Issuu on Google+


! R E H T E OG

T D STAN

ORGANIZING GLOBALLY, BUILDING UNION POWER! MAY DAY, 1886-2010

2

LABORA, mei 2010


Diterbitkan Berdasarkan UU Pers No 40/1999 Penanggung Jawab: Federasi Serikat Pekerja Maritim Indonesia Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Pemimpin Umum: Agus Barlianto wakil Pemimpin Umum: Dardo Pratistyo Pemimpin redaksi: Andito Suwignyo Redaktur Pelaksana: Karnali Faisal Redaksi: Safari Sidakaton, Ibnu Syafaat, Irsan Husain, Winarko, Dina Nuriyati Sirkulasi: Abdul Jalal Desain Grafis: B Jagat Setiawan Sekretaris Redaksi/Iklan: Ria Irawan Alamat Redaksi/Sirkulasi: Gedung SPSI. Lt. 4 Jl Raya Pasar Minggu KM. 17 No. 9 JAKARTA 12740 Telp/faks. 021-79190776

Redaksi menerima tulisan, artikel, gambar, foto yang belum pernah dipublikasikan dalam media apapun, redaksi berhak mengubah tulisan/artikel tersebut tanpa mengurangi substansi dari isi tulisan. Dalam melaksanakan tugasnya, Wartawan LABORA selalu dilengkapi kartu pengenal dan tidak diperkenankan menerima imbalan dalam bentuk apapun.

TAJUK

Jurnal Pekerja Indonesia

Ayo, Berserikat! Pekerja Indonesia yang berbahagia, Bagaimanakah kabar daya saing bangsa Indonesia? Dari sekian banyak uraian, dan tent saja apologi, seluruhnya dilekatkan kepada rendahnya tingkat pendidikan, penguasaan teknologi informasi, dan budaya kompetisi. Negara kita telah lama salah kelola sumber daya manusia dan alam. Akibatnya pekerja Indonesia hanya menjadi korban dari sistem yang rusak ini namun menjadi konsumen yang baik bagi segala produk negara lain. Lalu, bagaimanakah solusinya? Bagi yang ingin solusi praktis atas masalah pengembangan SDM berbasis kompetensi, kita serahkan saja hal ini kepada Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan Badan Koordinasi Sertifikasi Profesi (BKSP) sebagai penjelmaan amanat UU No.13/2003 tentang ketenagakerjaan. Tapi masalah besar ini hendaknya tidak dipasrahkan begitu saja kepa­da negara. Nasib pekerja ditentukan oleh kelasnya sendiri, mau jadi apa mereka ke depan. Dan betapa naif apabila kelas ini hanya ber­ pusing-pusing di sektornya saja dan puas dengan segala fasilitas dan peng­hasilan semu mereka (karena ternyata tidak ada apa-apanya bila diban­dingkan dengan sistem penggajian di Skandinavia dan Uni Eropa). Di tengah akumulasi kapital, apapun dan siapapun kita cuma satu fakta: pekerja, orang upahan karena suatu order. Selama mindset kita juga kapital, selama itu pulalah kelas pekerja akan terpuruk dan menjadi bayang-bayang korporasi. Namun berbeda halnya bila kita berpikir lebih jernih. Kekuatan kelas pekerja yang sesungguhnya adalah pada akumulasinya: massa kelas pekerja! Pepatah mengatakan, masa lalu adalah hal terjauh yang dapat kita raih. Artinya, jangan lihat ke belakang. Tantangan itu ada di masa kini, saat ini juga. Kelas pekerja harus bergerak lebih taktis dan cerdas dalam arena ekonomi liberal ini. Konsolidasi kelas pekerja terangkai dalam berbagai simpul jaringan aksi dan komunitas. Dengan menjejaki konsep Baudrillard, kita bisa menyadari bahwa sela­ma ini kita dininabobokan oleh struktur nilai yang diciptakan oleh korpo­rasi. Kode-kode nilai tersebut merasuk ke alam bawah sadar kita seiring dengan mesin pabrik yang kita jalankan. Hasrat kita meng­e­kor pada sistem produksi sehingga membentuk sistem sosial kita. Tidak heran sistem dan struktur sosial pekerja selalu inferior di hadapan kapital. Membongkar skema rumit ini ternyata sederhana: cukuplah kelas pekerja menyadari hakikat kelasnya dan dibuktikan dengan berserikat. Mengorganisir diri adalah tindakan primer dari kesadaran kelas. Selama tidak ada upaya membangun serikat pekerja dalam diri pekerja, niscaya intelektualitas dan spiritualitas mereka hanyalah boneka dari kapital. Nah, apalagi yang kita tunggu? Organize, now! Ayo, berserikat!

(Foto Sampul: KF)

LABORA, mei 2010

3


daftar isi

fokus................................. 5 > Menghimpun Kekuatan Gerakan Pekerja > Bagaimana Membentuk Serikat Pekerja?

celoteh.......................... 10 > Hari Gini, Masih Butuh Serikat?

profesi.......................... 12 > Sales Promotion Girl: Garda Depan Penjualan Produk

politik. ........................... 18 > Sejak Orde Baru Hingga Reformasi: Kesejahteraan Pekerja Tidak Meningkat

konsultasi................... 22 > Hak Pekerja Perempuan yang Bekerja di malam hari

domestik. ..................... 24 > Pekerja Rumah Tangga: Pembantu yang Tak Terbantu

luar negeri................ 28 > Perlindungan PRT dan Peran Serikat Pekerja

esai................................... 30 > Bersatu itu Tidak Cukup

4

LABORA, mei 2010


www.foto.vivanews.com

BEBERAPA waktu lalu kelas pekerja di Eropa melakukan demonstrasi besar-besaran. Ribuan demonstran turun ke jalan kota Madrid, Barcelona, dan Valencia. Mereka memprotes tindakan pengetatan anggaran yang dilakukan oleh pemerintahannya. Serikat Pekerja Transportasi Publik mengumumkan bahwa mereka siap melakukan pemogokan.

fokus

Menghimpun Kekuatan Gerakan Pekerja

D

i Portugal, serikat pekerja ju­ ga menyiapkan kekuatannya untuk melakukan pemogokan, mem­protes pembekuan tingkat upah. Pe­ mo­go­kan di Yunani menjadi pemogokan ter­besar, utamanya di kota Athena dan Thessaloniki. Dua juta rakyat turun ke jalan dengan diorganisir oleh Konfederasi Umum Pekerja Yunani (GSEE) dan Se­ri­kat Pekerja Pegawai Negeri Sipil (ADEDY). Berkaca dengan apa yang telah dila­ ku­­kan oleh gerakan pekerja di Eropa, ba­gai­­manakah dengan gerakan rakyat pe­kerja di Indonesia?

Peran serikat

Saat ini harus diakui bahwa serikat pekerja di Indonesia secara efektif be­l um mampu mengkonsolidasikan

kekuatan mereka. Di internal serikat pekerja peran itu pun belum optimal. Tujuan berdirinya serikat pekerja yai­tu melindungi dan menyejahterakan ang­ gota dan keluarganya masih sekadar mimpi dan isapan jempol belaka. Serikat yang ada saat ini lemah da­lam konsep gerakan, pendidikan, dan pendanaan. Romantisme kekuatan pe­kerja memang diagung-agungkan, ter­utama menjelang May Day. Namun sa­yangnya kebanyakan gerakan pekerja tidak berani menilai jujur atas apa yang sudah dilakukan. Kegiatan serikat menumpuk, terlihat sibuk dengan isu-isu besar, namun tidak bermuara pada orientasi hasil kerja. Pe­k erja tersekat dalam kefanatikan ke­lom­­pok. Kadang-kadang bukan ulah dari anggota serikat, namun justru datang dari elit serikat. Beda pendapat, LABORA, mei 2010

5


labora

fokus

Serikat harus mampu menjaga ritme gerakan dan nilai-nilai perjuangan. Mela­­kukan kritik dan outokritik terhadap apa­ pun yang telah dilakukan, dan men­do­kumen­tasi­ kannya dengan baik apa-apa yang telah men­ jadi kepu­tusan bersama.

beda stra­tegi taktik, beda pendangan Politik, men­jadikan gerakan pecah ber­ keping-keping. Saling menjatuhkan, bahkan saling menjelekkan. Padahal dulu sesama mereka adalah kawan seiring seperjuangan. Serikat pekerja membutuhkan nilainilai dan etika yang menjadi landasan gerak organisasi. Tidak dengan meng­ hidupkan ”hidden agenda” atau teori kons­p irasi da­l am tubuh organisasi. Maka semua hal harus clear, tidak ada yang ditutup-tutupi dari elite kepada anggota. Semua harus dimulai dengan keterbukaan dan rasa saling percaya.

6

LABORA, mei 2010

Serikat seharusnya mampu menja­ dikan dirinya sebagai organisasi pem­ belajar (learning organization). Kaderisasi yang intensif akan menghasilkan kaderkader yang mampu menganalisa kondisi gerakan saat ini, baik di internal organisasi ataupun permasalahan-permasalahan di luar orga­nisasi. Sehingga serikat mampu meru­muskan tuntutan perjuangannya dengan lebih cermat. Dalam bidang poli­ tik pekerja harus berdaulat, berdaya dalam ekonomi dan bermartabat dalam budaya. Serikat harus mampu menjaga ritme gerakan dan nilai-nilai perjuangan. Mela­


kukan kritik dan outokritik terhadap apa­pun yang telah dilakukan, dan men­d o­k umentasikannya dengan baik apa-apa yang telah menjadi keputusan bersama. Serikat juga selayaknya membe­ rikan pemahaman-pemahaman kepada setiap individu anggota akan perannya dalam tiap perjuangan. Kita bisa pelajari pola gerakan pekerja di Eropa beberapa wak­tu lalu. Setelah serikat berhasil mem­bangun kekuatan internal, maka tugas se­l an­­jutnya adalah membangun jaringan dan mematangkan isu.

Nasib federasi

Bila serikat pekerja di Indonesia ma­s ih berkutat dengan problem internal, de­m ikian pula halnya dengan federasi dan konfederasi serikat pekerja. Elit fe­derasi hanya merupakan kumpulan elit yang kurang perhatian pada serikat pe­ kerja anggotanya. Federasi tidak mam­pu mensinergikan serikat pe­ kerja anggotanya dalam program dan isu bersama. Mereka jalan de­n gan agenda masing-masing. Kare­na memang sejak awal tidak memiliki konsep dalam membangun

LABORA, mei 2010

fokus

gerakan bersama. Simaklah apa yang dilakukan oleh Maritime Union of Australia. Mereka me­nyatukan simpul gerakan dari hulu ke hilir, terutama pekerja sektor transportasi dan manufaktur. Jika ada konflik hubungan industrial pada salah satu lini, MUA akan me­ lakukan aksi solidaritas nyata de­ ngan blokade pengiriman barang, mogok, membangun seruan-seruan bersama. Contoh terkini, pada 7 April 2010 pekerja pelabuhan di setiap pelabuhan sepanjang Australia menghentikan pekerjaan mereka selama 1 jam sebagai bentuk protes atas kematian tragis Nick Fanos yang tertimpa container di Port Botany pada 28 Maret. Rentang ma­ sa mogok itu mereka gunakan untuk melahirkan sebuah resolusi tentang keselamatan kerja. Mereka juga menuntut Deputi Perdana Menteri dan Menteri Transportasi untuk merevisi manajemen keselamatan bongkar muat dan mengundangkan panduan National Stevedoring Safety Code. Gerakan pekerja di Indonesia ti­ dak melakukan hal ini. Kita masih si­buk melakukan hal-hal yang tidak ada hu­bungannya dengan kebutuhan pekerja itu sendiri. Jujur saja, kita terlalu sibuk dengan agenda politik yang tidak bersentuhan langsung dengan Politik Perpekerjaan. Sebagai otokritik pada kolektif yang telah kita bangun: Kita mu­ dah latah pa­d a isu. Akibatnya, kon­­sentrasi kita pa­d a roadmap ge­r a­­kan pekerja itu tidak ter­b a­ ngun sebagaimana mestinya. Kita terombang-ambing oleh bola liar. Ge­nit untuk ikut masuk dalam per­ masalahan yang sebenarnya tidak ada hubungan (serikat/federasi) kita dengan masalah tersebut. Penting bagi kita untuk membuat dan berkonsentrasi pada roadmap gerakan. Juga menjadi penting bagi

7


www.jakartapress.com

fokus Marilah kita mem­buka diri kita untuk berkonsentrasi mela­kukan hal-hal be­sar secara ber­ sama-sama. Mem­bangun ke­ kuatan pekerja, men­jadikannya gelombang be­ sar untuk men­­ capai kesejah­ teraan bersama

8

LABORA, mei 2010

kelas pekerja untuk membangun kekuatan federasi ataupun konfederasi yang menjadi ke­k uatan nyata bagi gerakan pekerja. Mem­bangun kekuatan seperti apa yang di­bangun oleh kawan-kawan di Eropa bu­ kan­lah mimpi. Karena sebenarnya kita mam­pu menyusun strategi, bahkan lebih dari apa yang dibangun kawan-kawan gerakan di Eropa. Karena kita memiliki budaya yang mendukung. Kita memiliki budaya saling membantu, bergotong royong adalah budaya bangsa. Sudah waktunya serikat mulai meng­ hidupkan kembali kelompok-kelompok belajar, kelompok diskusi untuk membe­ ri­kan pemahaman kepada anggota. Mem­ berikan pandangan mengenai visi dan misi pembangunan serikat yang benar. Serikat wajib melindungi dan mencarikan jalan untuk anggota agar bisa lebih sejahtera. Sudah saatnya serikat membangun gera_ kan ekonomi bersama lewat koperasi yang dikelola oleh federasi dan konfederasi. Mem­b angun kekuatan bersama untuk meng­hidupkan usaha bersama. Dengan sentra-sentra ekonomi inilah pekerja bisa berdaya untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Mampu mem­ bangun kekuatan ekonomi berarti mampu

membangun kemandirian. Semakin kuat Iuran dan dana koperasi, semakin kuatlah gerakan yang dibangun. Juga berarti se­m akin banyak strategi perjuangan yang bisa direalisasikan. Mandiri tidak bergantung lagi dengan dana-dana luar yang mengharapkan sesuatu dari kekuatan pe­kerja. Pekerja mampu mengalokasikan ke­kuatannya untuk menekan korporasi melalui aksi-aksi yang lebih terencana. Pekerja memiliki dana yang besar untuk melakukan mogok, menggaji pengurus yang loyal full timer mengurusi kegiatan dan bertanggung jawab memikirkan laju organisasi. Ini semua bukan impian karena kita sebenarnya mampu untuk melakukan hal ini. Jika kita memiliki komitmen yang tinggi untuk saling percaya kepada sesa­ ma kawan seperjuangan. Marilah kita mem­buka diri kita untuk berkonsentrasi mela­kukan hal-hal besar secara bersamasama. Membangun kekuatan pekerja, men­jadikannya gelombang besar untuk men­capai kesejahteraan bersama. Hidup pekerja! [Irsan Husain, Sekretaris Jenderal Serikat Pekerja Angkutan Pelabuhan Indonesia]


fokus

Bagaimana Membentuk Serikat Pekerja?

www.kompasiana.com

Untuk Aturan mengenai syarat pem­bentukan dan pencatatan serikat pekerja bisa dilihat di Kepmen No. 16/MEN/2001 tentang Pen­ catatan Serikat Pekerja.

B

ILA serikat pekerja yang akan dibentuk itu akan berafiliasi ke organisasi pekerja ter­t entu, maka para deklarator serikat pekerja hendaknya menghubungi kepengurusan cabang organisasi pekerja terdekat. Mereka tentunya akan membantu lebih banyak soal pembentukan termasuk AD/ ART organisasi. Tetapi apabila SP yang ingin dibentuk itu sifatnya di tingkat perusahaan (independen/ tidak berafiliasi), ada beberapa tahapan yang bisa dilakukan. Pertama, melakukan sosialisasi tentang pentingnya serikat pe­k er­j a itu kepada karyawan atau perwakilannya. Hal ini dilakukan mengingat bahwa pembentukan serikat pekerja tidak bisa dipaksakan oleh pihak perusahaan kepada kar­yawannya. Tetapi keinginan itu harus muncul dari kesadaran karyawannya sendiri. Bila kita me­m aksakan pembentukan ini kepada

karyawan, dalam Undang-Undang No. 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja ada sanksi yang bisa diberikan baik itu berupa denda atau tahanan. Bila setelah sosialisasi muncul keinginan dari pekerja. Tahapan yang mungkin dapat dilakukan adalah membentuk sebuah lembaga perwakilan karyawan yang ang­go­ tanya dipilih oleh karyawan di perusahaan yang bersangkutan. Tu­j uan adanya lembaga ini ada­lah untuk mempersiapkan pe­rangkat yang diperlukan oleh se­buah serikat pekerja, seperti: 1. Anggaran Dasar/ Angga­ran Rumah Tangga. 2. Me­mi­lih Ketua/ kepengurusan serikat pekerja. Untuk Aturan mengenai syarat pem­ bentukan dan pencatatan serikat pekerja bisa dilihat di Kepmen No. 16/MEN/2001 tentang Pencatatan Serikat Pekerja. [] LABORA, mei 2010

9


celoteh

Hari Gini, Masih Butuh Âť Seko Kaltias

30 tahun, IT Ass Manager Infrastructure di Bursa Efek Jakarta:

P

ekerja Informasi dan Teknologi tidak peduli ada atau tidaknya serikat pekerja. Mereka terbiasa kerja individual, percaya diri dengan skill yang pasti dibutuhkan perusahaan. Banyak rekan saya yang di IT memilih mundur saja ketika konflik dengan perusahaan. Tidak mau repot-repot. Posisi pekerja IT rata-rata stabil karena mereka mempunyai sertifikasi internasional sehingga gaji mereka bersaing

10

LABORA, mei 2010

dengan pekerja dari seluruh dunia. Posisi mereka pun relatif diperhatikan perusahaan karena mereka memegang semua informasi tentang perusahaan.

Âť Rudi aryoko

38 tahun, project expediter sebuah perusahaan minyak di Balikpapan:

S

aya tidak tahu tentang serikat pekerja. Posisi saya cleaner, orang lapangan, nggak pernah gaul ama orang management. Kalaupun ada


celoteh

lembaga/forum yang mengklaim siap bela pegawai yang bermasalah dengan manajemen, pasti tetap kalah. Pernah ada kejadian, seorang ekspatriat mengadu ke polisi karena dipecat begitu saja. Manajemen cuma bilang, ”Santai saja, nanti kalau kalian dipanggil jadi saksi, bilang saja ini dan itu, selebihnya itu urusan kami.” Tapi jangan ragu untuk risiko kecelakaan kerja. Masalah safety di perusahaan minyak itu terkenal the best, 100%. We talk safety first. Kredibilitas perusahaan bisa jatuh kalau hal ini terabaikan.

» Arif Bayu

35 tahun, Desainer Grafis sebuah penerbitan di Jakarta:

www.ariyanto-oke.blogspot.com

O

Serikat? Cukup sulit bagi orang-orang seperti saya yang tidak punya ijazah sarjana. Batasan desainer grafis seharusnya karya, bukan gelar. Tapi faktanya gelar yang diutamakan.

rganisasi pekerja desain grafis sudah ada, tapi sifatnya eksklusif, hanya golongan tertentu yang bisa ikut sebab yang bisa tergabung harus sarjana, minimal D3. Atau, bila bukan sarjana harus punya referensi dari orang yang sudah terdaftar. Cukup sulit bagi orang-orang seperti saya yang tidak punya ijazah sarjana. Batasan desainer grafis seharusnya karya, bukan gelar. Tapi faktanya gelar yang diutamakan. Dunia desain ini agak dirusak oleh ‘pekerja setting’ yang mengaku desainer tapi merusak harga desain. Artinya sarjana desain grafis yang bekerja sebagai staf administrasi di bengkel motor bisa jadi anggota, namun orang yang bekerja sebagai desainer sunguhan tidak bisa masuk karena tidak punya gelar formal.

» Abdul Halim

32 tahun, bagian keuangan sebuah rumah sakit daerah di Serang, Banten:

D

i sini belum ada serikat, organisasi perusahaan saja belum dewasa karena peralihan dari yayasan. Learning organization perusahaan belum begitu dewasa. Perlindungan kesehatan memang sudah terjamin. Namun dari sisi ’secure’ yang lain, misalnya mengenai perlindungan di saat konfllik, hak atau wewenang karyawan-perusahaan memang belum begitu terjamin. Walau saat ini pun belum banyak persoalan hubungan antara karyawan dan perusahaan. Makanya saya ingin memulai dengan pembahasan hospital by law di antara para dokternya sendiri. Ini pun ternyata banyak rintangannya karena tidak banyak anggota di sini yang perhatian dengan hal tersebut. LABORA, mei 2010

11


profesi

Sales Promotion Girl:

Garda Depan Penjualan BERWAJAH cantik, tinggi badan proposional, dandanan menarik dengan rambut tersanggul rapi dan berseragam semi kebaya layaknya Putri Indonesia. Senyum ramah selalu terhias di bibirnya. Bicaranya ramah menyapa setiap pengunjung yang datang. Mereka fasih menerangkan keunggulan produkproduknya dan perbandingannya dengan produk lain. Gaya komunikasi dan body language yang menarik membuat pengunjung pun tertarik dan, akhirnya, membeli produk tersebut. Itulah sebagian dari penampilan Sales Promotion Girl (SPG) di suatu event.

T

api kefasihan dalam menjelaskan produk tidak membuat SPG oto­ matis mengetahui pula informasi dari dunia luar. Mereka jarang membaca media, baik koran maupun elektronik. Alasannya klise, jam kerja yang padat membuat mereka segera tidur setibanya di rumah/kost. Apalagi bicara soal ACFTA yang saat ini menjadi pembicaraan hangat di gerakan buruh. “Maaf mas, aku tidak menyimak berita yang begituan. Aku kerja setiap hari, badan sudah keburu capek setiba di tempat kost. Bawaannya ya langsung tidur. Tidak sempat nonton TV. Aku tidak suka baca berita yang rumit. Kalaupun aku beli media, itu hanya tabloid gosip,� kata Dewi (19), SPG di sebuah toko di lingkungan Pasaraya Blok M Jakarta Selatan, ketika

12

LABORA, mei 2010


profesi LABORA

Produk

Orang asing dari Asia dan Timur Tengah biasanya lebih rewel dan banyak mau­nya. Na­mun kesa­ baran melayani pem­­beli asing yang rewel itu ter­bayar jika diri­nya mendapat tips. LABORA, mei 2010

13


profesi

www.ropix.net

Kalau laki-laki bekerja sampai larut malam, ia dikatakan penuh tanggung jawab. Namun bila yang melakukannya perempuan, langsung dicap negatif.

14

LABORA, mei 2010

dijumpai reporter LABORA (10/4/10). Melayani orang asing selalu menarik dan menjadi perhatian bagi sebagian SPG. Kelucuan-kelucuan miskomunikasi sering terjadi. Menurutnya, orang bule tidak rewel ketika memilih produk yang dijajakan. Orang asing dari Asia dan Timur Tengah biasanya lebih rewel dan banyak maunya. Namun kesabaran melayani pembeli asing yang rewel itu terbayar jika dirinya mendapat tips.

KUALIFIKASI

Begitulah SPG toko, lain pula dengan Melly (22) dan Santi (21). Keduanya SPG event-event otomotif dan properti yang harga produknya ratusan juta ke atas. Mereka bisa menyiasati waktu kerja de­ ngan kuliah mereka di sebuah PTS kon­ dang di Jakarta Selatan. ”Mulanya cuma iseng, sekadar cari tambahan uang saku. Ternyata lama-lama asik juga.” kata Santi. Mereka menuturkan, tidak tidak sembarang orang menjadi SPG. Seleksinya lumayan, bisa 5-7 tahapan, mulai selek­si

data diri, psikotes, wawancara 1, wawan­ cara 2 (negosisasi gaji), outbond, dan trai­ning. Mereka merekrut orang yang sesuai dengan job description sekaligus menaikkan citra produknya. Semakin eksklusif produk dan pasarannya, maka semakin ketat dan khusus pula perekrutan SPG-nya. Bisa dibayangkan, penghasilan mereka berkali lipat daripada SPG toko.

PROFESI MENARIK

Menjadi SPG tidak begitu sulit. Profesi ini hampir terbuka bagi siapa saja. Termasuk untuk mereka yang masih di bangku sekolah atau kuliah. Sebab, ta­w aran pekerjaan yang diterima bisa disesuaikan dengan jadwal kuliah. Apalagi, jika evennya berlangsung pada malam hari. Menggeluti profesi ini juga tak bu­ tuh syarat muluk-muluk. Apalagi, sam­ pai proses seleksi yang berbelit-belit, sebagaimana pekerja kantoran. Memiliki kemampuan komunikasi yang baik di­ dukung dengan postur tubuh yang mema­ dai, sudah bisa bergabung dengan profesi


karyawan tetap juga li­h at kinerjanya. Jika kinerja bagus dan dapat memenuhi target yang ditetapkan perusahaan maka kesempatan menjadi kar­y awan tetap terbuka lebar. Sementara jika kinerjanya buruk dan tidak dapat memenuhi target maka masa kerjanya hanya bertahan selama 3 - 6 bulan.

MENEPIS ISU

JENJANG KARIER SPG

SISTEM KERJA SPG

Selama diseriusi, profesi SPG cukup panjang masanya untuk dilakoni ka­ rena ia punya level-level karir menan­ tang. Biasanya jenjang karir SPG dimulai dari staf, sales apressite, assistant super­ visor, supervisor, manager area, manager dan general manager. Tidak ada perbedaan gaji yang mencolok antara SPG dan Sales Promo Pria, yang pada umumnya meliputi gaji pokok, uang kehadiran, uang makan dan bonus. Bonus dihitung jika telah mendapat tar­­get. Misalnya, jika perusahaan me­­ ne­t apkan target sebanyak 100% maka akan mendapatkan bonus. Bagi SPG yang berasal dari daerah namun lokasi ker­­ja di pusat kota, biasanya perusahaan me­­ nyediakan akomodasi. Kecuali jika tem­­­pat tinggal relatif dekat dengan tem­­­pat kerja. [safari sidakaton/edi triono] www.kaskus.us

Terkait dengan anggapan miring yang menyebut bahwa SPG juga bekerja sambilan sebagai pekerja esek-esek, Ulfa (23), SPG barang elektronik, mengaku tidak menanggapinya secara serius. Ia berdalih, profesi ganda itu dilakukan oleh segelintir oknum SPG saja dan tidak bisa digeneralisir. “Saya nggak mau menanggapi. Biarkan saja (isu itu).” tegasnya. ”Kalau laki-laki bekerja sampai larut malam, ia dikatakan penuh tanggung jawab. Namun bila yang melakukannya perempuan, langsung dicap negatif.” sindirnya terhadap konsep patriarkhi di masyarakat kita yang memang selalu memojokkan perempuan. Pernyataan ini diamini oleh Melly (21) rekan sekerja Ulfa. Para SPG tidak melulu bekerja di dalam toko, pameran atau mal. Kadang-kadang mereka juga diterjunkan ke tempattempat ramai untuk menjajakan produkproduknya.

profesi

ini. Sebab, tujuan akhir yang diharapkan dari para pemakai jasa SPG ini adalah memikat pelanggan. Jadi cukup mengerti spesifikasi produk, ditambah kemampuan komunikasi dan penampilan yang menarik, SPG dianggap sudah bisa memikat konsumen. Bila angka penjualan tinggi, bonus telah siap menanti.

Simaklah penuturan Dian Mulya Pohan (23), tiga tahun lebih berkarir sebagai SPG di suatu gerai sepatu di Pondok Indah Mall. Katanya, sistem kerja di SPG umumnya ada dua macam, yaitu sistem shift dan long shift. Rata-rata bekerja delapan jam per hari. Sistem shift terbagi dalam tiga jadwal: Shift I jam 8 - 17, Shift II (middle) jam 11 - 20, dan shift III (siang) jam 13 22. Sementara untuk SPG yang long shift bekerja selama 12 jam, mulai 11 - 22. SPG bekerja dalam sistem kontrak, biasanya selama 3 - 6 bulan. Sementara untuk diangkat menjadi karyawan te­tap maka harus menunggu minimal sa­tu tahun kerja. Selain itu, untuk di­ang­kat menjadi LABORA, mei 2010

15


labora

momen

kerja

www.arusinfo.blogspot.com

Mereka keluar rumah dengan niat tulus: mencari nafkah demi kesejahteraan keluarga. Bekerja lima hari per minggu, menumpahkan seluruh daya kreasi dan waktu terbaiknya. Bila belum cukup, masih ada sisa dua hari yang siap dikorbankan demi profit korporasi. Selalu begitu dari hari ke hari, tahun ke tahun. Tanpa serikat, nasib pekerja tidak akan berubah. Union, the folks who brought you the weekend.

16

LABORA, mei 2010


LABORA, mei 2010

17

LABORA

LABORA

www.chogan.web.id

momen


politik 18

Sejak Orde Baru Hingga Reformasi:

Kesejahteraan Pekerja

LABORA, mei 2010


politik

LABORA

Tidak Meningkat

WAJAH pekerja Indonesia dari tahun ke tahun tidak mengalami perubahan. Yang membedakan hanya pada kondisi kebebasan mengeluarkan pendapat dan berorganisasi. Itulah intisari wawancara Reporter LABORA dengan Agus Sudono (mantan Ketua Umum FBSI dan Gasbiindo) dan Syaiful DP (Inkoperindo).

P

ada zaman Orde Baru kaum pekerja memang mulai ikut menikmati sebagian kecil pertumbuhan ekonomi, tapi kebebasannya untuk berserikat dibatasi. Rezim Orde Baru kerap mengintervensi intenal organisasi serikat pekerja yang dilegitimasi lewat beragam aturan. Tak jarang aktivitas serikat pekerja kala itu mendapat intimidasi dan kekerasan fisik oleh penguasa. LABORA, mei 2010

19


politik

Wajah muram pekerja akan berubah ceria bila pemerintah mengeluarkan ke­bijakan-kebijakan yang berpihak terhadap peningkatan kesejahteraan para pekerja. Selama ini pemerintah terkesan menutup mata dengan berbagai persoalan yang para pekerja hadapi.

www.muslimdaily.net

Di era reformasi kondisi per­ bu­ruhan berubah. Banyak serikat pekerja berdiri dan pekerja memiliki hak untuk mengemukakan pendapat. Namun dari sisi kesejahteraan, kon­ disi pekerja era Orde Baru tak jauh berbeda dengan masa re­formasi. Hingga saat ini banyak pekerja di Indonesia diupah kurang dari 2 dollar AS per hari, di bawah standar ILO yang 2 dollar AS ke atas. Artinya, pekerja berupah 1-2 dollar

20

LABORA, mei 2010

masuk kategori hidup dibawah garis kemiskinan. Sedangkan Kebutuhan hidup layak (KHL) seperti ketentuan Permenakertrans No 17 Tahun 2005 dinyatakan bahwa kebutuhan hidup seorang pekerja terdiri dari 46 komponen. Bagaimana bisa pendapatan 1 dollar membiayai ke­b utuhan hidup? Standar kese­ jah­teraan yang baik adalah terpe­ nuhinya berbagai kebutuhan pokok

seperti makan, rumah, pendidikan, dan kesehatan. Meskipun upah pekerja naik setiap tahun, hal tersebut tak ber­ pengaruh banyak pada pe­ningkatan kesejahteraan pekerja ka­re­na harga kebutuhan pokok (selalu) naik lebih dahulu. Bahkan kenaikan harga kebutuhan pokok melebihi kenaikan upah para pekerja. Untuk menutupi kebutuhan po­kok, banyak pekerja melakukan kerja lembur dengan harapan men­d apat upah tambahan. Se­ ringnya kerja lembur ber­p o­t ensi


politik

LABORA

mengganggu kesehatan para pekerja. Sementara jaminan kesehatan untuk para pekerja tidak menggembirakan.    

Peran Pemerintah

Wajah muram pekerja akan berubah ceria bila pemerintah mengeluarkan ke­ bijakan-kebijakan yang berpihak terhadap peningkatan kesejahteraan para pekerja. Selama ini pemerintah terkesan menutup mata dengan berbagai persoalan yang para pekerja hadapi. Contohnya persoalan jami­nan sosial para pekerja. Pemerintah seakan-akan menutup mata terhadap pe­ru­sahaan-perusahaan yang tidak men­

daftarkan seluruh pekerjanya sebagai anggota Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja). Sayangnya, pemerintah justru banyak mengeluarkan UU yang ketinggalan zaman. Misalnya, peraturan tentang pekerja kontrak yang merupakan peninggalan Hindia-Belanda. Padahal praktik pekerja kontrak hanya boleh digunakan untuk pekerjaan yang sifatnya sementara, con­ tohnya membangun jembatan. Seharusnya pemerintah melarang praktik kontrak terhadap pekerjaan yang sifatnya berke­ lanjutan. Kapankah pemerintah bertindak tegas? [Ibnu Syafaat]

LABORA, mei 2010

21


konsultasi

Hak Pekerja Perempuan yang Bekerja di malam hari

TANYA: Nama saya Nunik (17 tahun), Saya buruh pabrik garmen di Bekasi. Saya sudah bekerja selama satu tahun dan saat ini status saya masih pekerja kontrak. Saya merasa diupah cukup layak. Tapi permasalahan lain juga banyak terjadi di pabrik kami. Setiap hari pabrik tersebut beroperasi dalam 3 shift. Kami yang bekerja pada shift malam susah untuk mendapatkan kendaraan.

22

LABORA, mei 2010

Pada jam itu kendaraan umum sudah tidak ada. Kadang-kadang saya memaksakan diri untuk naik ojeg yang tarifnya mahal dan menguras keuangan saya. Saya dan sebagian teman merasa keberatan dengan hal ini. Apakah yang sebaiknya saya dan teman-teman lakukan? JAWAB: Kasus anda sungguh menarik. Walau足 pun bagi sebagian orang, hal ini dianggap


konsultasi

bersalah. Selanjutnya dalam pasal yang sama dinyatakan: Ayat 3: ”Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00 wajib: a. memberikan makanan dan minuman bergizi; dan b. menjaga kesusilaan dan keamanan selama di tempat kerja.” Ayat 4 : ”Pengusaha wajib menyediakan angkutan antar jemput bagi pekerja/buruh perempuan yang berangkat dan pulang bekerja antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 05.00.” Artinya, bagi teman-teman Nunik yang berumur di atas 18 tahun dan mendapat shift malam berhak mendapatkan poinpoin di atas.

www.kaharscahyono.wordpress.com

biasa. Mari kita lihat bagaimana aturan di Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Pasal 76 (1) Pekerja/buruh perempuan yang berumur kurang dari 18 (delapan belas) tahun dilarang dipekerjakan antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00. Pasal di atas menyatakan dengan jelas bahwa pabrik tempat Nunik bekerja telah

Saran kami untuk Nunik: Mendatangi perusahaan untuk me­ nyam­paikan hal bahwa Nunik tidak layak untuk mendapatkan shift malam. Nunik bisa menunjukkan Undang-Undang 13 Tahun 2003 Pasal 76 ini. Selanjutnya teman-teman Nunik (usia 18 tahun) yang mendapat shift malam juga dapat menyampaikan hak-haknya untuk mendapatkan kendaraan atau jemputan yang terdekat dari rumahnya. Bahkan jika memungkinkan perusahaan diminta untuk memberikan uang transportasi lebih bagi pekerja yang rumahnya jauh dari tempat untuk mendapatkan kendaraan umum. Uang transportasi itu bisa dihitung dari rumah menuju tempat dimana mobil jem­ putan berada. Hal ini bisa disampaikan langsung kepada pihak perusahaan secara langsung ataupun bisa diwakilkan kepada Serikat Pekerja.[] LABORA, mei 2010

23


domestik

Pekerja Rumah Tangga:

Pembantu yang Tak TANPA Pekerja Rumah Tangga (PRT), pertumbuhan ekonomi dunia lesu. Apa hubungannya? Sebutlah Hongkong sebagai contoh, daerah otonomi khusus China yang sebelumnya adalah negara persemakmuran Inggris. Kemajuan Hongkong tidak lepas dari kontribusi perempuan-perempuan Hongkong yang masuk ke pasar kerja untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi.

24

LABORA, mei 2010

LABORA

A

gar pasangan suami istri Hongkong bisa sama-sama bekerja, pemerintah harus memenuhi kebutuhan akan jasa pelayanan kerumahtanggaan maupun pengasuhan anak dan orang tua. Untuk itu pemerintah Hongkong membuat ke­ bi­j a­k an membuka peluang kerja bagi pe­kerja rumah tangga luar negeri masuk ke negaranya. Pada 2007 tercatat 245.500 PRT mancanegara. Sebanyak 123.500 dari Philipina, 114.000 dari Indonesia, 4.100 dari Thailand dan 3.500 dari negara lain. Setelah kebijakan ini dilaksanakan, pertumbuhan ekonomi Hongkong mening­ kat. Hasil riset Asian Migrant Center (2004) menyatakan bahwa kontribusi PRT sekitar HK$ 13,784,205,540 atau setara 1% GNP Hongkong per tahun. Keberadaan PRT baik lokal maupun asing terbukti membuat ekonomi Hongkong tumbuh lebih cepat. Keberadaan PRT juga dirasakan oleh negara-negara lain seperti Kanada, Amerika, Singapura, Taiwan, Ma­laysia ataupun negara-negara di Timur Tengah untuk bekerja sebagai pekerja rumah tangga, baby sitter, perawat orang tua, supir dan tukang kebun. Uni Eropa sendiri,


domestik

Terbantu

LABORA, mei 2010

25


domestik

Di Singa­pura, banyak PRT, khususnya dari Indonesia, yang mati sia-sia kare­ na jatuh dari apartemen tinggi saat mereka menjemur baju atau mem­bersih­ kan jendela.

meski malu-malu, juga mengaku butuh jasa PRT. Program “au pair/helper” dari pemerintah Eropa seperti Jerman, Belanda, Austria, Belgia, dan Ing­ gris adalah salah satu dari upaya pemenuhan kebutuhan tersebut. Program ini membuka peluang bagi para remaja dari negara manapun untuk bisa belajar bahasa dengan tinggal di keluarga-keluarga Eropa tetapi dengan sedikit membantu untuk kerja-kerja rumah tangga termasuk halnya mengasuh anak.

Apa jadinya jika PRT mogok kerja?

Mungkin ada yang berdalih, pekerjaan domestik itu tidak berat dan bisa diganti dengan peralatan mesin atau robot. Masalahnya, siapakah yang akan menggerakkan mesin itu? Tentu ada tangan-tangan lain yang melakukannya. Termasuk kerja-kerja tak tergantikan oleh me­sin seperti mengasuh anak dan orang tua. Mogoknya PRT akan membawa malapetaka besar bagi sebuah keluarga. Absennya PRT akan memaksa majikan untuk me­nger­ jakan sendiri pekerjaan rumah tang­ ga mereka. Jika kelancaran bekerja terganggu, ini akan berpengaruh pada capaian target perusahaan dari hasil tenaga pekerja tersebut, dan ujung-ujungnya pertumbuhan ekonomi pun terganggu.

Paradigma masyarakat yang memandang PRT hanyalah pem­ bantu, menjadikan profesi ini menjadi absurd dengan jam kerja dan

26

LABORA, mei 2010

LABORA

Kontribusi Besar Minim Perlindungan


LABORA, mei 2010

domestik

jenis kerja. Sebagai contoh seorang PRT yang bekerja di sebuah rumah besar terkondisi harus mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, menyetrika, me­ masak, membersihkan rumah dan taman, mengasuh anak dan merawat orang tua majikan. Waktunya lebih dari 8 jam. Belum lagi pekerjaan mem­buka pintu kalau majikan pu­­ lang malam, atau mengurus anak yang rewel di malam hari. Di Singa­ pura, banyak PRT, khususnya dari Indonesia, yang mati sia-sia kare­na jatuh dari apartemen tinggi saat mereka menjemur baju atau mem­ bersihkan jendela. Semua beban kerja tersebut dibayang-bayangi pula oleh kekerasan fisik dan psikis seperti penganiayaan, penyekapan, pelecehan seksual, pemerkosaan, cacian dan makian, hingga gaji tidak dibayar. Di banyak negara, termasuk di Indonesia, pekerjaan di sektor rumah tangga seringkali di luar jangkauan hukum ketenagakerjaan. UU No 13/2003 tentang Ketenaga­ kerjaan tidak mencakup perlin­ dungan terhadap PRT. UU No. 23/2004 tentang Penghapusan KDRT juga tidak cukup kuat melin­ dungi PRT. Sementara KUHP sendiri hanya memberikan sanksi pidana pada hal yang sifatnya umum, misalnya perkosaan atau penganiayaan. Di Malaysia uru­ san PRT diserahkan kepada Ke­ menterian urusan Dalam Negeri, bukan pada urusan Kementrian Tenaga Kerja. Akibatnya, PRT di Malaysia sulit memperoleh hak hari libur, berserikat dan berorganisasi menjadi hal yang sulit didapat. [Dina Nuriyati]

27


luar negeri

Perlindungan PRT dan Peran Serikat Pekerja KARENA bekerja pada ranah privat, seringkali Pekerja Rumah Tangga (PRT) ini terisolasi dari komunitas. Ditambah dengan nihilnya perlindungan pada sektor pekerjaan ini menjadikan banyak kasus kekerasan pada PRT tidak terkuak. Kebebasan untuk berserikat dan berorganisasi (seperti halnya pekerja di sektor lain), sulit didapat. Meskipun PRT adalah juga pekerja, banyak serikat pekerja non-sektor PRT mengesampingkan perlunya memberikan dukungan terhadap pekerja di sektor rumah tangga ini.

P

erjuangan panjang PRT untuk meraih kebebasan berserikat di Amerika Latin menghasilkan La Confederación

Latinoamericana y del Caribe de Trabajadoras del Hogar – CONLACTRAHO atau Kon­ federasi Serikat Pekerja Ru­m ah Tangga Amerika Latin dan Ca­ ri­b ia pada tahun 80an. Seri­ kat-serikat PRT yang tergabung dalam konfederasi ini berjuang untuk melawan diskriminasi dan eksploitasi terhadap PRT. Mereka juga memperjuangkan adanya per­

28

LABORA, mei 2010

undang-undangan yang benar-benar memberikan perlindungan jelas untuk PRT mengenai soal upah, jam kerja, hari libur dan hak-hak reproduksi PRT. PRT di Afrika mendirikan South Africa Domestic Service and Allied Workers Union (SADSAWU) pada tahun 2000. Beberapa serikat PRT di Hongkong membentuk Federasi Serikat PRT Asia (FADWU). Se­ mua organisasi PRT tersebut getol mengkampanyekan perbaikan per­ lin­dungan bagi pekerja domestik di negara masing-masing sekaligus

mendorong adanya instrumen inter­ national untuk perlindungan PRT. Di Indonesia sendiri, Serikat PRT Tunas Mulia Yogyakarta muncul sebagai organisasi atau serikat PRT pertama di Indonesia. Mereka mengklaim mewakili dari hampir 2,5 juta PRT di Indonesia. Serikat ini banyak mendapatkan dukungan dari banyak LSM dan lembaga masyarakat sipil lain dibanding serikat-serikat pekerja sektor non-rumah tangga. Sejak dideklarasikan pada 27 April 2003, Tunas Mulia telah lama mendorong


luar negeri

Seri­kat-serikat PRT yang terga­ bung dalam konfe­derasi ini berjuang untuk melawan diskriminasi dan eksploitasi terhadap PRT.

www.mllk2006.blogspirit.com

adanya PERDA di daerah Yogyakarta dan juga mendorong adanya undang-undang nasional untuk perlindungan PRT.

Menuju Konvensi Internasional Perlindungan PRT

Adanya instrumen perlindungan bagi PRT sudah menjadi agenda organisasi internasional perburuhan ILO sejak lama. Badan pengurus ILO telah memasukkan ma­teri kerja layak bagi PRT kedalam agen­ da sesi ke-99 pada Konferensi Pekerja In­ter­ nasional (ILC) pada Juni tahun 2010 nanti. Berbagai persiapan dan kampanye juga dilakukan serikat-serikat PRT di seluruh

penjuru dunia dengan dukungan gerakan masyarakat sipil lainnya. Seyogyanya serikat-serikat pekerja, federasi maupun konfederasi sektor non-rumah tangga juga mensupport hal ini. Tentunya bukan karena mekanisme tripartit dalam ILC, kemudian tiba-tiba ikut menjadi pahlawan kesiangan untuk perhatian pada persoalan PRT. Dorongan akan adanya konvensi, perundang-undangan nasional, sampai peraturan daerah untuk perlindungan PRT diharapkan mampu melindungi pekerja di sektor rumah tangga ini, sekaligus meng­ guggah kesadaran kita akan peran penting keberadaan PRT. [dina nuriyati] LABORA, mei 2010

29


esai

Bersatu itu Tidak Cukup Agus Barlianto

S Wahai kaum buruh sedunia, bersatulah! Buruh bersatu tidak bisa dikalahkan! Tunduk ditindas, atau bangkit melawan! Hanya ada satu kata, lawan!

30

LABORA, mei 2010

logan-slogan persatuan dan perlawanan di atas kerap muncul pada aksi-aksi pe­ kerja, terutama saat 1 Mei. ’Per­ satuan’ menyiratkan akumulasi ke­k uatan dan sumberdaya ma­ sing-masing pekerja sehingga ke­­ kurangan dan kelemahan indi­ vidual tertutupi oleh kelebihan dan kekuatan kolektif. Sedangkan ’perlawanan’ ada­ lah reaksi atas perlakuan tidak adil yang dilakukan pengusaha. Perlawanan juga bemakna peno­la­ kan atas pemak­sanaan nilai-nilai pengusaha kepada pekerja. Daya tolak seiring daya te­k an. Perla­ wanan adalah pembuktian materiil atas keberanian dan keteguhan memegang prinsip. Tapi, apa makna persatuan bila hanya sekadar persatuan? Mau ke mana persatuan yang tidak bervisi? Persatuan yang tidak diangkat dari refleksi ba­tin, realitas kebutuhan dan harapan masing-masing indi­ vidu? Persatuan semacam itu ha­ nya menciptakan gerom­bolan pe­ kerja. Seberapa pun banyaknya gerombolan pekerja niscaya takluk pada permainan pengusaha, yang su­dah berpengalaman ratusan ta­ hun da­lam mengeksploitasi pekerja dan menger­dilkan gerakan pekerja. Perlawanan yang tidak berpijak pada realitas adalah sebuah reak­si hantam kromo; tindakan seram­ pangan yang tidak berpola; gerakan pemimpi di siang bolong. Alih-alih ekspresi keberanian, perlawanan

adalah seben­tuk inferioritas kom­ pleks, rasa tidak aman, alam bawah sadar perasaan tidak diterima lingkungan. Tujuan akhir persatuan pe­ kerja dan perlawanan terhadap hubungan industrial yang tidak adil adalah keme­nangan bagi kelas pekerja. Tapi elite serikat pekerja sering meremehkan prinsip primer bahwa kemenangan butuh banyak perangkat. Bicara kemenangan itu baik untuk memompa semangat. Tapi sungguh naif bila per­juangan hanya berpikir menang tapi ogah menghitung kemungkinan kalah dan segala risiko terburuk. Bicara kemungkinan kalah itu sangat baik untuk mengerem ego dan membuat kita berpikir le­bih jernih dan dewasa, dan mengen­ dali­kan suasana chaotik. Dengan de­mikian, gerakan pekerja akan mam­pu melahirkan alternatif stra­ tegi, mulai dari yang paling aman hingga berisiko. Itulah fungsi per­ satuan dalam konteks gerakan pekerja. Kelas pekerja wajib tahu di wila­­yah mana ’perlawanan’ itu akan­ ber­langsung. kita memahami bah­w a per­­­la­w anan tidak hanya bermakna ’tin­­da­kan keras/tegas’ kepada pihak eks­ter­nal, namun juga pengondisian se­cara internal agar seluruh lingkungan pe­­­­ker­ja siap membantu dan melanjutkan per­ lawanan. Itulah fungsi perlawanan da­lam konteks gerakan pekerja. Lawan! []


Union Leadership Training

Membangun Serikat Pekerja yang Kuat dan Profesional ”Pekerja lebih dulu ada dan tidak tergantung pada kapital. Kapital hanya buah dari pekerja, dan tidak akan pernah bisa eksis jika pekerja tidak eksis lebih dahulu. Pekerja itu lebih utama dari kapital, dan pantas menerima perhatian lebih besar.” (Abraham Lincoln)

Training ini memberikan perspektif baru tentang hubungan industrial antara pekerja dan perusahaan di era globalisasi ekonomi, serta pemahaman tentang posisi pekerja, serikat pekerja, perusahaan dan pemerintah dalam kerangka kerjasama tripartit yang konstruktif, moderat dan berkelanjutan berdasarkan prinsip ’mutual respect’. Training ini menjembatani teori dan praktik, menggunakan studi kasus-kasus nyata dan contoh-contoh praktis dari pengalaman serikat pekerja nasional dan internasional. Dengan menggunakan bentuk workshop, training ini mendorong terjadinya interaksi grup yang ekstensif. Setiap grup berisi 5 partisipan yang selama 30 menit per sesi akan berdiskusi studi-studi kasus yang menantang nalar partisipan. MATERI 1. Workers Under Pressure 2. Workers’ Rights are Human Rights 3. The Corporation

4. Unionism 5. The Winning Strategy Studi Kasus 1. NAFTA Labour-side Agreement 2. Menang di Disnaker, Kalah di PHI 3. Cost Benefit Analysis ala Ford Pinto 4. Ketika Serikat Buruh Memimpin Perusahaan 5. Prinsip ”Angsa Bertelur Emas” Serikat Pekerja PT. JICT 6. Privatisasi Aerolineas Argentinas Siapa yang perlu hadir? l Aktivis dan pimpinan serikat pekerja l Aktivis dan pengamat perburuhan l HRD Perusahaan Labour Education and Development Syndicate (LEADS) adalah lembaga pengembangan, pendidikan, dan advokasi pekerja. LEADS bekerja sama dengan kalangan dan jaringan pekerja profesional di tingkat nasional, regional dan internasional untuk mendidik, membela dan meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan pekerja

Informasi Lebih Lanjut Jl. Cempaka 9 Tanjung Priok JAKARTA, Telp/Faks. 021-43800085 Contact Person: Adit 0818641626, Email: office@leadsyndicate.org

LABORA, mei 2010

31


Kawanku, tak seorang pun bisa kembali ke masa lalu dan membuat titik awal baru; tetapi siapa pun bisa memulai dari sini dan membuat akhir yang baru.

Foto: tobaphotographerclub.com

(dan zadra)


LABORA 03 Mei 2010