CSII Community Seniors Involved International
DAFTAR ISI 1 Pengertian CSII & partner. 2 Tim. 3 Mind Battle “Sidabrinis protas”. 5 “Muzika jungianti kartas” Konser Harmonis kolaborasi orang tua dengan anak muda. 7 Bridging The Generation Gap. 8 Konferensi Peneliti Muda: “Connections: Apa yang bisa kita kerjakan bersama ?. 10 Lindy Hop "Tarian Pemersatu Lintas Generasi Selama Beberapa Dekade". 12 Mutual Mentoring Programme. 16 Menjalani Masa Senja Yang Produktif. 18 Konferensi CSII. 20 Belajar Batik dari Sesepuh, Mengajak Anak Muda Melestarikan Budaya Leluhur. 22 Recall The Past. 25 Program Latihan OTAGO di Bali: Berinteraksi dan Berbagi Senyum Antargenerasi. 27 Dialog antargenerasi : Menjalani Hidup Dengan Seni. 31 Berbincang dengan lelaki penuh passion. 33 Pelatihan Program CSII: Minggu yang Membahagiakan di Filipina. 36 Lokakarya CSII. Anak Muda Belajar Bersama Senior. 39 Apa yang aku pelajari dari silaturahmi Idul Fitri bersama Senior. 41 Melestarikan Sate Lilit sebagai Hidangan Lokal, sebagai Penghubung Antargenerasi 43 Belajar Mejejaitan Pererat Komunikasi Antargenerasi di Banjar Prapat. 45 Belajar Berorganisasi Lintas Generasi. 47 Bepergian ke Luar Negeri melalui Virtual Reality. 49 Belajar dari Pembelajar Seumur Hidup. 52 Menuju Hubungan Pemuda dan Senior yang Lebih Baik.
Tentang CSII (Community Seniors Involved International) CSII (Community Seniors Involved International) adalah sebuah proyek yang bertujuan untuk: Menciptakan program khusus dimana pemuda dapat melibatkan senior dalam kegiatannya, Meningkatkan peluang belajar antar generasi di negara-negara yang berpartisipasi, Meningkatkan empati, respek, dan tanggung jawab sosial pemuda kepada generasi yang lebih lanjut Lebih mengintegrasikan senior dengan kegiatan pemuda sehingga mereka memiliki rasa saling memiliki.
PARTNER Association Active Youth adalah organisasi untuk tujuan (LSM) yang bekerja dengan pemuda dan komunitas yang membutuhkan di Lituania dan lintas batas. Organisasi ini memiliki pengalaman mendalam dalam proyek lokal dan internasional (pemuda), bersama dengan jaringan kemitraan besar di seluruh Eropa (lebih dari 400 organisasi). Asosiasi “Active Youth” akan bertanggung jawab atas keseluruhan manajemen & implementasi proyek ini.
Universitas Pedagogis Negeri Tashkent dinamai Nizami adalah satusatunya lembaga pendidikan formal dalam konsorsium. Oleh karena itu, keahlian mereka di bidang ini digunakan untuk melengkapi materi pembelajaran proyek. Ini juga memiliki jaringan besar siswa & mitra internasional, yang memungkinkannya berkontribusi untuk diseminasi & eksploitasi hasil proyek.
Act Global adalah organisasi internasional yang didirikan pada tahun 2012, yang kegiatannya berfokus pada tiga bidang tematik: pemberdayaan pemuda, pengentasan kemiskinan, dan kohesi sosial. Organisasi ini mengembangkan dan memberikan proyek-proyek internasional untuk kaum muda dan organisasi pemuda, sementara juga bekerja sama dengan berbagai mitra dan aktif menawarkan aktifitas dan pembelajaran untuk publik.
Bridging The Gaps Organization adalah organisasi non-pemerintah, non-profit, dipimpin oleh pemuda dan melayani pemuda yang berfokus pada peran utama pemuda dalam memobilisasi komunitas yang terpinggirkan. Kegiatan organisasi fokus pada empat pilar tematik, yaitu: pendidikan; ketahanan lingkungan; keuangan mikro dan kewirausahaan; budaya, dan warisan.
1
TIM
DIREKTUR ACT GLOBAL INDONESIA Siti Nooraini KETUA PROGRAM Trianingsih EDITOR Nevy Widya Pangestika CO-EDITOR Chika Mega Kusuma Wardani W. PELAKSANA KEGIATAN CSII Tim Act Global, Indonesia Tim Association Active Youth, Lithuania Tim Bridging the Gaps, Filipina Tim Universitas Pedagogis Negeri Tashkent, Uzbekistan PELAKSANA & PENULIS KEGIATAN LOKAL DI INDONESIA Nevy Widya Pangestika, Chika Mega Kusuma Wardani W., Kurnia Wardhani M.H, Asa Onsai Rotua Sitohang, Nataria Miracle, Ni Nyoman Ayu Mellynia Putri, Ni Wayan Kariasih, Ni Putu Mia Puriyanti, Gede Martha, Dimas Fadhilah Aprilian Santosa KOREKTOR Kurnia Wardhani M.H., Ni Nyoman Ayu Mellynia Putri, Dimas Fadhilah Aprilian Santosa, Gede Martha
IMAGE COURTESY Active Youth Organization, BTG (Bridging the Gaps) Philippines, TPSUN, Nevy Widya Pangestika, Chika Mega Kusuma Wardani W., Kurnia Wardhani M.H, Asa Onsai Rotua Sitohang, Nataria Miracle, Ni Nyoman Ayu Mellynia Putri, Ni Wayan Kariasih, Ni Putu Mia Puriyanti, Gede Martha, Dimas Fadhilah Aprilian Santosa.
2
CSII
Selasa, 22 Juni, organisasi kami, bersama dengan “Senjorų pasaulis”, mengundang semua orang, tua dan muda, kakeknenek dan cucu mereka, untuk bergabung dalam permainan "Sidabrinis protas".
MIND BATTLE “SIDABRINIS PROTAS”
Sebagai bagian dari program “Community Seniors Involved International” (CSII), yang berupaya melibatkan berbagai generasi dalam kegiatan bersama yang inklusif. Permainan dalam program CSII ini bertujuan untuk mendorong komunikasi antara generasi yang berbeda, bertukar pengalaman hidup mereka, dan tidak takut untuk belajar satu sama lain.
BERAKHIR MENEGANGKAN ANTARA TIGA TIM
Karena adanya pembatasan karantina, "Sidabrinis protas" diadakan di platform "Zoom". Delapan tim dari generasi yang berbeda bertanding satu sama lain – kakek-nenek dengan cucu mereka, orang tua dengan anak-anak, teman dan pasangan.
3
CSII
MIND BATTLE
Pertandingan menegangkan antar tim berlangsung hingga larut malam, namun tak mudah diakhiri. Tiga tim – “Nežiniukai”, “Victorem” dan “Vakarinė saulės laya” – mencetak jumlah poin yang sama, sehingga mereka harus saling berhadapan dan menjawab satu pertanyaan tambahan. Jawabannya harus diberikan tidak dengan cara yang biasa – menulis, tetapi secara lisan, seperti yang sering dikatakan di Lituania – semakin cepat, semakin bijaksana. Tim tiga generasi "Victorem", yang namanya bahkan meramalkan kesuksesan dalam permainan, menjadi yang tercepat dan paling bijaksana dalam pertandingan malam itu. Para pemenang menerima hadiah utama acara – voucher hadiah dari toko buku “Pegasas”. Agar pemenang kedua "Nežiniukai", yang hanya terdiri dari dua anggota, cucu Emiliukas dan neneknya, tidak akan terlalu kecewa karena organisasi "Senjorų pasaulis" mengejutkan mereka dengan mempersembahkan buku "Fizikos terminų odynas". “Sidabrinis protas” merupakan salah satu bagian dari festival “Young Spirit” yang harus menunjukkan kepada masyarakat bahwa para senior itu mau dan mampu untuk mengikuti acara tersebut. Festival "Young Spirit" harus diadakan musim panas ini. Seperti yang bisa dilihat, sayangnya, karena situasi epidemiologis, festival langsung atau offline tidak dapat berlangsung, sehingga bagian-bagian penting darinya, termasuk "Sidabrinis protas", harus dipindahkan ke ruang virtual. 4
CSII
“MUZIKA JUNGIANTI KARTAS” KONSER HARMONIS KOLABORASI ORANG TUA DENGAN ANAK MUDA
Salah satu tujuan utama proyek kami “Community Senior Involved International” adalah untuk mengorganisir kegiatan yang akan menghubungkan generasi. Kegiatan-kegiatan ini akan melibatkan manula dan pemuda, yang mendorong agar saling bertukar pengalaman hidup, belajar dari satu sama lain, dan mengurangi kesenjangan antara anak muda dan orang dewasa. Salah satu kegiatan pemersatu tersebut adalah konser virtual “Muzika jungianti kartas”
Berlangsung pada tanggal 26 Mei. Asosiasi kami “Active Youth” serta organisasi “Senjorų pasaulis”, “Vilniaus Rotaract klubas” dan “Muzika visiems” berkontribusi pada penyelenggaraan dan pelaksanaan acara.
5
CSII
Konser tersebut disumbangkan oleh trio musik “Vitražai” dari organisasi “Muzika visiems”. Anggota Trio Gabrielė, Justas dan Ramnas mengundang semua orang untuk melakukan perjalanan melalui era musik, dimulai dengan klasikisme dan komposer terkenal Italia Luigi Boccherini. Acara musik menampilkan musik oleh komposer dari berbagai zaman yang dikenal pendengar: A. Piazzola, J. Strauss, L. Boccherini, C. Gardel, E. Di Capua, G. Faure. “Muzika jungianti kartas” adalah salah satu bagian dari festival “Young Spirit”. Acara ini harus diadakan secara langsung dengan band musik lokal, kelas tari untuk senior dan pemuda, pembicaraan inspirasional tentang penuaan dan penyebaran proyek. Namun yang terpenting, versi live dari festival “Young Spirit” harus menunjukkan kepada masyarakat bahwa para senior bersedia dan mampu untuk berpartisipasi dalam acara tersebut. Festival “Young Spirit” harus diadakan musim panas ini. Seperti yang bisa dilihat, sayangnya,
karena
situasi
epidemiologis,
festival
langsung
tidak
dapat
berlangsung, sehingga bagian-bagian penting darinya, termasuk konser "Muzika jungianti kartas", harus dipindahkan ke ruang virtual.
6
BRIDGING THE GENERATION GAP
Pernahkah kamu merasa bahwa orang yang lebih tua darimu sulit untuk
dipahami?
Mungkin
kamu
merasa
lebih
mudah
untuk
berhubungan dengan orang-orang yang umurnya tidak berbeda jauh denganmu daripada mereka yang lebih tua atau lebih muda darimu. Hal ini disebabkan oleh kesenjangan generasi. Naumn, bagaimanapun, menari bersama adalah cara terbaik untuk menjembatani kesenjangan generasi. Selama “Positive Aging Week”, kami menyelenggarakan kelas Zumba pertama kami. Just shake it until you make it! #BridgingTheGenerationGap
CSII
7
CSII
KONFERENSI PENELITI MUDA: “CONNECTIONS: APA YANG BISA KITA KERJAKAN BERSAMA? Studi kami adalah "Melibatkan lansia dan pemuda dalam pengembangan masyarakat" telah mengungkapkan situasi warga senior di Lithuania saat ini dan bagaimana cara melibatkan mereka dalam pengembangan masyarakat. Hasil penelitian dipresentasikan di Universitas Klaipeda pada bulan Oktober, selama konferensi ilmiah-praktis interdisipliner pada penelitian orang muda “Koneksi: Apa yang Dapat Kita Lakukan Bersama?” Konferensi ini bertujuan untuk mengembangkan wacana ilmiah interdisipliner pada penelitian orang muda dan untuk mengembangkan dialog antara peneliti, pemuda pembuat kebijakan dan praktisi pemuda. Sekitar seperlima dari warga negara Uni Eropa (UE) dianggap lanjut usia (berusia 65 tahun atau lebih). Banyak dari mereka merasa kesepian dan dipaksa untuk mengatasi masalah psikologis. Belum lagi, pertumbuhan populasi lanjut usia merupakan beban bagi sistem kesejahteraan. Dengan demikian, salah satu tantangan yang dihadapi UE saat ini adalah bagaimana beradaptasi dengan tren demografis ini. Kami melakukan penelitian di kalangan pemuda dan orang tua di Lithuania untuk mengidentifikasi: Mengadakan kegiatan terbaik yang melibatkan orang tua Masalah sosial yang paling akut berhubungan dengan pengecualian orang tua. Ide tentang bagaimana cara melibatkan orang tua dan pemuda.
8
CSII
Dalam penelitian ini kami bertujuan untuk mengembangkan program antargenerasi dan edukasi program yang berusaha untuk mengatasi mitos penuaan dan meningkatkan kontak antara pemuda dan orang tua sebagai cara untuk
meningkatkan
sikap
di
kalangan
pemuda
untuk
menjembatani
kesenjangan generasi. Jumlah orang tua yang terus bertambah di Lituania membutuhkan perubahan sosial, ekonomi dan budaya yang beragam yang sangat penting untuk mengamankan perkembangan negara secara bertahap. Secara umum, kegiatan inklusi sosial untuk mempertemukan pemuda dan orang tua di Lithuania dinilai sebagai hal yang positif. Namun karena jumlah masyarakat yang belum pernah mengikuti kegiatan tersebut cukup besar, maka tidak heran jika sebagian orang, baik tua maupun muda, sedikit skeptis terhadap kegiatan ini. Oleh karena itu, kegiatan pemuda-orang tua harus sangat dipromosikan dan tersedia untuk semua orang sehingga setiap orang memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam acara inklusi sosial dan baru setelah itu mereka bisa memutuskan apakah mereka ingin mencobanya lagi atau tidak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk menjembatani kesenjangan antara dua generasi perlu diselenggarakan berbagai kegiatan yang dapat menyatukan pemuda dan orang tua dan kedua kelompok yang berminat tinggi untuk mengambil bagian dalam kegiatan inklusi sosial yang menyatukan pemuda dan orang tua. Ketika diminta untuk menentukan jenis kegiatan pemuda-orang tua apa yang paling menarik, kaum muda dan orang tua memiliki pandangan yang sama. 3 kegiatan teratas di kedua kelompok usia adalah: 1. waktu luang (misalnya acara, konser, pameran, konferensi, dll.); 2. seni dan kerajinan (misalnya menggambar, melukis, kerajinan tangan, dll.); 3. kegiatan sukarelawan Oleh karena itu, salah satu tantangan penting yang perlu diangkat oleh Lituania adalah pelaksanaan reformasi struktural mendasar di tingkat sosial, pendidikan, budaya dan ekonomi sehingga kesenjangan antara orang tua dan pemuda bisa dijembatani, yang mengarah pada pengurangan pengecualian terhadap orang tua.
9
Lindy Hop
Tarian Pemersatu Lintas Generasi Selama Beberapa Dekade
Kamu mungkin pernah melihat tarian berputar atau ayunan di film-film lama, video atau tampil sebagai pertunjukan di suatu tempat. Semua gaya tarian ayunan tersebut adalah tarian Jazz dan 'swing' mengacu pada gaya musik Jazz yang disebut musik Swing. Di Era ‘Swing’ tersebut, orang-orang menari terutama tarian Lindy Hop. Lindy Hop adalah tarian Afrika-Amerika, yang berasal dari Harlem, New York City. Itu ditarikan pertama kali di Ballroom Savoy yang terkenal oleh penari Afrika-Amerika pada tahun 1928 dan ditarikan sepanjang tahun 1930-an dan 1940-an. Konon nama Lindy Hop terinspirasi oleh penerbang
Charles
Lindbergh
yang
'melompat' samudera Atlantik pada tahun 1927. Lindy Hop berevolusi dari banyak tarian yang berbeda, termasuk jazz, tap, breakaway dan Charleston pada tahun 1920-an. Lindy Hop menggunakan elemen dari
tarian
Afrika-Amerika
dan
tarian
pasangan Eropa.
10
CSII
APAKAH KAMU TAHU BAHWA SEMUA ORANG BISA MENARI LINDY HOP?
Lindy Hop berasal dari masa dimana ada banyak pemisahan antara orang kulit hitam dengan orang kulit putih dalam masyarakat Amerika. Savoy Ballroom merupakan salah satu dari beberapa Ballroom yang terbuka untuk orang dari berbagai warna kulit. Sebagai salah satu penari Lindy Hop paling terkenal, Frankie Manning mengatakannya di Savoy “tidak ada yang peduli apa warna kulit kalian, mereka semua melihat pada kakimu!” Saat ini, Lindy Hop ditarikan di seluruh dunia oleh penari muda maupun tua. Tarian tersebut dapat menjadi liar dan spontan, dengan tendangan dan gerakan tubuh yang gila, atau itu dapat menjadi tenang dan canggih. Itu menegaskan bahwa setiap kelompok umur dapat menarikan Lindy Hop. Acara Lindy Hope menunjukkan bahwa itu juga berhasil di Lithuania! Asosiasi kami Pemuda Aktif, mengundang semua orang untuk bertemu di dekat White Bridge Lawn dan menari tanpa batas. Acara dansa tersebut sebagian besar terdiri dari para senior. Acara Lindy Hop ini merupakan salah satu bagian dari proyek 'Pemuda Aktif' ‘Community Seniors Involved Internasional' yang bekerjasama dengan 'Inclusion for Healthy Generations' dan organisasi publik 'Senjorų pasaulis'. Proyek ini bertujuan untuk mengurangi pengucilan sosial dan kesenjangan antar generasi untuk menyatukan orang-orang dari segala usia, kebangsaan, jenis kelamin, bentuk fisik dan kemampuan bagi mereka untuk mendapatkan pengetahuan yang berguna tentang gaya hidup sehat dan bersenang-senang sambil melakukan aktivitas fisik.
11
MUTUAL MENTORING PROGRAMME Program kerjasama orang tua dan anak muda
Setiap generasi memiliki rangkaian pengalaman yang berbeda yang membentuk perilaku, karakteristik, nilai dan sudut pandang dalam pekerjaan dan gaya hidup mereka. Meskipun semua generasi berbeda, perbedaan ini seharusnya tidak menghentikan mereka untuk saling terhubung dan bekerja sama. Mutual Mentoring Programme menyatukan warga generasi muda dan warga lanjut usia, dengan memberi mereka kesempatan untuk saling membagikan pengetahuan dan sekaligus belajar dari satu sama lain. Mutual Mentoring Programme didasarkan pada gagasan bahwa belajar dan mengajar pada saat yang sama adalah cara terbaik untuk mengembangkan hubungan yang bermakna dan mengurangi kesenjangan antar generasi. Ini membantu mereka mengatasi batasan yang mungkin terjadi karena gaya hidup yang berbeda atau pemahaman mereka tentang dunia secara umum. Kita perlu menyadari bahwa cara terbaik untuk mendukung orang orang yang pensiun atau lanjut usia adalah dengan memungkinkan mereka untuk berbagi keterampilan, membuat hubungan atau koneksi baru, dan tetap aktif baik secara fisik dan mental. ini merupakan tujuan dari Mutual Mentoring Program.
12
CSII
APA ITU MUTUAL MENTORING PROGRAM ? MMP akan dilaksanakan di negara-negara mitra. Pendampingan bersama akan dilakukan dengan cara mencocokkan anak muda dengan orang tua. Pasangan yang cocok akan mengembangkan hubungan jangka panjang dan belajar dari satu sama lain. Platform CSII, serta sarana komunikasi online lainnya, akan digunakan antara pasangan yang cocok. Setiap generasi yang berpartisipasi akan dapat mengajarkan beberapa keterampilan yang mungkin tidak begitu umum di antara generasi lainnya. Program ini dapat dijelaskan sebagai alat untuk memfasilitasi hubungan baru dan mendiversifikasi keahlian. Untuk berpartisipasi dalam MMP kamu perlu : Ramah Cobalah untuk mengenal satu sama lain sebagai teman Sabar Butuh waktu untuk mengembangkan hubungan Terbuka Terbuka untuk ide-ide baru, bimbingan dan umpan balik karena itu penting untuk koneksi yang berharga Empati Cobalah untuk memahami dan menerima perspektif yang berbeda untuk membantumu mengembangkan persahabatan Mendorong Memberikan penguatan positif ketika pasanganmu
melakukan sesuatu dengan
benar atau membantu ketika hal-hal tidak berjalan sesuai rencana. Mendukung Ciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan sehingga pasanganmu tidak takut untuk bertanya Jujur Memberikan umpan balik agar pasangan merasa dipahami dan merasakan peningkatan melalui keseluruhan proses Kooperatif Bersedia membantu dan membantu satu sama lain ketika masalah muncul Dapat diakses Tersedia untuk bertemu pasanganmu setidaknya sekali seminggu selama beberapa bulan untuk merasakan kemajuan.
13
CSII
MANFAAT SALING MENTORING Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Mutual Mentorship memberikan berbagai manfaat bagi para pesertanya. Mereka akan diberi kesempatan untuk belajar tidak hanya keterampilan teknis baru (menggunakan gadget, membuat kerajinan), tetapi juga untuk meningkatkan keterampilan interpersonal mereka, seperti empati dan solidaritas. Proses ini menciptakan hubungan yang bermakna dan diakhiri dengan kepuasan baik bagi kaum muda maupun orang tua, baik tanggung jawab sosial kaum muda maupun rasa memiliki senior diharapkan meningkat. Pemuda tumbuh dengan teknologi dan dapat dengan mudah menggunakan semua gadget dan program baru. Mereka dapat berbagi pengetahuan tentang hal itu dengan warga lanjut usia yang teknologi barunya tidak begitu umum dan dapat sangat membantu di dunia yang berubah dengan cepat ini. Anak-anak muda memiliki pengalaman dalam menggunakan aplikasi, media sosial, berbagai komunikasi online dan platform kerja. Mereka dapat menjelaskan kepada generasi yang lebih tua cara menggunakan komputer, telepon, akun media sosial seperti Facebook atau Instagram, cara memasang dan menggunakan aplikasi yang dapat berguna untuk pengiriman makanan atau memesan taksi, dan cara menggunakan platform untuk kreativitas, seperti musik atau kreasi visual. Ini akan meningkatkan keterampilan manula dan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang apa yang mendorong dunia saat ini. Lansia bukan satu-satunya yang diuntungkan dari hubungan timbal balik ini. Mereka juga dapat berbagi pengetahuan, pengalaman dan keterampilan dengan anak muda, meskipun tidak begitu populer saat ini, itu tetap menarik dan berharga. Keterampilan ini dapat berkisar dari pelajaran sejarah hingga kerajinan tangan. Terkadang apa yang bahkan tidak kita pikirkan bisa sangat menarik. Kerajinan dapat mencakup menjahit atau jaring pakaian, memasak beberapa hidangan tradisional (atau tidak) yang lezat, menanam dan merawat tanaman dan melakukan beberapa pekerjaan kayu. Ini bukan satu-satunya hal yang dapat dibagikan oleh para senior, kemungkinannya tidak terbatas.
14
CSII
MANFAAT SALING MENTORING
Tampak jelas bahwa saling mentoring membawa keuntungan bersama. Disajikan dengan kesempatan tersebut, hubungan saling mentoring antara pemuda dan senior berpotensi meningkatkan kemampuan berkomunikasi, membangun dan membina hubungan, serta menciptakan budaya belajar. Melalui pendampingan bersama, peserta dapat belajar untuk memahami dan menghargai perbedaan di antara mereka, dan membuka diri terhadap ide dan cara hidup baru. Hal ini mendorong transfer pengetahuan dan pengembangan keterampilan yang dapat berguna dalam kegiatan sehari-hari atau bahkan peluang karir. Selain itu, kesejahteraan kedua belah pihak meningkat. Pemuda dapat merasakan apa itu tanggung jawab sosial, merasakan kepuasan dalam membantu sesama, dan memperoleh keterampilan yang dapat berguna di masa depan. Sehubungan dengan manula, rasa memiliki mereka meningkat, mereka merasa lebih terlibat secara sosial dalam komunitas dan diperbarui dengan penemuan-penemuan baru dari dunia yang berubah dengan cepat ini.
15
CSII
MENJALANI MASA SENJA YANG PRODUKTIF
Act Global adalah organisasi internasional yang didirikan pada tahun 2012 di Inggris dan Indonesia. Tujuannya adalah untuk mendukung proyek dan program pendidikan nonformal. Organisasi ini terutama berfokus pada tiga bidang tematik: pemberdayaan pemuda, pengurangan kemiskinan dan kohesi sosial. Salah satu proyek CSII yang mereka selenggarakan bertajuk Living Senior Life Productively: Menurut Badan Pusat Statistik, Indonesia memiliki populasi lansia terbesar kelima di dunia. Diperkirakan pada tahun 2050, lansia berusia 60+ tahun di Indonesia akan mencapai 21,1% dari total penduduk. Seiring bertambahnya usia, seseorang umumnya menjadi kurang produktif dan mengalami penurunan atau bahkan kehilangan pendapatan. Situasi ini menciptakan kerentanan terhadap berbagai risiko dan guncangan, terutama yang bersifat sosial ekonomi. Tetapi bahkan dalam kondisi seperti itu, beberapa orang dapat mengatasi perjuangan orang tua dan menjadi contoh bagi orang lain. Dalam proyek CSII, tim Act Global bertemu dengan salah satu senior, bernama Pak Harsono, senior energik yang lahir pada tahun 1953 (68 tahun). Ia berasal dari Sragen, Jawa Tengah. Pasang surut hidupnya mengubahnya menjadi pria yang tangguh. Dia bercerita tentang masa dewasanya, dia bekerja sebagai pegawai honorer pemerintah daerah ketika dia masih muda, dia hampir tidak bisa memenuhi kebutuhan gajinya sehingga kemudian dia memutuskan untuk mengundurkan diri dan mengubah profesinya menjadi sopir bus. 16
CSII
Namun pada tahun 2002 semuanya berubah karena bom Bali, dia mengambil keputusan untuk pindah ke Bali untuk membuka warung disana. Pak Harsono berbagi keyakinannya bahwa itu normal bagi mereka untuk berpindah ke tempat baru selama masa-masa sulit. Dia selalu bergerak maju dalam hidupnya, bahkan jika itu sulit. Kemudian mereka membicarakan tentang semangat Pak Harsono, dan terungkap bahwa beliau sangat menyukai tanaman, bahkan dalam menjalankan usahanya ia membudidayakan tanaman. Khususnya tanaman hias dan menjadikannya sebagai hobi. Beberapa tanamannya dijual dengan harga fantastis, seperti bonsai. Ia mengatakan bahwa tanaman hias memancarkan aura yang mempercantik rumah kita. Pak Harsono membagikan beberapa tips agar ia tetap produktif dan teratur: bangun jam 5 pagi dan tidur tengah malam. Meski sudah berusia lanjut, Pak Harsono masih memiliki cita-cita untuk membeli rumah dan tanah. Dia mengatakan bahwa pemuda harus memiliki tujuan dan bergerak maju. Dia adalah orang yang produktif dan menikmati kehidupan seniornya. Mengapa kami memutuskan untuk membagikan kisahnya? Semoga kisah Pak Harsono menginspirasi para senior lainnya untuk memiliki motivasi menjalani kehidupan senior secara produktif.
Asa Onsai Rotua Sitohang
17
Pada hari Senin, 30 Mei 2022, Act Global menyelenggarakan Konferensi CSII (Community Seniors Involved International) di STMIK Primakara. Kegiatan ini berlangsung selama 2 jam dan diikuti oleh 31 peserta. Dalam konferensi ini, ada 4 acara utama yang diadakan: 1. Pengantar Act Global dan Proyek CSII. 2. Kegiatan Proyek Lokal CSII Batch 1 & 2. 3. Kegiatan Mitra Proyek Lokal CSII. 4. Penyerahan Kursus Pelatihan CSII di Filipina oleh Batch 1 & 2.
KONFERENSI CSII COMMUNITY SENIOR INVOLVED INTERNATIONAL
Kegiatan pertama adalah pengenalan Act Global dan apa itu Proyek CSII oleh Dimas Fadhilah Aprilian Santosa. CSII Batch 1 dihadiri oleh Mellynia Putri, Chika Mega, Nataria Miracle, Kurnia Wardani, dan Asa Onsai yang diselenggarakan dari tanggal 7 April 2022 hingga 13 April 2022 di Bataan Filipina. Sementara itu, CSII Batch 2 dihadiri oleh Nevy Widya Pangestika, Dimas Fadhilah Aprilian Santosa, Ni Wayan Kariasih, Ni Putu Mia Puriyanti, dan Gede Martha yang diselenggarakan pada 20 Mei 2022 hingga 27 Mei 2022 di Bagac, Bataan, Filipina. Berikutnya adalah pemaparan proyek lokal dari CSII Batch 1 dan Batch 2. Adapun kegiatan proyek lokal yang dilakukan oleh CSII Batch 1 adalah sebagai berikut: 1. Mellynia Putri dengan proyek lokal “Otago Exercise Program (OEP)” 2. Nataria Miracle dengan proyek lokal “Re(Call) the Past” 3. Kurnia Wardani dengan proyek lokal “Hidup dengan Seni: Bersama Pak I Made Sudibia” 4. Asa Onsai dengan proyek lokal “Melestarikan Batik sebagai Budaya Indonesia dengan Belajar dari Senior”, dan 5. Chika Mega dengan proyek lokal "Conversation with a Man of Passion". 18
Kegiatan proyek lokal yang dilakukan oleh CSII Batch 2 adalah sebagai berikut: Nevy Widya Pangestika dengan proyek lokal “Apa yang Aku Pelajari Melalui Idul Fitri dengan Senior”, Dimas Fadhilah Aprilian Santosa dengan proyek lokal “Melestarikan ‘Sate Lilit’ sebagai hidangan Lokal Kami untuk Kegiatan Penyambung Generasi”, Ni Wayan Kariasih dengan proyek lokal “Belajar Mejejaitan untuk Membangun dan Meningkatkan Komunikasi Anak Muda dan Lansia di Banjar Prapat”, Ni Putu Mia Puriyanti dengan proyek lokal “Belajar Berorganisasi Lintas Generasi”, Gede Martha dengan proyek lokal “Traveling Abroad Through Virtual Reality”.
Selanjutnya penyampaian kegiatan Training Course CSII Batch 1 yang diikuti oleh Indonesia, Lithuania, Filipina, dan Uzbekistan. Training Course Batch 1 di isi oleh materi dari Ibu Rose Mary Cruz dan Dr. Donalyn Lastima sebagai doktor di bidang Psikologi, selain itu juga terdapat pengenalan dan materi singkat dari Ibu Elly selaku koordinator dari BTG Filipina. Kegiatan juga diselingi dengan aktivitas kelompok, meliputi diskusi juga beberapa permainan. Kemudian, sesi presentasi dari masing-masing Organisasi yang Berpartisipasi dalam CSII Filipina, dilanjutkan dengan presentas stereotip dari masing-masing Negara. Fokus utama TC CSII Batch 1 yakni diskusi Kelompok untuk membuat rancangan program untuk Lansia, ditutup dengan permainan Blindfold. Serta acara puncak yakni dengan mengunjungi Komunitas Ayta Magbukun dan malam budaya. Sedangkan Training Course CSII Batch 2 diikuti oleh Indonesia, Filipina dan Lithuania. Secara umum kegiatan yang dilakukan adalah Workshop dengan Senior Barangay Pag-Asa, Kunjungan Senior Ayta Magbukun, Perencanaan dan Persiapan Kegiatan untuk Senior dan Pemuda, Menjangkau Senior dan Pemuda Di Depan Umum, Penyajian Cerita/Kegiatan dengan Senior dan Pemuda, Memanfaatkan Visual Materi untuk Lansia, Bekerja dengan Lansia Melalui Teknologi, Sarana Online untuk Menjangkau Lansia, Mendanai dan Melaksanakan Inisiatif Sosial untuk Lansia dan Pemuda, Mempromosikan Inisiatif Sosial ke Publik, Penulisan Proposal Proyek, Implementasi Proyek ke Masyarakat Lokal, dan kegiatan pertukaran sosial budaya. Kegiatan kemudian ditutup dengan penyampaian pelajaran dari masing-masing peserta CSII Batch 1 dan Batch 2, sebagian besar peserta mengatakan bisa belajar dari semua generasi, dan bagi sebagian dari mereka baru pertama kali ke luar negeri, jadi itu juga memperluas pandangan mereka tentang dunia.
19
BELAJAR BATIK DARI SESEPUH. MENGAJAK ANAK MUDA MELESTARIKAN BUDAYA LELUHUR
Pada tanggal 14 Maret 2022, tim Act Global Indonesia, yaitu Asa, berkesempatan bertemu Bu Kris yang merupakan seorang profesional pengajar membatik di salah satu museum terbaik di Jakarta, Museum Tekstil Jakarta. Museum Tekstil didirikan pada tahun 1976 dan merupakan pusat pelestarian wastra Indonesia dan sebagai tujuan kunjungan wisata seni dan budaya yang bertaraf Internasional, dengan memberikan wawasan tentang sejarah tekstil, dan lebih khusus lagi adalah Batik, kain paling populer di Indonesia. Ibu Kris telah bekerja di museum sejak tahun 1987, hampir 35 tahun. Suatu kehormatan dapat melakukan wawancara singkat dengan Bu Kris untuk mengenal lebih banyak tentang budaya Batik. Sebetulnya Ibu Kris sudah pensiun, namun beliau masih aktif mengajar membatik bagi pengunjung di museum. Dengan latar belakang pendidikan terkait, yaitu jurusan Batik ketika masih muda, Bu Kris telah terlibat di berbagai acara untuk mendemonstrasikan batik dan tenun baik proyek lokal maupun proyek internasionl. Beliau juga aktif mengajar batik untuk mahasiswa-mahasiswa, sebagian besar mahasiswa berasal dari Universitas Indonesia, dan Universitas Jakarta. Pengalaman yang paling berkesan untuk Ibu Kris adalah ketika terlibat dalam pameran internasional untuk memperkenalkan Batik ke seluruh dunia. Misalnya di Malaysia, Amerika, Belanda, dan Australia. Menurut Bu Kris, membatik itu sama halnya seperti hobi dan dapat sebagai sarana latihan meditasi karena dalam proses pembuatannya perlu fokus, kreativitas, dan perhatian yang dalam.
20
CSII
Pengunjung Museum Tekstil sangat variatif, mulai dari pelajar sekolah, dewasa, hingga pensiunan juga ada, mulai dari orang lokal hingga orang asing juga ada. Bersama staff yang bertugas, Ibu Kris aktif mengajar mereka. Ibu Kris memiliki cita-cita agar Batik selalu dijaga dan dipelihara karena beliau menyadari betapa pentingnya nilai Batik sebagai budaya khas Indonesia. Bu Kris berharap banyak anak muda yang belajar membatik sehingga budaya ini bisa dilestarikan. Karena itulah Bu Kris selalu semangat berbagi ilmu dan tetap produktif mengajar membatik meski sudah pensiun.
Dengan adanya pengakuan Batik sebagai Masterpiece of Oral and Intagible Heritage of Humanity, anak-anak muda Indonesia patutnya berbangga. Tidak hanya pemerintah namun masyarakat khususnya anak muda juga memiliki peran penting dalam melestarikan batik. Dari proyek interview ini, harapannya banyak anak-anak muda terinspirasi dan terdorong untuk memelihara warisan budaya Indonesia. Dengan belajar dan memahami pentingnya melestarikan batik sebagai warisan budaya Indonesia, melalui beberapa cara yang Ibu Kris bagikan, yaitu; bangga menggunakan batik, melibatkan generasi muda untuk memproduksi batik, mendukung acara pameran batik, memperkenalkan batik ke kancah internasional dengan cara-cara kreatif yang dimiliki anak muda.
Asa Onsai Rotua Sitohang
21
RECALL THE PAST Pada hari Sabtu, 12 Maret 2022 kami mengajak senior dan junior untuk bermain bersama, dalam sebuah kegiatan bertema. Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek Community: Seniors Involved International (CSII). Ide dari kegiatan ini adalah untuk bermain game yang populer pada zamannya masing-masing generasi, di Bekasi. Program ini menjadi wadah bagi setiap generasi yang memiliki usia berbeda untuk bermain bersama, mempererat silaturahmi, berbagi perspektif, dan mengenang kembali game-game lama dan kekinian. Lima orang setuju untuk mengikuti kegiatan ini, yang masing-masing mewakili generasi yang berbeda. Orang-orang tersebut adalah Bapak Suefong yang berusia 60 tahun mewakili generasi Boomers, Ibu Mersi yang berusia 43 tahun mewakili Generasi X, Ibu Putri yang berusia 26 tahun mewakili Generasi Milenial, dan Jonathan yang berusia 9 tahun mewakili generasi awal Z. Seperti yang kita ketahui di era globalisasi dan modernisasi, segala sesuatu berkembang pesat dan perubahan tidak dapat dihentikan. Hal ini menyebabkan terjadinya gap generasi antara generasi tua dan generasi muda, perbedaan yang ada seperti nilai, rasa, dan sudut pandang. Perbedaan tersebut membuat kurangnya komunikasi dan pemahaman antar generasi, hal ini sering dijumpai pada keluarga yang memiliki latar belakang usia yang sangat berbeda. yang mengakibatkan kurangnya komunikasi antar anggota keluarga, perbedaan nilai, dan sudut pandang terhadap suatu hal. Maka untuk mengatasi masalah ini, Act Global menyelenggarakan program kegiatan bersama yang diberi nama: “Recall the Past.” Kegiatan ini bertujuan untuk mendekatkan dan mempererat hubungan antara senior dan junior serta dapat menjadi media untuk saling pengertian di antara mereka. Organisasi ini dibantu oleh Nataria Miracle yang mewakili Generasi Z dari Bekasi dan berasal dari keluarga dengan latar belakang yang sangat berbeda. Nataria fokus pada menjalin ikatan yang lebih erat antara senior dan pemuda. Berikut adalah kegiatan yang kami lakukan di Recall the Past :
I. Bermain Bersama Congklak
Congklak merupakan permainan tradisional Indonesia kuno yang memiliki banyak nama yang berbeda-beda untuk setiap daerahnya, seperti congkak, dakon, dhakonan, sedangkan di daerah Sulawesi, permainan ini dikenal dengan maggaleceng. Permainan ini dapat dimainkan oleh anak laki-laki atau perempuan, dan membutuhkan 2 orang untuk memainkannya, yang paling banyak mengumpulkan biji di lubangnya akan memenangkan permainan. Karena hanya bisa dimainkan oleh dua orang, maka kami membaginya menjadi beberapa sesi. Sesi pertama yang dimainkan adalah Ibu Mersi dan Ibu Putri. Sedangkan sesi kedua dimainkan Nataria dengan Jonathan. Karena Pak Suefong tidak mengerti cara bermainnya, dia hanya mengamati saja
22
RECALL THE PAST Engklek Engklek adalah permainan tradisional yang dimainkan di lapangan berupa gambar delapan bujur sangkar dan satu gambar gunung. Permainan ini pada mulanya populer di kalangan anak perempuan pada masa penjajahan Belanda hingga sekarang, meskipun sebagian anak-anak zaman sekarang belum mengenal permainan engklek. Game ini membutuhkan minimal dua orang untuk memainkannya. Jadi kami semua di sini untuk bermain, dari semua generasi mengerti bagaimana permainan itu dimainkan kecuali Pak Jonathan yang merupakan generasi Z terbaru. Jadi kami mengajarinya cara bermain dan dia akhirnya bermain bersama.
Kelereng adalah bola kaca yang dapat dimainkan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan membuat lingkaran pada bidang datar kemudian mengisinya dengan banyak kelereng. Kemudian pemain akan berlomba mengeluarkan kelereng sebanyak mungkin dalam lingkaran dengan cara menjentikkannya. Dalam permainan ini dimainkan oleh Nataria, Jonathan, dan Pak Suefong
Kelereng (Guli)
II. Membandingkan Permainan jaman dulu dengan saat ini Boneka Menurut Bu Mersi yang mewakili Generasi X, permainan boneka pada zamannya adalah boneka sarung, menggunakan sarung. Katanya saat itu boneka barbie sudah masuk tapi harganya sangat mahal, jadi anak kecil saat itu menggunakan sarung sebagai boneka. Sedangkan menurut Ibu Putri yang mewakili generasi milenial mengatakan bahwa saat itu juga ada boneka Barbie, tetapi tidak terlalu populer dibandingkan dengan boneka Bp (boneka Bongkar Pasang), alasannya karena boneka Bp ( boneka Bongkar Pasang), lebih murah dan mudah ditemukan. Berbeda dengan dua generasi sebelumnya Nataria yang mewakili Generasi Z mengatakan, di zamannya yang sekarang boneka Barbie lebih mudah ditemukan dan harganya tidak semahal dulu. Dan dia juga mengaku tidak pernah mengenal boneka sarung dan boneka Bp juga saat ini sudah sulit ditemukan. 23
RECALL THE PAST SmartPhone VS Gembot
Anak-anak zaman sekarang terutama laki-laki sangat menyukai game di smartphone contohnya Mobile legend. Hal ini diakui oleh Jonathan yang merupakan Generasi Z terbaru. Sementara itu, Bapak Suefong yang mewakili generasi boomer mengatakan bahwa saat itu anak-anak lebih menyukai permainan outdoor, dan salah satu permainan yang sangat populer di zamannya adalah berbentuk seperti smartphone adalah Gembot.
MobilMobilan
Pak Suefong, yang mewakili generasi boomer, berbagi cerita ketika dia masih kecil. Jika dia ingin bermain dengan mobil mainan, dia membuat sendiri dari botol bekas atau pelepah pisang karena mobil mainan mahal saat itu. Sementara Jonathan yang mewakili Generasi Z terbaru mengatakan bahwa anak-anaknya sekarang lebih suka mobil baru, terutama merek HotWheels, dia mengaku tidak pernah berpikir untuk membuat mainan mobil dari botol bekas. Itulah semua kegiatan yang telah kami lakukan dalam program Recall the Past, dan hasilnya melebihi semua harapan, semua peserta sangat senang mengikuti program ini karena membantu mereka mengingat permainan masa kecil dan membantu mereka memperkuat hubungan antar anggota keluarga yang memiliki hubungan yang cukup baik. rentang usia yang jauh. Jadi program ini adalah bukti nyata bahwa bermain bersama dapat mempererat hubungan dengan latar belakang berbagai usia.
Nataria Miracle 24
CSII
PROGRAM LATIHAN OTAGO DI BALI BERINTERAKSI DAN BERBAGI SENYUM ANTARGENERASI Lanjut
usia
merupakan
masa
dimana
seseorang
mengalami
penurunan
kesejahteraan fisik, mental, dan sosial secara bertahap. Ditemukan bahwa penurunan kemampuan kemampuan
fungsi
dan
untuk tubuh
kekuatan
menjaga untuk
otot
dapat
keseimbangan
mengakibatkan
tubuh.
mempertahankan
penurunan
Keseimbangan
massa
tubuh
adalah dengan
mempertahankan batas stabilitas agar tidak turun. Beraktivitas fisik secara teratur adalah salah satu hal terpenting yang dapat Anda lakukan untuk kesehatan Anda. Ini dapat mencegah banyak masalah kesehatan yang tampaknya datang seiring bertambahnya usia. Ini juga membantu otot Anda tumbuh lebih kuat sehingga Anda dapat terus melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bergantung pada orang lain. Act Global memutuskan untuk mengadakan proyek yang disebut 'Kegiatan Antargenerasi untuk Berinteraksi dan Berbagi Senyum' di Bali. Inisiatif ini bertujuan untuk membuat program khusus di mana orang tua bekerja dengan orang muda dan merupakan bagian dari proyek Community: Seniors Involved – International (CSII). Pada hari Rabu tanggal 23 Februari 2022 mitra kami mengadakan acara dan memberikan Otago Exercise Program (OEP) kepada para lansia di Banjar Tandeg, Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali. Tapi apa itu OEP? Otago Exercise Program (OEP) terdiri dari 17 latihan kekuatan dan keseimbangan dan program berjalan dengan gerakan yang sederhana dan dirancang untuk mengurangi risiko jatuh pada orang tua. Disimpulkan bahwa OEP secara signifikan mengurangi risiko kematian dan jatuh pada orang dewasa yang tinggal di komunitas yang lebih tua.
25
CSII
Act global menyelenggarakan kegiatan tersebut dengan bantuan Mellynia Putri, perempuan muda asal Bali yang saat ini sedang menempuh studi fisioterapi di Universitas Dhyana Pura, Bali. Sejalan dengan pendidikannya, Mellynia memiliki kepedulian terhadap kesehatan lansia, dengan adanya kegiatan CSII yang melibatkan lansia, sehingga dia membimbing senior ini untuk melakukan OEP dan itu harus menjadi contoh yang bagus bagaimana kegiatan antar generasi yang sederhana dapat dilakukan. Tiga senior setuju untuk mengikuti kegiatan ini, yaitu Ibu Ni Wayan Rengkih yang berusia 75 tahun, Ibu Gede Putra yang berusia 70 tahun, dan Ibu Wayan Edi yang berusia 72 tahun. Latihan Otago sendiri dimulai dengan : gerakan pemanasan, latihan keseimbangan, latihan pengutana, gerakan pendinginan, dan latihan berjalan. Itu semua urutan dan langkah-langkah bagaimana melakukan OEP. Dan hasilnya melebihi semua harapan, lansia sangat senang dengan program latihan ini. Mereka berbagi pemikiran bahwa gerakan latihan ini sederhana dan mudah diingat. Sehingga kegiatan ini dapat kita lihat sebagai contoh bahwa para lansia sangat membutuhkan wadah bagi mereka untuk berkumpul dengan teman sebayanya agar tidak merasa kesepian, kebahagiaan bagi lansia dapat tercipta dengan interaksi yang kita lakukan sebagai anak muda. Mereka berkata, “Kami para lansia sangat senang berinteraksi dengan anak muda, karena melihat energi anak muda kita langsung lupa bahwa kita sudah tua, dan itu sangat menyenangkan.” Latihan ini dapat membuat kita menyadari betapa kesepiannya para lansia dan sangat penting bagi mereka untuk memiliki platform untuk berbagi perasaan mereka. Situasi pandemi malah memperburuk keadaan. Oleh karena itu, jenis latihan ini sangat penting untuk kondisi fisik dan psikologis mereka. Ni Nyoman Ayu Mellynia Putri
26
DIALOG ANTARGENERASI ; MENJALANI HIDUP DENGAN SENI
Sebagaimana kita ketahui Pulau Dewata Bali terkenal dengan kentalnya budaya dan telah melahirkan banyak seniman-seniman hebat dari berbagai cabang seni yang ada. Pada tanggal 10 Maret 2022, Kurnia Wardani Miftha Huljanah dari Act Global telah melakukan intergeneration talk bersama seorang pelukis yang berasal dari Sanur, Bali yaitu Bapak I Made Sudibia. Kesempatan ini dilakukan dengan tujuan untuk dapat membangun hubungan antara generasi muda dengan elderly, selain dalam rangka program CSII: Community Senior Involved International. I MADE SUDIBIA, beliau lahir di Sanur, Bali pada tanggal 15 Juli 1959. Beliau telah memiliki bakat dibidang seni sedari kecil, hal ini juga didukung dari lingkungan keluarga yang memang mayoritas berprofesi sebagai seorang seniman. Pak Sudibia bercerita bahwa dari kecil beliau memang sudah senang menggambar dan melukis sambil bersenandung khas Bali dan menikmati suasana kehidupan tradisional Bali. Selain memiliki bakat dibidang seni, Pak Sudibia juga merupakan bintang kelas semenjak Sekolah Dasar. Bahkan pada saat menginjak kelas 1 SMP Pak Sudibia sudah dapat menjuarai kompetisi Seni Lukis dan mengalahkan para senior nya di kelas 3. Bapak Subidia pun sudah mulai menggunakan cat minyak dan media canvas semenjak SMP. Beliau mendalami seni lukis di Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia 'ASRI' (STSRI 'ASRI', Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia) di Yogyakarta, dari tahun 1980 hingga 1988.
27
Sejak menjadi mahasiswa beliau telah menjadi anggota kelompok seniman Sanggar Dewata Indonesia di Yogyakarta. Pada tahun 1980 beliau mendapat penghargaan dalam Lomba Melukis Cat Air dan Lomba Sketsa dari STSRI 'ASRI'. Sejak tahun 1991, beliau menjadi dosen seni di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (ATSI, Sekolah Tinggi Seni Indonesia; sekarang Institut Seni Indonesia Denpasar) di Bali. Selin jtu, beliau juga telah berpartisipasi dalam pameran seni di Indonesia, Monaco, Kuwait, dan Australia. Pameran yang dilakukan di Monaco menjadi salah satu yang paling berkesan bagi Pak Sudibia, karena beliau harus merelakan lukisan yang telah dikirim. Lukisan tersebut tidak dapat ditarik kembali akibat sulitnya regulasi di bagian imigrasi yang mana membutuhkan biaya dalam jumlah tak sedikit pula. Lukisan beliau saat itu bertema Tari Rejang. Tari Rejang adalah sebuah tarian kesenian rakyat/suku Bali yang ditampilkan secara khusus oleh perempuan dan untuk perempuan. Gerakgerik tari ini sangat sederhana namun progresif dan lincah. Biasanya pagelaran tari Rejang diselenggarakan di pura pada waktu berlangsungnya suatu upacara adat atau upacara keagamaan Hindu Dharma.
Aliran Lukisan Tema-tema karya lukisan dari Pak Sudibia diambil dari realitas sosial kehidupan masyarakat Bali. Namun, Pak Sudibia cenderung lebih tertarik pada tujuan tradisional yang memiliki kontak erat dengan budaya, seperti meditasi, aktivitas orang Bali berdandan dalam pakaian ritual mereka ketika pergi ke pura, cerita rakyat atau bahkan subjek kepercayaan mitologis. yang memiliki karakter alam tak kasat mata, ilusi. “Konsentrasi dan eksplorasi saya hanya pada kehidupan tradisional Bali karena tema ini tidak bisa habis. Dari apa yang saya alami, masih banyak hal yang belum saya kerjakan.” ujar beliau. Selain itu Beliau juga dikenal sebagai master pembuat sketsa.
28
MEMILIKI KECINTAAN MENDALAM TERHADAP KARYANYA Pak Sudibia menyadari bahwa kecintaannya terhadap karya seninya teramat dalam. Bahkan terkadang beliau sulit merelakan karya seninya untuk dibeli oleh orang lain akibat rasa cintanya ini. Pak Sudibia mengakui bahwa dirinya adalah orang yang cukup sensitif dan perasa. Sifat sensitif ini juga menjadi tantangan dan kendala bagi Pak Sudibia, yang mana dalam kehidupan masyarakat Bali kita memiliki banyak aktivitas gotong royong terutama apabila ada acara keagamaan, upacara ataupun ngaben. Terkadang hal ini membuat Pak Sudibia menjadi kurang fokus dalam berkarya. Ini menjadi salah satu alasan beliau mengundurkan diri menjadi Dosen di ISI, agar dapat memiliki lebih banyak waktu untuk berkarya. Namun ternyata dalam perjalanannya, ia menghadapi kendala dalam memasarkan karya lukisannya, akibat berbagai faktor seperti krisis ekonomi dan pandemi.
KENDALA YANG DIHADAPI
TANTANGAN TERKAIT MANAJEMEN BISNIS DAN KESEHATAN Manajemen bisnis juga merupakan sebuah tantangan dan kendala terbesar yang dihadapi oleh Pak Sudibia. Beliau sangat senang melukis dan menciptakan karya, namun tidak begitu serius mendalami dalam hal mempromosikan dan menjual karyanya. Namun, walaupun begitu karya lukisan Pak Sudibia juga terkenal dan memiliki tempat khusus oleh para penikmat seni. Hal ini juga dibuktikan dengan banyaknya dukungan yang diberikan oleh sesama seniman dan pegiat seni kepada Pak Sudibia, salah satunya dengan memberikan beliau media untuk melukis seperti cat dan kanvas yang dibutuhkan. Sebab mereka sudah merindukan karya-karya dari beliau. Hal ini dikarenakan Bapak Sudibia telah cukup lama vakum akibat permasalahan pada kondisi kesehatan fisiknya, yang membuat beliau menjadi sulit beraktivitas dan melukis kembali selama beberapa tahun menjadi kurang produktif. Setelah sempat tenggelam dalam pikiran yang kalut dan kondisi yang tidak mendukung, Pak Sudibia kembali mendapatkan semangatnya dan bangkit.
Pendapat Pak Subadia terhadap Teknologi: MELIHAT SECARA POSITIF PERKEMBANGAN TEKNOLOGI Pak Sudibia juga melihat perubahan positif dari perkembangan Teknologi, dibandingkan era nya dahulu. Yang mana saat ini informasi dapat lebih mudah dijangkau, terutama dalam segi mencari ide dengan melihat karya dari senimanseniman di seluruh dunia. Pak Sudibia pun sangat menanggapi secara positif kemajuan teknologi ini dan ingin mempelajarinya, menurut beliau guna mengikuti perkembangan teknologi maka kita haruslah mempersiapkan diri. Itulah sebabnya, dengan kemudahan teknologi ini diharapkan anak muda dapat lebih memanfaatkan fasilitas yang ada untuk lebih produktif dan berkarya. Dalam hal ini, kami dari pihak Act Global juga melakukan sesi sharing kepada Pak Sudibia terkait kemajuan teknologi yang dapat beliau gunakan untuk mempromosikan karyanya agar dapat lebih mudah dijangkau oleh para peminat seni secara online terutama di suasana pandemi seperti ini. Namun, hal ini dalam pelaksanaan tentu sangat dibutuhkan peran anak muda untuk dapat membantu para senior dalam melakukan dan mendukung aktivitas mereka. 29
CSII
Pesan untuk generasi muda: MENGANGKAT ISU LINGKUNGAN MELALUI KARYA SENI Selain kecintaan terhadap seni, seni lukis dan budaya tradisional Bali, Pak Sudibia juga memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan dan pemanasan global yang terjadi. Berdasarkan hasil wawancara, beliau menceritakan bahwa seni dalam hal ini environmental art juga dapat menyampaikan pesan-pesan positif, yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Beliau cukup prihatin melihat alam kita sekarang ini, terutama jika melihat tumbuhan bakau yang dipenuhi oleh sampah-sampah plastik, beling dan lainnya, yang menyebabkan tunas-tunas bakau menjadi terhalang untuk tumbuh. Beliau mengharapkan agar anak muda dapat kesadaran dan bergerak secara aktif untuk melakukan aksi dalam menjaga lingkungan, tidak hanya sekedar menyuarakan nya saja. MENJADIKAN SENI SEBAGAI BAGIAN DARI HIDUP Pak Sudibia berbagi cerita yang didapatkan dari kolektor orang barat, dimana mereka menganggap seni sebagai suatu bagian dari kebutuhan hidup. Terutama untuk sejenak menjauhkan diri dari kesibukan pekerjaan dan hiruk pikuk kehidupan. Dengan menikmati seni kita dapat menjadi lebih peka, dan dengan kepekaan ini kita jadi mengetahui berbagai nilai-nilai, mana yang perlu diredam dan mana yang perlu diekspresikan. Hal ini juga membantu kita agar lebih bijak dalam menghadapi berbagai problematika hidup. Menurutnya segala sesuatu di kehidupan ini membutuhkan sebuah seni, seperti halnya dalam berpakaian, kita harus mengetahui bagaimana corak dan potongan yang pas untuk tubuh kita agar terlihat indah dipandang serta membangkitkan rasa percaya diri. Seni menjadikan kehidupan tidak monoton dan menjenuhkan. BELAJAR SABAR MELALUI DIALOG DENGAN KARYA SENI Menurutnya anak muda saat ini terlalu sibuk dengan aktivitas ataupun pekerjaan hingga lupa untuk menikmati keindahan alam dan hal-hal sederhana dalam hidup. Oleh sebab itu, ia menyarankan anak muda untuk belajar berdialog dengan karya seni. Misalkan dalam melihat sebuah lukisan, kita memerlukan waktu untuk berdialog dengannya (tidak bisa terburu-buru). Dengan dialog inilah kita dapat menemukan sebuah sudut pandang baru, serta nilai dan pesan yang ingin disampaikan oleh sang seniman. Lambat laun kita jadi dapat merasakan sebuah perasaan yang mungkin sebelumnya tidak kita rasakan.
Kurnia Wardani M.H.
30
BERBINCANG DENGAN LELAKI PENUH PASSION
Pada bulan Maret 2022, Chika dan Mellynia berkeliling Kota Denpasar dan menemukan Pak Bastian dan Pak Heri. Seorang senior dengan dua latar belakang yang berbeda. Chika dan Mellynia melakukan percakapan dengan mereka berdua tentang kehidupan dan apa yang dapat mereka pelajari dari masa lalu dan masa depan. Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek “Community: Seniors Involved – International” (CSII). Ide dari proyek ini adalah untuk membangun kegiatan yang menarik di mana pekerja muda akan menyertakan lansia dalam pekerjaan mereka dengan pemuda (atau pemuda akan bergabung dengan kegiatan di pusat lansia). Dengan cara ini, para pemuda akan mendapat kesempatan untuk belajar, menumbuhkan empati terhadap, dan memperdalam pemahaman mereka tentang generasi yang lebih tua. Untuk orang tua, di sisi lain, akan dapat menghabiskan waktu mereka lebih terarah dan belajar dari generasi muda. Percakapan dengan Pak Bastian terjadi ketika dia menceritakan tentang aktivitasnya sehari-hari. Dikatakannya, tiga hari seminggu, Senin, Rabu, dan Sabtu, Pak Bastian dan putrinya, Zafra, mengamen di Angkringan Jogja, Denpasar. Meski Pak Bastian menyadari ada kesenjangan generasi di antara mereka berdua, mereka bersatu padu dalam lagu yang mereka nyanyikan. favorit mereka adalah lagu-lagu lama yang penuh dengan pesan moral. Mereka suka menyanyikan lagu dengan lirik puitis dan lagu yang penuh dengan pesan tersirat karena ketika mengucapkan kata-kata itu, Pak Bastian merasa seperti menemukan jiwanya di dalamnya. Pak Bastian datang ke Bali sekitar tahun 1997. Ia datang untuk belajar di Akademi Pariwisata. Dia berusia 55 tahun sekarang, dia melakukan apa yang dia sukai: Bernyanyi untuk hidup. Namun, di tengah kepahitan hidup, kita masih akan menemukan tawanya setiap malam ketika mereka bernyanyi di Angkringan, “Yang menyedihkan ketika kita mengamen adalah ketika kita tidak mendapatkan uang hahaha. Dan bagian yang menyenangkan adalah ketika kita dihargai, rasanya luar biasa.” kata Pak Bastian kepada Act Global. Ia ingin dikenang sebagai orang tua yang baik. Bastian berpesan kepada anak muda untuk bekerja sesuai passion karena pekerjaan terbaik adalah hobi yang dibayar. Kata-kata Pak Bastian sangat menginspirasi Melly. Dia pikir, Pak Bastian sepertinya pria yang sangat keren. Dengan belas kasihnya untuk anaknya dan cinta yang dia berikan melalui setiap lagu yang mereka nyanyikan, Melly merasa bahwa suatu hari nanti, mungkin dia bisa mengikuti jalan Pak Bastian. 31
“Menurut saya Pak Bastian sangat keren. Dia sudah tua, tapi masih produktif. Apalagi dia terlihat dekat dengan putrinya. Saat ini sangat sulit untuk mendapatkan orang tua yang dekat dengan anak-anaknya. Saya terinspirasi untuk bekerja sesuai passion saya seperti Pak Bastian karena kebanyakan anak muda saat ini merasa tertekan dan terpaksa bekerja karena tidak bekerja sesuai passion,” kata Melly berbincang dengan Pak Bastian. Perempuan Bali berusia 22 tahun yang hobi snorkeling ini cukup dekat dengan orang tua (nenek) di rumahnya. Sebagai umat Hindu Bali, mereka sering bertemu di rumah untuk membuat canang dan berdoa bersama. Ia juga menggambarkan masa tuanya dengan kehidupan neneknya saat ini, dekat dengan alam dan tetap produktif dari rumah.
Profil senior kedua adalah Pak Heri dari Semarang yang telah tinggal di Bali sejak 9 tahun yang lalu. Sebelum dia berada di posisinya saat ini, dia telah mencoba banyak hal baru. Mulai dari tukang parkir, penyiar radio, memproduksi susu kedelai sendiri hingga memiliki bisnis saat ini: Es Teler, Frozen Food dan Minigold
“Tetap semangat, jangan putus asa, dan jangan malas!” adalah pesan dari orang tua berusia 52 tahun kepada orang muda. Dia mengaku sulit membuka usaha sendiri di sektor permodalan. Jika soal untung rugi merupakan hal yang lumrah dalam berwirausaha. Ingin dikenang baik oleh orang-orang di sekitarnya, Pak Heri mengatakan impiannya adalah memiliki rumah sendiri untuk ditinggali. Percakapan dengan Pak Heri membuat Chika, pemuda 25 tahun asal Purbalingga, merasa hancur. Ia merasa seperti ditampar ketika mendengar apa yang dialami Pak Heri. Menurutnya, apa yang digelutinya selama beberapa tahun ini tidak sebanding dengan apa yang dikerjakan Pak Heri. Chika menganggap dialog antara generasi senior dan junior tampak aneh. Tapi, sekarang, dia percaya generasi senior memiliki sesuatu yang tidak dimiliki generasi muda, seperti ketahanan dalam setiap situasi. “Saya, yang masih muda, memiliki potensi lebih dan lebih tetapi selalu takut untuk mencoba hal-hal baru. Selalu terjebak di sana-sini. Pak Heri menyadarkan saya bahwa saya harus lebih berani mengambil keputusan.” ujar Chika yang sudah tinggal di Bali selama kurang lebih 7 tahun. Wanita yang memiliki hobi menyanyi, menulis, dan menggambar ini berharap banyak anak muda lainnya yang terpacu untuk mencoba hal baru dari video profil Pak Heri. Chika Mega Kusuma Wardani W.
32
PROGRAM PELATIHAN CSII: Minggu yang Membahagiakan di Filipina
Pada tanggal 7-13 April 2022 tim kami yang terdiri dari 5 orang yaitu Dhania, Mellynia, Nataria, Asa, dan Chika pergi ke Filipina untuk menghadiri CSII: Community Senior Involved International Workshop. Tim kami dibagi menjadi dua yakni, ada yang berangkat dari Jakarta dan juga ada yang dari Bali. Saya termasuk kedalam tim keberangkatan Bali, bersama Mellynia dan Chika. Program CSII ini memiliki tujuan untuk membangun hubungan yang baik antara anak muda dan orang dewasa. Masih dengan suasana traveling saat Covid-19, kami harus menyiapkan beberapa dokumen ekstra seperti surat vaksin dari WHO dan juga hasil tes PCR sebelum keberangkatan. Dokumen penting lainnya yang harus dipersiapkan adalah surat asuransi perjalanan internasional dengan minimum cover Covid-19 sebesar $35000. Hal ini perlu diperhatikan karena setiap negara memiliki persyaratan batas minimum nilai asuransi yang berbeda-beda, oleh sebab itu sangat perlu untuk mengeceknya jauh hari sebelum keberangkatan. Selain itu, seluruh traveler yang mengunjungi Filipina wajib untuk mendaftarkan diri pada One Health Pass. The online system is in place to protect public health in the Philippines during COVID-19. Tim Bali berangkat dan tiba di Filipina pada tanggal 6 April. Sesampainya disana kami langsung menuju ke Hotel The Selah Garden, Manila didampingi oleh Dee dan Edhmar dari BTG Filipina. Kami menginap selama semalam di sana, keesokan harinya kami berkumpul dan bertemu dengan teman-teman lain yang tiba pada tanggal 7 April salah satunya tim Indonesia yaitu Nataria dan Asa yang berangkat dari Jakarta. Kami pun melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju lokasi acara yakni ke Kota Balanga, Bataan, Filipina.
33
Di hari pertama ini tanggal 7 April, setibanya di kota Balanga, kami langsung menuju hotel Crown Royal Hotel meletakkan koper dan barang bawaan. Selanjutnya kami menuju perpustakaan milik (BPSU) Bataan Penisula State University, yang akan menjadi lokasi workshop CSII ini. Di hari pertama ini kami disambut dan diberikan pengenalan seputar kegiatan dan apa yang kedepannya akan kami lakukan. Kami juga diberikan souvenir berupa botol minum dan juga tas goodie bag polos yang selanjutnya harus kami hias sesuai kreatifitas masing-masing. Ini merupakan hal yang menyenangkan dimana peserta diharuskan selalu aktif dan berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Pada hari ini kami juga berkenalan dengan peserta lainnya yang berasal dari Lithuania, Uzbekistan maupun Filipina. Pada tanggal 8 April training dimulai dengan sebuah game yang dipimpin oleh Mrs. Marie yakni dengan membuat dua lingkaran yang terdiri dari besar dan kecil. Kemudian kita harus berkenalan secara singkat dengan teman yang ada dihadapan kita melalui beberapa pertanyaan yang telah ditentukan. Game ini berlangsung beberapa putaran, sehingga menyempatkan kita untuk mengenal beberapa orang baru dengan lebih dalam.
Training tanggal 9 April dibuka dengan presentasi dari Mrs. Elly mengenai perbedaan budaya antara barat dan timur. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan membuat list stereotype yang ada di masing-masing negara. Walau cukup mengejutkan saya menjadi tahu lebih banyak mengenai apa saja stereotype yang ada pada masing-masing negara dan fakta-fakta yang benar dibaliknya. Training dilanjutkan oleh Mrs. Rosemarie, yang membahas bagaimana human life cycle dan juga cara coping life transition. Kemudian kami melakukan sebuah task mengenai Life Line, yakni setiap orang harus menuliskan beberapa momen penting dalam hidupnya yang paling membekas dan memberi keterangan pada umur berapa kejadian tersebut terjadi serta bagaimana perasaan kita saat itu. Life line ini dikerjakan pada selembar kertas, yang kemudian hasilnya akan kita ceritakan kepada teman-teman satu grup yang telah dibentuk di hari pertama. Dari sesi ini kami menjadi lebih mengenal satu sama lain, bagaimana mereka melalui kehidupannya dari posisi tertinggi, terendah hingga bangkit kembali. Agenda keesokan harinya yakni tanggal 11 April 2022 yaitu resumption the training. Di hari ini materi training lebih dalam terkait surveying adults, beberapa teori yang ada saat mengalami penuaan dan menelaah apa yang bisa kita lakukan untuk melibatkan senior.
34
Ada beberapa poin penting yang dibahas terkait adults learning principle yaitu: Belajar paling produktif ketika peserta siap untuk belajar Pembelajaran lebih efektif bila dibangun di atas sementara peserta sudah tahu atau pernah mengalami Pembelajaran menjadi lebih mudah dengan menggunakan berbagai metode dan teknik pelatihan. Kesempatan untuk melatih keterampilan yang awalnya dalam situasi yang terkendali atau terstimulasi sangat penting untuk perolehan keterampilan dan pengembangan kompetensi Pengulangan diperlukan bagi peserta untuk menjadi kompeten atau mahir dalam suatu keterampilan Semakin realistis situasi belajar, semakin efektif pembelajaran agar efektif, umpan balik harus segera, positif dan tidak menghakimi
Hari berikutnya kami berangkat menuju Ayta Magbukun Community menggunakan bus, kira-kira selama 2-3 jam dari hotel. Acara dibuka dengan beberapa sambutan, dan nyanyian dari anak-anak di desa tersebut. Kemudian kami menuju sebuah tempat yang harus dilalui dengan menyeberangi jembatan gantung yang cukup bergoyang. Disana kami saling berinteraksi dengan Ayta Community, walau komunikasi diantara kami tidak mudah namun lambat laun kami saling memahami walau hanya berdasarkan bahasa tubuh. Disana kami melakukan aktivitas memasak bersama, saya pun berinisiatif untuk menjadi pelopor yang memulai untuk mengikuti bagaimana cara mereka memasak nasi menggunakan daun yang kemudian dikukus menggunakan bambu. Kemudian hal tersebut diikuti juga oleh peserta lainnya. Setelah selesai dengan aktifitas memasak, kami melanjutkan menanam pohon kopi bersama disana. Tak lama kemudian nasi dan lauk yang kami masak pun matang, dan dilanjutkan makan bersama serta pemberian bingkisan kepada Ayta Magbukun Community. Saya sangat menikmati kegiatan ini, walaupun kami memiliki bahasa yang berbeda, tapi kami dapat tetap terkoneksi dan memahami satu sama lain melalui bahasa tubuh, hati dan mata. “One of the Greatest things you can do to help others is not just to share and give what you have, but to help them discover what they have within themselves to help themselves” - Rita Zahara. Kurnia Wardani M.H. 35
LOKAKARYA CSII: ANAK MUDA BELAJAR BERSAMA SENIOR.
Pada tanggal 7 April 2022 seluruh peserta terpilih dari Indonesia, Filipina, Lithuania, dan Uzbekistan mengikuti program penyambutan kursus pelatihan CSII di Bataan Peninsula State University, Filipina. Kami disambut dengan baik oleh seluruh fasilitator dari BTG Filipina dan dapat mengenal setiap peserta. Hari berikutnya tanggal 8 April adalah hari pertama workshop yang difasilitasi oleh Dr. Donalyn G. Lastima. Tujuan dari kegiatan workshop ini adalah agar peserta dapat menggali konsep kesenjangan generasi dan pengaruhnya terhadap perbedaan budaya dan sosial, menghargai keunikan, kelebihan, dan keterbatasan setiap karakteristik generasi, serta mampu mengembangkan filosofi pribadi dalam menjembatani kesenjangan perbedaan budaya dan sosial antar generasi. Kursus Pelatihan CSII didasarkan pada pelatihan kerangka kerja pelatih untuk melatih sekelompok ahli materi pelajaran yang potensial. Mengingat hal tersebut, para peserta diharapkan untuk mempelajari berbagai pengalaman belajar struktur agar mereka memiliki pengalaman langsung dengan fasilitasi dan bagi mereka untuk memperoleh keterampilan dan pengetahuan teknis yang diperlukan dalam seni fasilitasi. Kegiatannya dirancang sedemikian rupa mengikuti Teori Pembelajaran Eksperiensial Kolb. Para peserta belajar tentang langkah-langkah mendekati senior dengan mempelajari perbedaan budaya dan sosial antar generasi, psikologi perkembangan, mengetahui pentingnya bersosialisasi antar generasi, mensurvei senior, memetakan apa yang dapat dilakukan pemuda untuk melibatkan senior, dan membuat pengalaman langsung: Kegiatan bersama Senior dan Pemuda. Di akhir modul ini, para peserta diharapkan mengenal esensi dari pengalaman belajar terstruktur, menerapkan untuk belajar dan menyampaikan program pelatihan, memperoleh keterampilan memfasilitasi untuk mempromosikan keterlibatan pelajar, praktik reflektif, berpikir kritis, dan perolehan keterampilan, Menampilkan penguasaan dalam menyampaikan strategi pelatihan utama yang biasa digunakan (yaitu, curah pendapat, pemeriksaan pemrosesan/proses, permainan peran, dan sesi latihan), dan mampu mengidentifikasi intervensi yang diperlukan sesuai kebutuhan situasi.
36
Pada workshop kedua , para peserta belajar tentang perbedaan budaya dan sosial dalam psikologi perkembangan generasi. Fasilitator juga melakukan permainan bagi peserta yang berhubungan dengan kegiatan workshop. Lokakarya ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik kepada peserta pembelajaran tentang bagaimana orang tumbuh, berubah dan tetap sama sepanjang rentang hidup mereka, memiliki evaluasi yang lebih baik terhadap kebutuhan yang dialami dalam menghadapi tuntutan tahap kehidupan tertentu, menghargai berbagai tantangan hidup dan pengalaman dalam menjadikan mereka orang yang lebih baik. Kami belajar dari budaya negara lain yang dapat mempengaruhi aktivitas kaum muda-senior, misalnya, “mengutamakan keluarga” di Uzbekistan. Keluarga sangat penting di Uzbekistan, yang berarti bahwa orang-orang yang rentan termasuk orang tua akan paling sering menerima dukungan dari keluarga mereka, terlepas dari situasi keuangan mereka. Keluarga langsung berkembang dari anak-anak dan orang tua mereka, menjadi paman dan bibi, mertua, kakek-nenek, kadang-kadang buyut, dan teman-teman keluarga yang cukup dekat untuk menjadi saudara kehormatan. Kami juga mempelajari apa yang mempengaruhi situasi manula di Lithuania, yaitu pola pikir membatasi gaya hidup manula (misalnya permainan papan yang berhubungan dengan anak-anak; hanya orang dewasa yang makan di restoran, dan manula yang seharusnya tinggal di rumah, bekerja di kebun dan membantu cucu), karakter orang, sikap masyarakat terhadap orang tua, dan pensiun hari tua di mana 20% dari seluruh penduduk memberikan tekanan yang luar biasa pada perekonomian negara, membuat negara meminjam uang dengan biaya tinggi. Para peserta juga belajar bahwa ada undangundang tentang lansia di setiap negara, Selama lokakarya hari ketiga, para peserta belajar untuk menggali cara terbaik untuk pentingnya berkomunikasi dengan para senior, belajar bagaimana menghargai dinamika pergaulan antargenerasi, dan mengembangkan hubungan pribadi dan sosial dengan peserta lain dan pengalaman dalam menjadikan mereka orang yang lebih baik. Pada sesi ini, para peserta belajar dengan cara yang menyenangkan dengan memainkan permainan lokal Filipina yang disebut bato, pik mirip batu, kertas, dan gunting. Dari permainan ini, kita belajar bahwa komunikasi adalah proses dua arah dimana pesan berupa ide, pikiran, perasaan, dan pendapat ditransmisikan antara dua orang atau lebih dengan maksud untuk menciptakan pemahaman bersama. Dalam praktiknya, para peserta diharapkan dapat menyatukan orang-orang dalam kegiatan yang bertujuan dan saling menguntungkan yang mempromosikan pemahaman dan rasa hormat yang lebih besar antar generasi, berkontribusi untuk membangun komunitas yang lebih kohesif, menjadi Inklusif, membangun sumber daya positif yang dimiliki oleh yang lebih muda dan yang lebih tua. untuk menawarkan satu sama lain dan orang-orang di sekitar mereka.
37
Kegiatan lokakarya bertujuan untuk memberikan keterlibatan dan pengalaman kolaboratif dalam pengembangan program, menciptakan kegiatan yang responsif terhadap para tetua senior di komunitas terpilih, dan mendemonstrasikan kegiatan antargenerasi yang menyoroti inklusi sosial manula. Program-program ini termasuk program literasi keuangan alat berikut (mengajarkan senior keterampilan untuk mengelola keuangan pribadi mereka), berbagi rumah (pengaturan antara dua orang yang tidak terkait untuk berbagi ruang hidup untuk keuntungan bersama), pemeliharaan rumah, dan perbaikan rumah (memerangi sumber daya terbatas dan hambatan fisik manula untuk menciptakan lingkungan hidup yang menyenangkan bagi mereka), time banking (ini adalah skema di mana orang mendapatkan kredit dengan menghabiskan waktu membantu orang lain baik anggota-ke-anggota atau dalam proyek layanan masyarakat), dan pengiriman makanan (menyediakan sumber daya yang memadai untuk nutrisi yang tepat yang mengarah pada kesehatan dan kesejahteraan orang dewasa yang lebih tua).
Pada sesi ini, para peserta dari masing-masing kelompok dikumpulkan untuk berdiskusi/brainstorming tentang pembuatan proyek lokal yang mampu dilaksanakan di masa depan. Kami juga belajar bagaimana menjembatani kesenjangan antara pemuda dan senior, menanamkan semangat keterlibatan berkelanjutan dari para senior, berbagi ide/wawasan tentang pembelajaran kooperatif dan keterlibatan. Kegiatan lokakarya ini bertujuan untuk mengakui nilai hubungan antar generasi dengan memungkinkan pemuda dan manula untuk menghargai seluruh rentang hidup, Meningkatkan perkembangan pribadi dan sosial, Mengurangi isolasi sosial, Mengurangi stereotip dan sikap negatif baik untuk manula maupun generasi muda, Keduanya merasa istimewa. kompetensi dan kebanggaan dalam peran khusus, mereka mengisi satu sama lain, hubungan yang saling melengkapi, Orang dewasa yang lebih tua dapat memperoleh rasa tujuan dan kepuasan dengan mengetahui bahwa mereka memengaruhi dan memelihara mereka yang akan menjadi dewasa di masa depan. Asa Onsai Rotua Sitohang
38
APA YANG AKU PELAJARI DARI SILATURAHMI IDUL FITRI BERSAMA SENIOR
“Tidak mengunjungi orang tua menjadi sebuah bentuk tindakan cinta” Begitulah hidup kita di masa wabah pandemi, tidak mengujungi orang tua menjadi sebuah bentuk cinta, hampir 2 tahun kita hidup ketat dengan protokol kesehatan dan perjalanan juga sangat susah untuk dilakukan. Selama hampir 2 tahun, pemerintah Indonesia memperketat peraturan perjalanan. Secara pribadi, aku tidak merayakan Idul Fitri 2021 bersama keluarga karena tidak bisa berkunjung disebabkan oleh pandemi COVID-19. Setelah hampir 2 tahun tidak menjenguk orang tua dan sanak saudara, akhirnya di lebaran tahun 2022 ini, ketika pemerintah mencabut peraturan perjalanan, sehingga jauh lebih mudah dan aku bisa merayakan lebaran tahun ini bersama keluarga di kampung halaman. Pada kesempatan pulang kampung ini aku bertemu banyak teman juga. Berbicara tentang Idul Fitri di Indonesia dimana biasanya orang akan pulang kampung untuk bertemu keluarga mereka, akan ada pertemuan antar generasi atau reuni keluarga. Dan tentu saja akan ada banyak pertanyaan juga. Di Indonesia, pada hari raya saat orang saling berkumpul seperti ini, aku rasa sudah menjadi rahasia umum bahwa keluarga akan menanyakan pertanyaanpertanyaan yang mungkin aka membuat kebanyakan orang terganggu, seperti beberapa pertanyaan di berikut:
“Kapan kamu akan lulus kuliah?”
"Sudah punya pacar belum?" “Kapan mau menikah?” “Kapan punya anak?” 39
Bagi generasi muda, pertanyaanpertanyaan itu menurutku sangat menjengkelkan. Dan untuk generasi yang lebih tua mereka menganggapnya bercanda. Jika ditanyai mengapa pertanyaan-pertanyaan seperti itu membuatku kesal, karena aku percaya bahwa setiap mahasiswa berjuang keras untuk menyelesaikan skripsinya dan setiap orang juga memiliki perjuangannya masing-masing,
Pertanyaan seperti “kapan lulus?” hanya membuat kita merasa lebih buruk, tapi mungkin dari sudut pandang senior, mereka menanyakan pertanyaan ini untuk memotivasi kita. Pertanyaan lain tentang pasangan atau pernikahan juga sangat pribadi dan beberapa orang mungkin tidak memprioritaskannya di awal usia dua puluhan, atau orang lain mungkin ingin menikah tetapi belum menemukan pasangan yang tepat. Dan orang tua mungkin berpikir bahwa dengan menanyakan kapan lulus kuliah atau kapan menikah merupakan suatu motivasi. Bagiku yang meninggalkan kampung halaman di tengah pandemi, dan lulus kuliah secara online. Pertanyaan yang diajukan orang-orang terakhir kali aku mengunjungi orang tuaku berbeda dari 1,5 tahun yang lalu, Dulunya orang bertanya kapan aku lulus, dan tahun ini mereka
bertanya
kapan
aku
akan
menikah,
atau
terkadang bercanda tentang bagaimana orang tuaku menginginkan cucu. Aku tidak suka pertanyaan ini karena tidak berencana untuk menikah dalam waktu dekat. Pertanyaan ini mungkin terdengar biasa saja, karena perempuan di sekitar lingkungan orang tuaku dan sebaya denganku rata-rata sudah menikah atau punya anak. Ibuku tahu aku tidak suka pertanyaan ini dan
beliau
menasehati
agar
aku
yang
berusaha
memahami pola pikir mereka, dan tidak lupa dari mana aku berasal.
Meski terkadang pertanyaan dari para senior ini menggangguku, tapi pasti ada 2 sisi di setiap koin. Dari bertemu dan berbincang dengan senior, aku juga dapat belajar tentang kehidupan, bahwa mereka berbagi pengalaman hidup mereka, terkadang aku tidak bisa memahaminya karena aku belum pernah mengalaminya, mereka memberiku nasihat tentang banyak hal. Mereka telah mengalami banyak pengalaman hidup sebelumnya dan terkadang itu membuatku merasa seperti berada di dalam kotak dan perlu melihat gambaran hidup yang lebih besar bahwa setiap momen sulit yang terjadi saat ini tidak selamanya, bahwa hidup bukanlah perlombaan dan setiap orang punya jalan suksesnya masing-masing. Nevy Widya Pangestika 40
MELESTARIKAN SATE LILIT SEBAGAI HIDANGAN LOKAL PENGHUBUNG ANTARGENERASI
Bangsa yang besar tidak akan pernah lepas dari warisan budayanya Melestarikan hidangan lokal akan menjadi tindakan untuk meningkatkan budaya kita agar tetap lestari terlebih di era globalisasi. Di Bali, banyak sekali makanan tradisional yang dibuat oleh orang tua untuk disajikan bersama. Tapi kali ini aku bersama anak-anak muda lainnya akan membuat sate lilit yang nantinya akan kami sajikan untuk para orang tua. Sebelum memanggang Kita perlu menyiapkan beberapa bahan untuk membuat adonan sate lilit yang akan membutuhkan beberapa bahan untuk takaran 15 porsi sebagai berikut: 1500 gram daging ikan tenggiri giling, 450 gram kelapa parut, 15 lembar daun jeruk purut, buang tulangnya, cincang halus, 6 sendok teh garam, 9 sendok teh gula pasir, 9 sendok makan minyak goreng untuk menumis, Batang serai secukupnya.
41
Selain itu, bersama dengan bumbu halus yang terdiri dari: 36 siung bawang merah, 30 siung bawang putih, 15 buah cabai merah, 3 buah tomat merah, 15 butir kemiri, 15 sentimeter kunyit, lengkuas 15 sentimeter, 6 cm jahe, 3 sendok teh ketumbar bubuk, 3 sendok teh asam jawa, 3 sendok teh terasi goreng, 3 batang serai, ambil putihnya, cincang halus, Setelah adonan selesai, kami lanjutkan ke langkah selanjutnya yaitu membuat lilitan adonan di tusuk sate. Proses Memanggang Proses
memanggang
dilakukan
membuat
perapian
dengan arang dan juga beberapa bahan yang mudah terbakar.
Setelah
perapian
siap,
kita
meletakkan
panggangan untuk disajikan sebagai tunggangan sate lilit yang digunakan. Untuk semua teman-teman yang ikut pasti sangat antusias dan mereka juga bergiliran untuk memanggang. Selama proses berlangsung, api tidak boleh besar, jadi harus tetap kecil. Ini dimaksudkan agar sate lilitnya tidak gosong.
Setelah Memanggang Setelah proses memanggang sate selesai, makanan siap disajikan. Beberapa temanku sudah tidak sabar untuk mencoba sate lilitnya. Sebagai bentuk kepedulian Pemuda dalam melestarikan makanan tradisional kami, kami menyajikannya untuk orang tua, yang biasanya mereka sajikan untuk kami sebagai anak muda.
Kami yakin masih banyak anak muda yang peduli dengan isu budaya lokal. Oleh karena itu, kami ingin menjadi bagian dari pemuda yang antusias dalam mempromosikan warisan budayanya. Melalui kegiatan ini, kami berharap lebih banyak pemuda akan lebih memperhatikan pelestarian dan sekaligus mengajak semua untuk saling terhubung antar generasi, terutama dengan para orang tua. Dimas Fadhilah Aprilian Santosa 42
Belajar Mejejaitan, Pererat Komunikasi Antargenerasi di Banjar Prapat Masyarakat Bali tidak akan lepas dari upacara keagamaan, dan dalam setiap upacara akan dibutuhkan banten (sesajen yang akan dipersembahkan) dan proses pembuatan sesajen ini disebut mejejaitan. Mejejaitan adalah kegiatan mengolah daun kelapa menjadi potongan-potongan yang nantinya akan disatukan dan menjadi suatu bentuk yang mengandung makna dan filosofi di dalamnya. Karena ini merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali, maka penting pula untuk melestarikan budaya ini dari generasi ke generasi, belajar membuat persembahan bersama antar generasi juga merupakan cara yang baik untuk menghubungkan antar generasi.
Mejejaitan banyak dilakukan oleh perempuan Bali, karena membutuhkan ketelitian, pemahaman, dan kesabaran untuk membuatnya, namun bukan berarti pria tidak bisa melakukannya. Dalam mejejaitan tidak boleh dilakukan sembarangan karena ada beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti bentuk, pemotongan, pelekatan, dan isi sesajen. Untuk bentuk, ada tiga bentuk yang harus ada dalam jahitan, seperti bentuk bulat, persegi dan segitiga; ketiga hal ini tidak akan lepas dari potongan-potongan yang akan digunakan. Sedangkan potongan dibuat tergantung apa yang akan disajikan. Misalnya, jika ingin memberikan canang sari (sesajen), potongannya akan dibulatkan dan dibuat sebaik mungkin agar terlihat indah. Tidak hanya canang sari, ada juga potongan Ceper yang potongannya akan berbentuk kotak dan berlubang karena di tengahnya akan ditambal dengan daun pisang atau daun kelapa (janur).
43
Ada
banyak
jenis
banten,
dan
ukuran apapun, misalnya jika banjar (lingkungan) mengadakan upacara, banten akan menjadi besar dan membutuhkan banyak orang untuk membuatnya. Karena itulah di Bali selalu ada gotong royong yang seperti banyak orang di Banjar akan membuat
dan
menyelesaikan
upacara bersama. Di banjar juga para
wanita
akan
melakukan
mejaitan, biasanya untuk upacaraupacara
besar
mereka
menggunakan banten besar seperti Prayascita, Durmangala, Biyakala, Sayut, dan Banten Mecaru. Semua banten besar tersebut memiliki arti seperti,
Prayascita
yaitu
untuk
menyucikan
bagian
atas
candi
sedangkan
Durmangala
dan
Biyakala untuk menyucikan bagian tengah dan bawah candi.
Upacara tidak hanya dilakukan dengan banten tetapi juga dengan hal lain seperti tumpuan dan atap untuk banten. Bagian ini biasanya bagian laki-laki, karena terbuat dari Klangsah. Klangsah adalah daun kelapa tua yang dirajut menjadi lembaran yang dapat digunakan sebagai alas dan pucuk banten serta tempat teduh bagi orangorang di pura. Klangsah ini akan dibuat menyerupai atap, diikat menjadi satu dan dibuat tiang dengan menggunakan kayu untuk menopangnya sehingga dapat berdiri seperti atap tenda yang terbuat dari daun kelapa tua. Selain digunakan untuk banten dan atap klangsah, juga digunakan sebagai alas untuk menyiapkan hidangan bagi orang-orang yang datang ke upacara tersebut. Masih banyak lagi yang bisa dimanfaatkan, karena sejujurnya orang Bali tidak lepas dari mejejaitan, banten, klangsah dan banyak hal tentang upacara keagamaan. Karena orang Bali sangat menjaga tradisi yang sudah ada sejak dahulu kala dan karena itulah yang membuat Bali menjadi tempat yang sangat ingin dikunjungi oleh semua orang di dunia ini, mereka ingin melihat semua keunikan yang ada di Bali dan ingin melihat bagaimana masyarakat Bali menjaga dan menjalankan tradisi sampai sekarang.
Ni Wayan Kariasih
44
BELAJAR BERORGANISASI LINTAS GENERASI Dari generasi ke generasi lainnya pasti
Pada hari Kamis, 5 Mei 2022 dilaksanakan
memiliki
berbeda
kegiatan sharing session bersama senior
dalam berbagai hal. Mulai dari cara bertahan
dengan narasumber Drs. I Gusti Bagus Made
hidup,
Wiradharma,
sudut
pandang
mendidik,
perbedaan
yang
berorganisasi
teknologi.
hingga
Seiring
dengan
kelahiran
akan
M.Si.
1957.
Beliau
Jabatan
adalah
pria
organisasi
yang
terlihat
pernah diikuti antara lain Ketua KNPI, Ketua
perbedaan antara zaman dahulu dengan
STISPOL Wira Bhakti Denpasar, Ketua Forum
zaman sekarang. Hal tersebut bukanlah
Asimilasi
suatu hal yang menghilangkan jati diri,
TARPADNAS,
namun ada banyak hal yang bisa dipetik dan
Negara,
tetap diimplementasikan antara generasi ke
LEMHANNAS,
generasi. Adapun hal yang akan dibahas
KEBANGSAAN
adalah senior akan berbagi pengalaman
memiliki pengalaman pernah ke luar negeri
berorganisasi, kemudian anak muda juga
yang mungkin bisa dilanjutkan oleh generasi
akan
dalam
muda. Beliau pernah menjadi Duta Indonesia
belajar
bersama Duta Malaysia ke Okayama, Jepang
kebijaksanaan
dalam kegiatan IYEAO (International Youth
untuk menilai manusia lain dan situasi, dan
Exchange Association of Okayama) selama
terutama memberikan respon yang tepat
satu
terhadap lingkungannya. Dengan kegiatan
mengatakan,
ini, diharapkan anak muda dapat belajar dari
tempat-tempat
senior untuk mencari titik tengah supaya
mendapat kesempatan berkat bergabung
tetap menghormati karakter setiap individu
dengan
dan
Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI),
perkembangan
zaman,
memberikan
kegiatan bersama
pandangannya
organisasi.
Kita
mengembangkan
tentunya
organisasi
dapat
walaupun
akan
mencapai sudah
tujuan
beliau
terdapat
Nasional
Provinsi
Alumni
Alumni
bulan
Bali,
ORPIM
dan
Alumni
pada
tahun
bahwa di
memulai
TAPLAI
Beliau
1995.
beliau
dari
adalah
bawah
juga
Beliau
mengenal
Indonesia Beliau
Bela
Pemuda-
LEMHANNAS.
organisasi.
Alumni
TAR-KADER
dan
karena Ketua tidak
yang
langsung menjadi pemimpin. Beliau mulai
harus dimiliki masih tetap sama. Oleh karena
belajar organisasi dari sekolah menengah
itu, sangat diperlukan sharing session lintas
pertama hingga perguruan tinggi. Kebetulan
generasi.
beliau lulusan ekonomi yang berkecimpung
perbedaan
jaman,
namun
softskill
di bidang manajemen.
45
Dalam sharing session beliau mengatakan bahwa hal pertama yang harus kita pahami adalah apa itu organisasi. Organisasi adalah penyatuan dua orang atau lebih dalam suatu badan yang terorganisir. Tidak harus konvensional. Pada zaman dahulu, sebelum ada teknologi ketika ingin menyampaikan pendapat harus bertemu secara langsung, sedangkan sekarang bisa melakukannya melalui WhatsApp. Intinya, harus menyesuaikan dimana saat ini berada. Dalam berorganisasi harus memiliki satu kesatuan visi, satu tujuan dan misi. Visi adalah citacita mendasar, tujuan, kemudian misi adalah apa yang harus dilakukan. Selain itu, dalam pengelolaan organisasi harus ada POAC. Planning – Organizing – Actuating – Controlling. Dalam membuat sesuatu tentunya diawali dengan perencanaan, kemudian ditentukan apa yang dikerjakan dan siapa yang mengerjakan, kemudian dilakukan proses dan juga koordinasi sebelum pekerjaan tersebut. Setelah itu dilakukan pengendalian dan evaluasi. Saat ini eranya sudah berbeda. Kalau dulu orientasinya konvensional, sekarang sudah era digital. Sekarang dengan globalisasi kita bisa melihat seluruh dunia. Kalau dulu ingin bertemu orang Jepang, harus ke Jepang. Tapi sekarang bisa berkomunikasi dengan teman-teman di Jepang dapat melalui Facebook atau chatting. Jika ingin membeli barang di masa lalu harus pergi ke pasar, sekarang dapat melakukannya secara online. Dengan adanya globalisasi ini dapat memperpendek jarak. Dengan begitu, soft skill yang harus ditingkatkan adalah kemampuan menggunakan teknologi informasi. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tentang kepemimpinan. Kepemimpinan adalah kemampuan untuk menggerakkan orang lain. Haruskah berpendidikan tinggi? Tidak. Contoh pengemudi mobil, tidak berpendidikan tinggi. Namun, beliau mampu mengumpulkan seluruh driver. Ini adalah kemampuan kepemimpinan. Pemimpin yang baik adalah yang memiliki kemampuan dalam kepemimpinan.
Siapa
yang
memiliki
kemampuan
untuk
menggerakkan orang lain, dialah pemimpin yang sebenarnya. Memotivasi dan mendorong orang lain dengan tujuan. Di akhir sharing session, Pak Wira berpesan kepada generasi muda bahwa organisasi harus memiliki satu visi, satu tujuan, dan satu misi. Itu yang harus dipegang. Visi adalah apa cita-cita terbesar, lalu apa tujuan yang kita inginkan, dan apa yang harus kita lakukan. Itu bertahan di semua generasi. Kesimpulannya, pemimpin yang baik adalah yang untuk
mampu
menggerakkan
mencapai
suatu
anggotanya
tujuan.
Dalam
organisasi harus ada visi, tujuan dan misi yang jelas. Dalam organisasi harus memperhatikan POAC (Planning – Organizing – Actuating – Controlling). Ni Putu Mia Puriyanti 46
BEPERGIAN KE LUAR NEGERI MELALUI VIRTUAL REALITY Di zaman yang serba modern ini, para senior dan anak muda selalu ingin mencoba jalan-jalan ke luar negeri ke negara-negara yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya. Mereka tidak pernah berkesempatan karena banyaknya masalah, misalnya biaya transportasi yang mahal. Pada hari Senin, 9 Mei 2022, Kami memberikan kesempatan kepada mereka untuk mewujudkan impian mereka bepergian ke luar negeri melalui penggunaan Virtual Reality (VR). Virtual Reality adalah lingkungan yang dibuat oleh komputer dengan pemandangan dan objek yang tampak nyata, membuat pengguna merasa tenggelam dalam lingkungan mereka. Dalam Proyek CSII kami, kami mengumpulkan 7 senior dan 8 pemuda untuk mencoba Virtual Reality. Untuk peserta senior yaitu Bapak Mustika (77), Ibu Ratnawati (68), Bapak Yudiana (77), Bapak Suartika (63), Ibu Rusmini (71), Bapak Suarta (65) dan Bapak Suyatno (67). Untuk peserta remaja, mereka adalah Winangun (20), Dika (19), Gedik (19), Sila (20), Galang (19), Gilang (19), Adi (19) dan Nova (19). Hampir semua peserta kami tidak pernah bepergian ke luar negeri sepanjang hidup mereka.
Di
Virtual
Reality,
kami
telah
menyiapkan
aplikasi
bernama
Wander
yang
memungkinkan mereka merasakan pengalaman bepergian ke luar negeri ke negaranegara yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya. Peserta senior pertama kami, Pak Mustika sudah pernah bepergian ke luar negeri sekali ke Beijing, China. Dia ingin merasakan Beijing lagi melalui penggunaan VR. Dia menikmati pengalaman itu dan tersenyum setelah menggunakan VR. Seperti Pak Mustika, hampir setiap peserta senior kami menyukai pengalaman bepergian ke luar negeri melalui VR. Para senior lainnya pergi ke berbagai negara seperti, London, Hong Kong, Singapura, Prancis dan mengunjungi lokasi terkenal seperti, Menara Eiffel, dan The Big Ben. Ketika ditanya tentang apa pendapat mereka tentang VR dan The Youth, Pak Suartika menjawab bahwa kaum muda harus bersyukur memiliki teknologi seperti VR karena seperti semua senior lainnya, mereka mengalami kehidupan yang berbeda dari kaum muda. Dulu, mereka yang bepergian ke luar negeri sudah kesulitan karena biaya transportasi dan masalah ekonomi. Di situlah VR masuk untuk menyelesaikan masalah tersebut. Meskipun VR mewujudkan impian mereka, Bu Rusmini mengatakan bahwa VR dan teknologi
lainnya harus digunakan dengan bijak oleh kaum muda agar dapat
bermanfaat dan memberikan dampak yang aman bagi kehidupan kita sehari-hari.
47
Seperti para senior, kami juga memberikan kesempatan kepada para remaja untuk mencoba pengalaman bepergian ke luar negeri menggunakan VR. Karena mereka terbiasa dengan teknologi, mereka hampir tidak memiliki masalah tentang cara menggunakan perangkat VR meskipun mereka belum pernah mencoba VR sebelumnya. Mereka melakukan perjalanan ke kota-kota terkenal dan mengunjungi lokasi-lokasi terkenal seperti, Patung Liberty, Kota Akihabara, dan banyak lainnya. Mereka semua merasa sangat senang karena merasa seperti sedang berjalan dan melihat lokasi terkenal ini di depan mata mereka sendiri. Ketika ditanya tentang apa pendapat mereka tentang VR dan para senior, Gilang mengatakan bahwa sangat menyedihkan bagi para senior untuk hidup tanpa teknologi semacam ini yang benar-benar
membuat
mimpi
menjadi
kenyataan.
Adi
menjawab
bahwa
membandingkan anak muda dan orang tua, anak muda seharusnya lebih bersyukur hidup di dunia yang lebih sederhana karena teknologi. Kehidupan masa lalu para senior memiliki banyak masalah. Dari jawaban mereka, kita dapat menyimpulkan bahwa kaum muda belajar banyak tentang para senior dan kesulitan kehidupan masa lalu mereka. Dari
Proyek
CSII
ini,
kita
dapat
menyimpulkan bahwa anak muda belajar lebih
banyak
tentang
bagaimana
kehidupan saat itu dengan para senior dan para senior belajar lebih banyak tentang VR dan kemampuannya untuk mewujudkan impian mereka bepergian ke luar negeri. Gede Martha
48
BELAJAR DARI PEMBELAJAR SEUMUR HIDUP
Pada bulan Mei 2022, aku mendapat kesempatan untuk pergi ke Filipina untuk Kursus Pelatihan CSII (Community Seniors Involved International), ini adalah kedua kalinya aku mengikuti proyek mobilitas Erasmus+, tetapi kali ini adalah pengalaman pertama aku menjadi koordinator, aku berangkat ke Filipina dengan 4 anggota tim, yaitu: Karia, Mita, Dimas, dan Martha. Ini adalah pertama kalinya bagi mereka semua untuk berpartisipasi dalam proyek Erasmus+, dan juga pertama kalinya Mita dan Martha pergi ke luar negeri, jadi kami memiliki banyak anggota dengan pengalaman pertama di sini.
Kami memulai perjalanan dari Bali, dan kami terbang ke Jakarta untuk menginap selama satu malam, kemudian kami terbang lagi ke Manila melalui Kuala Lumpur. Sesampainya di sana, kami berkesempatan untuk berkeliling Manila selama satu hari sambil menunggu peserta dari negara lain datang. Setelah semua peserta tiba di Manila, keesokan paginya kami berangkat ke Bagac, Bataan dimana akan diadakan pelatihan. Kami tiba di Bagac pada sore hari dan setibanya disana kami memperkenalkan diri dengan peserta-peserta dari negara lain. Pesertanya berasal dari Indonesia, Filipina, dan Lituania. Keesokan paginya kursus pelatihan akan dimulai, jelas ada banyak sesi workshop dan diskusi tim, tetapi aku ingin menyoroti percakapan dan hubunganku yang sebenarnya dengan para senior yang aku temui di sana karena itulah tema utama proyek ini. Di pagi pertama di Bagac, kami pergi ke Pag Asa Barangay Multihall untuk mengadakan workshop membuat sampo bar dengan senior disana, workshop berjalan menyenangkan dan aku sangat terkesan dengan kemampuan bahasa Inggris mereka, bahkan mereka adalah generasi yang lebih tua dan mengklaim bahwa mereka tidak dapat berbicara bahasa Inggris atau tidak lancar, tapi menurutku bahasa Inggris mereka sangat bagus. Dan dari apa yang aku lihat, mereka mau belajar hal baru. aku berbicara sedikit dengan beberapa dari mereka. Dan kegiatan kedua setelah kami meninggalkan Pag Asa Barangay adalah memperkenalkan setiap organisasi dan proyek lokal yang kami lakukan. 49
CSII
Interaksi selanjutnya dengan para senior adalah mengunjungi komunitas adat Ayta Magbukun yang menempati Semenanjung Bataan. Kami naik mobil jeepney untuk kesana, butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk menuju komunitas tersebut. Ketika kami tiba, ada beberapa senior yang menyambut kami, kebanyakan dari mereka adalah perempuan karena laki-laki bekerja di ladang, ada beberapa perempuan paruh baya juga dan banyak anak-anak. Anak-anak suka memanjat pohon. Para senior Ayta Magbukun juga sangat ramah, mereka sangat senang melihat kami datang, dan mereka telah mengenal beberapa job shadowers. Mereka mengajari kami cara membuat anyaman bambu untuk rumah mereka. Ketika aku pertama kali melihatnya, itu tampak seperti apa yang di Jawa kami sebut "gedhek", tetapi terlihat lebih tebal, dan lebih sulit untuk membuatnya daripada yang aku kira. Dan sebagai gantinya, tim Indonesia mengajari para senior Ayta Magbukun beberapa kalimat dasar bahasa Indonesia. Para senior disana senang belajar bahasa Indonesia, mereka juga sangat ramah dan terlihat bersemangat, hal ini membuat aku merasa senang.
2 hari berikutnya kami fokus pada workshop dan diskusi kelompok tentang senior, kami berbagi masalah senior di negara kami dan mencoba mencari solusi dengan pemetaan empati dan cara apa yang bisa kami lakukan, meskipun dengan angkah yang kecil. Output dari pelatihan ini adalah untuk menciptakan inisiatif sosial di mana kita dapat membantu para senior. Kami dikelompokkan dalam 3 kelompok untuk workshop dan diskusi ini. Untuk inisiatif sosial yang kami buat, dipilih dari ide 3 kelompok. Kami melakukan pitching untuk memilih ide yang ingin kami terapkan di masyarakat. Ide yang dipilih adalah buku panduan senior, kami membuat buku panduan
tentang
cara
menggunakan
Marketplace.
50
messenger
dan
Hari berikutnya kami pergi ke Pag Asa Barangay untuk bertemu dengan para senior di sana untuk berbagi inisiatif. aku mengajari Pak Al tentang inisiatif yang kami buat tentang cara menggunakan Facebook messenger dan marketplace bersama Martha. Beliau adalah Kepala Polisi Barangay, pria yang luar biasa, dan berbicara bahasa Inggris dengan lancar. Beliau menceritakan tentang hidupnya, dan bagaimana beliau bertemu istrinya, serta bercerita tentang pendudukan Jepang di Filipina. Dan setelah kami selesai dengan inisiatif sosial dengan para senior di Pag Asa Barangay, kami kembali ke hotel dan mengadakan kegiatan pertukaran budaya. Setiap
negara
memiliki
stan
dan
perwakilan
dari
masing-masing
negara
menyiapkan beberapa makanan untuk disajikan. Setiap negara juga menampilkan budaya tradisionalnya, bisa berupa tarian atau nyanyian. Karia dan Mita dari tim Indonesia membawakan “Tari Rejang Dewa”. Sebagai penutup, aku sangat berterima kasih atas pengalaman di Filipina ini. Aku tidak hanya mendapatkan ilmu dari pembelajaran di kursus pelatihan, tetapi juga aku bertemu banyak teman yang luar biasa. Dari senior yang aku temui di Filipina dari pembuatan sampo bar, senior di Ayta Magbukun, dan senior yang aku temui selama workshop inisiatif sosial, aku terkesan dengan motivasi mereka untuk belajar. Hal tersebut mengajarkanku bahwa kita harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Dan dari teman-teman Indonesiaku, aku juga belajar banyak dari mereka meskipun mereka semua lebih muda dari aku. Dari sini aku dapat menyimpulkan bahwa kita dapat belajar dari setiap generasi.
Nevy Widya Pangestika 51
MENUJU HUBUNGAN PEMUDA DAN SENIOR YANG LEBIH BAIK Hari keberangkatan akhirnya tiba, aku bersama tim Indonesia Act Global Organization yaitu Nevy Widya Pangestika, Ni Wayan Kariasih, Ni Putu Mia Puriyanti, Gede Martha, dan aku bertemu di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Kami berangkat dari Bali menuju Filipina dalam rangka mengikuti Training Courses CSII (Community Senior Involved International). Pada hari pertama, kegiatan pertama kami diadakan di Bataan, Filipina. Kami memulai dengan beberapa kegiatan seperti games untuk saling mengenal dan dilanjutkan dengan gambaran program CSII dan setiap kegiatan selama CSII. Kegiatan ini sangat menarik bagi aku karena metode, struktur materi, dan topik memegang peranan penting bagi keberhasilan proyek ini. Seperti pada awalnya kita diperkenalkan dengan metode design thinking yang terdiri dari beberapa tahapan yaitu empati, define, ideasi, prototype, dan test. CSII memiliki tujuan untuk mengatur kegiatan yang menghubungkan antar generasi. Kegiatan ini melibatkan kedua generasi yang mendorong pertukaran pengalaman hidup mereka, belajar dari satu sama lain, dan mengurangi kesenjangan antara senior dan pemuda. Kesempatan besar bagi aku untuk mendapatkan beasiswa dari Erasmus+ dan berpartisipasi dalam proyek ini.
52
Berbicara tentang tahap Empati. Pada kegiatan pertama, seluruh peserta mengunjungi komunitas senior
Pag-Asa
Barangay
untuk
mengetahui
situasi dan kondisi senior di sana. Seluruh peserta CSII berinteraksi bersama dalam suatu kegiatan. Pada
tahap
organisasi
ini,
seluruh
menjelaskan
perwakilan
situasi
dan
dalam kondisi
masing-masing negara terkait isu kesenjangan generasi guna menumbuhkan empati. Pada tahap Define, seluruh peserta berdiskusi bersama untuk mengetahui permasalahan apa saja yang dihadapi oleh para senior. Ketika masalah utama dibahas dan dilanjutkan ke tahap ide
untuk
beberapa
mencari workshop
solusi.
Kami
terlebih
mengikuti
dahulu
dengan
tujuan pembekalan dalam merumuskan solusi. Selama diskusi semua peserta dibagi menjadi 3 kelompok. Setiap grup memiliki anggota dari berbagai negara seperti Indonesia, Lituania, dan Filipina. Tahap ke-4 disebut Prototipe. Masing-masing kelompok
merumuskan
solusi
untuk
senior
berupa kanvas peta empati dan pitch deck. Setelah solusi dibuat, setiap kelompok harus melakukan pitching yang akan menciptakan satu solusi
antara
semua
diimplementasikan dibentuk
sebagai
kelompok
bersama. Test.
Tahap
untuk terakhir
Kegiatan
ini
mengimplementasikan ide-ide yang telah dipilih di komunitas senior di Pag Asa Barangay. Idenya adalah untuk membuat buku panduan senior untuk percepatan teknologi, terutama langkahlangkah penggunaan Facebook dan Messenger. Dalam proyek ini, aku belajar bahwa akselerasi teknologi dapat terlaksana dengan baik jika ada kerjasama antar generasi. Ini juga merupakan wujud nyata pemuda untuk kehidupan lanjut usia yang lebih baik. Terakhir, kepedulian pemuda terhadap senior hari ini adalah apa yang akan mereka pedulikan di masa depan. Dimas Fadhilah Aprilian Santosa 53