Page 10

gejalanya serupa. Kedokteran sebagai seni semakin jelas pada saat dokter harus membuat diagnosis sebelum data terkumpul lengkap. Saya ingin mengambil sebuah contoh yang “dekat� dengan saya. Seorang pasien, laki-laki, 69 tahun, dibawa oleh keluarganya ke rumah sakit karena demam tinggi selama tiga hari, disertai sakit kepala hebat dan nyeri di sendi-sendi dan otot betis. Pemeriksaan darah yang dilakukan di rumah sakit menunjukkan trombositnya tinggal 40 ribu. Jauh lebih rendah dari angka normal yang 150 ribu – 400 ribu. Test antibodi demam berdarah positif. Pasien segera diberi infus 3 liter/hari dan diminta minum 2 liter/hari, atau total 5 liter cairan masuk ke tubuhnya setiap hari. Sebelum ke rumah sakit pun pasien sebenarnya sudah mulai minum 3 liter sehari. Yang terjadi, pada hari kedua dirawat pasien mengalami sesak dan gelisah hebat. Untuk tidur pun harus disokong oleh tiga bantal yang ditumpuk jadi satu. Semua gejala yang dirasakan mengarah pada tanda-tanda gagal jantung. Beruntung pasien dirawat oleh seorang seorang ahli penyakit dalam senior, konsultan hematologi dan onkologi medik senior, yang memiliki kepekaan. Pemeriksaan dada menunjukkan ada ronki basah halus nyaring di paru kanan bagian bawah. Konsultan senior tersebut segera meminta pemeriksaan foto toraks dan menemukan efusi pleura di paru kanan. Langsung setelah data diperoleh infus dan asupan cairan oral dikurangi, dan kondisi pasien perlahan membaik. Sesak berkurang dan gelisah bertahap hilang. Pasien selamat dan sekarang bisa menuliskan catatan ini untuk pembaca sekalian. Tindakan mengurangi pemberian cairan sama sekali berlawanan dengan standar pengobatan demam berdarah yang normal, yakni pasien tidak membutuhkan pengobatan apapun selain pemberian cairan untuk mencegah terjadinya hypovolemic. Namun pada pasien ini jika standar tersebut diberlakukan akibatnya fatal.

10

Dokter, Teruslah Belajar. Refleksi 70 th Perjalanan  

Sebuah tulisan dari Prof Zubairi Djoerban tentang refleksi 70 tahun dari Prof Zubairi Djoerban.

Dokter, Teruslah Belajar. Refleksi 70 th Perjalanan  

Sebuah tulisan dari Prof Zubairi Djoerban tentang refleksi 70 tahun dari Prof Zubairi Djoerban.

Advertisement