Page 37

Dalam bidang medis, rendahnya mutu layanan dipengaruhi oleh beberapa faktor: • OVERUSE: yakni obat, tes dan prosedur yang tidak perlu. Tersering, sebagai contoh, pada kasus operasi caesar dan operasi pengangkatan tonsil atau tonsilektomi. • UNDERUSE: hanya sebagian kecil masyarakat yang menerima pelayanan yang sesuai rekomendasi. Masih banyak yang belum mendapat layanan sesuai layanan baku. • MISUSE: termasuk di dalamnya adalah kesalahan dalam menegakkan diagbosa (misdiagnosis), serta kesalahan dalam memberikan obat dan prosedur yang tidak tepat. Pada saat yang sama di Indonesia sistem pembiayaan yang belum sepenuhnya berjalan dengan baik versus gaji dokter yang rendah, serta kompetensi yang masih harus ditingkatkan, terus menjadi tantangan dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan berkualitas untuk semua tanpa memandang status ekonomi-sosial pasien. Kita akan membahas masalah ini di artikel berikutnya. Di dunia medis internasional sudah ada protokol keselamatan pasien yang memiliki enam tujuan, disebut International Patients Safety Goals (IPSG), masing-masing: • IPSG 1: Mengidentifikasi pasien secara benar – termasuk risiko sedasi, disorientasi, dan risiko akibat tukar (pindah) kamar. • IPSG 2: Memperbaiki komunikasi efektif, untuk memastikan informasi yang diberikan tidak hanya akurat tetapi juga dimengerti. Komunikasi melibatkan komunikasi lisan atau verbal, tertulis, per telpon, atau melalui SMS, WhatsApp, dan sebagainya. • IPSG 3: Meningkatan keamanan dalam High Alert Medication – atau meningkatkan keamanan penggunaan obat-obat risiko tinggi seperti NaCl 3%, KCl, serta prosedur penyimpanan di ruang farmasi. • IPSG 4: Memastikan sikap, prosedur, dan pasien secara benar. Termasuk Memastikan Benar Lokasi, Benar Prosedur,

37

Dokter, Teruslah Belajar. Refleksi 70 th Perjalanan  

Sebuah tulisan dari Prof Zubairi Djoerban tentang refleksi 70 tahun dari Prof Zubairi Djoerban.

Dokter, Teruslah Belajar. Refleksi 70 th Perjalanan  

Sebuah tulisan dari Prof Zubairi Djoerban tentang refleksi 70 tahun dari Prof Zubairi Djoerban.

Advertisement