Skip to main content

FRI VOL XXI/10 2026

Page 28

FOODREVIEW VOL.XXI XXI No.10 No.10 OKTOBER OKTOBER2026 2026 VOL.

I

N

D

O

N

E

S

I

“Pangan Sehat” atau “Pangan Menyehatkan”: Apa yang Perlu Dipahami?

Pangan Dingin dan Beku di Indonesia: Peluang dan Tantangan

Mengoptimalkan Potensi Pangan Dingin dan Beku untuk Pengembangan Pangan Siap Saji

CHILLED & FROZEN FOODS ARE HOT:

Menjaga Mutu, Memperluas Peluang

A


CHILLED & FROZEN FOODS ARE HOT: Menjaga Mutu, Memperluas Peluang Produk pangan dingin dan beku semakin akrab dalam pola konsumsi masyarakat Indonesia. Susu pasteurisasi, yogurt, sayuran potong, aneka bahan pangan beku, hingga makanan siap masak dan siap dipanaskan menawarkan kemudahan penyimpanan serta penyiapannya. Perkembangan ini membuka ruang inovasi bagi industri pangan untuk meningkatkan nilai tambah bahan lokal, memperluas jangkauan pasar, dan menghadirkan pilihan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Salah satu lembaga riset pasar internasional, IMARC Group, memperkirakan nilai pasar pangan beku Indonesia mencapai USD3,6 miliar pada 2025 dan memproyeksikan pertumbuhan nilai pasar sekitar 6% per tahun selama 2026–2034. Untuk pangan dingin, lembaga riset pasar internasional lainnya, Euromonitor, juga memperkirakan nilai penjualan ritel produk olahan hasil perikanan dingin di Indonesia tumbuh rata-rata 8,2% per tahun selama 2020–2024, sebagaimana dipublikasikan Agriculture and Agri-Food Canada. Angka ini menggambarkan pertumbuhan salah satu segmen pangan dingin. Pendinginan dan pembekuan merupakan teknologi perpanjangan masa simpan pangan yang memanfaatkan penurunan suhu untuk memperlambat laju kerusakan pangan. Pada pembekuan, pembentukan es juga menurunkan aktivitas air sehingga turut menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan berbagai reaksi kerusakan. Pemilihan teknologi perlu mempertimbangkan karakteristik bahan, tujuan penggunaan, mutu yang ditargetkan, serta kesiapan rantai pasok. Laju pembekuan menjadi salah satu faktor penting penentu mutu. Pembekuan cepat umumnya menghasilkan kristal es lebih kecil sehingga membantu mengurangi kerusakan jaringan dan kehilangan cairan saat pencairan. Lama pembekuan dipengaruhi ukuran dan bentuk produk, sifat termal bahan, kondisi perpindahan panas, serta kemasan. Karena itu, pemilihan alat perlu mempertimbangkan laju pembekuan yang dibutuhkan, karakteristik produk, dan sistem produksi. Perancangan yang tepat dapat mendukung mutu sekaligus produktivitas. Pemahaman tersebut penting untuk mengembangkan bahan pangan dan kuliner lokal.

Ikan, ayam, sayuran, umbi-umbian, serta kacangkacangan dapat diolah menjadi berbagai pilihan hidangan. Rendang, rawon, opor, pempek, dan siomay menawarkan identitas yang telah dikenal konsumen. Pengembangannya memerlukan pengaturan formulasi, proses, dan kemasan agar tekstur, cita rasa, serta stabilitas produk tetap sesuai harapan setelah penyimpanan dan penyiapan. Keamanan pangan harus dirancang sejak pemilihan bahan baku dan proses produksi. Sebagian mikroorganisme masih dapat tumbuh pada suhu dingin. Pembekuan menghambat pertumbuhannya selama produk tetap beku, tetapi tidak menginaktivasikannya. Praktik higiene yang baik, pengendalian proses, dan penetapan masa simpan tetap perlu dilakukan industri secara bertanggungjawab. Petunjuk penyimpanan serta penyiapan juga harus jelas; apakah produk perlu dimasak, cukup dipanaskan, atau dapat langsung dikonsumsi. Rantai dingin menentukan apakah mutu pangan dingin dan beku dapat dipertahankan hingga ke konsumen. Standar, pemantauan waktu dan suhu, serta pencatatan membantu pelaku usaha mengenali penyimpangan dan melakukan perbaikan. Akses fasilitas dan pendampingan teknis penting bagi usaha mikro dan kecil. FoodReview Indonesia edisi ini mengulas peluang pasar pangan dingin dan beku, teknologi pengawetan, pengembangan produk bernilai tambah, serta peran standar dalam menjaga mutu dan keamanan pangan. Pembahasan tersebut diharapkan membantu industri menghubungkan inovasi dengan kesiapan rantai pasok. Dengan dukungan sains, teknologi, dan kolaborasi, peluang dapat diwujudkan menjadi produk yang aman, bermutu, praktis, disukai konsumen, dan berdaya saing. Selamat membaca,

Purwiyatno Hariyadi https://phariyadi.foodreview.co.id/

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

3


daftar isi 6 7

OVERVIEW

FORUM FOOD INFO

34

PERSPEKTIF 28

VOL. XXI No. 10 Oktober 2026

“Pangan Sehat” atau “Pangan Menyehatkan”: Apa yang Perlu Dipahami?

Pangan Dingin dan Beku di Indonesia: Peluang dan Tantangan Produk pangan dingin dan beku (chilled and frozen food) semakin mendapat perhatian di Indonesia seiring dengan perubahan gaya hidup, pola konsumsi, dan perkembangan sistem distribusi pangan modern.

42

Mengoptimalkan Potensi Pangan Dingin dan Beku untuk Pengembangan Pangan Siap Saji

Istilah “pangan sehat” telah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Istilah ini digunakan dalam kampanye kesehatan masyarakat, promosi produk pangan, kebijakan pemerintah, hingga program edukasi gizi.

28

Pemimpin Umum: Suseno Hadi Purnomo | Pemimpin Redaksi: Purwiyatno Hariyadi | Wakil Pemimpin Redaksi: Nuri Andarwulan Redaktur Pelaksana: Himma Ellisa | Pemimpin Perusahaan: Pratomodjati | Wakil Pemimpin Perusahaan: Hindah Muaris Staf Redaksi: Fitria Bunga Yunita | Sales, Advertising & Activities: Tissa Eritha Digital Marketing: Fetty Fatimah | Business Development: Andang Setiadi | Desain & layout: Yanu Indaryanto IT dan Website: Gugun Hendi Gunawan | Keuangan: Kartini, Padmawati Zainab

Penerbit: PT Media Pangan Indonesia Alamat PT Media Pangan Indonesia: Jl Binamarga II No. 23, Baranangsiang, Bogor Timur 16143 Telepon: (0251) 8372333, (0251) 8322732 | +62 811 1190 039 | Fax: (0251) 8375754 Website: www.foodreview.co.id | E-mail: redaksi@foodreview.co.id, marketing@foodreview.co.id ISSN: 1907-1280 4

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026


42

APA & SIAPA

56

REGULASI 56

ASOSIASI 54

TEI Ke-41 Perkuat Jalan Produk Indonesia ke Pasar Global

Rantai Pangan Dingin dan Beku: Peran Standar dalam Menjaga Mutu dan Keamanan Pangan Pandemi COVID-19 turut mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam penyediaan pangan di rumah tangga. Produk seperti nugget, sosis, bakso, dimsum, dan aneka lauk beku menjadi pilihan utama karena kepraktisan dalam penyimpanan dan pengolahannya. Pascapandemi, pola konsumsi ini tetap bertahan, pangan beku semakin menjadi bagian dari keseharian, khususnya masyarakat urban dengan waktu luang yang terbatas (IMARC Group, 2025; Ken Research, 2024).

ARPI..................................... 59 BSN .................................... 62 Clean label .......................... 19 Cold chain ........................... 36 Food loss ............................ 50 Food waste ......................... 35 FoodReview+ ...................... 6 GMP ................................... 52 Hurdle technology............... 38 IQF ...................................... 37 Krimer ................................. 20 MAP ................................... 38 Nabati ................................. 19 NDC ................................... 20 Pangan beku ....................... 56 Pangan dingin ..................... 56 Pangan menyehatkan.......... 26 Pewarna .............................. 19 RTC ..................................... 35 RTH ..................................... 35 Rumput laut ........................ 16 Seminar ............................... 6 Snack .................................. 66 SNI ...................................... 60 TEI ...................................... 54 Thermal ............................... 48 Webinar .............................. 6 WHO ................................... 29

Redaksi menerima tulisan atau berita seputar teknologi dan industri pangan. Artikel sebaiknya disertai dengan foto pendukungnya dikirim via email redaksi atau pos. Redaksi berhak menyunting naskah sejauh tidak mengubah isinya. Tulisan yang dimuat akan mendapat imbalan menarik.

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

5


FORU M Rekaman Webinar FoodReview Indonesia Dear FoodReview Indonesia, Apakah saya bisa mendapat rekaman kembali kegiatan webinar yang diselenggarakan oleh FoodReview Indonesia. Terima kasih. Firman Malang

Jawab: Sebelumnya kami memohon maaf, untuk rekaman kegiatan memang tidak kami bagikan dan hanya menjadi dokumentasi pihak internal saja. Ulasan terkait kegiatan biasa kami publikasikan dalam bentuk tulisan di setiap majalah kami seusai agenda berlangsung. Terima kasih.

Penukaran Doorprize Tiket Seminar Dear FoodReview Indonesia, Saya adalah salah satu pemenang doorprize tiket gratis mengikuti kegiatan seminar FoodReview Indonesia selanjutnya. Saya ingin bertanya terkait syarat dan ketentuan penukarannya. Terima kasih. Susan Jakarta

Jawab: Penukaran tiket gratis hanya berlaku untuk kegiatan seminar/webinar pada bulan selanjutnya. Jika terlewat pada masa yang ditentukan, tiket akan kami anggap hangus. Untuk topik-topik seminar/ webinar dapat selalu dipantau pada situs web kami di www.foodreview.co.id. Apabila topik yang sedang berlangsung tidak sesuai dengan bidang Bapak/ Ibu, tiket gratis juga dapat diberikan kepada rekan atau kolega Bapak/Ibu dengan terlebih dahulu mengonfirmasi kepada panitia. Terima kasih.

Q&A Informasi Layanan FoodReview+ Dear FoodReview Indonesia, Kemarin saya sempat menerima selebaran mengenai FoodReview+. Apakah bisa diinfokan lebih lanjut mengenai layanan tersebut dan bagaimana cara mengaksesnya? Terima kasih. Dandi Depok

Jawab: FoodReview+ adalah bagian dari FoodReview Indonesia. Merupakan platform digital learning

yang menghadirkan video premium, webinar, majalah digital, artikel ilmiah serta berbagai materi pembelajaran mengenai industri pangan. Kami menghadirkan narasumber dari akademisi, praktisi industri hingga regulator sehingga pengguna mendapatkan ilmu yang relevan dan aplikatif. Untuk mulai mengakses layanan dan pendaftaran keanggotaan, Anda dapat langsung mengunjungi situs foodreviewplus.id atau menghubungi tim kami melalui surel di info@foodreview.co.id/marketing@ foodreview.co.id.

KIRIMKAN KOMENTAR atau pertanyaan Anda ke Forum FOODREVIEW INDONESIA Jl Binamarga II No. 23, Baranangsiang, Bogor Timur 16143 atau melalui whatsapp: +62 811-1190-039, email redaksi@foodreview.co.id Cantumkan nama lengkap, alamat dan nomor telepon Anda. Semua surat yang masuk akan diedit terlebih dulu dengan tanpa mengubah maknanya.

Majalah cetak edisi 2016-2020 masih bisa diperoleh melalui loka pasar kami seperti Shopee (Media Pangan Indonesia) & Tokopedia (Toko Kulinologi). Silakan ketik ‘Majalah FoodReview’ pada kolom pencarian. Sedangkan untuk ketersediaan edisi-edisi tertentu silakan menghubungi 0811 1190 039. 6

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026


FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

7


FOOD INFO | Lintas Pangan

Jelang Wajib Halal 2026, Kemendag Perkuat Ekosistem Sertifikasi dan Mutu Produk Ekspor

K

ementerian Perdagangan (Kemendag) memperkuat ekosistem halal dan mutu produk nasional menjelang penyesuaian kebijakan wajib halal pada 18 Oktober 2026. Langkah ini dibahas dalam webinar ‘Sertifikasi Halal & Mutu: Jembatan Produk Indonesia Menembus Pasar Global’ yang berlangsung secara hibrida beberapa waktu lalu. Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga, Moga Simatupang, menegaskan bahwa pemenuhan sertifikasi halal tidak hanya menjadi kepatuhan regulasi, tetapi juga instrumen penting untuk membangun kepercayaan konsumen dan memperluas daya saing ekspor sesuai semangat “Dari Lokal untuk Global”. Penguatan rantai pasok halal dinilai sangat strategis mengingat potensi ekonomi syariah dunia yang terus berkembang. Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2025/26, belanja produk halal global diproyeksikan mencapai USD 3,6 triliun pada 2029, sementara kontribusi Halal Value Chain terhadap PDB nasional telah mencapai 26,73 persen pada kuartal II 8

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

2025. Meski demikian, selain sertifikasi halal, pelaku usaha juga dituntut memahami regulasi teknis, standar mutu, serta ketentuan perdagangan internasional di negara tujuan ekspor. Guna mendukung kesiapan teknis pelaku usaha, Kemendag mengoptimalkan peran Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Balai Sertifikasi Ditstandalitu sebagai mitra resmi yang terakreditasi BPJPH. Direktur Standardisasi dan Pengendalian Mutu, Sukoco, menjelaskan bahwa LPH Balai Sertifikasi siap memfasilitasi pemeriksaan halal dan pengujian laboratorium yang cermat. Sinergi ini mengintegrasikan peran perwakilan perdagangan di luar negeri, BPJPH, serta direktorat teknis untuk membuka akses konsultasi, memberikan market intelligence, dan mempromosikan produk halal Indonesia. Atase Perdagangan RI Singapura, Jefrey Zakharia, menambahkan bahwa di pasar internasional seperti Singapura, sertifikasi halal telah bergeser menjadi simbol jaminan kualitas, keamanan, dan higienitas produk secara universal. Integrasi antara kepatuhan regulasi, jaminan mutu laboratorium, dan pendampingan perwakilan perdagangan di luar negeri diharapkan mampu mendorong lebih banyak produk olahan nasional menembus rantai pasok global secara berkelanjutan. Fri-35


FOOD INFO | Lintas Pangan

Layanan Konsultasi Gratis Mentor Hub Bagi Pelaku IKM

K

ementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) meluncurkan Mentor Hub, sebuah layanan konsultasi bisnis daring secara gratis bagi pelaku IKM. Resmi beroperasi sejak 22 September 2026, program ini merupakan wujud kolaborasi Kemenperin dengan lima perguruan tinggi, yaitu ISI Yogyakarta, Universitas Ciputra Surabaya, Telkom University, Universitas Pertamina, dan Universitas Sebelas Maret (UNS). Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa kolaborasi dengan akademisi merupakan langkah strategis untuk menjembatani keterbatasan akses pendampingan usaha di daerah. Sektor IKM memiliki peran penting dalam memacu ekonomi nasional, dengan kontribusi PDB terhadap industri

pengolahan nonmigas mencapai 21,07 persen pada triwulan II 2026 dan menyerap 13,06 juta tenaga kerja. Layanan ini hadir untuk membantu pelaku IKM mengatasi tantangan bisnis seperti produksi, manajemen, hingga pemasaran. Mentor Hub terintegrasi sebagai fitur baru pada platform web-app Smart Sentra (https://smartsentra.kemenperin. go.id/mentor-hub). Melalui layanan ini, pelaku IKM dapat memilih mentor ahli sesuai kebutuhan, mengajukan jadwal, dan melakukan sesi konsultasi daring selama 30 menit. Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menjelaskan bahwa format konsultasi daring memberikan kesempatan yang setara bagi pelaku usaha di seluruh Indonesia untuk memperoleh pendampingan bisnis berkualitas tanpa terkendala jarak. Direktur Industri Kimia, Sandang, dan Kerajinan Budi Setiawan mencatat sebanyak 29 mentor dari lima perguruan tinggi telah memfasilitasi 45 sesi konsultasi selama masa uji coba September 2026, dengan topik utama seputar desain produk, branding, pemasaran, dan strategi bisnis. Ke depan, Ditjen IKMA berencana memperluas jaringan kemitraan dengan perguruan tinggi lain guna menjangkau lebih dari 8.300 anggota Smart Sentra dan mendorong daya saing IKM secara berkelanjutan. Fri-35 FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

9


FOOD INFO | Lintas Pangan

INFO GAPMMI

Audiensi pengurus GAPMMI dengan Menteri Perindustrian

z GAPMMI melakukan audiensi dengan Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji untuk menyampaikan sejumlah isu strategis yang memengaruhi daya saing industri pangan nasional. Salah satu perhatian utama yang disampaikan adalah tingginya harga bahan baku, khususnya beras pecah untuk industri pengolahan pangan seperti bihun, yang dinilai mengurangi daya saing produk dalam negeri dibandingkan produk impor. Selain itu, GAPMMI menekankan pentingnya ketersediaan bahan baku strategis bagi industri, termasuk gula, garam, jagung, dan daging, serta mendorong percepatan penetapan neraca komoditas agar kebutuhan industri pada awal 2027 dapat terpenuhi secara tepat waktu dan berkelanjutan. Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman, menegaskan bahwa kepastian pasokan bahan baku merupakan faktor krusial untuk menjaga keberlangsungan produksi, meningkatkan daya saing industri, dan memastikan produk pangan tetap terjangkau bagi 10

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

masyarakat. GAPMMI menghadiri Konsultasi Publik Muatan Rancangan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH tentang Tata Cara Pengurangan Sampah oleh Produsen yang diselenggarakan oleh Kedeputian PSLB3 Kementerian Lingkungan Hidup. Dalam forum tersebut, GAPMMI diwakili oleh sejumlah pengurus yang turut memberikan masukan dan tanggapan secara tertulis melalui sistem resmi yang disediakan oleh KLH sebagai bagian dari proses penyempurnaan rancangan peraturan dimaksud.

z GAPMMI berpartisipasi dalam Konferensi Indonesia Economic Outlook 2027 yang diselenggarakan oleh Supply Chain Indonesia (SCI) bertempat di Hotel JS Luwansa Jakarta. Dalam forum yang membahas prospek dan tantangan perekonomian nasional ke depan tersebut, GAPMMI diwakili oleh Wakil Ketua Umum GAPMMI Bidang Kerjasama Luar Negeri, Handito Joewono sebagai narasumber yang menyampaikan pandangan dan perspektif industri makanan dan minuman terkait dinamika ekonomi, rantai pasok, serta strategi penguatan daya saing sektor industri dalam menghadapi perkembangan ekonomi tahun 2027. z GAPMMI berpartisipasi dalam Simposium Pangan Nasional 2026 bertema “Inovasi Pangan


FOOD INFO | Lintas Pangan

GAPMMI berpartisipasi dalam Simposium Pangan Nasional 2026

Fungsional Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Bangsa” yang diselenggarakan oleh Indofood dan dirangkaikan dengan Program Indofood Riset Nugraha (IRN) 2026– 2027. Dalam kegiatan tersebut, Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman hadir sebagai penanggap pada sesi Talkshow IRN 2026 dan memberikan tanggapan atas pemaparan para narasumber dari perspektif industri makanan dan minuman, khususnya terkait penguatan inovasi dan pemanfaatan hasil riset untuk mendukung daya saing industri pangan nasional.

z GAPMMI menghadiri dalam Australia– Indonesia High-Level Policy Dialogue 2026 yang diselenggarakan oleh Bappenas sebagai forum strategis untuk memperkuat dialog kebijakan dan kerja sama antara Indonesia dan Australia dalam mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Pada kesempatan tersebut, GAPMMI diwakili oleh Ketua Umum, Bapak Adhi S. Lukman, didampingi oleh Wakil Ketua Umum GAPMMI Bidang Kerjasama

Luar Negeri, Handito Joewono dan Pengurus GAPMMI Bidang Kerjasama Luar Negeri, Ridwan Adipoetra, yang turut mengikuti rangkaian pembahasan dan pertukaran pandangan terkait berbagai isu prioritas pembangunan serta penguatan iklim usaha dan daya saing industri nasional. Dialog tingkat tinggi Australia–Indonesia menegaskan pentingnya penguatan produktivitas dan daya saing industri nasional sebagai prasyarat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, inklusif, dan berkelanjutan.

z GAPMMI yang diwakili oleh Pengurus Bidang Kerjasama Luar Negeri, Ridwan Adipoetra, menghadiri Focus Group Discussion (FGD) mengenai Analisis Reformasi Arah Kebijakan dan Pengaturan Impor Indonesia dalam Mendukung Aksesi OECD yang diselenggarakan oleh Pusat Kebijakan Ekspor Impor dan Pengamanan Perdagangan Kementerian Perdagangan. Dalam forum tersebut, GAPMMI menyampaikan dukungannya terhadap reformasi kebijakan impor yang berlandaskan pada prinsip transparansi, kepastian hukum, efisiensi perizinan, dan harmonisasi regulasi. GAPMMI menekankan pentingnya ketersediaan bahan baku yang memenuhi standar mutu, keamanan pangan, dan spesifikasi teknis bagi keberlangsungan serta daya saing industri makanan dan minuman. Fri-23 FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

11


ADVERTORIAL

WORLD FOOD DAY 2026: Bisakah Kita Menyediakan Lebih Banyak Pangan dengan Membuang Lebih Sedikit?

Oleh Zonna Eza Ardika Quality and Food Safety Trainer Catalyst Consulting

S

etiap tanggal 16 Oktober, kita memperingati World Food Day sebagai momentum untuk kembali melihat tantangan dalam menyediakan pangan. Pada 2026, Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) mengangkat tema “Innovate today. Nourish tomorrow.” Tema tersebut menempatkan inovasi sebagai salah satu kunci untuk memastikan setiap

12

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

orang memiliki akses terhadap pangan yang cukup, beragam, aman, dan bergizi, sekaligus menjaga sumber daya bumi untuk generasi mendatang. Namun, ketika kebutuhan pangan meningkat, apakah solusinya selalu memproduksi lebih banyak, atau memastikan pangan yang telah diproduksi benar-benar dimanfaatkan?


ADVERTORIAL

Pangan yang Diproduksi Belum Tentu Menjadi Pangan yang Dikonsumsi Dalam ISO 20001:2026 tentang Food Loss and Waste Management System, dikenal istilah excess food supply, yaitu kelebihan pasokan pangan yang dapat terjadi akibat produksi berlebih (overproduction) atau penumpukan stok (overstocking). Kondisi ini dapat

menghasilkan surplus pangan yang berisiko menimbulkan kehilangan dan pemborosan pangan (food loss and waste). UNEP melalui Food Waste Index Report 2024 memperkirakan 1,05 miliar ton pangan terbuang pada 2022 di rumah tangga, layanan pangan, dan ritel, setara sekitar 19% pangan yang tersedia bagi konsumen. Angka ini belum mencakup sekitar 13% pangan dunia yang hilang setelah panen hingga sebelum ritel. Secara umum, food loss terjadi sepanjang rantai pasok setelah panen hingga sebelum tahap ritel, sedangkan food waste terjadi pada tingkat ritel, layanan makanan, dan konsumsi rumah tangga. Di industri, FLW dapat terjadi ketika bahan baku rusak saat disimpan, hasil produksi (yield) tidak optimal, bagian pangan yang masih dapat dimanfaatkan terbuang, atau produk yang aman dan layak konsumsi tidak tersalurkan akibat spesifikasi, umur simpan, maupun kendala distribusi. Kehilangan tersebut tidak hanya mengurangi jumlah pangan yang tersedia, tetapi juga berarti terbuangnya bahan baku, air, energi, waktu, kapasitas produksi, dan nilai ekonomi.

Pengendalian FLW

Mengurangi kehilangan dan pemborosan pangan tidak cukup hanya dengan mengelola limbah yang sudah dihasilkan. Industri perlu memahami sumber kehilangan pangan agar tindakan pencegahan dapat dilakukan sebelum pangan terbuang. FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

13


Pendekatan inilah yang menjadi salah satu fokus ISO 20001:2026. Melalui klausul 8.4, standar ini menekankan pentingnya pengendalian FLW secara sistematis dan berbasis data. Langkah awalnya adalah memetakan perjalanan pangan di sepanjang proses, mulai dari penerimaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi. Pemetaan ini juga perlu mencakup bahan atau produk yang tidak digunakan sesuai tujuan awal, termasuk yang masih berpotensi dimanfaatkan kembali. Dari pemetaan tersebut, industri dapat mengenali FLW hotspot, yaitu titik yang paling berpotensi menyebabkan kehilangan atau pemborosan pangan. Sebagai contoh, kehilangan dapat terjadi karena bahan baku rusak selama penyimpanan, proses produksi yang kurang efisien, atau produk yang tidak terjual akibat produksi melebihi permintaan. Setelah sumber kehilangan diketahui, langkah berikutnya adalah mengukur jumlah pangan yang hilang dan menelusuri penyebabnya. Pengukuran dapat dilakukan melalui penimbangan, pencatatan jumlah produk, atau pemanfaatan data produksi. Hasilnya kemudian digunakan untuk menentukan tindakan perbaikan yang paling berdampak. Setiap tindakan perlu memiliki target yang jelas, metode pemantauan, serta penanggung jawab agar efektivitasnya dapat dievaluasi. FSSC 22000 Additional Requirement versi 7.0 (Mei 2026), pasal 2.5.16, turut mengatur pengelolaan FLW untuk donasi, pakan ternak, atau pemanfaatan lain seperti pupuk dan bahan bakar; aspek ini telah dibahas sejak versi 6.0 yang

14

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

berlaku 1 April 2024. Tambahan pada versi 7.0 pasal 2.5.13.g menekankan desain kemasan yang membantu mencegah kerusakan pangan di rantai pasok dan memudahkan konsumen mengosongkan isi kemasan.

Inovasi dan Pengendalian FLW

Jika dikaitkan dengan tema World Food Day 2026, inovasi dalam pengendalian FLW tidak selalu berarti penggunaan teknologi yang kompleks. Perbaikan sederhana dalam pengelolaan proses, pemanfaatan data, dan pengambilan keputusan dapat menjadi langkah nyata untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan pangan. Pengendalian suhu dan kelembapan selama penerimaan dan penyimpanan membantu menjaga mutu bahan. Perbaikan proses produksi dan pemantauan langsung selama proses berlangsung dapat meningkatkan yield serta mengurangi produk yang tidak memenuhi spesifikasi. Pemanfaatan data penjualan untuk memperkirakan permintaan membantu mencegah produksi berlebih dan penumpukan stok. Sementara itu, penerapan FEFO (First Expired, First Out) dan pengelolaan rantai dingin (cold chain) dapat mengurangi risiko kerusakan produk selama penyimpanan dan distribusi. Perbaikan formulasi, proses, kemasan, dan kondisi penyimpanan juga dapat membantu memperpanjang umur simpan produk. Berbagai langkah tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu


harus menghadirkan teknologi baru, tetapi juga dapat berupa penyempurnaan cara kerja yang sudah ada agar pangan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.

Dari Pengurangan Limbah Menuju Efisiensi Sumber Daya

Upcycling, pemanfaatan hasil samping (by-product), penggunaan sebagai pakan ternak, hingga pengolahan menjadi kompos tetap memiliki peran dalam pengelolaan FLW. Namun, sebelum menentukan cara pemanfaatannya, industri perlu mengevaluasi apakah kehilangan pangan tersebut sebenarnya dapat dicegah sejak awal. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pengendalian FLW tidak hanya berkaitan dengan jumlah pangan yang berhasil diselamatkan, tetapi juga dengan sumber daya yang digunakan untuk menghasilkannya. Setiap kehilangan pangan turut merepresentasikan penggunaan air, energi, bahan baku, dan kapasitas produksi yang belum memberikan manfaat optimal.

Memproduksi Lebih Banyak atau Membuang Lebih Sedikit?

Peningkatan ketersediaan pangan tidak selalu harus dimulai dengan menambah input atau kapasitas produksi. Ada ruang yang sama pentingnya untuk melihat kembali pangan yang sebenarnya sudah tersedia di dalam sistem, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Menyediakan lebih banyak pangan bagi masa depan tidak selalu berarti memproduksi lebih banyak, tetapi

juga memastikan lebih sedikit pangan yang kehilangan kesempatan untuk dikonsumsi. Referensi

FSSC Foundation. (2023). FSSC 22000 scheme: Food safety management system certification (Version 6.0). FSSC Foundation. (2026). FSSC 22000 scheme: Food safety management system certification (Version 7.0). International Organization for Standardization. (2026). ISO 20001:2026 Food loss and waste management system—Requirements for the prevention and minimization of food loss and waste across the food supply chain. ISO. United Nations Environment Programme. (2024). Food waste index report 2024: Think eat save—Tracking progress to halve global food waste. United Nations Environment Programme. https://wedocs.unep.org/ items/ca5ae07a-826c-42bb-b148-3bc4e08deab7 (diakses 7 Oktober 2026).

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

15


FOOD INFO | Lintas Pangan

Perkuat Hilirisasi Rumput Laut Lewat Peluncuran ISDAP 2026–2030

K

ementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat pengembangan industri rumput laut nasional sebagai bagian dari agenda industrialisasi dan hilirisasi terintegrasi. Hal tersebut disampaikan Menteri Perindustrian Sarmuji dalam peluncuran Integrated Seaweed Development Action Plan (ISDAP) 2026–2030 yang diinisiasi oleh Kementerian PPN/Bappenas beberapa waktu lalu di Jakarta. Langkah ini diarahkan untuk membangun rantai nilai dari hulu ke hilir guna mengantarkan Indonesia menjadi produsen rumput laut nomor satu di dunia. Pengembangan sektor ini dinilai sangat strategis seiring dengan kinerja positif sektor manufaktur nasional. Pada triwulan II 2026, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen, dengan sektor makanan dan minuman menyumbang 41,86 persen terhadap PDB industri nonmigas. Komoditas rumput laut memiliki peluang pemanfaatan yang luas untuk diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi, mulai dari pangan, agar, karagenan, 16

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

hingga bahan baku industri farmasi, kosmetik, biomaterial, dan bioplastik. Guna mendukung peningkatan daya saing, arah pengembangan industri rumput laut telah dimasukkan ke dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2026–2045. Strategi ini berfokus pada penguatan kapasitas industri, inovasi, perluasan pasar, hingga efisiensi rantai pasok. Selain itu, aspek keberlanjutan dan kelestarian ekosistem laut (ekonomi biru) turut menjadi perhatian utama agar manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di sentra produksi. Sarmuji menegaskan bahwa Kemenperin siap berkontribusi aktif dan bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk Bappenas, pelaku usaha, serta lembaga riset. Sinergi lintas sektor melalui ISDAP 2026–2030 diharapkan dapat menjadi landasan terarah dalam menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global. Fri-35


FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

17


ADVERTORIAL

Pewarna Alami Berbasis Tanaman untuk Produk Pangan Siap Saji yang Sukses di Pasar Oleh Miguel Bielders APAC Marketing Manager di GNT Group

P

erkembangan gaya hidup modern yang serbacepat mendorong pesatnya lonjakan permintaan terhadap produk pangan cepat saji 18

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

di Indonesia. Berbagai produsen kini berlomba menghadirkan variasi hidangan yang memikat, mulai dari rendang sapi lengkap dengan nasi, nasi


ADVERTORIAL ayam kemangi, nasi goreng, hingga inovasi bak kut teh berbasis nabati (vegan-friendly). Di tengah persaingan ini, pewarna alami EXBERRY® hadir sebagai solusi strategis bagi para produsen untuk menciptakan sajian yang tidak hanya alami, tetapi juga tampil secara visual menggugah selera. Meski kepraktisan menjadi faktor utama, konsumen hanya akan membeli pangan siap saji jika mereka yakin produk tersebut dapat memberikan pengalaman makan yang memuaskan. Warna memainkan peran penting dalam memastikan makanan terlihat menggugah selera, bahkan dapat memengaruhi persepsi terhadap cita rasa yang akan dirasakan. Tidak hanya itu, clean label juga menjadi pertimbangan penting di pasar modern. Penelitian menunjukkan bahwa delapan dari sepuluh konsumen Indonesia percaya bahan pangan seharusnya 100% alami, sementara 73% mengatakan pewarna alami memengaruhi keputusan pembelian mereka.1 Pewarna EXBERRY® dapat membantu produsen Indonesia mengembangkan pangan siap saji yang memenuhi seluruh kebutuhan tersebut. Terbuat dari buah, sayuran, dan tanaman nonGMO, EXBERRY® mampu menghadirkan spektrum warna yang lengkap, cerah, dan stabil untuk makanan serta minuman, sekaligus mendukung daftar bahan yang lebih bersih. ¹ FMCG Gurus ‘Clean Label & Naturalness – Indonesia’ (June 2025)

EXBERRY® dapat meningkatkan daya tarik visual sekaligus mempertegas profil rasa pada saus, mi, nasi, dan berbagai aplikasi lainnya. Meskipun rempah-rempah tradisional sering digunakan untuk memberikan warna pada hidangan siap saji, EXBERRY® dapat memastikan hasil yang cerah dan stabil tanpa memberikan dampak yang signifikan terhadap rasa. Pangan siap saji dapat menghadirkan berbagai tantangan stabilitas bagi pewarna alami. Produk ini memerlukan penyimpanan dalam kondisi dingin atau beku sebelum dipanaskan, sering kali dalam waktu yang lama dan pada suhu tinggi. Selain itu, produk tersebut umumnya dijual dalam kemasan transparan sehingga warnanya harus tetap stabil saat terpapar cahaya. Portofolio pewarna berbasis tanaman EXBERRY® kami mencakup beragam solusi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap aplikasi. Para ahli kami akan mendampingi Anda di setiap tahap proses untuk memastikan hasil yang sukses, mulai dari pemilihan warna dan pengujian stabilitas hingga saran pelabelan dan dokumentasi mutu. Pangan siap saji dingin dan beku diperkirakan akan menjadi tren yang semakin penting di Indonesia. EXBERRY® dapat membantu Anda menghadirkan warna-warna cerah dan daftar bahan alami yang diperlukan untuk menarik minat konsumen modern. FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

19


FOOD INFO | Lintas Pangan

Optimalisasi Masa Simpan Produk Bakeri

Jessy Poh Jiat Chie, Baking Center Manager Asia Pacific, Lesaffre

I

ndustri bakeri modern menempatkan upaya menjaga kesegaran dan memperpanjang masa simpan (shelf life) sebagai kunci utama untuk menjamin standar keamanan serta mutu produk, sekaligus meminimalkan limbah pangan (food waste). Tantangan utama dalam penyimpanan produk bakeri meliputi proses staling, yakni perubahan fisikokimia kompleks seperti retrogradasi pati dan redistribusi kelembapan, serta risiko kontaminasi mikroorganisme seiring berjalannya waktu. Penerapan pendekatan komprehensif yang memadukan teknologi formulasi mutakhir, pemilihan bahan baku berkualitas, serta sistem pengawetan yang tepat sangat diperlukan oleh para produsen. Pemanfaatan solusi inovatif seperti rangkaian bread improver 20

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

khusus masa simpan panjang Magimix® Extended Shelf-Life (ESL) terbukti efektif mempertahankan tekstur remah yang lembut, menjaga kesegaran, serta meningkatkan stabilitas produk kemasan (packaged bread) untuk durasi 14 hingga 90 hari tanpa mengorbankan aspek keamanan pangan. Keberhasilan memperpanjang masa simpan harus berjalan seiring dengan komitmen menjaga mutu produk, sebagaimana ditekankan oleh Jessy Poh Jiat Chie, Baking Center Manager Asia Pacific, Lesaffre. “Pengembangan formulasi dan pengolahan yang tepat menjadi landasan penting agar produk bakeri tidak hanya bertahan lebih lama di pasaran, tetapi juga konsisten dalam kualitas, tekstur, dan keamanan bagi konsumen,” ujarnya FoodReview Indonesia In-Depth Seminar: Designing Extended Shelf Life of Bakery Products yang diselenggarakan oleh FoodReview Indonesia di Bogor beberapa waktu lalu. Integrasi antara sains pangan modern dan teknologi pengolahan terstandarisasi memberikan keunggulan kompetitif bagi produsen untuk menjawab dinamika pasar. Melalui penerapan inovasi yang berkelanjutan, industri bakeri diharapkan mampu menghadirkan produk berkualitas tinggi yang memenuhi ekspektasi konsumen sekaligus mendorong efisiensi operasional secara menyeluruh. Fri-35


FOOD INFO | Lintas Pangan

Perpres Gemarikan Jadi Gerakan Nasional

K

ementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan ketersediaan, keamanan, dan mutu pasokan ikan dari hulu hingga hilir guna mendukung Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan). Langkah ini menyusul terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 74 Tahun 2026 yang resmi menaikkan status Gemarikan menjadi gerakan nasional. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa pemenuhan gizi berbasis protein ikan merupakan strategi kunci dalam membangun sumber daya manusia nasional yang unggul dan berkelanjutan. Penguatan sektor hulu dilakukan melalui pelaksanaan Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) guna meningkatkan produktivitas nelayan dan pembudidaya. KKP mengintervensi produksi melalui berbagai program strategis, seperti Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), Budidaya Ikan Darat Tematik, Revitalisasi Tambak Pantura, Modernisasi Kapal Ikan, serta Budidaya Udang Terintegrasi. Peningkatan produksi ini ditujukan

untuk menjamin ketersediaan bahan baku pangan perikanan secara konsisten di seluruh Indonesia. Di sisi hilir, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Didit Herdiawan Ashaf menjelaskan pentingnya dukungan sistem penyimpanan, rantai dingin, dan distribusi yang andal. Pengolahan produk diarahkan melalui Unit Pengolahan Ikan (UPI) berstandar serta strategi pemasaran modern guna menjaga mutu, memperluas akses pasar, dan meningkatkan nilai tambah produk perikanan nasional. Melalui Perpres 74/2026, Gemarikan mengalami transformasi dari sekadar kampanye edukasi menjadi strategi terintegrasi dalam pemenuhan gizi nasional. Program ini diarahkan secara lebih terstruktur kepada kelompok sasaran strategis, seperti ibu hamil, ibu menyusui, balita, anak-anak, dan remaja. KKP optimistis sinergi hulu-hilir ini tidak hanya memperkuat ketahanan gizi masyarakat, tetapi juga mendorong pertumbuhan industri pengolahan hasil perikanan secara berkelanjutan. Fri-35 FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

21


FOOD INFO | Lintas Pangan

Low Sugar Non-Dairy Creamer (NDC) untuk Formulasi Minuman Lebih Menyehatkan dan Tetap Creamy

Klik untuk memutar video

I

su pengurangan gula (sugar reduction) serta regulasi kadar gula, garam, dan lemak (GGL) kini menjadi perhatian utama produsen minuman. Namun, memangkas gula sering kali mengorbankan tekstur dan kekentalan (creaminess/mouthfeel), terutama pada aplikasi kopi dan minuman berbasis susu. Penggunaan Low Sugar NonDairy Creamer (NDC) hadir untuk menjembatani tantangan tersebut. Penggunaan Low Sugar NonDairy Creamer (NDC) hadir untuk menjembatani tantangan tersebut. Melalui modifikasi bahan baku yang dilakukan, krimer ini mampu menekan kadar gula total hingga 4,8% sehingga memenuhi kriteria low sugar BPOM

22

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

(<5%). Dalam aplikasi kopi 3-in1, penggunaan krimer low sugar ini dapat menurunkan kadar gula total sebesar 87,5% per 100 gram produk. Menurut B2B Sales Manager PT Santos Premium Krimer, Niko Ningsus Songko, keberhasilan reformulasi krimer rendah gula ini tetap memprioritaskan kualitas rasa yang diminati konsumen. “Jika kita berbicara tentang krimer rendah gula kami, kami dapat mengurangi tingkat gula hingga 87,5%,” tutur Niko dalam Seminar bertajuk ‘Low Sugar, Still Creamy?: Bridging the Gap Between Indulgence and Low-Sugar Innovation’ yang berlangsung di area pameran Internasional Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, pada 16 -18 September 2026 lalu. Pameran tersebut menjadi salah satu platform untuk mengeksplorasi perkembangan bahan baku, teknologi, inovasi produk, serta peluang kolaborasi bagi para pelaku industri pangan.


Saat krimer ini diaplikasikan pada sajian kopi 3-in-1 dan dilarutkan dalam 100 ml air, kadar gula akhir dalam minuman dapat ditekan hingga hanya 0,45%. Meskipun penurunan gula ini sangat signifikan, formulasi krimer tetap mempertahankan kadar lemak minimal untuk menjaga rasa gurih dan body minuman. “Ketika kami membuatnya menjadi formulasi kopi instan 3-in-1, kandungan gula akhir setelah dilarutkan dalam 100 ml air adalah 0,45%. Secara kadar gula seharusnya bisa mendapat Grade A, tetapi ketika kita melihat kandungan natrium dan lemak totalnya, di mana

WEBINAR

FOODREVIEW INDONESIA

lemak merupakan salah satu faktor utama penentu kualitas dan rasa pada krimer, kami tidak bisa menurunkannya lebih rendah dari 29–30%. Jadi tingkat Nutri-Level yang kami dapatkan adalah Grade B,” ungkap Niko. Pada akhirnya, formulasi ini menawarkan jalan tengah yang ideal bagi produsen F&B. Dengan mengaplikasikan krimer NDC rendah gula ini, industri F&B dapat memproduksi varian minuman yang lebih menyehatkan dan sesuai regulasi tanpa harus mengorbankan tekstur creamy yang disukai pasar. Fri-35

SYNBIOTICS IN FOOD PROCESSING:

SCIENCE, VIABILITY, AND INDUSTRIAL APPLICATIONS

29th Oct 2026 Thursday

10.00-12.00 WIB

Speaker:

Prof. Dr. Ir. Lilis Nuraida, M.Sc.

REGISTER NOW!

Divisi Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University & Researcher SEAFAST Center, IPB University https://tr.ee/synbioticswebinar26

Zoom Video Communications

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

23


ADVERTORIAL

Eriez Releases New Frozen Food Inspection Video Featuring X8 Metal Detectors

E

riez® has released a new application video featuring a frozen bakery inspection system developed in partnership with Artypac Automation. The video demonstrates how Eriez X8 Metal Detectors help food manufacturers address the challenges of frozen food inspection while supporting food safety programs, product purity,

24

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

sanitation requirements and regulatory compliance. Filmed on a frozen bun production line, the video highlights multiple Eriez X8 Metal Detectors operating as part of a fully integrated inspection system designed for a demanding food processing environment. Frozen food applications can present


ADVERTORIAL unique inspection challenges due to changing product conditions, varying product shapes and sizes, high-speed production requirements and rigorous sanitation standards, creating the need for inspection equipment capable of delivering reliable contaminant detection without disrupting throughput. Through real-world production footage, viewers can follow the complete inspection process, from product handling and inspection through automated reject management. The video also provides an up-close look at key X8 capabilities, including intuitive touchscreen controls, real-time system monitoring and data collection tools that simplify operation while supporting traceability and food safety documentation requirements. “Successful inspection solutions begin with understanding the application,” said Emmett Keim, Global Product Manager of Inspection Systems, Eriez. “The system featured in this video demonstrates how testing, application expertise and collaboration come together to deliver reliable contaminant detection while supporting food safety objectives and production efficiency.” “Eriez is an outstanding partner — proactive, responsive, and highly competent in their field,” said Gabriel Laurin, President of Artypac Automation. “Their expertise made it possible to deliver a reliable, high-performing inspection solution.” To watch the video and learn more about Eriez X8 Metal Detectors, visit www.eriez.com/X8-metal-detectors.

Established in 1942, Eriez is a global leader in separation technologies. Our commitment to innovation has positioned us as a driving market force in several key technology areas, including magnetic separation, flotation, metal detection, X-ray inspection, and material handling equipment. The company’s 1,000+ employees are dedicated to providing trusted technical solutions to the mining, food, recycling, packaging, aggregate, and other processing industries. Headquartered in Erie, Pennsylvania, USA, Eriez designs, manufactures, and markets on six continents through 12 wholly owned international subsidiaries and an extensive sales representative network. For more information, visit www.eriez.com. Founded in 1996 and headquartered in Laval, Quebec, Artypac Automation designs, manufactures, and distributes automated packaging equipment for the food, pharmaceutical, chemical, and consumer goods industries. With vertically integrated operations, Artypac controls every step of the process, from design through manufacturing and after-sales, to deliver equipment built specifically for each customer’s products and operational needs. With nearly 30 years of experience serving businesses across Canada and the United States, Artypac is recognized for the quality, reliability, and ease of use of its machinery. For more information, visit www.artypac.com. FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

25


FOOD INFO | Lintas Pangan

Formulasi Pangan Menyehatkan dengan Bahan Baku Susu

K

esadaran konsumen akan kesehatan dan kebugaran terus menunjukkan peningkatan signifikan di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Lembaga survei konsumen, Euromonitor 2025 menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat di Indonesia bersedia mengalokasikan anggaran lebih untuk produk pangan kemasan yang memberikan manfaat kesehatan tambahan, seperti pengayaan protein dan zat gizi seimbang, tanpa mengorbankan cita rasa. Regional Director Southeast Asia U.S. Dairy Export Council (USDEC), Dali Ghazalay, menyampaikan bahwa inovasi produk pangan yang berhasil saat ini harus berpatokan pada kebutuhan harian konsumen yang nyata. Dalam hal ini, pemanfaatan bahan baku fungsional seperti protein susu, whey, susu bubuk, dan permeat, memberikan fleksibilitas bagi produsen pangan untuk memformulasi ulang produk yang sudah akrab di masyarakat menjadi lebih menyehatkan. 26

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

Salah satu contoh aplikasi inovatif yang diperkenalkan baru-baru ini adalah Protein Coffee Butter Cookie. Kukis ini memadukan rasa mentega klasik dan aroma kopi panggang dengan U.S. milk protein concentrate serta permeat, yang mampu menyuplai hingga 6,5 gram protein berkualitas tinggi per porsinya (empat kuksi). Produk prototipe ini membuktikan bahwa penambahan nilai gizi dapat diintegrasikan secara mulus ke dalam camilan harian masyarakat. Inovasi bahan baku dan data tren konsumsi ini dipaparkan oleh USDEC pada ajang pameran Fi Asia Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, beberapa waktu lalu. Melalui pendekatan inovasi pangan fungsional ini, produsen pangan di Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan varian produk menyehatkan yang relevan dengan kebutuhan pasar saat ini. Fri-35


ADVERTORIAL

From Peel to Performance: ® CEAMFIBRE Redefines Clean-Label Texture CEAMFIBRE® is a natural ingredient made from lemon, lime and orange peel, designed for a wide range of formulations. It combines high water-binding capacity and viscosity, independent of pH and temperature, with oil absorption, gelling properties and freeze–thaw stability. Its versatility delivers formulation benefits across applications, helping improve texture, stability and shelf life while supporting ingredient reduction or replacement. In juices, it mimics fruit turbidity and mouthfeel, prevents sedimentation, improves juiciness and supports sugar

and fruit-concentrate reduction – a smoother alternative to E466, E412 and E415. In cheese sauces and spreads, it enables clean-label recipes with smooth texture and no water release throughout shelf life. In tomato-based and oil-based sauces, it replaces modified starch while maintaining texture, shine and emulsion stability at lower dosage. In hot dogs, it adds firmness and the desired “knack”. Not just a trend: a long-term ally for healthier, innovative and functional food systems. For detailed information, please contact our experts: industryteam@ceamsa.com

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

27


PERSPEKTIF

“Pangan Sehat” atau “Pangan Menyehatkan”: Apa yang Perlu Dipahami? Oleh Ardiansyah Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan dan Kepala Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Bakrie

Istilah “pangan sehat” telah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Istilah ini digunakan dalam kampanye kesehatan masyarakat, promosi produk pangan, kebijakan pemerintah, hingga program edukasi gizi. Namun, pernahkah kita mempertanyakan apa sebenarnya makna “pangan sehat” dan apakah penggunaannya sudah mencerminkan pemahaman ilmiah yang tepat tentang hubungan pangan dan kesehatan? Pertanyaan ini penting karena kontribusi suatu pangan bagi kesehatan bergantung pada karakteristik pangan, pola konsumsi, serta kebutuhan dan kondisi individu.

28

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026


J

ika dicermati, terdapat perbedaan makna antara “pangan sehat” dan “pangan menyehatkan”. Perbedaan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya memiliki arti penting dalam membangun pemahaman masyarakat mengenai pangan, gizi, dan kesehatan. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan mengajak masyarakat memahami perbedaan antara “pangan sehat” dan “pangan menyehatkan”, sekaligus mendorong penggunaan istilah yang lebih tepat untuk meningkatkan

pemahaman tentang peran pangan dalam mendukung kesehatan manusia.

Sehat adalah kondisi manusia, bukan pangan

Sejak tahun 1948, World Health Organization (WHO) telah mendefinisikan bahwa sehat adalah kondisi sejahtera secara fisik, mental, dan sosial, bukan sekadar terbebas dari penyakit. Sementara itu, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan menjelaskan bahwa pangan merupakan bahan yang berasal dari sumber hayati, baik diolah maupun tidak, yang diperuntukkan bagi konsumsi manusia.

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

29


Pangan menyediakan energi dan zat gizi yang diperlukan tubuh untuk mendukung pertumbuhan, aktivitas, dan pemeliharaan kesehatan. Dengan demikian, sehat menggambarkan kondisi manusia, sedangkan pangan berperan dalam mendukung kesehatan manusia. Atas dasar inilah, istilah “pangan menyehatkan” lebih tepat dipopulerkan untuk menekankan manfaat pangan bagi kesehatan. Sebagai contoh, sayuran mengandung vitamin, mineral, dan serat pangan. Ikan merupakan sumber protein dan, pada jenis tertentu, asam lemak omega-3. Tempe mengandung protein dan berbagai komponen yang bermanfaat bagi tubuh. Berbagai pangan tersebut dapat berkontribusi dalam menjaga kesehatan apabila dikonsumsi secara tepat sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang.

30

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

Tidak ada satu pangan yang menjamin kesehatan

Pangan yang kaya zat gizi belum tentu selalu memberikan manfaat optimal bagi kesehatan apabila dikonsumsi secara berlebihan atau diolah dengan cara yang kurang tepat. Sebagai contoh, sayuran yang kaya vitamin dan mineral dapat kehilangan sebagian zat gizinya jika dimasak terlalu lama. Produk-produk hewani (daging, unggas, ikan, dan telur) merupakan sumber protein berkualitas tinggi. Namun, manfaat gizinya dapat berkurang apabila penanganan dan penyimpanan sebelum pengolahan tidak dilakukan dengan baik, karena kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kontaminasi dan pertumbuhan mikroorganisme berbahaya yang mengancam keamanan pangan. Buah-buahan yang kaya vitamin dan serat pun sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.


WHO menekankan tiga prinsip penting pola makan yang dapat mendukung kesehatan, yaitu kecukupan, keseimbangan, dan keberagaman pangan. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan tidak ditentukan oleh satu produk pangan, tetapi oleh keseluruhan pola konsumsi yang dijalankan secara konsisten. Dalam konteks inilah, istilah “pangan menyehatkan” menjadi relevan karena mengajak masyarakat memahami manfaat pangan secara lebih menyeluruh. Hal penting lain yang juga perlu dipahami masyarakat adalah tidak ada satu jenis pangan yang dengan sendirinya dapat menjamin seseorang menjadi sehat. Namun, manfaatnya tetap bergantung pada jumlah yang dikonsumsi, cara pengolahan, frekuensi konsumsi, dan kebutuhan dan kondisi kesehatan individu.

Pangan menyehatkan harus aman dan bergizi

Edukasi mengenai istilah pangan menyehatkan juga harus ditopang oleh pemahaman mendasar bahwa keamanan pangan merupakan fondasi

utama yang wajib dipenuhi. Pangan yang mengandung zat gizi tinggi, tetapi terkontaminasi mikroorganisme patogen, bahan kimia berbahaya, atau cemaran lainnya, tentu tidak dapat memberikan manfaat kesehatan sebagaimana diharapkan. Sebaliknya, pangan yang aman dikonsumsi belum tentu memiliki komposisi gizi yang memadai untuk mendukung keperluan tubuh. Terdapat tiga dimensi penting yang perlu diperhatikan dan saling berhubungan, yaitu aman, bergizi, dan menyehatkan. Keamanan pangan melindungi konsumen dari bahaya, kandungan gizi membantu memenuhi kebutuhan tubuh, sedangkan manfaat menyehatkan berkaitan dengan kontribusi pangan terhadap pemeliharaan fungsi fisiologis dan kesehatan dalam pola konsumsi yang tepat. Pada sisi lain, manfaat kesehatan suatu produk tertentu tetap perlu didukung bukti ilmiah. Istilah menyehatkan tidak boleh digunakan sebagai pembenaran untuk membuat klaim kesehatan yang berlebihan.

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

31


Peran industri pangan dan perguruan tinggi

Industri pangan memiliki tanggung jawab tidak hanya menghasilkan produk yang aman dan memenuhi standar mutu, tetapi juga mengembangkan inovasi yang mendukung perbaikan kualitas konsumsi masyarakat. Indonesia mempunyai sumber daya pangan lokal yang sangat beragam. Tempe, aneka kacang-kacangan,

32

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

serealia, umbi-umbian, sayuran, dan buah-buahan menawarkan peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk pangan yang bernilai tambah dan berkontribusi terhadap kesehatan. Pengembangan produk dengan kandungan serat lebih tinggi, pengurangan gula, garam dan lemak, perbaikan kualitas protein, serta pemanfaatan bahan pangan lokal merupakan beberapa contoh inovasi yang dapat diarahkan untuk mendukung kesehatan. Perguruan tinggi berperan penting dalam menghasilkan inovasi pangan yang berdampak nyata bagi masyarakat. Peran ini dimulai dari mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, melakukan penelitian, hingga mengembangkan inovasi pangan. Melalui kolaborasi dengan industri, pemerintah, dan UKM, hasil inovasi dapat dikembangkan menjadi produk yang aman, bergizi, menyehatkan, dan terjangkau. Perguruan tinggi juga berperan dalam edukasi masyarakat agar pangan dikonsumsi secara tepat.

Membangun cara pandang baru tentang pangan

Penggunaan istilah “pangan menyehatkan” bukan sebatas pergantian istilah dalam perbincangan harian, melainkan bentuk pemahaman mendasar mengenai fungsi pangan


bagi tubuh. Lebih dari itu, langkah ini merupakan upaya membangun cara pandang masyarakat bahwa pangan memiliki hubungan erat dengan kualitas kesehatan dan kehidupan manusia. Istilah “pangan sehat” memang telah lama digunakan dan dipahami secara luas dan ternyata keliru. Menggunakan istilah “pangan menyehatkan” diharapkan dapat memperjelas bahwa manfaat pangan tidak berdiri sendiri, melainkan bergantung pada karakteristik pangan, pola konsumsi, dan kondisi individu.

Sudah saatnya kita mendorong masyarakat untuk menggunakan istilah “pangan menyehatkan”, bukan “pangan sehat”. Sebab, yang sehat adalah manusianya, sedangkan pangan berperan dalam mendukung dan memelihara kesehatan manusia. Dengan pemahaman tersebut, semangat menghadirkan pangan yang aman, bergizi, dan menyehatkan dapat menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat Indonesia yang lebih sehat, produktif, dan berkualitas. FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

33


OVERVIEW

Pangan Dingin dan Beku di Indonesia:

Peluang dan Tantangan Oleh Angeline Aprilina Food Innovation and Application Technologist Indesso Cynthia Andriani University of Auckland, New Zealand

Produk pangan dingin dan beku (chilled and frozen food) semakin mendapat perhatian di Indonesia seiring dengan perubahan gaya hidup, pola konsumsi, dan perkembangan sistem distribusi pangan modern. Urbanisasi, kesibukan kerja, serta bertambahnya rumah tangga dengan kedua pasangan bekerja (dual income family) turut mendorong kebutuhan akan pangan yang praktis dan terjangkau, sekaligus aman, bermutu, dan bergizi.

34

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026


P

erubahan gaya hidup tersebut turut memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Kebutuhan untuk mempersingkat waktu penyiapan makanan mendorong penggunaan produk yang telah disiapkan sebagian (semi-prepared), siap dimasak (ready-to-cook/RTC), maupun siap dipanaskan (readyto-heat/RTH). Produk tersebut menawarkan kepraktisan dengan tetap memperhatikan keamanan, mutu, dan nilai gizi. Di saat yang sama, berkembangnya ritel modern, layanan belanja pangan daring (e-commerce grocery), dan layanan pengiriman cepat (quick commerce) semakin memudahkan konsumen memperoleh produk pangan dingin dan beku. Bagi industri pangan, kategori ini tidak hanya menawarkan kemudahan bagi konsumen, tetapi juga membuka peluang untuk memperpanjang umur simpan produk (shelf-life extension), mengurangi kehilangan dan pemborosan pangan (food waste), meningkatkan utilisasi bahan baku, FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

35


serta memperluas jangkauan distribusi dan nilai tambah produk. Namun, keberhasilan pengembangan produk pangan dingin dan beku tidak hanya bergantung pada teknologi pengawetan yang digunakan, melainkan juga pada kemampuan mempertahankan rantai dingin (cold chain) secara konsisten dari tahap produksi hingga produk dikonsumsi.

Faktor pendorong (consumer drivers)

36

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

Penerimaan konsumen terhadap produk pangan dingin dan beku dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama kepercayaan terhadap produk, kepraktisan, keterjangkauan harga, serta nilai yang dirasakan (perceived value). Kepercayaan menjadi faktor penting dalam keputusan pembelian. Konsumen mengharapkan jaminan bahwa produk tetap aman, berkualitas, dan terjaga sepanjang proses distribusi. Oleh karena itu, aspek keamanan pangan, transparansi informasi produk, serta sistem ketertelusuran yang memadai menjadi elemen penting dalam membangun kepercayaan konsumen. Selain itu, kepraktisan menjadi salah satu alasan utama meningkatnya minat terhadap produk pangan dingin dan beku. Produk yang memerlukan waktu persiapan lebih singkat, mudah disimpan, memiliki porsi yang sesuai kebutuhan, serta tersedia dalam format RTC maupun RTH memberikan


kemudahan bagi konsumen dengan gaya hidup yang semakin dinamis. Meskipun demikian, manfaat kepraktisan tersebut harus sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga produk, tetapi juga nilai yang diperoleh berupa penghematan waktu, kemudahan pengolahan, kontrol porsi, dan umur simpan yang lebih panjang. Pada akhirnya, persepsi nilai akan terbentuk ketika kepraktisan dapat berjalan berdampingan dengan kualitas, keamanan, nilai gizi, dan kesegaran produk.

Peran produk pangan dingin dan beku dalam menjawab kebutuhan pasar

Produk pangan dingin dan beku menawarkan pendekatan yang berbeda namun saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan konsumen maupun industri pangan. Produk dingin berfokus pada mempertahankan kesegaran, kualitas sensori, dan karakteristik alami bahan pangan melalui tingkat pengolahan yang relatif minimal. Sebaliknya, produk beku dirancang untuk memperpanjang umur simpan secara signifikan, mengurangi kehilangan pangan, dan memungkinkan distribusi ke wilayah yang lebih luas tanpa menurunkan keamanan produk. Untuk mencapai tujuan tersebut, industri memanfaatkan berbagai teknologi pengawetan dan pengemasan yang terus berkembang. Secara umum,

teknologi pengawetan pangan bekerja melalui beberapa mekanisme utama, yaitu pengendalian suhu, modifikasi atmosfer, inaktivasi mikroorganisme, pengurangan ketersediaan air, serta kombinasi berbagai faktor penghambat kerusakan. Melalui mekanisme tersebut, pertumbuhan mikroorganisme, aktivitas enzim, dan reaksi kimia penyebab penurunan mutu dapat diperlambat atau dikendalikan sehingga umur simpan produk meningkat tanpa mengorbankan keamanan maupun kualitas pangan. Pada produk pangan dingin dan beku, pengendalian suhu merupakan prinsip pengawetan yang paling banyak digunakan. Pendinginan (chilling) memperlambat pertumbuhan mikroorganisme serta berbagai reaksi enzimatis dan kimia yang menyebabkan penurunan mutu. Pembekuan melalui teknologi seperti blast freezing, individual quick freezing (IQF), dan cryogenic freezing menghambat pertumbuhan mikroorganisme selama produk tetap beku, tetapi tidak mensterilkan pangan atau menghentikan seluruh reaksi penurunan mutu (Tabel FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

37


Tabel 1. Teknologi pengawetan pada produk pangan dingin dan beku berdasarkan prinsip pengawetan Kategori

Tujuan / Keunggulan

Teknologi Pendukung

Contoh Produk Aplikasi

Pangan dingin

Mempertahankan kesegaran dan kualitas sensori dengan umur simpan lebih panjang

Chilling, Modified Atmosphere Packaging (MAP), vacuum packaging, pasteurization, High Pressure Processing (HPP)

Buah dan sayur potong, daging segar, makanan siap dipanaskan (RTH)

Pangan beku

Memperpanjang umur simpan dan mendukung distribusi jarak jauh

Blast freezing, Individual Quick Freezing (IQF), cryogenic freezing

Sayuran beku, daging beku, boga bahari beku, produk RTC

Emerging / Alternative Preservation Technology

Memperpanjang umur simpan melalui pendekatan alternatif

Freeze drying, hurdle technology, active packaging, intelligent packaging

Buah dan sayur kering, pangan fungsional, bahan pangan bernilai tinggi

1). Pada teknologi pembekuan cepat seperti IQF dan cryogenic freezing, pembentukan kristal es yang lebih kecil juga membantu meminimalkan kerusakan jaringan sehingga kualitas sensori produk dapat dipertahankan dengan lebih baik. Selain pengendalian suhu, umur simpan produk juga dapat ditingkatkan melalui pengendalian atmosfer dan oksigen menggunakan modified atmosphere packaging (MAP), vacuum packaging, dan active packaging. Teknologi ini bekerja dengan mengurangi kadar oksigen atau memodifikasi lingkungan di sekitar produk untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme aerob, memperlambat reaksi oksidasi, serta mempertahankan kualitas produk selama penyimpanan. Sementara itu, pasteurization dan high pressure processing (HPP) memanfaatkan panas ringan atau tekanan hidrostatik tinggi untuk mengurangi jumlah 38

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

mikroorganisme pembusuk dan patogen sehingga produk menjadi lebih aman dan memiliki umur simpan yang lebih panjang. Prinsip pengawetan lainnya adalah pengurangan ketersediaan air, yang diterapkan melalui teknologi freeze drying. Proses ini menghilangkan air melalui sublimasi pada kondisi beku dan vakum sehingga aktivitas mikroorganisme dan reaksi kerusakan dapat ditekan secara signifikan. Di sisi lain, hurdle technology mengombinasikan beberapa faktor penghambat untuk mengendalikan pertumbuhan mikroorganisme dan memperlambat penurunan mutu pangan. Sementara itu, intelligent packaging berfungsi memantau dan memberikan informasi mengenai kondisi produk atau lingkungan kemasan selama penyimpanan dan distribusi. Pemanfaatan berbagai pendekatan tersebut memberikan fleksibilitas bagi industri untuk memilih teknologi yang


paling sesuai berdasarkan karakteristik produk, kebutuhan rantai pasok, dan target pasar. Selain teknologi konvensional, teknologi alternatif seperti freeze drying juga menawarkan peluang untuk memperpanjang umur simpan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap rantai dingin. Sementara itu, perkembangan active packaging dan intelligent packaging memungkinkan pemantauan mutu produk yang lebih baik selama distribusi dan penyimpanan.

Rantai dingin sebagai faktor pendukung utama

Keberhasilan komersialisasi produk pangan dingin dan beku sangat bergantung pada kemampuan menjaga integritas rantai dingin (cold chain integrity) secara konsisten dari tahap produksi hingga konsumsi. Pada tahap produksi, pengendalian suhu relatif lebih mudah dilakukan melalui

proses pengolahan, penyimpanan, dan pengendalian mutu. Namun, tantangan yang lebih besar sering muncul pada tahap distribusi dan transportasi akibat jarak pengiriman, fluktuasi suhu, keterbatasan transportasi berpendingin, serta kondisi lingkungan yang bervariasi (Ndraha et al., 2018). Di tingkat ritel, keberhasilan rantai dingin dipengaruhi oleh pengelolaan etalase pendingin dan praktik penanganan produk yang tepat. Sementara itu, pada tahap konsumsi, kapasitas penyimpanan di rumah tangga dan penanganan selama perjalanan dari toko ke rumah turut menentukan kualitas akhir produk. Oleh karena itu, keberadaan infrastruktur seperti cold storage, gudang berpendingin, kendaraan berpendingin, sistem pemantauan suhu, serta manajemen energi menjadi faktor kunci dalam mendukung pertumbuhan industri pangan dingin dan beku. Selain infrastruktur rantai dingin, FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

39


kemasan memiliki peran penting sebagai bagian dari sistem pengendalian mutu. Kemasan berfungsi melindungi produk dari kerusakan fisik, kontaminasi, kehilangan kelembapan, oksidasi, serta perubahan suhu yang dapat menyebabkan penurunan kualitas. Kemasan juga berkontribusi dalam mempertahankan rasa, warna, tekstur, dan karakteristik sensori selama penyimpanan dan distribusi. Seiring meningkatnya tuntutan konsumen dan regulasi, pengembangan kemasan modern tidak hanya berfokus pada perlindungan produk, tetapi juga pada aspek keberlanjutan, keamanan pangan, dan kemudahan penggunaan. Karakteristik kemasan pangan beku yang memadai meliputi kemampuan mengontrol suhu, memberikan barrier terhadap kelembapan dan oksigen, 40

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

mencegah freezer burns dan kerusakan fisik, menjaga kualitas serta umur simpan produk, mendukung pelabelan dan keamanan pangan, memenuhi persyaratan regulasi, serta semakin mengarah pada penggunaan teknologi active/intelligent packaging dan material yang lebih berkelanjutan (Adhikary et al., 2026). Dengan demikian, performa produk pangan dingin dan beku merupakan hasil integrasi antara teknologi pengawetan, rantai dingin dan kemasan yang terpadu.

Peluang dan tantangan

Meskipun menawarkan potensi pertumbuhan yang signifikan, pengembangan produk pangan dingin dan beku tetap menghadapi berbagai tantangan teknis, logistik, dan ekonomi yang perlu dikelola secara


Tabel 2. Peluang dan tantangan produk pangan dingin dan beku Peluang

Tantangan

Distribusi lebih luas, termasuk peluang ekspor

Biaya rantai dingin yang tinggi

Umur simpan produk lebih panjang

Kebutuhan energi tinggi

Pengurangan food waste

Persepsi “kurang segar” konsumen terhadap produk

Inovasi produk

Sensitivitas terhadap harga

Peluang pasar yang besar

Kebutuhan modal/investasi

Pertumbuhan digital grocery

Pengendalian suhu pada penanganan oleh konsumen

seimbang (Tabel 2). Keberhasilan industri dalam memanfaatkan peluang tersebut akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menyeimbangkan aspek kualitas, efisiensi biaya, keberlanjutan operasional, dan kebutuhan konsumen yang terus berkembang.

Kesimpulan Produk pangan dingin dan beku tidak lagi sekadar diposisikan sebagai makanan praktis, melainkan sebagai bagian dari solusi sistem pangan modern yang mampu memperpanjang umur simpan, mengurangi food waste, meningkatkan efisiensi distribusi, serta menciptakan nilai tambah bagi industri dan konsumen. Namun demikian, keberhasilan pengembangannya memerlukan integrasi yang kuat antara teknologi pengawetan, inovasi kemasan, dan infrastruktur rantai dingin yang andal. Selain itu, aspek ekonomi, efisiensi energi, dan penerimaan konsumen perlu diperhatikan untuk memastikan keberlanjutan pertumbuhan kategori ini. Oleh karena itu, peluang pengembangan produk pangan dingin

dan beku di Indonesia tidak hanya bergantung pada inovasi produk, tetapi juga pada kekuatan ekosistem yang mendukungnya, mulai dari produksi, pengolahan, distribusi, ritel, hingga konsumen akhir. Dengan dukungan teknologi dan infrastruktur yang memadai, produk pangan dingin dan beku berpotensi menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung sistem pangan yang lebih efisien, aman, dan berkelanjutan. “Teknologi pengawetan terbaik bukan selalu teknologi yang memberikan umur simpan terpanjang, melainkan teknologi yang memberikan keseimbangan optimal antara kualitas produk, kebutuhan rantai pasok, dan kelayakan ekonomi.” Referensi: Adhikary ND, Nag I, Gupta RK and Singh SK (2026) Frozen food packaging: recent technological advances and future perspectives. Front. Sustain. Food Syst. 10:1891260. doi: 10.3389/fsufs.2026.1891260 Ndraha, N., Hsiao, H., Vlajic, J., Yang, M., & Lin, H. V. (2018). Time-temperature abuse in the food cold chain: Review of issues, challenges, and recommendations. Food Control, 89, 12–21. https:// doi.org/10.1016/j.foodcont.2018.01.027

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

41


OVERVIEW

42

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026


Mengoptimalkan

Potensi Pangan Dingin dan Beku untuk Pengembangan Pangan Siap Saji Oleh Sri Mulyani dan Anang Mohamad Legowo Program Studi S1 Teknologi Pangan – Program Studi S2 Ilmu Pangan Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro

Dinamika gaya hidup modern mendorong kebutuhan untuk menghemat waktu, termasuk dalam menyiapkan makanan. Kesibukan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari meningkatkan kebutuhan akan produk pangan yang praktis dan mudah disiapkan, dengan tetap memperhatikan keamanan, mutu, dan nilai gizinya.

P

angan siap saji yang aman, berkualitas, dan bergizi kini menjadi solusi relevan bagi masyarakat urban. Produk pangan dingin dan beku (chilled dan frozen food) menjadi salah satu alternatif pilihan tepat, sekaligus mendorong berkembangnya convenience food. Chilled Food merupakan pangan yang disimpan dingin (0 - 5°C), tetapi tidak mengalami proses pembekuan, sehingga masih mempertahankan karakteristiknya mendekati kondisi segar. Contoh pangan dingin meliputi daging dingin (chilled meat), produk-produk susu tertentu (dairy products), makanan siap saji FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

43


(ready meals), sayuran potong (fresh-cut vegetables), dan buah potong (fresh-cut fruits) yang harus disimpan pada suhu dingin sesuai karakteristik produk. Pangan beku adalah pangan yang disimpan pada suhu beku (≤ −18°C) untuk memperpanjang umur simpan dan mempertahankan mutu karena proses pembekuan dapat memperlambat pertumbuhan mikroorganisme dan kerusakan kimia maupun enzimatis pangan. Contoh pangan beku adalah frozen meat, seafood, vegetables, nugget, sosis dan frozen meals. Perkembangan Teknologi pangan dan gaya hidup konsumen saat ini memberikan peluang produk pangan dingin dan beku dapat dirancang menjadi makanan siap masak (ready-to-cook), siap dipanaskan (readyto-heat), bahkan siap dikonsumsi (readyto-eat), dengan tetap memperhatikan keamanan, nilai gizi, cita rasa dan karakteristik produk.

Dari makanan praktis menjadi produk bernilai tambah

Selain memenuhi aspek praktis, cepat, dan mudah disajikan, produk pangan

44

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

dingin dan beku juga berkembang menyesuaikan perkembangan gaya hidup konsumen, teknologi pangan, dan kesadaran terhadap kesehatan. Selain bersifat convenience, produk pangan dingin dan beku berpeluang menghadirkan nilai tambah, inovasi, kesehatan, keberlanjutan atau bahkan personalisasi pangan. Melalui teknologi pendinginan, pembekuan, formulasi pangan, food processing, packaging, dan cold-chain management memungkinkan produsen mengembangkan produk dengan karakteristik spesifik, yaitu makanan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan konsumen tertentu. Produk pangan dingin dan beku dapat dirancang untuk meningkatkan asupan protein, menyediakan lebih banyak sayuran (serat pangan), mengurangi gula, garam, atau lemak, mempertahankan komponen bioaktif, menggunakan bahan lokal, memenuhi


kebutuhan konsumen tertentu, mempertahankan citarasa pangan tradisional, dan memberi pengalaman makan spesial. Konsep healthy convenience food dapat diadopsi untuk menciptakan added value pada produk pangan beku maupun produk pangan dingin. Contohnya adalah frozen balanced meal yang terdiri atas nasi merah, ayam panggang, brokoli, wortel, dan saus dengan kandungan natrium yang dikendalikan. Pembekuan dan thawing dapat mempengaruhi tekstur sayuran, kemampuan menahan air, kualitas protein, serta karakteristik saus. Oleh karena itu pengembangan produk pangan dingin dan beku membutuhkan pendekatan formulasi dan proses yang tepat. Modifikasi lain yang dapat dilakukan yaitu konsep frozen highprotein food. Protein kini menjadi salah satu komponen yang semakin mendapat perhatian konsumen, baik untuk kebutuhan olahraga, gaya hidup aktif, maupun kesadaran terhadap kualitas diet. Indonesia memiliki sumber protein yang sangat beragam, mulai dari ikan, ayam, telur, susu, kedelai, kacang-kacangan hingga berbagai hasil samping pertanian yang berpotensi dikembangkan menjadi bahan pangan bernilai tambah. Dengan demikian produk pangan beku dapat menjadi vehicle untuk meningkatkan kualitas gizi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi bahan baku lokal. Pada era convenience dan masa depan, pangan dibutuhkan tidak hanya untuk memenuhi rasa kenyang, namun juga

untuk menjaga kesehatan. Oleh karena itu konsep Functional Food akan terus berkembang. Produk pangan dingin dan beku dapat diformulasikan dengan komponen yang memberikan manfaat fisiologis tertentu, misalnya serat pangan, prebiotik, probiotik, vitamin dan mineral, atau senyawa bioaktif. Misalnya, healthy frozen breakfast dengan kadar protein dan serat tinggi, prebiotik dan komponen bioaktif. Namun tantangannya yaitu memastikan bahwa komponen fungsional tersebut tetap stabil selama proses pengolahan, pembekuan, penyimpanan, hingga konsumsi. Indonesia memiliki keunggulan berupa keragaman bahan nabati. Kedelai, kacang-kacangan, serealia, umbi, jamur, rumput laut, serta berbagai hasil samping pertanian dapat menjadi sumber bahan baku untuk inovasi. Konsep Plant-Based Food juga dapat dikembangkan dalam bentuk inovasi produk berbasis bahan lokal dengan target pasar spesifik untuk komunitas vegetarian. Produk pangan beku yang dapat dikembangkan misalnya plantbased nuggets, plant-based meatballs, vegetables patties, plant-based ready meal dan frozen vegetable mix. Adapun tantangannya adalah menghasilkan produk berbahan baku tanaman tetapi memiliki tekstur, flavor, warna, juiciness, dan profil gizi yang menarik. Selain itu, produk pangan dingin dan beku berpeluang membawa kuliner lokal Indonesia yang sangat beragam ke level baru dengan jangkauan pasar yang lebih luas. Melalui branding FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

45


premium traditional food, makanan tradisional seperti rendang, rawon, gudeg, opor, ayam bumbu rujak, pempek, siomay, atau berbagai olahan seafood dapat dikembangkan menjadi produk pangan dingin atau beku dengan standar industri modern. Konsepnya tidak hanya membekukan makanan tradisional, tetapi dari identifikasi resep, standardisasi formulasi, kontrol proses pengolahan, pengemasan hingga coldchain management yang tepat akan menghasilkan premium convenience food yang layak dipasarkan secara global. Hal ini sekaligus dapat digunakan sebagai strategi hilirisasi kuliner Indonesia. Peluang berikutnya adalah konsep personalized nutrition untuk pengembangan produk pangan dingin dan beku. Konsumen masa depan tidak selalu mencari produk yang cocok untuk semua orang. Mereka dapat mencari produk yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi individual. Misalnya high-protein meal untuk konsumen aktif, lower-sodium meal, high-fiber meal, menu dengan komposisi tertentu 46

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

untuk kelompok usia tertentu, plantbased meal, menu dengan ukuran porsi tertentu atau meal plan yang disesuaikan dengan kebutuhan energi. Perkembangan teknologi digital, data analytics, dan sistem produksi yang semakin fleksibel membuat konsep mass customization pada pangan semakin banyak peminat. Produk pangan beku bahkan dapat menjadi salah satu format yang cocok untuk konsep tersebut karena produk dapat diproduksi, dikemas dalam porsi tertentu, disimpan, kemudian didistribusikan sesuai kebutuhan.

Teknologi untuk produk pangan dingin dan beku

Teknologi suhu rendah merupakan salah satu konsep dasar dalam pengawetan pangan (Tabel 1). Secara praktis produk pangan dingin umumnya dipertahankan pada suhu 0- 5°C, meskipun suhu optimumnya tergantung pada jenis produk pangan. Pendinginan bekerja dengan menurunkan suhu pangan tanpa membekukan sebagian


Tabel 1. Teknologi dan aplikasi untuk produk pangan dingin dan beku Teknologi

Prinsip utama

Air-blast freezing

Udara dingin berkecepatan tinggi

Daging, seafood, ready meal

Fleksibel

Plate freezing

Kontak produk dengan permukaan dingin

Produk berbentuk blok

Efisien untuk produk tertentu

Fluidized-bed freezing

Produk kecil dialiri udara dingin sehingga terfluidisasi

Sayuran, buah, nugget

Cocok untuk produk individual

Individual Quick Freezing (IQF)

Membekukan unit produk secara cepat dan individual

Sayuran, seafood, buah

Produk tidak mudah menggumpal

Cryogenic freezing

Menggunakan cryogen seperti nitrogen cair/CO₂

Produk premium/ produk tertentu

Pembekuan sangat cepat

Immersion freezing

Produk kontak dengan media cair yang sangat dingin

Produk tertentu

Transfer panas tinggi

besar air di dalamnya. Suhu rendah menurunkan laju pertumbuhan mikroorganisme dan reaksi kerusakan bahan pangan, sehingga umur simpan pangan meningkat. Namun demikian, mikroorganisme tidak berhenti tumbuh pada suhu dingin. Oleh karena itu, produk pangan dingin tetap membutuhkan kombinasi teknologi lain seperti sanitasi, kemasan, kontrol atmosfer, formulasi, dan rantai dingin. Pada produk pangan beku, sebagian besar air diubah menjadi es sehingga air menjadi kurang tersedia untuk aktivitas mikroba dan berbagai reaksi kerusakan. Pembekuan tidak mensterilkan pangan sehingga mikroorganisme tertentu dapat bertahan dan kualitas pangan dapat menurun selama penyimpanan beku. Oleh karena itu yang perlu diperhatikan teknologi pendinginan dan pembekuan yang tepat. Pembekuan menghasilkan kristal es, jika pembekuan berlangsung secara

Contoh aplikasi

Keunggulan

lambat, kristal es yang terbentuk besar, maka akan merusak struktur jaringan pada bahan pangan seperti buah, daging, sayuran dan seafood. Akibatnya saat dilakukan proses thawing( pelelehan) akan menghasilkan cairan (drip) yang banyak. Cairan tersebut membawa komponen gizi dan flavor bahan pangan. Semakin banyak drip, maka kehilangan nutrien dan flavor semakin besar. Sebaliknya pembekuan cepat umumnya menghasilkan kristal es yang lebih kecil, sehingga kerusakan struktur jaringan, kehilangan zat gizi dan flavor bahan pangan dapat diminimalkan. Selain ukuran, bentuk dan distribusi kristal es juga merupakan faktor penting terkait mutu pangan beku. Salah satu teknologi untuk melakukan pembekuan cepat adalah pembekuan dengan aliran udara (airblast freezing), yang mengalirkan udara dingin berkecepatan tinggi melewati produk sehingga panas dapat FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

47


dikeluarkan secara cepat. Teknologi ini fleksibel dan banyak digunakan pada daging, seafood, sayuran, serta berbagai produk ready-to-cook. Beberapa parameter kriteria proses diperhatikan dalam Air-blast freezing. Suhu udara blast freezer mencapai kisaran -35 hingga -40°C, tujuannya untuk memberikan driving force perpindahan panas. Kecepatan udara antara 2-6 m/detik (tergantung sistem) untuk meningkatkan transfer panas. Suhu awal produk 0-10°C, sedangkan suhu akhir produk, khususnya untuk thermal centre sebaiknya lebih rendah dari -18°C, demikian pula untuk suhu penyimpanannya. Proses pembekuan menggunakan air-blast freezing umumnya berlangsung sekitar 1-4 jam untuk produk pangan berukuran kecil hingga sedang. Lamanya proses sangat bervariasi, dipengaruhi oleh ukuran, bentuk, komposisi, dan kemasan. 48

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

Berbeda dari air-blast freezing, pada plate freezing produk dibekukan melalui kontak langsung dengan permukaan plate yang sangat dingin, sehingga perpindahan panas berlangsung terutama secara konduksi. Kontak produk dengan plate menghasilkan perpindahan panas yang relatif efisien. Plate freezing sangat sesuai untuk produk berbentuk datar, seragam, dan dikemas dalam blok, misalnya: fish fillet/block, seafood block minced meat block, burger/patty, frozen vegetables dalam kemasan datar, concentrated juice dan produk pangan yang dikemas dalam karton. Waktu pembekuan antara puluhan menit hingga beberapa jam. Lama proses pembekuan dipengaruhi ketebalan produk, suhu awal, suhu plate, sifat termal pangan, dan target suhu pada thermal centre. Produk dinyatakan mencapai kondisi pembekuan yang


memadai ketika bagian pusat produk telah mencapai sekitar -18°C atau lebih rendah setelah thermal stabilization. Fluidized-bed freezing merupakan pengembangan dari air-blast freezing yang dirancang khusus untuk produk berukuran kecil dan seragam. Udara dingin berkecepatan tinggi dialirkan dari bawah sehingga partikel pangan mengalami fluidisasi dan membeku secara individual. Kondisi ini menghasilkan laju perpindahan panas yang tinggi dan waktu pembekuan yang relatif singkat. Waktu pembekuan antara beberapa menit hingga puluhan menit, sehingga teknologi ini banyak digunakan untuk menghasilkan produk Individual Quick Frozen (IQF), seperti sayuran potong, kacang polong, jagung, buah, kentang, dan seafood. IQF merupakan pendekatan pembekuan cepat yang menghasilkan setiap potongan pangan dalam kondisi beku secara individual sehingga tidak membentuk satu blok yang saling melekat. Produk IQF umumnya berukuran kecil dan memiliki luas

permukaan relatif besar terhadap volumenya sehingga pelepasan panas berlangsung sangat cepat. Prosesnya dapat berlangsung hanya dalam hitungan menit hingga puluhan menit, tergantung ukuran produk dan sistem freezer. Teknologi IQF banyak diterapkan pada sayuran, buah, seafood, dan produk olahan karena mampu mempertahankan karakteristik produk sekaligus memberikan fleksibilitas porsi dan convenience bagi konsumen. Cryogenic freezing merupakan teknologi pembekuan ultra-cepat yang memanfaatkan refrigerant bersuhu sangat rendah, terutama liquid nitrogen (LN₂) atau carbon dioxide (CO₂). Driving force perpindahan panas yang sangat besar dan mekanisme perubahan fase refrigerant sehingga proses pembekuan dapat berlangsung dalam hitungan detik hingga beberapa menit untuk produk berukuran kecil. Laju pembekuan yang sangat tinggi mendorong pembentukan kristal es berukuran kecil sehingga berpotensi mempertahankan tekstur dan mutu produk dengan lebih baik.

AGENDA PANGAN Indonesia 20-23 ALLPack JIExpo, Kemayoran, Jakarta Okt 2026

INDONESIA 3-5 HEATECH JIExpo, Kemayoran, Jakarta

INTERFOOD 4-7 KRISTA NICE PIK 2, Tangerang

Nov 2026

Nov 2026

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

49


Namun demikian, pemilihan teknologi ini, sebaiknya mempertimbangkan biaya refrigerant dan aspek sustainability. Immersion freezing merupakan metode pembekuan dengan cara mengontakkan produk secara langsung dengan media cair bersuhu sangat rendah. Kontak langsung antara permukaan produk dan cairan menghasilkan perpindahan panas yang lebih intensif dibandingkan pendinginan menggunakan udara, sehingga pembekuan dapat berlangsung dalam hitungan menit. Lamanya pembekuan tergantung pada ukuran produk, suhu dan karakteristik media pendingin. Metode ini berpotensi menghasilkan pembekuan yang cepat dan seragam, tetapi penggunaan media cair memerlukan pengendalian komposisi, sanitasi, food safety, dan potensi 50

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

perubahan karakteristik produk akibat kontak langsung dengan medium.

Tantangan dan peluang produk pangan dingin dan beku dalam sustainability

Produk pangan dingin dan beku harus mempertahankan keamanan, mutu, nilai gizi, tekstur, flavor, umur simpan dan menggunakan rantai distribusi dengan suhu terkendali. Sementara itu, industri dituntut semakin hemat energi, mengurangi emisi, menggunakan sustainable kemasan dan menekan food loss. Produk pangan dingin dan beku sangat bergantung pada cold chain, mulai dari processing, storage, transportation, distribution, retail, hingga sampai ke konsumen. Untuk produk pangan beku, khususnya Quick frozen food harus dipertahankan pada


suhu produk -18°C atau lebih rendah sepanjang rantai dingin, dengan stabilitas suhu yang baik. Ketika terjadi temperature abuse, freezer mati, temperatur meningkat, terjadi perubahan kristal es, produk mengalami pembekuan kembali, namun kualitasnya tidak seperti semula. Fluktuasi suhu dapat menyebabkan ice recrystallization, yaitu kristal es kecil bergabung atau tumbuh menjadi kristal yang lebih besar. Akibatnya, struktur jaringan pangan dapat mengalami kerusakan lebih besar menyebabkan drip loss tinggi dan tekstur bahan pangan menurun kualitasnya. Tantangan berikutnya pangan dingin membutuhkan energi. Chilling membutuhkan energi untuk mempertahankan suhu rendah, sedangkan freezing membutuhkan energi tambahan untuk mengeluarkan

panas sensibel sekaligus panas laten selama perubahan air menjadi es. Semakin rendah suhu yang ingin dicapai, semakin besar tantangan sistem refrigeration. UNEP dan FAO (2022) memperkirakan emisi terkait teknologi rantai dingin pangan dan kehilangan pangan akibat kurangnya pendinginan secara bersama-sama mencapai sekitar 4% emisi gas rumah kaca global. Tantangannya adalah menciptakan cold chain dengan konsumsi energi dan emisi yang minimal. Oleh karena itu industri berusaha menuju sistem dengan refrigerant rendah global warming potential (GWP), natural refrigerants, efisiensi refrigerasi yang lebih tinggi, pengendalian kebocoran, dan desain sistem yang lebih ramah lingkungan. Tantangan kualitas penting untuk produk pangan dingin dan beku. Pembekuan tidak menghentikan semua perubahan mutu, selama penyimpanan, masih dapat terjadi lipid oxidation, pigment degradation, enzymatic changes, moisture migration, ice recrystallization, freezer burn, perubahan flavor, dan perubahan tekstur. Oleh karena itu diperlukan kontrol terhadap laju pembekuan dan stabilitas suhu penyimpanan. Selain itu tantangan keamanan pangan mikrobiologis perlu dipertimbangkan. Pembekuan dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme, tetapi sebagian mikroorganisme dapat bertahan dan kembali tumbuh ketika produk dicairkan dan berada pada kondisi optimum. Oleh karena itu manajemen pengendalian mutu tetap dibutuhkan, FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

51


seperti Good Manufacturing Practices (GMP), Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP), HACCP, pengendalian suhu, desain higienis, dan keberlajutan. Dari aspek kemasan, produk pangan beku membutuhkan kemasan yang mampu melindungi produk dari oxygen, moisture, light, contamination, mechanical damage, dan freezer burn (Adhikary et al., 2026). Semakin kompleks fungsi yang dibutuhkan, semakin komplek pula struktur kemasan. Inovasi kemasan yang dapat digunakan, contohnya lightweight packaging, mono-material packaging, recyclable packaging, recycled content, bio-based materials, improved barrier packaging. Tantangan klasik dalam pengembangan rantai dingin adalah kebutuhan investasi yang relatif besar dan jaringan infrastruktur yang memadai. Gelombang panas dan gangguan listrik dapat meningkatkan risiko penyimpangan suhu (temperature abuse). Oleh karena itu, sistem rantai dingin masa depan perlu dirancang agar hemat energi dan tangguh terhadap dampak perubahan iklim. Berbagai tantangan yang sudah disebutkan di atas, akan menstimulasi perkembangan ilmu dan teknologi yang berkaitan dengan konsep sustainability, sehingga tantangan tersebut akan membuka peluang inovasi melalui kegiatan research & development. Misalnya tantangan konsumsi energi akan berpeluang pada inovasi energyefficient refrigeration, dan tantangan 52

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

temperatur yang fluktuatif memberikan peluang inovasi untuk IoT & smart monitoring.

Penutup

Produk pangan dingin dan beku memiliki prospek yang sangat besar di era convenience. Namun, pertumbuhan kategori pangan ini sebaiknya tidak hanya diukur dari semakin banyaknya produk pangan beku di supermarket. Indikator yang lebih luas harus ditekankan, misalnya mutu dan keamanan produk yang terjamin, cold chain yang efisien, food loss minimal, penggunaan energi dan refrigerant secara bertanggung jawab dan kemasan yang sustainable. Tantangan industri pangan dingin dan beku pada masa sekarang dan mendatang adalah membangun industri sustainable, efficient, resilient, dan intelligent coldchain ecosystem.

Referensi:

FAO. (2026). Cooling the chain, cutting the waste. FAO Energy and Agrifood Systems. Adhikary, N.D.,Nag, I., R.K. Gupta and S.K, Singh. (2026). Review Article: Frozen food packaging: recent technological advances and future perspectives. Front. Sustain. Food Syst. Sec. Sustainable Food Processing. Volume 10 - 2026 | https://doi. org/10.3389/fsufs.2026.1891260 UNEP & FAO. (2022). Sustainable Food Cold Chains: Opportunities, Challenges and the Way Forward. Nairobi/Rome. DOI: 10.4060/cc0923en


20 - 23 OCTOBER 2026 20 - 23 OCTOBER 2026

JIExpo, Kemayoran Jakarta - Indonesia

ExhibitionJIExpo, Hours : 10.00 - 19.00 WIB Jakarta - Indonesia Kemayoran Exhibition Hours : 10.00 - 19.00 WIB

ALLPACK INDONESIA EXPO 2026

The 25th INDONESIA International Exhibition on Processing, ALLPACK EXPO 2026 Packaging, Automation, Handling for Food & The 25th International Exhibition on Processing, Beverage, Pharmaceutical andfor Cosmetics Packaging, Automation, Handling Food & Beverage, Pharmaceutical and Cosmetics Held in Conjunction with

Held in Conjunction with

ALL

Recycle Recycle ALL

THE BIGGEST PACKAGING PROCESSING AUTOMATION EXHIBITION IN SOUTHEAST ASIA Discover the latest in packaging, processing, and automation all in one place.

Connect with leading brands, industry experts, and explore cutting-edge innovations!

THE BIGGEST PACKAGING PROCESSING AUTOMATION EXHIBITION IN SOUTHEAST ASIA REGISTER NOW Discover the latest in packaging, processing, and automation all inmore one place. than

+42 2,000innovations! +90,000industry experts, Connect with leading brands, cutting-edge +1,700 42,000 sqm and explore Exhibiting Companies

Trade Visitors

Total Area

Countries

more than

more than

exhibition area

more than

1,700 companies +1,700

Companies

more than

1,700 companies

90,000 Visitors

+90,000 Trade Visitors

more than

90,000 Visitors

42,000 SQM

42,000 sqm Total Area

exhibition area 42,000 SQM

42 countries

+42

Exhibiting Countries

more than

42 countries

Business Matching

more than 2,000 Businessmore matching

REGISTER NOW

than

2,000 Business Matching

more than 2,000 Business matching

@allpackexpo

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

53

@allpackexpo


ASOSIASI Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia

TEI Ke-41 Perkuat Jalan Produk Indonesia ke Pasar Global

T

rade Expo Indonesia (TEI) ke-41 kembali menegaskan perannya sebagai ajang promosi perdagangan internasional terbesar di Indonesia. Digelar pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten, pameran yang mengusung tema “The Ultimate Hub for Global Sourcing” ini menjadi wadah strategis bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk memperluas akses pasar, memperkuat jejaring dagang, serta meningkatkan ekspor produk nasional. Pembukaan TEI ke-41 dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, yang mewakili Presiden Prabowo Subianto. Dalam sambutannya,

54

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

Bahlil menegaskan bahwa hilirisasi dan industrialisasi merupakan strategi utama pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Menurutnya, ekspor ke depan harus semakin didominasi oleh produk bernilai tambah tinggi, bukan lagi bertumpu pada komoditas mentah. Komitmen tersebut tercermin dalam besarnya partisipasi pelaku usaha pada TEI tahun ini. Sebanyak 1.873 exhibitor menampilkan beragam produk unggulan nasional dari sektor pangan, pertanian, manufaktur, fesyen dan kriya, furnitur, dekorasi rumah, hingga kawasan industri yang ditawarkan kepada investor global. Pameran juga


berhasil menarik buyer dari berbagai belahan dunia dan mempertemukan mereka dengan eksportir Indonesia melalui berbagai agenda promosi dan penjajakan bisnis. Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) memanfaatkan momentum pameran untuk memperkuat jejaring internasional melalui serangkaian pertemuan bisnis dan business matching dengan delegasi dari Mumbai, Sri Lanka, serta Johor Bahru yang difasilitasi oleh berbagai perwakilan diplomatik. Rangkaian kegiatan yang dihadiri oleh jajaran pengurus GAPMMI seperti Handito Joewono, Irwan S. Widjaja, dan Muhammad Alamudi—serta kunjungan Konsul Jenderal RI di Mumbai Eddy Wardoyo—ini bertujuan untuk menjajaki peluang kerja sama strategis dan memperluas pengembangan pasar bagi industri pangan Indonesia di kancah global. Dalam salah satu sesi seminar TEI ke-41 mengenai pemanfaatan perjanjian perdagangan ASEAN dan ASEAN Plus, GAPMMI menyoroti besarnya peluang ekspor industri makanan dan minuman Indonesia ke kawasan Asia dan Pasifik. Sebagai narasumber, Komite Bidang Kerja Sama Luar Negeri

GAPMMI, Sylvia Kurnia, mengungkapkan bahwa pada semester I 2026 industri makanan dan minuman tumbuh 6,77 persen, berkontribusi 41,86 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas, serta mencatat nilai ekspor sekitar USD 24 miliar. Namun, untuk memaksimalkan potensi tersebut, GAPMMI menilai masih diperlukan upaya mengatasi berbagai hambatan perdagangan di kawasan ASEAN, seperti kendala sistem pembayaran lintas negara, perbedaan standar teknis, pajak sektoral, keterbatasan logistik, serta persaingan harga, sehingga industri nasional dapat semakin kompetitif dan optimal memanfaatkan berbagai perjanjian perdagangan yang telah tersedia. Fri-27

Sekretariat GAPMMI ITS Office Tower Lt. 8 Unit 16, Nifarro Park Jl. Raya Pasar Minggu KM. 18, Jakarta Selatan 12510 Telp/Fax. (021) 29517511; Mobile. 08119322626/27 Hp. 08156720614 Email: gapmmi@cbn.net.id Website: www.gapmmi.id

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

55


REGULASI

RANTAI PANGAN DINGIN DAN BEKU:

Peran Standar dalam Menjaga Mutu dan Keamanan Pangan Oleh Theista Savanty dan Nandaroose Rucky P. Galih Analis Standardisasi, Badan Standardisasi Nasional

Pandemi COVID-19 turut mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam penyediaan pangan di rumah tangga. Produk seperti nugget, sosis, bakso, dimsum, dan aneka lauk beku menjadi pilihan utama karena kepraktisan dalam penyimpanan dan pengolahannya. Pascapandemi, pola konsumsi ini tetap bertahan, pangan beku semakin menjadi bagian dari keseharian, khususnya masyarakat urban dengan waktu luang yang terbatas (IMARC Group, 2025; Ken Research, 2024).

56

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026


P

erubahan ini menunjukkan bahwa pangan olahan beku tidak lagi sekadar menjadi bahan persediaan, melainkan telah menjadi bagian dari menu konsumsi harian. Kemudahan penyimpanan, kepraktisan, dan ketersediaan produk yang semakin beragam terus mendorong pertumbuhan pasar.

Pasar pangan olahan beku Indonesia pada 2025 diperkirakan berada pada kisaran 3,4–3,6 miliar dolar AS. Menurut Ken Research (2024), pasar tersebut tumbuh rata-rata 7,54% selama 2020–2025, sedangkan IMARC (2025) memproyeksikan nilainya mencapai 6,07 miliar dolar AS pada 2034. Dari sisi volume penjualan ritel, pangan olahan beku diproyeksikan meningkat dari sekitar 786 ribu ton pada 2025 menjadi sekitar 1,05 juta ton pada 2031 (Ken Research, 2024).

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

57


Saat ini, konsumsi pangan olahan beku per kapita di Indonesia masih sekitar 11,9 dolar AS per orang per tahun. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Thailand yang mencapai 34 dolar AS dan Malaysia sebesar 48 dolar AS (Ken Research, 2024). Perbedaan ini menunjukkan bahwa pasar Indonesia masih memiliki potensi pertumbuhan, seiring dengan meningkatnya pendapatan masyarakat dan perluasan infrastruktur rantai dingin di luar Pulau Jawa. Di tingkat regional, Indonesia juga menunjukkan skala pasar pangan beku yang besar. Dalam pemodelan Ken Research (2024), nilai pasar pangan beku Indonesia pada 2025 mencapai 3,38 miliar dolar AS, dibandingkan dengan 2,45 miliar dolar AS di Thailand dan 1,75 miliar dolar AS di Malaysia. Kondisi tersebut didukung oleh jumlah penduduk yang besar, berkembangnya ritel modern, serta meningkatnya

58

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

kebutuhan terhadap produk pangan yang praktis. Ritel modern menjadi salah satu kanal terpenting dalam distribusi pangan olahan beku di Indonesia. Menurut IMARC, grocery/convenience stores menyumbang sekitar 42,8% nilai pasar pangan beku pada 2025, sedangkan hypermarket dan supermarket menyumbang sekitar 31,6%. Kanal penjualan daring juga menunjukkan perkembangan yang semakin penting, dengan online retail stores menyumbang sekitar 12,4% pasar pangan beku pada 2025 (IMARC Group, 2025). Seiring dengan hal tersebut, penjaminan mutu dan keamanan produk olahan beku melalui penerapan rantai dingin (cold chain), yaitu rangkaian penanganan yang menjaga suhu tetap terkendali sejak diproduksi hingga sampai ke tangan konsumen, serta penyediaan informasi yang jelas pada label menjadi semakin penting. Dalam


praktiknya, pangan olahan beku harus disimpan dan diangkut pada suhu yang sesuai dan terkendali agar mutu dan keamanannya tetap terjaga. Kapasitas infrastruktur rantai dingin nasional terus berkembang, tetapi persebarannya masih belum merata. Data Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI) (2025) menunjukkan bahwa instalasi cold logistics untuk berbagai komoditas pangan pada 2024 mencakup seafood, daging merah, ayam, produk susu, dan hortikultura, dengan total sekitar 3,11 juta pallet positions. Infrastruktur cold chain juga masih terkonsentrasi di wilayah dengan aktivitas industri, pelabuhan, fasilitas pengolahan, dan pusat distribusi yang lebih besar. Di sejumlah wilayah di luar Jawa, keterbatasan infrastruktur dan ketersediaan energi masih menjadi tantangan bagi pengembangan rantai dingin (ARPI, 2025). Selain itu, kebutuhan energi yang tinggi untuk mempertahankan suhu rendah dan efisiensi sistem refrigerasi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pengembangan dan pengoperasian fasilitas rantai dingin (Ken Research, 2024; ARPI, 2025). Sebagai gambaran, pangan olahan beku umumnya dipersyaratkan disimpan pada suhu −18 °C atau lebih rendah. Fluktuasi suhu selama penyimpanan beku dapat memicu rekristalisasi es, yaitu perubahan ukuran dan distribusi kristal es, termasuk pertumbuhan kristal menjadi lebih besar. Perubahan ini dapat merusak struktur jaringan pangan, meningkatkan kehilangan cairan saat

produk dicairkan, serta menurunkan mutu tekstur dan penampakannya. Apabila kenaikan suhu cukup tinggi dan berlangsung cukup lama hingga memungkinkan pertumbuhan mikroorganisme, risiko keamanan pangan juga dapat meningkat. Perlu dipahami bahwa proses pembekuan ulang tidak dapat mengembalikan mutu awal produk. Siklus pencairan dan pembekuan kembali dapat menyebabkan penurunan mutu, akibat perubahan struktur dan pembentukan kristal es yang lebih besar. Oleh karena itu, satu titik lemah pada sistem rantai dingin dapat merusak FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

59


hasil penanganan yang sudah optimal di tahap sebelumnya. Contohnya adalah penggunaan kendaraan pengangkut dengan fasilitas pendinginan yang tidak memadai atau pintu lemari pembeku (freezer display) di ritel yang terlalu sering dibuka sehingga menyebabkan fluktuasi suhu produk. Kondisi tersebut, menuntut perhatian serius dari para pelaku usaha, khususnya sektor Usaha Mikro dan Kecil (UMK). Saat ini, banyak UMK mulai memasarkan pempek, cireng, lauk tradisional, dan makanan siap masak dalam bentuk beku melalui media sosial dan marketplace. Selain fokus pada pengembangan produk, pelaku usaha perlu memahami regulasi izin edar, ketentuan pelabelan, teknik penyimpanan, dan distribusi yang sesuai dengan karakteristik produk beku. Perjalanan pangan olahan beku dari tahap produksi hingga ke tangan konsumen melibatkan banyak tahapan dan pelaku. Rangkaian ini dimulai dari proses pembekuan atau pendinginan, dilanjutkan dengan penyimpanan, transportasi, distribusi, hingga penjualan di tingkat ritel. Setiap tahapan memiliki titik kritis dan risiko serta kebutuhan penanganan yang berbeda dan spesifik, tetapi semuanya harus terintegrasi dalam satu sistem rantai dingin yang konsisten. Perbedaan penerapan suhu, durasi penyimpanan, cara penanganan selama distribusi, hingga kejelasan informasi pada label dapat memengaruhi mutu dan keamanan produk akhir. 60

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

Oleh karena itu, diperlukan acuan yang konsisten dan aplikatif bagi seluruh pelaku usaha di sepanjang rantai pasok. Acuan tersebut penting bukan hanya bagi industri dan ritel berskala besar, tetapi juga bagi UMK, agar tersedia pedoman yang jelas dalam memproduksi, menangani, menyimpan, mendistribusikan, hingga memasarkan pangan beku. Di sinilah standardisasi berperan sebagai instrumen untuk menyelaraskan praktik di sepanjang rantai pasok, sehingga mutu dan keamanan produk tetap terjaga sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen. Untuk mendukung perjalanan pangan beku tersebut, telah tersedia berbagai Standar Nasional Indonesia (SNI) yang dapat dijadikan acuan pada setiap tahapan. Cakupan dan penerapannya beragam, mulai dari persyaratan produk, higiene dan keamanan pangan, hingga penyimpanan, transportasi, dan pengelolaan rantai dingin. Berbagai standar tersebut saling melengkapi untuk memastikan produk tetap memenuhi persyaratan mutu dan keamanan sejak diproduksi hingga sampai ke konsumen. Beberapa standar yang relevan dengan rantai pangan dingin disajikan pada Tabel 1. Pada dasarnya, standar menetapkan persyaratan. Namun, bagi pelaku usaha dan konsumen, manfaat standar yang lebih besar terletak pada nilai yang dibangun melalui penerapannya. Penerapan standar secara konsisten membantu menjaga


Tabel 1. Contoh SNI yang relevan pada rantai pangan dingin Kelompok

Peran

Nomor dan Judul SNI 1. SNI 3820:2024, Sosis daging

2. SNI 3818:2023, Bakso daging 3. SNI 6683:2024, Naget ayam

4. SNI 8503:2018, Burger daging SNI Produk

Menetapkan persyaratan mutu dan keamanan produk

5. SNI 8504:2018, Rolade daging

6. SNI 3713:2020, Es berbasis susu 7. SNI 7266:2023, Bakso ikan beku

8. SNI 9112:2022, Ikan berlapis tepung beku 9. SNI 9111:2022, Udang masak beku

10.SNI 7316:2022, Bandeng tanpa duri beku 11.SNI 2981:2025, Yogurt SNI Penyimpanan

Mendukung penerapan kondisi 1. SNI ISO 22041:2019, Lemari penyimpanan berpendingin dan gerai berpendingin untuk penggunaan profesional - Kinerja penyimpanan yang sesuai dan konsumsi energi untuk mempertahankan mutu dan keamanan produk 2. SNI 8661:2023, Ketentuan gudang beku komoditas ikan 1.

SNI Transportasi dan Distribusi

SNI ISO/TS 31514:2025, Persyaratan dan rekomendasi untuk ketertelusuran pangan dalam logistik rantai pasok dingin

2. SNI ISO 31512:2024, Layanan logistik rantai pasok dingin di sektor business to business (B to B) - Persyaratan dan pedoman untuk penyimpanan dan transportasi

Menjadi acuan dalam penanganan dan pemeliharaan 3. SNI 9026:2021, Kapal perikanan - Palka ikan segar dan ikan kondisi produk selama beku pada kapal penangkap ikan transportasi dan distribusi 4. SNI 9025:2021, Penanganan ikan - Pembongkaran ikan segar dan ikan beku dari kapal perikanan di Pelabuhan 5. SNI 7786:2021, Penanganan ikan di atas kapal - Tuna beku di kapal rawai tuna

SNI Higiene dan Keamanan Pangan

SNI Ritel dan Penanganan Produk

Mendukung penerapan higiene, sanitasi, dan pengendalian bahaya pangan

Mendukung penanganan dan penyimpanan produk hingga tahap penjualan kepada konsumen

1. SNI 8475:2017, Kode praktik higienis untuk pangan matang dingin/beku (precooked foods) dan pangan matang (cooked foods) pada katering massal 2. SNI ISO 22000:2018, Sistem manajemen keamanan pangan Persyaratan untuk setiap organisasi dalam rantai pangan 1. SNI ISO 23412:2020, Layanan pengiriman berpendingin suhu terkontrol yang dikendalikan secara tidak langsung - Paket transportasi darat dengan transfer perantara 2. SNI ISO 31511:2024, Persyaratan untuk jasa pengiriman nirsentuh dalam logistik rantai pasok dingin 3. SNI 9300:2024, Logistik rantai pasok dan distribusi dingin Kompetensi personel FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

61


mutu, mengendalikan risiko keamanan pangan, serta meningkatkan efisiensi pengelolaan proses di sepanjang rantai pasok. Di sisi lain, standar dapat membangun kepercayaan. Konsumen membutuhkan keyakinan bahwa produk yang dibeli aman dan memiliki mutu yang sesuai, sementara mitra bisnis membutuhkan kepastian bahwa produk dan proses pemasok memenuhi persyaratan yang telah disepakati. Kepercayaan tersebut dapat menjadi modal bagi pelaku usaha untuk memenuhi persyaratan pasar, memperluas akses pasar, dan memperkuat hubungan bisnis. Bagi industri pangan olahan beku, penerapan standar yang didukung rantai dingin yang andal merupakan bagian dari strategi bisnis. Investasi pada pengendalian suhu, penyimpanan, transportasi, dan penanganan produk tidak semata-mata merupakan biaya operasional, melainkan upaya untuk mengurangi risiko kerusakan, mempertahankan mutu hingga ke konsumen, dan memberikan nilai tambah pada produk. Pada akhirnya, menjaga pangan olahan tetap “dingin” hanyalah langkah awal. Tantangan utamanya adalah memastikan mutu dan keamanan pangan dapat dipertahankan secara 62

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

konsisten di sepanjang rantai pasok produk, mulai dari ruang pembekuan hingga meja makan konsumen. Upaya ini memerlukan kolaborasi lintas sektor; Badan Standardisasi Nasional (BSN) berperan menyediakan SNI, pelaku usaha termasuk UMK menerapkannya secara konsisten, laboratorium penguji dan lembaga penilaian kesesuaian memverifikasi pemenuhan persyaratan, serta konsumen berperan dengan semakin cermat membaca label dan memperhatikan kondisi penyimpanan produk saat berbelanja. Melalui peran yang saling melengkapi tersebut, standardisasi dapat mengubah rantai dingin dari sekadar kebutuhan teknis menjadi sumber kepercayaan sekaligus keunggulan bersaing bagi industri pangan olahan beku Indonesia. Referensi:

IMARC Group. (2025). Indonesia Frozen Food Market: Industry Trends, Share, Size, Growth, Opportunity and Forecast 2025–2034. IMARC Group Research Report. Tersedia di: www.imarcgroup.com (https://www. imarcgroup.com/indonesia-frozen-food-market) Ken Research. (2024). Indonesia Frozen Food Market Outlook to 2031. Ken Research Market Intelligence Report. Tersedia di: www.kenresearch.com (https:// www.kenresearch.com/industry-reports/indonesiafrozen-food-market) Mordor Intelligence. (2025). Asia Pacific Frozen Food Market, Size, Share & Trends Analysis Report. Tersedia di: www.mordorintelligence.com (https:// www.mordorintelligence.com/industry-reports/ indonesia-frozen-food-market) Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI). (2025). Cold Chain Data: RI Cold Logistics Installation 2025. Jakarta: Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia. Data instalasi nasional 2024 berdasarkan pallet positions, mencakup seafood, red meat, poultry chicken, dairy food, horticulture, dan rental cold logistics. Tersedia di: https://arpionline.org/cold-chain-data/


The Number The Number ONE ONE Food Food & Beverage & Beverage Exhibition Exhibition & Conference & Conference in Indonesia in Indonesia

KRISTA KRISTA INTERFOOD INTERFOOD EXPOEXPO 2026 2026 The 17th TheInternational 17th International Exhibition Exhibition on Food on Food & Beverage & Beverage Products, Products, PastryPastry Bakery Bakery

Technology, Technology, Ingredients, Ingredients, Additives, Additives, Services, Services, Horeca, Horeca, Catering Catering Equipments Equipments & Supplies & Supplies

44 - 7- NOVEMBER 7 NOVEMBER 2026 2026 NICENICE - Nusantara - Nusantara International International Convention Convention Exhibition Exhibition PIK 2, PIK Tangerang. 2, Tangerang. Banten Banten Indonesia Indonesia

more than

more than

1,500 1,500

95,000 95,000 Trade Trade Visitors Visitors

Business Business MatchingMatching

more than more1,500 than 1,500 Business Business Matching Matching

more than more than 95,000 95,000 Visitors Visitors +80,000+80,000 sqm sqm Total Area Total Area

exhibition exhibition area area +1000 +1000

Companies Companies

more than more than

+1000+1000 companies companies

80,000 80,000 SQM SQM

+30

+30

Exhibiting Exhibiting

Countries Countries

more than more than 30 Exhibitor 30 Exhibitor

REGISTER REGISTER NOW NOW

Countries Countries

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026

63


MINI DIREKTORI GNT Group B.V. EXBERRY® is the leading brand of Coloring Foods for the food and beverage industry. Coloring Foods are made from fruits, vegetables, and edible plants using a physical manufacturing process processed with water. +65 6659 4180

PT KH ROBERTS INDONESIA At KH Roberts, we leverage our deep expertise in flavour science and strong understanding of consumers’ needs to craft future flavours that deliver delight to consumers around the world. 021 87900778 / 021 89700723

info.id@kh-roberts.com

info-singapore@gnt-group.com

www.kh-roberts.com

www.exberry.com

https://www.linkedin.com/company/kh-roberts/

PT. Mitra Kualitas Abadi (Catalyst Consulting) Training, Consulting, Assesment/audit, Mystery Shopping Provider 021-3952 4220 +62 813-8250-7245

info@catalystconsulting.id www.catalystconsulting.id Catalyst Consulting

consulting.catalyst Catalyst Consulting

YOUR PARTNER IN GAMMA AND ELECTRON BEAM (E-BEAM) STERILIZATION, DECONTAMINATION AND POLYMERIZATION.

PT REL-ION STERILIZATION SERVICES

BENEO

(BENEO Singapore - Asia Pacific Pte. Ltd.)

Connecting nutrition and health +65 42 245 8000

Efektif mensterilkan produk pangan, 021-8836 3728 kemasan makanan, kosmetik, alat 021-8836 3729 kesehatan, farmasi, kemasan farmasi, dan cs@rel-ion.co.id produk lainnya. www.rel-ion.co.id

PT. Brenntag We are your food and nutrition partner for innovative and sustainable solutions

contact@beneo.com

021-8836 3728

www.beneo.com

021-8836 3729

10 Science Park Road #03-21 / 22 / 23 / 24 117684 Singapore

cs@rel-ion.co.id

Graha Pratama Building, 17th Floor, Jl. M.T. Haryono Kav. 15 12810 Jakarta Selatan Indonesia

www.rel-ion.co.id

brenntag.com

Eriez Australia Established in 1942, Eriez is a global leader in separation technologies. Our commitment to innovation has positioned us as a driving market force in several key technology areas, including magnetic separation, metal detection and material handling equipment.

64

Efektif mensterilkan produk pangan, kemasan makanan, kosmetik, alat kesehatan, farmasi, kemasan farmasi, dan PT REL-ION STERILIZATION SERVICES produk lainnya.

PT Ogawa Indonesia Ogawa & Co., Ltd. utilizes Japanese natural materials creating flavors and fragrances

021-8904218-19 / +62-811-1977-846

FOOMA JAPAN International Food Machinery & Technology Exhibition +81(3)6809-3745

+613 8401 7400

ade.auliya@ogawa-ogi.net

+81(3)6809-3746

www.eriez.com

https://www.ogawa.net/en/

www.foomajapan.jp

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026


16 October 2026

WORLD FOOD DAY Innovate today. Nourish tomorrow.


Edisi Mendatang | Vol. XXI | Edisi 11, November 2026

The Future of Snacking: Convenience, Health, and Indulgence

P

ola konsumsi masyarakat modern kini menempatkan camilan (snack) tidak lagi sekadar sebagai makanan pemuas lapar di antara dua waktu makan, melainkan sebagai bagian integral dari gaya hidup harian. Konsumen kian menuntut produk camilan yang mampu menyeimbangkan tiga elemen utama: kepraktisan (convenience) untuk mendukung mobilitas tinggi, profil kesehatan (health) melalui opsi rendah gula, tinggi serat, atau fungsional, serta sensasi kelezatan (indulgence) yang tetap memberikan kepuasan sensori maksimal. Kendati demikian, industri manufaktur pangan dihadapkan pada tantangan formulasi yang kompleks, seperti menjaga tekstur dan cita rasa autentik saat mengurangi kandungan lemak atau gula, serta memastikan stabilitas masa simpan bahan baku bergizi tinggi tanpa mengorbankan kualitas produk secara keseluruhan. FoodReview Indonesia edisi mendatang akan mengulas topik “The Future of Snacking: Convenience, Health, and Indulgence”, yang akan mencakup berbagai inovasi teknologi formulasi dan pemrosesan pangan, strategi pemanfaatan ingridien fungsional dan pemanis alternatif, hingga tren kemasan porsi tunggal (single-serve) yang efisien. Melalui pemanfaatan sains pangan modern dan strategi formulasi yang tepat, industri diharapkan mampu menangkap peluang pasar yang kian berkembang pesat sekaligus menghadirkan produk camilan masa depan yang praktis, bergizi, dan tetap lezat dikonsumsi.

Pemasangan iklan, pengiriman tulisan atau berita seputar teknologi dan industri pangan, silakan hubungi: FOODREVIEW INDONESIA telepon (0251) 8372333 | +62 811 1190 039 email: redaksi@foodreview.co.id & marketing@foodreview.co.id Cantumkan nama lengkap, alamat, email dan nomor telepon Anda. 66

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.10 / OKTOBER 2026


XI

RI 2026

BRUA

ARI - FE

JANU

lebih lengkap, berlipat manfaat.

G: ROCESSIN BEYOncNiliDngPthe Ultra-te through ba Reco d Food Denction Lens Processe ation–Fu a Formul

AHAN PANGANMOLENU MBG, DALAM PA TIDAK? MENGA JUTAN KEBERLAN MBG DANPANGAN: SISTEM angan,

2026:

GAN UPF TANTAN skonsepsi kan Mi i MelurusTransformasonesia untuk Pangan Ind Sistem

ATAN PENDEK -TAYIBMAN HALALM INU PADA AH GULA:an D REN im Menyehatk sar 2026 Dari Kla Peluang Pa Menuju

INDONE SIA

GAN TANTAN ASI OV DAN IN OGI MINUMAN TEKNOLN NABATI EI PROT

gungkit MBG:isPeTnransformasi StratSeisg tem Pangan ONESIA

VIEW IND

FOODRE

| VOL. XXI

6

ARI 202

I-FEBRU

JANUAR

1

55 26 09.

06/03/

VOL. XX

026: NGAN 2rmulasi GAN PA o TANTANtasi dan (Re)f ins Reorien Berbasis Sa

VOL. XX

I

MARE

T - AP

RIL 20

26

I

olors lants

MARE T - AP RIL 20 26

◼ Essential (Rp 750.000*):

Wellne ss aru

Arah B

Inovas

n

REVIEW

Jun g le B

6 Majalah fisik + 12 Majalah Digital

:a

i Pang

FOOD

lue The ne w for blu gateway es and beyond ... Jungle Blu

◼ Corporate (Rp 1.000.000*):

INDONE SIA

ndd 1

paket premium collector’s edition hadir untuk anda yang menghargai detail dan eksklusivitas.

Tant Peluang, Transformasi dan Arah

6 Majalah fisik + 12 Majalah Digital + 1 tiket gratis atau harga khusus untuk Webinar, Workshop dan Seminar FOODREVIEW Indonesia

e, a high natural ly stable blue de , versat rived fr Blends ile om easily w ith othe jagua fruit. vibrant r natura green an l colors d purple ice crea to achiev shades m, dair e y and je lly applic in your confec tioner y, ations. oterra.co

m/conta

ct Distrib

utor in

Indonesi

a:

COLOR INV

ITES, FLAV OR DECIDE

Peran Inova dalam si Sen Sistem sori Pang an

S: 12/05/26

14.09

Pindai untuk berlangganan

*harga belum termasuk biaya kirim

Hubungi kami di Layanan Pelanggan WhatsApp +62 811-1190-039


We hope you enjoy the issue!

SIGN UP https://linktr.ee/foodreview.co.id

SIGN UP TODAY TO RECEIVE YOUR FREE SUBSCRIPTION


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
FRI VOL XXI/10 2026 by FOODREVIEW Indonesia - Issuu