Liputan Khusus Mesin cetak Guttenberg digunakan untuk mencetak bibel pada masa reformasi protestan, tetapi bukan untuk mencetak Alkitab. Namun mesin cetak Guttenberg memainkan peran penting dalam pencetakan dan penyebaran kitab suci tersebut. Alkitab sendiri sudah ada jauh sebelum ditemukannya mesin cetak Guttenberg, dan telah dicetak dalam berbagai bentuk. Namun, mesin cetak Guttenberg memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah pencetakan bukubuku, termasuk dalam pembuatan bibel dan Alkitab yang kemudian dicetak dengan teknologi cetak yang lebih modern. Mesin cetak Guttenberg menggunakan jenis huruf cetak yang dapat dipindahkan secara individu, yang memungkinkan pencetakan lebih cepat dan lebih efisien daripada teknik pencetakan yang lebih tua seperti tinta dan pena.
DARI
MESIN CETAK KE DIGITAL Johannes Guttenberg senangnya bukan kepalang. Hasil kreasi dan penelitian serta utakatik mesin yang ia geluti, akhirnya berbuah manis. Mesin cetak! Lahir saat memasuki abad 15 tepatnya di tahun 1440. Sejak muda ia sudah tertarik untuk terlibat dalam hal cetak mencetak. Ia berpikir keras untuk dapat membuat mesin cetak yang tidak lagi mengandalkan kayu yang ongkosnya mahal. Maka di tahun 1436 ia mulai mencoba membuatnya. Dan ia berhasil membuatnya empat tahun kemudian. Teknologi cetak yang digunakannya, yaitu mencetak dengan blok kayu atau logam yang dipotong untuk mencetak huruf dan gambar pada kertas. Sebelumnya untuk mencetak digunakan blok kayu atau logam yang prosesnya sangat lambat dan mahal. Penemuan mesin cetak Guttenberg lah yang membuat buku bisa dicetak lebih cepat dan lebih murah dengan jumlah besar sehingga penyebaran informasi yang lebih luas, mengubah cara orang berkomunikasi dan mengakses informasi, termasuk mencetak Alkitab atau Bibel kala itu.
Tentu saja Alkitab buku yang dicetak saat ini ada jasa dari Guttenberg. Memang tidak ada yang benarbenar tahu berapa banyak salinan dari Alkitab telah dicetak, dijual, atau didistribusikan sejak pertama kali terbit. Usaha Lembaga Alkitab untuk menghitung jumlah Alkitab yang dicetak antara tahun 1816 dan tahun 1975 menghasilkan angka 2.458.000.000. Sebuah survei yang lebih baru, yang melakukan penelitian antara tahun 1972 sampai dengan tahun 1992, merujuk ke angka 6.000.000.000 ditulis lebih dari 2.000 bahasa dan dialek. Sejarah Alkitab Terjemahan Baru Alkitab Terjemahan Baru yang diterbitkan tahun 1974 sudah berusia setengah abad. Proses penerjemahannya sendiri telah dimulai sejak awal tahun 1950an di bawah pengawasan Lembaga Alkitab Belanda (Nederlandsch Bijbel Genootschap). Awalnya dimaksudkan sebagai pembaruan terjemahan berbahasa Melayu oleh Pdt. W.A. Bode (Perjanjian Baru terbit 1938), namun rencana ini meluas menjadi upaya untuk menghasilkan terjemahan baru dalam bahasa Indonesia. Salah satu alasan terpentingnya adalah perkembangan bahasa Indonesia yang sangat pesat pasca Kemerdekaan Republik Indonesia. Sementara Alkitab terjemahan baru masih dikerjakan di bawah naungan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) yang berdiri tanggal 9 Februari 1954, Perjanjian Lama bahasa Melayu terjemahan Dr. H.C. Klinkert (abad ke-19) dan Perjanjian Baru terjemahan Pdt. Bode pernah digabung dan diterbitkan tahun 1958. Terbitan “darurat” ini dikenal sebagai Alkitab Terjemahan Lama.. Sementara itu, atas mandat Majelis Agung Waligereja Indonesia, sejak tahun 1955 tim penerjemah Kitab Suci Katolik juga mempersiapkan terjemahan Perjanjian Lama lengkap yang mencakup Deuterokanonika. Menjelang perampungan Alkitab
LIPUTAN KHUSUS
11