Skip to main content

activated-basic-course-04_id

Page 1


berkobar

IKUTLAH AKU

Menjawab panggilan-Nya

Sebuah Kisah Kasih

Dipilih oleh Tuhan

Pahlawan Iman

Dengan segala

kekurangannya

Hati yang Bersukacita

Hidup penuh rasa syukur

Pelajaran Dasar Berkobar 4 • Hubungan dengan Tuhan

b erkobar

Dari Meja Redaksi

Ikutlah Aku

Ketika Yesus berkelana di seantero Palestina berbagi pesan-Nya tentang pengampunan dan kasih Allah, “Ikutlah Aku” adalah undangan yang seringkali ditawarkan-Nya. Sebagai contoh, pasal berikut di Injil Matius: Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.

Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia (Matius 4:18–22).

Yesus terus memanggil laki-laki dan perempuan di sepanjang pelayanan-Nya, dan bahkan setelah kebangkitan-Nya, “Ia berkata kepada Petrus: ‘Ikutlah Aku’” (Yohanes 21:19).

Apa artinya mengikut Yesus? Ini dimulai dengan hubungan kita dengan Yesus dan firman-Nya. Jika kita berdiam dalam firman-Nya dan membiarkan firman-Nya mempengaruhi pola pikir kita, maka kita akan berubah melalui pembaharuan akal budi (Roma 12:2).

Sementara orang-orang Kristen dewasa ini tidak bisa mengikut Yesus secara jasmani seperti yang dilakukan oleh murid-murid Yesus, Alkitab menjadikannya jelas bahwa mengikut Yesus termasuk menerapkan ajaran-Nya ke dalam hidup kita. Sebagaimana Yesus menyatakan: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8:31–32).

Kami berdoa agar Pelajaran Dasar Berkobar edisi kali ini dapat membimbing Anda untuk bertumbuh, menjadi lebih kuat, dan memperdalam hubungan Anda dengan Tuhan.

Untuk informasi lebih lanjut tentang Berkobar, kunjungi website atau kirim email.

Website: activated.org

Email: activated@activated.org

Indonesia: Email: h4m.hungry4more@gmail.com

© 2024 Activated. Hak Cipta dilindungi oleh Undang-undang.

Desain oleh Gentian Suçi.

Kita bisa memilih untuk menjadi anak-anak Allah, namun di dalam hati kita sangat jauh dari Allah. Sebaliknya, kita bisa memilih untuk memiliki kemitraan yang sangat dekat dengan Allah, di mana kita tahu apa yang dipikirkan-Nya, yang dipercayai-Nya, dan yang dilakukan-Nya serta apa yang penting bagi-Nya. Pada taraf keintiman seperti ini, kita juga mendapati seberapa besar keinginan-Nya untuk berada dekat dengan kita.—Theresa Dedmon

SEBUAH KISAH KASIH

Di Alkitab, Tuhan sering menggunakan metafora atau gambar kata untuk menggambarkan hubungan kita dengan-Nya; misalnya, gembala dan domba (Yohanes 10:7–15), ayah dan anak (2Korintus 6:18), pokok anggur dan ranting (Yohanes 15:1–5)— dan mempelai perempuan dan mempelai laki-laki (Yesaya 62:5).

Meskipun Alkitab terdiri dari 66 kitab, komentator sering mencatat bahwa ini sebenarnya adalah satu buku dengan tema yang konsisten. Itu adalah kisah kasih. Seperti setiap kisah kasih, yang satu ini memiliki awal, beberapa pasang surut, dan kesimpulan yang dramatis.

Kisah kasih ini benar-benar dimulai dari “pada mulanya” ketika Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan yang pertama. Tuhan merancang mereka persis sebagaimana yang diinginkan-Nya, meniup nafas kehidupan ke dalam mereka, kemudian mengagumi hasil karya-Nya: “Semuanya itu baik!”

Sayangnya, laki-laki dan perempuan pertama itu memilih untuk menolak tawaran Tuhan untuk hubungan yang kekal, yang sempurna, dan yang intim dengan-Nya serta memilih untuk menyimpang ke dalam keegoisan dan dosa. Tanpa Tuhan, manusia yang diciptakan untuk menikmati keintiman dengan-Nya akan mengalami kesepian, amarah, dan kesakitan. Di sepanjang milenia, kita telah mencoba

segala sesuatu untuk memulihkan kepuasan yang berasal dari keintiman yang hilang itu, tetapi tidak ada yang bisa memuaskan.

Pada akhirnya, meskipun kitalah yang berpaling dari Tuhan, Dialah yang memulai rekonsiliasi. Dalam kasihNya, Dia tahu bahwa hanya ada satu solusi. Terlepas dari harganya, Dia memilih untuk dengan rela mengirim AnakNya sendiri untuk memimpin jalan kembali kepada-Nya.

Apa artinya ini bagi kita? Artinya, Kristen bukan hanya agama, atau sekumpulan aturan belaka. Kekristenan adalah sebuah hubungan—dan bukan sembarang hubungan, melainkan yang diibaratkan oleh Alkitab sebagai perkawinan, di mana dimaksudkan terdapat keintiman, transparensi, komunikasi terbuka, dan berbagi pengharapan dan hasrat hati. Alkitab mengatakan, “Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam nama-Nya” (Yesaya 54:5), dan bahwa kita “menjadi satu dengan yang lain, yaitu dengan Dia, yang sudah dibangkitkan dari antara orang mati, supaya kita mengeluarkan buah-buahan bagi Allah” (Roman 7:4 Terjemahan lama).

Ronan Keane adalah editor eksekutif dari majalah Activated dari tahun 2013–2023. ■

Oleh Ronan Keane

CARILAAH DAHULU KERAJAAN-NYA

Ketika Yesus mempersiapkan murid-murid-Nya menghadapi kematian-Nya yang sudah dekat, Dia meyakinkan mereka dengan kata-kata ini: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Pada waktu Anda mengundang Yesus masuk ke dalam hidup Anda, Dia masuk ke dalam hati rohani Anda dan berdiam di sana. Kasih yang luar biasa! Tidak mengherankan Rasul Yohanes menulis bahwa “kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1Yohanes 4:19 ).

Namun sayangnya, bagi beberapa orang Kristen seiring dengan berjalannya waktu hubungan itu menjadi rutinitas dan formalitas. Mereka lupa betapa banyak yang telah Tuhan lakukan bagi mereka, dan cinta indah pertama yang mereka miliki terhadap-Nya perlahan-lahan memudar. Mereka lalai menjadikan hubungan mereka dengan Allah dan kerajaan-Nya sebagai prioritas utama, seperti yang Yesus ajarkan kepada para pengikut-Nya (Matius 6:33).

Yesus mengajarkan para pengikut-Nya pentingnya menghormati Allah terlebih dahulu dan terutama dalam kehidupan mereka. Yesus tahu bahwa kita tidak akan menjadi orang Kristen yang berkomitmen, kuat dan berbuah jika kita tidak menempatkan Dia sebagai pusat kehidupan kita.

Langkah-langkah praktis apa yang bisa kita ambil untuk bukan saja mengutamakan Yesus dalam hidup, namun juga menjaga agar Dia tetap di posisi itu? Itu dimulai dengan perjalanan kita sehari-hari bersama-Nya. Kita dapat menyerahkan hari kita, waktu kita, dan hidup kita kepada Tuhan dalam doa dan memohon kepada-Nya untuk membimbing kita dalam kehendak-Nya. Prinsip doa ini juga berlaku dalam pekerjaan kita sehari-hari. Ketika dihadapkan pada tenggat waktu yang mendesak, sering kali kita tergoda untuk menyingkirkan Tuhan dari kehidupan kita dan hanya berkonsentrasi pada pekerjaan kita. Namun menempatkan hubungan kita dengan Tuhan pada prioritas yang lebih rendah bukanlah solusinya.

Orang Kristen yang hebat menjadi hebat bukan hanya karena pelayanan mereka kepada Tuhan, namun juga karena kedekatan dan persekutuan mereka dengan-Nya. Semakin mereka bertumbuh dalam iman dan berjalan bersama Tuhan,

semakin mereka menjadi serupa

dengan Dia. Sayangnya, kesalahan umum yang kita lakukan sebagai orang Kristen adalah terlalu asyik dengan pekerjaan Tuhan sehingga kita mengabaikan Tuhan dari pekerjaan tersebut! Yesus berkata, “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5 ).

Kita tidak dapat melakukan pekerjaan Tuhan tanpa kuasa Tuhan, dan untuk menerima kuasa-Nya, kita harus meluangkan waktu bersama Tuhan. Kadang-kadang kita begitu sibuk melayani Dia, kita lupa untuk mengasihi Dia! Tuhan menghargai pelayanan yang kita berikan kepada-Nya dan Dia membutuhkannya, namun Dia menginginkan perhatian dan pemujaan kita serta juga komunikasi yang intim.

Mengabaikan persekutuan Anda dengan Raja dari segala raja dapat menjadi bencana bagi kehidupan rohani Anda dan hubungan Anda dengan Tuhan. Menempatkan Yesus sebagai yang pertama dalam hidup kita bukan hanya melibatkan pekerjaan-Nya dalam membagikan Injil kepada orang lain dan memimpin orang kepada-Nya, namun juga menempatkan Firman-Nya sebagai yang pertama dalam hidup kita. Faktanya, Alkitab mengatakan bahwa Yesus adalah Firman. “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yohanes 1:1,14). Firman Allah adalah makanan bagi jiwa, dan sangat penting untuk pertumbuhan rohani kita.

Kita juga mengutamakan Yesus dalam hidup kita melalui doa. Kita bisa melakukannya dengan meluangkan waktu berdoa

Hanya satu kehidupan, yang akan segera berlalu.

Hanya apa yang dilakukan untuk Kristus yang akan bertahan lama selalu. C. T. Studd (1860 – 1931)

setiap pagi untuk memulai hari dengan benar. Ketika baru bangun tidur, sebelum berbicara dengan siapa pun, berbicaralah kepada Yesus terlebih dahulu. Serahkan hari Anda kepada-Nya, serahkan semua kekuatiran Anda kepada-Nya, dan mintalah agar

Dia mengarahkan jalan Anda hari itu.

Luangkanlah waktu untuk membaca Firman-Nya di dalam Alkitab dan carilah bimbingan-Nya untuk memperkuat iman Anda hari itu. Kita semua membutuhkan firman Tuhan dan doa setiap hari untuk bersiap menghadapi apa pun yang mungkin kita hadapi dalam sehari. Di satu sisi, Yesus berkata, “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa,” tetapi di sisi lainnya, Alkitab mengatakan, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13). Kekuatan itu dimulai dengan mencari Allah melalui doa dan pembacaan Firman-Nya.

Apakah Yesus dan Firman-Nya serta doa berada pada perspektif yang benar dalam hidup Anda? Apakah Anda memberikan tempat yang utama bagi-Nya? Atau apakah Anda membiarkan hal-hal lainnya mengesampingkan Allah dan Firman-Nya sehingga berada pada posisi ke dua atau ke tiga? Pada setiap bidang hidup, kita dipanggil untuk menempatkan Allah terlebih dahulu dan menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya di dalam doa dan penyembahan (Filipi 4:6–7). Alkitab mengatakan kepada kita: “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1Tesalonika 5:16–18).

Yesus berkata, “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.” Kemudian Ia melanjutkan: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:31–33). “Carilah dahulu” artinya menempatkan Allah dan kerajaan-Nya dahulu dan terutama di dalam hidup Anda, melebihi segala-galanya.

Anda tidak akan pernah rugi dengan mencari dahulu kerajaan Allah!■

BERKOMUNIKASI DENGAN

TUHAN DALAM DOA

Doa adalah komponen kunci dalam hubungan kita dengan Tuhan, karena doa adalah sarana komunikasi utama kita dengan-Nya. Melalui doa kita dapat berkomunikasi dengan Pencipta kita.

Sebagai orang Kristen, kita telah diberikan hak istimewa yang luar biasa untuk datang ke hadirat Allah sebagai anak-anak-Nya, karena keselamatan yang diberikan melalui Yesus. Kita dapat berbicara dengan-Nya, memuji, menyembah, dan memuja-Nya, menyatakan kasih kita kepada-Nya, dan bersyukur kepada-Nya atas semua yang telah dan terus dilakukan-Nya bagi kita. Kita dapat secara terbuka membagikan apa yang ada di hati kita kepada-Nya, dan mengungkapkan permasalahan dan kebutuhan kita. Kita dapat menjadi perantara bagi orang lain pada saat mereka membutuhkan. Kita dapat membawa permintaan kita kepada-Nya dan meminta pertolongan-Nya. Kita bisa menyampaikan kepada-Nya betapa kita menghargai hal-hal indah yang Dia ciptakan, dan mengucap syukur kepada-Nya atas banyaknya nikmat yang Dia curahkan kepada setiap dari kita.

Pada saat kita lemah dan letih, kita dapat membicarakannya dengan Tuhan. Ketika kita berbuat salah dan berdosa, kita bisa mengaku, memohon dan menerima pengampunan-Nya. Kita dapat berbicara dengan-Nya ketika kita gembira atau sedih, dalam keadaan sehat atau sakit, baik kita kaya atau miskin, karena kita mempunyai hubungan dengan Tuhan yang bukan hanya menciptakan kita, tetapi juga yang sangat mengasihi dan berkehendak untuk terlibat dalam setiap aspek kehidupan kita.

Doa adalah cara kita mengundang Tuhan untuk berpartisipasi dalam kehidupan kita sehari-hari, meminta Tuhan untuk terlibat secara langsung dan intim dengan

hal-hal yang penting bagi kita. Ketika kita memasuki hadirat-Nya dalam doa, kita meminta Tuhan untuk berperan serta secara aktif dalam hidup kita atau dalam hidup orang-orang yang kita doakan. Doa menyampaikan realitas situasi kita secara keseluruhan, bahwa kita membutuhkan Tuhan dan menginginkan kehadiran-Nya dalam hidup kita. Berkomunikasi dengan Tuhan dalam doa adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya, memperdalam hubungan kita.

Mengajar dari Injil tentang doa

Di sepanjang ke empat Injil, ketika Yesus berdoa, dengan konstan Ia berdoa kepada Bapa-Nya, dan mengajarkan murid-murid untuk melakukan hal yang sama. Melalui iman di dalam Yesus, kita telah menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Ketika kita berdoa, kita datang ke hadapan Bapa kita. Kita bisa memiliki koneksi yang intim dengan-Nya, seperti halnya dengan bapa kita yang di bumi.

Selain berdoa kepada Bapa dalam nama Yesus, sebagaimana Yesus menginstruksikan murid-murid-Nya, di Injil kita belajar bahwa doa hendaknya dipanjatkan kepada Yesus juga. “Dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya” (Yohanes 14:13–14).

Ketika Yesus mengajarkan tentang doa melalui perumpamaan, Ia membuat perbandingan tentang situasi seperti sahabat yang meminjam roti di malam hari (Lukas 11:5–8), atau hakim yang tidak takut akan Allah yang akhirnya mengabulkan permohonan perempuan itu (Lukas 18:1–8). Melalui contoh-contoh cerita ini, Yesus menegaskan bahwa jika sahabat atau hakim yang tidak takut akan Allah mengabulkan permohonan yang diajukan kepada mereka, terlebih

Oleh Peter Amsterdam

lagi Bapa kita di surga akan menjawab permohonan kita. Yesus menunjukkan bahwa kita dapat yakin doa kita akan selalu didengar oleh Bapa kita yang murah hati dan penuh kasih (Matius 7:9–11).

Dalam perumpamaan tentang pemungut cukai dan orang Farisi, Yesus berbicara tentang kerendahan hati dan pengakuan dalam doa (Lukas 18:10–14). Yesus mengajarkan bahwa doa-doa yang sombong dan megah yang menarik perhatian kepada diri sendiri harus dihindari; sebaliknya doa harus muncul dari hati dan motif yang tulus (Matius 6:5–6). Melalui teladan-Nya kita belajar berdoa dalam kesendirian (Lukas 6:12), agar berdoa dalam perasaan syukur (Yohanes 6:11), agar berdoa ketika harus mengambil keputusan, dan menjadi perantara dalam doa bagi orang lain (Yohanes 17:6–9).

Doa memainkan peran penting dalam kehidupan rohani kita, hubungan kita dengan Tuhan, pertumbuhan batin kita, dan efektivitas kita sebagai orang Kristen. Teladan Yesus dalam berdoa, melepaskan diri dari kesibukan hidup-Nya, meluangkan waktu sendirian dalam doa, menjadi perantara bagi orang lain dan memanjatkan doa yang efektif, menandai jalan bagi mereka yang ingin menapaki jejak-Nya.

Doa tidak dimaksudkan sebagai percakapan satu arah, di mana kita berbicara dan berekspektasi Tuhan yang mendengarkan. Pada saat berdoa, kita juga harus membuka diri untuk mendengar apa yang Tuhan ingin katakan kepada kita, melalui Alkitab, melalui apa yang dikatakan atau ditulis oleh para guru atau pengkhotbah yang saleh, atau dengan berdiam diri di hadapan-Nya dan membuka hati kita untuk mendengar suara-Nya berbicara kepada kita secara pribadi.

Tuhan dapat berbicara kepada kita melalui banyak cara: melalui kesan yang Dia berikan, pemikiran yang Dia masukkan ke dalam pikiran kita, melalui ayat-ayat Alkitab atau suara Roh-Nya yang berbicara ke dalam hati kita. Doa adalah komunikasi, dan komunikasi adalah jalan dua arah. Jadi selain meminta Tuhan mendengarkan apa yang kita katakan kepada-Nya, kita juga harus memberi Dia kesempatan untuk berbicara kepada kita.

Doa adalah cara kita berkomunikasi dengan Tuhan, untuk masuk dan tinggal di dalam hadirat-Nya. Saat kita naik ke pangkuan Bapa Surgawi kita, sebagai anak-anak-Nya, kita bisa meminta apa pun kepada-Nya, kita bisa mempercayakan segalanya kepada-Nya. Kita bisa merasakan kasih-Nya bagi kita, jaminan-Nya, kepedulian-Nya.

Peter Amsterdam dan istrinya, Maria Fontaine, adalah pemimpin dari the Family International, sebuah komunitas beriman Kristen. ■

CONTOH DOA: BAPA KAMI

Oleh Ronan Keane

Alkitab mencatat banyak contoh di mana

Yesus berdoa. Terkadang Yesus berdoa sepanjang malam (Lukas 6:12). Di lain waktu Yesus bangun sebelum fajar untuk berdoa sendirian (Markus 1:35).

Kadang-kadang Dia berdoa di depan para pengikut-Nya sebagai teladan bagi mereka (Yohanes 11:41–42).

Yesus berdoa untuk murid-murid-Nya dan untuk kita semua yang mau datang kepada-Nya di sepanjang zaman (Yohanes 17:21–22). Dia memanjatkan doa pujian dan ucapan syukur kepada Bapa-Nya (Lukas 10:21). Yesus juga berdoa pada saat kesedihan dan kesulitan pribadi menimpa (Lukas 22:41–44).

Pada suatu hari, murid-murid Yesus meminta-Nya untuk mengajarkan mereka berdoa, jadi Yesus mengajarkan mereka doa sederhana yang telah menjadi teladan bagi banyak orang Kristen sejak saat itu.

Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.

Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.

Matius 6:9–13 ■

PRIORITAS

Jika Anda tahu bahwa hari ini adalah hari terakhir, berapa banyak waktu yang akan Anda habiskan untuk hal-hal yang tidak berarti bagi kehidupan kekal? Setiap menit berarti dan Anda akan memilih menghabiskannya untuk apa yang paling penting.

Anda pasti ingin mencintai orang yang dekat dengan Anda, dan memastikan mereka tahu betapa berartinya mereka bagi Anda. Jika Anda pernah menghadapi kematian atau pernah bersama orang yang Anda kasihi karena penyakit yang mengancam nyawa dan melihat prioritas mereka kembali selaras, kemungkinan besar Anda pernah mengalaminya secara langsung. Segalanya menjadi sangat jelas pada saat-saat itu. Anda menyadari bahwa kasih adalah hal yang paling penting—mengasihi Tuhan dengan segenap pikiran, hati, dan jiwa, serta mengasihi sesama (Matius 22:37–39).

Pada saat suka dan duka, kebahagiaan dan sukacita yang dapat diberikan oleh Yesus jauh melampaui segala sesuatu yang dapat ditawarkan dunia. Penggenapan, damai, kasih, kepuasan, pengetahuan, kebenaran—dunia tidak mungkin dapat bersaing dengan-Nya dalam bidang-bidang tersebut. Alkitab mengatakan, “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya” (1Yohanes 2:15–17).

Dibutuhkan disiplin pikiran dan tubuh untuk belajar menghargai hal-hal yang kekal dari Tuhan di atas kesenangan sesaat yang ditawarkan dunia. Tidak ada sesuatu apa pun yang ditawarkan kehidupan sementara ini yang benar-benar dapat memuaskan hasrat terdalam jiwa. Hanya Yesus yang benar-benar dapat memuaskan. Dia adalah “jalan, kebenaran dan hidup (Yohanes 14:6).

Maria Fontaine dan suaminya, Peter Amsterdam, adalah pemimpin dari the Family International, sebuah komunitas beriman kristen. ■

PETUNJUK BERDOA

Berdoalah dalam iman.

Panjatkanlah puji-pujian dan ucapan syukur kepada Tuhan sebelum menyampaikan permohonan kepada-Nya.

Mazmur 95:2: Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.

Mazmur 100:4: Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!

Filipi 4:6: Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

Markus 11:24: Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.

Roma 4:21 : Dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan .

Ibrani 11:6: Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

Berdoalah di dalam nama Yesus.

Yohanes 14:13–14: Dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.

Yohanes 16:23: Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.

Bawalah segala kebutuhan Anda kepada Tuhan di dalam doa.

Matius 7:7–8: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.

Matius 21:22: Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.

Yohanes 16:24: Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

Yohanes 15:16: Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.

Berdoalah sesuai dengan kehendak-Nya.

Mazmur 143:10 : Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku di tanah yang rata!

Matius 6:10: datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.

1Yohanes 5:14–15: Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya. ■

PENUNDAAN TUHAN BUKAN PENOLAKAN

Kita semua pernah mengalami kekecewaan

saat urusan tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita, dan kalau kita berdoa untuk hasil tertentu tetapi tidak terjadi, kita malah kecewa dua kali lipat—pertama karena kita tidak menerima apa yang kita minta, dan kedua karena sepertinya Tuhan telah mengecewakan kita.

Bahkan ketika ada alasan yang jelas dan logis mengapa sesuatu tidak berjalan sesuai harapan dan doa kita, kita tergoda untuk bertanya-tanya mengapa Tuhan tidak mewujudkannya. Lagi pula, jika Dia Tuhan, Dia dapat melakukan apa saja, dan jika Dia mengasihi kita seperti yang dikatakan Alkitab, mengapa kita tidak menerima jawaban atas doa kita? Pada saat-saat seperti itu, mudah untuk menyalahkan Tuhan karena tidak menjawab doa seperti yang kita harapkan.

Hal pertama yang perlu diingat adalah bahwa Tuhan tidak pernah gagal melakukan yang terbaik bagi setiap orang terkait, dan Dia tidak pernah mengingkari janji-janji yang telah Dia berikan dalam Alkitab. Di sisi lain, kita terkadang bisa gagal. Selain itu, karena Dia memberi kita kehendak bebas, Tuhan sering kali terbatas dalam cara-Nya menjawab doa-doa kita melalui pilihan yang kita atau orang lain buat.

Tuhan selalu menjawab doa kita, tetapi tidak selalu langsung atau sesuai dengan harapan kita. Terkadang Dia berkata ya, terkadang Dia berkata tidak, dan terkadang Dia berkata tunggu. Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi proses tersebut, termasuk Anda dan situasi Anda, Tuhan dan kehendak-Nya, serta situasi orang lain yang terkait.

Ketika kondisinya tepat untuk hasil yang menurut Tuhan adalah yang terbaik, Dia akan menjawab sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya yang sempurna. Jadi, jangan pernah ragu sedikit pun bahwa Tuhan akan menjawab. Percayalah kepada-Nya dan bersyukurlah kepada-Nya atas jawaban itu—bahkan jika Anda tidak langsung melihatnya!

♦

Fungsi doa bukanlah untuk mempengaruhi Tuhan, melainkan untuk merubah sifat orang yang berdoa.

Søren Kierkegaard (1813–1855), pengarang dan filsuf dari Denmark

♦

Saya berdoa sebab saya tidak bisa menolong diri saya sendiri. Saya berdoa sebab kebutuhan untuk berdoa terus menerus mengalir, selagi terjaga dan selagi tertidur. Berdoa tidak merubah Tuhan. Itu merubah saya.

C. S. Lewis (1898–1963), Penulis dan teolog awam bangsa Inggris

♦

Kita menganggap doa sebagai persiapan untuk pekerjaan, atau ketenangan setelah menyelesaikan pekerjaan, padahal doa adalah pekerjaan yang sangat diperlukan.—Oswald Chambers (1874–1917), penginjil dan pengarang bangsa Skotlandia

♦

Sebelum kita bisa berdoa, “Tuhan, datanglah Kerajaan-MU,” kita harus bersedia untuk berdoa, “Beranjaklah kerajaanku.”—Alan Redpath (1907–1989), penginjil dan pengarang bangsa Inggris ■

IMAN SEKARANG DAN SELAMALAMANYA

Kita bisa menjalankan hidup dan melewatkan beberapa hal yang Tuhan coba ajarkan jika kita tidak dengan sadar berusaha untuk belajar dari Tuhan. Ada hal-hal yang jelas, tetapi ada yang tidak, dan kita dapat kehilangan artinya jika kita tidak bertanya kepada-Nya atau tidak membuka mata kita terhadap apa yang Dia coba tunjukkan melalui pengalaman kita.

Saat kita menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan dan berdoa tentang hal itu sebelumnya, Dia dapat membimbing kita dan memberi hikmat-Nya, yang untuknya Dia telah berjanji akan memberi dengan murah hati kepada mereka yang meminta dengan iman (Yakobus 1:5). Namun sama pentingnya untuk berdoa setelahnya tentang hasil dari doa tersebut, terutama ketika segala sesuatu tidak berjalan seperti yang kita harapkan atau inginkan. Jika kita meluangkan waktu untuk berpikir dan berdoa tentang hal itu, Tuhan dapat menolong kita belajar dari setiap pengalaman.

Cara Yesus bekerja dalam hidup kita dan cara Dia memilih untuk melakukan sesuatu sering kali berada di luar pemahaman kita. Kita harus selalu mengingatkan diri kita sendiri bahwa Dia tahu yang terbaik, bahwa Dia melakukan segala sesuatu dengan baik, dan bahwa prioritas-Nya sering kali berbeda dan lebih berjangka panjang dan merupakan “gambaran keseluruhan” daripada prioritas kita.

Bahkan dengan janji-janji-Nya yang luar biasa—janjijanji seperti, “Apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu” (Yohanes 15:16), “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Matius 7:7), dan “sekiranya kamu mempunyai iman, takkan ada yang mustahil bagimu” (Matius 17:20)— kita harus ingat bahwa kita bukanlah orang yang memiliki pandangan menyeluruh tentang masa lalu, masa kini, masa depan, dan rencana utama untuk kekekalan. Pada akhirnya, kehendak Tuhanlah yang harus dilakukan. Tuhan yang memegang kendali, dan Dia tahu yang terbaik.

Kita dapat merasa terhibur dengan kenyataan bahwa setiap orang Kristen sepanjang masa harus belajar untuk menaruh kepercayaan kepada Tuhan dan cara-cara-Nya yang luar biasa ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai dengan harapan mereka. Ingatlah bahwa Yesus ingin menjadi Gembala pribadi Anda (Mazmur 23). Ketika Anda merasa sendirian, ketika Anda membutuhkan tempat untuk menangis, seseorang yang bisa memahami, sepatah kata simpatik dan dorongan semangat, Dia senantiasa ada.

Anda dapat datang kepada-Nya dan menerima bimbingan, dorongan, dan damai sejahtera-Nya. Ketika Dia berbicara ke dalam hati Anda melalui, suara-Nya yang bagaikan “bunyi angin sepoi-sepoi basa” (1Raja-raja 19:12 ) dan melalui Firman-Nya yang tertulis Anda akan lebih memahami-Nya, dan Anda akan menyadari lebih dari sebelumnya betapa Dia adalah sahabat yang dekat dan penuh perhatian.

Tuhan ingin memiliki hubungan pribadi dengan setiap dari kita, dan Dia ingin hubungan itu menjadi bagian yang paling dalam, paling berarti, paling memuaskan dan paling bermanfaat, paling alami dalam hidup kita. Dia ingin menambahkan dimensi baru yang indah dalam hidup kita dan semua yang kita lakukan—dimensi kehadiran-Nya yang penuh kasih.—Julie Vasquez ■

Oleh Maria Fontaine

PAHLAWAN IMAN: DENGAN SEGALA KEKURANGANNYA

Salah satu hal yang nampaknya unik bagi Alkitab adalah bagaimana “pahlawan iman”—tentunya dengan pengecualian Yesus—sama sekali bukan manusia yang sempurna. Sebagaimana pepatah berbunyi, pahlawan-pahlawan tersebut digambarkan “dengan segala kekurangannya.” Saya senang dengan sejarah, dan jika Anda membaca banyak sejarah kuno atau literatur, Anda akan terbiasa dengan bagaimana para pahlawan dianggap penting. Kesalahan mereka, jika ada, nampaknya sudah dihapus. Tetapi tidak demikian halnya dengan para pahlawan dari Alkitab. Secara pribadi, saya rasa pendekatan dengan segala kekurangannya memberikan Alkitab jauh lebih banyak kredibilitas.

Saya merasa berbesar semangat karena membaca tentang murid-murid Yesus yang paling akrab ketika Dia masih ada di bumi. Mari kita mulai

dengan Petrus. Secara tradisional Petrus dianggap sebagai pemimpin para rasul, Petrus mempunyai perbedaan yang tidak dapat diragukan yaitu karena menyangkal bahwa ia mengenal

Yesus pada malam ketika Yesus sangat membutuhkan dia sebab Yesus sedang diadili dan dijatuhi hukuman mati. Dan bukan hanya sekali tetapi tiga kali.

“Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: ‘Aku tidak kenal orang yang kamu sebut-sebut ini!’” (Markus 14:71 ). Mengutuk dan bersumpah pula? Kedengarannya bukan sesuatu yang dilakukan oleh orang kudus.

Yohanes menyebut dirinya dalam Injil sebagai “murid yang dikasihi

Yesus” (Yohanes 21:20), tetapi Markus mencatat peristiwa yang menempatkan Yohanes dan saudaranya, Yakobus, pada posisi yang tidak bagus:

“Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: ‘Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!’

Jawab-Nya kepada mereka: ‘Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?’ Lalu kata mereka: ‘Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu’” (Markus 10:35–37). Pada catatan Matius tentang peristiwa ini, dia menulis: “Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu” (Matius 20:20–24).

Ini bukan untuk pertama kalinya para murid itu bertengkar tentang siapa yang akan berada di tempat paling tinggi. “Kemudian tibalah Yesus dan muridmurid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: ‘Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?’ Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka” (Markus 9:33–34).

Lalu ada Matius si pemungut cukai. Pemungut cukai secara global dianggap sebagai bajingan. Pemerintahan Roma telah menerapkan sistem

O l e h P h i l l i p Ly nc h

Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orangorang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini… merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.—Ibrani 11:13–16

pemungutan cukai sebagai cara untuk menaikkan pajak dari daerah yang sudah ditaklukkan. Mereka melelang hak untuk memungut pajak di suatu daerah kepada orang yang memberikan penawaran paling tinggi, yang kemudian berjanji akan menyerahkan jumlah tersebut kepada bendahara negara setiap tahunnya.

Pada kenyataannya, para pemungut cukai ini bebas untuk menentukan berapa besar pajak yang dikenakan dan menyimpan kelebihannya untuk dirinya sendiri. Mereka pada dasarnya bisa memutuskan sesuai dengan kemauan mereka berapa besar pajak yang diinginkan. Sistem ini kejam sekali dan benar-benar tidak adil yang menekan orang miskin hingga menjadi melarat. Beberapa nama besar di Roma, seperti Brutus dan Kasius, rekan konspirator dalam rencana pembunuhan Caesar, dilaporkan merupakan pemilik kongsi tersebut—meskipun mereka menjalankannya melalui pihak ketiga, karena secara teknis, orang Romawi tidak diperbolehkan terlibat dalam bisnis yang menjijikkan seperti itu.

Jadi Matius adalah bagian dari usaha ilegal, mungkin bekerja sebagai subkontraktor. Dia bahkan tampaknya mempunyai tempat pilihan di salah satu

gerbang kota di mana ia bisa mengumpulkan cukai atas semua barang yang keluar dan masuk. Bagi orang-orang Yahudi yang saleh, transaksi keuangan dengan bangsa-bangsa lain bahkan membuat Matius secara ritual beraib. Matius bukanlah anggota terhormat dalam masyarakat Yahudi.

Dan para murid yang selebihnya?

Andreas, Tadeus, Filipus, dan Nataniel (alias Bartolomeus) hampir-hampir tidak disebutkan dalam ke empat kitab Injil, tetapi kita tahu tentang seorang murid lainnya—Simon—yang adalah mantan anggota dari pihak yang Zelot, partai revolusi yang keras dan berikrar untuk menjatuhkan penjajahan Roma dan pemerintahan bonekanya. Dan tentu saja, Tomas yang terkenal karena meragukan kebangkitan Yesus. Belum lagi ada Maria Magdalena, yang mempunyai reputasi sebagai pelacur sebelum Yesus mengusir tujuh roh

jahat daripadanya (Lukas 8:2)—namun di hadapan Maria Magdalena Yesus muncul untuk pertama kalinya setelah kebangkitan-Nya.

Dan bagaimana dengan pahlawan dari kitab Kisah Para Rasul? Paulus adalah orang Farisi yang bertobat, dengan kata-katanya sendiri, telah “tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya” (Galatia 1:13).

Tetapi murid-murid ini—orangorang biasa yang menjadi luar biasa karena iman dan kesetiaan mereka kepada Yesus—adalah beberapa pahlawan bagi saya. Mereka memberi inspirasi bagi saya, sebab meskipun dengan adanya kelemahan dan kekurangan mereka sebagai manusia, mereka setia terhadap panggilan Tuhan dan melakukan hal-hal yang luar biasa bagi Tuhan dan sesama manusia. Dan oleh karena anugerah Tuhan, kita juga bisa menjadi setia kepada-Nya dan kepada panggilan-Nya untuk hidup kita. Phillip Lynch adalah seorang penulis ekspatriat Selandia Baru yang tinggal di Atlantik Kanada. ■

Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya!—Mazmur 34:13,

HATI YANG BERSUKACITA

Sebagai pengikut Yesus, “bersyukur” hendaknya menjadi pengaturan standar kita dengan pertimbangan bahwa Yesus mati untuk menebus kita sehingga tidak untuk selama-lamanya kita terpisah dari Allah. Ini hendaknya menyebabkan langkah kita bersemangat dan hal-hal yang tidak begitu parah tersisihkan sebagai sesuatu yang tidak relevan. Namun saya cenderung menyerah kepada reaksi yang kurang bersyukur, karena, yah, kemacetan, kekacauan, stres, terlalu sedikit ini, terlalu banyak itu. Anda tentunya tahu. Namun, saya tahu bahwa dalam gambaran keseluruhan semua rincian harian sangat tidak penting, dan saya ingin memiliki sukacita di hati. Izinkan saya berbagi tiga bidang yang telah menjadi pusat konsentrasi saya agar bisa menjadi lebih positif dalam reaksi dan sisi pandang.

Bersyukur untuk hal-hal yang paling kecil. Saya belajar untuk memperhatikan hal-hal yang paling kecil yang membawa sukacita, dan daftarnya tidak ada habisnya: terbitnya matahari, terbenamnya matahari, secangkir kopi, udara pagi yang sejuk, gelak tawa anak-anak, tangan kuat suami saya, buku yang bagus, bantal saya, dst., dst. Saya mendapati bahwa mengingat serangkaian panjang sukacita-sukacita yang kecil dalam pikiran dapat membawa keajaiban karena menyerap dampak dari perkara-perkara yang lebih keras yang melanda kehidupan.

Jangan terikat pada hasil tertentu. Yang ini sulit! Ada saat di mana saya merasa sangat yakin bagaimana hasil akhirnya seharusnya, tetapi ada hal-hal yang tidak dapat saya kendalikan. Seringkali sulit bagi saya untuk mengatakan “Bagaimanapun hasilnya saya akan bersyukur,” karena siapa yang mau bersyukur atas diagnosis yang buruk atau lamaran kerja yang ditolak? Tetapi saya belajar bahwa rasa syukur tidak dimaksudkan untuk berdasarkan pada hasilnya, melainkan berdasarkan pada kenyataan bahwa Tuhan itu baik. Selalu. Bahkan ketika kebaikan-Nya melampaui pemahaman saya.

Ingatlah kebaikan Tuhan.

Untuk semua kekuatiran saya, untuk semua kecemasan, untuk semua perjalanan yang sulit, bukankah saya telah melaluinya dengan baik? Tak satu pun dari hal-hal yang berat itu menghancurkan saya. Saya belum pernah mencapai tempat di mana kasih Tuhan tidak dapat menemukan saya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Paulus: “Dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan” (Roma 5:4). Pada waktu saya berhenti untuk mengingat kebaikan Tuhan, hati saya dipenuhi dengan kebenaran itu dan sisi pandang saya sekali lagi menjadi penuh dengan rasa syukur.

Marie Alvero adalah mantan misionaris di Afrika dan Mexico. Kini bermukim bersama suami dan anak-anaknya di Central Texas, AS. ■

Oleh Marie Alvero

HUBUNGAN ERAT MELALUI IBADAH

Pada waktu kita merenungkan kebaikan Tuhan, kebaikan-Nya akan melingkupi kita dan meresapi pikiran serta sikap kita. Ketika kita mempunyai pikiran-pikiran yang penuh iman dan mengucapkan kata-kata yang penuh iman, kita menjadi lebih selaras dengan Tuhan dan kehendak serta tujuan-Nya bagi kita. Ketika kita memuji dan menyembah Tuhan, kita akan semakin dekat dengan-Nya.

Melalui hubungan erat dengan Tuhan, kita memperoleh pemahaman dan perspektif tentang tangan-Nya dalam hidup kita. Ibadah menempatkan kita pada gelombang yang sama dengan-Nya. Pujian menyegarkan iman kita; pujian mendorong kita untuk melihat melampaui keadaan kita saat ini dan sebaliknya berfokus pada pemenuhan janji-janji Tuhan sebagai jawaban atas doa-doa kita. Rasa syukur merubah masa-masa sulit menjadi masa-masa kemenangan. Pujian mengingatkan kita bahwa bersama Tuhan, segala sesuatu mungkin (Markus 10:27).

Doa untuk Hari ini

DOA HUBUNGAN ERAT

Semakin banyak Anda memuji Tuhan dan mengungkapkan kasih Anda kepada-Nya, semakin banyak alasan yang akan Anda temukan untuk memuji-Nya. Semakin banyak Anda menyembah Tuhan, kata-kata atau pujian Anda kepada-Nya akan mengalir semakin alami. Kita dapat memuji Bapa surgawi kita atas semua hal indah yang telah Dia lakukan bagi kita di masa lalu dan akan Dia lakukan bagi kita di masa depan. Alkitab berkata, “Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya” (Mazmur 150:6).

Yesus, tolonglah tanam di dalam diri kami keinginan untuk mengejar Engkau dan hubungan erat dengan-Mu. Tolonglah kami untuk bertekun dalam hubungan kami dengan-Mu. Tolonglah kami agar tidak terlalu terpaku dalam pekerjaan kami dan keseharian kami sehingga mengabaikan yang paling penting—hubungan kami dengan-Mu.

Semoga kami semakin dekat dengan-Mu. ■

Ya Tuhan Allahku, pendamping yang tak terpisahkan—tidak ada sesuatu apa pun yang dapat memisahkan cabangku dari pokok anggur-Mu (Yohanes 15:5). Entah aku merasa Engkau dekat atau tidak, Engkau senantiasa menyertai aku. Terima kasih Yesus karena Engkau bukan Allah yang nun jauh di sana. Engkau berada di sisiku, di dalam diriku, di sekitarku, dan menopang aku.

Tolonglah aku untuk terus menyadari kehadiran-Mu. Alangkah luar biasanya mengetahui bahwa aku bisa berkomunikasi dengan-Mu!—Bukan saja hanya untuk memuji-Mu, atau meminta pertolongan-Mu, atau mendengarkan bisikan-Mu di dalam hatiku, tetapi juga untuk bercakap-cakap dengan-Mu layaknya sahabat karib. Aku bisa bertanya, mengekspresikan perasaanku, dan singkatnya, aku bisa berbagi hidupku dengan-Mu.

Terima kasih Yesus karena aku tidak harus bekerja untuk memperoleh kasih-Mu. Terima kasih Yesus karena kasih-Mu adalah pemberian cuma-cuma dan Engkau tidak mendasari kasih-Mu bagiku oleh karena keadaan, kondisi, dan peristiwa. Engkau mengasihi aku bahkan sebelum aku mengasihi-Mu (1Yohanes 4:19). ■

Oleh Maria Fontaine

KEHADIRAN TUHAN

Bahkan jika kamu kehilangan seluruh dunia tetapi masih berpegang pada imanmu, maka pada akhirnya kamu tidak kehilangan apa-apa. Jika kamu punya iman, tidak ada ketinggian yang tidak terukur, tidak ada sungai yang tidak dapat diseberangi, tidak ada tembok yang tidak dapat ditembus, dan tidak ada tsunami depresi ekonomi yang dapat menarikmu atau memisahkanmu dari kasih-Ku (Roma 8:38–39).

Iman adalah mata uang dari dunia yang tidak terlihat. Nilai tukarnya tidak terpaku pada fluktuasi ekonomi atau “koreksi” pasar saham. Nilai intrinsik iman tidak terukur. Iman dapat merubah keadaan, kondisi, dan pandangan hidup kamu. Iman tidak hilang dalam resesi, pandemi, bencana alam, kecelakaan, atau bencana lainnya. Iman dapat mengangkat kamu keluar dari krisis, utang, atau kerugian apa pun, bahkan akibat perbuatanmu sendiri.

Kamu bisa menempatkan imanmu dengan aman di dalam Aku, karena Aku tidak akan pernah mengecewakan kamu. Bahkan ketika kamu menghadapi kemunduran atau tantangan yang tampaknya tidak dapat diatasi, Aku dapat menutupi semua kerugian dan bahkan membawa kebaikan dari apa yang nampaknya seperti kekalahan. Aku sangat mengasihimu sehingga Aku telah berjanji bahwa kamu akan menerima apa pun yang kamu minta—selama itu baik untukmu dan sesuai dengan kehendak dan rencana-Ku—jika kamu meminta kepada-Ku dengan iman.

Jika kamu ingin mengalami damai sejahtera dan stabilitas batin yang hanya bisa kamu peroleh dari Aku, mintalah dan kamu akan menerima sehingga sukacitamu akan menjadi penuh (Yohanes 16:24).

Teriring Kasih dari Yesus

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
activated-basic-course-04_id by Activated - Issuu