Page 65

mayoritas negara bagian di Amerika masih mensyaratkan prosedur mendapatkan informed consent yang biasa, bahkan tertulis. Termasuk dalam informasi yang harus diberikan selama proses konseling adalah mengenai prosedur test, penyakit yang disebabkan oleh HIV, perilaku berisiko dan pencegahannya, masalah konfidensialitas, pelaporan dan situasi yang menyebabkan konfidensialitas penting dibuka, kesukarelaan, hak untuk mencabut kembali persetujuan yang sudah diberikan sebelumnya, serta pilihan untuk menjalani tes secara anonim. Masalahnya, menurut saya, jika prinsip konfidensialitas dan kesukarelaan diterapkan dengan terlalu ketat – dan itu artinya memakan waktu yang cukup lama karena antara lain kurangnya tenaga konselor terlatih – maka akan banyak kematian yang sebenarnya bisa dicegah, terjadi. Gap antara estimasi kasus HIV dengan jumlah kasus yang sudah terdeteksi dan jumlah orang dengan HIV yang sudah mendapatkan pengobatan masih sangat besar di Indonesia (lihat kembali http://zubairidjoerban.org/ hivaids-di-indonesia/). Pilihannya menjadi sangat dilematis. Di satu sisi obat yang tersedia menjanjikan hasil yang sangat menggembirakan, tapi di sisi lain akses kepada obat tersebut masih jauh dari merata. Padahal, kita sudah membahasnya di depan, stigma dan diskriminasi sangat erat terkait dengan akses kepada pengobatan. Test HIV untuk perempuan positif pun masih menyisakan masalah etik, terutama karena walau ARV sudah ada di Indonesia, namun banyak sekali ibu hamil dengan HIV yang tidak tahu status HIV-nya, sehingga tidak mendapatkan ARV. Padahal ARV amat efektif sebagai upaya pengobatan untuk ibu hami dan sekaligus profilaksis (pencegahan) yang sangat penting untuk mencegah penularan dari ibu ke bayi. Mengetahui status HIV pun sebenarnya penting untuk membantu ibu memutuskan akan menyusui bayinya atau tidak. Idealnya memang bayi dari ibu yang positif HIV tidak disusui untuk meminimalkan risiko penularan. Namun akses air bersih yang, lagi-lagi, belum didapatkan oleh semua ibu di seluruh Indonesia, pemberian susu formula justru akan memaparkan bayi pada risiko diare yang tidak kurang berbahayanya. 65

Dokter, Teruslah Belajar. Refleksi 70 th Perjalanan  

Sebuah tulisan dari Prof Zubairi Djoerban tentang refleksi 70 tahun dari Prof Zubairi Djoerban.

Dokter, Teruslah Belajar. Refleksi 70 th Perjalanan  

Sebuah tulisan dari Prof Zubairi Djoerban tentang refleksi 70 tahun dari Prof Zubairi Djoerban.

Advertisement