Skip to main content

IMPLEMENTASI TAUHID PADA MAHASISWA DALAM MENYIKAPI MASALAH PACARAN

Page 1

IMPLEMENTASI TAUHID PADA MAHASISWA DALAM MENYIKAPI MASALAH PACARAN Analisis Hasil Kuesioner, Dalil Islam, dan Penelitian Terdahulu Nama Dosen: Agung Mulyana, M.Ag Nama Penulis: Abdullah Wafaa Tilmisani Institusi: STEI FITHRAH INSANI Email: abdullahwafaaok@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menggambarkan pemahaman mahasiswa mengenai Tauhidullah dan penerapannya dalam menyikapi masalah pacaran berdasarkan hasil kuesioner pilihan ganda. Data diperoleh dari 30 respons pada Google Forms yang memuat 10 pertanyaan. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan menghitung frekuensi dan persentase pilihan jawaban yang sesuai dengan kunci jawaban kuesioner. Hasil menunjukkan bahwa 29 responden (96,7%) memilih definisi Tauhidullah sebagai keyakinan bahwa Allah SWT satu-satunya Tuhan yang berhak disembah; 29 responden (96,7%) memilih penerapan tauhid melalui ajaran Allah sebagai pedoman perilaku; 23 responden (76,7%) mengidentifikasi tekanan teman sebaya dan media sosial sebagai faktor pemicu masalah pacaran; dan 27 responden (90,0%) memilih sikap berpegang pada prinsip tauhid dan menjaga batas agama ketika menghadapi tekanan teman. Persentase jawaban sesuai kunci pada sepuluh pertanyaan berkisar antara 76,7% hingga 96,7%, dengan rerata 92,0%. Temuan ini menunjukkan tingkat pemahaman konseptual yang tinggi dalam konteks pertanyaan yang diajukan. Namun, karena instrumen berupa pilihan ganda dan tidak mengukur perilaku aktual, hasil tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa responden selalu menerapkan nilai tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan dihubungkan dengan dalil Al-Qur’an dan hadis serta penelitian terdahulu tentang religiusitas dan perilaku pranikah. Kata kunci: Tauhidullah, mahasiswa, pacaran, kuesioner, etika pergaulan Islam ABSTRACT This study aims to describe students' understanding of Tauhidullah and its application in dealing with dating issues based on the results of a multiple-choice questionnaire. Data were obtained from 30 responses on Google Forms containing 10 questions. The analysis was carried out descriptively by calculating the frequency and percentage of answer choices that matched the questionnaire answer key. The results show that 29 respondents (96.7%) chose the definition of Tauhidullah as the belief that Allah SWT is the only God worthy of worship; 29 respondents (96.7%) chose the application of tauhid through Allah's teachings as a guide for behavior; 23 respondents (76.7%) identified peer pressure and social media as factors triggering dating problems; and 27 respondents (90.0%) chose to stick to the principle of tauhid and maintain religious boundaries when facing peer pressure. The percentage of correct answers on the ten questions ranged from 76.7% to 96.7%, with an average of 92.0%. These findings indicate a high level of conceptual understanding regarding the questions asked. 1


However, since the instrument was multiple-choice and did not measure actual behavior, the results cannot be used to conclude that respondents always apply the value of tauhid in daily life. The discussion is connected to verses from the Qur’an and hadith, as well as previous studies on religiosity and premarital behavior. Keywords: Tauhid of Allah, students, dating, questionnaire, Islamic social ethics 1. PENDAHULUAN Tauhidullah merupakan landasan utama dalam Islam, yakni keyakinan bahwa Allah SWT Maha Esa dan satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Tauhid juga berfungsi sebagai pedoman moral yang membimbing seorang Muslim dalam menentukan sikap dan tindakan. Dalam kehidupan mahasiswa, implementasi tauhid berkaitan dengan tanggung jawab akademik, ibadah, pergaulan, dan cara menghadapi tekanan sosial. Masalah pacaran di kalangan mahasiswa perlu dikaji secara hati-hati karena istilah pacaran dapat merujuk pada bentuk hubungan yang berbeda-beda. Dalam perspektif Islam, penilaian terhadap suatu hubungan perlu memperhatikan perilaku konkret, tujuan, batas interaksi, penghormatan terhadap kehormatan diri dan orang lain, serta apakah hubungan tersebut mengarah pada tindakan yang dilarang agama. Tekanan teman sebaya dan pengaruh media sosial juga dapat menjadi konteks penting dalam pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan jawaban 30 responden terhadap 10 pertanyaan mengenai definisi Tauhidullah, penerapannya dalam kehidupan mahasiswa, faktor pemicu masalah pacaran, dan sikap yang dianggap sesuai dengan ajaran Islam. Artikel ini tidak menguji hubungan sebab-akibat dan tidak menilai perilaku pribadi responden di luar jawaban kuesioner. 2. METODE PENELITIAN Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif berdasarkan data sekunder berupa ekspor respons Google Forms dalam format CSV. Dataset yang dianalisis berisi 30 respons dan 10 pertanyaan pilihan ganda. Untuk setiap pertanyaan, jawaban dikategorikan sesuai kunci yang tercermin dari pilihan yang dirancang dalam kuesioner. Frekuensi jawaban dan persentase dihitung dengan rumus: persentase = (jumlah responden yang memilih jawaban sesuai kunci / jumlah responden) × 100%. Identitas pribadi dan alamat surel tidak ditampilkan dalam artikel. Keterbatasan metode: data yang tersedia tidak memuat bukti observasi perilaku aktual, wawancara, atau pengukuran psikologis yang tervalidasi. Karena itu, hasil hanya menunjukkan pola pilihan jawaban pada kuesioner ini. Generalisasi ke seluruh mahasiswa tidak dapat dilakukan tanpa informasi mengenai teknik sampling, karakteristik responden, dan konteks pengumpulan data. 3. HASIL PENELITIAN Jumlah respons yang dianalisis adalah 30. Setiap pertanyaan dijawab oleh 30 responden. Persentase jawaban yang sesuai dengan kunci pada sepuluh pertanyaan adalah sebagai berikut: 2


No.

Aspek yang Jawaban sesuai Persentase ditanyakan kunci 1 Definisi Tauhidullah 29 dari 30 96.7% 2 Penerapan tauhid 29 dari 30 96.7% 3 Pentingnya tauhid 28 dari 30 93.3% 4 Pemicu masalah 23 dari 30 76.7% pacaran 5 Takut diputuskan 29 dari 30 96.7% 6 Menolak ajakan 29 dari 30 96.7% melanggar 7 Dampak lemahnya 28 dari 30 93.3% tauhid 8 Pacaran vs kewajiban 28 dari 30 93.3% 9 Tekanan teman 27 dari 30 90.0% 10 Kesimpulan tauhid 29 dari 30 96.7% Rerata persentase pilihan jawaban yang sesuai kunci dari sepuluh butir adalah 93.0%. Persentase tertinggi, yaitu 96,7%, ditemukan pada pertanyaan 1, 2, 5, 6, dan 10. Persentase terendah terdapat pada pertanyaan 4 tentang faktor pemicu masalah pacaran, yaitu 76,7%. Pada pertanyaan tersebut, 23 responden memilih tekanan teman sebaya dan pengaruh media sosial, sementara responden lainnya memilih opsi yang tidak sesuai dengan kunci.

Gambar 1. Persentase jawaban sesuai kunci pada setiap pertanyaan. 4. PEMBAHASAN Pemahaman tentang Tauhidullah Sebanyak 29 responden (96,7%) memilih jawaban bahwa Tauhidullah berarti meyakini Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Satu responden memilih opsi 3


bahwa manusia bebas melakukan apa saja. Hasil ini memperlihatkan bahwa hampir seluruh responden mengenali definisi Tauhidullah sesuai rumusan dalam kuesioner. Meski demikian, jawaban pilihan ganda belum menunjukkan seberapa mendalam pemahaman tersebut atau bagaimana responden menjelaskannya dengan kata-kata sendiri. Tauhid sebagai Pedoman Perilaku Sebanyak 29 responden (96,7%) memilih bahwa penerapan Tauhidullah dilakukan dengan menjadikan ajaran Allah sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak. Hal ini selaras dengan pemahaman bahwa tauhid tidak terbatas pada pengakuan lisan, tetapi seharusnya tercermin dalam keputusan etis. Dalam konteks mahasiswa, hal ini dapat berupa menjaga salat, berlaku jujur, bertanggung jawab terhadap pendidikan, menghormati batas pribadi, dan tidak mengikuti tekanan sosial yang bertentangan dengan nilai agama. Faktor Pemicu Masalah Pacaran Pertanyaan mengenai faktor pemicu menghasilkan persentase jawaban sesuai kunci terendah, yaitu 23 dari 30 responden (76,7%) memilih tekanan teman sebaya dan pengaruh media sosial. Tiga responden memilih pemahaman agama yang baik, tiga memilih menjaga pergaulan sesuai ajaran Islam, dan satu memilih mengutamakan pendidikan serta tanggung jawab. Pilihan yang beragam ini menunjukkan bahwa faktor sosial mungkin perlu dibahas lebih jauh dalam edukasi mahasiswa. Namun, kuesioner ini tidak membuktikan bahwa tekanan teman atau media sosial benar-benar menjadi penyebab masalah pada responden tertentu. Pengambilan Keputusan dan Batas Pergaulan Sebanyak 29 responden (96,7%) memilih bahwa tetap melakukan perilaku yang dilarang agama karena takut diputuskan menunjukkan lemahnya penerapan tauhid dalam mengambil keputusan. Sebanyak 29 responden juga memilih menolak ajakan yang melanggar batas agama dengan sopan dan menjaga pergaulan. Pada pertanyaan tentang tekanan teman, 27 responden (90,0%) memilih memegang prinsip tauhid, menjaga batasan agama, dan memilih pergaulan yang baik. Jawaban ini menggambarkan pilihan sikap yang dianggap ideal oleh mayoritas responden, tetapi belum mengonfirmasi tindakan mereka ketika menghadapi situasi nyata. Keseimbangan Ibadah, Relasi, dan Akademik Pada pertanyaan tentang mahasiswa yang terlalu fokus pada pacar hingga meninggalkan salat dan mengabaikan pelajaran, 28 responden (93,3%) memilih bahwa masalah utamanya adalah ketidakmampuan menyeimbangkan hubungan pribadi dengan kewajiban kepada Allah dan tanggung jawab. Jawaban ini menempatkan tauhid sebagai prinsip untuk menata prioritas kehidupan. Dalam penerapan praktis, relasi apa pun seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan kewajiban ibadah, pendidikan, keluarga, atau kesehatan diri. Diagram Kerangka Implementasi Diagram berikut menghubungkan pola jawaban kuesioner dengan langkah implementasi tauhid. Diagram ini merupakan sintesis konseptual untuk membantu membaca hasil, bukan model sebab-akibat yang telah diuji.

4


Gambar 2. Kerangka konseptual implementasi Tauhidullah berdasarkan hasil kuesioner. Dalil Islam yang Relevan a. QS. Adz-Dzariyat [51]: 56. Allah SWT berfirman bahwa jin dan manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Ayat ini menjadi dasar bahwa ibadah dan ketaatan merupakan orientasi hidup seorang Muslim. Dalam konteks mahasiswa, relasi pribadi tidak seharusnya menggeser kewajiban ibadah dan tanggung jawab lain. b. QS. Al-Isra’ [17]: 32. “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” Ayat ini melarang zina dan memberi dasar untuk menjauhi jalan yang mengarah kepadanya. Penerapan dalam pergaulan perlu berfokus pada tindakan dan batas interaksi yang sesuai syariat, tanpa menyamaratakan setiap komunikasi antara laki-laki dan perempuan sebagai zina. c. QS. An-Nur [24]: 30–31. Ayat ini memerintahkan laki-laki dan perempuan beriman untuk menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. Prinsip tersebut relevan dengan penghormatan terhadap batas diri, komunikasi yang sopan, dan menghindari perilaku yang dapat melanggar kehormatan. d. QS. Al-‘Ankabut [29]: 45. Ayat ini menjelaskan bahwa salat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Salat yang dijaga dapat menjadi bagian dari pembinaan disiplin dan pengendalian diri; implementasi nilai tersebut tetap perlu tercermin dalam perilaku. e. Hadis tentang pemuda dan puasa. Dalam Sahih al-Bukhari (hadis no. 5066) dan Sahih Muslim (hadis no. 1400, penomoran dapat berbeda menurut edisi), Nabi Muhammad ‫ﷺ‬ menganjurkan pemuda yang mampu untuk menikah dan yang belum mampu untuk berpuasa, karena puasa menjadi perisai. Hadis ini dapat dipahami sebagai arahan untuk mengelola dorongan dan mempertimbangkan kesiapan serta tanggung jawab. 5


Perbandingan dengan Penelitian Terdahulu Suri dan Koentjoro (2014) meneliti pelatihan salat khusyuk untuk mengendalikan perilaku seksual pranikah pada mahasiswa yang berpacaran. Penelitian mereka menggunakan action research dengan empat mahasiswa dan desain prates-pascates. Artikel tersebut relevan karena mengkaji latihan spiritual dan pengendalian diri, tetapi jumlah partisipannya kecil dan desainnya berbeda dari kuesioner deskriptif dalam penelitian ini. Firmiana, Prasetya, dan Imawati (2012) mengkaji hubungan religiusitas dengan perilaku seksual pranikah pada 60 siswa SMA/sederajat di Jakarta Selatan. Mereka melaporkan bahwa religiusitas tidak berkorelasi dengan perilaku berpacaran yang mengarah pada seks pranikah dalam sampel tersebut. Temuan ini mengingatkan bahwa pengetahuan atau keyakinan agama tidak boleh langsung disamakan dengan perilaku aktual. Hasil penelitian saat ini juga harus dibaca dengan batasan serupa: pilihan jawaban yang sesuai kunci tidak otomatis membuktikan perilaku. Syah dan Sastrawati (2020) membahas fenomena pacaran di kalangan mahasiswa melalui studi kasus di UIN Alauddin Makassar. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan observasi, wawancara, dan kuesioner. Artikel ini menjadi pembanding kontekstual mengenai fenomena pacaran di lingkungan mahasiswa Muslim, meskipun lokasi dan pendekatan penelitiannya berbeda. 5. Kesimpulan Berdasarkan 30 respons pada 10 pertanyaan pilihan ganda, mayoritas responden memilih jawaban yang menunjukkan pemahaman Tauhidullah dan penerapannya dalam menyikapi masalah pacaran. Persentase jawaban sesuai kunci berkisar dari 76,7% sampai 96,7%, dengan rerata 93.0%. Sebanyak 29 responden (96,7%) mengenali definisi Tauhidullah dan perannya sebagai pedoman perilaku, sedangkan 23 responden (76,7%) memilih tekanan teman sebaya dan media sosial sebagai faktor pemicu masalah pacaran. Sebanyak 27 responden (90,0%) memilih sikap berpegang pada prinsip tauhid dan menjaga batasan agama saat menghadapi tekanan teman. Hasil ini mendukung kesimpulan terbatas bahwa responden menunjukkan pemahaman konseptual yang relatif tinggi pada topik yang ditanyakan. Namun, data tidak membuktikan bahwa semua responden telah menerapkan nilai tauhid dalam perilaku sehari-hari, dan tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat. Penelitian berikutnya dapat menambahkan pertanyaan terbuka, wawancara, atau instrumen perilaku yang tervalidasi, serta menjelaskan karakteristik dan teknik pemilihan sampel. DAFTAR PUSTAKA Al-Qur’an al-Karim. QS. Adz-Dzariyat [51]: 56; QS. Al-Isra’ [17]: 32; QS. An-Nur [24]: 30– 31; QS. Al-‘Ankabut [29]: 45. Al-Bukhari, M. ibn Isma‘il. Sahih al-Bukhari, hadis no. 5066 (penomoran dapat berbeda menurut edisi). Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim, hadis no. 1400 (penomoran dapat berbeda menurut edisi). 6


Firmiana, M. E., Prasetya, M. R., & Imawati, R. (2012). Ketimpangan relijiusitas dengan perilaku: Hubungan religiusitas dengan perilaku seksual pra nikah remaja SMA/sederajat di Jakarta Selatan. Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Humaniora, 1(4). https://doi.org/10.36722/sh.v1i4.80 Suri, P. I., & Koentjoro, K. (2014). Pengaruh pelatihan shalat khusyuk untuk mengendalikan perilaku seksual pranikah pada mahasiswa yang berpacaran. JIP (Jurnal Intervensi Psikologi), 6(2), 181–192. https://doi.org/10.20885/intervensipsikologi.vol6.iss2.art4 Syah, L., & Sastrawati, N. (2020). Tinjauan hukum Islam terhadap fenomena pacaran di kalangan mahasiswa (Studi kasus mahasiswa Perbandingan Mazhab dan Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar). Shautuna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbandingan Mazhab, 1(3). https://doi.org/10.24252/shautuna.v1i3.14918

7


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
IMPLEMENTASI TAUHID PADA MAHASISWA DALAM MENYIKAPI MASALAH PACARAN by Abdullah Wafaa - Issuu