Artikel
ALKITAB dan PEDOMAN HIDUP UMAT *)Dr. Sigit Triyono. Salah satu ciri makhluk hidup adalah berubah. Berubah dalam ukuran (volume maupun jumlah) juga berubah dalam kualitas. Yang tidak berubah pastilah benda mati. Begitupun dengan bahasa. Bahasa yang hidup, yang aktif digunakan, pastilah juga mengalami perubahan. Bahasa yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dan berelasi, selalu mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu. Misalnya kata “preman” di tahun tujuh puluhan berarti “tidak resmi”. Dalam penerapannya, misalnya polisi berpakaian preman, berarti dia sedang tidak memakai pakaian dinas. Sekarang kata “preman” dikonotasikan dengan para pelaku kejahatan. Misalnya ada beberapa “preman” di Pasar Tanah Abang. Bahasa di dalam Alkitab memerlukan pembaruan dari segi ejaan dan penulisan. Bukan saja kata yang
berubah makna, ejaan atau penulisan kata pun diperbarui dari masa ke masa. Alkitab terjemahan baru dua (TB 2) sedapat mungkin mengikuti kaidah terkini, dengan acuan pada Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD edisi kelima, 2022) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI edisi kelima, 2017). Selain membarui penulisan dan kosa kata yang semakin usang, Alkitab TB2 meninjau kembali beberapa padanan dalam Alkitab TB 1974 dari segi ketepatan, kejelasan, dan kewajaran bahasa yang digunakan. Pada umumnya prinsip penerjemahan yang mencirikan Alkitab TB 1974 tetap dipertahankan dalam Alkitab TB 2, yakni mengutamakan terjemahan yang cenderung harfiah tetapi tetap memberi ruang bagi terjemahan yang agak bebas demi kejelasan dan ketepatan makna yang diungkapkan. Usia teks-teks Alkitab sudah sedemikian kuno, antara dua sampai tiga milenia. Sangatlah wajar jika terdapat kata-kata yang sulit dipahami, apalagi jika kata-kata itu hanya digunakan satu kali dalam seluruh Alkitab. Oleh karena itu, ada ayat-ayat yang terbuka untuk diterjemahkan dengan beberapa padanan yang berbeda. Tentu saja, tidak semua pilihan yang terbuka ini dapat dihadirkan sekaligus
ARTIKEL TEOLOGI
15