Issuu on Google+

Berita Utama

A2 Polling Pilkada Aceh

Hasil polling ini dihitung berdasarkan suara pembaca Waspada yang dikirim dalam bentuk kupon yang telah disediakan (lihat halaman Pilkada Aceh). Metode polling yang digunakan tidak untuk mewakili keseluruhan suara pemilih dalam Pilkada Aceh, tapi hanya untuk mencari tahu suara pembaca Waspada terhadap kandidat yang muncul dalam Pilkada Gubernur Aceh maupun pemilihan bupati/wali kota yang ada di Aceh. Redaksi membuka peluang sebesar-besarnya kepada para pembaca Waspada untuk mengisi kupon polling berhadiah ini.(red)

RCC Pantau Keamanan Selat Malaka Di Aceh

BANDA ACEH (Antara): Keamanan dan aktivitas pelayaran internasional di Selat Malaka di kawasan perairan laut Provinsi Aceh akan dipantau secara intensif menyusul beroperasinya gedung “Regional Coordinating Center” (RCC) di Desa Durung, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. “RCC dilengkapi alat pemantau untuk merekam dan memonitor kegiatan kapal yang melintas di perairan Selat Malaka, kemudian dinformasikan ke intansi terkait,” kata Kepala Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) Djoko Suyanto di Aceh Besar, Jumat (16/3). Dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Pusat Penyiapan Kebijakan Bakorkamla, Brigjen Pol AJ Benny Mokalu, ia mengatakan, tujuan dibangunnya RCC itu untuk mengoptimalkan penegakan hukum di laut karena perairan Aceh strategis sebagai lalu lintas kapal dari berbagai negara.

Ketua DPR ....

Menanggapi sikap Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang menolak kenaikan harga BBM, Ketua DPR RI Marzuki Alie menghargai keputusan Sidang Paripurna DPD RI itu. “Saya kira itu sikap DPD, tentu mereka memiliki dasar pemikiran dan pertimbangan sendiri. Sementara di DPR, masalah ini masih dalam proses pembahasan di masing-masing komisi dan fraksi,” ujarnya. (aya)

Mafia BBM ....

atau tidak, juga pemilik gudang 99,’’ ujar Kapolres. Menurut Kapolres, kelima tersangka dijerat Pasal 55 RI UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, dengan hukuman maksimal penjara enam tahun dan denda Rp 60 miliar. (c13)

berarti ada apa-apanya. Para pengusaha ini nampaknya hanya berpura-pura berteriak dan mengeluh, padahal di balik itu teriak mereka mendapat keuntungan berlipatlipat. “Bagaimana tidak berlipat, orang BBM belum naik saja mereka sudah naikkan harga, mereka kembali menaikkan harga lagi setelah BBM benarbenar dinaikkan,” tegasnya. BBM Industri, tambah Marzuki, selama ini sudah berjalan sesuai harga pasar dan mekanisme pasar, sehingga tidak pantas mereka (pengusaha) menggunakan kenaikan harga BBM bersubsidi untuk menaikkan harga. Untuk itu, dia meminta agar pihak-pihak terkait dalam hal ini Kementerian Perdagangan maupun aparat penegak hukum, menindak perilaku pengusaha yang mencari keuntungan dan mengorbankan rakyat.

KPK Tetapkan ....

rancangan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Tahun Anggaran 2012. Menindaklanjuti permintaan anggota dewan tersebut, Wali Kota Semarang melakukan rapat yang dihadiri sejumlah kepala dinas di lingkungan Pemerintah Kota Semarang. Seperti yang dikutip dalam surat dakwaan, Wali Kota Semarang menyuruh terdakwa Akhmat Zaenuri menyiapkan dana sebesar Rp10 miliar yang dikumpulkan dari seluruh satuan kerja perangkat daerah untuk pembahasan RAPBD 2012 dengan pertimbangan daripada anggota DPRD meminta proyek karena setiap kali diberikan proyek hasilnya tidak bagus dan pengiriman surat pertanggungjawabannya selalu terlambat sehingga merepotkan SKPD pada saat audit. Pada 4 November 2011, Wali Kota Semarang, Soemarmo, Sekda Kota Semarang, Akhmat Zaenuri, Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD), Ayi Yudi Mardiana, mengadakan per-

temuan dengan beberapa anggota DPRD setempat, yakni Agung Purno Sarjono, Agung Priyambodo, Suhariyanto, di lantai enam Hotel Novotel Semarang. Dalam pertemuan tersebut disepakati dana Rp4 miliar dari permintaan sebesar Rp10 miliar yang akan diserahkan secara bertahap dan dibagikan kepada 50 anggota DPRD Kota Semarang. Pada 10 November 2011, terdakwa menyerahkan uang sebesar Rp304 juta kepada Agung Purno Sarjono (Partai PAN), Sumartono (Partai Demokrat), Agung Priyambodo (Partai Golkar), dan Suhariyanto (Partai Gerindra). Pada 24 November 2011, di ruang kerjanya terdakwa juga telah menyerahkan amplop cokelat yang berisi uang Rp40 juta kepada Agung Purno Sarjono dan Sumartono. Selanjutnya, terdakwa menulis catatan pada sebuah kertas mengenai rincian pembagian uang Rp40 juta yaitu untuk 22 anggota Badan Anggaran DPRD Kota Sema-

rang masing-masing Rp1,5 juta termasuk Agung Purno Sarjono, Sumartono, dan empat pimpinan Badan Anggaran. Agung Purno Sarjono dan Sumartono kemudian meninggalkan ruang kerja terdakwa, dan masuk ke mobil Toyota Innova H 95 A untuk membagi uang Rp40 juta ke dalam 26 amplop dengan rincian 20 amplop berisi Rp1,5 juta dengan ditulis nama Rukiyanto, Sriyono, Pilus. Didik, Supriyadi, Yanuar, Rudi N, Sumartono, Agung, Wiwin, Zulkarnaini, Wakhid, Junaidi, Hani. Ahmadi, Novri, Kholison, Hastoro, Agung Priyambodo, dan Fajar. Setelah itu, Sumartono keluar mobil untuk mengikuti rapar Badan Anggaran DPRD yang membahas Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) dan RAPBD 2012 sambil membawa sebagian uang, sedangkan sebagian lagi dibawa Agung Purno Sarjono. Tidak lama kemudian, Agung Purno Sarjono dan Sumartono ditangkap KPK dan ditemukan bukti berupa uang tunai Rp40 juta.

History ....

hanya ulama PUSA yang tahu ketika itu. Menyikapi akal bulus Jepang, para ulama PUSA memberi perlawanan politik, kendati Tgk Abdul Jalil Cot Plieng (ulama non politik/non organisasi) itu, dengan semangatnya yang membara ingin jihad fi sabilillah, mengejar surga di bawah kilatan pedang dan dentuman senjata api. Sekelumit Tentang Tgk Abdul Jalil Sesuai buku ‘Semangat Merdeka’ karangan Prof A Hasjmy (alm) tahun 1985, Tgk Abdul Jalil putera kelahiran daerah pedalaman Aceh Utara, Boloh Blang Ara. Beliau salah seorang anak Aceh yang pernah belajar pada sekolah yang didirikan oleh Belanda, yaitu Volkschool selama tiga tahun. Pasca itu, beliau belajar pada berbagai dayah/pasantren yang dipimpin oleh ulama non PUSA. Awalnya, Tgk Abdul Jalil belajar pada dayah yang dipimpin oleh Tgk Muhammad Amin Jumphoh di Kab. Pidie, kemudian melanjutkan pendidikannya di dayah Krueng Kale pimpinan Abu Haji Hasan Krueng Kale. Dari dayah Krueng Kale tadi, Tgk Abdul Jalil pindah ke dayah Cot

Plieng, Kec Syamtalira Bayu, Aceh Utara, pimpinan ulama Tgk Ahmad Cot Plieng, sampai ia (Tgk Abdul Jalil) menikah (dikawinkan) dengan Tgk Asiah (puteri Tgk Ahmad Cot Plieng), kemudian beliau oleh mertuanya diwariskan memimpin dayah Cot Plieng, yang punya santri sekitar 300 orang. Prinsip Tgk Abdul Jalil Cot Plieng untuk melawan Jepang dengan kekerasan senjata sangat logis. Ia sependapat dengan ketiga gurunya tadi, Tgk Muhammad Amin Jumphoh, Tgk H Hasan Krueng Kale dan guru/mertuanya Tgk Ahmad Cot Plieng yang benci dengan kafir Belanda maupun kafir Jepang. Merancang Perlawanan Tgk Abdul Jalil Cot Plieng dan teman-temanya mulai merancang perlawanan terhadap Jepang. Pada mulanya secara diam-diam mengadakan dakwah anti Jepang dan seruan jihad fi sabilillah, dari desa ke desa dalam Kab. Aceh Utara, pada pertengahan tahun 1942. Kemudian dari dakwah sembunyi-sembunyi itu meningkat jadi dakwah terang-terangan, karena dipicu oleh sikap tentara Jepang , yang mengeluarkan perintah

Al Bayan ....

sama malaikat. Jika ada tugas jihad (perang) mereka siap syahid atau menang. Demikianlah umat Islam masa Panglima Shalahuddin AlAyyubi mengalahkan Yahudi dan Nasrani di Palestina, Mesir dan Suriah. Adalah Tgk Yunus, 76, beliau sudah sangat uzur, kakinya sudah bergetar dan matanya sudah rabun. Dia mantan tukang cukur rambut (pangkas) orang-orang ternama, antara lain Prof Ali Hasjmy, Dr Ali Basyah Amin, Dr Abdullah Ali, Ketua DPRD, Ahmad Amins, dan lain-lain. Profesi tukang pangkas dia akhiri setelah tsunami. Tgk M Yunus tak pernah meninggalkan shalat Shubuh di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Saya pernah menyaksikan beliau merangkak

naik tangga dekat pintu masjid. Selain Tgk. Yunus, ada juga seorang tunanetra Tgk Nurdin, 60, yang sudah 20 tahun saya saksikan selalu ada bersama jamaah shalat Shubuh di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Pak Abdurrahman yang berprofesi tukang becak, juga tak pernah absen sebagai jamaah shalat Shubuh. Ashslalatu khairum minan Naum (Shalat itu lebih baik dari tidur) yang diserukan muazzin, selalu menggetarkan keimaman mereka, lalu menyibak selimut, berwudhuk dan melangkah ke rumah Allah. Dengan niat mencari ridha-Nya mereka menyibak sunyi, mengusir dingin, menguak fajar. Namun sayang, kelompok ini sangat sedikit di tengah mayoritas yang dibuai mimpi karena telinganya dikencingi setan.

Waspada/Ahmad Cerem Meha

DUA karyawan SPBU dari lima tersangka sebelah kiri Kapolres Kota Padangsidimpuan, AKBP Andi S Taufik yang memakai borgol diamankan Polresta ketika menjalankan aksinya sebagai ‘’Mafia’ BBM, direkam Jumat (16/3) sore. “Barang bukti turut diamankan di Mapolres berupa satu unit truk Colt Diesel berwarna kuning, solar 36 derigen, uang transaksi sejumlah Rp 5.120.000.Kasus ini akan kita lakukan pengembangan, apakah pemilik SPBU terlibat Atas perbuatannya tersebut, tersangka dijerat dengan Pasal 5 atau Pasal 13 UndangUndang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi junto Pasal 55 ayat 1 KUHP. Terkait dengan penahanan terhadap Wali Kota Semarang setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, Johan mengatakan hal itu menunggu hasil pemeriksaan terhadap yang bersangkutan. “Beliau akan menjalani pemeriksaan sebagai tersangka pada minggu depan,” ujarnya. Pada sidang lanjutan perkara suap dengan terdakwa Sekretaris Daerah nonaktif Kota Semarang Akhmat Zaenuri di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Semarang, Kamis (1/3), Soemarmo yang dihadirkan sebagai saksi memberikan keterangan berbelit-belit dan membantah keterlibatan dirinya dalam kasus tersebut. Dalam surat dakwaan terdakwa Akhmat Zaenuri, anggota DPRD Kota Semarang, Agung Purno Sarjono, meminta dana sebesar Rp10 miliar kepada Wali Kota Semarang untuk melancarkan dan memuluskan pembaha-san

Jawaban Problem Catur, TTS Dan Sudoku Dari Halaman Sport. Jawaban Problem Catur: 1. Mb5+, Rf8. 2. Mxh5, Rg8. 3. Mg5+, Rf8. 4. Mg7+, Re8. 5. Mg8+mat. (Jika 2. ....., Mxg3+. 3. f2xM, Rg8. 4. Mh6, e5. 5. Mg7+mat).

Jawaban TTS: TTS Topik

B I T P I O M E N B E L O S U G T A G E N R A A K O N D L A G R T A L A

Musik & Filem

A K O R E B E R S A U C T R U M A R B I R A I A O L O B I O O P M B L I B R E E A E N J U K T O R O I O A N G K L U

D E O U B A N K M A

S K O P mengalahkan Israel yang E O jumlah sedikit. Ketika ditanya tentaranya, R O L T O I Panglima Zionis ini menjawab: Umat Islam telah lama N F kita ninabobokkan dengan A C K O film-film di televisi, musik, dan O N olahraga, mereka tidur larut N I malam, lalu mereka meninggalkan jamaah shalat shubuh. N G

Jawaban Sudoku: 8 5 4 3 7 2 9 6 0 1

1 7 9 8 4 0 5 3 2 6

4 9 0 5 6 1 8 2 3 7

3 6 2 7 9 8 1 0 5 4

2 0 6 1 3 5 4 7 9 8

0 1 8 9 2 6 3 4 7 5

5 3 7 0 1 4 6 9 8 2

9 8 1 6 0 7 2 5 4 3

N A D A

ulama non PUSA, yaitu para ulama yang kegiatannya hanya mengabdi mendidik para santri di dayah-dayah (pasantren), tidak mau bergabung dalam organisasi apapun. Nah, sesuai sejarah. Ulama PUSA bersama para pemuda PUSA yang dibinanya, ketika itu menghubungi Jepang, untuk mengusir penjajah Belanda. Kebijakan ini sangat berseberangan pendapat dengan Tgk Abdul Jalil Cot Plieng, karena dalam pandangan beliau kedua agresor itu adalah penjajah kafe (kafir).Diibaratkan dua jenis binatang najis tadi, babi dan anjing. Pandangan Tgk Abdul Jalil Cot Plieng menolak Jepang, bukan tidak beralasan. Ia mendapat informasi, Jepang sebelum ke Aceh, sudah berlaku kejam terhadap penduduk dan tanah jajahannya di negara lain, seperti Taiwan, Korea dan Semenanjung Melayu. Apa yang dipikirkan oleh Tgk Abdul Jalil Cot Plieng, kemudian dirasakan oleh ulama PUSA bersama unsur pemudanya. Mungkin, ada b e b e r a p a k h a u s u l Mo U dengan ulama PUSA yang dialnggar Jepang, kendati

6 2 3 4 5 9 7 8 1 0

7 4 5 2 8 3 0 1 6 9

Lain halnya jika mereka rajin berjamaah shalat shubuh. Kita pantas takut bila jamaah shalat Shubuh mereka sudah sebanyak shalat Jumat. Dalam pelaksanaan shalat Shubuh berjamaah di masjid memang memiliki sinergi religi yang kuat, kebaranian dan kedisiplinan, tidak ada yang jamaah harus takuti, kecuali Allah. Jamaah shalat Shubuh, datang ke masjid dan pulang ke rumah selalu ber-

Anas Segera ....

Sebelumnya nama Anas Urbaningrum disebut-sebut oleh mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin terlibat dalam proyek berbiaya Rp1,2 triliun tersebut. Dalam persidangan terdakwa kasus suap wisma atlet tersebut mengatakan uang sebesar Rp50 miliar dari proyek Hambalang mengalir untuk pemenangan Anas dalam Kongres Partai Demokrat di Bandung 2010.

WASPADA

Sabtu 17 Maret 2012

Ratusan Orang ....

Rantauprapat yang kini masih dalam tahanan Mapolres,’’ kata Buya. Ketua PPP Labuhanbatu Wira Abdi Dasopang dalam orasinya meminta polisi jeli melihat persoalan. Jangan ada diskriminasi menimpa umat Islam. ‘’ Tidak akan ada anarkis jalanan bila polisi bertindak arif dan bijaksana,’’ katanya. Sementara Ahmad Zais salah seorang angota DPRD Labuhanbatu menyampaikan, Pemerintah Daerah telah mengeluarkan Perda tahun 2008, dan mengatur tentang pelarangan terhadap tempat maksiat. Bila tidak ada izin, dikenakan sanksi denda Rp.50 juta atau kurungan badan tiga bulan.’’ Untuk itu kami meminta agar tempat-tempat maskiat yang ada di Labuhanbatu ditutup,” paparnya. Menanggapi orasi yang disampaikan para tokoh ulama dan pemuda itu, Kapolres Labuhanbatu AKBP Hirbak Wahyu Setiawan SIK SH sependapat untuk memberantas tempat-tempat maksiat, perjudian dan prostitusi di Labuhanbatu. “Tapi,polisi berdiri di tengah-tengah sebagai penjaga keamanan, penegakan hukum, mengayomi dan melindungi masyarakat,” katanya. “Kalau massa meminta agar ketujuh tahanan itu dibebaskan hari ini tidak bisa kita tangguhkan,’’ tambahnya. Kapolres meminta kesabaran para warga. “Beri kami waktu untuk koordinasi dengan Muspida,” paparnya. (a17)

Ada-ada Saja....

seperti dikutip News 8, Jumat (16/3). “Ketika saya masih remaja, masalah ini tidak terlalu besar, namun saat ini, saya digusur karena obesitas, dan hal itu sangat tidak masuk akal,” imbuhnya. Kerusakan-kerusakan yang ada di rumahnya dinilai cukup fatal, ibunda dari DiBenedetto mengatakan, lantai rumah yang berlubang sangat berbahaya bagi cucu-cucunya yang masih kecil. DiBenedetto juga tidak dapat bekerja karena badannya yang sangat besar. Pria berusia 25 tahun itu mengatakan, dirinya makin bertambah gemuk ketika dia dan ibunya pindah rumah empat tahun lalu. Saat ini, DiBenedetto menghabiskan waktunya dengan duduk di kursi dan menghirup oksigen yang ada di dalam tangki. Pemilik lahan itu bahkan terus berjuang untuk menjelaskan ke keluarga DiBenedetto bahwa dirinya tidak ingin DiBenedetto dan ibunya menjadi konsumen yang menyewa tempat itu. (ok/rzl) ‘kirei’ (hormat), menghadap Tenno Haika ke arah timur, Tokyo, Jepang. Ketika semua murid (santri) di dayah Cot Plieng dan masyarakat sekitar sudah matang tekadnya untuk bertempur (jihad fi sabilillah), aroma gerakan itu pun mulai tercium para intelijen dan memberi laporan kepada Kompetai (petinggi) Jepang, sehingga pacisme Jepang itu berusaha memadamkan api yang belum menyala, dengan mempergunakan orang Aceh, yaitu para Hulubalang (teuku-teuku (T), atau ampon-ampon) yang diangkat menjadi Gunco (Wedana) dan Sonco (camat). Mereka ini, mau tidak mau harus melaksanakan perintah penguasa Jepang, sebagai atasannya.Namun, tidak berhasil. Pada 6 November 1942, Jepang mengirimkan pasukan cukup banyak ke dayah Cot Plieng di Bayu. Di sini pasukan Tgk Abdul jalil Cot Plieng sudah siap, sampai terjadilah pertempuran satu hari penuh yang menjatuhkan korban kedua pihak. Pasukan Tgk Abdul Jalil Cot Plieng bersenjatakan rencong, pedang dan lembing, serta senjata tradisionil lainnya, sedang di pihak Jepang memiliki senjata modern. Sore harinya, pasukan Tgk Abdul Jalil Cot Plieng yang masih tersisa, menyingkir meninggalkan kompleks dayah Cot Plieng. Pertempuran kembali terjadi, 9 November 1942 di Gampong Mns.Blang Buloh. Pasukan Tgk Abdul Jalil Cot Plieng, dikepung tentara Jepang, usai shalat Jumat. Akhirnya pertempuran usai sekitar waktu shalat ashar.Pada hari ini Tgk Abdul Jalil Cot Plieng syahid bersama temantemannya yang lain, seperti Tgk Muhammad Hanafiah, Tgk Muhammad Abas Pun-teuet, Tgk Badai, Tgk Bidin, Tgk Husen Hasyem, Tgk Muda Yusuf dan Tgk Nyak Mirah dengan total korban di pihak mujahidin diperkirakan 109 orang.Pihak tentara Jepang pun diperkirakan 100 orang tewas. * M Jakfar Achmad

Waspada/ist

RATUSAN orang tergabung dalam Ormas Islam melakukan aksi unjuk rasa di depan Mapolres Labuhanbatu meminta Polres membebaskan 7 tahanan yang kini mendekam di Mapolres.

Nasib Baik....

di Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata (BPLP) Bali, 4 tahun saya bekerja di Batam. Itulah pertama saya keluar merantau dari Bali,” urai ayah tiga orang anak itu. Kemudian tahun 1990 Made kembali ke Bali bekerja di Hotel Four Seasons. Hanya sebentar sekitar 4 tahun, dia kemudian melanjutkan petualangannya ke Palm Beach, Amerika Serikat, hingga tahun 1999. Saat peristiwa 11 September 2001, Made harus pulang ke Indonesia. Diakuinya, peristiwa WTC tahun 2001 itu sangat mengganggu bagi para pekerja migran seperti dia.”Yang pasti, orang AS tetap mencurigai pendatang, jadinya lebih baik pulang,” tuturnya. Dia kemudian kembali ke Bali dan bekerja di beberapa hotel kelas berbintang. Demi Masa Depan Diakui Made yang diamini sang istri Ketut Sujati, keinginan untuk mengubah keadaanlah yang membuatnya betah keliling dunia, bekerja dari satu hotel ke hotel yang lain. Selain itu juga diakuinya, Bali sudah sedemikian padat, sehingga memerlukan kesegaran yang baru baginya untuk mengembangkan ilmu di dunia perhotelan. “Bagi kita (orang hotel) berpindah dari satu hotel ke hotel lain bukan sesuatu yang tabu. Kita harus dapat berpindah khususnya dari kelas bintang 1 naik ke kelas bintang yang lebih tinggi. Selain untuk mendapatkan gaji yang lebih baik, juga untuk meningkatkan grade (nilai) kemampuan,” urainya. Selepas dari Bali, dia mencoba peruntungan di kawasan resor t wisata di Karibia, Amerika Tengah. Tidak lama di sana, Made melanjutkan petualangannya ke Maldives (Maladewa). Di kepulauan di tengah lautan itu, Made menghabiskan waktu hingga dua tahun dan kemudian sempat kembali untuk bekerja di Bali 8 bulan. Tidak betah di Bali, Made kembali bekerja di tempat lamanya bertugas di Maldives. Saat hendak menghabiskan masa kontrak, dia kemudian mendapat tawaran dari pimpinannya untuk melanjutkan karir yang lebih t i n g g i d i S e y c h e l l e s. D i Constance Ephelia Resort yang luas 120 hektare, dia menjadi salah seorang manajer dan sudah setahun menjalani jabatannya. Sebagai manajer, Made memperoleh rumah tempat tinggal yang sangat representative di sebelah selatan resort. Rumahnya dua lantai dengan dua kamar tidur di atas, dan ruang tamu yang besar. Selain Made di sana juga ada Johan, seorang office boy, asal Flores, Nusa Tenggara Timur, kemudian Asti, asal Yogyakarta yang bertugas di bagian administrasi. Sebagai pegawai biasa, mereka mend-

apatkan rumah seperti apartemen yang hanya berisi satu kamar tidur dan satu kamar mandi. Sementara untuk makan, para karyawan dimanjakan makan di food court yang berada dalam satu lokasi. Made mengaku, bercitacita menyekolahkan anaknya pertama di Fakultas Pertambangan di salah satu universitas di Australia dan membawa anak keduanya ke Seychelles untuk sekolah internasional di Victoria. Sementara si bungsu yang masih berusia 3 tahun tetap akan tinggal di Bali menemani sang istri. “Ya saya bekerja untuk masa depan anak-anak pak, selepas dari sini, setelah anak-anak selesai sekolah, saya pasti akan balik ke Bali,” terangnya. Diakuinya gaji yang diterima lebih dari 4 kali lipat diterima seorang pekerja dengan status jabatan yang sama dengan dirinya. “Mungkin angkanya sama semua, tapi di sini (Seychelles) tidak ada potongan sama sekali. Pajak, belanja pribadi seperti untuk rumah tangga ditanggung perusahaan, kemudian kemanamana ditanggung perusahaan, termasuk kedatangan istri juga fasilitas perusahaan,” terang Made yang mengaku menerima gaji bersih AS$4.000 (Rp36juta lebih) per bulan. Jadi bagi Made, semua pendapatannya bisa ditabung untuk memba n gun impia n n ya menyekolahkan anak dan membuka kawasan wisata di kampung halamannya. Yang Penting Niat Diakui Made, maupun Johan dan Widya dalam kesempatan terpisah ditemui Waspada, bekerja di luar negeri yang penting niatnya. Bagi Johan, 29, dia harus kuat meninggalkan keluarga kecilnya di Denpasar, Bali. “Untuk masa depan anak-anak juga,” terang Johan saat mengantarkan air mineral ke kamar Waspada. Sama dengan Made dan Johan, Widya, wanita asal Yogya, merantau ke Seychelles dilakukan untuk mendapatkan pengalaman bekerja yang lebih baik lagi khususnya di hotel berbintang. Made kemudian memberi tips ringan bagi para pekerja yang ingin merantau. ”Perkuat kemampuan pribadi seperti bahasa, kemudian coba selami dahulu kehidupan di sekitar, lalu coba kuatkan niat khususnya yang sudah berkeluarga, jangan macam-macam, perbanyak pengetahuan dan wawasan serta tentu saja jangan lupa kepada yang di atas, selalulah berdoa,” ujar Made. Ditanya kapan waktu bertemu dengan orang-orang Indonesia, Made mengaku sering ketemu orang Indonesia di luar kawasan resort saat dirinya memiliki waktu libur kerja. Ada 140 orang Indonesia di Seychelles. Mereka umumnya bekerja di berbagai hotel, kemudian ada juga pekerja konstruksi. ”Banyak pekerja bangunan di sini asal Indone-

sia khususnya dar i Jawa Tengah. Saya tidak tahu pasti alasan para pemilik bangunan, namun saya kira karena kerjanya bagus, makanya banyak bekerja di pembangunan hotel dan pemukiman mewah di kota,” terang Made. Gaji mereka tentunya juga tinggi karena didatangkan dari jauh. Terbuka Dan Kurang Promosi Kesempatan bekerja di Seychelles menurut Made sangat terbuka lebar karena populasi warganya sedikit, hanya 80 ribu orang lebih, sedangkan turis yang harus dilayani mencapai 300.000 orang. Sementara warga yang serius bekerja hanya kaum ibu, sedangkan kaum bapak hanya mau bekerja di proyek pembangunan yang cepat menghasilkan uang . Selain tenaga kerja, menurut Made, banyak kebutuhan yang harus didatangkan dari luar seperti sayur mayur dan bahan masakan, dan inilah yang seharusnya dimanfaatkan para pebisnis Indonesia. Prospek pasarnya sangat cerah karena banyak turis asing berpenghasilan menengah ke atas datang berkunjung ke Seychelles. Para turis itu berani bayar mahal karena mereka butuh ketenangan di sini meskipun keadaan alamnya sama dengan beberapa daerah di Indonesia. Itu sebabnya, kata Made melanjutkan, pemerintah Indonesia kurang melakukan sosialisasi dalam memperkenalkan Indonesia, khususnya wisata. “Yang dijual hanya Bali saja, sementara daerah lain tidak. Saya kira kalau kita gencar mempromosikan daerah di luar Bali, saya yakin, banyak daerah Indonesia jauh lebih indah dari Seychelles yang bisa mendatangkan wisatawan. Untuk memajukan daerah wisata, warga setempat harus siap mental dan prilaku menerima turis, bukan malah mengganggu, disamping tidak terpengaruh dengan budaya asing. “Lihat di Seychelles, tidak ada kan warga yang mengganggu, yang ada malah warga yang membantu,” kata Made. Bule-bule berpakaian bikini juga dipandang biasa dan warga setempat tidak perlu menirunya dan mengganggunya. Kemudian juga soal infrastruktur jalan dan jembatan ke lokasi wisata, harusnya jadi perhatian termasuk pelayanan di Bandara, penyambutan wisatawan harus serius, itu yang saya kira harus dilakukan,” terang Made. Begitulah memang seharusnya dilakukan pemerintah Indonesia demi mendatangkan devisa negara bukan sekedar membangun saja dan menjual apa adanya tanpa bisa melihat dari segi yang luas. Seychelles yang kecil saja bisa mendatangkan 300.000 orang turis per bulan, mengapa kita tidak bisa. *Muhammad Zeinizen


Waspada, Sabtu 17 Maret 2012