Issuu on Google+

buletin

Edisi III Desember 2012

KPPA Pelopor Suara Perempuan & Anak

APBD 2013 :

SULTENG ALOKASIKAN DANA PENDIDIKAN & KESEHATAN HANYA 5 %

Kok.. Cuma 5% Pak..?!

The Asia Foundation

Canada

Website: kppasulteng.or.id

FOKUS UTAMA :

APBD 2013 :

J

Daftar Isi

SULTENG ALOKASIKAN DANA PENDIDIKAN HANYA 5 % PELAYANAN KESEHATAN YANG SETENGAH HATI

P

emenuhan hak masyarakat atas pelayanan kesehatan di Propinsi Sulawesi Tengah masih setengah hati, hal ini tercermin dalam alokasi belanja daerah (APBD), yang mestinya mengalokasikan anggara untuk urusan kesehatan sebesar Rp 212,85 milyar atau 10% dari total APBD, ternyata dalam APBD 2013, hanya mengalokasikan anggaran sebesar Rp 108,36 milyar atau sekitar 5,09% dari Total APBD Rp. 2,12 milyar , diluar gaji pegawai.

hal 3

PASIEN DI UGD PENANGANAN LAMBAT SEKALI

Nasution Camang

“Meskipun ada orang yang bilang bagus, tapi masih banyak orang-orang kecil yang ketika masuk rumah sakit penangananya lambat sekali, khususnya di UGD” hal 8

PELAYANAN RSU UNDATA BELUM MEMUASKAN

Saya kira ini belum sangat memuaskan masyarakat kota Palu dalam hal mendapatkan hak-hak pelayanan kesehatan”

hal 9 Moh. Masykur

ika melihat RAPBD sektor Pendidikan, Alokasi belanja pendidikan hanya sebesar 103.48 milyar, ini artinya alokasi belanja pendidikan hanya sebesar 5 %.

hal 6

AKTIFITAS : MOTESA KRITIS : MENGGUGAH PUPLIK untuk ANGKAT BICARA

SISIPAN :

hal 12

Penggerak dibalik KPPA

IBU-IBU DAN REMAJA PUTRI BELAJAR APBD

Cara Jitu untuk Penuhi Kebutuhan Nutrisi Anak

hal 18

hal 20

hal 14

Di Akhir Tahun SPLP Gelar Refleksi Gerakan Perempuan

Lima Macam Obat Sakit Gigi Tradisional yang Ampuh dan Paling Mujarab hal 21

Nasier So dari KAMBOJA ke KPPA SULTENG

hal 15

TERJANG PARIMO, KPPA SULTENG BENTUK TIM EVAKUASI BANJIR BANDANG

Selama proses penyisiran ditemukan Dua korban meninggal dunia yang teridentifikasi bernama Kristina Tuwundila nenek berusia 79 tahun dan seorang balita bernama Gita berusia 2 tahun, Tujuh luka-luka dan puuhan rumah hanyut. Jika ditaksir bencana banjir tahun ini telah menimbulkan kerugian materil mencapai Rp hal 13 400 miliar.

hal 22 4 Hal yangTidak Boleh di Katakan pada Anak hal 23

RESENSI : Sukses Mengasuh Anak Sesuai dengan 9 Gaya Kepribadian

OPINI LIBATKAN KAUM PEREMPUAN, TUNTASKAN PERJUANGAN Demokratis-Nasional

Inilah arti penting perjuangan demokratis-nasional atau demokratis melawan feodalisme dan nasional melawan imperialisme.

hal 24

SASTRA : Cerpen

Lagu untuk

AYAH

Karya : Titania

hal 27

hal 25

TOKOH BICARA Ibrahim A.Hafid:

TAMBAHKAN BELANJA PUBLIK PANGKAS BELANJA PEGAWAI

PENGALAMAN MEREKA TERHADAP

PELAYANAN KESEHATAN

hal 10

Kemudian yang berkaitan dengan anggaran harus ada perubahanperubahan mendasar terhadap tata kelola anggaran. Tambahkan belanja publik untuk kepentingan pelayanan kesehatan, lalu kurangi belanja rutin pegawai yang tidak begitu efektif dan tidak efesien, anggaran tersebut harus dipangkas agar tidak terjadi pemborosan hal 29

SUSUNAN REDAKSI Penanggung Jawab: Mutmainah Korona. Pimpinan Redaksi: Sunardi Katili. Wakil Pimpinan Redaksi: Rudi Asiko. Redaktur Pelaksana: Victor AZ. Lay-out dan Dokumentasi: Bary Asbara. Kontributor: Staf KPPA. Distributor: Palu, Didit. Poso, Gunawan Setiawan. Parigi Moutong, Masrin. Dewan Redaksi: Mutmainah Korona, Risnawati, Sunardi Katili, Rudi Asiko, Victor AZ, Rahmawati. Biro Hukum: Maspa Hasra, SH Biro Keuangan: Sri Haryati. Alamat Redaksi: Jl. Mulawarman No.585 Palu, Sulawesi Tengah,Telp. 0451-461088 email: kppasulteng@gmail.com website: www.kppa-sulteng.org 2

Edisi III Desember 2012

buletin

KPPA

DARI REDAKSI

Pelopor Suara Perempuan & Anak

PENGANTAR REDAKSI

Editorial

P

Rakyat Sehat, Negara Kuat

Redaksi

ungkin bembaca pernah mendengar ungkapan Rakyat Sehat, Negara Kuat, Ya, jargon tersebut sering dikampayekan ketika kementerian kesehatan masih dipimpin oleh Siti Fadilah Supari. Sebagai langkah awal dalam membangun rakyat sehat agar negara kuat, kementerian mengajukan perubahan terhadap UU Kesehatan lama, menggantikannya dengan UU Kesehatan yang baru. Pada UU Kesehatan yang baru No. 36 tahun 2009, lebih kongkrit, tegas dan memberi kepastian keberpihakannya pada rakyat. Berbagai programpun dicanangkan seperti, desa/kelurahan siaga, Jamkesmas, dan kini ada Jampersal. Demikian halnya terkait dengan alokasi anggaran, pemerintah pusat wajib mengalokasikan sebesar 5% dalam APBN dan pemerintah Propinsi/Kabupaten/Kota menyiapkan 10% dalam APBD dari total anggaran setiap tahunnya diluar gaji pegawai. Kemudian secara tegas pula menyatakan bahwa besaran anggaran kesehatan tersebut diprioritaskan untuk ÂŻkepentingan pelayanan publikÂŻ, bukan untuk pelayan publik alias belanja pegawai. Buletin KPPA pada edisi III Desember 2012 sengaja mengangkat topik dalam fokus utamanya pelayanan kesehatan yang masih setengah hati di Sulawesi Tengah. Tema ini penting untuk diwacanakan, agar menjadi perhatian semua pihak bahwa pemberian pelayanan kesehatan harus total, menyeluruh dan terpadu, tidak boleh setengah hati. Pelayanan kesehatan yang masih setengah hati itu, terungkap dalam pengalokasian anggaran untuk urusan kesehatan dalam APBD, penilaian tokoh masyarakat maupun kesaksian masyarakat yang pernah berurusan dengan pelayanan kesehatan, demikian halnya terkait dengan urusan pendidikan. Untuk lebih lengkapnya, pembaca dapat

uji syukur yang tak terhingga kita panjatkan kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa, atas karunia-Nya terhadap kesehatan awak Redaksi, sehingga Buletin KPPA untuk Edisi III Desember 2012 dapat hadir kembali di hadapan Pembaca. Pada Edisi kali ini, kami mengangkat Topik dalam Fokus Utama “Pelayanan kesehatan yang masih setengah hati�. Mengapa setengah hati? Anggaran untuk urusan kesehatan saja yang s e h a r u s n y a 1 0 % pengalokasiannya dari total belanja daerah, ternyata hanya dialokasikan setengahnya dari 10%. Demikian halnya untuk urusan pendidikan. Untuk rinciannya Pembaca dapat menyimak di hal 4-7. Pada Fokus lain, pelayanan kesehatan juga dinilai masih belum memuaskan, diskriminatif dan lamban. Hal ini dikuatkan oleh kesaksian warga yang pernah berurusan terhadap pelayanan kesehatan. Semua terungkap di hal 8-11 dan wawan cara tokoh bicara. Kebijakan politik anggaran yang selama ini masih setengah-setengah, belum berkeadilan dan konsisten terhadap prinsip-prinsip penyusunan anggaran juga tersosialisasi dalam aktifitas, seperti motesa kritis, diskusi komunitas, dan konsolidasi organisasi. Semoga Buletin KPPA ini,dapat memberikan inspirasi bagi Pembaca. Amin

Edisi III Desember 2012

M

menyimak peneluran redaksi dalam kolom Fokus Utama. Semangat UU Kesehatan No. 36 tahun 2009 yang menginginkan rakyatnya dalam keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Dengan harapan semakin banyak orang yang sehat maka tingkat produktifitas seseorang tersebut akan semakin tinggi, dan nantinya akan dapat meningkatkan derajat hidup mereka sendiri, dengan demikian secara otomatis tingkat perekonomian negarapun akan semakin membaik. Disisi lain juga dapat meningkatkan Indek Pembangunan Manausia (IPM) dan menekan angka kemiskinan di Sulawesi Tengah. Walaupun dalam pelaksanaannya disana-sini pemerintah daerah masih terdapat kekurangan-kekurangan dalam mengurusi persoalan pelayanan kesehatan, namun belum ada kata terlambat untuk membenahinya. Pemerintah propinsi masih punya kesempatan untuk melakukan evaluasi terhadap keseluruhan mata anggaran yang berurusan dengan kesehatan pada perubahan APBD nanti, dengan melakukan penambahan ataupun realokasi anggaran untuk pelayanan publik, termasuk memperkuat Sumber Daya Kesehatan, penambahan dan peningkatan fasilitas kesehatan. Kongkritnya awali dengan mengalokasikan anggaran untuk urusan kesehatan 10% dari total APBD, lalu tambahkan belanja modal dan prioritaskan, misalnya untuk membangun puskesmas-puskesmas di daerah terpencil lengkap dangan asrama dan tenaga medisnya, dengan demikian tahap demi tahap, kwalitas pelayanan kesehatan pada masyarakat dapat terpenuhi dan mudah dijangkau, dan pada akhirnya rakyat sehat negara kuat tidak hanya sekedar jargon. ***

3

buletin

KPPA

FOKUS UTAMA

Pelopor Suara Perempuan & Anak

RSUD UNDATA : Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Undata yang baru selesai dibangun di Kelurahan Tondo Kecamatan Palu Timur masih belum ditempati sepenuhnya,karena sarana dan prasarananya masih belum lengkap, walaupun sudah diresmikan, sebagian pasien masih menempati Rumah Sakit Undata lama yang berlokasi di JL. Soeharso.

PELAYANAN KESEHATAN YANG SETENGAH HATI Oleh : Mutmainah Korona

P

emenuhan hak masyarakat atas pelayanan kesehatan di Propinsi Sulawesi Tengah masih setengah hati, hal ini tercermin dalam alokasi belanja daerah (APBD), yang mestinya mengalokasikan anggara untuk urusan kesehatan sebesar Rp 212,85 milyar atau 10% dari total APBD, ternyata dalam APBD 2013, hanya mengalokasikan anggaran sebesar Rp 108,36 milyar atau sekitar 5,09% dari Total APBD Rp 2,12 milyar, diluar gaji pegawai. Dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 secara kongkrit telah mengamanatkan pemenuhan alokasi anggaran urusan kesehatan untuk pusat (APBN) sebesar 5% (Pasal 171 ayat 1) dan untuk daerah (APBD

4

Propinsi/Kabupaten/Kota) menyiapkan 10% dari total anggaran setiap tahunnya diluar gaji pegawai (Pasal 171 ayat 2). Besaran anggaran kesehatan tersebut diprioritaskan untuk kepentingan pelayanan publik. Anggaran tersebut tercermin dalam belanja langsung yang melekat di Dinas Kesehatan sebesar Rp 38,12 milyar, RSUD Undata Rp 54.44 milyar dan RS Madani Rp15.79 milyar. Sementara untuk belanja tidak langsung yang digunakan untuk membayar gaji pegawai sebesar Rp 62,80 milyar dengan rincian Dinas Kesehatan sebesar Rp 14,27 milyar, RSUD Undata Rp 35,52 milyar dan RS Madani Rp 12,99 milyar. Sehingga

Mutmainah Korona total keseluruhan (Belanja langsung

Edisi III Desember 2012

buletin

KPPA

FOKUS UTAMA

Pelopor Suara Perempuan & Anak

+ tidak langsung ) sebesar Rp 155,37 milyar, atau sekitar 7,3 % dari Total APBD Rp. 2,12 milyar. Berdasarkan asas kepatuhan ini jelas masih setengah hati dan inkonsistensi. Kemudian berapa besaran anggaran kesehatan publik untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang mestinya harus diprioritaskan? Besaran anggaran kesehatan publik untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan dapat dilihat pada struktur anggaran belanja langsung. Namun demikian kita harus memilah kembali, karena struktur belanja langsung masih terbagi ke dalam Belanja Pegawai (diluar belanja pegawai tidak langsung), Belanja Barang dan Jasa serta Belanja Modal. Untuk membaca apakah anggaran kesehatan tersebut berpihak pada publik atau tidak, sebenarnya sederhana yakni kita tinggal membadingkan dalam komponen belanja langsung. Jika belanja rutin (baca : belanja pegawai+belanja barang dan jasa) lebih besar dari pada belanja modal maka dapat dipastikan APBD tersebut tidak berpihak pada kepentingan publik. Demikian halnya terhadap belanja pegawai (Honorarium/upah pelaksanaan kegiatan) dan belanja barang dan jasa (barang yang nilai manfaatnya kurang dari 1 tahun dan jasa orang yang melaksanakan program), walaupun terkadang para pengguna anggaran berdalih besaran belanja pegawai + belanja barang dan jasa untuk peningkatan Sumber Daya Kesehatan dan pemenuhan sarana dan prasarana pelayanan, akan tetapi harus tetap kita kritisi dan cermati, apakah item program dan kegiatan, efisien atau pemborosan. Kemudian yang lebih penting adalah Belanja Modal (baca : aset dengan nilai manfaat lebih 1 tahun) harus sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang RPJMN Tahun 2010 – 2014, bahwa besaran Belanja Modal yang harus dialokasikan dalam APBD

Edisi III Desember 2012

sekurang-kurangnya 29% dari belanja daerah. Disinilah anggaran publik ditentukan dan harus diprioritaskan. Dalam dokumen penjabaran APBD untuk urusan Kesehatan dari 14 item program dan 30 item kegiatan, secara rinci dapat diketahui bahwa penyerapan anggaran ternyata hanya untuk kepentingan aparatur dari pada untuk kepentingan pelayanan kesehatan. Pada Dinas Kesehatan (diluar RSUD Undata dan RS Madani) diketahui belanja aparatur mencapai Rp 21,17 milyar digunakan untuk honorarium atau upah kegiatan Rp 535 juta, perjalanan dinas Rp 10,54 milyar, makan dan minum Rp 9,59 milyar dan belanja pakaian dinas Rp 496 juta, sementara belanja modal hanya dianggarkan Rp 6,81 milyar digunakan untuk pengadaan alat-alat kedokteran umum 2 kali, pengadaan konstruksi/pembelian gedung kantor, dan pengadaan gerobak. Dilihat dari sisi program dan kegiatan yang diajukan oleh Dinas Kesehatan, sebenarnya sudah memenuhi standar kesehatan dasar, seperti Program Perbaikan Gizi Masyarakat, Program Obat dan Perbekalan Kesehatan, Program Upaya Kesehatan Masyarakat, Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Program Pengembangan Lingkungan Sehat, Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular, Program Upaya Kesehatan Perorangan, akan tetapi dalam pengalokasian anggaran terhadap setiap program dan kegiatan tersebut ¯selalu “ditunggangi”¯ oleh belanja-belanja yang tidak terkait dengan urusan program dan kegiatan. Sebagai contoh, pada Program Upaya Kesehatan Masyarakat dengan anggaran Rp 3.41milyar untuk Empat item kegiatan yakni kegiatan Peningkatan Kesehatan Masyarakat, Peningkatan Kesehatan Khusus dan PMI, Koordinasi dan Sinkronisasi Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak, serta kegiatan Peningkatan Pelayanan Kesehatan

Usila, dalam Belanja Barang dan Jasa di setiap item kegiatan selalu disisipi belanja Jasa Kantor, Belanja Cetak dan Penggandaan, Belanja Sewa, Belanja Makan Minum dan Belanja Perjalanan Dinas. Kemudian yang menyedihkan justru untuk belanja bahan/material seperti obat-obatan dan bahan material lainya yang dibutuhkan masyarakat terkait dengan urusan program/kegiatan, pengalokasian anggrannya malah lebih kecil dibanding untuk urusan kantor dan kedinasan. Kemudian terkait dengan pelayanan kesehatan bagi orang sakit yang penangananya diambil oleh RSUD Undata dan RS Madani yang memfokuskan pada Program Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan, dalam belanja langsung masing-masing justru hanya dialokasikan Rp 54.44 milyar untuk RSUD Undata dan Rp 15.79 milyar RS Madani. Sulawesi Tengah dalam proses meningkatkan membangun Sumber Daya Manusia berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dikeluarkan oleh BPS, secara nasional menempati ranking 22 dan secara regional untuk kawasan Sulawesi pada posisi ke 4 setelah Maluku. Tertinggal jauh dengan propinsi tetangga yakni Sulawesi Utara yang menempati posisi ke 2 secara nasional. Demikian halnya terkait dengan jumlah penduduk miskin, secara regional berada pada urutan ke 6 yang masih diangka 15.83% atau sekitar 423.63 ribu jiwa yang terkonsentrasi di desa hingga mencapai 361.74 ribu jiwa, tertinggal jauh dengan Sulawesi Utara yang bisa menyisakan kemiskinan tinggal 8,51% atau sekitar 194.90 ribu jiwa. Olehnya, pengalokasian anggaran untuk sektor publik dengan konsisten dalam urusan pendidikan sebesar 20%, urusan kesehatan 10% dan Belanja Modal sekurangkurangnya 29%, adalah salah satu upaya untuk meningkatkan IPM dan nenekan jumlah kemiskinan di Sulawesi Tengah.***

5

buletin

KPPA

FOKUS UTAMA

Pelopor Suara Perempuan & Anak

Laporan Khusus

APBD 2013 :

SULTENG ALOKASIKAN DANA PENDIDIKAN HANYA 5 % Review dan Analisis APBD Tahun Anggaran 2013 dalam perspektif Oleh : Risnawati

P

enyusunan dan Pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk tahun 2013 telah dilakukan oleh Pemerintah Propinsi Sulawesi Tengah bersama-sama para wakil rakyat setempat sejak Tiga bulan yang lalu (September 2012) dan pada akhirnya di “toki palu” Desember 2012. Para Kepala Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) atau yang sering kita kenal dengan kepala dinas, badan atau kepala kantor, ramairamai mengajukan anggaran untuk Satu tahun kedepan. Nampaknya pekerjaan rutin tahunan ini tidak membuat pusing mereka, dan nampaknya memang mereka tidak mau ambil pusing. Mengapa demikian? Ya, karena yang namanya pekerjaan rutin itu adalah pekerjaan yang monoton alias itu-itu saja, tinggal Copy anggaran tahun lalu kemudian di Paste, bila perlu sedikit ditambah atau dikurangi syukur-syukur disetujui, tidak ya sudah. Sebagai bagian dari masyarakat atas “tabungan” rakyat yang dikelola pemerintah, agar APBD kita dibelanjakan efektif dan efisien, bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat, maka tim analisis KPPA Sulteng melakukan pembedahan terhadap APBD Sulteng tanun anggaran 2013 secara makro, sementara secara mikro memfokuskan pada pos pendidikan, berikut hasil analisisnya : meninggalkan 5 fungsi penyusunan anggaran dimana dua hal penting adalah fungsi alokasi dimana anggaran diarahkan untuk mengurangi pengangguran dan mengingkatkan efisiensi dan efektifitas dan fungsi distribusi dimana kebijakan anggaran harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan (Pelayanan Publik untuk pengentasan kemiskinan, pendidikan, kesehatan dll). Hal lain dalam penyusunan anggaran mestinya tidak menafikan partispasi rakyat dalam pembangunan yang dimulai dari proses musrenbang sehingga tidak terjadi inkosistensi atas apa yang menjadi kebutuhan masyarakat dan realisasi anggaran yang tertuang dalam setiap program dan kegiatan dimasing-masing SKPD. Jika melihat kinerja anggaran Propinsi Sulawesi Tengah Tiga tahun terahir dari

Risnawati Pendapatan : Kebijakan anggaran adalah instrumen penting yang dimiliki oleh negara untuk menjalankan kewajiban karena kebijakan anggaran merupakan, ranah strategis untuk mengukur seberapa jauh pemenuhan hak dasar rakyat. Pemerintah dalam menyusun anggaran mestinya tidak

6

Edisi III Desember 2012

buletin

KPPA

FOKUS UTAMA

Pelopor Suara Perempuan & Anak

sektor pendapatan sebagai berikut : Secara nominal APBD Propinsi Sulteng setiap tahunnya mengalami peningkatan, namun jika dilihat dari pertumbuhan, maka APBD tahun 2013 mengalami penurunan 11 % dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 36,3% artinya pertumbuhan naik signifikan sebesar 17 % di tahun 2012. Hal ini penting menjadi perhatian jika pendapatan daerah pertumbuhannya rata-rata naik 10 %, setiap tahunnya meunjukan kinerja pemerintah lebih baik dan berkontribusi besar terhadap perbaikan pelayanan publik. Sementara itu secara lebih detail sumbangsih APBD berdasarkan

Dua Tahun terakhir tidak terjadi peningkatan terhadap sektor PAD dan lain-lain pendapatan yang sah. Belanja : Belanja APBD yang setiap tahunnya meningkat diharapkan berkontribusi terhadap perbaikan pelayanan publik, melaui proporsi belanja langsung setiap tahunnya meningkat apalagi peluang/deskresi fiskal setiap tahunnya meningkat dari 72 % menjadi 80 % ditahun 2013. Secara umum Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) tahun 2013, belanja daerah cukup baik, hal ini dapat dilihat bahwa peruntukan belanja langsung lebih tinggi dibanding belanja tidak

sumbernya tergambar pada grafik berikut : Berdasarkan grafik di atas maka tergambar bahwa tingkat ketergantungan Pemerintah Propinsi terhadap pusat masih cukup tinggi, di

langsung yakni 46 % banding 54 %. Jika dirinci secara makro belanja pegawai sebesar 11 %, belanja barang jasa 55 % dan belanja modal 35 %. (lihat grafik: Trend Belanja langsung (BL) dan Belanja Tidak

Langsung (BTL)). Namun demikian perlu kita diteliti lebih jauh peruntukannya pada masing-masing SKPD. Dalam hal ini Tim analisis KPPA akan mendetailkan pada SKPD Sektor Pendidikan : Pendidikan merupakan sektor dasar yang penting menjadi perhatian, dalam amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, alokasi anggaran pendidikan minimal 20 % dari total APBD. Jika melihat RAPBD 2013 pada sektor pendidikan alokasi belanja pendidikan hanya sebesar Rp 103.48 milyar, ini artinya alokasi belanja pendidikan hanya sebesar 5 %. Tentunya hal ini tidak akan menjawab berbagai persoalan pendidikan mulai dari sulitnya akses pendidikan, banyak anak putus sekolah, buta huruf, hingga mahalnya biaya pendidikan. Melihat data tahun 2011 rata-rata lama sekolah 10,98 Tahun (kls 1 SMA) artinya tingkat putus sekolah cukup tinggi pada tingkat SMA. Melihat kebijakan angaran pendidikan dari alokasi belanja barang jasa sebesar 55 % ternyata tidak menjawab persoalan, karena alokasi Belanja Barang Jasa digunakan untuk belanja pakai habis Rp 13 Milyar, Perjalanan Dinas Rp 15 Milyar, Makan Minum Rp 5 Milyar dan Pengadaan Baju Seragam Rp 358 Juta. Potret di atas menunjukan lemahnya keberpihakan anggaran terhadap peningkatan perbaikan dunia pendidikan, akses masyarakat terhadap pendidikan dasar sesuai target MDG's. Masukan : Pemerintah Daerah yang fungsinya memberikan pelayanan publik, mestinya konsiten dan mampu menjalankan amanat undang-undang, menyusun alokasi anggaran berdasarkan situasi daerah, dan memperbesar alokasi anggaran pendidikan untuk distribusikan ke kabupaten/kota yang memiliki persoalan kompleks.***

Edisi III Desember 2012

7

buletin

KPPA

FOKUS UTAMA

Pelopor Suara Perempuan & Anak

DI UGD PENANGANAN PASIEN LAMBAT SEKALI S

Nasution Camang

“ Meskipun ada orang yang bilang

bagus, tapi masih banyak orang-orang kecil yang ketika masuk rumah sakit penangananya lambat sekali, khususnya di UGD itu” 8

etiap pasiaen yang akan masuk rumah sakit harus melalui pintu utama yakni Unit Gawat Darurat (UGD) atau Instalasi Gawat Darurat (IGD). Disinilah pasien maupun keluarga pasien was-was dan cemas. Dalam status gawat maupun darurat penanganan terhadap pasien musti cepat dan tepat, abaikan terlebih dulu persyaratan administratif , tidak peduli miskin ataupun kaya, sebab di UGD inilah jiwa si pasien mendapat pertolongan pertama, terlambat sedikit saja bisa berakibat fatal bahkan yang lebih buruk lagi bisa berakibat melayangnya nyawa si pasien. Karena status gawat dan darurat itulah unit ini disetiap rumah sakit dibuka 24 jam. Namun demikian status gawat dan darurat itu belum bisa dipahami oleh para pelayan rumah sakit. Menurut pengamatan Nasution Camang Pendiri Yayasan Merah Putih (YMP) , pelayanan kesehatan dibeberapa rumah sakit di Palu masih dibawah standar pelayanan. Dia menilai masih ada perbedaan antara pasien miskin dan pasien kaya. “Kalau orang-orang kecil itu selalu di nomor Duakan dibandingkan dengan orang-orang kelas menengah keatas”. Kata Tion sapaan akrabnya saat ditemui di kantor YMP Palu, Senin (24/12/2012). Lebih lanjut Tion memberi perhatian khusus terhadap beberapa kasus di rumah sakit umum, terkait pemberian pelayanan terhadap orang-orang miskin yang masih dibawah standar khususnya pelayanan di UGD. “Meskipun ada orang yang bilang bagus, tapi masih banyak orang-orang kecil yang ketika masuk rumah sakit penangananya lambat sekali, khususnya di UGD itu” sorotnya. Menurutnya, akar masalah atas pelayanan kesehatan yang belum maksimal itu adalah manajemen dan pengawasan, kemudian kebijakan pelayanan kurang tegas. “ Dan yang lebih penting rasa empati dari para pelayan kesehatan harus ditumbuhkan serta profesionalisme dalam menangani pasien “. Imbuhnya. Kepada masyarakat, Tion juga mengajak untuk melakukan pengawasan terhadap mekanisme kebijakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin agar lebih mendapat pelayanan yang maksimal dan tidak dibeda-bedakan.***

Edisi III Desember 2012

buletin

KPPA

FOKUS UTAMA

Pelopor Suara Perempuan & Anak

--------------------------------------------------

PELAYANAN RSU UNDATA BELUM MEMUASKAN

M

oh. Masykur Direktur Perhimpunan Bantuan Hukum Rakyat (PBHR) Sulteng menilai, layanan Rumah Sakit pemerintah di kota palu terhadap rayat miskin masih belum memuaskan. Dia mencontohkan banyak kasus yang terjadi di rumah sakit Undata misalnya, rakyat miskin yang datang berobat di rumah sakit tersebut tidak di layani sebagaimana layaknya pasien yang harus di layani oleh suster atau dokter. “ Saya kira ini belum sangat memuaskan masyarakat kota Palu dalam hal Moh. Masykur mendapatkan hak-hak pelayanan kesehatan” kata Moh. Masykur saat ditemui di kantor Partai NasDem Jl.Katamso (27/12/2012). Theo sapaan akrabnya yang juga wakil sekretaris partai NasDem Sulawesi Tengah menjelaskan, buruknya pelayanan rumah sakit disebabkan oleh sistem pelayan rumah sakit yang bersangkutan. Rumah sakit Undata sebagai rumah sakit milik pemerintah daerah, yang mestinya memberikan contoh yang baik kepada rumah sakit-rumah sakit yang ada di Kabupaten/kota, tapi pada kenyataanya ini terbalik. Theo menambahkan, sistem yang dibangun di RS Undata tidak mencerminkan sikap yang menghargai hak-hak warga negara untuk mendapatkan pelayanan yang baik, Tentunya ini sudah terpola dari atas sehingga pelayanan masih diskriminasi terhadap masyarakat miskin “ Pelayanan kesehatan di RS Undata banyak di keluhkan oleh masyarakat, ” katanya. Saat ditanya bagaimana solusi yang tepat untuk pemerintah, agar pelayan kesehatan pro rakyat miskin dan tidak diskriminatif ? Dia menjelaskan, “ politik anggaran di sektor kesehatan harus di buka secara transparan agar tidak menjadi faktor penghambat memberikan pelayanan kesehatan yang baik. Sehingga warga melakukan control dalam hal penggunaan budget. Kemudian harus ada reformasi di bidang kesehatan kalau kita mau pelayanan kesehatan secara murah, cepat dan baik di rumah sakit atau puskesmas bahkan posyanduposyandu. Kita berharap ada nuansa baru di kota Palu dimana pemerintah care terhadap kondisi rakyatnya yang harus diberikan layanan secara maksimal ketika melayani orang sakit”. “Kadang-kadang ada yang memberikan layanan kesehatan yang baik, tetapi karena tidak di tunjang dengan obat-obatan dan alat-alat kesehatan yang memadai sehingga pelayanan kesehatan menjadi terhambat.” tutupnya.***

Edisi III Desember 2012

Hj.Mardjan Warga Kota Palu Anggota Badan Pengawas Serikat Perempuan Lembah Palu -------------------------------------------------emarin saya baru dari Puskesmas di Perumnas, pada saat itu saya diminta membayar administrasi Rp 20.000,kemudian saya bilang “ Ibu ini kan Gratis kenapa harus ada administrasi 20.000 ? ”, Kemudian petugas loket balik bertanya “ibu kerja dimana?” “Kebetulan saya tinggal di samping kantor KPPA”. Setelah saya tanyakan langsung kepada petugas yang di atas ternyata tidak ada biaya admistrasi. Pada saat saya datang kembali minggu depannya sudah tidak lagi dipungut biaya. Kemudian pada saat saya mengantar keluarga dari pantai barat, ke Rumah Sakit Umum Undata, untuk rawat inak, petugas bilang tidak ada ruangan, kami disuruh pulang oleh pihak rumah sakit, tapi begitu saya menelpon teman dari KPPA besoknya sudah disuruh kembali dan sudah ada Ruangan. Dengan pengalaman Dua kasus tersebut saya menilai pegawai dari Puskesmas atau dari pihak rumah sakit masih diskriminatif dalam melayani pasien dan belum menjalankan fungsinya dengan baik. Mereka masih melihat dari sisi siapa pasien tersebut apakah mempunyai ekonomi yang cukup atau tidak dan yang di prioritaskan adalah pasien yang memiliki ekonomi yang cukup, kemudian pimpinan membiarkan terjadinya pungutan liar. Semua itu adalah masyalah serius yang harus diselesaikan olehnya kita harus melakukan pengawasan karena dinas-dinas yang di atas itu memang sudah memberikan arahan terhadap pelayanan kepada masyarakat yang baik tetapi yang di bawah ini yang tidak menjalankan apa yang sudah di rekomendasikan dari dinas-dinas yang terkait itu.***

K

9

buletin

KPPA

FOKUS UTAMA

Pelopor Suara Perempuan & Anak

Kesaksian

Pengalaman Mereka Terhadap

Pelayanan Kesehatan

T

erkadang antara data dan fakta sering tidak sesuai. Agar data menemukan kesesuaiannya diperlukan verifikasi secara faktual. Riswan Kontributor Buletin KPPA turun langsung menemui warga untuk menggali informasi terkait dengan pelayanan kesehatan di kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah dalam bentuk wawancara khusus, berikut adalah hasil petikan wawaancaranya terkait dengan pengalaman mereka terhadap pelayanan kesehatan.

Ibu Samna Warga Desa Olaya Kec Parigi Kabupaten Parigi Moutong Apakah ibu pernah di rawat di rumah sakit anuntaloko parigi? Jika pernah apa yang ibu rasakn terhadap pelayanannya? Pernah waktu itu saya lagi kena miskram,dan lg pendarahan,malammalam saya di bawa ke rumah sakit,sampai disana saya tidak di layani dengan baik,alasannya suster dokter tidak ada,kemudian saya tidak dapat kamar,susternya bilang"karena ibu pengguna kartu jamkesmas jadi harus di ruangan kelas III nah ruangan kls 3 sudah full,jadi sabar saja.

Jadi setelah itu apa yang dilakukan keluaganya ibu? keluarga saya pergi cek semua ruangan ternyata ada ruangan kosong tapi ruang kelas II,susternya bilang tidak boleh untuk pengguna kartu jamkesmas,terpksa saya hanya bisa menangis,belum lagi para perawat sombong-sombong semua bicara seenaknya “ini ibu tidak ada sabarnya dia sangka torang te cape.� kata mereka.

Jadi secara umum apa kesan yang ibu dapat terhadap pelayanan dirumah sakit? Begini pak,itu namanya rumah sakit anuntaloko parigi,itu artinya milik bersama atau torang punya semua. Tapi kenyataannya tidak seperti itu pak yang saya alami ternyata pelayanannya lebih di utamakan orang berduit jadi diganti saja namanya jangan anuntaloko pak karena tidak sesuai dgn namanya.***

Apa pengalaman bapak terhadap pelayanan kesehatan di Parigi Moutong? Saya sering mendampingi masayarakat saya berobat di Puskesmas, atau ketika dirujuk ke Rumah Sakit Anuntaloko di Parigi Kota. Dalam pelayanan rumah sakit apa yang bapak alami? Sering sekali masyarakat saya setelah di rujuk di rumah sakit, sering terlantar, tidak mendapat pelayanan yang baik, dengan alasan tidak ada dokter, tidak ada kamar dll, dan sering juga pengguna kartu Jamkesmas, ketika berobat diberi resep, kemudian disuruh beli obat ke apotik diluar dengan biaya sendiri, padahal aturannya pengguna kartu Jamkesmas semuanya gratis. Ternyata setelah diselidiki dokternya punya kerjasama usaha dengan apotik tersebut yang di rekomendasikannya.***

10

Edisi III Desember 2012

buletin

KPPA

FOKUS UTAMA

Pelopor Suara Perempuan & Anak

-----------------------------------------------

Ibu Sartin Dauda Anggota DPRD Kabupaten Parigi Moutong ----------------------------------------------Apa pengalaman ibu terhadap pelayanan kesehatan di Kabupaten Parigi Moutong ? Sebelum saya jadi anggota DPRD !,saya sering menolong pasien yang dirujuk ke rumah sakit Parigi, karena Puskesmas di Moutong sarananya sangat terbatas,dan perawatnya juga sangat terbatas,maka sering sekali pasien-pasien itu dirujuk ke parigi,tetapi pihak puskesmas sering sekali tidak menyediakannya fasilitas transportasi,maka sering terjadi pasien terlantar,dan sering terjadi kasus kematian ibu melahirkan diperjalanan ke parigi,karena jarak tempuh dari Moutong ke Parigi hampir 400 km,seharusnya pemerintah membangunkan rumah sakit di bagian Parigi Utara atau minimal rumah bersalin dan dengan tenaga dokter dan perawat yang memadai Parigi Utara ini sangat minim terhadapat sarana dan pelayanan kesehatan, makanya tingkat kesehatan masyarakat di wiliyah utara sangat rendah dibanding parigi wilayah Parigi Kota dan bagian selatan, karena lebih dekat dengan akses sarana kesehatan***

“ seharusnya pemerintah membangunkan rumah sakit di bagian Parigi Utara atau minimal rumah bersalin� Edisi III Desember 2012

Ibu Ramlia Yahya Ahmad Warga Desa Tanalanto Kecamatan Torue Ibu dulu melahirkan di rumah atau di rumah sakit atau puskesmas? Di rumah pak Kenapa dirumah bu? sekarang kan ada yang namanya program jampersal artinya jaminan khusus ibu melahirkan jadi tidak bayar bu Betul pak saya tau itu tapi begini pak,saya punya pengalaman buruk"waktu saya hamil akan anak kedua saya, terus saya pergi ke puskesmas torue untuk ba periksa karena saat itu saya pendarahan ringan,sesampainya di sana saya lama dibiarkan,dan setelah bidan seniornya datang baperiksa dia bilang segra bawa ke rumah sakit saja karena posisi ari2 dibawah,dia marah2 dan bikin panik kami,sementara suami saya bingung karena tidak ada duit untuk sewa taxi,saya pengguna kartu jamkesmas,yang saya tau yg punya kartu begitu berobat gratis termasuk transport,karena setip puskesmas ada mobil puskesmasnya,jadi sepertinya mereka malas melayani kami orang kecil,mereka beralasan obat2 kurang, alat2 juga kurang di puskesmas

Terus setelah itu ibu langsung di bawa ke rumah sakit? Tidak pak,karena saya berpikir biar saja di rumah kita panggil dukun kampung saja,karena dukun kampung tidak menghitung biaya,dia ikhlas menolong,dan penuh kasih sanyang barawat ibu2 melahirkan,dia jaga diaurus betul-betul saya,dan ternyata itu bidan senior dipuskesmas torue itu tidak betul dia punya baperiksa, karena ari2 anakku tidak betul ada dibawah,setelah di periksa dukun kampung, dan saya melahirkan dengan selamat. Jadi bu apa yang ibu bisa rasakan lagi soal pelayanan kesehatan seperti yang ibu alami? Iya saya merasakan pelayanan kesehatan itu mulai dari puskesmas sampai rumah sakit sangat buruk bagi orang miskin seperti kami,tapi bagi orang kaya atau yang ada keluarganya kerja didalam semuanya gampang,dan harapan saya itu para suster/perawat-perawat yang kerja dipuskesmasatau rumah sakit supaya lebih dididik moralnya,bisa lebih sopan dan halus melayani pasien dan tidak membedabedakan***

Ibu Masadia

Warga Desa Tanalanto Kecamatan Torue Assalamu’alaikum bu, apa pengalaman ibu terhadap pelayanan rumah sakit Anuntaloko Parigi ? Oh iya saya ingat betul waktu suami saya dahlan,mengalami kecelakaan di desa olaya,waktu itu dia langsung dibawa orang olaya ke rumah sakit parigi, saya dan anak-anak tinggal menyusul,dan wkt sampai di rumah sakit saya liat suami saya menggorok seperti sapi di potong, tidak sadar,sementara dia hanya dipasangkan infus dan dibiarkan terbaring begitu saja olh perawat,di ruang UGD, kami menuntut perhatian,tapi perawat bilang dokter belum ada,setelah lama kami ribut-ribut dengan perawat, lalu kepala perawatnya bilang dirujuk kepalu saja, dan setelah disepakati rujuk ke Palu timbul masalah baru,karena sopir ambulance tidak ada,masa rumah sakit sebesar itu tidak ada sopirnya,dan akhirnya suami saya dirujuk dirumah sakit undata hanya 2 malam suamiku sudah meninggal,itulah pengalamanku terhadap pelayan di rumah sakit***

11

buletin

KPPA

AKTIFITAS

Pelopor Suara Perempuan & Anak

Mutmainah Korona Direktur KPPA Sulawesi Tengah.

MOTESA KRITIS : MENGGUGAH PUPLIK untuk ANGKAT BICARA

P

roblematika kebijakan politik anggaran yang selama ini masih belum berkeadilan dan konsisten terhadap prinsip-prinsip penyusunan anggaran dan masih jauh dari harapan publik, harus menjadi perhatian semua pihak untuk mengkritisinya. Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPA) Sulawesi Tengah yang selama ini consern terhadap analisis politik anggaran mencoba mempelopori, menggugah publik untuk angkat bicara tentang APBD dengan menggelar kegiatan Motesa Kritis, Sabtu (15/09/1012) di rumah makan Kampung Nelayan Palu.

Kegiatan yang dilakukan secara rutin ini dihadiri oleh sekitar 50 orang, terdiri dari unsur-unsur kunci masyarakat di Sulawesi Tengah, seperti unsur pemerintah daerah, DPRD , NGO, pers, mahasiswa, perwakilan partai politik, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan, dan forum anggaran. Dalam pengantar diskusi Tim analis anggaran dari KPPA terangkum beberapa pokok permasalahan, bahwa persoalan politik anggaran yang belum berpihak kepada rakyat miskin telah lama dibicarakan oleh berbagai kalangan di Sulawesi Tengah, namun masih sulit rasanya untuk mengatakan bahwa pemerintah daerah telah berpihak kepada rakyat miskin, yang terjadi malah sebaliknya

12

pemerintah seakan-akan memperkaya diri dan golongannya. Terdapat Tiga hal yang menjadi u k u r a n K P PA , j i k a m e m a n g pemerintah daerah berkomitmen terhadap masyarakatnya, dalam kebijakan anggaran minimal harus memperhatikan, keadilan alokasi, keadilan distribusi dan konsistensi stabilisasi. “Dari Tiga hal tersebut dapat mengetahui apakah pemerintah di Sulawesi Tengah telah berpihak kepada rakyat ataukah hanya memperkaya diri dan krooni-kroninyaâ€? kata Risnawati salah satu anggota tim. Dalam pemaparannya diketahui bahwa postur Rancangan APBD untuk anggaran tahun 2013 memang keadilan alokasi (baca: belanja modal) kecendrungannya menurun setiap tahunnya, sedangkan belanja pegawai setiap tahunnya meningkat, kemudian tidak ada keadilan distribusi, kususnya fungsi anggaran dalam menanggulangi kesenjangan sosial ekonomi masyarakat dan kesenjangan distribusi antara derah maju dan daerah tertinggal. Kegiatan serupa, yang bertujuan untuk mencari jalan keluar atas problem politik anggaran yang belum konstitusional dan berkeadilan juga dilaksanakan kembali pada Kamis (29/11/2012) dan Jum'at (14/12/2012) di cafĂŠ Carreto Palu, dengan tema mendorong anggaran pendidikan yang konstitusional dan adil di Sulawesi Tengah.***

Dedy Irawan Direktur YPR Palu Sulawesi Tengah.

Ridwan Yalidjama Anggota DPRD Sulawesi Tengah.

Andika Setiawan Deputi JATAM Sulawesi Tengah.

Dharma Gunawan Kepala BAPPEDA Kota Palu.

Edisi III Desember 2012

buletin

KPPA

AKTIFITAS

Pelopor Suara Perempuan & Anak

B

encana banjir bandang yang menerjang kabupaten Parigi Moutong (Parimo) Sulawesi Tengah Selasa malam (25/09/2012) telah meluluh-lantahkan Enam Desa di Kecamatan Parigi Selatan yakni desa Boyantongo, Lemusa, Gangga, Dolago, Masari dan Tindaki. Sejak malam kejadian, KPPA Sulteng perwakilan Parigi secara spontan langsung membentuk Tim evakuasi yang melibatkan pemuda setempat, dengan membagi Dua tim. Tim satu dipimpin oleh Riswan menyisir korban bencana di desa Boyantongo dusun 3, Dolago, Masari dan Tindaki, sementara tim Dua dipimpin oleh Masrin bergerak di dusun 1 dan 2 desa Boyantongo, Lemusa dan Gangga. Selama proses penyisiran ditemukan Dua korban meninggal dunia yang teridentifikasi bernama Kristina Tuwundila nenek berusia 79 tahun dan seorang balita bernama Gita berusia 2 tahun, Tujuh luka-luka dan puuhan rumah hanyut. Jika ditaksir bencana banjir tahun ini telah menimbulkan kerugian materil mencapai Rp 400 miliar. Keesokan harinya Rabu (26/08/2012) tim berusaha mengidentifikasi lebih jauh tentang titik-titik bencana serta data korban, selanjutnya untuk merespon data yang diperoleh, tim memutuskan untuk membentuk Posko Bencana. Beberapa lembaga ikut bergabung

Edisi III Desember 2012

TERJANG PARIMO, KPPA SULTENG BENTUK TIM EVAKUASI BANJIR BANDANG

Selama proses penyisiran ditemukan Dua korban meninggal dunia yang teridentifikasi bernama Kristina Tuwundila nenek berusia 79 tahun dan seorang balita bernama Gita berusia 2 tahun, Tujuh luka-luka dan puuhan rumah hanyut. Jika ditaksir bencana banjir tahun ini telah menimbulkan kerugian materil mencapai Rp 400 dalam posko tersebut seperti relawan untuk orang dan alam (ROA), Aksi Cepat Tanggap (ACT), wahana lingkungan hidup (Walhi) Sulteng, Yayasan Merah Putih (YMP) Palu, Front Perjuangan Rakyat (FPR), Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Sulteng, Unilever Indonesi, Aliansi KPA Sulteng dan Ketapang Center. Kegiatan di Posko bencana mulai dilakukan dengan melakukan pendataan korban beserta aset, membuka dapur umum dan turut serta dalam pendistribusian bantuan kepada warga korban yang melibatkat ibu-ibu setempat. Riswan Koordinator posko menyarankan kepada pemerintah setempat, untuk solid koordinasi

antar pimpinani daerah sehingga tidak berjalan sendiri-sendiri, lalu sistem distribusi bantuan disalurkan lebih evektif dan evisien, kemudian sistem evakuasi korban dan tempat pengungsian sanitasi dan sarana air bersih harus disediakan, dan sebaiknya pasca banjir pemanfaat kayu glondongan yang terbawa banjir dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang menjadi korban banjir. Disisi lain bencana banjir yang terjadi di Parigi membuat penasaran warga yang ingin tahu situasinya, merekapun berbondong-bondong mendatangi lokasi bencana, sehingga arus lalu lintas menjadi macet dan proses efakuasipun menjadi terhambat.***

13

buletin

KPPA

AKTIFITAS

Pelopor Suara Perempuan & Anak

IBU-IBU dan REMAJA PUTRI

BELAJAR APBD

INSPIRASI

Ibu-Ibu Hamil Duduki Rumah Sakit Bersalin di Rusia

D

IBU-IBU BEDAH APBD: Ibu-ibu rumah tangga yang terwadahi dalam Sikolah Mombine, saat belajar Anggaran pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) di Kelurahan Lambara Palu Utara. menggugah kesadaran mereka yang ingin terjun langsung melibatkan diri dalam proses musrenbang dan proses pembahasan anggaran di DPRD. “Dengan belajar seperti ini, paling tidak saya dapat mengetahui struktur dan sumber anggaran pendapatan belanja daerah kota Palu” kata salah satu warga yang ikut belajar. alah satu upaya untuk Disamping itu dalam proses menumbuhkan kesadaran pertemuan Sikolah Mombine, ibu-ibu poltik, bagi ibu-ibu rumah juga tergerak untuk melakukan tangga dan perempuan remaja, KPPA pemantauan, memberikan usulan, Sulteng menggelar diskusi kampong agar anggaran yang terserap dalam di salah satu dusun kelurahan APBD Kota Palu diprioritaskan untuk Lambara kecamatan Palu Utara, kepetingan publik. Sabtu, (15/12/2012). Kegiatan serupa juga dilakukan di Kegiatan yang terwadahi dalam simpul-simpul Sikolah Mombine di Sikolah Mobine ini berupaya kelurahan lain seperti di Cemara, membedah Rencana Anggaran dan Anoa, Lolu Selatan, dan Kayumalue, Belanja (APBD) kota Palu untuk tahun serta di desa Sibovi kab.Sigi anggaran 2013. Upaya ini dilakukan “Proses penguatan perempuan karena pemerintah palu dinilai lemah saya harapkan dapat berkelanjutan” dalam penyerapan aspirasi pinta salah satu remaja saat diskusi masyarakat dan minimnya berakhir. KPPA juga berharap mudahperempuan dilibatkan dalam proses mudahan kegiatan ini dapat memberi pengambilan keputusan seperti efek karambol bagi masyarakat miskin musrenbang, akes terhadap dalam jangka panjang. Olehnya, ini pendidikan, pemenuhan sarana air tidak terlepas dari komitmen ibu-ibu bersih, kesehatan reproduksi dan memperjuangkan perubahan persoalan lainnya. kebijakan negara yang responsif Upaya ini ternyata cukup gender dan pro rakyat miskin.***

S

14

i kota kecil bernama Borisoglebsk, di wilayah Yaroslavl, Rusia, sepuluh ibu hamil menduduki sebuah rumah sakit bersalin. Aksi tersebut terjadi pada tanggal 24 Desember 2012 lalu. Menurut laporan media setempat, aksi tersebut dilakukan oleh ibu-ibu tersebut sebagai bentuk protes atas rencana pemerintah menutup rumah sakit bersalin tersebut. Ibu-ibu itu mengirim pesan kepada pemerintah, bahwa mereka tidak akan menghentikan aksinya sebelum pemerintah berjanji tidak akan menutup rumah sakit bersalin. Pemerintah berasalan, penutupan rumah sakit tersebut dilakukan karena tidak lagi efisien. Seorang jubir pemerintah mengatakan, pemerintah harus mengeluarkan biaya besar untuk menjalankan klinik bersalin di kawasan pemukiman miskin. Pemerintah Yaroslavl akan menutup sedikitnya 7 rumah sakit bersalin. Salah satunya adalah rumah sakit yang ada di Borisoglebsk. Pemerintah berjanji bahwa penutupan rumah sakit tidak akan mempengaruhi layanan. Tetapi ibu-ibu berpendapat, jika rumah sakit bersalin tersebut ditutup, mereka akan kesulitan untuk melahirkan. Maklum, jarak antara pemukiman dan rumah sakit di kota sangat jauh. Jarak antara Borisoglebsk dan kota Yaroslavl mencapai 115 kilometer. “Saya sudah melahirkan tiga anak di klinik ini dan sekarang saya akan melahirkan anak keempat. Selama lebih dari 10 tahun saya telah melihat segalanya dari dalam. Kalau kami tidak butuh klinik ini, tidak mungkin kami berada di sini,” kata Olga Anikayeva, salah seorang peserta aksi. Warga kota sendiri sangat mendukung aksi para ibu hamil. “Kami memilik pendapat yang sama. Saya kira, menutup rumah sakit bersalin adalah berlawanan dengan kepentingan rakyat,” kata Anna Olontseva. Belum diketahui seperti apa respon pemerintah kota terhadap aksi ini. Tetapi warga kota pernah mengumpulkan uang untuk memperbaiki kamar mandi dan mengganti jendela rumah sakit.***

Edisi III Desember 2012

buletin

KPPA

AKTIFITAS

Pelopor Suara Perempuan & Anak

NARA SUMBER : Para Nara Sumber dari kiri Alim Koodinator AGRA, Maida Sita ketua SPLP, Given Lasimpo Koordinator FPR, dan Haslinda Moderator dalam acara Refleksi Akhir Tahun Minggu (30/12/2012)

Di Akhir Tahun SPLP Gelar Refleksi Gerakan Perempuan D

alam kerangka penguatan dan strategi pengorganisasian, Serikat Perempuan Lembah Palu (SPLP) menggelar refleksi gerakan perempuan di Hotel Dwi Mulia, Minggu (30/12/2012). Refleksi yang dihadiri oleh sekitar 60 orang anggota SPLP dari kota Palu dan kabupaten Sigi ini, dilakukan untuk melihat dan menilai program dan kegiatan yang telah dilakukan selama satu tahun. Karena menurut mereka penilaian ini sangatlah penting, sebab menjadi tolok ukur dalam pekerjaan kedepan.

Edisi III Desember 2012

Menurut Maida Sita, ketua SPLP, ada beberapa aspek penilaian yang akan dijadikan tolak ukur dalam melakukan refleksi yakni aspek membangkitkan, aspek mengorganisasikan dan aspek menggerakkan. Dalam mengawali diskusinya, Dia menjelaskan dari aspek membangkitkan belum semua perempuan khususnya di lembah palu menyadari akan ketertindasan yang dialaminya. Dia mencontohkan, kaum perempuan petani di Desa Sibowi yang umumnya buruh tani dan tani

miskin dengan upah yang sangat rendah, kemudian pupuk, bibit dengan harga mahal atau pembagian hasil produksi dengan pemilik tanah tidak senilai dengan hasil pekerjaannya atau kaum perempuan diperkotaan yang bekerja disektor riil sebagai buruh pabrik upahnya berbeda dengan buruh laki-laki dengan pekerjaan dan produksi yang sama, situasi tersebut diperparah dengan budaya patriarkhi yang masih kental peninggal zaman feodal hingga hari ini, “ Gambaran situasi tersebut di atas telah berpengaruh terhadap kesadaran pembangunan organisasinya sebagai manifestasi untuk menggerakan sekaligus memperjuangkan hak-hak dasarnya� urainya. Refleksi tersebut juga menhadirkan narasumber dari Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Sulteng dengan materi Strategi Pengorganisasian Rakyat, dan nara sumber dari Front Perjuangan Rakyat (FPR) Sulteng yang membawakan materi Persatuan Nasional bagian dari strategi Perjuangan Rakyat. Dalam pemaparannya disampaikan bahwa imprealisme, feodalisme dan kapitalis birokrat adalah kontradiksi pokok yang masih menjadi penghalang rakyat Indonesia dalam perjuangan demokratisnasional. Olehnya harus disadari bahwa perjuangan perempuan adalah bagian dari perjuangan rakyat lainnya seperti kelas buruh, kaum tani, nelayan, pemuda, mahasiswa dan kaum miskin perkotaan yang mestinya bersama dalam persatuannya memperjuangkan hak-hak dasarnya. Akhirnya refleksi ini merekomendasikan untuk penjadwalan konsolidasi disetiap wilayah SPLP.***

15

buletin

POTRET

KPPA Pelopor Suara Perempuan & Anak

K

omunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPA) Sulawesi Tengah yang selama ini consern terhadap analisis p o l i t i k a n g g a r a n me n c o b a mempelopori, menggugah publik untuk angkat bicara tentang APBD dengan menggelar kegiatan Motesa Kritis, Sabtu (15/09/1012) di rumah makan Kampung Nelayan Palu dan Kamis, (29/12/2012) di Café Careto. Kegiatan yang

dilakukan secara rutin ini dihadiri oleh berbagai unsur-unsur kunci masyarakat di Sulawesi Tengah, seperti unsur pemerintah daerah, DPRD, NGO, pers, mahasiswa, perwakilan partai politik, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan, dan forum anggaran.*** Tasrif Siara saat memfasilitasi acara Motesa Kritis di Café Careto Palu Kamis,(29/12/2012)

Baharudin HT, Asisten I dan Safrun Abdullah Wakil Ketua Adi Prianto Ketua PRD Sulteng (kiri) dan Ibrahim A.Hafid DPRD Prop. Sulteng Nara Sumber dalam acara Motesa Koordinator Forum RT se kota Palu saat menyampaikan Kritis di Café Careto Palu Kamis,(29/12/2012) pandangan dalam Motesa Kritis tentang tata kelola anggaran APBD di Café Careto Palu Kamis,(29/12/2012) Risanawati Manager Program Building Better Budget for Women and The Poor (B3WP) KPPA Sulteng dan Safrun Abdulah Anggota DPRD Sulteng sedang berbincang saat Risnawati dan Sunardi Katili menyimak poin-poin kritis acara Motesa peserta terkait tata kelola anggaran di Café Careto Palu Kritis usai. Risnawati bersama Baharudi HT Asisten I Pemprop Sulteng beserta peserta yang lain beramah tamah dan tukar pikiran usai acara Motesa Kritis di Café Careto Palu Kamis,(29/12/2012)

16

Edisi III Desember 2012

buletin

KPPA

POTRET

Pelopor Suara Perempuan & Anak

Workshop Skema Kota Layak Anak yang diselenggarakan oleh KPPA Sulteng di Balai Kota Palu, Minggu, (16/12/2012)

Seorang peserta Workshop Skema Kota Layak Anak saat presentasi hasil diskusi kelompok di Balai Kota Palu, Minggu, (16/12/2012)

Anak-anak Banua Nungana KPPA Sulteng usai memperingati Ibu-ibu yang tergabung dalam Sikola Mombine Simpul Hari Anak Nasional di Balai Kota Palu, Minggu, (16/12/2012) Kayumalui, saat mengikuti diskusi tentang politik Anggaran

Mutmainah Korona, saat memfasilitasi pembentukan Sikolah Mombine, Sabtu,(22/12/2012) di Parigi Moutong.

Muhamad Rizal Kaniu (Lucky) saat memfasilitasi workshop dalam tema Tata Kelola Anggaran yang responsif gender dan berkeadilan diadakan oleh KPPA Sulteng di Kabupaten Poso Minggu,(23/12/2012)

Edisi III Desember 2012

Seusai diskusi tentang APBD,Sabtu,(29/12/2012) para peserta bersepakat perlunya pembentukan Forum Anggaran di Kabupaten Parigi Moutong untuk membedah APBD.

A

ksi, Pendidikan dan Bacaan, adalah metode mengorganisiran rakyat, agar menemukan titik kesadaran kritis yang mesti harus diuji dalam wujud nyata tindakan/praktek. Pembentukan struktur, workshop, diskusi, dan aksi-aksi menuntut kesejahteraan dan keadilan bahkan aksi momentum sekalipun, haruslah melahirkan perluasan struktur, dan kesadaran tindakan baru dalam keberpihakan terhadap nasib perempuan yang selalu dalam posisi termarjinalkan, di semua sektor kehidupan berpolitik, ekonomi, maupun hubungan sosial.***

17

buletin

SISIPAN

KPPA Pelopor Suara Perempuan & Anak

Penggerak dibalik KPPA ACI yang mempunyai nama asli Maspa H a s r a perempuan d i b a l i k penggerak KPPA untuk saat ini m e n j a b a t sebagai Kepala Unit Advokasi d a n Pendampingan K o r b a n Kekerasan. Keluar masuk Maspa Hasra kantor polisi dan pengadilan, adalah aktifitas rutinnya yang dilakukan hariharinya mendampingi korban kekerasan. Mulai bergabung dengan KPPA pada tahun 2004 dengan mengawali akivitasnya sebagai CO. Disamping sebagai advokatnya KPPA, Dia juga punya tambahan kerja salah satu anggota Tim Building Better Bugdet For Women and The Poor (B3WP) Program KPPA kerjasama dengan The Asia Foundation (TAF) bergerak fokus di wilayah Kota Palu. Ditengah kesibukannya mengadvokasi korban kekerasan, Dia juga membangun jaringan dengan bergabung bersama perempuan Indonesia Jass Sea, Jejaring Psikososial dan Kesehatan Jiwa dalam Penanggulangan Bencana (Jaring Kawan ) Indonesia, Pengurus Gugus Tugas Trafikking Sulawesi Tengah dan pernah juga sebagai Pengurus P2TP2A di Kabupaten Donggalla (2008) serta Pengurus P2TP2A Kota Palu (2010) Perempuan kelahiran Lasoani 10 Desember 1974, yang menyelesaikan SH-nya di Universitas Tadulako tahun 2004, mempunyai pengalam kerja sebagai Panwas Kecamatan Palu Timur pada Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden tahun 2009, serta Panwas Kecamatan pada Pemilukada Walikota Palu tahun 2010.***

-------------------------------------------------------Jika pada edisi II Buletin KPPA menampilkan para awak Redaksi, untuk Edisi III, Redaksi menampilkan para Penggerak KPPA, Jika pembaca atau warga masyarakat ada yang mengalami tindakan kekerasan, silahkan datang ke kantor Kami, temui para penggerak KPPA. -------------------------------------------------------TARI, Sebagai seorang yang dipercaya sejak 2009 sebagai staf keuangan Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPA) Sulawesi Tengah, Sakina Fitrisari Lestari kelahiran Kota Palu 24 tahun lalu biasa di sapa Tari ini cukup berpengalaman dalam pengelolaan keuangan internal KPPA Sulawesi Tengah. Ibu dua orang anak ini, bermula sebagai staf keorganisasian dan pengelolaan Perpustakaan KPPA Sulteng tahun 2007 sampai tahun 2008, ditahun yang sama hingga tahun 2009 sebagai pengelola keuangan pada Program Pengembangan Sikolah Mombine (Pengembangan sekolah politik perempuan Sulawesi Tengah) k e r j a s a m a a n t a r a K P PA Sulawesi Tengah dengan Yayasan TIFA, setahun kemudian juga sebagai pengelola keuangn pada Program Peningkatan Pengetahuan Perempuan dan Masyarakat sekitar terhadap Hak Reproduksi Perempuan kerjasama antara KPPA Sulteng dengan HIVOS dan ditahun 2011 sebagai pengelola keuangan Program Banua Nu Ngana k e r j a s a m a K P PA Sulawesi Tengah dengan Bappeda Sakina Fitrisari Lestari Kota Palu.***

ANDY MUSBIYATI perempuan kelahiran Parigi 27 tahun yang lalu adalah tipe perempuan pekerja keras yang mencoba menyalurkan bakat dan kreatifitasnya bersama KPPA adalah tempat yang cocok untuk membentuk karakter yang lebih kuat. Awal bergabung Dia di tempatkan pada posisi pengorganisasian perempuan dan anak. Perempuan yang biasa dipanggil Yati baru saja melepas masa lajang di Tahun 2012 mengawali aktivitasnya sebagai kepala sekolah pada program Sikolah Mombine yang di gagas KPPA ditahun 2010 dan kini dipercaya menjadi field oficcer untuk wilayah Parigi kabupaten Parigi Moutong. Komitmen dan semangat mengorganisir serta kemampuan untuk meningkatkan kapasitas sebagai seorang perempuan termasuk pemahamanan politik anggaran dengan tekun Dia menjalankannya sebagaimana yang dimandat oleh lembaga KPPA.*** Andy Musbiyati

18

Edisi III Desember 2012

buletin

KPPA Pelopor Suara Perempuan & Anak

MPR dan UUD 1945 C I N D R A , di TVRI Palu, Perempuan ditahun yang sama kelahiran Poso pula peserta 19 tahun silam pertukaran pelajar tepatnya 18 Poso dan Maluku Oktober 1993 Intervidi di bernama lengkap Yogjakarta (Youth Niluh Cindralyn Student Camp Oleh Wulandari yang PTD) sekaligus biasa dipanggil peserta Workshop akrab Cindra, Dampak Miras dan saat ini sedang Narkoba dan menyelesaikan Kelompok Remaja studi di Fakultas Pemerintah MIPA Jurusan K e l u r a h a n Matematika Lawanga dan PTD. Universitas Sebagai salah satu Ta d u l a k o p e n g u r u s angkatan 2011. Niluh Cindralyn Wulandari Himpunan Mahasiswa Perempuan single M a t e m a t i k a F M I PA nan enerjik ini dikenal sejak masih dibangku sekolah telah UNTAD, ditahun 2011 ia juga ikut proaktif diberbagai kegiatan maupun peserta pada kegiatan Leader Sheep organisasi, bermula tahun 2003 yang difasilitasi KMHDI dan menjadi anggota Yayasan Anak-Anak Pemerintah Kota Palu bertempat di Tercinta (Delovet Children Vondetion Hotel Jazz Palu. Saat ini ia sebagai staf pada Unit Delovet), selang 2 tahun kemudian tepatnya 2005 ia menjadi sekretaris Pendidikan dan Pengorganisasian Organisasi Siswa Intera Sekolah Komunitas Peduli Perempuan dan (OSIS) pada SMP Negeri 1 Poso Anak (KPPA) Sulawesi Tengah yang sekaligus sekretaris Pramuka, ditahun mengkordinir Banua Nungana (BN). Ia yang sama pula sebagai anggota aktif dan bergabung di KPPA Sulawesi Tengah pada pertengahan tahun Palang Merah Remaja (PMR). Di tahun 2008 menjabat sebagai 2011, berawal ketika mengikuti K o o r d i n a t o r K e s e n i a n p a d a organisasi Banua Ananggodi (BA) Organisasi Siswa Intera Sekolah bagian dari aktifitas KPPA perwakilan (OSIS) SMA Negeri 1 Poso. Setahun di Poso, paska selesai studinya di kemudian aktif pada english club di SMA Negeri 1 Poso, ia menjadi staf SMA Negeri 3 Poso, kemudian KPPA Sulawesi Tengah di Palu hingga mengikuti Lomba Cerdas Cermat sekarang.***

SISIPAN Nur Fitria-Perempuan kelahiran Tompe 26 tahun silam tepatnya 30 Mei 1986 bernama Nur Fitria yang biasa dipanggil akrab Nur. Menyelesaikan pendidikan formalnya dengan gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Tadulako. Perempuan enerjik ini, semasa SMP dan SMA sudah mengenal organisasi, aktif sebagai anggota OSIS. Saat kuliahpun ia bergabung di Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HIMAKSI). Sejak tahun 2010 aktif sebagai staf pada Unit Analisis dan Kebjiakan Anggaran KPPA Sulawesi Tengah. Pernah magang analisis anggaran di Sekretariat Nasional Forum Transparasi untuk Anggaran (Seknas Fitra) di Jakarta dan Kabupaten Kebumen***

K

ekerasan dalam rumah tangga atau biasa disebut KDRT maupun Non KDRT dapat dialami oleh siapa saja. Korban kekerasan yang melaporkan kasusnya masih sangat kecil jika dibandingkan dengan yang tidak terlapor, utamanya dilingkungan keluarga miskin dan ekonomi lemah. Hal ini disebabkan karena keterbatasan pengetahuan tentang KDRT, aturan perlindungannya serta cara melaporkan kasusnya, ketidaktahuan hak-hak hukumnya untuk mendapatkan kebenaran dan keadilan selain juga korban belum mengetahui atau enggan melaporkan kasus yang dialaminya. Untuk itu kami menyajikan alur penyelesaian kasus KDRT dan Non KDRT, mudah-mudahan dapat membantu bagi siapa saja yang mengalami kasus kekerasan. Berikut alur penyelesaian Nur Fitria kasus :

Edisi III Desember 2012

19

buletin

KPPA

SISIPAN

Pelopor Suara Perempuan & Anak

Cara Jitu untuk Penuhi Kebutuhan Nutrisi Anak

M

emikirkan cara untuk memenuhi nutrisi yang seimbang untuk anak memang kadang membuat hampir frustasi. Anak seringkali pilih-pilih makanan, dan cenderung hanya mau makan makanan yang disukai saja. Banyak orangtua khawatir mengenai apa yang dimakan anak-anaknya dan khawatir bahwa anak akan kekurangan gizi. Kira-kira bagaimana cara yang paling efektif untuk dapat memenuhi nutrisi anak? Pertimbangkanlah mengenai tips-tips untuk dapat memenuhi nutrisi anak berikut seperti dikutip dari MayoClinic, Jumat (20/1/2012) antara lain:

1. Menghormati Selera Makan Anak Jika anak memang sedang tidak tidak lapar, maka jangan memaksakan untuk mau makan. Demikian juga, jangan memaksakan menyuapkan makanan bergizi yang tidak disukai oleh anak. Hal tersebut justru akan membuat anak semakin keras kepala mempertahankan selera makan yang diinginkan. Sajikan menu makanan sehat dengan porsi kecil untuk menghindari respon pertahanan diri dari anak. Serta beri kesempatan anak untuk secara mandiri meminta makanan yang dia inginkan. Secara perlahan-lahan, beri pengertian pada anak untuk memilih menu makanan yang sehat.

2. Berikan makan dengan jadwal rutin 3. Bersabarlah mengenalkan makanan baru Anak-anak sering menyentuh atau mencium makanan baru. Bahkan dapat memuntahkan makanan baru tersebut kalo memang tidak menyukainya. Doronglah anak dengan berbicara tentang warna makanan, bentuk, aroma dan tekstur bukan mengenai rasanya. Sajikan makanan baru bersama dengan makanan favorit anak.

Sajikan makanan dan makanan ringan di sekitar waktu yang sama setiap hari. Membiarkan anak untuk meminum jus atau susu sepanjang hari dapat menurunkan nafsu makan. Jika anak dibiasakan dengan jadwal rutin, maka akan dapat mengaktifkan alarm tubuh mengenai kebutuhan makan.

7. Menyajikan makanan dengan lebih kreatif Menyajikan makanan sehat dengan lebih kreatif, dapat membuat anak lebih tertarik untuk memakannya. Tambahkan brokoli cincang atau paprika hijau untuk saus spaghetti, menaburi sereal dengan irisan buah.

20

4. Menyajikan makanan dengan lebih menarik

Sajikan brokoli dan sayuran lainnya dalam saus favorit. Potong makanan dalam berbagai bentuk dengan cetakan kue.

5. Meminta anak untuk membantu memilih makanan

Meminta anak untuk membantu memilih buah-buahan, sayuran dan makanan sehat lainnya. Ketika di rumah, meminta anak untuk membantu mencuci sayuran atau mengaduk adonan.

6. Memberikan contoh yang baik Jika orang tua juga menerapkan makanan sehat untuk diri sendiri, tentunya anak juga akan lebih mengikuti.

8. Meminimalkan gangguan Matikan televisi dan gadget elektronik lainnya selama makan. Tindakan tersebut akan membantu anak fokus untuk makan. Perlu diketahui bahwa iklan televisi mungkin juga mendorong anak untuk menginginkan makanan manis.

Edisi III Desember 2012

buletin

KPPA

SISIPAN

Pelopor Suara Perempuan & Anak

Lima Macam Obat Sakit Gigi Tradisional yang Ampuh dan Paling Mujarab.

1 1. Mengobati Sakit gigi dengan

S

akit gigi memang bukan penyakit mematikan, tapi sangat mengerikan. Ketika putus cinta orang berkata, lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Tapi kalau mereka merasakan sakit gigi pasti berkata lain "Lebih baik sakit hati daripada sakit gigi". Nah, bagi Anda yang sedang merasakan nikmatnya sakit gigi tidak perlu khawatir karena berikut ini akan saya berikan resep obat sakit gigi tradisional, alami dan mujarab.

Tips Kesehatan

bunga matahari. - Bahan: Bunga matahari (60 gram), Jahe (5 gram), dan air (600 cc). - Cara pengobatan: Bahan direbus dengan 600 cc air hingga tersisi 300cc air. Kemudian airnya disaring dan diminum sewaktu masih hangat. Lakukan setiap hari sampai gigi tidak terasa sakit.

Bunga Matahari

2 2. Daun Inggu Kering

Tempurung Kelapa

- Bahan: Daun inggu kering (2-4 gram), air (2 gelas). - Cara pengobatan: Rebus daun inggu kering dalam 2 gelas air hingga mendidih. Saring airnya setelah dingin, airnya digunakan untuk kumur beberapa kali.

3

3. Minyak tempurung kelapa - Bahan: Tempurung kelapa yang sudah dibelah, Kapas secukupnya - Cara pengobatan: Ambil tempurung kelapa lalu dibakar sampai keluar minyaknya. Ambil minya tempurung kelapa tersebut dengan kapas. Lalu tempelkan ke gigi yang sakit. Niscaya dalam beberapa menit sakit gigi Anda akan hilang.

Biji Jarak

Daun Ingu Kering 4. Menyembuhkan Karang gigi - Bahan: Biji asam jawa (secukupnya) - Cara pengobatan: Sangrai biji asam jawa secukupnya, kemudian ditumbuk hingga halus. Gosokkan ke gigi yang berlubang dengan kain atau sikat gigi.

4

Asam Jawa

5 5. Mencegah dan mengobati kerusakan gigi - Bahan: Biji jarak cina (1 butir), air (1 gelas) - Cara pengobatan: Biji jarak cina ditumbuk halus, kemudian seduh dengan air panas dan dinginkan. Gunakan airnya untuk kumurkumur.

Edisi III Desember 2012

21

buletin

KPPA

SISIPAN

Pelopor Suara Perempuan & Anak

Selayang Pandang

Nasier So “I am so happy to be here, meaningful learning and inspiration that I got during stay here” itulah jawaban yang muncul ketika ditanyakan kesannya selama beraktifitas di Palu & di Poso. Pria bernama asli Nasier So datang dari jauh tepatnya di Provinsi Battambang sebelah tenggara Negara Kamboja karena tertarik untuk belajar lebih dalam tentang pengorganisasian dalam menjaga Proses Perdamaian melalui rumah Pengembangan kreativitas Anak Banua Nungana Palu & Banua Ananggodi Poso yang di bentuk Oleh KPPA Sulteng. Pria Berusia 26 tahun yang aktif pada salah satu Organisasi Muslim Kepemudaan Yang bernama Cambodian Youth Muslim Coordination Center (CYMCC) dinegaranya ini m e n d a p a t k a n kesempatan mengikuti program Magang di KPPA. Selama di Palu dia banyak beraktifitas d e n g a n mengikuti berbagai m a c a m worksop yang dilaksanakan oleh K P PA m a u p u n lembag a

22

dari KAMBOJA

ke KPPA SULTENG Mahasiswa University of Management and Economics (UME) Battambang, Kamboja dan aktif di Organisasi Muslim Kepemudaan Cambodian Youth Muslim Coordination Center (CYMCC) mendapatkan kesempatan mengikuti program Magang di KPPA Sulawesi Tengah selama Tiga Bulan. jaringan sehingga mendapatkan pengalaman pembelajaran baru yang variatif, mengunjungi beberapa NGO local dipalu untuk mengetahui seperti apa pergerakan dan bentuk perjuangan teman teman aktivis di Palu, serta beraktifitas dengan anak anak banua nungana, dan juga kelompok perempuan anggota sikola mombine. Meski awalnya dia mengakui perlu bekerja ekstra untuk bisa beradaptasi dengan kultur, budaya, kuliner dan juga bahasa yang berbeda di Palu tapi menurutnya itu merupakan tantangan dan menjadi pengalaman berharga bagi dirinya. “Language barrier is the biggest problem that I have to face it but It was amazing and meaningful for me” ungkapnya menggambarkan tantangan yang dia hadapi karena perbedaan bahasa, bagi pria penyukai makanan tahu ini hal baru yang dia dapatkan selama magang adalah bagaimana melihat kemiskinan yang berwajah perempuan dan advokasi anggarang pro rakyat miskin dan perempuan yang sementara dilakukan oleh KPPA . Bagi teman – teman KPPA menerima magang asing dari luar Indonesia merupakan pengalaman pertama sehingga ini merupakan kesempatan untuk bisa sharing pembelajaran dan pengetahuan bagaimana bisa mengatur dan mengorganisir proses magang yang efektif dengan tantangan bahasa Inggris untuk berkomunikasi dan juga

hal – hal baru yang dibawa nasier memberikan suatu semangat baru bagi para staff serta para anak – anak dan perempuan dampingan KPPA. Contohnya setiap diakhir minggu ada kelas khusus bahasa inggris yang diajarkan oleh nasir, banyak pemikiran dan ide – ide baru yang dia sampaikan, serta budaya khas negeri kamboja seperti lagu dan kulturpun diperkenalkan oleh nasier kepada semua kawan kawan. program magang yang dimulai dari bulan mei sampai dan berakhir pada bulan agustus ini disambut dengan baik oleh seluruh staff Pada umumnya dan D i r e k t u r K P PA S u l Te n g I b u Mutmainah Korona pada khususnya, karena support dan ijin beliaulah sehingga “I'd like to thank all KPPA staff and Wawan who helps to coordinate the process of this internship here in Indonesia. Special thanks to Neng Corona, who is the director of KPPA organization, helps to host my internship for three months here” ungkapnya mengekspresikan rasa terimakasih kepada KPPA yang sudah menjadi Host untuk program magang ini. Dia berharap kedepannya antara KPPA dan Organisasinya CMYCC dapat menjalin jaringan kerjasama yang lebih kuat, tetap menjalani komunikasi dan dia juga berharap suatu saat staff KPPA bisa berkunjung ke negaranya atau bisa mendapatkan program magang atau melaksanakan sebuah workshop bersama di Kamboja.***

Edisi III Desember 2012

buletin

KPPA

SISIPAN

Pelopor Suara Perempuan & Anak

Tips Anak

4 Hal yang Tidak Boleh di Katakan pada Anak M

aksud hati ingin mendidik anak supaya lebih disiplin, kuat dan bersikap baik di muka umum akan tetapi kok hasilnya selalu gagal. Sebenarnya kata-kata yang Anda pilih itu memengaruhi anak buat mematuhi Anda atau justru mengacuhkan.

2

. "Coba contoh kakakmu/adikmu"

Mungkin tampak membantu jika anak Anda dapat melihat contoh nyata dari saudara kandungnya atau teman. "Rara pintar yah, bisa pake sepatu sendiri." Anak-anak berkembang dengan fasenya sendiri. Membandingkan anak Anda kepada orang lain menyiratkan bahwa Anda tak menginginkannya serta merusak kepercayaan dirinya. Sebaliknya, dorong prestasi dia saat ini: "Wow, kamu mencuci tangan sebelum makan tanpa mama minta, hebat!" Ingat membandingkan dengan saudaranya hanya akan memicu kekesalan dan membakar perasaan iri. Jangan heran kalau Anda justru dibuat pusing dengan pertengkaran mereka tiap hari.

3

1

. "Jangan nangis" Variasi kalimat yang lain: "Jangan sedih." "Jangan cengeng." "Jangan takut."

Tapi anak-anak balita saat marah, takut, kesal pun menangis. Mereka tidak bisa selalu mengartikulasikan perasaan mereka dengan kata-kata. "Hal yang sangat wajar bagi orang tua ingin melindungi anak dari perasaan seperti itu," kata Debbie Glasser, Ph.D., direktur, Family Support Services di Mailman Segal Institute for Early Childhood Studies, Nova Southeastern University, Fort Lauderdale, AS. "Tapi mengatakan jangan tidak membuat anak merasa lebih baik, dan dapat juga mengirim pesan bahwa emosinya sesuatu yang terlarang." Sebagai gantinya Anda bisa mengatakan, "Kamu sedih tidak diajak bermain oleh Bayu?" atau "Kamu marah mainanmu direbut?" Dengan menamai perasaan, anak Anda akan belajar memberinya kata-kata untuk mengekspresikan dirinya. Sekaligus tanpa sadar mengajarkannya buat berempati. Pada akhirnya, dia akan menangis lebih sedikit dan menggambarkan emosinya sebagai gantinya.

. "Berhenti atau mama pukul!"

Dalam mendisiplinkan anak, ancaman itu jarang efektif. Anda mengancam dengan peringatan seperti "Ayo berani ulangi lagi, Mama pukul!" Cepat atau lambat anak akan belajar bahwa ancaman itu tak pernah terjadi. Akhirnya ancaman Anda kehilangan kekuatannya. Lebih buruk lagi justru membuat Anda tambah frustasi, akhirnya malah memukul. Akan lebih efektif jika melakukan pengalihan. Caranya dengan membawa anak pergi dari situasi tersebut. Misalnya, ia mengamuk di toko mainan karena tidak diturutin kemauannya. Daripada Anda bereaksi dengan membentak, mengancam, melotot, langsung saja ambil tindakan dengan menggendong anak Anda keluar dari toko, bawa ke tempat lain, lakukan time out setelah tenang beri pengertian. Cara ini terbukti lebih efektif.

Edisi III Desember 2012

4

. "Tunggu sampai Ayah pulang!"

Pengasuhan tipe ini adalah jenis lain dari tipe mengancam. Seperti halnya mengancam, cara ini tidak efektif. Bila Anda ingin pesan Anda sampai pada anak, disiplin harus dilakukan saat itu juga, bukan nanti. Saat anak Anda berulah, bersikap tidak baik, langsung beri konsekunsinya. Disiplin yang ditunda tidak mengajarkan konsekuensi tindakan salah pada anak. Kemungkinan besar yang terjadi saat si ayah pulang, anak Anda sudah lupa kejadian yang tadi. Akibat buruk lainnya, bila ini sering Anda lakukan, Anda akan kehilangan otoritas di mata anak Anda***

23

buletin

KPPA

RESENSI

Pelopor Suara Perempuan & Anak

Sukses Mengasuh Anak Sesuai dengan 9 Gaya Kepribadian

Judul

: Eneagram of Parenting, Sukses Mengasuh Anak Sesuai dengan 9 Gaya Kepribadian Penulis : Elizabeth Wagele Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta Cetakan : II, Juni 2007 Tebal : 214 halaman �Tak ada manusia yang lebih baik dibanding manusia yang lain� - Anonim.

S

ecara harafiah Eneagram (baca: eni-egram) berarti gambar lingkaran bertitik 9. Ilmu kuno ini berasal dari Timur-Tengah. Awalnya diajarkan secara getog-tular alias dari mulut ke mulut. Baru kemudian Oscar Ichazo dan Claudio Narajo mendokumentasikan 9 tipologi kepribadian anak tersebut di Amerika pada awal 1970-an. Menurut teori Eneagram, tiap individu itu unik sehingga tidak ada anak yang lebih baik ketimbang anak yang lain. Dengan memahami prinsip ini, otomatis kita bisa mengapresiasi kebhinnekaan gaya prilaku dan memfasilitasi sang buah hati tercinta untuk menerima diri apa-adanya. Elizabeth Wagele menguraikan 9 kecenderungan gaya prilaku anak (disingkat 9P). Yakni; Perfeksionis, anak yang

24

cenderung ingin segala sesuatunya berjalan secara sempurna; Penolong, cenderung suka membantu orang lain; Pengejar prestasi, cenderung ambisius mengejar prestasi tertentu; Peromantis, cenderung mementingkan dunia rasa dan amat sensitif; Pengamat, cenderung ingin mengetahui segala sesuatu serba mendetail; Pencemas, cenderung merasa tidak aman dan was-was; Petualang, cenderung ingin mencari tantangan baru; Pejuang, cenderung bersikap pantang menyerah dan harus menang; Pendamai, cenderung menghindari konflik dan merasa puas dengan keadaan diri dan lingkungan sekitar (hlm 11-12). Misalnya berkait bencana ekologis pemanasan bumi (Global Warming) yang menyebabkan cuaca begitu ekstrim di pelbagai belahan dunia. Psikotherapis kondang tersebut memberi ilustrasi respon anak sesuai dengan tipe Eneagram-nya. Perfeksionis akan berkata, "Kita harus menyelamatkan bumi!"; Penolong tak mau ketinggalan, "Mari kita mencintai bumi agar kita semua selamat!"; Pengejar prestasi menambahkan, "Mari terus berusaha menyelamatkan sumber daya alam kita!"; Peromantis merajuk, "Kalau bumi bersedih, akupun turut mengucurkan air mata; Pengamat angkat bicara, "Yang logis dong Bung, bersikaplah bijak terhadap bumi ini!" ; Pencemas menimpali, '"Awas, bumi kita sedang dikutuk..."; Petualang memprovokasi, "Mari selamatkan bumi ini demi Aku!"; Pejuang menantang,

"Awas, akan ku libas siapa saja yang merusak bumi biru ini!" ; sedangkan Pendamai nyantai aja lagi,"Mengapa sih ribut-ribut? Bumi kita ini baikbaik saja kok!" (hlm 154). Lebih lanjut, setiap anak sejatinya memiliki kesembilan unsur di atas. Tapi dalam kadar yang berbeda-beda. Kemudian menjelang dewasa, ia mulai memutuskan untuk memandang dunia dari sisi mana sekaligus fleksibel menyikapi pilihan orang lain yang berbeda. Buku Eneagram of Parenting ini juga menyajikan metologi pendampingan anak secara asah-asih-asih (nurture) dengan mencermati 9 gaya prilaku anak dalam kegiatan belajar, pola makan, tidur, dan pergaulan yang sehat. Misalnya anak gaya 5 (Pengamat), dalam bergaul ia cenderung berada di pinggiran dan menjadi penonton saja. Sehingga tatkala berbaur bersama teman-teman sebaya, ia merasa canggung karena saat mengalami memang berbeda dari sekedar mengamati. Nah‌peran orang tua/Guru untuk memberi dukungan dan pengertian bahwasanya itu semua merupakan proses yang wajar dalam dinamika kehidupan ini. Buku ini merupakan sarana untuk memfasilitasi anak tumbuh sehat, cerdas dan unggul sesuai kecenderungan (watak) dasarnya. Cocok dibaca, didiskusikan dan dipraksiskan oleh para orang tua serta guru dari tingkat playgroups, TK, bahkan Universitas. Yakni dalam rangka memupuk kepolosan, kesederhanaan, keceriaan, serta spontanitas ala kanakkanak tanpa perlu menjadi kekanak-kanakan.***

Edisi III Desember 2012

buletin

KPPA

SASTRA

Pelopor Suara Perempuan & Anak

Cerpen

Lagu untuk

AYAH

Sebuah Cerpen Karya : Titania

A

ku bahagia terlahir di dunia ini, meski semuanya tak seindah mimpi-mimpiku. Dan meski aku tak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang Ayah. Aku lahir tanpa sosok Ibu yang membesarkanku. Hanya Ayah-lah, satu-satunya orang yang kumiliki di dunia ini. Jujur, hidupku memang tak seindah remaja lain yang dipenuhi oleh keceriaan. Karena hidupku hanya dipenuhi dengan kemarahan seorang lelaki dewasa yang kupanggil Ayah. BertahunEdisi III Desember 2012

tahun yang lalu, aku lahir di dunia ini sebagai anak yang telah menyebabkan kematian seorang Ibu yang penuh kasih sayang. Begitulah pandangan Ayah tentang kehadiranku di dunia ini. Ayah selalu memarahiku, bahkan tak jarang Ayah juga sering memukuli tubuhku. Ayah yang tak memiliki pekerjaan dan hanya menghabiskan waktunya dengan berdiam diri dirumah ditemani botol-botol minuman keras. Sementara aku sendiri harus bekerja di warung milik Tanteku, demi untuk

membiayai sekolahku. Ini adalah satu hal yang membuatku tak pernah membenci Ayah, meski perlakuannya selama ini sangat kasar padaku. Malam itu, hujan turun deras sekali, hingga kilatan petir menyambar langit bisa terlihat jelas oleh mataku. Aku melihat sosok lelaki dewasa yang tampak kacau berjalan menuju pemakaman, dengan raut wajah sedih yang samar-samar tak terlihat karena dibasahi air hujan. Ia berhenti disebuah makam, seraya berdoa untuk ketenangan seseorang dialam 25

buletin

SASTRA

KPPA Pelopor Suara Perempuan & Anak

sana. Pelan kudengar suaranya pipinya, membuatku tak kuasa pun semakin erat memeluk yang tersedu-sedu menyebut menahan tangis. Aku tau, saat tubuh Ayah yang kian rapuh. namaku. Dan dengan jelas ini Ayah pasti sangat Tiba-tiba terpikir olehku merindukan Ibu. untuk membuatkan Ayah mengatakan betapa ia sangat Hari-hari telah terlewati, sebuah lagu. Berhari-hari aku menyayangiku. Tanpa sadar air menciptakan lirik mataku jatuh tak lirik, nada tertahankan ketika Suatu ketika, Ayah memanggilku. demi demi nada, dan mendengar kataDan ia memberiku sebuah gitar, kata itu. Kata yang aku tak tau pasti kapan benda semuanya kurangkai menjadi “sayang” yang itu berada dirumah ini. Namun sebuah lagu selama ini sangat sudahlah, yang pasti aku senang tentangnya. ingin kudengar Dan hari ini, dari seorang Ayah. sekali menerima gitar aku duduk Rasa haru dan pemberiannya. Aku lantas disamping Ayah, bahagia memeluknya dan tersenyum manis. sebuah menyelimuti Saat itu Ayah mengatakan betapa ia dengan gitar hatiku, ketika aku sangat menyayangiku. pemberiannya, lalu tau kenyataan mulai yang selama ini ia menyanyikan sebuah sembunyikan. tanpa sadar membuatku lagu untuknya. Lagu yang Kenyataan, kalau ternyata semakin dekat dengan Ayah. kuciptakan khusus untuk Ayah sangat menyayangiku. Kini aku bisa merasakan kasih Dan beberapa tahun dirinya. Ayah tersenyum sayang seorang Ayah. Kita kemudian, Ayah mulai sakitbahagia mendengar bait demi tertawa bersama, berbagi sakitan. Aku pun merawatnya, bait syair lagu yang cerita, terlebih tentang sosok layaknya seorang anak yang kunyanyikan untuknya. Ibu yang selama ini tidak ingin berbakti kepada orang Hingga dibait terakhir lagu ini, pernah kukenal. tuanya. Dengan sabar aku aku melihat Ayah menutup Suatu ketika, Ayah menjaganya, meski Ayah matanya yang lelah. Seketika memanggilku. Dan ia selalu bersikap seolah dia tidak memberiku sebuah gitar, yang hening, ketika jantung Ayah butuh diriku. Malam itu, aku tak lagi berdegup. Tanpa sadar aku tak tau pasti kapan benda melihat Ayah terbaring lemah air mataku jatuh tak itu berada dirumah ini. Namun ditempat tidur dengan tertahankan, namun aku tetap sudahlah, yang pasti aku wajahnya yang pucat pasih menyelesaikan lagu ini hingga senang sekali menerima gitar karena menahan sakit. akhir. Perlahan kugenggam pemberiannya. Aku lantas Ditangannya kulihat selembar erat tangan Ayah yang sangat memeluknya dan tersenyum foto yang digenggamnya erat dingin, lalu kucium kedua manis. Saat itu Ayah dengan sisa-sisa tenaga yang ia mengatakan betapa ia sangat pipinya, sembari membisikkan miliki. Air mata membasahi sebuah kata terakhir untuknya menyayangiku. “Aku sayang Ayah...” “Tita, sebesar apapun ucapku, lalu menangis kemarahan Ayah padamu, tapi “Meskipun nanti sejadinya.*** sebenarnya didalam hati Ayah orang yang kamu sangat menyayangimu” ucap sayangi telah pergi, Ayah balas memelukku Pesan : Kasih sayang kedua orang tua tak akan pernah kamu tidak boleh “Meskipun nanti orang yang kamu sayangi telah pergi, terhapus oleh apapun dan menyerah. Kamu tidak ada kasih yang lebih kamu tidak boleh menyerah. harus tegar tulus melebihi kasih sayang Kamu harus tegar menjalani mereka. menjalani hidup hidup ini” lanjut Ayah tanpa sadar membuatku terisak. Aku ini” 26

Edisi III Desember 2012

buletin

KPPA

OPINI

Pelopor Suara Perempuan & Anak

LIBATKAN KAUM PEREMPUAN, TUNTASKAN PERJUANGAN Demokratis-Nasional Oleh: Haslinda,S.Farm,Apt Koordintor divisi Pendidikan dan Pengorganisasian Serikat Perempuan Lembah Palu

D

a l a m s e j a r a h p e r ke m b a n ga n masyarakat, setiap fasenya selalu diiringi dengan berbagai pertentangan ( ko nt ra d i ks i ) ya n g d a l a m penyelesaiannya tidak dapat dihindarkan dari bentuk yang paling keras sekalipun, menuju suatu sistem yang kemudian eksis dan berdominan dalam masyarakat. Kapitalisme sebagai sistem baru paska hancurnya feodalisme di eropa, terus dikembangkan oleh klas borjuasi dengan memegang kuat prinsip kapitalisme itu sendiri, yaitu “Berusaha dengan Modal sekecilkecilnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesarbesarnya�. Esensi dari prinsip tersebut sesungguhnya adalah suatu paham yang akan meghalalkan terjadinya penghisapan atas sesama manusia, karena dengan wataknya yang “Eksploitatif, Akumulatif dan Ekspansif �, Imperialisme akan terus melakukan penghisapan atas seluruh sumber penghidupan rakyat, bahkan tenaga manusia itu sendiri, untuk mendapatkan ke u nt u n ga n ya n g s e b e s a r besarnya melalui sistem yang terus dipertahankan tersebut. Dalam fase akhir (puncak tertingginya) kapitalisme saat ini, yaitu kapitalisme monopoli (Imperialisme), tidak akan pernah menciptakan syarat terjadinya perkembangan yang seimbang antar satu negara dengan negara lainnya, bahkan dalam setiap perkembangannya pasti akan

Edisi III Desember 2012

Haslinda

melahi r ka n kesenjangan yang tajam antara satu negara dengan negara lainnya. Saat ini, kesenjangan antar negara tersebut semakin tampak dengan terhambatnya perkembangan setiap negara yang berada dibawah tekanan dan intervensi dari negara-negara Imperialis yang mendominasi negara-negara lainnya. Dilain sisi, kesenjangan dan terhambatnya perkembangan negara-negara tersebut menjadi salah satu pemicu lahirnya krisis yang akan menggerogoti seluruh aspek kehidupan rakyat dunia, bahkan oleh Imperialisme itu sendiri tidak akan pernah dapat menghindarinya. Saat ini, tidak ada suatu negara yang dapat memungkiri tajam dan kronisnya krisis yang diderita oleh Imperialisme sejak tahun 2008 lalu dan, tidak sedikitpun menunjukkan keadaannya untuk m e m b a i k h i n g ga s a a t i n i . Keunggulan AS dalam aspek

Kapital, perdagangan dan militer hingga saat ini tetap menempatkan AS sebagai pimpinan tertinggi Imperialisme. Dengan dominasinya, AS terus menancapkan penghisapannya melalui berbagai kebijakan dan perjanjian kerjasama baik bilateral maupun multilateral dengan berbagai negara di seluruh dunia, sehingga AS dapat dan terus memaksa negara-negara dibawah dominasinya untuk ikut bertanggungjawab dalam m e nye l e s a i ka n k r i s i s ya n g semakin kronis menggerogotinya, termasuk juga negara-negara di k a w a s a n A s i a Te n g g a r a , khususnya Indonesia dengan menjadikan seluruh kekayaan alam dan tersedianya tenaga produktif yang besar dari populasi yang besar sebagai primadona utamanya. Indonesia hari ini adalah negara setengah jajahan dan setengah feodal yang dihisap dan ditindas oleh dominasi imperialisme asing dan feodalisme di dalam negeri. Dominasi dan penghisapan ini yang menjadi akar dari permasalahan rakyat Indonesia seluruhnya, juga terhadap kaum perempuan. Dominasi imperialisme dan feodalisme ini juga harus terang bagi seluruh rakyat Indonesia, agar kita dapat dengan tepat mengindentifikasi siapa sesungguhnya musuh rakyat dan bagaimana perlawanan yang harus dilakukan oleh rakyat. Selain itu bagi kaum perempuan, feodalisme juga harus mendapat satu perhatian khusus karena

27

buletin

KPPA

OPINI merupakan salah satu akar dari sistem budaya patriarki yang menindas kaum perempuan. Meskipun budaya patriarki lahir pada masa kepemilikan budak, namun sistem ini ditegakkan secara kokoh sebagai budaya yang menindas perempuan pada masa feodalisme. Feodalisme adalah tiang utama yang menyangga keberlangsungan sistem budaya patriarki. Meskipun feodalisme di Eropa dan AS telah dihancurkan dengan kelahiran kapitalisme, tidak berarti patriarki juga telah dihancurkan. Karena ternyata kapitalisme juga membawa budaya patriarki yang sama. Sistem demokrasi dan kesetaraan terhadap perempuan yang didengung-dengungkkan oleh kapitalisme ternyata tidak lebih dari omong kosong. Hal ini terlihat dari kian parahnya martabat dan kehormatan kaum perempuan diinjak-injak oleh kapitalisme, dalam konteks ekonomi dan politik kapitalisme juga tetap melakukan diskriminasi terhadap kaum perempuan. Dari mulai masalah upah sampai pengambilan keputusan, perempuan tetap dinomor duakan. Kaum perempuan merupakan bagian penduduk yang terbesar di pedesaan, yaitu sekitar 58%. Sebagai akibat dari watak patriarki feodal yang masih kental melekat di kalangan masyarakat pedesaan, akses kaum perempuan ini terhadap kepemilikan tanah juga menjadi jauh lebih rendah dari kaum lelaki. peran perempuan dalam produksi di pedesaan juga disingkirkan. Sebaliknya kaum perempuan pedesaan merupakan jumlah yang terbesar dalam proses produksi, khususnya di sektor pertanian dan perkebunan. Para perempuan ini mayoritas bekerja sebagai buruh tani dan buruh kebun (69,32% dari 47,67% tenaga kerja di pedesaan). Akan tetapi dalam partisipasi produksi ini, kaum perempuan juga mengalami diskriminasi.

28

Pelopor Suara Perempuan & Anak

K h u s u s nya d a l a m m a s a l a h pengupahan, yang selalu diberikan upah yang jauh lebih rendah dari kaum lelaki untuk pekerjaan yang sama. Meskipun diskriminasi pengupahan ini tidak hanya dialami oleh kalangan perempuan pedesaan juga di alami kaum prempuan di perkotaan. Bila untuk pekerjaan upahan perempuan mengalami diskriminasi dan tertinggal, ke a d a a n s e b a l i k nya u n t u k menghadapi kesukaran hidup. Pada rumah tangga miskin di perkotaan maupun di desa, perempuan tidak bisa hanya bertanggung jawab untuk pengelolaan rumah tangga saja, tetapi harus juga membanting tulang dalam pasar kerja. Tidak semua perempuan dapat membuka lapangan kerja bagi dirinya sendiri, sementara negara tidak pernah menyediakan cukup lapangan pekerjaan layak bagi seluruh tenaga produktif yang ada di negeri ini. Pada titik ini kaum perempuan memiliki peluang yang lebih besar untuk mengakses pekerjaan tertentu, dari pada laki-laki. Yaitu antara lain dengan menjadi buruh yang dibayar murah di kantongkantong industri maupun menjadi pekerja di sektor rumah tangga. Kita dapat melihat bahwa mayoritas buruh dalam industri di Indonesia adalah kaum perempuan, di sini mereka dibayar murah, masih ada yang tidak diberikan haknya akan cuti haid dan melahirkan, selain banyak juga yang tidak mendapatkan tunjangan bagi keluarganya yang sebenarnya merupakan hak bagi buruh. Khususnya dengan pemberlakuan sistem buruh kontrak saat ini, yang disahkan oleh negara melalui UU Ketenagakerjaan No 13/2001, kian merugikan bagi perempuan buruh. Pe r m a s a l a h a n e ko n o m i kemudian berakibat pada terpinggirnya kaum perempuan di berbagai urusan lain, seperti

kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya. Bahkan sampai masalah poligami sekalipun, selain menyangkut kebudayaan, juga terkait dengan masalah ekonomi sebagai faktor yang menentukan. Selain secara ekonomi yang disebabkan oleh penghisapan feodalisme dan imperialisme ini, adalah bentuk penindasan patriaki yang juga dialami oleh kaum perempuan Indonesia baik di pedesaan maupun di perkotaan. Mulai dari berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi, poligami, sampai kebijakan negara. Penindasan secara politik dan budaya ini berakar pada budaya patriarki yang masih bercokol kuat dalam masyarakat, dan dijaga keberlangsungannya oleh negara dan perangkatnya di dalam sistem sosial. Dan yang lebih menentukan adalah karena sistem feodalisme sebagai landasan dari sistem ide ini masih berlangsung secara sistematis di Indonesia dan d i j a g a d e n g a n ke t a t o l e h perangkat kaki tangan imperialisme di dalam negeri, yaitu tuan tanah, komprador dan kapitalis birokrat. O l e h ka re n a i t u , u n t u k men gh ap u skan p en in d asan terhadap kaum perempuan Indonesia, hal pertama yang harus dilakukan adalah ?menghancurkan tatanan produksi feodalisme, dan merombaknya menjadi sistem yang lebih demokrati s ? Selain itu pada saat yang sama kaum perempuan Indonesia juga harus melawan penghisapan imperialisme, karena saat ini k a u m p e r e m p u a n p e ke r j a merupakan bagian mayoritas yang mengalami penghisapan tersebut. Dalam hal ini perjuangan yang bersifat Nasional anti Imperialisme juga harus dilancarkan. Inilah arti penting perjuangan demokratis-nasional a ta u d e m o k ra t i s m e l a w a n feodalisme dan nasional melawan imperialisme.***

Edisi III Desember 2012

buletin

KPPA Pelopor Suara Perempuan & Anak

TOKOH BICARA

Ibrahim A.Hafid :

TAMBAHKAN BELANJA PUBLIK PANGKAS BELANJA PEGAWAI

I

BRAHIM A.HAFID, tokoh muda kelahiran Parigi Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah, cukup dikenal dilingkungan Panglima Polim. Saban hari tidak henti-hentinya mengurusi warganya dari masalah raskin, Jamkesmas, sampah, hingga orang cek-cok karena nenggak alkohol. Namun semua, Dia kerjakan dengan bijak dan sungguhsungguh dengan penuh kesabaran. Disamping sebagai ketua RT, hingga saat ini masih tercatat sebagai aktifis gerakan. Dia mengawali aktifitasnya dilembaga Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulawesi Tengah, Evergreen, dan sekarang masih dipercaya sebagai Majelis Pertimbangan di KPPA Sulteng. Selama berkecimpung dilingkungan gerakan, karena sering bersinggungan dengan masyarakat miskin, marjinal, marhaen, dan terpinggirkan telah membentuk dirinya terjun kewilayah politik electoral. Ditengah kesibukannya sebagai Sekretaris Wilayah Partai NasDem Sulawesi Tengah yang sedang mempersiapkan verifikasi faktual, Tim Redaksi melakukan wawancara terkait dengan politik anggran khususnya untuk urusan Pelayanan Kesehatan, di kantornya Jl.Katamso No. 12 Palu, berikut adalah hasil petikan wawancaranya : Bagaimana anda menilai penyusunan anggaran tahun 2013 pada pos kesehatan di Kota Palu ini? Saya menilai alokasi anggaran untuk pos kesehatan untuk tahun 2013 yang baru-baru disahkan, secara umum masih belum cukup untuk kepentingan masyarakat di kota palu. Memang pemerintah setempat, mengalokasikan anggaran p a d a p o s kesehatan kelihatan memang b e s a r mencapai 10% dari total A P B D tahun

2013, namun demikian semua itu terserap hanya untuk belanja pegawai, makan dan minum, barang dan jasa habis pakai, perjalanan dinas, baju dinas, sementara anggaran langsung yang untuk peningkatan pelayanan kesehatan, masih sangat minim dan tidak ada perubahan dengan tahun sebelumnya terutama anggaran pada Jamkesda. Menurut anda apakah Jamkesmas di kota Palu sudah cukup dan sudah bisa dinikmati oleh masyarakat miskin atau masyarakat yang berhak? Menurut saya Jamkesmas ini masih kurang walaupun sudah di tambah oleh Jamkesda, karena kalau Jamkesmas itu bisa melayani dari seluruh keluarganya tetapi kalau di Jamkesda itu hanya melayani individunya kalau macam kepala rumah tangganya yang dapat Jamkesda maka hanya kepala rumah tangga yang dapat jaminan itu. Maka ada banyak orang lain belum masuk di Jamkesmas maupun di Jamkesda. Ini berkait langsung dengan soal indikator-indikator kemiskinan yang digunakan BPS selama ini, saya sendiri juga menggugat soal indicator itu. Kalau melihat indicator kemiskinan yang digunakan oleh standar BPS sekarang ini seolah-olah tidak ada orang miskin disulawesi tengah kalau menggunakan itu secara saklek pada 14 poin standar kemiskinan itu. Saya juga melihat masih banyak orang miskin yang belum terfasilitasi dengan fasilitas kesehatan yang lebih berkualitas, dan disisi lain secara factual masih banyak masyarakat yang mengeluh terhadap pelayanan keseahatan, komplen masyarakatpun sering dilakukan. Fakta ini terungkap ketika masyarakat mengadu kepada saya dalam kapasitas sebagai ketua RT di lingkungan saya. Masyarakat menilai, masih ada ketidak adilan fasilitas yang disiapkan pada pelayanan kesehatan. Bisa dijelaskan lebih lanjut, komplen yang seperti apa dari masyarakat yang anda maksud terhadap pelayanan kesehatan ? Misalnya ada orang yang masuk rumah sakit, bukan pelayananya yang diutamakan tapi justru administrasi

Edisi III Desember 2012

29

buletin

TOKOH BICARA

KPPA Pelopor Suara Perempuan & Anak

soal kualitas penanganan kesehatan formal yang sekarang ini soal kualitas masih sangat rendah di rasakan oleh masyarakat sehingga mereka masih lari ke pengobatan alternative.

Ibrahim A.Hafib saat ditemui Tim Redaksi dalam wawancara terkait dengan politik anggran khususnya untuk urusan Pelayanan Kesehatan, di kantornya Jl.Katamso No. 12 Palu

yang utama yang dipertanyakan, ini artinya menurut saya, pada sisi kemanusiaan yang musti harus ditonjolkan bukan dalam pelayanan sisi pertanggungjawaban administrasinya. Kemudian ada juga beberapa keluhan yang disampaikan warga, seperti masyarakat yang memiliki kartu Jamkesmas mestinya tidak dipungut biaya sepersepun, tetapi faktanya masyarakat miskin pemegang kartu Jamkesmas, mereka masih disodori dengan nota-nota obat resep diluar tanggungan Jamkesmas yang harus mereka bayar, padahal pemerintah sudah menyampaikan tidak sepeserpun dipungut biaya dari pasien Jamkesmas. Kemudian keluhan lain, ketika mereka keluar dari rumah sakit, lalu membutuhkan mobil ambulans, mereka harus membayar sewa ambulans, seharusnyakan gratis, trus ada lagi yang komplen kamar penuh, tapi pas ada orang yang kaya ternyata masih ada kamar, itulah complain-komplain ketidak adilan fasilatas dan pelayanan yang disampaikan masyarakat pada umumnya. Dari sekian banyak kasus, pengaduan apa yang paling banyak dikeluhkan warga terkait dengan pelayanan kesehatan ? Kebanyakan yang di adukan masyarakat soal administrasi, terutama saat masuk UGD, biasanya orang sudah sakit sekarat tapi lebih didahulukan admistrasinya ketimbang melayani orang sakit. Seharusnya orangnya dulu yang didahulukan baru urusan administrasi belakangan, itu yang sering warga mengadu, baik warga kota Palu maupun warga dari daerah lain yang kebetulan kenal sama kita karena kita sama-sama di aktif LSM dan mereka selalu menyampaikan itu. Apakah bisa dikatakan bahwa pelayanan kesehatan di kota Palu belum maksimal dan berkwalitas? Kalau melihat korelasi pembangunan bahwa kesehatan di kota Palu pelayananya sebenarnya sudah semakin membaik jika disbanding tahun sebelumnya, namun demikian orang yang masuk area pengobatan alternative juga makin marak dan cukup besar, misalnya pengobatan refleksi, klinik-klinik dari tirai bambu, akunpuntur, demikian dengan obat-obatannya. Indikator ini saya melihat berarti

30

Apa yang mesti harus dilakukan supaya pelayanan kesehatan mengalami peningkatan kualitas? Kalau saya menyarankan di kegiatan-kegiatan pembangunan yang sifatnya pelayanan publik harusnya ada pengawasan publik, kemudian yang kedua sepengetahuan saya sudah ada Standar Pelayanan Minimal (SPM) itu telah dibuat oleh dinas kesehatan ataupun di rumah sakit. Cuma saja soal pelaksanaanya apakah sudah dilaksanakan dengan baik atau tidak. Kalau memang itu sudah ketentuan mestinya harus dilaksanakan dengan baik. Oleh karena itu pengawasan harus diperketat dan penegasan tentang aturan-aturan di dalam institusi pelayanan. Bila perlu menurut saya penting ada semacam badan pengawasan terhadap pelayanan publik . Apalagi sekarang ini sudah ada Komisi Informasi Publik, kalau ini Komite Pengawasan Pelayanan Publik bisa terbentuk dan dapat bekerja dengan baik dan ditambah dengan ada pengawasan publik yang lebih melekat, saya kira akan lebih baik dan berkwalitas seluruh instasi pelayan publik kedepanya. Baiklah, mengakhiri wawancara ini mungkin ada pernyatatan penutup yang anda ingin sampaikan kepada para praktisi bakti husada ? Pertama kepada pelayan kesehatan sebaiknya menjalankan tugas kita sesuai dengan amanah dan mandat kita di jalankan secara baik dan lebih mengutamakan soal fungsi kemanusian ketimbang fungsi administrasi belaka itu.Kedua menata sebaik mungkin soal pelayanan kesehatan agar lebih baik lagi sembari dilakukan adalah evaluasi dan memonitoring pelayanan menjadi lebih baik lagi. Kemudian ditingkat masyarakat sebetulnya oleh pemerintah sendiri harus melakukan proses transparasi dan transformasi informasi soal layanan-layanan yang menjadi hak masyarakat seperti apa hak-hak masyarakat yang berkaitan dengan Jamkesmas, Jamkesda dan Jamkespro, hal tersebut harus semakin diperluas informasinya dan fasilitas apa saja yang bisa di manfaatkan oleh masyarakat, sehingga masyarakat ada kesiap-siagaan ketika mereka ada keterbatasan fasilitas yang mereka manfaatkan. Kemudian yang berkaitan dengan anggaran harus ada perubahan-perubahan mendasar terhadap tata kelola anggaran. Tambahkan belanja publik untuk kepentingan pelayanan kesehatan, lalu kurangi belanja rutin pegawai yang tidak begitu efektif dan tidak efesien, anggaran tersebut harus dipangkas agar tidak terjadi pemborosan.***

Edisi III Desember 2012

buletin

Keluarga Besar Johanis Marampa

KPPA Pelopor Suara Perempuan & Anak

Mengucapkan :

Selamat Merayakan Natal &Tahun Baru 2013

Edisi III Desember 2012

31

buletin

KPPA Pelopor Suara Perempuan & Anak

Edisi III Desember 2012


Buletin KPPA Edisi III Desember 2012