Issuu on Google+

MANDAR NOL KILOMETER

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Lingkup Hak Cipta Pasal 2 : 1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ketentuan Pidana Pasal 72 : 1. Barangsiapa dengan sengaja atau tanpa hak melakukan per足足buatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

MANDAR NOL KILOMETER

Muhammad Ridwan Alimuddin

MANDAR NOL KILOMETER 

Copyright@Muhammad Ridwan Alimuddin, 2011

Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Ombak, 2011 Perumahan Nogotirto III, Jl. Progo B-15, Yogyakarta 55292 Tlp. (0274) 7019945; Fax. (0274) 620606 e-mail: redaksiombak@yahoo.co.id www.penerbit-ombak.com

PO.

Penulis: Muhammad Ridwan Alimuddin Penyunting: Sampul: Tata letak: Tomo

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) MANDAR NOL KILOMETER Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2011 xiii + 245 hlm.; 15 x 23 cm ISBN: 978-602-8335-72-x

DAFTAR ISI DAFTAR ISI PROLOG PENGANTAR SEJARAH Sekilas Lintas Kampungku, Tinambung Islamisasi di Mandar Nuh, Nuhiyah, dan Pendakwah di Pambusuang Ternyata Banyak Kampung Mandar di Indonesia Sejarah Fotografi di Tinambung TOKOH 81 Bang Ali, si Tali Tasbih Annangguru Saleh, Kesederhanaan Membuatnya Abadi Cammana, Pecinta Nabi Penabuh Rebana Muis Mandra, Kamus Berjalan Budaya dan Sejarah Mandar Tombo Palua Ahlinya Calong Kacaping dan Marayama Mengenang Cecep: Maestro Muda Mati Muda Mengenang Kanna Latif: Bukan Tokoh, Tapi Dia Nelayan Ulung Mengenang Kindo’ Ka’ni: Karyanya hingga ke Seberang Laut Kisah Mas (Ka)pit(ang), dari Pemusik ke Penjahit In Memoriam Zainuddin, Nakhoda Ekspedisi Mandar – Japan TRADISI Posiq di Mata Manusia Mandar Melamar di Mandar, Menghunus “Badik” yang Lemah Menari Bersama Kuda Sayyang Pattuqdu Sisi Lain Maulid Nabi: Adam Air dan The Pooh Melepas Warga Tinambung Naik Haji Ramadhan di Kampungku Ini Dia Kuliner Mandar Tui-tuing Tapa dan Jepa Wanita Mandar Tak di Dapur Saja Ritus Awal Siklus Hidup Manusia Mandar

v

BUDAYA KONTEMPORER Taman Budaya Harusnya di Balanipa Karya Pemula Sarat Makna Pembuatan film “45!!!” Catatan Kecil untuk Teater Flamboyant Kabar Terakhir dari Aktivitas Berkesenian di Balanipa Mandar Tiga Dimensi Cammana: Film Dokumenternya “Anak Nakal” Memimpikan Harmoni Nonton TV Kabel yang Benar-benar Pakai Kabel Passoting Kampung, Makin Besar Kamera Makin Oke “Setan Bergincu” Semarakkan Industri Musik Lokal Membangun Netizen Mandar LINGKUNGAN Air Bersih dari Passauq Wai Menjadi Bagian dari Sensasi Flu Burung Banjir Datang, Kamera Beraksi Pantai Manakarra Janganlah Direklamasi Kepulauan Balabalakang: Sulawesi Barat Bagian Belakang? Mandar Nol Kilometer MANDAR DI ATAS PANGGUNG Ritus Bisikan Ombak Sepuluh Anak Mandar Menyihir Jakarta Di Balik Layar Kemenangan di Pawai Budaya Nusantara Puisi Mandar Mittokke Boi PENDIDIKAN Katanya Studi Banding, Ternyata Datang Belanja Orang Mandar Menulis Buku Banyak Bahasa di Mandar; Bukan Bahasa Mandar BAHAN BACAAN PENULIS

vi

PROLOG1 Sabtu, 24 Desember 2006, untuk kesekian kalinya saya berlayar melintasi Selat Makassar dan Laut Jawa menuju Surabaya dengan armada PELNI, perusahaan negara yang seakan terpaksa menjadi aikon agar bangsa kita, sebagai benua maritim, tetap dipandang mempunyai perhatian terhadap laut. Pelayaran kali ini mempunyai kesan sebab di dalam pelayaran ini ada dua buku yang tidak sengaja saya simpan dalam-dalam ditasku, buku ini begitu menarik sehingga ada niat memberinya sesuatu yang spesial: membacanya di dimensi yang unik: di atas laut. Makassar Nol Kilometer dan Tapak-Tapak Waktu merupakan dua buku bertema budaya kesekian yang saya golongkan terbaik. Jika saya diminta untuk memilih mana yang terbaik di antara keduanya, saya akan langsung menjawab “Makassar Nol Kilometer”! Ya, buku ini begitu unik, langka, dan tersirat prosesnya dipenuhi dengan idealisme. Ada banyak alasan mengapa saya memilihnya. Pertama, sebagaimana yang terkutip di sampul bagian belakang “Buku pertama yang memotret warga Kota Makassar kontemporer lengkap dengan karnaval budayanya, seperti merayakan di alun-alun; di titik nol kilometer. Sebuah buku untuk mereka yang ingin tahu budaya-pop Makassar dan sekitarnya”. Kedua, saya sebagai orang Sulawesi Selatan, apa yang dikemukakan dalam buku ini bisa diartikan “dimulai dari nol diri-sendiri”. Fenomena yang diceritakan 14 penulis ini adalah kejadian-kejadian yang sudah menyatu dengan keseharian kita dan menjadi bagian budaya yang beberapa diantaranya mungkin indigen Makassar. Bila ada orang luar yang 24 jam saja berada di Makassar, satu-dua dari puluhan komunitas, kuliner, fenomena, dan ruang yang ada di dalam buku pasti dialami: pasti melihat tukang becak (hal. 51); pasti melihat warung makan yang dinding depannya bertuliskan Coto Makassar, Sara’ba, dan makanan khas Sulawesi Selatan lainnya; pasti mendengar logat orang Makassar (hal. 231, 260); dan pasti melihat pete-pete, si semut biru dari Makassar (hal. 203).

Prolog ini berisi resensi saya tentang buku Makassar Nol Kilometer. Diterbitkan Media Kajian Sulawesi dan Ininnawa, Makassar, Oktober 2005. Ditulis Anwar J. Rachman dan 14 penulis lain. Tebalnya 375 halaman. 1

vii

Ketiga, buku ini hasil karya generasi muda anak negeri yang memang sengaja ingin menghasilkan karya genre budaya dengan gaya yang berbeda. Jika membandingkan dengan buku Tapak-Tapak Waktu, maka dengan gampang kita akan menemukan perbedaan itu, misalnya asal penulis dan proses sehingga menjadi sebuah buku. Tapak-Tapak Waktu hanyalah kumpulan makalah tentang kebudayaan, sejarah, dan kehidupan sosial Sulawesi Selatan yang ditulis oleh 13 penulis yang berasal dari luar negeri, beda dengan Makassar Nol Kilometer yang tumbuh dari proses kebersamaan dan kesadaran diri para penulisnya. Keempat, semangat riset dan menulis yang saya lakukan selama ini mempunyai benang merah dengan Makassar Nol Kilometer. Buku pertama saya sedikit-banyak mempunyai gaya yang sama, yaitu berupa esai singkat untuk tiap fenomena dan semua isinya didasarkan atas pengalaman pribadi. Cara ini gampang dilakukan tetapi tidak murahan! Bacalah National Geographic (versi Indonesia sudah ada), maka Anda akan mengetahui tulisan ilmiah bisa dibuat bergaya bertutur, bergaya penulisan populer. Walau demikian, membuat tulisan singkat tidak gampang-gampang amat, dia laksana membuat sushi: bumbu hampir tidak ada namun dia haruslah enak dan sehat. Berbeda dengan membuat masakan Sulawesi Selatan, kualitas daging dan kemampuan koki yang mungkin kurang bisa ditutupi dengan bumbu yang entah berapa jumlahnya. Kelima, buku ini bisa menjadi pengejewantahan “Katakan cinta dengan buku�. Ya, jika Anda orang Sulawesi Selatan yang merantau, misalnya menuntut ilmu di Yogya, dan mempunyai kekasih dari latar belakang budaya yang berbeda, maka berikanlah buku ini. Jika memang si Dia “bisa membaca�, maka dia akan memahami sebagian kehidupanmu! *** Buku ini hanya membahas kehidupan di Makassar: Makassar sebagai kota paling ramai di Sulawesi Selatan, sebagai tempat bertemunya orang-orang di Sulawesi Selatan dengan latar belakang yang berbeda, serta sebagai bagian sejarah dan budaya Sulawesi Selatan. Jadi, walaupun Anda bersuku Bugis, Toraja, Mandar, Jawa, dan suku-suku lain tetapi bermukim di Makassar untuk menuntut ilmu, berdagang, dan alasan lain, Anda menjadi dan berhak mengambil bagian cerita dalam Makassar Nol Kilometer. Dan meskipun Anda tidak pernah menginjak Makassar namun mempuyai ikatan batin-emosional, buku ini betul-betul bisa

viii

mencerminkan buku sebagai jendela: dari belahan dunia lain Anda bisa melihat Makassar dari titik nol kilometernya! Di mata saya, buku ini begitu dahsyat: bersahaja namun apa yang coba disampaikan adalah sesuatu yang penting sebagai bagian dari sejarah. Selama ini kita dididik untuk menghargai sesuatu yang besar, hanya belajar dan menghargai kehidupan seorang tokoh (politik) dan pahlawan (di medan perang). Untuk mengambil hikmah dari “sejarah kecil” di kehidupan kita, seingat saya, tidak pernah diajarkan (mudah-mudahan saya yang salah ingat). Tidak pernah disampaikan tidaklah berarti “sejarah kecil” tidak penting. Malah untuk banyak kasus, cermin sebenarnya dari kehidupan dan budaya kita adalah “sejarah kecil” itu sendiri. Kita, saya dan Anda, mungkin merasakan “suasana heroik” ketika menyaksikan para suporter begitu maniak membela PSM, melihat di layar kaca para mahasiswa dan penduduk melakukan tawuran. Ya, ada dalam hati kecil kita “keinginan” untuk terlibat: kira-kira suasana apa yang bisa melampiaskan “kekerasan” (ingat: bukan kekasaran) kita sebagai orang Sulawesi Selatan. Fenomena menerobos padatnya lalu lintas ketika mengantar mayat ke kuburan mungkin menjadikan si pionir yang berada di atas motor dengan klakson entah pada desibel berapa dengan tongkat di tangan yang menerabas kiri-kanan mempunyai kemiripan Kahar Muzakkar yang mengantar Bung Karno menuju podium di tengah lapangan untuk berorasi. Pejabat atau professor yang darahnya tidak punya sejarah “berwarna” biru atau bangsawan yang masih dipenuhi romantisme masa lalu yang merasa marah jika tidak dipanggil “puang” adalah warisan dari kefeodalan yang memenuhi sejarah Sulawesi Selatan. Sekali lagi, itu semua adalah cerminan dari sejarah dan budaya besar kita sebagai orang Sulawesi Selatan. Terlihat negatif, namun itu sisi-diri yang tidak bisa kita lepaskan. Makassar Nol Kilometer mencoba memecah kekakuan tradisi ilmiah (baca: menulis) dalam kehidupan di Sulawesi Selatan. Ini pun bisa menjadi proyeksi atau pertanyaan bahwa “Apakah orang Sulawesi Selatan mempunyai tradisi menulis”? Memang pernah ada sosok Karaeng Pattingalloang dan memang ada kronik rajaraja, tetapi itu adalah “sejarah besar dan terjadi di lampau” yang mungkin menjadi semacam kasus yang tidak mencerminkan budaya kita secara lebih umum. Jadi bisa dijawab “Tidak”. Jika memang ada penangkalan atas jawaban “Tidak” di atas, itu harus kita buktikan sendiri: ada Makassar “kilometer kesekian”, tapak dan lapis waktu sejarah,

ix

budaya, dan kehidupan orang Sulawesi Selatan yang dibuat oleh bumiputera, dan tiap bulan ada banyak buku yang lahir di Makassar. Dan kalau memang ada, haruslah bermutu! Memang ada banyak buku yang terbit di Makassar, bila melihat grafik kuantitas semata, tetapi tidak banyak yang membuat kita “Tidak malu� untuk menyampaikan ke orang lain “Bacalah buku ini�. Memang melimpah tetapi itu hanya skripsi, tesis, disertasi yang disulap menjadi buku. Sulapannya begitu murahan: tanpa editing berarti dan skripsinya pun asal buat (malah banyak yang plagiat!). Buku yang baik tidak bersifat arsip semata, namun juga memberi pencerahan, baik bagi si penulis maupun pembacanya. Kita sebagai generasi muda seharusnya tersadar ketika membaca buku Makassar Nol Kilometer bahwa untuk menulis budaya, tidak perlu takut. Kita bisa memulai dari apa yang terjadi di halaman rumah kita atau malah kasus dari dapur kita sendiri: dari titik nol dalam diri. Dan kalau memang ingin mendekati magnum opus Manusia Bugis, ya harus rajin membaca, melakukan perjalanan, mempunyai keuletan, ketekunan, serta kesabaran sebagai seorang peneliti. Jelas ini butuh waktu lama. Kesimpulannya, untuk hasil riset atau tulisan tidak diukur dari ketebalan, lamanya riset, banyaknya dana yang digunakan, dan ketika tulisan itu dapat diwujudkan dalam bentuk buku, melainkan prosesnya, sekali lagi, yang mencerahkan diri. Makassar Nol Kilometer dapat menjadi pencerahan bahwa ilmu yang bisa ditulis tidak akan pernah habis meski itu hanya radius 1 km dari Lapangan Karebosi Makassar, apalagi kalau itu puluhan kilometer ke arah Mandar, ke Selat Makassar, ke Gunung Bawakaraeng, dan ke bumi Turatea.

x

PENGANTAR Judul buku ini terinspirasi salah satu judul buku yang diterbitkan Ininnawa, “Makassar Nol Kilometer”. Kemiripannya: tulisannya populer, sama-sama terbagi ke dalam beberapa tema, dan –secara kebetulan- terdiri dari 49 tulisan. Saya sengaja menggunakan nilai ganjil, sebab dalam kebudayaan Mandar ada praktek “ussul” (pelambang, penyimbolan), bahwa kalau ganjil, rezeki akan datang sebagai penggenapnya. Bedanya, “Makassar Nol Kilometer” ditulis 15 penulis, “panggung-nya” dinamika Kota Makassar. Sedang buku ini ditulis satu orang dan bertema Mandar. Lebih banyak tentang “Makassar Nol Kilometer”, resensi atas buku itu yang saya buat untuk kemudian dimuat oleh Harian FAJAR pada awal 2006, saya jadikan sebagai prolog atas buku ini. Mandar Nol Kilometer adalah salah satu judul tulisan. Saya pilih menjadi judul utama sebab secara umum, sebagian besar isi tulisan buku ini terjadi di sekitar nol kilometernya Mandar, yaitu di Balanipa. Kasarnya, “Balanipa sentris”. Itu saya akui sebab kejadian sehari-hari yang saya lihat (tentang Mandar) untuk selanjutnya saya wujudkan dalam bentuk tulisanya terjadi di kampung halaman saya, Tinambung (Balanipa tua). *** Sebagai orang Mandar yang memiliki minat terhadap dunia dokumentasi harus mewarisi tradisi menulis di kalangan budayawan senior Mandar. Untuk itu, saya harus menulis. Bukan hanya menulis ulang apa yang sudah ditulis tapi harus mencatat yang terjadi sekarang ini. Agar di masa mendatang menjadi catatan sejarah. Walau itu hanya sejarah kecil. Tulisan dalam buku ini adalah kumpulan tulisan saya bertema Mandar dari tahun 2006 sampai 2011. Sebagian di media, khususnya www.panyingkul.com, harian Radar Sulbar, www.mandarnews.com, “catatan” facebook saya, dan blog saya di Kompasiana. Mengapa saya menerbitkan tulisan-tulisan yang telah pernah dimuat di media massa? Alasan saya, agar apa yang saya tulis semakin banyak dibaca, mudah diarsip (mudah dibaca kembali sewaktu-waktu), dan bisa dimiliki banyak orang. Ya, sampai saat ini tulisan saya di panyingkul.com dan media online lain yang memuat tulisan saya, masih bisa mengakses tulisan dalam buku ini. Tapi bagaimana pun, sebagian xi

orang tak bisa atau tak punya waktu mengaksesnya. Untuk menyimpannya pun biasanya di komputer saja. Memang sih bisa di-print. Demikian juga tulisan saya yang terbit di koran (media cetak), itu bisa diklipping. Tapi, butuh orang telaten untuk mengarsipkannya. Saya sendiri, tidak sempat mengklipping semua tulisan-tulisan saya sendiri. Singkat kata, saya menggabungkan menghilangkan kekurangan media online dengan menyatukan beberapa tulisan (kompilasi) saya (kali ini bertema Mandar) ke dalam satu buku. Orang tinggal beli, bila tak sempat selesaikan baca bisa disimpan di rak lemari; dan bebas dipinjamkan ke orang lain. Bagaimana pun juga, media buku adalah media terbaik saat ini dalam memperkaya khazanah ilmu pengetahuan. Alasan lain, tulisan tentang Mandar masih belum banyak dalam bentuk buku. Walaupun dalam bentuk buku, kebanyakan masih berkisar “sejarah, budaya tradisional�. Catatan sejarah masih jarang. Juga, kebanyakan tulisan-tulisan oleh penulis Mandar terbatas jumlah cetak dan peredarannya. Sepengetahuan saya, hanya butuh satu tangan untuk menghitung penulis Mandar yang bukunya dicetak oleh percetakan yang mempunyai jaringan distribusi nasional. *** Menulis bisa disebut gampang, bisa susah. Bisa juga mustahil di beberapa orang. Bagi saya pribadi, itu relatif. Ada kalanya beberapa bulan saya tidak menulis, tapi biasa juga saya bisa membuat naskah buku setiap melakukan pelayaran (dua catatan harian saat saya melakukan ekspedisi pelayaran telah siap diajukan naskahnya ke penerbit), dan ketika sedang mood setiap saat bisa menulis. Tapi pada dasarnya, saya bisa menulis bila saya ‘mempunyai pengalaman’. Ya, sebab pengalamanlah yang saya tulis. Pengalaman yang kemudian saya perkaya dengan bacaan-bacaan lain dan pada gilirannya itu bisa menjadi catatan sejarah dan bisa dipertanggungjawabkan. Menulis relatif mudahnya, demikian juga mewujudkan tulisan menjadi buku. Tinggal memilih, buku yang cetak, selusin atau ratusan eksemplar. Teknik cetak juga demikian, di-print di rumah, dengan teknik sablon, difotokopi, atau percetakan besar. Distribusi juga begitu, antar teman saja, di kampung saja, atau secara nasional. Tapi intinya adalah, walau kita tinggal jauh dari pusat ekonomi dan kekuasaan, mewujudkan tulisan menjadi buku tetap bisa dilakukan. Tinggal ketekunan dan kerjasama dengan banyak pihak. ***

xii

Buku ini “secara kebetulan” terbagi atas beberapa bab. Itu disebabkan tulisantulisan saya bisa membentuk kategori di atas. Bila ada kategori yang tidak bisa masuk di atas, bisa saja saya buatkan kategori lain. Harapan saya, buku ini menjadi seri pertama kumpulan tulisan tentang Mandar. Dengan kata lain, ada asa ada seri-seri berikut. Itu bisa saja asal ada kemauan. Pertanyaannya, Masa’ tidak bisa menulis 50 tulisan dalam 360 hari? Dan bila tema ini dikerja kroyokan (beberapa orang membuat beberapa tulisan), maka pekerjaan ini semakin gampang. Artinya, proyek terbuka untuk dimasuki penulis lain, khususnya teman-teman yang ada di Mandar. Ada banyak hal di Mandar yang bisa dan harus dituliskan. Sepertinya tak terbatas! Terus terang, tulisan saya ini tak lepas dari adanya inspirasi setelah membaca buku Makassar Nol Kilometer (2005, Media Kajian Sulawesi dan Penerbit Ininnawa), yang menginspiarsi pemberian judul. Buku penting dan menarik yang isinya “hanya” 49 tulisan pendek dari 15 penulis muda yang tinggal di Makassar. Menurut saya, itu buku terbaik yang mencatat sejarah Makassar kontemporer. Selanjutnya saya terlibat dalam tulisan berformat sama, yakni buku Makassar di Panyingkul (2008) dan Indonesia di Panyingkul (2009). Jadi, pengalaman membaca dan terlibat dalam kegiatan tulisan kompilasi saya terapkan dalam buku kecil ini. Kesimpulannya, saya mengajak teman-teman di Mandar untuk menuliskan apa saja tentang Mandar. Mau tetap dalam bingkai buku ini atau tema lain bukan masalah. Yang penting menulis tentang sejarah dan kebudaan Mandar, baik berdasar masa lampau (atau budaya tradisional) maupun kejadian saat ini. Buku ini terwujud atas peranan banyak pihak, mulai dari keluarga saya, sahabat-sahabat di Mandar, di dunia maya, dan di pulau lain sampai “orang yang tak saya kenal” yang membaca dan memberi masukan atas tulisan saya. Kepada semuanya saya mengucapkan terima kasih!

Mandar, Mei 2011 Muhammad Ridwan Alimuddin

xiii

SEJARAH

Sekilas Lintas Kampungku, Tinambung

Saya lahir di Tinambung. Kota kecil di muara Sungai Mandar. Ibukota Kecamatan

Tinambung. Dulu di kecamatan ini tergabung Limboro dan Balanipa yang sekarang ini menjadi kecamatan tersendiri. Letaknya sekitar 290 km dari Makassar (ibukota Provinsi Sulawesi Selatan) ke arah utara; kurang 100 km dari Mamuju (ibukota Provinsi Sulawesi Barat) ke arah selatan; 40 km dari Polewali (ibukota Kabupaten Polewali Mandar). Bila dibandingkan dengan kampung atau kota lain di Mandar, Tinambung mempunyai kedudukan tersendiri. Tinambung, dulunya bagian dari Kerajaan Balanipa. Adapun Kerajaan Balanipa adalah “bapak” dari 14 kerajaan yang bersekutu yang ada di Mandar (sekarang Provinsi Sulawesi Barat). Sedang “ibu” Kerajaan Sendana, di Kabupaten Majene. Karena alasan politik Belanda, Ibukota Afdeling Mandar tidak ditempatkan di Tinambung, melainkan di Majene. Demikian juga Provinsi Sulawesi Barat saat ini, yang ibukotanya didirikan di Mamuju. Walau demikian, dari dulu sampai saat ini, Tinambung adalah pusat per­­kembangan pendidikan, budaya, dan pemikiran di Mandar. Kalau bisa mengandaikan, Tinambung adalah “Yogya-nya” Mandar. Dalam dunia pendidikan, lingkungan pemikiran dan lembaga pendidikan di Tinambung melahirkan beberapa tokoh, misalnya Baharuddin Lopa yang dulu sekolah dasarnya di Tinambung ber­ sama Husni Djamaluddin. Jadi jangan heran bila konsep dasar dan penggerak perjuangan pembentukan Sulawesi Barat (dan gerakan-gerakan politik dan kebudayaan Mandar lainnya) kebanyakan terjadi di daerah ini.

1

Tinambung juga tempat terbentuknya Teater Flamboyant, komunitas kesenian modern tertua yang masih eksis saat ini, yang menjadi salah satu pionir pembentuk jaringan seniman Mandar dengan seniman nasional, misalnya Emha Ainun Nadjib, Zawawi Imron, dan WS. Rendra. Dari Tinambung, khususnya di Kampung Limboro, juga muncul maestro dalam dunia musik (rebana), yaitu Ibu Cammana. Dalam sejarahnya, kampung kecil ini pernah melampaui zamannya, termasuk keadaan sekarang ini. Pada zaman pergolakan (pasca penjajahan), di Tinambung sudah ada tokobuku yang koleksinya buku-buku terbitan Jawa dan Sumatera, yaitu tokobuku “Saudara” dan “Indonesia Raya”. Itu menandakan masyarakat setempat sudah menjalin jaringan perkembangan ilmu dengan daerah lain. Saat ini tidak adalagi tokobuku di Tinambung. Menyedihkan! Tapi ada satu lapak warung buku yang buka setiap hari pasar (Rabu dan Sabtu). Buku-buku yang dijual kebanyakan buku-buku agama, buku-buku pelajaran beladiri, dan buku pengobatan alternatif. Toko/warung di atas memang menjual buku, tetapi dia masih kalah jauh dengan tokobuku yang pernah ada di Tinambung pada tahun 50-60-an yang koleksinya beraneka macam. Seharusnya toko(buku) yang ada saat ini lebih maju, sesuai dengan perkembangan zaman. Tapi koq yang terjadi kemunduran? Tinambung, kota (kecil) penting di Mandar (Sulawesi Barat). Kata “tinambung” diduga berasal dari nama jenis tanaman yang dulu banyak terdapat di kawasan ini, yaitu “tina-tinambung”. Walau termasuk kota penting, dibanding beberapa tempat, Tinambung termasuk “pemukiman baru”. Kemunculannya diperkirakan pada tahun 1875, saat I Calo Ammana Wewang (pahlawan Mandar) telah berumur 21 tahun. Dia sendiri lahir pada 1854 di Lutang, perkampungan tak jauh dari pantai sekitar 4 km dari Tinambung ke arah Majene. Adapun peng-inisiatif pembetukan kampung baru tersebut adalah La’ju Kanna Doro (Mara’dia Batulaya) atau Tomatindo di Judda (sebab mangkat di Jeddah, Arab Saudi). Menurut versi Sarbin Sjam, beliau raja Balanipa yang ke-50 (cucu raja ke-36). Meski demikian, sebelum perpindahan La’ju Kanna Doro bersama pengawalnya dari Batulaya ke pinggir Sungai Mandar, kawasan tersebut telah dikenal tapi belum dimukimi. Secara umum (bila berdasar beberapa wilayah yang masuk Kecamatan Tinambung saat ini), terbentuknya kampung-kampung di sekitar kota Tinambung

2

telah lama terjadi. Setidaknya pada abad ke-16, ketika masa akhir pemerintahan Todilaling (I Manyambungi), raja Balanipa ke-1. Yakni dari perbukitan (Napo) ke pesisir/pantai. Saat masa pemerintahan raja ke-4, yakni Daetta, diperkirakan pada tahun 1615, pelabuhan Para’ dan Ba’barura dikembangkang. Pada masa itu diangkat pengawas pelabuhan, yang disebut “sawannar” (syahbandar). Sebagai kota kecil di pantai, Tinambung adalah kota dagang. Oleh sebab itu, pembentukan dan perkembangannya dipengaruhi oleh aktivitas perdagangan, baik secara lokal, regional maupun internasional. Berikut ringkasa kronologis beberapa kejadian penting yang baik langsung maupun tidak langsung mempengaruhi Tinambung. Pada tahun 1819 salah satu pusat perdagangan dunia mulai mapan, yakni Singapura (sebelumnya disebut Tumasik, sehingga orang Mandar yang berlayar ke sana untuk berdagang disebut “Pattumasek”). Pada masa itu dan setelahnya, salah satu komoditas perdagangan dunia yang juga banyak terdapat di Mandar marak diperdagangkan, yakni kopra (boka’ dalam bahasa Mandar). Dengan kata lain, Mandar terlibat dalam perdagangan internasional. Sebab pada tahun 1850, perdagangan antara orang pribumi dengan orang Eropa mulai marak. Menurut catatan Belanda, pada tahun 1860, jumlah pohon kelapa di Sulawesi Selatan sekitar 407.279 pohon (Mandar 16.502 pohon). Dan berkembang pesat pada 1875, di saat pohon kelapa mencapai 755.500 pohon. Perdagangan dunia semakin marak semenjak dibukanya Terusan Suez di Mesir pada tahun 1869. Kemudian booming perdagangan kopi pada tahun 1870. Pada tahun yang sama, para mara’dia di Mandar mengadakan perjanjian politik dengan HindiaBelanda yang secara signifikan mempengaruhi kekuatan kepemimpinan di Mandar (menjadi melemahkan). Waktu itu, pihak Belanda membeli kopra dari pekebun Mandar dengan harga yang sangat rendah dan hanya orang Belanda-lah (VOC) yang boleh membeli kopra. Di pihak lain, para pedagang (umumnya dari kalangan bangsawan sendiri) mengetahui harga kopra sangat tinggi di Tumasik (Singapura). Jadi, pedagang pribumi mengharapkan harga yang layak. Permintaan ini tak digubris Belanda. Maka terjadilah perlawanan. Paling terkenal oleh perlawanan Tokape (mara’dia ke-46). Saat tertangkap, dia dibuang ke Pacitan, Jawa Timur (tanah kelahiran presiden RI, Soesilo Bambang Yudhoyono), Jawa Timur. Disaat masa-masa pembentukan Tinambung (akhir tahun 1870-an), perdagangan tetap mengalami peningkatan. Kopra semakin banyak yang diperdagangkan, baik

3

ke Makassar maupun ke Singapura. Tinambung sendiri bukanlah kampung pelaut, tetapi kota pelabuhan. Adapun pelaut atau pelayar datang dari kampung-kampung kuno disekitarnya, misalnya Karama, Pambusuang, Luwaor, Pamboang, Sendana, dan lain-lain. Di sini pelaut bertemu dengan pekebun-pekebun dari pedalaman yang membawa komoditas, khususnya kopra dan jagung. Pada tahun 1890, Singapura menjadi pusat perdagangan. Semakin marak dan gampang dikunjungi disebabkan telah adanya transportasi reguler, yakni pelayaran KPM (perusahaan pelayaran milik pemerintah Hindia Belanda). Kapal-kapal uap kecil menyambangi pelabuhan-pelabuhan kecil di pesisir Sulawesi Selatan. Awal tahun 1900-an, perkembangan wilayah semakin cepat. Misalnya Makassar, yang menjadi kotamadya pada tahun 1906. Di sisi lain, semakin banyak kebijakan Belanda yang merugikan penduduk pribumi. Salah satunya pemberlakukan pajak yang signifikan mempengaruhi penghasilan tambahan para mara’dia dan ada’ di Mandar. Nanti pada 13 Februari 1908 penjajahan Belanda di Mandar resmi diberlakukan, setelah melewati perlawanan sengit pejuang-pejuang Mandar yang dimotori dua bersaudara Ammana Pattolawali dan Ammana Wewang. Ammana Pattolawali tewas pada tahun 6 Juni 1906 dan tertangkapnya Ammawa Wewang pada 1907 (pada tahun yang sama, Andi Depu lahir). Dalam buku biografi I Calo Ammana I Wewang yang ditulis M. T Azis Syah, tertangkapnya Ammana Wewang disebabkan adanya kerjasama antara Belanda dengan I La’ju Kanna Doro (yang membentuk perkampung Tinambung). Saat itu, I La’ju Kanna Doro meminta Ka’ta’bas, seorang tokoh masyarakat dari Tandassura, untuk mempengaruhi Ka’sawa dan Ka’mana (keduanya tukang pijat Ammana Wewang) dengan hadiah (2.500 gulden atau 1.000 ringgit) dan kedudukan bila memberitahukan keberadaan Ammana Wewang. Adapun motivasi I La’ju Kanna Doro mengkhianati (?) panglima perangnya sendiri (saat itu, Ammawa Wewang adalah Mara’dia Malolo Kerajaan Balanipa) termakan rayuan Belanda. Bahwa, bila usahanya berhasil, I La’ju Kanna Doro akan menjabat secara defenitif posisi Mara’dia (raja) Balanipa. Kala itu, ada dua kubu yang merebut posisi mara’dia Balanipa, yaitu kubu keturunan Tokape dan kubu I Mandawari (digelari Tomilloli’ sebab dia gemar menghisap candu). Kubu pertama disokong Ammana I Wewang, kubu kedua oleh Belanda. Jadi, wajar saja Belanda mengeluarkan jurus pamungkasnya: devide et impera (politik adu domba). Ya, walaupun kala itu I La’Ju Kanna Doro telah menjabat Mara’dia Balanipa, tapi

4

masih sementara. Disebabkan, anak Tokape (yang dibuang ke Pacitan) bernama I Tammanganro masih belia (belasan tahun). Permintaan agar I La’ju Kanna Doro menjadi pengganti diajukan oleh saudarinya, I Rilla’ Bulang, yang juga merupakan permaisuri Tokape atau ibu I Tammanganro. Permintaan tersebut disetujui Appe Banua Kayyang. Maka, ketika Ammana Wewang beristirahat, salah seorang tukang pijat menghubungi serdadu Belanda untuk kemudian menangkap Ammana Wewang yang terlelap saat itu. Caranya unik: empat potong bambu dihimpitkan ke tubuh sang pejuang untuk kemudian mengikatnya cepat-cepat. Cara demikian yang digunakan sebab bila ditembak atau ditikam, Ammana Wewang tak mampan. Beliau dikenal kebal terhadap senjata tajam. Kejadian ini terjadi pada 23 Juli 1907. Sebulan kemudian, 24 Agustus 1907, Ammawa Wewang dan pengikutnya diadili di Campalagian untuk selanjutnya ditahan di Makassar (setengah bulan) dan di Batavia (Jakarta). Dari Batavia, Ammawa Wewang dan sembilan pengikutnya diasingkan di Pulau Belitung, terhitung 1 November 1907. Entah atas jasanya atau bukan, ketika I Mandawari (kakek Prof. Baharuddin Lopa) mengudurkan diri dari jabatan mara’dia (yang dijabatnya tiga kali), posisi mara’dia dipegang oleh I La’ju Kanna Doro atau Tomatindo di Ju’da (sebab dia mangkat di sana). Saat Belanda tak diusik lagi oleh perlawanan dari bangsawan setempat, kerajaan-kerajaan lokal diubah menjadi sistem distrik. Awalnya 27 distrik tapi menjadi 11 distrik pada 1911. Adapun Tinambung sendiri, bila berdasar pada sistem kedistrikan, masuk wilayah Distrik Batulaya (La’ju Kanna Doro sendiri adalah Mara’dia Batulaya). Batulaya adalah “anak banua” dari “banua kayyang” Toda-todang (ada empat “banua kayyang” yang membentuk Balanipa, yaitu Napo, Samasundu, Mosso, dan Toda-todang). Saat ini, di sekitar kota Tinambung ada “kappung Toda-todang”, tak jauh dari Kantor Kelurahan Tinambung dan Desa Todatodang, beberapa kilometer ke arah perbukitan dari Tinambung. Selanjutnya, Tinambung semakin berkembang. Organisasi politik dari Jawa masuk pada tahun 1914, Jalan-jalan untuk kendaraan bermotor mulai dibuat pada tahun 1920, mesjid yang awalnya berada di pinggir sungai di sekitar jembatan dipindahkan ke posisi sekarang pada tahun 1930 (setahun sebelumnya resesi global/ dunia dimulai, tepatnya 24 Oktober 1929), orang-orang Cina mulai berdatangan di tahun 1935, penjajah Belanda semakin mencengkram, Jepang datang 1942, masa revolusi dimulai pada 1945 (22 Mei 1945 Ammana I Wewang kembali tiba di Mandar, tepatnya di Ba’babulo, Pamboang, Majene), sekolah DDI mulai didirikan

5

pada 1948, Yayasan Perama dibentuk pada 1950, kebakaran besar kembali terjadi di Calo-calo pada 4 September 1952, tak lama kemudian atau tahun 1954 era Andi Selle (710) dimulai, cikal bakal SMP Tinambung berdiri pada tahun 1959 kemudian disusul pembentukan SMK dan SMA. Penghapusan sistem kerajaan terjadi pada tahun 1959, digantikan sistem pemerintahan. Yang pada tahun ini terbentuk tiga kabupaten di Sulawesi Selatan, berubah dari Kabupaten Mandar menjadi Kabupaten Polewali Mamasa (Polmas), Majene, dan Mamuju (berdasar UU No. 29 Tahun 1959). Kemudian perubahan istilah “desa” menjadi “kelurahan” untuk Tinambung. Raja atau mara’dia terakhir Balanipa adalah Puang Mandaq (Hj. A. Syahribulan), yang menggantikan Hj. Andi Depu (putri La’ju Kanna Doro). Begitulah sekilas sejarah kampungku. Awalnya hanya berupa rawa di sekitar muara Sungai Mandar untuk kemudian berubah menjadi kiblat kebudayaan di tanah Mandar. Islamisasi di Mandar Awalnya, daerah-daerah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Mandar) hampir saja menganut agama Kristen (kepercayaan yang dibawa orang-orang Portugis ke daerah yang dikunjunginya). Namun akhirnya proses Kristenisasi atas penduduk pribumi akhirnya gagal. Ada beberapa faktor penyebabnya. Antonio de Paiva, pedagang Portugis, meninggalkan Malaka pada 1542 menuju Sulawesi untuk berdagang kayu cendana di “Durate” yang terletak antara Toli-toli dan Dampleas, di barat laut Sulawesi. Dalam pelayarannya menuju tempat tersebut, Paiva singgah berlabuh di Siang (antara Barru dengan Maros saat ini). Ketika berlayar pulang, dia singgah lagi di Siang dan terpaksa tinggal sementara waktu karena jatuh sakit serta menjadi tamu raja selama beberapa bulan. Pada 1544, Paiva kembali datang ke Suppa’ (masuk wilayah Pinrang tapi lebih dekat ke kota Pare-pare) dan Siang. Setelah melalui perdebatan teologis, penguasa Suppa’ dan Siang akhirnya minta dibaptis (dikristenkan). Saat Paiva kembali ke Malaka, dia membawa serta empat pemuda yang akan dibawa ke Goa (India) untuk dididik pada sebuah sekolah Jesuit. Juga ikut serta utusan dari penguasa Siang dan Suppa untuk menemui Gubernur Malaka, agar ke daerah mereka dikirim pendeta. Saat peristiwa di atas terjadi, Siang mempunyai daerah kekuasaan sampai ke Mandar dan Teluk Kaili.

6

Nampaknya, masa depan hubungan Portugis atau proses kristenisasi di wilayah ini akan berjalan mulus, sampai ketika seorang perwira Portugis membawa lari putri penguasa Suppa’. Untuk menghindari kemarahan orang setempat, armada Portugis terpaksa meninggalkan Suppa’. Sampai pada tahun 1559, tak ada orang Portugis yang berani datang ke Suppa’. Di atas adalah salah satu faktor proses kegagalan kristenisasi di Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Faktor lain adalah adanya persaingan mendapat pengaruh bangsawan setempat antara orang Portugis dengan pedagang Arab (penyebar Islam), kekurangsigapan penguasa Malaka (ketika masih dikuasai Portugis) mengirimkan pendeta yang diminta penguasa pribumi, faktor politik (Kerajaan Goa berhasil menundukkan sekutu Portugis di Sulawesi, dalam hal ini Siang, Suppa, Alitta, Sawitto, dan Bacukiki’), pandangan terhadap kepercayaan pribdumi, dan penerapan strategi dalam menyebarkan agama. Selama paruh kedua abad ke-16, persaingan Kristen dan Islam di Sulawesi Selatan (termasuk Sulawesi Barat) tampak masih belum memperlihatkan pemenang. Penyebar Islam pertama yang dikenal adalah Abdul Makmur, seorang penyiar Islam dari Minangkabau tiba di Sulawesi Selatan untuk pertama kalinya pada 1575. Dia terhambat dalam menyebarkan Islam sebab kebudayaan masyarakat setempat banyak yang bertentangan dengan Islam, seperti makan daging babi, hati rusa mentah, dan minum tuak. Dia kemudian pindah ke Kutai, dan lebih berhasil di sana. Tapi, pada 1600, Abdul Makmur, yang lebih dikenal dengan gelar Dato’ ri Bandang, kembali ke Makassar bersama dua rekannya, Sulaiman (Dato’ ri Patimang) dan Abdul Jawad (Dato’ ri Tiro) yang juga orang Minangkabau. Ketiganya belajar agama di Aceh dan datang atas perintah Sultan Johor. Penyebaran Islam di Makassar mendapat tantangan penguasa setempat, mereka pun menuju Luwu’. Mereka menuju Luwu’ sebab mereka mengetahui budaya setempat, yang menganggap keturunan raja-raja berasal dari Luwu’ (mitos to manurung). Ketiganya berhasil mengislamkan penguasa Luwu’ pada 1605, pada gilirannya akan memudahkan mereka melakukan proses islamisasi kerajaan-kerajaan lain. Setelah itu, mereka kembali ke Makassar hingga delapan bulan kemudian berhasil mengislamkan Karaeng Matoaya dengan mengambil gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam. Sultan ini kemudian mendorong kemenakan sekaligus muridnya, raja Goa I Manga’rangi Daeng Manra’bia yang masih berusia muda untuk memeluk Islam dan kemudian berganti nama menjadi Sultan Alauddin. Pada 9 November 1607, salat jamaah pertama berlangsung di Masjid Tallo’, yang baru selesai dibangun. 7

Penguasa Goa dan Tallo’ merasa bahwa setelah masuk Islam, peluang untuk menjadi pemimpin di Sulawesi Selatan (termasuk Sulawesi Barat) semakin terbuka lebar. Kerajaan-kerajaan sekutu mereka diajak serta masuk Islam. Bila ajakan ditolak, maka kerajaan kembar tersebut akan melancarkan perang yang kemudian lebih populer disebut Musu’ Sallang (Perang Islam) oleh orang Bugis. Kemudian pada 1608, Goa-Tallo berhasil menaklukkan Bacukiki’, Suppa’, Sawitto, dan Mandar. Kemudian pada tahun 1609, Sidenreng dan Soppeng dikuasai menyusul Wajo’ satu tahun kemudian. Dengan menyerahnya Bone pada 1611, seluruh Sulawesi Selatan (kecuali Toraja) dan Sulawesi Barat secara resmi memeluk agam Islam. Pada gilirannya, aspek-aspek syariat kemudian diintegrasikan ke dalam rangkaian hukum dan norma adat. Di setiap kerajaan dan kedatuan dibangun mesjid dan ditunjuk pejabat qadi (kali), imam (imang), serta khatib (katte’), yang biasanya dari bangsawan. Agama Islam terus berkembang dan aliran sufi mulai diperkenalkan. Masuknya Islam di Mandar Sampai saat ini, pustaka atau referensi yang membahas khusus sejarah masuknya Islam di Mandar belum ada. Namun bila menghubungkan beberapa pustaka yang didalamnya sempat membahas tentang sejarah masuknya Islam di Sulawesi Selatan, misalnya buku Manusia Bugis karya Christian Pelras (Nalar, 2006), Mengenal Mandar Sekilas Lintas karya Andi Syaiful Sinrang (Rewata Tio, 1994), dan buku Ensiklopedi Sejarah dan Budaya Mandar karya Suradi Yasil (2005), penjelasan yang lebih mendalam bisa ditemukan. Misalnya asumsi yang dikemukakan oleh Andi Syaiful Sinrang. I Salarang Tomatindo di Agamana Maradia Pamboang, ayah dari Tomatindo di Puasana Maradia Mamuju, pada tahun 1608 menjalin hubungan persahabatan dengan Aji Makota Sultan Kutai VI (1545-1610), yang dibuktikan dengan adanya syair: “tenna diandi ada’na // nama’ anna’ jambatang // anna silosa // Kute anna Pamboang” (Andaikata ada jalan // akan kubuat jembatan // agar tersambung // Kutai dengan Pamboang. Dan yang paling terkenal, syair lagu “Tengga-tenggang Lopi”, yang didalamnya mensyiratkan orang Mandar tidak mau makan babi yang dihidangkan bangsawan di Kuta. Kesimpulannya, Islam telah masuk di Mandar sebelum tahun 1608. Sebagai wilayah yang mendapat pengaruh atau kekuasaan kerajaan di selatan (awalnya Kerajaan Siang untuk kemudian Kerajaan Goa), agama Islam masuk ke daerah Mandar berlangsung dalam abad ke-16. Penyebar Islam di Mandar yang

8

diketahui antara lain Syekh Abdul Mannan Tosalamaq Disalabose, Sayid Al Adiy, Abdurrahim Kamaluddin, Kapuang Jawa dan Sayid Zakariah. Belum diketahui hubungan mereka di atas dengan tiga penyebar Islam dari Minangkabau yang mengislamkan Kerajaan Luwu’ dan Kerajaan Goa, apakah sebagai kolega, sebagai guru-murid, ataukah kedatangan ulama-ulama di Mandar atas perintah kerajaankerajaan Islam besar, misalnya Johor, Goa, atau Ternate. Pionir penyebar Islam di Mandar Salah satu penyebar Islam di atas, Sayid Al Adiy, menjadikan Lambanang sebagai pusat penyebaran Islam di Mandar. Yang mana, saat ini masih bisa kita lihat situs mesjid tertua di Mandar, Mesjid Lambanang. Desa Lambanang terletak di Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar. Beberapu puluh meter di atas permukaan laut, tepatnya di balik bukit “Buttu Lambanang”, yaitu perbukitan di utara Pambusuang. Arah masuk jalannya terdapat di Desa Galung Tulu ke arah kanan bila datang dari Polewali (dari kota Polewali kira-kira 40km). Tak jauh dari mesjid tersebut terdapat makam Sayid Al Adiy, yang bergelar Annangguru Ga’de. Dia keturunan Malik Ibrahim dari Jawa. Dalam Lontara Balanipa, Abdurrahim Kamaluddin atau Tosalamaq Dibinuang pertama kali mendarat di Galetto, Tammangalle (situs pelabuhan kuno di Mandar yang hanya berjarak beberapa kilometer dari Lambanang). Bangsawan pertama yang diislam oleh Abdurrahim Kamaluddin adalah Kanne Cunang Maraqdia Pallis, kemudian Kakanna I Pattang Daetta Tommuane, Raja Balanipa ke-4. Daetta Tommuane adalah putra Todijalloq Maraqdia Balanipa yang ke-3, ibunya dari Napo Balanipa. Kawin dengan sepupunya Daetta Towaine, putri Tomepayung Maraqdia Balanipa yang ke-2. Naik tahta 1615. Pada masanya mulai diadakan atau dibentuk lembaga Maraqdianna Saraq ‘Raja di Bidang Syara/Agama’, disebut Kali ‘Kadi’. Ucapannya yang sangat terkenal dalam lontar Mandar dan banyak dihafal oleh orang Balanipa: Naiyya maraqdia, tammatindoi di bongi, tarrarei di allo, na mandandang mata dimamatanna daung ayu, diamalimbonganna rura, diamadinginna litaq, diajarianna banne tau, diatepuanna agama (Adapun seorang raja, tidak dibenarkan tidur lelap di waktu malam, berdiam diri dan berpangku tangan di waktu siang hari. Ia wajib selalu memperhatikan akan kesuburan tanah dan tanam-tanaman, berlimpah ruahnya hasil tambak dan perikanan, damai dan amannya negeri/kerajaan, berkembangbiaknya manusia/penduduk dan mantap teguhnya agama).

9

Beliau merupakan perintis berdirinya semacam pesantren yang disebut muking ‘mukim’ yang pertama, tempat mendidik empat puluh orang kader pemimpin agama di Kerajaan Balanipa. Tempat muking itu di Tangnga-Tangnga (sekarang dalam wilayah Desa Tangnga-Tangnga, Kec. Tinambung, Kab. Polman). Di Tangnga-Tangnga juga didirikan mesjid pertama di Kerajaan Balanipa menjadi Mesjid Kerajaan Balanipa. Penyebaran Islam dan cerita gaib Waktu ke waktu, penyebaran Islam di Mandar berkembang pesat dan cepat. Fenomena ini cukup mengherankan sebab tidak butuh waktu lama untuk menjadikan Islam sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya Mandar. Awalnya, penganjur Islam hanya menitikberatkan perhatian dalam hal pemberlakuan syariat, menekankan tata cara peribadatan dan perayaan ritual Islam yang benar, seperti penyunatan, perkawinan, dan penguburan. Dalam hal larangan mengkonsumsi daging babi dan berzina sangat dilarang, tetapi larangan lain seperti minum tuak dan opium, meminjamkan uang riba, berjudi, dan mempersembahkan sajian ke tempat ekramat dan memuja benda pusaka agaknya tidak terlalu ditegakkan. Salah satu strategi penyebaran Islam di Mandar adalah memperlihatkan dan atau menceritakan hal-hal gaib bagi orang-orang yang meragukan kemampuan penyebar Islam. Itulah sebabnya, hampir semua penyebar Islam di awal-awal penyebaran (hingga tahun 60-an) adalah orang-orang berbasis tarekat. Misalnya kisah Syekh Al Ma’ruf, salah satu murid To Salamaq di Binuang, yang diragukan pendapatnya tentang arah kiblat di mesjid yang dia bangun. Dia lalu melubangi dinding pengimaman mesjid sebelah barat. Para pemrotes disilakan datang ke dinding pengimaman dan mengintip melalui lubang dinding. Semuanya melihat Kabah di Mekkah. Rakyat di Binuang dan sekitarnya makin bertambah hormat kepadanya. Sejak itu masyarakat memberikan gelar Saiyyeq Losa ‘Sayid Tembus’. Maksudnya, Orang yang Terhormat yang pandangannya tembus, dapat melihat hal-hal dan benda-benda yang jauh. Lain lagi kisah Syekh Syarif Ali, penganjur agama Islam yang datang dari Mekah. Konon meninggalkan Mekah bersama saudaranya, Syekh Syarif Husain melalui laut, dengan dengan mengendarai selembar tikar sembahyangnya. Kemudinya tongkat besi panjang dua meter. Ada tujuh tongkat yang berganti-ganti dijadikan kemudi. Perjalanan ditempuh tujuh hari tujuh malam. Saat tiba di Mandar, dia memilih

10

Lakkaqding Somba (Kec. Sendana, Kab. Majene), membangun sebuah mesjid di sana dan kawin dengan Manaq. Mempunyai keturunan tiga orang anak: Syekh Haedar tinggal di Lakkading Somba, Syekh Muhammad tinggal di Luaor Pamboang, dan Syekh Ahmad yang tinggal di Salaparang. Ulama paling terkenal di Mandar saat sekarang adalah Tosalamq Imam Lapeo (biasa disingkat “Imam Lapeo” saja). Nama aslinya K. H. Muhammad Tahir. Dia seorang ulama sufi. Diperkirakan lahir tahun 1838 di Pambusuang (Kec. Balanipa, Kab. Polman). Di masa kanak-kanak bernama Junaihim Namli. Wafat usia 114 tahun, tanggal 17 Juni 1952 di Lapeo (sekarang wilayah Kec. Campalagian, Kab. Polman). Dimakamkan di halaman Mesjid Nur Al-Taubah di Lapeo yang dibangunnya. (Di daerah Mandar lebih dikenal dengan sebutan Masigi Lapeo ‘Mesjid Lapeo’ yang terkenal dengan menaranya yang tinggi). Makamnya, sampai saat sekarang ini banyak dikunjungi/diziarahi oleh masyarakat yang datang dari berbagai daerah. Ada satu kisah kekeramatan Imam Lapeo yang dipercaya kebenarannya. Suatu saat, Imam Lapeo sementara memberikan pengajian, tiba-tiba pengajian dihentikan beberapa saat. Ia keluar ke teras, menatap ke angkasa raya seraya tangannya dilambailambaikan. Setelah itu masuk kembali akan melanjuntukan memberikan pelajaran kepada murid-muridnya. Sebelum pengajian dilanjuntukan kembali, salah seorang muridnya bertanya tentang apa yang barusan To Salamaq Imam Lapeo kerjakan. Dijawab, dia menolong sebuah perahu yang hampir tenggelam di tengah laut karena serangan badai dan amukan ombak besar. Beberapa hari kemudian, seorang tamu dari Bugis datang ke rumah To Salamaq Imam Lapeo mengucapkan terima kasih. Menurut pengakuannya, perahunya hampir tenggelam beberapa hari yang lalu di sekitar pulau-pulau Pangkajene. Yang menolongnya adalah K.H. Muhammad Tahir To Salamaq Imam Lapeo yang tiba-tiba dilihatnya datang berdiri di bagian kepala perahunya. Seketika itu juga ombak menjadi tenang, dan badai pun reda. Terakhir, ulama penyebar Islam yang diyakini ke-karamah-annya adalah K. H. Muhammad Saleh. Dikenal sebagai salah seorang pionir ulama yang membawa, mengajarkan, dan mengembangkan Ttarekat Qadiriyah di Mandar. Beliau lahir pada tahun 1913 di Pambusuang. Usia 15 tahun menuju tanah suci untuk menenuaikan ibadah haji dan menuntut ilmu tarekat. Sewaktu bekerja di Mamuju, tepatnya di saat membaca khutbah di salah satu mesjid di Tappalang, K. H. Muhammad Saleh dikirimi ilmu hitam. Namun berkat kekaramahannya, ilmu sihir yang berwujud cahaya bola api tidak mengenai dirinya. Belakangan, penyihir yang melakukannya

11

meminta maaf. Masih di Tappalang, juga pernah K. H. Muhammad Saleh hendak diracun dengan ilmu hitam. Nasi yang dihidangkan kepadanya berubah wujud menjadi ulat dan ular. Tapi itu tak mampan untuk mencelakai dirinya. Ditilik dari sejarah pengaruh agama-agama samawi yang masuk ke Sulawesi Barat, tampaknya agama Kristen lebih dulu daripada agama Islam. Agama Kristen dibawa oleh orang-orang Portugis (belakangan Belanda, Jerman dan beberapa negara Eropa), sedangkan agama Islam oleh orang Arab, Melayu, dan Jawa. Oleh banyak faktor, khususnya pemahaman terhadap budaya setempat, pengaruh Kristen tidak begitu mendalam (sebagaimana yang terjadi di Sulawesi Utara). Strategi Islamisasi oleh penyebar Islam menjadikan kaum bangsawan sebagai kelompok yang harus pertama kali diislamkan yang pada gilirannya memudahkan mengajak rakyatnya memeluk Islam. Strategi lain adalah ajaran Islam tidak secara frontal diterapkan, khususnya dalam beberapa praktek ritual. Peninggalan animisme yang masih bisa ditolerir disesuaikan dengan prkatek Islam. Ini menjadikan kaum pribumi bisa menerima dengan baik. Belum lagi penggunaan ilmu gaib untuk membuktikan kekuatan seorang penyebar Islam. Nuh, Nuhiyah, dan Pendakwah di Pambusuang Salah satu lembaga pendidikan tertua di Mandar adalah Pesantren Nuhiyah. Pesantren ini terletak di Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar. Desa Pambusuang sendiri memiliki tradisi sebagai pusat dakwah Islam. Beberapa ulama dan cendekiawan besar Mandar berasal dari Pambusuang. Sebutlah Imam Lapeo, Annangguru Shaleh, belakangan, Baharuddin Lopa. Yang paling mengesankan, sepertinya desa atau kampung di Mandar yang paling banyak melahirkan professor adalah Pambusuang, yakni Prof. Basri Hasanuddin, Prof. Mochtar Husain, Prof. Ahmad Sewang, dan beberapa cendekiawan lain. Ulama dan cendekiawan di atas termasuk belakangan. Masyarakat Mandar belum tahu banyak tentang tokoh atau ulama yang melahirkan keulamaan Imam Lapeo dan yang lainnya. Masyarakat belum tahu banyak, mengapa sampai bisa Pambusuang melahirkan lebih banyak ulama dan cendekiawan. Itu tak lepas dari peran lembaga pendidikan Nuhiyah. Dalam rangka haul salah seorang tokoh utama dakwah Islam di Pambusuang, yang dilaksanakan pada Ahad, 8 Mei 2011, artikel “Mengenal Pesantren Nuhiyah� karya H. Mochtar Husain (belum professor waktu itu) yang dimuat Pedoman Rakyat

12

pada 1995 saya sadur dan menambahi beberapa informasi terbaru serta pendapat lain yang tidak sependapat dengan tulisan Prof. Mochtar Husain. Nuhiyah Nuhiyah berasal dari kata “Nuh”, yaitu nama pendakwah Islam di Pambusuang. Nama lengkapnya Haji Muhammad Nuh yang kemudian diberi gelar Annagguru Kayyang Puayi Toa. Kira-kira artinya “Sang guru besar, haji tua”. Dia kadhi (perangkat kerajaan yang mengurusi agama atau hukum Islam) pertama di Pambusuang, tepatnya tahun 1858. Sedang menurut S. Jafar Thaha, nama asli Puayi Toa adalah Abdullah. Demikian juga tentang kadhi, tidak sependapat. Menurutnya, Pambusuang tak mengenal istilah kadhi. H. Muhammad Nuh putra dari Abdul Mannan (meski ada kemiripan nama, nama ini tidak identik dengan Tosalamaq di Salabose). H. Muhammad Nuh juga dinasabkan sebagai keturunan Syekh Al Adiy (1755) atau Tosalamaq Annangguru Memang, tapi pendapat ini agak lemah. Syekh Al Adiy digelari Annangguru Ga’de. Bukan karena bermukim di Ga’de (nama tempat di muara Sungai Mandar) tapi itu berasal dari gelarnya di Jawa, seorang guru “gedhe”, yang artinya hampir sama dengan “kayyang” dalam bahasa Mandar. Ada pendapat mengatakan makamnya terletak di Lambanang, tapi itu belum terbukti secara ilmiah. Penduduk setempat hanya mengatakan bahwa makam itu makan “tosalamaq”. Desa Lambanang terletak di Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar. Beberapa puluh meter di atas permukaan laut, tepatnya di balik bukit “Buttu Lambanang”, yaitu perbukitan di utara Pambusuang. Arah masuk jalannya terdapat di Desa Galung Tulu ke arah kanan bila datang dari Polewali (dari kota Polewali kira-kira 40 km). Menurut salah seorang ulama dari Mekah, Syekh Abu Syahin (berdasar surat yang datang dari Mekkah bertarikh 1 Muharram 1402 H), Annangguru Ga’de ini silsilahnya berasal dari salah satu Wali Songo, yaitu Maulana Malik Ibrahim. Tapi informasi ini masih lemah, belum ada catatan ilmiah yang saya temukan menuliskan hal itu, kecuali tulisan/artikel Prof. Muchtar Husain lebih satu dekade lalu. Dalam dakwahnya, Annangguru Kayyang mendirikan pengajian “kittaq” (kitab) di Pambusuang. Dalam dakwahnya dia dibantu putra-putrinya, yakni H. Lolo, H. Abdul Latief, H. Bukhari, H. Abdul Salah, H. Abdul Mu’thy, H. M. Ali, H. Abdul Fattah, Sitti Afa, Sitti Aminah, dan Sitti Imsah.

13

Yang dituliskan di atas adalah putra-putri Annangguru Kayyang dari salah satu isterinya. Dalam kehidupannya, Annangguru Kayyang menikah beberapa kali dan menghasilkan beberapa keturunan. Catatan tentang putra-putri Annangguru Kayyang di atas, seperti yang dituliskan Prof. Mochtar Husain di harian Pedoman Rakyat, berbeda pendapat dengan beberapa informan, khususnya H. Lolo. “Lolo” adalah nama alias dari H. Nuh. Dengan kata lain, oleh Prof. Mochtar Husain menganggap H. Nuh (H. Lolo) adalah H. Nuh (putra dari dirinya sendiri). Pendapat lain mengatakan, sebagaimana saya tuliskan sebelumnya, bahwa nama Puayi Toa adalah Abdullah, bukan H. Nuh. Jadi, yang betul adalah Annangguru Kayyang adalah H. Nuh (atau H. Muhammad Nuh) atau H. Lolo. Adapun bapaknya bernama Abdullah dengan gelar Annangguru Toa (atau Puayi Toa). Untuk memastikan akan hal ini, saya akan mengkonfirmasi lagi ke beberapa pihak terkait. Lahirnya pesantren Awalnya belum dinamakan pesantren, masih disebut “pengajiang kittaq”. Bentuk “pengajian kittaq” masih bisa ditemukan berlangsung di Pambusuang, baik di beberapa rumah annangguru maupun malam-malam tertentu di Mesjid At Taqwa Pambusuang. Bisa dikatakan, tradisi keilmuwan mengkaji isi buku yang berasal dari tradisi ratusan tahun hanya berlangsung di Pambusuang. Ya, terlepas dari hanya mengkaji buku-buku agama yang aksaranya aksara arab gundul (makanya biasa disebut juga “kittaq gondol” atau “kittaq kuning” sebab kertasnya kebanyakan kuning), kajian buku yang telah menjadi tradisi hanya ada di Pambusuang. Ketika pengajian kitab dipimpin oleh salah seorang putranya, yaitu K. H. Abdul Fattah bersama keponakannya K. H. Syahabuddin (putra H. Bukhari) pada tahun 1934, berlangsung perang melawan Belanda. Keduanya, bersama Daenna Ma’ata Kepala Desa Pambusuang yang juga murid K. H. Abdul Fattah melakukan perlawan terhadap kesewenang-wenangan Belanda, saat berlangsung pembuatan jalan poros di Polewali Mamasa yang tidak memberikan gaji kepada para pekerjanya. Bila Daenna Ma’ata mendatangi langsung kantor “controlleur” Belanda di Polewali, K. H. Abdul Fattah bersama murid-muridnya melakukan penghadangan atas patroli Belanda di Pambusuang. Dampaknya, K. H. Abdul Fattah dan K. H. Sahabuddin dijebloskan ke penjara dan pengajian kitab dilarang. Kepemimpinan pengajian kitab di masa keduanya ditahan Belanda diambil

14

alih oleh K. H. Puang Sayyeq Hasan bin Sahil, salah seorang cucu Annangguru Kaeyyang. Agar pengajian terlepas dari identik melawan Belanda, pengajian diberi nama Madrasah Arabiah Islamiah (MAI), yang tetap menerapkan sistem halaqah di serambi mesjid. Adapun murid-murid pemula, setingkat ibtidaiyah, pengajarannya berlangsung di rumah imam, meniru sistem yang berlaku di Arab Saudi. Sistem MAI berhenti di zaman penjajahan Jepang di awal tahun 1940-an. Sewaktu kemerdekaan diproklamirkan, salah seorang cucu Annangguru Kaeyyang datang dari Pulau Jawa. Namanya H. Ahmad Alwi. Dia menjadi imam untuk kemudian mengaktifkan kembali MAI. Nama yang berkesan ke-arab-araban dihilangkan, menjadi Madrasah Diniyah Islamiah. Kembali pendidikan ini terhambat perkembangannya di zaman DI/TII. Perubahan kembali terjadi di pada tahun 1968. Salah seorang cucu Annangguru Kaeyyang yang bermukim di Makassar, yakni H. Mochtar Husain, BA., menjadikan MDI sebagai sebuah yayasan dan memiliki badan hukum, yaitu Yayasan Pesantren Nuhiyah dengan akta No. 52 1968. Pada tahun 1981, atas dukungan Prof. DR. Umar Shihab, Yayasan Pesantren Nuhiyah mendapat bantuan dari Arab Saudi guna pembangunan gedung sekolah. Gedung dibangun di tanah wakaf keluarga H. Lopa (ayah Prof. DR. Baharuddin Lopa). Pada awal pembentukan yayasan, Dewan Pengawasa/Pembina Yayasan Pesantren Nuhiyah adalah H. Mochtar Husain BA (Ketua), KH. S. Alwi al-Ahdal, KH. S. Hasan bin Sahil, Drs. Baharuddin Lopa, Drs. Abdul Muis Badulu, Ir. Haruna Raseng, Mayor S. Mengga, H. P. Zainuddin, dan H. Ahmad Alwy. Adapun pengurus hariannya ialah H. Muhammad Abdul Mu’thy, H. S. Taha Al Mahdaly, Abdul Rahman Tahir, Mursyid Suyuti, Syaukaddin Gani, H. Tanda Syaid, Abdul Hamid Tahir, H. Abdul Bar Alwy, H. Zubaer Jauhari, Ismail Abdul Hafid, dan Yasin Abdul Kadir. Ternyata Banyak Kampung Mandar di Indonesia Kampung orang Mandar yang paling terkenal adalah Ujung Lero di Kabupaten Pinrang, tak jauh dari Kota Pare-pare. Wajar saja, letaknya hanya beberapa jam berlayar dari Teluk Mandar. Tiap hari pun ada angkutan mobil yang menjalani rute Lero – Mandar sehingga sepertinya tak ada jarak. Ternyata ada “saudara” Ujung Lero yang letaknya ratusan mil dari Mandar, di seberang lautan? Malah lebih tua dari Ujung Lero dan titik-titik perkampungan orang Mandar lainnya di pesisir barat Pulau Sulawesi (misalnya di Toli-toli). 15

Tulisan ini adalah selayan pandang Kampung-Kampung Mandar yang terletak di Pulau Jawa, Pulau Bali, dan beberapa pulau kecil di Nusantara. Saya awali dengan menyadur tulisan Andi Syaiful Sinrang dalam bukunya “Mengenal Mandar Sekilas Lintas”, tentang “Dinamika/Karakter Orang Mandar”. Setelah itu deskripsi singkat kampong-kampung Mandar yang pernah saya datangi langsung. Orang Mandar suka berlayar. Ini dibuktikan dengan adanya kampung Mandaran di Gresik dan Banyuwangi (Jawa Timur), di Lero (Pinrang), dan di Pulau Labakkang (Pangkep). Kemudian di pulau Kalukalukuang, Marasende (Marasebe), Bangkobangkoang, Sailus, Sapuka, Satangnger, Karayaan, Marabatuan, Tanjung Seloka, Tanjung Palayaran, dan Pulau Laut. Penduduk di daerah itu mayoritas Mandar bahkan aparat pemerintahannya dominan orang Mandar. Ada raja Sendana yang bergelar anumerta “Tomatindo di Balitung” (yang wafat di Belitung), yang oleh Prof. Zainal Abidin Farid menyebutkannya sebagai “Si Jago dari Selat Malaka”. Tomatindo di Balitung-lah yang menjadi inspirasi terciptanya syair “Topole di Balitung” yang secara kebetulan syairnya cocok untuk menyambut kedatangan I Calo Ammana Wewang dari pengasingannya di Belitung. Maka terciptalah lagu “Topole di Balitung” yang terkenal saat ini. Juga ada raja Balanipa, I Mappatunru, bergelar “Toniallung di Kaeli” (orang yang wafat di Kaeli, Sulawesi Tengah), dan ada orang Mandar yang pernah menjadi raja Ternate di tahun 1652, bernama Mandar Syah. Yang menarik, orang Mandar di pesisir selatan Gorontalo atau Teluk Tomini. Mereka mendirikan perkampungan di sana. Menurut Lontara’ Bilang Raja Gowa Tallo, “Tanggal 12 Februari 1638, orang-orang Mandar menyerahkan Gorontalo kepada Raja Alauddin”. Adapun kata “Tomini” berasal dari kata “to mene” (orang Mandar di pengucapan orang Kaili). Jadi artinya, teluk orang Mandar. Juga, di perbatasan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara ada kampong bernama “Moutong” yang awalnya bernama “Mottong”, berarti tinggal menetap dalam bahasa Mandar. Dari kawasan inilah orang Mandar menyebar baik ke Gorontalo maupun ke Kepulauan Banggai Luwuk. Orang Mandar yang meninggalkan Moutung menuju Kepulauan Banggai dipimpin oleh Raja Banggae (nama kecamatan tempat ibukota Kabupaten Majene berada saat ini) bernama I Maulana Mandar, keturunan salah seorang prajurit dari Kerajaan Majapahit yang datang ke Mandar pada 1525. Namnya I Wungen bergelar Topolepole (yang datang). I Maulana Mandar bersaudara dengan Daetta

16

Melanto, Raja Banggae yang merupakan utusan Kerajaan Banggae pada konferensi Tammajarra di Balanipa pada tahun 1580, tapi lain ibu. Pada masa perang kemerdekaan, saat banyak pejuang menghindar dari kejaran Belanda, Kepulauan Luwuk Banggai salah satu tujuan utama. Sebab ada banyak kerabat mereka di sana. Orang kawin lari pun menjadikannya sebagai tempat bersembunyi. Adapun orang Mandar yang banyak berada di Banggai adalah orang Tande. Berikut deskripsi singkat kampong Mandar yang pernah saya datangi. Pulau Masalembu, Jawa Timur Kampung Mandar di seberang lautan yang pertama kali saya kunjungi adalah Kampung Mandar di Pulau Masalambu, pulau yang terkenal gara-gara tenggelamnya KM Tampomas beberapa kilometer dari pulau ini. Saya ke sana pada Juli 2001 lewat pelabuhan Gresik, Jawa Timur dengan menggunakan kapal barang yang juga memuat penumpang. Waktu tempuhnya sekitar 12 jam. Meski pulau kecil, Pulau Masalembu lumayan ramai. Ada dua suku/etnis utama di pulau ini: Madura (mayoritas) dan Mandar. Juga ada beberapa suku lain, termasuk Bugis dan Makassar. Sekedar catatan, pulau ini masuk wilayah salah satu kabupaten di Pulau Madura (masuk Provinsi Jawa Timur). Pelabuhan terletak di “wilayah” orang-orang Madura. Di pelabuhan ada banyak perahu dagang orang Madura yang bentuknya mirip ba’go Mandar. Untuk ke Kampung Mandar, saat itu saya menggunakan truk barang. Memang ada angkutan reguler, tapi tidak ada setiap saat. Mungkin saat ini ojek sudah ada. Kampung Mandar terletak di kawasan pantai, di sela-sela perkebunan pohon kelapa. Hampir semua berumah panggung. Malah ada rumah tua yang asli Mandar, ada ambing-nya. Menurut tuan rumah, rumah moyangnnya itu pernah disinggahi Ammana Wewang saat menuju (balik?) ke/dari daerah pengasingan di Sumatera (makanya ada lagu “To Pole di Balitung”, “yang datang dari Belitung”). Banyak orang Mandar di sini yang bekerja sebagai TKI di Malaysia, sama seperti orang Mandar di Mandar. Meski ada yang bekerja sebagai nelayan, kegiatannya berbeda dengan di Mandar. Nelayan Mandar di Pulau Masalembu bekerja sebagai nelayan ikan-ikan karang dan penangkap penyu (yang “diselundupkan” ke Bali). Yang lucu di pulau ini, rumah-rumah megah bergaya Eropa milik orang Madura ada di mana-mana. Anehnya, rumah itu kosong. Menurut orang tua yang saya tinggali rumahnya, mereka adalah para TKI. Membangun rumah megah “hanya” untuk menaikkan status sosialnya saja. 17

Jejak-jejak fisik kebudayaan bahari Mandar sudah tidak ditemukan lagi, khususnya perahu sandeq. Moyang orang Mandar di sini berasal dari Majene. Ada salah satu dusun yang bernama “Dusun Luwaor”. Bisa dipastikan, penduduknya bermoyangkan orangorang Luwaor di Majene. Juga ada orang Balanipa. Apa penyebab sehingga ada orang bermigrasi ke sini? Ada beberapa faktor, salah satunya adalah adanya kerusuhan di bumi Mandar pada zaman kemerdekaan dan pemberontakan (DI/TII). Situbondo, Jawa Timur Akhir Mei 2004, rasa penasaran saya terbayarkan, ketika saya mendatangi Kampung Mandaran di Kabupaten Situbondo. Beberapa bulan sebelumnya, saya membaca buku kegiatan perikanan di Jawa Timur yang ditulis dosen Universitas Jember. Isi bukunya adalah hasil penelitiannya di Kampung Mandaran, di daerah tapal kuda Jawa Timur. Menurut sejarahnya, Kampung Mandaran dibuka oleh orang-orang Mandar dari Pulau Sulawesi. Berbeda dengan Kampung Mandar di Pulau Masalembu, orang Mandar berbahasa Mandar atau kelompok orang-orang Mandar sudah tak ada lagi di Kampung Mandaran. Yang ada hanyalah keturunan mereka yang tak bisa lagi berbahasa Mandar dan kuburan beberapa orang Mandar. Mereka pun sudah bercampur baur dengan orang Madura setempat sehingga susah untuk membedakan mana keturunan Mandar mana bukan. Lokasi Kampung Mandar juga terletak di pesisir, beberapa kilometer dari jalan poros Surabaya – Banyuwangi atau sekitar 180 km dari Surabaya ke arah timur. Pantai di Kampung Mandar dipenuhi oleh petak-petak bambu tempat bibit-bibit rumput laut terapung. Orang Madura mayoritas di daerah ini, ini terlihat dari bahasa dan model perahu yang digunakan. Walau hanya bertemu dengan generasi kesekian orang Mandar, saya sangat senang sebab saya bisa mendatangi Kampung Mandar “kuno” di Pulau Jawa. Saya sebut kuno untuk membedakan Kampung Mandar yang dibuka oleh orang Mandar yang mengungsi pada tahun 50-an, karena kerusuhan di Mandar. Dengan kata lain, orang Mandar yang bermukim di Jawa Timur ini datang jauh sebelum tahun 40/50-an. Diduga orang Mandar yang datang ke Jawa adalah para prajurit perang pada era kerajaan Gowa – Tallo.

18

Kepulauan Kangean, Jawa Timur Kampung Mandar yang cukup mengesankan adalah Kampung Mandar di Kepulauan Kangean. Kampung Mandar tersebar di banyak pulau, mulai dari pulau tempat ibukota Kecamatan Kangean terdapat, yaitu Pulau Sapeken, sampai pulau paling timur di gugusan Kepulauan Kangean. Saya datang ke Kepulauan Kangean kurang satu bulan sebelum gempa besar menggoyang Yogyakarta atau pada bulan Mei 2006. Di Pulau Sapeken, orang Mandar sudah bercampur baur dengan orang Bajau dan Madura. Sehingga di tempat ini ada beberapa bahasa pengantar: Bajau (utama), Madura, dan Mandar. Saya pernah kecele. Saat melakukan pelayaran dari Sumenep ke Pulau Sapeken dengan menggunakan perahu lambo, nakhodanya saya pikir orang Mandar asli. Amat fasih dan logat yang tak cacat. Ternyata orang tua itu berdarah Madura – Bajau, dia bisa berbahasa Mandar karena tinggal bersama orang-orang Mandar. Karena pak tua itu tinggal di kawasan kosmopolit (beragama unsur budaya dan berpindah-pindah), dia bisa beberapa bahasa daerah: Madura, Bajau, dan Mandar. Semua sama fasihnya! Yang menakjubkan, di sini lebih banyak ditemukan rumah panggung Mandar yang asli dari pada di Mandar sendiri! Begitu tuanya, beberapa rumah dipasangi penyangga agar tak roboh. Sisi Pulau Sepekan yang disitu banyak ditemukan rumah panggung dinamakan “Kampung Mandar”. Pulau lain di Kepulauan Kangean yang banyak orang Mandarnya adalah Pulau Pagarungan Kecil, Pulau Pagarungan Besar, Pulau Sepanjang, dan Pulau Sakala. Yang paling banyak dihuni oleh orang Mandar sehingga di situ ada komunitas tersendiri adalah tiga pulau yang terakhir. Pulau-pulau lain (kalau tidak salah ingat, ada lebih 15 pulau berpenghuni di gugusan Kepulauan Kangean) tidak ada semacam komunitas/kumpulan rumah tangga-rumah tangga orang Mandar. Rasa kagum dan bahagia tak habis-habis. Di Pulau Pagarungan Besar banyak berlabuh perahu pakur! Jenis perahu bercadik Mandar yang di Mandar sendiri bisa dihitung dengan jari jumlahnya! Yang membedakan dengan perahu pakur di Mandar, pakur di sini menggunakan layar lete. Kalau dulu di Mandar kebanyakan menggunakan layar tanjaq. Menurut orang Mandar yang saya tempati rumahnya, pakur paling banyak terdapat di Pulau Sakala, pulau paling timur Kepulauan Kangean. Yang juga membanggakan, ternyata sebagian besar tukang perahu yang terlibat dalam pembuatan Perahu Borobudur “Samuderaraksa” (yang berlayar dari Jakarta ke Afrika Barat) adalah orang Mandar! Ya, mereka berasal dari Pulau

19

Pagarungan Besar dan Pagarungan Kecil. Adapun perahu “Samuderaraksa” dibuat di Pagarungan Kecil dan kayunya didatangkan dari Pulau Sepanjang yang mana orang Mandar juga banyak di sini. Saya di Kepuluan Kangean kurang dari dua minggu. Sebagian besar hari saya habiskan di laut, ketika ikut nelayan Mandar yang menangkap ikan hiu. Untuk menuju Kepulauan Kangean, ada dua jalur reguler: lewat Pulau Madura (naik fery di Pelabuhan Sumenep) atau lewat Banyuwangi, Jawa Timur. Juga ada jalur alternatif: berangkat dari Paotere Makassar (kalau kebetulan ada perahu yang akan ke Kep. Kangean) atau lewat Singaraja, utara Bali. Sama seperti Kampung Mandar-Kampung Mandar yang lain, moyang orang Mandar di Kepulauan Kangean adalah orang-orang Majene. Meski mereka tak menyebut “moyang saya dari Majene”, untuk mengetahui mereka dari Majene cukup mudah: dengar saja logat bahasanya! Juga bisa dipastikan Kampung Mandar di Kepulauan Kangean adalah kampung yang kuno. Ini dibuktikan dari adanya seorang wanita Mandar yang umurnya sudah lebih 70 tahun yang lahir di salah satu pulau di Kep. Kangean! Meski sudah kuno, orang-orang Mandar di sini amat fasih berbahasa Mandar! Selama berada di Pulau Pagarungan Besar, saya menyaksikan kegiatan-kegiatan budaya yang juga ada di Mandar, misalnya panjepa dan upacara “manguriq” (memijat perut perempuan yang baru pertama kali hamil). Oh iya, di beberapa rumah juga saya temukan terpampang foto(kopi) wajah K. H. Muhammad Thahir atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Lapeo. Mereka sangat menghormati dan kagum atas ke-karamah-an Imam Lapeo. Sumberkima, Bali Akhir Januari 2007 lalu, saya datang ke Kampung Mandar di utara Bali, yang terletak di Sumberkima. Saya sudah lama mendengar ada Kampung Mandar di situ dari mulut nelayan-nelayan Bali yang menangkap ikan hias di SIngaraja. Juga informasi dari orang-orang Mandar di Kepulaun Kangean. Kampung Mandar di Sumberkima cukup menarik sebab terletak di “tengah-tengah” perkampung orang Hindu, Suku Bali. Sekali lagi menarik, sebab orang-orang Mandar bisa mempertahankan agama (Islam) dan kebudayaan mereka. Ya, dalam kehidupan seharihari mereka menggunakan bahasa ibu, yaitu bahasa Mandar. Jadi jangan heran kita laksana berada di Mandar ketika berada di Kampung Mandar di Sumberkima.

20

Populasi orang Mandar di sini kurang lebih 300 orang. Sebagian besar pekerjaan para lelaki adalah nelayan penangkap ikan hias. Ternyata sebagai pelaut pemberani masih terwariskan: nelayan Mandar di sini dikenal sebagai nelayan ikan hias yang beroperasi di daerah penangkapan yang cukup jauh, mulai dari sekitar Pulau Derawan di Kalimantan Timur, sampai ke Kepulau Banggai; sampai Maluku; sampai Sorong; sampai Biak! Meski ditemukan rumah panggung, namun konstruksinya tergolong kecil. Ya, tingginya hanya sekitar satu meteran. Perahu juga demikian. Meski mereka nelayan dan membuat sendiri perahunya, modelnya jauh berbeda dengan perahu Mandar di Mandar. Desainnya sudah bercampur dengan desain perahu Bali dan Madura. Artinya, sandeq atau pakur tak ada di sini. Tapi itu tidak berarti orang Mandar di sini tidak mengenai sandeq, pakur atau rodatiga. Perempuan Mandar juga membantu kaum lelaki, misalnya membudidayakan rumput laut. Saat saya tanyakan apakah ada yang menenun, jawab seorang pe­ rempuan Mandar paruh baya “Itu pekerjaan orang-orang tua kita dulu�. Akses juga cukup mudah bila ingin ke Kampung Mandar di Sumberkima. Dari Pelabuhan Gilimanuk hanya sekitar 20 km. Bis setiap saat ada, khususnya bis jurusan Gilimanuk – Singaraja. Orang Mandar di sini mempunyai jaringan kerja dan jaringan kekerabatan dengan orang Mandar di Kepulauan Kangean dan pulau-pulau lain di perbatasan Laut Jawa dan Laut Flores. Kerabat orang Mandar yang saya tinggali di Kepulauan Kangean dengan mudah saya temukan di Sumberkima, tanda terjalinnya eratnya hubungan sosial sesama Mandar di perantauan. Berdasar informasi dari banyak pihak, khususnya orang Mandar yang saya datangi perkampungannya di tanah seberang, masih banyak Kampung Mandar lain, yang tersebar di puluhan pulau di Selat Makassar, Laut Jawa, dan Laut Flores. Salah satunya yang bisa dipastikan ada orang Mandar-nya, adalah Loloan, Negara, Bali. Sekitar 50 km dari Denpasar ke arah barat. Saya bisa memastikan karena saya pernah bertemu generasi Mandar kesekian dari Loloan, ketika ada acara kesenian di Yogya. Dia sangat terharu ketika kepadanya diberikan saruang sutra Mandar oleh seorang teman dari Teater Flamboyan. Sejarah Fotografi di Tinambung Tak banyak fotografer di Mandar, dari dulu sampai sekarang. Jumlahnya bisa

21

dihitung jari. Tapi dokumentasi sejarah yang ditinggalkan sebaliknya. Banyak, ratusan. Tersebar di beberapa orang, sebagian besar lagi disimpan ahli warisnya. Banyak juga rusak sebab bencana alam. Banjir. Dari orang-orang tua, saya mendapat info, yang terkenal sebagai tukang foto dan suka foto-foto di tahun 50-an sampai 80-an adalah Toke Ballang (sebab tubuhnya banyak belang, ada juga yang mengatakan tangannya belang-belang sebab cairan kimia untuk mencetak foto), H. Djawahir Daud (biasa dipanggil Kagi’, penjual obat), H. Murad, Abdul Muin (lebih dikenal dengan nama Moi’in), dan Muluk Yasil (Papa’na Lukman). Yang terakhir ini paman saya, kakak ibu. Kecuali H. Murad (dan mungkin juga Mo’in yang telah lama merantau), lainnya almarhum. Bila ada foto-foto tua tentang Tinambung, baik kegiatan masyarakat, pernikahan, potret diri, suasana lingkungan, bisa dipastikan foto itu diambil salah satu orang di atas. Misalnya 50-an foto K. H. Muhammad Shaleh yang saya koleksi, sebagian besar diambil fotografer yang saya sebut di atas, khususnya H. Murad yang juga murid K. H. Muhammad Shaleh. Dan foto sosok Husni Djamaluddin muda, yang habis main bola, menurut keluarga Sarbin Sjam yang mengoleksi foto tersebut, dikutip oleh paman saya. Meski belum pernah melihat tumpukan koleksi, menurut beberapa orang, ada banyak dokumentasi tentang Tinambung yang disimpan anak-cucu H. Djawahir Daud. Kalau koleksi paman saya, kebanyakan foto-foto keluarga dan potret diri. Sebab paman saya punya studio untuk terima pesanan pas foto. Menurut Dj Abi Qiffari, fotografer muda berbakat, cucu H. Djawahir Daud, dia sudah amankan sebagian koleksi foto-foto kakeknya. Rencana akan didigitalkan dan suatu saat nanti dipamerkan. Ya, memang ada beberapa foto pentingnya, setidaknya yang duplikatnya dipasang di warung penjual nasi kuning dekat jembatan tua, Tinambung. Bisa dikatakan H. Djawahir adalah pribumi yang menjadi pionir fotografer di Mandar pada umumnya, Tinambung khususnya. Menurut H. Murad, dulu H. Djawahir memiliki kamera berupa kotak kayu. Adapun koleksi H. Murad hampir semuanya hilang atau rusak gara-gara banjir. Menyedihkan! Sejauh penilaian saya, karya-karya H. Murad sangat penting dan beragam, sebab beliau bukan fotografer studio tok, tapi memang pemburu kegiatan. Apa saja beliau dokumentasikan. Selain pernah memiliki puluhan SLR kuno, H. Murad juga ahli mencetak foto. Tukang foto angkatan 80-an kebanyakan murid atau mendapat pengaruh H. Murad, semisal Yambas dan Ismail (Suma’ila). Sekedar informasi, akhir tahun 80-an dan pertengahan 2000-an, banjir

22

bandang besar melanda Tinambung dan sekitarnya. Begitu tingginya, beberapa rumah panggung kena juga. Apalagi yang menjadikan kolom rumahnya sebagai tempat tinggal juga, air tergenang di dalam. Sebagai misal rumah paman saya. Rumahnya rumah panggung, di atas sebagai tempat tinggal bawah menjadi bengkel sekaligus studionya. Waktu saya masih kecil, sewaktu banjir belum datang, di saat masih banyak alat elektronik tempo dulu, kala orang masih memerlukan pas foto hitam putih, saya sering menyambangi tempat kerja paman saya. Banyak tumpukan radio, ada meja kerja yang dipenuhi alat-alat elektronik, kamera foto, dan kamar gelap (untuk mencetak foto). Nama usahanya “Marconi: Toko, Servis Radio, dan Foto�, nama ilmuwan Eropa penemu radio. Bila akan memotret wajah untuk pas foto, di dinding kolom rumah (bagian depan rumah) dipasangi kain hijau. Berdiri kaku. Beberapa meter di depan kamera di atas tripod. Masih saya ingat ada kamera yang wadah lensanya terbuat dari lipatan kertas. Untuk membidik, pemotret melihat ke arah bawah. Belakangan, saat saya menggeluti fotografi sebagai hoby, kamera jenis itu amat mahal sekarang ini. Kuno. Menjelang tahun 90-an, era fotografer tua digantikan tukang foto komersil, yakni Yambas (tukang foto koperasi guru Tinambung) dan Suma’ila (keduanya murid H. Murad), serta H. Safar. Mereka masih eksis sampai saat ini (Safar telah almarhum, digantikan anak-anaknya). Bedanya Safar, dia dulunya bekerja di studio foto milik Toke Ballang, jadi pengetahuan dan peralatan fotografi bukan dari H. Murad. Waktu itu, yang punya kamera belum banyak. Apalagi yang SLR. Selain untuk pas foto, studio mereka juga sering didatangi untuk mengabadikan diri bersama teman-teman sekolah. Layar latar ada gambar kota, taman, pohon kering. Senang sekali kalau melihat hasilnya, walau harus tunggu satu-dua hari. Mereka juga bisa dipanggil bila ada hajatan, misalnya perpisahan, acara di sekolah, dan pernikahan. Baik Yambas, Suma’ila dan Safar memiliki kamar gelap untuk cuci foto hitam putih. Tapi kalau untuk cetak foto warna, biasanya 3R, mereka cetak di Wonomulyo. Ada khusus kurirnya yang datang antar-jemput negatif film. Bila mau hasil selesai sore hari, paling lambat harus bawa negatif ke studi mereka sebelum jam sembilan pagi. Jika bawa setelah itu, baru bisa lihat keesokannya, sebab kurir akan datang jemput sekitar jam sembilan dan antar hasil sekitar jam empat sore. Tahun 90-an dan awal millenium ketiga, kamera poket makin jamak di masyarakat umum. Dampaknya ada dua bagi tukang foto studio, order untuk mengabadikan acara keluarga berkurang tapi permintaan rol film dan cuci cetak

23

warna semakin banyak. Setelah rol habis, gulungannya tinggal dibawa ke studio. Bila mau cetak beberapa saja, tunggu sampai negatifnya selesai (bila bawa pagi, baru bisa lihat sore). Lalu pilih-pilih nomornya kemudian dipesan lagi untuk cetak. Tapi kalau mau cetak semua, tidak perlu ada acara pilih-pilih. Pertengahan tahun 2000an mungkin telah ada masyarakat Tinambung yang telah memiliki kamera digital, setidaknya saya. Saya pertama membeli kamera digital poket Canon PowerShot A70 pada tahun 2003. Sebelumnya saya menggunakan kamera pinjaman sepupu (anak paman saya yang fotografer) buatan Rusia, namanya TTL Zenit pada tahun 2000 dan beberapa kamera poket manual. Pionir dan Periodesasi Menarik, mendengar cerita (tentang) fotografer tua di Tinambung. Masingmasing berbeda latar belakang sehingga mereka menjadi fotografer. Saya awali dengan angkatan pertama, yakni Toke Ballang. Sayangnya, informasi tentang dia sangat sedikit. Jadi tidak bisa bercerita banyak tentangnya. Ada beberapa orang Cina di Tinambung. Mereka datang ke Tinambung pada pertengahan tahun 30-an (1935), misalnya Baba Guru, Abon, Baba Pakolong (sebab dia usaha jual beli kulit sapi, kerbau, kambing), King Kiu, Ance Pendek, Nona Beau (mungkin bisnis kemiri), Yapi’, Baba Beang (mungkin karena ada lukanya), Ahao, Pung Giok (saat masuk Islam, namanya menjadi Abdul Hakim. Oleh masyarakat dikenal dengan panggilan “Annangguru Hakim�. Dia murid K. H. Muhammad Shaleh), dan Toke Ballang. Nah, yang terakhir ini bekerja sebagai tukang foto. Disebut Toke Ballang sebab tubuhnya, khususnya bagian lengan, belang-belang. Sepertinya, Toke Ballang-lah orang yang pertama kali bisnis fotografi di Tinambung. Bisnisnya pindah ke Majene. Adapun usahanya di Tinambung dilanjutkan oleh salah seorang pekernya, Safar (baca bagian tentang H. Safar). Saya belum mengetahui sampai kapan Toke Ballang usaha tukang foto di Majene. Apakah pindah ke tempat lain atau meninggal di Majene. Yang jelas, informasinya ada kemungkinan untuk diperoleh, bila melakukan penggalian mendalam di kalangan orang-orang Cina di Majene atau mencari-cari dokumen tentang orang Cina di Arsip Nasional Republik Indonesia. Kemungkinan ada-tidaknya tukang foto atau studio di Tinambung sebelum tahun 50-an sangat kecil. Alasannya, penggunaan kamera masih sangat jarang, sebab tergolong teknologi baru dan mahal. Jika pun ada kamera waktu itu, mungkin

24

dimiliki oleh penjajah Belanda atau Jepang. Jadi, saya tak memasukkan fotografer sebelum tahun 50-an sebab tak ada informasi tentang itu. Angkatan Pertama Beberapa orang tua di Tinambung meyakini, bahwa tukang foto yang paling pertama adalah Djawahir Daud. Lebih dikenal dengan panggilang Kagi’ (berasal dari penyederhanaan kata “Djawahir”). Oleh orang Cina, misal sahabatnya A Liong (orang tua Cucu’), dia dipanggil Bahir. Kagi’ lahir pada 12 Februari 1933, meninggal pada 12 September 2007 (umur 73 tahun). Dia seangkatan dengan Husni Djamaluddin dan Baharuddin Lopa di SR. Hanya saja, Kagi’ tidak lulus SR sebab masalah ekonomi. Kagi’ kecil, sewaktu sekolah, setiap pagi menjual pisang goreng. Nanti pisang goreng habis baru masuk sekolah. Itu sebabnya sering terlambat masuk sekolah. Sejak kecil naluri bisnisnya sudah tumbuh, yang tentunya diwariskan dari orangtuanya. Bapaknya, Puanna Huda (namanya Daud) seorang pandai emas. Ibunya bernama Hj. Mu’minah. Kagi anak ke-8 dari 13 bersaudara, tiga laki-laki. Bapaknya orang Saleppa, Majene. Nah, di Saleppa’ ini banyak bermukim orang Cina. Sewaktu Kagi’ masih muda, dia pernah belajar (bekerja?) tentang fotografi pada orang Cina di Majene, yang bertetangga dengan kerabatnya. Kebetulan, orang Cina tersebut berkerabat dengan Toke Ballang di Tinambung. Ada yang mengatakan, Kagi’ belajar foto dari orang tua Toke Ballang. Sebenarnya Kagi’ bukan fotografer berbasis bisnis. Fotografi adalah hobi-nya. Adapun pekerjaan sebenarnya adalah penjual parfum, kemudian barang campuran, untuk selanjutnya obat-obatan (sampai saat ini, yang dilanjutkan anak-anaknya). Dunia fotografi (baca: dokumentasi foto) betul-betul dicintainya. Menurut anaknya, Bahar, kemana-mana bapaknya selalu berkalung kamera. Apa saja difotonya. Hasil jepretannya tidak dibisniskan. Dia simpan saja. Kalaupun ada yang mau beli silahkan, tak beli juga tak apa-apa. Tidak mengherankan bila Kagi memiliki dokumentasi foto sejarah Tinambung yang sangat lengkap! Beberapa kejadian penting sempat dia dokumentasikan: kebakaran di Calo-calo pada tahun 50-an, pembangunan jembatan tua (yang sudah roboh saat ini), dan beberapa kejadian penting. Uniknya, dia mendokumentasikan sampai dia sakit, hingga meninggalnya sekitar tiga tahun lalu. Masa tuanya diisi dengan merapikan foto-fotonya, montase beberapa foto

25

(tentunya dengan cara kuno: gunting lalu tempel), dan membagikan dokumentasi foto tua ke beberapa orang. Kagi orang yang sangat mencintai dokumentasi. Buktinya, ketika terjadi ke­ bakaran di Tinambung pada tahun 80-an, yang menghanguskan kamera tua dan sebagian kecil dokumentasinya (yang dia simpan di salah satu rumahnya), benda yang dia selamatkan adalah negatif foto dan beberapa foto! Benda-benda kuno yang berharga mahal diabaikannya. Dulu, Kagi’ menggunakan kamera tua yang “tukang potonya membukungkus diri, membungkuk” saat menggunakan. Kemudian, dia membeli beberapa kamera. Dua yang masih tersimpan saat ini adalah Yashica Electro 35 dan Electro 35 GX. Selain pedagang dan tukang foto, Kagi juga adalah politikus dan tokoh pen­ didikan di Tinambung. Dulu dia aktif di PSII untuk kemudian PPP. Pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Polmas pada tahun 80-an. Dalam bidang pendidikan, jasanya juga sangat besar. Misalnya pendirian TK Nusaputera Tinambung, tempat saya sekolah dulu. Ibu saya, yang juga pernah menjadi teman organisasi Kagi di PSII, pernah menjadi kepala sekolah TK tersebut dalam waktu lama, sampai pensiunnya beberapa tahun lalu. Saya pernah mendapat gemblengan dari Kagi’. Sewaktu masih SD, setiap menjelang Ramadhan, beberapa anak kecil dibinanya untuk membacakan shawalat setiap tarawih. Kami dibagi ke dalam beberapa kelompok, menggunakan nama sahabat Nabi Muhammad SAW. Setiap malam, di luar Ramadhan, kami diberi pelajaran adzan. Biasa dilombakan untuk kemudian mendapat hadiah. Tapi setelah tamat SD, saya tak lagi aktif. Kebetulan waktu itu, ada permasalahan antara Kagi’ dengan pihak Mesjid Raya Al Hurriyyah Tinambung. Yang membuat Kagi, dalam waktu lama, tidak shalat di mesjid yang dia terlibat dalam pembangunannya. Yang membuat saya menyesal, saya terlambat peduli secara mendalam terhadap dunia fotografi. Pada gilirannya, saya tidak menggali banyak ilmu dari seorang Kagi’. Padahal dulu, tiap hari bertemu dengan beliau. Masih sangat segar dalam ingatan, beliau naik motor bebek tua ke mesjid sebab tak kuat lagi berjalan (padahal antara mesjid dengan rumahnya sekitar 60 meter saja). Ya, saya terlambat sadar bahwa Kagi’ adalah pahlawan dunia fotografi dan dokumentasi di Mandar, khususnya Tinambung. Dokumennya sangat banyak dan penting-penting. Karena kecintaan dan ketelatenannya, sebagian besar masih terjaga sampai saat ini. Untunglah Kagi’ mempunyai cucu yang mencintai fotografi,

26

yakni Abi Qiffary (Accang panggilannya). Dia pernah menyampaikan kepada saya akan men-digital-kan karya-karya kakeknya. Angkatan pertama yang lain adalah H. Murad, Muluk Yasil, dan Abdul Mu’in. Yang terakhir saya belum memiliki informasi memadai untuk bisa dibuatkan profilnya. Yang jelas, Abdul Mu’ini fotografer flamboyan. Gara-gara pekerjaannya sebagai tukang foto, dia disukai banyak gadis. Kabarnya, dia sampai menikah empat kali. H. Murad mulai menggeluti secara serius fotografi sewaktu Soekarno datang ke Para-pare. Kebetulan saat itu tak ada yang bisa menfungsikan kamera milik Departemen Penerangan (merk Leica). Murad muda yang antusias memberanikan diri sebagai fotografer (dadakan). Sejak itu, dia ikut beberapa kegiatan angkatan darat, misalnya pendokumentasian penyerahan diri anggota DI/TII di Budongbudong dan penyerahan diri salah satu legenda pasukan Tande, Sunusi. Dekat dengan tentara, khususnya di Polewali, Murad membuka usaha fotografi di Polewali. Dia melayani pas foto untuk keperluan “pas”. Kemudian mendirikan Studio Takdir di Tinambung. Kala itu, fotografer di Tinambung bisa dihitung jari: Djawahir Daud (fotografer sebagai hobi, hanya memotret, tidak cuci cetak sendiri), Toke Ballang (punya studio), dan Muluk Yasil (punya studio). Fotografer yang punya studio dan kamar gelap panen saat pembuatan KTP (dulu disebut “pas”). Ada aturan ketat, semua orang harus ada “pas-nya”, bila tidak akan ditangkap. Kartu “pas” sangat penting bila seseorang akan keluar daerah. Menurut H. Murad, dia masih sempat menggunakan kamera kuno yang “saat memotret harus membungkus diri dengan kain hitam, lampu satu kali pakai, dan negatif film yang digunting-gunting”. Kekhasan H. Murad dibanding fotografer lain adalah, dia sering ke Jawa, pedagang, dan mencintai dunia fotografi-dokumentasi. Jadi bukan tukang foto sebagai pekerjaan saja. Ini untuk membedakan H. Murad dengan Toke Ballang atau dengan H. Djawahir Daud. Karena menjadikan fotografi sebagai hobby, setiap H. Murad ke Ujung Pandang atau Jakarta, bila ada kamera baru, dia selalu beli. Jadi tak mengherankan, sepertinya dia satu-satunya orang Mandar yang mengoleksi puluhan kamera. Sayangnya, kamera koleksinya 99% rusak karena banjir. Walau demikian, dasar mencintai, bangkai kameranya yang penuh lumpur, karatan, dan terbongkar-bongkar tetap beliau simpan sampai saat ini. Adapun kamera-kamera yang pernah H. Murad gunakan dan sebagian masih

27

tersimpang antara lain adalah kamera langsung jadi (Polaroid) Colorbust 250, Canone (Canon) QLI7, Fujica MPF 105 X, Yashica, Canone QL19, Olympia, Ricoh F-3M, Modern Flash 350S, Olympus Trip 35, Practica, Vivitar, Mamiya (salah satu produsen kamera medium format yang sangat mahal saat ini), dan Rolleiflex. H. Murad adalah salah seorang tonggak atau tokoh perkembangan fotografi di Tinambung. Fotografer tua saat ini sebagian besar adalah murid-muridnya, misalya H. Syamsul (pemilik toko Aneka Listrik), Abdul Mu’in (entah di mana dia sekarang, dia saudara Papa Burda, tukang kayu di Calo-calo. Ternyata Papa Burda juga seorang fotografer!). Adapun Abdul Mu’in memiliki murid bernama Kambas, fotografer di KGRR. Muluk Yasil Muluk Yasil adalah paman saya, lahir 1938, sekitar enam tahun setelah George Eastman (pendiri perusahaan Kodak) bunuh diri, aktivitas fotografinya sedikit banyak saya ketahui. Menurut anaknya, Agussalim, bapaknya termasuk pionir fotografer pribumi Mandar di Tinambung. Umur Muluk Yasil sedikit lebih tua dibanding H. Murad tapi masih lebih muda dibanding H. Djawahir. Waktu masih remaja, dia sudah menampakkan minat terhadap dunia fotografi. Dunia yang makin didalaminya sewaktu menuntut ilmu di Padang Panjang, Sumatera Barat untuk belajar agama. Di sana hanya satu tahun, tidak sempat menyelesaikan sekolahnya karena kondisi politik yang tidak aman (ada pemberontakan). Sempat lama di Makassar, sekitar sepuluh tahun, bekerja sebagai tukang servis di toko elektronik milik orang Cina, di Jl. Somba Opu. Di masa yang sulit tersebut, Muluk Yasil muda bekerja menghidupi keluarga. Adapun nenek saya dulu kerjanya pedagang sarung sutra, kakek pandai emas. Tinggalnya di Jl. Cendrawasih, dekat Stadion Mattoangin. Akhir tahun 50-an, dia menikah dengan sepupu satu kalinya yang tinggal di Ujung Lero, Pinrang. Kabarnya, rombongan mempelai laki-laki menuju berangkat dari Mandar dengan menggunakan perahu sandeq. Pada tahun 1969, Muluk Yasil tak lagi bekerja di Makassar, kembali ke Tinambung. Di Tinambung membuka servis dan usaha tukang foto bernama “Marconi�. Awalnya, dia menyewa tempat persis depan pasar ikan Tinambung, bertetangga dengan H. Murad (Studio Takdir). Tahun 70-an hingga awal 80-an adalah zaman keemasan usaha paman saya. Sebab, dia satu-satunya tukang elektronik di Tinambung. Tiap hari pasar orang antri di bengkelnya, menunggu perbaikan televisi atau radionya. Demikian juga fotografi.

28

Tiap tahun ratusan orang butuh foto ijazah, tiap tahun orang berlebaran yang butuh kenang-kenangan. Demikian juga acara sunatan, maulid, dan perayaan hari nasional. Menariknya, pada era yang sama, tepatnya pertengahan tahun 70-an, di sisi dunia lain, di Amerika, teknologi “pembunuh� kamera analog mulai ditemukan, di saat ilmuwan Kodak berhasil mencetak gambar 5x7 inci (1,4 juta MP) dari kamera digital, dari sensor megapixel pertama di dunia. Setelah kontrak selesai, paman saya pindah ke rumah orangtuanya (nenek saya) di kaki bukit Sallombo, dekat mesjid Raya Al Hurriyah Tinambung. Kolom rumah dijadikan sebagai studio dan bengkel. Akhir 80-an, usahanya mengalami penurunan. Ada beberapa faktor, diantaranya, mulai masuknya kamera foto warna produksi Kodak (terpaut hampir empat dekade sejak munculnya di pasaran negatif Kodakcolor pada tahun 1949). Paman saya tidak lanjut ke fotografi warna sebab harga kameranya amat mahal waktu itu. Faktor lainnya, karena penyakit tekanan darah dan semakin banyaknya jasa servis alat elektronik di Tinambung dan sekitarnya. Paman saya mulai aktif mendampingi peladang berpindah di pedalaman Mandar. Salah satu usahanya menggalakkan budidaya ulat sutra. Dia bersama saudaranya, Suradi Yasil, seorang PNS yang juga aktif sebagai aktivis lingkungan hidup. Semenjak itu, usaha servis alat elektronik dan foto bisa dikatakan tidak dilakoni lagi. Putra-putranya tidak ada yang melanjutkan usaha bisnisnya. Meski demikian sebagian besar putranya berkecimpung dalam dunia yang pernah dilakukan bapaknya. Misalnya putra sulung, Lukman, pernah bekerja sebagai bagian teknisi di Hotel Marannu Makassar. Sekarang telah ada di Mandar, membuka usaha servis elektronik di Tammangalle. Agussalim, juga bisa memperbaiki alat-alat elektronik, tapi pekerjaannya saat ini sebagai pedagang. Sesekali melayani lukisan potret wajah. Mujiburrahman (yang meminjamkan kamera Zenit kepada saya), juga mempunyai kemampuan dalam bilang elektronik. Sekarang memiliki bengkel dinamo, di tempat yang dulunya Studio Marconi berada. Kalau tak salah ingat, sewaktu saya SD (MTsN), sepupu saya ini punya proyektor kecil. Saat-saat tertentu, putar film (yang itu-itu saja) di kolom rumah. Dan putra bungsunya, Yasser Arafat, sekarang aktif sebagai tukang shooting video klip dan fotografer pernikahan. Tapi kamera foto dan video milik orang lain, misalnya milik H. Ridwan (Studio Anwar di Pambusuang). Masih ada satu putranya, Kaddafi (kakak Yasser), yang bekerja sebagai guru bahasa Inggris di SMA 2 Majene.

29

Saya mengenal paman saya orang yang sangat kreatif, cerdas membuat lelucon, aktif menulis cerpen di zaman majalah Teluk Mandar, dan membuat alat-alat elektornik dari benda bekas. Misalnya saklar lampu dari tempat minyak rambut. Koleksi kameranya, cukup banyak. Saya tidak ingat persis jenisnya sebab saya masih kecil kala koleksi tersebut masih tersimpan rapi di studionya. Yang jelas, yang saya ingat persis, ada kamera yang pemotretnya menunduk, melihat ke bawah. Juga ada kamera yang “lehernya” terbuat dari lipatan kertas. Belakangan saya baru tahu, jenis kamera demikian disebut kamera lipat (folding camera). Memang tampak kecil, tapi saat dibuka, akan menjulur “leher” tempat lensa. Hebatnya lagi, kamera demikian termasuk format medium (selain format besar). Saat ini, semua koleksi tak berjejak. Hilang gara-gara banjir. Sayang sekali. Terus terang, saya mewarisi minat terhadap fotografi dari paman saya ini. Sedang tulis menulis dari adiknya, Suradi Yasil. H. Yangbas Nama aslinya Yangbas tapi lebih dikenal dengan nama Yambas dan Kambas. Namanya berubah gara-gara kepala sekolahnya di SMP Tinambung salah menuliskan nama (tamat SMP pada tahun 1958). Pertama kali belajar fotografi di studi milik Abdul Mu’in. Lokasinya sekarang dekat rumah Papa Eko di Calo-calo. Kebetulan kerabat jauh. Yangbas sendiri adalah putra Karung Bannang (Tandung). Kemudian Yangbas bekerja di studio milik Badaruddin (saudara Abdul Muin) di Mapillli. Sejak itu, dia belajar mencetak foto di kamar gelap. Dari Mapilli, Yangbas kembali di Tinambung, bekerja sebagai kerani di SD Lekopa’dis. Singkat cerita, oleh penilik P dan K Tinambung kala itu, Yali Haseng, mengetahui bakat Yangbas dalam foto dan cetak foto. Dia pun memintanya untuk menangani pas foto di Dinas P dan K, baik foto staf maupun foto ijazah SD. Kemudian pada tahun 1982, Yangbas diangkat sebagai PNS. Seiring dengan itu, dia bekerja sebagai tukang foto dan tukang fotokopi di KGRR (Koperasi Guru Rambate Rata) Tinambung. Yangbas pernah menjual kambing agar bisa membeli kamera di Toko Alif Tinambung. Permintaan foto menfoto amat banyak, baik lebaran maupun pernikahan. Yangbas sepertinya tak menikmati lebaran seperti orang kebanyakan. Dengan sepedanya, dia keliling dari satu kampung ke kampung lain. Kadang-kadang bisa sampai Tande untuk memotret keluarga yang merayakan lebaran. Saat tanya “Kenapa mereka ingin sekali dipotret saat lebaran?”, jawab Yangbas “Kan mereka pakai baju baru, jadi mau ada kenang-kenangan”.

30

Kamera-kamera yang digunakan Yangbas juga beragam, Yashica, Olympus, Canon, Sanghai, dan Nikon. Kebanyakan adalah milik KGRR TInambung. Sebagian besar telah rusak; salah satunya masih baik, yakni Nikon. Yangbas juga terampil di dalam kamar gelap. Dia mengetahui beberapa teknik mengolah foto, yang dipelajarinya sendiri. Misalnya men-dodge atau mem-burn (keduanya pertama kali saya kenal sebagai salah satu tools di program Photoshop) foto, serta mewarnai foto hitam putih. Mengakali filter Yangbas juga jago. Beberapa filter rusak dimanfaatkan kembali. Ada yang ditutupi plastik di bagian tengahnya dan digabung dengan tutup lensa yang dibuat lubang. Setelah kutip 1-2 kali pada negatif yang sama, hasilnya cukup lumayan: foto yang disekeliling obyeknya (biasanya foto pengantin) tampak blur. Untuk efek blur, sebelum atau sesudahnya memotret kipas. Teknik begini sepertinya tak diajarkan di sekolah fotografi. Sejak tahun 2007, Yangbas tak lagi bekerja di kamar gelap. Semua negatif foto dikirimnya ke Wonomulyo, khususnya foto warna (yang memang tak pernah dicetaknya sendiri. Beda dengan H. Safar yang pernah memiliki mesin cetak warna pada pertengahan tahun 90-an). Sejak itu, era digital, walau terhitung terlambat, mulai dimasukinya. Yangbas, lewat KGRR, mulai membeli kamera saku digital. Sampai saat ini, Yangbas telah memiliki beberapa kamera digital saku, yaitu Nikon Coolpix (8 MB), Sony Cybershot (6MB), dan Canon PowerShot (12 MB). Kamera-kamera tersebut digunakan untuk pas foto dan dokumentasi acara-acara masyarakat yang meminta jasa KGRR. Sesekali Yangbas menggunakan SLR Nikon yang masih analog untuk acara pernikahan. Meski menggunakan kamera digital, sepertinya Yangbas tak pernah (tak bisa?) menggunakan komputer, baik untuk mentransfer foto maupun mengeditnya. Jadi untuk mencetaknya, kartu memori dikirim langsung ke Wonomulyo, lewat kurir. Editingnya, misalnya pas foto, juga di Wonomulyo. Dia memotret saja. Adapun tempat konsultasi Yangbas prihal penggunaan dan alat-alat kamera digital dan penyuntingan adalah kakak saya, Ridha (Studio Fariz). Kebetulan, alatalat foto digital yang dipakai kakak saya semuanya dari saya, misalnya kamera digital Canon PowerShot A540 dan komputer editing. Ismail Lain lagi dengan Suma’ila (Ismail), putra Lembang-lembang. Pertama kali mengenal kamera di Kalimantan Timur. Dia putus sekolah di PGA untuk kemudian merantau ke Samarinda bersama sepupunya. Setelah lima tahun di sana bekerja sebagai tukang

31

kayu, ada yang menawari kamera jenis Rolleiflex, kamera buatan Jerman. Selanjutnya, dia pun bekerja sebagai tukang foto untuk kemudian kembali ke Tinambung, Mandar. Di Tinambung, melihat pasar fotografi sangat menjanjikan, Suma’ila mengikuti jejak fotografer angkatan kedua, yaitu Safar, Yangbas, dan Syamsul. Awalnya dia mencetak foto di Studio Takdir milik H. Murad untuk kemudian mendirikan studio sendiri, yaitu Pammase Puang. Lokasinya hampir berdampingan dengan studio milik H. Safar, sekitar 20 meter dari lampu merah (panyingkul/kandang) Tinambung. Berbeda dengan Yangbas yang beradaptasi dengan era digital, Suma’ila sampai saat ini tidak menggunakan/memiliki kamera digital. Alasannya, kamera analognya masih bisa digunakan, jadi buat apa beli kamera baru. Dia bertahan dengan kamera analognya, Nikon 750 dan Nikon FM 10. Jenis kamera lain koleksinya, seperti Ricoh, Fuji, dan Yashica. Untuk menutupi kurangnya pemasukan dari kegiatan fotografi, isteri Suma’ila menjual kaset mini-DV, CD, DVD, alat tulis, dan foto-foto tokoh Mandar dan wali, misalnya K. H. Muhammad Tahir (Imam Lapeo). Keluarga H. Safar H. Safar, sepertinya satu-satunya orang Mandar yang menjadi murid Toke Ballang, orang Cina yang pertama kali usaha fotografi di Tinambung. Safar muda, putra Lawarang, bekerja di studio foto milik Toke Ballang kala itu. Di sini dia belajar fotografi dan teknik kamar gelap. Saat Toke Ballang pindah ke Majene, Safar melanjutkan usaha fotografi yang dirintis Toke Ballang di Tinambung. H. Safar beberapa tahun lalu meninggal dunia. Kegiatan fotografi dilanjutkan anak-anaknya. Dalip, Ashari, Faharuddin, dan kembarnya, Nasaruddin, Darwis, Rusman, dan Baqiah. Anak laki-laki sulung diabadikan sebagai nama studio, yakni Studio Rusman. Tapi masyarakat lebih menjawab “di Safar”, bila bertanya “Mau cetak di mana fotonya?”. Kecuali Darwis yang bekerja sebagai PNS, semua anak lelaki menekuni fotografi. Anshari dan Faharuddin serta Rusman aktif di Studio Rusman, sedang Dalip dan Nasaruddin membuka studio sendiri, masing di dekat pasar ikan Tinambung atau ujung jembatan Sungai Mandar (depan ex Studio Takdir) dan di Somba, Majene. Menurut anaknya, Faharuddin, kamera yang dulu digunakan bapaknya ada­ lah SLR Ricoh KR-5. Setelah itu Fujica MPF10S, Olympus OM2000, dan Nikon FN2. Dua yang terakhir masih baik tapi tidak digunakan lagi. Sekarang, khususnya di Studio Safar menggunakan DSLR Nikon D3000 (dibeli beberapa bulan lalu

32

dengan cara dicicil). Sebelumnya menggunakan DSLR Canon EOS 1000. Setelah menggunakannya dua tahun, DSLR Canon tersebut rusak. Sekarang masih diservis. Menurut Faharuddin, ongkosnya sekitar Rp 2 juta. Studio Rusman lebih maju dibanding Studio Pammase Puang (Suma’ila) dan studio milik KGRR Tinambung (Yangbas). Di sini ada beberapa mesin fotokopi, menjual alat tulis yang lebih lengkap, album foto, beragam bingkai, komputer untuk editing foto, dan printer. Jadi, untuk layanan cetak foto cepat, di sini bisa dilakukan. Beda di Yangbas, kalau ada yang mau cetak cepat, biasa dibawa ke rumah kakak saya, Studio Fariz. Fotografer Tinambung Dewasa Ini Setahu saya, masyarakat umum terdidik (baca: yang pernah menempuh pendidikan sampai universitas) Tinambung yang memiliki minat terhadap fotografi (bukan sebagai pekerjaan, tapi sebagai hobby) era 90-an hanya ada dua, yaitu Asmadi Alimuddin dan Syariat Tadjuddin. Parameternya, mereka punya kamera SLR dan biasa melakukan hunting (pemotretan) bukan karena pesanan (untuk membedakan dengan fotografer yang hanya memotret acara-acara pernikahan atau acara lain). Asmadi Alimuddin atau Asmadi Taro orang Tinambung yang kuliah di ISI Yogyakarta. Jurusannya teater, tapi ada minat ke fotografi. Beberapa kali hunting foto di beberapa tempat di Mandar. Adapun Syariat Tadjuddin, (dulu) seorang wartawan (sekarang PNS di Pemkab Majene). Pernah menuntut ilmu hukum di Universitas Andalas Padang dan menjadi wartawan di Kalimantan Timur dan Makassar. Jadi bisa diartikan, basis Syariat adalah dokumentasi jurnalis, beda dengan Asmadi yang tidak pernah bekerja di media, misalnya sebagai fotografer lepas (stringer). Belakangan, setelah bekerja sebagai PNS di Palu (untuk kemudian di Mamuju) dan mempunyai kesibukan lain, Asmadi sepertinya tidak melanjutkan hoby fotografinya. Beda dengan Syariat, masih berlanjut sampai sekarang. Dengan istilah lain, Syariat, yang juga mantan ketua Teater Flamboyan, lanjut ke fotografi digital, sedang Asmadi tidak. Pada tahun 1997 Syariat menggunakan SLR Yashica, tahun 2000 SLR Canon, dan DSLR Nikon D5000 Februari 2010. Pengguna DSLR lainnya di Tinambung adalah Studio Rusman (usaha almarhum H. Safar yang sekarang dikelola anak-anaknya), Wahyudi (tinggal di Tangngatangnga, sekarang menuntut ilmu fotogarfi di Yogyakarta) dan DJ Abi Qiffary (sekarang menuntut ilmu di Makassar). Ketiganya menggunakan EOS 1000D (Studio Rusman juga menggunakan Nikon D3000).

33

Yudhi membeli kameranya pada Mei 2009 dengan harga Rp 5,8 juta. Nanti pada tahun 2010 bertambah pengguna DSLR di Tinambung. Selain M. Syariat Tadjuddin yang saya tuliskan sebelumnya, juga Abu Madyan. Mereka menggunakan Nikon D5000. Menurut Abu Madyan, dia membeli kameranya pada Mei 2010 dengan harga Rp 6,3 juta. Saya mulai meninggalkan poket digital untuk kemudian menggunakan DSLR sejak 2008, Nikon D80 (Rp 11 juta). Kemudian pada September 2010 saya juga menggunakan Nikon D300s (15 juta). Sedang fotografer Tinambung yang masih menggunakan SLR analog dalam arti sepenuhnya (tak memiliki digital) antara lain adalah Sabri, Husain (putra Ga’de sekarang tinggal di Pambusuang), dan beberapa fotografer yang “ber-asosiasi” ke beberapa “orang bencong” yang menyediakan jasa penyewaan perlengkapan pesta pernikahan dan make up-nya. Sabri Sabri tinggal di Tinggas-tinggas, antara mesjid Tinggas-tinggas dan kantor PLN Tinambung. Dulunya berguru atau bekerja di Studio Pammase milik Ismail (Suma’ila). Sejak tahun 1998, telah memiliki kamera sendiri, yakni Nikon FM10. Walau Sabri dikenal sebagai fotografer pesta pernikahan, sebagaimana kebanyakan fotografer “profesional” di Tinambung, dia sedikit banyak berbeda dengan kolega-nya. Sabri memiliki sedikit rasa hobi atau kecintaan terhadap fotografi. Menggunakan istilah “sedikit” untuk membedakan tingkat kecintaan terhadap dunia fotografi yang dimiliki oleh H. Djawahir, H. Murad, dan Muluk Yasil. Artinya, karya-karya Sabri sebagian besar masih berdasar pada pesanan. Untuk mengambil gambar dalam rangka kepuasan dan sebagai dokumentasi sejarah, belum. Saat ini Sabri menggunakan dua jenis kamera, selain Nikon, juga Braun. Menurutnya, lensa Nikkor (milik Nikon) bisa dipasang ke kamera Braun. Dia mempunyai cita-cita bisa belajar fotografi secara akademis. “Kalau ada kursus fotografi di Makassar yang diselanggarakan Darwis Triadi, saya mau ikut”, ungkapnya. Menariknya, Sabri masih menyimpan foto (tapi sudah repro) saat dia bayi yang tukang fotonya Toke Ballang. Meski tidak tahu banyak tentang Toke Ballang, Sabri tahu bahwa fotografer yang dulu terkenal adalah Toke Ballang. Desa-desa di sekitar Tinambung juga ada beberapa fotografer bangkotan. Yang masih berkarya sampai saat ini adalah Karim (Desa Pambusuang) dan Kandallang (Desa Paropo). Saya sudah pernah melihat aksi Karim dan telah mewawancarainya, sedang Kandallang belum.

34

Yang menarik di Karim, selain sebagai fotografer, dia juga merangkap sebagai nelayan (dulu) dan tukang becak (sekarang, sampai saat ini). Bagi saya, ini sesuatu yang unik. Jarang ada seorang fotografer yang kerjanya rangkap sebagai tukang becak. Tanpa bermaksud merendahkan pekerjaan tukang becak, kerja fotografer identik dengan pekerjaan elit, sedang tukang becak pekerjaan kasar. Umur Karim saat ini 50 tahun, lahir di Dusun Ba’balembang, Desa Pambusuang. Hanya sekolah sampai kelas 3 SD. Tidak tamat. Alasannya, sering diganggu anakanak tentara 710 dan kerja di laut bisa dapat uang banyak. Setelah beberapa tahun melaut, Karim diajak sebagai pegawai di studio milik Tanwi, di Pasar Pambusuang. Tanwi termasuk fotografer awal di Mandar, khususnya di Pambusuang. Sebelum tinggal di Pambusuang, Tanwi tinggal di Ujung Lero, Pinrang (tak jauh dari kota Pare-pare). Kemungkinan besar, Tanwi pernah atau mendapat pengaruh dari orang Cina yang bekerja sebagai tukang foto di Pare-pare. Menurut Karim, bosnya menggunakan kamera merk Sanghai “yang membungkus saat menggunakannya”. Dia juga bisa bekerja di kamar gelap. Saat Tanwi pindah ke Kotabaru (P. Laut, Kalimantan Selatan) yang membawa serta kamera kunonya, Karim bekerja sendiri. Nama studionya “Mekar”. Dia menggunakan Nikon. Merknya sudah aus tanda kameranya sudah tua. Dulu, tahun 70-80an, Karim bekerjasama dengan studio milik H. Murad dan paman saya, Muluk Yasil. Baik untuk beli negatif, servis, maupun cuci cetak. Menurut Karim, saat ini permintaan memotret sangat kurang. “Saya ini hanya dapat sisa-sisa pesanan. Kalau yang lain sudah penuh, baru saya dapat”, menurutnya. Sebab itulah, sehingga dia merangkap sebagai tukang becak. Begitu cintanya pada kegiatan fotografi, becaknya diberi nama “Konica 1” dan “Konica 2”. Sekarang Karim tinggal sendiri. Isterinya telah meninggal dunia, tak ada anak. Rumahnya sederhana tapi menarik. Di dinding depan, yang dicat warna khas Argentina, dipasangi poster-poster peserta Piala Dunia 2010. Di atas pintu masuk, terdapat plank “Poto Studi Mekar M. Karim Pbs”. Suasana dalam rumah masih ada jejak-jejak bahwa ruangan rumahnya juga adalah studio. Ada beberapa lukisan yang biasa dijadikan latarbelakang saat ada yang dipotret dan lemari kaca, tempat yang dulunya diletakkan rol, bingkai yang dijual. Ada juga foto dirinya bersama artis-artis lokal Mandar. Karim bekerja sama dengan Husain, putra Pammarica (Ga’de) yang tinggal tak jauh dari rumah Karim. Husain umurnya masih muda, hampir seumuran dengan saya,

35

awal kepala tiga (30 tahun). Kameranya ada dua, yaitu Nikon dan Zenit 122, tapi Zenit rusak. Beda dengan Zenit analog saya (Zenit TTL), 122 terbuat dari plastik, jadi ringan. Bila ada order Husain yang bersamaan dalam satu hari, dia serahkan ke Karim sebagian. Demikian juga untuk urusan beli rol dan cetak hasil. Bila Karim butuh rol film, dia ambil dari Husain, nanti bayarnya; kalau ada yang mau dicetak, negatifnya diserahkan ke Husain. Husain yang urus dengan studio percetakan. I Am Nikon Mandar Awal tahun 2011, pengguna kamera DSLR semakin marak. Khusus di Tinambung ada pengguna baru, yaitu Hamka (Studio Mega), Fauzi Rizal (atau Ical) dan Abu Madyan. Bila Hamka telah lama terlibat dalam dunia dokumentasi, khususnya pesta pernikahan dan acara-acara lainnya, Rizal dan Madyan lebih cenderung hobby. Hamka dan Rizal menggunakan Nikon D90 sedang Madyan D5000. Sebab sama-sama menggunakan kamera Nikon, saya bersama Rizal dan Madyan iseng membentuk komunitas I Am Nikon Mandar. Setiap pekan kami samasama pergi ‘hunting’ untuk kemudian meng-evaluasi hasilnya. Jika ada panggilan untuk dokumentasi komersil, dan kebetulan ada waktu, kami akan layani. Bisnis dokumentasi bukan hal utama, sebab Rizal dan Madyan sudah punya pekerjaan, yakni sebagai guru SD. Jadi, sebatas mengisi waktu dan menyalurkan minat. Pada April 2011, saya membuat iklan I AM Nikon versi Mandar (lokal). Inspirasinya dari iklan Nikon dengan judul yang sama.

36

TOKOH

Bang Ali, si Tali Tasbih

Saya pertama kali menginjakkan kaki di Yogyakarta pada awal Juli 1997, sekitar

dua bulan setelah saya tamat SMU di kampung saya, Tinambung, Polewali Mandar (dulu Polewali Mamasa), Sulawesi Barat. Tujuannya kuliah. Delapan bulan pertama saya tinggal di rumah keluarga Bang Ali, putra Mandar yang hampir tiga dekade bermukim di Yogya. Letaknya di belakang RS Bethesda, Kotabaru, Yogyakarta. Bapak Bang Ali, namanya Alimuddin (sama nama bapakku), merekomendasikan langsung kepada anaknya (Bang Ali) agar saya dibina selama di Yogya. Saya masih ingat, ada selembar surat yang ditulis tangan Pak Alimuddin yang harus saya berikan kepada Bang Ali bila saya tiba di Yogya. Bang Ali, tokoh yang memainkan peran sentral sehingga ada jembatan langsung yang menghubungkan kegiatan berkesenian Mandar dengan Jawa, khususnya Yogyakarta. Nama lengkapnya Alisjahbana (ada yang biasa menulis Alisyahbana). Lahir 27 Desember 1951 di Salarri’. Awalnya Bang Ali kuliah di IAIN Alauddin Makassar beberapa semester. Karena pertimbangan tertentu, beliau pindah ke Yogyakarta untuk selanjutnya kuliah di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa, Jurusan Sosiatri. Ini terjadi pada tahun 70-an. Setelah tamat sekolah, Bang Ali kembali ke Mandar dan bekerja di Kabupaten Polmas di masa kepemimpinan S. Mengga. Beliau membawa serta isterinya, seorang guru Matematika. Adapun anaknya, Resita, tetap tinggal di Yogyakarta bersama neneknya. Pada tahun-tahun keberadaannya di Mandar, Bang Ali membina generasi muda Mandar, khususnya yang di Tinambung umumnya Kabupaten Polmas, dalam kegiatan berkesenian. Maka terbentuklah Teater Flamboyant. Beberapa tahun mengabdi di kampung halaman, Bang Ali dan isterinya kembali ke Yogyakarta untuk selanjutnya

37

bekerja di kepatihan atau Kantor Gubernur DIY. Meski demikian, hubungan dengan Mandar tetap berlangsung. Salah satunya Seminar Nasional mengenai HAM di Tinambung yang menghadirkan Baharuddin Lopa dan Emha Ainun Nadjib. Pada masa itu, pelaksanaan seminar nasional di kelurahan kecil di tengah zaman keemasan Orde Baru, adalah hal yang mungkin mustahil untuk dilakukan. Namun Bang Ali dan Teater Flamboyant bisa melakukan itu semua. Proses terus berlanjut beberapa tahun kemudian yang menjadikan Teater Flamboyant mungkin satu-satunya teater dari “kampung” yang sering pentas di Yogyakarta, di kota budaya. Selain kegiatan kegiatan di atas, salah satu “jejak” semangat kerja Bang Ali dalam kegiatan seni dan keluasan pergaulannya adalah menjadikan Cak Nun sebagai bagian dari sejarah proses berkesenian masyarakat Mandar. Ya, sejak Cak Nun belum terkenal seperti sekarang, Bang Ali sudah sering membawa datang Cak Nun ke Tinambung. Mereka adalah dua sahabat, sejak masih muda, sejak mereka berdua dan beberapa tokoh budaya yang sudah amat terkenal saat ini, masih menjadi “preman” di Malioboro. Jadi kita jangan heran bila Cak Nun menganggap dirinya “Orang Mandar yang lahir di Jombang” dan orang lain jangan cemburu ketika hampir tiap tahun Cak Nun ke Mandar untuk melakukan diskusi budaya, dan kegiatan seni lainnya. Cak Nun sering datang ke Mandar; Teater Flamboyant, buso-busor, calong, dan gongga’ yang mengesankan seniman saat Festival Musik Puisi di Yogyakarta; dan parrabana mandar pentas bersama WS Rendra di Yogyakarta sejatinya tidak lepas dari komitmen Bang Ali terhadap Mandar. Bang Ali meninggal dunia pada tanggal 31 Juli 2005 lalu, sekitar setengah bulan setelah Teater Flamboyant pentas di depan Walikota Yogyakarta. Menyesal sebab saya tak bisa menjenguknya ketika Bang Ali masuk rumah sakit. Saat itu saya KKN. Hari penarikan persis sama hari pemakamannya. Sehingga saya bisa melayat sesaat sebelum Bang Ali dimakamkan. Tangan melahirkan realitas yang kita banggakan saat ini. Peran ini hanya diketahui beberapa orang karena memang Bang Ali bermain di belakang layar. Di dalam bekerja, menurut Bang Ali, mengambil filosofi tali tasbih: tak terlihat namun jika tali tersebut putus, maka tasbih akan bercerai berai. *** Sabtu sore, 5 Juli 1997, saya bersama Alimuddin (sahabat saya di SMU) tiba di Bethesda No. 2 GK II, Yogyakarta. Inilah rumah yang pertama kali saya injak di Yogyakarta, rumah mertua Bang Ali. Saya hanya mengenal Bang Ali, tepatnya Alisjahbana, dari

38

namanya sejak, khususnya kerabat saya yang aktif di kegiatan budaya dan seni. Ini wajar saja, saya jauh generasi dengan Bang Ali dan Bang Ali pun bermukim di Yogya. Saya ke rumah ini berdasarkan rekomendasi Pak Alimuddin, Bapak Bang Ali. Saya membawa surat dari beliau untuk anaknya. Saya menunggu beberapa menit di teras rumah sebab Bang Ali datang. Menurut orang yang ada di rumah, Bapak sedang mengajar di UGM. Dia menjadi dosen untuk mahasiswa KKN, yaitu pembekalan sebelum terjun ke lapangan. Tidak lama kemudian, datanglah seseorang yang berbaju kemeja putih, celana coklat, rambut yang tidak terlalu pendek, dan mata yang tajam. Alimuddin yang mengantar saya langsung menyampaikan kepada saya bahwa itulah Bang Ali. Kejadian di atas terjadi lebih delapan tahun yang lalu. Sejak itu, saya ”kost” di rumah Bang Ali selama delapan bulan. Bang Ali belum mengijinkan saya kost atau berasrama sebelum kenal betul suasana Yogya. Mungkin ini amanah Bapaknya. Rabu dinihari, 31 Agustus 2005, sekitar pukul 03:37, saat saya sedang menyelesaikan laporan akhir KKN, datanglah SMS yang isinya: ”Innalillahi wainnalillahi rajiun BANG ALISYAHBANA meninggal jam 2.55 di Bethesda”, dikirim oleh nomor 0815786xxxxx. Saya berusaha untuk percaya dan tidak panik. Saya pinjam hp teman dan mengkonfirmasi ulang berita itu ke nomor yang mengirim SMS, ternyata berita itu benar. SMS dikirim oleh Sdr. Sulkifli. Lalu saya menelpon ke rumah duka, Mbak Ros (adik isteri Bang Ali) yang menerima. Ya, beritanya benar. Kemudian saya menelpon ke Mandar, tepatnya ibuku. Ibuku cukup kaget. Saya meminta untuk menyampaikan kabar itu ke orang lain. Dengan sisa pulsa terakhir, saya gunakan untuk meng-SMS beberapa orang, yaitu Zawawi Imron, Indra Trenggono, dan Mas Imam. Dua yang pertama gagal, hanya SMS ke Mas Imam yang sampai (belakangan, Kamis, 2 September 2005, Bapak Mas Imam telah berpulang ke sisi Allah). Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Hari ini adalah hari terkahir KKN, beberapa jam lagi semua peserta KKN akan ditarik dari lapangan. Saya dipercaya sebagai koordinator untuk 5 dusun (34 mahasiswa) dan laporan akhir pun belum selesai. Karena beban ini, keinginan hati untuk segera ke kota Yogya tidak bisa saya penuhi. Sesaat kemudian, SMS susul-menyusul masuk ke HP-ku, memberi kabar itu. Malah ada SMS yang dikirim sebelum Bang Ali meninggal. Ternyata sudah banyak teman-teman yang berkumpul di rumah sakit, saat Bang Ali sakit. Saya merasa ketinggalan. Bukan apa-apa, dari sekian generasi muda Mandar di Yogya, saya yang paling dekat dengan Bang Ali dan keluarganya. Dalam urusan akademik, beliau

39

orangtua wali saya. Saya sakit pun Bang Ali yang antar ke rumah sakit. Sekali lagi, saya sangat menyesal tidak bisa hadir saat Bang Ali akan meninggalkan kami. Beberapa jam kemudian, sekitar jam 11 siang, saya dan seluruh peserta KKN meninggalkan Desa Trimurti, tempat saya KKN selama dua bulan. Diharapkan semua peserta KKN kumpul di LPM (Lembaga Pengabdian Masyarakat, sebelum saya bertemu Bang Ali untuk pertama kali, beliau mengajar di lembaga ini, yaitu sebagai dosen) UGM untuk mengurus administrasi. Saya bersama teman naik motor, demikian juga yang lain. Sebelum tiba di UGM, saya minta teman untuk membelokkan motor ke arah rumah duka (belakang RS Bethesda). Di sana suasana sudah ramai. Masih dalam seragam KKN (jas almamater UGM), saya langsung masuk rumah lewat dapur untuk kemudian menuju ruang tamu tempat jenazah berada. Di tengah ruangan terdapat keranda yang ditutupi kain hijau bertuliskan tulisan Arab. Isteri Bang Ali, Mbak Ida, sedang melayani tamu yang melayat. Saya menemuinya untuk kemudian berjabat tangan. Sesaat kemudian, saya membuka kain penutup keranda. Bang Ali sudah dibungkus kain kafan. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya hanya bisa menyentuh lengannya. Saya masih berusaha untuk percaya realitas ini. Sesaat saya duduk di sisi keranda. Sekian menit kemudian, saya pamit untuk pulang. Urusan di UGM masih banyak, hal yang membuat saya dilema. Urusan di UGM baru selesai sekitar jam 2 siang. Saya menelpon Sdr. Zulkifli, katanya jenazah Bang Ali sudah ada di liang lahat. Saya diminta langsung saja ke rumah duka. Untuk kesekian kalinya saya menyesal tidak bisa hadir. *** Saya terakhir bersama Bang Ali saat acara temu seni di Kebumen, 23 – 24 Juli 2005; pertama dan terakhir, malam tanggal 24, saya tidur bersama Bang Ali di rumah salah seorang aktivis seni di Kebumen; terakhir saya melihat wajah Bang Ali pada tanggal 24 siang, saat perjalanan ke Yogya (saya turun di dekat lokasi KKN); terakhir saya berkomunikasi dengan Bang Ali lewat HP kalau tidak salah tanggal 10 Agustus; dan terakhir mengirim SMS ke Bang Ali pada tanggal 14 Agustus, saya pamit karena keesokan harinya saya akan ke Makassar/Mandar. Tanpa dukungan Bang Ali, saya bukan apa-apa. Ya, bantuan beliau sangat besar dan berarti khususnya melibatkan saya dalam arus pemikiran nasional, paling tidak di Yogya. Saya bisa kenal dengan beberapa orang besar berkat kepercayaannya kepada saya untuk terlibat dalam hal itu. Cak Nun, Zawawi Imron, Halim HD, Indra Trenggono (dua yang terakhir ini menjadi pembicara dan moderator dalam diskusi buku saya, Orang Mandar Orang Laut, di tokobuku Gramedia Yogyakarta). 40

Annangguru Saleh, Kesederhanaan Membuatnya Abadi Menjelang keberangkatan dua perahu tradisional Mandar menuju Jepang dalam rangka The Sea Great Journey, rencana ritual pelepasan mulai dibicarakan. Salah satunya adalah kehadiran Panrita (tokoh/ulama)yang bisa memimpin upacara ritual. Nelayan mengusulkan beberapa nama panrita. Ada yang saya kenal, ada tidak. Karena pelayaran merupakan kegiatan besar, idealnya, panrita yang memimpin juga haruslah tokoh besar. Saya usulkan anak almarhum K. H. Muhammad Saleh, tapi sang nelayan tidak tahu. Lalu saya bertanya, “Kenal Annangguru Saleh?� Para nelayan menjawab, “Tidak!� Dalam hati saya tertawa pahit. Ironis! Ulama besar Mandar ini malah tak dikenal oleh orang Mandar. Mungkin kejadian di atas hanya semacam kasus kecil, bukan kecenderungan umum. Sebab realitasnya, ada ribuan orang di Mandar mengenal KH. Muhammad Saleh. Mau lihat buktinya, datanglah malam ke-27 Ramadhan di Kampung Buku, Majene dan Pambusuang, Polman; datanglah pada acara haul-nya di Pambusuang yang diadakan setiap awal bulan April, ratusan orang merindukan kehadiran Annangguru Saleh. Ketidaktahuan sang nelayan dan ratusan orang yang mengharapkan karamah, merupakan hal yang kontradiktif. Ya, KH Muhammad Saleh tidak harus terkenal, tapi setidaknya beliau dikenal. Minimal namanya pernah didengar. Satu tahun terakhir ini saya mengumpulkan beragam informasi dan dokumentasi tentang Annangguru Saleh dalam rangka pembuatan film dokumenternya. Tulisan dan film diharapkan dapat mendokumentasikan sepenggal cerita, sejarah hidup, karamah, dan ajaran beliau yang saat ini lebih banyak didengar secara lisan dan terbatas di kalangan tertentu. Sudah banyak bahan yang terkumpul, baik foto, rekaman suara dan informasi tentangnya, tapi rasanya ada hal yang kurang, untuk segera memulai penyuntingan filmnya. Kyai Haji Muhammad Saleh, lazim dipanggil Annangguru Saleh adalah ulama besar di Mandar. Pengaruh ajarannya begitu membumi di daerah ini. Ia tidak meninggalkan situs-situs kemegahan, melainkan kesahajaan sebagai seorang manusia dan ulama Mandar yang patut diteladani. Annagguru Saleh dan Imam Lapeo adalah dua ulama besar Mandar yang sampai saat ini belum ada yang menyamai kharisma dan pengaruh ajarannya. Paramaternya amat gampang: ulama (Mandar) ini yang fotonya dipasang oleh banyak orang di dinding rumah mereka. Kalau bukan foto Imam Lapeo, ya foto Annangguru Saleh. Entah mengapa foto Arung Palakka biasa disandingkan dengan foto ulama-ulama

41

di atas, baik sebagai jimat di rumah maupun di dompet beberapa orang di Mandar. Uniknya, keduanya dilahirkan di Desa Pambusuang (masuk wilayah Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat). Sebuah desa pesisir yang meski sekilas terlihat biasa-biasa saja, namun tempat ini adalah desa di Mandar yang paling banyak melahirkan tokoh yang melegenda. Selain dua ulama di atas, yang lain adalah Baharuddin Lopa dan Basri Hasanuddin. Meski keduanya mempunyai peran yang sama sebagai penyebar ajaran Islam lewat jalan tarekat, penyebutannya berbeda. Lapeo disebut Imam atau sang pemimpin umat atau pemimpin shalat) sementara KH Muhammad Saleh disebutan Annangguru. Saya menduga, mungkin karena Kyai Haji Muhammad Thahir sempat mendirikan mesjid yang belakangan menjadi pusat kegiatan dakwahnya, yaitu Mesjid Lapeo. Untuk kemudian, Kyai Haji Muhammad Tahir menjadi imam di sana. Mesjid Lapeo salah satu aikon Mandar dalam bidang religi, sebab di mesjid ini terdapat menara tertua di Mandar (terlihat di sisi kanan jalan trans Sulawesi di Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian). Adapun Kyai Haji Muhammad Saleh, sepengetahuan saya, tidak pernah membangun mesjid khusus yang dijadikan sebagai pusat dakwah. Memang ada Mesjid K. H. Muhammad Saleh di Pambusuang yang letaknya persis di belakangmesjid terdapat makam beliau. Tapi mesjid ini dibangun kurang lebih tiga tahun setelah ia wafat. Demikian juga dengan situs kampung Bukk yang terkenal sebagai tempat beribadah Jamaah Qadiriyah setiap 27 Ramadhan. Tempat ini identik dengan Annangguru Saleh, tapi tidak menjadi pusat dakwah sebagaimana Mesjid Lapeo. Penambahan istilah Annangguru di depan namanya disebabkan K. H. Muhammad Saleh lebih banyak menggunakan metode pengajaran yang tidak berpusat di satu tempat melainkan dari rumah ke rumah jamaahnya di seantero Mandar,, khususnya di beberapa kampung di pesisir Teluk Mandar. Tarekat Qadiriyah Lantas, apakah perbedaan gelar di atas dipengaruhi pada perbedaan tarekat yang mereka anut dan ajarkan ke masyarakat Mandar? Menurut kajian dari beberapa referensi dan informasi serta wawancara, disebutkan Imam Lapeo menganut Tarekat Khalwatiah, sedangkan Annangguru Saleh Tarekat Qadiriyah. Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas perbedaan dua tarekat ini, tapi akan menuliskan secara singkat tentang Tarekat Qadiriyah saja Proses khalwat yang sering dilakukan Nabi Muhammad SAW, yang kemudian disebut tarekat, diajarkan kepada Sayyidina Ali ra. Dari situlah kemudian Ali mengajarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya sampai kepada Syeikh Abdul

42

Qodir Jaelani, sehingga tarekatnya dinamai Qadiriyah. Sebagaimana dalam silsilah tarekat Qadiriyah yang merujuk pada Ali dan Abdul Qadir Jaelani dan seterusnya adalah dari Nabi Muhammad SAW, dari Malaikat Jibril dan dari Allah SWT. Tarekat Qadiriyah didirikan oleh Syeikh Abdul Qodir Jaelani (wafat 561 H/1166M) yang bernama lengkap Muhy al-Din Abu Muhammad Abdul Qodir ibn Abi Shalih Zango Dost al-Jaelani. Lahir di di Jilan tahun 470 H/1077 M dan wafat di Baghdad pada 561 H/1166 M. Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Selama 25 tahun Abdul Qadir Jaelani menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di padang pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Tokoh ini memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin keturunannya sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M. Sejak itu tarekat Qadiriyah terus berkembang dan berpusat di Iraq dan Suriah yang diikuti oleh jutaan umat yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika dan Asia. Namun meski sudah berkembang sejak abad ke-13, tarekat ini baru terkenal di dunia pada abad ke 15 M. Mulai masuk ke Indonesia pada abad ke-16 untuk kemudian berkembang pesat pada abad ke-19, terutama di masa penjajahan. KH. Muhammad Saleh dikenal sebagai salah seorang pionir ulama yang membawa, mengajarkan, dan mengembangkan Tarekat Qadiriyah di Mandar. Beliau lahir pada tahun 1913 di Pambusuang. Pendidikan keagamaan di masa kecilremaja banyak didapatkan dari para Sayye’ (keturunan Nabi Muhammad SAW) yang banyak terdapat di Pambusuang, khususnya pengajian kitab kuning. Pada usia 15 tahun ia ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Setelahnya, ia tidak langsung balik ke Mandar, melainkan belajar agama di Madrasah al-Falah. Setelah lima tahun menuntut ilmu, Muhammad Saleh mendapat kepercayaan untuk mengajar di Mesjid Haram, suatu presetasi tersendiri bagi santri yang berasal dari luar Arab Guru-guru di Mekkah yang memberi banyak ilmu kepada Muhammad Saleh tentang Al Quran, hadis, lugah, fiqih, dan tasauf antara lain, Sayyid Alwi al-Maliki, Syekh Umar Hamdan, dan Sayyid Muhammad al-Idrus, Syekh Hasan al-Masysyat. Setelah mendalami ilmu di Arab, Muhammad Saleh kembali ke Mandar. Beberapa saat setelah tiba di Mandar, atas saran K. H. Ambo Dalle (Anregurutta Ambo Dalle), beliau menikah dengan Hj. St. Salehah binti Lomma. Karena alasan tertentu, Muhammad Saleh bercerai untuk kemudian menikah dengan Hj. Harah. Dari isteri kedua, beliau mulai mendapat keturunan. 43

KH. Muhammad Saleh menikah beberapa kali sesuai dengan ramalan gurunya Syekh Alwi al-Maliki. Dari isteri terakhir, Hj. Mulia Sule (masih hidup saat ini, meski tidak aktif mengajarkan tarekat dipanggil dengan sebutan Annangguru Tobaine yang artinya guru perempuan), Annangguru Saleh mendapat banyak keturunan. Salah satunya K. H. Ilham Saleh, yang melanjutkan ajaran Tarekat Qadiriyah saat ini di tanah Mandar. Setiap akhir Ramadhan, ada tradisi ibadah yang selalu ditunggu-tunggu umat Islam penganut Tarekat Qadiriyah di Mandar, yaitu Aassambayang bukku. Sewaktu kecil, saya mengira kata “Bukku� berasal dari kata bungkuk (bahasa Indonesia), sebab prosesi shalat-shalat sunat yang dilakukan sampai puluhan rakaat. Oleh sebagian orang yang jarang melakukan shalat sunat berakaat-rakaat akan menyebabkan sakit punggung. Ternyata salah. Bukku berasal dari kata Bukku (Buku), nama kampung yang terletak di punggung bukit Salabose, tak jauh dari kota Majene. Aassambayang (di) Bukkumulai diperkenalkan Annangguru Saleh pada tahun 1966. Tradisi dilatarbelakangi pembicaraan K. H. Muhammad Saleh dengan murid-muridnya, bahwa dibutuhkan tempat yang lebih luas untuk menampung jamaah shalat 27 Ramadhan, yang sebelumnya dilaksanakan dari rumah ke rumah pengikut KH. Muhammad Saleh. Belakangan, sejak tahun 2007, tradisi ini pindah ke Pambusuang, tepat di kompleks mesjid dan makam Kyai Haji Muhammad Saleh. Entahlah, istilah apa yang akan digunakan untuk menggantikan istilah Assambayang bukku. Yang jelas, kalau pakai istilah Assambayang Pambusuang, agak ganjil kedengaran. Menurut KH. Ilham Saleh, pemindahan (sebenarnya kurang tepat menggunakan istilah pindah sebab ritual menjalankan beberapa salat sunnat di malam 27 Ramadhan masih berlangsung, setidaknya Ramadhan 2008 lalu) bertujuan lebih mendekatkan penganut Tarekat Qadiriyah dengan (makam) K. H. Muhammad Saleh. Shalat 27 Ramadhan di kompleks makam K. H. Muhammad Saleh, Pambusuang yang berlangsung 2008 lalu diikuti ratusan jamaah. Mesjid yang terdapat di kaki bukit yang menghadap ke Teluk Mandar tak mampu menampung, untuk itu, di sekitar mesjid banyak terdapat saf-saf jamaah. Ritual, yang kebanyakan berisi kegiatan shalat-shalat sunnat, dipimpin langsung KH. Ilham Saleh. Pengaruh Tarekat Qadiriyah di Mandar cukup besar. Beberapa tokoh masyarakat, pengusaha, dan pejabat di eksekutif dan legislatif adalah pengikut ajaran ini, minimal sebagai pendukung ajaran. Itu tercermin dari peran serta mereka dalam setiap aktivitas besar yang diadakan Jamaah Tarekat Qadiriyah (shalat 27 Ramadhan

44

dan haul), baik dukungan moril (menghadiri acara) maupun materiil. Dalam kehidupan sehari-hari, tak ada perbedaan mencolok praktik beribadah Islam antara penganut ajaran K. H. Muhammad Saleh dengan yang bukan. Pada dasarnya sama saja. Mulai dari pelaksanaan ibadah wajib sampai ibadah sunnah. Perbedaan baru akan terlihat bila memasuki pembicaraan tentang masalah tarekat, khususnya praktek-praktek yang dianjurkannya. Untuk hal ini, ada pro-kontra terhadap ajaran Tarekat Qadiriyah. Bentuk penyebaran, pengembangan dan pelestarian ajaran, dulunya, dilaksanakan langsung oleh K. H. Muhammad Saleh dibantu beberapa murid kepercayaannya, salah satunya (almarhum) K.H. Sahabuddin (pendiri Universitas Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman). Selain oleh KH. Ilham Saleh, pengajaran tarekat juga dilakukan oleh salah satu anak K. H. Sahabuddin, yaitu KH. Syibli Sahabuddin (rektor Unasman yang juga calon DPD Sulawesi Barat yang mendulang suara terbanyak di pemilihan baru-baru ini). Pelanjut tarekat yang ada dua orang sedikit banyak menimbulkan perkubuan di masyarakat. Annangguru Saleh diundang oleh murid atau jamaahnya yang tinggal di beberapa kampung. Pelaksanaan pemberian ajaran biasanya dilakukan di rumah yang punya hajatan, yang juga merupakan penganut ajaran tarekat. Berbekal semacam kitab, sang guru membacakan apa yang di dalam kitab untuk kemudian menjelaskan makna-maknanya. Berbeda dengan keadaan sekarang, untuk mendatangi sebuah kampung, K. H. Muhammad Saleh masih menggunakan kendaraan tradisional, yaitu dokar. Jika bisa dilalui motor, sang guru dibonceng oleh muridnya, sebagaimana yang dilakoni H. Murad, wiraswasta yang tinggal tak jauh dari pasar ikan Tinambung, yang biasa membonceng gurunya ke beberapa kampung jika ada undangan. Menurut H. Murad, kehidupan dan sikap KH. Muhammad Saleh amat bersahaja. H. Murad mengenal sang guru di suatu mesjid di Polewali. Saat itu, sang ulama besar tidak berada di tempat-tempat VIP di dalam mesjid (dekat mimbar), melainkan di bagian belakang, di bawah beduk. Itu amat mengesankan H. Murad, betapa bersahajanya KH. Muhammad Saleh. Rumah pribadi K. H. Muhammad Saleh terdapat di pusat kota Majene. Tapi kampung halamannya ada di Pambusuang, yang mana sebagian besar kerabatnya berada di sini. K. H. Muhammad Saleh tinggal di Majene disebabkan beliau adalah pegawai negeri di Mahkamah Syariah Majene. Sebelumnya, ia pernah bekerja sebagai syara’ di majelis pertimbangan dan

45

naib di Balanipa, qadhi di Mamuju, dan Kepala Urusan Agama di Pambusuang, selain sebagai guru pesantren (1942-1950). Karamah atau kesaktian Cerita-cerita karamah bukan hal aneh bila kita mendengar atau membaca kisah hidup para sufi. Karena K. H. Muhammad Saleh juga seorang sufi, maka cerita karamah juga bisa ditemui. Sewaktu bekerja di Mamuju, tepatnya di saat membaca khutbah di salah satu mesjid di Tappalang, K.H. Muhammad Saleh dikirimi ilmu hitam. Namun berkat kekaramahannya, ilmu sihir yang berwujud cahaya bola api tidak mengenai dirinya. Belakangan, penyihir yang melakukannya meminta maaf. Masih di Tappalang, ia juga pernah hendak diracun dengan ilmu hitam. Nasi yang dihidangkan kepadanya berubah wujud menjadi ulat dan ular. Tapi muslihat itu tak mempan untuk mencelakai dirinya. Lalu, di masa “Gurilla� (gerilyawan), ketika penculikan marak terjadi, KH. Muhammad Saleh juga dapat menghindar dari kepungan kaum pengacau yang hendak menangkapnya. Saat itu ia akan balik dari Tomadio menuju Pambusuang. Kepada murid dan kusir dokar, sang guru berpesan agar mereka diam saja. Insya Allah mereka tidak akan terlihat oleh para pengepung. Itu betul terjadi, dokar yang ditumpangi KH. Muhammad Saleh tak terlihat dan mereka pun lolos dari penangkapan. Ketertarikan terhadap dunia sufi berasal dari pengajian yang diikuti Muhammad Saleh di bawah asuhan Syekh Muhammad al-Idrus. Salah satu praktik ritual yang dilakukan adalah penyucian diri di salah satu gua di kaki bukit Jabal Qubais. Setelah mendalami ilmu kesufian dan menjalani penderitaan di Arab Saudi (salah satunya disebabkan pengaruh Perang Dunia ke-II), menjelang usia 30 tahun, Muhammad Saleh kembali ke Mandar. Perjalanan ke Nusantara tidak semudah saat sekarang. Dengan menggunakan kapal laut, Muhammad Saleh menuju Sumatra. Di tempat ini ia bertemu salah seorang kerabatnya yang menuntut ilmu di sana untuk kemudian berlayar ke Sulawesi Selatan. Di salah satu kota niaga di Sulawesi Selatan, Muhammad Saleh dijemput kerabatnya untuk kemudian menuju Pambusuang. Layaknya anak muda yang merantau dan menuntut ilmu di negeri orang, fisiknya kurus, wajahnya pucat. Barang bawaannya pun tidak seberapa, hanya sebuah bantal dan satu kopor yang berisi tiga kitab pemberian gurunya di Mekkah yang menemaninya tiba di Mandar.

46

Beliau juga seorang manusia biasa. Perokok, suka menonton film-film “Sepaiî (berasal dari kata ‘spy’ yang berarti dunia spionase/inteljien), suka minum kopi susu, selalu menyelipkan ungkapan-cerita humor dalam ceramahnya, dan senang berekreasi. Di masa muda; di masa ia menuntut ilmu, perjuangan hidupnya amatlah berat. Mungkin itu yang membuat seorang Muhammad Saleh menjadi seorang annangguru bersahaja yang disegani, dihormati, dicintai, dikenang, dan dirindukan oleh banyak orang, baik yang bersinggungan langsung maupun yang hanya mengenal beliau dari ajarannya. Cammana, Pecinta Nabi Penabuh Rebana Sebenarnya saya harus ke Jakarta untuk mengikuti acara diskusi buku Manusia Bugis di Bentara Budaya Jakarta, 16 Maret 2006, tetapi karena saya tiba-tiba diserang demam rencana tersebut gagal. Dalam proses penyembuhan saya mendapat informasi bahwa Ibu Cammana’ ada di Yogyakarta untuk kegiatan rekaman. Ini pasti hikmah batalnya saya ke Jakarta gumam saya dalam hati. Singkat cerita, keesokan harinya bersama teman-teman dari Asrama Todilaling, 17 Maret 2006 atau malam Sabtu, untuk kesekian kalinya saya datang ke Kasihan untuk mengikuti pengajian yang dilakukan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, yaitu Mocopat Syafaat. Mocopat Syafaat merupakan salah satu acara rutin yang dilakukan Cak Nun dan Kyai Kanjeng setiap bulan, tepatnya tanggal 17. Dua acara bulanan yang lain adalah Padhang Bulan, dilaksanakan di Jombang, Jawa Timur setiap bulan purnama dan Kenduri Cinta di Jakarta (saya lupa tanggalnya). Pelaksanaan Mocopat Syafaat bertempat di panti asuhan yang dibina Cak Nun di Kasihan, Bantul. Desa kecil yang berada beberapa kilometer dari jalan lingkar (ring road) yang mengelilingi Yogyakarta. Dulu merupakan kediaman Cak Nun, nanti setelah menikah, Cak Nun pindah ke Kadipiro, di kota Yogyakarta. Saat saya datang, sekitar jam 20.30, suasana belum begitu ramai namun acara sudah dimulai dan para tukang parkir sudah pada sibuk menerima peserta pengajian. Motor-motor diparkir di halaman rumah-rumah penduduk, di bawah pohon bambu, di jalan kampung, dan tempat-tempat lain. Di kanan-kiri jalan utama beberapa pedagang sudah menggelar dagangannya, umumnya berbau-bau Cak Nun atau Kyai Kanjeng, misalnya kaset, buku-buku shalawat, dan sticker. Saya langsung menuju sekitar panggung untuk kemudian masuk ke ruang utama rumah Cak Nun yang sekarang ditempati adiknya. Salah satu kru Kyai

47

Kanjeng menyampaikan bahwa Ibu Cammana’ sedang ada di dalam bersama Cak Nun. Saat saya masuk, Cak Nun, Ibu Cammana’, dan seorang kyai dari Semarang sedang ngobrol. Saya langsung menyalaminya satu per satu. Awalnya Ibu Cammana’ dan Ibu Mina tidak begitu kenal saya. Ini disebabkan saya sudah potong rambut. Nanti setelah saya bertemu Kak Ila (Fadhilah Dotja), tetangga saya di Tinambung yang juga datang sebagai pendamping bersama Bapak Khalid Rasyid, Ibu Cammana’ dan Ibu Mina seakan-akan mau memeluk saya dan bercanda “Syukurlah kamu sudah tobat” (dalam bahasa Mandar). Beberapa tahun lalu, saat Ibu Cammana’, Ibu Mina, dan beberapa pemain rebana yang lain datang ke Yogya, mereka menginap di tempatku. Jadi sudah akrab, selain masih terhitung kerabat. Pengajian Cak Nun berbeda dengan pengajian-pengajian pada umumnya. Jangan dibayangkan ustadznya hanya bicara sendiri menyampaikan ayat-hadis beserta penjelasannya. Di pengajian Cak Nun, khususnya cukup unik: dihadiri banyak lapisan masyarakat dan banyak golongan (termasuk penganut agama lain), ada musiknya, ada diskusi, dan dipenuhi shalawat. Adapun Cak Nun adalah moderatornya sekaligus penceramah, penyanyi, dan pen-shalawat. Meski Cak Nun memainkan banyak peran, acara pengajian memberi banyak ruang dan waktu ke pihak lain, misalnya kelompok shalawatan. Teater Flamboyant dan Sdr. Hijrah Azis, mahasiswa Mandar yang pernah menuntut ilmu di Yogya, sudah sering tampil di acara pengajian Cak Nun. Terakhir Teater Flamboyant tampil di acara Mocopat Syafaat pada tanggal 17 Juli 2005 lalu. Jika acara diandaikan semacam kurva, ada pihak yang menjadi tanjakan, menjadi puncak, dan ada yang menjadi lembah. Cak Nun, Kyai Kanjeng dan pihak-pihak yang tampil bersinergi untuk membentuk kurva tersebut. Malam ini, Parrabana Tobaine dan WS Rendra menjadi puncaknya. Untuk pertama kalinya saya menyaksikan Cak Nun menangis tersedu-sedu yang mencerminkan kebahagiaannya dua orang yang sangat dia hormati, Ibu Cammana’ dan Si Burung Merak, hadir bersamaan di malam ini. Cak Nun begitu menghormati Ibu Cammana’ karena Ibu Cammana’ adalah hamba Allah yang menyampaikan shalawat dan cintanya ke Nabi Muhammad SAW lewat rebana; begitu menyayangi WS Rendra, karena dia adalah hamba manusia yang menemukan hidayah Allah. Ya, WS Rendra, seniman besar Indonesia, adalah seorang muallaf. Saya pribadi tidak menduga mendapat kebahagiaan yang tidak terkira. Siapa yang tidak akan bahagia, orang-orang yang saya figurkan Cak Nun dan Rendra 48

tampil bersama dengan perempuan yang merupakan “harta” berharga Mandar, Ibu Cammana’. Kejadian malam adalah sejarah yang pertama dan mungkin sekaligus yang terakhir: tiga maestro di atas satu panggung. Uniknya, untuk menyaksikannya tidak perlu bayar, bertanda mereka bertiga, saya dan jamaah yang lain dipertemukan oleh nilai-nilai spritual, bukan semangat kapitalisme. Acara diawali penampilan salah satu kelompok pengajian di Yogyakarta. Mereka melantunkan shalawat dan pesan-pesan agama lewat nyanyian yang menggunakan bahasa Jawa. Setelah itu kegembiraan yang diliputi semangat spritual ditampilkan Kyai Kanjeng dengan musiknya yang khas. Ah, alunan shalawat dan ayat-ayat Allah begitu indah dilantungkan Cak Nun dan kru Kyai Kanjeng. Salah satu suaranya sangat tipis, menyayat hati. Berikutnya, Cak Nun mempersilahkan Rendra menyampaikan sepatah-dua kata akan kesannya menghadiri pengajian malam ini. Meski Cak Nun dan Rendra sering terlibat diskusi pribadi di Yogya dan Cak Nun merupakan salah satu guru spritual Rendra, namun Rendra baru pertama kali hadir di pengajian Mocopat Syafaat. Rendra kaget sebab nuansanya sangat berbeda. Rendra yang juga akrab dipanggil Mas Willy kemudian menyampaikan kesannya dan rasa syukurnya bisa hadir di acara pengajian ini bersama jamaah lain. Setelah Rendra, berikutnya giliran penampilan parrabana tobaine dari Mandar, Ibu Cammana’ yang didampingi keponakannya, Ibu Mina, dan kedua anaknya, Hatijah dan Tasriani. Di bagian belakang duduk Kak Ila bersama Novia Kolopaking, di sisi kanan panggung Rendra dan Pak Khalid, dan di sisi kiri Cak Nun. Di bagian panggung yang lain kru Kyai Kanjeng bersama alat-alat musiknya. Mataku berkaca sambil mengarahkan kamera ke mereka menyaksikan momen bersejarah itu dan hatiku bergetar ketika telapak lembut Ibu Cammana’ mulai menabuh rebananya; ketika suara khasnya mengumandangkan shalawat dalam bahasa Mandar di tengah masyarakat Jawa. Jamaah terkesima. Ya, mereka tidak sepenuhnya memahami kata-kata yang dikumandangkan oleh Ibu Cammana’ dan lainnya, tetapi apa yang terdengar mempunyai nilai-nilai universal, baik itu isi shalawat yang sebagian dimengerti oleh jamaah (berbahasa Arab) maupun musik yang bersumber dari rebana. Rendra pun begitu serius menyaksikan kejadian yang berlangsung disisinya. Ada apa dengan Ibu Cammana’ dan tabuhan rebana dan suaranya sehingga Cak Nun begitu mati-matian mencintainya, sehingga Cak Nun mendatangkannya ke Yogya?

49

Rebana Mandar yang Mengesankan Dalam kacamata budaya Nusantara, Halim HD, budayawan Solo yang saat ini terlibat dalam pengembangan perteateran di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Ibu Cammana’ adalah maestro, seseorang yang sangat ahli dalam bidangnya dan menekuninya selama puluhan tahun, bersama penari topeng dari Sunda, salah satu bissu di Bugis, dan seorang penari dari Bali. Semuanya sudah berumur tua. Adapun dalam dunia agama, Ibu Cammana’ adalah “pengkhotbah”, yang menyampaikan pesan-pesan moral, nilai-nilai Islam, dan shalawat terhadap Rasulullah SAW lewat media seni, yaitu musik rebana. Unik dan sekaligus ironi sebab bisa dikatakan Ibu Cammana’ dan kerabat yang biasa mendampinginya, merupakan satu-satunya parrabana tobaine, penabuh rebana yang dilakukan perempuan, di Mandar, Sulawesi Barat. Tidak akan ada yang bisa menyamai tingkat kemahiran dan semangat spritual yang dimiliki Ibu Cammana’. Ibu Cammana’ hanya ada satu di dunia ini, baik lampau maupun di masa mendatang. Meski demikian, itu tidak berarti bahwa generasi muda ataupun komponen masyarakat lain tidak bisa menirunya. Semangat dan komitmen Ibu Cammana’ terhadap dunia agama dan seni harus kita hargai, apresiasi, dan kita tiru dalam bidang lain. Dan apa yang dilakukan Ibu Cammana’ harus menjadi pelajaran untuk generasi mendatang. Bagaimana caranya? Inilah yang dilihat oleh Cak Nun, bahwa kehidupan dan kegiatan berkesenian Ibu Cammana’ harus didokumentasikan. Salah satunya adalah merekam penampilan dan tabuhan rebana Ibu Cammana’. Apa yang dilakukan Cak Nun harus membuat kita “cemburu” (dalam arti positif); harus ada kesadaran. Maksudnya, apresiasi penghargaan yang kita berikan ke Ibu Cammana’, dan unsur kebudayaan Mandar yang lain, jangan hanya tercermin dalam kebanggaan bahwa “Saya sebudaya dengannya”. Saat ini harus ada langkah konkrit, baik langkah dokumentasi, pelestarian (berupa tetap melaksanakan unsur budaya tersebut selama tetap sesuai ajaran agama), mempelajarinya (melakukan penelitian) maupun menjadi pelaku budaya itu sendiri. Cak Nun dan Kyai Kanjeng kembali menampilkan keahliannya! Ketika Ibu Cammana’ dan pendampingnya melantungkan lagu yang terakhir; ketika lantunan suara Ibu Cammana’ menggunakan bahasa Indonesia yang isinya bertanda “kami akan pamit dan menyampaikan terima kasih”, terdengar tepukan meriah dari jamaah. Cak Nun melihat itu sebagai musik dan kemudian meminta jamaah untuk

50

terus bertepuk tangan. Dan secara tiba-tiba musik Kyai Kanjeng masuk ke dalam irama rebana. Musik yang terdengar begitu hebat, begitu membahana, begitu membahagiakan, dan amat mengharukan. Wajah Ibu Cammana’ berseri dan menyunggingkan senyum, tangannya semakin rampak dalam kontrol menabuh rebana, dan lantunan suara dan lagunya terdengar semakin unik. Ya, Ibu Cammana’ menyanyi dalam Bahasa Indonesia. Inilah yang “mengajak” Cak Nun dan Kyai Kanjeng serta jamaah untuk masuk ke dalam irama rebana. Mereka memahami maksud katakata Ibu Cammana’ dan irama rebananya yang rancak pun memungkinkan untuk itu. Setelah penampilan parrabana mandar yang berkolaborasi dengan Kyai Kanjeng dan jamaah di lagu terakhir, giliran penampilan Si Burung Merak, WS. Rendra. Rendra masih tampak muda, padahal umurnya baru lewat beberapa bulan dari kepala tujuh. Hampir seusia dengan Ibu Cammana’. Rambutnya yang sedikit gondrong namun rapi terlihat legam. Penampilannya sangat bersahaja, padahal sebenarnya dia adalah tokoh yang telah memberi warna dunia perteateran Indonesia. Oleh Cak Nun, Rendra didaulat untuk membacakan beberapa puisinya. Ini merupakan kedua kalinya saya menyaksikan secara langsung penampilan Rendra berpuisi. Kejadian pertama delapan tahun lalu, menjelang puncak reformasi. Saat itu UGM mengundang Rendra, Iwan Fals dan beberapa budayawan untuk memberi semangat mahasiswa di dalam menggerakkan roda reformasi. Saat itu, antara Rendra dengan penonton dipisahkan jarak yang jauh dan panggung yang tinggi. Malam ini, Rendra pas berada didepanku, hanya beberapa senti. Saya hampir tak percaya dan terpukau. Saya manfaatkan moment langka ini untuk mengambil foto Rendra dari berbagai sudut. Rendra membawakan beberapa puisinya dengan beragam judul namun hanya satu tema, yaitu tentang ibu. Pantas Rendra disebut Si Burung Merak. Selain ada puisinya yang memang berjudul demikian, penampilannya pun cukup memukau, berkharisma, dan membius. Begitu alami, tanpa ada penampilan yang terasa dibuat-buat, matanya tajam, suaranya bergetar, lirih, menyayat hati, dan gerakannya sangat alami. Inilah puncak penampilan malam ini, tabuhan rebana dan nyanyian Ibu Cammana’. Kejadian yang terjadi ribuan kilometer dari Tanah Mandar, di seberang lautan, dan disaksikan oleh Cak Nun, Rendra, dan jamaah lain di pusat Tanah Jawa, Yogyakarta. Penampilan Rendra tidak menjadi penyempurna penampilan Ibu Cammana’, sebab masing-masing menampilkan cahayanya masing-masing.

51

Perempuan Limboro di Dapur Rekaman Keesokan malamnya, 18 Maret 2006, Ibu Cammana’ dan tiga pemain rebana yang lain masuk dapur rekaman. Tepatnya di Studio Geese, studio Kyai Kanjeng yang juga merupakan kediaman Emha Ainun Nadjib, Kadipiro, Yogyakarta. Selain rekaman musik dan shalawat Kyai Kanjeng, Band Letto, band anak muda yang dimotori anak Cak Nun, Sabrang Mowo Damar Panuluh yang akrab dipanggil Noe, juga dilakukan di sini. Menarik menjadi saksi mata ketika parrabana tobaine dari Mandar masuk ke studio. Saya menebak, Ibu Cammana’ pasti tidak pernah membayangkan kejadian ini semua. Dan proses kesenian yang beliau lakukan pasti tidak didasari cita bahwa ingin membuat album untuk kemudian terkenal. Melainkan karena kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW. Perempuan dari desa masuk ke ruang rekaman, bagaikan masuk ke dunia lain. Suhu ruangan yang dingin karena AC, dinding-dinding yang desain dan bahannya yang khas karena dibuat khas, dan peralatan serta kabel yang bersiliweran ke sana-sini. Namun Ibu Cammana’, Ibu Mina, Hatija, dan Tasriani tidak amat-kaku dalam atmosfir ini. Mereka penuh canda berhadapan itu semua. Misalnya ketika menyaksikan tempat telur --kertas coklat yang dibuat ada lubang dan tonjolan agar telur tetap aman meski dibuat bertumpuk-- yang dibuat menjadi plafon studio ini. Ibu Cammana’ dan yang lain pun cukup kooperatif dalam proses rekaman, baik persiapan maupun pelaksanaan rekaman itu sendiri. Semua berjalan lancar berkat bantuan Pak Khalid, yang menerjemahkan instruksi operator ke Ibu Cammana’ dan anggota parrabana yang lain; dan Kak Ila, yang setia mendampingi parrabana di dalam ruangan yang “aneh” ini. Ada dua ruang utama di Studio Geese ini, yaitu ruang rekaman dan ruang operator. Keduanya dibatasi dinding yang dibuat bersekat dan jendela yang dilapisi kaca khusus. Di ruang rekaman hanya ada pemain rebana dan Pak Khalid, yang juga mengenakan headphone. Adapun ruang satunya adalah ruang operator. Di ruang ini terdapat satu set komputer canggih dengan dua monitor yang terdapat di atas piano klasik dan beberepa speaker. Di ruang ini ada Cak Nun, dua operator, beberapa kru Kyai Kanjeng, Kak Ila, dan saya sendiri. Sekali lagi saya sangat bangga menyaksikan peristiwa dari balik kaca Ibu Cammana’ dengan headphone super-besar di kepalanya, didepannya terpasang mic yang menjadi aikon atau simbol “dapur rekaman”, sambil memeluk rebananya. Sangat unik dan mengesankan!

52

Malam ini Ibu Cammana’ diminta untuk memainkan empat lagu guna melengkapi hasil rekaman yang dilakukan malam sebelumnya, yang biasa diistilahkan penampilan live (langsung). Jadi bisa menjadi satu album “Shalawat Parrabana Tobaine”, ini istilah saya saja. Proses rekaman dibagi dua, yaitu masing-masing dua lagu. Setelah tahap pertama, kepada Ibu Cammana’ dengan yang lain, diperdengarkan hasil rekaman dan contoh setelah diberi efek khusus. Ini menjadi bahan evaluasi bagi Ibu Cammana’ dan pemain lainnya untuk tahap berikutnya. Proses rekaman selesai menjelang tengah malam. Ibu Cammana’ sampai kelelahan namun tetap ceria. Awalnya proses rekaman tidak berjalan lancar sebab para pemain masih sedikit kaku “Ah, permainan kita akan direkam”. Maksudnya, suasana saat mereka bermain jauh berbeda dengan apa yang pernah mereka alami. Posisi mereka berbeda, kali ini mereka berhadap-hadapan. Di satu sisi Ibu Cammana’, di sisi lain tiga pemain lainnya. Di depan mereka pun ada banyak mic berdiri. Komposisi ini merupakan jalan tengah. Sebelumnya lebih “radikal”, yaitu memisahkan antar pemain. Alasannya, agar masing-masing sumber bunyi (suara manusia dan rebana) dari empat pemain dapat mempunyai file tersendiri. Ini penting dalam proses pengeditan. Namun karena bentuk demikian akan menghilangkan “roh” permainan, maka dibuatlah komposisi berhadapan di atas. Komposisi yang umum dilakukan, misalnya saat pentas di atas panggung, adalah bersaf: Ibu Cammana’ di tengah, di kiri-kanannya pemain lain. Sebelum proses rekaman, setiap mic dicoba: mic untuk mulut dan mic untuk rebana. Selain mic untuk tiap pemain, juga ada dua mic khusus yang dipasang dibagian atas, dekat plafon. Letak mic sangat diperhatikan, demikian juga dengan sumber bunyi yang lain. Langkah kaki di atas karpet pun akan terdengar, untuk itu harus hatihati dan orang-orang yang tidak berkepentingan di dalam berada di ruang rekaman. Setelah semua terpasang baik, parrabana diminta untuk latihan untuk selanjutnya proses rekaman. Cak Nun serius mengawasi para operator. Saat Ibu Cammana’ menyanyi dan menabuh shalawatnya, Cak Nun dengan khidmat mendengarkannya. Perempuan-perempuan dari Desa Limboro dengan rebananya telah menembus sekat ruang, jarak, dan waktu serta lapisan kebudayaan dari “tradisional” ke “modern”. Ibu Cammana’ memang tidak seterkenal WS Rendra dan Cak Nun di ranah kesenian Indonesia dan dunia, namum proses yang mereka lakukan pasti sama. Keduanya telah membuktikan bahwa komitmen pada satu hal bukanlah pekerjaan mudah.

53

Inilah yang sulit kita lihat. Selama ini kita hanya dibuat terkesima pada hasil akhir dan tidak mengambil pelajaran dari proses. Ibu Cammana’ tidak tiba-tiba berada dalam lingkaran para maestro kesenian budaya Indonesia untuk kemudian masuk dapur rekaman, pasti ada proses sebelumnya. Tabuhan rebana dan kreativitas Ibu Cammana’ dalam mencipta lagu dan membuat komposisi tabuhan tidak terjadi secara instant, itu semua muncul dari proses berkesenian yang cukup panjang, penuh karakter, dan melibatkan banyak pihak, salah satunya adalah Bang Alisjahbana. “Salama’ Amma’ …” “Amin ya rabbil alamin, Mak Cammana esok akan ke Jakarta menerima penghargaan Satya Lencana dari Bapak SBY melalui Membudpar pada minggu malam di Auditorium TVRI Senayan, Jakarta. Nonton yah”, demikin isi SMS dari Sdr. Dalip, 25 Maret 2010. Akhirnya cita-cita besar pemerhati seniman tradisi di Mandar, yang akhir-akhir ini dimotori Dalip, Sahabduddin, Pai dan kawan-kawan terwujud. Seharusnya dari dulu! Cammana lahir di salah satu “empat negeri besar” (appe banua kaiyyang) yang membentuk Arajang Balanipa, yakni Samasundu, tahun 1935 (informasi dari kerabatnya kepada Sdr. Dalip; dalam Ensiklopedi Kebudayaan, Sejarah, dan Tokoh Kebudayaan Mandar karya Suradi Yasil, lahir 1944). Beliau lahir dari seniman besar Mandar dizamannya, yakni Zani. Selain sebagai seorang pemain rebana, bapaknya juga pemahat batu nisan (tinda’ kubur), guru pencak silat, guru tasawuf, dan mantan juru tulis kepala kampung. Bapaknya meninggal tahun 1987. Adapun ibundanya bernama Jo’e, seorang pemain kecapi, guru mengaji, dan guru spritual. Ibundanya wafat tahun 2003. Wajar Mak Cammana menjadi seorang maestro parrabana sekaligus guru mengaji dan spritual. Darah sebagai seniman dan ulama mengalir deras-murni dalam darahnya. Sebagaimana seniman-seniman Mandar, seperti pakkacaping, pacalong, dan parrabana (laki-laki), parrabana tobaine (dalam hal ini Mak Cammana) juga dibesarkan dan makan asam garam berkesenian dari rumah ke rumah; dari panggung kecil ke panggung kecil (baca dari kampung ke kampung). Beliau mulai bermain rebana dari rumah ke rumah pada tahun 1957. Mereka tak besar oleh dapur rekaman atau konser-konser kolosal; mereka tetap orang biasa, saat tak manggung tetapi melakoni kehidupan orang Mandar pada umumnya: bertani, memasak, menenun, dan lainnya. Tidak seperti artis-artis saat ini.

54

Dan yang khas pada seniman-seniman tua adalah kehidupan spritualnya. Sepertinya lakon mereka di panggung tak bisa lepas dari ibadah. Setidaknya salam dan shalawat saat akan menghibur. Mak Cammana dikenal dan unik dikarenakan parrabana tobaine di tanah Mandar tidaklah banyak. Untuk grup, setahu saya hanya grub yang dibina Mak Cammana. Mungkin ada di kampung-kampung lain, tapi sampai saat ini belum saya dengar. Dengan kata lain, Mak Cammana adalah “benda langka”, maka dia jadi “mahal”. Belum lagi kemampuan spritualnya (baca: ahli pengobatan tradisional/ supranatural), kesahajaan hidupnya, serta pergaulannya dengan orang lain membuatnya semakin dihormati. Saat ini Mak Cammana bermukim di kampung Pappang, Desa Limboro, Kec. Limboro, Kabupaten Polewali Mandar. Rumah panggungnya sekitar 50 meter dari jalan poros Tinambung – Alu. Di depan rumahnya ada bangunan permanen, merupakan studio tempat Mak Cammana mengajar muridnya mengaji dan atau main rebana. Studio yang berdiri atas dukungan banyak pihak, khususnya Bupati Polman, Ali Baal Masdar. Hampir semua bupati Polewali Mandar (dulu Polewali Mamasa) memberi apresiasi terhadap Mak Cammana. Tapi yang paling berkesan bagi diri Cammana adalah era (alm) Saad Pasilong. Mulai saat itu, Mak Cammana sering pentas di Makassar, di kegiatan Pekan Budaya Sulawesi Selatan. Puncaknya ketika beliau dibawa serta ke Singapura (1995). Peran Bapak Mukhlis Hannan amat signifikan kala itu. Era (alm) Bupati Hasyim Manggabari juga. Mak Cammana difasilitasi untuk pentas di Jawa, khususnya Jombang dan Yogyakarta. Persinggungan Mak Cammana dengan Yogyakarta adalah salah satu tonggak penting dalam kehidupan Mak Cammana. Apa yang diperolehnya saat ini tak lepas dari persinggungan ini. Lebih tepatnya, Mak Cammana kemudian kenal dengan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Sepengetahuan saya, Mak Cammana bisa mendapat penghargaan karena adanya dukungan konkrit dari tokoh bangsa Indonesia ini. Sebagai tambahan, cita-cita Mak Cammana untuk naik haji tak lepas dari bantuan dari Cak Nun. Adanya hubungan antara Mak Cammana dengan Cak Nun tak bisa dilepaskan dari peran Halim HD (baca: “Catatan Kecil untuk Teater Flamboyan) dan Bang Ali (Alisjahbana). Mereka tokoh yang memainkan peran sentral sehingga ada jembatan langsung yang menghubungkan kegiatan berkesenian antara Mandar dengan Jawa.

55

Alisjahbana (akrab dipanggil Bang Ali atau Bung Ali) lahir pada tanggal 27 Desember 1951 di Salarri’. Meninggal dunia pada tanggal 31 Juli 2005. Saat Mak Cammana pentas di Yogyakarta pada Maret 2006, tangannya berkeringat dingin di tengah-tengah permainan rebananya di Mocopat Syafaat, mata-bathinnya menyaksikan kehadiran Bang Ali bersama jamaah lain. Sesaat kemudian, Cak Nun meminta jamaah untuk mengirimkan Al Fatihah buat Bang Ali. *** Parrawana towaine ‘pemain rebana wanita’ adalah Sekumpulan artis wanita ahli musik tradisional rebana. Irama lagu parrawana towaine agak berbeda dengan irama lagu parrawana tommuane ‘pemain rebana laki-laki’. Syair lagu parrawana towaine berisi kisah-kisah, nasihat-nasihat, dan tema keagamaan. Biasanya dimainkan oleh 4-7 orang wanita. Pertunjukan biasanya diadakan pada malam hari, di atas rumah yang melakukan hajatan, misalnya perkawinan, sunatan, dan lain-lain. Umumnya parrawana diundang bukan untuk hiburan saja, tapi semacam pemenuhan nazar. “Kalau anak saya tammat mengaji, saya akan undang parrabana tobaine”. Jadi lebih bernuansa syukuran sebab acara sudah selesai. Bila akan diundangan, parrabana tobaine diberi tahu jauh hari sebelumnya. Sebab jadwal mereka padat. Lokasi ada yang dekat (dari Limboro), antar kecamatan, antar kabupaten, antar provinsi, dan antar pulau. Ya, Mak Cammana pernah pentas di kabupaten lain di luar Sulawesi Barat, misalnya di Palopo dan Kalimantan Timur. Kebanyakan atas pemenuhan nazar si pengundang. *** Dalam kacamata budaya Nusantara, Halim HD, budayawan, Mak Cammana’ adalah maestro, seseorang yang sangat ahli dalam bidangnya dan menekuninya selama puluhan tahun, bersama penari topeng dari Sunda, salah satu bissu di Bugis, dan seorang penari dari Bali. Semuanya sudah berumur tua. Adapun dalam dunia agama, Ibu Cammana’ adalah “pengkhotbah”, yang menyampaikan pesan-pesan moral, nilai-nilai Islam, dan shalawat terhadap Rasulullah SAW lewat media seni, yaitu musik rebana. Unik dan sekaligus ironi sebab bisa dikatakan Ibu Cammana’ dan kerabat yang biasa mendampinginya, merupakan satu-satunya parrabana tobaine, penabuh rebana yang dilakukan perempuan, di Mandar, Sulawesi Barat. Tidak akan ada yang bisa menyamai tingkat kemahiran dan semangat spritual yang dimiliki Ibu Cammana’. Ibu Cammana’ hanya ada satu di dunia ini, baik lampau

56

maupun di masa mendatang. Meski demikian, itu tidak berarti bahwa generasi muda ataupun komponen masyarakat lain tidak bisa menirunya. Semangat dan komitmen Ibu Cammana’ terhadap dunia agama dan seni harus kita hargai, apresiasi, dan kita tiru dalam bidang lain. Dan apa yang dilakukan Ibu Cammana’ harus menjadi pelajaran untuk generasi mendatang. Bagaimana caranya? Inilah yang dilihat oleh Cak Nun, bahwa kehidupan dan kegiatan berkesenian Ibu Cammana’ harus didokumentasikan. Salah satunya adalah merekam penampilan dan tabuhan rebana Ibu Cammana’. Apa yang dilakukan Cak Nun harus membuat kita “cemburu” (dalam arti positif); harus ada kesadaran. Maksudnya, apresiasi penghargaan yang kita berikan ke Ibu Cammana’, dan unsur kebudayaan Mandar yang lain, jangan hanya tercermin dalam kebanggaan bahwa “Saya sebudaya dengannya”. Saat ini harus ada langkah konkrit, baik langkah dokumentasi, pelestarian (berupa tetap melaksanakan unsur budaya tersebut selama tetap sesuai ajaran agama), mempelajarinya (melakukan penelitian) maupun menjadi pelaku budaya itu sendiri. *** Sebenarnya apa jasa Mak Cammana terhadap Mandar? Menjawabnya bisa relatif. Tapi sudah pasti banyak dan terbukti, setidaknya bagi sebagian orang Mandar. Bukankah Mak Cammana seorang guru mengaji yang membuat orang (muridnya) bisa membaca kitab suci Al Quran? Bukankah beliau seorang yang mempunyai kemampuan supranatural (pengobatan) sehingga ada orang (sakit) yang disembuhkan olehnya? Dan Mak Cammana adalah guru dan pemain rebana! Dia tidak melakoni 2-3 tahun, tapi sepanjang hayatnya. Sebab itu, beliau mewarisi (dan mewariskan) tradisi berkesenian Mandar. Anehnya, sepertinya kita lebih tergila-gila kepada orang Mandar yang tampil di KDI daripada terhadap Mak Cammana. Saya bisa pastikan, uang orang Mandar yang mengalir/mendukung aktivitas berkesenian Mak Cammana baik langsung maupun tidak langsung jauh lebih sedikit dibanding sumbangan SMS (itukan uang juga!!!) orang dan pejabat Mandar ketika kontes KDI. Amma Cammana akan menerima penghargaan di Acara Malam Anugerah Kebudayaan dilaksanakan di Auditorium TVRI, Jakarta Pusat, Minggu, 27 Maret 2010. Berdasar informasi yang dikirimkan Sdr. Dalif (yang mendampingi Mak Cammana ke Jakarta, bersama Kadis Budpar Polman, Pak Darwin), dalam Surat Keputusan Presiden Nomor 034/TK/Tahun 2009 Tanggal 30 Juli 2009 memutuskan

57

bahwa yang menerima penghargaan Satya Lencana Kebudayaan atas jasa-jasanya terhadap negara dan bangsa Indonesia di bidang kebudayaan antara lain adalah: 1) Sophan Sophiaan (artis), 2) Ammaq Cammana (berperan aktif dalam upaya melestarikan, mengembangkan, mewarisi, dan menyebarkan jenis kesenian tradisional musik rebana kepada generasi selanjutnya dan menjadi inspirasi untuk penulisan budaya dan seni khas Mandar, serta aktif dalam membantu masyarakat melalui ketajaman spritual dan religius), 3) Ki Satono (dalang), 4) Taufik Hidayat Udjo (penggiat kesenian angklung, Jawa Barat), 5) Mus Mualim (alm., musisi jazz Indonesia), 6) H. Rhoma Irama (musisi dandut), 7) Anjar Any (alm., musisi keroncong langgam Jawa dan sastra Jawa), 8) Tilhang Oberlin Goeltom (pemain opera Batak), 9) Hj. Evi Meiroza Herman (penggiat kain songket khas Riau), dan 10) Linneke Sjerlie Watoelangkouw, (penyelamat waruga, makam leluhur di Minahasa, walikota Tomohon). *** Setahu saya, Mak Cammana baru diberi penghargaan “kelas kampung”, pertama oleh Forum Sipakaraya (September 2009) di Tinambung dan Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar (November 2009) di Polewali. Tapi koq pemerintah Sulawesi Barat (dan kabupaten lain di Sulawesi Barat selain Polman) tak pernah memberi penghargaan kepada beliau? Mak Cammana memang bukan pejuang (provinsi Sulawesi Barat), tak punya daya tawar politik, bukan orang kaya, bukan orang pragmatis. Dia (hanya) seorang wanita baya penuh senyum yang sangat mencintai Nabi Muhammad SAW. Pukulan lembutrampak di rebananya dihiasi shalawat-shalawat kepada orang yang sangat dicintainya. *** Setahun setelah Presiden Republik Indonesia DR. H. Susilo Bambang Yudho­ yono menandatangani Surat Keputusan pemberian Satyalenca Kebudayaan pada Cammana, Juli 2010 Cammana kembali mendapat penghargaan dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, yaitu “Penghargaan Maestro Seni Tradisi Tahun 2010”. Sebab sebelumnya Cammana sudah ke Jakarta untuk menerima piagam dan medali Satyalencana Kebudayaan, piagam dan tropi sebagai maestro dikirim lewat pos. Secara simbolis diserahkan pihak Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar pada 20 Juli 2010 di Polewali. Akhir tahun 2010, tepatnya 29 Desember 2010, untuk kesekian kalinya Cammana mendapat penghargaan dari Kabupaten Polman atas jasa dan dedikasinya kepada daerah. Selain Cammana, tokoh lain yang mendapatkan adalah Andi Depu

58

(pejuang kemerdekaan), Kolonel (Purn) H. Abdullah Madjid (Bupati Polmas 1996 – 1979), Kolonel (Purn) S. Mengga (Bupati Polmas 1980 – 1990), DR. Hc. H. Muhammad Masdar Pasmar (Ketua DPRD Polmas 1999 – 2003), KH. Arif Liwa (ulama), H. Notji Sjamsi (tokoh pendidikan), dan DR. H. Idham Khalid Bodi, M. Ag. (peneliti). Penghargaan diberikan oleh Bupati Polewali Mandar, Ali Baal Masdar di Gedung Nusantara, Polewali, bertepatan Sidang Paripurna Hari Ulang Tahun Kabupaten Polewali Mandar yang ke-51. Muis Mandra, Kamus Berjalan Budaya dan Sejarah Mandar Sabtu, 27 Juli 2009. Kesekian kalinya Adnan Polman menyanyikan lagu dangdut di Kontes Dangdut Indonesia (KDI) 6, Taman Mini Indonesia Indah. Kostumnya sengaja dibuat kampungan agar ada bahan untuk mengasihani. Yang kasihan bisa berempati lewat SMS dukungan. Malam yang sama, Somba, Majene, Sulawesi Barat, kediaman budayawan besar Mandar, Muis Mandra, menikmati penampilan Adnan Polman ribuan kilometer dari Jakarta. Tak lupa dirinya memberi dukungan lewat SMS. Sejak Nurdin, Muis Mandra terus memberi dukungan SMS. Ratusan ribu pulsa habis demi Nurdin. Terlepas apa di balik itu semua, Muis Mandra memberi dukungan penuh. Sebagai budayawan, semua usaha untuk memperkenalkan Mandar harus dilakukan, termasuk KDI. Setiap orang Mandar selesai menyanyi dan dikritik, Muis Mandra menyudahi tontonan. Sebagaimana penampilan Adnan, setelah menyanyi, MuisMandra masuk kamar. Tak ada yang aneh. Tidak berapa lama kemudian, entah kenapa, istrinya, Hj. Hapipa, menyusul masuk. Suaminya terlalu di pinggir, tak ada ruang untuk dia berbaring. Dia berusaha membangunkan, tapi tak ada hasil. Ah, mungkin nyenyak tidurnya. Lalu dia mendorong. Koq tak ada respon? Tak lama kemudian, Muis Mandra seakan tergelepar. Dari mulut keluar buih. Sekejap kemudian, kepanikan terjadi. Muis Mandra terserang stroke berat! Suasana kegembiraan menyaksikan KDI berubah seketika. Entah apa akhirnya. Kerabat, tetangga berdatangan mendengar suara tangis salah satu anaknya. Sabar. Tubuh tak sadar dilarikan ke rumah sakit Majene. Di sini tak lama, dirujuk ke Polewali. Polewali juga tak sanggup, terpaksa dilarikan ke Makassar. Untuk pertama kalinya, budayawan yang banyak melakukan perjalanan ini, ke Makassar tanpa sadarkan diri. Dengan ambulans, ditemani istrinya, Srikandi (salah satu putrinya), Huswati (cucu), dan salah satu teman Adi Akhsan, keponakan Muis Mandra yang

59

baru-baru ini terpilih menjadi anggota DPRD (belakangan, saat di Maros, Adhi Akhsan ikut serta di ambulans). Muis Mandra dibawa ke RS Pelamonia, rumah sakit milik angkatan darat. Veteran-veteran yang sakit biasanya dibawa ke sini karena ada fasilitas. Tiba, Muis Mandra tetap tak sadar, sampai dua hari kemudian. Selama 9 hari, beliau berada di ruang tersebut. Setelah itu, dipindahkan ke ruang perawatan, lantai tiga, kamar 307. Dari kamarnya, Monumen Mandala terlihat jelas Siapa Muis Mandra? Bila ada pemuda (apalagi orangtua) mengajukan tanya “Siapa Muis Mandra?”, mungkin di benak aka muncul rasa sedih, “Koq orang sehebat Muis Mandra tak dia tahu?”. Untuk menjawabnya, saya kutipkan salah satu entri dalam Ensiklopedi Sejarah dan Kebudayaan Mandar yang ditulis sahabat Muis Mandra, yaitu Suradi Yasil. Nama lengkapnya, Abdul Muis Mandra. Beliau seorang budayawan dan sejarawan. Lahir 27 Agustus 1938 di Desa Ulidang, Kec. Sendana Kab. Majene. Menulis sejumlah buku tentang Sejarah dan Kebudayaan Mandar, artikel budaya, agama, pendidikan, dan ilmu pengetahuan sosial lainnya di surat-surat kabar, dan majalah edisi daerah Mandar, Makassar/Ujung Pandang, dan Jakarta. Pernah menjadi wartawan. Mempunyai dua orang isteri dan lima belas orang anak. Pendidikan: Mengaji pondokan 1948-1954 di Ulidang, SR Somba, SGBN Majene, Pesantren Ashriah Majene (1954-1959), SGAN Majene, PGSLPN Ujung Pandang, Sarjana Muda Syariah IAIN Alauddin Ujung Pandang Jurusan Tafsir QuranHadits, dan Sarjana (S 1) Syariah IAIN Alauddin Ujung Pandang (1992). Pekerjaannya, 1959 mulai menjadi Guru Sekolah Rakyat, Kepala Sekolah Rakyat di Pellattoang (1960-1965), Guru SMPN Somba (1965-1968), Kepala SMPN Tappalang, Kab. Mamuju (1968-1976), dan Penilik Kebudayaan Kec. Sendana Kab. Majene sampai pensiun (1976-1998). Masa sebelum dan sesudah pensiun tak ada beda, Muis Mandra tetap aktif dalam gerakan-gerakan kebudayaan dan pendidikan, suatu yang jarang dilakukan orang-orang (itulah kehebatan Muis Mandra). Ada banyak karya tulisanya, sehingga kepadanya layak disematkan sebagai penulis paling produktif di tanah Mandar. Dari sekian puluh karya-karyanya, yang bisa dilacak antara lain: Pattuqduq dari Mandar (1975), Cerita Rakyat dari Mandar (1984) Inventarisasi Transkripsi Penerjemahan dan Penulisan Latar Belakang Naskah Kuno Lontar Mandar (1985), Buraq Sendana (1985) kumpulan puisinya berbahasa Mandar, Silsilah Pattola Adaq/Pattola Payung di Mandar (1985), Tomanurung di

60

Mandar dalam Tinjauan Syariat Islam (1985), Transkripsi Terjemahan dan Analisis Tui-Tuing di Sendana (1985), Lontar Mandar (1986), Masuknya Agama Islam di Mandar (1987), Istilah Ata Mateqne dalam Lontar Gowa yang Dikaitkan Mandar (1987), Suku Mandar dalam Hubungan Kekerabatan (1987), Semangat Bahari di Mandar (1987), Lingkungan Hidup dalam Pandangan Pemerintahan Tradisional Mandar (1987), Siriq di Mandar dalam Tinjauan Syariat Islam (1987), Masalah Mahar di Mandar (1987), Beberapa Perjanjian dan Hukum Tradisi Mandar (1987), Pengaruh Kebudayaan Islam di Mandar (1988), Berbagai Kajian Masalah Budaya dan Agama di Mandar (1988), Sejarah Perjanjian Tamajarra dan Lahirnya PUS (1988), Balao anna Posa (Dongeng Anak-Anak, 1988), Hubungan Sejarah Mandar Lembah Kaili (1988), Sejarah Pertemuan Mandar Bone dan Kompeni di Ujung Pandang (1989), Rumah Tradisional Mandar (1989), Pembinaan Budaya Mandar (1989), Ditirakkaqna Alang (Sastra Tradisional Mandar) (1989), Peranan dan Pengaruh Timbal Balik Syariat Islam dan Budaya Mandar dalam Perkawinan Adat Mandar (1989), Permainan Rakyat Siseppaq di Kel. Tototli (1989), Kewarisan Harta Bersama Suami Isteri dalam Rumah Tangga (1989), Pembinaan Budaya Mandar dalam Rangka Peningkatan Budaya Nasional (1989), Budaya Messawe Totammaq di Mandar dalam Tinjauan Syariat Islam (1990), Perkawinan Tradisional Mandar (1990), Mottiana Mandar (1990), Adat Istiadat Sendana (1990), Saqadawang (1990), Lolitang Mandar (1990), Mandar dan Bone dalam Lontar Mandar (1990), Sendana Sejemput Tahu (1991), Budaya Berzanji di Mandar dalam Tinjauan Syariat Islam (1992), Lontar Mandar (1992), Adat Istiadat Sendana (1994), Caeyana Mandar (1994), Sistim Sapaan dalam Bahasa Mandar (1995), Suro Tannipasanna To Mamunyu (1996), Dongeng dari Mandar (1996), Pameo dari Sendana (1996), Tomatindo di Sappalatteq (1996), Lontar Tappalang (1997), Loa Mapia Jilid I, II, III, IV, V, VI (Buku Pelajaran Bahasa Mandar dari Kelas I s.d. VI SD; 1997), dan Kerajaan Sendana (2001). Sebagai seorang budayawan besar Mandar, bila ada diskusi atau seminar tentang Mandar, tak sempurna bila tak menghadirkan Muis Mandra sebagai salah satu pembicara. Beliau adalah kamus berjalan tentang kebudayaan Mandar. Dalam kegiatan nasional pun beliau juga sering diundang, misalnya pertemuan masyarakat adat Nusantara, mewakili Mandar. Entah kapan saya mengenal secara pribadi Muis Mandra. Yang jelas, setiap saya mengadakan diskusi ke-Mandar-an, baik secara umum maupun khusus, saya selalu menghadirkan beliau sebagai pembicara, termasuk bedah buku-buku saya.

61

Misalnya bedah naskah Laut, Ikan dan Tradisi: Kebudayaan Bahari Mandar (2002) dan buku Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut? (2004), keduanya di Tinambung; bedah buku Orang Mandar Orang Laut: Kebudayaan Bahari Mandar Mengarungi Perubahan Zaman di tokobuku Gramedia, Yogyakarta (2005); dan diskusi sandeq (bersama Horst H. Liebner) di Tinambung 2007 silam Beliau pribadi yang terbuka dan memberia perhatian positif pada kegiatan pemuda yang bergerak dalam kegiatan budaya. Juga dikenal memegang prinsip dan memberi kritikan tajam bila sesuatu itu tak sesuai dengan prinsipnya. Beberapa hari setelah saya tiba di Makassar (dari Malaysia dan Jawa), saya menanyakan kabar Muis Mandra kepada paman saya, Suradi Yasil. Beliau mengatakan sedang sakit. Anggapannya di Majene, tapi ternyata di Makassar. Untung saya masih di Makassar, maka saya pun meniatkan untuk menjenguknya. Sakitnya yang dulu (gara-gara kecelakaan) saya tak sempat menyenguk, kali ini harus. Senin, 13 Juli 2009, RS Pelamonia, di salah satu kamar di lantai tiga. Di dalam kamar ada dua pasien, didampingi kerabatnya. Muis Mandra ditemani istrinya dan anaknya, Srikandi. Saya sudah akrab dengan anaknya (pernah mengantar bapaknya ke Yogya untuk diskusi buku Orang Mandar Orang Laut), istrinya baru pertama kali ketemu. Pak Muis terbaring di atas ranjang. Pandangannya nampak kosong, tapi mata tajamnya tak lekang. Wajah tak terlihat kurus. Rambutnya agak gondrong, meski di dahi tampak botak. Saya memperkenalkan diri. Awalnya dia lupa, tapi lama kemudian beliau ingat. Belakangan, dalam pembicaraan dengan beliau, selalu mengatakan “Kamu Ridwan kan?”. Anaknya juga sering bercanda (untuk memastikan kesadaran ayahnya), “Tahu siapa dia kan?”, Pak Muis selalu bisa menjawab “Ridwan, keponakannya Suradi”. Saya, istri, dan anaknya tersenyum. Menurut istrinya, bila ada penjenguk yang datang dan kemudian bicara tentang kebudayaan Mandar, suaminya seperti bukan orang sakit. Ya, saya pun membuktikannya, ketika saya mewawancarainya dengan kamera video (dalam rangka pembuatan film dokumenter beberapa budayawan Mandar, salah satu proyek jangka panjang saya). Dengan lancar Pak Muis menjawab. Tapi bila tak diajak bicara, pandangannya kembali kosong. Secara pribadi saya mengidolakan beliau, sebagaimana teman-teman yang juga bergerak dalam bidang dokumentasi budaya Mandar, misalnya Idham Khaldi Bodi yang juga sering menjenguk Pak Muis di waktu sakitnya terdahulu. Bahagia

62

rasanya bisa mengenalnya secara pribadi. Kesempatan yang jarang didapatkan. Bila membandingkannya dengan Husni Djamaluddin dan Baharuddin Lopa, menurut saya, peran Muis Mandra dalam sejarah dan budaya Mandar lebih besar. Ya, beliau lebih banyak menerjemahkan lontar dan menulis budaya-budaya Mandar. Juga lebih membumi dengan generasi dibawahnya. Tapi karena Muis Mandra tak bermukim dan berkarya di Makassar atau Jakarta, maka secara nasional beliau tak dikenal. “Apa cita-cita terbesarnya pak yang belum tercapai”? Jawabnya, “Saya mengidamkan semua orang Mandar mengetahui apa itu Mandar”. Ya, itu citacita seorang Abdul Muis Mandra. Bukan hanya cita yang dipendam, beliau memperjuangkannya. Rumahnya terbuka 24 jam bagi orang-orang yang ingin belajar tentang budaya dan sejarah Mandar; waktunya, meski secara fisik tak mampu lagi, beliau curahkan untuk mendokumentasikan sejarah dan kebudayaan Mandar. Seribu Muis Mandra akan lahir di kemudian hari di tanah Mandar! Wafat Mandar berduka. Mandar kehilangan putra terbaiknya. Abdul Muis Mandra wafat selepas azan Magrib di Makassar, Sabtu, 24 April 2010. Setelah dirawat di tiga rumah sakit, yakni RSU Majene (tidak sampai sehari), RSU Polewali (lima hari), dan RS Faisal Makassar (sekitar tujuh hari). Menemukan “kesimpulan” kehebatannya saya rasakan saat ini, di ruang 3x4 meter. Tak ada AC, tak ada kipas. Atap seng tidak sampai dua meter di atas ubunubun. Ya, panas di sini. Tapi bagi orang yang haus akan ilmu ke-mandar-an, akan sejuk berada di sini. Akan merasakan ‘trance’ atau ‘ekstase’. Atau, bagai bajak laut yang berada di tumpukan emas berlian. Ada tiga lemari kayu, satu meja kas, dan beberapa dos. Di lemari, ‘emas-berlian’ itu berada: ratusan naskah, buku, makalah koleksi Muis Mandra (MM). ‘Emas’ ada 22 karat, ada 24 karat. Yang saya maksud adalah, beberapa dokumentasi atau karya MM amat penting. Seperti naskah-naskah lontar (fotokopi). Sayangnya saya tak bisa membaca huruf lontar. Walau demikian, dari juduljudul sampul serta ilustrasi di dalam, bisa ditebak apa isinya: tentang pembuatan rumah di Mandar, tentang kalender “palakia”, tentang pernikahan, tentang adat, tentang kerajaan-kerajaan di Mandar, dan puluhan “tentang Mandar” yang lain. Mendokumentasikan itu semua pasti dilakuka oleh orang telaten, tekun, cerdas, dan ikhlas. Itulah MM.

63

Beliau lahir di Lakkaqding, desa kecil di Kecamatan Sendana pada 27 Agustus 1938. Sekitar 350 km dari Makassar atau 50km dari Majene ke arah utara. Dari kediamannya di Somba, sekitar 20km. Rencananya beliau akan dimakamkan di tanah kelahirnya, berdasar wasiatnya. Melihat curriculum vitae-nya, beliau biasa-biasa saja. SR – IAIN Alauddin Makassar. Tak ada pelatihan-pelatihan motivasi, pelatihan menulis, pelatihan riset. Tapi, itulah hebatnya beliau. Secara otodidak, beliau mengabdikan hidupnya pada dunia penerjemahan lontar-lontar Mandar dan untuk kemudian menuliskannya. Tentu latar belakang sebagai guru ada pengaruh, tapi itu bukan faktor utama. Bukankah ada ratusan guru di Mandar? Tapi koq “hanya” MM yang bisa melakukan ketekunan yang luar biasa ini? *** Saya duduk di sofa robek. Pantatku hampir menyentuh lantai sebab karetnya tak mumpuni lagi. Di belakangku, di dalam salah satu rak lemari, di bagian paling bawah, karya-karya ’24 karat’ berada. Dijilid rapi dengan kertas putih bak skripsi, ditemani kotoran tikus. Beberapa diantara emas-emas itu adalah Semangat Bahari di Mandar, Masalah Mahar di Mandar, Pelajaran Bahasa Mandar (beberapa edisi), Sistem Sapaan Bahasa Mandar, Siriq di Mandar, Ditirakkaqna Alang, Sendana Sejumput Tahu, Muttiana Mandar, Caeyana Mandar, dan puluhan naskah lain. Dari buka satu-dua naskah, yang kebanyakan diketik manual, ada karya sendiri, ada bersama teman-teman, ada berupa kumpulan makalah-makalah seminar atau diskusi, dan terjemahan lontar. Artinya, apa yang dilakukan MM adalah aktivitas pendokumentasian naskah tentang Mandar! *** MM seorang rapi dan teliti. Dilemarinya ditempel daftar isi lemari. Misalnya lemari yang menghadap ke pintu (ruangan ini berada di samping kanan ruang utama) ada “Index Map dalam Lemari”. Isinya: 1. Berkas PNI Marhaenisme, 2. Berkas sda (maksudnya sama dengan di atas), 3. Berkas AMAN SULSEL MANDAR (beliau mewakili Mandar dalam Aliansi Masyarakat Adat Nusantara), … 43. Berkas Penyusunan Naskah Drama. Sendana Juli 2008 A. M. Mandra Di lemari lain, pas dekat pintu, juga ada daftar yang sama. Juga ‘emas 24 karat’, tulisan-tulisan tentang kebudayaan Mandar dan Sulawesi Selatan. Juga ada tulisan tangan di atas kertas kekuning-kuningan (pasti sudah lama ditulis). Tulisannya indah. Isinya “Perhatian”. 1) Dilarang keras mengeluarkan barang apapun dalam lemari 64

tanpa seizin pemiliknya, 2) Jika ada yang sangat perlu meminjam harus langsung pada pemiliknya (tidak boleh selain pemiliknya) dan harus menandatangani bon atau buku pinjaman, 3) Khusus anak-anak di rumah, boleh pakai cassete atau baca-baca buku dengan syarat sehabis pakai atau baca, harus langsung kembalikan ke tempatnya semula, hingga susunan dan letaknya tidak berubah. Pemilik A. M. Mandra. *** MM adalah pahlawan bangsa Mandar! Dengan penanya beliau menuliskan sejarah dan kebudayaan Mandar. Dengan lisannya, beliau melakukan dakwah dan melawan ketidakadilan. Beliau pemimpin (tanpa mahkota) yang diidealkan Mandar: tak nyenyak tidur memikirkan Mandar. Sampai sakitnya pun beliau terus menekuni aktivitasnya, dibantu anak-cucunya. Menyesal terlambat mengenal beliau. Perkenalan intens secara langsung baru terjadi ketika saya mengundang beliau menjadi pembahas buku pertama saya “Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut� pada tahun 2004 di Tinambung untuk kemudian mengundang kembali membahas buku “Orang Mandar Orang Laut� di Tokobuku Gramedia Yogyakarta. Pak Muis (MM) adalah sahabat sejati paman saya, Suradi Yasil. Darinya, saya banyak diceritakan tentang sosok seorang MM. Dari beberapa teman saya yang masih tergolong kerabat MM, juga banyak mendapat kisah tentang MM. Rata-rata menceritakan tentang kecerdikan seorang MM. Ya, beliau cerdas dan termasuk orator yang baik. Pendiriannya pun keras. Jadi, sering berdebat dan bantahbantahan dengan pembicara lain dalam diskusi. Walau jauh umur dan level dari MM, MM seorang yang sangat baik terhadap generasi muda. Apalagi kalau berbicara tentang kebudayaan, bisa dikatakan MM tak akan menolak. Seringkali beliau naik motor sendiri dari Somba ke Tinambung hanya untuk menghadiri diskusi. Di luar acara diskusi, MM menyempatkan main domino bersama sahabat-sahabatnya di sekitar Pasar Tinambung. Walau MM putra Sendana, tapi beliau sangat mencintai Balanipa. Demikian juga putra-putra dari Balanipa, amat menghormatinya. MM orang yang sangat tahu sejarah, jadi jangan heran bila pendapatnya adalah sesuatu yang benar; yang seringkali berlawanan dengan arus utama (mainstream). Sebagai misal nama Provinsi Sulawesi Barat, beliau lebih memilih istilah Provinsi Mandar. Demikian juga dengan lokasi taman budaya, beliau berpendapat di Balanipa-lah tempatnya. *** 65

Saya berhutang terhadap MM. Belum saya bayarkan saat ini. Waktu beliau terbaring sakit di salah satu rumah sakit di Makassar (Juli 2009), saya berjanji untuk datang ke kediamannya untuk mendokumentasikan dalam bentuk audio visual kehidupan sehariharinya. Juga telah merencanakan untuk membuat tulisan memperingati 72 tahunnya. Tapi itu tak kunjung-kunjung saya lakukan sampai hari ini karena berbagai kesibukan. Seperti biasa, rasa sesal baru muncul ketika “nasi menjadi bubur”. Memang sih tetap bisa membuat dokumenter tentang MM, tapi akan lebih sempurna ketika beliau masih bisa menjadi narasumbernya. MM telah pergi, apa yang harus kita dilakukan? MM adalah sosok hebat di Mandar. Beliau pantas menjadi panutan-teladan bagi generasi muda. Beliau bisa dijadikan “tonggak” yang menjadi penanda bahwa Mandar juga melahirkan orangorang hebat. Itu bukan untuk bangga-bangga semata, tapi bisa menjadi “pride” (kebangaan) bagi kita, agar kita percaya diri di tengah bangsa ini. Selama ini kita hanya punya satu-dua “tonggak” hebat di era sekarang, yakni Baharuddin Lopa, Husni Djamaluddin. Bila melihat dari sumbangsih terhadap Mandar, khususnya dalam pendokumentasian sejarah dan kebudayaan Mandar, sosok MM jauh melampaui Baharuddin Lopa dan Husni Djamaluddin. Kabupaten Majene patut berbangga memiliki MM. tapi jangan kebangaan semata. Setelah kematian MM, harus ada yang melanjutkan cita dan semangat MM, yakni mendokumentasikan Mandar. Bila pemerintah Majene betul-betul peduli, harus ada penanda atau penghormatan terhadap jasa-jasa MM, misalnya ada nama Jl. Muis Mandra, ada perpustakaan Muis Mandra, dan melanjutkan menerbitkan karya-karya Muis Mandra (dengan kualitas yang lebih baik). Tulisan ini saya tutup dengan mengutip pesan pendek (SMS) dari Pak Khalid yang saya terima menjelang akhir tulisan ini “Muis Mandra menuju NUR ALA NUR: CAHAYA MAHA CAHAYA, tangga Al Fateha mengantar beliau menuju MI’RAJIL JANNAH”. Tombo Palua Ahlinya Calong Tombo Palua (atau Padzua) namanya. Pandai menyanyikan lagu Mandar bergenre “tipalayo” dan “piondo”, yaitu lagu mendayu-dayu yang didendangkan seseorang yang merindukan kekasihnya atau saat menidurkan bayi. Tombo Palua (ada yang menulis Padzua) adalah seorang seniman unik di Mandar. Bila berdasar kartu keluarga, dia lahir pada 1 Juli 1937. Dia meragukan persis

66

lahir pada tanggal itu, tapi memang lahir di akhir tahun 30-an. Buktinya, ketika tentara Jepang hadir di Indonesia, dia sudah remaja. Tombo Palua selalu mengenakan passappu. Ini adalah penutup kepala yang jamak digunakan kaum lelaki di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat di masa lalu. Saat ini hanya satu dua yang masih mengenakannya di Mandar. Jika ke Kajang, Bulukumba, kebiasaan mengenakan passappu ini masih terlihat di kalangan lelaki dewasanya. Dalam seni tradisi Mandar, Tombo Palua bisa dikategorikan ahli. Selain menyanyi lagu-lagu kuno Mandar, juga lincah menari “denggoq”, memainkan alat musik “calong”, meniup “paluppung”, dan melucu bila beraksi di panggung. Itulah kekhasan Tombo atau akrab disapa “Kamaq Kardi” (nama anak pertamanya Kardi). Tombo penari “denggoq” paling tua di Mandar. Tarian denggo’ amat bersa­ haja, tidak ada pakaian khusus bila akan menarikannya. Satu-satunya alat yang biasa dibawa pa’denggo’ yang juga merupakan salah satu sumber musik dalam menarikannya adalah dua pasang sendok makan (dulu menggunakan sendok porselen dari Cina). Sendok makan tersebut dimain-mainkan di kedua tangan sambil tubuh bergerak menari-nari. “Denggoq” bisa dimainkan di atas panggung atau di lapangan, khususnya ketika ada acara “saeyyang pattuqdu” (kuda penari). Tampak benar karakter Tombo Palua ketika menari. Selain tubuh bergerak dinamis, matanya juga ikut menari-nari mirip penari Bali. Tapi mata Tombo Palua laksana mata lelaki yang menggoda sang gadis. Hal tersebut menjadikan tariannya selalu diselingi tawa penonton. Belum lagi bila Tombo Palua meniru-niru gerakan orang pincang. Tombo punya banyak saudara. Paling tidak dia memiliki 10 saudara dari isteri kedua bapaknya. Dia sendiri semata wayang dari isteri pertama bapaknya. Bapaknya ber­ na­­ma Palua dan ibunya bernama Kamuq. Tombo Palua menikah pada zaman pemberontakan DI/TII yang di Mandar dikenal dengan istilah “gorilla” di daerah pengungsian (pedalaman Mandar). Dari pernikahannya dengan Baicci’, Tombo Palua memiliki 7 anak, tiga di antaranya sudah meninggal dunia. Pada tahun 1980-an, sebagaimana kebanyakan laki-laki Mandar, Tombo Palua pergi merantau ke Kalimantan Timur, yaitu di daerah Biduk-biduk. Selama lima tahun dia bekerja sebagai penggergaji kayu. Kemudian dia balik ke Mandar untuk berkebun coklat di daerah pedalaman. Lalu pada tahun 2006, dua seniman muda Mandar, Sahabuddin dan Dalif sewaktu masih kuliah di Universitas Negeri Makassar, menyadari peran penting Tombo Palua

67

dalam khazanah kesenian tradisi Mandar. Maka Tombo Palua pun diajak turun gunung. Dia diminta mengajarkan teknik permainan dan sejarah “calong”, baik kepada mereka berdua maupun anak-anak sekolah dasar. Disadari atau tidak, maraknya penggunaan alat musik “calong” dewasa ini, baik sebagai mata pelajaran kesenian di SD hingga permainan “calong” secara kolosal di PORDA I Sulawesi Barat beberapa tahun lalu tak lepas dari pewarisan ilmu Tombo. Muasal calong Sahabuddin Mahganna, etnomusikolog Mandar, pernah melakukan penelitian tentang alat musik “calong”, alat musik yang amat dikuasi Tombo Palua dan Tombo adalah informan penting dalam riset tersebut. Menurut Ka’dara, dalam hasil penelitian Sahabuddin, “calong” itu “Tappa calong tomo tia disangangangi” (Memang langsung dinamakan “calong”) dan mengapa berbilah empat sebab “Keempat bilahan itu adalah simbol “Appeq Banua Kayyang”) (jumlah “banua” yang membentuk Arajang Balanipa, yaitu Mosso, Napo, Samasundu dan Todang-todang). Adapun menurut Tombo menguraikan bahwa “calong” adalah simbol kebangsaan orang Balanipa, sebab melihat dari bentuk dan bagian instrumennya yakni pada bilahan dan ruang resonansinya. Dia juga tidak mengetahui orang pertama memberi nama itu. Tombo menambahkan, “Tillong-tillong tangnga wongi” (suara mendayu-dayu di tengah malam). Bila menganggap “calong” identik dengan alat musik calung di Sunda, yang merupakan varian dari angklung agak kurang tepat. Angklung dimainkan dengan cara menggoyangnya sedang “calong” dipukul-pukul. Alat pemukul, berupa dua kayu kecil dipukulkan pada ruas-ruas bilah bambu yang tersusun menurut tangga nada pentatonik (da-mi-na-ti-la). Informan Sahabuddin yang lain, yakni Sakai menguraikan, bahwa “calong” hadir bertepatan dengan adanya praktek petani atau pekebun Mandar yang mengisi waktu senggang di kala menjaga kebunnya. Pendapat agak ilmiah dikemukakan pemain “calong” yang juga pengerajin tali di Lambe, Karama, yaitu Abdullah atau Kamaq Salding. Menurut orangtuanya, cikal bakal “calong” tidaklah menggunakan buah kelapa sebagai landasan bilah bambu atau ruang resonansi, tetapi di paha si pemain. Saat di rasa paha tidak maksimal, kaku dan sakit dalam waktu lama, maka digunakanlah buah kelapa. Pendapat yang sama dikemukakan oleh budayawan Nurdin Hamma. 68

Bila memang cikal bakal “calong” adalah hanya bilahan bambu yang diletakkan di antara kedua paha, itu mirip dengan alat musik yang di Bugis disebut “gandonggandong” sedang di Mandar istilahnya “gandi-ganding”. Dan mengapa hanya empat bilah? Menurut saya, yang juga dituliskan Sahabuddin dalam hasil risetnya, bahwa irisan tempurung kelapa (yang akan menjadi ruang resonansi) hanya bisa menampung empat bilah (nada). Mungkin lain ceritanya bila ukuran kelapa di Mandar lebih besar dua kali lipat dengan yang sekarang; mungkin bilahnya lima atau enam. Kesimpulannya, menurut Sahabuddin, alat musik “calong” adalah hasil pengembangan “gandi-ganding” yang diperkirakan sebelum abad ke-15. Sedangkan pengembangannya menjadi “calong” diperkirakan di awal peradaban Arajang Balanipa (abad ke-15). Disebut “calong”, mungkin berasal dari dua kata “caq” dan “long”. “Caq” itu bunyi yang dikeluarkan saat pemukul mengenai bilah dan “long” berasal dari kata “tillo-tillong” (suara mendayu-dayu) atau unsur bunyi alat musik yang menghantar getaran tabuh inti instrumen itu sendiri. Sedangkan “calong” secara terminologi adalah sebuah alat musik tradisional Mandar yang termasuk jenis musik idiofon. Berfungsi menciptakan suasana riang serta memberi isyarat terhadap sesama, baik itu di kebun maupun di lingkungan masyarakat. Alat musik lain yang dikuasai Tombo adalah “palluppung” atau “keke” berukuran besar. Dalam bahasa Bugis disebut “panoni” atau “katinting”. Alat tiup ini semacam klarinet yang biasa dibuat pada musim panen dari batang padi yang dibuatkan lidah-lidah getar dan dilengkapi corong dari daun kelapa. Alat musik ini juga jamak digunakan para petani dan penggembala kerbau di Mandar. Hidup bersahaja Saat ini Tombo Palua dan isterinya tidak berkebun lagi karena sudah tua. Mereka berdua bersama seorang anaknya kembali tinggal di Oting, dusun kecil berjarak 2 km dari jalan trans-Sulawesi (sekitar 285 km dari Makassar). Aktivitas kesehariannya membuat gerabah, mulai “pallu” (tungku), “balenga litaq” (panci berbahan tanah), hingga “panjjepang” (semacam piring dari tanah untuk digunakan membakar ampas ubi kayu yang akan dibuat makanan “jepa”). Rumah Tombo Palua amat bersahaja. Ruang tamunya khas rumah kampung: satu set ranjang, di dinding tertempel beberapa foto artis bekas kalender, foto

69

(kopian) ukuran kecil gambar Arung Palakka bersama wali, dan beberapa kalender tua, dan poster kampanye beberapa politikus. Juga ada lemari yang berisi beberapa alat musik tradisional Mandar, fotofoto pementasannya, dan sepasang sepatu kulit. Di depan pintu masuk rumahnya terdapat tiga set alat musik calong yang tampak ramai dengan hiasan benang warna-warni dan selembar bendara merah putih yang tampak jamuran. Di tengah kesederhanaan rumahnya, itu tak membuat para pemerhati seni enggan datang berkunjung, baik bersilaturrahmi maupun untuk menuntu ilmu. Murid-murid Tombo yang saat ini telah mengabdi sebagai guru, misalnya Ishaq di SMA 2 Majene dan Sahabuddin di SMA 1 Tinambung, sering membawa datang siswa-siswanya untuk belajar langsung teknik dan sejarah musik “calong” dan keterampilan membuat alat rumah tangga dari tanah liat ke Tombo Palua. Tombo pun dengan senang hati menerima dan mewariskan ilmunya. Tombo tidak hanya mengajarkan ilmu ke “timba yang mencari sumur”, tapi juga murid-murid yang dia rekrut langsung, yaitu anak-anak kecil di sekitar rumahnya, yang masih terhitung cucunya. Perangkat hadat sekaligus artis Tak banyak yang tahu, di tengah sosok sederhananya, ternyata Tombo juga seorang perangkat adat Kerajaan Balanipa. Pada pelantikan Arajang Balanipa ke-54, Tombo termasuk orangtua yang menentukan protokoler acara. Dalam hadat, dia digelari “Tomabubeng Limboro”. Menurut Sjarbin Sjam (Bunga Rampai Kebudayaan Mandar dari Balanipa, 1997), Pepuangan dan Tomabubeng Limboro anggota Hadat Balanipa atau pemimpin “banua” yang tidak termasuk “Appeq Banua Kaeyyang” (Napo, Mosso, Samasundu, dan Todang-todang). Intinya, peran Tombo Palua amat penting dalam beberapa prosesi budaya Kerajaan Balanipa dan sebagai tempat bertanya aturan-aturan tradisional untuk beberapa upacara. Sayangnya, saat ini, proses yang berdasar pola kepemimpinan tradisional tidak berjalan lagi, sehingga peran-perang perangkat hadat cenderung seremonial saja. Di tengah posisinya sebagai seniman senior, penting, dan termasuk perangkat hadat Kerajaan Balanipa, tidak serta merta Tombo memiliki sikap egois. Sebaliknya, dia sangat membumi dan bergaul layaknya sahabat dengan seniman-seniman muda yang bisa dianggap cucunya. Tombo hampir tak pernah menolak bila diundang memainkan keterampilannya, baik menari, menyanyi, hingga bermain musik. 70

Bukan hanya itu, bermain film pun Tombo Palua sudah pernah. Salah satu film yang diproduksi Komunitas Indie Tia berjudul 45!!! menjadikan Tombo Palua sebagai tokoh utama. Tombo diajak bermain sebab dia memang bisa akting, berbeda dengan seniman-seniman tua lainnya di Mandar. Sebagai pemain musik dan penyanyi pun Tombo terlibat dalam pembuatan film dokumenter. Beberapa film fiksi dokumenter yang diproduksi Studio Teluk Mandar menggunakan musik Tombo, baik nyanyian “tipalayo-nya”, tiupan “palluppung-nya” (45!!!, Tammejarra) maupun lagi penidur bayi (“Kanneq Sando”). Lalu pada tahun 2008, rumah produksi film dokumenter untuk acara film dokumenter di stasiun TV NHK, Jepang, pernah datang ke Mandar untuk merekam nyanyian “tipalayo” oleh Tombo dengan iringan permainan “kacaping” Ka’musa. Penghargaan Sebagai pekerja senin yang intens dijalani selama puluhan tahun, amat layak seorang Tombo Palua dihargai oleh pihak lain, baik pemerintah, pemerhati budaya, maupun generasi pelanjutnya. Pada Festival Seni Tradisional Sulawesi Selatan di Makassar pada 29-31 Desember 200 yang terlaksana atas kerjasaman Disbudpar Sulsel, Badan Kerjasama Kesenian Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan dengan Meditatif Audiovisual Documentation, Tombo Palua menerima penghargaan sebagai pemain alat musik tradisional “calong”. Waktu itu, Tombo direkomendasikan oleh Komunitas Seni Tradisi Assamalewuang Mandar yang digawangi Sahabuddin dan Dalip. Kemudian pada September 2009, Tombo bersama seniman tradisi yang lain (Cammana, Marayama, Satuni, Ka’adara, dan Madan) kembali menerima penghargaan dari Forum Sipakaraya, yaitu Anugerah Sipakaraya. Anugerah tersebut didedikasikan untuk para individu atau organisasi yang terbukti mengabdikan dirinya pada bidangbidang tertentu, mulai dari dunia seni, pendidikan, teknologi, dan lingkungan hidup. Adapun Forum Sipakaraya adalah organisasi yang menghimpun beberapa lembaga kesenian di Tinambung dan sekitarnya yang peduli pada sikap saling menghargai dan bekerja sama dalam pengembangan dan pelestarian dunia seni-budaya Mandar. Kehidupan dan keterampilan sosok seperti Tombo Palua adalah harta tak bernilai. Ironisnya, Tombo Palua dan seniman yang menggeluti alat-alat seni tradisional, banyak yang terpinggirkan. Mereka hanya dijadikan sebagai penghibur, misalnya penyambutan pejabat. Ya, mereka adalah penghibur, tapi sejatinya mereka menjadi bagian mata rantai dari tradisi berkesenian yang berawal ratusan tahun lalu.

71

Bukan hanya itu, pengetahuan yang mereka miliki bisa menjadi salah satu sumber inspirasai dalam mempelajari persilangan budaya di nusantara. Seorang Tombo Palua memang bukan hanya milik orang Mandar. Kacaping dan Marayama Instrumen “kacaping” (kacapi) sangat digemari masyarakat suku-suku di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Tentu beda kuantitas penggemar dulu dan sekarang. Itu jugalah yang mempengaruhi semakin berkurangnya pemain kecapi saat ini. Kata “kacapi” dan “kacaping”, menurut Christian Pelras (Manusia Bugis, hal. 227) diambil dari kata Sansekerta. Walau dalam beberapa kamus (misalnya entri “kecapi” di www.wikipedia.com) kecapi digolongkan ke dalam alat musik khas Sunda, tapi kecapi orang Mandar atau orang Bugis tidak tergolong kedalamnya, sebab yang dimaksud kecapi orang Sunda adalah sejenis alat musik sitar (dengan banyak senar). Kecapi Mandar alat musik yang dawainya hanya dua (berdawai ganda). Oleh para ahli musik (etnomusikolog) digolongkan alat musik berbentuk perahu karena lehernya berbentuk “anjong” (haluan) perahu. Kecapi Mandar memiliki kemiripan dengan berbagai jenis instrumen serupa, baik di Pulau Sulawesi maupun di luar itu. Orang Batak menyebutnya “hasape”, orang di pantai barat daya Sumatera menyebutnya “kucapi”, orang Ngaju menyebutnya “kanjapi”, “sape” oleh orang Kenyah-Kayah di Kalimantan, “kusyapig” oleh orang Palawan (Filipina), dan “kudyapig” oleh orang Mindanao (juga orang Filipina). Menurut Gorlinski (dalam “Some Insight into the Art of Sape Playing”, The Sarawak Museum Journal, 1988), prototipe alat musik yang berasal dari India tersebut diperkenalkan ke Asia Tenggara pada periode Hindu-Budha, dan dapat dilihat pada relief di yang dibuat pada abad kedepan. Pengetahuan masa lampau itu terwariskan oleh para pemain kecapi, yang masa sekarang amat jarang. Bila dalam bahasa pelestarian lingkungan hidup, mungkin disebut “sangat langka”. Salah satu sosok yang selama puluhan tahun bergelut dengan dawai “kacaping” adalah Marayama. Jumlah “pakkacaping” (pemain) “kacaping” (kecapi) di tanah Mandar bisa dihitung jari. Khusus di kawasan Balanipa, yang eksis hanyalah Marayama dan Satuni (Tandassura), Ka’dara (Tammejarra), Ka’musa (Taloloq), Baharuddin (Galung Tulu) dan Pakai (Botto). Kecuali Ka’musa (Baharuddin dan Pakai belum pernah saya lihat langsung) yang

72

belum berumur 50 tahun, lainnya telah lanjut usia, khususnya Marayama. “Saya menjelang puber saat pesawat tempur bergelar La Bolong sering menjatuhkan bom di Mandar”, ungkapnya suatu waktu. Konon, “kacaping” di Mandar terinspirasi dari perahu. Itulah sebabnya bentuk “kacaping” mirip perahu. Adapun posisi memainkannya laksana menggendong bayi. Tak heran bila beberapa pemain “kacaping” memperlakukan “kacaping”nya seperti seorang bayi. Lain lagi dengan legenda di Bugis. Konon kecapi pertama kali dibuat oleh pelaut yang terinspirasi bunyi tali tiang layar. Dia lalu memasang tali ke dayungnya sebagai cikal bakal kecapi. Belum diketahui kapan pertama kali tradisi permainan “kacaping” di Mandar dimulai. Dalam pelacakan tradisi lisan (wawancara), pemain-pemain “kacaping” di Mandar yang hidup saat ini hanya bisa merunut sampai awal tahun 1910-an. Para “pakkacaping” Paling tidak ada dua jenis “pakkacaping” di Mandar, yaitu “pakkacaping tobaine” (pemain kecaping oleh perempuan) dan “pakkacaping tommuane” (pemain kecaping oleh laki-laki). Tak ada perbedaan besar antar keduanya, kecuali atas dasar gender. Meski demikian, dalam irama lagu dan petikan, ada beda. Biasanya yang laki-laki tinggi di nada awal, sedang perempaun nanti di bagian akhir baru tinggi. Berikut beberapa pemain “kacaping” di Mandar. Namanya I Pasoq, seorang legenda pemain “kacaping” era tahun 20-an sampai 30-an. Lahir di Manjopaiq, Karama. Menurut Marayama yang menonton kepiawaian I Pasoq “makkacaping” (bermain kecapi) saat dia masih kecil, I Pasoq memperagakan gerakan-gerakan tangan dan tubuh yang lebih hidup ketika bermain kecapi, dibandingkan pemain sebelumnya. Seringkali, sambil bermain “kacaping”, dia bergeser ke arah para peqoro atau penonton. Istilahnya, dia bermain atraktif. Kekhasannya yang lain, dia memelihara rambut panjang, sesuatu yang tidak lazim bagi pemain kecapi pada zamannya. “Seperti Ka’musa atau Sahabuddin”, ungkap Marayama dalam nuansa canda ketika menggambarkan sosok I Pasoq. Yang dimaksud Sahabuddin adalah etnomusikolog Mandar yang aktif mempelajari tradisi musik Mandar. Saat ini guru seni-budaya di SMA 1 Tinambung. Seangkatan I Pasoq, juga ada pemain “kacaping” dari Waitawar bernama Puaq Lissiq. Kemudian Kanna Dollah (kerabat H. Murad, pengusaha Tinambung).

73

Era 50-an sampai 60-an terkenal beberapa nama, seperti Sumaqati, I Joe (ibunda Cammanaq), I Tagi, I Anggang (perempuan, Parrebuang), I Kanda (murid Marayama) dan I Batiqna (Salarriq) (keduanya sering ke Makassar bersama Marayama). Permainan Sumaqati, putra Galung Lombok, (ada yang menyebut nama aslinya adalah Usman Ati) sangat digemari masyarakat. Sayangnya dia meninggal di sebuah kampung di Sulawesi Tengah. Konon kena kutukan dari benda-benda keramat (“poling”) yang dia buru. Adapun I Tagi, juga pemain kecapi tersohor pada masanya. Nama lainnya Kanna I Peyang. Lahir di Kampung Sumael, Kecamatan Limboro, Kabupaten Polman. Diperkirakan pertengahan tahun 20-an. Dia meninggal di Polewali pada 1980. Dimakamkan di Pekuburan Islam Manding Polewali. Namanya melambung tinggi di daerah Mandar dan di daerah- daerah yang dihuni oleh etnis Mandar. Dia dianggap orang yang memperkenalkan “Toloqna I Hadara”. Setelah era Sumaqati dan I Tagi, tradisi permainan “kacaping” dilanjutkan oleh Paragai (Saliboqo, Samasundu),. Dia juga pemain “kacaping” yang terkenal piawai dan memiliki banyak penggemar, khususnya di tahun 80-an sampai 90-an. Saat ini saya menyimpan salah satu rekaman permainan kecapingnya. Era berikutnya hingga saat ini adalah Marayama, I Anggang, I Mina, I Marasati, Lahawang, Lasana, Satuni (adik Marayama), Ka’dara, Baharuddin, Pakai, dan belakangan Ka’musa. Sebenarnya sih Marayama pemain lama, sudah bermain “kacaping” sejak zaman I Tagi. “Peqoro”, “Tede”, dan “Toloq” Biasanya, permainan “kacaping” diikuti kegiatan “peqoro” (harfiahnya: yang duduk). “Peqoro” adalah gadis yang diundang dan didudukkan di hadapan pakkacaping pada satu arena/panggung acara “pakkacapingang” (permainan kecapi). Biasanya lebih dari satu orang gadis. Acara “peqoroang” dilaksanakan pada malam hari dan biasanya berlangsung sampai larut malam. Busananya, busana adat tradisional, mengenakan “lipaq saqbe” (sarung sutera), “bayu pokko” berhiaskan “pattoqdoq ringgiq bulawang” (peniti dari ringgit emas), dan “dali dililliq beruq-beruq” (subang berlapiskan melati). Sang gadis kemudian “natede” (dipuji atau mengucap syair lagu secara spontan yang identik dengan sang gadis) oleh Si pemain kecapi sebagai dara nan jelita. Adapun “tede” (pujian) adalah ungkapan tradisional yang ditujukan kepada

74

gadis, dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Bagi yang mengiyakan “tede” yang dimaksud atau mengidolakan sang gadis yang duduk, dia akan naik ke arena dan melemparkan uang ke atas “kappar” (baki) yang terdapat di hadapan setiap gadis. Berikut contoh-contoh pujian yang dikemukakan pemain “kacaping” kepada gadis yang duduk didepannya: “Meppaleq letteq buras” (bertapak kaki bagaikan buras), “mekkalo-kalo ringgi” (berlekuk bagaikan ringgit emas), “meqambotiq talloq manuq” (bertumit bagaikan telur ayam), “membattis layallewu (berbetis bagaikan ikan layang yang bulat), “meqalelang turingan” (berselangkang bak ikan turingan ’sejenis tongkol’), “meppulokkoq bataq cina” (berpinggul bak bata cina), “messeqde balundake” (bagian samping tubuh bagaikan balundakeq ‘sejenis makananan’), “meqareq lappa-lappaq” (berperut bak panganan lappa-lappaq). Lainnya “meppondoq panggarrusang millor tandikattangngi” (berpunggung bagaikan setrika yang mengkilat tanpa diketam), “membowo leloq tedong” (berlengan bagaikan ekor kerbau), “messoe tallullatta” (mengayun lengan patah tiga), “messoe wattu baraq timor pai mendulu” (mengayun lengan di musim hujan di musim kemarau baru kembali), “naliliang salatang naqandar timo-timor” (dibawa terbang angin selatan, diantar angin timur), “menggarimi ca’ Talloq (berjari bagaikan rokok cap Telur), “membaro pammenangang pitunggereq” (berleher bagaikan pamenangang tujuh jenjang), “messadang teqbaq golla” (berdagu bagaikan potongan gula merah), “mellawe kuiq-kuiq” (berbibir bak kue kuiq-kuiq), “meppudung Ara’ mata puang” (berhidung Arab mata bangsawan), “meppilis janno talloq” (berpipi bagaikan telur goreng), “meqanning bua sappang” (berkening bak bua sappang), “mellindo arappuang” (berdahi arappuang), “mettalinga balao” (bertelinga bagaikan telinga tikus), “mimbeluaq saqbe bolong” (berambut bagaikan sutera hitam), “mequliq malotong mammis” (berkulit hitam manis’), dan “tiqudummu minynya-minynya” (ludahmu bagaikan minyak harum). Selain “tede”, jenis lagu “pakkacaping” yang lain adalah “toloq”. “Toloq” adalah kisah yang dilagukan. “Toloq” yang terkenal di Mandar antara lain “Toloqna I Haqdara”, dan “Toloqna I Sunusi”. “Toloqna I Hadara”, kisah nyata. Kisah asmara yang berakhir tragis. Darah si gadis cantik I Haqdara tumpah di ujung keris I Caqbullung, pemuda yang memujanya. Kematiannya mengakibatkan I Mattata pencinta I Haqdara mengamuk, melukai dan membunuh sejumlah orang. I Mattata terbunuh dalam keroyokan massa di Limboro. Sedangkan Toloqna I Sunusi, kisah hari- hari terakhir Sunusi. Perlawanan

75

dan tertembaknya Kamandang (Komandan) Sunusi, seorang pemimpin pasukan DI/TII di daerah Mandar yang dikenal dengan sebutan Pasukan Tande. Berasal, putera dan kelahiran Tande, Majene. Bersama beberapa orang anak buahnya di daerah Mandar, tidak mau menyerah kepada pemerintah RI, sementara sudah sebagian besar pasukan DI/TII kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Dengan pistol dan beberapa pucuk senjata laras panjang ia dan pasukannya bersembunyi di sebuah gua yang aman dari intaian dan gangguan orang, dua tiga tahun lamanya. Gua persembunyian terendus juga oleh intel petugas keamanan. Di bawah koordinasi S. Mengga, Komandan Kodim Todopuli Polmas, operasi yang dilancarkan oleh TNIAD, gua persembunyiannya di daerah Tande dikepung dan diserbu. Dalam kontak senjata pada hari Minggu, Sunusi tewas sebagai seorang kamandang pemberontak yang tidak pernah kenal menyerah. *** Memang pada dasarnya musik “kacaping” bertujuan menghibur, baik pada seorang individu maupun kolektif (masyarakat) tapi dia tidak dapat dipisahkan dari sastra lisan, baik yang bersifat ritual ataupun profan (sebuah tradisi masa lampau). Teks epos atau teks sejarah atau kisah-kisah (“toloq”), baik yang bersyair maupun yang berbentuk prosa, semuanya dilantunkan/dilagukan. Kadangkala teks-teks lisan yang disampaikan itu adalah kisah dari nenek moyang yang berasal ratusan tahun lalu. Misalnya epos La Galigo di Bugis, disampaikan lewat nyanyian yang salah satunya diiringi alat musik “kacaping”. Sayangnya di Mandar belum ada penelitian ilmiah tentang isi teks-teks isi lagu seorang “pakkacaping”. Yang dilakukan beberapa peneliti atau pemerhati kebudayaan muda saat ini, belum sampai pada riset mendalam tentang teks-teks nyanyian Marayama (atau pemain kecapi lainnya). Memang sebagian telah dikenal/diketahui isi syair, misalnya beberapa “toloq”, tapi sebagian besar lainnya belum. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan bahasa Mandar yang tergolong kuno (apalagi di telinga generasi sekarang) dan kosakata yang pengucapannya terpotong (agar sesuai dengan irama “kacaping”). Kisah Marayama Marayama seorang maestro permainan musik “kacaping”. Saat ini, bila melihat posturnya, mungkin tak terbayangkan beliau seorang pemain kecapi dan penyanyi lihai. Tubuhnya renta, bungkuk, kulit berkeriput, khas orangtua. Tampak lemah.

76

Tapi bila dia menggendong kecapi untuk kemudian memetik dawainya sambil bernyanyi, ada energi besar yang memancar. Ya, itu ciri khas para maestro. Seperti almarhum Ma’ Coppong, tubuhnya sangat lemah, tapi ketika menari, dia bagai sosok seorang gadis muda. Saat ini, Marayama tinggal di tengah “hutan” kebun coklat dan pohon kelapa, di kaki Bukit Timbu-timbu. Bila tak tanya-tanya, untuk menemukan rumahnya agak susah. Menuju rumahnya, bila dari Tinambung naik kendaraan bermotor melewati Desa Galung Lombok, Desa Renggeang, kemudian Desa Tandassura (sekitar 10km dari jalan trans Sulawesi di Desa Tandung). Antara mesjid dengan SD Tandassura, ada jalan setapak bercabang ke tengah ‘rimba’ kebun. Jalan berkelok-kelok, melalui satu-dua rumah panggung. Sekitar 300m dari jalan poros Tandassura atau 1km dari Sungai Mandar, rumah kayu sederhana Marayama terdapat. Di sekitar rumahnya terdapat rumah kerabatnya, termasuk saudara perempuannya , Satuni. Rumah Marayama amat bersahaja. Hampir semuanya kayu, berbahan bambu, kecuali dinding depan rumah berbahan seng. Pun tak ada listrik dirumahnya. Jadi bila malam hari menggunakan lampu minyak sebagai penerang. Marayama tidak tahu persis kapan dia lahir. Tapi dia sudah kanak-kanak saat penjajahan Jepang. Jadi saya perkirakan dia lahir pada tahun 30-an, era pakkacaping legendari, I Pasoq. Jadi kira-kira umurnya saat ini sekitar 80 tahun. Keluarga Marayama mempunyai beberapa saudara, semuanya bisa bermain kecaping. Mereka adalah I Yasi (perempuan), Lemba (laki-laki), Marayama, Satuni, Sapa (lakilaki, tahu main kecaping tapi tidak menjalani sebagai pekerjaan). Dari sekian bersaudara, kakak tertua (I Yasi) yang paling ahli main kecaping. Walau kedua orangtua Marayama bisa bermain kecaping, tapi I Yasi-lah yang mengajari adik-adiknya bermain kecaping. Bapak Marayama bernama I Jalaq (dari Kambaqjawa, Samasundu), ibunya bernama Maliaya (Galung, Majene). Sebab pergi berkebun, makanya pindah ke tempat sekarang. Sebelumnya tinggal di Renggeang, tempat Marayama lahir. Kedua orangtua Marayama juga tidak menjadikan kecaping sebagai jalan hidup. Beda dengan kakek Marayama. Dia seorang “paqgeso”, alat musik kuno khas Sulawesi Selatan dan Barat. Alat musik ini seperti biola, digesek-gesek. Biasa dimainkan di acara-acara sunatan, pernikahan. Saat ini alat musik tersebut telah punah. 77

Kakek Marayama bernama I Roa, orangtuanya (buyut Marayama) berasal dari Lombok dan Salabose (Majene). Selain seorang “paqgeso”, juga pembuat kecapi. Jadi waktu Marayama kecil, telah ada benda-benda yang menjadi teman hidupnya sampai tua. Selain dari orangtua dan kakaknya, Marayama juga mendapat pengaruh bermain “kacaping” dari kerabat yang masih terhitung pamannya, yakni Sumaati. Juga dari I Cicci, saudara ibunya. I Cicci ini punya kelebihan bermain kecaping siapapun teman duetnya, baik laki-laki maupun perempuan. Di masa-masa tuanya, I Cicci hidup bersama Marayama. Ketika I Cicci kena stroke (lumpuh separuh) saat buang air di kebun, Marayama (yang sudah tua waktu itu) pergi menolongnya. Selain mewarisi ilmu “makkacaping”, kepada Marayama, I Cicci juga mewarisi sebuah kecaping kuno yang saat ini tergantung di ruang tengah (dapur) Marayama. Suami pertama bernama Ba’durramang, anak buah Bandru (pimpinan “gorilla” yang sangat terkenal). Ba’durramang tewas di Kayumate, Mamuju. Awalnya Marayama ikut suaminya ke Mamuju, tapi dia balik ke Majene. Beberapa lama kemudian ada kabar suaminya tewas oleh pasukan Bugis, pimpinan Salla Kalluq, kena malam Ahad. Kemudian Marayama kawin lagi dengan Ba’as tapi cerai sebab si Ba’as suka kawin cerai. Baik Ba’durramang maupun Ba’as orang Tandassura. Waktu bersama Ba’durramang, Marayama tinggal di Puppengaq. Dari pernikahannya, Marayama tidak memiliki keturunan. Itulah musabab dia disappa “Kanneq Manang” (manang = tamanang, mandul). Mungkin generasi sekarang itu seperti ejekan, tapi sebenarnya hal yang umum. Malah ada raja di Mandar yang namanya berdasar pada kekurangan dirinya, misalnya Tokape dan Andi Depu (kata “depu” berasal dari kata “arepus” yang berarti jelek). Era sebelum tahun 90-an, apalagi waktu itu beberapa tempat di Mandar masih sangat terpencil, pergi bermain “kacaping” adalah tantangan tersendiri. Untuk itu, setiap pergi, apalagi di saat Marayama masih seorang gadis, biasa diantar bapaknya. Untuk bermain “kacaping”, Marayama dan adiknya biasa pergi berhari-hari, berminggu-minggu. Dulu belum marak kendaraan bermotor, jadi mereka lebih sering pergi dengan berjalan kaki apalagi bila ke pedalaman Mandar, misalnya Ratte Kallang, Tu’bi dan lain-lain. Dulu, perjalanan dan permainan mereka dihargai dengan ringgit, sekarang dengan rupiah dan sesekali tambahan hasil kebun.

78

Diserang Ilmu Hitam Dalam bermain “kacaping”, Marayama dan adiknya sering diserang ilmu hitam. Pernah suatu waktu saat bermain di Tu’bi, saat bermain, Marayama merasakan dirinya dililit ular besar. Dia berkata kepada Satuni bahwa dirinya sedang dililit ular, tapi Satuni tak melihat ada ular ditubuh kakaknya. Lain waktu, sering ada beterbangan cahaya mirip bara tempurung di sekitar mereka. “Kacaping” biasa tiba-tiba menghilang tapi bunyi terdengar. Tikar bermain “kacaping” pun sering dijadikan media untuk menyerang mereka kala bermain “kacaping”. Tikar langsung tergulung dan bantal (yang biasa digunakan untuk menyanggah paha saat bermain) tiba-tiba seperti benda hidup, antar bantal bertarung satu sama lain. Secara fisik pun sering diserang. Tubuh sampai sakit dan mencret-mencret bila pulang ke rumah. Tapi Marayama dan Satuni bangga, walau sering diserang, untuk sampai menyerah atau stop bermain gara-gara ilmu hitam, belum pernah. Ya, walau diserbu terus, mereka tetap memetik dawai-dawai “kacaping”-nya, mirip salah satu adegan di film Kungfu Hustle. Selain disebabkan ilmu hitam, hal lain yang sering mengancam jiwa Marayama dan Satuni bila pergi bermain “kacaping” adalah perkelahian antar penonton. Hal umum di Mandar, pada tahun-tahun sebelum 80-an, setiap acara keramaian biasanya ada perkelahian yang berakhir pada aksi baku tikam. Pemali “Dilarang keras melangkahi”, ungkap Marayama tentang pemali pada “kecaping”. Bukan hanya itu, “kacaping” juga memiliki “kekuatan” yang bisa membuat orang kualat atau celaka. Bila sesorang membuat sebuah nazar (janji), misalnya, kalau saya memiliki kerbau saya akan mengundang “pakkacaping”. Bila nazar itu tak dipenuhi, dia akan sakit. Dalam waktu yang bersamaan, kecapi di rumah Marayama akan “tegang dawainya, sering berbunyi”. Itu adalah tanda ada yang belum memenuhi nazarnya, ada yang sakit. Sebagai obatnya, mengundang “pakkacaping” main. Juga, bila ada pemain kecapi lewat di depan rumah sambil membawa kecapinya, lalu ada yang menyapa “Singgah-lah” lalu dibalas si pemain kecapi “Tidak usah”, maka yang menyapa/mengundang akan sakit. Agar terhindar dari sakit atau sembuh, harus mengundang “pakkacaping”. Untuk itulah tidak usah menyapa “pakkacaping” yang sedang lewat. Tapi kalau

79

mereka tidak bawa kecapi-nya, tidak apa-apa. Juga tidak apa-apa bila si pemain kecapi itu memang betul singgah. Penghargaan Pada tahun 40-an, Marayama dan I Tage pernah mendapat penghargaan Peniti Perak dari pemerintah Distrik Tenggelang (Puang Tenggelang Hamma) pada tahun 40-an di Kampung Lambe Lotong, Desa Sumarrang (Kecamatan Campalagian saat ini). Lebih lima dekade kemudian, Marayama [bersama Cammana (pemain rebana), Tombo Palua (penari, pemain calong, penyanyi), Ka’dara (pemain kecaping, peniup keke, pemain calong), dan Ma’dang (guru silat)] mendapat penghargaan Anugerah Sipakaraya dari Forum Sipakaraya di Tinambung (September 2009). Selain menyebut pemerintah sebagai pihak yang selalu mengundang mereka bermain “kacaping”, di luar undangan oleh masyarakat umum, Marayama juga biasa ke Makassar atas undangan Arajang, yakni Andi Depu. Memang Andi Depu sebagai Arajang Balanipa pernah lama di Makassar, sebagai bagian dari strategi perjuangan melawan Belanda. Tak ada regenerasi “Sekarang tak ada yang mau belajar “kacaping””, ungkap Marayama saat ditanya regenerasi pemain “kacaping”. Dibanding Cammana dalam permainan rebana, regenerasi pemain “kacaping” sangat jauh tertinggal. Itu disebabkan banyak hal. Pertama adalah minat generasi muda, khususnya perempuan, untuk menjadi pemain “kacaping” hampir mustahil saat ini. Kedua, untuk menjadi seorang pemain “kacaping” butuh waktu lama. Bukan hanya itu, dia juga harus bisa menyanyi. Menyanyinya pun tidak seperti menghapal lagu pada umumnya, tapi pada improvisasi, kemampuan memori mengingat kisah-kisah tertentu, dan pengetahuan dalam sastra Mandar (“kalindaqda” dan perubahan ucapan kata-kata tertentu saat dinyanyikan). Ketiga, bila mengharap pendapatan dari bermain “kacaping”, sangat sulit. Pemain “kacaping” hanya diundang pada even-even tertentu (misalnya festival, menyambut pejabat). Bila pun ada dari masyarakat umum, itu pun satu dua saja. “Pakkacaping” tidak lagi hiburan seperti dulu. Dia digantikan orkes, elekton, gambus, dan “sayang-sayang”. Meski demikian, Marayama pernah mengajarkan ilmu bermain “kacaping” ke beberapa orang, yaitu I Kanda (Lena, Galung Lombok), Cicciq Moreq (Lebukang),

80

Jagariah (Pakkaqbang, Tandassura), Patima (Pakkaqbang, Tandassura), dan Indoq Sogo (Sossoq). Yang terakhir ini mungkin masih hidup, tapi sudah beberapa tahun Marayama tak pernah bertemu dengannya Marayama juga pernah mengajar seorang “passayang-sayang”, tapi tidak lama sebab orang tersebut menganggap main kecapi sangat susah. Saat ini, Marayama menggunakan “kacaping”-nya yang keempat Menurutnya, “kacaping” itu dibuat di Kappung Lena (Galung Lombok) pada tahun 40-an, berbahan kayu “kuqmil” (nangka). Rata-rata kecaping tidak digunakan sebab kerusakan, bukan karena lapuk. Ada karena jatuh dari sandaran dan jatuh pas naik motor. Kecapi rawan rusak sebab kayunya amat tipis. Yang menarik, menurut Marayama, senar “kacaping” yang paling bagus digunakan adalah kawat tali kopleng atau rem motor. Kuat katanya. Pernah juga dia menggunakan senar berbahan emas. Gara-gara ada orang Bugis pandai emas yang naksir pada dirinya. Menurut Marayama, “kecaping” orang Bugis pendek-pendek. Juga lain bunyi dan juga bahasanya. Cara mainnya sering digendong pantatnya, sebab pendek. Beda cara main kecaping Mandar, pantat-nya disandarkan ke perut. Kecapi sebagai Jalan Hidup Yang harus dihargai pada diri Marayama adalah konsistensinya untuk terus menekuni permainan “kacaping” guna menghibur masyarakat yang mengundang atau memintanya. Dia terbukti menjadikan permainan musik kecapi sebagai jalan hidup. Dia bisa dipastikan sebagai maestro dalam musik kecapi. Dalam kebudayaan Mandar, khususnya unsur kesenian, Marayama adalah salah satu pewaris terakhir seni permainan “kacaping” yang dilakoni oleh wanita. Walau adiknya, Satuni, juga seorang pemain “kacaping” dan sering duet dengannya, ada kemampuan khas Marayama. Misalnya kekhasan suaranya, sedikit bariton dan saat menyanyi, setiap akhir bait ada lengkingan menyayat hati. Itu belum termasuk kemampuan sebagai seorang “pakkacaping” yang telah saya sebutkan sebelumnya, khususnya menyampaikan kisah-kisah lisan kepada pendengarnya. Kesimpulannya, sosok Marayama dan pemain-pemain “kacaping” yang tersisa saat ini harus kita apresiasi dan hargai. Bentuknya beragam macam, bisa lewat pemberian penghargaan, mempelajari ilmu mereka, mendokumentasikan kemampuan dan kisah hidup mereka, maupun memberi mereka banyak ruang untuk mengekspresikan permainan “kacaping”-nya. 81

Yang terakhir inilah yang sangat penting sebab itu berpengaruh nyata pada kelangsungan hidup dan generasi pemain “kacaping”. Sekedar informasi, tarif satu kali main (beberapa jam, sampai larut malam) per “pakkacaping”, tarifnya Rp 300.000 – Rp 500.000. Bandingkan dengan seorang pembicara di seminar yang hanya satu jam, tarifnya dari Rp 300.000 sampai jutaan. Jadi, tarif “pakkacaping” amatlah wajar. Bila tak ada undangan untuk bermain “kacaping”, lambat laun “kacaping” akan mereka gantung untuk kemudian ilmu tak terwariskan. Sebab, tak ada generasi yang tertarik atau bercita-cita untuk menjadi sosok “pakkacaping”. Gilirannya, warisan masa lampau salah satu puncak berkesenian di Mandar akan hilang bersama lapuknya “kacaping-kacaping” anggun yang tak terpetik. Mengenang Cecep: Maestro Muda Mati Muda Darmawi “Cecep Flamboyant”Saya baru meninggalkan rumahsakit Majene. Beberapa menit lalu, teman saya, Cecep ‚ÄúFlamboyant‚ Äù meninggal dunia. Di atas motor, dibonceng adik, dalam perjalanan balik ke Tinambung, kubuat catatan ini. Sakit paru dan typus sudah lama dideritanya. Ketika dia menikah, lima hari sebelum pemilu 2009, bersanding dengan mempelai perempuan dalam keadaan sakit. Terakhir saya ketemu dengannya dirumahnya. Dia menjamu saya dan teman-teman dengan kopi dan biskuit. Saat itu saya datang untuk mengakses internet. Iparnya yang konsultan IT Jardiknas menjadikan rumah orangtua Cecep menjadi satu-satunya rumah penduduk yang ber-hot spot di Tinanbung (area yang lain: SMK Tinambung). Kakaknya, Rahmat Panggung, juga menemani kami sambil mengatur daftar siapa saja yang akan diundang di pernikahan adiknya, yaitu Cecep. Nama aslinya Darmawi. Bapaknya adalah guru SMP Tinambung, bernama Pak Mukhtar, guru Matematika. Murni nama ibunya, seorang ibu rumah tangga. Baik bapak dan ibunya telah meninggal dunia. Di kalangan seniman Mandar, Cecep dikenal sebagai musikus, penyanyi, dan pemain teater. Juga penulis cerpen. Ada banyak karyanya, yang kemudian digunakan sebagai musik pengiring di pementasan teman-temannya, baik salawat maupun lagu. Dia pernah datang kerumahku membawa file cerpen, agar saya bisa mengirimkannya ke harian Radar Sulbar. Esoknya dimuat. Suaranya enak didengar, baik ketika bernyanyi maupun disaat bershalawat. Saya kenal dia di SMU Tinambung. Satu angkatan dengannya, angkatan 94. Tapi dia tidak tamat di SMU Tinambung. Pindah ke sekolah lain. Dulu Darmawi dan

82

beberapa teman dikenal nakal. Ya, nakal begitulah. Bolos sekolah, balap motor, menggoda cewek. Waktu saya kuliah di Yogya, saya tidak tahu aktivitasnya. Pada suatu waktu, Teater Flamboyan mengadakan pentas di Yogya. Cecep tergabung didalamnya. Dia sudah berubah, beda dengan masa SMU. Saya bangga menjadi temannya. Ternyata ada bakat yang belum terlihat di masa SMU. Selain aktif di Teater Flamboyan, Cecep juga aktif di beberapa lembaga kesenian di Mandar, misalnya Laba-laba Duda Hitam (permainan musik mereka di Makassar sering diputar Fajar TV). Cecep banyak perannya, musikus dan vokalis. Dia juga biasa membantu Sanggar Beru-beru, yang dibina Andi Nursami Masdar. Saat Cecep menghembuskan nafas terakhir, dia mengenakan kaos bersablon sanggar itu. Jarang seniman di Mandar yang multi talente. Cecep salah satunya yang memiliki. Selain yang telah saya sebut di atas, Cecep juga bisa melukis, sebagaimana keahlian kakaknya, Rahmat Panggung. Apa yang dimiliki adalah bakat alam. Dia tak pernah mengecap pendidikan formal dalam bidang musik, teater, vokal, dan melukis. Karena keahliannya yang banyak dalam berkesenian, Cecepdianggap‚ Äúmaestro‚ Äù di kalangan seniman Mandar. Cecep meninggal dunia 25 Mei 2009, dikelilingi puluhan sahabat dan kerabatnya. Dia terbaring di rumah sakit sekitar 2 hari. Tubuhnya yang memang kecil adanya, tambah kecil (dan kurus) karena sakitnya. Umurnya masih sangat muda, seumuran dengan saya, kira-kira 30 tahun. Ya, dia termasuk ‚ ”intelektual abortus”, seorang cerdas yang mati muda! Saya tidak tahu banyak tentang Cecep dibanding teman-teman yang berkesenian dengannya. Setiap saya bertanya ke teman-teman tentang karya-karya Cecep, yang terucap ‚”Banyak”. Begitu banyaknya, teman-teman tidak hafal karya-karyanya. Ya, Cecep bisa dikatakan super dalam berkarya (nb: menurut teman-teman, ada tatto superman di lengannya). Selamat jalan kawan! Mengenang Kanna Latif: Bukan Tokoh, Tapi Dia Nelayan Ulung Karena tidak mungkin lagi menemukan pangoli (nelayan yang menggunakan sandeq kecil) yang akan ke laut, saya manfaatkan waktu untuk menemui dengan Kanna Latief. Beliau salah seorang pelayar sandeq ulung di Kampung Pambusuang. Dia seorang punggawa posasiq yang perahunya sering memenangkan lomba perahu sandeq (sebelum era Sandeq Race). Kanna Latief nelayan tertua yang ikut Sandeq Race tahun 2002 lalu, juga merupakan lomba sandeq terakhir yang dia ikuti. Setelah itu ikut lagi karena sudah 83

renta. Kegiatan perikanan terakhir yang dia lakukan, yang sudah dilakukannya puluhan tahun, mangoli. Bahagia rasanya masih bisa bercakap dengan Kanna Latief di hari-hari senjanya. Saya dengan akan bangga menceritakan ke anak-cucukku bahwa bapaknya pernah mengenal dan sarapan bersama dengan pelaut Mandar yang disegani. Saya tidak menganggap bahwa dirikulah yang satu-satunya yang tetap mengingatnya, tapi saya yakin, saya sekian kecil dari orang di luar Pambusuang yang tetap memberi penghormatan kepada seorang Kanna Latief. Mungkin ada yang bertanya alasan apa yang harus dijadikan dalih untuk memberi penghormatan ke Kanna Latief? Dia bukan mantan tokoh, bukan apa-apa dalam percaturan politik di Mandar. Budayawan pun bukan. Ya, memang dia bukan apa-apa. Tapi bagi saya, mengenal pribadi dan bercengkrama dengannya adalah sesuatu yang lebih mengesankan daripada menjabat tangan seorang tokoh politik nasional. Suasana di ruang tamunya masih sama sekitar tiga tahun yang lalu, ketika saya untuk pertama kalinya datang ke rumahnya. Foto S. Mengga, mantan bupati Polmas (sekarang Polman), foto perahu sande’q-nya (masih menggunakan film hitam-putih, tanda tuanya foto itu) dan poster Sandeq Race tahun 2000 masih ada di dinding yang sama. Yang berbeda teras rumahnya sudah bersih. Maksud saya, dulu di situ ada balai-balai yang diatasnya penuh dengan peralatan yang berkaitan dengan kegiatan penangkapan dan perahu. Saya masih ingat, saat pamit dari rumahnya saya minta salah satu bagian perahunya yang sudah rusak, yaitu tadiq. Kayu berbentuk huruf L, yang menghubungkan antara palatto (katir) dengan baratang (cadik). Sekedar info, tadiq adalah bagian sandeq yang paling saya kagumi. Isi percakapan dengan Kanna Latief tidak berat-berat. Pendengarannya tak sempurna lagi. Tapi ada yang menarik: dia bias pergi haji setelah menjual sandeq-nya. Tahunnya dia tidak ingat lagi. Sebelum pulang, saya minta informasinya mengenai nelayan yang bisa saya ikuti kegiatan mangolinya. Kanna Latief mengusulkan beberapa orang tetangganya. Dari rumah Kanna Latief, saya menuju pantai. Pantai hanya selemparan batu dengan tangan; hanya ada satu-dua rumah yang membatasi rumah Kanna Latief dengan garis pantai. Di pantai saya menyaksikan seorang nelayan mengecat cadik perahu sandeq-nya, perahu yang digunakan untuk mangoli. *** Tulisan di atas adalah catatan riset saya di tahun 2005. Kusimpan baik-baik file-nya! 84

Kemudian, pada 25 Maret 2010, setelah beberapa tahun, saya kembali ke rumah Kanna Latif untuk bersilaturrahmi. Sekalian menjenguk. Menurut keponakannya, Kahar, Kanna Latif lumpuh. Juga untuk merepro (memotret ulang) foto sandeq saat Kanna Latif masih muda yang ada di ruang tamunya. Saat saya kembali perkenalkan diri “yang pernah datang meminta tadiq bekasnya”, beliau langsung ingat. Mengenakan baju kaos putih lengan panjang. Totol-totol hiasannya. Wajahnya bulat kurus. Rambut putih yang jarang di kepala. Lemah tapi wajahnya tetap memperlihatkan bahwa dulu dirinya pelaut mumpuni. Kesekian kalinya saya mengabadikan gambar bersama dirinya. Hal yang sama saya lakukan beberapa tahun lalu setiap datang kerumahnya. Ya, dia tokoh bagi saya. Bagai seorang fans terhadap idamannya. Saya juga memiliki foto dirinya yang duduk bersama pelaut-pelaut Mandar lain saat kumpul di Makassar. Mengenakan baju biru plus surban dan songkok putih. Saat itu di Sandeq race 2002, lomba sandeq terakhir yang beliau ikuti. Rekor pelaut tertua yang pernah mengikuti Sandeq Race belum terpecahkan sampai Sandeq Race terakhir (2008). Itulah salah satu kehebatan dirinya. Nama aslinya H. Abdul Karim tapi dipanggil Kanna Latif sebab dia mempunyai keponakan bernama Latif. Itu tradisi di Mandar. Sebagaimana panggilan Ammawa Weweang terhadap I Calo, seorang pahlawan Mandar yang gagah berani melawan Belanda. Kanna Latif mempunyai dua anak perempuan, salah satunya telah meninggal. Beberapa keponakannya saya kenal, salah satunya Kahar. Kahar pernah ikut ekspedisi pelayaran bersama Yamamoto ke Papuna Nugini dengan perahu bercadik yang dibuat di Mandar. *** Kamis, 13 Mei 2010 saya baru tiba dari Makassar dengan oto Sulbar. Membawa tiga dos berat berisi 250 eksemplar buku sandeq. Sebab berat, saya tunggu ada yang lewat. Dari jauh, sahabat saya yang juga teman mengurus Sandeq Race 2010, Kahar tampak menuju ke arahku dengan menggunakan motor. Kebetulan. “Ayo bantu dulu angkat” pintaku. Dia memarkir motor. Saat mendekat dia berkata “Pua’ sudah duluan”. “Siapa yang meninggal?” kutanya. “Kanna Latif”, jawabnya. Sedih. Selesai merapikan barang, mandi, dan shalat Azhar, saya menuju rumah duka. Kurang 100 meter dari kediaman istriku, dekat Mesjid At Taqwa Pambusuang. Tampak keranda mayat beserta “cakko-cakko” dan kain hijau bertulis huruf Arab. Di depan rumah dipasangi tenda putih. Jelas, itu dari layar sandeq. Tak jauh dari 85

rumah, di pantai, beberapa sandeq pangoli. Ukurannya kecil, hanya bisa membawa satu orang. Sandeq ukuran demikian yang terakhir kali digunakan Kanna Latif, menjelang dirinya pensiun sebagai pelaut. Adapun sandeq-nya sendiri telah lama dijual, saat tak melaut lagi. *** Kepergian Kanna Latif membawa serta ilmu pengetahuan kebaharian Mandar. Pasti masih banyak yang belum tergali dari dirinya, tentang ilmu-ilmu kuno pelaut Mandar. Untung ada sedikit yang bisa saya ambil. Hal yang sama juga dialami peneliti muda Mandar yang skripsinya tentang mantra-mantra di sandeq, Dahri. Dia juga menjadikan Kanna Latif, yang masih terhitung kerabatnya, sebagai informan kunci akan mantra-mantra. Saya memulai riset maritim Mandar pada tahun 2000. Beberapa informan adalah pelaut tua, misalnya Kama’ Occong (Sabang Subik) yang mengajarkan saya tentang roppong (rumpon Mandar) yang juga telah meninggal dunia kurang dua tahun lalu. Dengan meninggalnya Kanna Latif, semua informan tua dalam riset kebudayaan maritim Mandar yang terus saya lakukan sampai saat ini telah meninggal dunia. Mengenang Kindo’ Ka’ni: Karyanya hingga ke Seberang Laut Sabtu, 26 Januari 2007, di awal hari, Kindo’ Ka’ni tewas mengenaskan: jatuh dari motor ojek lalu ditabrak kendaraan lain yang melintas dibelakangnya. Sebelumnya dia menjenguk anaknya yang baru ditimpa angin puting beliung di Polewali. Saya langsung teringat tulisan tentang “orang-orang tangguh” di kampungku, yang saya buat awal Oktober 2006 lalu. Sebagai “in memoriam” kepada Kindo’ Ka’ni, yang rumahnya hanya berjarak 50 meter dari rumahku. Kindo’ Ka’ni asli orang biasa, tak diperhitungkan perannya. Tapi perjuangannya yang “tidak seberapa” amat bernilai! Tidak banyak buah tangan (hasil kerajinan) orang Mandar yang digunakan banyak orang dan tersebar luas. Selain sarung sutra, ada satu yang terlihat sepele, yaitu jali’. Jali’ atau para-para dalam bahasa Indonesia adalah semacam tikar yang jarak antar bilah atau seratnya tidak rapat. Jali’ lebih banyak digunakan sebagai tempat jemuran ikan, biji coklat, dan rumput laut. Karena fungsinya yang demikianlah maka jali’-jali’ “made in Tinambung” tersebar luas, baik di Mandar, perkampungan nelayan di Sulawesi Selatan dan di Kalimantan Timur. Salah satu pekerja jali’ di Tinambung adalah Kindo’ Ka’ni. Tinggal di dekat panyingkul sudut kota kecil Tinambung, di kaki bukit Sallombo’.

86

Suami Kindo’ Ka’ni wafat sekitar 15 tahun lalu. Sewaktu suaminya meninggal, Kindo’ Ka’ni mempunyai anak yang masih kecil-kecil, yaitu Nasra, Tahira, Amir, dan Satria. Wafatnya suami membuat Kindo’ Ka’ni berperan sebagai orangtua tunggal. Mau tidak mau Kindo’ Ka’ni harus memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya sekaligus merawat anak-anaknya yang masih kecil. Sebelum suaminya meninggal dunia, Kindo’ Ka’ni membantu ekonomi keluarga dengan cara manette’ (menenun sarung sutra). Karena benang sutra cukup mahal (butuh modal banyak) dan pemasarannya pun tidak selancar waktu dulu, Kindo’ Ka’ni berhenti menenun, beralih sebagai pembuat jali’. Di awal-awal karirnya sebagai pembuat jali’ Kindo’ Ka’ni berguru kepada Pua’ Maria, tetangganya. Meski hanya berdasar pada pembuatan jali’, Kindo’ Ka’ni berhasil membiayai pendidikan anak-anaknya hingga tamat SMU, kecuali Amir, yang akrab dipanggil Kiri oleh teman-temannya, yang hanya sampai MTsN Tinambung. Bukan karena tidak ada biaya, tetapi Kiri yang memang emoh lanjut sekolah. Sejak lima tahun lalu, dua anak perempuan Kindo’ Ka’ni yang masih gadis dan belum genap 20 tahun umurnya, Nasra dan Tahira, menjadi pekerja di Kuala Lumpur, Malaysia. Nasra kerja di pabrik telepon genggam, sedangkan Tahira di Pabrik Milo (susu). Untuk membuat jali’, khususnya sebagai tempat jemuran, hanya ada dua bahan yaitu bambu dan onnos (tali hitam dari bulu ijuk). Bambu didatangkan dari Alu (dekat hulu Sungai Mandar) dan onnos dari Lambe’, sekitar 3 km dari rumah Kindo’ Ka’ni. Harga sarrae’ (satu rakit) bambu sekitar Rp 70.000 yang berisi 20 batang bambu. Sedangkan onnos Rp 15.000 per ikat. Dalam satu ikat dapat membuat 10 jali’ berukuran kecil (satu jali menggunakan 5 gulungan kecil onnos). Apa yang dilakukan Kindo’ Ka’ni dan pengerajin-pengerajin jali’ lainnya harus kita apresiasi. Walau pekerjaannya bersahaja, namun terbukti dapat membiayai pendidikan anak-anaknya. Ya, memang ada pensiunan dari suaminya, tapi itu tidak seberapa. Ini bisa kita jadikan pelajaran, khususnya orang-orang tua yang lain yang selalu berdalih “tidak punya uang” untuk membiayai pendidikan anaknya padahal dia melakukan pekerjaan yang “di atas kertas” mungkin lebih menguntungkan daripada membuat jali’. Kisah Mas (Ka)pit(ang), dari Pemusik ke Penjahit Suatu hari di bulan November 2010, saya berkunjung ke kamar Aldhin (pekerja seni dari Teater Flamboyant) untuk suatu urusan. Di dalam kamarnya

87

terpampang beberapa lukisan menarik. “Siapa yang melukis itu?” tanya saya. “Mas Pit”, jawabnya. “Oh, ternyata ini lukisannya”, tanggap saya kembali. Memang saya pernah mendengar keterampilan lain yang dimiliki oleh Mas Pit, tapi baru saat itu saya lihat langsung karyanya tersebut. Siapa Mas Pit? Saat ini, oleh beberapa pekerja seni di Tinambung, dia dianggap seniman jenius. Sosoknya mencerminkan proses kebanyakan seniman di Tinambung: dari jalanan – lorong kampung – panggung. Ada banyak pekerja seni di Tinambung, tapi yang memiliki kemampuan seperti Mas Pit tak banyak. Beberapa diantaranya adalah telah almarhum, seperti Atto’ (Soeharto) yang bisa memainkan gitar, piano, melukis dan menulis lirik (kabarnya dia yang mencipta dan mengaransemen lagu “kebangsaan” Teater Flamboyant) dan Cecep (Darmawi). Selain lihai memainkan gitar, juga memiliki suara menggetarkan walau tubunya ringkih. Mas Pit seorang putra Kampung Sepang, pemukiman penduduk yang terletak di sisi barat Sungai Tinambung, utara jembatan Tinambung. Kawasan ini memiliki kekhasan di Kelurahan Tinambung, yakni dalam hal dinamika hidup. Orangtua Mas Pit campuran antara orang Ga’de dengan Sepang. Bapaknya bernama Ku’du, penjual ikan “turingang” yang disegani dimasanya. Sedang ibunya bernama Nur. Kedua orangtua Mas Pit telah meninggal, jadi yatim piatu. Bapak Mas Pit meninggal waktu dia masih digendong. Hilang terbawa banjir, waktu dia ke sungai untuk berwudhu. Mas Pit sepertinya ditakdirkan menjadi bagian harmoni sungai. Selain lahir di pinggir Sungai Mandar, bermukim di sana hingga kini, dan bapaknya hilang terbawa arus Sungai Mandar, namanya pun berkaitan erat dengan sungai. Nama “Mas Pit” baru belakangan dan itu terdengar nge-Jawa. Yang lebih dulu dan terdengar Mandar “banget” adalah “Kapitang”. Kata “kapitang” adalah salah satu nama jenis ikan (Platax teira) yang saat ini cukup langka di Sungai Mandar. Dulu, waktu Sungai Mandar masih dalam dan jernih airnya, jenis ikan yang berhabitat dekat muara ini cukup banyak. Mengapa bisa diberi gelar nama ikan? Waktu kecil, Burhanuddin (nama asli Mas Pit atau Kapitang) terlihat lincah. Nah, kebetulan ada bagian di bantaran Sungai Mandar dekat rumah Burhanuddin banyak ikan “kapitang-nya”. Maka, digelarilah dia “Kapitang”. Saat Teater Flamboyant ke Yogyakarta untuk ikut serta Festival Musik Puisi, yang mana Kapitang ikut sebagai salah satu pemain musik, oleh teman-temannya, sepertinya dimulai oleh Tammalele, namanya ditambahi sapaan Jawa, “Mas”. Maka muncullah panggilan “Mas Pit” (Mas Kapitang). 88

Sebuah ironi Bagi saya, Kapitang adalah sebuah ironi. Dia memiliki kecerdasan sebagai seorang seniman multi-talenta. Semua pengetahuannya tentang bermain musik, menulis lirik, meng-aransemen musik, dan melukis dilaluinya dengan otodidak. Sebagai seorang tamatan SD, Kapitang sangatlah jenius dan pekerja keras dalam berkesenian. Tapi, saat ini, kemampuannya itu tak tersalurkan. Alasannya: ekonomi. “Kalau hanya mengharap dari pementasan, itu tidak pasti. Padahal dapur harus tiap hari mengepul”, ungkapnya. Terakhir Kapitang “menyentuh” alat musik hampir sembilan bulan lalu. Penampilan terakhirnya terjadi di Mamuju, saat pentas keliling di sana bersama beberapa personil Teater Flamboyant pada bulan Agustus 2010. Ya, semenjak Kapitang berkeluarga, kebebasan ber-ekspresinya tak tersalurkan. Alasannya di atas memang sangat wajar. Hal yang sama dialami banyak orang di Tinambung. Jadi bukan hal jamak, yang awalnya banyak bergerak di dunia kesenian, ketika berkeluarga, dunia itu seakan ditinggalkan. Waktu masih bujang, Kapitang aktif bermain bersama Teater Flamboyant, misalnya pentas Musik Puisi Indonesia di Yogyakarta (2003, 2005), pentas Musik Puisi Kolaborasi Emha Ainin Nadjib di Forum Fula Dongga Dua, Palu Sulawesi Tengah (Desember 2005), dan pementasan lain baik di Sulawesi maupun di Jawa dan Kalimantan. Awal tahun 2000-an, Kapitang “ditemukan” oleh kakaknya, Ramli (saat ini sebagai sutradara dan pemain musik di Teater Flamboyant). Saat itu, Ramli belum lama intens dengan Teater Flamboyant. Sebelumnya dia banyak di Jakarta, salah satunya sebagai pemain bass di salah satu band di sana. Ramli mengajaknya sebab dia melihat bakat pada diri adiknya tersebut. Yaitu bisa bermain beberapa alat musik, khususnya gitar. Kapitang sendiri belajar main gitar dari teman-teman bergaulnya di Sepang, seperti Killang dan Zainuddin (yang saat ini bisnis sebagai pedagang). Selain bisa bermain gitar, harmonika, gendang dan “calong”, Kapitang juga mempunyai keterampilan membuat dan memainkan “buso-busor”, sejenis alat musik yang biasa dipasang di layang-layang. Nah, dia diminta membuat alat itu sebab akan dijadikan sebagai salah satu instrumen di pementasan Teater Flamboyant, seperti yang saya saksikan di pementasan Teater Flamboyant di Festival Musik Puisi, Yogyakarta 2005. Kapitang memiliki kemampuan meng-aransemen musik (yang diakui unik oleh beberapa sahabatnya) sebab dia banyak belajar dan mendapat ilham dari apa yang dia alamai, dengar, dan saksikan. Karir awalnya sebagai pemain panggilan, misalnya bermain gitar di lomba vokal group, dan sebagai pemain musik lorong, baginya dia 89

anggap sebagai modal yang besar. Dia menemukan ada perbedaan-perbedaan, antara mengiringi vokal group, shawalat, dengan band; ada perbedaan antara musik Arab, India, rock. Nah, perbedaan itu dia gabungkan hingga menjadi sebuah penemuan orijinal. Adapun kemampuan melukis mulai tumbuh saat dia ditantang Mat Panggung (Rahmat, kakak Cecep) untuk melukis. Rahmat sosok yang suka membantu generasinya agar aktif berkesenian. Kepada Kapitang dia memberikan kanvas, cat dan minyak. Kapitang pun menerima dengan bahagia. Dia membuat beberapa lukisan (beberapa masih dia simpan dirumahnya) untuk kemudian dia perlihatkan ke Mat Panggung. Mat Panggung pun memberi masukan, misalnya tentang komposisi. Berkarir di Makassar Beberapa lama aktif di Teater Flamboyant, Kapitang pergi berkarir (tepatnya mencari pengalaman) di Makassar. Dia diajak Ishaq Janggut (Guru Seni Budaya SMA 2 Majene saat ini, yang kala itu masih mahasiswa di UNM), (almarhum) Cecep, dan Sahabuddin Mahganna (sekarang Guru Seni Budaya SMA 1 Tinambung). Di Makassar mereka membentuk kelompok musik bernama “Laba-laba Duda Hitam�. Kelompok musik cukup dikenal sebagai pengusung musik Mandar kontemporer. Saya pribadi belum pernah melihat pementasan langsungnya, hanya lewat VCD yang memperlihatkan pementasan mereka di Gedung Fajar dan disiarkan stasiun tv di Makassar. Walau tak lama di Makassar, putra Sepang kelahiran 7 Juli 1977 tersebut banyak mendapat pengalaman, baik dalam hal bermain musik, mencipta instrumen, permainan perkusi, dan membaca tangga nada, maupun dalam dunia lukisan. Di Makassar Kapitang menyaksikan pameran lukisan, yang baginya sangat memberi wawasan tentang dunia melukis. Sayangnya, kemampuan berkesenian di atas tak terekspresi maksimal, khususnya saat ini. Bisa dikatakan, bekerja sebagai seniman di Tinambung tak memberi jaminan masa depan, khususnya dalam bidang ekonomi. Saat memiliki tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga, Kapitang pergi merantau. Diantaranya beberapa bulan di Tolitoli dan Samarinda. Di Samarinda betul-betul kerja banting tulang, yang jauh dari urusan musik, yakni sebagai buruh di kapal penarik batubara. Beberapa lama di sana, akhirnya dia kembali ke kampung bersama istrinya (yang juga orang Tinambung). Kurang lebih tiga tahun lalu, Kapitang belajar menjahit. Dia diajak oleh A’ba

90

Fahmi. Waktu itu dia datang ke tempat menjahit A’ba Fahmi, membawa salah satu pakaian yang akan dia kenakan saat akan pentas di Jawa. Dia ingin modifikasi. A’ba Fahmi tanya “Kerja apa sekarang?”, dijawab Kapitang “Tidak ada, hanya main musik”. Kembali dia ditanya “Ada istrimu?”, jawabnya “Ada”. “Baik, kamu kerja di sini saja. Nanti saya ajarin menjahit”. Sejak itu, Kapitang mempunyai profesi sebagai tukang jahit. Untuk menyatukan dengan aktivitas berkesenian agak susah sebab menjahit sampai sore, yang tabrakan dengan jam latihan. Melakukannya di malam hari juga tak bisa sebab harus istirahat. Beberapa sahabatnya, mempercayakan Kapitang sebagai tukang jahit yang bisa menerjemahkan keinginannya dalam memodifikasi baju. Kalau penjahit di pasar, biasanya tidak mengerti. Dia memilih sebagai penjahit sebab pekerjaan ini tak ada matinya. Selama manusia pakai baju dari kain, pasti ada pesanan jahitan. Selamat berkarya teman. Dengan menjahit pun bisa membahagiakan manusia. In Memoriam Zainuddin, Nakhoda Ekspedisi Mandar – Japan Berkaitan dengan gempa bumi dan tsunami di Jepang, Rabu, 16 Maret 2011, saya menanyakan kabar Prof. Sekino, petualang Jepang yang memimpin ekspedisi Mandar – Japan “The Sea Great Journey”, ke kolega saya. Syukurlah, dia tidak kena dampak langsung tsunami. Sekarang riset tentang orang Bajau di perbatasan Malaysia – Indonesia. Tapi ada kabar duka, bahwa salah satu pelaut Mandar yang menjadi nakhoda di salah satu perahu bercadik (dari dua perahu yang digunakan), yakni pak Zainuddin, hilang di laut. Bukannya dalam rangka ekspedisi, tapi sewaktu melaut menangkap ikan di rumpon, di Teluk Mandar! Kejadiannya Jumat, 11 Maret 2011 lalu. Saya kaget sebab saya baru tahu padahal kejadiannya hanya beberapa kilometer dari Pambusuang, tempat saya bermukim. Malah saya mendapat kabar dari teman saya di Malaysia. Esoknya, saya ke kediaman Pak Zainuddin di Manjopai’, Desa Karama, Tinambung, Polewali Mandar. Sekilas ekspedisi Ekspedisi The Sea Great Journey mulai berlangsung pada 13 April 2009. Berangkat dari Lambe’, Karama. Disebabkan pada saat tertentu di utara garis khatulistiwa ada musim angin topan (taifun), ekspedisi tidak bisa langsung diselesaikan. Misalnya pada pemberangkatan pertama, berlangsung empat bulan. Dua perahu Mandar berhenti di selatan Filipina. Pelaut-pelaut Mandar, yang terdiri dari

91

Zainuddin, Gusman, Jabir, Danial, Abdul Latif, dan Irsan untuk sementar kembali ke kampung halaman di Mandar. Ekspedisi kembali dilanjutkan ketika musim angin topan lewat. Pelaut-pelaut Mandar kembali ke Filipina dengan menggunakan pesawat terbang. Pelayaran hanya berlangsung dua bulan, sampai di utara Filipina. Menunggu musim topan lewat, kembali pelaut Mandar mudik. Rencananya, kelanjutan pelayaran tahap ketiga akan dimulai awal April 2011 ini. Nah, pada saat manajemen ekspedisi meminta pelaut Mandar untuk mempersiapkan pemberangkatan, kabar bahwa Zainuddin hilang di laut diperoleh. Menurut istri Zainuddin, Nur Alam, suaminya hilang sewaktu melaut dengan menggunakan sandeq (kecil). Suaminya menangkap ikan di rumpon, yang mana perahunya ditemukan tertambat di situ. Tak ada tanda-tanda kecelakaan. Perahu tak terbalik, alat-alat tangkap ada semua. Memang pak Zainuddin rutin melaut dengan perahu kecilnya. Pergi sekitar jam 3 dinihari dan kembali menjelang sore hari. Bila Jum’at, kembali sebelum shalat Jum’at. Pada hari kejadian, Jumat, hilangnya pak Zainuddin tidak sengaja diketahui. Maksudnya, pada Jumat pagi, orangtua Zainuddin merasa kurang enak badan. Hampir pingsan. Sebab dalam kondisi darurat, pihak keluarga memutuskan untuk menghubungi Zainuddin di laut agar segera pulang. Ternyata, perahu yang bertugas mencarinya, hanya menemukan sandeq Zainuddin tertambat di rumpon. Kira-kira berjarak 10km dari pantai. Zainuddin dinyatakan hilang! Tak diketahui sebabnya! Ada nelayan yang masih sempat melihat Zainuddin di atas perahunya sekitar jam 7 pagi. Pihak keluarga pun melapor ke Polsek Tinambung. Polsek Tinambung kemudian mengeluarkan Surat Tanda Penerimaan Laporan bernomor STPL/19/III/2011/SekTnb, bahwa orang yang bernama Zainuddin dinyatakan hilang. Hampir sepekan kemudian, Kamis 17 Maret 2011, tubuh Zainuddin belum ditemukan. Secara supranatural Zainuddin dianggap masih hidup. Itu berdasar informasi dari dukun yang dihubungi pihak keluarga. Katanya, Zainuddin ditahan makhluk tertentu. Walau demikian, pihak ahli waris tetap mengurus surat keterangan kematian Zainuddin. Pada waktu persiapan ekspedisi, 2008 lalu, saya bertugas sebagai peneliti dan membantu proses administrasi di Indonesia, termasuk perekrutan awak yang akan mengantar orang Jepang melakukan ekspedisi. Dari enam awak, tiga saya rekrut

92

langsung, yakni Gusman (juga nakhoda), Danial, dan Irsan. Kepada mereka, saya meminta untuk juga ikut mencari dua awak yang bisa melayarkan perahu pakur. Oleh Gusman, dia mengusulkan Zainuddin dan Jabir, pelaut dari Manjopai’, Karama. Akhirnya, Zainuddin dan Jabir saya rekomendasikan ke Prof. Sekino. Mereka pun diterima sebagai awak. Dalam pelayaran, diputuskan dua nakhoda, yakni Zainuddin dan Gusman. Mereka bergantian menakhodai dua perahu, apakah itu “Jomon” ataupun “Pakur”. Lainnya sebagai awak atau “sawi”. Ekspedisi “The Great Journey: The Black Current Route” (Perjalanan Besar: Rute Arus Hitam) dipimpin Professor Sekino Yoshihara, guru besar antropologi budaya di Mushashino Art University, Tokyo dan telah menulis lebih dari 40 buku. Prof. Sekino telah menapaktilasi secara terbalik rute penyebaran umat manusia dari Chili di ujung selatan Amerika Selatan sampai ke Tanzania Afrika antara tahun 1993 sampai 2002. Kemudian, sejak tahun 2004, dia juga telah menapaki jalur perjalanan darat manusia purba yang menuju Kepulauan Jepang. Lalu Semenanjung Korea selesai dia telusuri dalam tahun 2005. Meskipun ekspedisi dipimpin dan dibiayai orang Jepang, tak bisa dipungkiri, keberhasilan ekspedisi sampai sejauh ini tak lepas dari peran orang-orang Mandar yang melayarkan perahu. Dengan kata lain, orang Jepang hanyalah penumpang di atas perahu. Adapun pelayar-pelayarnya adalah orang Mandar. Dan salah satu pahlawan yang berhasil melayarkan perahu tak bermesin yang dibuat dengan cara paling kuno dan dengan alat-alat alami dari Lambe sampai ke utara Filipina adalah pak Zainuddin, putra Manjopai’, Karama. Dalam peta tokoh-tokoh di Mandar, Zainuddin tak dikenal. Tak ada rangkaian bunga ucapan belasungkawa di halaman rumahnya; tak ada iklan dukacita di koran untuk dirinya. Beliau hanya nelayan biasa dengan seorang istri, lima anak, lima cucu. Tapi dalam sejarah hubungan Indonesia - Jepang, dia akan dicatat sebagai orang penting dan berjasa. Orang Mandar harus tahu itu! Sayangnya, beliau “hilang” (baca: meninggal) sebelum menyelesaikan tugasnya melayarkan perahu Mandar hingga ke Okinawa, Jepang. Tuhan menakdirkan lain. Menjadikan seorang Zainuddin sebagai pelaut Mandar yang paripurna. Abadi di pelukan Teluk Mandar. Tempatnya mempelajari ilmu-ilmu kebaharian, tempatnya mencari penghidupan untuk diri dan keluarganya. Selamat jalan Pak!

93

TRADISI

Posiq di Mata Manusia Mandar

Seandainya orang Mandar mempunyai tradisi membuat mobil atau pesawat,

kemungkinan besar kedua benda tersebut akan mempunyai posiq (pusar;pusat). Ya, sebab hampir semua karya karsa orang Mandar memiliki posiq. Ada posiq boyang (atau posiq arriang) untuk rumah, ada posiq lopi untuk perahu, ada posiq roppong (roppo) untuk alat pemikat ikan di laut, termasuk posiq untuk pemberat dan talinya (belayang), ada posiq jala untuk jaring, dan beberapa kalangan ada yang mempercayai bahwa di Mandar ada posiq lita’. Sejak manusia Mandar keluar dari rahim ibunya, mereka sudah diperkenalkan pada tradisi (baca: perlakuan khusus terhadap) posiq. Sang dukun beranak amat hati-hati memperlakukan tali plasenta dari ibu terhadap bayinya. Demikian juga penyimpanannya. Malah ada ilmu hitam yang mengisyaratkan “pipa� posiq bayi sebagai salah satu benda yang harus ada jika ingin menguasai ilmu kebal. Jika tak bagus perlakukannya kepada posiq, bayi akan gampang sakit. Maka, memang harus hati-hati terhadap posiq! Rumah akan didirikan pun diawali ritual dalam rangka pembuatan posiqnya. Batang tiang dari kayu tertentu, meski dari segi fisik ada kalangan kurang begitu menarik. Di ujung bagian bawahnya dimuat semacam lubang, kedalamnya dimasukkan benda-benda tertentu, mulai dari tanaman-tanaman yang berkaitan dengan simbol rejeki hingga emas (ussul). Ya, kalau ada yang mau iseng, potongnyalah sekian senti di bagian bawah batang tiang rumah orang Mandar, lalu belah. Kalau betul rumah itu rumahnya orang Mandar, Anda akan menemukan emas! Nah, ketika rangka-rangka rumah telah disusun sedemikian rupa, di saat akan mendirikannya (istilah Mandarnya mappake’de boyang), ada ritual tersendiri

94

yang menghubungkan (menyentuhkan) posiq sang tuan rumah dengan balok penghubung antar tiang. Balok tersebut meski agak keliatan rumit, tapi proses pemasukannya pertama kali melalui lubang di tiang utama atau posiq arriang-nya. Koq nggak melewati lubang di tiang rumah yang posisinya di depan atau belakang? Ya tidak sebab tiang-tiang itu bukan posiq! Sebenarnya di mana posisi posiq arriang? Mungkin banyak yang membayangkan posiq boyang itu berada di tengah-tengah rumah. Tidak! Tiang yang menjadi posiq boyang adalah tiang yang perpotongannya kedua dari depan – kedua dari pe’uluang. Pe’uluang itu sendiri adalah sisi/dinding (kanan atau kiri) rumah yang letaknya jauh dari pintu masuk atau berlawanan dengan tambing (lantai rumah yang tepat berada di depan pintu, dulunya bagian ini rendah sebagai tempat kaum budak jika bertamu ke rumah golongan masyarakat yang “kasta-nya” lebih tinggi). Pe’uluang adalah lokasi terhormat jika ada upacara di dalam rumah atau letak posisi kepala jika berbaring di dalam rumah. Makanya disebut pe’uluang (ulu: kepala). Nah, di sekitar sinilah ada posiq boyang. Begina imajinasinya: Anda naik ke rumah orang Mandar. Kebetulan letak pintunya di sebelah kanan Anda (ketika Anda menghadap ke rumah tersebut). Melangkahkan kaki ke dalam rumah, Anda akan menginjak lantai tambing. Ketika sudah berada di dalam, palingkan wajah ke kiri, maka Anda akan melihat lantai pe’uluang yang berada “ di sana”. Lalu, cari mana tiang rumah yang letaknya kedua dari tiang yang terletak di sudut depan tambing, baik yang mengarah ke pintu maupun yang mengarah ke bagian belakang rumah. Dari dua tiang kedua tersebut, tarik garis sampai menemukan perpotongannya di tiang pertama yang dilewati. Nah, itulah posiq boyang! Gampang kan? Jadi, meskipun rumah tersebut memiliki, misalnya, 100 tiang, letak posiq tetap di situ bukan pas di tengah rumah. Biasanya, posiq boyang dapat ditandai dengan mudah: di situ biasa tergantung botol, di bagian atasnya (sebelum melewati batas atang atau plafon) dibungkus kain kafan, dan atau digantungi berbagai macam tanaman, atau jimat. Untuk rumah baru lebih gampang lagi, di situ tergantung setandang pisang. Masyarakat tradisional Mandar yang masih mempraktekkan sedikit-banyak kepercayaan animisme, menjadikan posiq boyang sebagai sentra melakukan ritual. Misalnya seorang nelayan pergi melaut dalam waktu lama, saat-saat tertentu sang isteri melakukan ritual tolak bala di depan posiq arring. Demikian juga ketika

95

perahu selesai dibuat dan ketika diluncurkan ke laut. Kesimpulannya, posiq boyang dijadikan pusat ritual. Maka tak aneh bila ditemukan pedupaan pas di depan posiq arriang di dalam rumah. Oh iya, biasanya posiq boyang berada di dalam kamar sehingga bendabenda yang melekat di posiq arriang tidak terlihat ketika seseorang bertamu ke rumah orang Mandar. Demikian juga ritual yang dilaksanan di dalam. Juga biasa terlihat, jika seseorang akan melaksanakan haji, dia “diharuskan” berdoa di depan posiq boyang. Setidaknya menyentuhnya. Apa alasan sehingga posiq boyang dijadikan pusat ritual? Dalam kepercayaan orang Mandar (meski dia adalah seorang muslim), posiq boyang adalah jembatan antara dunia imanen dengan dunia transenden; dunia atas dengan dunia bawah; antara pencipta dengan hambanya. Asap dupa dijadikan sebagai media yang membantu “cepatnya” tiba doa atau harapan seorang hamba terhadap kreatornya. Tak jauh beda dengan posiq-posiq di benda lain, yang dikemukakan di awal. Posiq adalah simbol kehidupan, sebagaimana posiq yang ada di tubuh manusia (baca pusar). Jika posiq tak beres, orang akan gampang sakit. Ya, itu masuk akal. Coba Anda utak-atik pusar Anda, meski kekuatan tekanan tidak begitu besar, sakit yang ditimbulkan amat menyakitkan. Itu gambaran yang sederhana, sebelumnya amat rumit. Ketika pusar adalah penghubung kehidupan antara seorang bayi di dalam perut ibunya. Potong saja tali plasenta cabang bayi, pastinya cabang bayi itu mati. Jadi, memang posiq amat penting dalam kehidupan! Manusia Mandar menyadari itu, sehingga, nenek moyang manusia Mandar menciptakan tradisi yang memposisikan posiq di tempat khusus, di tempat terhormat dalam dunia kehidupan mereka. Ilmu atau tradisi posiq tidak hanya ada dalam budaya Mandar. Suku-suku yang masih mempunyai hubungan budaya dengan suku Mandar juga memiliki hal serupa meski tak persis sama. Rumah orang Bugis, Kajang, Makassar juga ada posiq boyang-nya. Namun letak dan istilahnya beda. Orang Jawa juga demikian, makanya ada istilah “tiang agung”, yang untuk kemudian menjadi istilah umum untuk penyebutan posiq boyang dalam bahasa Indonesia. Budaya posiq, terlepas tingkat kepercayaan kita terhadapnya (mungkin ada yang tidak sependapat sebab itu tidak ada dalam ajaran agama yang dianut, misalnya Islam, sehingga dianggap musyrik), adalah satu budaya luhur manusia Mandar. Menjadi semacam praktek yang mengingatkan bahwa ada Tuhan, bahwa harus tetap ada usaha untuk menyampaikan harapan.

96

Jika tak ada kepercayaaan terhadap posiq, rasanya budaya penghormatan manusia Mandar terhadap benda-benda penting dalam kehidupan mereka, misalnya rumah, tak akan ada. Ya, tak akan ada ritual macam-macam. Hambar rasanya. Melamar di Mandar, Menghunus “Badik” yang Lemah Kamis sore, 5 April 2007, seorang kerabat datang ke rumah meminjam pam­ menangan, semacam baki kuno yang terbuat dari kuningan dan mempunyai kaki. Rencananya malam itu, ia akan pergi mattumae (melamar) seorang gadis untuk adiknya. Acara mattumae belum pernah saya saksikan, pun peluang itu tak selalu ada, jadi saya ingin mendokumentasikannya. Sebelum ke rumah perempuan, di rumah lelaki diadakan diskusi kecil oleh tiga lelaki tua. Hasilnya segera dirumuskan ke dalam dua jenis permohonan. Permohonan I: uang belanja Rp6 juta, mas kawin seperangkat alat shalat, cincin dua buah, masimasigi dua buah, kappu bunga 6 buah, lemari lengkap dengan isinya 1 buah. Sedangkan Permohonan II terdiri atas: uang belanja Rp8 juta, mas kawin seperangkat alat shalat, peputi’ cina dua buah, dan lemari lengkap dengan isinya satu buah. Kedua permohonan ini dimasukkan ke dalam amplop berbeda. Masi-masigi adalah “penutup” baki untuk bingkisan yang dibawa ke rumah perempuan ketika pernikahan dilakukan. Isinya biasanya adalah rokok. Juga disebut piputi’ Cina (pembungkus Cina) karena dahulu isinya adalah tembakau Cina (ganja?), sirih, dan pinang. Adapun kappu bunga berupa bunga yang dibungkus kain. Penggunaan benda-benda tersebut merupakan ussul atau ada makna yang diharapkan dari penggunaannya. Setelah isi surat disepakati, rombongan pelamar berangkat menuju rumah perempuan yang jaraknya sekitar 4 km dengan menggunakan mobil. Rombongan terdiri dari delapan lelaki dan enam perempuan dewasa, salah satunya mengenakan “pasangan” berwarna biru (salah satu jenis baju adat di Mandar) dan membawa pammenangan. Ini berupa amplop yang berisi uang Rp100 ribu, sebagai simbol bahwa pihak laki-laki hanya mempunyai kemampuan memberi uang belanja ke pihak perempuan maksimal Rp 10 juta. Sebelum naik ke rumah perempuan, tuan rumah menyiramkan beras ke tamunya sebanyak tiga kali. Dalam masyarakat Bugis tradisi ini juga ada, menurut Pelras (Manusia Bugis, hal. 182) mereka menggunakan bertih atau benno’ (beras yang disangrai dalam kuali hingga kulitnya pecah meletup dan mengembang). Tidak lama

97

kemudian, prosesi melamar dimulai, menggunakan bahasa Mandar, sesekali bahasa Indonesia. Pihak laki-laki: “Apakah jalanan yang akan kami lalui ini mulus adanya?” Dijawab oleh pihak perempuan: “Insya Allah”. “Saya ditunjuk sebagai pengganti Papa’ Ko’na (bapak pihak laki-laki) melalui Becce untuk menyampaikan apa yang diniatkan. Oleh karena itu, kami yang datang sudah ingin menerima puti-puti’ (“bungkusan”) yang sekiranya akan membuat kita sama-sama baik di mata orang”. “Terima kasih kepada Kindo’ Jera (nama ibu pihak perempuan) sekaligus perwakilan dari Lembang-lembang (asal kampung laki-laki). Mengenai maksud yang disampaikan pihak dari Lembang-lembang, me­ nyangkut masalah kemulusan jalan dan sekaligus aturan mengenai puti-puti’, Insya Allah apa yang diniatkan malam ini bisa baik. Bisakah kiranya kami melihat apa yang dibawa pammenangatta? Kemudian pihak lelaki memberikan pammenangan ke pihak perempuan. Wakil pihak perempuan mengambil amplop itu lantas membukanya. Setelah itu, pihak perempuan memberikan amplop balasan ke pihak laki-laki, yang setelah dibuka, berisi permintaan pertama: uang Rp10 juta, beras 300kg, cincin 3 buah, kappu bunga 12 buah, piputi’ Cina 2 buah, dan lemari lengkap dengan isinya. Sebagai balasan, pihak laki-laki memberikan amplop “Permohonan I”. Wakil pihak perempuan pun membaca isinya. Setelah membaca, pihak perempuan kembali memberikan amplop yang lain ke pihak laki-laki. Isinya: uang kontan Rp8 juta, beras 300kg, cincin 3 buah, kappu bunga 12 buah, piputi’ Cina 12 buah, dan lemari lengkap dengan isinya. Sebelum memberikan amplop “Permohonan II” ke pihak perempuan, wakil pihak laki-laki berucap: “Sebelum saya mengeluarkan badikku (maksudnya amplop “Permohonan II”), badik yang memang lemah ini, badik yang memang lemah uratnya; saya menyampaikan, ini sudah laksana layang-layang yang benangnya sudah terulur semua.” Semua yang hadir pun tertawa. Kemudian dia memberikan amplop pamungkasnya ke pihak perempuan. Pihak perempuan membacakan isi “Permohonan II”. Setelah itu pihak perempuan memberikan amplop ketiga, yang meminta uang kontan Rp8 juta, cincin 3 buah, kappu bunga 8 buah, piputi’ Cina 2 buah, dan sebuah lemari berserta isinya. “Bisakah kita saling kompak?” disampaikan pihak laki-laki sebab ada perbedaan antara kemampuan mereka dengan apa yang diminta pihak perempuan, khususnya jumlah cincin. Kemudian mereka melakukan negosiasi. Akhirnya disepakati jumlah cincin yang dibawa laki-laki adalah dua buah. 98

Sesaat kemudian, surat yang telah direvisi isinya diperlihatkan ke ibu pihak perempuan. Dia menyetujui isinya. Salah seorang perwakilan perempuan dan perwakilan laki-laki membubuhkan tanda tangan ke surat “Permintaan” (disimpan pihak laki-laki) dan “Permohonan” (disimpan pihak perempuan) yang telah disepakati itu. *** Proses melamar seperti ini tidaklah dilakoni langsung sang lelaki atau perempuan yang hendak menikah. Di Mandar, ada tiga tahap yang dilakukan sebelum memasuki acara pernikahan. Yang pertama adalah missisi’ (menyelinap, dalam Bahasa Bugis ma’manu-manu’), yaitu kegiatan kunjungan pihak lelaki (biasanya perempuan baya dan pandai berdiplomasi) ke pihak perempuan untuk mencari tahu kemungkinan bisa-tidaknya perempuan dilamar. Kedua, mattumae (melamar). Saat saya menyaksikan proses pelamaran, sang lelaki malah sibuk memotong-motong kayu bakar bersama tetangganya untuk pernikahannya nanti. Ketiga, mattanda jari (menentukan hari pernikahan) juga demikian adanya, lelaki “ditinggal” di rumah, sang perempuan juga tak ikut serta hadir menyambut datangnya tamu. Pengetahuan tentang teknik “menyelinap”, melamar, dan menentukan hari pernikahan tak dilakukan sembarang orang. Meski tampak sederhana, tapi dibutuhkan teknik diplomasi dan pengetahuan tentang kata-kata kiasan. Dan orang yang dipercaya melakukan negosiasi pun harus paham betul tentang adat yang berlaku dan kata-katanya bisa dipercaya. Begitu pentingnya proses di atas, jika keliru, kehendak si Fulan untuk menikah bisa saja batal. Mungkin karena duta “penyelinap” itu sengaja memutar fakta, mungkin juga karena penyampaian maksud yang tidak tepat. Banyak orang yang bisa bernegosiasi, tapi penggunaan kata-kata kiasan tidaklah demikian adanya. Di kampung saya, ada orang-orang tertentu yang biasa diajak untuk menjadi duta ke rumah perempuan, baik di tahapan missisi’ maupun di saat melamar. Penggunaan kata-kata kiasan-lah yang mengesankan saya, ketika menyaksikan proses pelamaran. Wajar saja tak sembarangan orang bisa melakukannya. Menari Bersama Kuda Sayyang Pattuqdu Menari bersama kuda, sekilas terlihat mudah. Apalagi bila berpikir, pawang yang mengawal sang kuda akan membantu mengendalikan hewan itu. Tapi nyatanya, tak semudah itu. Nyatanya, ketika saya mencoba, hanya bisa bertahan kurang dua menit. 99

Pengalaman mengesankan ini terjadi ketika beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke sebuah kampung terpencil, Desa Suruang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat. Dari jalan trans Sulawesi pantai barat, jaraknya sekitar 10 km ke arah pedalaman (utara). Tak jauh dari Kampung Lapeo, yang terkenal dengan seorang wali bernama Kyai H. Muhammad Tahir atau lebih dikenal dengan nama Imam Lapeo. Di Desa Suruang di perbukitan tersebut bermukim seorang tua yang terkenal sebagai pelatih kuda. Kuda yang dilatihnya bukan untuk pacuan, tetapi untuk dijadikan kuda penari. Di Mandar dikenal dengan sebutan sayyang pattuqdu atau kuda penari. Di Mandar, koreografer tarian kuda bisa dihitung jari meski kuda penari ada ratusan. Hari itu, saya sengaja datang untuk menemui seorang di antaranya. Menurut sang pelatih, yang mata kanannya buta, ia sudah puluhan tahun melatih kuda, sejak masih muda, saat belum berkeluarga. Sekarang ia sudah bercucu. Jika dihitunghitung, dia sudah melatih kuda sampai angka ribuan. Rata-rata dia melatih 3-4 kuda dalam satu bulan atau dalam satu tahun sekitar 50 kuda. Jadi, karena ia telah melatih kuda lebih dua dekade, maka angka ribuan sangat masuk akal. Saat tiba di rumah sang pelatih kuda penari ini, saya mendapati rumah panggung yang cukup lapang, tapi minim perabotan. Salah satu petak lantainya hanya dipenuhi bawang merah, yang tak kunjung terjual. Kolong rumah, di mata banyak orang mungkin jorok sebab kolong rumahnya beralaskan kotoran dari empat ekor kuda. Kotorannya basah, sebagian lagi lembab. Tapi aroma tak menusuk, sebab aroma kotoran kuda tidak seperti binatang lain. Saat saya datang, sekitar jam dua siang, sang pelatih sedang beristirahat. Setelah mengobrol sebentar, kepiawaiannya sebagai pelatih kuda diperlihatkan. Kebetulan ada kuda baru, yang sama sekali tak bisa menari dan masih muda, berumur dua tahun. Kuda itu milik seorang kusir dokar di Kecamatan Balanipa, yang juga menyediakan jasa sayyang pattuqdu. Ia baru membeli kuda dari orang Jeneponto yang membawa kuda-kuda ke Mandar. Ada dua gerakan utama dalam tarian kuda di Mandar, yaitu gerakan kepala yang mendongak-dongak, dan gerakan dua kaki depan yang dihentakkan secara bergantian ke tanah. Kuda yang belum mahir, umumnya menggerakkan kakinya bersamaan. Kepalanya pun belum tampak anggun. Sedangkan kuda yang sudah terlatih, hentakan antara kaki kanan dengan kaki kiri dilakukan bergantian. Saat gerakan dilakukan, ada saat-saat tertentu kaki yang berada di atas di udara dihentikan.

100

Pelajaran pertama yang diterima si kuda adalah gerakan leher/kepala, hentakan kaki dan pengaturan posisi antara dirinya (kuda) dengan pawang atau yang mengontrol kuda. Untuk mengatur gerakan leher, caranya cukup sederhana, tapi rumit dalam prakteknya. Caranya, tali dililitkan ke atas kepala kuda yang melintasi mulutnya. Tali tersebut digenggam sang pelatih dan ketika proses latihan berlangsung, tali ditarik-tarik dengan tekanan tertentu. Sang pelatih memperhatikan gerakan kuda. Bila terlalu keras, tali dikendorkan. Lalu dilakukan penyesuaian tekanan tali yang tepat dengan gerakan kuda, dengan cara mengatur simpul di tali. Saat pelajaran pertama, selain tali, alat lain yang digunakan adalah cemeti atau cambuk. Cambuk ini sesekali melecut ke kuda pundak atau perut kuda ketika badan kuda terlalu dekat ke pelatih. Ini terus dilakukan sampai kuda menjadi “sadar posisi�. Cambuk juga dilecutkan ke lutut kuda, agar gerakannya stabil. Proses latihan sempat berhenti ketika hujan turun. Kesempatan itu digunakan untuk beristirahat. Kuda kelihatan ngos-ngosan, dari mulutnya keluar buih. Setelah hujan reda, latihan hari pertama dilanjutkan. Berbeda dengan sesi pertama, di sesi kedua ini sang pelatih sudah menggunakan kayu keras sebagai pengganti cambuk. Saatnya semakin mengontrol gerakan kaki, agar kaki tidak bersamaan lagi naik-turunnya. Sesekali terdengar bunyi kayu yang menghantam tulang lutut kuda. Wah, betapa sakitnya. Tapi kalau melihat wajah kuda, kayaknya ia tak apa-apa. Sama sekali tak ada perubahan raut wajah. Mungkin, sang kuda pasrah saja. Menurut sang pelatih, kuda itu sama seperti manusia. Ada yang gampang dilatih, ada yang tidak. Melatih pun tidak sembarangan, ada ilmunya tersendiri, baik yang berkaitan mistik maupun keterampilan teknik semata. Unsur mistik terlihat ketika sang pelatih akan memasang tali ke kepala-mulut kuda. Terlihat dia melakukan belaian sampai tiga kali, mulai dari mulut kuda sampai pangkal ekornya. Dan ketika kuda selesai dilatih atau sudah lulus, ada acara “wisudanya�, yaitu melakukan sesajen di rumah. Keterampilan juga bukan hal sepele. Sebab bila tak lihai, bisa-bisa kaki kanan si pelatih remuk dihantam telapak kaki kuda. Ya, remuk sebab jarak antara kaki pelatih dengan kaki depan kuda hanya beberapa sentimeter, padahal gerakan kaki kuda tak pernah berhenti. Menurut sang pelatih, jari kelingking kakinya sudah tiga kali dihantam kaki kuda. Itu belum seberapa, dibanding dengan bergumul dan ditendang kuda.

101

Beberapa lama kemudian, datanglah keponakan sang pelatih. Ia membawa kuda yang sudah lincah menari. Kudanya hitam legam, sehingga dinamai “bolong” (hitam mengkilat). Dia sudah lulus dan tinggal menunggu si pemiliknya datang menjemputnya. Kuda tersebut menjalani latihan sekitar enam hari. Memang demikian rata-rata hari kuda menjalani “diklat” sebagai kuda penari. Karena kudanya lebih besar, lincah dan jinak, saya berkeinginan untuk naik dipundaknya untuk mengabadikan gerakan kepala ikan dari sudut di atas kuda. Untuk pertama kalinya saya duduk di atas kuda! Ah, bahagia sekaligus menegangkan. Sayangnya, saya tak bisa bertahan lama. Terlalu sulit bagi saya untuk menjaga keseimbangan tubuh, sementara satu tangan yang lain sibuk memegang kamera. Tapi. bagi yang ingin naik sayyang pattuqdu, atau menjadi “tomissawe”, tidak perlu khawatir atau setegang saya, sebab naik sayyang pattuqdu yang berarak keliling kampung ada yang menjaga. Selain pawang kuda, juga ada “passarung”, yaitu empat laki-laki dewasa yang berada di kiri-kanan kuda. Umumnya mereka kerabat perempuan yang duduk di atas kuda. Selain merasakan kenikmatan diayun tubuh kuda yang menari, perempuan yang berada di atas kuda (ada dua orang, perempuan dewasa di depan dengan mengenakan kostum pakaian adat Mandar, di belakangnya gadis kecil yang baru khatam Al Quran dengan kostum pakaian Arab) juga akan disuguhi musik rebana, shalawat nabi, dan lantunan kalindaqda (semacam pantun). Tradisi sayyang pattuqdu di Mandar tidak diketahui persis kapan mulai dilakukan. Diperkirakan tradisi itu dimulai ketika Islam menjadi agama resmi beberapa kerajaan di Mandar, kira-kira abad XVI. Sayyang pattuqdu awalnya hanya berkembang di kalangan istana, yang dilaksanakan pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kuda digunakan sebagai sarana sebab dulunya di Mandar, kuda adalah alat transportasi utama dan setiap pemuda dianjurkan untuk piawai berkuda. Dalam perkembangannya, sayyang pattuqdu menjadi alat motivasi bagi anak kecil agar segera menamatkan Al Quran. Ya, ketika seorang anak kecil mulai belajar Al Quran, oleh orang tuanya dijanji akan diarak keliling kampung dengan sayyang pattuqdu jika khatam Al Quran. Karena ingin segera naik kuda penari, maka sang anak ingin segera pintar mengaji dan khatam Al Quran “besar”. Musim sayyang pattuqdu dimulai setelah 12 Rabiul Awal. Beberapa kampung di Mandar, secara bergantian melaksanakan arakan sayyang pattuqdu dalam jumlah

102

banyak. Jadi hampir tiap hari ada saja arak-arakan kuda yang diatasnya duduk dengan anggun wanita-wanita cantik, yang diiringi tabuhan rebana nan rancak, dan irama kalindaqda (syair yang dilagukan) yang sering kali disambut sorakan penonton karena isi kalindadaqnya jenaka. Kampung yang melakukan arak-arakan, ramainya bukan main. Jalan-jalan penuh oleh penoton yang datang dari penjuru kampung, baik di Mandar maupun daerah lain. Dan yang pasti, tak ada orang kelaparan di kampung yang melakukan perayaan, sebab semua rumah menyediakan makanan enak-enak, ayam, buras, ketupat, dan lain-lain. Sisi Lain Maulid Nabi: Adam Air dan The Pooh Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Mandar, ditandai arak-arakan kuda penari (sayyang pattuqdu) di sepanjang kampung di pesisir Teluk Mandar, yang diawali dengan perayaan maulid di dua kampung yang menjadi simbol penyebaran agama Islam di Mandar karena makam dua tokoh penyebar Islam berada di dua kampung itu. Pertama adalah Salabose, desa kecil yang terletak di atas bukit, tidak jauh dari ibukota Kabupaten Majene. Di tempat ini ada dua situs sejarah: makam Syekh Abdul Mannan dan mesjid yang dibangunnya. Kedua, Desa Lapeo, basis penyebaran Islam Kyai H. Abdul Tahir “Imam Lapeo” (Kabupaten Polman). Tanggal 12 Rabiul Awal 1428 H atau 31 Maret 2007, saya bolak-balik di kedua desa tersebut, yang berjarak hampir 20 km, untuk menyaksikan dan mendokumentasikan acara perayaan lahirnya Nabi Muhammad SAW. Khusus di Salabose, ada fenomena yang menarik dicatat. Jika dulunya telur maulid yang berwarna-warni dipasang di pohon pisang yang berbuah dan kemudian diletakkan di dalam ruang mesjid atau tempat lapang, di Salabose sudah menggunakan balok kayu yang memang dibuat khusus. Jadi bisa digunakan setiap tahun, berbeda dengan pohon pisang dipakai sekali saja. Yang menonjol kali ini adalah makin beragamnya penggunaan simbol-simbol tertentu di puncak “pohon telur” (disebut “tiriq” dalam Bahasa Mandar). Dulu, di “pohon telur” itu terdapat satu tandan buah pisang. Tapi sekarang, yang dipasang adalah miniatur benda-benda, baik itu bangunan, alat transportasi, benda yang diperdagangkan, binatang, bintang, dan lain-lain. Benda-benda menarik yang sempat saya saksikan antara lain miniatur pesawat yang di badannya tertulis Adam Air (bentuk pesawatnya tidak sama, sebab miniatur pesawatnya berbaling-baling, mungkin lebih tepat disebut pesawat DAS, Dirgantara

103

Air Service). Ada juga miniatur gitar, bungkus rokok raksasa LA, perahu sandeq, kapal motor nelayan, dan boneka beruang Winnie The Pooh (tapi tampak beda dengan Pooh yang asli). Simbol-simbol yang umum memang masih ditemui, misalnya, mesjid, Ka’bah, kuda berkepala manusia yang diartikan kuda “Bouraq” (kendaraan Nabi Muhammad SAW ketika Isra Mi’raj), bintang, bulan sabit, dan lain-lain. Lalu, di sela tangkai “pohon telur”, juga pasangi uang seribuan (asli) dan sandal jepit. Fenomena yang saya saksikan di Desa Salabose ini tidak berlaku umum di semua kampung di Mandar yang memiliki tradisi maulid dalam skala besar. Di kampung lain, “pohon telur” masih terbuat dari pohon pisang asli. Mungkin saja, karena perayaan di Salabose ini dimasukkan dalam kalender wisata dan dibuat formal setiap tahun, maka penduduk setempat tidak ingin direpotkan lagi oleh penggunaan pohon pisang. Penggunaan simbol-simbol ini, sedikit banyak dapat mencerminkan kejadian, impian, hobi, dan ingatan kolektif masyarakat setempat. Boneka beruang Winnie The Pooh atau miniatur gitar mewakili kegenitan dunia hiburan yang dipasang berdampingan dengan Ka’bah. Tapi, yang paling banyak mengundang tanya para penonton arak-arakan tentunya adalah miniatur Adam Air. Mengapa harus mengarak pesawat itu dalam pesta maulid kali ini? Ternyata, warga Majene punya pandangan lain soal ini. Setelah kecelakaan hilangnya pesawat Adam Air penerbangan Surabaya-Manado di sekitar Selat Makassar bulan Januari lalu, nama Majene makin terkenal. Ya, jika dulunya orang Majene (atau Mandar pada umumnya) sering kesulitan menjelaskan lokasi daerah asal mereka, sekarang gampang saja. Mereka tinggal bilang, “Saya tinggal dekat lokasi jatuhnya Adam Air”. Orang yang bertanya, pasti bisa mereka-reka di mana gerangan lokasi yang dimaksud. Melepas Warga Tinambung Naik Haji Senin malam, 18 Desember 2006 suasana di Tinambung, Sulawesi Barat, terasa meriah. Seperti tahun-tahun sebelumnya, di Mesjid Raya Al Hurriyyah Tinambung diadakan acara pelepasan calon haji. Puluhan mobil dan motor memenuhi halaman dan jalan sekitar mesjid, sementara di dalam mesjid, ratusan orang berdesakan, meluber hingga ke pelataran. Malam itu 34 calon haji yang tergabung di kloter 33 secara resmi dilepas keberangkatannya. Pejabat kecamatan, tokoh masyarakat, dan kerabat calon haji hadir dengan wajah-wajah ceria.

104

Saya yang larut dalam kemeriahan malam itu, cukup kaget bercampur haru menyaksikan pelepasan ini. Beberapa orang yang saya kenal sebagai “orang biasa”, kini berada di antara jemaah calon haji, Ada guru agama saya sewaktu di SD, staf tata usaha sewaktu saya di Madrasah Tsanawiah, dan tetangga yang pekerjaannya biasa-biasa saja. Sementara sejumlah warga yang tampak lebih kaya, tapi belum juga naik haji. Sementara yang terlihat “biasa”, Alhamdulillah, mendapatkan panggilan-Nya. Memang benar kata orang, soal ibadah haji, bukan sekadar kesiapan materi, tapi juga “panggilan” dan perasaan telah mantap menjalankannya. Para jemaah calon haji malam itu laksana pejuang yang dilepas dengan segenap doa. Malam itu mereka tampil berbeda. Mengenakan jas seragam jemaah, kaos tangan putih (mungkin alasannya wudhu tidak batal), syal (bertuliskan asal daerah/negara), tas paspor tergantung di depan perut, dan yang perempuan tak lupa berdandan lebih istimewa dengan sapuan bedak tebal dan pemerah bibir. Malam itu mereka akan memulai perjalanan panjang, menujuk ke Asrama Haji di Sudiang, Makassar selama kurang lebih 7 jam, dikarantina beberapa hari sebelum diterbangkan menuju tanah suci, Mekkah. Ussul Detik-detik sebelum keberangkatan memang penuh keramaian dan kegembiraan, tapi sebenarnya ada yang lebih menarik perhatian saya; sejumlah ritual yang dilakukan calon haji dan keluarganya. Ya, proses ibadah haji di Mandar tak lepas dari hal-hal berbau tradisi. Ada yang terlihat jelas sebagai sisa kepercayaan animisme, dan ada yang dibalut pengaruh Islam. Ketika sang calon haji turun dari tangga (jika berumah panggung), harus melangkahi (melewati atau tidak menginjak) satu anak tangga; dan saat kaki menginjak tanah, orang di atas rumah (yang ditinggalkan) berteriak (dalam bahasa Mandar) “Kembali ya!” dan sang calon haji pun menjawab “Ya”. Pada saat itu, semangat optimisme membara dalam diri yang diikuti gerakan tangan sang calon haji ke angkasa melemparkan uang. Uang diperebutkan, tapi jangan dibelanjakan. Uang itu dijaga, dan Insya Allah tahun mendatang orang yang mendapatkan uang itulah yang dapat giliran naik haji. Itulah ussul atau harapan yang ingin didapatkan dari ritual ini. Masih banyak praktek ussul lain. Di antaranya, si calon haji dan kerabatnya meletakkan sebutir batang kelapa di dekat posiq arriang (tiang utama rumah). Jika kelapa bertunas (tumbuh), itu pertanda kerabat yang naik haji baik-baik saja.

105

Bila terjadi sebaliknya, itu pertanda buruk. Praktek lain, piring, gelas, dan alatalat makan lain yang terakhir digunakan oleh si calon haji, jangan dicuci. Biarkan saja! Bisa disimpan di bawah ranjang atau di dekat tiang utama rumah. Nanti dibersihkan ketika kerabat datang kembali. Ussul lainnya lagi adalah membuat kaligrafi sederhana bertulis “Allah” dan “Muhammad”. Kaligrafi “Allah” ditempel di tiang utama rumah, sedangkan kaligrafi “Muhammad” dibawa serta saat ke Mekkah. “Kan tidak mungkin Allah dan Muhammad dipisahkan”, mungkin itu gambaran di benak yang melakukannya. Jadi, Insya Allah kembali dengan selamat. Kerabat yang ditinggalkan tidak mau ketinggalan. Mereka meminta sang calon haji membawa foto mereka ke Padang Arafah untuk ditanam di sana. Harapannya, mudah-mudahan si pemilik foto juga naik haji. Itulah sekilas ritual-ritual yang dilakukan jamaah calon haji dari Mandar. Apakah harapan mereka terwujud atau tidak, Allah yang maha tahu; apakah itu hanya khayalan semata dan dekat dengan perilaku musyrik, juga Allah yang tahu; jika ada motivasi lain selain mendapat ridha Allah SWT, misalnya status sosial yang naik di masyarakat, sekali lagi hanya Allah SWT yang memahaminya. Yang jelas, mereka gembira dan bahagia menjadi ummat yang bisa melengkapi rukun Islam yang kelima; yang jelas makna di balik serangkaian ritual itu adalah mengharapkan saudara dan orang tua mereka kembali dengan selamat dan menjadi haji yang mabrur. Selamat menunaikan ibadah haji! Ramadhan di Kampungku Ramadan di Mandar punya kekhasan tersendiri, kekhasan yang cukup menarik. Ada buku “Ramadan di Jawa” (Penerbit Nalar, Jakarta 2005), ditulis seorang ilmuwan Swedia, André Möller. Bila Ramadan di Mandar ada yang meneliti, mendokumentasi untuk kemudian menuliskannya, pasti isinya tidak kalah menarik dibanding Ramadan di Jawa. Berikut sekilas nuansa Ramadan dikampungku, Tinambung, sekitar 290 km kearah utara dari Makassar. Mambaca-baca Di Mandar, tradisi yang dilakukan menjelang bulan suci Ramadan adalah kegiatan kenduri. Acara dilangsungkan tepat di malam pertama bulan Ramadan. Tradisi ini lebih kental di masyarakat Mandar yang berada di pedalaman, misalnya

106

daerah pegunungan. Kalau yang di kota-kota, misalnya di Tinambung, bisa dikatakan tidak semua rumah mengadakan “baca-baca”. Buka puasa Paling tidak ada tiga bentuk buka puasa selama Ramadan di kampung kita, Tinambung. Pertama di rumah, kedua di mesjid, ketiga pada acara buka puasa. Yang dimaksud dengan yang ketiga adalah bila ada yang punya hajatan, misalnya organisasi profesi, parpol, sekolah, lembaga pemerintah, maupun rumah tangga yang punya kemampuan ekonomi untuk potong banyak ayam, siapkan kue lebih banyak dari biasanya, dan sebagainya. Buka puasa di rumah tidak lepas dari kue atau makan-minuman yang manis. Pallebutung, pisang ijo, cendol, agar, kulapis, dan makanan yang jamak di Mandar silih berganti di dapur rumah orang-orang Mandar. Buka puasa di mesjid tidak kalah menariknya. Perlu dibedakan buka puasa di mesjid yang harian dengan yang diadakan khusus. Kalau yang harian, pelaksanaannya cukup bersahaja. Dihadiri beberapa takmir dan jamaah-jamaah shalat Maghrib. Waktu mara’dia kita masih hidup, beliau lebih banyak buka di mesjid dibanding di rumahnya. Lalu darimana kue-kue berasal? Kue secara bergilir dibawa oleh ibu-ibu rumah tangga yang bermukim di sekitar mesjid. Karena digilir, rasa dan bentuk kue cukup beragam. Enak kan? Beda dengan kota, hidangan buka puasanya ditanggung oleh mesjid. Menunya mulai dari nasi bungkus, es buah hingga nasi kotak. Tapi beda tiap mesjid. Mesjid “kaya”, misalnya Mesjid Raya Makassar, membuat paket makanan dalam jumlah banyak. Kenyamanan di mesjid tersebut membuat banyak ummat yang beribadah di sana, termasuk berbuka. Jalan-jalan subuh Selesai membaca do’a, biasanya jamaah tidak langsung pulang ke rumah, kecuali yang ingin melanjutkan tidurnya. Aktivitas yang mungkin bisa dianggap khas bulan Ramadan di Mandar, khususnya Tinambung, adalah jalan-jalan subuh. Jamaah-jamaah dari beberapa mesjid, misalnya Tingga-tinggas, Kandemeng, Sepang, dan Tinambung paling tidak bertemu dia dua titik. Kalau bukan di kandang, di jembatan Sungai Mandar. Kalau jamaah dari Al Hurriyah Tinambung, “rutenya”: kandang, belok kanan ke arah jembatan, tiba di ujung jembatan balik untuk kemudian pulang ke rumah. Biasa juga ada yang langsung ke arah Puskesmas. Karena jalannya lambat dan biasa singgah beberapa saat di jembatan, perjalanan relatif lama. 107

Juga ada “rute” lain, tapi yang memilih biasanya orang tua. Yaitu ke arah Kandemeng atau menuju lapangan. Ya, rute ini lebih sepi, cocok untuk orang-orang tua. Anak-anak muda yang menunggu-nunggu Ramadan. Apalagi kalau bukan mangodo’, meski tidak seagresif di luar bulan Ramadan. Paling tidak lihat cewekcewek lalu lalang di depan, saat berdiri di trotoar jembatan Sungai Mandar. Sudah menjadi anggapan umum bahwa di awal dan akhir Ramadan pasti banyak yang jalan-jalan subuh, tapi kalau berada di tengah Ramadan, jalanan cenderung sepi meski tidak sesepi di luar Ramadan. Awal ramai, tengah sepi, akhir ramai (lagi) “Peserta” jalan-jalan subuh yang menurun sepertinya berkorelasi dengan jumlah jamaah di mesjid, mulai dari shalat Duhur sampai shalat sunnat tarwih/witir. Awalnya ada beberapa saf, tapi menjelang tengah Ramadan, saf “maju ke depan”. Untung menjelang akhir saf “mundur” lagi, jadi “tidak apa-apa”. Juga tidak perlu “malu”, hampir semua mesjid/daerah di Indonesia demikian. Celengan Di Mesjid Al Hurriyah Tinambung, pembawa celengan kayaknya tidak bisa dipisahkan dari dinamika mesjid terbesar di Kecamatan Tinambung ini. Peran pembawa celengan cukup besar artinya di bulan Ramadan dan pada saat shalat Id. Bila di luar Ramadan hanya ada satu petugas pembawa celengan, di Ramadan bisa sampai 4-5 orang. Oh iya, hasil celengan juga punya kesamaan dengan “peserta” jalan subuh dan jumlah jamaah. Jumlah celengan yang berhasil dihimpun cenderung besar di awal, sedikit di tengah. Akhir Ramadan banyak lagi karena banyak jamaah di malammalam ganjil. Kalau dibandingkan dengan Yogya dan beberapa mesjid di Makassar, pengedaran celengan di Tinambung beda. Di Yogya, celengannya berjalan “sendiri” alias diopor-opor jamaah. Ini bisa dilakukan sebab jamaah tidak berjauhan, mereka duduk berdampingan. Di Tinambung jangan bayangkan itu bisa dilakukan, jadi memang harus ada yang mengedarkan celengan. MC dan penceramah Masih di mesjid kebanggaan kita, Al Hurriyah Tinambung, kesuksesan acara

108

ibadah di mesjid tidak terlepas dari peran MC alias pembawa acara dan penceramah. Penceramah sudah jelas perannya, jadi tidak perlu dibahas panjang di tulisan ini. MC menarik sebab 11 bulan yang lain tidak ada MC-nya. MC tampil di depan jamaah beberapa saat menjelang shalat Isya. Si MC, biasanya dibawakan anak-anak muda, mengumumkan pemimpin shalat Isya, tarawih, dan witir; jumlah celengan malam sebelumnya; petugas pembawa celengan, dan penceramah “malam ini” dan “esok”. Passalawaq Kekhasan Ramadan yang lain di mesjid kita adalah adanya passalawa’. Setiap dua rakaat, tim passalawa’ yang dibawakan oleh anak-anak remaja, membacakan shalawat. Tim salawat mudah dikenali, mereka seragam bajunya. Ramadan kali ini beda, pakai baju batik. Dulu kattiung atau baju arab. Salah satu anggota tim passalawa’ yang bersuara keras dan indah suaranya menjadi “pengeras suara” iman, misalnya ketika takbir, sujud, dan salam. Passalawa’ bertugas penuh di bulan Ramadan. Selain dapat amal, mereka juga dapat berkah dunia. Bukan gaji, tapi semacam ungkapan terima kasih dari jamaah. Tarwih Di mesjid kita, tarwihnya 20 rakaat plus witir 3 rakaat. Ada beberapa jamaah yang hanya sampai tarwih delapan dan lanjutkan witir di rumah. Tapi kita jangan kaget bila ke Yogya. Di sana ada banyak mesjid yang hanya sampai tarwih delapan plus witir. Rakaatnya pun tidak dua-dua, tapi empat-empat. Tim passalawa’ pun tidak ada. Shalawat kepada Nabi Muhammad dilakukan semua jamaah dengan bimbingan imam. Penjual kue Ramadan bukan saja bulan ibadah. Untuk beberapa saudara kita juga memanfaatkannya untuk menambah penghasilan. Hitung-hitung ada uang untuk membelikan anak baju dan sandal baru. Selama Ramadan, penjual kue dan makanan tumbuh di mana-mana, khususnya di sekitar mesjid, meski tidak seperti jamur di musim hujan. Biasanya menu yang dijual adalah jagung bakar, kacang, mie, pallubutung, sara’ba, dan lain-lain. Warung biasanya ramai sebelum shalat Isya, setelah tarwih delapan, dan setelah ibadah di mesjid selesai. Yang meramaikan biasanya anak-anak kecil dan remaja.

109

Yang menemani makan sahur Kalau tidak salah, sudah 35 tahun Kyai H. Abdul Rahman Wahid menemani orangorang beriman di kawasan timur Indonesia makan sahur lewat acara radio “Dialog Bulan Ramadhan”. Acara disiarkan pukul 03.15 WITA dinihari dengan durasi 30 menit. Tiga dekade menemani tapi orang lebih mengenal sapaannya, yaitu “Pak Kyai”, bukan nama lengkap di atas. “Pak Kyai” bertahan begitu lama dengan mitra silih berganti. Yang paling berkesan di hati pemirsa adalah Kyai H. Syamsumarlin BA atau lebih akrab dipanggil “Daeng Naba”. Masyarakat Mandar cukup menggandrungi acara RRI Makassar itu. Berbagai macam pertanyaan masuk ke saluran telepon atau lewat surat. Salah satu daya tarik acara ini adalah cukup merakyat dan ada nuansa humornya, tapi tidak vulgar, sebagaimana acara-acara di TV sekarang ini. Meski “Pak Kyai dan Daeng Naba” tergusur oleh acara-acara Ramadan di tivitivi, namun di hati masyarakat Mandar (khususnya generasi 25 tahun ke atas) acara itu takkan terlupakan! “Pembue’o miapi !!!” Judul bagian ini tak pernah lagi menggema di sekeliling Mesjid Raya Al Hurriyah Tinambung sejak meninggalnya Kama’ Sako’. Beliau adalah takmir mesjid di era Imam Janggo’ (Kyai H. Alwi). Masih terngian di telinga kita sahutan-sahutan: “Sahuuur … sahuuur … sahuuur …pembue’o miapi … sappulo pai meni’ tannalambi’ pukul dua. Sahuuur … sahuuur … sahuuur … alloang ao. Sahuuur … nasamba’iao gimbal” (Sahur, bangunlah memasak, sepuluh menit lagi jam dua. Sahur, jangan sampai kesiangan. Sahur, awas beduk akan menendangmu). Kemudian ditutup dengan kalimat unik dan khas: “Saya pulang di rumah” (bukan “Saya pulang ke rumah”). Ketulusan, loyalitas, pengabdian, dan kekuatan iman diramu jadi satu dalam jiwa Kama’ Sako’. Puluhan tahun, sejak zaman belum ada mik (pengeras suara) hingga tubuhnya tak mampu lagi dibawa ke mesjid, beliau tak bosan menyeru umat muslim untuk bangun mempersiapkan sahur. Mengenang kembali ramadan-ramadan dulu membuat hati rindu suara khas Kama’ Sako’. Belia meninggalkan masyarakat Mandar di Tinambung pertengahan 90-an lalu. “Kama’ Sako’, salama’ lao ku’burna!” (Kama’ Sako’ semoga selamat dikuburnya). Kalau ada yang menambahkan, khususnya teman-teman dari Tinambung, pasti lebih menarik dan lebih lengkap.

110

Ini Dia Kuliner Mandar Tui-tuing Tapa dan Jepa Dulu di Kota Makassar ada istilah “warung terpanjang”, yaitu jejeran pedagang kakilima (yang menjual bakso, pisang “epeq”, es teler, dan lain-lain) di tanggul penahan ombak Pantai Losari. Di Mandar, saat ini, juga ada. Letaknya di Pantai Labuang, Kecamatan Somba. Letaknya sekitar 350km dari Kota Makassar ke arah utara atau kurang 100km dari Kota Mamuju ke arah selatan. Kesamaan dengan Pantai Losari, sama-sama terletak di pinggir pantai, di pinggir jalan. Bedanya, yang di Somba ini bukan dalam kota, tapi jalan trans Sulawesi. Bedanya lagi, dan ini keunikan Pantai Somba, yang ditawarkan adalah hidangan makanan tradisional Mandar: “tuin-tuing tapa” (ikan terbang asap) dan “jepa” (ampas ubi kayu yang dipanggang dengan batu pipih). Selain itu, juga ada menu “buras”, gulai “cumiq” (cumi), dan menu biasa, seperti nasi putih, mi siram. Dan bila ingin membawa oleh-oleh, bisa membeli ikan terbang kering. Kurang lebih satu kilometer di Pantai Somba tersebut, di Pantai Labuang (untuk membedakan dengan Pantai Somba di ibukota Kecamatan Somba), berjejer puluhan warung-warung makan. Terbuka 24 jam. Di depan warung, selalu ada tempat mengasap ikan. Jadi, selalu ada asap saat melintas kawasan ini. Bisa dikatakan, wisata kuliner khas menu tradisional budaya bahari terbesar di sepanjang pantai Pulau Sulawesi ada di Pantai Somba ini. Setidaknya dari ujung selatan Sulawesi Selatan di Pantai Bira hingga pantai utara Gorontalo, sebagai pesisir yang pernah saya lihat. Dengan kata lain, tak ada yang seheboh di Pantai Somba! Bukan hanya wisata lidah dan pengisi perut keroncongan musafir pelintas Pulau Sulawesi, di belakang warung, di garis pantai, berjejer armada perahu bercadik kecil, berwarna putih “katitting”. Jenis perahu ini sedikit banyak mirip perahu tersohor Mandar, “sandeq”. Tapi “katitting” tidak menggunakan layar. Perahu jenis inilah yang bertugas menangkap ikan terbang. Bila sang istri atau anak perempuan bertugas di darat sebagai penjual di warung, suami dan anak lelaki di laut menangkap ikan terbang. Kerjasama yang sempurna. Wisata kuliner menu ikan terbang di tempat tersebut baru ada kurang satu dekade terakhir. Waktu saya melakukan penelitian tentang perdagangan dan pengolahan ikan terbang oleh wanita-wanita Somba pada tahun 2002, belum ada warung-warung seperti saat ini. Yang ada waktu itu hanya tempat-tempat sederhana untuk mengasapi ikan terbang. Hasil olahan tersebut kemudian dibawa ke tempat lain, misalnya kota Majene dan Tinambung, untuk dipasarkan.

111

Dari beberapa cara pengelohan membuat ada beberapa istilah untuk menyebut hasil olahannya, yaitu: tuituing tapa atau tapa-tapa (ikan terbang yang dipindang/ diasapi), tuituing bisaq atau bisa-bisaq (ikan terbang yang dibedah kemudian dikeringkan), lebu-lebu (ikan terbang yang dikeringkan secara utuh), dan tuituing base (ikan terbang yang dijual segar atau basah, biasa diawetkan dengan es atau garam). Dari segi nilai ekonomi, jika dibandingkan dengan jenis ikan lain yang sering ditangkap, ikan terbang (dengan tidak memasukkan telurnya) termasuk ikan yang murah. Kisaran harga penjualan produk ikan terbang dipasaran berkisar Rp 1.000 sampai Rp 2.500 tiap sepuluh ekor pada awal tahun 2000-an, sekarang ini, apalagi bila membelinya di warung-warung, beberapa kali lipat harganya. Produk yang paling mahal adalah ikan terbang yang diasapi. Tingginya harga hasil olahan ikan terbang yang dipindang dikarenakan biaya pengolahannya memerlukan biaya tambahan, yaitu pengadaan bahan bakar dan tenaga kerja. Walaupun mahal, olahan ini lebih disukai daripada olahan yang lain. Selain faktor biaya pengolahan, ikan yang akan dipindang adalah ikan ‘pilihan’ atau dengan kata lain, baik ukuran maupun kenampakan tubuhnya dipilih yang bagus. Adapun ikan yang rusak dan tidak segar lagi diolah menjadi tuituing bisaq. Dan untuk ikan yang kualitasnya lebih rendah lagi diolah menjadi lebu-lebu. Sedangkan ikan terbang yang dijual segar (tanpa pengolahan apapun kecuali diawetkan dengan es atau garam) dipilih ketika hasil tangkapan cukup banyak. Jika tidak terjual baru diolah menjadi tuituing tapa, tuituing bisaq, atau lebu-lebu. Walau berharga murah, olahan kering jamak dijadikan oleh-oleh para penumpang kendaraan umum yang singgah makan. Baik untuk keluarga di tujuan maupun kerabatnya di tempat lain. Ikan terbang kering yang dibakar atau digoreng untuk kemudian dicampur dengan minyak goreng Mandar plus cabe rawit, nikmatnya bukan main. Yang asap juga biasa dijadikan oleh-oleh. Di rumah, biasa dijadikan sayur. Kulit ikan terbang dilepas, tulang dilepas untuk selanjutnya dicampur dengan cairan santan dan kunyit serta beberapa bumbu. Menangkap ikan terbang ada dua caranya: menggunakan “buaro” (bubu) atau menggunakan “pukaq” (pukat). “Buaro” digunakan oleh penangkap ikan terbang yang juga mencari telurnya dan lokasinya beberapa puluh mil di lepas pantai, selama berhari-hari. Ini berlangsung pada musim tertentu, April – Agustus. Sedangkan pengguna pukat, hanya 2-3 mil dari pantai dan tidak bermalam di laut. Pergi subuh pulang siang dan berlangsung sepanjang tahun. 112

Di lokasi penangkapan, pukat yang panjangnya bisa sampai 100m dan lebar sekitar dua meter diturunkan ke laut. Tempat menurunkan haruslah tepat, yaitu berdasar pada ada tidaknya ikan terbang, arah arus diketahui, dan tidak terlalu dekat darat. Jika salah-salah, pukat bisa kosong, tergulung atau tersangkut ke batu karang. Saat pukat turun, pukat akan menjadi semacam perangkap bagi ikan terbang yang sedang melintas. Bila “buaro” adalah perangkap yang mana ikan “rela hati” untuk datang ke situ (sebab mau bertelur), pukat “memaksa” ikan terperangkap. Itulah beda kesekian antara kedua alat tangkap ikan terbang tersebut. Jepa Menu khas kedua adalah “jepa”. Ini jenis makanan yang paling unik di Mandar. Dibuat dari dari ubi kayu parut yang airnya telah dibuang, sebab bersifat racun. Jadi bisa diistilahkan, ampas-lah yang diolah. Untuk membuang cairan di ubi kayu, prosesnya sebagai berikut: ubi dikupas untuk kemudian diparut dengan cara manual, bukan mesin. Tujuannya, meski itu repot, agar halus. Hasil parutan dimasukkan ke dalam kain untuk kemudian dibungkus. Bungkusan lalu diperas dengan cara menjepitnya di penjepit ‘raksasa’, yang terbuat dari kayu. Istilahnya “pangepeq”. Ditekan beberapa lama sampai tak ada lagi cairan yang menetes. Untuk mengenali “pangepeq” gampang saja. Biasa terdapat di kolong rumah. Ada dua bagian. Bagian pertama berupa balok kayu besar setinggi satu setengah meter. Bagian tengah terdapat semacam cabang sebagai tempat meletakkan bungkusan yang akan diperas. Ujung cabang ini mengarah ke bawah, meruncing, untuk memudahkan tirisan air dari bungkusan mengalir. Bagian atas cabang terdapat lubang, tempat memasukkan balok kayu panjang yang berperan sebagai tuas. Nah, ketika bungkusan telah berada di atas cabang di bawah tuas, ujung tuas ditarik ke bawah. Ditekan sekuat mungkin. Sebagai pemberat, bisa dengan mendudukinya atau keatasnya diletakkan batu-batu besar. Anak kecil paling suka membantu proses ini. Selanjutnya, bungkusan dibuka untuk menguraikan ampas. Setelah terurai dengan baik, dicampur dengan kelapa yang telah diparut. Bahan ini kemudian dipanggang dengan menggunakan dua piring batu yang terbuat daru tanah liat. Ada derivasi “jepa”, yaitu “jepa-jepa”. Makanan ini logistik terkenal di kalangan pelaut Mandar tempo dulu. Sekarang tak banyak lagi sebab beras telah menjadi bahan makanan dominan. “Jepa” yang selesai dibakar dikeringkan layaknya pakaian jemuran.

113

Bedanya dengan “jepa” yang bisa langsung dikonsumsi, “jepa” yang akan dibuat “jepa-jepa” dibuat lebih tipis dan lebar. Agar memudahkan proses menjemurnya. Setelah kering, “jepa” tersebut dihancurkan. Maka disebutlah dia “jepa-jepa”. Saya belum pernah lihat “jepa-jepa” dihidangkan atau ada terjual di warung-warung di Pantai Labuang, Somba. Mungkin belum banyak yang tahu kenikmatannya. Tapi di kalangan nelayan atau pelaut Mandar, “jepa-jepa” logistik yang tak terpisahkan dalam kebudayaan mereka. “Jepa-jepa” dibawa dalam keadaan kering disimpan dalam wadah daun pisang, karung atau kaleng. Merubah bahan mentah jepa-jepa menjadi makanan cukup mudah dan sangat singkat, jepa-jepa hanya dibasahi air secukupnya. Air yang digunakan tergantung kondisi yang ada, jika ada air panas akan lebih baik, air laut pun sudah mencukupi bila dalam keadaan darurat. Untuk menutupi kurangnya gizi yang dikandung jepa-jepa, nelayan mencampur dengan gula merah dan parutan kelapa, atau dengan ikan. Kelebihan yang dimiliki jepa-jepa adalah tahan lama, bisa sampai berbulan-bulan atau sampai dua tahun bila selalu dikeringkan/dijemur di panas matahari; nilai karbohidratnya cukup tinggi; mudah diperoleh/harganya murah karena produksi lokal (ada pula nelayan yang membuat sendiri); dan mudah memprosesnya menjadi makanan siap saji (efisien). Ada cerita/anekdot menarik di kalangan nelayan yang menggambarkan begitu efisiennya jepa-jepa sebagai logistik nelayan. Pernah ada lomba mendayung antara nelayan Mandar dengan nelayan daerah lain dengan menggunakan lepa-lepa yang jalur lintasan menempuh jarak yang jauh dan dilakukan selama berhari-hari. Singkat cerita, pemenang dari lomba tersebut adalah nelayan Mandar Hal itu disebabkan dia membawa jepa-jepa sebagai bekalnya, yang mana pembuatannya dapat dilakukan sambil terus-menerus mendayung. Sedangkan nelayan lain bekalnya adalah makanan yang harus dimasak terlebih dahulu. Ya, begitulah sedikit cerita tentang dua makanan khas Mandar. Walau pengolahannya tak berubah, dia mengalami inovasi dalam penjajaannya. Tak lagi menjadi menu terpinggirkan (sebab hanya disukai orang-orang tua, khususnya “jepa”) tapi telah menjadi wisata kuliner kebangaan masyarakat Mandar. Beberapa pasar tradisional di Mandar, misalnya di Majene dan Tinambung ada beberapa wanita ber-spesialisasi sebagai penjual “jepa”. Malah ada yang telah naik haji garagara jualan “jepa-nya” laku keras.

114

Wanita Mandar Tak di Dapur Saja Beberapa tahun terakhir, tema “sibaliparriq� banyak menginspirasi para seniman Mandar dalam menghasilkan karya. Dua diantaranya tema yang diusung Provinsi Sulawesi Barat di Pawai Budaya Nusantara pada Agustus 2009 dan tema Festival Budaya Mandar di Kabupaten Polewali Mandar pada Desember 2010. Konsep “sibaliparriq� juga ditemukan di kebudayaan suku-suku lain di Nusantara, khususnya di Sulawesi Selatan. Nilai luhur warisan nenek moyang ini, meski umum ditemukan di masyarakat, tapi lebih banyak diindetikkan dengan dunia kebaharian. Hal tersebut disebabkan kaum laki-laki lebih banyak tinggal di laut (jauh dari keluarga) yang tentunya memberikan tanggung jawab yang lebih besar kepada isteri mereka untuk menggantikan posisi kepala rumah tangga selama suami masih di laut. Peran perempuan Mandar dalam keluarga diwujudkan dalam konsep sibaliparriq, yaitu konsep kerjasama dalam keluarga antara suami dengan isteri. Secara harfiah, sibaliparriq terdiri dari dua kata, yaitu: sibali (menghadapi) dan parriq (kesusahan, permasalahan). Dengan kata lain sibaliparriq adalah konsep yang berarti suami dan isteri masing-masing adalah subyek dalam menanggulangi bersama permasalahan rumah tangga, baik masalah sosial (merawat dan mendidik anak) sampai masalah ekonomi (keuangan). Berdasarkan anutan nilai budaya sibaliparriq itulah mengapa perempuanperempuan Mandar yang sudah bersuami di dalam menjalankan kehidupan rumah tangganya tidak dibatasi pada konsep hubungan suami sebagai pekerja dan isteri sebagai penjaga anak-anak dan mengurusi suami (house-wife). Hubungan suami isteri orang Mandar dalam rumah tangga senantiasa terdapat kerjasama secara gotong royong dengan pengertian bahwa bukanlah semata-mata suami yang harus bekerja, tapi sang isteri pun bertanggung jawab dalam memenuhi kehidupan rumah tangga. Isteri melaksanakan kegiatan tersebut tidak berdasarkan pada perintah dari suami melainkan atas kesadaran sendiri. Dalam latar belakang budaya sibaliparriq, tidak jarang seorang isteri bekerja di berbagai sektor lapangan kerja, misalnya: panetteq (penenun), penjual sarung, penjual ikan, pegawai negeri, pedagang di pasar, maupun bertani. Mereka melakukannya tanpa rasa risih atau keluhan. Tidak jarang pula terjadi sang isteri yang membanting tulang bekerja untuk mencari nafkah adapun suaminya tinggal di rumah memasak dan mengasuh anak. Semuanya dikerjakan dengan penuh kesadaran agar dalam rumah tangga senantiasa terwujud makna yang terkandung dalam: siron-rondoi, siamasei, dan sianaoppamai atau secara umum dikenal dengan istilah sibaliparriq. 115

Walaupun demikian “takdir” suami sebagai kepala rumah tangga dan isteri sebagai pengurus rumah tangga tidaklah terabaikan. Suami tetap merupakan kepala rumah tangga, isteri mengurusi kebutuhan anak, mengurusi kehidupan ekonomi dan lain sebagainya. Di kalangan laki-laki Mandar yang sudah berkeluarga akan timbul rasa siriq (malu) bila dalam waktu yang lama (tanpa alasan kuat) terus menerus ditanggung kebutuhannya oleh sang isteri, dengan kata lain sang suami tidak bekerja. Dia akan berusaha keras untuk mendapatkan pekerjaan walaupun itu bukan bidang yang ia kuasai. Hal inilah yang menyebabkan banyak laki-laki Mandar yang pergi merantau untuk mencari nafkah buat keluarganya yang tetap tinggal di kampung. Antar suami dengan isteri tidak ada persaingan pendapatan. Maksudnya adalah bila pendapatan suami lebih kecil dari pada sang isteri, maka suami tidak merasa minder (rendah diri), demikian pula sebaliknya, sang isteri tidak angkuh di hadapan suaminya. Semua itu dikarenakan mereka didasari pada konsep sibaliparriq. Merupakan ‘pendapat umum’ yang mengatakan bahwa perempuan dalam pekerjaan (waktu kerja, besarnya pendapatan, lingkungan pekerjaan) berada di bawah laki-laki atau perempuan sebagai subordinasi. Kaum laki-laki, yang superordinasi, bekerja lebih keras dengan lingkungan kerja yang berbahaya, dengan demikian pendapatannya lebih tinggi daripada kaum perempuan. Dengan posisi yang demikian, tentu banyak faktor yang memberi/mendapat pengaruh pada/ke aspek lain peran mereka sebagai seorang perempuan, yaitu: menjadi menikah, ibu rumah tangga, melahirkan anak, merawat, membantu suami, dan lain sebagainya. Hal yang perlu diketahui adalah, apakah peran besar yang dimilikinya, lewat kesetaraan dalam konsep sibaliparriq, secara otomatis menjadikan mereka ‘diperhitungkan’ atau paling tidak pengaruh ‘negatif’ dari laki-laki tidak terlalu besar, misalnya kekerasan, pengambilan keputusan, kesempatan untuk mewujudkan keinginan, dan lain sebagainya. Posisi kaum perempuan, khususnya di komunitas nelayan atau pelaut di Mandar, paling tidak dipengaruhi oleh tiga faktor: agama, adat istiadat (tradisi), dan “apa yang mereka kerjakan” (kaitannya dengan kegiatan sosial ekonomi). Dua faktor yang pertama,seakan-akan menempatkan perempuan di bawah’ laki-laki, dan akan semakin menguat di dalam adat istiadat. Sedangkan yang ketiga, menjadikan pengaruh sebelumnya seakan melemah ketika perempuan mempunyai peran yang penting dalam kegiatan ekonomi dan sosial. Tetapi sebaliknya jika perempuan tersebut “biasa-biasa saja”, posisi mereka

116

akan tetap di bawah dominasi laki-laki. Dan inilah yang banyak terjadi di komunitas nelayan Mandar, terlepas dari besarnya peran perempuan di dalam keluarga dan potensi mereka untuk mengatur ekonomi rumah tangga. Walaupun pada umumnya perempuan juga melakukan pekerjaan yang secara nyata membantu ekonomi keluarga, hal tersebut tidak dapat dijadikan asumsi bahwa peran mereka telah ‘lebih baik’. Bagi komunitas nelayan Mandar, isteri atau anak perempuan yang membantu suami adalah suatu yang wajar dan wajib dilakukan (lebih besar disebabkan pengaruh agama dan tradisi). Membantu suami saat akan pergi melaut, mengolah hasil tangkapan dan kemudian menjualnya adalah hal yang harus dilakukan, sehingga bisa dikatakan, aktivitas isteri tersebut bukanlah sebuah profesi, walaupun dari aspek ekonomi mendatangkan keuntungan. Yang bekerja adalah suami (nelayan), tapi karena suami mereka harus beristirahat atau akan melaut lagi, tugas merekalah untuk menjual hasil tangkapan tersebut. Namun hal tersebut akan berbeda jika sang isteri mempunya pekerjaan lain, misalnya pedagang (bukan komoditas perikanan); suami mereka bukan seorang nelayan atau tidak bekerja; atau mereka sudah menjadi seorang janda. Bekerja sebagai pengolah dan penjual ikan atau membuat sarung sutera adalah hal yang ‘paling bisa’ mereka lakukan atau sebagai pilihan terakhir untuk membantu ekonomi rumah tangga (ini memperkuat pendapat sebelumnya, bahwa bisa dikatakan pekerjaan isteri nelayan tersebut bukanlah pekerjaan, tetapi hal yang memang harus dilakukan). Untuk melakukan pekerjaan lain merupakan hal yang sulit, sebab harus didukung oleh banyak faktor, seperti tingkat pendidikan, keterampilan yang mereka miliki, akses terhadap sumberdaya (modal, jaringan dengan pihak lain), dan lain sebagainya. Dan untuk mendapatkan itu semua adalah hal yang sulit, khususnya ketika mereka berasal dari komunitas nelayan itu sendiri. Sebab sedari kecil mereka harus membantu orangtua mereka; lingkungan yang tidak mendukung untuk menempuh pendidikan lebih tinggi; dan lain-lain. Saat mereka dewasa kemudian menikah, hal tersebut akan semakin jauh karena perhatian akan mereka pusatkan kepada keluarga, yang pada gilirannya mereka melakukan ‘profesi’ membantu suami. Di dukung oleh ‘aturan’ yang terdapat dalam konsep sibaliparriq, semua hal di atas dilakukan tanpa ada rasa keterpaksaan: isteri bekerja secara ikhlas dan suami pun tidak akan malu jika isterinya mempunyai pendapatan yang lebih besar. Pengaruh agama dan tradisi yang menghormati posisi perempuan (biarpun di

117

bawah laki-laki) tidak menjadikan kaum laki-laki bebas melakukan pemaksaan atau kekerasan terhadap perempuan. Beberapa contoh adalah: sebagian besar pendapatan suami diserahkan pada isteri; jika mempunyai kemampuan ekonomi untuk melakukan ibadah haji, perempuan (isteri) didahulukan; dan saat ini, ketika komunitas nelayan sudah mempunyai kesadaran akan pentingnya pendidikan, anak perempuan lebih diutamakan untuk melanjutkan pendidikan dari pada anak laki-laki (tentunya ini dipengaruhi pertimbangan ekonomi: anak laki-laki bisa ikut melaut). Hal-hal yang tampak ‘merugikan’ posisi perempuan di komunitas nelayan Mandar adalah: jika mereka sebagai ibu rumah tangga, harus banyak melakukan kegiatan, yaitu kegiatan keluarga dan kegiatan ekonomi, yang umumnya dilakukan secara bersamaan; jika sebagai anak perempuan, mereka harus membantu orangtua mereka; untuk beberapa kasus, anak perempuan lebih diinginkan untuk cepat menikah; lingkungan yang mengutamakan untuk menutupi ketidakstabilan ekonomi rumah tangga dan tidak mempunyai akses dan waktu untuk melakukan hal lain (sosial, politik, dan pendidikan), menanamkan ke alam sadar mereka bahwa yang diutamakan adalah pekerjaan. Pengaruh-pengaruh tersebut di atas, khususnya yang terakhir sangat tampak ketika seorang anak perempuan menyelesaikan tingkat pendidikan SMU (atau yang setingkat), mereka seakan tidak tahu harus melakukan hal apa: ingin lanjut?, biaya tidak ada; melakukan pekerjaan lain?, tidak ada keterampilan. Tidak adanya motivasi membuat mereka tetap melanjutkan ‘tradisi’ yang ada di komunitas mereka. Posisi yang ‘merugikan’ tersebut bukanlah hal yang sederhana, sebab banyak faktor yang menyebabkannya. Paling tidak dibutuhkan keinginan dari diri perempuan sendiri agar dapat keluar dari lingkungan yang demikian. Ini tampak dari beberapa kasus, ketika sudah ada perempuan di komunitas nelayan yang menjadi seorang guru, melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, melakukan pekerjaan yang lebih menguntungkan dari pada ‘pekerjaan’ membantu suami, dan sebagainya, yang pada gilirannya mereka memiliki peran penting di dalam komunitas mereka. Peran Perempuan dalam Komunitas Nelayan Secara umum aktivitas-aktivitas perempuan (isteri nelayan atau anak perempuan) dapat dikategorikan ke dalam kegiatan ekonomi dan kegiatan domestik. Keterlibatan dalam kegiatan pengolahan ikan, perdagangan, jasa dan sebagainya diklasifikasikan sebagai kegiatan ekonomi. Adapun kegiatan-kegiatan 118

lain, seperti mengurus anak, berbelanja, membersihkan rumah, aktivitas di dapur, dan sebagainya, diklasifikasikan sebagai kegiatan domestik. Aktivitas domestik mencakup aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam bidangbidang pekerjaan yang hanya dibatasi pada lingkup keluarga, sedangkan aktivitas publik mencakup aktivitas-aktivitas dalam bidang ekonomi dan politik, yang mengambil tempat atau memiliki dampak melampaui batas-batas unit keluarga dan yang berkaitan dengan pengontrolan pihak lain atau sesuatu hal. Dalam kegiatan ekonomi, dalam hal ini produksi secara langsung (penangkapan ikan), untuk perempuan di Mandar, bisa dikatakan tidak ada atau mereka tidak terlibat langsung. Sebaliknya, isteri-isteri nelayan atau anak-anak perempuan lebih banyak berperan dalam kegiatan pemasaran dan pengolahannya. Salah satu strategi adaptasi yang ditempuh oleh rumah tangga nelayan untuk mengatasi kesulitankesulitan ekonomi keluarga adalah para nelayan mendorong isteri mereka untuk ikut mencari nafkah, tapi biasanya itu merupakan kesadaran isteri nelayan sendiri. Pada umumnya, untuk isteri-isteri nelayan aktivitas ekonomi tersebut adalah dengan memperdagangkan hasil tangkapan suami atau membeli dari nelayan lain untuk kemudian menjualnya. Peran domestik yang akan dibahas berikut adalah aktivitas umum yang dilakukan oleh perempuan Mandar di dalam komunitas nelayan atau pelaut, yang dilakukan di lingkup rumah tangganya, meliputi partisipasi isteri (atau anak perempuan) dalam persiapan melaut nelayan dan kegiatan ritual. Adapun kegiatan perawatan anak atau rumah tangga sengaja tidak dimasukkan. Peran domestik yang dapat mendatangkan profit dimasukkan ke dalam peran publik. Pekerjaan-pekerjaan domestik yang dilakukan oleh perempuan merupakan harga yang harus dibayar oleh perempuan sebagai tanda kasih sayang dan cinta pada keluarga (suami dan anak-anaknya). Salah satu fungsi dari pekerjaan domestik yang paling menonjol adalah pekerjaan itu dilakukan untuk mengabdi kepada kepentingan orang lain (yakni anggota keluarga) dan pekerjaan tersebut tidak dianggap sebagai “pekerjaan sesungguhnya� karena perempuan tidak pernah menerima upah dari pekerjaannya itu. Pekerjaan-pekerjaan domestik lebih mencerminkan kewajiban kultural daripada mencari keuntungan ekonomi. Karena alasan tersebut kegiatan yang masuk di peran publik tidak sepenuhnya ‘murni’, sebab dia juga bagian dari peran domestik. Namun karena alasan kegiatan itu ditampilkan secara komersil dan nilai ekonominya dapat diukur, maka bagian peran domestik dimasukkan ke peran publik (kegiatan ekonomi). 119

Sebagai seorang isteri, perempuan di Mandar berkewajiban untuk membantu suaminya dalam melakukan pekerjaan. Aktivitas yang umum dilakukan oleh perempuan (baik isteri maupun anak perempuan) untuk mempersiapkan pemberangkatan suami (atau anak mereka yang menjadi sawi) adalah mempersiapkan bahan pengawet, yaitu es batu. Untuk pelayaran yang membutuhkan waktu lama, misalnya motangnga, isteri harus mempersiapkan perbekalan/logistik suami mereka. Misalnya membuat lauk yang tahan beberapa hari. Selain persiapan yang ‘umum’, isteri juga terlibat pada beberapa kegiatan ritual, misalnya kuliwa dan tolaq bala. Isteri juga mempunyai peran dalam aspek religius, di mana peran ini tidak termasuk dalam kegiatan ekonomi (produksi) dan tidak umum dimasukkan sebagai peran domestik. Ketika mereka merasakan suami atau anaknya sedang menghadapi bahaya di laut, ditandai dengan adanya peristiwa alam berupa arus dan gelombang yang kuat serta angin yang kencang yang terjadi di lingkungan mereka, para isteri melakukan kegiatan ritual di rumah, yaitu kegiatan ritual diluar do’a dalam shalat. Kegiatan ritual yang mereka lakukan tersebut bertujuan agar anggota keluarga mereka yang sedang melaut terhindar dari bahaya. Contoh kegiatan ritual tersebut adalah: menyandarkan pikelluq (alat pemarut kelapa khas Mandar) di daun pintu; atau menyandarkan paqdisang moane (bantal guling) di posiq arriang; atau mendirikan pappamalingan (salah satu alat yang digunakan dalam penenunan sarung sutera yang terbuat dari bambu) di dalam tungku. Makna dari (ussul) yang mereka lakukan tersebut adalah agar tiang layar perahu yang ditumpangi oleh anggota keluarga mereka tetap tegak. Atau dengan kata lain, perahu tetap dalam keadaan baik (tidak terbalik atau tidak tenggelam). Selain kegiatan ritual tersebut di atas, para isteri juga biasa menemani suami mereka berdo’a sebelum pergi melaut. Kegiatan berdo’a yang diiringi pembakaran undung (dupa) dilakukan di dekat posiq arriang. Para isteri juga biasa menyimpan piring dan gelas atau alat makan suami atau anak laki-laki mereka, yang terakhir mereka gunakan sebelum melaut, di bawah tempat tidur. Dan mereka akan bersihkan setelah suami mereka sudah datang. Adapun kegiatan ritual yang rutin dilakukan oleh isteri nelayan adalah tolaq bala (lihat pembahasan khusus tentang Tolaq bala). Secara ‘teori’, peran perempuan dalam kegiatan publik tentunya lebih besar daripada peran laki-laki sebab perempuan mempunyai lebih banyak waktu atau berada di darat. Ini disebabkan kaum laki-laki yang lebih lama berada di laut daripada di darat ‘tidak punya’ waktu (kesempatan) untuk melakukan aktivitas

120

publik, seperti berdagang, aktif di politik lokal atau aktivitas sosial lainnya. Ini jika kita berangkat dari satu tesis yang mengatakan tidak adanya kekuatan tawar-menawar nelayan dalam perpolitikan lokal disebabkan mereka tidak ada kesempatan untuk terlibat di dalamnya karena lebih lama di laut. Tapi dari kenyataan di lapangan, khususnya di komunitas nelayan Mandar dan dalam bidang sosial, kesempatan tersebut ‘tidak dimanfaatkan’ oleh kaum perempuan. Beberapa penyebabnya adalah: kesibukan domestik perempuan, tingkat pendidikan, dan peran tersebut dilakukan oleh laki-laki yang tidak melaut. Namun dalam bidang ekonomi, perempuan mempuyai peran utama, baik peran ekonomi dari sisi peran domestik, maupun di sisi peran publik. Untuk anggota keluarga nelayan, peranan isteri dan anak perempuan cukup besar, baik dalam kegiatan pemasaran maupun pengolahan hasil tangkapan. Sebagai contoh: setelah mendekati waktu tibanya perahu-perahu parroppong, beberapa anggota keluarga nelayan mulai dari anak kecil, isteri-isteri nelayan sampai pembeli ikan yang datang dari luar desa, berkumpul di pinggir pantai untuk menyambut datangnya anggota keluarga mereka yang melaut. Saat tiba dan termos-termos (tempat ikan) sudah dipindahkan dari perahu ke daratan, para anggota keluarga yang menunggu tersebut langsung membawa termostermos tersebut ke rumah masing-masing untuk diperlakukan lebih lanjut. Perlakuan tersebut dapat berupa mengganti es yang sudah mencair atau melayani pembeli yang datang dari luar. Bila ikan sudah lama ditangkap, setelah mengganti es-nya, mereka langsung pergi ke pasar-pasar di luar desa/kecamatan yang mereka tempati, khususnya di terminal-terminal kecamatan. Adapun ikan yang masih baru, dipasarkan keesokan harinya. Mereka berangkat ke lokasi-lokasi pemasaran setelah shalat subuh. Selain kegiatan pemasaran hasil tangkapan, isteri nelayan juga memegang peranan utama pada pengolahan (pengawetan) hasil tangkapan. Setelah aktivitas yang membutuhkan penanganan cepat selesai, yaitu ikan-ikan yang masih segar, isteri-isteri nelayan beralih pada pengolahan hasil tangkapan yang lain. Yaitu ikanikan yang telah diolah oleh nelayan sewaktu masih berada di laut, dalam hal ini ikan yang sudah dibelah dan digarami. Ikan-ikan asin tersebut mereka cuci dengan bersih untuk kemudian dijemur. Para ibu rumah tangga juga sering mengolah ikan-ikan yang datang dari luar daerah, khususnya dari Kabupaten Bone dan Kabupaten Bulukumba (Kajang). Ikan-ikan tersebut mereka oleh menjadi bau tapa (ikan pindang).

121

Pada umumnya, isteri-isteri nelayan hanya mempunyai tingkat pendidikan SD atau SLTA. Dari hal tersebut, pekerjaan yang mereka lakukan untuk mendukung perekonomian rumah tangga hanya sebatas pada kegiatan berwiraswasta. Kegiatan tersebut dapat berupa: menjual hasil tangkapan nelayan; usaha kecil-kecilan, seperti membuka warung; menenun sarung sutera; menyicilkan barang, seperti baju dan barang pecah-belah; dan lain sebagainya. Adapun isteri nelayan yang menjadi pegawai negeri sangatlah jarang, walaupun ada itu hanya sebatas sebagai isteri pemilik perahu atau penanam modal alat tangkap (roppo, mesin, dan gae). Pemasaran hasil tangkapan dan penenunan sarung sutera, dapat diperankan sekaligus oleh isteri nelayan, sebab antara yang satu dengan yang lainnya tidak saling mempengaruhi, khususnya waktu yang digunakan. Kegiatan penenunan sarung sutera dilakukan pada waktu senggang, di saat mereka sudah kembali dari pasar. Pekerjaan sebagai penenun ditekuni oleh kaum perempuan di segala usia (saat kondisi fisik mereka sudah mampu mengoperasikan alat tenun tradisional), baik yang masih gadis maupun yang sudah berkeluarga. Pilihan terhadap pekerjaan ini pada masa lalu bukan hanya untuk kepentingan ekonomi, melainkan dimaksudkan untuk pengisian waktu luang bagi keluarga nelayan apabila suami mereka sedang melaut dan kewajiban keluarga lainnya sudah selesai. Keterlibatan perempuan muda dalam bekerja sebagai penenun dimaksudkan sebagai sarana belajar untuk persiapan sebelum bekerja. Di sini terlihat unsur pembelajaran, selain untuk orientasi ekonomi. Ritus Awal Siklus Hidup Manusia Mandar Tubuhnya masih merah dengan kulit tertutup cairan lengket. Tak tega menyaksikannya keluar dari perut ibunya, setelah beberapa jam tertahan di pintu lahir. Sebab lama tertahan di pinggul, bagian atas kepala tidak rata bulatnya, seperti ada tonjolan gumpalan daging di puncaknya. Tak ada tangisan, wajah membiru. Sesaat setelah dokter yang memimpin proses melahirkan memotong ari-ari, salah satu bidan yunior (dan siswa sekolah perawatan yang lagi magang) dengan sigap membawa sang bayi ke ruang sebelah. Menyinarinya dengan lampu agar tubuh sang bayi hangat. Telapak kaki bayi dikitikkitik agar bayi sadar. Belum. Menyadari usaha awal tak membuat bayi sadar, kembali bayi dipindahkan ke ruang perawatan khusus bayi. Di dalam terdapat beberapa box untuk bayi yang prematur lahirnya. Tapi bayi yang baru beberapa menit berada di dunia itu tak 122

dimasukkan, melainkan diletakkan di meja. Bidan lain tetap berusaha membuat bayi sadar, yang lain membantu menyiapkan oksigen dan alat hisap. Alat hisap untuk mengeluarkan cairan yang menghalangi jalan pernafasan bayi, di hidungnya. Syut … syut … bunyi hisapan dari selang kecil yang dimasukkan ke hidung bayi. Sekejap kemudian, tanda-tanda kehidupan mulai tampak. Wajah yang mau menangis disusul bunyi tangis patah-patah. Masa krisis terlewati. Itulah detik-detik maha menegangkan selama saya mengikuti perkembangan bayi, sejak di dalam perut sampai lahirnya, sampai upacara-upacara inisiasi yang dijalaninya. Namanya Muhammad Nabigh Panritasagara. Kira-kira artinya “si cerdas yang memahami laut”. Lahir di RSU Majene, Sulawesi Barat, Kamis, 11 November 2010, menjelang Maghrib. Konon, bila lahir pada malam Jumat, anaknya akan bandel. Menyaksikan untuk kemudian mendokumentasikan salah satu prosesi paling penting dalam siklus hidup orang Mandar secara lengkap amatlah jarang dan sulit. Pertama, untuk menyaksikan semua itu harus menembus batas-batas personal, memasuki kawasan paling pribadi seorang individu. Kedua, “satu set” upacara lengkap hanya dialami oleh anak pertama. Anak kedua, ketiga, dan berikutnya tidak menjalani beberapa ritual. Ritual siklus hidup orang Mandar adalah salah satu upacara paling kuat dipertahankan, khususnya upacara sebelum dan sesudah kelahiran seorang anak. Di Mandar ada beberapa proses, tahapan, upacaranya. Upacara-upacara di Mandar yang berkaitan dengan siklus hidup (kelahiran) adalah: “marroma” (memijat perut pada usia kehamilan 5-6 bulan); “manguriq” (memijat perut pada usia kehamilan 7-8 bulan); perawatan ari-ari, bayi, dan ibu yang habis melahirkan (memotong tali pusar, memandikan bayi dan ibunya, penanaman tali pusar); akekah (memotong hewan kurban dan memotong rambut bayi); “mappadaiq toyang” (menaikkan bayi ke atas ayunan); “pattuttuang ringe” (meratakan gigi anak); “mesunnaq” (khitanan, memotong kulup untuk anak laki2; melukai klitoris untuk anak perempuan); dan “papparassa” (menginjak tanah untuk pertama kali). Marroma “Marroma” adalah upacara formal pertama yang saya saksikan berkaitan kehamilan pertama seorang perempuan di Mandar. Arti harfiah “marroma” adalah menjemput. Jadi, sejak bayi berumur sekitar lima bulan, keluarga perempaun yang hamil mulai meminta bantua seorang “sando pianaq” (dukun beranak) untuk melakukan ritual-ritual yang berkaitan dengan keselamatan bayi, sejak dalam kandungan, saat 123

melahirkan, sampai upacara terakhir yang harus dijalani seorang bayi. Proses di atas bisa berlangsung berbulan-bulan, dari upacara pertama sampai terakhir. Pada kasus Nabigh, upacara “marroma” dilaksanakan pada Ahad, 1 Agustus 2010, saat usia kehamilan diyakini berada di bulan kelima. Proses upacara berlangsung sederhana, yaitu makan bersama di ruang tengah rumah. Pada upacara ini menu yang tampak disiapkan dan menjadi bagian dari prosesi ialah tujuh piring kecil “sokkol” di mana puncak “sokkol” terdapat satu butir telur ayam kampung. “Sokkol-sokkol” tersebut disimpan di baki besar. Baki yang lain berisi pisang, yaitu “loka tiraq”, “loka manurung”, “loka balambang”, “…”. Baki terakhir, tampak sebagai bagian paling penting, terdapat satu sisir pisang “manurung” dan dua piring tua yang masing-masing diatasnya ditumpuk “sokkol”, lima “cucur”, dan satu butir telur ayam kampung. Sedang yang lain adalah makanan yang disantap saat makan bersama, seperti nasi, sayur, ayam, ikan, dan telur. Prosesi upacara dimulai dengan doa bersama yang dipimpin kakek sang calon bayi diikuti nenek, sang wanita hamil bersama suaminya serta sang dukun. Setelah do’a yang memohon keselamatan, dilanjutkan dengan makan bersama. Selesai makan, upacara inti dimulai dan berlangsung di dalam kamar. Baki yang berisi piring tua serta satu sisir pisang dibawa ke dalam kamar. Selain bahan tersebut, juga disiapkan di atas piring kecil beberapa sendok minyak kelapa. Kemudian perempuan hamil dibaringkan di atas kasur. Pakaian yang menutup bagian perut dilepas. Sebelum memulai pijatan lembut, sang dukun membakar dupa. Asap dupa dia tangkap lalu diusapkan ke perut. Sesaat berikutnya, perut hamil pun diolesi minyak kelapa untuk kemudian melakukan beberapa pijatan yang bertujuan memperbaiki posisi bayi di dalam perut. Prosesnya tidak lama, tak sampai lima menit. Setelah itu, piring tua yang berisi “sokkol”, “cucur” dan telur diletakkan di atas perut. Piring sesaat digoyang-goyang untuk kemudian dilepas. Disusul kemudian piring yang diatasnya terdapat pisang juga diletakkan di atas perut. Gerakan yang sama dilakukan. Sesaat setelah rangkaian di atas selesai, sang dukun meminta “anak sandonya” (‘anak dukun’, artinya pasien) untuk segera keluar kamar agar bisa segera meludah. Upacara pun selesai. Manguriq Upacara berikutnya ialah “manguriq”, berlangsung pada 19 September 2010. Upacaranya lebih besar dibanding “marroma”, dihadiri keluarga besar kedua 124

orangtua calon bayi beserta orang-orang yang diundang. Dalam adat Mandar, “manguriq” adalah upacara yang keterlibatan pihak keluarga besar laki-laki sangat dibutuhkan. Dengan kata lain, biaya upacara dan perangkat-perangkat yang digunakan sebagian disiapkan keluarga laki-laki (bapak bayi). Upacara diawali dengan pembacaan barazanji. Acara ini hanya dihadiri pemuka agama dan pihak lain yang diundang keluarga perempuan. Selesai pembacaan barazanji dan do’a dilanjutkan dengan makan bersama. Setelah itu proses bernuansa adat Mandar dimulai. Bertempat di ruang tamu, rombongan keluarga besar laki-laki menyerahkan ke keluarga besar perempuan perlengkapan upacara berupa beragam jenis makanan . Empat baki yang terbuat dari “gallang” (logam kuningan) dan mempunyai penutup berisi: 1) “ranggina”, “talloq panynyu”, “apang”, “onde-onde”, “buah rangas”, “bayeq”, “kolli-kolli”; 2) roti “bolu” dan “baruas”; 3) “buwuqus”, “tetuq”, “gogos”, “telur dadar”; dan 4) “buah rangas” (roti kering berbentuk induk ayam dan anak-anaknya). Adapun di atas baki biasa yang lebih lebar diameter tapi tanpa penutup terdiri dari: 1) “gogos”, “atupeq”, “buras”, “sokkol”,… ; 2) buah-buahan: semangka, pandan, salak, jeruk, “loka-loka”, apel, kurma; 3) dan “lame-lame” (ubi kayu), dan “boyoq”. Bahan lain tanpa wadah ialah pisang dua tandan, kelapa satu tandan, “burabeq” (bunga bakal buah kelapa). Setelah itu, prosesi upacara dimulai di dalam kamar. Di dalam kamar terdapat bahan ritual antara lain “undung” (pedupaan); satu baki yang berisi tujuh piring “sokkol” dengan bagian atas masing-masing terdapat satu butir telur ayam kampung; satu baki berisi tiga sisir pisang “manurung”, “tiraq”, dan “barangang”; dan satu baki berisi lauk makanan: telur itik rebus, sambal goreng, gulai ayam, dan “pupuq”. Selain itu, ada dua “pindang matoa” (piring tua) yang nantinya akan menjadi alat utama dalam acara “manguriq”. Masing-masing di atas piring terdapat 1) “cucur”, “sokkol”, “gogos”, telur, “buras”, dan “kaddo minynyaq”; 2) pisang “barangang”. Bertempat di atas tempat tidur, dukun duduk di samping kanan perempuan hamil yang berbaring sambil menekuk lutut. Sang perempuan mengenakan pakaian adat Mandar dan sarung sutra. Di bawah tubuh perempuan terdapat selendang kain berwarna hijau dan putih yang didalamnya terdapat beberapa jenis tanaman/ daun-daun. Kemudian dukun membakar dupa. Pedupaan lalu diputar-putar beberapa senti di atas perut. Pedupaan diletakkan di sisinya untuk selanjutnya menangkap asap dupa lalu diusap ke perut perempuan hamil. 125

Selanjutnya, “pammenangan” yang di atasnya terdapat tujuh lilin yang ditanam di atas tumpukan beras diputar-putar di atas perut lalu disentuhkan ke perut perempuan hamil. “Pammenangan” diletakkan, mengambil sedikit beras yang ada didalamnya lalu disemburkan ke atas perut perempuan hamil. Setelah itu, “pindang matoa” yang berisi makanan “manis dan berlemak” diletakkan ke perut hamil. Piring digoyang-goyang sesaat dan dilepaskan. Sebab “bayi menahan” piring, kadang kala piring tak bisa dilepaskan/diangkat. Agar piring bisa lepas, “si bayi dibujuk” dengan cincin emas. Cincin emas dimasukkan ke dalam piring. Entah itu sebabnya atau bukan, piring langsung bisa dilepas. Setelah itu piring tua berikutnya, yang berisi pisang, juga diletakkan di atas perut. Prosesnya sama. Saat proses inti di atas selesai, dukun kembali mengambil beras lalu ditabur di atas kepala perempuan. Kemudian mengolesi keningnya dengan minya kelapa yang terdapat di piring kecil, yang mana di dalam piring tersebut terdapat satu butir telur ayam kampung. Minyak juga diolesi ke perut perempuan hamil. Pemijatan lembut kemudian dilakukan, dengan memberi tekanan-tekanan tertentu di sekeliling perut. Dukun kemudian mempersilahkan kerabat perempuan hamil dan mertuanya (ibu laki-laki) untuk menyetuh perut dan mendoakan agar ibu dan bayinya sehat dan selamat saat melahirkan nanti. Setelah itu, dukun melanjutkan tugasnya dengan menaburkan beras ke kepala dan perut peremuan. Seekora ayam hitam “remaja” diambil lalu diarahkan ke kepala dan perut agar mematuk beras. Saat ayam selesai mematuk beras, tahap ini selesai. Dilanjutkan dengan tahap berikut, ujung selendang yang berada di bawah tubuh perempuan hamil dipertemukan di atas perut untuk selanjutnya ditarik-tarik, seolah-olah memperbaiki posisi bayi di dalam kandungan. Ketika proses di atas selesai, sang perempuan hamil diminta segera bangun untuk meniup api lilin di atas “pammenangan”. Setelah itu menuju teras. Di teras, dukun mengambil air dari baskom yang berisi ramu-ramuan untuk kemudian dimasukkan ke dalam mulut sang perempuan hamil. Berkumur-kumur sebentar untuk kemudian dimuntahkan keluar. Bersama suaminya, perempuan hamil kembali ke ruang tamu, di mana hidangan makanan yang dibawa rombongan keluarga besar laki-laki dihidangkan, khususnya yang berada di atas baki kuningan. Selain baki kuningan yang isinya telah disebutkan sebelumnya di atas, ada baki lebih kecil yang berada di atas “kappaq keqde” (baki berdiri, atau ada kaki penyangganya), isinya “buah rangas”, yaitu satu 126

roti besar berbentuk ayam yang dikelilingi beberapa roti lebih kecil. Tampaknya itu menyimbolkan anak-anak ayam. Kepada mereka berdua dipersilahkan untuk memilih makanan yang paling disukai. Saat itu, dipilih kurma dan apel. Juga, memakan “buah rangas”. Setelah suami-isteri mengambil makanan pilihannya, peserta upacara dipersilahkan untuk ikut menyantap. Sang perempuan hamil kembali ke dalam kamar untuk melanjutkan proses upacara, yaitu “macceraq” (“ceraq” = darah). Oleh sang dukun, dia mengambil ayam yang dia gunakan tadi saat upacara pijatan untuk kemudian membuat luka di jengger ayam. Beberapa tetes darahnya dicampur dengan serbuk kapur di atas piring kecil. Setelah diaduk atau terbentuk sebuah adonan, adonan tadi dioleskan ke kening dan leher wanita hamil. Istilahnya “maccoqbo”. Tampak sang dukun juga mengolesi keningnya dengan adonan tadi. Setelah tamu-tamu pulang, perempuan hamil dimandikan di teras rumah. Bahan mandi berupa air satu baskom yang didalamnya terdapat “burabeq anjoro” (bunga bakal buah kelapa), irisan-irisan daun pandan, dan “lopi-lopi” (bagian di atas pohon kelapa yang berbentuk perahu). Saat dimandikan oleh sando, perempuan hamil duduk di atas satu tandan buah kelapa. Didekatnya terdapat dua tandan pisang. Prosesi mandi dilakukan selama tiga hari yang berlangsung pagi hari, sekitar jam delapan yang dipimpin dukun beranak. Bahan mandi tetap sama, hanya dilakukan penambahan air sesaat sebelum kegiatan mandi dilakukan. Sebelum mandi, juga dilakukan proses “manguriq” sebagaimana yang dilakukan seperti pada hari pertama. Sebab masih ada ritual di hari kedua (20 September) dan ketiga (21 September), beberapa bahan makanan dan ritual tidak boleh dipindahkan dari tempat upacara, seperti piring tua di dalam kamar serta isinya (beberapa jenis makanan). Nanti setelah upacara selesai baru bisa dikeluarkan atau dihabiskan (dimakan). Ritual di hari kedua dan ketiga tidak ramai lagi, hanya dihadiri oleh dukun, perempuan hamil, ibunya, beserta suami sang perempuan hamil. Juga tak ada upacara makan-makan, hanya proses “manguriq” dan mandi di teras. Bila semua proses mandi selesai, “burabeq” kemudian digantung di plafon teras rumah. Bagian ini dibiarkan terus. Nanti bisa dilepaskan ketika bayi yang lahir nanti sudah mulai belajar berjalan. Tapi kalau mau dibiarkan/dipasang terus, juga tak apa-apa.

127

Melahirkan Kamis, 11 November 2010, dinihari, sekitar jam dua. Darah keluar, menetes di paha. Tanda-tanda akan melahirkan pada sang ibu hamil yang “diuriqâ€? dua bulan lalu. Sebab berbagai alasan, lebih memilih melahirkan di rumah sakit dibanding di rumah oleh bantuan dukun beranak. Salah satunya, sang ibu kecil tubuhnya. Tinggi kurang 155cm, pinggul kecil, dan hamil pertama. Khawatir kalau ada apa-apa, misalnya butuh darah atau sulit untuk melahirkan. Kesimpulannya, pada momen terpenting, bukan tenaga dukun yang dibutuhkan, tapi medis (modern). Atas masukan dari bidan, yang datang sesaat setelah diinformasikan padanya bahwa ada tanda melahirkan, sang calon ibu dibawa ke Rumah Sakit Umum Majene. Bidan mengantar langsung bersama suaminya yang kebetulan punya mobil. Singkat kata, proses persiapan melahirkan hingga pasca persalinan (total empat hari), tak ada dukungan dari dukun beranak. Memang beberapa jam setelah bayi dilahirkan, oleh sang ibu perempuan hamil, mengirim potongan ari-ari ke Pambusuang agar bisa segera ditangani oleh sang dukun. Saat tiba di Pambusuang, ari-ari dimasukkan ke dalam panci beserta garam dan ‌ Katanya, baru akan ditanam kalau bayi telah balik ke rumahnya; setelah terpotong sisa ari-ari di tali pusarnya. Sehari setelah balik dari rumah sakit, Ahad, 16 November 2010, dukun beranak datang ke rumah “anaq sando-nyaâ€? (pasien) untuk melanjutkan tugasnya, yaitu memandikan bayi dan ibunya selama tiga hari berturut-turut. Idealnya mulai dimandikan sehari setelah melahirkan, tapi karena lama di rumah sakit, proses awal dimandikan baru dimulai lima hari kemudian. Bayi dimandikan di atas lutut sang dukun, yang dilentangkan ke depan. Di bagian bawah terdapat baki penampung air. Bayi berbaring menghadap ke atas. Sang dukun melakukan pijatan-pijatan lembut ke tubuh bayi, seperti perut, wajah, kepala, leher, gusi (mulut), lengan, dan kaki. Setelah bayi, giliran ibu yang dimandikan dan memberi pijatan pada perutnya. Selesai melakukan ritus kepada bayi dan ibunya selama tiga hari, sang dukun kembali lagi datang setelah potongan tali pusar terlepas dari perut bayi, tepatnya 21 November 2010. Dukun melakukan ritual penanaman potongan ari-ari bayi (yang dibawa dari rumah sakit sesaat setelah bayi dilahirkan). Potongan tersebut disimpan dalam panci tanah. Panci ditanam di samping rumah (sebab rumah perempuan yang habis 128

melahirkan tak ada kolong rumah). Setelah itu diadakan “baca-baca” di ruang tengah. Dihidangkan beberapa makanan, khususnya “loka tiraq” (pisang ambon). Setelah itu, diadakan pembakaran dupa di dalam kamar bayi. Sebab sang bayi akan dinaikkan ke ayunan untuk pertama kali, dukun melakukan ritual. Ayunan dia asapi dengan dupa setelah itu sang bayi dinaikkan. Adapun potongan ari-ari (kering) yang baru lepas dari pusar bayi, disimpan oleh “anak sando”, sebagai obat bila suatu saat sang bayi sakit. Aqiqah Aqiqah seharusnya dilaksanakan 7 atau 14 atau 21 hari setelah bayi lahir, tapi karena orangtua bayi belum memiliki kemampuan untuk mengadakan upacara (yang harus memotong dua kambing, sebab bayinya laki-laki), hal itu belum dilaksanakan. “Sando Pianaq” Namanya Hj. Rahiah, akrab dipanggil “Kindoq Sando” (Bu Dukun) atau “Kanneq Sando” (nenek dukun) atau “Puaq Mama” (sebab nama anak pertamanya bernama Rahmawati). Dia “sando pianaq” (dukun beranak) paling tua di Kecamatan Balanipa dan sekitarnya, umurnya 72 tahun. Mulai bekerja sebagai “sando piana” pada tahun 70-an. Sekarang tinggal di Dusun Parappe, Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar. Pada tahun 80-an, dia mendapat pelatihan membantu persalinan secara modern dari Dinas Kesehatan. Sejak itu, dia memiliki sertifikat resmi dari pemerintah untuk kemudian menjadi mitra kerja bidan atau dokter di masyarakat. Sando Pianaq Selain memiliki kemampuan membantu wanita yang akan melahirkan (aspek kesehatan), seorang “sando pianaq” juga memiliki kemampuan supranatural dan pengetahuan ritus-ritus tertentu. Hal yang tidak dimiliki bidan atau dokter. Saat ini di Mandar, jumlah “sando pianaq” semakin berkurang, padahal pada diri merekalah terdapat pengetahuan yang berkaitan erat dengan upacara siklus hidup manusia Mandar Selain memiliki keterampilan membantu proses melahirkan dan pengetahuan mistik, seorang “sando pianaq” juga memiliki sifat humanis yang membuat “anak sando” menjadi lebih tenang & merasa diperhatikan. Masih perlu ditambah bagian ini … 129

BUDAYA KONTEMPORER

Taman Budaya Harusnya di Balanipa

Tidak semua harus dipusatkan di Mamuju! Cukuplah ibukota Sulawesi Barat

sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan, tapi sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan, tunggu dulu. Masing-masing wilayah ada ‘track record’-nya, termasuk wilayah-wilayah tertentu yang ada di Mandar (Mandar dalam arti kesatuan politik 14 persekutuan). Bukan kesombongan atau sikap superior bila pusat kebudayaan ditempatkan di pesisir Teluk Mandar, tepatnya di kawasan Balanipa dan sekitarnya. Bukan kebetulan, bukan suatu pemaksaan, sebab ada latar belakang sejarahnya yang tak bisa dipungkiri. Nilai yang terwariskan dari leluhur orang-orang di Pitu Ulunna Salo Pitu Babana Binanga bahwa yang menjadi ‘ibukota’ persekutuan adalah Balanipa. Idealnya ibukota Sulawesi Barat adalah di Balanipa, tapi karena ada banyak pertimbangan (kesediaan lahan dan pemerataan pembangunan) maka itu tak perlu dicapai. Tapi sebagai ibukota kebudayaan, yang tercermin dari pembangunan taman budaya provinsi, adalah suatu keharusan. Hampir tidak ada dalih yang memungkirinya: nilai historis jelas, sumberdaya manusia yang bergerak dalam bidang kebudayaan dan intelektual kebanyakan dari wilayah di pesisir Teluk Mandar. Sekali lagi itu bukan wacana, tapi realitas waktu lampau dan saat inilah yang membuktikan. Beberapa seniman, budayawan, intelektual lahir dari pesisir Teluk Mandar. Sebutlah Husni Djamaluddin, Baharuddin Lopa, Basri Hasanuddin, Nur Dahlan Jirana, Alisjahbana. Lembaga dan gerakan-gerakan kebudayaan juga demikian, sejak zaman pra kemerdekaan hingga saat ini. Bukan tanpa alasan Emha Ainun Nadjib di awal-awal kebesarannya menjadikan Mandar sebagai salah satu daerah yang rutin dikunjunginya. Dan bukan hal yang

130

aneh mengapa budayawan-budayawan sekelas WS Rendra, Zawawi Imron, dan yang lain ‘hanya’ bertandang ke kawasan Balanipa bila mereka datang ke Mandar. Jadi mengapa harus diragukan dan seolah-olah ada gerakan sistematis yang dilakukan pihak-pihak tertentu untuk mengingkari kesepakatan pertemuan budayawan se-Sulbar, bahwa taman budaya harus didirikan di Balanipa atau sekitarnya. Bukan orang Balanipa yang mengusulkan tapi teman-teman di Mamasa. Teman-teman di Mamasa mengerti sejarah dan budaya. Yang memungkiri dan tidak setuju sebaliknya: tak paham sejarah dan merasa inferior. Sekali lagi, kalimat di atas bukan kesombongan tetapi kenyataan yang me­ ngatakan demikian! Masa depan bagaimana? Maksudnya, apa beda apa yang akan diraih bila Taman Budaya berada di Mamuju dibanding bila berada di Balanipa? Jelas beda dong! Sumberdaya manusia yang bergerak dalam bidang cendekia dan kebudayaan melimpah ruah di Balanipa dan sekitarnya. Merekalah yang akan menghidupkan Taman Budaya, mereka adalah roh! Gerakan-gerakan kebudayaan sudah mentradisi di pesisir Teluk Mandar! Even Sandeq Race yang mengangkat martabat Mandar di puncak-puncak kebudayaan lahir di sini. Tradisi saeyyang pattu’du yang ditampilkan di karnaval budaya se-Nusantara 2008 lalu juga demikian. Budaya-budaya kontem­ porer juga demikian, misalnya tradisi sastra dan teater. Ada yang mati, tapi tetap saja ada yang tumbuh. Itu terjadi sebab ada aura dan semangat menghidupkan dan menjaga kebudayaan. Tanpa bermaksud menganggap Mamuju rendah, dari segi tempat dan nuansa untuk berkesenian kurang pas sebab yang akan marak adalah semangat politik dan dagang. Ya, itu bukan barang haram tapi idealnya kegiatan berkesenian tidak dicampuri banyak dunia itu. Faktor lain, butuh biaya banyak untuk menghidupkan dan menjaga agar Taman Budaya bergeliat bila berada di Mamuju, apalagi itu berada di tempat terpencil. Terpencil dalam arti, jauh dari orang-orang yang ingin menghidupkan dan menjaganya meski tak dibayar. Bukan hanya sumberdaya manusia yang sedari awal sudah ada, tapi sumberdaya manusia yang amat berperan besar juga ditempatkan di wilayah Balanipa dan Majene, yaitu mahasiswa. Dimanapun di muka bumi, setiap ada mahasiswa disitu akan hidup gerakan-gerakan kebudayaan. Dengan kata lain, ruang sebagai tempat apresiasi mahasiswa harus ditempatkan didekat mereka!

131

Yang diniatkan oleh segelintir pihak malah kontra produktif: menempatkannya didekat para politikus dan pedagang! Aneh bin lucu! Wilayah-wilayah kecil antara Balanipa dan Sendana telah diliputi aktivitas berkesenian yang banyak diantaranya bergerak secara mandiri. Itu suatu parameter bahwa kegiatan budaya di kawasan tersebut adalah bagian harmoni hidup. Banyak yang beranggapan bahwa taman budaya dan atau gedung kesenian adalah tempat pementasan. Bukan hanya itu! Taman budaya adalah tempat membina generasi yang peduli terhadap kebudayaan. Tidak dalam arti seperti sekolah sebagaimana umumnya tapi juga sebagai tempat apresiasi diri. Ada beberapa teman di kawasan ini yang ingin pameran foto, lukisan, dan karya yang lain, tapi tak ada tempat untuk melakukannya. Pentas, pameran atau keluaran-keluaran kebudayaan, yang biasanya diwakili unsur kesenian, tidak hanya ditujukan kepada para pejabat dan orang-orang kaya. Ini yang menjadi paradigma yang mendasari gedung kesenian atau taman budaya harus selalu ada di ibukota provinsi. Harus ada keberanian melawan hal tersebut. Pembangunan tidak harus selalu terpusat pada salah satu wilayah, tapi harus menyebar. Ya, mungkin ada yang beranggapan bahwa pembangunan taman budaya dan atau gedung kesenian di Mamuju adalah untuk memotivasi orang-orang di sana untuk lebih berkesenian. Tapi apakah begitu tesisnya? Saya pikir tidak. Semangat berkesenian sedikit banyak dilatarbelakangi lingkungan. Nah, pesisir Teluk Mandar memiliki sejarah itu. Di kawasan pesisir Teluk Mandar juga berlangsung aktivitas pembinaan kebudayaan, tapi sayangnya itu terfragmentasi. Nah, dinamika seperti itulah yang harus disambut Taman Budaya. Tidak sebaliknya. Tidak perlu orang Balanipa mengancam untuk keluar dari komitmen ke-Sulbaran bila Taman Budaya dan atau Gedung Kesenian tidak ditempatkan di wilayah agung tersebut, sebagaimana dulunya banyak pihak yang mengancam tidak akan mendukung pembentukan Sulbar bila ibukota tidak berada di wilayah Mamuju. Sebab tidak elok, tidak etis. To Balanipa punya komitmen pada perjuangan kemandaran. Nah, semua harus taat pada komitmen yang telah disepakati tokoh-tokoh budaya dari semua kabupaten di Sulbar pada pertemuan yang difasilitasi gubernur beberapa bulan silam. Kalau itu diingkari, apa yang akan terjadi? Wallahualam

132

Karya Pemula Sarat Makna Paling tidak ada tigaratusan pasang mata yang menyaksikan pemutaran perdana film “Badai Puisi di Layonga” (BPL) di halaman SMUN 01 Tinambung (biasa juga disebut “Layonga”) pada malam Minggu (Sabtu, 8 Maret 2008) di layar berukuran 3x3 meter. Meski pemutaran film diawali masalah teknis (film terlihat di layar tapi tak mengeluarkan suara), film mendapat apresiasi dari penonton. Para pembuat film pun merasa bahagia sebab kerja keras yang dilakukan mencapai klimaksnya. Film menceritakan kegelisahan seorang pemuda bernama Badai (diperankan Rahmat Hidayat) yang minat dirinya terhadap sastra, khususnya penulisan puisi, tidak tersalurkan di tempat dia menuntut ilmu. Dia merasa terpinggirkan sebab sikapnya yang “sok” pujangga diejek teman-temannya. Malah pernah kejadian Badai diusir oleh guru dari dalam ruang kelas karena dia berpuisi. Sepertinya, hanya seorang gadis bernama Dewi (Nurfauziah Dainur) yang memahami prilaku Badai. Wajar saja sebab Dewi menaruh simpatik terhadap Badai. Suatu waktu SMUN 01 Tinambung (dalam cerita film) mendapat undangan untuk mengikutsertakan siswanya dalam lomba puisi tingkat Sulawesi Barat. Undangan pun dibawa guru Bahasa Indonesia ke dalam ruang kelas. Belakangan, undangan yang tadinya diletakkan di meja guru lupa disampaikan ke siswa. Ketika jam istirahat, ada siswa yang saling lempar. Salah satunya secara tidak sengaja menjadikan undangan lomba puisi sebagai bahan untuk melempar temannya. Kebetulan, lemparan undangan tersebut jatuh pas di depan Badai. Badai membuka untuk kemudian mendapatkan momentum penyaluran bakatnya. Badai pun ikut lomba. Sebelum menulis puisi, dia membaca beberapa buku sastra yang terdapat di perpustakaan sekolahnya. Dua diantarannya adalah kumpulan puisi Husni Djamaluddin “Indonesia, Masihkah Engkau Tanah Airku?” dan “Husni Djamaluddin yang Saya Kenal: Catatan dari Teman-teman”. Sekedar catatan, Badai adalah penggemar Husni Djamaluddin yang disimbolkan dengan tempelan klipping tulisan tentang Husni di dinding kamar Badai. Keresahan hidup Badai berganti menjadi keceriaan setelah ada peluang bakatnya tersalurkan. Sepertinya ini akan menjadi jawaban atas suatu kejadian ketika dirinya menemukan potongan piala saat perjalanan pulang dari sekolah yang kemudian terbawa dalam mimpi: dirinya menjadi pemenang dan dieluk-elukkan temannya, disaksikan oleh si Dewi.

133

Beberapa waktu kemudian, pengumuman pemenang lomba diumumkan. (Tentu) yang menjadi pemenang adalah Badai. Masalahnya, ketika pemenang diumumkan, yang dilakukan setelah upacara bendera, sang pemenang tak datang sebab dirinya sakit. Sebagai gantinya, yang menerima piala adalah Dewi. Sebenarnya bukan Dewi yang menginisiatif sendiri untuk menggantikan Badai menerima piala, tetapi atas celutukan temannya ketika kepala sekolah (diperankan langsung Kepala Sekolah SMUN 01 Tinambung, Drs. Dahlan Tunggalan, M. Si.) menanyakan siapa yang bisa menggantikan Badai maju ke depan untuk menerima hadiah. Akhirnya, juga sebagai akhir film, Dewi datang ke rumah Badai membawa hadiah. Saat Dewi datang, Badai yang tampak lemah sedang menulis puisi di balaibalai rumahnya. Badai pun minta maaf atas kecuekannya selama ini. Indie Tia Community Diawali diskusi kecil di Studio Teluk Mandar, berlanjut di workshop pembuatan film dokumenter di MTsN Tinambung, muncullah ide di benak Rifai Husdar, Rahman Badaikata, dan Uchu Gede untuk membuat film “sinema elektronik” (sinetron) dalam bingkai film indipenden (yang lebih populer dengan istilah “indie”). Belakangan, kata tersebut digabung maknanya dengan kata Mandar yang amat mirip pengucapannya namun beda arti, yaitu “indie” (bahasa Mandar yang berarti “ini”). Diilhami salah satu kalimat kalinda’da’ Mandar yang amat populer “Indiq tia tommuane Mandar, bannang pute sarana, meloq dicinggaq, meloq dilango-lango”, kata “Indie” mendapat tambahan “Tia” (bisa diartikan “dia”) sehingga berarti “Ini dia”. Pada akhirnya dipilihlah nama INDIA TIA COMMUNITY, sebagai nama kelompok. Disadari atau tidak, nama tersebut mempunyai benang merah dengan Husni Djamaluddin lewat kalinda’da’ yang saya kutip di atas. Bukankah Husni adalah “bannang pute-na” Mandar? Husni Djamaluddin sebagi simbol BPL bisa dikategorikan film pop yang membidik “pasar” ABG dan tentunya cerita yang mudah dimengerti (?) dan akhir yang bahagia (happy ending). Tapi para pembuat film tidak serta merta terbawa arus mengikuti genre per-sinetron-an yang tiap hari ada di layar televisi di beberapa stasiun. Meski cerita relatif klise, tapi dalam film ada beberapa simbol yang sarat makna. Penggunaan tema puisi pun sedikit spekulatif. Mengutip celutukan yang

134

mengejek Badai di dalam film, mungkin ada anggapan para pembuat film sok pujangga. Namun disinilah tantangannya. Penggunaan tema puisi pun bukan tanpa alasan. Para pembuat film dengan cerdas memasukkan tokoh puisi nasional kelahiran Mandar di dalam film, yaitu Husni Djamaluddin. Paling tidak, ada misi dari Indie Tia Community untuk mengenalkan Husni Djamaluddin kepada generasi muda Mandar. Ini patut dihargai. Bisa dipastikan, akan lebih banyak siswa SMU di Sulawesi Barat yang tidak tahu Husni daripada tahu. Dengan menonton film BPL, ketidaktahuan itu dapat diminimalkan. Syukur-syukur ada pertanyaan “Siapa sih Husni Djamaluddin itu?” Perbedaan lain adalah teknik penyuntingan berbeda dengan apa yang ditampilkan sinetron-sinetron pada umumnya. Untuk beberapa adegan, dalam layar/monitor ditampilkan beberapa layar sekaligus, mirip susunan komik. Kurangnya dialog bisa menjadi kekurangan dan kelebihan film BPL. Dari sekitar 27 menit durasi BPL, dialog sepertinya bisa dihitung jari. Hal ini mungkin bisa membuat penonton tidak mudah mengikuti alur cerita. Tapi karena BPL adalah film indipenden yang relatif lebih bebas dalam teknik pengambilan gambar, editing, dan cerita maka itu sah-sah saja. Artinya, tema puisi yang diusung ikut menjiwai film itu sendiri, meski itu pada hal teknis. Dengan kata lain, memaknai puisi tentu tidaklah mudah. Pionir perfilman di Mandar Sebagai film, BPL memiliki beberapa kekurangan dan ada beberapa “kebetulan”. Ini wajar saja sebab para pekerja film di balik layar BPL adalah para pemula. Tapi sebagai pemula, Rifai dan kawan-kawan sudah bisa membuat film yang relatif lebih cerdas daripada sinetron kebanyakan di layar kaca. Disadari atau tidak, film BPL membawa pesan yang mengkritik kebijakan sekolah pada umumnya yang sangat kurang dalam mengapresiasi sastra. Ini tampak dari adegan sang guru yang mengusir Badai keluar dari kelas karena dia membacakan puisi, baik saat jam pelajaran maupun di jam istirahat. Dan, guru yang mengusir itu adalah guru Bahasa Indonesia yang seharusnya mewadahi potensi siswanya. Guru lain yang mengusir Badai adalah guru Fisika. Sepertinya di benak para pembuat film, juga siswa pada umumnya, pelajaran Fisika (dan pelajaran-pelajaran eksakta lainnya) adalah “antitesa” sastra. BPL patut untuk diapresiasi. Bisa dikatakan BPL adalah salah satu pionir film

135

pop yang lahir di tanah Mandar (Sulawesi Barat) dan didukung penuh oleh pihak sekolah, dalam hal ini SMUN 01 Tinambung. Pembuatan film adalah salah satu cabang dalam berkesenian. Bukan hanya menari, melukis, berpuisi, dan berteater. Artinya, mungkin ada siswa atau generasi muda yang tidak ada talenta berkesenian dalam dunia tari tetapi ada minat terhadap pembuatan film. Jadi, ada beberapa alternatif untuk menyalurkan bakat siswa. Alasan lain, para pembuat film mempunyai keberanian untuk menyalurkan bakat mereka yang cepat atau lambat akan diapresiasi banyak pihak. Artinya, para pembuat harus siap-siap dikritik pihak lain atas karya yang mereka buat. Terakhir, sumberdaya manusia di Mandar harus menyiapkan diri untuk terlibat dalam dunia penyiaran, baik itu dalam ranah hiburan maupun berita. Dalam waktu dekat, Undang-undang Penyiaran yang salah satu poinnya mewajibkan kerjasama stasiun televisi di Jakarta bekerjasama dengan sumberdaya lokal untuk membuat beberapa mata acara. Konkritnya, saat ini Mandar harus mulai membina potensi untuk menjadi sutradara, penulis skenario, kameraman, penyunting, aktris/aktor, penata cahaya, desain digital, ahli komunikasi, pengusaha yang mempunyai kemauan menanam investasi di ranah broadcasting, dan lain sebagainya yang akan mengisi peluang di atas. Pembuatan film “45!!!” Jumat, 27 Maret 2009, editing kasar film kedua IndiE Tia Community bekerjasama Studio Teluk Mandar sudah bisa disaksikan. Pertanyaan yang saya ajukan kepada sang sutradara, Pai (Rifai Husdar), “Ngerti nggak jalan ceritanya?”. Jawabnya, “Saya baru mau ajukan pertanyaan yang sama”. Ya, kami sebagai si pembuat filmnya jelas mengerti, sebab kami yang buat skenarionya, jalani proses sotingnya, dan mengeditnya. Tapi kan namanya film, yang menikmati atau menjadi obyek persembahan adalah penonton. Bukan para filmmaker-nya (pembuat film). Maksudnya, karena telah menyelesaikan film maka semuanya selesai. Tidak sampai di situ! Karya pertama pionir perfiliman di Tinambung (Mandar, Sulbar?) yang pertama kali menfokuskan diri pada pembuatan film fiksi berjudul “Badai Puisi di Layonga”. Menyaksikan film dan film dokumenter (di balik layar) pembuatannya saat sekarang membuat para pembuatnya “malu dan mentertawai” diri sendiri. Di benak berkelebat lambat pertanyaan “Koq bisa-bisanya menghasilkan karya “jelek” seperti itu?”.

136

Itu bukan pikiran negatif, tapi semacam ciri bahwa ada perubahan pandangan terhadap suatu karya. Tepatnya ada peningkatan kualitas dalam menghasilkan karya. Hal yang sama juga saya alami ketika membaca tulisan-tulisan saya dulu, “Ah, malu. Harusnya kan begini kalimatnya …?” BPL, begitulah singkatan judul film pertama IndiE Tia Community (nanti saya akan singkat juga menjadi ITC saja), amat bersahaja proses pembuatannya. Saya pribadi tidak terlibat di awal, kecuali tempat pinjam tripod. Mungkin karena Pai, Uchu Gedhe, dan sang Badaikata(-kata) menginginkan karya yang originial, maka saya tidak usah dilibatkan dulu. Belakangan, saya akhirnya terlibat. Saya lupa bagaimana prosesnya. “Sedih dan kaget” mengetahui prosesnya: hanya menggunakan 1-2 kaset mini DV, format rekaman gambar LP (agar durasi kaset bisa menjadi 90 menit, dari durasi normal 60menit atau SP, teknik ini membuat hasil gambar menjadi jelek), dan akan memanfaatkan software editing Moviemaker. Yang terakhir ini software bawaan di sistem operasi Windows XP. Artinya, software itu sangat instan. Saya sendiri tidak pernah menggunakannya untuk mengedit film. Yang tergambar di benak ketika akan mengerjakan film fiksi (untuk mem­ bedakanya dari non-fiksi atau dokumenter) adalah sesuatu yang akan berbeda. Yang membuat film (dokumenter) pernikahan, maulidan, dan lain-lain sudah banyak dan tak ada kesulitan berarti. Tapi membuat film yang berdasar pada imajinasi, tentu ada kesulitan. Harus ada sutradara, ada skenario, kesting pemain (termasuk kemampuan akting pemain), dan keterampilan pengambilan gambar serta editing. Nah, di proses BPL, alat dan proses kerja hampir sama dengan pembuatan film pernikahan, malah bisa dikatakan di bawah. Yang membedakan hanya adanya sutradara, jalan cerita (naskah), dan melibatkan banyak pekerja film. Adapun teknologi yang digunakan tertinggal jauh: handycam tua dan rencananya menggunakan software “paling bawah” editing film. Adapun pekerja film-film pengantin alat kerjanya sudah lebih baik, kamera baru dan software yang setingkat di atas, misalnya Ulead VideoStudio, Pinnacle, dan Adobe Premiere. Tapi tunggu dulu, proses BPL tidak boleh disepelekan. Seperti yang saya kemukakan sebelumnya, bisa dikatakan film ini adalah film fiksi pertama yang dibuat di Tinambung dan sekitarnya. Artinya, ada semangat kreativitas dan semangat berkarya walau fasilitas sangat minim. Sekali lagi, inilah kehebatan ITC yang akhirnya menghasilkan karya BPL. Menjelang “deadline” pembuatan film (awalnya tidak ada batas waktu, tapi

137

karena akan memanfaatkan momentum kunjungan SMA 01 Mamuju ke SMU 1 Tinambung), saya diminta terlibat untuk membantu proses editing. Melihat stok gambar sangat kurang (tidak sampai 2 kaset!), saya membantu proses pengambilan gambar. Beberapa adegan ditambah dan alat kerja editing menggunakan software terbaik dalam dunia editing, Final Cut Pro (meski saya sendiri belum mahir betul menggunakan software ini). Singkat cerita, 8 Maret 2008, BPL diputar dihadapan ratusan pasang mata di halaman SMA 1 Tinambung (lebih dikenal dengan sebutan SMA Layonga), yang juga merupakan setting BPL. Meski di awal ada ketegangan karena suara tak bisa terdengar saat film diputar (ada canda: itu karena “ilmu” orang Mamuju), yang melayang-layang di otak dan hati orang-orang yang terlibat dalam pembuatan BPL adalah keharuan dan kebangaan. Dengan modal pas-pasan, bisa berkarya dan mendapat apresiasi. Hampir setahun tak terdengar kabar berita ITC (baca: tak ada karya), datang kabar: untuk kedua kalinya Fajar TV di Makassar   memutar BPL. Berawal dari SMS dari Zul “tivi kabel” bahwa “Malam ini akan diputar BPL” (diakui, semangat pembuatan film kedua bersumber dari bantuan Zul yang membantu sosialiasi film BPL di Tinambung dan Makassar!). Saya lalu meminta kakak saya di Makassar untuk memilih kanal Fajar TV dan online-kan hp di dekat speaker TV. Maka, meski hanya dalam bentuk suara, saya yang berada kurang 300 km dari kota Makassar (Fajar TV hanya bisa disaksikan masyarakat Makassar dan sekitarnya) bisa “menyaksikan” (mendengar) pemutaran BPL. Bangga, sebab ada komentar dari pengamat film (saya belum tahu siapa orangnya). Artinya, ada apresiasi dari orang perfiliman. Dengan kata lain, ada banyak bentuk apresiasi, yang paling sering komentar lintas lalu dan berlangsung di jalanan. Tapi kali ini berbeda: di studio, dishoting, dipancarkan, dan disaksikan banyak orang di ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Ada banyak kekurangan di dalam BPL. Itu sesuatu yang senang kami akuisadari. Tanpa bermaksud berkilah bahwa BPL adalah karya pemula, kekurangan itu tak bisa dilepaskan begitu saja. Ya, kami sadari ada kekurangan itu dalam proses pembuatan. Tapi apa mau dikata, mau tak mau, kami harus manfaatkan apa yang ada. Artinya, yang dihasilkan sudah merupakan hasil maksimal atau terbaik dari yang bisa dihasilkan. Kalau mau mencapai hasil terbaik, amat sulit sebab dibatasi waktu dan sumberdaya. Nanti proses perbaikan dilakukan pada karya-karya berikutnya.

138

Berproses Lebih Baik Minggu, 1 Maret 2009, saya duduk berdua dengan Sahabuddin, ilustrator mu­ sik untuk BPL dan film kedua yang dibuat ITC, di depan komputer desktop iMac. Dengan mata dan telinga tajam, kami memperhatikan gerakan gambar dan “jarum” yang bergerak di dalam ruang kerja program editing Final Cut Pro. Kami sedang memasukkan musik ke dalam film. Kerja yang membutuhkan konsentrasi tinggi, feeling, dan tenaga ekstra. Di samping komputer yang kami gunakan, terdapat laptop MacBook. Udi sedang mendesain baju kaos yang akan digunakan kru dan pemain film kedua yang kami buat pada acara pemutaran perdana nanti (mudah-mudahan jadi). Tahun lalu, pembuatan BPL masih menggunakan peralatan perangkat lunak dan keras yang masih sederhana. Kamera PANASONIC NGS-250 dan SONY SONY DCR-TRV70 jauh berbeda dengan yang digunakan sekarang, SONY HDR-HC9. Yang terakhir ini sudah berformat High Defenition meski masih kategori handycam (kamera berukuran kecil). Dulu, tripodnya hanya satu. Kecil, ringkih. Tapi harus digunakan karena hanya itu yang ada. Sekarang, di Studio Teluk Mandar terdapat empat tripod. Ada satu yang standar broadcasting (berat, besar, buatan Jerman), tapi tidak digunakan karena ukuran kamera yang kami gunakan kecil, jadi pakai yang level tengah saja, DAIWA VT-551. Lainnnya lagi juga ukuran besar, tapi tidak bisa digunakan panning karena lehernya kaku. Tripod itu untuk kamera foto. Yang terakhir, yang dulu digunakan, tak pernah kami lirik. Cukup sebagai kenangan masa lalu, bahwa kami pernah membuat film dengan alat sederhana. Sekarang kami menggunakan iMac 20”, prosessor 2,4 GHz Intel Core 2 Duo, RAM 2 GB 800 MHz DDR SDRAM, dan kapasitas hardisk 250 GB (internal) dan 2 TB eksternal. Dulu MacBook 12”, prosessor 2 GHz Intel Core 2 Duo, RAM 4 GB MHz DDR SDRAM, dan hardisk 120GB; dan satu unit PC. Perbedaan ini mendorong kami untuk menghasilkan karya yang harus lebih baik. Ya, kan kalau lihat logika, seharusnya demikian! Di atas perbedaan dalam perangkat keras. Lumayan, ada peningkatan signifikan. Itu berarti, apa yang kami hasilkan harus berbeda juga. Ya, itulah yang berlangsung. Proses pembuatan film kedua ITC jauh berbeda dengan film pertama. Ada proses diskusi kru, diskusi pemain, penggunaan tape (mini-DV) yang lebih banyak, pembagian kerja antar kru yang mulai jelas,dan hasil film diberi masukan oleh semua kru dan pemain. 139

Sebagai contoh, apa yang saya lakukan dengan Sahabuddin, ketika memasukkan instrumen ke dalam film. Dulu, proses memasukkan musik saya lakukan sendiri, meski instrumennya dibuat Sahabuddin. Dengan kata lain, setelah merekam ilustrasi musik Sahabuddin (dengan kamera video, makanya di dalam beberapa musik terdapat suara “bocor�, misalnya benda yang jatuh), proses memasukkan saya lakukan sendiri di depan komputer. Sekarang (meski proses rekam masih sama sebab kami belum memiliki peralatan merekam suara, misalnya studio kedap suara), setelah Sahabuddin membuat musik dan setelah saya edit mendekati “matang�, kami duduk berdua di depan monitor. Kami bagi peran, Sahabuddin mengeluarkan segala kemampuannya sebagai ahli musik (skripsinya tentang musik), saya membantunya memasukkan ke dalam gambar/adegan (sebab Sahabuddin belum terbiasa menggunakan program di komputer Macintosh). Jadi, dari segi pertanggungjawaban peran, Sahabuddin sudah melakukan fungsinya sebagai ilustrator musik sekaligus penatanya. Di dalam iMac yang kami gunakan sudah ada softwate Garage. Program yang amat bagus untuk menghasilkan musik. Sayangnya, saya kurang paham tentang ilmu/teknis musik; sayangnya, Sahabuddin tidak bisa menggunakan komputer bersistem operasi Macintosh dan program Garage. Jadi, kami tak bisa maksimalkan program tersebut. Mudah-mudahan di film mendatang, program pembuatan musik dan film terus kami maksimalkan. Pembuatan film Dihitung-hitung, proses pengambilan gambar berlangsung lebih dua pekan. Lewat sepekan dari yang ditargetkan. Molor disebabkan para kru ada yang masih berstatus pelajar, lainnya lagi pekerja kantoran (guru, staf tata usaha di sekolah, dan staf kantor kecamatan). Jadi agak lama bila berdasar pada waktu yang direncanakan. Pada dasarnya, proses pembuatan film adalah sebagai berikut: perencanaan, pembuatan skenario, shooting, editing/penyuntingan gambar. Itu semua dilakukan dalam film kedua yang dibuat ITC berkolaborasi dengan Studio Teluk Mandar. Hanya saja, pembuatan skenario tidak serumit, setidaknya belum seperti, pada pembuatan film serius lainnya: membuat naskah. Berhitung pada kemampuan sebagian besar aktor, sumberdaya penulis naskah, dan waktu, teknik pembuatan skenario yang ketat belum dilakukan. Ya, bisa saja membuat naskah, tapi untuk menghasilkan naskah dengan dialog yang realistis, agak susah sebab waktu

140

terbatas. Belum lagi sebagian besar teman-teman yang terlibat dalam pembuatan film, khususnya yang “senior” tidak terbiasa menghasilkan naskah yang bisa dipakai dalam pembuatan film. Ini tampak jelas dalam film pertama, dialog sangat kurang. Jika pun ada, masih tampak kaku. Jadi strategi yang ditempuh meniru teknik yang dipakai dalam dunia komedi, yaitu berdasar pada improvisasi pemain. Cara ini berani ditempuh karena film kedua ini didukung langsung oleh pemain-pemain senior, yang terbiasa bermain teater dan mempunyai kemampuan improvisasi mumpuni. Ambil misal Rifai Husdar (sutradara), Sahabuddin Mahganna (ilustrator dan penata musik, pernah sebagai pemain terbaik di salah satu satu festival teater di Makassar), Wiramartas dan Rahman Badaikata (keduanya pernah bermain di pentas teater di Makassar dengan membawakan cerita “Kauseng”, yang akhirnya menjuarai festival; cerita Kauseng akan menjadi proyek ketiga ITC). Walau Muliadi dan Tombo Padhua belum pernah bermain teater, tapi karena peran yang dimainkan tidak jauh berbeda dengan realitas sehari-hari, maka untuk membawakan peran bisa terlihat alami. Ini karena berdasar pada improvisasi. Jika berdasar pada naskah secara ketat tanpa ada latihan panjang, maka adegannya kemungkinan besar tidak sebaik yang telah dihasilkan. Jadi, saya dan sutradara tinggal menjelaskan kepada pemain bahwa yang diinginkan adegan ini adalah dialog seperti “ini …”. Cara di atas juga memberi kelonggaran untuk mengembangkan cerita. Karena berbagai alasan, adegan-adegan yang direncanakan tidak bisa dilakukan. Misal, beberapa pemain tidak bisa shoting karena tabrakan dengan kegiatan lain, waktu tidak cukup (sebab sudah sore), dan ada ide baru. Adegan baru yang cukup memberi warna dan kesan kolosal pada film ini adalah prosesi mitindor (mempelai laki-laki menuju rumah mempelai perempuan). Ide awalnya, yang akan menikah adalah “Nurdin” (Muliadi) dengan “Julaeha” (Cimma), tapi karena para pemain juga terlibat langsung dalam proses pernikahan (yang memang betul-betul asli) tak bisa dilakukan. Melihat hasil pengambilan gambar yang saya lakukan (yang tujuannya hanya untuk mendokumentasikan pernihakan teman, jadi bukan untuk film) sayang bila tak dimasukkan ke film, maka muncul ide baru untuk mengubah skenario. Pertama saya sampaikan/diskusikan dengan Sahabuddin, yang sedang ada di Stu­ dio Teluk Mandar untuk membicarakan musik film. Dia sangat setuju. Ide ini disampai­

141

kan ke sutradara dan direspon dengan antusias. Maka kami langsung membicara­­­kan skenario lebih lanjut. Syukurlah, skenario ini menjadikan cerita lebih menarik. Inspirasi cerita: Baliho-baliho Caleg Malam Jumat (5 Maret 2008), saya, Rifai dan beberapa teman (ada yang masih sekolah di MTsN Tinambung) pergi memasang satu baliho yang isinya publikasi peluncuran film. Saya pribadi baru sekali pergi memasang baliho. Senang juga, sebab aktivitas yang sama juga dilakukan oleh para “aktivis” partai atau pihak tertentu yang kegiatannya memasang baliho. Dengan kata lain, “pemasang baliho” adalah salah satu karakter dalam film kedua ITC. Baliho harus kami pasang di tempat strategis. Satu-satunya tempat adalah di “kandang” (perempatan di tengah kota Tinambung). Masalahnya, di tempat tersebut sudah ada “puluhan” baliho para caleg. Hampir setengah jam kami mendiskusikan tempat yang layak. Karena tidak ada tempat lagi, terpaksa kami pinjam (baca: menghalangi) salah satu baliho teman saya agar kami ada tempat layak. Artinya di kiri, kanan, belakang baliho kami ada baliho caleg. Hampir tiga bulan lalu, saya membuat beberapa desain poster yang berisi kritikan terhadap baliho-baliho caleg. Setidaknya ada 10 desain. Rencananya, desain itu akan dicetak menjadi baliho besar dan dipasang di tempat strategis. Jadi semacam pameran di lapangan terbuka. Sudah ada teman yang bersedia membantu biaya cetak, saya pun sudah mewawancarai pakar komunikasi politik (Suradi Yasil) dalam bentuk audio-visual. Berhubung kesibukan dan berbagai hal, desain tak keluar-keluar dari komputer. Hanya di beberapa kesempatan saya perlihatkan ke teman-teman untuk memintai pendapatnya. Inti atau pesan yang ingin saya sampaikan adalah, harus ada “propaganda kontra” untuk menghadapi “propaganda” dari para politikus. Ini sesuatu yang wajar, malah seharusnya, agar ada keseimbangan. Ya, memang ada banyak yang memberi kritikan terhadapa fenomena banyaknya baliho, tapi terbatas dalam obrolan “warung kopi”. Untuk mewujudkan dalam bentuk yang bisa diapresiasi pihak lain (masyarakat) belum banyak. Hanya satu yang pernah saya lihat, yaitu penampilan Teater Air di Mamuju waktu mementaskan “Kucing dalam Karung” karya Madi Taro. Belakangan, juga dimainkan di Majene.

142

Diliputi rasa bahagia karena film BPL diputar Fajar TV, saya, Pa’i dan Uchu Gede membicarakan ide pembuatan film berikutnya. Itu kami lakukan di lokasi banjir, di Sepa Batu. Kebetulan saat itu saya diminta Pa’i untuk mendokumentasikan kunjungan kerja pejabat dari Jakarta untuk melihat dampak banjir. Untung mereka terlambat datang, jadi kami bertiga ada waktu untuk berdiskusi lebih lama. Belakangan saya tidak jadi mendokumentasikannya; belakangan, obrolan di pinggir jalan tersebut telah menjadi film pada 6 Maret 2009 dan akan diluncurkan dua hari kemudian! 45!!! Film kedua hasil kerjasama ITC dengan Studio Teluk Mandar berjudul 45!!! Penentuan judul melalui diskusi hangat dari pemain dan kru. Ada yang mengidekan Causa 45, Gara-gara 45, 45mo, dan lain-lain. Mengapa ada angka 45? Jawabannya sederhana, karena kalau menggunakan angka 1 sampai 44, maka pasti akan identik pada salah satu nomor partai (kalau tidak salah, parpol-parpol di Aceh ada yang menggunakan angka 45, tapi karena partai lokal Aceh, tidak apa-apa kami menggunakan angka 45). Lalu, angka 45 sangat terkenal, identik dengan sejarah Bangsa Indonesia, yaitu tahun kemerdekaan. Maka, berdasar pada angka 45, saya dan sutradara membuat alur cerita. Dalam film 45!!!, ada tiga karakter yang mewakili secara langsung angka 45, yaitu Tombo (sebagai pejuang 45), Anto Boka (caleg dari partai bernomor 45), dan Nurdin (pemuda yang pekerjaan sehari-harinya memasang baliho dan merencanakan menikah pada tanggal 4 bulan 5). Tiga karakter di atas kami hubungkan: Anto Boka memesan pemasangan baliho kepada Nurdin; Tombo salah seorang rakyat yang pernah menerima media sosialisasi sebagai caleg dari Anto Boka. Dalam publikasi, kami memberi anak judul: Kisah seorang caleg dan dua lelaki merdeka. Jadi film menceritakan kisah Anto Boka dan dua lelaki yang mempunyai sikap sendiri terhadap Anto Boka. Ya, Nurdin adalah orang yang selalu memasang baliho Anto Boka (dan baliho caleg-caleg lain), tapi tujuan sesungguhnya adalah agar bisa mendapatkan uang yang akan digunakan menikahi gadis idamannya, bukan sebagai pendukung partai. Adapun Tombo, meski dia seorang rakyat biasa yang kerjanya membuat gerabah, tidak serta merta takluk pada kampanye Anto Boka. Ini tergambar pada akhir film, yang mana Tombo tanpa beban merobek poster Anto Boka karena dia akan

143

menggunakan sobekannya (ini adalah cerminan kenyataan di lapangan bahwa media-media kampanye dari apra caleg banyak yang sia-sia). Apa yang dilakukan Nurdin dan Tombo (serta orang-orang di lingkaran Anto Boka, yaitu dua ajudannya) bisa dikatakan karikatural, bisa juga tidak. Artinya, secara kasat mata itu terjadi saat ini, di sekitar kita. Jadi merupakan fenomena sosial yang menyertai fenomena banyaknya orang terjun ke dunia kekuasaan; dunia politik dewasa ini. Ada yang cuek, ada yang terpengaruh, dan ada yang ingin memanfaatkan. Oleh karena itu, film ini tidak hanya ditujukan pada caleg, tapi segenap komponen masyarakat, termasuk para “penjilat” di sekitar caleg-caleg kaya. Filmnya bagaimana? Relatif susah untuk menyimpulkan genre film 45!!! Maksud saya, mengatakan komedi tidak juga, film politik juga tidak murni betul (baca: film serius). Untuk menyebut ada unsur kesedihan , bisa juga sebab ada beberapa instrumen musik yang berirama melankolis. Saya secara pribadi menganggap film ini menarik sebab mempunyai perbedaan dengan sinetron atau film-film yang banyak di layar kaca. Dengan kata lain, kami tidak latah dalam membuat film. Film yang kami buat juga sedikit lebih baik sebab alur ceritanya susah ditebak, tidak seperti film-film klise. Lihat adegan-adegan di awal, akhir cerita sudah bisa disimpulkan. Film 45!!! baru bisa disimpulkan ceritanya setelah film selesai disaksikan! Namun, cerita gampang dicerna. Banyaknya karakter tetapi terhubung pada satu alur cerita merupakan tantangan tersendiri di dalam membuat skenario: menghasilkan film yang alur ceritanya bernalar, sesuai logika, dan ada urutan waktunya. Ingin menghasilkan film yang “masuk akal” membuat kami hati-hati sewaktu shooting, yakni adegannya harus sesuai dengan keinginan cerita. Ini agak repot sebab shotingnya tidak kronologi. Ada banyak adegan awal di dalam film, tapi shootingnya dilakukan belakangan. Teknik ini sangat berdampak pada penggunaan kostum. Kalau kostum salah, ceritanya tidak akan nalar. Misalnya adegan Tombo tertabrak dilakukan di pekan ketiga, tapi masuk rumah sakit pada pekan kedua. Belum adegan-adegan lain yang dilakukan “terbalik-balik”. Ada beberapa adegan yang di meja kerja editing tidak layak digunakan karena tidak logis, misalnya adegan Nurdin yang akan dan sedang menonton pertunjukan musik sayang-sayang. Shooting menonton musik dilakukan lebih awal. Ketika melihat

144

hasil editing awal ada yang kurang, maka dilaksanakan pengambilan gambar untuk melengkapinya, yaitu sebelum Nurdin pergi ke tempat pertunjukan. Adegannya Nurdin di depan cermin menghias diri dan akan mengenakan jaket merah. Belakangan, sewaktu diedit, saat menonton musik, Nurdin memang mengenakan jaket merah, tapi terlihat jelas di balik jaketnya (bagian bawah) dia mengenakan baju biru muda. Saat shooting menghias diri, Nurdin mengenakan baju hitam. Agar adegan tetap nalar, adegan Nurdin mengenak jaket merah tidak saya gunakan. Jaket merah tergantung di belakangnya sudah cukup menjadi simbol bahwa nantinya dia akan mengenakan itu. Kalau ada pertanyaan, koq di awal dia mengenakan baju hitam tapi belakangan mengenakan baju biru? Dalih yang bisa dikemukakan, Nurdin mengganti bajunya sebelum mengenakan jaket, tapi adegan itu tidak ada di dalam film. Jadi, kami mengorbankan adegan penting agar film tetap nalar atau logis. Demikian juga ketika Tombo memberikan kartu nama berisi nomor telepon ke gadis yang menolongnya tidak saya gunakan. Sebab di dalam adegan terlihat rokok kretek milik Tombo. Awalnya adegan itu dianggap wajar, tapi di meja editing menjadi tidak wajar sebab di dalam cerita, Tombo menggunakan rokok lintinang (bakal). Pun kami tidak harus memperlihatkan semua adegan yang bertujuan memberi penjelasan ke penonton. Penonton pasti punya penafsiran tersendiri, tapi kalau mereka mengajukan pertanyaan, kami ada penjelasan. Adegan yang sedikit tidak logis atau memunculkan pertanyaan di benak adalah “Koq Tombo membawa poster dan kartu Anto Boka, padahal sewaktu dia menerima dua benda tersebut berlangsung di waktu yang berbeda?” (disimbolkan dari kostum yang berbeda). Dalam skenario awal, ceritanya memang berlangsung pada hari yang sama, tapi belakangan ada perubahan skenario. Walau demikian, tetap bisa dianggap logis: karena Tombo menghargai pemberian Anto Boka dan menganggap benda itu penting (disimbolkan dalam dialog antara sopir Anto Boka dengan Tombo ketika menerima poster: bahwa kalau ada kebutuhan, telpon saja), Tombo tetap membawa-bawa benda tersebut. Pun si Tombo tidak tahu media mana yang ada nomor teleponnya, apakah kartu nama atau selebaran/poster. Jadi dia bawa saja. Demikian halnya dalam adegan ketika dua orang gadis menolong Tombo. Si gadis “tiba-tiba” menanyakan “Ada nomor yang bisa dihubungi?”. Koq dia langsung menanyakan hal itu? Kenapa tidak ada basa-basi sebelumnya? Dalihnya, untuk berbasa-basi saat kecelakaan kayaknya tidak tepat. 145

Lalu kenapa menanyakan nomor telepon/hp ke seorang tua yang rasarasanya tak mungkin punya hp? Diakui, di meja editing dialog ini menjadi sangat sumir. Untuk melakukan pengambilan gambar sebagai pengganti juga susah sebab pengambilan gambar kecelekaan merupakan adegan paling susah dan sebelumnya sudah dilakukan dua kali (di hari-hari yang berbeda). Tetapi, adegan di atas tetap bisa dipertanggungjawabkan kelogisannya, yakni si gadis ingin menghubungi pihakpihak yang bisa membantu Tombo. Pada saat yang sama, si Tombo ingat ada pihak yang pernah mengingatkan pada dirinya bahwa kalau butuh bantuan hubungi saja. Alternatif Pendidikan Politik Film 45!!! adalah film yang membawa misi pendidikan politik. Itu jelas tergambar dalam film ini, namun tidak vulgar sebagai media propaganda. Pun bukan oleh pemerintah apalagi berdasar pesanan dari caleg. Sebaliknya, film ini betul-betul film indipenden, merdeka membuatnya. Ide, pendanaan, proses kerja, tahap produksi, dan pemasaran (baca: sosialisasi) mandiri melakukannya. Sebagaimana dikemukakan di awal, film ini semacam “kontra-kampanye� (bandingkan dengan istilah kontra-intilejen dalam dunia spionase) terhadap maraknya media-media kampanye dari orang-orang politik. Jadi, semacam pendidikan politik untuk masyarakat luas. Kami pun mengemasnya dalam bentuk yang selangkah lebih berkualitas dan terbukti secara ilmiah sebagai cara paling ampuh memberi pengaruh kepada massa: audio-visual. Ya, ada banyak media dalam bentuk yang sama akan tetapi film 45!!! memasukkan unsur-unsur lokal yang akan membuat para penonton, khususnya orang Mandar, merasa menjadi bagian dari film ini. Tapi itu tidak berarti orang luar Mandar akan sulit mencerna film ini, mereka tetap bisa sebab bahasa simbol masih bernilai universal adanya. Sebagai tambahan, fenomena caleg-calegan di merata di seluruh Indonesia. Sepertinya pemerintah, dalam hal ini KPU, harus berterima kasih kepada ITC dan Studio Teluk Mandar dengan adanya film ini. Sedikit banyak di dalam film ini ada penjelasan bagaimana cara memilih (mencontreng/centang). Itu untuk hal teknis. Untuk penyadaran pola pikir ada lebih banyak, yaitu untuk tidak memilih sembarangan. Film ini dikerjakan oleh orang-orang yang hampir semuanya mempunyai jaringan dengan caleg. Paman sang sutradara seorang caleg, sang penata musik kakaknya yang caleg, editor sepupu dan bibinya yang caleg, penata lampu atau pemeran Nurdin juga caleg pamannya, ayahnya pemeran istri Anto Boka juga caleg,

146

demikian juga kru/pemain yang lain. Setidaknya ada tetangga mereka yang caleg. Tapi itu tidak berarti di dalam film dipenuhi “pesan-pesan sponsor”, sekali lagi tidak. Film ini adalah aspirasi dari generasi muda yang menginginkan bangsanya lebih baik. Ya, nampak ada kecendrungan melawan arus utama (mainstream) tapi sebenarnya tidak. Ini sangat wajar dalam atmosfir demokrasi. Aspirasi politik seharusnya berasal dari semua komponen (stakeholder) di masyarakat. Marah atau merasa terganggu oleh film ini? Rasanya tidak perlu. Mengapa harus marah? Apakah nama, partai, nomor urut, dan baliho “Anda” dijelek-jelekkan dalam film ini? Kayaknya tidak! Atau kalau mau berdebat, sejujurnya, baliho-baliho yang berserakan di jalan ada yang menjadi sampah untuk mata. Sangat tidak enak dipandang mata, apalagi kalau yang dikemukakan kebohongan belaka atau janji-janji manis. Mata butuh ruang pandang tersendiri yang tidak membebani. Tapi di lapangan, kemana mata memandang, ada saja baliho-baliho. Untung kalau balihonya menarik, tapi kalau jelek dan “lucu”? Kesimpulannya, sekarang demokrasi. Alasan yang juga digunakan banyak orang sehingga berlomba-lomba menjadi caleg meski diri tidak maka! Mengutamakan proses Terwujudnya film BPL dan 45!!! dalam keping yang bisa disaksikan banyak orang disiarkan oleh stasiun TV bukan hal utama; proses pembuatan dianggap lebih penting. Rasa-rasanya, tak ada hari yang terlewatkan tampa menonton film, apakah itu film lepas, sinetron, film kartun (animasi), iklan, dan keluaran lain yang berasal dari kerja yang melibatkan kamera video. Dianggap sudah biasa, tapi disitulah letak persoalannya, meski sudah menjadi bagian hidup, sebagian besar penonton film tak memahami proses pembuatannya. Seperti sebuah keajaiban, orang-orang yang tak pernah mengecap dunia pendidikan perfilman tetapi menjalani proses seperti orang film. Ada kebahagiaan tersendiri, ada kesan atau pengalaman yang akan memberi penyadaran bahwa ternyata “begini” repotnya mengerjakan film. Sebagai penikmat saja, misalnya menyaksikan film berdurasi 1 jam, tak akan merasakan repotnya membuat film tanpa menjalani/menyaksikan proses pembuatannya. Ya, kita lihat kasus film 45!!! saja. Durasinya kurang beberapa menit dari sejam, tapi pembuatan filmnya makan waktu hampir tiga pekan. Shooting menggunakan 13 kaset miniDV (setara 13 jam), proses editing berjam-jam, melibatkan sekitar 100 orang

147

(yang terlibat langsung sebagai kru dan pemain sekitar 20 orang), dan menghabiskan biaya sekitar beberapa juta jika  kru dan pemain digaji (artinya, dalam film ini tidak ada kru dan pemain yang digaji, kecuali memberikan uang Rp 20.000 [pernah pakai ikan yang harganya Rp 15.000, yaitu ikan yang dibeli di dalam salah satu adegan] ke Pak Tombo setiap pengambilan gambar yang melibatkannya). Apakah penonton mempunyai perasaan yang sama dengan pembuat film 45!!!? Sepertinya tidak. Nah, inilah “kemenangan� orang-orang yang terlibat dalam pembuatan film 45!!!, bisa memberi impresi yang berbeda terhadap sebuah karya seni; terhadap produk yang sejatinya salah satu bentuk revolusi kebudayaan. Sisi lain, ada pengalaman menjalani pekerjaan yang masih jarang dilakoni orang-orang lokal di daerahnya (sendiri). Pekerjaan yang jika dilakukan serius dan profesional amat menjanjikan. Dan pekerjaan pembuatan film adalah pekerjaan kreatif, tak banyak orang yang bisa melakukannya. Peluncuran film Film Badai Puisi di Layonga diluncurkan di SMU Layonga pada 8 Maret 2008; film 45!!! diluncurkan pada Minggu, 8 Maret 2009, pukul 20.00 WITA bertempat di Gedung MITA Tinambung, milik H. Tiro. Panitia menjual tiket seharga Rp 3.000, setara harga tiga gelas Mount Tea atau tiga biskuit Tango atau songkol dekat jembatan tua, Tinambung. Tapi apa yang diperoleh jika menyaksikannya tidak sebanding dengan minuman-makanan tersebut. Orang yang menyaksikan peluncurannya akan menjadi bagian dari sejarah kebudayaan di Mandar, bahwa Anda menyaksikan momentumnya. Anda makan kedua benda di atas tak akan tercatat dalam sejarah, bukan begitu? Diakui atau tidak, film 45!!! adalah bagian dari perjalanan perkembangan kebudayaan di Mandar, sebagai bentuk kebudayaan kontemporer. Kebudayaan bukan hanya tari-tarian, puisi, dan proses ritual. Film dan pembuatan film, yang mana sekarang ini film tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, juga merupakan bentuk kebudayaan. Panitia sengaja menjual tiket untuk guna mengetahui tingkat apresiasi masyarakat Mandar (sejauh yang dijangkau publikasi, yaitu Tinambung dan sekitarnya), bukan untuk mencari keuntungan. Kami ingin mengetahui, sejauh mana masyarakat memberi perhatian pada perkembangan kebudayaan di Mandar. Awalnya sih tiket rencananya dijual Rp 2.000 saja.

148

Undang-mengundang secara formal yang dilakukan konvensional (yaitu mengantar langsung undangan kepada seorang individu atau instansi) tidak dilakukan sebab tujuannya memang mendapat apresiasi dari orang-orang yang memang ingin mengapresiasi (setelah melihat publikasi). Kalau diundang konvensional, “dikhawatirkan� yang diundang mengharapkan pelayanan istimewa: duduk di depan, dapat kue, dan dilayani. Panitia berusaha untuk tidak direpotkan urusan seperti itu sebab tidak ada sangkut pautnya dengan kelancaran pemutaran film. Dengan kata lain, panitia menyebarkan publikasi secara egaliter dan bersahaja, tidak ada undangan spesial, misalnya untuk pejabat. Intinya, kalau memang sudah melihat publikasi dan ingin mengapresiasi, datang saja dan beli tiket seharga Rp 3.000. Kalau terlambat datang, mudah-mudahan masih dapat kursi. Simpel bukan? Film 45!!!, di luar dugaan, disaksikan ratusan pasang mata. Faktanya jelas, gedung pertemuan terbesar di Tinambung, Gedung MITA, penuh dengan penonton. Banyak tidak kebagian kursi. Mereka terpaksa berdiri. Walau demikian, mereka tetap memberi apresiasi. Yang tak tahan panas, terpaksa keluar ruangan (ini juga menjadi catatan bagi pemerintah untuk menyediakan gedung pertunjukan yang layak!). Dari anak TK hingga orang-orangtua ikut menyaksikan, pengangguran hingga caleg, dari wiraswasta sampai guru. Apresiasi mereka cukup memberi motivasi kepada pekerja film 45!!! Untuk terus berkarya. Merdeka!!! Memproduksi sebuah karya seni harus memperhatikan estetika. Karena filmnya dibuat di masyarakat yang masih memegang norma-norma ketimuran, etika juga harus diperhatikan. Walau demikian, kami membuat film dalam semangat kemerdekaan. Maksudnya, sebagaimana yang dikemukakan di atas, film ini adalah film indipenden. Meski keluar banyak uang dari kantong pribadi para kru/pemain, melakukannya dilakukan dengan kerelaan hati. Ya, bisa saja kami mendapat sponsor, tapi dikhawatirkan mempengerahi semangat kemerdekaan kami dalam membuat film. Mudah-mudahan ITC masih dijiwai semangat indipenden dalam membuat film. Bukankah kata “indiE� diinspirasi dari kata indipenden? Merdeka tidak berarti tidak bisa menerima bantuan dana dari pihak di luar ITC. Merdeka diharapkan berada dalam semangat memproduksi karya, dalam berkreativitas. Film 45!!! adalah film yang lahir dari sentral kebudayaan Mandar, di muara Sungai Mandar, di Balanipa (bukan Balanipa sebagai nama kecamatan). Dalam

149

sejarah perkembangan kebudayaan dan perjuangan Mandar, Balanipa tak bisa dilepaskan. Banyak tokoh pejuang, pendidik, politik, dan seni yang lahir di tanah yang juga melahirkan orang-orang yang menggawangi ITC. Diakui, aura sebagai kampung yang banyak melahirkan tokoh cukup kuat menjiwai orang-orang di pembuat film 45!!! Semangat itu tergambar dalam film, yang juga akan menjadi ciri karya-karya ITC. Apakah ciri itu? Yaitu memperlihatkan foto atau karya tokoh-tokoh Mandar. Pada film BPL, yang diperkenalkan adalah Husni Djamaluddin, di film 45!!! Baharuddin Lopa dan Tombo Padhua. Untuk filmfilm berikutnya, rasanya tak akan kehabisan stok sebab ada banyak tokoh di Mandar yang layak diapresiasi dan peran mereka dapat dihuwujudkan dalam sebuah film. Semoga film ini bermanfaat, setidaknya bagi para kru dan pemain. Bila itu bermanfaat bagi masyarakat atau bangsa, akan lebih membahagiakan. Catatan Kecil untuk Teater Flamboyant Entah umur berapa saya mengenal Flamboyant. Pastinya sewaktu saya masih SD. Tak jauh dari rumahku, tepatnya di loteng perumahan Imam Mesjid Raya Al Hurriyyah Tinambung, saya sering lihat beberapa pemuda latihan seni. Kebetulan beberapa kerabat dan tetanggaku juga ikut beberapa kegiatan Flamboyant. Seperti almarhum Suharto, akrab dipanggil Atto’. Masih muda tapi lihai memainkan gitar dan piano. Dia salah satu asset Flamboyant dizamanya, tapi mati muda. Mungkin seperti almarhum Darmawi “Cecep� Mukhtar di era Flamboyant 2009 ini. Saya masih kecil saat Cahaya Maha Cahaya dipentaskan di gedung bioskop Tinambung. Apakah saya nonton waktu itu? Saya lupa. Juga, saat orang-orang Flamboyant mengadakan seminar nasional tentang HAM di Gedung MITA. Untuk pertama dan terakhir kalinya saya jabat tangan dengan Husni Djamaluddin dan Baharuddin Lopa. Ya, hanya di momen itu saya menyentuh dua tokoh besar Mandar. Tahun 1997, saya merantau ke Yogyakarta untuk kuliah. Lebih 1000km dari Mandar, tapi di kota inilah saya mengenal Flamboyant lebih dalam dan secara tidak langsung menjadi bagian didalamnya. Mungkin beda dengan teman-teman lain sebab saya tidak pernah ikut latihan-latihan seni yang diadakan Flamboyant. Atau lebih tepatnya, mungkin saya simpatisan saja kalau memang batasan untuk menjadi anggota TF (singkatan Teater Flamboyant) adalah pernah pentas bersamanya. Awal-awal saya di Yogya, saya tinggal di rumah Alisjahbana (almarhum). Ternyata beliau pendiri TF. Nah, darinya saya mendapat cerita banyak tentang proses pembentukan TF ini dan dilibatkan langsung dalam kegiatan TF, bila TF datang ke Yogya. 150

Bila rombongan TF datang keYogya, hampir selalu tinggal di asrama yang saya tempati, Wisma Merapi Empat (salah satu asrama milik Provinsi Sulawesi Selatan). Termasuk bila kelompok rebana yang dipimpin Cammana, juga tinggal di asrama tersebut. Selain bantu urusan akomodasi, sesekali saya bantu dokumentasi kegiatankegiatan TF, baik sewaktu pentas maupun aktivitas mereka sewaktu di asrama atau jalan-jalan. Kayaknya saya cocoknya didokumentasi saja, sebab saya tak punya keterampilan seni apa-apa, seperti bisa memainkan gitar, gendang, dan lain-lain. Ya, saya tak tahu. Apalagi akting. Belakangan, kalau kebetulan saya tahu ada aktivitas TF, diajak-tidak diajak saya bantu dokumentasinya. *** Beberapa hari lalu, 3 Oktober 2009, TF mengadakan halal bi halal. Juga semacam reuni. Kalau tidak salah dengar, menurut ketua panitia, itu merupakan acara halal bi halal pertamanya TF. Disebut reuni, sebab acara itu menghadirkan hampir semua anggota dan simpatisan TF yang berada di Polman dan Majene. Menarik juga, yang selama ini, oleh masyarakat umum mungkin dikira tak pernah berkesenian, ternyata mereka adalah seniman. Meski tidak profesional di situ. Ada pedagang, guru, dan aktivis LSM. Kegiatan yang sangat penting sebab bisa menjadi ajang estafet ntar generasi. Setidaknya sebagai bentuk komunikasi antar generasi TF. Acaranya memperlihatkan TF sebagai organisasi kesenian (kontemporer) tertua yang ada di Mandar. Beda dengan sanggar atau teater-teater lain, yang masih tergolong muda. *** Berikut adalah kilas balik sejarah TF yang saya kutip di dalam Ensiklopedi Sejarah dan Kebudayaan Mandar, karya Suradi Yasil. Teater Flamboyant. Sebuah komunitas seni yang bergerak di bidang seni dan kebudayaan, khususnya teater. Sebagai komunitas, mulai muncul pada tahun 70an di Tinambung atas gagasan Alisjahbana, aktivis kebudayaan Mandar. Berubah menjadi organisasi pada 5 September 1983 untuk kemudian diresmikan pada 15 September 1984. Mempunyai visi mewujudkan komunitas berbasis masyarakat melalui kerja budaya dan kesenian seraya menebar prinsip dasar kemanusiaan sebagai teater rakyat. Kegiatan yang pernah diikuti: pentas Musik Puisi di Polmas (1984), pentas tradisional “Pencari Rezeki” di Polmas (1985), pentas teater “Perahu Nuh” di Polmas (1985), pentas drama “Terjebak” di Polmas (1987), pentas teater “Cahaya Maha Cahaya” di Polmas (1987), tur pentas teater “Lautan Jilbab” di Sulawesi Selatan (1988), 151

Pertunjukan rakyat “Kerikil Tajam” di Makassar (1990), pertunjukan rakyat “Dibalik Batu” di Pinrang (1992), pertunjukan rakyat “Kacamata” di Polmas (1993), pertunjukan teater rakyat “Kauseng” di Makassar (1995), pentas teater “Koa Koayang” di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (1997), pentas Musik Puisi di pengajian Padhang Bulan, Jombang dan Yogyakarta (1999) Pentas teater “Kauseng” di Palu Dance Forum (2000), pentas Musik Puisi Indonesia di Yogyakarta (2003, 2005), pentas “Bom” di Festival Teater Sulawesi Selatan di Soppeng (2003), Pameran Foto dan Lukisan “Katakan Cinta dengan Karya” di Tinambung (2003), pentas teater “KEAK” Kirab Seni Keliling Sulbar dengan tema “Belajar Mengeja Hening” di Polman, Majene, Mamuju (2004), pentas Musik Puisi Malam Renungan dan Tahlil buat Pejuang Kebudayaan Mandar in Memoriam Bung Alisjahbana di Tinambung (2005), pentas Musik Puisi Kolaborasi Emha Ainin Nadjib di Forum Fula Dongga Dua, Palu Sulawesi Tengah (2005), pentas Musik Puisi dan Olah Gerak Teater Kontemporer di Temu Teater Kawasan Timur Indonesia “KATIMURI IV”, Taman Budaya Samarinda, Kalimantan Timur, pentas seni di Pertunjukan Wartawan Muslim Indonesia berkolaborasi dengan Emha Ainun Nadjib, Mamuju (2006), pentas Musik Puisi dan Shalawatan Peresmian Perpustakaan Daerah Kabupaten Majene, Majene (2006); pentas Musik Puisi dan Shalawatan Malam reuni SMA I Majene di Gedung Assamalewuang, Majene (2006), pentas Musik Puisi Malam Renungan HIV AIDS kerjasama UNICEF dan Mandar Sehat di Lemcadika, Polewali (2006), pentas Shalawatan dan Musik Puisi pada acara Konferensi Wilayah NU Provinsi Sulawesi Barat, Desa Betetangnga (2007), pentas Eksplorasi Musik Tradisi pada Haul dan Dzikir Akbar Annangguru Prof. Dr. Sahabuddin di Pelataran Kampus Unasman, Polewali (2007), pentas Musik Puisi pada acara Peluncuran Buku Siwaliparri dalam Perspektif Pemberdayaan Perempuan di pendopo terbuka Kantor Kecamatan Wonomulyo (2007), pentas Musik Puisi pada Deklarasi Dewan Kebudayaan Mandar Sulawesi Barat di Gentungan, Mamuju (2007). Adapun ketua TF sejak tahun 1983 sampai 2009 ini adalah Amru Sa’dong (PNS), Hamzah Ismail (PNS), Abdul Rahman Karim (wiraswasta), Muhammad Syariat Tadjuddin (PNS), dan, yang baru-baru terpilih 3 Oktober 2009 lalu, Abdul Rahman Baaz. *** Mengamati sekilas perjalanan TF, sepertinya ada perbedaan “output” antara era 80an dengan tahun-tahun belakangan ini. Bila dulunya lebih banyak menggarap/ memproduksi pementasan teater, belakangan bergerak dalam bidang musik dan puisi.

152

Dan perlu dicatat, kegiatan-kegiatan setelah tahun 80-an, hampir semuanya adalah untuk memenuhi undangan. Tidak ada pentas tunggal yang bertujuan memperlihatkan karya yang diinisiatif oleh TF sendiri. Sadar tidak sadar, menurut saya itu berdampak pada proses pembinaan sumberdaya manusia. Dulunya, TF lebih banyak melibatkan pemuda, termasuk yang awalnya preman-preman, ke dalam dinamik TF. Saat ini tidak seberapa, apalagi bila mengkrucutkan pada individu yang konsisten berkesenian bersama TF. Pun, sebagaimana kebanyakan kegiatan TF belakangan ini, lebih banyak invidu yang mempunyai keahlian dalam hal bermusik, beberapa bisa menulis puisi dan membacanya. Yang bisa disebut aktor tidak seberapa. Juga, “aura” TF sebagai organisasi seniman yang matang dan diperhitungkan mulai redup. Sebagai “think tank” yang memikirikan budaya Mandar atau sebagai lembaga yang bisa mengadvokasi masyarakat sudah jarang terjadi. Bila pun ada, itu dilakukan oleh anggota TF yang tua-tua, dari generasi sebelumnya. Oleh generasi sekarang tidak. Yang dikenal oleh masyarakat, khususnya kalangan budayawan dan pejabat, sepertinya hanya Syariat Tadjuddin (yang juga kebetulan Ketua TF sampai 3 Oktober 2009). Dia bisa menulis, menulis puisi, cerpen, dan membacanya. Tanpa mengurangi apresiasi ke teman-teman yang lain, untuk tahap “bisa menjadi corong TF yang diperhitungkan” belum ada. Kembali ke “khittah 1983” Menurut saya, tanpa bermaksud sebagai romantisme saja, TF perlu mengembalikan semangat berkarya sebagaimana awal-awal berdirinya. Meminjam istilah NU, kembali ke khittah. Itu penting. Memang diakui, peran Bang Ali (Alisjahbana) sangat penting dan hampir dominan dalam sejarah TF, sejak berdirinya sampai saat ini. Tapi, meninggalnya beliau tak berarti TF dalam menghasilkan karya hanya menghasilkan karya-karya yang “cepat diproduksi”, misalnya bermusik dan berpuisi saja. Ya, memang pementasan kedua hal itu juga berbasis pada konsep teater. Tapi bagi saya, itu tak maksimal dan hanya bisa diikuti oleh individu yang punya kemampuan bermain musik. Peran Halim HD Sebagai pionir organisasi berkesenian yang memiliki jejaring dengan seniman nasional, TF tak bisa dilepaskan dari peran Halim HD, yang setiap tulisannya “titel”

153

pada dirinya tertulis “networker kebudayaan�. Ya, memang begitu peran Halim HD, sejak saya mengenalnya satu dekade lalu di Yogya. Sejauh yang saya tahu, Halim HD merekomendasikan, mengundang dan menfasilitasi TF pada beberapa even nasional, antara lain PID-Forum (Palu-Indonesia Dance Forum) pada April 2001; Temu Teater Indonesia pada 1998 di Yogyakarta dan untuk mengunjungi Surabaya, Jombang, dan Solo guna menjalin jaringan di sana; workshop bersama Studi Klub Teater Bandung (STB) pada waktu pementasan Jules Caesar dengan sutradara Suyatna Harun pada tahun 1996; dan undangan TF pada Jarot Budidarsono (aktor-koreografer dari Solo) dan Heri Lentho (koreografer dari Surabaya) pada tahun 1998. Perhatian Halim HD pada dunia perteateran, kesenian dan pelestarian tradisi di Mandar sangat intens. Pada 1999, dia mengorganisi Makassar Arts Forum pada September 1999 yang mana Cammana turut dihadirkan untuk membukanya bersama penari dari Makassar, Mak Coppong. Lalu pada Temu Menteri Pariwisata se-Asean di Jakarta pada November 1999, kembali Cammana direkomendasikan Halim HD untuk turut hadir. Jadi pada dasarnya, kontribusi Halim HD (sebagai orang luar Mandar) terhadap Cammana dalam even-even luar Mandar lebih dulu dibanding Cak Nun (Emha). Sebab, Halim HD lebih dulu mengenal Cammana lewat Amru Sa’dong (Ketua TF) pada tahun 1988. Saat itu Halim HD dibawa ke Limboro untuk pertama kalinya. Halim HD terpukau sebab Cammana memiliki sentuhan musikal dengan vokal yang unik dan otentik. Sejak itu, Halim meminta teman-teman berkesenian di Mandar untuk mempelajari tradisi rebana Cammana dan sekaligus meminta untuk mendatangkan Cammana ke Makassar dalam rangka Makassar Arts Forum. Ini jugalah latar belakang sehingga Cammana diundang pada acara pertemuan Menteri Pariwisata Asean. Kepada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata kala itu, Halim HD selaku Direktur Pelaksana MAF-99 bersama Andi Ilhamsyah Mattalatta mengenalkan Cammana. Menteri tertarik dan menyampaikan ide Cammana diundang ke Jakarta. Saat Cammana ke Jakarta, dia diantar oleh Epo’ (anggota TF). *** Tulisan ini saya buat sebagai masukan ke teman-teman TF, khususnya pengurus baru TF. Saya pribadi sangat mengharapkan TF kembali seperti dulu tapi tetap ada ciri sesuai zamannya. TF sudah ada sejarah pernah menghasilkan karya dalam bidang teater, musik, dan berpuisi. Bila itu digabung untuk menghasilkan banyak karya untuk dipentaskan sendiri (tanpa berdasar pada undangan dari pihak lain), 154

maka efeknya akan lebih besar dalam melahirkan generasi muda Mandar yang diperhitungkan. Setidaknya memperlihatkan TF yang “segar” ke generasi muda Mandar sekarang, di Tinambung. Saya yakin, teman-teman yang mempunyai “bendera” sendiri akan bangga bisa bekerjasama dengan TF. Bagaimana pun, dan ini tak bisa dipungkiri, TF adalah cikalbakal berkesenian modern di Mandar, setidaknya di Tinambung dan sekitarnya. TF pun mempunyai kedewasaan untuk bekerjasama dengan komunitas lain, tanpa merasa diri sebagai paling tua. Kabar Terakhir dari Aktivitas Berkesenian di Balanipa Mandar Beberapa hari setelah Idul Fitri 1430 H, Forum Sipakaraya (semacam forum komunikasi yang mewadahi beberapa komunitas seni-budaya di Tinambung) melaksanakan malam pemberian penghargaan kepada lima seniman tradisi berusia lanjut, yakni Cammana (pemain rebana perempuan, parrabana tobaine), Madan (pemain silat, pa’macca), Marayama (pemain kecapi wanita, pakkacaping tobaine), A’bana Fatima (pemain kecapi, pakkacaping), dan Tombo Padhua (pemain calong yang juga lincah menari denggo’). Sebagai kegiatan yang tidak berdasar pada permukaan semata (lips service), Forum Sipakaraya menindaklanjutinya dengan beberapa kegiatan, baik berdasar pada semangat saling menghargai (sipakaraya) antar generasi, pewarisan dan pencarian ilmu, hingga pada pendataan/pendokumentasian bentuk-bentuk kebudayaan di Mandar. Kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan adalah Sekolah Mandar, di mana beberapa pekerja seni yang memiliki keterampilan-pengetahuan tentang bentukbentuk kebudayaan akan membagi pengetahuannya dengan siswa sekolah atau remaja-remaja yang berminat; pembuatan dokumentasi (biografi tulisan dan audio-visual) pekerja seni dan budayawan Mandar (yang telah dimulai: Cammana, Muis Mandra, Tombo Padhua, Marayama, Syarbin Sjam, dan Madan); mendukung kegiatan yang telah dilaksanakan selama ini (Festival Rebana, Festival Saeyyang Pattuqdu, dan Sandeq Race) dan pementasan (baca teater dan film) beberapa cerita rakyat di Mandar, khususnya yang berdasar pada kisah nyata. Nah, yang terakhir inilah sedang berlangsung prosesnya. Berdasar pada kisah nyata sengaja diambil disebabkan dua alasan: di Mandar ada beberapa cerita menarik yang berdasar pada kejadian yang betul-betul terjadi, dan membiasakan budaya riset dalam menghasilkan suatu karya seni, baik pentas teater, film, maupun tulisan. 155

Setidaknya telah ada empat cerita yang akan dijadikan beberapa komunitas seni di Tinambung sebagai jembatan berkreativitas, yaitu: kisah Ha’dara dan Guru Mattata’, Kauseng, Daeng Rioso dan Topura Para’bue’, dan Sunusi (ksatria Tande, salah satu anggota DI/TII yang lama tempat persembunyiannya tak diketahui pihak keamanan karena ikatan persaudaraan di Tande yang cukup kuat). Proyek Hadara Sebagai langkah awal adalah riset dan pementasan kisah Ha’adara dan Guru Mattata’. Kisah ini sengaja dipilih sebagai proyek pertama sebab kisahnya sangat terkenal, menarik, dan menantang dari segi riset sebab masih ada informan hidup yang berkaitan dengan kisah tersebut. Menantang sebab di masyarakat ada beragam versi tentang kejadian tersebut. Jadi, berdasar pada riset mendalam, diharapkan didapatkan kisah atau cerita yang mendekati kejadian sebenarnya. Beberapa hari terakhir, beberapa pekerja seni yang terlibat proyek Hadara telah memulai pengumpulan data tentang kisah ini, yakni mewawancarai beberapa budayawan (Suradi Yasil, Syarbin Sjam dan Ahmad Asdy), pekerja seni yang mewariskan kisah Hadara dari generasi ke generasi, yaitu Marayama (pakkacaping tobaine). Ya, Marayama dan saudaranya (Satuni) adalah pemain kecaping (sekaligus penyanyinya) yang selalu mendendangkan/menuturkan (bahasa Mandarnya: tolo’) kisah Hadara dan Guru Mattata’ setiap bermain kecaping dari kampung ke kampung. Secara kebetulan, Marayama telah ada ketika kejadian penikaman Hadara oleh Ca’bulung. Tim periset merasakan gairah riset disebabkan setiap melakukan wawancara selalu mendapatkan informasi terbaru yang selama ini tidak terkuak di masyarakat Mandar, misalnya kebiasaan Guru Mattata’, asalnya, Ca’bulung ke mana setelah menikam, situasi kampung di saat kejadian, orang-orang yang terbunuh dalam amuk Guru Mattata’, kapan dan di mana Guru Mattata pertama kali mengajar saat datang ke Mandar, alat yang membunuh Guru Mattata dan siapa yang melaksanakan eksekusi, hari kejadian, apa yang dibawa Hadara saat akan ditikam, pakaian apa yang digunakan, tempat kejadian, perkiraan kuburan, latar belakang atau motivasi sehingga Ca’bulung nekad membunuh kekasihnya, hingga hal-hal sepele lainnya tapi penting mendukung kisah Hadara dan Mattata. Riset menggunakan metode bola salju, yakni, informasi ditelusuri dari satu informan ke informan yang lain. Dengan metode ini, didapat beberapa simpulan dan hal menarik, misalnya diketahui siapa keponakan dan saudara Hadara yang

156

masih hidup saat ini. Juga, diketahui bahwa di Tinambung telah pernah dilakukan pementasan kisah ini sebanyak dua kali. Pertama terajadi pada era di saat batalyon 710 ada di Mandar dan pada tahun 90-an (naskah pementasannya masih ada hingga saat ini). Itu adalah bukti bahwa kisah Hadara cukup terkenal dan menarik. Bedanya apa yang dilakukan saat ini, dalam rangka pementasan dan pembuatan filmnya didasari pada riset mendalam. Adapun yang terlibat dalam riset adalah saya (atas nama Studio Teluk Mandar), Rifai (IndieE Tia Community), Dalip (Assamalewuang), Ical (koordinator Forum Sipakaraya), Ishaq Jenggot (Komunitas Sure’ Bolong), Martas (Sa’be Mandar) dan S. Wildan (Indigo). Nantinya, atas kerjasama komunitas tersebut dan beberapa individu yang terlibat di komunitas lain, pementasan dan pembuatan film tentang kisah Hadara dilaksanakan. Akan dilakukan pembagian kerja berdasar pada spesialisasi masing-masing. Misal, Komunitas Sure Bolong akan menata musik, Indigo sebagai EO, dan Assamalewuang untuk pengerjaan properti dan artistik. Sedang staf ahli yang sangat membantu dalam beragam informasi, semangat, dan nasehat adalah SuradiYasil dan Syarbin Sjam. Secara pribadi, saya senang terlibat melakukan riset bersama beberapa teman. Hampir tiap hari terjadi, kami (rombongan sampai 6-7 orang) mendatangi informan, beberapa diantaranya di pemukiman terpencil, untuk wawancara (direkam dengan kaset video agar kuat dari segi ilmiah). Menurut saya pribadi, ini adalah fenomena baru dalam proses berkreativitas di Tinambung, yakni diawali dengan riset mendalam. Ya, riset adalah hal yang memang seharusnya terjadi dalam berkarya, baik nantinya dalam bentuk fiksi semata maupun non-fiksi. Bukan hanya proses pengumpulan data yang dilakukan, tapi diskusi atas apa yang didapatkan. Proses ini adalah bentuk pematangan, saling memberi argumentasi tentan kesimpulan-kesimpulan pribadi yang berujung pada kesepakatan bersama. Ah, sangat menarik! Kisah Hadara Mengapa cerita ini cukup terkenal? Jawabnya, sebab kisah ini berdasar pada cinta yang berakhir tragis, seperti pada kisah Romeo dan Juliet. Bedanya, kisah Hadara ini berdasar pada kejadian sebenarnya, bukan pada naskah pementasan yang dikarang-karang seorang penulis.

157

Kejadiannya berlangsung di Renggeang dan Palece (masuk wilayah Kec. Limboro, Kab. Polman saat ini), kejadiannya kira-kira terjadi antara tahun 1934 1936. Ceritanya, seorang pemuda kampung bernama Ca’bulung menjalin cinta dengan tetangga yang juga kerabatnya bernama Hadara, bunga desa di Palece. Dalam masa jalinan kasih, datanglah seorang guru dari Bugis (ada versi yang menyebutkan dari Makassar) mengajar di Renggeang. Namanya Mattata’. Disebabkan dia selalu bertemu dengan Hadara di sungai (antara Renggeang dengan Palece diantarai aliran Sungai Mandar), ketika Guru Mattata akan pergi mengajar; ketika Hadara di sungai untuk mengambil air, antar mereka pun jatuh hati. Guru Mattata jelas jatuh hati sebab Hadara memang cantik, demikian juga Hadara. Guru Mattata menarik sebab dia seorang guru, penampilannya necis: bersih, rapi, pakai dasi (sesuatu yang jarang di kala itu). Singkat kata, Hadara sepertinya akan berpaling dari Ca’bulung sebab dia hanya seorang petani sedang Mattata seorang guru. Itu wajar. Namun tidak wajar bagi Ca’bulung. Itu siriq baginya. Bukankah Hadara kekasih yang sebentar lagi dipinangnya? Siriq itu memuncak ketika secara tak sengaja dia mendengar percakapan antara Hadara dengan Mattata. Ada ungkapan Hadara, Telapak kaki saya tidak sebanding dengan (wajah) Ca’bulung. Ca’bulung terbakar hatinya mendengar hinaan dari kekasihnya. Maka Ca’bulung pun merencanakan aksi yang bisa melepas siriq-nya, yakni membunuh Hadara (ada versi: termasuk Mattata’). Ca’bulung pun membunuh Hadara di saat dia akan (ke?) sungai untuk mengambil air. Tewasnya Hadara sampai di telinga Guru Mattata’ (di kala dia mengajar?). Singkat cerita, dia pun mengamuk, menikam siapa saja yang dia temukan dalam perjalanannya mencari Caqbulung. Setelah menikam beberapa orang (tanpa berhasil menemukan Caqbulung), akhirnya Mattata tewas oleh penduduk Limboro. Adapun Ca’bulung menyerahkan diri ke aparat keamanan untuk kemudian diasingkan ke luar Sulawesi. Jumat, 23 24 Oktober 2009 telah dilaksanakan pertemuan untuk mengevaluasi hasil riset dan merencanakan langkah ke depan berkaitan dengan proyek Hadara. Sampai akhir Oktober ini akan dilakukan penulisan laporan riset dalam bentuk novel. Secara paralel, akan dibuat skenario yang akan diteaterkan berdasar tolo’ (nyanyian) permainan kecaping oleh Marayama dan Hadara. November - Desember kesting pemain, Januari Februari latihan, Maret peluncuran film dokumenter di balik proyek Hadara (sebagai bagian proyek tahunan pembuatan film oleh IndiE Tia Community), April acara pementasan teaternya dengan Marayama sebagai narator lewat nyanyiannya.

158

Sengaja dibuat lama agar persiapannya matang. Diharapkan, kisah Hadara ini akan menjadi master piece (maha karya) beberapa pekerja seni di Mandar. Nantinya, kisah-kisah seperti Kauseng dan kisah lainnya akan menjadi proyek lanjutan beberapa pekerja seni di Mandar. Tentu itu atas dasar kreativitas dan semangat saling menghargai. Ya, sebab proyek pementasan bisa mewadahi beragam minat pekerja seni di Mandar. Yang ahli menata musik sebagai penata musik, yang ahli manajemen diarahkan ke situ, dan sebagainya. Mengangkat kisah-kisah di atas tidaklah berdasar pada kisah cinta (yang tragis) semata, tapi juga mengandung hikmah, filosofi, dan nilai-nilai sejarah. Misalnya tentang pranata siriq. Apakah membunuh si pemberi siriq wajar di waktu lampau? Bagaimana dengan masa sekarang? Dan yang paling penting adalah nilai historisnya. Setidaknya, dengan tampilan kostum pemain, penonton (khususnya dari generasi muda) bisa mengetahu bahwa Oooh, ternyata begitu ya kostum guru di tahun 30-an. Sekali lagi, apa yang dipilih saat ini adalah media untuk berkreativitas. Harus diakui, Tinambung telah lama vakum dalam menghasilkan karya. Tidak apa-apa melakukan pengulangan asal dengan versi atau penampilan baru. Dan yang lebih penting, proses yang dilakukan dianggap sebagai proses pematangan. Kematangan tidaklah berdasar pada umur atau nama besar semata, tapi sejauh mana proses berkreasi secara kontinyu berlangsung. Diharapkan dari proses itu akan lahir generasi-generasi yang bisa menggerakan roda berkesenian di tanah Mandar dengan metode lebih bijak: berkreasi atas semangat persaudaraan. Tiga Dimensi Cammana: Film Dokumenternya Saat proses pengambilan gambar, lewat pak Khalid, Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) berpesan, bahwa penghargaan dari Presiden RI terhadap Cammana bukanlah klimaks kebesaran seorang Cammana. Pesan yang saya, sebagai sutradara, camkan dalam-dalam. Ya, sebab prestasi kasat mata Cammana adalah itu, di saat Cammana menerima piagam penghargaan dari Jero Wacik (Menteri Kebudayaan dan Pariwisata), mewakili SBY. Sedang menurut Cak Nun, bukan itu. Lalu apa? Cammana bukanlah individu yang hidup dan aktivitasnya diukur dari simbolsimbol “ranking� atau penghargaan piagam dari lembaga dunia. Cammana itu maqam-nya beda dengan manusia pada umumnya (ini istilah Cak Nun). Cammana pecinta rasul. Tiap malam shalat tahajjud. Mendoakan umat manusia.

159

Selalu bershalawat. Singkat kata, Cammana kekasih nabi. Jadi, jangan dibandingbandingkan dengan ukuran duniawi. “Masalahnya”, Cammana dikenal hingga diberi penghargaan disebabkan dari aktivitasnya duniawinya, sebagai pemain rebana. Aktivitas yang dilakoni sejak umur sembilan tahun hingga hari ini (lahir tahun 1944) dan sebab Cammana mewariskan ilmunya, baik ke kerabatnya maupun orang lain. Artinya, mau tak mau, faktor sebagai pemain rebanalah Cammana dikenalkan. Sebagai kekasih nabi, “tak layak” menerima penghargaan selevel Satya Lencana Kebudayaan. Penghargaannya jauh lebih tinggi! Di atas baru dua dimensi Cammana, yang membedakannya dari khalayak biasa. Dimensi ketiga juga unik. Sebagian masyarakat di Mandar yang mengenal Cammana mengenal dan menghormatinya sebagai “orang pintar” alias memiliki ilmu supranatural. Istilah lainnya (mungkin) dukun. Itulah di atas dimensi Cammana. Karena ada banyak, isi film pun tak bisa menfokuskan pada satu dimensi. Misalnya pemain rebana saja. Sebab, dua dimensi lain bersenyawa di dalam diri Cammana. Maka tak aneh bila Cak Nun beranggapan bahwa prestasi terbaik Cammana bukanlah piagam dan medali dari SBY. Memang bisa menonjolkan dimensi sebagai parrabana saja. Tapi, dalam pembuatan film dokumenter atau biografi seorang Cammana, menurut saya, tak bisa hanya mengedepankan hanya sebagai pemain rebana. Harus adil memperlihatkan dimensinya. *** Film yang diproduksi Studio Teluk Mandar bekerjasama dengan Komunitas Seni Tradisi Assamalewuang (komunitas yang rajin mendata dan menjali komunikasi dengan seniman-seniman tradisional dan tua) dan Komunitas Indie Tia (telah memproduksi dua film fiksi, yakni “Badai Puisi di Layonga” dan “45”) berdurasi sekitar 50 menit. Awal film berupa kutipan wawancara beberapa siswa sekolah menengah atas di Tinambung. Pertanyaannya “Apakah kenal dengan Cammana?”, sebagian besar menjawab “Tidak tahu”. Ini untuk memperlihatkan realitas, bahwa bagaimana pun terkenalnya Cammana, banyak (?) generasi muda tak mengenalnya. Ironi. Adegan berikutnya memperlihatkan aktivitas pagi hari Cammana. Mulai dari shalat subuh, mandi, hingga melayani tamu. Lalu wawancara beberapa pihak, mengenai hubungan syair-syair Cammana dengan Imam Lapeo (informan Nurdin

160

Hamma), Cammana di masa kecil (informan adik Cammana), peran Cammana dalam kebudayaan Mandar (informan Suradi Yasil dan Adi Arwan Alimin), keseharian Cammana (informan Dalip Palipoi), perkenalan Cammana dengan Cak Nun (informan Khalid Rasyid dan Amru Sa’dong), permainan dan pementasan Cammana dari kacamata ilmu musik (informan Ishaq Jenggot), perhatian pemerintah terhadap Cammana (informan Rifai Husdar), dan wawancara dengan anak-cucu Cammana serta anggota kelompoknya. Setiap wawancara diikuti dokumentasi yang berkaitan, misalnya kegiatan Cammana di rumah, saat melatih di studio, saat melayani pasien yang meminta didoakan, saat pentas di panggung, dan saat rekaman di Yogya. Bisa dikatakan, sebagian besar isi film adalah wawancara. Memang demikian salah satu ciri film dokumenter. *** Proses pembuatan film dari shooting hingga editing memakan waktu dua pekan, dari Kamis, 16 April hingga 30 April (pemutaran film 1 Mei). Walau demikian, dokumentasi yang ada di dalam film rentang waktunya panjang, yaitu sejak tahun 2006. Juga beberapa aktivitas pementasan Cammana, baik di tahun 2007, 2008, dan 2009. Koq bisa? Sebab dari dulu saya memang mendokumentasikan aktivitas Cammana (dan beberapa seniman tradisional). Jadi, saya tinggal melengkapi. Khususnya kegiatan sehari-hari Cammana. Ini membuat film dokumenter relatif menjadi lebih kaya. Belum lagi, jauh sebelum itu saya sudah mengumpulkan banyak informasi tentang Cammana (riset). Juga tambahan informasi dari Dalip Palipoi, yang sering bermalam di rumah Cammana dan mendampinginya di beberapa kesempatan, misalnya ke Jakarta saat Cammana menerima penghargaan dari presiden SBY. Ide pembuatan film dokumenter beberapa tokoh seni budaya Mandar telah lama ada. Khusus Cammana, proses seriusnya dimulai sewaktu Dalip datang dari Jakarta. Berdasar informasi yang diperolehnya dari Budpar Jakarta, bila ada film dokumenter Cammana untuk kemudian dikirim ke Jakarta, Cammana akan kembali dinilai. Bila lolos tim penjurian, bisa mendapat gelar “maestro” (secara resmi). Maksud saya, selama ini memang Cammana sudah masuk kategori maestro. Tapi bila ada pengakuan secara resmi dari lembaga resmi, maka status maestronya akan dikenal/diakui secara nasional. Juga, akan ada “uang pembinaan” dari pemerintah setiap bulan kepada sang maestro. Kebetulan saya punya banyak stok film dan foto dokumentasi Cammana, Dalip

161

meminta saya untuk menyelesaikan film Cammana. Bersama saya, Dalip dan Rifai Husdar, pembuatan film pun dimulai. Tak ada kesulitan berarti sebab bahan riset sudah ada. Jadi tinggal rekam saja keseharian Cammana. Selama dua pekan, lebih banyak diisi dengan hunting informan untuk diwawancarai. Sebagian besar ada di Mandar. Paling jauh informanya Suradi Yasil. Saya sengaja ke Makassar sehari agar bisa mewawancarainy. Adi Arwan tinggal di Mamuju, tapi bertemu di Sendana (saat melayat wafatnya Muis Mandra) jadi bisa wawancara di sana. Nah, yang makan waktu lama dan membutuhkan konsentrasi tinggi ialah tahap penyuntingan. Bisa dibayangkan, durasi sekitar 12 jam (hasil mentah) harus dimampatkan menjadi 40-50 menit (durasi film). Artinya, ada 11 jam hasil rekaman yang tidak dimasukkan ke film. Atau dengan kata lain, dari 12 jam itu harus dipilih yang terbaik, yang kirakira bisa menjadi jalinan yang memperlihatkan sosok Cammana. Memang sih informasi akan banyak yang hilang, tapi itu harus dilakukan. Sebab tidak mungkin juga memperlihatkan film dokumenter berdurasi 12 jam ke masyarakat. Pasti jenuh. Itulah tantangan membuat film, termasuk film dokumenter. Pada berisi. Ratarata film (bioskop) berdurasi 100 menit. Jarang sampai 150 menit. Film dokumenter jauh lebih pendek, sekitar 10 – 50 menit. Malah ada yang beberapa detik saja. Beberapa kompetisi film dokumenter mensyaratkan 10 – 20 menit. Melihat hasil awal, masih banyak kekurangan. Ini mendorong saya dan temanteman untuk memperbaiki karya di masa mendatang. Untung kami sangat terbuka atas masukan, baik dukungan maupun kritikan. Inilah yang mendorong untuk melaksanakan peluncuran film (dilaksanakan 1 Mei 2010) yang dilanjutkan dengan diskusi film. Dari Tradisi Perfilman Hingga Diskusi Film Tiga tahun terakhir, telah diproduksi beberapa film oleh putra-putra Mandar. Setidaknya ada empat film yang saya tahu. Film dibuat dengan peralatan bersahaja, dana pas-pasan (alias urunan si pembuatan film), tapi dengan percaya diri “dilayarlebarkan� (baca: pakai proyektor dan mengundang banyak orang) saat peluncurannya untuk kemudian didiskusikan. Terlepas kualitas filmnya bagus atau tidak, apa yang telah dilakukan generasi muda Mandar menunjukan salah satu dinamika berkebudayaan dewasa ini. Gerakan kebudayaan mengalami perkembangan, khususnya penggunaan media. Bukan hanya tulisan, foto tapi juga audio visual. 162

Apa yang dihasilkan tidak dipandang sebelah mata. Setidaknya oleh kalangan perfilman di Makassar. Film Badai Puisi di Layonga, 45!!! (keduanya produksi Komunitas Indie Tia), dan Memimpi Harmoni (Pensil 2B) sempat menjadi bahan diskusi. Film tersebut diputar di Fajar TV dan didiskusikan di perguruan tinggi. Tiga film di atas merupakan film fiksi, sedang yang baru-baru ini diluncurkan “Cammana” masuk genre film dokumenter. Ciri film “kelas kampung dan amatiran” masih ada: dana sendiri, tak bertujuan mencari keuntungan, rekam suara di kamar atau ruang tamu (sehingga suara kendaraan banyak masuk alias bocor dalam istilah film) dan berbagai ciri kesederhanaan lainnya. Tapi, sekali lagi, kualitas film yang dihasilkan tak memalukan dan layak didiskusikan. Ya, mendiskusikan suatu karya adalah hal wajib di mata pembuat film, khu­ susnya teman-teman di Tinambung. Untungnya lagi, ada banyak aktivitas kebu­ dayaan atau berkesenian yang bisa memberi banyak masukan. Masukan yang sangat berarti, sebagaiman diskusi film di peluncuran film dokumenter Cammana. Sebab diskusilah yang bisa memberi banyak masukan, yang sedikit banyak membedakan antara film dari luar (yang diputar di stasiun tv atau VCD) dengan film-film karya anak Mandar sendiri. Belum ada sejarah diskusi film buatan Jakarta, Holywood, dan Bollywood di Mandar. Yang ada dan sering didiskusikan adalah karya anak Mandar sendiri. Ya, jelas untuk “sharing” pengalaman membuat film dan mendapat masukan. “Cammana” oleh saya dan teman-teman yang biasa aktif dalam pembuatan film diharapkan menjadi proyek pertama dalam proyek jangka panjang pembuatan film dokumenter tokoh-tokoh di Mandar. Ada banyak tokoh yang perjalanan hidupnya layak dijadikan sumber inspirasi, catatan sejarah, dan menjadi dari kebudayaan Mandar. Misalnya Husnid Djamaluddin, Baharuddin Lopa, Muis Mandra, Suradi Yasil, Darmawan Masud, dan beberapa seniman tradisional seperti Marayama, Madang, Tombo, dan A’bana Patima. Setelah acara peluncuran film di Gedung MITA, Sabtu 1 Mei 2010, diadakan diskusi hangat. Walau ditemani matilampu, diskusi berjalan di temaran lilin sampai lewat tengah malam. Kepada tim pembuat film mendapat masukan, kritikan dan pertanyaan. Setidaknya ada selusin yang memberikan pertanyaan atas film. Bapak Amru Sa’dong, anggota Teater Flamboyan yang juga guru SD, memberi tanggapan, bahwa “film memunculkan Cammana sebagai seorang maestro, kebesarannya tak muncul, dan ‘protes’ atas lebih banyaknya musik Kyai Kanjeng digunakan (mengapa bukan musik karya anak Mandar?)”; dari Tammalele (budayawan) 163

“kenapa informan yang diwawancarai tidak sekalian menggunakan bahasa Mandar, film merupakan dokumen sejarah”, dari Udin (pengusaha) “apakah ada rencana setiap maestro Mandar akan didokumentasikan?”, Zauki Husain (aktivitas kebudayaan) “nanti film mau diapakan? Perlu ada narasi, belum bisa memperkenalkan Cammana seutuhnya, kurang fokus”, dari Mubarak (PNS) “salut, lompatan karya berpikir, harus ada penampilan Cammana yang menyanyikan satu lagu secara utuh”. Di sesi berikutnya, dari Hardi (pembuat video klip) “apa yang dilakukan oleh Cammana harus ditransformasi oleh generasi muda ke dalam diri, perlu diperkaya sudut pengambilan gambar”, dari Ishaq Jenggot (guru kesenian di SMA 2 Majene, ahli musik) “ilustrasi musik ada yang mengganggu, penampilan atau cuplikan beberapa seniman tradisi di akhir film seperti amunisi bahwa Mandar masih banyak stok maestro, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris”, Zul (Pensil 2B, pembuat film) “materi film perlu ada ‘point of view’”, alur tidak teratur, perlu ada narasi”, Parewalino (budayawan, mantan caleg) “sejauh mana pengarah Cammana terhadap masyarakat”, dari Attali’ (mahasiswa) “film adalah fakta sosial, perlu ada klimaks”. Masukan di atas amat penting dan saya apresiasi. Setelah acara peluncuran film yang juga merupakan “tes publik”, film saya perbaiki. Misalnya mengganti ilustrasi musik dan di beberapa adegan saya isi narasi berupa teks (untuk menggantikan ketiadaan narator). Memang tidak bisa semua masukkan saya terapkan, sebab beberapa diantaranya merupakan perbedaan cara pandang dan menangkap isi film. Termasuk estetika di film. Faktor lain, keberadaan kita (saya dan peserta diskusi) yang sangat mengenal Cammana. Dalam arti, tentu ada perbedaan cara pandang antara “kita” dengan orang yang sama sekali tak mengenal Cammana. Ini juga mempengaruhi saya dalam pembuatan film. Tapi bila membadingkan dengan film-film dokumenter biografi lain, tentang “Cammana” bisalah disandingkan. *** Apa yang membedakan Cammana dengan mestro nasional? Perbedaannya, saat ini belum ada dokumentasi ilmiah atau kuat yang membuktikan bahwa “syair dan irama ini” adalah karya cipta Cammana sendiri. Ya, memang Cammana seorang pemusik (memainkan instrumen dan menyanyikannya) tapi Cammana tak ada album, tak ada catatan syairnya. Sehingga tak ada perbandingan atau dasar untuk menilai karyanya. Berbeda dengan maestro yang kita kenal pada umumnya, misal Affandi (lukisannya puluhan), WS Rendra (puisi dan naskah teater serta dokumentasi atas

164

penyutradaraannya cukup banyak), Teguh Karya (sutradara), Benyamin S (aktor), dan lain-lain. Sebenarnya, (untuk mencatat karya) bukan tugas Cammana. Beliau seorang seniman yang lahir dari alam. Berkarya pun mengalir saja. Maka, tak ada catatan darinya tentang syair yang ia ciptakan dan tak ada rekaman instrumen rebana yang beliau hasilkan. Itu adalah tugas kita, yang muda-muda. Sudah saatnya kita merekam (audio) setiap Cammana menyanyi dan mencatat syairnya. Kita harus mengikuti beberapa “pementasan” Cammana (di rumah-rumah) dan merekamnya. Sebab dari proses itu kita bisa mendokumentasikan karyanya. Untuk bertanya langsung dirumahnya sepertinya tak bisa. Cammana bukan seniman biasa. Beliau perlu pengkondisian. Sepertinya beliau tak hapal lagu bila tak pegang rebana atau tak menyanyikannya. Menyanyi pun tak bisa tiba-tiba. Harus ada “mood” dalam diri. Dan konon kabarnya, jika tak ijin ke Cammana untuk merekam suaranya saat bermain rebana, maka hasil rekaman tak akan ada. *** Direncakan, pada 8 Mei 2010 pukul 20.00 wita, kembali akan diadakan pemutaran kedua film dokumenter “Cammana” ke umum untuk kemudian mendiskusikannya. Akan diadakan di halaman Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Polewali Mandar, yang juga sponsor pemutaran film di Polewali. Kami, Studio Teluk Mandar, Komunitas Seni Tradisi Assamalewuang, dan Komunitas IndiE Tia patut bersyukur dan berterima kasih. Ya, sebab karya yang dihasilkan mendapat apresiasi luas. Sebagaimana peluncuran dan diskusi di Tinambung, atas dukungan penuh (disponsori) oleh DKM-SB (Dewan Kebudayaan Mandar Sulawesi Barat). Dua lembaga di atas mendukung penuh dan memperlihatkan perhatian kongkrit atas kegiatan pembuatan film oleh generasi muda Mandar. Demikian juga harian Polewali Pos, yang memberikan ruang untuk memuat publikasi dan tulisan-tulisan atas film dokumenter yang dihasilkan. Bagi saya dan teman-teman, apapun dukungan amatlah penting. Apalagi kalau itu signifikan adanya. Jadi, sekali lagi terima kasih. Terakhir, semoga film dokumente “Cammana” menjadi sumber inspirasi, baik dari kehidupan Cammana (yang ada di film) maupun film itu sendiri. Yakni, bisa mendorong teman-teman untuk merekam jejak kehidupan orang-orang hebat dan besar di sekitar kita. Tidak harus terkenal yang dijadikan obyek, tapi sejauh mana peran yang didokumentasikan itu bisa memberi inspirasi positif bagi generasi muda. Tentunya juga ada nilai sejarah.

165

“Anak Nakal” Memimpikan Harmoni Beberapa tahun terakhir, di Mandar, khususnya di Kecamatan Tinambung dan Kecamatan Balanipa, aktif membuat film. Baik film dokumenter maupun fiksi. Salah satu yang patut diperhitungkan adalah karya Pencil 2B, “Memimpi Harmoni”. Film ini diproduksi atas kerjasama Pencil 2B dengan Teater Flamboyant Mandar, pada tahun 2009. Komunitas Pencil 2B awalnya adalah salah satu kelompok angkatan alumni SMAN 1 Tinambung. Motor komunitas ini adalah Dahri Dahlan (sekarang dosen muda di Universitas Negeri Makassar) dan sahabatnya, Zulkifli Siddiq (tahap pe­ nyelesaian di salah satu perguruan tinggi swasta di Makassar). Deskripsi film Film yang berdurasi sekitar 20 menit ini diawali kutipan salah satu kutipan terkenal dari penyair Timur Tengah, Khalil Gibran, “Anakmu bukanlah anakmu, mereka putra-putri sang hidup yang rindu pada diri sendiri. Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu, sebab pada mereka da alam tersendiri.” Lewat kutipan tersebut, secara langsung kepada penonton dikemukakan bahwa film ini bertema anak. Film “Memimpi Harmoni” tidak secara jelas menyebutkan lokasinya, baik itu sebagai rekaan semata maupun lokasi sebenarnya. Jadi, bagi penonton awam, tidak akan mengetahui “setting” lokasinya. Setelah kutipan Gibran di atas, film memperlihatkan suasana kampun (lokasi: salah satu sudut Dusun Parappe, Desa Pambusuang, Kec. Balanipa, Kab. Polman). Lalu berada di dalam rumah. Secara ‘close up’, diperlihatkan jam. Menjelang jam 12 siang. Ada anak sedang meringis di depan cermin. Mengenakan kaos souvenir bila berkunjung ke Sea World, Jakarta. Dia mengamati dirinya. Terdengar panggilan seorang wanita (ibunya), “Firman”. Dijawabnya “Aish”. Dipanggil lagi, dijawab lagi demikian. Ternyata ada tamu, yakni teman-teman Firman. Dari ‘seragam’ yang dikenakan, mereka ingin mengajak Firman ikut bermain. Tapi Firman menolak sebab dilarang ibunya. Firman pun mulai bercerita (menarasikan dirinya). Dia sangat ingin bermain. Membenci pelajaran matematika. Lebih suka bermain. Dia berusaha mengerjakan pekerjaan rumahnya, tapi temannya (bernama Aco) datang lagi mengajak. Saat itu ibunya sedang tidur siang. Kesempatan untuk pergi bermain. Menurut Aco, “Pasukan sudah menunggu” (maksudnya teman-

166

teman Firman yang lain”. Singkat cerita, jarum jam menunjuk jam 5 sore. Di rumah, telah menunggu sang ibu yang siap menghukum Firman dengan sapu. Dalam narasi, Firman menceritakan bahwa dia dipukul terus sampai kamar mandi. Karena kecapean, Firman tertidur nyenyak. Adegan memperlihatkan visual mainan Firman. Sepertinya dia anak yang dimanjakan. Ada banyak poster dan stiker Naruto, miniatur motor gede (Harley Davidson), senjata otomatis. Visual itu secara bersamaan diperdengarkan berita di televisi, wawancara Adnan Buyung Nasution tentang keterlibatannya dalam penegakan hukum. Entah apa hubungan visual dan narasi tersebut. Keesokan harinya, Firman terlambat ke sekolah sebab capek bermain. Dalam perjalanan, Firman menimang-nimang pensil 2B (kenapa tidak dimasukkan saja ke dalam tas?). Dalam perjalanan, kembali ada adegan Firman berjalan sambil ‘menyapukan’ tangannya ke pagar. Adegan yang mirip juga terjadi sebelumnya, ‘kemarin’, saat Firman dan temannya pergi bermain. Adegan di sekolah. Visual papan nama guru di depan pintu. Nama guru yang dicantumkan adalah nama asli. Guru kelas II di salah satu sekolah di Desa Bala. Kemudian Firman terlihat memasuki gerbang. Lewat narasi, Firman men­ ceritakan kegelisahannya. Pertama karena terlambat, kedua karena dia tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya. Sebab khawati dimarahi oleh guru dan diejek temannya, Firman memutuskan tidak masuk kelas. Niatnya mengerjakan PR-nya di belakang sekolah. Masalahnya, dia lupa soalnya (kenapa bisa lupa, apakah tidak ditulis?). Sebab putus asa, dia memutuskan untuk bolos. Pergi ke tempat lain. Katanya, “Selamat tinggal PR matematika. Lebih baik pulang”. Sebab bolos, dia tidak pulang ke rumah. Pasti dihukum lagi oleh ibunya ungkap Firman. Firman pun tampak berjalan di jalan sepi (sepertinya jalan ke arah Desa Lambanang). Di pagar jembatan, dia berhenti merenungi nasibnya. Berjalan lagi untuk kemudian termenung. Lokasi adegan berganti, sekarang dia berada di pantai yang surut airnya. Dia, dengan tetap mempermainkan pensil 2B-nya, dia memandangi horizon, mengamati burung. Lalu jongkok, mengeluarkan buku tulis. Sepertinya dia akan menuliskan sesuatu. Lama dia berada di pantai, sampai air pasang.

167

Adegan kemudian memperlihatkan nelayan bercanda bersama anaknya. Kejadian itu terjadi di depan Firman. Sepertinya dia membayangkan dirinya seperti itu. Bermain ceria. Mungkin juga Firman mendambakan sosok seorang ayah (dalam film tidak ada simbol atau keterangan bahwa ayah Firman masih hidup atau tidak; bercerai atau tidak dengan ibunya). Firman terntunduk, sambil memegang-megang terus pensilnya. Terdengar perlahan lagu “Harmoni” karya grup musik nasional, Padi. Kemudian visual sepatu, tas, buku sekolah milik Firman. Firman sendiri tidak terlihat lagi. Hanya suaranya, berkata “Mama’ mauka’ pulang”. Kemudian terlihat hasil perenungan Firman di pantai. Ternyata dia menggambar ibu dan ibu gurunya yang “jelek”. Terbuka juga lembaran lain, memperlihatkan hasil pelajaran Matematika Firman. Film ditutup dengan visual teks, “Anak seharusnya tumbuh dan berkembang sesuai minat, bakat, dan kemampuannya. Orang tua seharusnya hadir hanya dengan cinta. Hanya cinta…” *** Film “Memimpi Harmoni” dibintangi oleh Firmansyah Assegaf, Juhaeria, Zaenal Abidin Bafaqi, Nurul Haq, Rosmiati Kasini, Ahmad Gafur, Shadiq Muhammad. Skenario dan sutradara oleh Dahri Dahlan, kameraman dan editor Zulkifli Siddiq. Kegiatan pembuatan film dibantu oleh Adi Suharman, Abi Qiffary, Urwa, Salahuddin, dan lain-lain. *** Apa yang dihasilkan oleh Pencil 2B tidak bisa dipandang sebelah mata. Memimpi Harmoni sempat menjadi bahan diskusi, baik di Tinambung maupun di Makassar. Film tersebut diputar di Fajar TV dan didiskusikan di perguruan tinggi. Dari segi artistik, misalnya keindahan gambar, telah dihasilkan film ini. Salah satunya ketika Firman dan Aco ‘melarikan diri’ dari rumah Firman, menuju tempat bermain. Suara juga sudah jelas. Skenario juga sudah menjadi patokan dasar dalam pengambilan gambar. Tinggal yang perlu dibenahi adalah pengurangan adegan-adegan yang mirip, misalnya Firman yang ‘menyapu’ pagar (2x), jam yang di ‘close up’ (2x), dan ada beberapa jeda yang memperlihatkan pemain terasa menunggu aba-aba “cut”. Tapi ini wajar, sebab pemainnya adalah anak-anak, yang mungkin tidak dibekali cara akting dalam waktu lama.

168

Narasi di telinga orang Mandar terdengar lucu, sebab dicampur-campur antara bahasa Indonesia dengan bahasa Mandar. Di sisi lain, ini juga menjadi kekurangan bila yang menonton adalah orang non-Mandar, sebab tak tahu artinya. Ciri film “kelas kampung dan amatiran” masih ada, sebagaimana film-film lain yang diproduksi di Mandar: dana sendiri, tak bertujuan mencari keuntungan, rekam suara di kamar atau ruang tamu (sehingga suara kendaraan banyak masuk alias bocor dalam istilah film) dan berbagai ciri kebersahajaan lainnya. Tapi, sekali lagi, kualitas film yang dihasilkan tak memalukan dan layak sebagai referensi dalam pembuatan film-film lokal Mandar di masa mendatang. Nonton TV Kabel yang Benar-benar Pakai Kabel Saya kaget ketika menyaksikan film Spiderman 3 sudah diputar di layar tv. Biasanya, stasiun tv komersial baru menyiarkan film-film bagus ketika film itu sudah mulai dilupakan orang. Hak siar film baru biasanya tidak diperjualbelikan ke stasiun tv komersil, karena akan mengganggu pemasaran lewat VCD atau layar bioskop. Tapi film Spiderman 3 di layar tv di Tinambung? Sesaat saya kecele. Ternyata yang memutar film itu adalah usaha “tv kabel”, yang menggunakan VCD bajakan. Pantas agak kabur. Tapi tak apa, tetap bisa menikmati kehebatan Spiderman bergelayut di belantara hutan beton. Yang dimaksud tv kabel di sini adalah yang benar-benar menggunakan media kabel sebagai alat utama pendistribusian siaran. Beda dengan tv kabel di kota-kota yang menggunakan antena khusus untuk menerima siaran. Selasa, 5 Juni 2007, saya mewawancarai M. Sidik, pionir tv kabel di Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Dia memulai usahanya sekitar 7 tahun lalu. Awalnya sih coba-coba. Saat itu, Pak Sidik memperbaiki receiver parabola milik tetangganya. Dia mengutak-atik hingga bisa menerima beberapa siaran dan bisa “menularkan” ke tivi lain milik tetangganya. Maka berkembanglah informasi dari mulut ke mulut. Singkat kata, banyak orang yang kemudian menjulurkan kabel ke rumah Pak Sidik agar bisa menangkap siaran tivi swasta. Pelanggan memang bisa menyaksikan lebih banyak siaran, tapi kalau Pak Sidik ganti kanal, maka kanal tivi tetangga pun ikut terganti. Teknologi makin berkembang seiring bertambahnya stasiun tivi. Karena Pak Sidik sudah melihat potensi, maka dia pun memperbaharui peralatannya, menggunakan sistem digital. Pun dia menambah

169

antena penerima dan receiver. Siaran makin banyak dan bukan hanya siaran dalam negeri. Yang mulanya hanya RCTI, Indosiar, dan TPI, sekarang 20 kanal! Kanal yang bisa ditangkap hampir semua rumah tangga yang mempunyai tv di Tinambung adalah (diurut berdasarkan nomor kanal di tv): SCTV, RCTI, Indosiar, TPI, antv, Lativi, Global TV, Trans 7, Trans TV, stasiun dari Arab Saudi, Metro TV, HBO (Indovision), Star Movie, Star Sports, ESPN, Tve (siaran pendidikan, Indonesia), Zmusic (dari India), TVRI, Viva Prime (Filipina), dan JTv (stasiun tv dari Surabaya). Bila membandingkan dengan masyarakat kota, bisa dikatakan sumber informasi dan hiburan orang-orang di kampung (yang menjalin kabel ke rumah pelanggan tivi kabel) lebih banyak. Ya, HBO dan Star Movie 24 jam menyajikan filmfilm Hollywood, Zmusic penuh dengan lagu-lagu India yang tak kampungan lagi. Belum lagi siaran-siaran oleh raga di Star Sports dan ESPN. Dan bagi yang gemar sabung ayam, pada malam-malam tertentu Viva Prime menyiarkan acara sabung ayam yang amat sadis. Puluhan ayam disabung berturutturut sampai salah satunya mati! Selain berfungsi sebagai media penyebar, usaha milik Pak Sidik yang bernama Duta Vision, juga berfungsi sebagai semi-stasiun tivi. Salah satu dari 20 kanalnya bisa digunakan sebagai alat untuk menyiarkan, misalnya, ada keluarga yang hasil shooting dokumentasi pernikahannya disaksikan publik, dia bisa meminta bantuan Pak Sidik untuk menyiarkan. Tak perlu bayar mahal, cukuplah pembeli rokok. Dan untuk hasil dokumentasi yang isinya kegiatan umum/masyarakat atau bukan pribadi, bisa gratis. Saat saya menayankan ke Pak Sidik apakah saya bisa memutar film-film dokumenter tentang budaya, dia sangat menerima. Singkat kata, potensi yang dimiliki oleh tv kabel kelas kampung cukup besar. Bagi rumah yang baru akan memulai berlangganan, harus bayar Rp 250.000. Berikutnya hanya bayar Rp 15.000/bulan. Amat murah bila dibanding sebagai berlangganan resmi yang untuk Indovision saja harus membayar Rp 300.000/bulan. Jaringan kabel tidak semuanya langsung ke rumah Pak Sidik melainkan melalui beberapa rumah. Misalnya rumah si A berhubungan langsung dengan rumah Pak Sidik, rumah si B yang jauh dari rumah Pak Sidik tak perlu memasang kabel langsung ke rumah Pak Sidik, bisa berhubungan dengan rumah si A. Demikian seterusnya sehingga jaringan kabel tak berseliweran ke sana-ke mari. Menurut Pak Sidik, dia sudah memiliki pelanggan sekitar 1.000 rumah untuk Kelurahan Tinambung dan sekitarnya. Kalau dihitung-hitung, setiap bulan Pak Sidik

170

menghasilkan uang Rp 15 juta. Pengeluaran rutin tiap bulan adalah pembayaran ke stasiun tv (dengan cara membeli voucher di Makassar), listrik, dan sewa tiang listrik ke PLN. Pak Sidik membayar Rp 4.400/bulan untuk tiap tiang listrik yang digunakannya. Apakah usaha ini legal? Pak Sidik menganggapnya demikian. “Kalau tidak ada usaha seperti ini, bisa dikatakan tak ada yang berlangganan tv kabel,” katanya. Meski Pak Sidik tinggal di Tinambung, berjarak 290 km dari Makassar ke arah utara, keahliannya sebagai teknisi tv kabel sudah sampai ke Sorong, Papua. Sewaktu saya wawancarai, dia baru dua hari di Tinambung setelah satu bulan penuh memasang jaringan tv kabel di salah satu daerah di Sorong. Timika dan beberapa tempat di Papua sudah menunggu jasanya. Sama seperti pengaruh teknologi lainnya, fenomena tv kabel juga membawa dampak ke banyak orang. Apakah itu positif atau negatif, tergantung para pemirsa. Adegan seks dalam berbagai film yang disiarkan Viva Prime, HBO, dan Star Movie, tidak sampai kelewatan sebagaimana stasiun tv dari Prancis (istilah “prancis” menjadi kata yang identik dengan adegan seks). Kebetulan jaringan tv kabel Pak Sidik tidak menyajikan “prancis”. Adapun sisi positifnya, bisa menyaksikan siaran Metro TV yang lebih jernih, siaran olahraga yang berkualitas di ESPN, acara pendidikan di TvE, dan menyaksikan shalat jamaah di Mekkah secara langsung. Passoting Kampung, Makin Besar Kamera Makin Oke Teknologi digital telah menyerbu kampung. Bila dahulu dokumentasi dengan kamera video di sebuah acara keluarga di kampung merupakan kemewahan tiada terkira, kini hampir semua warga di kampung bisa melakukannya. Bila dulu warga kampung puas dengan koleksi album pernikahan, kini mereka pun bisa mengoleksi video pernikahan dan acara lainnya. Jasa passoting tersedia dengan harga yang terjangkau. Sekarang, sepertinya hampir tak ada persta pernikahan di Tinambung dan sekitarnya yang tidak menghadirkan passoting, sosok yang mudah dikenali dari kamera video yang digenggam atau dipanggul di pundaknya, yang hilir muduk mengabadikan jalannya acara. Di sela-sela pendokumentasian audio-visual beberapa bentuk kebudayaan Mandar, saya meluangkan waktu mengamati maraknya usaha dokumentasi video di kampung saya. Acara keluarga seperti pernikahan atau sunatan hingga acara instansi pemerintah menjadi langganan para penyedia jasa syuting ini.

171

Berdasarkan hasil obrolan dengan para penyedia jasa syuting di Mandar, umum­ nya mereka memasang tarif Rp 300.000 Ăą Rp 500.000 untuk mendokumentasikan pernikahan atau kegiatan lainnya. Besarnya biaya ditetapkan berdasarkan pada beberapa faktor, yakni jarak rumah sang juru kamera ke lokasi; jumlah kepingan VCD yang diinginkan pemesan; dan juga ukuran kamera yang digunakan. Selain itu ada juga faktor X, apakah si pemesan tergolong kenalan atau kerabat. Artinya, kalau ada hubungan emosional, bisa lebih murah alias diberlakukan “harga temanâ€?. Harga teman ini artinya, yang penting si pengguna jasa menyediakan biaya pembelian kaset, CD, dan biaya transfer materi video bila si kameraman tak punya perangkat untuk transfer dan editing film. Tapi tak jarang juga ada yang rela melakukannya dengan gratis untuk keluarga dekat atau teman baik. Bila lokasi syuting bisa dijangkau dengan mudah, dalam artian bukan daerah pedalaman dan tersedia cukup listrik, maka ditetapkan harga standar jasa syuting untuk satu keping VCD sebesar Rp 350.000. Dari tarif ini seorang tukang syuting mengeluarkan Rp 75.000 untuk jasa transfer-penyuntingan, pembelian keping VCD dan cetak label serta sampul VCD; dan juga harus merogoh biaya Rp 30.000 untuk membeli kaset mini-DV. Dari tarif ini, keuntungan yang berkisar Rp 200.000 masuk ke kantong sang tukang syuting. Di kampung saya, Tinambung dan sekitarnya, terdapat sekitar 10 orang yang menyediakan jasa panggilan syuting. Tapi tidak semua tukang syuting ini memiliki kamera. Nah, bagi yang tak punya kamera ini, mereka bekerja sama dengan rumah produksi yang juga meyediakan jasa transfer dan penyuntingan film. Jenis kamera yang digunakan berkualitas sedang dengan harga di bawah Rp 10 juta, semisal kamera Panasonic MD-9000 atau MD-10000, Serta beberapa jenis kamera video Sony yang masih menggunakan format kaset Hi-8. Bila pun ada yang menggunakan kamera Sony dengan media rekam mini-DV, jenis kameranya adalah yang berkualitas rendah. Selain kamera video, peralatan yang tambahan yang biasa dibawa adalah lampu, kabel listrik bila lampu kamera tak memiliki baterei atau aki, dan kabel yang dihubungkan ke televisi bila si tuan rumah menginginkan “siaran langsungâ€? pernikahan keluarganya. Siaran langsung ini penting agar tetamu bisa menyaksikan seluruh rangkaian acara, misalnya acara akad nikah di atas rumah panggung tetap disaksikan tetamu yang berada di halaman rumah. Efek meriah dan kamera besar Bila dibandingkan dengan hasil penyuntingan

172

film dokumenter, misalnya, hasil penyuntingan yang dilakukan usaha syuting ini memang dapat dikatakan jauh dari standar. Begitu pula dengan teknik pengambilan gambarnya, tentulah tidak mengacu pada standar yang lazimnya diterapkan pada teknik dokumentasi profesional. Sederhananya, passoting di kampung saya dianggap berhasil bila mengabadikan sebuah rangkaian acara secara lengkap dan kemudian menyuntingnya menjadi sebuah film dokumenter yang membuat si pemesan senang dan bangga. Apakah kualitas gambarnya luar biasa, teknik pengambilan gambarnya tepat, dan penyuntingannya sempurna, itu bukan soal. Ciri khas yang mudah ditemukan dalam karya para passoting ini adalah penggunaan efek yang tergolong menor, misalnya siluet tepuk tangan, kupu-kupu yang terbang, dan semburan kertas (confetti), serta lagu latar yang biasanya diambil dari album VCD lagu-lagu berbahasa daerah. Kesesuaian lagu dengan adegan yang ditampilkan tampaknya tidak menjadi pertimbangan yang serius. Penyuntingan pun tidak terlalu banyak dilakukan untuk, misalnya, menjaga alur cerita dokumentasi. Makanya, salah satu faktor penentu harga jasa syuting ini adalah durasi film atau jumlah keping VCD yang diterima pemesan, bukan kualitas penyuntingan! Biasanya, para penyedia jasa syuting bekerjasama dengan penyedia jasa perlengkapan pernikahan, misalnya jasa penyewaan tenda dan hiasan pesta. Bagi konsumen, layanan yang satu padu ini pun lebih praktis, karena semua keperluan pesta ditawarkan dalam sistem paket. Ada yang lucu terkait salah satu faktor penentu harga dan gengsi, yaitu ukuran kamera yang digunakan. Di Tinambung dan sekitarnya ada anggapan yang salah kaprah di antara konsumen, bahwa lebih besar kameranya, maka lebih tinggi gengsinya. Bagi orang awam yang kurang paham jenis dan spesifikasi kamera, standar itu memang agak rancu. Misalnya tukang syuting yang menggunakan kamera Sony HD-HC3 (handycam kecil berkelas high definition) yang canggih itu, tidak akan mendapat respek yang luar biasa di kampung. Sebaliknya, bila di sebuah acara, passoting datang menenteng kamera besar semisal Panasonic MD-10000 maka ini yang dipandang lebih bergengsi, meski kualitas gambarnya bukanlah high definition. Dalam beberapa kasus, pemahaman keliru para konsumen ini sengaja “dipelihara� oleh para penyedia jasa yang mampu membeli kamera video besar.

173

Multifungsi Di Tinambung dan sekitarnya, passoting juga sering dianggap wartawan televisi. Soalnya, penampilan mereka yang menenteng kamera tidak jauh beda dengan wartawan atau koresponden berita televisi. Malahan kamera milik passoting biasanya lebih canggih daripada milik pekerja pers. Pernah terjadi kasus seorang wartawan televisi yang tidak sempat mendokumentasikan bencana ombak besar yang menghantam kawasan perkampung di Mandar, tanpa segan menggunakan hasil rekaman passoting kampung yang kebetulan tinggal tak jauh dari lokasi bencana. Beberapa passoting di Tinambung bahkan telah mengembangkan kepekaan jurnalistik meski mereka tidak dibekali pelatihan formal. Mereka bisa dengan cepat merekam suatu kejadian, misalnya bencana atau peristiwa mendadak lainnya yang bernilai berita, dibanding dengan wartawan profesional, yang dilakukan di sela-sela kesibukan merekam rangkaian acara perkawinan atau sunatan. Kini, dengan makin akrabnya masyarakat kampung Tinambung dan sekitarnya dengan para passoting, produk dokumentasi yang dipesan pun menjadi beragam. Selain dokumentasi pernikahan, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, sunatan, acara resmi suatu organisasi, kini mereka pun melayani pembuatan video klip. Harga yang dipasang salah satu rumah produksi untuk penyuntingan video klip lagu-lagu berbahasa daerah berkisar Rp2,5 - Rp 4 juta. Bila mengerjakan video klip, rumah produksi hanya sebatas mengerjakan master videonya sedangkan penggandaannya masih dilakukan di Jakarta. Sayangnya, sejauh pengamatan saya, belum ada individu atau rumah produksi yang merambah bidang pembuatan film dan dokumenter. Mereka masih menempatkan diri sebagai “tukang syuting� semata, dan bukannya produser atau filmmaker. Para passoting di kampung tentu tidak pernah mengenyam pengalaman bekerja untuk pembuatan film dokumenter serius atau mengikuti pendidikan broadcasting. Pokoknya, jika bisa mengoperasikan kamera maka sudah resmilah mereka menjadi juru kamera; jika bisa mengoperasikan software penyuntingan, misalnya Ulead VideoStudio versi 8 atau 9, maka sudah bisa mereka menyandang predikat penyunting; dan bila punya perangkat komputer dan kamera video, maka sudah bisa membuat rumah produksi. Gampang bukan? Namun yang pasti, meski hanya mengandalkan kemampuan mengoperasikan kamera video, para tukang syuting di kampung-kampung amat besar jasanya.

174

Mereka sudah hafal luar kepala beberapa bentuk kegiatan budaya setempat, misalnya rangkaian pernikahan dan pesta adat, sehingga para passoting ini bisa dijadikan narasumber yang bisa diandalkan. Beberapa di antara mereka telah mendokumentasikan sejumlah tradisi adat yang pelaksanaannya jarang dilakukan, misalnya pelantikan perangkat adat. Terlepas dari berbagai kekurangan dalam karya mereka, peran passoting harus dihargai. Alangkah bagusnya bila ada lembaga atau pihak yang peduli memberi pelatihan bagi para passoting ini, memberikan pencerahan dan wawasan, agar kemampuan teknis mereka sekaligus kepekaan mereka bisa sejajar dengan para pekerja film pekerja profesional. Tidakkah kita setuju menganggap para passoting kampung ini sebagai para saksi mata setia berbagai peristiwa budaya dan sosial di pelosok, yang kian tak mendapat tempat di media besar, bukan? “Setan Bergincu” Semarakkan Industri Musik Lokal Cara promosi album lagu berbahasa daerah tampaknya sangat jelata. Produsernya membagi-bagikan poster album mereka ke toko, warung, hingga hingga rumah-rumah makan yang banyak terdapat di sepanjang jalan trans Sulawesi. Inilah cara pemasaran langsung, tanpa perlu ada show dan konser dari para artisnya. Judul lagu yang ditampilkan pun cenderung unik, lucu, dan mencerminkan fenomena sehari-hari yang sedang marak tatkala album itu diproduksi. Lihatlah beberapa contoh album berbahasa Mandar: Ular, Bottu Cinnau (Putus Cintaku), Marannu Tattanga (Merana Menunggu), Upikkiri Cinnamu (Kupikirkan Cintamu), Picawa Ma’battuang (Tawa Penuh Makna), Suster Rani, Kadondong (Kedondong), Liwu tora iyau (Saya Juga Pusing), Bua Nasambo Daung (Buah Tertutup Daun), Issangi Tomareso (Pahamilah Kesengsaraan), Pissami moka’u (Tetap Tidak Mau), Birinna tarrauwe (Tepi Pelangi), Setang Ma’geccung (Setan Bergincu), Sara Tanditandimmu (Pura-pura Bermasalah), Marroyo-royong ate’ (Menggedor Atap), Pangipi siponayo (Mimpi yang Berseliweran), Kumis, dan Narkotika. Malah ada lagu Bugis yang berjudul Ma’bau Bembe’ (Bau Kambing) dan Tarzan Masuk Kota. Bila judul lagu hampir semuanya berbahasa daerah, judul covernya selalu menggunakan bahasa Indonesia, misalnya: Mandar Syahdu, Karya Emas Legendaris Sayang-sayang Tradisional Mandar, Melayu Mandar, Melayu Alternatif Mandar, Album Mandar Terbaru, Melayu Mandar Sejati, 10 Lagu Mandar Trend, Dangdut Mandar, Album Mandar Keren 2005, dan Super Star Mandar.

175

Lebih menarik lagi, ketika menyaksikan video klip pendukung setiap lagu. Video klip ini jarang yang pas dengan isi lagu. Ada yang isinya ibu-ibu yang bersenam, sepasang kekasih yang berpelukan, dan dandanan norak. Beberapa lagu daerah yang melegenda menjadi rusak gara-gara garapan video klip yang tidak nyambung itu. Memang ada juga beberapa klip yang bercerita. Misalnya lagu tentang kawin lari menampilkan klip seorang pemuda yang nekat memasang tangga di jendela rumah kekasihnya. Sang pemuda itu lalu mengajak kekasihnya turun, dan mereka pun pergi melintasi hutan dan sungai. Lokasinya pun cukup menggelikan. Klip ibu-ibu yang bersenam itu, lokasinya di depan rumah jabatan bupati, tidak sesuai dengan tema lagu cinta. Juga ada lagu yang klipnya syuting di tempat penggalian, konstruksi bangunan, pinggir jalan, dan halaman mesjid. Yang biasa-biasa saja, mengambil latar belakang sungai, pantai, jalan raya, dan pasar. Beberapa studio yang punya dana dan menampilkan penyanyi yang sudah punya nama, mengambil lokasi syuting yang lebih beragam. Misalnya di Pantai Losari, Benteng Somba Opu, Candi Borobudur, Monas, dan stasiun kereta api di Jakarta. Ciri khas lain album-album ini, umumnya merupakan album bersama beberapa artis. Menurut seorang produser rekaman, dia tidak menanggung semua biaya untuk sejumlah album karena ada urunan biaya dari artis-artis yang ditampilkan. Jatuhnya bisa lebih hemat untuk setiap artis. Kesediaan artis membiayai sendiri albumnya juga didorong keinginan untuk bisa tampil sebagai penyanyi. Meski suara tak begitu bagus tapi kalau punya uang apa salahnya untuk membiayai sendiri pembuatan album, demikian kira-kira alasannya. Menurut seorang produser, perilaku demikian merusak pasaran sebab album yang digarap seadanya membuat konsumen tak puas dengan VCD yang mereka beli. Untuk membuat satu album, dibutuhkan dana setidaknya Rp 15-20 juta. Jika lokasi pengambilan gambar di luar Sulawesi atau tempat-tempat yang jauh dari Mandar atau Makassar, akan lebih mahal. Pembiayaan dibutuhkan untuk rekaman di studio Rp4 juta, jasa pemain musik (elekton) Rp4 juta, shooting video klip Rp5 juta, dan cetak VCD Rp7 juta untuk 3.000 keping. Adapun harga pasaran untuk tiap VCD berkisar Rp 20-25 ribu. Beberapa perusahaan musik yang terkenal di Mandar adalah Stusa Record, Istana Record, Mentari Music, Palace Indah Record, Matra Music Record, Dinasti Record, Sinar Tenggara Record, dan Sandeq Record.

176

Walau isi album berbahasa daerah dan perusahaan yang mengeluarkan album beralamat di Mandar/Sulawesi Barat, proses rekaman berlangsung di Makassar dan penggandaan dilakukan di Jakarta. Sebagian rumah produksi lagu-lagu daerah juga meluncurkan album lagu untuk bahasa daerah lain, khususnya Bugis dan Makassar. Pencipta lagu dan penyanyi juga demikian. Selain bisa membuat syair dan menyanyi dalam bahasa Bugis, juga bisa dalam bahasa Makassar dan Mandar, misalnya Amir Syam. Ada beberapa trik yang dilakukan produser agar album mereka bisa laku di pasaran. Misalnya, menjadikan artis nasional keturunan Mandar (Cici Paramida dan Siti) dan pejabat teras kabupaten/provinsi sebagai salah satu penyanyi, lokasi pembuatan video klip dilakukan di tempat-tempat terkenal, misalnya di Candi Borobudur dan Monas, dan lagu yang unik, aneh dan gampang diingat, misalnya Ular dan Setang Ma’geccung. Setan Bergincu Tadinya saya tidak tahu (sebab lama di Yogya) bahwa ungkapan Setang Ma’geccung adalah judul lagu. Ungkapan itu pertama kali saya dengar sebagai cara untuk menakut-nakuti anak kecil yang selalu menangis dan nakal. Salah satu bait lagu itu berbunyi: Saya pernah hilang // Pada malam Jumat // Dua puluh tujuh puasa // Waktu turunnya lailatul qadar // Saya tinggalkan rumah // Saya mau pergi bertarawih // Tiba-tiba ada yang membisiki telingaku // Begitu harumnya // Suara perempuan // Saya pikir lailatul qadar // Ternyata setan bergincu // Hatiku begitu gembira // Datang lailatul qadar. Pemeran dalam video klipnya pun menampilkan seorang tokoh yang dua gigi depannya ompong. Ia berkacamata hitam khas orang buta (orangnya memang buta). Saat menyanyi, gerakan tubuhnya tak stabil dan sesekali meloncat menirukan gerakan monyet. Bagi orang-orang di kampung saya, lokasi syuting video klip lagu ini sangatlah akrab, yakni sebuah rumah kosong yang jaraknya selemparan batu dari rumah saya. Rumah panggung yang mengandung unsur arsitektur Eropa itu memang dikenal sebagai tempat angker. Sejak saya masih kecil, tak ada orang yang tinggal di rumah tersebut. Keponakan yang baru berumur 4 tahun, ketika lewat di situ selalu bilang, “Etang a’geccung” sambil menunjuk rumah. Ternyata dia pernah melihat video klip Setang Ma’geccung. Namun dengan kejelataan yang kental, album lagu berbahasa daerah justru

177

terasa lebih membumi daripada album-album nasional. Juga lebih mencerminkan keadaan sosial yang terjadi. Ketika tsunami melanda Aceh, beberapa saat kemudian keluar album yang salah satu lagunya “Do’a untuk Aceh”, “Lembonna Tsunami” (Ombak Tsunami). Ketika harga BBM naik dan ada bantuan pemerintah kepada orang-orang miskin, keluar lagu “Dana BBM”. Juga ada judul “HP Kamera” yang merespon demam telepon genggam berkamera. Membangun Netizen Mandar Budaya internet berkembang begitu cepat. Facebook yang baru seumuran jagung, sekarang ini menjadi situs paling banyak diakses, setidaknya di Amerika Serikat dan Indonesia. Harga sahamnya melonjak. Penciptanya menjadi salah satu orang terkaya di dunia padahal umurnya masih muda. Saya masih lebih tua. Di sisi lain, perkembangan itu makan korban. Salah satunya media massa cetak atau media berita konvensional (termasuk majalah dan tabloid). Ada yang bisa mengantisipasi, ada yang harus merumahkan karyawan dan pada akhirnya menutup perusahaan. Beberapa menyatak pailit. Kasus itu banyak terjadi di Amerika. Tentu, sebab di sana perkembangan (baca: pengguna) internet amat besar. Beda di Indonesia. Meski pengguna internet melonjak tajam, tapi itu kebanyakan dilakukan lewat handphone. Dan bisa dipastikan, yang pernah mengakses internet lewat hp, pasti pernah (dan mungkin hanya untuk) facebook-an. Lalu bagaimana dengan netizen (masyarakat peng-akses internet) di Mandar? Pasti banyak juga, tapi belum ada data ilmiah tentang berapa persentasenya. Saya pribadi mengenal internet pada tahun 1998 di Makassar, saat pertama kali membuat alamat email yang sampai saat ini masih saya gunakan: sandeqlopi@yahoo.com. Kala itu, kapasitas ruang untuk email hanya 6 MB. Bandingkan sekarang, hampir tak terbatas. Bisa dikatakan, sejak saat itu, apalagi kebanyakan tinggal di Yogya yang tergolong maju perkembangan internet dibanding daerah lain di Indonesia, tiada hari tanpa pergi ke warnet. Saat balik ke Mandar pada 2006, akses internet dilakukan lewat telkomnet@instan. Belum ada fasilitas internet lewat hp atau pakai modem. Walau akses seperti “siput yang berjalan di aspal panas”, itu tergolong lumayan dibanding tidak ada sama sekali. Internet memang mengasyikkan, kadang membuat lupa. Tagihan ratusan ribu setiap bulan. Untung saat itu belum ada facebook atau jejaring sosial lain. Kalau ada, pasti repot. Di sisi lain, saya mengalami masa-masa paling produktif dalam menulis.

178

Agar bisa memanfaatkan internet semaksimal mungkin, terinspirasi www. panyingkul.com, dan generasi muda Mandar juga sudah mulai melek internet serta ada fasilitas wifi gratis di dua tempat di Tinambung, saya dan beberapa teman dan kerabat mencoba membuat media www.mandarnews.com untuk kemudian diluncurkan pada 20 Mei 2009. Tujuannya, menjadi jendela Mandar untuk dunia dan memasyarakatkan orang Mandar melek internet. Juga untuk menyuarakan Mandar ke dunia. Tapi itu tak bertahan lama sebab sumberdaya manusia yang diharapkan bisa mengelola situs tak bekerja maksimal (khususnya saya). Alasan lainnya masalah teknis (pembayaran iuran), infrastruktur internet di Mandar (Tinambung yang masih tertinggal jauh; tidak maksimal untuk mengelola situs bonafide), dan perkembangan jejaring sosial yang lebih memikat hati para “netters”. Untuk mengantisipasi perkembangan dunia internet, mandarnews akan diubah, yakni tidak lagi murni sebagai media ‘news’ tradisional. Itu dilakukan karena saat ini masyarakat “kelebihan” informasi. Jika tak kreatif, akan tergilas atau tak termanfaatkan dengan baik. www.suaramandar.com Beberapa hari lalu saya mengetahui ada www.suaramandar.com (belum tahu kapan mulai online) dan langsung membukanya. Sebab lewat Blackberry, perwajahan aslinya tidak bisa saya lihat dengan baik. Meski lambat ‘loading’ kala buka ‘link’, beberapa artikel masih bisa saya baca. Seperti tentang pembuatan video klip dan tulisan tentang sandeq (untuk kemudian saya beri komentar). Saya pribadi belum melihat kekhasan laman ini, kecuali entitas yang diusung. Bagi orang Mandar, pasti menarik. Menyesal tak bisa menghadiri acara peluncurannya (2 Januari 2010). Ada urusan lain yang harus saya selesaikan sehingga tak bisa ke Polewali. Sebagai pihak yang pernah mengelola situs yang mirip, dalam tulisan ini saya akan membagi pengalaman dan masukan agar suaramandar tak senasib dengan mandarnews. Hampir semua orang bisa memanfaatkan internet. Mulai dari gratisan sampai berbayar. Media-media online yang bisa memuat tulisan pun bejibung. Kalau tidak, blog pribadi, fasilitas “catatan” di jejaring sosial juga bisa. Dengan kata lain, media untuk mengekspresikan diri tersedia dalam jumlah tak terbatas. Ada banyak alternatif.

179

Misalnya saya pribadi, jika ada tulisan tentang Mandar atau budaya, ada pilihan media saya yang bisa kirim tulisan saya tersebut. Misalnya Radar Sulbar, Polewali Pos (keduanya koran), www.panyingkul.com, (dulu) www.mandarnews. com, kompasiana atau saya ‘posting’ di “catatan” facebook saya. Dimuat sekaligus memang bisa (dan itu sering, termasuk tulisan beberapa teman), tapi dari segi etika, kurang sreg. Sebab tulisan tidak eksklusif lagi. Intinya, antar media harus bersaing satu sama lain agar bisa memuat hal eksklusif. Penulis pribadi pun kalau bisa hanya mengirim tulisannya di satu media. Berikutnya adalah harus ada individu yang betul-betul bekerja sebagai ‘operator’, ‘webmaster’ agar situs sepenuhnya online atau profesional. mandarnews tidak, salah satu alasannya infrastruktur internet akses cepat yang tersedia 24 jam belum tersedia. Memang saya tak lepas dari internet sehari semalam, dalam sepekan, dalam sebulan, tapi itu lewat Blackberry saja. Untuk mengelola situs dengan media demikan sangat tidak maksimal. Ada keinginan untuk berlangganan internet akses cepat, tapi tak bisa. Tinambung, apalagi Pambusuang (tempat saya bermukim saat ini), entah kapan ada akses internet pita lebarnya (broadband). www.suaramandar.com sepertinya tidak akan mengalami apa yang saya alami, sebab media ini memiliki sumberdaya yang dekat dengan akses internet cepat dan murah, yaitu di Polewali (setidaknya tersedia Speedy dari Telkom). Media yang identik dengan sumberdaya Unasman ini pasti memiliki individu-indvidu beragam yang bisa menghidupkan situs ini. Ada penulis, ada pengelola situs, dan sumberdaya dana (tapi saya belum tahu teknis pembiayaan media ini). Namun demikian, berdasar dari beberapa artikel yang saya buka, idealnya di masa mendatang nanti suaramandar memiliki atau menganut standar jurnalisme yang jelas dan kuat. Juga, tulisan harus teredit dengan baik. Ada tulisan bisa dikategorikan ilmiah, tapi isinya sebagian besar tak memiliki dasar ilmiah dan terjebak pada dugaan-dugaan saja. Ini harus dihindari sebab bagaimana pun suaramandar tumbuh di lingkungan ilmiah. Lalu, apa yang dimuat di suaramandar sebisa mungkin tak dimuat di media lain. Tidak apa-apa isi berita/tulisannya sama, tapi kalau persis isi teks-nya, jadi kurang berbobot. Kekurangan lain masih ada, tentu itu disadari pengelola suaramandar sebagai media online baru. Masa mendatang pasti ada perbaikan. Sebagai orang Mandar dan menjadikan dunia internet sebagai kebutuhan

180

primer, saya mengharapkan www.suaramandar.com memiliki kekhasan, baik dirinya sebagai media yang ‘mengandalkan entitas ke-Mandar-an’, maupun sebagai media berbasis intelektual. Usul saya, media ini harus menyadari dirinya sebagai media online. Salah satu cirinya adalah artikel-artikelnya harus padat, singkat tapi jelas. Mengapa? Sebab kebanyakan pengguna internet di Mandar (Indonesia?) masih melalui hp yang ratarata sistem pembayarannya berdasar pada berapa ‘kilobyte’ yang di-‘download’. Speedy rumahan juga demikian, ada yang didasarkan pada kuota file. Bila situs atau link dibuka secara otomatis mendownload banyak ‘kilobyte’, yang dibayar akan banyak. Belum lagi akan tumbuh rasa stres bila link yang dibuka tan kunjung terbuka sepenuhnya (sebab berat). Pada gilirannya, pikir-pikir untuk membukanya lagi. Alasan lain, membaca artikel panjang di monitor tidak sama dengan di atas kertas. Belum lagi bila tulisan tak menarik dibaca. Terakhir, saya mengharapkan media online www.suaramandar.com bisa memunculkan generasi baru dalam dunia jurnalistik dan dunia penulisan di Mandar (dalam beragam genre). Menurut saya, ini yang paling penting. Sebab bagaimana pun suaramandar adalah media pembelajaran. Saya sangat yakin, ada banyak potensi di Mandar yang bisa menjadi penulis dan pengisi rubrik di suaramandar atau media lain di Mandar.

181

LINGKUNGAN

Air Bersih dari Passauq Wai

Para perempuan itu memulai aktivitasnya setiap hari pada pukul 02.30 dinihari.

Mereka berjalan kaki 3-4 kilometer memanggul puluhan jerigen kosong, menuju bantaran Sungai Mandar, yang tidak terjangkau intrusi air laut. Dengan menahan dinginnya hawa pagi, dengan keadaan tubuh basah kuyup, mereka menyusup ke hulu sungai, tangan-tangan halus mereka bekerja tanpa lelah untuk mengisi puluhan jerigen. Kebutuhan air bersih penduduk memang tak bergantung pada air yang dialirkan Perusahaan Air Minum (PAM), melainkan pada ketangguhan para perempuan desa itu. Di Sungai Mandar mereka menghanyutkan diri bersama jerigen berisi air tawar ke arah muara, di awal pagi menyusuri kelokan sungai yang asin. Mereka bekerja di awal hari untuk mengambil air tawar, membawanya ke kampung-kampung di awal pagi, dan mengantarnya ke rumah penduduk di awal siang, di awal sore, di awal malam. *** Sekitar 15 tahun lalu PAM (Perusahaan Daerah Air Minum) mulai hadir di Kecamatan Tinambung. Di mata penduduk, itu salah satu tanda bahwa kampung pun sudah terkena dampak modernisasi melalui penyediaan sarana air bersih. Sebelumnya penduduk mengandalkan Sungai Mandar sebagai sumber air tawar: mandi di sungai dan mengambil air tawar di sungai. Instalasi sumber air tawar PAM dipasang di Desa Lembang-lembang yang terletak kurang lebih 10 kilometer dari muara Sungai Mandar. Memang sumber airnya juga berasal dari Sungai Mandar, tapi melalui proses penyaringan. Awalnya memang bagus, tapi beberapa tahun kemudian, air yang dialirkan hampir tidak layak lagi disebut air PAM karena asin.

182

Sebelum dan setelah kehadiran PAM, penduduk di ibukota Kecamatan Tinambung banyak mengandalkan jasa beberapa orang yang menyediakan air tawar khusus untuk diminum yang diistilahkan wai sauq. Secara harfiah, wai sauq berarti “air yang ditimba”. Ada penyedia khusus air tawar untuk diminum disebabkan kualitas air Sungai Mandar di bagian muara (1-2 kilometer dari laut ke arah hulu) tidak layak untuk diminum, kecuali diolah lebih lanjut dengan tawas (agar lumpur mengendap) dan memberi kaporit (agar kuman musnah). Wai sauq diambil di pinggir Sungai Mandar, di Desa Lekopa’dis yang berjarak 3-4 dari muara Sungai Mandar. Sumber air berasal dari sumur kecil yang digali di atas pasir sungai. Sumur berdiameter kurang lebih 50 cm dan kedalaman 60 cm tiap hari dibuat, ketika para passauq wai (pengambil “wai sauq”) tiba di lokasi. Agar sumur yang dibuat kuat, mereka menggunakan potongan drum plastik. Di dasar drum plastik dipasang jaring bermata halus untuk menahan pasir. Setelah menunggu beberapa lama, ketika air yang tadinya keruh sudah jernih, kegiatan menimba air mulai dilakukan. Alat yang mereka gunakan untuk mengisi jerigen “Bimoli” (bekas tempat minyak goreng) berupa “pisauq” (timba plastik) dan “caloloq” (saluran berupa pipa berlubang: atas berdiameter besar, bagian bawah berdiameter kecil). Kegiatan mengisi jerigen dilakukan terus menerus hingga puluhan jerigen yang mereka bawa terisi semua. Mulut jerigen yang sudah diisi ditutup plastik yang diikat karet. Jerigen kemudian diangkat ke sungai untuk kemudian dirangkai dengan jerigen-jerigen lain dengan menggunakan tali. Bagi yang membawa sampan, jerigen diatur sedemikian rupa di atas sampan. Bila aktivitas massauq wai (menimba air) selesai dilakukan, mereka pun balik ke kampung bersama jerigen mereka yang melayang di bawah permukaan air, bersama aliran sungai, di tengah dinginnya air. Tiba di kampung, jerigen dibawa ke rumah masing-masing untuk kemudian diatur sedemikian rupa. Kegiatan “passauq wai” tidak berhenti di situ. Bila ada pesanan, mereka harus mengantar jerigen ke rumah pemesan. Ada yang menggunakan gerobak kecil dan ada yang menggunakan motor yang didesain khusus agar bisa membawa jerigen dalam jumlah banyak. Yang terakhir ini digunakan untuk mengangkut jerigen ke rumah pemesan yang lokasinya jauh. Harga satu jerigen air yang tinggal di sekitar Pasar Tinambung Rp 500 untuk yang berkapasitas 10 liter dan

183

Rp 250 untuk yang berkapasitas 5 liter. Ini sudah termasuk biaya antar dan angkut dengan menggunakan gerobak kecil. *** Salah satu keluarga “passauq wai” adalah keluarga Kamaq Ambiko yang tinggal di pinggir Sungai Mandar. Dulunya Kamaq Ambiko adalah nelayan. Karena usia sudah tua, dia tidak melaut lagi. Tapi anak tertuanya, bernama Ambiko, masih tetap melaut hingga saat ini. Semua anggota keluarga Kamaq Ambiko (kecuali yang melaut) terlibat dalam aktivitas penyediaan air tawar, mulai dari isteri, menantu, hingga anak-anaknya. Saban hari, dengan menggunakan sampan bercadik yang dipenuhi jerigen, Kamaq Ambiko mengantar anak-isterinya menuju Desa Lekopa’dis. Menantu laki-lakinya juga demikian, tapi sampannya sudah menggunakan mesin kecil. Jika Kamaq Ambiko tidak pergi, isteri dan anaknya bisa melakukan sendiri aktivitas mendayung menuju lokasi pengambilan air tawar. Bila ada pesanan, anakanak perempuan Kamaq Ambiko berperan sebagai pengantar. Antara pemesan dengan pengantar air sudah demikian akrab. Jadi, jerigen air yang tiba di depan rumah langsung diangkat naik ke rumah (umumnya rumah di Tinambung masih rumah panggung) untuk kemudian dimasukkan ke dapur. Air dari jerigen langsung ditumpahkan ke dalam tempat penampungan air, baik berupa “gusi” (terbuat dari tanah liat) maupun drum plastik. Bila digunakan khusus sebagai air minum (termasuk memasak nasi dan lain-lain), air sebanyak 10 jerigen bisa digunakan dalam selama 2-3 hari. Ada banyak keluarga yang menyediakan jasa seperti keluarga Kamaq Ambiko. Hampir tiap desa; tiap dusun ada, khususnya yang berada tidak jauh dari pinggir Sungai Mandar. Ada yang menggunakan sampan untuk menuju dan kembali dari lokasi pengambilan air, dan ada yang berjalan kaki menuju lokasi dan menghanyutkan diri di saat pulangnya. Jumlah “Passauq wai” meningkat tajam ketika musim kemarau. Ini disebabkan Sungai Mandar di kawasan muara begitu tinggi salinitasnya. Air laut begitu mudah masuk ke arah hulu, apalagi di saat pasang. Dampak dari tingginya kadar garam (salinitas) menyebabkan rumah-rumah yang memasang pipa langsung ke sungai harus rela menggunakan air asin untuk kebutuhan mandi dan cuci mereka. Sebagai catatan, semenjak PAM tidak lagi memberi layanan yang memuaskan, banyak rumah tangga memasang sendiri instalasi air dari sumber air ke rumah mereka (menggunakan 1-2 pompa sebagai penghisap), berupa pipa

184

puluhan meter. Ujung pipa yang dipasangi penyaring dijulurkan ke permukaan sungai. Sehingga menjadi pemandangan menarik di pinggir Sungai Mandar, di Tinambung, ratusan pipa menjulur dari atas tanggul ke permukaan sungai. Jadi, meski hampir semua rumah mempunyai sumber air, baik berupa saluran pipa dari sungai ataupun sumur tanah, bisa katakan semua rumah di Kecamatan Tinambung dan sekitarnya menggunakan “wai sauq” sebagai air minum mereka. Sementara air yang dihisap dari sungai dan air sumur digunakan untuk keperluan mencuci, mandi, dan sebagainya. Menurut penelitian, kualitas air tanah di Tinambung tidak layak minum, sehingga wajar bila tingkat ketergantungan pada wai sauq sangat tinggi. Bisa dibayangkan berapa kubik air yang harus disiapkan dengan “cara manual” di atas! Tidak mengherankan, meski pekerjaan “massauq wai” merupakan pekerjaan yang butuh kerja keras dan bekerja di waktu yang tidak lazim, pekerjaan tersebut betul-betul “basah”. Ya, memberi keuntungan besar bagi orang dan keluarga yang mengusahakannya. Ratusan rumah; ribuan orang butuh air tawar! Bukankah itu peluang? Bila dipikir, jika masyarakat mempunyai kemampuan untuk mandiri, peran pemerintah dapat diminimalkan. Kasus penyediaan air bersih untuk masyarakat Kecamatan Tinambung oleh para “passauq wai” adalah contoh yang menarik. Peran negara atau pemerintah bisa dikatakan tidak ada, namun masyarakat tidak mempunyai keluhan kekurangan kebutuhan dasar mereka dalam hidup: air tawar, bahkan di musim kemarau sekalipun. Menjadi Bagian dari Sensasi Flu Burung Kamis, 8 Maret, saat saya sedang menikmati es tape ketan campur tape ubi di warung es yang selalu saya kunjungi sejak SMA, muncul panggilan darurat melalui ponsel. “Ayo segera pulang, ada banyak wartawan di rumah”! Meski tidak begitu kaget, saya bertanya-tanya dalam hati apa gerangan yang terjadi. Mungkinkah akibat laporan yang dilakukan kakak saya ke pak lurah? Tadi malam, 7 Maret 2007, bapak saya menceritakan bahwa tiga hari be­ lakangan ini beberapa ayam peliharaannya mati mendadak. Apakah gara-gara flu burung? Untung bapak saya melakukan tindakan pembakaran dan penguburan terhadap ayam-ayamnya yang mati sehingga tidak terjadi potensi penularan, jika memang itu flu burung. Saya usulkan agar kasus ini dilapor ke pak lurah.

185

Kakak saya melapor ke pak lurah keesokan paginya. Lalu pak lurah, setelah mene­ ri­ma laporan itu, melapor ke atasannya, menghubungi pihak-pihak yang berwenang dengan penanggulangan flu burung. Tak lupa juga menghubungi wartawan dan koresponden media lokal dan nasional yang ada di Majene (ibukota Kabupaten Majene). Petugas peternakan berdatangan melakukan pemeriksaan beberapa ayam milik penduduk, termasuk milik bapak saya. Wartawan dan koresponden RCTI, SCTV, Metro TV serta Radar Sulbar (koran lokal di Sulawesi Barat) mengumpulkan informasi-informasi dasar: berapa ayam mati, sejak kapan, dan lain-lain. Bagi keluarga saya, ada cerita tersendiri dari kasus di atas. Laporan kakak saya penjadi penguak. Ternyata beberapa tetangga saya sudah mengalami kasus yang sama (ayam milik mereka mati), jauh hari sebelum ayam-ayam bapak saya mati mendadak. Artinya, jika memang itu flu burung, bahaya yang mengincar penduduk sudah lama bercokol di perkampungan. Karena keluarga saya menjadi pelapor, bapak saya sebagai pelaku (peternak ayam) menjadi informan kunci. Bapak saya ditanyai wartawan dan wajahnya jadi sorotan utama kamera televisi. Lingkungan bagian belakang dan kolong rumah saya yang kotor pun tak luput dari lensa dan pemeriksaan petugas kesehatan dan peternakan. Hasil dari pemeriksaan cepat yang dilakukan, menunjukkan bahwa lingkungan tempat tinggal saya positif terserang wabah flu burung. Belum ada yang tahu jawabannya bagaimana penularan terjadi. Tempat terdekat yang terserang flu burung di Provinsi Sulawesi Barat adalah di Majene, sekitar 10 km dari kampung saya. Itu terjadi satu pekan sebelumnya. Proses pemeriksaan yang melibatkan keluarga saya ternyata belum selesai sebab kepada petugas yang datang kami disampaikan bahwa kemarin ibu saya flu, tapi sekarang sudah sembuh. Ibu yang menjadi “bintang” Ternyata informasi bahwa ibu saya pernah sakit, menjadi “kisah” lanjutan penemuan virus flu burung di lingkungan saya. Dari sore sampai malam rumah saya kedatangan tamu: dokter puskesmas dan rombongan petugas kesehatan yang levelnya lebih tinggi. Pokoknya heboh. Saya dan keluarga saya tidak begitu khawatir dengan hal di atas, sebab yakin bahwa ibu (pernah) sakit bukan gara-gara flu burung. Kalau memang flu burung yang menyerang, mengapa ibu saya hanya sakit 1-2 hari (rata-rata flu biasa)?

186

Keesokan harinya, 9 Maret 2007, Radar Sulbar (jaringan harian Fajar Makassar) memuat berita utama “Tinambung Positif Flu Burung”. Adapun foto yang me­ nampilkan petugas pertenakan bermasker sedang memeriksa bangkai ayam pas berlokasi di belakang rumah saya, kurang dari 5 meter. Dalam berita, bapak saya menjadi informan: “Ö Ayam milik Alimuddin mati dalam waktu yang tidak bersamaan. Awalnya, Selasa (6/3), hanya dua ekor ayam miliknya mati secara tiba-tiba. Menyusul Rabu (7/3), 4 ekor ayamnya kembali mati. Dan Kamis kemarin, seekor ayam miliknya kembali mati secara mendadak. “Ayam milik warga lainnya lebih duluan mati daripada ayam saya. Tapi saya cemas, maka langsung melaporkannya ke pak lurah,” kata Alimuddin. Ö” Pada hari berikutnya, koran yang sama kembali memuat berita utama “Seorang Warga Terindikasi: Terkait Kasus Flu Burung di Tinambung”. Berikut kutipan beritanya: “Penyebaran virus flu burung di Lingkungan Pa’giling Kelurahan Tinambung kini mengancam jiwa manusia. Seorang warga, SR (60) diindikasikan (suspect)menderita flu burung. Hal ini terungkap setelah hasil uji cepat (rapid test) Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) terhadap empat sampel ayam. Dua sampel ayam dinyatakan positif flu burung. Salah satu sampel tersebut merupakan ayam milik SR”. Inisial SR yang dimaksud adalah nama ibu saya. Bagi saya dan keluarga, beritanya “lucu”, sepertinya terlalu berlebihan, atau tepatnya didramatisir. Ya, memang ibu saya pernah flu (ringan). Tapi dokter di puskesmas serta petugas di pos kesehatan yang ditunjuk sebagai pusat penanggulangan flu burung di Kabupaten Polman menyatakan ibu saya hanya flu biasa. Adapun informasi tersebut sudah diketahui sang wartawan, sebelum berita masuk batas waktu pengiriman berita untuk dicetak. Ya, di bagian akhir berita itu juga termuat: “Petugas UGD RSUD Polewali, Julianto, membantah adanya pasian SR asal Tinambung yang dirawat akibat dugaan suspect flu burung. Bantahan yang sama datang dari petugas ICU maupun bagian perawatan.”, namun bagaimana pun bagian awal beritanya dan judulnya terlalu berlebihan. Apa jadinya bila pembaca hanya mengampil kesimpulan setelah membaca judulnya? Bagi keluarga saya, pemberitaan ini belumlah dianggap mengganggu. Saya hanya mengkritisi bentuk pemilihan judul dan isi berita yang seolah-olah telah menyatakan ada warga yang telah “suspect”. Sebenarnya tidak apa-apa memuat berita seperti di atas jika memang ibu saya tetap sakit dan sama sekali tidak ada informasi hasil pemeriksaan kesehatan terhadap ibu saya. Tapi kenyataannya ibu saya sudah sembuh dari flu-nya dan hasil pemeriksaan

187

menyatakan bahwa dia negatif. Sekali lagi, informasi ini sudah ada di tangan wartawan. Kenapa bukan kondisi sebenarnya yang diberitakan? Kenapa judul beritanya begitu sensasional? Untuk mendongkrak tiras? Berita menyebar cepat. Berdatangan telepon dari kerabat, baik yang ada di Polewali (ibukota Kabupaten Polman), Makassar, Balikpapan, dan Samarinda menanyakan kabar keluarga di Tinambung, kampung saya. Saat ibu saya berbicara di telepon, yang terjadi bertolak 180 derajat dengan berita di media. Ibu saya tertawa-tawa menceritakan tingkah polah bapak saya yang sedikit salah tingkah ketika diwawancarai dan ketika dirinya diduga tertular virus flu burung dan menjadi “pemeran utama” berita di media massa. Banjir Datang, Kamera Beraksi Jumat, 9 Januari 2009, saya dan keluarga pergi ke Polewali untuk menjemput ibu datang dari tanah suci. Menjelang Jumatan, hujan mulai turun. Tak pernah berhenti sampai tengah malam. Air di selokan depan rumah yang dalamnya lebih semeter belum penuh meski aliran air deras. Kira-kira masih 30cm untuk sejajar permukaan tanah-jalan. Sekitar jam dua dinihari terdengar ketukan panik dari tetangga “Banjir... banjir...”. Semua pada terbangun. Di kolom rumah air sudah sebatas paha. Saya dan kakakku segera turun untuk membangunkan bapak yang tidur di bawah. Mumpung air belum sampai ke atas ranjang. Betapa lucunya bila bapakku terbangun dengan air disekelilingnya. Saya sih tidak sibuk membantu melainkan sibuk soting. Keluarga mengerti, memang itu kebiasaan saya bila terjadi bencana, sebagaimana banjir satu dekade sebelumnya dan kebakaran yg terjadi beberapa bulan sebelum banjir. Saya tidak sibuk membantu, tapi malah pergi motret-motret. Saya tidak berlama-lama di rumah. Di tengah guyuran hujan, hanya dite­ mani payung dan jaket anti air, saya keliling kota (kecil) Tinambung untuk mendokumentasikan bencana banjir yang perlahan naik debit airnya. Saya pakai handycam Sony HD-HCR9. Hujan masih turun. Jalanan tak jauh beda dengan sungai. Air deras mengalir dari utara ke selatan, menuju sungai. Tak diketahui lagi air berasal dari mana. Sebab seantero Mandar dilanda hujan. Berjalan ke arah pasar, di sana belum ada genangan air. Bibir genangan masih berada di sekitar SDN 001/002 Tinambung. Ke arah utara, batas air di sekitar Monumen Merah Putih (patung Andi Depu) sampai ke lapangan

188

kecil di antara Kantor Camat dengan Puskesmas. Artinya, Puskesmas dan Kantor Pos Tinambung dalam keadaan digenangi air. Menyedihkan, di dalam ruang gawat darurat Puskesmas Tinambung, di atas ranjang besi, tergolek lemah seorang anak kecil yang menderita diare. Bapak dan seorang kerabatnya setia menemani. Walau hujan deras dan banjir sudah tergolong besar, listrik masih mengalir ke rumah-rumah. Untung sebab orang-orang masih bisa memindahkan barangbarangnya dengan mudah. Beda kalau gelap. Menjelang waktu shalat subuh, listrik mati. Mulai gelap, tapi tak berlangsung lama karea hari mulai terang meski tak seberapa sebab sinar matahari dihalangi langit yang terus mengguyur bumi. *** Selesai sarapan, saya pergi lagi. Cahaya sudah baik untuk penggunaan kamera foto, meski cuaca masih buruk. Mengambil resiko dua kamera rusak, saya berjalan menyusuri jalanan aspal yang berubah wujud menjadi sungai dadakan. Tingginya sampai perut. Tujuan pertama jembatan yang melintang di atas sungai mandar. Jaraknya kurang dua kilo dari muara Sungai Mandar. Penduduk Tinambung yang hampir semuanya adalah korban banjir (terlepas berat/tidaknya) menjadi turis bencana yang menimpa mereka. Di kampung seberang, Sepa Batu, amat parah. Aliran air sangat deras. Beberapa rumah sudah roboh. Ada yang sedikit-sedikit bergeser. Jalan ke arah Majene sudah putus. Derasnya air tak bisa ditembus. Hujan masih turun meski tidak deras lagi. Mengambil gambar saya lanjuntkan ke tempat lain. Sampai saat ini Nikon D80-ku masih baik-baik saja. Baterei Sony mulai lemah. Kayaknya saya harus kembali ke rumah untuk ganti baterei dan kaset. Untung ada stok kaset cadangan, jadi bebas ambil gambar. *** Setitik air jatuh dari angkasa menuju tanah tak seberapa energi kinetik-nya (energi gerak), tapi karena ada miliaran tetes air yang jatuh dalam tempo lama, maka yang terjadi adalah penyebaran energi dalam areal yang luas dan terus berlanjut. Namanya juga hukum kekekalan energi, energi disalurkan ke media lain. Bagaimanapun kecilnya, setetes air mampu melemparkan beberapa butir tanah beberapa sentimeter ke atas. Karena miliaran tetes air, jutaan ton energi terjadi dalam waktu yang tak begitu lama. Energi yang kemudian membongkar permukaan tanah di

189

pegunungan, di lereng bukit, di perkebunan dan di segala tempat yang diguyur hujan. Itulah yang menjadikan air keruh sebab triliunan partikel tanah ikut serta. Disebabkan ada hukum gravitasi, air pun ke tempat lebih rendah, melalui apa saja. Tak peduli itu jalan kampung, itu dapur, itu mesjid, itu sekolah, itu kandang ayam, itu penjual pulsa, itu rumah pejabat, itu rumah fakir, itu rumah penjahat, itu rumah ulama, itu rumah sakit, itu rumah pedagang, itu ruko. Bukan hanya unsur kimia H20 dan butiran tanah yang mengalir tapi benda padat berukuruan besar juga ikut serta. Maka terbentuklah kekuatan merusak yang menghantam apa saja yang menghalangi perjalanan sang air. Rumah miring dan akhirnya roboh. Pohon tercerabut dari tempatnya menghujam, pohon pisang seakan rukuk, aspal jalanan terbongkar. Pusaran air dimana-mana, di “belakang” pohon-pohon, di sisi jalan, di bantaran sungai, dan di sungai. Sungai Mandar memainkan irama mengerikan; menampakan tarian menakuntukan. Lidah “ombak” berlompatan. Warnanya coklat mirip “dodor bata’” (sejenis kue berupa adonan dari jagung muda). Beberapa rumah di bantaran sungai mencoba untuk bertahan. Ada yang bisa bertahan sendiri, ada yang butuh ikatan. Beberapa diantaranya menyerah, roboh terbawa arus. Kadang tampak ayam bertengger di rangka rumah yang terbawa arus. Perlahan tapi pasti, secara masif (membesar secara perlahan) dimensi aliran air meninggi dan melebar, serta tambah kuat arusnya. Hampir semua jalan di kota Tinambung tertutupi air, mulai dari sebatas lutut (di sekitar kandang) sampai sebatas dada (kawasan Calo-calo). Lapangan Tammajarra sejak semalam sudah bisa direnangi, demikian halnya jalan trans Sulawesi. Banjir memang mengerikan, tapi di balik itu sepertinya ada kemegahan, keindahan. Koq bisa demikian? Iya, kan banyak orang yang rela meninggalkan rumahnya, melintasi genangan air dan guyuran hujan demi bisa menyaksikan dahsyatnya amukan Sungai Mandar. Jembatan Tinambung dipenuhi ratusan orang. Tersenyum, tertawa, dan khawatir. Tak ada yang panik, teriak-teriak. Aneh memang. Tak jauh dari Jembatan Tinambung ke arah Majene, masih pada hari Sabtu 10 Januari 2009, kejadian menegangkan terjadi. Arus air yang melintasi jejak alur purba Sungai Mandar, menghantam apa saja yang menghalanginya. Yang jadi korban adalah beberapa unit rumah yang berada tak jauh dari Jembatan Katitting, kandang ayam ras, kios penjual pulsa, dan ratusan pohon pisang, serta satu unit menara pemancar signal telepon seluler.

190

Drama yang terjadi menjadi tontonan sebab areal di situ menjadi batas antara bagian yang aman dengan bagian berbahaya, yang lokasinya selemparan batu. Sekaligus menjadi wilayah pertemuan antara korban banjir (pengungsi) dengan masyarakat lain di Tinambung yang�menikmati� banjir. Korban yang menerima efek begitu besar dari banjir berasal dari Sepabatu, Tandung, Para, Katitting dan kampung-kampung kecil disekitarnya. Sedang yang tidak begitu besar dirugikan oleh banjir, sebab hanya digenangi kolong rumahnya, berasal dari Kelurahan Tinambung. Tidak tahu apa yang harus dibantukan ke korban pada di kala puncak banjir terjadi. Alasannya situasi cukup berbahaya. Maka proses pertolongan langsung ke korban banjir hanya bisa dilakukan pihak SAR dari Polewali yang dibantu masyarakat Tinambung setempat. Peralatan hanya berupa satu unit perahu karet dan beberapa pelampung, serta beberapa meter tali. Peralatan itu tidak bisa menjangkau ke rumah-rumah yang berada dalam keadaan berbahaya yang mana masih ada orang bertahan di situ, misalnya rumahrumah yang berada di Tonra. Sungai Mandar masih bergemuruh. Jarak permukaan sungai dengan jembatan kurang dua meter. Banyak orang khawatir jembatan akan runtuh, mengingatkan runtuhnya jembatan tua yang berada sekitar 100 meter ke arah timur jembatan baru di banjir satu dekade lalu. Awalnya jembatan seakan dipenuhi penonton dampak banjir, tapi lamakelamaan hanya beberapa orang yang bertahan di atas. Memang menakutkan juga. Kalau-kalau jembatan runtuh, pasti mereka celaka dan yang berada di sisi timur pasti terjebak di areal sempit. Menjelang sore, intensitas hujan mulai berkurang. Sesekali berhenti, sesekali hujan. Langit masih mendung, tapi wilayah perbukitan di pedalaman Mandar kelihatan jelas. Debit air mulai berkurang. Genangan mulai susut. Kompleks Pasar Tinambung dan sekitarnya kembali ke keadaan normal, aspal kasar kelihatan. Ruko-ruko disekitarnya mulai mengeluarkan lumpur dari dalam rumah. Ya, kalau mau gampang mengeluarkan lumpur, harus memanfaatkan air banjir itu sendiri. Dengan kata lain, keluarnya air diikuti dengan aktivitas mengeluarkan lumpur. Karena sudah relatif aman, beberapa anak kecil telah diijinkan orangtuanya untuk menikmati “sisi baik� banjir: berenang-renang di halaman rumah. Kesempatan

191

langka. Ada yang menghanyut-hanyut, misalnya dengan menggunakan ban dalam mobil atau gabus, di jalanan. Ternyata ada sisi membahagiakan di musibah banjir. *** Tiga hari kemudian, saya pergi ke Petoosang, Kecamatan Allu, sekitar 10km ke arah pedalaman dari Tinambung. Di kampung ini ada banyak kerabat saya, dari pihak bapak. Isolasi oleh bencana telah terbuka. Sangat menyedihkan. Sepertinya sekeping Aceh, yang habis dilanda tsunami, dibawa Tuhan ke sini. Tumpukan kayu di mana-mana. Tebalnya ada yang mencapai 3 meter. Rumah hancur di beberapa titik. Halaman SMP penuh dengan kayu yang tingginya lebih semeter. Demikian juga lingkungan di sekitar pasar. Malah ada di beberapa titik tumpukan kayu tingginya sampai setinggi lantai rumah. Partikel tanah yang ketinggalan air menjadi sedimen atau mengendap di manamana. Cukup tebal di banyak tempat, khususnya di poros jalan Tinambung – Allu bagian Paropo. Yang meninggal “hanya” sepuluh orang, rekor dari bencana banjir sebelumnya yang rata-rata datangnya setiap sepuluh tahun. Bila air bandang datang di malam hari, sepertinya ratusan orang yang akan meninggal. Ya, sebab tak ada waktu untuk berlari ke bukit. Allu atau Alu, kampung kuno dalam sejarah Mandar tak seberapa ditimpa amukan air. Air tak sampai menggenangi sebagian besar lokasi perkampungan, hanya mengepung saja sebab alur sungai memang bentuk alaminya demikian. Walau begitu, lintasan air yang “potong kompas” di “tanjung” Allu amat hebat. Pusaran air yang menghancurkan dinding tanah meninggalkan kubangangan raksasa di tanah. Mengkhawatirkan sebab dari jalur lintasan air tersebut hanya berjarak sekitar 50 meter dari Kompleks Pekuburan Ammana Pattolawali. Artinya, hempasan air yang kuat di masa mendatang akan menghancurkan kompleks makam tersebut. Jadi, harus ada usaha relokasi sebelum banjir datang lagi. Dua minggu kemudian, bersama helikopter yang membawa bantuan logistik di beberapa kampung di pedalaman, saya melintasi Mandar dari udara. Terlihat banyak titik di perbukitan. Longsor di mana-mana. Memang indah dari atas, tapi di darat, khususnya di Allu dan sekitarnya, kerusakan masih membekas. *** Bencana terbesar di Mandar yang pernah saya alami terekam dengan baik, dalam foto dan film. Setelah jaringan tv kabel normal, hasil dokumentasi saya

192

tentang banjir diputar. Disaksikan ribuan penduduk Tinambung. Orang Mandar perantauan yang mengetahui ada dokumentasi banjir memesan ke kerabat mereka. Saya pun kebanjiran permintaan. Untuk tv-tv kabel saya gratiskan, sedang pribadi hanya mengganti pembeli DVD. Jadi, tak mengherankan film dokumenter banjir tersebar luas, Bali, Papua, Jakarta hingga Malaysia. Pantai Manakarra Janganlah Direklamasi Pantai yang akan direklamasi, Pantai Manakarra, adalah salah satu bagian dari Teluk Mamuju. Inilah “Losarinya” Mamuju. Batas Teluk Mamuju berawal dari Tanjung Rangas di barat, membentang ke timur laut sampai ke pantai sekitar muara Sungai Kalukku. Di dalam teluk ini ada Pulau Karampuang, yang panjangnya sekitar 4 km dan lebar 2 km. Jarak terdekat dari daratan Sulawesi sekitar 1,7 km. Bila menganggap Pulau Karampuang sebagai bagian dari daratan Pulau Sulawesi (dengan alasan perairan yang mengantarai tidak terlalu dalam dan di situ ada karang permukaan yang tak bisa dilintasi kapal), maka ada “teluk” lain di dalam Teluk Mamuju. Di “teluk” ini ada dua obyek penting: Pelabuhan Feri di Simboro dan Pantai Manakarra. Menggolongkan keduanya sebagai obyek penting tidak sertamerta menafikan keberadaan permukiman penduduk, dermaga alam para nelayan, dan lokasi perkantoran. Lingkungan pantai sangat jauh berbeda dengan perbukitan. Artinya, perlakukan terhadap keduanya tentu tak sama. Di pantai ada hal dinamis karena ada faktor fisik selain darat, yaitu air laut. Laut beda dengan sungai dan danau. Laut adalah “benda” paling dinamis di muka bumi ini, sehingga ada banyak cabang ilmu untuk memahami tingkah laut, mulai dari oseanografi, perikanan, pertambangan laut, hingga kebudayaan para pemanfaat laut. Pantai Manakarra jelas tak beda dengan pantai lain. Dia terbentuk dari proses alam hingga mencapai “keseimbangan” saat ini. Pantai Manakarra tidak sendiri, dia menjadi bagian dari pantai-pantai lain di sekitarnya. Ketika ada revolusi terhadap Pantai Manakarra, kawasan lain didekatnya pasti “terkejut” dan akan merespon dengan melakukan penyesuain-penyesuain. Penyesuain dilakukan bukan atas keinginan manusia, tapi oleh insting alam. Mau berdampak negatif atau berdampak positif, itu urusan alam. Kedinamisan di Pantai Manakarra, tidak kasat mata. Tiap detik air laut bergerak, ada pasang, ada surut, ombak sesekali menghantam tanggul. Kadang panas berada

193

di sini, kadang sejuk oleh hembusan angin laut. Lalu bagaimana dengan pola arus yang terjadi di Pantai Manakarra dan sekitarnya? Tampaknya data pasut (pasangsurut) belum ada, apalagi data arus. Dilihat sekilas, Pantai Manakarra atau “Losarinya” kota Mamuju terlindung oleh Pulau Karampuang. Ya, untuk beberapa kasus memang demikian, tapi pada dasarnya tidak. Pulau Karampuang “hanya” titik kecil. Teluk Mamuju adalah “sasaran empuk” arus utara. Artinya, ada arus kuat yang mempengaruhi pantai ini. Selain itu, karena berada di teluk kecil, Kota Mamuju lebih besar menerima tekanan gelombang laut jika terjadi tsunami. Dengan kata lain, karena kota Mamuju berada di lokasi rawan gempa, menfokuskan permukiman, lokasi perdagangan, dan kegiatan lainnya di pantai sama saja dengan tidak belajar dari peristiwa di Aceh. Baiklah, kita kembali ke tesis bila Pantai Manakarra direklamasi. Menurut pemberitaan di media massa, luas reklamasi meliputi areal sekitar 12 hektar lebih, yaitu dari Pelabuhan Batu Mamuju sampai di kawasan pelelangan ikan. Berdasar pada kondisi geografis, pantai yang ditimbun adalah kawasan yang landai, berdasar pasir. Kisaran kedalaman bila terjadi pasang sekitar 1-6 meter. Di luar batas bagian yang direklamasi, kedalamannya sekitar 10 meter. Ketika reklamasi selesai dilakukan, maka jarak ke Pulau Karampuang (atau Pulau Mamuju) akan semakin dekat, apalagi karang permukaan yang ada di antara Pulau Karampuang dengan pantai yang direklamasi. “Bergesernya” daratan ke arah laut, akan menimbulkan penyesuaian o­leh faktor-faktor fisik laut. Ombak yang menghantam tak teredam lagi (sebab peredamnya ditimbun!) dan pola arus akan berubah di kawasan ini. Paling tidak ada dua “pintu” arus, yaitu dari arah utara timur laut (selatan P. Karampuang) dan dari utara, antara Tanjung Rangas dengan P. Karampuang. Karena di dekat pantai yang ditimbun ada beberapa muara sungai, maka efek arus bukan tekanan air semata, tetapi timbunan sedimen yang berasal dari sungai. Artinya, arus masuk membawa sedimen, yang lama kelamaan akan bertumpuk di satu tempat. Karena ada halangan fisik yang baru, maka pola timbunan sedimen akan berubah. Tempatnya bisa di mana saja, tergantung “kemauan” arus. Arus dari timur Pantai Manakkara yang membawa sedimen Sungai Mamuju akan tertahan di antara karang permukaan (selatan P. Manakkara) dengan ujung timur tempat yang direklamasi. Bila ini yang terjadi, akan terjadi pendangkalan di

194

tempat ini. Bila sedimentasi terjadi terus-menerus, maka bukan mustahil terjadi penyatuan antara Pulau Sulawesi dengan karang permukaan di dekatnya. Penyatuan menimbulkan efek beragam. Akan diikuti perubahan pola arus yang lain, yang dampaknya semakin susah diperhitungkan. Bukan hanya itu, navigasi pelayaran akan semakin sulit dilakukan di areal ini. Dengan kata lain, karena kawasan ini dangkal, navigasi tak bebas dilakukan. Tentu ini berefek ke kegiatan maritim (perikanan dan pelayaran) dan juga pada pariwisata. Lama kelamaan akan terjadi penyatuan dengan Pulau Karampuang. Sekali lagi, oleh alam itu bukan hal mustahil. Dilihat di atas tanggul Pantai Mamuju, Pulau Karampuang memang jauh, tapi sebenarnya tidak. Jaraknya hanya sekitar 1,7 km. Arus yang masuk dari sebelah barat Pulau Karampuang juga bisa menimbulkan efek, sebagaimana di timur. Di sini juga ada sungai yang bermuara, yaitu Sungai Karema. Karena ada perubahan pola arus, maka akan ada tempat “baru�, tempat di mana sedimen berhenti. Tempatnya bisa di mana saja, salah satunya adalah areal Pelabuhan Ferry. Kalau perairan ini dangkal, efeknya amat gampang ditebak, feri tak bisa merapat! Apakah semua ini sudah diperhitungkan? Rencana bangunan di atas lahan reklamasi kelihatannya wah. Waterfront, mall, marine boulevard, sandeq sclupture, aquarium, dan lain-lain. Anggarannya pun tak main-main, Rp 200 miliar lebih! Uang itu dari mana? Pasti bukan dari kan­ tong Pemda Mamuju sendiri; bisa dipastikan mengutang. Utangnya dari siapa? Dari penanam modal yang ketika keuntungan telah diperolehnya, mereka tak memikirkan lagi dampak yang terjadi. Lalu ada areal olahraga akuatik. Olahraga apa yang mau dilakukan di teluk ini? Mau menyelam? Mau surfing? Orang mau pamer saja yang bawa papan selancar ke sini. Lalu, ingin ber-banana boat, parasailing? Kayaknya susah sebab tak jauh dari sini ada jalur transportasi feri. Pun tak cocok, sebab pantai Mamuju adalah areal permukiman. Turis bule ke sini, ah, itu mimpi saja! Pemandangan di Teluk Mamuju tak cantik-cantik amat. Pasirnya hitam, banyak sampah, dan banyak mata. Itu tak cocok sebagai obyek pariwisata. Kalau sebagai tempat start Sandeq Race, Pantai Manakarra terbukti mendatangkan turis asing! Lalu katanya akan ada aquarium. Ini tambah lucu. Harus berapa modal yang mesti disiapkan untuk pengadaan aquarium air laut yang memiliki kapasitas kubik raksasa? Terus terang, dari lubuk hati paling dalam, saya menolak reklamasi Pantai Mamuju. Saya belum melihat alasan sehat agar saya menyetujui kegiatan tersebut.

195

Saya tak menolak pembangunan ibukota provinsi Sulbar ini, tapi pembangunan mega proyek yang berpotensi merusak lingkungan dan berdampak sosial tinggi belumlah saatnya! Anggaran tak turun dari langit, tapi diutang sana-sini, jadi pembangunan seharusnya berskala prioritas. Yang harus dilakukan adalah pembangunan sumberdaya manusia. Apa ruginya mendirikan segera kampus Universitas Sulawesi Barat? Kalau memang yang dibangun sarana fisik, jalan saja yang ditambah dan diperbaiki. Mereklamasi pantai padahal lahan kosong melimpah ruah di Mamuju tidaklah relevan. Bukankah salah satu alasan kota Mamuju dipilih menjadi ibukota karena ada banyak potensi lokasi pembangunan di sini? Atau memang kita sepakat untuk menggadaikan Mamuju agar mendapat kebanggaan? Atau yang diperoleh malah kehancuran. Kepulauan Balabalakang: Sulawesi Barat Bagian Belakang? Tak ada banyak yang tahu bahwa Provinsi Sulawesi Barat memiliki kepulauan. Pemahaman di banyak khalayak, Sulawesi Barat (bisa dibaca: Mandar) itu dari Paku hingga Suremana, hanya selatan – utara, di Pulau Sulawesi. Kalau timur – barat apa? Saya belum tahu “kampung” apa yang akan dijadikan sebagai patokan di pegunungan (timur), di pertemuan antara Sulawesi Barat dengan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, dengan batas antara Sulawesi Barat dengan Kalimantan Timur. Yang jelas, kalau di barat, salah satu pulau di Kepulauan Balabalakang-lah yang dijadikan patokan. Mudah-mudahan ada kalinda’da’ kontemporer tentang itu. Perlu juga diketahui, jarak timur – barat lebih jauh dari pada selatan – utara (secara garis lurus), yaitu kurang lebih 300 km untuk “lebar” Sulawesi Barat (timur – barat) dan 260 km “tinggi” Sulawesi Barat (selatan – utara). Jadi luas kan? Untuk sebagian komunitas masyarakat di Sulawesi Barat dan pemerintah, Kepulauan Balabalakang adalah periperal atau pinggiran. Ya, secara geografis memang berada di pinggir. Kalau berada di darat, mungkin masuk kategori pedalaman. Berikut gambaran kasar jarak ke Kepulauan Balabalakang dari kota Mamuju, dengan Kota Balikpapan sebagai perbandingan. Dari Balikpapan, bagian terdekat atau barat kepulauan berjarak 100 km dan bagian terjauh atau timur kepulauan berjarak 187 km. Sedangkan dari kota Mamuju, dari bagian terdekat atau timur kepulauan berjarak 100 km dan terjauh atau barat kepulauan sekitar 200 km. Karena Kepulauan Balabalakang berada di laut dan tak ada akses reguler

196

kesanalah yang membuat banyak orang “emoh” melirik Kepulauan Balabalakang. Tapi beda dengan orang di pesisir Teluk Mandar, khususnya di Kabupaten Majene, tepatnya dari Rangas, Luwaor, hingga Malunda. Banyak dari mereka yang bermigrasi ke sana. Demikian juga nelayan-nelayan Mandar dari kampung lain, biasa berlabuh di beberapa pulau di Kepulan Balabalakang. Biasanya mereka mengambil air minum, menjual hasil tangkapan, dan berlindung dari badai. Jadi, meskipun kepulauan tersebut masuk wilayah administrasi Kabupaten Mamuju, tapi secara kultural, dipengaruhi banyak oleh budaya dari masyarakat yang bermukim di Kabupaten Majene dan Polewali Mandar. Paling tidak ada selusin pulau di Kepulauan Balabalakang, yaitu Ambo (tertulis di peta laut: Balabalagang), Kabaladua, Seturian, Pina’at, Seloang, Melambir, Lamuda’an, Pongpong, Samataha, Sangai, Ambungi, dan Salissingang. Sebagian besar berpenduduk, misalnya di Pulau Ambo yang cukup dikenal di kalangan nelayan Mandar. Berada di periperal, bukan berarti masyarakat di Kepulauan Balabalakang “kampungan” dan ketinggalan. Kehidupan mereka tak jauh beda dengan masyarakat pesisir di Sulawesi Barat. Rumah panggung, ada yang haji, ada elekton, ada VCD player, ada banyak parabola yang sudah digital, kapal motor berukuran sedang, dan kapal kecil yang juga bermesin. Mungkin kalau pulau luas, juga ada mobil (setidaknya saya tidak melihat motor waktu saya ke sana pada awal tahun 2004). Karena lingkungan penduduk adalah laut, maka sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan. Umumnya menangkap ikan-ikan laut dangkal (ikan karang), misalnya sunu atau kerapu, biji nangka, ekor kuning, dan lain sebagainya. Mereka juga menangkap teripang. Lalu ke mana mereka memasarkan hasil tangkapan? Kalau saya penduduk di sana, jelas saya memilih memasarkan hasil tangkapan di Kalimantan Timur, khususnya Balikpapan. Mengapa? Kan di sana harga lebih mahal dan jarak lebih dekat. Kalau ke Mamuju, mungkin karena pertimbangan tertentu baru dipasarkan di sana. Jadi, DKP Kabupaten Mamuju dan DKP Provinsi Sulawesi Barat jangan heran atau marah-marah bila nelayan lebih banyak membawa hasil ke Kalimantan Timur daripada ke Sulawesi Barat. Saya hanya bisa menyimpulkan, birokrat di Sulawesi Barat yang seharusnya mengurusi kelautan dan perikanan tidak memahami lapangan kerja mereka! Wajar, wajar, wajar, penduduk di Kepulauan Balabalakang merasa dianaktirikan. Fasilitas publik yang seharusnya disediakan pemerintah sangat tidak memadai, khususnya pendidikan. Perhatian pun demikian, baik dalam khazanah politik,

197

kebudayaan, dan ekonomi. Saya tidak tahu, apakah bupati Mamuju saat ini sudah pernah ke sana atau belum. Bupati-bupati yang dulu bagaimana yah? Apa yang harus dilakukan? Selain penambahan dan perbaikan sarana-prasarana fisik dan SDM yang bekerja di layanan publik, idealnya pemerintah, lewat perguruan tinggi, mengkaji secara ilmiah kehidupan sosial di Kepulauan Balabalakang. Hasil dari kajian dapat dijadikan sebagai dasar untuk melakukan pembangunan yang tepat di kepulauan tersebut. Dengan kata lain, memberi bantuan tidak hanya disimbolkan dengan anggaran yang banyak, tapi haruslah tepat. Pepatahnya, “Memberi pancing, bukan ikan�. Geografisnya yang berada di lingkungan laut, jauh dari pulau induk, dan kebiasaan masyarakat tentu tidak sama dengan masyarakat di daratan (pulau besar). Misalnya, jika membangun fasilitas sekolah, tentu komposisi semen dengan pasir tidak sama dengan bangunan di darat. Tentu ada pengaruh faktor lingkungan. Demikian juga ketika merekrut guru, petugas kesehatan, dan politik. Mau pakai orang darat, efeknya bisa ditebak: malas masuk kerja atau sama sekali tak pernah ke sana, sebagaimana yang terjadi selama ini. Kalau memang ada SDM yang memenuhi dari Kepulauan Balabalakang, mengapa tidak? Standar SDM pun tidak adil jika harus disejajarkan dengan generasi yang menimba ilmu di darat, yang dilimpahi fasilitas. Singkat kata, SDM dari pulau harus ada perhatian khusus, tapi tidak berarti KKN. Dalam pembangunan perikanan pun, pemerintah jangan hanya mengangankan mendapat banyak retribusi dari nelayan dari Kepulauan Balabalakang. Usul saya, pahamilah dulu kehidupan bahari masyarakat di sana. Kalau langsung membuat cetak biru pembangunan kelautan dan perikanan di Kepulauan Balabalakang tanpa ada kajian mendalam, sama saja bohong. Tak percaya? Ayo, ke Kepulauan Balabalakang! Mandar Nol Kilometer Provinsi Sulawesi Barat belum memiliki titik yang bisa disebut titik 0km, seperti yang dimiliki tempat-tempat lain di Indonesia. Di Makassar, titik 0km adalah Lapangan Karebosi dan di Yogya 0 km-nya terletak di depan Kantor Pos Besar Yogyakarta. Tak ada patokan standar untuk menentukan titik 0 km, tapi biasanya ada nilai sejarah untuk menyepakatinya dan tidak selalu berada di ibukota provinsi bersangkutan.

198

Yang dikenal sebagai titik 0 km di Indonesia antara lain adalah depan Bnk BNI di Yogyakarta, Pulau Weh, Sabang untuk Aceh, Museum Bahari di Jakarta, Lapangan Karebosi di Makassar, Taman Bongkul di Surabaya, Tower Singer di Lampung Selatan, Mercusuar Anyer di Banten, Jl. Asia Afrika, Sumedang di Jawa Barat, dan Bundaran Gladag, Tugu Jam Pasar Gedhe di Solo, Jawa Tengah. Bagaimana dengan Sulawesi Barat? Belum ada kesepakatan bersama. Bagi saya, dan juga sebagai usulan, titik 0km adalah Sungai Mandar. Alasannya jelas, nama sungai ini menjadi dasar penamaan wilayah Provinsi Sulawesi Barat lampau dengan kata “Mandar”. Ada beberapa penafsiran akan arti kata “mandar” (atau “mandaq”), tapi belum ada kesepakatan apa arti kata tersebut di kalangan ilmuwan atau budayawan di Sulawesi Barat. Namun dugaan saya, penyebutan kawasan di “punggung” Pulau Sulawesi ini berdasar dari nama sungai yang bermuara di Teluk Mandar. Ingat, “Mandar” sebagai nama sungai, bukan arti sungai dalam Bahasa Mandar! Referensi tertua pernah saya baca yang memuat kata “Mandar” adalah sebuah peta Portugis yang dibuat pada tahun 1540 atau sekitar 20 tahun sebelum I Manyambungi (maraqdia pertama di Arajang Balanipa) berkuasa (1560 – 1580). Peta itu juga dibuat jauh sebelum Muktamar Tammejarra I berlangsung, yatu pada tahun 1580 di zaman pemerintahan Tomepayung (1580 – 1610). Adapun Allawungan Batu di Luyo terjadi pada tahun 1960 di era kekuasaan Daetta (maraqdia kedua). Dari data tersebut, bisa dikatakan bahwa kata “mandar” bermakna “saling me­ nguatkan” (bila berdasar pada kesepakatan bersatu di Luyo) gugur dengan sendirinya. Sungai Mandar bukanlah sungai terbesar dan terpanjang yang bermuara di Teluk Mandar. Sungai Mapilli atau Maloso masih lebih panjang, lebih 100 km dengan banyak cabang-cabang sungai. Berikut perbandingan dengan sungai utama lain yang ada di Sulawesi Barat: S. Saddang 150 km, S. Karama 150 km, S. Matakali 28 km, Mambi 95 km, Manyamba 28 km, dan Kaluku 32 km. Walau bukan sungai terpanjang, di muara Sungai Mandar berkembang peradaban cikal bakal Pitu Ba’bana Binaga: Balanipa sebagai Bapak, Sendana sebagai Ibu, dan yang dianggap anak ialah Banggae, Malunda, Tappalang, Mamuju, Binuang. Tujuh kerajaan di pantai ini kemudian menjalin persekutuan dengan tujuh kerajaan di pegunungan, yang kemudian lebih dikenal sebagai Mandar. Kebetulan juga, Sungai Mandar bermuara di Arajang Balanipa. Panjang Sungai Mandar kurang lebih 100 km (dalam Polman dalam Angka 2009 panjangnya 90 km, tapi pengkuran yang saya gunakan berdasar Peta Rupabumi

199

skala 1:50.000 dan program Google Earth, panjangnya sekitar 100 km), mulai dari Tinambung sampai sisi timur Buttu Talutuk, yang ke arah barat sejauh 18 km terdapat kota Malunda. Sungai Mandar adalah sungai induk dari beberapa sungai kecil. Yang bisa digolongkan sebagai sungai besar (dialiri air sepanjang tahun) hanya ada tiga, yaitu Lembang Mombi (sekitar 22 km dari muara; panjangnya 20 km), Lembang Umiding (sekitar 25 km dari muara; panjangnya 10 km), dan Lembang Matama (sekitar 27 km dari muara; panjangnya 30 km). Adapun sungai kecil sekitar 30, yaitu (mulai dari arah muara ke hulu): Lembang Saluna, Lembang Soyoang, Lembang Taupe, Lembang Undu, Lembang Durian, Lembang Kayyang, Salu Saloppi, Salu Tillong, Salu Tumbara, Salu Abelli, Salu Kayyang, Salu Pullolo, Salu Marogo, Salu Maluno, Salu Tarruirui, Salu Suete, Salu Ayyubusah, Salu Bussu, Salu Kawakang, Salu Paluwale, Salu Tuang (dekat kampung Taramanu), Salu Malabo, Salu Tapanoang, Salu Kaleuang, Salu Kalamere, Salu Roporale (terdiri dari beberapa anak sungai, yaitu Salu Panji, Salu Tacaropi, Salu Karaka, dan Salu Kalaripo), Salu Lombongan, Salu Panasapiang, Salu Atutang, dan Salu Makulak. Dua sungai besar ‘penyumbang’ Sungai Mandar, yakni Lembang Mombi dan Lembang Matama, juga dialiri beberapa sungai kecil. Lembang Mombi dialiri oleh Lembang Lalodo, Lembang Talepo, Lembang Sinawang, dan Lembang Talolo; Lembang Matama oleh Lembang Luro, Lembang Tawatu, Lembang Samangura, Lembang Samai, Lembang Maulung, Lembang Paittiang (dekat kampung Puppuuring), Lembang Marosong, Lembang Sambawo, Lembang Emeang (dekat Tibung), dan Lembang Malelang. Hulu sungai Lembang Mombi berjarak sekitar 8km dari Pulau Taimanu’ (Pelabuhan Palipi) ke arah timur. Memang kelihatan dekat, sama jarak Majene dengan Tinambung, tapi karena ada perbukitan diantaranya, untuk melintasi kawasan tersebut sangatlah berat. Walaupun Sungai Mandar bermuara di wilayah administrasi Kabupaten Polman, yakni di Kecamatan Tinambung, tapi sebagian kecil sungai ini masuk wilayah Kabupaten Majene, yaitu sepertiga dari panjang Lembang Mombi dan beberapa kilometer bagian hulu Sungai Mandar. Bila dibandingkan dengan sungai-sungai terkenal di dunia yang panjangnya ratusan sampai seribu kilometer, misalnya Sungai Nil (6.695km, terpanjang di dunia), Sungai Amazon (6.683km), Sungai Mahakam, dan Sungai Musi, Sungai

200

Mandar tergolong sungai kecil. Lebar aliran dalam keadaan normal (ada air) jarang sampai 200m, dalamnya pun rata-rata kurang dua meter. Beda beberapa tahun lalu, seperti pada tahun 80-an, bagian Sungai Mandar di sekitar jembatan Tinambung bisa sampai 3-5 meter. Sekarang, hampir sepanjang tahun (kecuali banjir) amat dangkal. Kapal-kapal nelayan paling banter sampai bantaran kampung Sepang atau Kandeapi. Itu pun satu dua saja. Dulu, di sekitar pasar ikan, banyak berlabuh perahu-perahu nelayan. Dari muara (antara Ga’de dengan Para’) sampai ke pertemuan Sungai Mombi dengan Sungai Mandar, rata-rata Sungai Mandar berdasar pasir dan batu-batu kecil. Dari sini hingga ke arah hulu, kebanyakan berupa pasir dan batu-batu besar. Biasanya beberapa ratus meter berupa pasir saja (air tidak terlalu deras), kemudian batu-batu besar atau jeram dengan air yag deras. Di beberapa titik bagian berbatu dijadikan sebagai tempat mandi atau mencuci dan menyebrang sebab dangkal. Tapi bila menggunakan rakit bambu, misalnya di Renggeang, Mombi, dan Matama, itu dilakukan di bagian berair dalam tak berbatu besar. Menyusuri Sungai Mandar di pagi atau sore hari (saya pernah naik rakit dari Allu ke Tinambung, berangkat subuh pada tahun 2008) dapat disaksikan dinamika orang Mandar berkaitan dengan sungai. Di pinggir sungai atau di “turunang� dalam bahasa Mandarnya, ibu-ibu yang hanya mengenakan sarung sebatas dada mencuci pakaian, anak-anak kecil mandi dengan ceria, peternak atau kusir dokar memandikan kudanya, dan penjual air minum mengisi puluhan jerigennya. Yang terakhir ini bisa dilihat di Lawarang atau Lekopa’dis (sekitar 3km dari muara). Tak jauh dari jembatan, para penambang pasir, sibuk menaikkan pasir sungai ke atas perahunya. Sebagai sarana transportasi, energi aliran Sungai Mandar hanya digunakan oleh para penjual bambu. Umumnya mereka berasal dari Desa Allu dan sekitarnya. Biasanya, setiap hari Selasa dan Jumat atau pas hari pasar (Rabu dan Sabtu), mereka membawa bambu dari kebun bambu ke Tinambung. Bambu dirangkai menjadi sebuah rakit yang juga merupakan kendaraan bambu itu sendiri. Selain bambu, biasa juga membawa papan. Kayu ukuran besar atau gelondongan, keadaan sekarang, hampir tak bisa sebab di beberapa titik Sungai Mandar sangat dangkal. Lalu di mana letak titik 0km sebab sebagai Sungai Mandar panjangnya 100km? Tentunya di Tinambung, tepatnya di tengah Jembatan Tinambung. Letaknya sekitar 290 km dari Makassar (ibukota Provinsi Sulawesi Selatan) ke arah utara; 152 km

201

dari Mamuju (ibukota Provinsi Sulawesi Barat) ke arah selatan; 47 km dari Polewali (ibukota Kabupaten Polewali Mandar); dan sekitar 10 km dari Majene (ibukota Kabupaten Majene). Pengusulan persilangan Sungai Mandar dengan Jembatan Tinambung sebagai dasar penentuan titik Nol Kilometer di Sulawesi Barat adalah salah satu usaha mewujudkan Sungai Mandar dan sejarah perkembangan Mandar di Balanipa (Tinambung) di dalam memori kolektif, lewat sebuah simbol. Pasti ada pertanyaan mengapa di situ/di sini letak 0km itu, baik oleh orang luar Mandar, orang Mandar sendiri, dan generasi Mandar masa mendatang? Serta merta jawaban akan diberikan, yang berisi cerita-cerita sejarah peradaban Mandar. Jadi, konsep “Nol Kilometer� adalah aikon budaya pop yang bisa dijadikan media pendidikan dan pencatatan sejarah. Dan itu sah-sah saja.

202

MANDAR DI ATAS PANGGUNG

Ritus Bisikan Ombak

Lima lelaki Mandar berdiri di garis pantai kampung pentranskripsi cerita kuno

La Galigo, Desa Pancana, Barru. Matanya tajam, kulit mengkilat, passappu di kepala, sarung sutra corak perak (sureq salaka), bertelanjang dada. Awan mendung, gerimis. Satu per satu mereka menyapa laut dengan kalinda’da’ yang menggetarkan. Puluhan penonton yang berdiri di tanggul diam, tak ada suara. Sekelebat setelah lelaki terakhir melontarkan kalinda’da, gerakan sigap dan tangguh diperlihatkan lima lelaki tersebut. Mereka bergerak laksana seorang pesilat, jurus mematahkan atau melumpuhkan lawan diubah sedemikian rupa sehingga setiap gerakan diakhiri dengan rantai tubuh satu sama lain dengan menggunakan lengan. Irama bunyi kaki yang menghantam pasir hitam, gesekan sarung sutra, dan diiringi teriakan khas pa’macca, “Tawe’, Ö jagai, Ö eee matingie” terdengar menggetarkan. Gerakankeras tapi indah. Lalu bergerak menjauhi garis pantai ke arah lima rebana yang tergelatak di pasir. Formasi mereka bentuk: dua di kiri, satu di tengah, dua di kanan. Yang di tengah membungkukan diri. Oh, dia berlagak seperti kuda pattu’du. Namun tangan tetap memainkan rebana bersama empat yang lain. Bunyi rebana yang rampak tertabuh bersama dengan gerak tubuh “Hap Ö hap Ö”. Gerakannya dipandu seorang lelaki yang juga mengenakan seragam yang sama. Dia memerankan pawang kuda. Di tangannya ada cambuk. Kembali, satu per satu mempersembahkan kalinda’da, kali ini kepada “kuda” (lelaki yang di tengah). Salah seorang pakkalinda’da juga mempersembahkan syairnya kepada penonton “Oo sayang” terlontar di setiap kalinda’da’nya. Ada yang kaget, ada yang tersenyum-senyum mendapat persembahan mendadak itu.

203

Setelah itu, mereka duduk melingkar untuk kemudian berbaring melentang. Perlahan tubuh bagian atas diangkat sambil mengucapkan “Lailahaillallah”. Suasana berubah menjadi mencekam. Di atas adalah gambaran dari penampilan seniman Mandar, yang diwakili Komunitas Sure’ Bolong dan Teater Flamboyan, di acara Sastra Kepulauan dan Kampung Budaya VII, Desa Pancana, Kabupaten Barru, 16 Mei 2009. Mereka memainkan teater berjudul “Bisikan Ombak”. Dalam sinopsis yang dibagikan kepada penonton, plus golla kambu, terdapat syair: Ada suara tak berbentuk // Ada bunyi tak berirama // Ada deburan tak kunjung tepi // Ada ombak tak berbisik // Ada laut hempasan amarah // Dari isi perut // selalu dijamah // Ada laut hempaskan duka // Meski suka selalu datang // Biarkan rebana dan kalinda’da // Biarkan kuda pattu’du dan passapu // Menyapa ombak tak bersuara (oleh: Ishaq Jenggot). Lima lelaki diperankan Ishaq Jenggot, Dalif Palipoi, Rifai Husdar, Rahman Badaikata Ba’aziyasah, dan Kapucino. Pawang oleh Abed Mubarak, dukun yang mengawali ritual oleh Attank Lacca’ Lino dan Abu Madyan. Persiapan properti dan dokumentasi oleh Ical Madyan, Ical Tulumelo, dan Kadri. Permainan sama namun lokasi yang berbeda dilaksankan keesokan harinya, di muara Sungai Pancana. Kali ini disaksikan ratusan pasang mata peserta kegiatan dan beberapa seniman Sulawesi Selatan, lebih menggetarkan, dan dramatis. Selesai menyapa “penjaga” sungai dengan kalinda’da, mereka melompat ke sungai. Lima lelaki kemudian melakukan gerakan memanggil penghuni air, yang juga permainan di sungai oleh anak-anak Mandar. Tak lama setelah itu, gerakan ma’macca’ kembali dipertontokan. Penonton diam terkesima. Tiba di darat, dikelilingi penonton yang penasaran, mereka mengenakan sarung sutra sure’ salaka. Gerakan saeyyang pattu’du dan permainan rebana dilakukan. Menarik, karena tubuh basah kuyup. Di beberapa tempat di tubuh terdapat lumpur. Apa yang ditampilkan Komunitas Sure’ Bolong dan Teater Flamboyan laksana sihir, banyak yang terkesima. Dengan cerdas mereka mengkolaborasi beberapa puncak kesenian Mandar dalam satu permainan teater, yaitu: rebana, pencak silat, saeyyang pattu’du, kalinda’da, dan ritus-ritus mistik. Banyak penonton yang beranggapan bahwa apa yang diperlihatkan putraputra Mandar bukanlah permainan semata, melainkan sebuah praktek mistik. Saat mereka melafazkan barzanji dan Lailahaillallah, mereka terpana. Dan ketika para

204

pemain menyapa sungai di akhir permainan, tampak seekor ikan besar melompat ke atas permukaan. Ada yang beranggapan sang ikan mengucapkan terima kasih kepada pemain. Ya, wajar saja sebab dalam beberapa gerakan, putra Mandar melakukan ritus pemanggilan penghuni air. Di sisi lain, sebagaimana yang saya saksikan sebelum para pemain menuju tempat penampilan, terlebih dahulu mereka bershalawat dan berdo’a. Artinya, mereka tak semata-mata bermain teater dan menghibur penonton, tapi mereka juga menjadikan karya dan karsa seni mereka sebagai ibadah. Inilah yang membedakan roh penampilan antara seniman dari Mandar dengan utusan lembaga/daerah lain. Suasana mistis selalu tercermin ketika seniman Mandar yang bermain, itu anggapan beberapa seniman Makassar. Malah penduduk di Desa Pancana menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh putra-putra Mandar dapat mendatangkan kembali ikan yang tujuh tahun terakhir ini tak banyak terlihat di muara Sungai Pancana. Wallahualam. Sepuluh Anak Mandar Menyihir Jakarta Kamis, 2 Juli 2009. Tak terlupa bagiku. Pertama kali air mata saya menetes di awal hari. Terjadi lama, bukan atas sedih. Bukan “mellow”, tapi gara-gara tingkah sepuluh anak kecil! Sehari sebelumnya, Rabu, 1 Juli 2009 sepuluh anak Mandar yang udik (istilah kasarnya “kampungan”) untuk pertama kalinya meninggalkan ratusan kilometer tanah lahirnya, menuju Makassar. Lalu terbang lebih seribu kilo menyeberang Selat Makassar, Laut Jawa. Di atas pesawat, tingkah mereka sesekali memalukan bagi orang dewasa yang mendampinginya. Anak kecil penuh rasa penasaran. Tak kuat menahan aroma AC, ada yang muntah, dan teriak-teriak untuk mengabarkan ke temannya akan apa yang mereka saksikan. Jengkel tapi menggemaskan. Demikian kesan yang diceritakan sahabat saya, Pai dan Sahabuddin, pembina mereka. Tibalah mereka di kota terbesar di Indonesia: Jakarta. Jauh melampaui apa yang dilakukan orangtua mereka, yang sebagian pemain musik tradisional, “parrabana”. Orang tua mereka, paling jauh bermain rebana hanya tak mendekati sedikit pun apa yang dilakoni anak-anak mereka. Saya sendiri baru dating dari Malaysia, transit di Bali. Karena aka nada kegiatan penting di Jakarta, Pai meminta saya untuk meluangkan waktu ke Jakarta. Seperti biasa, mendokumentasikannya. Kami pun janjian untuk bertemu di Bandara Sukarno Hatta. Rasa penasaran dikalahkan perasaan mabuk dan capek. Wajah lusu di sebagian

205

anak, sebagian lagi ceria. Naik ke atas bis, bagaikan petaka untuk beberapa anak. Harus berhadapan lagi udara yang asing: AC. Ada tangan yang tetap menempel di hidung, menghalau rasa tak enak. Satu tak kuat, muntah. Wajah pucat. Baju barunya dilumeri muntah kuning. Sahabat yang juga guru mereka, Sahabuddin dan Pai seketika berubah menjadi ayah. Setia merawat, membersihkan isi perut yang keluar dan melumer di dada anak didiknya. Bis melewati pencakar langit Jakarta, di atas jalan tol. Sadarkah anakanak ini bahwa mereka berada di jantung ibukota negerinya? Bis tiba di Hotel Mega Matra, di Jl. Matraman Raya. Ada banyak orang, dari pelosok tanah air. Salah satu anak dari Mandar sempat nangis sebab tiba-tiba dibangunkan dari tidurnya di kursi bis. Kaget rupanya. Untung dia segera sadar bahwa dirinya berada di luar daerah manjanya. Rengekannya mereda. Lobi sesak dengan orang serta alat musik. Mereka dan kami adalah peserta Festival Nasional Musik Tradisional Anak-anak Indonesia. Kami adalah sepuluh anak (Agung Munir, Ilman, Usman, Muliadi, Adnan, Anto, Mursyid, Udin, Jabal Nur, Aswar), satu pelatih (Sahabuddin Mahganna), beberapa ofisial (Rifai Husdar, Andi Sami Nursada MP, SE, dan dua staf dari Dinas Budpar Provinsi Sulbar), dan Anca (juru rias). Adapun saya hanya membantu mendokumentasikannya. Air mataku menetes, lama. Anak-anak yang polah alaminya sesekali membuat sedikit repot berubah menjadi hebat pagi ini. Area parkir hotel menjadi saksi. Bunyi rempak rebana, gerakan, dan salawat membuat bulu kuduk berdiri. Entah berapa cc airmataku keluar. Terus kurekam apa yang mereka pancarkan. Perasaaan apa yang kualami? *** Gedung Kesenian Jakarta. Seniman hebat pernah pentas di sini. Arifin C. Noer, Harry Roesli, Putu Wijaya, dan puluhan maestro lain, dalam dan luar negeri. Percayakah ratusan anak Nusantara, sepuluh diantaranya “laskar Balanipa� (meminjam istilah Adi Arwan untuk mereka), akan beraksi di panggung yang sama dengan nama-nama besar di atas? Harus percaya, sebab saat tulisan ini saya buat, sepuluh anak Mandar telah mengenakan pakaian kebesaran mereka: baju dan celana merah, passappu dari sutra sure’ salaka. Pakaian elegan, hebat. Desain oleh Andi Sami. Beliau salah satu kepala bidang di Dinas Budpar Kabupaten Polman. Tapi semalam kesan itu tak ada. Semalam, dirinya laksana seorang ibu menyiapkan penuh rasa sayang pakaian untuk

206

anaknya yang akan memperlihatkan kepada dunia betapa hebatnya budaya Mandar. Jemarinya menjahit kain keemasan di kain merah yang akan memberi kesan jantan untuk putranya. Dari sore sampai larut malam. Beliau cantik, penyayang, dan hebat! Di balik “stage” (panggung, tapi jangan bayangkan panggung terbuat dari kayu atau rangka besi) Gedung Kesenian Jakarta. Rasa cemas, stres, deg-degan bercampur jadi satu di hati kami, orang Mandar dewasa yang mendampingi sepuluh anak hebat Mandar. Mereka ceria tanpa beban. Rawanau (bisa juga dibaca “Rabanau”), judul permainan musik yang akan dimainkan sepuluh anak Mandar yang lugu. Artinya, “rebanaku”. Merupakan karya kesekian seniman muda berbakat, Sahabuddin Mahganna. “Di sini kami lahir di sini kami bernafas. Berdiri dan melangkah meskipun hanya membran kau tetap harapan tempat kami bercanda gembira, damai dan sejahtera”, demikian sinopsis atas “Rawanau”. Sepuluh anak Mandar melakukan gladi beberapa jam sebelum acara dimulai. Sama seperti latihan di tempat parkir di atas, juga menggetarkan. Dari sekian utusan provinsi yang melakukan gladi hari ini, sepertinya hanya anak Mandar yang mendapat aplaus. Jumat, 3 Juli 2009, pembukaan Festival Nasional Musik Tradisional Anak-anak Indonesia. Sebelum pembukaan, tampil lima provinsi. Setelah pembukaan, lima provinsi. Antara lain Bali, Sumatera Utara, Maluku, NTT, Jambi, Jawa Tengah, dan lain-lain. Sulawesi Barat berada di urutan ke-9 untuk tampil. Rencana awalnya keenam. Entah alasan apa mengapa diundur ke belakang? Mudah-mudahan karena daya tarik yang dipancarkan di saat gladi membuat panitia berinisiatif menempatkan yang hebat-hebat di belakang. Bukankah selalu begitu? Bali tak ada apa-apanya, membosankan. Yang lain juga, misalnya Jambi yang kehebatannya dikoar di salah satu koran di sana. Sebelum penampilan Sul-Bar, yang menarik dan mendapat tepuk tangan penonton di sela-sela permainan hanyalah NTT. Diakui, irama musik dan gerakan menarik. Saya, Pai dan Adi Arwan (Ketua Dewan Kebudayaan Mandar, kebetulan ada acara di Jakarta) semakin deg-degan. Kami bertiga berada di depan, sisi kiri panggung. Adapun Sahabuddin, Andi Sami, H2O (peserta KDI yang kembar itu), dan beberapa orang Mandar lainnya ada di belakang panggung menemani anak-anak. Di depan, saya telah menyiapkan kamera video dan foto. Mudah-mudahan tak ada masalah. Gong berbunyi, tanda batas waktu peserta telah selesai; tanda agar peserta berikutnya siap tampil. Ruangan gelap, sunyi. Perlahan tirai panggung terbuka,

207

cahaya lembut perlahan muncul. Sosok anak kecil di tengah panggung berdiri membungkuk, seakan mencari-cari kawannya. Sedetik kemudian memanggil teman-temannya dengan bahasa Mandar. Sejurus, rempak rebana yang menggetarkan jiwa memenuhi isi ruangan. Tata suara amat bagus. Dari sisi kanan-kiri panggung, delapan anak kecil berbaris memasuki tengah panggung sambil memainkan rebana. Sekeping bunyi Mandar tiba-tiba berada di Jakarta, di ruang magis Gedung Kesenian Jakarta. Hati bergetar, mata seakan tak mau berkedip. Takut kehilangan momentum. Formasi dibentuk, gerakan alami memancar dari tubuh. Penguasaan panggung berhasil. Ada dua “trap” (panggung kecil). Masing-masing diatasnya duduk dua parrabana keccu. Duduk khas sebagai parrabana sempurna adanya. Apakah mereka berubah menjadi orang besar? Tatapan senyum berhiaskan pandangan lugu me­ nandakan mereka masih anak kecil. Indah. Rempak musik semakin membahana. Tak lama kemudian, muncul pemain terakhir. Menari-nari sambil membawa alat musik “gero-gero”. Bunyi khasnya terdengar, menjadi irama bersama rebana. Dia menyambangi satu per satu par­ rabana kecil. Lincah gerakannya. Mirip pa’dego yang dikolaborasi dengan gerakan “macca’” (silat). Ajaibnya, mereka juga cakap makkalinda’da’. Wow, hebat! Mandar tidak lagi sekeping di ruangan. Sihir sepuluh anak kecil menyulap ruangan ber-aura Mandar. Kesekian kalinya, air mata menetes. Pai terpaku, Adi Arwan juga. Di saat salah satu penari digotong, sebagai salah satu antraksi, mata Adi Arwan, yang juga Ketua Komisi Penyiaran Daerah Sulbar, berkaca-kaca. Aksi sepuluh anak kecil membuat ratusan penonton terkesima. Bagiku, aksi di acara Sang Master di RCTI tak ada apa-apanya dibanding apa yang diperlihatkan seniman kecil Mandar. Tepuk tangan membahana, terus terjadi di saat pemain yang tergabung dalam kelompok seni musik “One do” (baca “wando”) memunculkan aksi-aksi kreatifnya sambil tetap bermain rebana dan calong. Sebagai anak kecil tetap ada, membuat penonton tak habis pikir. Anak sekecil itu bisa bermain musik dengan penguasaan hampir sempurna. Komposisi musik dan gerakan mencerminkan karya grup-grup rebana di Mandar, semisal Tammengundur dan At Taqwa. Semangat seniman di Mandar terasuk ke jiwa mereka. Itulah sebab, seakan berada di Mandar menyaksikan dan mendengarkan permainan rebana sepuluh anak Mandar di Jakarta. Sepuluh menit tak terasa berlalu. Penampilan hampir ideal sebagaimana yang

208

diharapkan. Sepuluh anak Mandar tampil mengesankan. Tepuk tangan riuh dan lama mengiringi antraksi penutup mereka. Dengan sikap membungkuk (hormat), mereka mundur meninggalkan panggung. Laksana ninja-ninja yang awas. Mengesankan siapapun yang menyaksikannya. Terima kasih Agung Munir, Ilman, Usman, Muliadi, Adnan, Anto, Mursyid, Udin, Jabal Nur, Aswar. Anda generasi Balanipa, Mandar. Telah mewarisi salah satu puncak kesenian Mandar. Bukan suatu kebetulan Anda dipercaya mewakili sekian ribu anakanak di Mandar untuk tampil di tempat terpilih di Jakarta. Kukabarkan kepadamu, yang pernah tampil di Gedung Kesenian Jakarta adalah maestro. Beberapa hari lalu, Emha Ainun Nadjib; sebelum-sebelumnya seniman besar nan jenius. Dalam proses, Anda memang membuat jengkel dan malu pelatih/pen足dam足 pingmu, tapi itu sirna, tenggelam ke laut, tak berbekas sebab Anda orang-orang hebat. Ya, lucu, lugu, tapi itulah warnamu. Kami cemburu tak bisa menyampai prestasimu di kala seusia. Dulu kami hanya menari tingkat kecamatan, sesekali ke Makassar. Tapi dirimu, ke Jakarta. Kalau besar mungkin ke Eropa. Bukan hanya kami yang cemburu, tapi orangtuamu pun demikian. Bapakbapak dan saudara-saudaramu sebagian besar hanya beberapa kilometer dari tanah kelahirannya untuk bermain rebana, bermain calong. Dirimu, yang nakal, iseng dan ABG saja belum, jauh melampaui. Terima kasih buat Sahabuddin Mahganna, penata musik, penata gerak, dan orangtua atas sepuluh laskar Balanipa. Kejeniusan, semangat, dan ketegasan hati mengharumkan Mandar. Banyak yang tak tahu itu. Aktor terbaik di Festival Teater Mahasiswa di Makassar beberapa tahun lalu. Sebagai pioner, bersama Dalif Palipoi, agar maestro-maestro turun gunung. Entah kehebatan apa lagi. Saya yakin masih banyak yang ada di benak. Pai atau Rifai Husdar. Birokrat muda yang sebagian waktunya dicurahkan demi kesenian Mandar. Tak ada even besar kesenian di Balanipa Mandar yang tak ditanganinya. Begitu lincah, dinamis, empati, sigap. Bisa di segala tempat. Bisa sebagai pemain, koordinator, pembawa acara, sutradara, dan pendamping. Kehalusan hati terlihat dalam menjaga sepuluh putra hebat Balanipa. Terima kasih. Sepuluh anak, Sahabuddin, Rifai Husdar seakan tak berdaya bila tak ada Andi Sami. Putri almarhum Masdar Pasmar. Keikhlasan tak diragukan, rasa sayang mengesankan, bantuan materi tak ternilai, dan kepedulian terhadap budaya Mandar menjadi pondasi terkuat yang membangun kehebatan anak-anak Mandar di panggung Jakarta. Bila dinas-

209

dinas Kebudayaan dan Pariwisata lain di Majene, Mamuju, Mamasa, Mamuju Utara, dan khususnya Sulawesi Barat memiliki sosok Andi Sami, dikenal dan dikenangnya budaya Mandar di seantero Nusantara tinggal menunggu waktu. Awal Juli 2009 di Indonesia menjadi berbeda berkat jasa orang-orang di atas. Kurela terbang ratusan kilo demi bisa menyaksikan dan mendokumentasik sinergi kehebatan orang-orang di atas. Kuberjanji untuk menularkan energi itu ke saudaraku, orangtuaku, sahabatku, kekasihku, teman-temanku, saudaraku, dan generasi Mandar yang lain. Mari berterima kasih atas jasa saudara Mandar kita yang kreativitas, peluh dan airmatanya mengagungkan Mandar; mari mendoakannya agar mereka salah satu yang terbaik di Nusantara. Di Balik Layar Kemenangan di Pawai Budaya Nusantara Selasa, 18 Agustus 2009, untuk kedua kalinya Provinsi Sulawesi Barat menorehkan sejarah: menjadi terbaik dalam Pawai Budaya Nusantara (PBS) 2009 yang dilaksanakan di halaman Istana Negara. Di depan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, beberapa menteri, beberapa duta besar. Sejarah yang harus dicatat dengan tinta emas sebab itu kali kedua provinsi termuda ini menjadi terbaik (terbaik lain tanpa peringkat Bali dan jawa Timur). Tahun sebelumnya, juga terbaik pertama! Ya, berhasil mempertahankan posisi terbaik di antara 32 provinsi lain. Bukan langkah muda! Provinsi “anak bawang� ini bagai “the rising star� (bintang yang meluncur dengan kecepatan tinggi) di antara kekuatan pemain-pemain lama dalam dunia seni budaya Nusantara. Ambil misal Bali, Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Papua. Saudara tuanya, Sulawesi Selatan, tak ada apa-apanya. Kejadian di 18 Agustus 2009 hanya terjadi kurang dari tiga menit! Laksana puncak bukit yang terlihat di atas permukaan. Bagian bukit yang lebih besar ada di bawah permukaan. Ya, proses seringkali tak terlihat, tak diindahkan, tak diperlukan lagi sebab yang dianggap paling penting adalah kemengan itu sendiri. Bagi saya, kita, khususnya masyarakat Mandar, harus membiasakan diri untuk menganggap proses sebagai bagian yang diutamakan. Sebab itulah pondasi dari apa yang diperoleh. Tulisan ini adalah persaksian saya saat terlibat dalam proses panjang dan lama sebelum tim Sulawesi Barat tampil di Istana Negara. Ada banyak kejadian yang harus kita ketahui dan pahami agar kemenangan yang kita peroleh adalah atas keterlibatan banyak pihak, yang seringkali, tertutupi oleh banyak hal. Dan telah

210

menjadi sebuah keharusan bahwa yang tokoh kemenangan adalah pejabat. Bukan, bukan, bukan itu. Apa yang diperoleh adalah kerjasama dari banyak pihak, dari hulu hingga hilir. Apa yang telah diberikan harus diapresiasi sederajat. Dan yang paling penting adalah semakin mendalam pemaknaan atas simbolsimbol kemandaran yang diusung dalam pawai tersebut. Sandeq, roppong bukan hanya benda semata, dan sibalippariq bukan praktek semata. Tapi, hal-hal itulah yang sedikit banyak membedakan sifat kita sebagai seorang Mandar di tengah ratusan etnis di Nusantara. Betulkan kita kreatif sebagaimana manusia-manusia Mandar dulu menemukan roppong dan memodifikasi pakur-nya menjadi sandeq? Betulkah keluarga di Mandar sekarang mempraktekkan sibalipparriq? Lalu bagai­ mana membumikan keteguhan hati seorang posasiq ketika melaut, bahwa “Lebih baik tenggelam, perahu hancur daripada balik ke pantai”? Betulkan siriq dan sikap tomalaqbiq masih menjiwai keseharian kita? Tulisan ini saya persembahkan untuk orang-orang yang terlibat di balik layar kemenangan, yaitu sekelompok komunitas Mandar yang memiliki/mempraktekkan budaya-budaya Mandar yang mana hal tersebut menjadi tema tim Sulawesi Barat saat bertarung di Jakarta. Mereka adalah para nelayan, tukang perahu, kaum wanita di pesisir, dan penenun. Berikutnya adalah seniman-seniman yang menjadi ujung tombak kemenangan, mulai dari adik-adik penari di Polewali hingga teman-teman seniman di Tinambung. Khusus kepada komunitas yang mempraktekkan langsung kebudayaan Mandar yang ditampilkan di Istana Negara dalam kehiudupan sehari-hari, harus kita ingat dan catat dalam memori kolektif masyarakat Mandar, bahwa merekalah pemenangnya, orang-orang biasa yang seringkali kita anggap tak berpendidikan, tak kreatif. Kita-kita, yang ke Jakarta, hanya “meminjam” sekeping kebudayaan mereka. Ya, hanya sekeping yang kita perlihatkan ke dunia, tapi itu sudah dianggap hebat. Akan bagaimana bila kita melihat kebudayaan saudara-saudara kita itu secara lebih mendalam? Pasti jauh lebih dahsyat! Logikanya, mereka jauh lebih hebat, kita tak ada apa-apanya sebab kita hanya peminjam. Bisa saya pastikan, 99% anggota tim Sulawesi Barat yang ke Jakarta tak bisa melayarkan sandeq, 90% tak pernah melihat roppong (rumpon), dan 99% tak bisa menenun sarung sutera. Hanya seorang lelaki dari Pambusuang, bernama Kale, yang bisa melayarkan sandeq; dan hanya Zam Zam, cucu maestro “parraban tobaine” Cammana, yang bisa menenun kain sutra.

211

Ide konsep Saat itu saya sedang berada di Lamalera, Flores untuk melakukan riset perburuan ikan paus, Dalif Palipoi (seniman muda Mandar, dari Lambe, berkat jasanya, kesenian tradisi Mandar bangkit kembali dan diperhatikan banyak pihak) mengirim kabar keberhasilan Sulawesi Barat menjadi tim terbaik dalam Karnaval Budaya Nusantara 2008, 19 Agustus 2008.. Tim Sulawesi Barat menang sebab menampilkan kebudayaannya yang unik, yakni “saeyyang pattuqdu”. Menurut beberapa pihak yang terlibat, kemenangan itu di luar dugaan. Sebab bila melihat penampilan, tim Sulawesi Barat hampir tak ada apa-apanya bila melihat penampilan provinsi lain, khususnya ke-kolosal-an tarian dan artefakartefak pawainya. Tapi karena membawa budaya yang unik, yakni empat ekor kuda yang bisa menari-nari diiringan musik rebana, Sulawesi Barat menjadi nomor satu, menyisihkan 32 provinsi lain. Balik dari Flores, saya menemui Rifai Husdar (aktivias kesenian Mandar, seangkatan dengan Dalif, yang menjadi motor beberapa gerakan kesenian di Balanipa, termasuk PBN 2009 ini). Kebetulan saat itu saya lewat depan rumahnya dengan menggunakan sepeda, ketika saya keliling kota Tinambung melakukan pemetaan dengan menggunakan GPS. Dari dia, saya mendapat cerita banyak tentang acara Karnaval Budaya Nusantara 2008, mulai dari persiapan, suka-duka naik pesawat Hercules bersama empat ekor kuda pattuqdu, hingga hal-hal lucu ketika “mesarung” (mengapit kuda pattuqdu guna menjaga dua wanita yang duduk diatasnya). Dalam salah satu pembicaraan, saya mengidekan konsep kemaritiman Mandar, khususnya aikon (icon) sandeq dan “panette” (penenun kain sutera) untuk karnaval tahun mendatang (2009). Pai, panggilan akrab Rifai, menyambut antusias. Ya, saya dan dia sering mendiskusikan banyak ide, termasuk ide Monumen Sandeq (sementara) di depan Tasha Center. Kala itu, saya menyampaikan ide tersebut di atas bis, menuju Makassar dalam rangka pencarian dana Sandeq Race 2007. Tidak lama kemudian, idenya terwujud. Bapak Tashan Burhanuddin mengusung perahu sandeq ke Tasha Center untuk kemudian memajangnya di halaman. Ide tema karnaval budaya untuk tahun 2009 kemudian dipermatang saat ada undangan dari pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Barat kepada beberapa budayawan Mandar untuk membicarakan ide tema karnaval mendatang dan lokasi Taman Budaya di Sulawesi Barat dalam acara “Silaturrahmi Gubernur Sulawesi Barat dengan Para Budayawan dan Tokoh Masyarakat se-Sulawesi Barat”, 24 November 2008.

212

Dalam perjalanan ke Mamuju, dengan menggunakan laptop, bersama Pai, saya mempresentasikan konsep kemaritiman Mandar kepada Bapak Muchtar Kanai, Hamzah Ismail, dan beberapa teman yang juga ada di atas mobil. Kami menyatukan pendapat sebelum tiba di Mamuju. Dengan kata lain, ide tersebut harus disepakati dan dipertajam untuk kemudian diperjuangkan dalam diskusi nanti. Singkat kata, setelah acara formal pertemuan dengan Gubernur Sulawesi Barat, Adnan Anwar Shaleh, diskusi untuk membicarakan dua hal di atas dimulai. Peserta dibagi dua kelompok, kelompok “Taman Budaya” dan kelompok “Tema Karnaval”. Tim dari Polewali Mandar yang semuanya diwakili teman-teman seniman dan budayawan Tinambung, dibagi dua. Saya dan Pai diplot ke “Tema Karnaval”, yang dipimpin Muchtar Kanai. Adapun kelompok “Taman Budaya” dipimpin Adi Arwan Alimin, Ketua Dewan Kebudayaan Mandar. Khusus dalam kelompok “Tema Karnaval”, saya mempersiapkan konsep dan ide dalam bentuk presentasi film sandeq dan beberapa kebudayaan Mandar lain. Adapun saudara Pai yang melempar ke peserta diskusi. Gaya bicara dan narasi Pai ketika berbicara di depan umum jauh lebih baik dibanding saya, jadi kalau tugas bicara-bicara, Pai saja. Saya siapkan saja dari belakang. Karena sudah matang dari awal, baik di diskusi kelompok “Tema Karnaval” maupun dalam diskusi akhir yang melibatkan dua kelompok, proses peng-idean dan persetujuan atasnya berjalan sangat lancar. Tak ada tantangan, semua pihak menyetujui aklamasi. Kesimpulannya, disepakati tema karnaval budaya tahun 2009 mendatang menggunakan aikon “sandeq”. Diidekan di salah satu ruas jalan di jantung kebudayaan Mandar yakni di Balanipa, dimasak di atas mobil dalam perjalanan dari Tinambung menuju Mamuju, dan dimatangkan di Gedung PKK Sulawesi Barat di Mamuju. Hasil keputusan di atas, termasuk kesepakatan lokasi Taman Budaya Mandar nantinya bertempat di area perbatasan Kabupaten Majene dan Kabupaten Polewali Mandar (atau Balanipa lama secara umum) lama terendap dan sempat menjadi polemik, sebab hasil keputusan tersebut terindikasi dimentahkan kembali beberapa pihak, khususnya lokasi Taman Budaya, oleh beberapa individu di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Barat. Katanya, Taman Budaya tidak di Balanipa, tapi di Mamuju. Hal ini membuat teman-teman seniman kecewa. Hingga kemudian ada ide untuk memboikot semua kegiatan berkesenian yang mengharapkan peran serta seniman dan budayawan di Tinambung bila ide tema karnaval dan lokasi Taman Budaya diingkari.

213

Setelah polemik Taman Budaya dilempar ke media massa, rencana pengalihan tersebut menjadi mentah. Beberapa anggota DPRD Sulawesi Barat tetap mendukung Taman Budaya nantinya di Balanipa, bukan di Mamuju sebagaimana harapan pribadi salah satu pihak di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Barat. Singkat cerita, rencana boikot tidak terjadi sebab ide pemindahan hanya pendapat pribadi, belum menjadi keputusan Pemerintah Sulawesi Barat. Alasan lain, keputusan tentang tema karnaval yang akan mengusung sandeq tetap jadi. Akhirnya, keputusan final akan tetap mengusung sandeq terjadi pada 16 Juli 2009 di pertemuan Gedung PKK Sulawesi Barat yang dipimpin Ketua Penggerak PKK Sulawesi Barat, dihadiri Sekretaris Daerah Sulawesi Barat, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Barat dan semua perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata lima kabupaten yang ada di Sulawesi Barat. Persiapan Hanya Satu Bulan Sebelumnya, beberapa hari saat saya baru datang dari ekspedisi The Sea Great Journey, Mandar – Jepang, malam-malam Pai datang ke rumah saya. “Kak Iwan, kita harus ke Mamuju esok mendampingi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Polewali Mandar untuk membicarakan Karnaval Budaya 2009”. Pai datang ke rumah sebab, sebelumnya, di kantor Dinas Budpar Polman datang undangan dari Dinas Budpar Sulawesi Barat untuk membicarakan ide tema karnaval bersama istri Gubernur Sulawesi Barat. Kebetulan saat itu, Pai dan Pak Hamzah Ismail ada di Polewali untuk suatu acara. Oleh pihak Budpar Polewali Mandar, keduanya diminta datang ke kantor Budpar Polman. Pai dan Pak Hamzah lebih tahu sejarahnya tentang ide tersebut dibanding pihak Dinas Budpar Polman. Sempat terjadi diskusi hangat sebab di dalam Petunjuk Teknis yang datang dibawa dari Mamuju oleh staf Dinas Budpar Sulbar (juknisnya sendiri datang dari Jakarta), Sulawesi Barat akan mengusung ide “Selendang Pattuqdu”, suatu kata aneh. Selendang Pattuqdu? Apa itu? Lalu bagaimana dengan ide sandeq? Nah, agar pertemuan di Mamuju nantinya ide sandeq bisa diperjuangkan dengan baik, pihak Budpar Polman mengharapkan kehadiran saya, baik sebagai peneliti sandeq dan konseptor ide, maupun sebagai pihak yang terlibat dalam pertemuan. Dan yang paling penting, saya ada amunisi dokumentasi audio-visual pertemuan 24 November 2008 lalu. Bila terjadi pengingkaran atas ide sandeq, maka saya akan memperlihatkan dokumentasi tahun lalu. Bahwa inilah kesepakatan tahun lalu. Nanti Pai yang bertugas menembakkannya ke forum. Ya, itulah skenarionya. Dalam waktu mepet, saya harus bongkar-bongkar dokumentasi, khususnya 214

foto dan film pertemuan lalu dan tentang kebudayaan maritim Mandar, khususnya sandeq dan kegiatan menenun sutera. Maka, pada tanggal 16 Juli 2009, saya dan Pai mendampingin Andi Masri (staf di Budpar Polman yang diutus mewakili Kepala Dinas Budpar Polman) menuju Mamuju, dalam pertemuan bersama Ketua Tim Penggerak PKK Sulbar, Sekda Sulbar, dan perwakilan Dinas Budpar Kabupaten Majene, Mamuju, Mamuju Utara, dan Mamasa. Uniknya, yang juga menyimbolkan kesiapan konsep dan sumberdaya manusia, hanya Kabupaten Polewali Mandar yang membawa konsep tema karnaval dalam bentuk tulisan dan membawa dua “konsultan dadakan�, yakni saya dan Pai. Dikarenakan persiapan yang matang di atas, Ketua Tim Penggerak PKK Sulbar dan Sekretaris Daerah Sulbar mempercayakan Kabupaten Polman sebagai tim yang mewakili Sulawesi Barat dalam Pawai Budaya Nusantara 2009 Agustus mendatang dengan mengusung aikon sandeq bersama simbol-simbol peran kaum perempuan Mandar di komunitas maritim, yakni panetteq. Awalnya tim yang akan mewakili berasal dari unsur Kabupaten Majene dan Kabupaten Polewali Mandar, namun mempertimbangkan waktu yang sempit (pas satu bulan), makan ditentukan Polewali Mandar saja. Bukankah konsep dan sumberdaya manusianya sudah siap? Kalau libatkan Majene, tanpa bermaksud menafikan kesiapan SDM di sana, dikhawatirkan kekurangcocokan yang sering terjadi di kolaborasi-kolaborasi sebelumnya terjadi lagi. Sejak diputuskan di Mamuju (November 2008) bahwa akan mengusung aikon sandeq, beberapa teman di Tinambung telah memulai perancangan akan konsep garapan. Tapi belum matang betul, misalnya belum menunjuk individu yang akan berperan. Namun dengan adanya konsep dan pensosialisasiannya, senimanseniman di Mandar yang biasa dilibatkan dalam berkesenian telah siap. Namun hampir saja hal itu menjadi sia-sia ketika lama tak ada kabar mengenai rencana kegiatan di Jakarta, hingga kemudian ada undangan dari pihak Provinsi Sulawesi Barat untuk menghadiri acara diskusi di Mamuju mengenai karnaval budaya. Asmadi Alimuddin, staf Budpar Sulawesi Barat yang juga budayawan Mandar alumni Institur Senin Indonesia, Yogyakarta sering mengingatkan saya untuk segera mendesain konsep garapan. Namun hal itu belum saya lakukan secara serius sebab ada banyak kesibukan, khususnya pelaksanaan ekspedisi The Sea Great Journey Mandar – Jepang. Dengan kata lain, ada kemungkinan saya tidak terlibat dalam acara pawai budaya yang akan dilaksanakan.

215

Alasan lain, konsepnya sih sudah jadi di otak, tinggal bagaimana menso­ sialisasikan hal tersebut kepada pihak lain, khususnya teman-teman seniman yang akan dilibatkan dan pihak pemerintah. Kan belum terlalu mendesak saya buat bahan presentasinya bila belum ada kejelasan pelaksanaannya. Walau demikian, sering kali saya menukar ide dengan Dalif tentang konsep garapan bila muncul pembicaraan tentang hal itu. Singkat kata, bahan sudah ada, tinggal diolah. Sebelum ke Mamuju untuk menghadiri pertemuan dengan Ketua Tim Penggerak PKK Sulbar, telah saya buat konsep awal dalam bentuk presentasi film sumber pengide-an, yaitu film dan foto tentang perahu sandeq. Setelah datang dari sana (sudah ada kepastian dan masukan dari beberapa pihak), konsepnya semakin diperinci, yaitu sandeq, rumpon, dan peran perempuan di Mandar. Tema besar atau benang merahnya adalah “sibaliparriq” (ada juga yang menulis “siwaliparriq”), sebagaimana konsep tertulis yang dipresentasikan oleh Andi Masri dalam pertemuan 16 Juli 2009 di Gedung PKK, Mamuju. Saya diminta untuk membuat film pendek tentang tiga hal itu, sebab akan dikirim ke Panitia Pawai Budaya Nusantara di Jakarta. Pada tanggal 17 Juli 2009, saya bersama Muliadi, ketua tim teknisi dan guru honor di SDN Tangnga-tangnga, ke Pambusuang untuk mencari bakal sandeq yang akan dibawa ke Jakarta. Di benak saya, yang paling memungkinkan adalah sandeq pangoli. Ukurannya sedang, masih kecil tapi bisa untuk “timbang” di palatto-nya dan tidak terlalu besar sebab masih bisa masuk kontainer. Proses pencarian tidak makan waktu lama sebab saya punya banyak jaringan nelayan di Pambusuang. Harganya pun tidak mahal, hanya Rp 2,3 juta. Sandeq-nya sih tidak digunakan lagi. Dia disimpan di kolong rumah pemiliknya, Rakib namanya. Sengaja tidak mencari yang baru sebab sandeq pangoli yang baru lebih mahal harganya dan besar kemungkinan sandeq akan dimodifikasi. Jadi, tidak apa-apa bila kotor dan tidak terlalu komplit. Yang penting lambung tidak pecah, baratang dan pallato ada. Malamnya, diadakan pertemuan informal di rumah Sahabuddin, setelah pemutaran film dokumenter Festival Musik Tradisi Anak-anak di Jakarta, yang mana parrabana cilik dari Tinambung memenangkan dua kategori. Yang hadir antara lain Pai, Sahabuddin, Ramli, Muliadi, Rahman, dan saya. Dalam acara itu, Pai menyampaikan ke teman-teman tentang hasil pertemuan di Mamuju serta rencana pertemuan esok di rumahnya (rumah Pai). Teman-teman yang hadir diminta untuk menyampaikan undangan lewat SMS ke teman-teman yang lain. Sore 18 Juli 2009, di rumah Pai diadakan pertemuan yang melibatkan lebih

216

banyak orang. Tujuan utamanya menyampaikan hasil pertemuan di Mamuju dan permintaan kesediaan mereka akan acara di Jakarta. Dengan kata lain, telah menjurus ke penunjukan tugas. Bahwa mereka akan berperan sebagai apa. Patokan utamanya, menurut Pai setelah berbicara dengan pihak Budpar Polman dalam hal ini Andi Sami dan Andi Masri, teman-teman di Tinambung mendapat bagian sandeq, rumpon, kegiatan menenun, musik dan penggarapan konsep sedangkan Polewali bagian tari dan desain kostum. Pertemuan dihadiri antara lain Hamzah Ismail, Ramli, Dalip, Kapuli, Ical, Cimma, Hilal, Martas, Zarrah, Ishaq, Muliadi, Ayyu’, Ayah Madi, Salahuddin, dan Kadir. Dalam pertemuan itu mulai disusun struktur kepanitiaan yang akan ke Jakarta serta pembagian tugas dalam apa yang ditampilkan. Misalnya siapa yang akan di atas sandeq, yang mendorong, membuat rumpon, anggota tim penata musik, dan lain-lain. Saya sendiri, seperti biasa dalam kegiatan berkesenian teman-teman di Tinambung, dalam struktur formal dapat tugas sebagai publikasi dan dokumentasi. Dalam pertemuan tersebut saya memperlihatkan draft awal film pendek yang akan dikirim ke Jakarta. Juga sebagai penyampaian ke teman-teman bahwa sumber inspirasi ide adalah tentang kemaritiman Mandar. Jadi teman-teman melihat audio-visual bagaimana sandeq berlayar dan bagaimana rumpon digunakan serta aktivitas menenun. Selain kesepakatan atas konsep dan individu yang dilibatkan, dari pertemuan juga diputuskan untuk mengadakan pertemuan yang lebih besar di SMP 01 Tinambung. Yang mana pertemuan akan dihadiri teman-teman yang diharapkan keterlibatannya dalam kegiatan dan pihak Dinas Budpar Polewali Mandar. Pertemuan ini tidak saya hadiri sebab saya berada di Makassar untuk menghadiri seminar tentang pendokumentasian sejarah. Menurut informasi beberapa teman, baik saat diskusi diadakan (lewat telepon) maupun saat saya kembali ke Tinambung, pembicaraan semakin mempermatang konsep garapan, pembagian tugas, imbalan apa yang akan diterima pihak-pihak yang terlibat, pos anggaran, jadwal dan lokasi latihan, dan lain sebagainya. Singkat kata, pertemuan tersebut adalah pertemuan puncak yang menghasilkan keputusan yang sebagian besar telah mengikat. Individu yang akan terlibat juga semakin jelas. Saat saya di Makassar, teman-teman di Tinambung bergerak paralel. Motor utamanya Pai dan Dalip. Bersama Rusdi, adik saya yang juga guru baru di SMA 01 Pamboang, membuat grafik konsep pawai, bahwa format barisannya kira-kira akan seperti “ini�. Konsep dalam bentuk grafis akan dikirim bersama film pendek tentang sandeq, rumpon, dan kegiatan menenun ke Jakarta. 217

Latihan, dari Laut hingga Rujab Rasa antusias teman-teman di Tinambung tidak dibarengi dengan kepastian pendanaan. Ya, memang pihak provinsi akan mendukung pendanaan, tapi ke­tersediaan dana segar untuk memulai gerakan belum ada. Sebagai contoh, sandeq yang akan dimodifikasi, sebagai bagian utama dalam karnaval, sudah ada. Tapi memindahkannya dari rumah nelayan ke tempat modifikasi (baca: dibeli) belum bisa dilakukan. Sebagai jalan keluar, Asmadi Alimuddin mencari pinjaman agar sandeq bisa berpindah tangan. Andi Nursami juga telah memberi lampu hijau untuk menyiapkan uang pribadinya agar teman-teman di Tinambung bisa menyiapkan perangkat keras untuk karnaval, mulai dari sandeq sampai “barung-barung” yang akan dimodifikasi. Setelah uang pinjaman ada, Muliadi dan Asmadi ke Pambusuang langsung ke Pambusuang untuk mengambil sandeq. Tiba di Pa’giling, sandeq langsung dibersihkan, dicet, dan diperbaiki bagian-bagiannya yang rusak oleh Muliadi dan kawan-kawan. Aktivitas lain juga berlangsung, oleh tim lain. Khusus di Tinambung, terbagi atas beberapa tim: tim sandeq, bertanggung jawab atas kesiapan sandeq di bawah pengawasan saya (lokasi Pa’giling); tim roppong, bertanggung jawab atas kesiapan roppong dan bagian-bagian lain di bawah pengawasan Dalip (lokasi Lambe’); tim musik dipimpin Ishaq Jenggot (lokasi Kandeapi); tim panette’ (penenun), meski semua penenun adalah perempuan, tapi kesiapan tim ini tanggung jawabnya berada di tangan lelaki, yakni Rifai (lokasi Limboro). Secara umum, kesiapan tim di atas berada di tangan Rifai. Rifai memberi laporan ke Polewali, dalam hal ini Andi Nursami Masdar. Di Polewali, kesiapan tim penari dan kostum berada di bawah pengawasan Andi Nursami dan Andi Masri. Sekitar tanggal 26 Juli 2009, latihan sudah mulai dilaksanakan, berlangsung di empat titik: tim sandeq dan roppong latihan di pesisir Lambe (Karama), musik di Kandeapi (kolong rumah Ishak Jenggot), penenun latihan di kediaman Cammana’ di Limboro, dan tari di Polewali (halaman rumah jabatan bupati). Masing-masing tim dibebani tanggung jawab untuk menata sendiri-sendiri dengan berpatokan pada durasi waktu tiga menit. Nanti di latihan gabungan, saling menyesuaikan. Ada beberapa hal menarik dalam latihan, khususnya yang berlangsung setiap sore di Tinambung (di sini banyak membahas kegiatan di Tinambung sebab awal-awal persiapan di sinilah yang lebih banyak saya saksikan). Latihan di Lambe berlangsung

218

di laut, di pantai. Meski kegiatan nantinya tidak berlangsung di laut tapi di halaman Istana Negara, teman-teman sengaja mengawali latihan di laut agar “roh” atau semangat pelaut Mandar bisa didapatkan. Ya, itu harus terjadi sebab bagaimana pun, yang terlibat di tim sandeq dan roppong tak satu pun seorang pelaut. Singkat kata, harus ada proses inisiasi (pengenalan) kepada para pemain tentang budaya dan lingkungan yang akan mereka wujudkan ke dalam bentuk simbol untuk kemudian memperlihatkannya kepada rakyat Indonesia. Dengan menggunakan satu unit sampan bercadik kecil yang kepemilikannya di bawah tanggung jawab saya, teman-teman menjadikan pantai Lambe seakan halaman Istana Negara. Setiap sore teriakan “Hella-hella” membahana di sini. Perahu kecil yang ringkih menjadi mainan, didorong dan digoyang-goyang. Perahu pasrah saja. Teman-teman juga bebas, tak apa-apa rusak. Di laut-lah gerakan, posisi, isi “pamanna” diramu. Anggota tim sandeq dan roppong saling menyutradarai, tapi peran Pai dan Dalif dominan di sini. Sebagian besar anggota tim ini sudah banyak makan asam-garam dalam dunia perteateran, jadi bukan hal sulit untuk menyatukan ide gerakan. Awalnya dua anak kecil yang akan melakukan atraksi timbang, tapi karena gerak tubuh belum matang dan dirasa perlu gerakan khusus di atas sandeq, belakangan Pai, Dalif, dan Rahman juga beratraksi di atas sandeq, selain Martas yang memang dari awal diplot menjadi punggawa yang duduk di haluan. Di tempat lain, di Kandeapi, Ishaq dan kawan-kawan lain mulai menaransemen musik yang akan digunakan. Alat utama adalah rebana, calong, dan keke. Ishaq seorang sarjana seni, pernah menjadi penata musik terbaik di Festival Teater Mahasiswa di Makassar beberapa tahun lalu, dan pernah tampil di Australia, maka menata musik bukan hal sulit. Malah dia membuat aransemen dalam bentuk tertulis atau partitur, hal yang masih jarang dilakukan seniman musik di daerah. Yang juga unik adalah tim panette’. Ada lima anggota panette’, empat diantaranya bisa dikatakan belum pernah menyentuh alat tenun alias tak bisa menenun. Untung Ibu Cammana punya cucu yang masih muda dan bisa tampil di muka umum yang bisa menjadi salah satu kru dan bisa mengajari empat yang lain menenun. Namanya Zam Zam, masih muda, kira-kira berumur 20an tahun. Dia menjadi guru menenun untuk Alam, Cimma, Zarra, dan Uci. Oh iya, angka lima menyimbolkan lima kabupaten di Sulawesi Barat. Untuk itu, alat tenun dan hasil tenunannya juga beda-beda.

219

Selama masa latihan sendiri-sendiri, hampir setiap malam di rumah saya berlangsung diskusi untuk mempermatang bentuk gerakan. Saya, Pai, Dalip, Udi, Ishaq, dan beberapa teman lain melakukan sumbang-saran (brainstorming) akan bagaimana bloking di halaman Istana Negara nanti. Apa yang perlu diadakan, apa yang ditiadakan. Tanggal 29 Juli 2009, latihan gabungan pertama untuk tim Tinambung mulai berlangsung (kecuali tim musik yang melakukan latihan gabungan dengan tim tari di Polewali). Lokasinya di depan rumah Pai, tepatnya jalan di bagian barat dan utara Lapangan Tammajarra, Tinambung. Di sini tiga tim utama mulai bergerak bersama: sandeq, rumpon, dan panette’. Saat ini belum ada perahu sandeq, belum ada roppong, dan kereta yang ada penenunya baru satu (seharusnya lima). Sebagai pengganti, tim sandeq dan roppong menggunakan batang-batang bambu yang disusun sedemikian rupa agar panjang dan lebarnya sama dengan ukuran sandeq dan roppong yang akan digunakan. Keesokan harinya, 30 Juli 2009, perangkat kereta yang nantinya alat tenun dan panette’ ada di atas dibawa ke Polewali. Yang mana tanggal ini, tepatnya sore hari, juga akan diadakan latihan gabungan antara tim Tinambung (sandeq, roppong, penenun, musik) dengan tim Polewali (tari). Anggota tim dan bagian-bagian kereta/ gerobak dibawa dengan menggunakan bis sekolah yang disopiri Papa’ Eko. Kemudian pada tanggal 5 Agustus 2009, sandeq yang telah dimodifikasi, roppong, dan alat tenun beserta keretanya dibawa ke Polewali dengan menggunakan truk. Persiapan sandeq hampir terlambat sebab rencana awalnya bagian roda akan dibuat oleh teman Asmadi di Palu. Berhubungan tidak bisa memenuhi tenggat waktu sampai 1 Agustus 2009, saya sebagai penanggung jawab sandeq memutuskan untuk menggunakan sumberdaya lokal dalam desainnya. Awalnya saya, Muliadi dan Ayah Madi mengusulkan beberapa cara, tapi belakangan kami serahkan ke Dinar (tukang las di depan rumahku) untuk menetukan desainnya sekaligus mengerjakan bagian-bagian rodanya. Ternyata sangat mudah, praktis, dan kuat. Biayanya pun tidak seberapa bila dibanding dengan rencana pembuatannya di Palu. Bila di Palu diasumsikan membutuhkan dana 10an juta, hasil karya Dinar tidak sampai sejuta. Setelah sandeq dan bagian lain dirakit, keesokan harinya (6 Agustus 2009), latihan gabungan yang telah menggunakan sandeq asli dan roppong dimulai. Penggunaan perangkat asli (sandeq dan roppong) dalam latihan mengatasi beberapa permasalahan yang muncul di latihan-latihan sebelumnya, dalam hal ini penentuan durasi tampilan. Ketika menggunakan replika berupa rangka bambu, gerakan tim sandeq dan

220

roppong relatif cepat. Tentu cepat sebab benda yang dibawa/didorong masih sangat ringan. Sedangkan sandeq dan roppong itu berat, lamban, dan harus hatihati menggerakannya. Nah, ketika sandeq dan roppong mulai berada di tengahtengah anggota tim, sedikit demi sedikit permasalah di atasi. Proses pematangan bloking dan gerakan pun terus berlangsung. Suasana dan luas di halaman rujab memiliki kemiripan dengan Istana Negara. Itu sangat membantu proses latihan. Ditambah pengalaman tahun lalu dan analisis gambar satelit (suasana dan luas di halaman Istana Negara), akan bagaimana gerakan nantinya bisa diperkirakan. Latihan gabungan di bawah pengawasan langsung pemimpin tim, Andi Nursami Masdar dan Andi Masri, sebagai koordinator koreografer, dibantu beberapa staf Dinas Budpar Polman yang mempunyai keterampilan menari, seperti Uni, Nana, dan lain-lain. Untuk beberapa kasus, proses penyatuan gerakan tari dengan aikon utama (sandeq dan roppong) mengalami kesulitan. Ya, wajar saja sebab sebelumsebelumnya latihan sendiri. Nanti setelah ada penegasan bahwa tampilan utama adalah atraksi sandeq, maka masalah bisa diatasi. Proses penyatuan gagasan dilakukan secara langsung atau diskusi hangat bila itu menyangkut hal esensial. Keterbukaan Andi Nursami dan Andi Masri menerima pendapat menjadikan proses penyatuan ide berlangsung dalam harmoni yang mengesankan. Hari terakhir latihan berlangsung pada tanggal 7 Agustus 2009 sebab keesokan harinya akan diadakan gladi bersih. Rencananya, gladi bersih akan disaksikan langsung Ketua Tim Penggerak PKK (istri gubernur), Sekretaris Daerah Sulawesi Barat, dan Bupati Polewali Mandar. Dalam latihan terakhir, gerakan, komposisi, dan bloking final sudah ditentukan. Rombongan dari Tinambung sampai malam di Polewali sebab harus mempersiapkan properti untuk acara gladi. Bagian-bagian yang belum beres, misalnya cat perahu dan rumpon, tiang layar, dan roda harus segera diselesaikan. Jangan sampai mengganggu acara gladi nantinya. Puisi Mandar Mittokke Boi Tokek dalam bahasa Mandar disebut “tokke”, hanya beda letak huruf “k”. Binatang ini salah satu binatang paling terkenal yang habitatnya di tempat tinggal manusia (rumah), selain nyamuk (“anamoq”), tikus (“balao”), dan cicak “sassaq”. Cicak masih berkerabat dengan tokek, sama-sama binatang reptil. Belakangan,

221

pamor tokek lagi menanjak, harganya bisa sampai jutaan. Sedang cicak tak ada yang spesial selain sebagi predator nyamuk. Sepengetahuan saya, satu-satunya binatang yang orang Mandar percayai bisa meramal adalah tokek. Bisa dipastikan, saat ini, bila tokek bertokek, maka akan ada yang (mungkin diam-diam dalam hati) mengikuti bunyi tokek tersebut … “urangi”, tokkeee, “ndiangi”, tokkeee, “urangi”, … dst. “Urangi” berarti (akan) hujan, “ndiangi” berarti tidak (hujan). Jadi misalnya tak ada bunyi “tokkeee” lagi setelah kata “urangi” maka akan hujan. Demikian sebaliknya, tidak akan hujan bila kata terakhirnya “ndiangi”. Apa benar atau tidak, entahlah. Bukan hanya itu, kebiasaan tokek yang “berteriak” (?) di balik lemari atau di balik tiang rumah itu terbawa ke dalam pemberian gelar. Misalnya “Mittokke boi I Kaco”. Misalnya dulu si Kaco ini sering banyak bicara. Beberapa lama kemudian, dia lebih banyak diam. Saat dia kembali banyak bicara, maka dia bisa dikatakan “Mittokke boi”. Atau kalau ada yang tiba-tiba berteriak atau bicara pada sebuah forum, dia bisa disebut “mittokke”. Nah, salah seorang seniman besar Mandar, yang generasi sekarang mungkin tak mengenalnya, menulis sebuah puisi berjudul “Tokke”. Sejak tahun 2008, di beberapa even kesenian, puisi “Tokke” dibacakan. Orang Mandar yang mendengarnya akan terpingkalpingkal mendengarnya. Bukan apa-apa, isinya jenaka, pembaca puisinya apalagi. Sebab ada puisi berjudul “Tokke” dan selama ini geliat sastra seni sastra, khususnya pembacaan puisi Mandar, sedang mati suri (terakhir saya ikut apresiasi buku puisi “Di Tengah Padang Ilalang” karya Suradi Yasil, diadakan oleh Teater Flamboyant pada tahun 80an), maka kegiatan Apresiasi Puisi Mandar karya Bakri Latief diberi tema “Mittokke Boi Puisi Mandar”. Pak Tino Sidin-nya Sulsel Bakri Latief namanya. Akrab dipanggil Papa’ Dita, seorang seniman Mandar yang masih berkarya hingga saat ini. Dia lahir di Tinambung, kawasan Calo-calo, pada 1949. Menyelesaikan pendidikan SR pada 1962 di Makassar, SMP 1965 di Makassar, SMEA Tinambung pada 1968, PGSLP Jurusan Gambar pada 1969 di Makassar, dan S1 Jurusan Seni Rupa di IKIP Ujungpandang pada 1986. Selesai menuntut ilmu di Makassar, dia kembali ke Mandar untuk kemudian mengabdi sebagai guru honor di PGA Tinambung (MTsN sekarang) pada 1969 sampai 1971. Pada waktu yang bersamaan, juga aktif di bidang teater bersama

222

pekerja seni di Tinambung waktu itu, misalnya Ahmad Patingari dan kawan-kawan. Pada tahun 1986, Bakri Latief terangkat menjadi PNS di Museum Negeri Lagaligo Sulawesi Selatan, yang berkantor di Benteng Rotterdam, dekat Pantai Losari. Selain sebagai abdi negara, dia juga aktif mengisi acara “Mari Menggambar” dan “Ayo Berkarya” di TVRI Ujungpandang, dari 1987 hingga 1993. Gara-gara dia berperan sebagai pembawa acara melukis tersebut, dia mendapat gelar “Pak Tino Sidin-nya Sulsel”. Kebetulan atau tidak, Bakri Latief dalam kesehariannya juga mengenakan topi khas Pak Tino Sidin dan Putu Wijaya (seniman teater). Waktu saya masih SD, saya pernah ikut acara tersebut. Bagi saya pribadi, itu pengalaman paling berharga sebab itulah pertama kali saya masuk studio televisi dan pertama kali di-shoting lalu disiarkan secara langsung. Kala itu, hal demikian sangat luar sebab siaran televisi yang ada hanya satu, TVRI saja. Apalagi bagi seorang anak kecil seperti saya. Masuk di millenium kedua, Bakri Latief juga diminta membagi pengetahuannya, yaitu mengajar di PGTKI-PGSD STAI DDI Polewali, PGTKI-PGSD Universitas Muham­madiyah, dan Pesantren Ummul Mukminin Aisyiah Makassar. Berlangsung dari 2001 hingga 2008. Sejak pensiun pada tahun 2005, selain melukis, Bakri Latief mengisi waktu luang dengan menulis puisi berbahasa Mandar, menulis buku yang berisi ribuan namanama dalam bahasa Mandar. Karyanya ini sangat unik dan penting, sebab merangkum rangkain kata-kata yang bisa menjadi nama anak-anak di Mandar. Mudah-mudahan ada yang tergerak hatinya untuk membantu menerbitkan naskahnya tersebut. Puisi-puisi Mandar-nya beragam tema, ada tema jenaka, kritik sosial, tradisi, lingkungan, keagamaan, dan pendidikan. Beberapa puisinya antara lain adalah “Guru, So’naimo Lao” (menggambarkan ironi cita-cita kebanyakan orang Mandar yang ingin menjadi guru), “Pu’ayi” (betapa gelar haji menjadi begitu penting dalam meningkatkan status sosial seseorang di masyarakat), “Mammakko” (renungan, sebuah zikir), “Pa’issangang Posasiq” (tentang kebudayaan maritim di Mandar), “Kannai Tinambung” (tentang kota kecil Tinambung yang begitu-begitu saja), “Teluk Mandar” (tentang laut Mandar), dan lain-lain. Sosok Bakri Latief sangat khas, dia pelawak yang berwawasan luas. Langka sosok demikian. Memang ada pelawak, tapi hanya melucu vulgar saja, klise, tak ada pesan yang disampaikan. Saya mengenalnya sejak saya masih kanak-kanak, tapi mendengarnya membacakan puisi baru pertama kali pada tahun 2007, ketika majalah Teluk Mandar kembali diluncurkan (pada akhir tahun 60-an, Bakri Latief

223

bersama H. Murad, Suradi Yasmar, Muluk Yasil, Nurdin Hamma, dll. menerbitkan majalah yang pertama kali terbit di Mandar, yaitu Teluk Mandar). Hal itu kembali berlanjut di beberapa even, misalnya Festival Rebana 2008 di Majene dan ada acara diskusi di rumah. Tapi itu semua terjadi spontanitas. Kebetulan Bakri Latief hadir, jadi beliau diminta oleh panitia untuk ikut mengisi acara. Menyadari isi puisinya sarat makna (selain ada yang ketawa, ada juga sampai nangis-nangis), saya dan beberapa teman merencanakan sebuah kegiatan yang khusus memberi ruang ke Bakri Latief membacakan puisinya. Hal itu terendap sekitar tiga tahun untuk kemudian muncul kembali Desember 2010 lalu. Sebelum Pai dan Dalip pergi ke Banten untuk pentas, mereka diajak diskusi oleh Suradi Yasil, budayawan Mandar yang tinggal di Makassar, untuk memantapkan rencana apresiasi puisi Mandar karya Bakri Latief. Pai dkk menyanggupi, tapi setelah dari Banten. Singkat cerita, rencana apresiasi puisi ditetapkan pada 12 Januari 2011, jam 9 pagi di Gedung MITA Tinambung, setalah liburan sekolah. Ya, sebab yang diharapkan banyak hadir di acara apresiasi adalah guru-guru sekolah, khususnya guru Bahasa Indonesia. Adapun pelaksana acara awalnya diharapkan atas nama Forum Sipakaraya, tapi ketika rapat pemantapan tak dihadiri oleh semua unsur forum tersebut, untuk menghindari kesan sepihak, maka acara dilaksanakan atas nama Tim Mandar Kreatif 2011. Tim ini bukan nama sebuah organisasi, tapi sebuah misi yang dimotori Studio Teluk Mandar, Komunitas Seni Tradisi Assamalewuang, Komunitas Indie Tia, dan KNPI Tinambung (yang oleh ketua terpilih, S. Wildan Baso, misinya memasukkan tema “Mandar Kreatif 2011” sebagai salah satu program kerja) yang mengharapkan kegiatan generasi Mandar, khususnya di Tinambung, berisi hal-hal kreatif dan rutin berlangsung setiap bulan. Untuk awal triwulan ini sudah ada tiga rencana program kerja: Apresiasi Puisi Mandar (Januari), Bedah Buku Kamus Besar Mandar – Indonesia karya Idham Khalid Bodi (Februari) dan diskusi video klip album “Keajaiban Cinta” kerjasama Anunita Band dan Studio Teluk Mandar, dan Pementasan Monolog “Kucing” karya Butet Kertaredjasa (Maret – April). Apresiasi Puisi Mandar karya Bakri Latief didukung penuh oleh Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Polewali Mandar. Oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Polman dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Polman, yakni bapak Drs. H. Arifuddin Toppo, M. Pd. dan Drs. Darwin Badaruddin. Selain guru atau para pendidik, acara juga dihadiri siswa, mahasiswa,

224

pemerhati budaya, kalangan pendidik, pejabat pemerintah, dan masyarakat umum se-Sulawesi Barat. Acara juga akan dihadiri oleh tokoh budaya Mandar yang tersisa saat ini, yaitu Suradi Yasil, penulis Ensiklopedi Sejarah, Tokoh, dan Kebudayaan Mandar. Dia akan membeda puisi-puisi Mandar karya Bakri Latief untuk kemudian mendiskusikannya bersama peserta lain. Terakhir, tujuan acara adalah memberi ruang berekspresi bagi senimanseniman Mandar, menjadikan sastra Mandar sebagai salah satu kajian dalam pendidikan sastra bagi pelajar di Sulawesi Barat, melestarikan seni sastra Mandar, dan melestarikan bahasa Mandar dalam bentuk puisi. Kegiatan ini bagai pelepas dahaga di tengah keringnya even-even apresiasi sastra puisi di Mandar, khususnya di Tinambung, yang melibatkan para pendidik.

225

PENDIDIKAN

Katanya Studi Banding, Ternyata Datang Belanja

Sejak saya SD sampai SMU, banyak mengalami dan melihat praktek yang

secara tidak langsung mengajarkan kepada murid, paling tidak saya sebagai siswa kala itu, bahwa berbuat “seperti ini sah-sah saja dan demi kebaikan kalian”. Anehnya, koq itu dilakukan secara diam-diam dan jangan sampai orang lain tahu. Ini terjadi di banyak aktivitas pendidikan yang berkaitan dengan kompetisi, mulai dari lomba antar sekolah, ujian, pemberian beasiswa, hingga modifikasi isi lapor. Ada dilema di benak para guru, jika betul-betul sebagai “guru yang suci”, maka akan ada banyak siswa yang tidak lulus dari ujian sehingga tidak naik kelas atau tidak tamat sekolah. Pada gilirannya, orangtua siswa yang telah “jual sawah-ternak, dan rela berkorupsi ria” demi sekolah anaknya akan kecewa. Orangtua yang tidak terima hal itu bisa saja pergi melabrak guru dan sekolah dan silaturrahmi pun retak. Efek lain, nama sekolah akan jelek atau dicap sebagai sekolah yang tidak menghasilkan siswa yang “pintar”. Ya, karena banyak siswanya yang tidak lulus. Tuduhan yang juga dihindari adalah bahwa guru tidak becus mengajar. Untuk itu di dalam ujian, misalnya EBTANAS (ini di zaman saya, sekarang namanya beda), ada jawaban-jawaban yang diselundupkan untuk para siswa yang sudah pada keringatan karena tidak bisa menjawab soal. Atau dampak yang lebih dihindari: ada kemungkinan kepala sekolah “diminta mundur” (baca: dipecat sebagai kepala sekolah) jika sekolahnya banyak menghasilkan siswa yang tidak lulus ujian. Sama halnya dengan beasiswa. Memang siswa berhak menerima karena memang ada nilai tinggi di dalam pelajaran dan orangtua yang tidak mampu, tapi koq uangnya disunat oleh pihak yang berwenang? Ini seakan menjadi syarat bagi si calon penerima beasiswa: jika tidak bersedia jumlah beasiswanya dipotong sekian persen,

226

maka dia akan menjadi bekas calon penerima beasiswa alias tidak akan dapat. Sekilas itu pekerjaan mulia, tapi kalau mau jujur, itu salah satu bentuk korupsi. Karena itu korupsi, paling tidak saya pernah bekerjasama dengan koruptor atau menjadi bagian dari sistem yang korup. Wallahualam! Singkatnya, saya pernah mengalami masa seorang anak yang terus menerus “disusui” meski sudah baligh; pernah terlibat di suatu kala menyaksikan intrik yang seharusnya tidak disaksikan dan dialami anak seusia saya; sederhananya, saya dan teman-teman saya (sebagai anak sekolahan) begitu “dimanja” oleh sistem pendidikan di mana pengetahuan dasar (SD-SMU) saya peroleh dan pernah “mengajarkan” tindak-tindak yang kurang baik yang dari beberapa aspek terlihat itu baik. Karena terlihat baik, secara langsung prilaku itu menjadi tindak permisif dan cenderung menjadi tradisi di dalam sistem pendidikan. Bisa diterima atau tidak, praktek semacam itu perlahan harus ditinggalkan. Jika memang tetap sepakat untuk melakukannya, kita jangan heran atau menahan geram melihat para koruptor tak jera memakan uang rakyat; tak disentuh-sentuh hukum. Itu “wajar” karena sejak dari kecil diajarkan untuk korup di segala macam bidang. Ingat, korupsi bukan hanya dalam bentuk uang! *** Kamis, 6 April 2006, kota pendidikan Yogyakarta kedatangan tamu, 33 kepala seko­ l­ah-kepala sekolah SMP dan staf Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Mamuju dalam rangka studi banding. Fenomena yang sangat menarik, sebab istilah “studi banding” pernah menjadi pembicaraan hangat, ketika anggota DPR “studi banding” ke Mesir. Di mata saya dan di mata masyarakat umum, aktivitas itu cenderung dibelokkan. Dengan kata lain, studi banding adalah istilah peyoratif dari “melakukan perjalanan ke tempat lain dengan dalih melakukan studi (dan dengan biaya uang negara atau perusahaan untuk para PNS atau karyawan), tetapi porsi untuk berwisata dan berbelanja lebih banyak daripada studinya itu sendiri”. Terserah ada yang mau menerima atau tidak pendapat saya, yang jelas, saya sudah berpengalaman menjadi “pemandu” studi banding para mahasiswa dari Makassar. Kunjungan ke kampus dan melakukan diskusi dengan tuan rumah hanya menghabiskan waktu 2-3 jam, tapi ke Borobudur, Pantai Parangtritis, Malioboro, Kraton, Prambanan, dan Pasar Bringharjo bisa berjam-jam. Guru-guru dari Kabupaten Mamuju studi banding ke Yogya menumbuhkan rasa penasaran saya: kalau mereka kira-kira bagaimana ya? Apakah mereka beda dengan para mahasiswa dan anggota parlemen?

227

Ternyata tidak banyak beda. Waktu wisata tetap lebih banyak daripada belajarnya (studi). Kira-kira apalagi yang bisa dilakukan setelah acara “studi-nya” selesai selain ke tempat wisata? Jadi silahkan hitung sendiri jumlah jamnya! Untuk kasus di Yogya, selesai acara di sekolah, perjalanan dilanjuntukan ke Candi Borobudur, balik dari sana pada sore hari. Tiba awal malam di Malioboro untuk kemudian belanja. Esok paginya (Jumat, 07 April), direncanakan ke Kraton. Dalihnya, ini sebagai bahan pelajaran sejarah. Alangkah eloknya, jika memang ini studi banding, jika sisa waktu itu (Jumat kan masih waktu sekolah!) dimanfaatkan ke tempat-tempat yang betul-betul bernuansa pendidikan. Misalnya masuk kompleks UGM, melihat kampus yang dicita-citakan banyak siswa SMU. Adakah niat berkunjung ke Universitas Negeri Yogyakarta (ex IKIP) untuk kemudian melakukan diskusi dengan dosen atau mahasiswa di sana untuk mendapat masukan metode pendidikan terbaru? Mengapa tidak terpikir sama sekali untuk menyambangi lembaga-lembaga pendidikan terkenal di Yogya, misalnya Primagama, untuk kemudian menjalin kerjasama? Saya jadi sedih bercampur amarah (tentu dalam hati, untuk kemudian saya rohkan di tulisan ini) ketika ada peserta yang mengusulkan agar waktu luang di Yogya juga dialokasikan waktu untuk ke tokobuku, tapi oleh salah seorang peserta malah menyampaikan “Nanti di Jakarta saja”. Ah, koq ada pikiran seperti itu? Yogya ada kekhasan dan nuansanya berbeda dengan Pasar Kwitang di Jakarta. Tokobuku dan kompleks penjualan buku adalah salah satu penanda bahwa Yogya merupakan kota pendidikan. Kurang apa tokobuku untuk menyebutnya sebagai bagian penting dari pendidikan? Ya, Kraton dan Borobudur juga penting, tapi kan perjalanan ini bukan wisata sejarah! Di tokobuku tidak hanya untuk membeli buku. Di sana bisa kita lihat dinamika para pelajar membeli buku dan di sana pula bisa kita lihat perkembangan pe­ ngetahuan dan metode dalam dunia pendidikan. Meski demikian, saya memahami –walau agak saya paksakan- mengapa tokobuku dikesampingkan: buku dan membaca belum, dan masih sangat jauh, untuk menjadi kebiasaan di dalam sistem pendidikan di Sulawesi Barat. Ada banyak kasus untuk membuktikan hal ini. Saya angkat topi ke beberapa peserta yang juga menjadikan buku sebagai salah satu oleh-oleh mereka! Saya yakin pasti ada! Buku dan pendidikan bagaikan “mata putih dengan mata hitam” alias tidak bisa dipisahkan. Buku erat kaitannya dengan membaca, menulis, dan pemaknaan.

228

Tapi oleh sebagian “oknum� peserta “studi banding�, buku itu tidak perlu; nuansa dan aura tokobuku tidak usah didapatkan. Artinya, inti dari pendidikan itu sendiri dinafikan. Karena ada sikap demikian, maka jangan harap apa yang telah dilakukan, dengan menghabiskan dana puluhan juta yang notabene uang rakyat, akan bermanfaat. Hasilnya pun pasti tidak banyak. Pendidikan itu adalah sebuah proses panjang. Jangan pernah berpikir kunjungan studi banding ke Bali-Jawa satu bulan sebelum ujian akhir nasional akan memperbaiki secara signifikan prestasi siswa di dalam daftar nilai. Prestasi, kreativitas, kecerdasan, tradisi membaca, sikap kritis, dan inovasi tidak muncul secara tiba-tiba. Itu terbentuk dari sistem dan lingkungan. Mengambil kasus anak SMP, yang terlibat paling tidak: lingkungan keluarga dan tempat tinggal, guru, teman, dan sekolah. Jika kepala sekolahnya saja tidak mempunyai semangat sebagai seorang pembelajar, maka jangan pernah bermimpi siswanya akan berprestasi. Logikanya seperti ini: gurunya saja tidak mempunyai tradisi membaca, apalagi siswanya. Ah, betul-betul menyedihkan! Kalau memang betul-betul murni studi banding, pilihlah daerah yang selevel dengan daerah kita, tapi pendidikannya maju tanpa mempertimbangkan di sana ada daerah wisata atau tidak. Atau kalau mau lebih efektif (hemat) namun bermanfaat bagi banyak pendidik (guru) di Sulawesi Barat, undanglah datang ke Mamuju: Arief Rahman, Kepala Sekolah Lab. School, Jakarta; Seto Mulyadi, psikolog pendidikan, Darmaningtyas dan Eko Prasetyo, penulis buku-buku pendidikan yang membebaskan, dan Johannes Surya, tokoh di balik kesuksesan pelajar-pelajar Indonesia di beberapa olimpiade sains di luar negeri untuk menjadi pembicara di seminar pendidikan. Proses instan harus ditinggalkan. Bukan itu yang dibutuhkan anak didik. Studi banding memang perlu, tapi mengapa harus ke Bali-Jawa, apakah karena di sana ada Pantai Kuta, candi-candi, pakaian-pakaian yang murah, dan Monas? Jawa terlalu tinggi untuk dicontoh, Jawa maju karena sebuah proses panjang. Pendidikan di Jawa berkembang karena ada inovasi sedemikian rupa yang disesuaikan dengan lingkungan dan budaya setempat. Mengapa bukan hal ini yang kita tumbuhkembangkan di daerah kita yang jelas-jelas secara geografi, melek pendidikan, dan budaya jauh berbeda dengan Jawa? Ya, kita bisa mengambil pelajaran dari apa yang telah dilakukan di Jawa, tapi jangan hanya lihat hasil akhirnya, bahwa sekolahnya bagus, kurikulumnya rapi, ekstra

229

kurikulernya efektif, mempunyai laboratorium MIPA, komputer, dan bahasa, beberapa kelas menggunakan teknologi canggih, dan menggunakan bahasa asing di dalam proses mengajar. Itu ada karena sumberdaya mereka sudah siap menerima itu. Sumberdayalah yang disiapkan sedari dini di daerah kita. Sumberdaya paling tidak ada dua: siswa sebagai obyek dan “kita” sebagai subyek. “Kita” itu adalah: guru, kepala sekolah, budayawan, pengamat pendidikan, mahasiswa calon guru, dan pejabat pemerintah. Kita mau tidak mau akan menjadi teladan, jadi tentu harus bertradisi keilmuan: mencintai buku, suka membaca, hitung-hitung meluangkan waktu untuk menulis, menyisihkan waktu untuk terus memperbaharui ilmu (mengikuti perkembangan), tidak mengorbankan potensi siswa demi mementingkan karier dan nama baik (sekolah), mementingkan proses jangka panjang dibanding tujuan jangka pendek yang hasilnya sementara saja, dan bila ikut studi banding, manfaatkanlah sebaik mungkin untuk mencari ilmu, bukan untuk berbelanja dan cuci mata. Belanja baju dan cindremata boleh-boleh saja, tapi jangan lupakan buku! Cuci mata sah dan tidak haram, tapi bisakah melirik sedikit saja ke tokobuku? Orang Mandar Menulis Buku Pernah terjadi polemik, tentang komentar Halim HD di sampul belakang buku “Sandeq, Perahu Tercepat Nusantara” yang saya tulis. Sebab komentarnya seolaholah meniadakan penulis-penulis Mandar yang lain. Menurut perkiraan saya, Halim HD berpendapat demikian sebab buku bertema Mandar yang tersebar nasional amatlah langka. Bila pun ada yang terbit, mayoritas terbit atas bantuan proyek pemerintah. Pada gilirannya, buku-buku tersebut tersebar di Mandar saja, tak diperjualbelikan, edisinya terbatas, dan kadang dicetak ala kadarnya (sablon atau fotokopian). Orang Mandar yang menulis buku, sejak dulu sampai saat ini, yang saya ketahui adalah (berdasar abjad): Abdul Mutthalib (Kamus Mandar – Indonesia), Adi Arwan Alimin (cerpen: Di Mandar, Bulan Menenun Layar, ditulis bersama Syariat Tadjuddin dan Suparman Sopu), Ahmad Asdy (sejarah: Balanipa dalam Kenangan, Mengenang Srikandi dari Jazirah Tipalayo, Selayang Pandang Perjuangan Sulawesi Barat, I Puraparaqbue dalam Kisah Romantisme Kekuasaan, Mitos Tentang Ritual dan Mistik di Mandar, Sosialisasi Siri’ serta Etika dan Estetika di Mandar, dan lain-lain), Andi Syaiful Sinrang (Mengenal Mandar Sekilas Lintas), Baharuddin Lopa (tulisan ilmiah: Hukum Laut, Pelayaran dan Perniagaan, Kejahatan Korupsi dan Penegakan Hukum), Bustan

230

Basir Maras (puisi: …), Dahri (cerpen: Insiden Subuh, dalam proses penulisan); Husni Djamaluddin (puisi: Bulan Luka Parah, Berenang-renang ke Tepian), Ibrahim Abbas (budaya: Pendekatan Budaya Mandar), Idham Khalid Bodhi (budaya, terjemahan: Lipa’ Sa’be Mandar: Tenunan Sutera Mandar – Sulawesi Barat, 2009; Mandar Pura Mai: Petuah-petuah Leluhur Mandar Silam; Sibaliparri: Gender Masyarakat Mandar; Barzanji dan Terjemahannya dalam Bahasa Mandar dan Indonesia; Local Wisdom: Benang Untaian Mutiara Hikmah dari Mandar Sulawesi Barat; Terjemahan Juz Amm dan Bahasa Daerah Mandar dan Indonesia; Makna Lambang Provinsi Sulawsi Barat; dan Koroang Mala’bi: Terjemahan Al Quran dalam Bahasa Daerah Mandar dan Indonesia), M. T Azis Syah (sejarah: Biografi I Calo Ammana I Wewang), Muhaimin Faisal (esei: Menuju Dewan Rakyat), Muhammad Amin Daud (budaya: Mengenal Struktur dan Sistem Pemerintahan Kerajaan Balanipa Mandar), Muhammad Ridwan Alimuddin (tulisan ilmiah: Mengapa Kita [Belum] Cinta Laut?; Orang Mandar Orang Laut; Sandeq: Perahu Tercepat Nusantara), Muhammad Syariat Tajuddin (budaya: Sibaliparriq; cerpen bersama Adi Arwan Alimin), Muis Mandra (budaya, sejarah: Mottiana Mandar; dan puluhan terjemahan lontar), Sarbin Sjam (budaya: Bunga Rampai Kebudayaan Mandar dari Balanipa), Suradi Yasil (budaya, puisi, novel: Ensiklopedi Tokoh, Sejarah dan Kebudayaan Mandar, Republik Korupsi, Di Tengah Padang Ilalang; Ibu Jilbab Hitam). Penulis Mandar saat ini Salah satu kekurangan penulis-penulis Mandar adalah sangat jarangnya tulisan mereka terbit menasional. Setahu saya, penulis Mandar yang karyanya pernah tersebar secara nasional adalah dua karya Baharuddin Lopa, satu tentang kebudayaan bahari Mandar (terbit 1982) dan kumpulan tulisannya di koran Kompas (terbit setelah beliau meninggal). Husni Djamaluddin juga, tapi itu buku puisi yang tak bertema Mandar. Hampir tak ada buku tentang Mandar yang tersebar menjadi salah satu faktor Mandar tak dikenal, membuat pustaka Mandar jarang dikutip. Sebagai contoh referensi yang digunakan oleh Christian Pelras dalam bukunya “Manusia Bugis”. Dari sekian puluh buku yang dia jadikan referensi, satu-satunya buku tentang Mandar yang ada di dalam adalah buku “Orang Mandar Orang Laut”, yang saya tulis. Koq bisa? Padahal kan ada banyak buku tentang Mandar (setidaknya sebagian yang saya sebut di awal tulisan ini)?

231

Alasannya, sebab tulisan saya itu tersebar nasional. Yang lain tidak. Ini sama sekali tidak berkaitan dengan kualitas isi, tapi kualitas persebaran buku. Kalau orang Mandar saja yang baca (sebab hanya tersebar di Mandar) kurang elok. Idealnya kan orang luar juga membacanya! Kalau memang ingin Mandar dikenal; kalau memang tulisan tentang Mandar juga dibaca orang Mandar yang tinggal di perantauan. Saya pribadi sangat menyadari kekurangan penulis-penulis Mandar, yang hanya puas (berhenti) ketika bukunya terbit, yang hanya berorientasi materi (harus kita akui ada beberapa buku proyek), dan tidak mengusahakan tanggapan dari orang lain. Saya pribadu mengusahakan buku-buku saya selain tersebar di Mandar, juga tersebar nasional. Karena tersebar nasional, pada gilirannya kualitas cetakan harus menarik. Bukan stensilan dan layout seadanya, seperti mayoritas kualitas buku tentang Mandar yang tersebar di Mandar. Diskusi juga harus digalakkan. Ada penghargaan atas buku, salah satunya dengan meluncurkan dan membedahnya. Tujuannya, agar orang tahu ada buku “itu�, agar ada masukan. Kalau dilepas begitu saja tanpa ada promosi, orang yang tahu ada buku itu tentu tidak banyak. Kuncinya adalah, di era sekarang, setelah buku terbit, harus ada promosi, harus ada masukan dari pembaca. Jadi, ketika kita kembali ke pendapat mas Halim, secara obyektif saya katakan, mas Halim berpendapat demikian dikarenakan ada beberapa faktor: penulis-penulis lain di Mandar memang tidak banyak menulis; ada yang (banyak) menulis tapi tidak membukukannya atau mengusahakan dibaca banyak orang (tak mengirim ke koran, tak menerbitkan di blog atau sejenisnya); ketika penulis Mandar menghasilkan buku, tidak tersebar nasional; sang penulis tak mensosialisasikan bukunya walau terbitannya itu hanya lokalan; penulis menghasilkan karya yang tak berkualitas (orang tak minta membacanya sehingga tak ada masukan berarti). Yang harus dicarikan jalan keluar adalah mengatasi dilema antara: cepat dan mendapat uang banyak tetapi buku hanya tersebar di lokal atau tak cepat dan tak dapat uang banyak tapi buku berpeluang tersebar nasional. Ya, setidaknya itu dua pilihan yang dialami atau akan dialami penulispenulis di Mandar. Pilihan pertama yang akan dialami bila menerbitkan buku atas kerjasama dengan pemerintah, baik kabupaten maupun provinsi. Bila koneksi kuat di dinas-dinas terkait (misalnya: Diknas, Disporabudpar, dan dinas yang mengurus perpustakaan) atau kuat melakukan lobi-lobi (yang kadangkala dihadapkan pada peluang korupsi, sebab orang-orang pemerintah biasanya meminta bagian), maka

232

kemungkinan besar naskah yang dimiliki bisa diterbitkan. Katanya sih buku akan disebar ke sekolah-sekolah atau dinas-dinas, tapi itu tidak sepenuhnya terjadi. Salah satu penjual nasi kuning di Tinambung yang juga pembaca buku, Bedi, memiliki banyak koleksi buku-buku yang pernah dibeli/ diadakan dinas yang dia dapatkan dari pemulung! Saat Bedi tanya darimana dia dapat buku-buku itu, “Dari tempat sampah dinas ….”. Buku bukan hanya satudua buku, tapi puluhan. Dan sayangnya, sebagian besar telah dirobek-robek oleh pemulung (agar ringan, bisa dimasukkan ke karung). Ironi memang! Sebaliknya bila buku diterbitkan “betul-betul penerbit” (untuk membedakan penerbit yang tidak punya jaringan atau kebiasaan mendistribusi buku ke toko-toko buku), uang banyak tak mudah didapat dan tak cepat diperoleh. Ya, sebab buku tidak langsung terbeli dalam jumlah banyak. Royalti baru bisa didapat per semester. Begini contoh hitung-hitungannya. Misalnya saya memiliki naskah “Budaya Mandar”. Naskah ini saya ajukan ke salah satu dinas terkait dengan hitungan Rp 50.000 per buku. Agar bisa penunjukan langsung atau tak repot dalam pembahasan anggaran, buku yang dicetak 500 eksemplar. Jadi total dananya Rp 50.000.000. Ini dana yang diterima. Buku yang dijual Rp 50.000 biasanya ongkos cetaknya berkisar Rp 10.000 sampai Rp 20.000 (tergantung kualitas cetak dan ketebalan). Maka ongkos cetak untuk 500 buku adalah Rp 20.000.000. Jadi, ada sisa Rp 30.000.000 untuk penulis. Nilai ini cukup lumayan, jadi tak seberapa bila memberi ke “pengurus” Rp 5 juta. Lalu bagaimana bila buku diterbitkan penerbit? Perjuangan pertama adalah meyakinkan penerbit naskah layak diterbitkan. Anggaplah “Budaya Mandar” akan diterbitkan dengan harga jual yang sama, Rp 50.000. Saat buku terbit, hitung-hi­ tungannya tidak sesederhana bila kerjasama dengan pemerintah. Pertama, penulis hanya mendapat royalti sekitar 10 % - 15% dari harga jual. Jadi, kira-kira Rp 7.500 per buku. Bila 500 buku laku semua, totalnya hanya Rp 3.750.000! Itu kalau laku semua. Kalau tidak? Pembayarannya pun tidak sekaligus tapi per semester (biasanya Januari dan Juli), berdasarkan jumlah buku yang terjual. Koq sedikit sekali persen untuk penulis? Sebab masih ada persen lain untuk pajak, penerbit (di luar ongkos cetak), distributor, dan tokobuku. Dengan kata lain, “sisa” sekitar Rp 26 juta itu adalah ongkos atau biaya agar buku terdistribusi secara nasional, ke toko-toko buku! Ya, itulah bedanya; itulah resikonya. Dapat uang banyak, tapi buka lokalan saja tersebar. Sebaliknya demikian.

233

Lalu apa jalan tengahnya? Dari tiga buku yang saya sendiri sebagai satu-satunya penulis (beberapa buku lain saya berperan sebagai kontributor), dua yang pertama murni menjalani prosedur standar menerbitkan buku: naskah saya ajukan ke penerbit – naskah diterima – dicetak – diterbitkan – diedarkan – dijual di toko buku. Sedang buku ketiga, saya mencoba jalan tengah agar tak dilema dengan dua pilihan di atas. Saya menerbitkan buku dengan bekerjasama dengan penerbit profesional. Agar penerbit tidak terlalu terbebani dengan ongkos produksi dan tidak khawatir modal mereka terlalu lama di toko buku, untuk ongkos cetak saya mintakan bantuan pihak ketiga (pinjaman) dengan janji ke pihak ketiga, pinjaman 100% saya kembalikan plus 50 buku. Buku ketiga saya cetak 1.000 eksemplar dengan ongkos cetak dan pengiriman sekitar Rp 20 juta. Agar modal cepat kembali, saya ajukan buku saya tersebut ke salah satu dinas untuk difasilitasi agar sekolah-sekolah membeli dengan anggaran BOS mereka. Usulan tersebut diterima dan 500 buku tersebar ke sekolah-sekolah yang pada gilirannya telah ada dana untuk membayarkan pinjaman dan untuk saya pribadi. Adapun sisa 500 buku sebagian besar saya bagikan secara gratis, khususnya ke nelayan, beberapa teman, dan orang-orang yang saya anggap mempunyai peran penting dalam penulisan buku tersebut. Sisa yang lainnya didistribusikan oleh penerbit ke beberapa toko buku di Indonesia. Kesimpulannya, saya bisa mendapatkan pendapatan yang lebih banyak dibanding mengandalkan royalti saja sekaligus memiliki kesempatan karya-karya saya tentang Mandar dibaca oleh masyarakan Indonesia di luar Mandar. Memang sih pendapatannya masih jauh di bawah dibanding pilihan pertama, tapi nilai itu tak sebanding dengan kebahagiaan buku tersebar nasional, baik dibaca pihak lain maupun buku dikoleksi perpustakaan-perpustakaan ternama (universitas, lembaga kebudayaan, dan lembaga riset). Sekedar informasi, dua buku saya telah menjadi koleksi perpustakaan di Australia, Jepang, Belanda, Malaysia dan Amerika. Informasi ini saya peroleh lewat internet. Yang mana perpustakaan-perpustakaan tersebut memuat informasi koleksi buku-buku di website mereka. Jadi gampang diketahui. Banyak Bahasa di Mandar; Bukan Bahasa Mandar Dunia kepustakaan Mandar kembali diperkaya dengan terbitnya Kamus

234

Besar Bahasa Mandar – Indonesia (KBBMI) yang disusun oleh Muhammad Idham Khalid Bodi, penulis muda Mandar yang menghasilkan pustaka-pustaka Mandar yang fenomenal. Ambil misal terjemahan Terjemahan Arab – Indonesia ke dalam Bahasa Mandar yang diberi judul “Koroang Malaqbiq” dan Sejarah Perjuangan Pembentukan Provinsi Sulawesi Barat. Bukan hanya itu, ada lebih sepuluh karya tulis lain yang disusun oleh Idham Khalid Bodi, baik tentang budaya Mandar maupun tentang Bahasa Arab atau agama. Saat ini dia sebagai peneliti di Kanwil Departemen Agama Sul-Sel. KBBMI sendiri adalah kamus ketiga tentang Bahasa Mandar atau kamus penyempurnaan dari kamus kedua karya Abdul Muthalib, yang dalam kamus ketiga ini diposisikan sebagai editor. Bila membandingkan isi dan perjuangan ketika menuliskannya, kamus kedua mempunyai kelebihan tersendiri. Memang kamus ketiga dua kali lipat tebalnya (antara 200 dengan 400 halaman; terlepas dari adanya tambahan beberapa Kata Pengantar di kamus ketiga dan tambahan artikel tentang Mandar), tapi ukuran teks-nya lebih besar. Kamus kedua menampung 52 baris teks, sedangkan kamus ketiga hanya 42 teks. Bila dirataratakan, kamus kedua mengandung sekitar 10.000 baris sedangkan ketiga 16.000 baris. Jadi, saya perkirakan hanya ada 6.000 penambahan baris. Dalam proses penulisan, penulis (Abdul Muthalib) langsung melakukan riset di lapangan (selain perbedaharaannya sendiri sebagai orang Mandar asli). Alasannya, sebagaimana yang tertulis dalam kata pengantarnya, hampir tak ada referensi tentang Mandar kecuali lontar. Adapun kamus ketiga, yang juga ditulis orang Mandar toto’ ada 12 pustaka: empat diantaranya karya Abdul Muthalib sendiri tentang Bahasa Mandar (termasuk kamus kedua), dan satu kamus Mandar – Indonesia karya Ahmad Sahur (1975) atau kamus pertama dalam sejarah penulisan kamus Mandar. Jadi pada dasarnya, kamus ketiga ditulis oleh dua orang, yaitu Bapak Abdul Muthalib dan Saudara Idham Khalid Bodi. Tapi mengapa tidak demikian? Itu disebabkan sikap seorang Bapak Abdul Muthalib yang sangat menghargai generasi muda yang intens bergerak dalam bidang penelitian dan penulisan, khususnya budaya Mandar. Beliau memberi penghargaan kepada Idham Khalid Bodi, yakni diberi peran sebagai penulis tunggal Kamus Besar Bahasa Mandar – Indonesia. KBBMI memiliki beberapa kelebihan, selain lema yang lebih banyak, juga kualitas cetakannya. Pertama, ukuran teks yang besar memudahkan pembaca. Beda dengan kamus kedua yang teksnya menyulitkan bagi mata yang telah kabur-kabur. Kedua,

235

kamus ketiga dibuat dalam edisi hard cover dengan warna hitam elegan bermotif sarung sutera “sureq salaka”. Sebagai kamus betul-betul disandangnya. Adapun kamus kedua, soft cover saja dengan warna oranye – putih. Sangat sederhana dan “tradisional”. Ketiga, kamus ketiga juga ada beberapa tambahan di halaman-halaman awal, khususnya pembahasan tentang Mandar, yaitu asal kata “mandar”. KBBMI dicetak oleh Zada Haniva, yang kalau tidak salah milik Saudara Manggazali, putra Mandar yang sekarang bermukim di Solo (sebelumnya beberapa tahun di Yogya menuntut ilmu agama di IAIN Sunan Kalijaga dan S2 di Antropologi UGM). Setidaknya ada tiga karya Idham Khalid Bodi yang dicetak oleh Zada Haniva, yaitu “Lipa’ Sa’be Mandar”, “Makna Lambang Provinsi Sulawesi Barat” (yang mana dalam kompetisi logo Sulawesi Barat, Idham Khalid Bodi menjadi pemenang; jadi logo Sulawesi Barat saat ini adalah hasil karyanya), dan “Sejarah Perjuangan Pembentukan Provinsi Sulawesi Barat”. Adapun yang membiayai penerbitan KBBMI adalah Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Barat di bawah pimpinan Muh. Jamil Barambangi, yang juga memberi kata pengantar dalam buku ini bersama Gubernur Sulawesi Barat, Anwar Adnan Shaleh. Kemungkinan besar buku ini akan dibagi-bagi secara gratis ke lembaga pendidikan dan instansi-instansi pemerintah di Sulawesi Barat. Perbandingan dengan Kamus Bugis – Indonesia Suku Bangsa Bugis sedikit lebih maju dibanding Mandar dalam hal penulisan kamus bahasanya. Sebelumnya perlu disampaikan, penyusunan Kamus Bahasa Mandar – Indonesia oleh Abdul Muthalib pada 1977 adalah bagian dari Proyek Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Yang mana pada proyek tersebut, ada puluhan penelitian dan penulisan kamus bahasa daerah, termasuk Bahasa Mandar. Saya pribadi memiliki beberapa seri kamus dari proyek tersebut, yang saya terima (secara gratis) dari Balai Bahasa Yogyakarta beberapa tahun lalu. Bila versi “update” kamus Bahasa Mandar – Indonesia baru terjadi pada tahun 2010, kamus Bahasa Bugis – Indonesia telah dimulai dua tahun lebih awal, 2008. Judulnya, “Aku Bangga Berbahasa Bugis: Bahasa Bugis dari “ka” Sampai “ha”. Kamus ini disusun oleh M. Rafiuddin Nur, seorang pengusaha yang juga penulis buku-buku budaya Bugis. Dia lahir di Soppeng pada 2 Agustus 1945. Kamus yang dibuat pun bukan penulisan ulang (atau penambahan) tapi memulai dari awal (sebab tak ada referensi Kamus Bahasa Bugis – Indonesia dalam

236

kamus baru tersebut). Kamus Bugis tersebut memiliki beberapa keunikan dan kelebihan. Pertama penyusunan ejaan bukan berdasar pada abjad latin, tapi abjad huruf lontar: ka – ga – nga – ngka – pa – ba - sampai - a dan ha atau 23 abjad. Jadi, bagi yang terbiasa menggunakan kamus standar akan sedikit melakukan penyesuaian. Kedua, ada pelajaran tentang huruf-huruf lontar dan cara membacanya. Ketiga, kamus ini juga lebih tebal. Dengan ukuran teks yang kecil (sama dengan ukuran kamus kedua Bahasa Mandar), jumlah halamannya hampir 600 atau hampir separuh dengan KBBMI. Meski disebut kamus Bahasa Bugis, kamus tersebut juga bisa digunakan oleh orang Mandar. Sebab, sebagian besar istilah atau kata Bugis sama dengan istilah atau kata Mandar. Hanya penulisan yang beda; pengucapan yang tidak persis. Tapi, arti dan makna sama. Penyebabnya, antara Mandar dengan Bugis masih satu “stock” bahasa, yaitu “South Sulawesi Stock”. Stok tersebut terbagi atas tiga “family”, yaitu “Bugis Family”, “Nothern South Sulawesi Family” (Mandar), dan “Seko Family”. “Bugis Family” terbagi atas dua bahasa, yaitu Bugis dan Campalagian (harap diingat, Campalagian berada di geografis Mandar); sedang “Nothern South Sulawesi Family” terbagi atas 11 bahasa: Mandar, Mamuju, Pitu Ulunna Salu, Pattae’, Kalumpang, Mamasa, Rongkong, Toraja Sa’dang, dan Toala’. Tingkat kemiripan (lexical similarity) antara Bahasa Mandar dengan Bahasa Bugis hampir 50% sebagaiman dalam hasil penelitian Grimes. Meminjam Bahasa Lain Meski digolongkan sebagai kamus bahasa daerah, penyusunan lema-lema dalam kamus tidaklah kaku. Seperti bahasa-bahasa lain, Bahasa Mandar pun banyak menyerap, meminjam atau mengadopsi bahasa lain. Jadi, di masa mendatang lema atau kosakata Bahasa Mandar akan semakin kaya. Di sisi lain, ada beberapa kata, mungkin karena sulit diucapkan atau jarang diucapkan lagi, menjadi hilang. Waktu saya kecil sampai tahun kedua di perguruan tinggi, setahu saya, bahasa (di) Mandar hanya satu: bahasa Mandar. Hingga kemudian saya membaca buku (semacam laporan penelitian) tentang bahasa-bahasadi Sulawesi Selatan. Hingga hari ini, buku itu saya golongkan sebagai sekian buku-buku penting. Bukunya saya kopi. Sebenarnya cukup tebal, tapi saya hanya kopi bagian tertentu. Lampirannya tidak. Bukunya berjudul LANGUANGES OF SOUTH SULAWESI.

237

Ditulis oleh Charles E. Grimes dan Barbara D. Grimes. Masuk dalam seri terbitan Pacific Linguistc Seri D-No. 78 (Materials in Languanges Indonesia, No. 38). Saya sebut buku penting sebab buku ini menjadi semacam panduan utama untuk “membantah”pemahaman saya selama ini bahwa hanya ada satu bahasa Mandar. Kasarnya, berdasarkan buku ini, dengan berdasar pada alasan ilmiah, sebenarnya Mandar secara budaya tidaklah sama Mandar secara politik! Untuk memudahkan pemahaman, singkatnya, ada beberapa suku di Mandar bila berdasarkan perbedaan bahasa! Maksudnya? Mandar secara politik adalah dari Paku hingga Suremana, tapi secara budaya hanya mencakup sebagian besar Kabupaten Majene dan sebagian Kabupaten Polewali Mandar. Dasarnya apa? Dasarnya adalah penggunaan bahasa! Dalam dunia antroplogi, bahasa merupakan penanda utama sebuah suku. Jadi bukan hal yang salah bila orang Mamuju tidak menyebut diri mereka sebagai orang Mandar sebab orang Mamuju sendiri memiliki bahasa (dan unsur budaya lain) tersendiri, meski ada beberapa yang sama. Sebagaimana orang Mandar tidak mau disebut orang Bugis; orang Bugis tidak mau disebut orang Jawa, dan seterusnya. Untuk pembahasan mengenai suku-suku di Mandar akan saya bahas di tulisan edisi berikut. Nah, di dalam buku Languanges of South Sulawesi terdapat hasil penelitian yang menyebutkan bahwa setidaknya ada sebelas bahasa di kawasan Mandar secara politik (bisa juga dibaca: Sulawesi Barat), sebagaimana yang saya tuliskan di atas (Northern South Sulawesi Family) Bahasa-bahasa di atas tidak sama teritorial atau geografisnya dengan pembatasan administrasi pemerintahan dewasa ini. Misalnya bahasa Toraja Sa’dan yang digunakan oleh penduduk Mamasa yang notabene bukanwilayah/penduduk Kabupaten Toraja (Sulawesi Selatan). Khusus bahasa-bahasa yang terdapat di pesisir dan sebagian ke arah pedalaman, Bahasa Mandar terbagi beberapa dialek, yaitu dielek Balanipa, Majene, Pamboang, Sendana, Awo’ Samakuyu, dan Malunda. Inilah alasan beberapa istilah Mandar berbeda satu sama lain padahal sama-sama Mandar. Sebagai contoh penyebutan “boyang”: di Balanipa (yang mencakup kecamatan Tinambung, Limboro, Balanipa, Alu dan sekitarnya) disebut boyang, di Majene sapo. Bahasa Mamuju juga terbagi-bagi dalam beberapa dialek, yaitu: dialek Mamuju, Sumare, Rangas, Padang, Sinyonyoi, Sondoang, Budong-budong, Tappalang, dan

238

Botteng; Pitu Ulunna Salu terbagi atas: Aralle-Tabulahan, Mambi, Rantebulahan, Bambang, Mehala’an, Tapango, dan Ulunda (menariknya, tidak ada sebutan untuk bahasa Mamasa!); dan Pattae’: Binuang, Paku, Batetanga, dan Anreapi. Lalu bagaimana hubungan bahasa Mandar (sebagai etnis terbesar di Sulawesi Barat) dengan bahasa-bahasa lain yang dimiliki oleh tiga suku besar di Sulawesi Selatan (Bugis, Makassar dan Toraja)? Ada pengacauan yang dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan Sulawesi Selatan yang selama ini cukup disegani, yaitu Mattulada dan Hamid Abdullah, yaitu pengistilahan Bugis-Makassar. Istilah yang akhirnya kita anggap sebagai satu entitas utuh. Sebenarnya tidak, sebab dari segi bahasa, bahasa Bugis banyak bedanya dengan bahasa Makassar. Malah yang banyak sama antara bahasa Bugis dengan Toraja atau Bugis dengan Mandar. Mungkin karena adanya kesamaan kepercayaan (Islam) sehingga perbedaan tertutupi. Juga tentunya alasan politis. Saya pribadi bukan seorang poliglot (menguasai lebih satu bahasa), tapi kalau mendengar percakapan yang berbahasa Bugis atau Toraja, saya bisa paham sedikit. Beda bila mendengar bahasa Makassar. Tentunya karena ada banyak kesamaan antara Bugis dan Toraja dengan bahasa Mandar. Buku yang saya sebutkan di awal tulisan ini memuat tingkat (persentase) kemiripan 40-an bahasa yang ada di Sulawesi Selatan. Cukup menarik sebab masingmasing ada hubungan. Sayangnya, tulisan ini tak cukup ruang untuk membahas satu persatu kesamaan dan perbedaannya. Misalnya bahasa Balanipa dengan Kalumpang (tingkat kemiripan: 60), Balanipa dengan Pattae’-Binuang (tingkat kemiripan: 67), Balanipa dengan Topoyo (tingkat kemiripan: 40), dan lain-lain. Sayangnya, saya tidak mengkopi lampiran buku ini sehingga saya tidak bisa menuliskan istilah atau kata utama yang digunakan dalam riset bahasa. Kalau tidak salah ingat beberapa istilah/bahasa yang dibandingkan kesamaan-perbedaannya. Berdasar bahasa (sampel) tersebut, dapat dibuat pengelompokan bahasa. Penentuan istilah tentu tidak sembarangan. Ada istilah-istilah tertentu yang diyakini bahwa istilah tersebut sangat kuno. Misalnya istilah “api” dan “lima” (tangan) yang hampir sama di banyak bahasa di Nusantara. Adapun istilah seperti “ka’dera” (kursi) yang kedengaran seperti bahasa Mandar tidak bisa sebab sejatinya istilah tersebut berasal dari bahasa Portugis! Nanti saya bahas tentang hal ini di bagian akhir tulisan ini. Menurut riset Grimes, untuk bahasa Mandar, kurang lebih 250.000 orang penuturnya. Jika memang demikian, yang tentu tidak jauh beda saat ini, bisa

239

dikatakan bahasa Mandar dapat digolongkan sebagai bahasa yang terancam punah. Ada teori yang mengatakan, yang kira-kira bunyinya, jika suatu bahasa jumlah penuturnya kurang satu juta, maka bahasa tersebut tidak lama lagi akan punah. Realitas jumlah penutur bahasa Mandar yang semakin berkurang (meski secara kuantitaf bertambah, tapi dari segi kualitas berkurang sebab semakin banyaknya penyerapan istilah di luar bahasa Mandar) terpampang jelas di hadapan kita. Terhadap generasi di bawah kita, kita selalu lebih mengutamakan bahasa Indonesia. Ada beberapa alasan. Ada yang mengatakan supaya anaknya mudah dan cepat berbahasa Indonesia sehingga gampang bergaul di masa mendatang. Ada juga yang beralasan: supaya gaya. Ada banyak cara yang sengaja atau tidak sengaja membantu usaha pemusnahan bahasa Mandar. Hal jamak, seorang yang baru beberapa bulan, misalnya ke Malaysia, baliknya mereka sepertinya tak bisa berbahasa Mandar! “Pokoke pake dialek bahasa Melayu. Gayami seng!�. Lalu dalam komunikasi sehari, misalnya saat SMS-san. Selalu pakai bahasa Indonesia. Belum lagi di sekolah. Di tengah degradasi bahasa daerah kita, ada segelintir orang yang berusaha untuk melestarikan penggunaan bahasa Mandar. Misalnya dua bersaudara: Bakri Latief dan Bustami Latief. Yang pertama, beberapa tahun belakangan ini menyusun buku yang isinya nama orang yang menggunakan bahasa Mandar. Adapun adiknya, setiap berkhotbah, selalu menggunakan bahasa Mandar untuk kemudian dia membuat naskah khotbah shalat Jumat. Harapannya, suatu saat naskah itu akan menjadi buku. Suatu usaha yang patut kita teladani, baik dalam bentuk yang sama maupun dalam bentuk lain, misalnya menulis karya sastra dalam bahasa Mandar, membuat kamus Mandar dalam bentuk digital, dan lain sebagainya. Namun yang paling penting adalah praktek penggunaan bahasa Mandar itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Ini Bukan Bahasa Mandar Bahasa Mandar banyak menyerap atau meminjam bahasa daerah/asing lain. Ya, penyebutannya seolah-olah Mandar, tapi sejatinya bukan asli bahasa Mandar. Berikut contohnya: sapeda (velocipeda, Prancis), pasar (bazar, Persia), majalla (majalla, Arab), bangkrut (bancoratto, Itali), toko (to ko, Tionghoa), buku (boek, Belanda), kitta’ (kitab, Arab), meja (meza, Portugis), kappung (campo, Portugis), garattas (carzas,Portugis), anakoda (nakhoda, Persia), sapatu (sepat, Spanyol), bandera (bandera, Spanyol), poloiq (flute, Inggris), pelor (pelor, Portugis), lamari

240

(lemari, Portugis), kameja, basa (bahasa, dari Bahasa Sansekerta, “bhasa”), polopeng (vulpen, Belanda), tekeng (tandatangan, dari kata “teken” dalam Bahasa Belanda), cambo’ (Persia), kapala (cupola, Italia), gorilla (guerille, Prancis), kollang (Tamil), patti (Tamil), kappal (Tamil), pare (padai, Campa), mate (matai, Campa), la’bi (labeh, Campa), apa (afei, Campa). Sebab Mandar juga termasuk “anak cucu buyut” Bangsa Austronesia, ada beberapa bahasa Mandar yang penulisan atau pengucapannya mirip atau sama oleh suku-suku lain. Contoh kata-kata yang merupakan Bahasa Austronesia adalah tuba (toba), padi (pare), gurita (gurita), udang (urang), pari (jenis ikan), penyu (panynyu), nyamuk (anamo’). Yang juga menarik, dayung dalam bahasa Mandar disebut “bose”, di Filipina dan Madagaskar “base” dan “bosei”. Apakah kebetulan atau tidak? Buku sangat menarik yang membahasa tentang bahasa-bahasa asing dalam bahasa Indonesia pernah diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia. Judulnya, “9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing”. Penulisnya seorang aktor dengan banyak nama: Alif Danya Munsyi, Dova Zila, Yapi Tambayong. Dia lebih dikenal dengan nama Remy Silado. Jadi, kita pun harus hati-hati untuk menyebut bahwa istilah tertentu adalah asli bahasa Mandar! Mandar dan bahasa-bahasa lain di Nusantara banyak menyerap, mengadopsi, meminjam bahasa lain. Tapi kita tak perlu berkecil hati, ada beberapa kata yang “indigen” di Mandar, tinggal perlu riset mendalam untuk mencari tahu kata apa saja itu. Sekali lagi, tak perlu berkecil hati, soalnya ada juga kata Bahasa Mandar yang menjadi bahasa nasional. Yaitu “rumpon”. Dari beberapa penelitian ilmiah, alat bantu penangkapan ikan tersebut berasal dari Mandar. Di Mandar sendiri rumpon disebut “roppong” atau “roppo”. Oh iya, ada juga kata yang saya belum tahu/belum temukan padanannya dalam Bahasa Indonesia, yaitu “ussul”. Defenisi “ussul” adalah praktek penyimbolan, adanya harapan bahwa penyimbolan yang dilakukan akan seperti keinginan, citacita, atau harapannya”. Praktek demikian bukan hanya Mandar yang melakukan, tapi suku-suku di belahan dunia lain. Tapi istilah Indonesia dan Inggris-nya apa? Sebagai orang Mandar, kita harus bersyukur dengan adanya kamus Bahasa Mandar – Indonesia. Kamus dalam bentuk cetak (atau dalam bentuk digital) akan menjadi dokumentasi abadi akan Bahasa Mandar. Jadi, walaupun suatu saat

241

nanti Bahasa Mandar punah, arsip kata-kata Mandar akan tetap ada walau itu tak lagi terucap dari mulut manusia; walau hanya ditemukan dalam buku atau layar monitor komputer. Kamus juga bisa dijadikan sebagai penanda akan peradaban suatu bangsa, dalam hal ini Bangsa Mandar. Secara praktis, dalam kehidupan sehari-hari, saat ini, kamus Mandar – Indonesia digunakan sebagai referensi untuk mencari kata atau makna suatu kata, cara penulisannya, dan cara pengucapannya. Bahasa Mandar dan bahasa-bahasa lain di Sulawesi Selatan memiliki beberapa kekhasan. Ada beberapa kata berbeda pengucapan dan cara penulisannya, misalnya antara “kaluwambang” dengan “kalubambang”. Bukan hanya itu, di dalam kamus pun terdapat aturan-aturan penulisan yang bisa dijadikan dasar atau standar seorang penulis bila menuliskan suatu kata atau bahasa Mandar dalam sebuah tulisan. Sederhananya, ada pedoman ejaan. Bahasa adalah penanda paling penting akan sebuah suku bangsa. Akan menjadi ironi bila (suku bangsa) Mandar tak memiliki generasi yang ahli dalam Bahasa Mandar. Setahu saya, ahli-ahli Bahasa Mandar (yang betul-betul mempelajari bahasa atau sastra di dunia akademik atau perguruan tinggi untuk kemudian menjadi peneliti bahasa daerah) yang tertinggal saat ini semuanya sudah tua. Hanya dua yang saya tahu, Abdul Muthalib (lahir di Campalagian, 17 Juli 1937), penulis Kamus Bahasa Mandar – Indonesia; dan Suradi Yasil, penulis Ensiklopedi Sejarah, Tokoh dan Kebudayaan Mandar (lahir di Limboro, 11 Mei 1945). Bagaimana pun, para ahli atau peneliti adalah salah satu bagian paling penting dalam “benteng pertahanan” Bahasa Mandar, agar tidak cepat mengalami kepunahan. Peran mereka juga diperlukan sebagai tempat bertanya bila ada permasalahan atau perdebatan mengenai kata-bahasa Mandar. Sebab mereka tentunya mempunyai alasan ilmiah dan telah banyak membaca pustaka-pustaka.

242

BAHAN BACAAN Andi Syaiful Sinrang. 1994. Mengenal Mandar Sekilas Lintas. Yayasan Kebudayaan Mandar Rewata Rio. Ujungpandang Andi Muis Mandra. 2008. Mottiana Mandar. Yayasan Saq-Adawang. Majene A.M. Sarbin Sjam. 1997. Bunga Rampai Kebudayaan Mandar dari Balanipa. Limboro Ahmad Asdy. 2009. Sosialisasi Siri’: Etika dan Estetika di Mandar. Yayasan Mahaputra. Tinambung Andre Moller. 2005. Ramadan di Jawa. KPG. Jakarta Anhar Gonggong. 1992. Abdul Qahhar Mudzakkar dari Patriot Hingga Pemberontak. Grasindo. Jakarta Anwar J. Rahman (editor) dkk. 2005. Makassar Nol Kilometer. Media Kajian Sulawesi dan Ininnawa. Makassar Baharuddin Lopa. 1982. Hukum Laut, Pelayaran dan Perniagaan. Alumni. Bandung Baharuddin Lopa. 2001. Kejahatan Korupsi dan Penegakan Hukum. Kompas. Jakarta Christian Pelras. 2006. Manusia Bugis. Nalar. Jakarta Edward L. Poelinggoman. 2002. Makassar Abad XIX. Studi tentang Kebijakan Perdagangan Maritim. KPG. Jakarta Husni Djamaluddin. 1996. Bulan Luka Parah. Pustaka Jaya. Jakarta Ibrahim Abbas. 1999. Pendekatan Budaya Mandar. Pamboang Ilham Shaleh. 2006. Hikmah dalam Hikam. Makassar Leonard Y. Andaya. 2004. Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17. Ininnawa. Makassar M. T. Azis Syah. 1981. Biografi I Calo Ammana I Wewang Topole di Balitung Pahlawan Daerah Mandar Sulawesi Selatan. Pemda Tingkat I Prop. Sulawesi Selatan Mas Alim Katu. 2005. Tasawuf Kajang. Pustaka Refleksi. Makassar Muhammad Ridwan Alimuddin. 2003. Laut, Ikan dan Tradisi: Kebudayaan Bahari Mandar. Forum Dokumentasi Sejarah dan Kebudayaan Mandar. Tinambung Muhammad Ridwan Alimuddin. 2005. Orang Mandar Orang Laut. KPG. Jakarta Muhammad Ridwan Alimuddin. 2009. Sandeq Perahu Tercepat Nusantara. Penerbit Ombak dan Forum Studi dan Dokumentasi Sejarah dan Kebudayaan Mandar. Yogyakarta Mukhlis Paeni (editor) dkk. 1989. Persepsi Sejarah Kawasan Pantai. P3MP Universitas Hasanuddin. Ujungpandang

243

Munirah Sirajuddin. 2000. Mencermati Makna Pesan di Kajang. Citra Adi Bangsa. Makassar Rasydi Asba. 2007. Kopra Makassar: Perebutan Pusat dan Daerah. Kajian Sejarah dan Ekonomi Politik Regional di Indonesia. Obor. Jakarta Suradi Yasil. Ensiklopedi Sejarah dan Kebudayaan Mandar. Edisi I. Forum Dokumentasi Sejarah dan Kebudayaan Mandar Suradi Yasil. 2006. Republik Korupsi. Lapar. Makassar Tim Panyingkul. 2007. Makassar di Panyingkul: Pilihan Kabar Orang Biasa 2006 – 2007. www.panyingkul.com Tim Panyingkul. 2009. Makassar di Panyingkul: Pilihan Kabar Orang Biasa 2007 – 2008. www.panyingkul.com Yuyun Yundini, dkk. 2004. Husni Djamaluddin yang Saya Kenal: Catatan dari Teman-teman. Pustaka Jaya. Jakarta

244

PENULIS Muhammad Ridwan Alimuddin. Lahir di Tinambung pada 23 Desember 1978. Menuntut ilmu di TK Nusaputra Tinambung, SDN 002 Tinambung, SMU 01 Tinambung, dan Universitas Gadjah Mada. Kegiatan dokumentasi kebudayaan Mandar dan kebudayaan bahari Nusantara. Buku: Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut (2004), Orang Mandar Orang Laut (2005), kontributor di dua buku terbitan www.panyingkul.com Makassar di Panyingkul: Pilihan Kabar Orang Biasa 2006 – 2007 (2008) dan Indonesia di Panyingkul: Pilihan Kabar Orang Biasa 2007 – 2008 (2009), dan Sandeq Perahu Tercepat Nusantara (2009). Dalam proses penerbitan Catatan dari Laut I: Ekspedisi The Sea Great Journey (rute Indonesia – Malaysia), Catatan dari Laut II: Ekspedisi Garis Depan Nusantara (rute Makassar – Kep. Tanimbar), Aku Menulis Laut (kumpulan tulisan bertema laut), dan Destructive Fishing di Selat Makassar.

245


Mandar Nol Kilometer