Issuu on Google+


tajuk

Jurnal Pekerja Indonesia

Diterbitkan Berdasarkan UU Pers No 40/1999 Penanggung Jawab: Federasi Serikat Pekerja Maritim Indonesia (FSPMI) Pemimpin Umum/ Pemimpin Redaksi: semakin terpuruk Andito Suwignyo Redaktur Pelaksana: Ibnu Syafaat Dewan Redaksi: Safari Sidakaton, Karnali Faisal, Ibnu Syafaat, Chairul, Syukur Achmad, A Halim Sirkulasi: Abdul ‘Dul’ Jalal, Rendra ‘Cumi’ Aditya Desain Grafis: B Jagat Setiawan Sekretaris Redaksi/Iklan: Siti Aisah Alamat Redaksi/Sirkulasi: Gedung SPSI. Lt. 4 Jl Raya Pasar Minggu KM. 17 No. 9 JAKARTA 12740 Telp/faks. 021-79190776

Redaksi menerima tulisan, artikel, gambar, foto yang belum pernah dipublikasikan dalam media apapun, redaksi berhak mengubah tulisan/artikel tersebut tanpa mengurangi substansi dari isi tulisan. Dalam melaksanakan tugasnya, Wartawan LABORA selalu dilengkapi kartu pengenal dan tidak diperkenankan menerima imbalan dalam bentuk apapun. (Foto Sampul: www.flickr.com)



LABORA, maret 2010

Pekerja, Jangan Mengeluh! Pekerja Indonesia yang berbahagia, BANYAK alasan untuk mendramatisir keterpurukan pekerja Indonesia. Pasca CAFTA, pengusaha Indonesia getol melobi pemerintah untuk memberikan insentif listrik dan gas, diskon pajak dan pemangkasan tarif. Mereka juga berharap ada revisi UU No 13/2003 agar perusahaan mereka dapat bergerak lebih lincah menyiasati pasar tenaga kerja. Di sisi lain, pemerintah kita sedang sakaw pada citra internasional. Mereka ringan tangan menoreh MOU bilateral bidang ekonomi tanpa memikirkan efek jangka panjangnya bagi pengusaha dan rakyat pekerja Indonesia. Padahal kepentingan nasional dipertaruhkan. Sambil menonton konstelasi geopolitik pengusaha Indonesia Versus China, kelas pekerja Indonesia semakin tersadarkan bahwa mereka tidak terlindungi oleh sistem jaminan sosial yang memadai. Sebelum CAFTA, sudah lama pekerja ’dilindas’ oleh korporasi. Pabrik mereka sebentar lagi ditutup atau status organik mereka berubah dikontrakkan/diborongkan. Posisi mereka rawan tersingkir oleh tenaga kerja asing. Dan nasib mereka sebagai konsumen semakin menurun karena keterbatasan daya beli. Kelas pekerja tidak tinggal diam melihat tsunami ekonomi ini. Mereka menyusun barisan untuk melakukan judicial review atas Keppres No. 48/2004 tentang CAFTA. Mereka juga siaga, jangan sampai Lembaga Bipartit Nasional merevisi UU 13/2003 hingga membuat nasib kelas pekerja semakin terpuruk. Belajar dari sejarah, kelas pekerja harus bergerak lebih taktis dan cerdas dalam arena ekonomi liberal ini. Konsolidasi kelas pekerja terangkai dalam berbagai simpul jaringan aksi dan komunitas. Kelas menengah juga mengonsolidasi diri untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dan ketrampilan yang dipadu dengan mental kemandirian. Di tengah segala kondisi, kelas pekerja harus ‘berdiri di atas satu kaki’, memasang pondasi kecemasan di tengah kepuasan. Sehingga tidak ada alasan untuk mendramatisir keterpurukan pekerja Indonesia. Don’t mourn! Jangan mengeluh!


daftar isi

fokus................................. 4 > Membangun Daya Saing yang ’Kesiangan’ > Tidak Ada Lagi Kerja Eksklusif

ekonomi......................... 13 > Kewirausahaan Penentu Kemakmuran Bangsa > 12 Pilar Daya Saing Bangsa Versi World Economic Forum

kilas................................ 18 > Tonggak Sejarah Gerakan Pekerja di Indonesia (Bag. 1)

politik. ........................... 20 > Krisis Ekonomi Yunani: Gelembung Hutang untuk Kemakmuran

konsultasi................... 22 > Pekerja Kontrak dan Yellow Union

opini................................. 24 > Tunda ACFTA, Atau Daya Saing Turun!

peristiwa. .................... 25 > LABORA di Panggung Ulang Tahun SPSI

tokoh............................... 28 > Chun Tae-il: Kematian yang Tak Sia-sia

wawancara................. 30 > Myra Maria Hanartani: Semua Harus Patuh Aturan Main

esai................................... 31 > Membangun Kemitraan LABORA, maret 2010




fokus

Membangun Daya Saing GLOBALISASI bukan makhluk asing bagi kelas pekerja Indonesia. Mereka dibangunkan oleh alarm jam SEIKO, membersihkan badan dengan produk Unilever, memakai pakaian GAP, sepatu Clarks, jam tangan Swiss Army, parfum Hugo Boss, breakfast dengan masakan ala China atau Jepang dari gandum Amerika, pergi ke kantor dengan kendaraan Honda, isi bensin di Shell, lunch di fastfood restoran McDonald’s sambil mendengar MP3 lagu barat dari iPod, makan buah dari Thailand, berkomunikasi dengan ponsel Nokia, belanja kebutuhan pokok di Carrefour, dinner dengan daging Australia, dan tidur di rumah yang dibangun dari semen Holcim.

S

ebagian besar barang yang kita pakai dan beredar di sekeliling kita berasal dari luar negeri, atau dibuat dari pa­brik­nya yang ada di Indonesia. Segala yang ’dari luar’,awalnya tidak bermasalah bagi pekerja. Alih-alih khawatir, mereka menjadikan ’merek luar’ itu sebagai bagian dari gaya hidup dan menunjukkan status sosial mereka. Dominasi barang impor da­lam mindset pekerja dianggap hanya efek kecil dari globalisasi. Tidak masalah barang impor masuk ke Indonesia. Karena toh, barang Indonesia juga banyak yang diekspor ke luarnegeri. Pasca CAFTA berlaku, kehadiran barang impor mulai lebih diperhatikan. Kali ini dengan nada khawatir. Apalagi setelah diketahui bahwa nilai ekspor produk Indonesia tidak sepesat dan se­dinamis negara-negara maju. Ujung tombak ekspor manufaktur Indonesia ke pasar internasional masih sebatas tekstil, garmen, kulit, sepatu, kayu, makanan, dan barang elektronik sederhana. Apalagi



LABORA, maret 2010


fokus

yang ’Kesiangan’

LABORA, maret 2010




fokus

setelah kita tahu bahwa sangat mungkin ada impor pekerja asing yang merampas posisi pekerja Indonesia. Struktur ekspor ini tidak berubah sebelum, saat dan setelah krisis ekonomi global pada 1997 dan 2008. Rendahnya teknologi yang digunakan dalam proses produksi industri padat karya ini membuat daya saing bangsa kita menurun di pasar lokal dan global. Dengan meningkatnya tingkat upah dan biaya produksi, harga pasar dunia menjadi semakin kompetitif dan menekan keuntungan di sektor industri. Semua fenomena di atas hanyalah gunung es dari proses industrialisasi di negara kita yang terencana dan terfokus jelas. Tidak ada roadmap atau blueprint yang terartikulasi secara eksplisit dan diinternalisasi oleh dunia industri secara



LABORA, maret 2010

serius. Tak mengherankan jika daya saing industri kita di pasar internasional kemudian begitu rendah. Dan dengan fondasi industri yang begitu dangkal dan rapuh seperti sekarang tidaklah meng足 herankan jika daya tahan kita terhadap gejolak eksternal begitu ringkih. Kondisi berbeda dialami negara-negara Asia lain seperti Malaysia, Thailand, Taiwan, Korea yang juga pernah dihantam krisis ekonomi. Mereka berhasil menggeser teknologi rendah mereka ke teknologi tinggi dan menapak kokoh ke posisi negara industri maju.

Daya saing pekerja

Bagaimana dengan nasib pekerja? Bila defisit neraca perdagangan nonmigas ini dibiarkan terus, maka bukan saja pendapatan negara yang akan berkurang,


fokus malah status negara pun berubah dari negara produsen ke negara konsumen. Deindustrialisasi mengakibatkan PHK dan penyerapan tenaga kerja yang rendah. Efeknya pengangguran merebak, daya beli masyarakat menurun, kualitas kesehatan dan pendidikan masyarakat memburuk karena perubahan pola konsumsi. Industri yang menurun akan berakibat pada penurunan kesejahteraan pekerja. Perusahaan sering potong kompas dengan menimpakan kesialan bisnisnya kepada pekerjanya. Manajemen menganggap perusahaan tidak akan terpuruk bila aturan dan perundang-undangan ketenagakerjaan yang ’mengistimewakan’ pekerja itu direvisi oleh pemerintah. Padahal banyak perusahaan di negaranegara makmur, misalnya saja Jerman, Swiss, Swedia, Jepang, yang menggaji pekerjanya dengan upah tinggi namun juga mampu bersaing di pasar global. Serikat pekerja yang kuat, vokal dan berani juga tidak bisa dijadikan kambing hitam berkurangnya daya saing kita. Serikat pekerja yang kuat justru kontributif terhadap peningkatan daya saing nasional. Contohnya saja serikat pekerja di Jerman dan Swedia.

Tapi perusahaan punya banyak alasan untuk melakukan efisiensi. Dengan ter­ bukanya keran perdagangan bebas, negara kita tidak bisa lagi mengekslusifkan pekerjaan-pekerjaannya hanya pada warga negaranya saja. Pekerja asing sudah menghadang di pintu gerbang perusahaan kita, siap dibayar lebih rendah dengan pemangkasan berbagai fasilitas namun performa tidak kalah dengan pekerja lokal, menggantikan pekerja organik yang dinilai banyak tuntutan dan berbiaya tinggi.

Daya saing pekerja, kemakmuran perusahaan

Sambil menyiapkan penguatan basis kelas pekerja yang kokoh dan melek industri. Bersama masyarakat sipil dan politik lainnya, kelas pekerja wajib menyokong sikap proaktif pemerintah untuk mereformasi dan merevitalisasi sektor perpajakan agar muncul kemandirian fiskal dan mengurangi ketergantungan kepada pinjaman luar negeri. Tentu saja hal ini harus diawali dengan pengakuan bahwa sektor industri kita memang me­ miliki kelemahan struktural yang sangat mendasar jauh sebelum krisis ekonomi. Sumber utama peningkatan daya saing

“Pekerja ber­hak untuk mem­­peroleh kom­­pensasi dari waktu dan tenaga yang didedikasikan kepada perusa­haan dalam ben­tuk gaji dan tunjangan atau manfaat lainnya” LABORA, maret 2010




fokus

adalah peningkatan produktivitas di sektor industri. Industrilah yang sesungguhnya punya kaitan langsung dalam menciptakan lapangan pekerjaan, menambah pengha­ silan pekerja dan berperan penting dalam mengatasi kemiskinan. Ekonomi yang memiliki daya saing adalah ekonomi yang mampu melahirkan dari rahimnya perusahaan-perusahaan kelas dunia, yang tidak hanya mampu me­nahan gempuran pesaing-pesaing asing di pasar domestik tapi juga mampu mela­kukan penetrasi dan memenangkan persaingan di pasar-pasar internasional.

Di sinilah akhirnya kita tahu bahwa peningkatan daya saing negara dan peru­ sahaan tidak bisa dilepaskan dari peran kelas pekerja. Sehingga kita tidak perlu mendikotomikan pekerja dan pengusaha selama kedua belah pihak mempunyai tu­juan yang sama: kesejahteraan dan kemakmuran, tentu tanpa ada yang pihak terluka. Pelibatan kelas pekerja dalam masalahmasalah perusahaannya hakikatnya adalah juga untuk saling menyelamatkan diri dari gempuran perusahaan-perusahaan global.



LABORA, maret 2010

Karenanya, posisi pekerja hendaknya tidak lagi sebagai sekrup perusahaan, sekadar bawahan yang mudah diperintah. Pekerja yang ’pasang badan’ berjibaku memperkuat eksistensi dan meningkatkan profit perusahaan hendaknya diposisikan sebagai mitra kerja lahir dan batin. Pekerja merupakan instrumen penting dalam memenuhi kebutuhan konsumen, karena proses yang ada dalam perusahaan dijalankan oleh pekerja. Untuk itu, penting bagi perusahaan untuk memenuhi ekspektasi yang wajar dari pekerja agar bisnis bisa berjalan dengan baik. Pekerja berhak untuk memperoleh kompensasi dari waktu dan tenaga yang didedikasikan kepada perusahaan dalam bentuk gaji dan tunjangan atau manfaat lainnya. Selain itu, agar pekerja dapat be­ker­ja dengan baik dan loyal, mereka mem­bu­ tuhkan adanya rasa aman terhadap kelang­ sungan perusahaan dan pekerjaan mereka, serta membutuhkan adanya kondisi kerja yang baik dan kepuasan dalam bekerja. Di era global sekarang, sudah lazim setiap pekerja memiliki saham dan dividen dari perusahaan sebagai wujud penghargaan hasil kerja dan atas hierarkinya. Mereka melihat suatu industri di ma­na otomatisasi tidak menciptakan pe­ ngangguran, dan setiap pekerja mau dan dapat memahami apa pun yang mereka lakukan. Mereka juga mendapat penjelasan mengenai jalannya perusahaan. Yang nampak di depan mereka adalah sebuah dunia, di mana disiplin yang mirip disiplin militer itu dapat berjalan berdampingan dengan rasa hormat pada setiap individu. Sehingga bukan masalah kita bangun, membersihkan badan, berpakaian, sarapan, berkendaraan, makan siang, ngemil, berko­ munikasi, belanja, makan malam, dan tidur di rumah bersama ’barang impor’, selama kita berhasil membangun sistem industrial yang mendukung kepentingan kelas pekerja. Mereka siap menghantarkan perusahaan dalam kompetisi global dan memperkuat daya saing bangsa. [dit]


fokus Ekspor Pekerja Pengetahuan:

Meng-India-kan Eropa dan Amerika Utara Marilah kita sambut pesaing terbaru kita: Srividya, Kavita, Lalit dan Kama. Mereka datang dari Mumbai, India. Mereka berprestasi bagus di sekolah menengah, meraih gelar sarjana teknik atau ilmu komputer di universitas yang bagus, dan kini bekerja di sebuah perusahaan software kondang dengan gaji + $15.000 pertahun.

K

ehadiran keempat programmer tersebut dan teman-teman mereka di seluruh India, China, dan Philipina benar-benar membuat takut para insinyur software komputer dan pekerja otak kiri di Amerika Utara dan

Eropa. Kehadiran mereka bahkan telah membangkitkan pelbagai protes, boikot dan pengambilan sikap politik. Pekerjaan mereka memang bukan yang paling di­ butuhkan oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Tapi pekerjaan tersebut hingga saat ini dilakoni secara eksklusif di Amerika Serikat dengan gaji hingga $70.000 pertahun. Sekarang ini, orang-orang India yang berusia 25 tahun sedang melakukan hal ini – sama baiknya, meskipun tidak le­bih baik; sama cepat, meskipun tidak lebih cepat – untuk mendapatkan gajigaji seperti seorang operator Taco Bell. Namun pembayaran mereka, meskipun rendah menurut standar Barat, kira-kira LABORA, maret 2010




fokus “Setiap tahun, sekolah tinggi dan universitas di India meluluskan sekitar 350.000 lulusan teknik. Itulah satu alasan mengapa lebih setengah perusahaan Fortune (500 sekarang) mengontrak pekerjaan soft­ ware di India”

10

LABORA, maret 2010

bernilai dua puluh lima kali lipat dari apa yang diperoleh orang India biasa – dan menyediakan untuk mereka gaya hidup kelas menengah atas dengan pelbagai liburan dan apartemennya. Para programmer yang ada di Mumbai, India, adalah mereka yang berpendidikan baik dalam gelombang tsumani global. Setiap tahun, sekolah tinggi dan universitas di India meluluskan sekitar 350.000 lulusan teknik. Itulah satu alasan mengapa lebih setengah perusahaan Fortune (500 sekarang) mengontrak pekerjaan soft­ware di India. Misalnya, sekitar 48% dari software GE dikembangkan di India. Perusahaan tersebut telah meng­ gunakan 20.000 orang disana (dan bah­ kan mengiklankan bahasa simbol pada kan­tor-kantornya di India yang berbunyi “Pelanggar akan direkrut”). HewlettPackrad mempekerjakan ribuan insinyur software India. Siemens mempekerjakan 3.000 programmer komputer di India dan memindahkan 13.000 pekerjaan tersebut ke luar negeri. Oracle mempunyai 5.000 staf orang India. Perusahaan kensultan IT India yang besar Wipro mempekerjakan 17.000 insinyur yang bekerja untuk

Home Depot, Nokia dan Sony. Dan begitu seterusnya. Seperti yang telah dikatakan oleh eksekutif utama GE India kepada Financial Times London; “Pekerjaan apa pun yang berbasis bahasa Inggris di pasarpasar seperti Amerika Serikat, Inggris dan Australia dapat dilakukan di India. Satu-satunya batasan adalah imajinasi Anda.” Malahan imajinasi-imajinasi India melampaui para programmer komputer. Perusahaan-perusahaan jasa keua­ngan se­perti Lehman Brother, Bear Stearns, Mor­gan Stanley, dan JP Morgan Chase me­ng­on­trak para MBA India un­tuk me­ la­kukan kalkulasi-kalkulasi me­ta­ma­tis tentang angka-angka dan ana­lisa keua­ ngan. Pelayanan berita-berita keua­ngan Reuters telah mengirimkan ke luar negeri pe­kerjaan-pekerjaan editorial ren­dah. Dan di seluruh India. Anda akan me­ne­­ mu­kan para akuntan yang disewa yang mem­persiapkan pengembalian pajak Ame­ rika, para pengacara yang melakukan pe­­­ nye­­lidikan hukum bagi perkara-perkara hu­­­kum orang Amerika, dan radiologis yang membacakan scan CAT untuk rumah sa­­kit-rumah sakit di Amerika. [Mashudi Antoro]


fokus

Tidak Ada Lagi Kerja Eksklusif Tidak setiap perusahaan multinasional di Eropa dan Amerika Utara memperkerjakan warganya sendiri. Standar gaji dan fasilitas yang besar di negara asal membuat perusahan lebih nyaman mencari tenaga kerja asing di negara Asia dan negara Eropa bekas komunis yang dapat digaji lebih murah namun dengan kualitas yang relatif seimbang.

K

ini hampir seluruh jenis pekerjaan kerah-putih yang digerakkan oleh otak kiri berpindah ke wi­ layah Utara ke Selatan. Motorola, Nor­tel dan Intel mengoperasikan pusat-pu­sat pengembangan software di Rusia, se­ dangkan Boeing juga mengirim sejumlah besar pekerjaan teknik pesawat mereka. Pe­ rusahaan raksasa jasa komputer Electronic Data System mempunyai para pengembang software di Mesir, Brazil dan Polandia. Pada saat yang sama, arsitek Hongaria sedang membuat cetak biru dasar untuk perusahaan-perusahaan desain California. Para akuntan Philipina melakukan audit untuk perusahaan Cap Gemini Ernst & Young. Dan perusahaan Belanda Phi­lips mem­pekerjakan 700 insinyur di Chi­na, se­buah bangsa yang sekarang se­dang meng­ hasilkan lulusan teknik yang ham­pir sama banyaknya dengan Amerika Serikat. Alasan utama semua perubahan besar di atas adalah uang. Di Amerika Serikat, desainer chip biasa memperoleh sekitar

$ 7000 per bulan; di India cukup hanya dengan sekitar $ 1000 saja. Di Amerika Serikat, insinyur pesawat biasa memperoleh sekitar $ 6000 setiap bulan; di Rusia, gaji bulanannya lebih dekat dengan $ 650 saja. Seorang akuntan di Amerika Serikat dapat memperoleh penghasilan $ 5000 per bulan; sedangkan di Philipina mereka mendapatkan penghasilan sekitar $ 300 per bulan, tidak ada jumlah uang yang kecil dalam sebuah negara dimana pendapatan perkapita tahunan-nya adalah $ 500. Tatanan dunia baru adalah sebuah mim­pi bagi pekerja. Namun bagi para pe­kerja kerah-putih berotak kiri di Eropa dan Amerika Utara, implikasinya lebih LABORA, maret 2010

11


fokus

menyeramkan. Lihat saja: 1. Satu dari sepuluh pekerjaan dalam industri komputer software, dan teknologi informasi di Amerika Serikat akan pindah ke luar negeri pada dua tahun berikutnya. Satu diantara pe­ kerjaan-pekerjaan IT akan diekspor ke luar negeri pada tahun 2010. 2. Menurut Forrester Research, “Seti­ daknya 3,3 juta pekerjaan kerah-putih dan $ 136 Milyar gaji akan pindah dari Amerika ke negara-negara berbiaya ren­

dah seperti India, China da Rusia” pada tahun 2015. 3. Bangsa-bangsa seperti Jepang, Jerman dan Inggris akan menyaksikan kelang­ kaan pekerjaan yang sama. Inggris sen­ diri akan kehilangan 25.000 pekerjaan IT dan di atas 30.000 posisi keua­ngan ke India dan negara-negara berkem­ bang lainnya pada beberapa tahun berikutnya. Pada tahun 2015, Eropa juga akan kehilangan 1,2 juta pekerjaan ke tempat-tempat di luar negeri.

12

LABORA, maret 2010

Kegelisahan terhadap isu ini berjalan lebih cepat dari realitasnya. Warga negaranegara maju bersiap-siap menghibahkan pekerjaan mereka kepada rekan-rekannya dari negara-negara berkembang yang pernah mereka jajah pada masa lalu. Ke­tika biaya berkomunikasi dengan sisi lain dari dunia jatuh pada titik nol, dan ketika negara-negara yang sedang ber­ kembang terus menciptakan jutaan pekerja pengetahun yang benar-benar cakap, maka kehidupan kerja orang-orang Eropa, Amerika Utara dan Jepang akan berubah secara drastis. Jika pekerjaan yang diarahkan oleh otak kiri yang rutin dan standar seperti jenis-jenis analisa keuangan, radiologi, pem­rograman komputer dapat banyak dila­kukan di luar negeri dan dikirim ke­pa­da klien-kliennya secara instan me­ lalui jaringan fiber optic dan internet, maka itulah tempat yang menjadi tujuan pe­kerjaan tersebut. Pergolakan ini akan sulit bagi sebagian orang, namun pada akhirnya ia tidak begitu jauh berbeda dari transisi-transisi yang pernah kita lalui sebelumnya yang berpindah ke seberang lautan pada paruh kedua abad ke-20. Kini sebagian pekerja pengetahuan harus menguasai sejumlah bakat baru. Mereka perlu melakukan apa yang tidak dapat dilakukan dengan baik oleh para pekerja di luar negeri untuk mendapatkan sejumlah kecil uang – dengan menggunakan kemampuan yang diarahkan otak kanan seperti menempa hubungan ketimbang me­ lakukan transaksi, menghadapi tantangan baru ketimbang memecahkan masalah yang biasa, dan memadukan keseluruhan perspektif ketimbang menganalisa satu komponen tunggal. [Mashudi Antoro, disadur dari karya Daniel H. Pink “A Whole New Mind”, 2006]


ekonomi

Kewirausahaan Penentu Kemakmuran Bangsa ERA globalisasi membawa negara-negara kepada persaingan ketat dan intensif. Agar tetap bertahan, setiap negara dituntut untuk membangun daya saing yang kuat. Salah satu kuncinya: meningkatkan kewirausahaan.

K

ata David McClelland, ke­ makmuran suatu negara dapat dilihat dari jumlah entrepreneur atau wirausahawan, minimal dua persen dari populasi pen­duduknya. Kehadiran mereka mem­buat perekonomian negara akan semakin sejahtera dan kuat. Contohnya, AS memiliki 11,5% dan Singapura 7,2% wira­usa­­hawan (2007). Sementara In­do­­ne­sia diperkirakan hanya men­­­ca­pai 400.000 orang (0.18% da­ri yang seharusnya 4,4 juta wira­usahawan). Sayangnya, budaya kewira­usa­ hawan belum mengakar di ma­ syarakat Indonesia, terutama ge­ nerasi muda. Alasan pertama, mung­­kin karena mayoritas masya­ rakat Indonesia masih berada di da­ lam struktur dan alam pikiran agra­ ris. Nilai agraris pada umumnya didominasi oleh nilai-nilai yang lebih bergantung pada alam daripada ber­tumpu pada kemampuan sendiri seperti kemampuan inovasi dan kepandaian mengadopsi. Selain itu, profesi kewirausahaan di Indonesia dianggap kurang ter­ hormat. Masyarakat kita meman­ dang pegawai pemerintahan atau pegawai swasta sebagai profesi yang

lebih pantas dan terhormat, bukan sebagai pedagang.

Pencipta Lapangan Kerja

Alasan kedua, sistem pendidikan nasional kita hanya menghasilkan pekerja dan bukan pencipta lapangan kerja. Menjadi karyawan adalah alasan utama mengapa seseorang me­lanjutkan kuliah. Masyarakat Indonesia cenderung mencari gaya bekerja dengan zona nyaman, sangat bertolak belakang dengan budaya wirausahawan yang menuntut semangat pantang me­ nyerah, berani mengambil risiko, kreatif, dan inovatif. Sistem pendidikan kewira­ usahaan kita mesti dibenahi. Minat mengajar atau berbagi kisah sukses para wirausahawan sukses masih rendah; kurikulum kewirausahaan lebih indoktrinatif, tidak menarik;

mental pengajar yang sekadar for­ malitas dan hanya mengejar target kurikulum, dan kurangnya pusatpusat pelatihan kewirausahaan. Pembangunan kewirausahaan di Indonesia tidaklah mudah. Ber­ da­sarkan penelitian dari Entre­pre­ neurship Working Group Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), ha­nya sedikit wirausahawan yang berhasil menjadi pengusaha mene­ ngah dan besar dalam siklus pola kewirausahaan. Gejala inilah yang juga terjadi di Indonesia. Ma­yo­ri­ tas wirausahawan yang suk­ses di Indonesia berasal dari ketu­ru­nan Tionghoa. Seharusnya, nilai dan se­­mangat yang dimiliki oleh ma­­ sya­rakat etnis Tionghoa dalam ber­­­wirausaha ini dapat ditularkan dan dicontoh oleh masyarakat Indonesia. [Sukamdani Sahid Gitosardjono, pengusaha] LABORA, maret 2010

13


ekonomi

12 Pilar Daya Saing Versi World Economic Forum The World Economic Forum (WEF), terkenal dengan pertemuan tahunannya di Davos, adalah sebuah organisasi independen nonprofit internasional berbasis di Swiss. Lembaga yang bermotto ‘entrepreneurship in the global public interest’ ini percaya bahwa pertumbuhan ekonomi tanpa pembangunan sosial tidak akan langgeng, sebaliknya pembangunan sosial tanpa pertumbuhan ekonomi tidak akan dapat berjalan dengan baik.

14

LABORA, maret 2010


ekonomi

Bangsa

P

ada The Global Com­petiti­ ve­ness Report 2008-2009, WEF menge­luarkan 12 pilar tentang daya saing sebuah negara. Kriteria ini didasarkan atas hipotesis terhadap kemajuan suatu bangsa berbasis upah (wages). Pilar pertama merupakan pondasi paling utama yang menentukan kemungkinan da­ ya saing negara tersebut, dan terus meningkat hingga lahirnya berbagai inovasi. Kelembagaan. Kelembagaan m­e­ru­pakan suatu jaringan kompleks yang melibatkan interaksi antara biro­krasi, regulasi, kebijakan, pihak swas­ta mupun masyarakat umum yang men­ciptakan hubungan timbal ba­lik. Pa­da satu segi kelembagaan bisa men­do­rong pendistribusian manfaat mau­pun keuntungan. Ta­pi pada sisi lain, kelem­ba­gaan ju­ga bisa menyebabkan biaya yang diakibatkan oleh pilihan strategi pem­bangunan dan kebijakan serta kinerja apa­rat birokrasi. LABORA, maret 2010

15


ekonomi

Infrastruktur. Infrastruktur yang efisien dan ekstensif akan mengurangi efek yang ditimbulkan oleh jarak antar daerah, sehingga membuat suatu titik bisa terintegrasi sepenuhnya dengan pasar nasional, sebelum lalu terintegrasi dengan pasar antara Negara dan regional. Stabilitas Makroekonomi. Stabilitas makroekonomi merupakan hal yang penting

”ICT (Infor­ mation and Communication Techno­logy) kini menjadi faktor penting bagi semua proses ekonomi kita saat ini. Akses terha­dap ICT, kerangka regulasinya, dan peman­ faatannya men­ jadi komponen pen­ting dalam pilar ini”

16

LABORA, maret 2010

bagi bisnis. Ketidakstabilan ekonomi makro pasti berakibat buruk pada pertumbuhan ekonomi. Ketika inflasi berjalan di luar kontrol, ketika pemerintahan tidak bisa melayani masyarakat maupun sek­tor swasta karena tingginya be­ban bunga yang harus dibayar karena utang masa lalu, maka iklim usaha pun tak kondusif. Kesehatan dan Pendidikan Dasar. Kesehatan buruk bisa me­micu ekonomi biaya tinggi-dan ten­tu saja itu buruk bagi bisnis. Pe­kerja yang sakit cenderung absen, bekerja dengan kapasitas yang rendah, kurang produktif dan tidak bisa menggali potensinya secara maksimal. Investasi di bidang ke­se­hatan tak cuma penting bagi da­ya saing, tapi secara moral itu “harus”. Pendidikan Tinggi dan Trai­ning. Pengetahuan dan in­for­masi, dengan t e k n o l o g i t e l e­ k o­ m u n i k a s i s e b a g a i makcomblang, lebih banyak menentukan kemakmuran, dan dengan demikian, daya saing bang­sa. Lingkungan semacam ini me­ nuntut sumber daya manusia yang lebih, yaitu sumber daya yang ber­pendidikan tinggi dan ahli yang bis­a dengan cepat beradaptasi dan mengadopsi lingkungan global yang berubah dengan cepat. Efisiensi Pasar. Negara de­ngan pasar

yang lebih efisien akan memproduksi rangkaian pro­duk dan layanan yang lebih di­ten­tu­kan oleh permintaan dan pe­na­wa­ ran, dan diperdagangkan da­lam kondisi ekonomi yang paling efek­tif. Kompetisi pasar yang sehat, baik dalam negeri maupun luar ne­geri, menjadi pilar penting yang mendorong efisiensi, dan akhirnya juga produktivitas. Pasar Tenaga Kerja yang Efi­sien. Efisiensi dan fleksibilitas pasar tenaga kerja menjadi factor penting sehingga pekerja bisa diberdayakan pada kondisi ekonomi yang paling efisien, dengan jaminan insentif yang baik sehingga mereka bisa be­kerja secara maksimal. Pasar te­naga kerja harus fleksibel, bisa ber­gerak dari satu aktivitas ekonomi ke aktivitas lainnya secara cepat dan de­ngan biaya yang lebih rendah. Pasar Finansial yang Baik. Sektor finansial yang efisien pen­ting untuk mengalokasikan dana masyarakat maupun sumber-sumber dana asing yang masuk ke sektor investasi yang paling produktif. Kanal saluran tersebut berupa pro­yekproyek investasi atau usaha yang bisa memberikan keuntungan yang tinggi, dan bukan koneksi politik.


pilar ini adalah jejaring bis­nis negara dan pendukungnya secara ke­se­luruhan maupun kualitas dan strategis ma­singmasing perusahaan dalam jejaring itu. Inovasi. Dalam jangka panjang, pe­ ningkatan standar hidup hanya bisa dicapai melalui inovasi tek­nologi. Inovasi hanya bisa lahir da­lam lingkungan yang kondusif un­tuk melakukan inovasi, yang di­du­kung baik oleh sektor swasta maupun publik. Secara lebih kasat mata, lingkungan yang kondusif ini antara lain ditandai oleh hadirnya lembaga riset dan pengembangan berkualitas, dan kolaborasi yang eks­tensif lembaga riset universitas, lembaga publik dan industri.

ekonomi

Ketersediaan Teknologi. ICT (Infor­ mation and Communication Techno­logy) kini menjadi faktor penting bagi semua proses ekonomi kita saat ini. Akses terha­ dap ICT, kerangka regulasinya, dan peman­ faatannya menjadi komponen pen­ting dalam pilar ini. Ukuran Pasar. Besarnya ukuran pa­sar jelas memiliki pengaruh terha­dap pro­duktivitas karena pasar yang besar mem­buka peluang bagi peru­sahaan untuk mem­perbesar skala efektivitas ekonomi mereka. Bisnis yang Canggih. Ling­ku­ngan bisnis yang kondusif mendorong pro­duk­si dan layanan berjalan le­bih efisien. Ling­ kungan ini pada akhir­nya akan mendorong ke arah pro­duk­tivitas, yang sudah pasti pada akhirnya akan me­ning­katkan daya saing bangsa. Faktor yang dilihat dalam

[“The Global Competitiveness Report 2008-2009″ yang dikeluarkan oleh World Economic Forum]

LABORA, maret 2010

17


kilas

Tonggak Sejarah Gerakan Pekerja di Indonesia (Bag. 1)

P

ergerakan pekerja di Indonesia penuh dengan liku-liku sejarah yang panjang dan melelahkan. Beberapa tonggak sejarah besar dan berpengaruh terangkum dalam tulisan ini. Namun, masa panjang perjuangan pergerakan pekerja Indonesia belum berakhir.

1878

- Muncul serikat pekerja guru Bahasa Belanda yang dipengaruhi oleh pergerakan sosial demokrat di Belanda. Pada masa itu serikat pekerja tampil se足ba足 gai organisasi golongan yang hanya menam足 pung kulit putih.

1879

- Lahir Nederland Indische

Onderwys Genootschap (NIOG), Serikat Pekerja Guru Belanda.

1905 - Lahir Serikat Pekerja Pos (Pos Bond).

1906 - Lahir Serikat Pekerja Perkebunan 18

LABORA, maret 2010

(Cultuur Bond) dan Serikat Pekerja Gula (Zuiker Bond).

1907

- Lahir Serikat Pegawai

Pemerintah.

1908

- Lahir Vereniging Spoor-Traam Personeel (VSTP) dipimpin oleh Semaoen.

1909 - Pada 26 September di kalangan

Tionghoa di Jakarta dibentuk Tiong Hoa Sim Gie dipimpin oleh Lie Yan Hoei. Empat bulan kemudian kelompok ini mengubah nama menjadi Tiong Hoa Keng Kie Hwee yang kemudian menjadi inti dari Federasi Kaoem Boeroeh Tionghoa.

1911 - Lahir Perkumpulan Bumi Putra Pabean (PBPP).

1912 - Lahir Sarekat Dagang Islam (SDI)

yang bergerak di bidang perekonomian dan perdagangan, Serikat Islam sebagai serikat


kilas pekerja kaum pribumi dan Persatuan Guru Bantu (PGB).

1913 - Lahir Serikat Pekerja Kereta Api (Spoor Bond).

1914

- Lahir Persatuan Pegawai Pegadaian Bumiputra (PPPB).

1915 - Lahir Serikat Pekerja Perusahaan Swasta (Partikulir) / (SPPP).

1916

- Lahir Serikat Pekerja Opium Regie Bond (ORB).

1917 Gula.

- Lahir Serikat Pekerja Pabrik

1918

- Pada bulan Agustus lahir PFB (Personeel Fabriek Bond) yang beranggotakan pekerja tetap, Perkumpulan Tani dan koperasi yang kemudian lazim disebut sebagai Sarekat Tani dengan anggota kuli kenceng atau pemilik tanah yang disewa pabrik, serta Perserikatan Kaum Buruh Umum (PKBO) yang beranggotakan pekerja musiman. Ketiga perhimpunan itu diketuai Suryopranoto yang juga menyebut dirinya sebagai komandan Tentara Buruh Adidarmo.

1919

- Lahir Persatuan Pergerakan Kaum Buruh (PPKB) dipimpin oleh Semaoen.

pe­ngusaha yang dianggap tidak adil dan se­ we­nang-wenang. Dari jumlah 4.700 pemo­ gok sebagian besar terdiri dari tukang yang berperan penting dalam menjalankan pro­ses produksi di pabrik gula. Pemogokan dalam musim giling biasanya dilakukan atas inisiatif pekerja karena motif-motif eko­­ nomis. Gerakan telah dipersiapkan se­hing­­ga meskipun pemogok yang terdiri dari pekerja tetap hanya mencapai 1.997 orang tetapi mereka mampu memimpin sejumlah besar pekerja musiman (7.584 orang) dan pekerja tidak tetap sekitar pabrik (11.135 orang).

1920 - Para pekerja anggota Personeel Fabrik Bond (PFB) mogok kerja, menuntut majikan supaya mau mengakui keberadaan Serikat Pekerja mereka.

1921 - Harga gula, komoditas anda­lan

Belanda di tanah jajahannya jatuh di pasaran dunia. Pemodal Belan­da yang mengalami kerugian cukup­ besar ter­pak­sa harus menekan ongkos produksi se­ca­ra besar-besaran, diantaranya ada­­lah de­ngan memangkas upah pekerja. Bu­ruknya kondisi kerja waktu itu memicu pergolakan aksi buruh. Pe­­me­rintah mengaktifkan kantor Penga­ wa­san Perburuhan yang berada dibawah Departemen Kehakiman. Ia punya bagian yang secara terpusat mengawasi pergerakan serikat pekerja dan mengamati kebutuhan dikeluarkannya peraturan hukum baru menyangkut perburuhan.

“Harga gula, komoditas andalan Belanda di tanah jajahannya jatuh di pasaran dunia. Pemodal Belan­da yang mengalami kerugian cukup­ besar terpak­sa harus menekan ongkos produksi secara besar-besaran, diantaranya ada­­lah dengan memangkas upah pekerja”

1920 - Pemogokan pekerja terjadi pada 1922 - Para pekerja pelabuhan Surabaya 72 pabrik gula di seluruh Jawa. Dari jumlah itu 28 pemogokan terjadi pada masa sebelum dan sesudah giling yang meliputi 4.700 pekerja; sedangkan pemogokan yang lain terjadi dalam masa giling (dari bulan Mei sampai Oktober) dengan pemogokan ter­diri dari 20.716 orang. Pemogokan yang terjadi di luar musim giling biasanya terpaksa dilakukan sebagai reaksi tindakan

melancarkan aksi mogok kerja, menuntut perbaikan nasib. PPKB dan Revolutionaire Vakcentrale berhasil membangun aliansi yang bernama PVH (Persatuan Vakbond Hindia). Bersambung edisi berikutnya (Sum­ber: kalyanamitra.com/ bintangtenggara.com/sumber lainnya) LABORA, maret 2010

19


politik

Krisis Ekonomi Yunani:

Gelembung Hutang untuk Kemakmuran

K

AMIS, 11 Maret 2010. Ini hari kedua mogok massal rakyat pekerja Yunani. Dua juta rakyat pekerja turun ke jalan di Ibukota Yunani, Athena, dimobilisasi oleh dua serikat pekerja terbesar negeri itu, Serikat Pekerja Pegawai Negeri Sipil (ADEDY) dan Konfederasi Umum Pekerja Yunani (GSEE). Jalan-jalan utama penuh dengan spanduk-spanduk bertuliskan, “The Crisis Should Be Paid for by the Plutocracy,” “Permanent and Steady Jobs for All,” “Where Has All the Money Gone?” dan “Billions of Euros for Capitalism, but Nothing for the Workers—Rise Up!” “Keep Your Hands Off Our Benefits,” “People Are More Important than Markets and Banks” dan “Enough is Enough!” Para demonstran menuntut peme­rin­tahan partai the Panhellenic Socialist Mo­vement (PASOK) pimpinan perdana men­teri George Papandreou, untuk mem­batalkan kebijakan pengetatan anggaran. Rencananya, utang Yunani sebesar 300 miliar euro atau sekitar Rp3.755 triliun akan diatasi dengan menghemat anggaran yang dapat mengkorbankan para pekerja. Akibat pemogokan ini, seluruh pener­bangan dari dan menuju Yunani, kecuali untuk penerbangan darurat – dibatalkan. Transportasi umum juga macet total, ketika bis

20

LABORA, maret 2010

kota dan bis metro hanya beroperasi untuk mengangkut pekerja yang ikut pemogokan ke pusat-pusat kota. Demikian juga dengan layanan feri dan kereta api, semuanya turut berhenti beroperasi. Dengan turunnya pekerja sektor publik ke jalan, maka sekolah negeri, kantor pajak, kantor pengadilan, rumah sakit, dan kantor-kantor pemerintah di tingkat nasional juga ditutup. Bahkan tempat-tem­pat wisata terkenal seperti situs arke­ ologis Acropolis di Athena dipaksa tutup. Yang menarik, pekerja media juga turut mogok. Wartawan dan anggota serikat wartawan nasional, turun ke jalan selama 24 jam, se­ hingga menyebabkan tidak ada koran yang terbit pada hari kamis keesokan harinya. Demikian juga, tidak ada stasiun televisi yang meliput aksi-aksi demontrasi itu. Krisis ekonomi Yunani sebe­nar­ nya tidak lepas dari efek menular (contagion) krisis finansial yang terjadi pada 2007 dan memuncak pada 2008 di AS. Semula, pemerintah dan bor­ juasi do­mestik Yunani percaya bah­wa ekonomi mereka tidak akan terpengaruh oleh krisis ter­ sebut. Apalagi, pada masa pra kri­sis 2007, prediksi ekonomi per­tumbuhan ekonomi Yunani ada­lah positif, di mana tingkat upah dan produktivitas tinggi.

Akibatnya, pemerintah kemudian memberlakukan kebijakan defisit keuangan yang dibiayai melalui pinjaman utang luar negeri. Tetapi, pinjaman utang luar negeri yang terus membengkak itu tidak ditujukan untuk membiayai program-program so­sial buat rakyat miskin, tetapi untuk men­subsidi kalangan borjuasi domestik. Para pemberi pinjaman sendiri memang men­syaratkan demikian, karena mereka tidak percaya jika uang mereka bisa kembali jika digunakan untuk membiayai proyek-pro­yek sosial. Dengan struktur perekonomian yang sangat tergantung pada utang, maka ketika terjadi krisis m e­ n y e b a b k a n Y u n a n i j a t u h


dalam kategori negara yang gagal membayar utang. Tetapi, menyimpulkan bahwa krisis disebabkan oleh faktor ekster­ nal adalah keliru. Secara politik, kesimpulan seperti ini memang kerap dimainkan oleh pada demagog yang menjual isu populisme untuk meraih dukungan suara dan popularitas. Dengan menudingkan telunjuk ke pihak luar, para demagog itu secara sengaja menutupi struktur ekonomi domestik yang rapuh serta agendaagenda politik mereka yang anti rakyat pekerja. Krisis ekonomi Yunani juga ber­ akar pada struktur ekonomi domestik yang secara sengaja dirancang un­tuk melayani kepentingan aku­ mu­lasi kapital. Menurut ekonom

Stavros Mavroudeas, sejak Yunani ber­gabung ke dalam Uni Eropa pada 1981, ekonomi Yunani yang lebih kecil dan terbelakang diban­ ding negara-negara Eropa Barat, mengalami perubahan yang sangat signifikan. Integrasi ekonomi terse­ but menyebabkan hancurnya struk­ tur produksi ekonomi negeri para dewa itu, yang merupakan hasil dari “20 ta­hun yang agung” (1950-70) kapitalisme Yu­nani. Akibatnya, eko­ nomi Yunani kalah kompetitif diban­ dingkan dengan rekan-rekannya di Eropa Barat. Integrasi itu juga menyebabkan kapitalis-kapitalis asing menyerbu pasar Yunani, dan menggusur borjuasi domestik atau menempatkannya sekadar mitra yunior. Sektor jasa dan pelayanan

politik

”Krisis ekonomi Yunani sebe­nar­nya tidak lepas dari efek menular (contagion) krisis finansial yang terjadi pada 2007 dan memuncak pada 2008 di AS”

mutlak dikuasai oleh peru­sa­haanperusahaan multinasonal. Untuk mengatasi kegagalannya ber­saing dengan kapitalis inter­ nasional, pe­merintah Yunani baik langsung maupun tidak langsung mensubsidi borjuasi do­mestik untuk melakukan ekspansi usaha ke ne­ gara-negara Balkan yang baru me­ nya­takan merdeka dari Uni Sovyet. Dan seperti yang telah kita lihat di atas, subsidi ini dibiayai dari pin­ jaman utang luar negeri yang terus membengkak. Ekspansi usaha ini, di satu sisi men­da­tangkan keuntungan eko­ nomi yang luar biasa bagi borjuasi domestik dan menyumbang besar pada GDP Domestik; di sisi lain relo­ kasi usaha tersebut menye­babkan bangkrutnya usaha domestik yang ditandai oleh penutupan pabrik-pa­ brik. Dari sisi hubungan pekerjaka­pital, keadaan ini menyebabkan posisi tawar pekerja dalam negeri melemah, sehingga borjuasi berhasil memaksakan kebijakan yang tujuan­ nya untuk meningkatkan tingkat produktivitas. Dengan struktur perekonomian seperti itu, tidaklah aneh ketika krisis meletus pada 2007, dengan se­ ketika ekonomi Yunani ikut terseret ke dalam krisis. [Coen Husain Pontoh, Mahasiswa Ilmu Politik City University of New York] LABORA, maret 2010

21


konsultasi

Pekerja Kontrak dan TANYA: Saya Sukanta, pekerja di salah satu perusahaan yang merupakan anak dari Pe­ ru­sahaan PMA ternama di Nusantara ini. Saya dan teman-teman dikontrak oleh perusahaan sudah hampir 15 tahun. Status kerja kami tidak jelas, gaji kami tidak pernah naik selama beberapa tahun dan juga pemotongan-pemotongan yang tidak jelas. Kami digaji harian, tanpa THR. Tapi anehnya kami harus membayar Jamsostek. Di perusahaan kami ini sudah ada Serikat Pekerja. Tapi kami tidak pernah dibela dan nasib kami tidak diperjuangkan sama sekali. Apakah yang harus kami lakukan? JAWAB: Pak Sukanta, kami prihatin atas apa yang menimpa bapak dan teman-teman. Ini merupakan penyimpangan hukum dan bentuk ketidakadilan yang sebenarnya juga banyak dirasakan oleh para pekerja di Indonesia saat ini. Dalam aturan Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 59 disebutkan: (1) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu hanya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu, yaitu: a. pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya; b. pekerjaan yang diperkirakan penye­ le­s­aiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama dan paling lama 3 (tiga) tahun; c. pekerjaan yang bersifat musiman; atau

22

LABORA, maret 2010

d. pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan. (2) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang bersifat tetap. (3) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu dapat diperpanjang atau diperbaharui. (4) Perjanjian kerja waktu tertentu yang didasarkan atas jangka waktu tertentu dapat diadakan untuk paling lama 2 (dua) tahun dan hanya boleh


konsultasi

Yellow Union perjanjian kerja waktu tertentu ini hanya boleh dilakukan 1 (satu) kali dan paling lama 2 (dua) tahun (7) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) maka demi hukum menjadi perjanjian kerja waktu tidak tertentu.

diperpanjang 1 (satu) kali untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun. (5) Pengusaha yang bermaksud mem­ perpanjang perjanjian kerja waktu tertentu tersebut, paling lama 7 (tujuh) hari sebelum perjanjian kerja waktu tertentu berakhir telah memberitahukan maksudnya secara tertulis kepada pekerja/pekerja yang bersangkutan (6) Pembaruan perjanjian kerja waktu tertentu hanya dapat diadakan setelah melebihi masa tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari berakhirnya perjanjian kerja waktu tertentu yang lama, pembaruan

Nah, poin terakhir Pasal 59 di atas menjelaskan posisi bapak sebenarnya sudah termasuk dalam perjanjian kerja waktu ti­ dak tertentu. Atau bahasa gampangnya, bapak sebenarnya adalah karyawan tetap. Otomatis penggajian yang berlaku bu­kan upah harian. Bapak juga berhak mendapatkan kenaikan gaji secara berkala, penjenjangan karir dan juga jaminan sosial lainnya. Tentang Serikat Pekerja di perusahaan bapak yang tidak bertindak sama sekali atas status dan kondisi kerja bapak, kita istilahkan mereka Yellow Union, Serikat Pekerja Kuning, yang didirikan untuk mendukung setiap kebijakan perusahaan. Serikat ini sengaja dibentuk/dikuasai oleh manajemen untuk meredam tuntutan pekerja. Namun bisa saja ini terjadi kare­ na bapak dan teman-teman kurang me­ ngontrol pengurus serikat pekerjanya. Kami menyarankan agar ada pembe­ nahan kinerja serikat pekerja dengan mengoptimalkan program-program kerja yang jelas. Serikat pekerja harus diarahkan pada tujuannya yang hakiki sebagai pelin­ dung pekerja dan alat perjuangan meraih kesejahteraan anggota dan keluarganya. Jika memang sulit untuk dikontrol, adakanlah Kongres/Musyawarah Luar Biasa pada serikat tersebut.[] LABORA, maret 2010

23


opini

Tunda ACFTA, Atau Daya Saing Turun!

PEMBERLAKUAN ASEAN-China Free Trade Agreement/ ACFTA) pada awal tahun 2010 akan menyebabkan banyak masalah bagi Indonesia. Jika ACFTA dipaksakan maka bisa terjadi gerakan politik yang dilakukan oleh pihak yang merasa dirugikan. Setidaknya gerakan protes sosial pekerja mudah beralih menjadi gerakan politik.

24

LABORA, maret 2010

D

engan selisih biaya produksi yang jauh lebih murah, produk China akan meminggirkan produk sejenis di pasar lokal Indonesia. Peralihan konsumen secara besar-besaran ini akan melumpuhkan dan mematikan industriindustri di Indonesia. Industri yang lum­­puh akan memaksa perusahaan un­ tuk melakukan rasionalisasi pegawai. Efek rasionalisasi akan memunculkan s­i­tua­si sosial tidak stabil karena akan me­­­nye­babkan bertambahnya jumlah pe­ng­ angguran dan minimnya lapangan kerja. Efek rasionalisasi akan meningkatkan jumlah penduduk miskin dan memunculkan kriminalitas yang diiriingi dengan tindak kekerasan. Merebaknya kemiskinan akan menjadikan kualitas SDM kita menurun. Ji­ka kualitas SDM turun maka tenaga ker­ja kita tidak akan mampu berkompetisi de­ngan tenaga kerja dari negara lain. Itu berarti, da­ ya saing bangsa kita pun menu­run. Peninjauan ulang ACFTA harus diiringi pula oleh kebijakan-kebijakan baru yang

pro pengusaha dan pekerja. Sebagai con­ toh, kredit bagi UKM harus diperlunak. Pe­merintah turut membantu mencarikan pa­sar hasil produk UKM dengan membuka jaringan baik di pasar nasional maupun di pasar global lewat pertukaran perdagangan atau ekspedisi-ekspedisi lainnya. Selain itu, pemerintah juga diharap memberikan intensif pajak kepada peru­ sahaan-perusahaan yang banyak menyerap tenaga kerja seperti tekstil, pakaian jadi, produk rotan dan pertanian agar me­reka mampu berkompetisi di pasar in­ ter­nasional. Pemerintah juga harus mem­ berikan intensif kepada te­naga kerja yang berprestasi dengan mem­­berikan standar upah internasional un­tuk merangsang prestasi tenaga kerja lainnya. Momen ACFTA dipakai pengusaha untuk mendesak pemerintah agar merevisi UU No 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Tujuannya agar mereka lebih fleksibel mem­ per­lakukan pekerja. Sebaliknya, serikat mes­ti mendesak pemerintah agar konsisten mengawasi implementasi UU tersebut dari penyelewengan pengusaha. Salah satunya pasal outsourcing/pembo­ro­ngan pekerja. Di dalam pasal tersebut dikatakan out­ sourcing hanya berlaku untuk bidang yang tidak memiliki keahlian khusus se­perti ca­te­ring, pengamanan (satpam), clea­ning ser­vice. Namun dalam praktiknya, te­naga ahli seperti mekanik dan produksi pun ke­ na outsourcing. Kita ingin daya saing bangsa kita sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya. Bila pemerintah tidak peduli atas nasib pekerja, maka dikhawatirkan gerakan protes sosial pekerja beralih menjadi gerakan politik. [Kholid Alamudi, Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Buruh Demokrasi Seluruh Indonesia]


S

peristiwa

LABORA di Panggung Ulang Tahun SPSI abtu, 20 Februari 2010, SPSI merayakan ulang tahunnya yang ke-37 sekaligus memperingati Hari Pekerja Indonesia. Acara yang berlangsung meriah dengan pemandu acara Sony Tulung ini dihadiri oleh sejumlah tokoh antara lain Pjs. Ketua Umum KSPSI Mathias Tambing, perwakilan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, tokoh pekerja Andi Gani Nuwa Wea, Kepala BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat, Perwakilan ILO di Jakarta Shigeru Wada, serta para undangan lainnya. Pada kesempatan itu, dilakukan juga launching majalah LABORA dan peresmian Klinik Kesehatan Gratis dari PT Indika Energy Tbk.

LABORA, maret 2010

25


momen Pelabuhan Tanjung Priok Rabu 10 Maret 2010 jam 09:10 WIB SEBERAPA besar daya saing bangsa kita dapat ditilik dari arus keluar masuk barang di pelabuhan. Pasca CAFTA, Jakarta terus dijejali produk impor asal Cina. Tercatat volume bongkar muat peti kemas impor dari China ke pelabuhan Tanjung Priok mencapai 13.892 box dan 21.382 TEUs. Sementara peti kemas ekspor Indonesia ke China hanya 6.114 box dan 9.782 TEUs (per Februari 2010). Selisih lebih dari 100%. Barang-barang yang berdatangan dari negeri tirai bambu itu sebagian besar berupa steel coil, pulp, alat berat, soda ash, steel product, dan pupuk. Sisanya tekstil, pakaian, makanan ringan, buah-buahan dan alas kaki. CAFTA datang, bangsa kita buntung.

26

LABORA, maret 2010


momen LABORA, maret 2010

27


tokoh

Chun Tae-il:

Kematian yang Tak “Di zaman komodifikasi ini, zaman yang mengerikan, dimana seseorang bisa mengambil segalanya dari orang lain, aku tidak akan berkompromi dengan ketidakadilan apapun ataupun tinggal diam, tetapi akan berupaya maksimal demi keadilan.” (Chun Tae-il)

28

LABORA, maret 2010

B

UNUH diri dicibir banyak kalangan sebagai tindakan sia-sia, pengecut, tidak berani menghadapi realitas. Namun ada pula pihak yang setuju bahwa bunuh diri untuk mencapai tujuan yang lebih besar, bermakna keberanian dan kepahlawanan. Bunuh diri punya pesan perubahan sosial yang kuat. Ia mendobrak sistem yang kolot, memutus kebuntuan berpikir, menyadarkan massa, dan menjadi kidung abadi gerakan pekerja. Chun Tae-il telah membuktikan bahwa kematiannya tak sia-sia. Tae-il terlahir dari ayah Chun Sang-soo, tukang jahit pabrik garmen yang bermental rapuh, dan ibu Yi So-sun, penjual barang keliling, pada 1948. Sebuah kontruksi keluarga miskin yang sempurna. Ibunya kerap menjadi pengemis demi menghidupi anak-anaknya. Tae-il hanya mencecap pendidikan dasar selama tiga tahun. Ia sempat menjadi loper koran dan penyemir sepatu. Setelah usianya 16 tahun, ia hijrah se­ba­ gai helper (pembantu umum) di Pasar Damai di kawasan Chong­gye-chun, Seoul. Tempat ter­sebut salah sa­tu produsen pa­kaian terbe­ sar se-Korea Selatan.

Merapal Derita

Sebagai helper, Tae-il mengerjakan ham­pir semua pekerjaan; membantu mekanik dan tukang potong menyetrika, membersihkan dan merapikan jahitan, memasang kancing, dan melaksanakan segala macam perintah majikan mereka. Keahlian Tae-il dalam menjahit membuat dirinya dipromosikan sebagai asisten m e k a­ n i k d a n k e m u d i a n m e k a n i k (penjahit). Tae-il bekerja dalam sistem kerja yang buruk. Bersama rekan-rekannya, hampir setiap hari ia bekerja 14-15 jam tanpa ba­yaran tambahan. Bahkan, manakala pesanan berlimpah, para pekerja tidak tidur berhari-hari. Mereka hanya libur dua hari per bulan. Tidak ada izin untuk cuti, apalagi cuti haid, untuk buruh yang ratarata adalah perempuan muda. Tae-il dipecat dari pekerjaannya sete­ lah ia dan rekan-rekannya mendirikan “Masyarakat Orang Bodoh”. Karena ia tidak diterima oleh pabrik garmen mana­ pun di Pasar Damai, ia menjalani hidup sebagai buruh bangunan. Beberapa tahun kemudian ia kembali ke Pasar Damai dan bekerja sebagai tukang potong. Tidak betah hanya sebagai pekerja, ia mengorganisir sebuah serikat buruh dengan nama Asosiasi Persahabatan Samdong. Di sana ia dan kawan-kawannya mengajukan petisi ke Kementrian Perburuhan untuk meminta perbaikan nasib pekerja, terutama masalah waktu kerja. Petisi itu ditolak.


tokoh

Sia-sia

Merancang Mati

Dalam sistem kapital yang demikian digjaya, kesejahteraan pekerja tidak ada nilainya di mata pengusaha. Perjuangan pekerja memperoleh keadilan seperti bangunan pasir di pinggir pantai. Pekerja (hampir) mustahil menang melawan pe­ ngusaha. Demi melawan segala penindasan ter­se­but, bunuh diri adalah alternatif ter­akhir yang paling realistis dalam pan­ dangan Chun Tae-il. Demonstrasi buruh pada 13 November

1970 adalah momen yang tepat. Banyak media massa yang ramai meliput aksi ter­sebut. Tae-il membakar diri dengan bensin yang telah disiapkannya. Tubuh berapi itu kemudian berlari di arena un­ juk rasa sambil berteriak-teriak, “Kami bu­kan mesin!”, “Biarkan kami libur di hari Minggu,” “Buruh jangan dieksploitasi”, dan lain-lain, sebelumnya akhirnya roboh. Menjelang kematiannya, Chun Tae-il masih sempat berbisik, “Jangan biarkan kematianku sia-sia.” [dit]

“Dalam sistem kapital yang demikian digjaya, kesejahteraan pekerja tidak ada nilainya di mata pengusaha. Perjuangan pekerja memperoleh keadilan seperti bangunan pasir di pinggir pantai” LABORA, maret 2010

29


wawancara

1 Jam Bersama Dirjen PHI dan Jamsostek, MYra Maria Hanartani

Semua Harus Patuh Aturan Main Tentang Gerakan Buruh

Gerakan pekerja seharusnya sudah mu­lai mengubah mindset dari unjuk rasa jalanan menjadi pemberdayaan. Idealnya, gerakan pekerja bersifat produktif dan kons­truktif. PHI siap menjadi nara sumber dalam berbagai diskusi menyangkut hubungan industrial. Ajang diskusi ini diharapkan memberi pencerahan kepada semua stakeholder ketenagakerjaan.

Peran dan fungsi PHI

PHI mendorong implementasi dari berbagai regulasi yang sudah ditetapkan. PHI melakukan pembinaan terhadap serikat pekerja, edukasi dan juga menetapkan ber­ bagai koridor yang berkaitan dengan kete­ nagakerjaan. Kebijakan yang dilakukan PHI ju­ga mengacu pada policy pemerintah se­cara keseluruhan. Misalnya salah satu prio­ ri­tas pemerintah saat ini memperbaiki ik­lim investasi. PHI yang berada di ba­ wah Depnakertrans membuat regulasi untuk mendukung pencapaian prioritas tersebut.

CAFTA

Terdapat dua hal yang harus menjadi bekal dalam era tersebut. Pertama, stan­ dar produksi. Kedua, standar tenaga ker­ja. Untuk tenaga kerja seharusnya me­ miliki standarisasi profesi dalam rangka me­ningkatkan daya saing pekerja itu sendiri.

Otonomi Daerah

Untuk mendorong peningkatan kua­ litas petugas Disnaker di daerah, PHI

30

LABORA, maret 2010

menyelenggarakan berbagai pendidikan dan pelatihan bagi para mediator. Selain itu, PHI mengirimkan surat edaran kepada para pejabat di daerah mengawasi kinerja para mediator tersebut.

Serikat Pekerja

Serikat Pekerja (SP) harus menge­ de­pankan tertib organisasi. Jika ini dilakukan maka keanggotaan maupun operasional organisasi akan bisa dilakukan dengan baik. Dengan demikian agendaagenda SP seperti pembahasan PKB dan lain-lain bisa dibahas dengan cepat. SP harus menampilkan jati dirinya sebagai organisasi pekerja yang terbuka terhadap perubahan. SP juga harus mendorong kemajuan perusahaan.

Outsourcing

Outsourcing harus dilihat dari konsep perusahaan yang ber­­operasi secara efisien dan produktif. Tujuannya agar peru­sahaan bisa lebih fokus kepada bis­nis intinya. Dalam sistem out­sourcing, yang terpenting bagaimana pekerja terlindungi hak-haknya. Jika hak-hak dan aturan main dipenuhi maka sistem ini bisa berjalan de­ngan baik. Intinya se­mua harus pa­tuh pada atu­ran main yang su­ dah di­te­ tap­kan. (KF)


esai

Membangun Kemitraan Agus Barlianto

P ”Pekerja lebih dulu ada dan tidak tergantung pada kapital. Kapital hanya buah dari pekerja, dan tidak akan pernah bisa eksis jika pekerja tidak eksis lebih dahulu. Pekerja itu lebih utama dari kapital, dan pantas menerima perhatian lebih besar.” (Abraham Lincoln)

ekerja lebih dulu ada dan tidak tergantung pa­ da kapital. Pekerja lahir ber­samaan dengan mesin-mesin pa­ brik, banting tulang setiap hari demi keuntungan perusahaan. Semua ini tidak akan teraih bila tidak ada kese­ pakatan tentang hubungan yang sejajar di antara kedua belah pihak. Tanpa pe­kerja, mesin tidak berjalan dan tidak ada produksi. Kapital hanya buah dari pekerja. Perusahaan semakin besar karena kerja keras pekerja. Perusahaan mendirikan banyak cabang/pabrik di mana-mana demi memburu pasar, sumber daya alam dan tenaga kerja murah. Tapi kemakmuran perusahaan tidak serta merta berbanding lurus dengan kese­jahteraan pekerjanya. Kenyataan ini kadang ’terlewat begitu saja’ akibat eufemisme logika moral perusahaan. Kapital tidak akan pernah bisa eksis jika pekerja tidak eksis le­ bih dahulu. Perusahaan cendrung mele­takkan unsur pekerja sebagai bagian dari variable cost, bukan fixed cost. Karena itulah pekerja bergerak. Mereka menuntut hak-hak mereka yang terampas, tentang upah yang minim, kondisi kerja yang buruk, asuransi yang tidak terbayar, dan kebebasan berserikat yang dipasung. Keangkuhan perusahaan dalam mengakui eksistensi pekerja hanya memperlambat proses produksi yang akhirnya akan berdampak pada keuntungan perusahaan pula.

Pekerja itu lebih utama dari kapital. Sayangnya perlawanan kadang tidak terkendali. Serikat pekerja cendrung melihat perusahaan sebagai antitesa pekerja yang menghalangi terpenuhinya kesejahteraan mereka. Sehingga dalam memperjuangkan kepentingannya, pekerja cenderung destruktif terhadap eksistensi peru­ sahaan. Di sisi lain perusahaan pun ‘milik’ pekerja, sehingga maju mun­ durnya perusahaan berdampak pula pada nasib pekerja. Mereka perlu belajar dari sejarah gerakan pekerja dunia bahwa perjuangan dengan caracara konvensional, sporadis, dan reaktif hanyalah sebuah aksi tanpa makna yang sulit untuk berhasil. Pekerja pantas menerima per­ hatian lebih besar. Semestinya pek­erja menata ulang strateginya. Perjuangan harus lebih terorganisir, sistemik dan rasional dengan isu-isu yang realistis. Barulah hari depan pekerja mulai jelas tergambar. Kesejahteraan bersama pengusaha dan pekerja akan tercipta bila ada sinergi antara pengusaha sebagai akumulasi modal dan kelas pekerja sebagai akumulasi massa. Macetnya hubungan industrial sering kali disebabkan oleh perpecahan di antara sesama pekerja. Dampaknya akan merugikan kedua belah pihak. Dengan pendekatan yang baik dan moderat, setiap pengusaha harus disadarkan bahwa tanpa pekerja, mereka bukan siapa-siapa.[]

LABORA, maret 2010

31


Foto: tobaphotographerclub.com


LABORA 02 Maret 2010