melalui Hope for Immigrants, menghargai setiap orang yang terlibat dalam mengatasi krisis kemanusiaan ini. Sebuah kelompok sukarelawan dari ADRA Rumania menyediakan bantuan medis dan psikologis untuk para pengungsi di Irbil, Irak. AdventistWorld.org 02 - 2018

7


Fokus Berita Divisi Inter-Amerika (DIA)

Puerto Riko Masih Memulihkan Diri Puerto Riko terus memulihkan diri setelah luluh lantak akibat Angin Topan Maria, yang membuat wilayah pulau itu lumpuh dan menyisakan gedung-gedung serta rumah-rumah yang rusak. “Topan ini menghantam kami dengan dahsyat,” kata Luis Rivera, bendahara Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Puerto Riko. Sedikitnya 16 bangunan gereja Advent setempat yang mengalami rusak parah, bersama dengan 5 dari 20 sekolah Advent yang ada di Puerto Riko.

400 Unit sepeda baru disumbangkan untuk anak-anak di kalangan masyarakat etnis Wayuu di Kolombia sebelah utara pada bulan November sebagai bagian dari upaya “bersepeda ke sekolah.” Sepeda-sepeda itu memungkinkan anak-anak untuk pergi ke sekolah dengan cepat, terutama bagi mereka yang sebelumnya berjalan kaki selama tiga sampai empat jam. Janiet David Gutiérrez adalah salah seorang anak yang mendapatkan sepeda. (^-)

“Melihat begitu banyaknya kerusakan, banyaknya pohon yang tumbang, hewan-hewan yang mati di sisi jalan, sangat sulit untuk mencari kehidupan... sungguh akan meremukkan hati Anda.” —Israel Leito, Ketua Divisi Inter-Amerika, setelah bencana Angin Topan Maria.

3.782.922 Jumlah anggota DIA pada 30 Juni 2017.

Universitas DIA Mendapat Penghargaan Universitas Montemorelos, yang diselenggarakan oleh Divisi Inter-Amerika, dianugerahi Medali Perak khusus dari French National Academy of Medicine. “Medali Perak tersebut melambangkan pengakuan istimewa terhadap lembaga ini untuk kontribusinya dalam pengembangan obat-obatan dan menandai langkah lanjut dalam hubungan kami,” kata André Parodi, Ketua Kehormatan French National Academy of Medicine.

“Itu bukan karena saya lebih cerdas dari orang lain, tetapi salah satu hal yang diakibatkan oleh kebutaan adalah membuat saya menjadi sangat fokus.” —Floyd Morris, seorang senator Advent tuna netra di Jamaika yang baru-baru ini menerima gelar profesor dari University of the West Indies di Kingston, Jamaika.

11 dari 24 Uni di DIA terdampak oleh bencana alam yang terjadi belum lama ini.

Foto: Uni Kolumbia Utara/Inter-American Division News 8

02 - 2018 AdventistWorld.org


Perspektif

Oleh Costin Jordache, editor berita, Adventist World

Foto: Nina Strehl

Orang Advent dan Keadilan Sosial Setelah satu dasawarsa perbincangan mengenai perkembangan sosial di dunia, pada tahun 2007 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tanggal 20 Febuari sebagai Hari Keadilan Sosial Dunia. Sejak saat itu, peringatan tahunan tersebut membawa perhatian dunia pada sebuah gagasan yang telah menjadi perbincangan penting di tingkatan individu, organisasi, dan pemerintah. Perserikatan Bangsa-Bangsa secara resmi mendefinisikan keadilan sosial sebagai “Seperangkat prinsip dan tujuan dalam rangka pengentasan kemiskinan dan kekerasan sosial, kesempatan kerja yang adil, dan yang terpenting adalah akses yang sama untuk perawatan kesehatan dan pendidikan.” Pada saat yang sama, sejarah menunjukkan bahwa selama bertahun-tahun istilah tersebut telah terbungkus oleh berlapis-lapis ideologi politis. Pertanyaannya adalah, kemudian, bagaimana orang Advent berhubungan dengan gagasan tentang keadialan sosial ini? Secara umum, iman jemaat Advent yang memiliki akar Yudeo-Kristiani tidaklah asing dengan konsep-konsep keadilan sosial yang asli, yang usianya setua hukum Taurat. Dalam arti yang paling sederhana— dan paling awal, keadilan sosial bertujuan untuk memastikan keadilan dalam masyarakat. Cukup dengan membaca sepintas lalu kitab-kitab Pentateukh akan tersimpul bahwa sejak awal mulanya, Tuhan

telah selalu memperhatikan keadilan dalam hukum-hukum sosial. “Hukum Musa,” contohnya, mencoba mengajarkan prinsip-prinsip dan menciptakan sistem yang memastikan bahwa tidak seorang pun dapat memanfaatkan orang lain secara tidak adil. Sebagai contoh antara lain, larangan menindas atau menekan orang asing (Kel. 22:21), dan perintah kepada pengadilan untuk memutuskan perkara dengan adil (Im. 19:15). Perjanjian Baru terus mengajarkan konsep-konsep itu, terutama dalam konteks perumpamaan Kristus yang dicatat dalam Matius 25. Yesus dengan gamblang menggambarkan pemisahan antara “domba dan kambing” dalam hubungannya dengan perhatian dan perlakuan terhadap “saudara-Ku yang paling hina ini.” Sejalan dengan itu, Yakobus dalam surat Perjanjian Barunya merujuk sebagai bagian dari “ibadah yang sejati” ialah tidak melupakan nasib janda-janda dan yatim piatu (lihat Yak. 1:27). Dengan mencamkan hal-hal tersebut dalam pikiran, menjadi jelaslah bagi jemaat Advent bagaimana cara untuk mendukung dan berperan serta dalam keadilan sosial tanpa terseret kedalam ideologi yang mungkin tidak sesuai dengan cara pandang kita. Mengenali Mereka yang Membutuhkan Dimulai dengan mengenali mereka yang membutuhkan di sekeliling Anda— mereka yang lapar, haus, dan kesepian. Carilah mereka yang tidak dipedulikan

oleh siapa pun. Buat Keputusan untuk Bertindak, Mulailah dari yang Kecil Jangan memfokuskan pandangan Anda ke seluruh dunia, atau bahkan ke seluruh kota. Mulailah dengan satu orang atau satu keluarga yang dapat Anda “adopsi.” Sebelum menganggap diri Anda dapat membantu, ajukanlah pertanyaan-pertanyaan. Harga diri adalah dambaan terdalam setiap insan. Perjuangkan Keadilan Keterlibatan jenis ini melampaui bantuan pada kebutuhan sehari-hari. Dengan berpedoman pada Alkitab untuk melayani mereka yang berjuang di lapisan masyarakat paling bawah, kita memfokuskan diri pada ketidakadilan dan para korbannya. Sifat alami manusia adalah melarikan diri dari perbuatannya. Dan seringkali mereka yang terpinggirkan menjadi korban. Jadi, komitmennya sederhana saja. Jika Anda melihat sesuatu, katakanlah sesuatu; jika Anda mampu, lakukanlah sesuatu. Meskipun banyak aspek lain dari topik ini, dari sudut pandang Advent kiranya jelas bahwa hati Allah itu adil, dan hati-Nya remuk melihat mereka yang terlupakan, tertindas, dan terpinggirkan. Saat ini Keadilan Sosial dunia hendak mengingatkan kita bahwasanya kita memiliki tugas mulia untuk membantu meningkatkan kehidupan mereka di dunia ini sementara kita mengabarkan dan menantikan dengan penuh hasrat kehidupan yang akan datang. AdventistWorld.org 02 - 2018

9


Fokus

Untuk Memiliki dan Mempertahankan Apakah Tuhan romantis? Jawabannya adalah ya. Sejak di Taman Eden kita memiliki dua hal besar yang dirancang untuk membuat kita tetap dekat dengan sang Pencipta dan satu sama lain: Sabat dan pernikahan. Sabat adalah pengingat seminggu sekali bahwa Tuhan menyediakan kebutuhan materi, fisik, emosional, dan spiritual kita. Hal yang sama bisa dikatakan untuk pernikahan. Orang tua pertama kita tidak benar-benar lengkap sampai Tuhan melakukan pernikahan pertama di Eden. Sejak saat itu, ketika pria dan wanita berdiri di hadapan pendeta atau petugas sipil dan berjanji untuk mencintai, menghormati, dan menghargai, mereka berjanji untuk saling melindungi satu sama lain dan saling berusaha untuk membantu pasangannya menjadi pribadi yang lebih baik. Apabila berjalan dengan baik, pasangan yang sudah menikah—lebih dari orang lain —saling melengkapi kebutuhan material, fisik, emosi, dan spiritual satu sama lain. Sayangnya, kita hidup di dunia yang tidak sempurna, dengan banyak gangguan yang menghalangi kita menjadi pasangan pernikahan yang ideal. Akan tetapi, Firman Tuhan tetap berlaku sekarang seperti saat diucapkan di Eden: TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18).—Editor

Foto: Pablo Heimplatz


Pernikahan di India

D

i India banyaknya perbedaan antara upacara pernikahan Hindu, Muslim, dan Kristen, serta perbedaan antar wilayah negara tersebut, membuat tidak ada deskripsi yang cukup untuk menggambarkan bagaimana seluruh pernikahan di India. Deskripsi di sini didasarkan pada beberapa praktik pernikahan Kristiani di India Selatan. Kegiatan pernikahan dimulai beberapa hari sebelum upacara utama. Baik mempelai wanita maupun mempelai pria secara terpisah melalui sejumlah "upacara siraman" khusus, di mana parfum khusus, bersama dengan kunyit dan bubuk kunyit, dipakaikan pada tubuh mereka oleh beberapa wanita lanjut usia di dalam komunitas mereka. Hal ini bertujuan untuk mempercantik kedua mempelai dalam persiapan menyambut hari besar. Upacara itu sendiri biasanya merupakan peristiwa besar, di mana semua kerabat dari kedua sisi keluarga diundang. Para wanita memakai sari terbaik mereka. Para pria mengenakan kemeja dan celana terbaik mereka; beberapa bahkan memakai pakaian tradisional juga. Pengantin mengenakan sari yang dibeli khusus untuk acara tersebut.

Salah satu momen terpenting dalam upacara tersebut adalah pengikatan benang khusus oleh pengantin pria di sekitar leher sang pengantin wanita sebagai simbol cinta dan kepastian yang dikenal dengan thali. Ada juga pertukaran karangan bunga. Kedua mempelai meletakkan benda itu di atas kepala satu sama lain sebagai tanda bahwa telah dipersatuakan secara sempurna. Acara makan-makan setelah upacara penikahan juga merupakan pesta besar. Hidangannya biasanya disajikan pada daun pisang dengan berbagai macam nasi dan kari, bersamaan dengan makanan manis. Semua yang menghadiri acara pernikahan itu diharapkan ikut ambil bagian dalam resepsi dan acara makan-makan. Pernikahan di India biasanya penuh warna dan sukacita. Acara pernikahan dianggap sebagai salah satu momen terpenting dalam hidup bagi kedua keluarga yang terlibat.

Andrew Tompkins,seorang mahasiswa doktoral yang bekerja untuk Kantor Misi Sedunia, menemukan teman hidupnya, Anu, saat tinggal dan bekerja di India.

Pernikahan di Afrika Selatan

P

ersiapan pernikahan merupakan bagian dari suatu pernikahan, entah itu tradisional, di gereja, atau oleh petugas catatan sipil. Semua orang memainkan peran penting, terutama para tetua yang dihormati di masyarakat. Di Malawi, pemberitahuan harus diberikan kepada petugas sipil dan gereja secara pribadi satu bulan sebelum pernikahan. Pernikahan kami pada bulan Juni 2016 mencakup kedua hal tersebut, yang diikuti konseling yang terperinci. Keluarga, teman, dan sebagian besar tamu undangan mencari pakaian baru, baik membeli atau meminjam, sesuai dengan skema warna yang telah disepakati. Para pihak yang terlibat akan bertemu dan merencanakan setiap detail untuk hari pernikahan, dengan masukan akhir dari kedua mempelai. Keluarga sudah bertemu pada saat pertunangan, dan ada proses pelepasan semacam bridal shower, akan tetapi diliputi pemberian saran mengenai tips sukses membina pernikahan. Latihan upacara pernikahan melibatkan semua orang yang berada dalam pesta itu, termasuk orang tua, pendeta, dan mereka yang bertanggung jawab atas penerangan lilin di gereja. Arak-arakan pernikahan ke gereja dilakukan secara tradisional. Pernikahan di Malawi berlangsung sepanjang

hari. Kedua mempelai bersiap-siap dan berpakaian di rumah utama. Persiapan kami dimulai pada pukul 04.00 pagi untuk acara pukul 09:00 yang dimulai dengan penataan rambut dan pengenaan pakaian sarapan mahal yang cocok untuk sepasang raja dan ratu. Pendaftaran membuat pernikahan itu sah dan diakui di seluruh dunia, dengan menggunakan segel pemerintah untuk akte pernikahan. Makan siang disediakan di beberapa rumah: Rumah orang tua mempelai wanita dan pria, serta teman-temannya. Resepsi adalah waktu untuk perayaan bersama semua orang, termasuk teman, rekan, dan mereka yang hanya ingin tahu. Tidak ada yang dikecualikan, dalam perikyani (pelemparan uang), dan perayaan lainnya. Ini adalah hari bahagia yang meninggalkan kenangan seumur hidup, dan diikuti oleh bulan madu yang panjang. Keluarga menjadi lebih dari sekadar pengertian formal: Ibu mempelai pria sekarang adalah ibu pengantin wanita, dan sebaliknya; begitu juga dengan saudara kandung dan keluarga besar. Hari pernikahan meninggalkan kenangan yang indah.

Faith and Joseph Ngondo menikah pada tahun 2016 di Malawi, Afrika Selatan. AdventistWorld.org 02 - 2018

11


Foto: Henry Stober

Tradisi Pernikahan di Afrika Barat

A

da beberapa jenis pernikahan pada suku-suku animistis di Benin bagian utara, Afrika Barat. Salah satunya adalah pernikahan yang diatur. Pihak keluarga memilih seorang gadis untuk putra mereka, acapkali dalam usia yang sangat muda. Kedua anak itu tumbuh besar dan mengetahui bahwa mereka telah dijodohkan satu sama lain. Begitu anak laki-laki yang dijodohkan itu mencapai usia remaja, ia mulai bekerja pada ayah mertuanya untuk membayar mas kawin. Pada usia 18 hingga 20 tahun, keduanya menjalani upacara inisiasi, untuk mempersiapkan mereka memasuki jenjang pernikahan. Satu malam setelah upacara inisiasi tersebut, pria muda itu pergi ke rumah mertuanya untuk

menculik pengantinnya. Orang tua gadis itu tentunya sedang tidur (atau setidaknya pura-pura tidur). Namun gadis muda itu tidak tidur bersama-sama dengan sang pria di pondoknya, melainkan tidur bersama dengan ibu mertuanya hingga hari pernikahan mereka. Beberapa hari kemudian pria muda itu kembali ke rumah mertuanya untuk memberitahukan bahwa putri mereka ada bersamanya. Kemudian pesta pernikahan pun disiapkan. Setelah proses bertahun-tahun itu, kedua belah pihak boleh mengundurkan diri dari perjodohan yang telah diatur. Bahkan setelah sang pria menculik gadisnya dari rumah, gadis itu atau orang tuanya masih dapat membatalkan ikatan itu. Pernikahan yang diadakan merupakan sebuah pesta besar dengan makanan berlimpah, musik, dan tari-tarian. Menariknya, tidak ada aspek spiritual dalam pernikahan itu. Baik pria muda maupun gadis itu telah dipersembahkan kepada objek pemujaan—atau “roh nenek moyang” yang dipercaya menguasai kehidupan suku mereka. Namun tidak ada dewa atau “roh nenek moyang” yang didoakan pada hari pernikahan.

Ulrike Kouato-Baur tinggal di Benin, Afrika Barat, melayani untuk Adventist Frontier Missions bersama dengan suaminya, Toussaint.

Tradisi Pernikahan di Amerika Latin

O

rang Amerika Latin (Hispanik) memiliki latar belakang sosial, ekonomi, dan geografis yang beragam, membuat semuanya berbeda tergantung pada warisan keluarga, asal negara, dan tempat tinggal mereka. Tapi ketika menyangkut pernikahan, ada beberapa unsur budaya yang sama. Orientasi keluarga: Orang Latin secara historis berorientasi pada keluarga. Kebutuhan keluarga lebih penting daripada individual. Setiap anggota keluarga bersedia berkorban demi kemajuan yang lain. Walaupun perubahan peran gender telah memengaruhi orang Latin, masih ada penekanan pada nilai-nilai tradisional. Penghargaan terhadap pria: "machismo” (maskulinitas) masih dipraktikan. Pria harus kuat, berani, dan bersikap terhormat; mereka harus melindungi dan memelihara keluarga mereka—semua hal yang positif. Tapi machismo menjadi sebuah masalah karena menempatkan pria lebih berkuasa daripada wanita, memberi mereka hak-hak istimewa yang tidak dimiliki wanita—seperti kemerdekaan, wewenang, dan hak untuk mengungkapkan pendapat dan memengaruhi keputusan. Walaupun demikian, orang yang berpendidikan percaya bahwa pengambilan keputusan harus dilakukan secara lebih adil. 12

02 - 2018 AdventistWorld.org

Pembagian peran: Dalam keluarga tradisional, suami telah diterima sebagai kepala keluarga, yang bertanggung jawab atas kesehatan finansial dan fisik mereka. Istri bertanggung jawab untuk memelihara anggota keluarga serta mengurus rumah tangga. Meskipun kebanyakan wanita juga bekerja, istri dipandang sebagai pengasuh utama tidak hanya untuk suami dan anak mereka tetapi juga untuk orang tua dan kerabat yang lebih tua. Percintaan: Sebagian besar pasangan menikah karena cinta. Namun ketika anak lahir, orang tua cenderung mengutamakan cinta terhadap anak mereka. Kehidupan percintaan sangat dihargai, tapi cinta sering dipandang tak terjangkau dan tragis, tercermin dalam tema telenovela (sinetron Hispanik). Pernikahan di gereja Advent Amerika Latin berusaha untuk mengikuti perintah Tuhan untuk menikah dan untuk berbagi cinta tanpa pamrih yang membuat rumah bagaikan "surga kecil di bumi.”

Ada Gonzalez adalah seorang terapis pernikahan dan keluarga yang berasal dari Kuba. Dia pernah tinggal di Spanyol, Kosta Rika, dan Meksiko. Dia sekarang menetap di Amerika Serikat bersama suaminya, Roger Swain.


Pada Usia Berapakah Orang Menikah? Usia orang menikah di 20 negara dengan populasi terbanyak* 1. Jerman (33,1) 2. Brasil (30,8)

5

3. Jepang (30,5)

1

4. Amerika Serikat (27,9) 5. Inggris (27,9)

7

4

6. Thailand (26,7) 7. Turki (26,2)

8

15

19 18

8. Rusia (25,7)

12

9. Filipina (25,6)

16 17

10. Tiongkok (25,3) 11. Iran (25,2)

10

11

13

2

6

9 14

20

12. Nigeria (24,9) 13. Mesir (24,8) 14. Vietnam (24,6) 15. Meksiko (24,3) 16. Etiopia (23,5) 17. Republik Demokratik Kongo (23,4) 18. India (22,8) 19. Bangladesh (22,2) 20. Indonesia (21,9)

*Data diambil dari data pernikahan dunia PBB 2015. Catatan: Tercantum di atas adalah usia rata-rata pria dan wanita ketika menikah, akan tetapi sebenarnya pria menikah pada usia yang lebih tua dari wanita. Pada data ini, pria di setiap negara menikah 3,7 tahun setelah wanita.

Pernikahan di Tiongkok

D

engan pesatnya pertumbuhan ekonomi dan materialisme di Tiongkok selama 40 tahun terakhir, perubahan drastis terjadi dalam semua aspek kehidupan masyarakat, termasuk pernikahan. Definisi tradisional tentang pernikahan Tionghoa yang ideal adalah "seorang pria cerdas menikahi seorang wanita cantik" (lang cai nu mao). Tapi di Tiongkok saat ini tiga kualitas yang paling diinginkan untuk suami ideal adalah tinggi (gao), kaya (fu), dan tampan (shuai). Seorang istri ideal itu berkulit putih (bai), kaya (fu), dan cantik (mei). Proses mencari pasangan hidup telah mengalami perubahan yang signifikan. Berkat masyarakat yang relatif liberal dan terbuka, meluasnya penggunaan media sosial, dan aktivitas ekonomi, pasar yang lebih besar sekarang tersedia untuk para pencari pasangan di Tiongkok. Tapi, satu tradisi pernikahan Tionghoa tetap kuat: Pengaruh orang tua. Pernikahan masih merupakan gabungan dua keluarga, bukan dua individu. Kencan buta yang diatur oleh orang tua, yang disebut "xiangqin," masih merupakan praktik yang umum. Orang tua juga memiliki hak veto dalam memilih calon menantu mereka. Perayaan pernikahan bervariasi tergantung latar belakang

budaya dan kemampuan finansial keluarga. Mereka biasanya mulai dengan mempelai laki-laki mengunjungi keluarga mempelai wanita untuk menunjukkan rasa hormat dan penghargaan kepada orang tua dan kerabat tua lainnya, lalu dibalas dengan mempelai wanita melakukan hal yang sama kepada keluarga mempelai pria. Penyediaan teh dan penerimaan amplop merah dengan uang tunai di dalamnya adalah praktik yang umum. Perayaan ini berakhir dengan perjamuan nikah yang dihadiri oleh puluhan sampai ribuan tamu. Secara resmi Tiongkok masih merupakan negara ateis, namun menariknya, pernikahan gereja telah menjadi sangat umum di sana. Baik pasangan maupun keluarga mereka mungkin tidak memiliki latar belakang Kristen, tapi mereka memilih pernikahan gereja untuk suasana khidmat, musik yang indah, dan dekorasi. Bagi banyak gereja, menyediakan layanan pernikahan telah menjadi sebuah bentuk pelayanan yang penting dan menguntungkan.

Eugene Hsu, berasal dari Tiongkok, pensiun setelah menjabat sebagai Wakil Ketua General Conference. AdventistWorld.org 02 - 2018

13


"Kami mengerti bahwa tujuan cinta tidak hanya untuk dinyatakan sebagai “suami dan istri.”

Jatuh Cinta Terhadap Cinta

D

i Amerika Utara, kami mencintai cinta. Lagu dan video musik kami dipenuhi olehnya. Perpustakaan dan rak buku toko dipenuhi novel roman dan buku-buku yang tak terhitung jumlahnya tentang bagaimana menjalin hubungan yang romantis. Siaran televisi dan program live-streaming secara bervariasi meninggikan dan merendahkan konsep kesetiaan dalam pernikahan. Melalui majalah tabloid dan program televisi, kami terpaku pada pernikahan mewah para penyanyi dan para tokoh terkenal. Seluruh majalah dan buku didedikasikan pada tips-tips memiliki pernikahan yang sempurna di lokasi yang sempurna, dengan makanan, pakaian, dan perlengkapan yang sempurna. Namun obsesi kami pada pernikahan yang sempurna, tidak mencegah Amerika Serikat, misalnya, menjadi 1 di antara 5 negara dengan tingkat perceraian tertinggi di dunia (4 lainnya adalah Belarus, Aruba, Rusia, Maladewa).1 Menjadi hal biasa ketika mendengar cerita ada pasangan yang bercerai sebelum mereka memiliki kesempatan untuk melunasi biaya pernikahan mereka yang terlalu tinggi. Namun dikatakan bahwa Kanada dan Amerika Serikat termasuk di antara 5 negara teratas di dunia yaitu pasangan paling lama bertahan dalam pernikahan (3 lainnya adalah Italia, Prancis, dan Australia).2 Di sana merupakan hal yang biasa bila mendengar ada pasangan yang menikah selama 60, 70, bahkan 80 tahun. Di keluarga saya sendiri yang terdiri atas 13 pasang paman dan bibi, hanya ada satu perceraian. Semua orang tetap setia dalam pernikahan sampai pasangannya meninggal, seringkali setelah 50, 60, atau 70 tahun menikah. Di dalam hati kami, orang Amerika Utara memahami bahwa pernikahan yang kuat dan bertahan lama akan membangun masyarakat yang bermoral dan kuat. Kami mengerti bahwa tujuan cinta tidak hanya untuk dinyatakan sebagai “suami dan istri.” Roman percintaan, dalam bentuknya yang paling murni, memberi “surga kecil di sini sebelum masuk surga.”3 1 2 3

Telegraph.co.uk/travel/maps-and-graphics/mapped-countries-with-highest-divorce-rate/. Careeraddict.com/top-10-countries-where-marriages-last-the-longest. Ellen G. White, In Heavenly Places (Washington, D.C.: Review and Herald Pub. Assn., 1967), hlm. 30.

Foto: Gus Moretta

Stephen Chavez dan istrinya, Linda, telah menulis novel asmara mereka sendiri selama 46 tahun. Mereka tinggal di Silver Spring, Maryland, Amerika Serikat.

14

02 - 2018 AdventistWorld.org


Suara Milenium

Tuna Wisma Juga Manusia

L

ihat banyaknya kerumunan itu!” Hati saya terhenyak saat mobil van kami tiba. “Apakah kita punya cukup roti lapis untuk semua orang ini?” Saya bertanya kepada teman yang duduk di sebelah saya, sambil menatap gelisah pada nampan-nampan makanan di kaki kami. Kekhawatiran saya yang sebenarnya adalah karena malam itu saya sedang tidak bersemangat untuk membantu orang. Saya baru melewati minggu yang melelahkan, dan saya telah ragu-ragu untuk turut serta dalam pelayanan terhadap orang tuna wisma di London ini. Apakah yang dapat saya lakukan dalam kondisi lelah dan murung seperti ini? Pelayanan khusus untuk para tuna wisma ini telah lahir dari salah satu tujuan gereja kami—memperkenalkan Kristus kepada masyarakat sekitar melalui pelayanan kasih yang praktis. Anggota jemaat mengatur kunjungan teratur ke London dengan membawa makanan, pakaian, dan kebutuhan lainnya untuk mereka yang kurang beruntung. Setiap bulan ada kunjungan yang dilakukan oleh orang muda, dan meskipun saya mencoba untuk ikut sesering mungkin, namun lama berselang saya tidak turut-serta bersama mereka. Saat ini saya ikut dalam aksi mereka, keluar dari mobil van dan menuju ke kerumunan orang yang berdesakan. Tiba-tiba saya melihat seorang teman lama, dan wajah wanita yang sangat murung itu segera berseri ketika melihat saya. “Sudah lama saya tidak bertemu Anda!” katanya. “Saya pikir Anda telah pergi jauh!” Senyum yang terpasang di wajah saya mendadak jadi tulus ketika menerima pelukannya. Saya bertanya tentang putrinya yang dirawat di rumah sakit, dan kami meneruskan percakapan selagi saya membuatkan minuman panas dan membagi-bagikan makanan bersama kelompok saya. Seorang kenalan lain datang menghampiri dan memperkenalkan temannya, dan bersama-sama mereka bercerita kepada saya tentang paduan suara yang mereka ikuti. Mereka begitu bersemangat. Saya merasa perasaan murung saya mulai hilang seiring kesibukan membagi-bagikan mangkuk sup, mendengarkan cerita dari orang yang tinggal di jalanan itu. Kebanyakan dari mereka hanya membutuhkan seseorang untuk diajak berbincang. Sambil mendengarkan, saya teringat bagaimana perasaan saya ketika pertama kali bergabung dengan pelayanan ini: Takut. Bagaimana seharusnya saya bersikap

terhadap mereka yang tidak memiliki tempat tinggal ini? Sejujurnya, saya sering berjalan melewati rumah-rumah kardus dan mangkuk-mangkuk untuk mengemis itu, seolah-olah mereka tidak ada di sana—hampir seolah mereka bukan manusia. Pelayanan ini mengingatkan saya bahwa orang tuna wisma adalah manusia juga. Belakangan ketika menyetir pulang ke rumah, saya menyadari bahwa saya telah membuat sesuatu bagi masyarakat, bahkan melalui tindakan sesederhana membagikan semangkuk sup dan beberapa obrolan. Perasaan hati saya sendiri juga menjadi lebih baik melalui cinta yang ditawarkan dan diterima oleh teman-teman saya yang tidak memiliki tempat tinggal itu. Saya teringat pula akan kebenaran bahwa “siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum” (Ams. 11:25).* Anggota masyarakat yang terpinggirkan, yang dengan mudah dilewatkan, adalah anakanak Allah yang berharga. Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). Saya ingin belajar melihat seorang saudara Yesus dalam diri setiap orang dan, melalui tindakan kasih yang praktis dari saya dan gereja saya, menunjukkan kepada mereka seperti apakah saudara mereka itu.

Lynette Allcock, , adalah lulusan dari Southern Adventist University, tinggal di Watford, Inggris, di mana ia menulis dan mengajar bahasa Inggris sebagai bahasa kedua untuk para siswa internasional. AdventistWorld.org 02 - 2018

15


Pandangan Global

Saat yang Menentukan Hidup di Era Nubuatan

P

ada musim gugur yang lalu sebuah ibadah berlangsung di London dalam peringatan 500 tahun Reformasi Protestan yang secara jelas menunjuk kepada era nubuatan di mana kita hidup. Para pemimpin rohani dari berbagai denominasi berkumpul di Westminster Abbey, Church of England, pada tanggal 31 Oktober 2017, untuk mengakui kesepakatan antara gereja Lutheran dan gereja Katolik Roma yang mencoba menyelesaikan perdebatan yang menjadi inti Reformasi Protestan: Pembenaran oleh iman. Justin Welby, uskup Canterbury, menyatakan dalam ibadah khusus itu: “Ketika Lutheran World Federation dan Gereja Katolik menandatangani doktrin pembenaran oleh iman pada tahun 1999, Anda telah menyelesaikan pertanyaan teologis yang mendasar pada tahun 1517, saat yang menentukan bagi semua gereja dalam pencarian akan persatuan dan rekonsiliasi.�1 Sejak ditandatangani, kesepakatan itu telah diterima oleh kepercayaan Protestan lainnya, termasuk World Methodist Council pada tahun 2006; Anglican Consultative Council pada tahun 2016; dan World Communion of Reformed Churches. Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh belum turut serta dalam upaya tersebut, dan tidak akan pernah.

Perkembangan Nubuatan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh mendukung dan mendorong kebebasan beragama dan kemerdekaan nurani bagi semua orang. Hal ini memungkinkan kita untuk membuat keputusan-keputusan doktrinal dan alkitabiah tanpa kompromi, berdasarkan metode studi dan interpretasi Alkitab historis alkitabiah (atau historis gramatikal) yang berdasarkan Alkitab dan sejarah, seperti juga pendekatan historis terhadap nubuatan Alkitab. Pendekatan-pendekatan ini, melalui bimbingan Roh Kudus, memberitahukan kita perkembangan yang akan terjadi sebelum kedatangan Yesus kedua kali seperti dinyatakan dalam nubuatan Daniel dan Wahyu, terutama di dalam Wahyu 13. Dalam ibadah di Westminster Abbey, Uskup Welby menunjukkan dokumen resolusi Anglican Council (yang menerima kesepakatan Lutheran-Katolik) kepada Martin Junge, Sekretaris Jenderal Lutheran World Federation; dan kepada Brian Farrell, Sekretaris Pontifical Council for Promoting Christian Unity. Juga hadir dalam ibadah itu para pemimpin World Methodist Council dan World Communion of Reformed Churches. Pengungkapan kepada umum resolusi Anglikan pada peringatan reformasi itu merupakan langkah besar menuju kesatuan gereja, kata Junge. “Kami bersyukur kepada Tuhan bahwa bersama-sama saudara dan saudari Katolik, Metodis, dan Protestan, kita menyaksikan pada hari ini penerimaan isi deklarasi bersama tentang doktrin pembenaran oleh kelompok Anglikan. Semoga saat ini menjadi saksi penting dalam terwujudnya persatuan di antara gereja-gereja kita.�2 Tanda yang Pasti Kita dari Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh mengenali kejadian tersebut di atas sebagai tanda yang pasti dari akhir zaman seperti yang kita pelajari dalam Kitab Suci, kita baca di Kemenangan Akhir, dan kita perbincangkan selama bertahun-tahun. Kita perlu lebih waspada

Foto: Brett Meliti


terhadap peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung saat ini dan menyadari bahwa kita hidup di ujung jari kaki patung yang ada di Daniel 2. Kejadian besar selanjutnya adalah kedatangan Kristus yang kedua kali, dan kita akan meihat lebih banyak tanda-tanda nubuatan Alkitabiah dinyatakan seiring mendekatnya kita pada peristiwa puncak. Ketika menyaksikan peristiwa-peristiwa tersebut dinyatakan, muncullah dalam pikiran sebuah paragraf dari Kemenangan Akhir berikut ini: “Selama lebih setengah abad, para pelajar nubuatan di Amerika Serikat telah menyampaikan kesaksian ini kepada dunia. Dalam peristiwa-peristiwa yang sekarang terjadi tampak suatu kemajuan pesat ke arah penggenapan ramalan ini. Di antara guru-guru Protestan terdapat pernyataan yang sama mengenai otoritas Ilahi atas pemeliharaan hari Minggu, dan kekurangan bukti-bukti Alkitab yang sama dengan para pemimpin kepausan yang membuat mukjizat-mukjizat untuk menggantikan perintah Allah. Pernyataan bahwa penghakiman Allah dijatuhkan ke atas manusia oleh karena pelanggaran Sabat hari Minggu, akan diulangi; bahkan sudah mulai dilaksanakan. Dan suatu gerakan untuk memaksakan pemeliharaan hari Minggu dengan cepat memperoleh dasar yang kuat.”3 Referensi yang rinci ini juga berkaitan: “Melalui dua kesalahan besar— kekekalan jiwa dan kekudusan hari Minggu—Setan membuat orang takluk di bawah penipuannya. Sementara yang pertama meletakkan dasar spiritisme, yang terakhir menciptakan ikatan simpati dengan Roma, Protestan Amerika Serikat akan menjadi yang terkemuka mengulurkan tangan melintasi jurang pemisah untuk menggenggam tangan spiritisme. Mereka akan menjangkau melintasi lubang yang tak terhingga dalamnya untuk berjabat tangan dengan penguasa Roma; dan di bawah persekutuan tiga serangkai ini, negara ini akan mengikuti jejak Roma menginjak-injak hak-hak hati nurani.”4

Dalam sebuah tulisan baru-baru ini, Stanley Hauerwas, seorang ahli teologi Protestan terkemuka di Amerika Serikat, mengamati bahwa “jurang pemisah antara denominasi rasanya nampak semakin kecil dan kecil. Dan begitu pula jurang antara Katolikisme dan Protestanisme.”5 Menggaris bawahi hal ini, pada tanggal 13 November 2017, Mike Pence, wakil presiden Amerika Serikat, bertemu dengan diplomat kepala Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, di Washington, D.C. Sesudahnya, Pence menulis dalam akun Twitternya bahwa ia merasa terhormat menjadi tuan rumah dari kardinal tersebut di Gedung Putih untuk sebuah “percakapan yang produktif tentang bagaimana kita dapat bekerja sama untuk memajukan hak-hak asasi manusia, memerangi penderitaan manusia, dan melindungi kebebasan beragama.”6 Kita mengerti dari nubuatan Alkitabiah bahwa tren kejadian-kejadian ekumenis dan persekutuan pemerintah dengan Vatikan bukan hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi juga di banyak tempat lainnya di seluruh dunia. Reformasi Belum Selesai Merujuk pada Reformasi Protestan, Ellen White menulis: “Pembaruan tidak berakhir bersama Luther, sebagaimana banyak orang mengira. Pembaruan itu akan diteruskan sampai penutupan sejarah dunia.”7 Sungguh istimewa bagi kita untuk dapat menjadi bagian dari Reformasi Protestan dan warisannya pada hari ini. Allah menggunakan Martin Luther dan banyak tokoh lainnya yang meletakkan landasan untuk kembali ke Firman Allah. Marilah kita meminta Roh Kudus untuk menolong kita agar tidak pernah menyimpang dari pengertian yang jernih dan menerima Alkitab sebagaimana ia tertulis, serta mengenali era nubuatan di mana kita hidup. Seperti dikatakan oleh Yesus: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat. 11:15; lihat juga Why. 2:17). Meskipun kita tidak ingin dianggap

Meskipun kita tidak ingin dianggap sebagai penekan tombol tanda bahaya, jelas sekali kita sedang hidup di hari-hari terakhir dari sejarah

bumi. sebagai penekan tombol tanda bahaya, jelas sekali kita sedang hidup di hari-hari terakhir dari sejarah bumi. Semoga Allah membimbing kita, menyegerakan kedatangan Yesus, dalam menyampaikan pekabaran tiga malaikat dari Wahyu 14, dengan Kristus dan Kebenaran-Nya sebagai landasannya; dan dalam kita mengabarkan pesan malaikat keempat dari Wahyu 18, memanggil orang untuk keluar dari Babel dan kembali menjadi penyembah Allah yang sejati. Sahabatku, kita hidup di akhir zaman. Kita harus menjaga fokus kita pada misi untuk mengabarkan kedatangan Yesus yang tidak lama lagi. Sungguh sebuah kesempatan berharga untuk bersaksi secara pribadi—dan sebagai anggota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh sedunia, melalui Keterlibatan Seluruh Anggota—tentang Tuhan. Marilah kita berdoa untuk kebangunan dan reformasi dalam kehidupan kita sendiri, dan untuk hujan akhir Roh Kudus di gereja sedunia sambil mengabarkan pesan terakhir kepada dunia yang sekarat ini, sebelum Kristus datang kembali.

 Dalam “orang Lutheran, Katolik, Methodis, Protestan dan Anglikan 'tertarik pada persekutuan yang lebih dalam,’” www. anglicannews.org/news/2017/10/lutherans,-catholics-methodists-reformed-and-anglicans-drawn-into-deeper-communion.aspx. 2  Ibid. 3  Ellen G. White, Alfa dan Omega (Bandung, Indonesia Publishing House., 1999), jld.8, hlm. 609. 4  Ibid., hlm. 588. 5  “Reformasi Sudah Berakhir. Orang Protestan menang Jadi Mengapakah Kita Masih di Sini?” www.washingtonpost.com/outlook/thereformation-is-over-protestants-won-so-why-are-we-stillhere/2017/10/26/71a2ad02-b831-11e7-be94-fabb0f1e9ffb_story. html?utm_term=.c6962dc71df6. 6  twitter.com/VP/status/930142141745156096. 7  E. G. White, Alfa dan Omega, jld. 8, hlm 155. 1

Ted N. C. Wilson adalah Ketua Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Tulisan dan komentar lainnya tersedia secara resmi di Twitter: @ pastortedwilson dan Facebook: @ PastorTed Wilson. AdventistWorld.org 02 - 2018

17


Iman dalam Tindakan

D

ahulu, orang kaya biasa membangun istana untuk melindungi kepunyaannya dan orangnya. Sekarang kita membangun pagar yang tinggi untuk menjauhkan pencuri dan melindungi barang-barang kita. Namun, kebanyakan dari kita meluangkan sangat sedikit waktu untuk memikirkan bagaimana kita menjaga hubungan dengan orang lain. Sebuah pernikahan memakan banyak waktu dan uang, serta memiliki konsekuensi jangka panjang. Dan sebuah pernikahan yang gagal memiliki konsekuensi yang lebih berat! Saat sebuah pernikahan gagal, bukan hanya pasangan yang terluka, tapi juga anak-anak, keluarga, teman, dan bahkan gereja turut merasakan dampaknya. Jadi, adakah panduan di Alkitab untuk menjaga pernikahan kita? Dalam Alkitab, pernikahan digunakan sebagai metafora untuk hubungan antara manusia (atau gereja) dengan Tuhan. Yesus berkata bahwa hukum yang paling utama adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu� (Markus 12:30). Firman ini menjaga hubungan kita dengan Tuhan dan menjadi sebuah acuan untuk jenis cinta yang rela berkorban—sikap yang penuh kehormatan, rasa hormat, dan saling mengagumi—yang melindungi pernikahan serta membuatnya bertumbuh dan kaya. Jaga Hati Anda Hati adalah tempat bernaungnya emosi manusia (bukan sekadar organ tubuh). Menjaga hati kita berarti menginformasikan emosi kita. Saya mendengar banyak orang mengatakan bahwa mereka mencintai pasangan mereka, tapi lalu mereka kehabisan rasa cinta itu. Mereka sebenarnya sedang membiarkan emosi dan reaksi kimia mengaburkan penilaian mereka.

Jagalah

Pernikahan

Anda

Hubungan yang Baik Tidak Terjadi Begitu Saja.


Perselingkuhan tidak dimulai dengan seks—itu dimulai dengan keterikatan emosional terhadap seseorang yang bukan pasangannya. Tetapi emosi bisa dikendalikan. Tanda kedewasaan adalah ketika kita bisa menetapkan batas-batas di sekitar hati kita. Kita tidak boleh berbagi perasaan dan pikiran yang terdalam dengan seseorang yang bukan pasangan kita, terutama ketika sedang berduaan. Di sisi lain, kita harus berbagi semua emosi, pikiran dan pengalaman batin kita, dengan pasangan kita. Buat komitmen hari ini untuk benar-benar terbuka dengan pasangan Anda. Jaga Pikiran Anda Batin adalah tempat bernaungnya pikiran kita. Yesus menunjukkan kepada kita bahwa pikiran dan niat itu penting ketika Dia berbicara tentang kemarahan, yaitu pembunuhan dan hawa nafsu, dalam hal ini perzinaan. Dosa berasal dari pikiran kita, dan pikiran sering dimulai dari mata kita. Di manakah fokus kita? Saya mendengar sebuah statistik baru-baru ini bahwa 100 persen anak laki-laki pada usia 11 tahun telah terpapar pornografi. Pornografi ada di manamana, dan bisa menyebabkan banyak kerusakan pada hubungan. Pasangan yang merupakan pecandu pornografi sering mendapati pasangan mereka membosankan dan tidak memuaskan. Mereka lebih menikmati fantasi mereka dibandingkan dengan menikmati hal yang nyata. Saya telah berhasil menghindari pornografi online, tapi mata dan pikiran saya masih bisa mengkhianati saya. Terkadang pusat perbelanjaan di musim panas, atau pantai, adalah tempat tersulit. Saya harus mendisiplinkan diri saya untuk "menjaga mata." Tapi lebih dari sekadar mencoba melumpuhkan dan menekan pikiran buruk, kita harus membiasakan pikiran kita terfokus pada pasangan kita. Seberapa sering kita fokus pada kenangan indah? Apakah kita memikirkan semua hal baik yang telah kita lakukan, atau semua berkat yang telah Foto: Pavel Badrtdinov

diberikan pada kita? Sangat mudah bagi kita untuk jatuh ke dalam pola pikir yang negatif. Kita harus membiarkan pikiran kita membangun kekaguman dan kecintaan terhadap pasangan kita. Berpikirlah positif tentang mereka, dan interaksi kita akan tumbuh lebih positif. Kita harus melatih pikiran dan mata kita untuk fokus pada pasangan kita. Jaga Jiwa Anda Salah satu cara terbaik untuk melindungi pernikahan adalah dengan menumbuhkan kesatuan spiritual. Itu berarti memiliki iman dan ibadah yang sama dengan pasangan kita. Orang bijak berkata: "Dan, apabila satu orang dikalahkan, dua orang dapat bertahan menghadapinya. Dan tali tiga lembar tidak mudah diputuskan" (Pengkhotbah 4:12). Dengan kata lain, bersama pasangan kita memiliki kekuatan. Bila Tuhan adalah tali ketiga dalam hubungan kita, Dia menjadi modal dasar kesuksesan kita. Hubungan kita memuliakan Dia saat Dia menjadi fondasi dan dasarnya. Bagaimanakah caranya? Pasangan mungkin memiliki perbedaan pendapat, latar belakang budaya dan keluarga. Dan kenyataannya, setelah menikah beberapa waktu, mereka mungkin menemukan bahwa hampir semuanya berbeda. Tapi jika keduanya mengejar Tuhan, mereka berdua menuju ke arah yang sama. Pengabdian kepada Tuhan berarti pengabdian satu sama lain. Paulus menulis bahwa di dalam Kristus "Tidak ada lagi orang Yahudi atau orang Yunani, budak atau orang merdeka, lakilaki atau perempuan karena kamu semua satu dalam Yesus Kristus." (Gal. 3:28). Identitas kita, impian kita, dan tujuan kita semua akan terhalang kecuali jika mereka ada di dalam Kristus. Jadi, kita melindungi jiwa kita dengan memilih untuk mengubur jiwa kita di dalam Tuhan dan membiarkan Dia melindungi pernikahan kita. Luangkan waktu untuk berdoa bersama; baca Firman bersama-sama. Lakukan percakapan rohani untuk memahami apa yang Anda berdua pikirkan dan rasakan tentang kejadian duniawi, hal-hal yang terjadi dalam keluarga dan kehidupan Anda. Konsultasikan pada Tuhan tentang

keputusan besar yang harus diambil keluarga Anda. Carilah hikmat dari Firman Tuhan, doa, mentor, pendeta, dan temanteman yang percaya kepada-Nya, sehingga Anda dapat menentukan hal terbaik untuk pernikahan Anda dan tujuan-Nya. Jaga Kekuatan Anda Kekuatan ditemukan di tangan dan lengan kita. Kekuatan seseorang sering terungkap dalam tindakan mereka. Ini berarti menjaga jarak dan posisi. Jaga jarak secara fisik dengan lawan jenis. Jika tidak bisa, usahakan untuk tidak pergi ke manamana hanya berdua atau berada di tempat yang tertutup dengan seseorang yang bukan pasangan Anda. Jangan gunakan tindakanmu untuk menggoda. Dalam konteks budaya yang tepat, jabat tangan, bahkan pelukan, baik-baik saja; tapi selalu lakukan dengan hormat. Lindungi pernikahan Anda dengan membuat beberapa peraturan tentang ruang fisik. Gunakan kekuatan Anda untuk melayani pasangan Anda sebagai gantinya. Prioritaskan waktu untuk bersama dengannya. Pijatlah dia, lakukan pekerjaan rumah, memasak untuknya, dan buatlah hadiah dengan tangan Anda sendiri untuknya. Gunakan kekuatan Anda untuk melayani pasangan Anda dan Anda akan mendapati bahwa cinta Anda tumbuh dan semakin dalam. Menetapkan batas-batas fisik tentang apa yang tidak dapat diterima adalah ide yang baik. Berbicara satu sama lain. Cari tahu apa yang membuat pasangan Anda tidak nyaman. Anda mungkin perlu menghentikannya. Tuhan memberi kita pedoman untuk melindungi hubungan kita dengan Dia. Hubungan pernikahan kita mencerminkan citra-Nya. Dengan menetapkan batasan seputar kehidupan emosional, mental, spiritual, dan fisik kita, sebenarnya kita sedang melindungi hubungan kita dengan diri sendiri, anak-anak kita, dan semua orang yang berhubungan dengan kita.

Jarrod Stackelroth adalah editor di South Pacific Adventist Record. Dia tinggal di Wahroonga, New South Wales, Australia. AdventistWorld.org 02 - 2018

19


Apa yang Kita Percayai

Pernikahan dan Rumah Tangga

Pernikahan Ideal yang Tuhan Kehendaki Mendengarkan Suara yang Jelas dari Kitab Suci

H

alaman-halaman pembuka Kitab Suci menetapkan apa yang dianggap ideal oleh Allah untuk sebuah pernikahan, dan model surgawi ini memberikan dasar bagi pembahasan dalam Alkitab mengenai masalah ini. Intisari dari pernikahan menurut Alkitab terangkum dalam 7 poin penting:

1. Pernikahan yang Heteroseksual dan Monogami Menurut contoh Ilahi yang ditetapkan oleh pasangan pertama di Taman Eden, dan dalam aplikasi eksplisit untuk pernikahan masa depan (Kej. 2:18—24), bentuk pernikahan adalah dualitas heteroseksual, antara "suami [bahasa Ibrani, "pria"] dan istrinya [Ibrani, "wanita"]" (ayat 24). Pemasangan kedua kata benda tersebut dalam bentuk tunggal juga secara jelas menyiratkan pernikahan monogami, yang hanya dinikmati oleh pasangan tersebut. 2. Sikap Saling Melengkapi dan Kesetaraan Antar Pasangan Peristiwa penciptaan di Kejadian 2 dibuka dengan pembentukan manusia (ayat 7). Pria itu sendiri dan ini "tidak baik"; dia membutuhkan 'ezer kenegdo—seorang "penolong baginya, yang sepadan dengan dia" (lihat ayat 18). Jadi Tuhan "membangun" (bahasa Ibrani, banah, yang berarti "desain estetika!" [Ayat 22]) seorang wanita untuk berada di sampingnya sebagai rekannya. Dalam pandangan pertamanya kepada Hawa, Adam berseru, "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.� (Lihat ayat 23). Kejadian 2 juga menunjukkan wanita sebagai klimaks, mahkota karya penciptaan. Dia diciptakan dari tulang rusuk Adam untuk menunjukkan bahwa dia harus berdiri di sampingnya sebagai orang yang setara. Sebagai 'ezer kenegdo dari pria, wanita bukan hanya merupakan "penolong yang sepadan" tetapi "pasangan yang setara." 3. Eksklusivitas dalam Pernikahan Setelah menggambarkan pernikahan pertama di Taman Eden (Kej. 2:22, 23), Musa merangkum beberapa aspek dari pernikahan pertama yang penting bagi semua pernikahan di masa depan (ayat 24).

Foto: Tyler Lastovich


Pertama, seorang pria harus pergi (Ibrani, 'azab). Istilah Ibrani itu berarti "pergi, mengabaikan, melupakan," yang di tempat lain menggambarkan pengabaian Israel kepada Yahwe untuk allah palsu (mis. Ul. 28:20). "Meninggalkan" dalam Kejadian 2:24 mengindikasikan perlunya kebebasan dari gangguan luar yang mungkin mengganggu eksklusivitas hubungan pernikahan. Dalam pernikahan di zaman Musa wanita yang diharapkan pergi meninggalkan keluarganya, namun Musa menyatakan sesuatu yang revolusioner untuk budayanya: Pria itu juga harus pergi! Keduanya harus pergi untuk membentuk satu keluarga yang berbeda yang dikenal dan dihormati oleh keluarga kedua pasangan, komunitas orang beriman, dan masyarakat luas. 4. Keabadian Pernikahan Baik pria maupun wanita juga harus saling bergantung (Ibrani, dabaq) pada satu sama lain (Kej 2:24). Kata Ibrani itu menyatakan "melekat, menempel, tetap dekat secara fisik, seperti kulit ke daging dan daging ke tulang." Dalam Perjanjian Lama istilah ini sering digunakan untuk perjanjian Israel yang permanen dengan Tuhan (misalnya, Ul. 10:20 ; 11:22). Dalam Kejadian 2:24 dengan jelas ditunjukkan konteks perjanjian, yaitu komitmen timbal-balik dari pasangan yang dinyatakan dalam sebuah janji nikah yang formal, yang menggemakan “sumpah kesetiakawanan perjanjian” yang diikrarkan oleh Adam kepada Hawa (ayat 23)—yang sejajar dengan sumpah pernikahan kita. Kata dabaq juga menekankan dimensi batin dalam hubungan perjanjian, pengabdian dan iman yang tak tergoyahkan antara pasangan, kasih setia yang timbal balik, niat baik, kesetiaan, dan komitmen untuk selamanya. 5. Keintiman dalam Pernikahan Setelah “membedah” lebih dalam mengenai perjanjian nikah, pria dan wanita harus “menjadi satu daging” (Kej. 2:24). Ini secara khusus menunjukkan persatuan antara pria dan wanita secara seksual (lihat 1 Korintus 6:16). Perhatikan bahwa persatuan “satu daging” ini disebut setelah “meninggalkan” dan karenanya berada dalam konteks perjanjian penikahan. Persatuan seksual adalah sesuatu yang hanya ada di dalam hubungan pernikahan. Istilah dasar, "daging" dalam Perjanjian Lama, tidak hanya mengacu pada tubuh fisik seseorang tapi juga kepada eksistensi seseorang di dunia ini. Melalui "kesatuan dalam daging" dengan demikian tergambarkan saling keterkaitan, saling ketergantungan dan timbal balik di semua aspek kehidupan, satu kesatuan yang mencakup kehidupan dua pribadi secara utuh. Sebuah kata terakhir mengenai keintiman dalam pernikahan di Kejadian 2 dapat ditemukan dalam ayat 25: “Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.” Hubungan intim antara suami dan istri dirancang oleh Tuhan

sebagai sebuah pengalaman yang penuh cinta, kesenangan, sebuah perayaan, dan ikatan, juga sebuah berkat untuk kita nikmati tanpa rasa takut, hambatan, atau malu. 6. Pernikahan dan Memiliki Keturunan Mempunyai anak bukanlah tujuan utama dari pengalaman "satu daging" dalam pernikahan di Kejadian 2. Bukannya menyangkal pentingnya memiliki keturunan (seperti yang ditunjukkan dalam berkat Ilahi yang ditambahkan “Beranakcuculah dan bertambah banyak” [Kejadian 1:28]). Tetapi dengan tanda titik setelah "satu daging" dalam Kejadian 2:24, persatuan secara seksual diberi makna dan nilai yang independen. Tidak perlu diartikan hanya sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lebih baik, yaitu, memiliki keturunan. 7. Keindahan secara Menyeluruh dan Sukacita Pernikahan “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu”—termasuk pernikahan— “sungguh amat baik” (Kej 1:31). Ungkapan dalam Bahasa Ibrani tov me'od (“sungguh amat baik”) berkonotasi intisari kebaikan, kebajikan, kesesuaian, dan keindahan. Setelah dibentuknya wanita oleh “TUHAN Allah... lalu dibawa-Nya kepada manusia itu” (Kej 2:22). Sang Pencipta sendiri yang meresmikan dan merayakan pernikahan pertama. Menurut rancangan Ilahi, hubungan penikahan antara suami dan istri erat kaitannya dengan hubungan spiritual pasangan itu dengan Pencipta mereka. Kembali ke Eden Dalam Perjanjian Baru, Yesus mendukung pernikahan dengan melakukan mukjizat pertamanya di sebuah pesta pernikahan (Yoh. 2:1—11). Baik Yesus dan Paulus mengganggap ideal pernikahan Eden dengan mengutip Kejadian 2:24, (Mat. 19:5; Ef. 5:31). Yohanes menggunakan metafora pernikahan untuk menggambarkan hubungan antara Allah dan umat-Nya di dalam penyelesaian pertentangan besar dan tentang ciptaan baru (Wahyu 19:7; 21:2, 9; 22:17). Dalam Kidung Agung—sebuah bab di Alkitab yang isinya mengilustrasikan kembali pernikahan Eden—cinta antara suami dan istri tidak lain adalah "nyala api TUHAN" (lihat Kidung Agung 8:6). Tuhan adalah sumber utama dari cinta suci. Dia akan menyebabkan nyala api cinta menyala lebih terang dalam pernikahan kita seperti yang dijanjikan-Nya!

Richard M. Davidson, adalah dosen Tafsir Perjanjian Lama di Seminari Teologi Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, Universitas Andrews, di BerrienSprings, Michigan, Amerika Serikat.

AdventistWorld.org 02 - 2018

21


Roh Nubuat

Dijodohkan atau Di Wawancara Ellen G. White*

Pria Apakah Allah Benar-benar Peduli akan Wanita yang Saya Pilih? “Saya akan menuliskan kepada Anda... sebagaimana saya akan menulis surat kepada anak saya.... Biarlah menjadi tujuan utama hati Anda untuk tumbuh menjadi manusia yang utuh dalam Kristus Yesus. Di dalam Kristus Anda dapat melakukan segalanya dengan gagah berani; tanpa Kristus Anda tidak dapat berbuat apa-apa.... Kristus telah membeli Anda dengan harga yang tak ternilai. Anda adalah milik-Nya, dan dalam semua rencana Anda, Anda harus mempertimbangkan hal ini. Terutama dalam hubungan pernikahan Anda, pastikanlah agar mendapatkan orang yang akan bahu membahu dengan Anda dalam pertumbuhan spiritual.” Bagaimanakah Saya Tahu Dia adalah Orang yang Tepat? “Biarkan mereka yang sedang merenungkan pernikahan menimbang setiap sentimen dan melihat setiap perkembangan karakter dalam diri seseorang yang dengannya mereka akan menyatukan kehidupan mereka. Biarkan setiap langkah menuju pernikahan ditandai dengan kerendahan hati, kesederhanaan, ketulusan, dan tujuan yang sungguh-sungguh untuk menyenangkan dan menghormati Tuhan. Pernikahan memengaruhi akhirat baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang. Seorang Kristen yang tulus tidak akan membuat rencana yang tidak dapat disetujui oleh Tuhan. “Jika Anda diberkati dengan orang tua yang takut akan Allah, mintalah nasihat dari mereka. Terbukalah dengan mereka mengenai harapan dan rencana Anda, pelajari nasihat yang telah diajarkan dari pengalaman hidup mereka, dan Anda akan diselamatkan dari banyak sakit hati. Yang terpenting, buatlah Kristus sebagai penasihat Anda. Pelajarilah firman-Nya dengan berdoa.... “Biarkan seorang pemuda mencari seseorang untuk

22

02 - 2018 AdventistWorld.org

berdiri di sisinya yang cocok menanggung beban hidupnya, orang yang pengaruhnya akan memuliakan dan menyempurnakannya, dan seorang yang akan membuatnya bahagia dalam cintanya.” Sepertinya Hal Itu akan Membutuhkan Waktu yang Lama. “Sedikit yang memiliki pandangan yang benar tentang hubungan pernikahan. Banyak yang tampaknya berpikir bahwa itu adalah pencapaian kebahagiaan yang sempurna; tapi jika mereka bisa mengetahui seperempat dari sakit hati yang dialami pria dan wanita yang terikat oleh sumpah pernikahan dalam rantai yang tidak dapat dan tidak berani mereka patahkan itu, mereka tidak akan terkejut akan pernyataan saya ini.... Ada ribuan yang dinikahkan namun tidak cocok.... Inilah sebabnya mengapa saya memberi peringatan kepada anak muda pada usia ‘siap menikah’ untuk dengan penuh pertimbangan, segera memilih pendamping.” Sekarang Saya Khawatir, Bagaimanakah Saya Menyiapkan Hal Ini? ‘Sebelum mengasumsikan tanggung jawab dalam pernikahan, pria muda dan remaja putri harus memiliki pengalaman dalam kehidupan nyata, sesuatu yang akan mempersiapkan mereka untuk tugas dan beban pernikahan.” “Hubungan yang begitu penting dan begitu berdampak seperti pernikahan tidak boleh dimasuki dengan tergesa-gesa, tanpa persiapan yang memadai, dan sebelum kekuatan mental dan fisik berkembang dengan baik.” “Para malaikat menyaksikan perjuangan ini. Sekarang giliran Anda untuk mempertimbangkan dan memutuskan sendiri.”


pasangkan Wanita Apakah Allah Benar-benar Peduli akan Pria Mana yang Saya akan Pilih untuk Dinikahi? "Jika pria dan wanita terbiasa berdoa dua kali sehari sebelum mereka memikirkan pernikahan, mereka harus berdoa empat kali sehari saat akan melakukan langkah tersebut. Pernikahan adalah sesuatu yang akan memengaruhi hidup Anda, baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang.... Tujuan kita bukanlah untuk menyenangkan diri kita sendiri, karena Kristus juga tidak mengikuti keinginan diri-Nya sendiri. Saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa seseorang harus menikahi orang yang tidak dia cintai. Hal ini adalah sebuah dosa. Akan tetapi, rasa suka dan sifat emosional tidak boleh dibiarkan mengarah kepada kehancuran." Bagaimanakah Saya Tahu Dia adalah Orang yang Tepat? "Sebelum setuju untuk dinikahi, setiap wanita harus menanyakan apakah pria yang akan bersatu dengannya merupakan seseorang yang layak untuk dinikahi. Bagaimanakah masa lalunya? Apakah hidupnya murni? Apakah cinta yang dia ekspresikan berasal dari sifat yang baik dan mulia, atau apakah itu hanya kesukaan secara emosional? Apakah sang pria memiliki karakter yang akan membuatnya bahagia? Apakah dia dapat menemukan kedamaian dan sukacita sejati dalam kasih sayang pria tersebut? Apakah dia diizinkan untuk mempertahankan individualitasnya, atau haruskah nilai dan hati nuraninya diserahkan di bawah kendali suaminya? Sebagai murid Kristus, seorang wanita bukanlah miliknya sendiri; dia telah dibeli dengan harga tertentu. Biarlah seorang wanita muda menerima sebagai teman hidup hanya orang yang memiliki karakter yang suci, orang yang rajin, bercita-cita tinggi, dan jujur, orang yang mencintai dan takut akan Tuhan. "

Sepertinya Itu akan Membutuhkan Waktu yang Lama. “Cinta adalah tanaman yang berasal dari surga. Cinta itu masuk akal; dan tidak buta. Cinta itu murni dan suci. Akan tetapi, nafsu alami adalah hal lain yang sangat berbeda. Berbeda dari cinta murni yang membawa Tuhan ke dalam semua rencananya, dan akan selaras dengan Roh Allah, nafsu bersifat keras kepala, gegabah, tidak masuk akal, menantang semua pengekangan, dan akan membuat objeknya menjadi sesuatu yang dipuja.” “Pernikahan yang direncanakan tanpa berpikir panjang dan egois umumnya tidak berujung dengan baik melainkan sering kali menjadi kegagalan yang menyedihkan.” Sekarang Saya Khawatir Bagaimana Saya Harus Mempersiapkannya? “Hati merindukan cinta manusia, tapi cinta ini tidak cukup kuat, atau cukup murni, atau cukup berharga, untuk memenuhi tempat yang tersedia untuk kasih Yesus. Hanya di dalam Juruselamatnya, sang istri bisa menemukan hikmat, kekuatan, dan anugerah untuk memenuhi kesulitan, tanggung jawab, dan penderitaan hidup. “Para wanita harus menjadikan Dia kekuatan dan pembimbingnya. Biarlah [seorang] wanita menyerahkan diri kepada Kristus sebelum menyerahkan diri pada pasangan duniawi mana pun, dan memasuki sebuah hubungan yang tidak bertentangan dengan hal ini. Mereka yang menemukan kebahagiaan sejati adalah mereka yang memiliki berkat Surga atas semua yang mereka miliki dan semua yang mereka lakukan.” "Sertakan Allah dan orang tua yang takut akan Allah kedalam perenunganmu. Berdoalah soal ini. Timbang setiap perasaan, dan perhatikan setiap perkembangan karakter dalam diri seseorang yang Anda pikir akan menjalani hidup bersama Anda. Langkah yang akan Anda ambil adalah salah satu hal terpenting dalam hidup Anda, dan jangan sampai diputuskan dalam ketergesaan. Anda boleh mencintai, tapi jangan mencintai secara buta. "Periksalah dengan saksama untuk melihat apakah kehidupan pernikahan Anda akan bahagia, atau tidak harmonis dan hancur. Renungkan, akankah pernikahan ini membantu saya lebih dekat ke surga? Akankah hal itu meningkatkan cintaku kepada Tuhan? Dan akankah itu membantu saya memberi makna dalam kehidupan ini? Jika tidak ada hal negatif dalam perenungan ini, maka dalam rasa takut akan Tuhan, teruskanlah.” *Diambil dari Messages to Young People (Nashville: Southern Pub. Assn., 1930), hlm. 435—460; The Adventist Home (Nashville: Southern Pub. Assn., 1952), hlm. 44; dan Letters to Young Lovers (Nampa, Idaho: Pacific Press Pub. Assn., 1983), hlm. 19—22. Beberapa paragraf diatur sedemikian rupa dalam pola percakapan. Tidak satu kata pun ditambahkan pada teks aslinya (dalam bahasa Inggris). Gereja Masehi Advent Hari ketujuh percaya bahwa Ellen G. White (1827—1915) menerima karunia roh nubuat selama 70 tahun pelayanannya. AdventistWorld.org 02 - 2018

23


Menengok ke Belakang

Tiga Pria, Dua Pernikahan, Satu Misi Menjawab Panggilan Allah dalam Situasi Apa pun

E

llen White tadinya enggan menjadi misionaris. General Conference telah meminta beliau pergi ke Australia untuk menjalankan misi, tetapi di usianya yang ke-64 tahun beliau merasa bahwa masa bepergian baginya sudah selesai. Beliau sibuk menulis tentang kehidupan Kristus dan tidak melihat kebutuhan untuk misi. Dalam doanya beliau tidak menemukan jawaban langsung dari Tuhan mengenai apa yang harus dilakukannya. Namun pada tanggal 12 November 1891, beliau bersama dengan putranya William (Willie) C. White, naik ke sebuah kapal untuk memulai perjalanan panjang ke Australia. Istri William, Mary, telah meninggal setahun yang lalu, meninggalkannya sebagai duda dengan 2 putri yang masih kecil, Mabel dan Ella, 5 dan 9 tahun. Ia mengetahui bahwa tugas ini tidak akan lebih dari 2 tahun karena perjalanannya sangat lama, ia memutuskan untuk meninggalkan mereka di Amerika Serikat di bawah asuhan Mary Mortensen. Ia adalah seorang wanita berusia 30-an tahun, bertanggung jawab dan penuh kasih. *** George Byron Tripp (dipanggil Byron) lahir di New York, tetapi pindah ke Minnesota dengan keluarganya ketika masih berusia muda. Ia bertemu dan menikahi Amanda McDonald pada tahun 1883. Di tahun 1886, mereka telah memiliki 3 orang anak, dua anak kembar 24

02 - 2018 AdventistWorld.org

yang meninggal saat dilahirkan, dan seorang putra, George. Tragisnya, Amanda meninggal pada tahun 1891, meninggalkan Byron untuk membesarkan putranya sendirian. Ia pergi dalam pekerjaan pelayanan di Minnesota, dan akhirnya menerima panggilan untuk menjadi Ketua Konferens Virginia. *** Dua tahun yang direncanakan sudah berkembang menjadi hampir 4 tahun bagi Ellen White dan putranya, Willie. Masih terikat dengan pelayanan di Australia, Ellen White mempekerjakan seorang wanita muda, May Lacey, sebagai asistennya. Tidak lama kemudian Willie tertarik kepada wanita muda itu—yang berusia 21 tahun, sementara dirinya sudah 40 tahun. Setelah masa pacaran yang singkat, kebanyakan dihabiskan di tempat terpisah, Willie melamar May. Mereka pun menikah pada tanggal 9 Mei tahun 1895. Selama 4 tahun sebelumnya Willie sebagai seorang ayah yang setia, rajin menulis surat kepada dua putri kecilnya, begitu pula kepada Mary Mortensen. Sebuah surat dari Ketua General Conference O.A. Olsen mengungkapkan bahwa Mary dan dua gadis kecil itu telah salah mengartikan surat-surat Willie. Mary percaya bahwa ayah dua gadis kecil itu sedang menunjukkan ketertarikan padanya yang akan berlanjut ke pernikahan. Ia menceritakan hal ini kepada anak-anak itu dan mereka merasa gembira

karena selama ini mereka sangat dekat dengan Mary setelah bertahun-tahun hidup bersamanya. Ketika sebuah surat tiba pada suatu hari di bulan Februari 1895 yang memberitahukan pertunangan Willie dengan May, putri-putrinya merasa kecewa. Sedemikian rupa sehingga Ella yang saat itu berusia 13 tahun membuat janji untuk bertemu dengan ketua GC untuk menceritakan perasaannya yang hancur. Olsen menggambarkan gadis itu “kelihatan panik� karena merasa akan kehilangan Mary.* Surat dari Olsen kepada William membawa sebuah perubahan rencana. Mary, yang seharusnya menemani 2 gadis itu ke Australia dan bekerja membantu Ellen White, tidak jadi berangkat. Gadis-gadis itu akan datang ditemani orang lain, pada awal April 1895. *** Tahun 1894 sebuah jalan telah dibuka di Afrika untuk sebuah pangkalan misi yang baru. Dalam sebuah sesi General Conference pada bulan Februari 1895 Byron Tripp diminta untuk menjadi pengawas misi yang baru di Matabele. Karena khawatir akan kehidupan putranya di Afrika, Trip mengunjungi ketua General Conference O.A. Olsen. Pertanyaannya


(Kiri ke kanan): Mabel White, May White, Ella White, W. C. White memeluk si kembar, Henry dan Herbert (1896).

Mary Mortensen Tripp Armitage

G. B. Tripp Foto: Ellen G. White Estate

kepada Olsen adalah: “Apakah Anda mengenal seseorang yang dapat dipertimbangkan untuk menjadi istri saya?� Olsen, yang baru saja mengurusi masalah Mary dan anak-anak White, segera saja menyarankan Mary Mortensen. Byron berpikir bahwa saran itu cukup baik, maka ia pun mengajukan lamaran. Mary segera menerimanya, dan mereka menikah pada April 1895, beberapa hari setelah Mabel dan Ella berangkat dari Michigan ke Australia untuk berjumpa dengan ibu tiri mereka. Beberapa hari setelah pernikahan, Byron, Mary, dan George berlayar ke Afrika bersama pasangan lainnya, W.H. Anderson dan istrinya. Mereka akhirnya tiba di pangkalan misi pada akhir Juli dan bersiap-siap untuk bekerja. Tak lama kemudian Dr. A. S. Carmichael bergabung dengan mereka. Pada bulan September 1897, Frank B. Armitage, bersama istrinya, Anna, dan putri mereka, Violet yang berusia 9 tahun, tiba, melengkapi kelompok kecil misionaris itu. Tiga bulan kemudian, pada Desember 1897, penyakit malaria menyerang kelompok itu. Dr. Carmichael mening-

gal pada bulan Februari 1898. Byron Tripp meninggal seminggu kemudian. Lalu Anna Armitage, dan putra Tripp, George. Tersisa untuk melakukan pekerjaan itu adalah keluarga Andersons, Mary Tripp, dan Frank Armitage. Mary dan Frank tetap ingin melanjutkan pelayanan mereka di Afrika. Maka pada bulan Februari 1899 Mary Mortensen Tripp dan Frank Armitage menikah. Mereka terus melayani selama lebih dari 26 tahun di Afrika, berkarya di Bulawayo, Somabula, Cape Province, dan Afrika Selatan. Dalam masa itu mereka memiliki 2 orang putri sebagai adik-adik Violet. Pada tahun 1925 mereka kembali ke Amerika Serikat karena kesehatan Mary yang memburuk, dan terus bekerja selama 8 tahun di California tengah dan utara, Amerika Serikat. Mary meninggal pada bulan April 1950, setelah membaktikan hampir seluruh hidupnya untuk misi. Willie dan May White mendapat tambahan tiga anak lagi dalam keluarga mereka selama di Australia, sebagai adik-adik Mabel dan Ella. Keluarga White, bersama-sama dengan Ellen White, melanjutkan misi mereka di

Australia selama 9 tahun. *** Mary dan Byron Tripp, yang tidak saling mengenal sebelumnya, menikah dan membantu pekerjaan misi gereja di Afrika. Mary dan Frank Armitage menikah karena cinta mereka pada pelayanan di Afrika. Bersama-sama, dengan kerjasama, kasih, dan saling menghormati, mereka dapat melayani Tuhan selama bertahun-tahun. Saat ini prioritas kita agak berbeda. Kita mencari cinta terlebih dulu, dan baru kemudian misi. Kisah-kisah seperti Mary itu, yang menunjukkan pengabdian luar biasa kepada panggilan Tuhan, mungkin jarang. Mereka mengesampingkan perasaan mereka, berkomitmen pada pekerjaan Tuhan, menikah demi misi, tetapi berakhir dalam hubungan kasih yang penuh makna, sebagian karena mereka diberkati oleh komitmen ganda— kepada satu sama lain, dan kepada Tuhan, pekerjaan-Nya, dan kedatangan-Nya yang tidak lama lagi.  O. A. Olsen to W. C. White, Feb. 26, 1895.

*

Merle Poirier adalah Manajer Operasional di Adventist World. AdventistWorld.org 02 - 2018

25


Pertanyaan dan Jawaban Alkitab

Kuasa Hukum, Kuasa Kasih Karunia

P J

Apakah yang dimaksud dengan frasa “di bawah hukum Taurat” dalam Roma 6:14, 15?

Frasa ini digunakan oleh Paulus dalam dua ayat yang Anda gunakan untuk menjelaskan hubungan antara pengertian tertentu tentang hukum dengan dosa dan kasih karunia, dan untuk menunjukkan arti sebaliknya dari “tidak di bawah hukum Taurat.” Kita harus mengingat bahwa perbincangan mengenai hukum muncul dalam konteks pertentangan Paulus dengan guru-guru palsu yang mengajarkan pelaksanaan hukum demi tujuan mereka sendiri. 1. Dosa, Hukum, dan Anugerah: Di dalam Kitab Roma, Paulus menjelaskan bahwa seluruh umat manusia berada dalam kuasa dosa, dan bahwa satu-satunya cara untuk mengalami kebebasan adalah melalui iman di dalam Kristus (Rm. 3:19—24). Dalam kondisi diperbudak oleh dosa inilah hukum memainkan peran negatifnya (Rm. 7:7—12). Tetapi bagi mereka yang menaruh iman mereka di dalam Kristus, dosa tidak lagi menjadi tuan mereka karena mereka “tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia” (Rm. 6:14). Dalam konteks ini, berada “di bawah hukum Taurat” adalah berada di bawah kuasa dosa dan tidak di bawah kuasa kasih karunia. Hukum Taurat dan kasih karunia saling bertentangan satu sama lain. Jika berada di bawah kasih karunia berarti berada di bawah kuasa penebusan dari Allah melalui kematian Putra-Nya, maka berada di bawah hukum Taurat berarti mencari perkenan Allah melalui pelaksanaan hukum Taurat. Hal ini berarti bahwa, orang tersebut berada di bawah kuasa dosa dan bukan kasih karunia karena, bagi Paulus, setiap manusia telah melanggar hukum Allah dan berada di bawah kutuk atau hukuman (Gal. 3:10). Pelaksanaan 26

02 - 2018 AdventistWorld.org

hukum Taurat tidak memiliki kuasa penebusan; itu tidak dapat membebaskan manusia dari kuasa dosa karena ia tidak dapat menghidupkan orang berdosa (ayat 21). Demikianlah, karena kondisi keberdosaan umat manusia, hukum Taurat, disalahgunakan oleh dosa, mendorong mereka untuk berdosa (Rm. 7:8, 9), meskipun hukum itu sendiri baik adanya (ayat 12). Apa yang dibutuhkan oleh manusia adalah kasih karunia Allah melalui iman di dalam Kristus. Berada di bawah hukum Taurat—mencari perkenan Allah melalui itu—berarti berada di bawah kutuk dan oleh karenanya berada di bawah kuasa dosa (Rm. 3:21, 28). 2. Tidak Berada di Bawah Hukum Taurat: Paulus mengajukan sebuah pertanyaan dan menjawabnya: “Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!” (Rm. 6:15). Ia sedang menaruh batas-batas yang dapat ditimbulkan oleh frasa “kita tidak berada di bawah hukum Taurat.” Bukan berarti ciri kehidupan Kristiani adalah tidak mematuhi hukum Taurat. Orang percaya tentu saja tidak memiliki kewajiban untuk mematuhi hukum Taurat agar dapat dibenarkan, tetapi mereka dengan sukarela dan “segenap hati [dari dasar hati yang paling dalam dan dengan tulus] telah menaati pengajaran [yang membentuk kehidupan Kristiani] yang telah diteruskan kepadamu.” (ayat 17). Kehidupan Kristiani tidak mengabaikan ketaatan kepada kehendak Allah, tetapi menaruhnya pada sudut pandang yang selaras dengan kasih karunia. Iman di dalam Kristus tidak “membatalkan hukum Taurat” tetapi “meneguhkannya” (Rm. 3:31) karena sekarang melalui kuasa kasih karunia Allah “tuntutan hukum Taurat” dapat “digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh” (Rm. 8:3, 4). Hukum Taurat tidak lagi menjadi sarana untuk mendapatkan perkenan dari Allah, tetapi sebuah pedoman penyucian dalam kehidupan Kristiani.

Angel Manuel Rodríguez tinggal di Texas, Amerika Serikat, setelah pensiun sebagai pendeta, dosen, dan ahli teologi.


Kesehatan dan Kebugaran

Penyakit Jantung Apakah Orang Muda Harus Memperhatikannya? Saya mendengar penyakit jantung adalah pembunuh nomor satu di dunia. Saya seorang pria berusia 25 tahun yang hidup di negara berkembang. Apakah saya berisiko?

P

enyakit saluran pembuluh darah jantung (Cardiovascular disease /CVD), penyakit jantung, adalah penyebab utama kematian di dunia saat ini. Pada tahun 2015 hampir 18 juta orang meninggal karena CVD. Kebanyakan kematian ini terjadi di negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah. Sekitar 7,4 juta kematian diakibatkan oleh penyakit saluran pembuluh darah koroner (coronary artery disease), dan 6,7 juta disebabkan oleh stroke.* Statistik ini mencerminkan fakta bahwa penyakit aterosklerosis (atherosclerotic) pada pembuluh darah memengaruhi seluruh sistem peredaran darah; dalam hal ini jantung dan otak adalah yang paling rentan. Otot pada jantung dan otak sangat tergantung pada pasokan oksigen yang baik dan secara khusus dipengaruhi oleh penyakit saluran pembuluh yang membawa darah dan oksigen ke jaringan otot ini. Apakah Anda berisiko? Sulit untuk mengetahui risiko dengan tepat tanpa melihat biometrik kesehatan Anda dan riwayat kesehatan keluarga Anda. Anda memiliki keuntungan karena masih muda. Secara tradisional usia yang dipandang berisiko adalah 45 tahun ke atas untuk pria, dan 55 tahun ke atas untuk wanita. Kaum wanita menikmati perlindungan hormonal sampai masa menopause; itulah sebabnya mengapa risiko penyakit jantung mereka baru muncul belakangan. Riwayat stroke dan serangan jantung pada anggota keluarga, terutama di usia muda, adalah hal penting dan menunjukkan adanya peningkatan risiko. Penggunaan tembakau juga merupakan faktor risiko yang kuat dan memiliki peranannya dalam semua masyarakat, tetapi khususnya di negara-negara berkembang. Begitu pula dengan dua penyebab utama lainnya. Pertama, negara-negara maju telah mengajukan tuntutan hukum kepada perusahaan-perusahaan

tembakau, yang kemudian mengekspor racun mereka ke pasar yang lebih rentan dan negara-negara yang belum mengajukan tuntutan hukum serupa. Kedua, ekonomi negara yang maju telah mengembangkan prasarana kesehatan yang dapat mendiagnosis lebih dini untuk mengetahui penyakit-penyakit yang disebabkan oleh tembakau. Faktor-faktor tambahan yang menambah bahan bakar bagi penyebaran CVD adalah pola makan yang tidak sehat, obesitas, diabetes (tipe 1 dan 2), dan kurangnya olahraga. Faktor-faktor tersebut adalah sumber masalah yang penting, seperti halnya penggunaan alkohol. Penanda lain dari peningkatan risiko adalah lemak darah yang tidak normal, dalam hal ini tingkat kolesterol dan trigliserida yang tinggi. Ada diskusi yang sedang berlangsung mengenai peranan lemak. Terdapat bukti yang menarik tentang peran kolesterol dalam penyakit aterosklerosis (penurunan fungsi pembuluh darah yang menyebabkan stroke dan serangan jantung), seperti nampak pada kondisi yang dikenal sebagai familial hypercholesterolemia, suatu penyakit yang dikaitkan dengan meningkatnya tingkat kolesterol dalam darah. Dalam kondisi yang parah, kami telah menyaksikan penyakit pembuluh darah arteri pada pasien yang masih sangat muda, remaja dan anak-anak, yang membutuhkan operasi bypass! Berhati-hatilah terhadap lemak jenuh dan makanan sampah (junk foods) dengan kalori berlebih. Keterangan singkat tentang faktor risiko pada penyakit pembuluh darah koroner ini akan membantu mengenali risiko Anda. Pencegahan terbaik dimulai pada usia dini. Makanlah makanan sehat dan berolahraga, istirahat yang cukup, tetaplah optimis dan bertarak, percayalah kepada Tuhan. Nikmatilah hidup ini sepenuhnya! * WHO Fact Sheet on CVDs: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/ fs317/en/.

Peter N. Landless, adalah ahli kardiologi nuklir untuk penyakit jantung dan menjabat sebagai Direktur Pelayanan Kesehatan Advent di General Conference Zeno L. Charles-Marcel, Associate Direktur Pelayanan Kesehatan Advent di General Conference. AdventistWorld.org February 2018

27


Teman Saya Michael

“Bolehkah Saya Menceritakan Sebuah Kisah?” OLEH DICK DUERKSEN

28

02 - 2018 AdventistWorld.org

T

ak ada seorang pun yang menanggapi panggilan altar Pendeta Tana. Dengan tidak disangka-sangka kelompok "Prayed For" datang ke depan untuk menyerahkan hidup mereka kepada Yesus, jemaat sekolah itu bergeming. Pendeta Tana menunggu dalam diam, kesunyian saat itu memberi waktu kepada Roh Kudus untuk bekerja. Sebuah suara di belakang menarik perhatian semua orang. Seorang pria yang berdiri dari bangkunya tak lain adalah Arnold, pengemudi buldoser dari sisi lain pulau itu. Tubuhnya pendek namun kuat. Ototnya terlihat di bawah pakaian kerjanya. Wajahnya segelap batu bara akibat bekerja di bawah teriknya matahari di Pulau Solomon. Kedua matanya yang terbiasa menyipit, sekarang terbuka lebar dan bercahaya. Arnold melangkah ke arah pengeras suara seolah-olah ada urusan mendesak. "Anda mengenal saya:" Kata pengemudi buldoser itu, mengganti keheningan dengan bisik-bisik dan anggukan menyetujui. "Saya telah lama tinggal di sini dan telah bekerja keras di hutan selama bertahun-tahun. Saya selalu melakukan pekerjaan saya dengan baik dan saya adalah pria yang jujur." Semua orang di ruangan itu mengangguk setuju. “Saya harus menceritakan sebuah kisah,” lanjut Arnold. “Enam minggu yang lalu, pada hari Selasa, ketika saya sedang kembali ke atas bukit untuk membawa lebih banyak kayu ke pantai, seorang pria melambaikan tangannya kepada saya dari tepi hutan. Saya tidak mengenalinya, seorang pria Kepulauan Solomon yang sangat tinggi dengan kulit segelap kulit saya.” "Saya memperlambat buldoser, dan pria ini berlari melintasi lereng bukit itu ke arah saya. Ketika sudah sampai, ia naik ke buldoser dan memperkenalkan dirinya sebagai Michael dan bertanya apakah dia bisa ikut dengan saya hari itu. ‘Tidak,’ kata saya kepadanya. ‘Mengendarai buldoser ini sangatlah berbahaya, dan perusahaan mengharuskan orang yang bekerja di sini untuk mengenakan helm.’” Dengan itu, Arnold mengangkat helmnya yang berwarna putih dan bernoda kuning untuk diperlihatkan kepada semua orang. “Seperti yang satu ini,” katanya. “Saya memberitahunya bahwa dia bisa ikut dengan saya, tapi dia harus memiliki helm seperti saya. Saya tidak punya helm lain untuk orang itu.” “Pria itu tersenyum dan berkata bahwa dia akan segera kembali. Saya melihatnya berjalan kembali ke tepi hutan. Ia masuk ke dalam bayang-bayang hutan itu dan, tak lama kemudian, kembali dengan helm berwarna kuning cerah seperti milik saya.” “Mengapa pria ini, Michael, melupakan helmnya? Saya bertanya-tanya.” “Ketika dia naik kembali ke atas buldoser, dia bertanya di mana dia harus duduk. Ada tempat yang aman di atas pelat besi tepat di samping saya. Saya menunjuk tempat itu, dan dia duduk. Saya menginjak pedal, dan melaju ke atas bukit untuk bekerja lagi. " Selama beberapa menit berikutnya Arnold berbicara tentang temannya Michael. Dia menceritakan bagaimana Michael bertemu dengannya di tempat yang sama setiap pagi dan ikut bersamanya di atas buldoser itu sepanjang hari. Dia bercerita


Setiap Kata Sangat Jelas tentang jiwa yang baik dan kata-kata lembut pria itu, tentang bagaimana Michael ahli dalam mesin, dan sepertinya ia tahu tentang mesin buldoser lebih baik daripada Arnold. "Meskipun pria itu memiliki suara lembut, saya bisa mendengar setiap kata yang dia katakan, seolah-olah kami sedang duduk bersama pada malam hari di bawah pohon kelapa di pantai. Setiap kata sangatlah jelas.” "Apa yang Anda bicarakan sepanjang hari?" Seorang penduduk asli pulau itu bertanya dari sebuah bangku dekat jendela. “Luar biasa,” jawab Arnold. “Michael membawa serta Alkitabnya, dan sepanjang hari, setiap hari, kami mempelajari Alkitab sambil saya mengemudikan buldoser itu. Dia memberitahukan saya bagaimana Tuhan menciptakan dunia karena Dia mengasihi kita. Lalu dia memberitahukan saya tentang Musa, Sepuluh Perintah Allah, Abraham, Yusuf, Daud, dan banyak pria dan wanita hebat lainnya.” “Apakah dia memberitahukan Anda tentang Yesus, seperti yang Pendeta Tana telah khotbahkan?” “Ya, dia melakukannya. Sebenarnya, pada minggu-minggu terakhir kami berbicara tentang Yesus, kelahiran, pelayanan, cerita, mukjizat, dan kematian-Nya. Pada hari terakhir dia bersama saya, dua minggu yang lalu, kami berbicara tentang kebangkitan, dan Michael memberitahukan saya —dengan pasti—bahwa Yesus akan segera kembali.“ “Di manakah Michael sekarang?” Tanya Pendeta Tana. ”Itu bagian yang paling menarik, Pak Pendeta,” jawab Arnold. “Dua Jumat yang lalu, di akhir pekerjaan dan studi kami, Michael mengatakan kepada saya bahwa dia tidak akan bisa menemani saya lagi.” "Besok adalah hari Sabtu—hari Sabat Tuhan—Michael mengingatkan saya. Lalu inilah yang dia katakan:

"'Arnold, saya sangat menikmati waktu kita bersama, dan saya berharap setiap kata yang saya ucapkan sangatlah jelas. Saya ingin tinggal, tapi masih punya tugas yang lain. Namun kamu tidak akan sendirian. Tuhan sedang mengirim yang lain, seorang pendeta Pulau Solomon, ke pulau kamu. Mulai besok pagi orang ini, Pendeta Lawrence Tanabose, akan mengajar tentang Yesus dan Alkitab di sekolah besar di atas bukit. Anda harus pergi. Pendeta Tana mengetahui kisah-kisah ini dengan baik, dan Anda dapat memercayai semua yang dia katakan. Dia adalah sahabat Tuhan yang sangat baik. '" Dengan tiba-tiba dan keras, terdengar riuh percakapan di seluruh jemaat sekolah saat Arnold berhenti sejenak. “Apa lagi yang dikatakan Michael ini?” tanya beberapa orang. “Pergilah ke pertemuan Pendeta Tana," kata Michael kepada saya. "Dengarkan apa yang dia katakan, dan beritahukan semua orang bagaimana Pendeta Tana mengatakan hal yang benar tentang Tuhan. Anda harus belajar berbicara seperti Pendeta Tana sehingga semua orang di pulau Anda akan mengatakan ya kepada Yesus." Kesunyian memenuhi sekolah itu. Kesunyian mendalam yang dipenuhi dengan kekaguman. Dan keputusan. Arnold memecahkan kesunyian itu. “Sebelum Michael turun dari buldoser saya—dengan helmnya yang sekarang kotor dan penyok—ia meminta saya untuk mengakui Yesus sebagai Juruselamat saya. Saya mengatakan: ‘Ya!’ Lalu ia meminta saya untuk memberitahukan Pendeta Tana tentang keputusan saya.” “Pendeta Tana,” Arnold membalikkan badannya menghadap ke pendeta itu. “Saya berdiri hari ini karena apa yang kamu katakan dan apa yang Michael katakan adalah suatu kebenaran yang sama. Saya sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat saya.”

Penerbit Adventist World adalah majalah periodik internasional milik Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Sedunia Divisi Asia-Pasifik Utara adalah penerbitnya. Penerbit Eksekutif dan Pemimpin Redaksi Bill Knott Manajer Percetakan Internasional Pyung Duk Chun Komite Koordinasi Adventist World Si Young Kim, ketua; Yutaka Inada; German Lust; Pyung Duk Chun; Suk Hee Han; Dong Jin Lyu Associate Editor/ Direktur, Adventist Review Ministries Lael Caesar, Gerald Klingbeil, Greg Scott Redaksi Bertempat di Silver Spring, Maryland Sandra Blackmer, Stephen Chavez, Wilona Karimabadi, Andrew McChesney Redaksi Bertempat di Seoul, Korea Pyung Duk Chun, Jae Man Park, Hyo Jun Kim Manajer Operasional Merle Poirier Editor-at-large/Advisor Mark A. Finley, John M. Fowler, E. Edward Zinke Manajer Keuangan Kimberly Brown Dewan Managemen Si Young Kim, ketua; Bill Knott, sekretaris; P. D. Chun, Karnik Doukmetzian, Suk Hee Han, Yutaka Inada, German Lust, Ray Wahlen, Ex-officio: Juan PrestolPuesán, G. T. Ng, Ted N. C. Wilson Pengarah Seni and Desain Types dan Symbols Kepada para Penulis: Silakan mengirimkan naskah yang siap diterbitkan, melalui alamat redaksi 12501Old Columbia Pike, Silver Spring, MD 20904-6600, U.S.A. Atau melalui fax: +1 (301) 680-6638 Surel: worldeditor@gc.adventist.org Situs: www.adventistworld.org Kecuali diberitahu, semua kutipan ayat Alkitab diambil dari ALkitab Terjemahan Baru. © 1974 Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Digunakan dengan izin. Adventist World diterbitkan setiap bulan dan dicetak secara berkala di Korea, Brazil, Indonesia, Australia, Jerman, Austria, Argentina, Meksiko dan Amerika Serikat.

Dick Duerksen, seorang pendeta dan suka bercerita, tinggal di Portland, Oregon, Amerika Serikat, dikenal di seluruh dunia sebagai “an itinerant pollinator of grace.” AdventistWorld.org 02 - 2018

29


Iman yang Bertumbuh

Tangan kita adalah hadiah dari Tuhan, dan kita bisa memakainya untuk memuja dan melayani Dia.

Halaman untuk Anak-anak

Tangan Siapakah?

“Ayo tunjukkan kepada ibu kita bahwa kita bisa mendaki tebing itu!” Lacey dalam mengeksplorasi dan menantang temannya, Erin. mempelajari tangan kita! Tebing itu berdiri dengan ketinggan 13 meter, dan hampir vertikal. Batu-batu tajam bertebaran di dasar tebing. Erin mengambil tantangan itu, lalu anak-anak perempuan itu mulai memanjat tebing itu. Beberapa kali sebongkah batu pecah di tangan mereka seraya mereka memanjat. Namun, mereka berhasil sampai di atas tebing dengan mudah. “Ayo turun dengan cara yang lebih seru,” kata Lacey setelah beristirahat sejenak. Ia menunjuk bagian yang lebih sulit dari tebing itu. “Bagaimana dengan bagian sana?” “Tentu, kalau kamu lebih dulu!” Balas Erin, tersenyum. Lacey memanjat sisi tebing itu dan mulai turun. Perempuan kecil itu memilih-milih pijakan tangan dan kaki di sepanjang jalan turun. Tiba-tiba, ketika masih tinggi di atas tebing, batu yang ada dalam genggaman tangan Lacey terlepas. Ia merasa dirinya jatuh. Sebuah pikiran buruk melintas di kepalanya: Apakah saya akan lumpuh, atau bahkan mati? Seketika itu juga Lacey merasakan sebuah tangan besar mendorongnya kembali ke atas tebing! Dengan cepat ia menggapai batu-batu itu dan melihat sekeliling untuk mengetahui siapa yang menolongnya. Namun Erin masih ada di atas, dan tidak ada pemanjat lain yang terlihat! Tangan siapakah yang ia rasakan? Terguncang, Lacey pelan-pelan menuruni muka tebing itu dengan selamat. Beberapa saat kemudian Lacey membaca sebuah buku berjudul “Pastilah Itu Seorang Malaikat”.* Seketika ia teringat dengan insiden panjat tebing itu. Dia merasakan tangan itu dengan sangat jelas—beserta kelima jarinya—mendorongnya kembali ke atas tebing hari itu. Sekarang ia sadar bahwa tangan yang ia rasakan pastilah tangan seorang malaikat. Lalu ia bergumam, "saya tidak sabar untuk berterima kasih secara langsung kepada malaikat pelindung saya dan berjabat tangan dengannya!”†

Bersenang-senanglah

Untuk Direnungkan Bahkan jika kamu belum pernah merasakan tangan seperti itu, bisakah kamu mengingat kembali ketika kamu yakin bahwa Tuhan menyelamatkan kamu dari bahaya? Apakah ada situasi saat ini di mana kamu ingin Tuhan masuk dan menyelamatkan kamu? Bagikan hal itu kepada teman atau orang yang kamu percaya. Yang paling penting, bagikan itu kepada Tuhan di dalam doamu.  Marjorie Lewis Lloyd, It Must Have Been an Angel (Mountain View, Calif.: Pacific Press Pub. Assn., 1980).  Didasarkan pada cerita “That Hand,” oleh Muriel Parfitt Polk. Dari buku Guide’s Greatest Miracle Stories.

*

30

02 - 2018 AdventistWorld.org

Ilustrasi: Xuan Le


OLEH WILONA KARIMABADI

Fakta Singkat Tentang

Tangan Harta Karun Alkitab “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku

Pada umumnya manusia mempunyai

27 tulang pada

setiap tangan.

ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kananKu yang membawa kemenangan” (Yes. 41:10)

3.434

Jabat tangan terlama melibatkan

peserta diraih oleh Hong Kong Blind Sports Federation, di Hong Kong, Tiongkok pada 2 November, 2013. Sumber: http://www.guinnessworldrecords.com/world-records/longest-handshake-chain.

Cobalah! Cobalah hal-hal berikut ini, pertama dengan menggunakan satu tangan—kemudian tanpa tangan!

Menyantap sarapan

Menyisir rambut

Dalam Alkitab, Petrus hampir tenggelam namun selamat ketika Yesus mengulurkan

Membaca buku

Menggunakan perangkat digital

tangan-Nya. Bacalah di dalam Matius 14:22—32.

Merekatkan amplop

Meminum segelas air

AdventistWorld.org 02 - 2018

31


dari INDONESIA Menantang Badai Bersama di Rumahtita Mencari Kesepakatan Namun Mendapat Perlakuan yang Tidak Sesuai

C

abang Sekolah Sabat Rumahtita adalah bagian dari wilayah pelayanan Jemaat Hukuanakota. Kebutuhan mereka yang terbesar adalah tempat ibadah yang layak. Itulah sebabnya sejak tahun 2016 dibuat rencana untuk membangun gedung ibadah di tempat itu. Kesulitan yang dihadapi adalah bagaimana cara memulai. Anggota jemaat memulaikan pekerjaan itu dengan kegiatan pengobatan gratis, bekerja sama dengan kelompok Pengharapan dari Jemaat Ambon. Tujuan pengobatan gratis ini adalah memperkenalkan gereja Advent dan bersahabat dengan masyarakat setempat. Rencana pembuatan gereja pun terbuka dan dimulai. Lahan disiapkan dan beberapa material seperti pasir dan batu disiapkan di lokasi. Perencanaan peletakan batu ditetapkan pada tanggal 1 Juli. Namun rencana awal ini terpaksa gagal sehari sebelumnya. Tanah yang ditentukan dinyatakan bermasalah, anggota jemaat harus berhadapan dengan pemerintah setempat. "Berusaha untuk mencari kesepakatan, namun kami mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan karena pendeta dan ketua cabang dipukul di depan staf pemerintah yang ada" kata Prayitno. "Anggota kami mulai pesimis dan berpikir bahwa kesempatan untuk membangun gereja tidak mungkin lagi," Prayitno menambahkan. Seluruh anggota jemaat berdoa dan mencoba menyelesaikan permasalahan yang ada. Tanah lokasi pendirian gereja harus dibayar. Anggota jemaat memohon dukungan dari masyarakat dan akhirnya ada 64 tanda tangan yang mereka dapatkan sehingga pimpinan masyarakat setempat memberikan izin untuk mendirikan gereja.

Tanggal 8 Juli adalah saat dilaksanakannya peletakan batu pertama dan acaranya berjalan dengan baik serta penuh hikmat. Rabu 26 Juli 2017 dengan pertolongan Tuhan gereja didirikan. Yang lebih mengharukan adalah saat pembangunan gereja dilaksanakan, anggota gereja mendapat dukungan dari masyarakat setempat yang bukan anggota Advent. Demikian juga pemerintah setempat yang sebelumnya melarang dan memukul ketua dan pendeta, sekarang dengan tangan yang sama mereka juga menjadi salah satu dari orang yang aktif dalam mendirikan gereja. Pada tanggal 23 Desember bangunan ini pertama kali digunakan dan langsung dilaksanakan perjamuan kudus yang dihadiri juga oleh Jemaat Hukuanakota, cabang S.S. Rambatu dan Rumberu. Semuanya bertemu di cab. S.S. Rumahtita dan merayakan Sabat dengan sukacita. Gedung gereja ini diberi nama “Imanuel� sebagai bentuk penghargaan kepada seoang pendeta yang merupakan pionir daerah ini.

—Dilaporkan oleh Pdtm. Prayitno, Gembala Jemaat Wilayah Pegunungan Pulau Seram, Daerah Misi Maluku.

32

02 - 2018 AdventistWorld.org


Kasih Tuhan Indah pada Waktunya Ada 3 Jiwa yang Dimenangkan kepada Tuhan

S

ukacita bersama pada Sabat 2 Desember di Jemaat Waisamu karena ada 3 jiwa dari Pegunungan Seram yang dibaptis oleh Pendeta Elia Randalembang, MA.Min. Dua jiwa berasal dari cabang S.S. Rambatu yaitu seorang ibu dan anaknya, mereka adalah anak dan istri dari bapak Nadus Dahoklori yang telah dibaptis pada bulan Desember 2016. Sejak baptisan Bapak Nadus, usaha dan doa yang tidak henti-hentinya dilakukan oleh seluruh anggota jemaat agar bisa memenangkan anak dan istrinya. Pada Sabat 16 September seluruh anggota jemaat berdoa dengan sungguh-sungguh meminta kuasa Roh Kudus untuk memenangkan kedua jiwa ini. Anggota jemaat mengadakan perlawatan bersama untuk meyakinkan mereka tentang kebenaran Tuhan. Akhirnya keputusan untuk mengikut Tuhan pun dibuat dan mereka pun bersedia untuk mengikuti acara ibadah pada hari Sabat berikutnya. Mereka adalah Ibu Yamsia Wemai dan anaknya bernama Zipora. Seorang yang lain dari cabang S.S. Rumberu adalah Ipus Akolo, keteguhan iman dari anak muda ini sehingga ia berani maju mengikuti Tuhan meskipun

hanya seorang diri. Ia belajar dari anggota di Rumberu. Mengalami olok-olokan dari masyarakat setempat karena imannya yang baru ini namun dia tetap kuat dalam imannya itu. Sabat 25 November kami mendapat kunjungan dari Ketua Daerah dan istri, datang menguatkan jiwa-jiwa yang telah dibaptis bahkan calon baptisan yang sementara belajar Firman Tuhan.

—Dilaporkan oleh Pdtm. Prayitno, Gembala Jemaat Wilayah Pegunungan Pulau Seram, Daerah Misi Maluku.

AdventistWorld.org 02 - 2018

33


dari INDONESIA "Keselamatan Umat Allah" KKR dan Charity Clinic GMAHK Teladan Medan

R

apat Majelis Jemaat pada pertengahan tahun 2017 memutuskan untuk melaksanakan KKR dan charity clinic tanggal 14—16 Desember 2017 di daerah Bakara tepatnya di Desa Bakti Raja, Bakara, Kabupaten Humbahas, Sumatera Utara. Kegiatan ini disponsori oleh Bapak Sopar Siburian dan dr. Tony Bahri. Seluruh anggota jemaat memuji Tuhan karena acara tersebut dapat berlangsung dengan baik. Sesungguhnya ada banyak anggota jemaat yang ingin bergabung dalam kegiatan tersebut namun yang mendaftar untuk mengikuti program itu hanya 42 orang. Tema yang dipilih adalah: "Keselamatan Umat Allah." Ada 3 orang yang menyampaikan Firman Tuhan yaitu: Pdt. Rudi Anjaya Purba, M.Fil (malam ke-1); Ev. Loran Napitupulu, S.Pd (malam ke-2) dan Pdt. M. Tambunan, M.Th (Sabat siang). Kesaksian untuk menguatkan iman disampaikan oleh Bpk. Kelechi Nwanguma dari Afrika Barat namun telah bergabung dengan GMAHK Teladan Medan sejak tahun 2016 dan Ibu Lusiana Siburian memberikan kesaksian yang menguatkan. Pada malam panggilan, ada banyak anggota masyarakat setempat yang maju ke depan, mereka rindu didoakan dan ada 3 orang yang mau menerima Yesus sebagai

Juruselamat pribadi melalui baptisan yang kudus. Namun hanya 2 orang yang dibaptiskan karena 1 orang masih bergumul dengan banyaknya tantangan. Sebelum KKR berlangsung hujan sangat deras di lokasi KKR namun selama acara KKR, cuaca begitu cerah justru setelah KKR berakhir yaitu Sabtu malam lokasi tersebut diguyur hujan deras. Seluruh anggota jemaat percaya bahwa ini adalah karena kasih karunia Tuhan. Pada Sabat itu juga dilaksanakan charity clinic yang dipimpin oleh dr. Tony Bahri bersama dengan tim ACG (Adventist Care Group) dan ada 54 orang dari masyarakat yang dapat dilayani oleh ACG. Seluruh peserta kembali ke Kota Medan pada hari Minggu, 17 Desember 2017 dan tiba di Medan sekitar pukul 20.00 dengan penuh sukacita.

—Dilaporkan oleh Loran Napitupulu, Ketua GMAHK Teladan Medan.

34

02 - 2018 AdventistWorld.org


"Terima Kasih Ibu" SLA Purwodadi Merayakan Hari Ibu

S

abat 9 Desember 2017 adalah hari Sabat yang sangat spesial bagi keluarga besar Sekolah Lanjutan Advent Purwodadi dan semua yang mengikuti acara ini merasa dikuatkan melalui rangkaian acara yang sangat luar biasa ini. Kegiatan Hari Ibu diawali dengan acara Sekolah Sabat yang dipimpin oleh ibu guru dan staf Slapur. Pesan Firman Tuhan pada acara khotbah dengan judul “Terima Kasih Ibu”disampaikan oleh Ibu Anneke Wagiran, Direktur Sekolah Sabat Anak-anak, Shepherdess, Bakti Wanita Advent GMAHK Konferens Jawa Kawasan Timur. Ibu Wagiran menyampaikan bahwa perlunya bersyukur karena kita mempunyai seorang ibu yang baik, dengan setia mendidik dan mengajarkan nilai-nilai kebaikan dalam hidup ini. Ibu yang baik menguasai segala ilmu dan selalu memberikan yang terbaik bagi anak-anak, suami dan keluarganya. Di akhir dari pesan Firman Tuhan, Ibu Anneke Wagiran menyampaikan bahwa seorang ibu yang

baik dan setia tidak akan pernah lupa mendoakan anak-anaknya untuk tetap dalam kebenaran Tuhan sesuai Firman Tuhan dalam 3 Yoh. 1:4 “Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran."

—Dilaporkan oleh Petrus Souisa, Ketua Jemaat dan Wakasek Humas SLA Purwodadi.

AdventistWorld.org 02 - 2018

35


dari INDONESIA Pengurapan Ketua Jemaat GMAHK Jatinegara

P

ada hari Sabat 23 Desember 2017 dilaksanakan acara "Pengurapan Ketua Jemaat Jatinegara" yang berlangsung di Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Jatinegara, Jakarta Timur. Yang diurapi dalam acara pengurapan itu adalah Lasman Simajuntak sebagai Ketua Jemaat Jatinegara untuk periode tahun 2018 dan diurapi oleh Pdt. M. Sinurat, Pdt. Alex Hendriks dan Pdt. Martaatmadja serta didampingi ole para ketua jemaat yang telah melayani selama tahun 2017. Pesan rohani yang disampaikan oleh Pdt. M.F. Sinurat, mengutip 1 Timotius 3:2—7 mengenai syarat-syarat penilik jemaat. "Apa pun yang terjadi jangan pernah mundur, jangan lemah, tetap kuat dalam pelayanan. Bisa pengendalian diri, harus sabar harus banyak berserah kepada Tuhan, jangan malas dalam pelayanan, dan

jangan lemah iman. Hal yang terpenting lainnya yaitu tetaplah berjalan dalam Roh dan Kebenaran," tegas pendeta Sinurat. Usai acara pengurapan dilanjutkan dengan pemberian surat pengurapan ketua jemaat dengan pesan yang terdapat dalam 1 Timotius 3:1, 7.

—Dilaporkan oleh Lasman Simajuntak, Ketua Jemaat GMAHK Jatinegara.

36

02 - 2018 AdventistWorld.org


Dimanakah Keberadaan Anda Sekarang? 1 Johanes Hutapea 2 Dale Mambu 3 Lester E. Situmorang 4 Yanti Nababan 5 Tony Manurung 6 Pita Nainggolan 7 Bernando J. Otemaessoe 8 J. Doloksaribu 9 Lasur Simbolon 10 Savitri L. Tegoeh Str 11 Elvina situmorang 12 Hatlyda Pasaribu 13 Lolita Simanjuntak 14 Novita Pesik 15 Early Thene 16 Matelda Wasaleruay 17 Bekker Sianipar 18 Setia Primadona 19 Ruslita Siregar 20 Meilda Phalili 21 Jhohan B 22 Wayne Edward Tambunan 23 Parulian Parhusip 24 Pantas Siringoringo 25 Samuel Marsella Tambunan 26 Alexander Hutagaol 27 Jhonny Somba 28 Radji Suripto 29 T. Sibarani 30 Prima Pasaribu 31 Elvi Somba 32 Megawaty Panggabean 33 Junita Siregar 34 Tetty Andryani N 35 Citra Krisnawaty N. 36 Christine Sastropawiro 37 Mariani Sihotang 38 Jacky Lasmana Situmeang 39 Erikson Nainggolan 40 Liliana 41 Johnson Sihombing 42 Heince Standi Talumepa 43 Farida Siregar 44 Imelda Anggella Panjaitan 45 Parulian Munthe 46 Tatiana Ridwan 47 Yolanda Agustina Togatorop

48 Erwin Thene 49 Frase Dame S 50 Indrawaty 51 Timoty Lorenza 52 Elsye Robert Garatam 53 Elsye Robert Garatam 54 Rahayu Meggie Fiona 55 Dale Hendrik 56 Indri 57 Donni Gumogar 58 Perdinas Simbolon 59 Lambok Sihotang 60 Recky Mamahit 61 Eduard Willem Loots 62 Saijo Luvien Nicolai 63 Ronald Terry Irawan 64 Imelny Sianipar 65 Tialom Sihite 66 Ediwanto 67 Basar Parlindungan Pangaribuan 68 Nurima SR Magdalena Ritonga 69 Sarinah Nurhaida Aruan 70 Pondang Nelson Manurung 71 Ismani 72 Kristin Marito Pasaribu 73 Lenny Marlina Enjelina Pakpahan 74 Renny Nova Manurung 75 Catherina Tobing 76 Sriyani Suparmi 77 Sovreign S 78 Sunarti 79 Togap P. Manihuruk 80 Rany Octora Situmeang 81 Alexander Fina 82 Crosby Calvin Tobing 83 Vero Dumanta Oktavia Sitompul 84 Nurdiah 85 Siti Hermina Panggabean 86 V.K. Panjaitan 87 Sodini Nursahit 88 Ria Steisi P. Mamahit 89 Sri Ruaindah 90 Beatty Rumondang Situmeang 91 Jamaster Tambunan 92 Yosandi Wijaya Dani 93 Nelsi Panjaitan 94 Julino Ambarita

95 Liberson Marbun 96 Sumiaty 97 Natalia 98 Maryati 99 Rusdiyanto 100 Leonard Sibarani 101 Febe Tabakara 102 Hotlan Damaniuk 103 Sari Murni Yanisih 104 Ellen Lubis 105 Suyud 106 David Sinaga 107 Riva Ganda Anugrah Salaki 108 Nelce Juku 109 Inggrid Tardie 110 Nafrina Yuni Claerani 111 Agustinus Ansanay 112 Keisa Bertha Marsella 113 Elda Hutasoit 114 Olivia Fransisca Suwu 115 Yasi Lina Gea 116 Budi Silitonga 117 Peter Nabut 118 Ivan Anton 119 Titik Heryanto 120 Maria Berna Della Missa 121 Denny A. Runtu 122 William Julius Suwu 123 Marsalina Panmata 124 Desi Mariani Purba 125 Mario Jangkung 126 Kristina Runtunewe 127 Sarace Walean 128 Natalia 129 Frias Pangandaheng 130 Corry Pessy 131 Frida Yolanda Pangandaheng 132 Leonardo Makaenas 133 New Reskoika Lumbanraja 134 Fanny Pricelia Adam 135 Febry Jenny Kapitan 136 Sinta Manurung 137 Detro Hela Bolu 138 Jannes Aritonang 139 Meggy Burhan 140 Ochi Daniela 141 Juliana Sitanggang

AdventistWorld.org 02 - 2018

37


dari INDONESIA 142 Frans Manuhua 143 Paris Panjaitan 144 Sumiati 145 David Partogi Tampubolon 146 Salomo Lastro Tampubolon 147 Linda Sianipar 148 Kepin Sianipar 149 Rio T. Saputra 150 David Michail 151 Hosein 152 Nursaid Ahmad Salam 153 Hambah Yopi Balo 154 Musa Futu 155 Valentino M. Suryopranoto 156 Miranda L. Giovanna 157 Tigor 158 Raja AG. Tampubolon 159 Frans Lumenta 160 Yanti Salim 161 Gabriella IF. Kasenda 162 Parlindungan Sihotang 163 Sri Yanti 164 Asben Sianipar 165 Ferry Saputra 166 Avid 167 Yuliana Manurung 168 Elis Maria 169 Sri Utami 170 Utomo 171 Dafrosa C. Asih 172 Theresia Paskalia

173 Chan E. Tampubolon 174 Bill D. Sirait 175 Ryisah Waslim 176 Selvi A. Nainggolan 177 Renhad 178 Teguh P. Yohanes 179 Hidup Riyanto 180 Maryanti 181 Angger YV Wiratmoko 182 Gibson Gultom 183 Neti 184 Jeremia Sitompul 185 Dewi Setyawaty 186 Linawaty 187 Winarni 188 Dewi Suanti 189 Jefri E. Hutabarat 190 Jack Napitupulu 191 Wandri Maria 192 Lorita Nyaman 193 Samuel Tampubolon 194 Karniti 195 Supartini 196 Mulyadi 197 Junaidy Slamet 198 Suripto 199 Caroline Sabatini Sianipar 200 Gonggom Simatupang 201 Fernando Simbolon 202 Alexander B. Dooly 203 Velanny

204 Rosmauli Manalu 205 Suahharto Simbolon 206 Miska Leniva Simanjuntak 207 Maldini 208 Liso Hanum Siregar 209 Ridwan Manurung 210 Marthin Lekatombesi 211 Anna Lekatombesi 212 Tan Harmen Lekatombesi 213 Brian Owen Lekatombesi 214 Sara Wihelmina Lekatombesi 215 Levy Louise Lekatombesi 216 Kefas Hendrik Lekatombesi 217 Olivia 218 Diana L. Paka 219 Rebecca Librian 220 Albert Yana Pasaribu 221 Oliver Reinhard Pasaribu 222 Tika Agustina 223 Agus Tuerah 224 Marita 225 Widodo H.S 226 Grace Mailissa Josephine Mangindaan 227 Sulastri 228 Sri Sudarmi 229 Mujina 230 Immanuel Octavianus 231 Rosmina Sianipar

Bilamana saudara tidak memberitahukan kepada kami di mana saudara berada dalam waktu 3 bulan sejak terbitnya majalah ini, maka kami menganggap saudara telah menjadi anggota di mana saudara berada sekarang, dan setelah itu maka saudara tidak lagi menjadi anggota di Jemaat Rawamangun. Untuk konfirmasi sehubungan dengan keberadaan saudara dapat menghubungi kami di nomor berikut ini: 1. Pdt. Palmen Sinaga (Gembala Jemaat) 0813-1086-0097, 0817-4926-268. 2. F. Butarbutar (Ketua Jemaat): 0812-8424-6532. 3. Nancy Sihotang (Sekretaris Jemaat): 0811-946-885. Atas perhatian dari saudara-saudara, kami mengucapkan terima kasih.

38

02 - 2018 AdventistWorld.org


WARTA

GEREJA ADVENT

“Lihatlah, Aku Datang Segera”

"Iman yang Menyelamatkan" KKR Cerlebration Wilayah 7 Jemaat Jatinegara

K

ebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Celebration Wilayah 7 dengan tema: "Iman yang Menyelamatkan" dan sebagai pengkhotbah tunggal yaitu Pdt. Dr. S. Tjakrapawira (Direktur SS/PP & ASI GMAHK Uni Indonesia Kawasan Barat) berlangsung di Jemaat Kayu Putih pada Rabu 18—20 Oktober 2017. Melalui KKR ini Jemaat Jatinegara menuai 4 jiwa yang dibaptis oleh Pdt. M.F. Sinurat, Gembala Jemaat Jatinegara pada Sabat 28 Oktober 2017. Mereka yang dibaptis adalah Jacqueline Stevina Hursina (anggota care group camp 160 Kp.Melayu), Jocline Elisabeth Massie (anggota care group SD/SMP Advent Jatinegara), David Sihaloho (anggota care group Jemaat Jatinegara), dan Hotman Harefa (anggota care group Jemaat Jatinegara). Dengan adanya acara KKR sebanyak dua kali sepanjang tahun 2017 ini Jemaat Jatinegara telah membaptis sebanyak 10 jiwa sesuai dengan target dari Konferens DKI Jakarta dan sekitarnya pada rapat kerja awal tahun 2017 yang lalu. Kebaktian Kebangunan Rohani yang pertama adalah KKR Celebration dengan tema: "Menemukan Kepastian di Tengah Krisis" dan sebagai pembicara adalah Pdt. Melvin Malau, Direktur Adventist Mission GMAHK Konferens DKI Jakarta dan dilaksanakan di GOR Otista Jakarta Timur pada tanggal 3—5 Mei 2017 dan yang kedua adalah KKR Celebration Wilayah 7 dengan tema "Iman yang Menyelamatkan" dan sebagai pembicara yaitu Pdt. Dr. S.Tjakrapawira, Direktur SS/PP & ASI GMAHK Uni Indonesia Kawasan Barat, pada tanggal 18—20 Oktober 2017 di GMAHK Jemaat Jatinegara.

—Dilaporkan oleh Lasman Simajuntak, Ketua Jemaat GMAHK Jatinegara.

Misi kami adalah untuk meninggikan Yesus Kristus, mempersatukan umat Advent di mana saja dalam iman, misi, kehidupan, dan pengharapan.

Penerbit Indonesia Publishing House (anggota IKAPI Jawa Barat) Jalan Raya Cimindi 72 Bandung, 40184 Ketua Yayasan R. Situmorang Ketua Bidang Usaha S. Manueke Bendahara W. Purba Pemimpin Redaksi J. Pardede Redaksi Pelaksana dan Desain Isi Angky Tumbal Tim Redaksi S.P. Silalahi F. Parhusip F. Ngantung J. Wauran S.Susanto F. Manurung A. Siahaan Komunikasi Uni D. Panjaitan, Uni Indonesia Kawasan Barat H. Waworuntu, Uni Konferens Indonesia Kawasan Timur Komunikasi Konferens/Daerah/Wilayah M. Tambunan, Sumatera Kawasan Utara P. Hutapea, Sumatera Kawasan Tengah V. J. Sinaga, Sumatera Kawasan Selatan S. Simorangkir, DKI Jakarta dan Sekitarnya A. Naibaho, Jawa Kawasan Barat S. Simangunsong, Jawa Kawasan Tengah E. Sembiring, Jawa Kawasan Timur D. Kana Djo, Nusa Tenggara W. Tulong, Kalimantan Kawasan Timur B. Simanungkalit, Kalimantan Barat J. Tendean, Minahasa H. Wambrauw, Papua N. Lumoindong, Sulawesi Selatan Ch. Muaya, Sulawesi Tengah R. Pelafu, Nusa Utara D. Supit, Manado I. Lisupadang, Luwu Tana Toraja R. Frans, Minahasa Utara dan Kota Bitung T. Mayai, Papua Barat J. Frans, Bolaang Mongondow dan Gorontalo H. Ramba, Maluku Izin Departemen Penerangan RI No. 1167/SK Ditjen PPG/STT/1987 Alamat Redaksi Jalan Raya Cimindi 72 Bandung, 40184 Telp. (022) 6030392; Fax. (022) 6027784 Email: adventistworld_indonesia@yahoo.co.id Pemasaran Tlp/Fax: 022-86062842 Redaksi menerima naskah berita dan foto sesuai dengan misi majalah ini, maksimal 500 kata. Tim redaksi berhak mengubah tulisan tanpa mengubah isi dan maksud penulis. Berita akan dimuat bilamana dilengkapi dengan nama dan alamat pengirim yang jelas. Naskah tidak akan dikembalikan. Walaupun kami berusaha untuk memasukkan seluruh berita yang masuk, tetapi atas pertimbangan tim redaksi, ada kemungkinan tidak semua naskah berita yang masuk dapat dipublikasikan.

AdventistWorld.org 02 - 2018

39


ARTVNOW.COM

AW Bahasa - February 2018  
AW Bahasa - February 2018