Page 1

Warkah al-Basyar Vol. IX/2010

07

Menyuarakan Risalah Agama untuk Keadilan PENANGGUNG JAWAB KH. Husein Muhammad

REDAKTUR AHLI

KH. Syarif Usman Yahya, KH. A. Ibnu Ubaidillah Syathori KH. A. Chozin Nasuha, KH. Syakur Yasin, KH. Maman Imanulhaq, KH. Wawan Arwani, Ny. Hj. Hamidah, KH. Faqihuddin Abdul Kodir.

PEMIMPIN REDAKSI Marzuki Wahid

REDAKTUR PELAKSANA Alimah

DEWAN REDAKSI

Nurul Huda SA, Roziqoh, Alifatul Arifiati, Ali Mursyid, Satori, Rosidin, Obeng Nurosyid.

SETTING Lay-OUT an@nd

DISTRIBUTOR

Ihabbudin, Lili, Jamal (Cirebon), Fitrullah, Agus Idris, Masyithoh (Indramayu).

PENERBIT

fahmina institute Jl. Suratno No. 37 Cirebon Jawa Barat 45124 Telp./Fax. (0231) 203789,

WEBSITE

http://www.fahmina.or.id

E-Mail

fahmina@fahmina.or.id, red_albasyar@fahmina.or.id

PRINTING

Teguh Gemilang

Warkah al-Basyar terbit tiap hari Jumat. Warkah al-Basyar menerima tulisan dua halaman quarto satu spasi. Tema tulisan seputar agama dan realitas kehidupan dengan perspektif advokasi yang berbasiskan tradisi/khasanah pesantren. Redaksi berhak mengedit tanpa mengurangi substansi tulisan.

Vol. IX [edisi 07] tahun 2010

12 Maret 2010 M/26 Robi’ul Awal 1431 H

Refleksi Hari Perempuan Internasional;

Bagaimana Tenaga Perempuan Dihargai? Oleh Alimah*

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan. Kami beri rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (QS. al-Isra’ [17]: 70)

S

udah hampir tiga bulan kita berada di tahun 2010, kita juga telah banyak memperingati hari-hari besar nasional maupun internasional. Tiga di antaranya; Hari Pekerja Rumah Tangga (PRT) pada tanggal 15 Februari 2010, Hari Perempuan Internasional pada tanggal 8 Maret 2010, serta pada tanggal 9 Maret 2010 lalu kita baru saja merayakan Hari Wanita Indonesia. Selain memperingati hari-hari besar tersebut, negara kita juga begitu rajin menjadi bagian dari sejumlah kesepakat­an interna-

Calon TKI Diberi Paspor Gratis Ini kabar gembira bagi calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang hendak pergi ke luar negeri: mereka tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mengurus paspor. Sebab, Kementerian Hukum dan HAM telah meng­gratiskan pembuatan paspor tersebut.

1


12 Maret 2010 M/26 Robi’ul Awal 1431 H

tional, seperti Konvensi Peng­hapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan atau Convention on the Elimination of All forms of Discrimination Against Women (CEDAW) sejak tanggal 13 September 1984, yang selanjutnya disebut sebagai negara pihak. Namun, kondisi perempuan di negeri ini belum bisa dikatakan telah membaik. Pekerjaan-pekerjaan reproduktif tan­ pa imbalan, seperti menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui secara kodrati menjadi beban perempuan. Di seluruh dunia, perempuan masih melakukan pekerjaan-pekerjaan reproduktif ini. Pe­ kerjaan jenis ini diperlukan di setiap penjuru dunia, tapi masih belum diberikan imbalan atau penghargaan selayaknya pekerjaan. Belum lagi persoalan perempuan pekerja migran atau tenaga kerja wanita (TKW). Sudah bukan rahasia lagi, betapa banyak perempuan-perempuan Indonesia yang terpaksa menjadi pekerja tanpa dokumen resmi di negara-negara Timur Tengah dan sejumlah negara lainnya. Para TKW sangat rentan menjadi korban tindak kejahatan, seperti pemerkosaan, penyiksaan, pemaksaan untuk bekerja di luar batas kemanusiaan dan seterusnya. Sementara pemerintah kita masih gagap menghadapinya. Fenomena TKW yang rentan menjadi korban perdagangan manusia (trafiking), juga pernah diangkat dalam salah satu buku berjudul “Fiqh Anti Trafiking” (terbitan Fahmina, 2006, 142-150), yang ditulis oleh sejumlah aktifis pesantren di Cirebon dan Situbondo. Buku tersebut mencoba memotret fenomena trafiking –global dan lokal- disertai data dan fakta betapa dah-

2

syatnya kejahatan di wilayah ini. Dalam perspektif fiqh, kasus trafiking yang berkedok pekerjaan merupakan pelanggaran dan perbuatan yang diharamkan karena mengandung unsur-unsur eksploitasi, pemalsuan, penipuan, dan kekerasan yang berakibat buruk pada martabat kemanusiaan. Dalam sebuah teks hadits Qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhari bahwa Allah SWT berfirman: “Ada tiga kelompok orang yang kelak di hari kiamat akan menjadi musuh-Ku; orang yang bersumpah atas nama-Ku lalu ber­khianat, orang yang mem­ perdagangkan orang yang merdeka, dan orang yang mempekerjakan se­ seorang tetapi tidak memberikan upahnya ketika ia telah selesai menunaikan pekerjaannya”. (Shahih Bukhari No. 2227 dan 2270). Pesan dan ancaman tersebut seharusnya menjadi dorongan kuat untuk mencegah segala bentuk tindakan yang meng­ arah pada kejahatan trafiking, dan pada saat yang sama melakukan upaya-upaya perlindungan, pemberdayaan dan bantuan hukum terhadap mereka yang menjadi korban kejahatan ini. Baik perlindungan yang praktis dibutuhkan langsung oleh korban. Selain itu memberikan perlin­ dungan strategis dengan melahirkan kebijakan-kebijakan jangka panjang. Serta Vol. IX [edisi 07] tahun 2010


12 Maret 2010 M/26 Robi’ul Awal 1431 H

memberikan jaminan seluruh warga dari segala kemungkinan yang menistakan kemanusiaannya. Hanya dengan nurani dan kejujuran insya Allah semua problem TKI dan trafiking dapat diatasi. Seharusnya, Nasib Perempuan Indonesia Lebih Baik Seharusnya, nasib perempuan Indonesia lebih baik. Seperti yang sudah saya tulis di awal paragraf, tentang keikutsertaan Indonesia menjadi bagian dari konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (CEDAW). Bayangkan, sejak tanggal 13 September 1984, ratifikasi suatu konvensi internasional de­ngan undang-undang ialah suatu perjanjian antar negara (treaty) yang menciptakan kewajiban dan akuntabilitas negara yang mera­ tifikasinya. Apabila ratifikasi sudah dilakukan, maka negara bersangkutan resmi menjadi peserta traktat, biasanya disebut sebagai state party (negara pihak atau negara peserta). Dengan meratifikasi konvensi melalui Undang-undang (UU), maka otomatis prinsip-prinsip dan ketentuanketentuan konvensi dianggap sebagai hukum formal dan bagian hukum nasional. Indonesia terikat secara hukum dengan pasal-pasal dalam konvensi CEDAW dan wajib melaksanakannya. Vol. IX [edisi 07] tahun 2010

Indonesia wajib memberikan laporan perkembangan secara regular tentang pelaksanaan konvensi CEDAW kepada Komite CEDAW PBB. Sungguh bukan seberapa meriah kita merayakan hari-hari besar tersebut. Karena peringatan hari perempuan sedunia di negeri kita masih belum begitu kencang terdengar. Hanya sebagian perempuan Indonesia atau kalangan tertentu yang mengetahui hari perempuan tersebut. Sebagian besar perempuan tidak tahu sama sekali akan hari perempuan. Kerena memang yang biasa kita peringati adalah Hari Kartini dan Hari Ibu sebagai hari nasional. Sedangkan untuk Hari Perempuan tidak pernah ada di kalender kita, meng­ ingat hari tersebut adalah hari internasional. Tapi terlepas dari tidak adanya penanggalan hari perempuan di kalender kita, yang sebenarnya lebih penting adalah sejauh mana hasil jerih payah perempuan pada abad ke -19 tersebut dalam memperjuangkan hak-haknya yang dapat dirasakan pada saat ini. Oleh karena itu, hari perempuan internasional adalah hari untuk mengarahkan fokus dunia pada halhal di atas dan juga masalah-masalah perempuan lainnya. Pada hari ini, saatnya perempuan untuk membangun jaringan, menyusun strategi dan bergerak; tunjukkan keberadaan, suara, dan visi kita pada dunia. Melalui hari ini, kita juga harus bekerjasama dengan kaum lakilaki untuk mewujudkan kesetaraan dan alumni UINbayna Sunan Kalijaga keadilan *Alimah genderadalah (al-musawah al-rijal Yogyakarta, pernah nyantri di Pondok Pesantren wa an-nisa’).[] Siti Fatimah Cirebon, sekarang bekerja untuk kemanusiaan di Fahmina-institute Cirebon.

3


12 Maret 2010 M/26 Robi’ul Awal 1431 H

Calon TKI Diberi Paspor Gratis

(Visijobs-News) - Ini kabar gembira bagi calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang hendak pergi ke luar negeri: mereka tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mengurus paspor. Sebab, Kementerian Hukum dan HAM telah menggratiskan pembuatan paspor tersebut. “Insya Allah selama saya jadi Menkum HAM akan saya pertahankan, karena ini merupakan hadiah bagi masyarakat Indonesia yang akan berangkat ke luar negeri,” kata Menkum HAM Patrialis Akbar dalam jumpa pers di Kantornya, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. “Untuk paspor nol rupiah. Tidak satu rupiah pun dipungut. Kalau di luar paspor itu dikutip PJTKI sendiri,” lanjutnya.

Menurut Patrialis, paspor gratis tersebut tentunya direkomendasikan oleh perusahaan Penyedia Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). Calon TKI tidak diperbolehkan untuk mengurus paspor secara sendirisendiri. Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu mengungkapkan, program baru ini mulai diluncurkan sejak 11 Januari 2010. Hingga kini, sudah ada 11.848 paspor gratis yang diberikan kepada calon TKI. Perinciannya 4.594 paspor TKI dikeluarkan oleh unit khusus di Tangerang, sedangkan sisanya dilakukan diberbagai kantor imigrasi di seluruh Indonesia. “Diperkirakan sebanyak 350.000 orang TKI dalam satu tahun yang akan datang digratiskan biaya paspornya. Jika dikenakan paspor 24 halaman Rp 50 ribu, maka dalam satu tahun beban TKI secara nasional ditanggung negara sebesar Rp 17,5 miliar,” paparnya. Masih soal paspor, imbuhnya, saat ini masyarakat umum dapat membuat paspor lebih cepat. “Dari 7 hari menjadi 4 hari kerja,” ujarnya. (prs/PRS/dtc) Sumber: Detik.com

Mutiara Hikmah

4

Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin kelak di hari kiamat daripada budi pekerti yamg baik. Dan sungguh allah membenci orang yang suka berkata keji, berucap kotor/jelek. (Hr. At – Tirmidzi )) Vol. IX [edisi 07] tahun 2010


Warkah al-Basyar Vol. IX Edisi 07 Th. 2010  

Refleksi Hari Perempuan Internasional; Bagaimana Tenaga Perempuan Dihargai? Oleh Alimah

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you