SANG MAHA GURU BASRI HASANUDDIN “Do The Things Right vs Do The Right Things”
S
ebuah jargon yang sering kali ia sampaikan dalam rapat koordinasi. Terhitung 9 November ini, Prof Basri Hasanuddin menginjak usia 83 tahun. Siapa yang tak mengenalnya? Namanya tak lagi asing di tanah air bahkan mancanegara. Sosok pria gagah, berkarisma, dan cerdas ini telah menduduki jabatan strategis di bidang akademik hingga pemerintahan. Perjalanannya sebagai akademisi dimulai ketika ia mengungsi ke kota, saat daerah kelahirannya yang kini disebut Desa Pambusuang, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat terbakar pada 1956. Hijrahnya ini membuatnya memiliki akses memasuki dunia pendidikan hingga ke perguruan tinggi, bahkan ke luar negeri. Rekam kariernya membekas
36
identitas Unhas
ketika menjadi salah satu pelopor terbentuknya Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar). Dalam sejarahnya, pembentukan provinsi ini telah diperjuangkan sejak 1960, namun karena banyaknya kendala, usulan ini tidak disetujui pemerintah pusat. Usulan ini kemudian kembali menemukan momentum emas pasca gerakan reformasi pada 1999. Perjuangan dengan kecintaan terhadap tanah kelahirannya kemudian membuahkan hasil, Provinsi Sulbar akhirnya resmi terbentuk pada 2004. Pencapaian ini membuat Prof Basri dipercaya sebagai penasihat pemerintah Sulbar pada era Gubernur Sulbar, Anwar Adnan Saleh hingga Gubernur Alibal Masdar periode lalu. Tak hanya itu, Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) tidak dapat dipisahkan dari peran sosok Prof Basri Hasanuddin. Ide pendirian Unsulbar bersama saudara-saudara dan rekan-rekannya telah digagas sejak 2003 hingga berdiri pada 2007. Pendirian universitas ini juga menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) Sulbar. Tak tanggungtanggung, ia kembali memperjuangkan Unsulbar hingga menjadi Perguruan Tinggi Negeri pada 2013. Di Kampus Merah, Prof Basri pernah dipercaya menjadi Ketua Program Pengembangan Staf Unhas. Dari sinilah, ia mendorong banyak dosen Unhas untuk melanjutkan pendidikan hingga ke luar negeri.