Page 1

APRESIASI MASYARAKAT Penulis meminta tolong Pimpinan Redaksi Koran Manado Post Bapak Suhendro Boroma yang mempunyai pembaca terbanyak di Sulawesi Utara, untuk secara fair dan terbuka memberikan komentar tentang kepemimpinan Kapolda Sulut Brigjen Pol Drs. Bekto Suprapto, Msi dan dibawah ini hasil yang diberikan oleh pak Suhendro Boroma Mereka Bicara Setahun Kepemimpinan Brigjen (Pol) Bekto Suprapto : SH Sarundajang Gubernur Sulawesi Utara SATU tahun kepemimpinan Kapolda Brigjen Pol Bekto Suprapto, banyak perubahan yang terjadi di daerah ini. Keamanan, kenyamanan, dan pelayanan kepada masyarakat meningkat. Saya juga jadi tidak khawatir lagi pelaksanaan event internasional World Ocean Conference, CTI Summit dan Sail Bunaken di daerah ini. Saya berharap kerjasama antara pihak kepolisian dengan pemerintah daerah terus berlanjut.

One Days . . .

i


MAU DENGAR KELUHAN PENGUSAHA Hengky Wijaya Pengusaha KITA patut bersyukur dan salut atas kepemimpinan kapolda. Karena mau mendengarkan keluhan pengusaha. Selain itu dengan program 10 menit membuat masyarakat tenang. Juga dengan adanya patroli. GEBRAKAN HEBAT Andre Angouw Pengusaha KEPEMIMPINAN Kapolda Bekto Suprapto sangat baik. Terbukti Sulut tidak saja aman tapi nyaman. Ini karena berbagai gebrakan hebat Pak Kapolda. Contoh sederhana, bila ada kejadian langsung ditindaki. PELAYANAN BAGUS Pdt Decky Lolowang Sekretaris Umum BPS GMIM SEJAK kepemimpinan Brigjen Bekto Suprapto, kepolisian bisa diakui banyak memainkan peranan

ii

penting

dalam

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building

memberikan


pelayanan untuk keamanan masyarakat. Polda Sulut dalam setahun ini banyak menghasilkan kemajuan. Ini harus diapresiasi. Apalagi komitmen Polda Sulut dalam menegakkan hukum dan menjaga keamanan Sulut dari berbagai ancaman, tantangan dan gangguan. Bisa dilihat kerukunan dan keamanan yang terpelihara baik selama ini. Semoga kontribusi positif yang telah ditunjukkan selama ini dapat terus dipertahankan, apalagi menghadapi Pemilu 2009. PERLU DITELADANI Bapak Fauzi Nuraini Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulut MECERMATI berbagai terobosan Kepolisian Daerah Sulut pimpinan Brigjen Bekto Suprapto, sudah terbukti adanya kinerja yang positif. Dari segi operasional di lapangan, permasalahan ditindaklanjuti dengan baik. Terlebih, Kapolda Sulut sangat cepat dan selalu turun tangan untuk terlibat dan melihat langsung berbagai masalah di masyarakat. Seperti kepeduliannya meninjau langsung korban bencana alam di Talaud. Bukan hanya itu, lihatlah setiap pagi di sudut-sudut jalan polisi sudah menjalankan tugasnya baik

One Days . . .

iii


menjaga keamanan dan lalu lintas. Bahkan saat jamaah muslim memperingati hari Ramadhan, beliau menurunkan berbagai pasukan untuk menjaga keamanan di berbagai tempat yang menjadi tempat-tempat pelaksanaan ibadah Ramadhan. Kapolda Bekto juga dikenal disiplin. Teladan ini harus diikuti pejabat-pejabat maupun seluruh jajaran kepolisian. PENUH DISIPLIN Teddi Batasina STh Ketua Pucuk Pimpinan KGPM KONDISI keamanan di Sulawesi Utara sudah membawa kemajuan. Kepemimpinan Kapolda Bekto patut diapresiasi positif karena mampu menjaga situasi menjadi sangat kondusif. Bukti nyata, berbagai penyakit masyarakat terus diberantas lewat sinergitas bersama, antara polisi dan warga. Masyarakat melapor, polisi langsung turun. Inilah gambaran nyata prestasi kepolisian sebagai pengayom yang melindungi masyarakat. Yang pasti, saat ini, polisi akan menghadapi tantangan yang lebih berat. Sehingga sinergitas harus tetap dipertahankan dan ditingkatkan.

iv

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


BANYAK TEROBOSAN WS Hanny Kilapong Ketua Majelis Tinggi Khonghucu Sulut KINERJA Kapolda Sulut Brigjen Bekto Suprapto patut dibanggakan. Sosok yang sangat disiplin tapi tetap terpancar keramahan sehingga baik berahadapan dengan siapa pun. Kewibawaan kepolisian di tangan Kapolda Bekto sudah ditunjukkan. Ini bisa dilihat dari berbagai kebijakan jajaran kepolisian yang dilakukan di masyarakat. Nyata terlihat terjadi perubahan. Karena petugas siap melayani berbagai permasalahan di masyarakat setiap ada laporan. Dengan kedisiplinannya, Kapolda banyak melakukan terobosan. Terutama sudah teraturnya lalu lintas di setiap sudut pesekolahan. Ini patut dihargai karena kedisiplinan Kapolda menstimuli para polisi untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat. STIMULI KE MASYARAKAT MT Suryono Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia di Sulut PROGRAM Kapolda Sulut Brigjen Bekto Suprapto telah membawa perubahan besar di Sulut selama setahun. Pihak kepolisian sudah membersihkan penyakit masyarakat seperti judi dan sambung ayam. Judi mulai tidak tampak lagi di Sulut. Kalaupun

One Days . . .

v


pasti akan cepat tercium oleh kepolisian. Kapolda juga berperan banyak dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama. Keteraturan lalu lintas pun nampak dilakukan setiap pagi di jalan-jalan raya. Penyadaran lalu lintas ini akhirnya menular ke masyarakat yang mulai mengikuti berbagai peraturan. Sebagai tokoh agama, kami mendukung dan salut berbagai kebijakan Kapolda Sulut. BEKERJA SISTEMATIS Rendy Umboh Mahasiswa/Korwil GMKI X Sulut APRESIASI patut diberikan kepada Kapolda Sulut. Sepak terjangnya nyata. Kami melihat, Kapolda tidak segan-segan turun langsung untuk melakukan operasi maupun sidak. Sejak pekan pertama menjadi Kapolda, Pak Bekto langsung tampil spektakuler dengan membongkar kasus senjata illegal. Aksi Kapolda secara continue dan konsisten dilakukan sampai sekarang. Yang menjadi perhatian kami adalah operasi pekat. Preman-preman kini tidak berdaya. Kapolda ternyata tidak main-main, bahkan sampai turun langsung. Penggagalan kasus trafficking dan sindikat perdagangan perawan juga memberi kesan bahwa Kapolda bekerja secara sistematis dengan intelektualitas yang tinggi.

vi

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


BUTUH DUKUNGAN Pnt Billy Lombok Tokoh Pemuda/Ketua Pemuda GMIM SATU tahun ini, secara objektif kita perlu memberikan apresiasi. Menurut saya, Halo Polisi yang digagas bisa mendekatkan pelayanan bagi masyarakat. Namun 1 PR bagi seluruh jajaran kepolisian ialah peredaran narkoba. Bagi Sulut sendiri, ini sudah merupakan tanda awas terlebih impactnya bagi generasi muda. Gambaran polisi sebagai sahabat masyarakat benar-benar diharapkan bukan hanya kuat tercitra pada pagi hari, namun bisa dilihat dalam gambaran seutuhnya. Kasus trafficking, perdagangan kayu illegal, dsb, memang masih menunggu sentuhan-sentuhan aktif. Namun tentu saja, masyarakat perlu mengerti bahwa kepolisian butuh dukungan dari semua pihak, agar tugas dan pengawasan bisa berjalan dengan baik. Salut bagi Pak Kapolda. TAK KHAWATIR TERLAMBAT Annie Melly Kaawoan Ibu Rumah Tangga, SETAHUN kepemimpinan Pak Bekto selaku Kapolda, banyak hal positif yang boleh saya rasakan secara pribadi selaku ibu rumah tangga. Contoh sederhana pada pagi hari di jalan raya, tempattempat yang dulunya jadi titik-titik kemacetan, sekarang banyak

One Days . . .

vii


personil polisi yang siaga. Ini membuat kami selaku warga merasa nyaman. Para orang tua tidak lagi khawatir anak-anak ke sekolah akan terlambat dan menyeberang di jalan raya. Sebelumnya semua orang tua dan anak-anak paling takut dengan kemacetan pagi hari, lebih khusus di persimpangan-persimpangan jalan. Kiranya hal positif ini dapat dipertahankan terus, bahkan kalau perlu ditingkatkan. Terima kasih pak kapolda. HALO POLISI SANGAT MENOLONG Mathilda Kumontoy Ibu Rumah Tangga, AKHIR tahun lalu, saya pernah mengalami suatu kejadian. Dan saya menyimpulkan bahwa program Halo Polisi yang dicanangkan pak Kapolda, sangat menolong. Waktu itu ada seseorang yang tidak tahu ujung ceritanya ngamuk-ngamuk di rumah saya. Sebagai perempuan terang saja saya takut, langsung saja saya menghubungi no telepon Hallo Polisi. Benar, tidak sampai 10 menit petugas kepolisian Poltabes Manado sudah berada di rumah saya. Sekarang saya jadi sangat percaya bahwa polisi bekerja cepat, sehingga semua nomor Halo Polisi di daerah-daerah sudah saya simpan. Program pelayanan masyarakat ini sangat bagus, bahkan dapat meminimalisir tingkat kriminalitas. Jempol buat Pak Kapolda.

viii

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building

One Days . . .

ix


Buku ini kami persembahkan untuk “Guru Besar� tercinta, Sang Inspirator Bekto Suprapto dan seluruh masyarakat Sulawesi Utara yang memberikan kepercayaan dan dukungan kepada Polisi untuk melakukan tugas pemeliharaan Kamtibmas; pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat serta penegakan hukum yang tegas dan humanis

x

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


SEKAPUR SIRIH

P

uji Tuhan, akhirnya selesai juga penulis merampungkan tulisan dalam buku ini. Buku ini bercerita tentang

pengalaman penulis selama bergaul dengan Kapolda Sulawesi Utara Brigadir Jenderal Polisi Drs. Bekto Suprapto, Msi. Beliau memiliki Visi yang luar biasa untuk memajukan organisasi Polda Sulut agar anggotanya dipercaya dan dicintai masyarakatnya. Hal ini sesuai dengan langkah-langkah akselerasi Program Kerja Polri, yang telah ditetapkan Kapolri melalui Program Kerja Akselerasi Transformasi Polri, Menuju Polri yang Mandiri, Profesional dan Dipercaya Masyarakat. Terkait dengan hal tersebut, fokus kebijakan ke depan diarahkan pada terbangunnya kepercayaan masyarakat (public trust) yang kokoh denganmemanfaatkan sisa waktu dua tahun ke depan (Tahap I Trust Building 2005- 2010). Periode ini memiliki nilai strategis dan sekaligus juga masa kritis dalam rangka memantapkan organisasi Polri yang kuat dan mampu melaksanakan tugasnya sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat serta sekaligus sebagai penegak hukum yang dipercaya oleh rakyat. Namun Bekto Suprapto telah berhasil membuktikan kinerjanya dengan menjadi Polisinya Masyarakat maka membangun kepercayaan masyarakat (trust building) akan terwujud. Bahkan bukan itu saja berbondong-bondong

One Days . . .

xi


masyarakat tanpa diminta, telah rela dan ikhlas membantu Polda Sulawesi Utara. Terimakasih yang tak terhingga penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas pemberian hikmat dan rahmatNYA kepada penulis untuk menyusun dan menyelesaikan buku ini. Kepada Kapolda Sulawesi Utara Brigadir Jenderal Polisi Drs. Bekto Suprapto, Msi, yang telah memberikan banyak inspirasi, ilmu, petunjuk bimbingan dan masukan selama penulis merampungkan buku ini. Kepada bang Aqua Dwipayana, sebagai editor buku ini sehingga buku ini tertata rapi, enak dibaca dan dimengerti. Kepada Nico Lieke sahabat penulis yang telah rela membantu biaya pencetakan dan Mas Herjanto yang mau ditodong mencetak dengan cepat (quick respons juga). Serta semua senior-senior dan sahabat-sahabat penulis yang tidak bisa disebutkan satu persatu, wartawan-wartawan media dan fotografer, termasuk Isteri dan kedua anak penulis tercinta. Sebagai penulis pemula, tentunya masih banyak kekurangan dalam penulisannya, tapi dengan niat yang ingin menyebarkan pengalaman luar biasa ini mudah-mudahan buku ini menjadi referensi gratis dalam memenuhi rak perpustakaan pembaca. Mohon maaf apabila dalam penulisan ada hal-hal yang tidak berkenan, untuk itu masukan dan saran serta kritik dapat dialamatkan ke : yehu@yehu.or.id, guna perbaikan selanjutnya. Selamat membaca, semoga berguna.

xii

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


ONE DAY...

S

elesai mengamankan rapat pertemuan antar dekan dan dosen di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado,

pada Senin, 3 Maret 2008, penulis mengajak Bambang Sugeng (Kapoltabes Manado) makan siang di hotel Quality Manado. Namun Bambang tidak berkenan makan siang di situ karena masih menggunakan seragam polisi. Kemudian penulis menjelaskan bahwa pemilik hotel tersebut Miki, mengundang untuk makan di tempatnya.

One Days . . .

xiii


Polisi melakukan pengamanan di Unsrat, karena sehari sebelumnya terjadi tawuran antarmahasiswa fakultas Teknik dan fakultas Hukum. Kemudian para dekan dan dosen mengadakan pertemuan untuk membicarakan hal tersebut dan langkah-langkah berikutnya yang sebaiknya dilakukan untuk menuntaskan masalah yang muncul dan mencegah agar kejadian serupa tidak terulang kembali di kemudian hari. Rapat dipimpin rektor Unsrat Prof Dr LW Sondakh. Miki begitu besar perhatiannya kepada Bambang dan penulis. Bahkan terkadang melebihi perhatian yang diberikan istri kepada suaminya. Setiap siang saat hari kerja, Miki selalu bertanya, “So makang belum?” “Memangnya kalau belum kenapa?” tanya Bambang. “Makang di tempat kita jo,” ujar Miki. “Nggak enak bos. Nanti orang kira polisi Poltabes banyak doi, makang siang aja di hotel,” kata Bambang. “nyanda dang, kita yang tawarin. Makang sini yah, kita tunggu...” kata Miki. Sering terjadi percakapan seperti itu antara Bambang dengan Miki. Miki merupakan seorang pengusaha yang baik hati, penuh perhatian kepada banyak orang termasuk pada polisi. Sambil bercanda, Bambang pernah mengatakan, “Kita diajak makan terus supaya badannya seperti Pak Miki”.

xiv

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


Maklum ukuran baju Miki adalah XXXL. Bisa dibayangkan begitu besarnya tubuh Miki. Selesai makan siang, penulis iseng-iseng tanya kepada Bambang. “Pak sudah kenal Kapolda kita yang baru?” tanya penulis. “Oh sudah, waktu tugas di Jawa Timur. Pak Waka sudah kenal belum?” jawab Bambang. “waktu saya ikut pendidikan di Sekolah Pimpinan (Sespim) Polri di Lembang, beliau datang bersama Pak Goris Merre dan rombongan Bareskrim Polri untuk memberi kuliah kepada para siswa Sespim angkatan XLIII. Tapi saya nggak kenal sama beliau,” ujar penulis. Mendengar itu, Miki kemudian berujar,

“Coba Pak

Kapoltabes telepon beliau.” Bambang kemudian mengeluarkan telepon genggam E90 dari sakunya dan menghubungi Bekto. Beberapa saat kemudian, terjadi percakapan antara Bambang dengan Bekto. Penulis dan Miki ikut mendengarkan pembicaraan mereka, sebab loud speaker telepon genggamnya dikeraskan. “Selamat siang Jenderal, kami Bambang Sugeng. Mau tanya kapan Bapak ke Manado?” tanya Bambang. Dari ujung telepon, terdengar nada suara yang bersahabat.

One Days . . .

xv


”Selamat siang. Kamu jadi apa Mbang di Manado ?” tanya Bekto. “Kapoltabes Pak. Masih ingat kami kan Pak ?” tanya Bambang sambil meyakinkan dirinya ke Bekto. “So pasti, ingat sama gundulmu itu. (baru belakangan penulis tahu bahwa Bekto mempunyai daya ingat yang sangat baik). Nggak apa-apa kan kamu digundul-gundulin, he...he...” kata Bekto. “He...he...he...siap Pak, nggih Pak. Diapa-apakan juga, nggak apa-apa. Mana berani sama Kapolda, he...he...he...” jawab Bambang sambil tertawa. “ngomong-ngomong, kamu punya sepeda motor berapa di Poltabes?” tanya Bekto. Mendengar itu, segera penulis bisikan bahwa di Poltabes ada 12 unit sepeda motor bantuan Wali kota Manado Jimy Imba Rogi dan di Polsek-Polsek setiap personil Babinkamtibmas memiliki sepeda motor dinas. “Siap Pak ada 12 unit di Poltabes bantuan Wali kota dan di tiap Polsek ada dua sampai empat unit sepeda motor,” jawab Bambang. “Berapa lama kalo ke TKP di Polsek paling jauh?” tanya Bekto. “Kurang lebih setengah jam Pak yakni ke Polsek Wori,” jelas Bambang sambil memandang penulis untuk minta saran.

xvi

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


“Wah lama sekali. Kasihan masyarakat yang perlu bantuan polisi, keburu habis hartanya kalo dirampok. Ok deh, besok saya bawakan 20 unit sepeda motor khusus untuk patroli Poltabes ya,” kata Bekto. Mendengar ucapan Bekto tersebut, Bambang, penulis dan Miki saling memandang. Terus terang, kami sempat tidak percaya. Dalam hati berpikir, ngapain Kapolda baru ini bawa sepeda motor jauh-jauh dari Jakarta. “Siap Pak, nggih Pak. Terima kasih banyak Pak. Kami siap menyambut dan menunggu Bapak. Selamat siang Pak. Salam buat Ibu,” ujar Bambang. “Ya, salam juga buat keluarga, selamat siang,” demikian Bekto mengakhiri pembicaraannya. Kemudian kami bertiga berdiskusi. Penulis bilang, “Mungkin maksud Pak Kapolda tentang Quick Response Time, limit waktu, kecepatan petugas mendatangi TKP. Ya minimal sih 10 menit, tapi apa iya Kapolda baru mau kasih kita sepeda motor Pak?”

One Days . . .

xvii


xviii

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


LANGKAH AWAL

S

aat penulis dan Kepala Polisi Kota Besar (Kapoltabes) Manado Komisaris Besar (Kombes) Pol Drs Bambang

Sugeng SH MH ketemu dengan Kepala Polisi Daerah (Kapolda) Sulawesi Utara Brigadir Jenderal (Brigjen) Pol Drs Bekto Suprapto MSi, seusai beliau melaksanakan acara welcome and farewell parade, pada 7 Maret 2008, beliau menyampaikan kembali tentang janjinya untuk memberikan 20 unit sepeda motor dan rencana pemanfaatannya.

One Days . . .

xix


Penulis mencatat semua hal yang disampaikan beliau. Intinya, Bekto ingin memberikan pelayanan terbaik dan cepat ke masyarakat. Dengan kecepatan polisi mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP) maka masyarakat yang membutuhkan bantuan polisi, akan semakin cepat mendapatkan bantuan dan ini akan membuat kepercayaan masyarakat kepada polisi semakin besar. Begitu mendapat pengarahan dari Bekto, Bambang langsung mengimplementasikannya di lapangan dengan mengumpulkan seluruh perwira di Poltabes Manado. Kemudian Bambang menyampaikan arahan dan kebijakan Kapolda. Satu gaya kepemimpinan Bambang yang dapat penulis tiru adalah kebiasaan beliau yang tidak pernah mau menundanunda pekerjaan atau tugas. Setiap melaksanakan tugas, Bambang selalu berusaha menuntaskannya, baik dilakukan sendiri maupun bersama seluruh jajarannya. Buku yang saat ini sedang Anda baca merupakan kumpulan inovasi kepolisian yang penggagasnya adalah Bekto.

Beliau

tidak

hanya

menyampaikan

pemikiran-

pemikiran yang cerdas dan brilian tentang banyak hal yang seharusnya dilakukan polisi dalam melayanai masyarakat. Namun beliau telah mewujudkannya selama sekitar setahun menjadi Kapolda Sulut. Sehingga masyarakat di Sulut benar-

xx

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


benar merasakan keberadaan polisi dalam kehidupan dan aktivitasnya sehari-hari. Idealnya, semua pemikiran Bekto dan implementasinya, dilaksanakan oleh seluruh polisi yang bertugas di seluruh Indonesia. Dengan dilandasi niat baik dan keyakinan yang kuat memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, penulis yakin setiap polisi yang bertugas di negeri ini, dapat melaksanakan hal tersebut. Hasil akhirnya, citra dan reputasi polisi dari waktu ke waktu akan terus meningkat dan kelak akan benar-benar terwujud polisi yang dipercaya dan dicintai masyarakat.

Langkah One Days Awal ...

xxi


DAFTAR ISI

1.

SEKAPUR SIRIH............................................................................... xi

2.

ONE DAY.........................................................................................xiii

3.

LANGKAH AWAL..........................................................................xix

4.

DAFTAR ISI ....................................................................................xxii

5.

PENGGELARAN PERSONIL PADA PAGI HARI......................... 1

6.

PATROLI RAYON/BEAT .................................................................. 7

7.

PROBLEM ORIENTED POLICING..............................................41

8.

TIDAK MEMERAS ..........................................................................47

9.

MENCANTUMKAN HAK-HAK TERSANGKA..........................53

10. PRINSIP DASAR KEHIDUPAN ....................................................57 11. PERMASALAHAN MIRAS............................................................75 12. PERMASALAHAN LALU LINTAS ...............................................81 13. KEJAHATAN ILLEGAL FISHING .................................................89 14. TENTANG PENULIS................................................................... 101

xxii

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


PENGGELARAN PERSONIL PADA PAGI HARI

S

alah satu kebijakan Bekto yang dinilai berani dan kontroversi, berbeda dari kebiasaan pada umumnya,

adalah mengganti waktu apel pagi yang biasa dilaksanakan setiap pagi di kantor, dengan penggelaran personil di lapangan pada pagi hari. Khusus pada personil Satuan Lantas Poltabes Manado, mulai awal menjabat sebagai Wakapoltabes, penulis dan Kapoltabes, setiap hari mulai pukul 06.00 Wita sudah mengawasi pelaksanaan apel pagi.

One Days . . .

1


Kebiasaan tersebut dilaksanakan setiap pagi kecuali hari libur, hingga kami berdua dimutasikan keluar dari Poltabes Manado. Sehingga pukul 06.30 Wita anggota Satuan Lantas sudah berada di lapangan pada tempat tugas masing-masing. Sehingga ketika kebijakan ini muncul, kami tinggal mengatur untuk personil di luar Satuan Lantas. Dengan kebijakan Bekto yang baru, penulis mencoba membuat konsep dengan menggelar semua anggota tanpa kecuali termasuk Polsek di lapangan. Pada pukul 06.30 Wita, semua petugas sudah berada di posnya masing-masing. Pos tersebut terletak dekat tempat tinggalnya, di jalan menuju kantor, di persimpangan jalan, di sekolah-sekolah dan tempat keramaian lainnya serta daerah rawan kejahatan. Kemudian pada pukul 09.00 Wita diadakan apel pagi dengan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan penggelaran pasukan dan mengarahkan untuk rencana kegiatan harian termasuk kegiatan keesokan harinya. Dalam pengorganisasian pasukan terjadi tumpang tindih terhadap beberapa anggota. Setelah dicek, itu ternyata karena Direktorat Lantas dan Direktorat Samapta Polda Sulut juga melakukan kebijakan Bekto. Untuk itu, kami melakukan rapat koordinasi dengan pihak terkait guna menentukan posisi pos yang akan ditempati, sehingga tidak terjadi penumpukan anggota di lapangan. Akhirnya disepakati bahwa personil

2

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


Polda Sulut bertugas di pos yang lokasinya dekat dengan kantor Polda Sulut, sedangkan anggota Poltabes Manado dan anggota Polsek dan jajarannya, di luar itu. Orang Manado itu terkenal dengan budaya sarapan pagi yang berjam-jam (somokol). Untuk menghindari hal itu maka penulis membagi penugasan pergelaran pasukan dengan sistem beat (rayon), artinya Kota Manado dan sekitarnya (wilayah hukum Poltabes Manado) dibagi dalam 12 wilayah beat, di mana setiap beat dikendalikan seorang perwira. Kemudian beberapa beat diawasi dan dikendalikan Perwira Pengawas (Pawas) yang terdiri dari para Kabag dan Kasat Poltabes. Untuk mendata kehadiran seluruh anggota, dilakukan perwira beat dengan mendatangi setiap anggota pada posposnya masing-masing, sambil melaporkan melalui HT ke markas tentang keberadaan anggota dan situasi di lapangan. Hal ini juga dimaksudkan untuk pengecekan anggota di lapangan. Dalam pelaksanaannya, belakangan ditemukan hal-hal yang ganjil. Anggota Satuan Serse dan Intel yang mengikuti penggelaran memakai seragam dengan rambut gondrong memakai field cap. Sehingga seperti polisi yang baru keluar dari hutan dan

turun dari gunung. Setelah melakukan

beberapa evaluasi dan diskusi, kemudian diputuskan untuk

Penggelaran Personil Pada OnePagi DaysHari ...

3


personil Satuan Serse Kriminal, Satuan Serse Narkotika dan Satuan Intelkam tidak dilibatkan dalam pergelaran pasukan pagi hari. Sebenarnya penulis mengusulkan untuk mereka tetap ikut rekan-rekannya yang berseragam turun ke lapangan dengan tugas mendukung sambil melakukan kring serse dan pengumpulan bahan keterangan. Namun hal ini tidak terlaksana karena berbagai macam alasan dari peserta diskusi. Setelah penggelaran personil tersebut dilaksanakan, dalam waktu seminggu, banyak komentar dan tanggapan positif dari masyarakat, terutama Ibu-Ibu yang pagi-pagi harus belanja ke pasar. Komentar mereka hampir senada yakni, “Setelah banyak polisi di jalan-jalan, pagi-pagi rasa aman dan nyaman pergi ke pasar.� Sebelum kegiatan itu dilaksanakan, sering pada pagi hari terjadi penjambretan dengan korban Ibu-Ibu yang pergi dan pulang dari pasar pada pagi hari. Namun mereka yang menjadi korban enggan melaporkan kejadian yang menimpa dirinya ke polisi. Komentar yang positif juga muncul dari berbagai pihak dan dimuat di media massa lokal. Mereka yang telah merasakan manfaatnya, meminta agar kegiatan ini terus berlanjut.

4

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


Lewat media massa, Bekto berulang kali berjanji ke masyarakat untuk terus mempertahankan kebijakan ini. Bahkan beliau bertekad pelaksanaannya tidak hanya di lingkungan Poltabes Manado, tetapi juga di seluruh Polres yang ada di Sulut. Waktunya tidak hanya pagi hari saja, tetapi juga pada jam-jam sibuk untuk mengantisipasi kejahatan jalanan dan kemacetan Lantas. Bambang dan penulis setiap pagi melaksanakan pengawasan, pengontrolan dan pengendalian. Awalnya banyak yang terkena hukuman karena tidak ada di tempat ketika dilakukan inspeksi mendadak. Namun setelah diberi pengertian, banyak anggota yang sadar bahwa hal ini untuk kepentingan masyarakat agar masyarakat merasa aman dan nyaman di jalan. sehingga kepercayaan masyarakat kepada polisi semakin bertambah.

Penggelaran Personil Pada OnePagi DaysHari ...

5


6

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


PATROLI RAYON/BEAT

B

elum seminggu acara serah-terima jabatan Kapolda Sulut dari pejabat lama Brigjen Pol Drs Y. Jacki Uly

kepada pejabat baru Brigjen Pol Bekto Suprapto, beliau memenuhi janjinya menghibahkan 20 unit sepeda motor untuk digunakan menjadi sepeda motor patroli di Poltabes Manado. Sepeda Motor ini juga wajib digunakan para petugas patroli untuk mendatangi TKP di bawah atau kurang dari 10 menit (Quick Response Time minimal ten minute).

One Days . . .

7


Suatu sore, penulis dipanggil oleh Kapoltabes Manado Kombes Pol Bambang Sugeng dan diberi arahan untuk mempersiapkan pelaksanaan serah-terima hibah sepeda motor dari sponsor kepada Kapolda Sulut Bekto dan diteruskan pemberian hibah kepada Kapoltabes Manado Bambang. Hal ini merupakan pengalaman baru bagi penulis, karena baru kali ini ada Kapolda memberikan hibah sebanyak 20 unit sepeda motor, yang harganya penulis tanya ke dealer Suzuki (kebetulan merek motornya Suzuki) sekitar Rp 300.000.000. Sebelumnya para perwira di Poltabes Sulut terus berdiskusi dan sedikit berdebat memikirkan bagaimana caranya agar sepeda motor yang akan diberikan Bekto dapat mendatangi TKP tidak lebih dari 10 menit sejak laporan dari masyarakat diterima. Hal itu menjadi sangat penting, karena Bambang tidak ingin mengecewakan Bekto yang telah berniat baik dan tulus memberikan bantuan sepeda motor tersebut. Ketika mengenai waktu mobilisasi sepeda motor itu ditanyakan kepada Bekto, beliau hanya katakan silahkan didiskusikan di internal Poltabes Manado. Jika ada yang salah pelaksanaan operasionalnya di lapangan, sebaiknya dievaluasi dan dikoreksi serta diperbaiki hingga akhirnya sempurna. Memang ucapan beliau tersebut sangat bijak sekali dan bersahaja. Namun ucapannya itu, sempat membuat jajaran

8

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


Poltabes Manado kebingungan untuk mencarikan jalan keluar terbaik. Bambang dan seluruh jajarannya di Poltabes Manado tidak ingin sedikitpun mengecewakan Bekto. Sehingga diskusi mengenai pendayagunaan sepeda motor ini agar tepat sasaran dan waktu tibanya di TKP tidak lebih dari 1 menit, sangat seru. Masing-masing anggota yang ikut rapat, mengemukakan pendapatnya. Semuanya memiliki niat baik yakni mengoptimalkan penggunaan seluruh sepeda motor itu untuk memberikan pelayanan terbaik ke masyarakat. Penulis ikut berpikir keras mengenai hal itu. Salah satu usaha yang penulis lakukan adalah dengan mencari beberapa referensi di internet tentang aktivitas beberapa kepolisian di Amerika Serikat dan kepolisian Eropa, yang sudah sejak lama patrolinya memakai sistem patroli beat. Dimana wilayah hukumnya dibagi dalam bentuk beat/wilayah/rayon, yang memudahkan para petugas patroli untuk melakukan tugas patrolinya hanya dalam beatnya itu. Sehingga ketika masyarakat meminta bantuan melalui nomor telepon darurat (911), operator 911 segera mengontak petugas beat patroli terdekat di lapangan. Dalam waktu kurang dari 15 menit, petugas patroli sudah dapat melayani masyarakat yang memerlukan bantuan. Cuma bedanya, di sana menggunakan mobil patroli bukan

PatroliOne Rayon/Beat Days . . .

9


sepeda motor. Sedangkan di Poltabes Manado, harus melakukannya dengan sepeda motor. Setelah berdiskusi secara intens di Poltabes Manado, akhirnya

diputuskanlah

menggunakan

istilah

patroli

rayon. Padahal penulis berargumentasi secara maksimal mengusulkan penggunaan istilah patroli beat, karena teorinya memang seperti itu. Namun Bambang sebagai pimpinan memutuskan menggunakan istilah rayonisasi. Sebanyak 20 unit sepeda motor tersebut dibagi menjadi empat rayon. Jadi setiap rayon terdiri dari lima sepeda motor. Untuk satu sepeda motor diawaki dua petugas patroli (patrolman). Dalam penugasannya dibagi tiga shift. Untuk mengoperasikan 20 unit kendaraan tersebut, memerlukan 120 personil. Masalah yang timbul adalah mengenai sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan, peralatan pendukung tugas-tugasnya, bahan bakar minyak yang mendukung operasionalnya dan uang makan petugasnya. Untuk mengatasi masalah itu, penambahan jumlah SDM direkrut dari anggota pengendalian masyarakat (Dalmas) dan anggota Samapta. Ternyata setelah dijumlahkan seluruhnya, masih kurang. Sehingga diambil dari anggota patroli yang ada di Polsek-Polsek. Rekrutmen ini dilakukan sangat selektif. Targetnya adalah mendapatkan SDM yang memiliki disiplin tinggi, rajin dan

10

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


berjiwa melayani masyarakat. Akhirnya berhasil dikumpulkan 120 personil. Menurut pengamatan penulis, meskipun jumlahnya sudah sesuai, namun dari sisi kriteria secara keseluruhan termasuk kalau dilihat dari profesionalismenya, belum pas. Tapi apa boleh buat. Ini bagaikan gading yang tiada retak atau tiada rotan akar pun jadilah. Peralatan apa yang harus ada? Setelah membukabuka buku petunjnuk teknis dan petunjuk lapangan serta Peraturan Kapolri ditambah dengan hasil coffee morning, maka diputuskanlah setiap sepeda motor harus ada dua orang personil dengan kelengkapan helm, masker; sarung tangan, borgol, tongkat polisi, rompi, jas hujan, senter, handy talky (HT) dan senjata api. Cerita yang berkembang di masyarakat, kalau tidak ada senjata api, sebagian masyarakat di Manado menganggap enteng sama petugas polisi Terkait dengan kebutuhan di atas tersebut maka Kepala Bagian Administrasi (Kabag Min) dan Kepala Sub Bagian Logistik, diperintahkan untuk mengecek di gudang ada tidaknya kelengkapan yang diminta. Hasilnya, hampir seperti kantor polisi di seluruh Indonesia, untuk kelengkapan yang dibutuhkan, tidak pernah lengkap dan banyak kelengkapan yang tidak ada stoknya. “Ijin melaporkan Pak yang ada cuman tongkat polisi, itupun yang punya kompi Dalmas,� Kabag Min melaporkan

PatroliOne Rayon/Beat Days . . .

11


kepada Bambang. Mendengar itu, penulis hanya bergumam, “Sudah kuduga sebelumnya bahwa kondisinya seperti itu.� Apalagi HT? ini barang mahal. Hampir sebagian anggota polisi mempunyai HT karena membeli sendiri. Padahal HT ini fungsinya sangat vital yakni kelengkapan komunikasi untuk mengecek keberadaan anggota, meneruskan permintaan bantuan masyarakat, alat komunikasi untuk komunikasi antarpetugas di lapangan. Untuk memberikan laporan situasi dan kondisi di lapangan, tanpa HT sama juga bohong. Akhirnya disimpulkan, seluruh alat-alat yang dibutuhkan tersebut, harus membeli dan mengadakan sendiri. Ada yang menyarankan agar minta bantuan pada Bekto. Namun penulis katakan bahwa semua kantor sama dengan Poltabes Manado yakni tidak punya stok. Sebaiknya minta bantuan dari Bekto berupa tambahan senjata api panjang, karena tidak mungkin beli sendiri sebab dananya tidak ada. Bambang tanpa banyak komentar, besoknya memerintakan Kabag Ops Kompol Sudjarwoko berangkat ke Jakarta untuk membeli kelengkapan yang diperlukan. Dari banyak kelebihan yang dimiliki Bambang, ini adalah salah satu hal yang saya kagumi. Untuk urusan pekerjaan, jika ada masalah, Bambang tidak banyak berkomentar. Namun dengan caranya yang cerdas, berusaha secepatnya mencari jalan keluar terbaik. Sehingga hasilnya bisa segera dirasakan masyarakat.

12

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


Kembali ke rencana acara serah-terima hibah sepeda motor, pada Minggu sore itu penulis mengadakan gladi bersih dan menunggu kiriman sepeda motor dari Jakarta. Besoknya yakni Senin tanggal 10 Maret 2008 diadakan acara serahterima seluruh kendaraan tersebut. Untuk acaranya dan administrasi termasuk kelengkapannya serta susunan peserta acara, penulis buat kreasi sendiri yang sepantas-pantasnya bagi prajurit. Sore itu juga penulis bertemu dengan sponsor yang akan menyerahkan sepeda motor, yang ternyata dari Perusahaan rokok PT Bentoel Malang, Jawa Timur. Penulis berkenalan dengan wakil dari perusahaan itu dan kami mendiskusikan susunan acaranya. Keesokan harinya, acara serah terima hibah sepeda motor dari pihak sponsor PT Bentoel kepada Kapolda Sulut dan diteruskan kepada Kapoltabes Manado, berjalan lancar dan sukses. Itu sekaligus sebagai komitmen dari Bekto untuk memenuhi janjinya sebelum dilantik jadi Kapolda Sulut. Penulis dan Bambang sepakat mengatakan bahwa hibah 20 unit sepeda motor tersebut menunjukkan bahwa “mukjizat itu nyata�. Itu seperti sebuah judul lagu rohani. Pelaksanaan patroli rayon awalnya berjalan kurang sempurna, di luar perintah dan rencana yang disusun. Walaupun telah beberapa kali diuji dalam mendatangi TKP, kecepatannya antara 7-12 menit. Evaluasi secara terus-

PatroliOne Rayon/Beat Days . . .

13


menerus, selalu dilakukan. Begitu juga latihan demi latihan, juga aktif dilaksanakan. Pengawasan dan pengendalian setiap jam menjadi perhatian utama. Setiap anggota yang bertugas memperoleh uang saku Rp 10.000 per orang dan BBM sebanyak dua liter per kendaraan per hari. Semua pengeluaran itu dicatat dan dibukukan. Selain kelengkapan yang disebutkan di atas, setiap kendaraan diberikan sebuah ransel punggung untuk menyimpan jas hujan, alat tulis, surat perintah, kelengkapan administrasi lainnya dan senter. Setiap wajib membuat laporan hasil pelaksanaan patrolinya. Suatu hari, karena kesalahan yang sama dan itu-itu terus, Bambang memerintahkan saya untuk mencopot kepala unit (Kanit) Patroli. Hal itu dilakukan saat apel serah-terima penggantian petugas patroli. Tindakan tegas dan disiplin memang harus dilakukan, dan fungsi pengawasan dan pengendalian yang melekat menjadi suksesnya pelaksanaan tugas di lapangan. Setelah pencopotan dan penggantian Kanit Patroli dan pengawasan yang melekat maka kejutan demi kejutan, prestasi demi prestasi dapat dibuktikan oleh para anggota unit patroli. Selain mereka tiba di TKP ataupun mendatangi masyarakat yang meminta bantuan di bawah 10 menit, mereka juga berkali-kali menangkap para penjambret, pencuri

14

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


berbagai jenis barang, pencuri anjing (dogger), pembawa senjata tajam, pelaku pengrusakan, pelaku tawuran kampung, pelaku perjudian, pelaku pesta miras, mengamankan unjuk rasa dan mengamankan event-event kegiatan masyarakat. Kegiatan yang sangat positif ini terutama dalam meningkatkan citra Polda Sulut khususnya dan Polri secara keseluruhan, mendapat liputan luas dari berbagai media lokal. Mereka menilai bahwa setelah Bekto jadi Kapolda Sulut, perubahan demi perubahan secara positif dari hari ke hari, terus terjadi. Terkait dengan berbagai keberhasilan yang diraih jajaran Polda Sulut, masyarakat pun banyak yang menelepon penulis, Bekto dan Bambang, untuk mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi yang tinggi. Mereka merasa sangat terbantu dengan adanya polisi yang secara riil siaga selama 24 jam dan siap sewaktu-waktu memberikan bantuan jika memang dibutuhkan. Agar kualitas pelayanannya terus terjaga bahkan semakin ditingkatkan makan dibuatlah semacam control command center yakni menampung laporan masyarakat dan meneruskan permintaan masyarakat melalui berbagai media (multi media) seperti lewat SMS. telepon, faksimile dan e-mail. Setiap hari cukup banyak masyarakat yang melaporkan tentang terjadinya tindak kejahatan di wilayahnya. Kepercayaan masyarakat

PatroliOne Rayon/Beat Days . . .

15


terhadap polisi semakin bertambah dan dari waktu ke waktu, terus meningkat. Salah satu bentuk kepercayaan tersebut adalah tanpa diminta,

beberapa

pengusaha

memberikan

tambahan

bantuan sepeda motor dan kelengkapan patroli lainnya (daftar donatur terlampir). Lebih hebat lagi, para Wali kota dan Bupati di daerah lainnya, juga tanpa diminta memberikan bantuan kepada para Kapolres lewat Kapolda. Hal itu terjadi karena menyaksikan keberhasilah patroli rayon di Poltabes Manado. Menjelang kepindahan penulis dari Poltabes Manado yang mendapat amanah jadi Kapolres di Minahasa, Bekto memerintahkan penulis untuk memamerkan Patroli Rayon Poltabes Manado pada Pameran Inovasi Peningkatan Pelayanan Masyarakat Seluruh Indonesia yang diselenggarakan oleh Departemen Pendayagunaan Aparatur Negara di Parkir Timur Senayan Jakarta. Uniknya lagi, dari seluruh Polda se-Indonesia yang jumlahnya 33 Polda, hanya Polda Sulut yang menampilkan inovasi pelayanan patroli. Sedangkan Polda lain menampilkan inovasi pelayanan lalu lintas yang mana pembiayaan dan anggarannya dibantu oleh Dinas Pendapata Daerah dan PT Jasa Raharja yang beroperasi di daerahnya masing-masing.

16

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


PatroliOne Rayon/Beat Days . . .

17


18

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


Komentar masyarakat dikutip dari berbagai media : Ikut Diamankan Babuk Satu Unit Motor Honda HANYA BUTUH SATU JAM MANADO (23/7/2008): Polisi kembali berhasil membongkar jaringan komplotan pencuri kendaraan bermotor (Curanmor) dan Jamret di Kota Tinutuan. Yang berhasil digaruk Unit Patroli Rayon A dan Tim Buru Sergap Poltabes Manado dipimpin Kanit Patroli Ipda Frelly Sumampow, masing-masing berinisial RR alias Rafael (17) warga Kelurahan Batu Kota Lingkungan III kecamatan Wanea, RB alias Regen (13) dan RB alias Rayan (15) beralamat di Kelurahan Rike Lingkungan IV, AK alias Alan (15) Kelurahan Rike Lingkungan V Kecamatan Wanea. Barang bukti ikut diamankan diantaranya satu unit motor jenis Honda supra tanpa plat nomor. Keempat tersangka dibekuk di tempat terpisah saat sedang santai. Sumber resmi POSKO menyebutkan penangkapan terhadap keempat tersangka, berlangsung Rabu (23/7) dinihari sekitar pukul 01.00 Wita. Awalnya, polisi menerima laporan warga. Atas laporan itu, petugas langsung bergerak dan menyisir kawasan kampus Unsrat Manado. Hasilnya, berhasil membuat Rafael dan Regen, tidak berkutik dan hanya pasrah ditangkap.

PatroliOne Rayon/Beat Days . . .

19


Dari mulut keduanya, polisi mengorek keterangan sekaligus membuka jalan untuk menggerebek komplotan lainnya. Tepat sekitar pukul 02.00 Wita, Rayan dan Alan sukses dibekuk di salah satu bengkel di kawasan Rike tanpa adanyaperlawawan. Selain itu, polisi juga mengamakan Satu unit Sepedamotor jenis Honda Supra tanpa plat nomor. dikutip dari : http://poskomanado.com/news/index2.php? option=com_ content&do_pdf=1&id=728

REAKSI CEPAT ALA POLDA SULUT Oleh Maya Handhini MANADO – Jangan heran dan bingung bila akhir-akhir ini melihat polisi ada di mana-mana di Manado, Sulawesi Utara. Kehadiran polisi di tengah-tengah masyarakat ini untuk menciptakan kenyamanan bagi warga saat berada di tempat keramaian. Sebagaimana polisi lainnya, polisi yang sedang bertugas ini juga dilengkapi dengan HT yang selalu berbunyi. Untuk menciptakan rasa aman, Poltabes Manado membentuk quick response dengan empat pos komando yang dibagi menjadi tujuh pos.

20

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


“Setiap pos dijaga oleh anggota secara bergantian yang bertugas mengamankan setiap ada kejadian di Manado ini. Untuk lebih memudahkan anggota saat bertugas, mereka juga dilengkapi dengan kendaraan roda dua,� kata Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol Bekto Suprapto kepada SH, baru-baru ini, di Manado. Langkah “jemput bola� ini memang sudah sangat pantas dilakukan untuk kenyamanan dan keamanan masyarakat saat ini. Menurut Bekto, angka kriminalitas yang paling tinggi di Manado adalah perkelahian yang menelan korban tewas .Oleh karena itu, sangatlah dibutuhkan kehadiran polisi di tengahtengah masyarakat untuk menekan angka kriminalitas tersebut. Kenyamanan yang diciptakan itu disambut baik oleh masyarakat serta para pengusaha di Manado. Perhatian diberikan sepeda

dalam motor

bentuk kepada

menyumbangkan para

anggota

polisi

bantuan untuk

mengejar pelaku tindak kriminalitas pada setiap kejadian. Ini dapat dibuktikan pada saat SH mencoba melakukan kontak melalui telpon seluler dengan anggota polisi yang saat itu sedang bertugas di pos. Hanya dalam waktu lima menit, empat polisi yang dipimpin langsung oleh Briptu Stenley melaju ke tempat kejadian perkara (TKP). Menurut Ipda Frelly Sumampow dari satuan Sabhara, kini tidak ada lagi keluhan dari masyarakat tentang lamanya kedatangan polisi saat dibutuhkan. Hal ini juga dibenarkan

PatroliOne Rayon/Beat Days . . .

21


oleh Kapoltabes Manado, Kombes Pol Royce Lumowa. “Dalam menangani kasus, kita tidak hanya menangani masyarakat Manado saja. Semua yang ada dan yang membutuhkan bantuan akan kita layani dengan baik dan sebisa mungkin kita tolong. Salah satunya adalah dengan ditemukannya 14 ekor anjing yang dicuri oleh tiga komplotan atau spesialis pencuri anjing,” tutur Royce. Tak Perlu Bayar Untuk mendapatkan kenyamanan, masyarakat tidak perlu membayar mahal. Hal inilah yang selalu ditegaskan oleh Kapolda kepada seluruh jajarannya. “Masyarakat berhak mendapatkan keamanan serta kenyamanan di mana pun mereka berada. Tidak itu saja, hewan pun berhak mendapatkan keamanan. Ini dibuktikan dengan telah berhasilnya polisi membongkar komplotan pencuri anjing,” tutur Kapolda. Baik Kapolda maupun Kapoltabes Manado menegaskan bahwa

untuk

melaporkan

kasus

hilangnya

hewan

piaraan, masyarakat tidak dipungut biaya sepeser pun. “Tadinya saya sudah pasrah saat mengetahui dua ekor anjing pudel saya hilang. Namun saya kaget, saat melihat dan membaca koran. Dengan harap-harap cemas, saya datangi kantor polisi dan saya sangat terkejut dengan banyaknya anjing hasil temuan pak polisi itu, dan salah satunya

22

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


adalah anjing pudel saya. Ternyata polisi tidak meminta bayaran,� ujar seorang warga bernama Mona Tumewu. Kepedulian terhadap kenyamanan dan keamanan masyarakat sebetulnya memang bisa dilakukan oleh semua polisi, jika ada kemauan serta kerja keras. dikutip dari :http://www.sinarharapan.co.id/berita/0811/20/nus03.html

LAPORAN KHUSUS WARTAWAN TRIBUN MANADO SAAT melihat sekumpulan orang berkerumun di kawasan Bay Street Cafe, Bachtiar (38) segera berlari menghampiri. Lelaki yang bekerja sebagai satpam di sebuah supermarket ini penasaran. Ia berusaha menerobos kerumunan itu.Ternyata, sesosok mayat wanita tergeletak dengan tubuh membiru. Dari perbincangan warga, wanita itu tewas tenggelam saat berenang Minggu pagi (9/11). “SUDAH menghubungi polisi?� tanya Bachtiar kepada beberapa warga. Anehnya, tak seorang pun menjawab. Binggung... Bachtiar segera mengeluarkan hand phone, Ia lalu menghubungi polisi. Tak sampai sepuluh menit, dua polisi bersepeda motor Pulsar, tiba di tempat kejadian (TKP). Mereka segera mengamankan

PatroliOne Rayon/Beat Days . . .

23


lokasi. Beberapa menit kemudian, datanglah tim penyidik dari Polsek Malalayang. Setelah proses penyidikan selesai, polisi membawa korban dengan mobilnya. Dua polisi bersepeda motor Pulsar itu pun turut serta. Suasana menjadi hening. Beberapa warga masih bertanyatanya, siapa identitas wanita yang tewas tenggelam. Mereka terlihat ngobrol di sekitar lokasi kejadian. Salah satu obrolan yang sempat dikuping Tribun Manado, mereka kagum atas reaksi aparat kepolisian yang meluncur ke TKP dalam waktu sekejap. Ternyata dua polisi bersepeda motor itu adalah petugas Patroli Rayon Pisok Poltabes Manado. “Tim patroli ini memang dibentuk untuk meningkatkan pelayanan kami terhadap mayarakat dalam waktu yang sangat cepat. Target kami, sepuluh menit setelah menerima laporan, pasukan sudah harus berada di TKP,� ujar Frelly Sumampow, Kepala Unit Patroli Poltabes Manado, Kamis (13/11). Meski anak buahnya lebih dulu mengamankan TKP, namun kewenangan hukum yang dimiliki pasukannya terbatas. Peranannya, hanya sebatas sebagai petugas ‘SAR’ terbatas, gakum (penegakan hukum) terbatas, dan tindak pertama di tempat kejadian perkara.

24

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


“Umpama terjadi kasus pembunuhan, tim patroli inilah yang tiba pertama kali di TKP (tempat kejadian perkara). Tetapi untuk urusan penyidikan, tetap dilakukan oleh tim penyidik,” jelas Frelly. Ketika melakukan operasi tim kecil yang ditebar di sejumlah titik, dilengkapi dengan handy talky dan senjata laras panjang bertipe SP 2 Sabhar., Sedangkan untuk mencapai TKP, mereka dibekali sepeda motor jenis Pulsar 180 cc sumbangan dari pihak swasta. Bagaimana dengan anggarannya? Dalam sehari, biaya maem dan minum untuk 120 orang mencapai Rp 1,670. Biaya tersebut sudah termasuk biaya bahan bakar buat 48 sepeda motor. “Kalau masyarakat butuh pelayanan secara cepat bisa menghubungi kami lewat SMS ke 9165 atau telfon ke 840960,” imbuh Frelly. (Tribun Manado/ Wawan/Adam/Irandi/Nuraini/Nando)

PatroliOne Rayon/Beat Days . . .

25


KOMENTAR MEREKA Secepat Kilat Bachtiar (Petugas keamanan) BAGUS... Seperti kejadian hari Minggu lalu, ada orang tenggelam dan petugas Patroli Rayon Pisok langsung datang dalam hitungan menit. Cuman yang saya heran, ketika mereka tiba, petugas hanya mengamankan lokasi kejadian saja. Setelah itu datang tim lain yang mem-back-upnya. (tim) Sangat Membantu Bayu (Anggota masyarakat) SAYA tahu di Kota Manado ada Patroli Rayon. Tapi saya tidak tahu kalau nama tim itu disebut Pisok. Saya pernah melihat polisi patroli menangkap preman mabok di daerah Sario, dekat rumah teman. Ini sangat membantu. (tim) Menyeramkan Olan (Mahasiswa) SAYA

sering

melihat

patroli

malam

keliling

kampus

membawa senjata. Kesannya menyeramkan. Padahal, polisi itu tidak boleh masuk kampus, apalagi malam hari. (tim) 26

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


Penanganannya Cepat Nandar (Juru Parkir) SAYA rasa Patroli Ryon sudah bagus. Mereka hadir setiap kali terjadi kasus kriminal dan penanganan kasusnya cukup cepat. Pernah ada kasus pembacokan ditangani kurang dari 10 menit. (tim) Cukup Lumayan Brian (Anggota Masyarakat) KEBERADAAN Patroli Rayon, lumayan dapat membantu terciptanya keamanan kota. Tapi kalau dibilang cepat tidak juga. Ada beberapa saya lupa kasusnya, ditangani lebih dari 15 menit. (tim) dikutip dari : http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/14/16360363/ si.gesit.patroli.rayon.pisok.tak.boleh.lebih.dari.10.menit

PatroliOne Rayon/Beat Days . . .

27


UNIT PATROLI PISOK B TERIMA PENGHARGAAN MANADO — Unit patroli Pisok B yang dipimpin Aiptu Bernard Pokay, yang berhasil meringkus 2 tersangka pelaku pembunuhan sadis di kecamatan Singkil bersama barang bukti sebilah parang dan badik hanya dalam waktu 1 jam setelah kejadian, menerima penghargaan dari Gerakan Anti Narkoba, Narkotika dan Obat Terlarang (Granat). Penyerahan penghargaan serta bonus tersebut diberikan saat perayaan hari ulang tahun Granat ke 9, yang di langsungkan di area Parkir Manado Town Square (Mantos) Manado. Selain penghargaan Poltabes Manado juga menerima bantuan partisipasi berupa nasi kuning dan bensin sebanyak 250 liter, yang langsung di isi ke 50 motor patroli Poltabes Manado. Ketua Granat Sulut Pdt Billy Yohanes mengatakan, apa yang dilakukan aparat kepolisian dalam menunaikan tugasnya, sudah sesuai apa yang menjadi harapan masyarakat. “Kecepatan bertindak adalah yang utama,� ujarnya. Sementara itu, Kasat Samapta Poltabes Manado Kompol Milke Mukuan didampingi Kanit Patroli Poltabes Manado Ipda Frelly Sumampouw yang hadir dalam perayaan HUT Granat menyatakan, patroli rayon pisok merupakan perwujudan perintah Kapolda Sulut tentang Quick Respon Time Police, yang mengutamakan kecepatan mendatangi TKP di bawah

28

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


10 menit. “Kami siap melaksanakannya. Kalau ada masyarakat yang membutuhkan bantuan, bisa hubungi kami di 0431 840690,� ujarnya. (cw-06/aji) dikutip dari : http://mdopost.com/news/index.php?option=com_content&t ask=view&id=8339&Itemid=41

KORBAN TRAFFICKING JEBAK GERMONYA MANADO (11/8/2008): Kendati sering menjadi korban trafficking, para gadis asal Sulut ternyata pintar juga. Kali ini, mereka tak mau tergiur dengan gaji besar dan pekerjaan sebagai ladies pub di luar daerah yang selalu menjadi senjata para germo. Beraninya lagi, para korban trafficking ini malah menjebak germonya sendiri hingga ditangkap polisi. Kini, sang germo berinisal UT alias Urban (54) warga Kelurahan Kaskasen Kecamatan Tomohon Utara harus meringkuk di Rutan Mapoltabes Manado. Dia ditangkap Senin (11/8) pagi sekitar pukul 09.00 Wita, saat menunggui para gadis yang sudah terlibat janjian dengannya di Terminal Malalayang jalur Tateli. Apes yang dialami tersangka ternyata tidak hanya sampai di balik jeruji. Sebab, dia juga harus merelakan uang panjar yang sudah terlanjur diberikannya kepada para calon korbannya sebanyak jutaan rupiah. Bagaimana hingga kasus trafficking

PatroliOne Rayon/Beat Days . . .

29


yang berujung petaka buat germonya itu bisa terjadi? Ceritanya begini! Beberapa hari lalu sebelum ditangkap polisi, tersangka Urban ketemu dengan korban SS alias Ser (32), GW alias Ed (20an) dan N alias Nat (21) semuanya warga Kecamatan Pineleng. Kepada ketiga orang gadis ini, tersangka yang berlagak boss alias pengusaha cafĂŠ di Palopo ini, menawarkan kepada ketiga korban untuk bekerja dengannya di Palopo sebagai karyawan cafe. Soal gaji, jangan kuatir karena pasti akan dibayar lebih tinggi. Begitu tersangka memberikan tawaran. Rupanya, ketiga calon korban ini sudah banyak belajar dari kejadian yang pernah menimpa kaumnya terdahulu. Buktinya, saat ditawari pekerjaaan itu oleh tersangka, ketiga korban diamdiam menyusun strategi. Di depan tersangka, ketiganya menyatakan setuju dan siap bekerja di Palopo, Sulawesi Selatan. Selanjutnya, dibuatlah kesepakatan antara tersangka dan ketiga korban. Disepakati, ketiga korban mendapatkan uang inden; alias jaminan. Besarannya beda-beda. Untuk korban Ser dan Nat mendapat jatah Rp500 ribu. Sedangkan korban Ed, yang usianya jauh lebih muda dari dua rekannya, kebagian duit panjar Rp1 juta. Ringkas cerita, Senin kemarin, sekira pukul 09.00 Wita, ketiga korban sepakat janjian dengan tersangka ketemu di Terminal Malalayang. Setibanya disitu, salah satu calon korban langsung mengirim SMS ke petugas Poltabes

30

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


Manado, yakni Briptu David Patisena, anggota Patroli Rayon D. Dalam hitungan menit, petugas tiba di lokasi kejadian dan mengamankan tersangka, bersama 3 orang calon korbannya. Tanpa menunggu lama, ketiga korban bersama tersangka langsung digiring ke Mapoltabes Manado untuk menjalani pemeriksaan. dikutip dari : http://poskomanado.com/news/index2.php?option=com_ content&do_pdf=1&id=1516

TABLOID KOMENTAR PESTA MIRAS DAN OBAT, TUJUH REMAJA DICIDUK PETUGAS Manado-Lima siswa SMK 2 Manado dan dua remaja pengang-guran dicokok patroli rayon B Poltabes Manado di Boulevard, tepatnya di belakang Kantor Tel-kom, Rabu (14/05) pukul 12.00 WITA. Ketujuh remaja tersebut diciduk karena kepergok sedang pesta miras dan memiliki puluhan obat penenang. Penangkapan berawal dari ke-curigaan patroli rayon B dipimpin Brigadir Iskandar Ahman terhadap tujuh remaja yang sedang kongkow-kongkow di belakang Kantor Tel-kom.

PatroliOne Rayon/Beat Days . . .

31


Para remaja masing-masing KR alias Kifly (21), pengangguran warga Paal 2, Lingkungan II dan MR alias Michael (21), warga Sario, Lingkungan II yang berprofesi se-bagai tukang parkir di Golden Swa-layan. Sedangkan kelima murid SMK 2 Manado yaitu GW alias Geri (16), DR alias Dedi (18), DP alias Desmo (17), JT alias Jimmy (18) dan JS alias Jay (18). Dari tangan mereka, petugas menyita 32 butir obat penenang jenis ‘D and P’ milik Kifly, satu botol Segaran Sari, dan tiga botol VIP . Kepala SMKN 2, Dra Deisye Lumowa sendiri tidak berhasil di-konfirmasi terkait hal ini. Diketahui, sebelumnya tiga sis-wa SMKN 2 diamankan karena pesta miras di Gedung Joeang.(art) dikutip dari : http://www.hariankomentar.com/arsip/arsip_2008/mei_15/ hukrim03.html

PACARKU SERING KECEWA... Jumat, 14 November 2008 | 17:41 WIB KAMIS (13/11) pukul 13.00 Wita. Hujan baru saja membasahi Kota Manado. Rintik hujan masih terdengar menerpa atap bangunan Pos Polisi Patroli Rayon D Pisok, Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Manado. Suasana di bangunan itu terasa hening.

32

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


BANGUNAN berukuran 16 meter persegi itu terletak di samping kanan jalan raya menuju Kota Tomohon, tepatnya di Jalan Raya Manado-Tomohon, Kelurahan Winangun, Kecamatan Wanea. Warga Manado lebih mengenalnya dengan Pos Polisi Citraland. Posisi pos itu berhadapan dengan kawasan Perumahan Citraland. Di ruangan itu, seorang pria tegap berbadan atletis mengenakan PDL 3, pakaian khusus patroli lengkap dengan atributnya pendukungnya berupa rompi anti peluru, senjata laras panjang, handy talky dan topi hitam bertuliskan Polisi. Tulisan itu berwarna kuning keemasan. Pria itu duduk di kursi plastik merah. Di depannya ada meja biro bercat krem. Kesannya tidak terawat, agak sedikit kusam dan kotor. Tak banyak perabotan di sana. Lelaki itu sedari tadi terlihat serius dengan telepon genggamnya. Tidak jelas apa yang dilakukannya dengan barang pabrikan asal Finlandia. Laras panjang SP2 Sabhara hitam mengkilat di punggung, makin membuatnya gagah walau sepatu PDL hitam terlihat kusam berdebu. “Lumayan capek. Pagi sampai siang, saya mengitari wilayah Karombasan hingga Kecamatan Pineleng,� jawab Brigadir Dua (Bripda) Frangklin Momomuat. Sehari-hari ia bertugas di unit Patroli Rayon Pisok Poltabes Manado. Saat Tribun menyambangi tempatnya, ia enggan bicara dan canggung.

PatroliOne Rayon/Beat Days . . .

33


Perlahan, ia mulai terbiasa dan bersahabat. Pembicaraanpun dilanjutkan. Setiap hari, ia dinas pukul 07.00 Wita dan berakhir pukul 19.00 Wita. “Kami shift dua belas jam sehari, setelah itu diganti regu lain,” katanya. Rutinitas itu dijalani setiap hari. Khusus hari itu, Rabu (13/11), ia beruntung, ditinggal teman-teman seregu yang berpatroli rutin. Ia mengaku bosan jika harus menjaga pos seharian. ”Mereka berpatroli di kota selama satu jam, kemudian balik lagi,” tutur pria yang memiliki tinggi badan 178 centimeter. Saat ditanya tentang suka dukanya, Frangklin yang semasa SMA jadi spiker andalan menjawab santai. Ia tidak pernah merasa terbebani dengan tugasnya. Kelelahan karena bekerja 12 jam sehari, sudah menjadi hal biasa baginya. Mulai bertugas di unit patroli sejak dilantik menjadi polisi, 7 Agustus 2007. Sambil mengisap dalam-dalam rokok mild, ia melanjutkan ceritanya. Menjadi polisi banyak suka dukanya, apalagi di unit patroli. Kadang banyak kepentingan pribadi yang harus ia tinggalkan demi panggilan tugas. ”Pacarku sering kecewa. Ia merasa kurang diperhatikan,” tuturnya sedikit prihatin. Padahal, ia telah berusaha membagi waktu sebaik-baiknya. Banyak tindak kriminal, beragam motif dan macamnya telah mereka tangani. Baik itu menindaklanjuti laporan warga

34

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


maupun temuan langsung di lapangan. “Paling sering kami temukan kasus orang mabuk yang buat onar,” terangnya. Pria yang biasa disapa Kingking menjelaskan, tugas utama unit patroli, adalah melakukan patroli kota rutin, menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP), jika ada pengaduan, menindaklanjutinya dan melaksanakan prosedur penegakan hukum (gakum). Mengenai harapan, ia berharap semoga Kota Manado dan Sulawesi Utara (Sulut) bisa mempertahankan kerukunan dan keamanan.”Usaha kami sia-sia jika warga berperilaku tidak baik,” jelas pria yang bakal mempersunting gadis idamannya tahun depan ((Tribun Manado/ awan/Adam/Irandi/Nuraini/Nando) Ada 3 Komentar Untuk Artikel Ini. fred @ Sabtu, 15 November 2008 | 14:02 WIB ckck, manthap Ammar @ Jumat, 14 November 2008 | 18:39 WIB Semangat pak....! pink @ Jumat, 14 November 2008 | 18:25 WIB Jiwa kepahlawanan para aparat yg benar2 menjalankan tugas negara perlu diacungin jempol. Setidaknya tidak hanya berkorban waktu,kluarga tp berkorban segalanya dlm menindak smua bentuk pelanggaran dikutip dari : http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/14/17411711/ pacarku.sering.kecewa... PatroliOne Rayon/Beat Days . . .

35


MANTOS DAN BANK MANDIRI SUMBANG 9 UNIT MOTOR PATROLI MANADO — Untuk meningkatkan pelayanan keamanan dan ketertiban terhadap masyarakat, Poltabes Manado akan ketambahan sembilan unit motor patroli. ”Bila tak ada aral melintang ke sembilan unit motor patroli itu akan diserahkan Rabu (10/09) besok hari ini,red. Kemungkiinan motor-motor itu akan digunakan oleh petugas Patroli Rayon,” ujar Kabag Ops Poltabes Manado Kompol Sudjarwoko SH Sik, Selasa (09/09) kemarin. Katanya, bantuan motor ke Poltabes Manado ini merupakan bantuan dari pengusaha Manado Town Square (Mantos) dan Bank Mandiri. ” Kesembilan unit itu masing-masing merupakan bantuan dari Mantos lima unit dan Bank Mandiri empat unit motor. Direncanakan acara serah terima bantuan itu akan dilaksanakan di Mapolda Sulut,” tutur Jarwo, sapaanya, seraya berharap dengan ketambahan motor patroli ini akan lebih memaksimalkan kinerja dari polisi dalam melaksanakan tugas di lapangan.(cw-14) dikutip dari :http://mdopost.com/news/index.php?option=com_content&ta sk=view&id=4967&Itemid=41

36

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


HOTEL SUTAN RAJA SUMBANG RP 300 JUTA BUAT POLDA SULUT Manado, KOMENTAR Polda Sulut kembali mendapatkan bantuan sepeda motor. Bantuan kali ini diberikan oleh PT Bintara Persada selaku pengelola Hotel Sutan Raja, dengan jumlah sebanyak 20 unit motor merk Bajaj yang nilainya mencapai Rp 300 juta. Penyerahan bantuan dilakukan Jumat (24/10) siang di Mapolda Sulut. Acara penyerahan dihadiri langsung oleh Kapolda Sulut, Brigjen Pol Drs Bekto Suprapti MSi dan pihak PT Bintara Persada yang diwaliki Vera Mokoagow. Kapolda saat diwawancara usai acara penyerahan mengatakan, bantuan sepeda motor ini merupakan satu bentuk dukungan terhadap program yang telah dicanangkan Polda Sulut. Dimana tujuanya tidak lain yaitu guna meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat khususnya di Kota Manado. “Polda sudah punya program dan setiap program ada skala prioritasnya. Nah, karena jumlah penduduk paling banyak di Kota Manado, maka peningkatan pelayanan di Kota Manado harus diprioritaskan. Karena itu, bantuan ini akan dioperasikan untuk peningkatan pelayanan di Manado,� terangnya seraya menambahkan, bantuan tersebut akan

PatroliOne Rayon/Beat Days . . .

37


dibagikan masing-masing 10 unit untuk Poltabes dan 10 sisanya buat Brimob. Sementara Persada

Vera

mengatakan,

Mokoagow pihaknya

mewakili

PT

memberikan

Bintara bantuan

sepeda motor sebagai wujud dukungan terhadap program pemerintah khususnya World Ocean Conference 2009. “Untuk menyukseskan agenda WOC, keamanan tentu harus ditingkatkan. Nah, dengan adanya bantuan sepeda motor ini, maka dampaknya diharapkan dapat memudahkan tugas aparat kepolisian sehingga keamanan lebih meningkat yang pada gilirannya membantu terselenggaranya agenda WOC,� katanya singkat.(rol) dikutip dari : http://www.hariankomentar.com/arsip/arsip_2008/okt_25/ hukrim03.html

MOBIL MEWAH HASIL CURIAN MARAK minahasa.go.id, Polisi Berhasil Amankan 1 Unit Sedan Ford Focus MANADO — Barang mewah hasil pencurian yang dijual kembali (Mobil Bodong, red), rupanya marak beredar di Kota Manado. Setelah beberapa unit diamankan Poltabes Manado dan Polda Sulut, Sabtu (6/12) kemarin, sekitar pukul 03:30 Wita,

38

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


unit Patroli Rayon Poltabes Manado mengamankan 1 unit mobil sedan Ford Focus berwarna abu-abu dengan Nopol: DD 975 AB diduga hasil curian. Mobil sedan Ford Focus tersebut diamankan di daerah perbatasan antara Malalayang dengan desa Tateli, berawal dari kecurigaan unit Patroli. Saat ditanya surat-surat mobil kepada pemilik, hanya dijawab dengan sebuah lembar blanko tilang. Namun, setelah diteliti, balnko tilang tersebut tidak tertulis NRP petugas yang menilang serta nama pelanggar tidak sama. Tanpa basa-basi mobil beserta 4 orang pun diamankan. Keempat orang yang diamankan, yakni MK alias Muh selaku pengendara, SJ alias Syam, HD alias Hen dan DC alias Den. Semuanya, berasal dari Makassar. Dari hasil pemeriksaan sementara, mereka pun akhirnya mengakui kalau barang mewah tersebut tidak mempunyai STNK dan tidak disita oleh polisi. Kabag Ops Poltabes Manado Sujarwoko membenarkan diamankannya sebuah mobil sedan mewah. Menurutnya, masih dalam pengembangan, karena kemungkinan masih banyak mobil seperti itu di Manado. “Masih dikembangkan kasusnya,� ujarnya. (cw-06/aji) (Sumber : Manado pos) dikutip dari : http://mdopost.com/news/index.php?option=com_content&t ask=view&id=10971&Itemid=41

PatroliOne Rayon/Beat Days . . .

39


40

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


PROBLEM ORIENTED POLICING

K

ebijakan

Bekto

yang

lebih

relevan

dalam

mengembangkan Perpolisian Masyarakat (Polmas)

adalah dengan menerapkan Problem Oriented Policing yakni mencari akar permasalahan dalam masyarakat, untuk dipecahkan bersama-sama dengan kepolisian. Para Kepala Satuan Wilayah (Kasatwil) diperintahkan untuk menjajaki dan meminta masukan dari masyarakat tentang permasalahan sosial, keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) serta permasalahan lainnya yang ada di masyarakat.

One Days . . .

41


Terkait dengan kebijakan yang dikeluarkan Bekto tersebut, kepada

seluruh

Kepala

Kepolisian

Sektor

(Kapolsek),

Kapoltabes memerintahkan untuk mengeluarkan surat perintah yang ditujukan pada para Bintara Pembina Kamtibmas (Babinkamtibmas) dan Bintara Polmas, dengan tugas menanyakan secara langsung kepada masyarakat, apa yang menjadi permasalahan yang sering dihadapi oleh masyarakat dalam aktivitas kehidupan mereka sehari-harinya di lingkungannnya masing-masing. Lingkungan yang dimaksud tidak hanya dibatasi di lingkungan keluarga atau tempat tinggal masyarakat, tetapi juga di lingkungan kerjanya seperti kantor, pasar, jalan dan sebagainya. Sedangkan kepada anak-anak sekolah adalah di lingkungan sekolahnya, di lingkungan lokasi rekreasi dan lingkunganlingkungan yang dianggap mereka memiliki masalahan-masalah yang perlu mendapatkan bantuan kepolisian. Kebijakan yang dikeluarkan Bekto ini sangat efektif. Polisi secara tidak langsung dijadikan sebagai peneliti sosial dan kamtibmas. Ketika penulis menanyakan tentang hal itu, beliau menjelaskan bahwa pada hakekatnya polisi harus memiliki kemampuan sebagai peneliti. “Pengungkapan kasus kejahatan pada hakekatnya adalah rangkaian dari pekerjaan penelitian. Polisi sebagai peneliti melakukan penelitian terhadap kasus kejahatan untuk mencari penyebab, motif, pelaku, saksi-saksi, mengumpulkan barang 42

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


bukti, membuat terang kasus yang gelap, memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi dengan serius dan menghasilkan suatu hasil riset yang dituangkan ke dalam berkas perkara. kemudian hasil penelitian tersebut diuji Jaksa Penuntut Umum sebelum diajukan ke penguji terakhir oleh para hakim dalam sidang pengadilan,� jelas Bekto. Mendengar penjelasan yang sangat gamblang dan terinci tersebut, penulis sambil mengangguk, dalam hati berpikir, “Sangat benar semua yang disampaikan beliau dan brilian sekali pemikiran Kapolda yang satu ini�. Terkait dengan itu, diperlukan polisi-polisi yang memiliki kecerdasan, kemampuan meneliti, ketekunan sebagai peneliti, kemahiran mengumpulkan bukti-bukti dan kecanggihan menuangkan hasil penelitian atau penyidikannya ke dalam tulisan yang benar-benar bernilai hukum. Memiliki fakta jelas, bukan persepsi. Selain itu, ada referensi daftar kepustakaan yang valid dan benar serta relevan dengan kasus yang sedang ditangani. Hasil dari pengumpulan masalah-masalah yang ada di masyarakat, ternyata bervariasi dan kebanyakan adalah mempermasalahkan

maraknya

konsumsi

masyarakat

pada peredaran minuman keras (miras), pencurian anjing, permasalahan pada pelayanan lalu lintas dan arogansi oknum polisi dalam menangani perkara yang perkembangannya tidak jelas. Problem Oriented One Policing Days . . .

43


Dari hasil ini Bekto memberi arahan kepada Bambang untuk

mengambil

langkah-langkah

konkrit

dalam

memecahkan permasalahan tersebut. Kemudian meminta kepada masyarakat yang tergabung dalam Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) untuk menilai dan memonitor pelaksanaannya serta memberikan masukan kepada polisi. Mungkin hanya ada di Manado dan sekitarnya saja yakni kejahatan yang bernama “dogger�, merupakan kejahatan berupa pencurian anjing-anjing piaraan masyarakat. Memang selama ini, orang-orang Manado suka mengkonsumsi daging anjing atau RW atau B1. Kebiasaan itu sama seperti saudarasaudara kita yang tinggal di sebagian daerah Sumatera Utara (Sumut). Lucu ya, karena di Sulut dan Sumut, ada sebagian masyarakatnya yang suka makan daging uk...uk...uk... Namun penulis pernah bertugas selama lima tahun lebih di Sumut, tidak pernah mendengar adanya dogger atau pencurian anjing. Tapi di Sulut tingkatannya sudah sampai pada meresahkan masyarakat. Para maling anjing tersebut, terkesan tidak tahu dan tidak peduli anjing mahal atau anjing luar negeri atau anjing kampung. Juga tidak mau tahu apakah harga anjingnya mahal atau murah. Semuanya dilibas, dipotas dan dibunuh. Setelah bekerja keras dan melalui penelitian serta penyelidikan yang melelahkan, polisi berhasil menangkap 44

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


puluhan anjing yang sudah mati dan mau dijual ke pasar. Ada anjing yang harganya mahal hingga jutaan rupiah. Kalau sudah jadi RW atau mati, harganya paling mahal puluhan ribu rupiah.

Celakanya, susah bagi polisi mencari para pemilik anjing tersebut, karena tidak ada Buku Pemilik Anjing atau pening seperti jaman Belanda. Menurut Oma dan Opa, pada jaman itu, setiap pemilik anjing wajib melaporkan anjingnya untuk dibuatkan veneeng, yang dijadikan kalung anjing. Namun hal ini tidak melepaskan sang dogger dari jerat hukum apabila ia mengakui bahwa anjing itu adalah hasil dari perburuannya. “Bung, lain kali jangan berburu anjing ya. Lebih baik berburu macan ya,� kata seorang polisi wanita (Polwan) dengan muka yang gemas melihat pencuri tersebut. Problem Oriented One Policing Days . . .

45


Tidak hanya sampai di situ saja perbaikan pelayanan yang diperintahkan Bekto. Dalam melayani kebutuhan masyarakat yang menjadi korban kejahatan dan melaporkan (pelapor), Bekto meminta kepada Bambang untuk memerintahkan para penyidik agar melakukan pembuatan Surat pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan/penyidikan (SP2HP)) secara rutin kepada para korbah pelapor. Sehingga mereka dapat mengetahui hak-haknya sebagai pencari keadilan dan perkembangan laporannya. Selain itu, kepada para penyidik pembantu, diwajibkan membuat kartu nama dan memberikan kartu namanya tersebut kepada para korban/pelapor. Juga menekankan untuk melayani secara sungguh-sungguh dan tidak memihak. Sikap keterbukaan atau transparansi juga diterapkan dengan kewajiban mencantumkan nomor telepon atasannya termasuk Kapoltabes dan Wakapoltabes. Dampaknya, memang banyak yang menelepon ke atasan dan mengadukan perlakuan yang mereka terima saat diperiksa. Pengaduan itu dilakukan karena mungkin mereka tidak puas atau memang sifat pelapor yang ingin cepat mendapat pelayanan. Kebijakan yang dilaksanakan tersebut ternyata cukup efektif sebagai terapi kejut (shock therapy) kepada para penyidik pembantu. Mereka yang tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, apalagi merugikan pelapor, begitu perbuatannya terbukti, langsung mendapat sanksi dengan dimutasi ke tempat lain.

46

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


TIDAK MEMERAS

B

erkali-kali Kapolda selalu mengarahkan agar seluruh pimpinan polisi di jajaran Polda Sulut berubah dalam

mengelola anggaran yang dipertanggungjawabkan kepada dinas. “Jangan bermain-main dengan anggaran dan jangan memeras atau meminta imbalan kepada masyarakat ketika melaksanakan tugas pelayanan masyarakat,� itu selalu diucapkan Kapolda.

One Days . . .

47


Bekto mempunyai teori “paku” untuk pimpinan dan anggota Polri yang melanggar kebijakan soal ini. Pertama, beliau akan ketuk dulu artinya lebih dulu akan memberi peringatan. Tetapi kalau pakunya tetap bengkok, beliau akan mencabut pakunya dan mengganti dengan paku baru. Arrtinya akan dimutasi, diberhentikan dari jabatan atau dipindahtugaskan. Terobosan pertama yang dilakukan Kapolda adalah dengan memindahkan 20-an personil perwira pertama yang kedapatan melakukan penyimpangan. Mereka membentuk unit khusus (tambahan) yang tugasnya untuk mencari dana dengan melakukan “pemerasan” terhadap pelakupelaku kejahatan. Mengetahui hal ini Kapolda langsung memutasikan para perwira pertama tersebut dan anggotanya serta membubarkan unit khusus ini. “Perilaku ini sangat memalukan, seperti gerombolan saja !!!” kata Kapolda dengan wajah kecewa. Penulis mencatat walaupun telah menjatuhkan hukuman dengan memindahkan para perwira tadi, Kapolda tetap tidak “membuang” mereka, melainkan melakukan pembinaan yang mendidik. Hal ini menimbulkan rasa kagum penulis terhadap Kapolda. Kapolda mengatakan bahwa yang salah bukan mereka tetapi pimpinan diatasnya yang harus bertanggung jawab.

48

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


Kapolda akan selalu memberikan kesempatan kepada mereka untuk berubah dan bertobat. Sudah saatnya anggota Polri mereformasi diri dengan meninggalkan kebiasaan dahulu yang suka memeras, setor ke atas, mematok harga dan mintaminta sama masyarakat. Sekarang Polri sudah didukung dana dengan anggaran yang tidak sedikit dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Walaupun masih banyak yang merasakan kurang, tetapi perlu diupayakan semuanya dikelola dengan baik dan benar. Bukan dibawa pulang ke rumah atau dipakai untuk membangun rumah pribadi atau masuk kantong pribadi. Janganlah pernah berpikir ke arah itu, apalagi melakukannya. Ingat Hukum Kesepuluh dari 10 Perintah TUHAN kepada bangsa Israel melalui Nabi Musa yaitu Jangan mengingini milik orang lain. Perintah dan kebijakan Kapolda lainnya berkaitan dengan dana adalah memerintahkan kepada para Kapolres untuk memberikan pelayanan masyarakat di bidang Lalu Lintas seperti penerbitan SIM, STNK dan BPKB dengan tidak meminta imbalan, mematok harga dan melakukan pungli. Jika masyarakat memberi, itu boleh diterima. Memberi itu merupakan kebudayaan yang baik dari bangsa Indonesia. Dalam Kitab-Kitab Suci semua agama, ada kewajiban untuk umatnya memberi kepada sesama manusia

Tidak OneMemeras Days . . .

49


dan makhluk hidup lainnya. Jadi kalau masyarakat memberi, boleh diterima, tetapi ingat tidak boleh meminta-minta, mematok biaya apalagi memeras masyarakat. Ini perbuatan tercela yang memalukan buat anggota Polri. Kalau mau kaya jangan jadi polisi. Jadilah pengusaha, minta pensiun kemudian beralih jadi pengusaha. Kalau mau jadi polisi, pegang teguh firman Tuhan dalam Lukas 3 : 14 yang berbunyi Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya, “Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?� Jawab Yohanes kepada mereka, “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.� Jika kita melayani masyarakat dengan sungguh-sungguh, baik, benar dan tanpa pamrih, sudah pasti masyarakat akan memberi ucapan terima kasih. Kita ini hidup di Indonesia apalagi di daerah Sulut yang masyarakatnya terkenal hidup santun, menjunjung kebudayaan dan agamanya serta tahu berterima kasih. Terobosan lainnya berkaitan dengan dana adalah mendatangkan para pakar dan tim keuangan dari instansi terkait, untuk memberikan pelatihan, pembekalan, pengarahan dan pencerahan tentang cara penggunaan anggaran yang baik, benar, transparan dan akuntabel. Polri adalah organisasi besar yang dalam melaksanakan tugas-tugasnya didukung anggaran dan dana keuangan pemerintah dan masyarakat.

50

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


Karena itu sudah merupakan kewajiban bagi Polda Sulut dan seluruh jajarannya belajar cara mengelola anggaran dengan baik, benar, transparan dan akuntabel. Pada era reformasi, Polri merupakan organisasi yang bersifat mandiri, sehingga wajar sampai saat ini (2007) Polri masih salah-salah di bidang administrasi dalam menggunakan anggarannya. Untuk itu agar dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut, semua anggota Polri harus terus-menerus belajar dan berlatih. Berani meminta masukan dan saran kepada instansi yang lebih tahu dan mengerti, sebab mereka berkecimpung di bidang keuangan dan anggaran. Sebagai buktinya di awal 2009, Polda Sulut dengan dikomandoi Irwasda Polda Sulut Kombes Pol Drs Hernoadi,

telah

melakukan

kewajibannya

Tjahyo dengan

menyelesaikan permasalahan temuan BPK RI tahun 2004 dan 2006 (sudah lima tahun) serta 2008 dengan baik. Hutanghutang Polda Sulut dan jajarannya sudah lunas terbayar. Hal ini adalah karena kemauan dari Kapolda yang ingin betulbetul melakukan dan mengelola anggaran dan keuangan di Polda Sulut dan jajarannya dengan baik, benar, transparan dan akuntabel.

Tidak OneMemeras Days . . .

51


52

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


MENCANTUMKAN HAK-HAK TERSANGKA

P

ada suatu siang Bambang mengajak penulis untuk ikut beliau. Penulis awalnya bertanya dalam hati, mau diajak

ke mana? Namun penulis tidak menanyakan hal itu kepada Bambang. Penulis hanya ikut saja. Penulis yakin bahwa ajakan tersebut adalah untuk melakukan sesuatu hal yang positif dan bermanfaat untuk banyak orang.

One Days . . .

53


Ternyata penulis diajak menemui Bekto, yang baru beberapa hari menjabat sebagai Kapolda Sulut. Kami diterima di ruang kerja beliau. Setelah mengobrol sebentar, Bekto minta diantar untuk melihat-lihat asrama polisi yang ada di kota Manado. Selama perjalanan menuju asrama, Bekto menyampaikan beberapa hal. Di antaranya yang menurut penulis cukup penting dan mendasar adalah perintah yang disampaikan Bekto agar setiap ruang pemeriksaan dan tahanan dipasang poster tentang Hak-Hak Tersangka. Beliau mengatakan bahwa setiap polisi harus fair dan tidak memihak saat menangani perkara. Tersangka juga mempunyai hak asasi sebagai tersangka yang diatur dalam undang-undang, sampai ia berubah statusnya sebagai terdakwa dan terhukum. Selama di tangan polisi, penyidik harus memperlakukan tersangka dengan azas “praduga tak bersalah� dan sebelum diperiksa, dibacakan dulu hak-haknya sebagaimana yang ditulis dalam poster Hak-Hak Tersangka. Untuk memenuhi perintah Bekto, dalam hitungan menit, Bambang langsung menghubungi para kepala satuan (Kasat) agar menyusun konsep Hak-Hak Tersangka. Inilah

gaya

kepemimpinan Bambang yaitu ingin segera menuntaskan semua tugas-tugasnya. Bambang memiliki prinsip, saat pimpinan sedang rapat, bawahan mengerjakan dan menyelesaikan seluruh tugas

54

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


dari pimpinan. Sehingga begitu pimpinan selesai rapat, hasil awalnya yang merupakan pekerjaan dari bawahan dan perintah atasan, sudah selesai dilaksanakan. Sehingga semua pekerjaan dapat selesai dengan cepat. Berikut adalah Hak-Hak Tersangka yang ditempel di ruangan-ruangan pemeriksaan, sel Poltabes dan Polisi Sektor (Polsek). HAK – HAK TERSANGKA 1.

Tersangka berhak segera mendapat pemeriksaan oleh Penyidik.

2.

Tersangka berhak untuk diberitahukan dengan jelas dalam bahasa yang dimengerti olehnya tentang apa yang disangkakan kepadanya.

3.

Tersangka berhak memberikan keterangan secara bebas, tanpa paksaan dan tekanan.

4.

Tersangka berhak mendapat bantuan juru bahasa.

5.

Tersangka berhak mendapat Bantuan Hukum dari seorang atau lebih penasehat hukum dan berhak memilih sendiri penasehat hukumnya.

6.

Tersangka yang diancam Pidana lebih lima tahun dan tidak mempunyai Penasehat Hukum, Polisi wajib menunjuk Penasehat Hukum baginya.

Mencantumkan Hak-hak One Tersangka Days . . .

55


7.

Tersangka

yang

berkebangsaan

asing

dikenakan

penahanan, berhak menghubungi dan berbicara dengan perwakilan Negaranya. 8.

Tersangka yang dikenakan penahanan berhak menghubungi dan menerima kunjungan keluarga, dokter dan rohaniawan.

9.

Tersangka yang dikenakan penahanan, berhak diberitahukan tentang penahanan atas dirinya, kepada keluarganya atau orang yang serumah dengannya ataupun orang lain yang bantuannya dibutuhkan oleh tersangka untuk mendapatkan bantuan hukum atau jaminan bagi penangguhannya.

10. Tersangka berhak mengajukan saksi atau seseorang yang memiliki keahlian khusus guna memberikan keterangan yang menguntungkan bagi dirinya.

56

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


PRINSIP DASAR KEHIDUPAN

K

etika pertama kali memberikan arahan kepada para perwira sejajaran Polda Sulut, Bekto mengajak semua

yang hadir untuk merenungkan paparannya. Sebelum bertugas di Sulut, Bekto telah memiliki pengalaman berkunjung ke beberapa negara di lima benua. Beliau sudah mempelajari dan mengenal langsung budaya berbagai negara. Sedangkan untuk daerah-daerah di Indonesia, dari Sabang sampai Marauke dari Miangas sampai pulau Roti beliau sudah pernah mengunjunginya.

One Days . . .

57


Hal ini bisa penulis buktikan dengan cerita dan kisah tentang pengetahuan beliau pada kebudayaan dari suku-suku bangsa yang ada di Indonesia dan sejarah tempat-tempat terkenal di seluruh dunia. Beliau pernah mengatakan bahwa polisi sebelum bertugas harus mempelajari kebudayaan dan adat-istiadat masyarakat di mana dia akan bertugas. Hal ini sangat penting, agar polisi tersebut dapat segera beradaptasi dan diterima masyarakat. Ketika mendengarkan pernyataan beliau tersebut, penulis jadi teringat kenapa ketika kuliah di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) tahun 1994-1996, mahasiswa diajarkan mata kuliah Antropologi Hukum. Di bawah ini merupakan cuplikan dari ajakan Bekto sebagai renungan dan

untuk diimplementasikan dalam

kehidupan sehari-hari. Beliau memulai dengan menjelaskan tentang perbedaan

antara

negara

berkembang (miskin) dan negara maju (kaya) yang tidak tergantung pada umur negara itu. Contohnya India dan Mesir, yang umurnya lebih dari 2000 tahun. Mesir sudah terkenal pada jaman

58

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


Nabi Yusuf dan Nabi Musa. Hal itu tertulis di Injil dan Al Quran. Tetapi mereka tetap terbelakang (miskin). Di sisi lain Singapura, Kanada, Australia dan Selandia Baru adalah negara yang umurnya kurang dari 150 tahun dalam membangun. Saat ini mereka adalah bagian dari negara maju di dunia dan penduduknya tidak lagi miskin. Beliau juga menjelaskan bahwa ketersediaan sumber daya alam dari suatu negara juga tidak menjamin negara itu menjadi kaya atau miskin. Contohnya adalah Jepang. Negara ini mempunyai area yang sangat terbatas. Luas Daratannya terdiri dari 80% berupa

pegunungan

dan

tidak cukup untuk meningkatkan pertanian dan peternakan. Sering dilanda gempa dan bencana alam lainnya. Juga memiliki musim salju.

Prinsip DasarOne Kehidupan Days . . .

59


Tetapi, kita lihat dan ketahui bahwa saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor dua di dunia. Jepang laksana suatu negara “industri terapung” yang besar sekali, mengimpor bahan baku dari semua negara di dunia dan mengekspor barang jadinya. Beliau mengatakan, “Saya akan bayar jutaan rupiah, jika yang hadir di tempat ini di rumahnya atau setiap harinya tidak menggunakan barang elektronik atau pun kendaraan buatan Jepang.” Dalam hati saya berucap, “Ya, memang semua yang disampaikan beliau benar. Setiap hari kita pakai kendaraan buatan dan barang elektronik buatan Jepang.

Komputer

jinjing yang sedang saya pakai juga buatan Jepang.” Beliau menambahkan bahwa Swiss tidak mempunyai perkebunan coklat, tetapi kita kenal dan ketahui bahwa Swiss adalah negara pembuat coklat terbaik di dunia. Padahal luas Swiss sangat kecil, hanya 11% daratannya yang bisa ditanami. Swiss

juga

sebagai

negara

pengolah susu dengan kualitas terbaik di dunia. Kita ketahui bahwa perusahaan Nestle adalah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia, jualannya sampai ke seluruh dunia. Kemudian Swiss juga tidak mempunyai cukup reputasi dalam keamanan,

60

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


integritas dan ketertiban di negaranya. Namun saat ini bankbank di Swiss menjadi bank yang sangat disukai di dunia. Kabarnya semua koruptor Indonesia menyimpan uangnya di bank-bank Swiss. Para

eksekutif

(presiden/

perdana menteri) dari negara maju

yang

berkomunikasi

dengan temannya (sesama kepala negara) dari negara terbelakang akan sependapat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal kecerdasan. Bahkan kita

ketahui

bahwa

orang-

orang India saat ini adalah pakar komputer di dunia. Banyak perusahaan di negara-negara maju yang merekrut warga India sebagai karyawannya. Anak-anak Indonesia juga seperti kita ketahui mereka adalah juara-juara Olimpiade tingkat dunia di bidang Fisika, Biologi dan Kimia. Ras atau warna kulit juga bukan faktor penting. Para imigran

yang

dinyatakan

Prinsip DasarOne Kehidupan Days . . .

61


pemalas di negara asalnya ternyata menjadi SDM yang sangat produktif di negara-negara maju di Eropa. Lalu apa perbedaannya? Mengapa

bisa

berbeda?

Apa ada yang salah bagi masyarakat negara miskin atau berkembang? Di sinilah perbedaannya. Bekto menjelaskan bahwa bedanya adalah pada sikap atau perilaku masyarakatnya, yang telah dibentuk sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian atas perilaku masyarakat di negara maju, ternyata mayoritas penduduknya sehari-harinya mengikuti dan mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan. Apa sih prinsip-prinsip dasar kehidupan yang mereka laksanakan? Bekto menguraikannya satu-persatu. Kemudian penulis mencoba untuk mengulasnya yang dilengkapi dengan contoh-contoh yang ada. 1. Etika, sebagai prinsip dasar dalam kehidupan seharihari. Di negara kita yang terjadi adalah kebalikan dari yang disampaikan Bekto. Padahal masyarakat Indonesia terkenal dengan kebudayaan yang tinggi, sopan, ramah, senang

62

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


bergaul, hidup bergotong-royong. Semua itu sudah sejak lama tercantum dalam Dasar Negara Republik Indonesia yakni Pancasila. Namun saat ini anak-anak kita tidak dibekali dengan pendidikan etika yang memadai, tapi lebih banyak dicekoki oleh budaya liberal akibat kemajuan teknologi informasi dan media elektronik. Jaman dulu ada pelajaran budi pekerti, pendidikan moral Pancasila, pelajaran agama yang merupakan pelajaran wajib dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas. Saat ini porsi pengajaran etika sangat kurang. Kondisi itu diperparah dengan sikap para orangtua yang tidak memberikan contoh yang baik. Apalagi media-media televisi yang mempertontonkan berita dan sinetron dengan tema kekerasan, main hakim sendiri, anarkisme, reformasi yang kebablasan dan lainnya. 2. Kejujuran dan integritas. Saat ini mencari orang yang pintar gampang karena jumlahnya relatif banyak. Namun untuk menemukan orang yang jujur, sulit sekali. Itulah keluhan yang sering disampaikan sebagian masyarakat yang menjadi korban kejahatan penipuan dan penggelapan. Kejujuran, integritas dan ketulusan hati lambat laun menghilang dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Prinsip DasarOne Kehidupan Days . . .

63


Orang yang tertipu akibat iming-iming hadiah dari berbagai produk melalui anjungan tunai mandiri sangat banyak. Polisi sudah banyak menangkap dan memenjarakan penipunya di berbagai daerah di Indonesia. Namun sampai saat ini penipuan dengan kedok iming-iming hadiah produk masih juga terjadi. Itu muncul karena kejujuran dan integritas sudah tidak ada, sehingga penipu memanfaatkan masyarakat yang tamak, ephoria dan mau dapat rejeki dengan mudah. Akibatnya masyarakat yang bersikap seperti itu, dengan mudah masuk perangkap kejahatan. 3. Bertanggung jawab. Masyarakat di negara-negara maju, wajib memiliki rasa tanggung jawab. Kebiasaan ini, dilakukan sejak dari anak kecil sampai meninggal dunia. Penegakan hukum yang tegas dan mendidik, menjadikan tanggung jawab terhadap hukum, tugas, pekerjaan dan berbangsa serta bernegara dapat berjalan dengan baik dan benar. Di masyarakat kita nilai-nilai untuk bertanggung jawab tidak diberikan kepada anak-anak sejak dini, bahkan anak yang lebih besar dan orangtua cenderung memberi contoh yang tidak bertanggung jawab. Kita bisa melihat dari kehidupan sehari-hari yang membuang sampah tidak pada tempatnya, padahal sudah ada tempat sampah. Merokok di

64

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


tempat umum, padahal di sekitar itu ada ibu hamil dan orangorang tidak merokok. Berlalu lintas yang tidak benar. Lampu lalu lintas (lampu merah), rambu lalu lintas dan marka jalan ditabrak/dilanggar/diterobos, menyeberang sembarangan, tidak pakai helm dan sebagainya. Aksi vandalisme yaitu corat-coret dinding, pagar, tembok orang lain dan masih banyak rasa tidak bertanggung jawab lainnya dari hal kecil sampai kepada hal-hal yang besar, saat ini terjadi di Indonesia. Kalau masyarakat kita mau maju, sudah saatnya untuk berubah dengan mengajarkan, melatih dan melaksanakan rasa bertanggung jawab pada setiap individu. Pengawasan dan pemberian hukuman bagi yang tidak bertanggung jawab harus dilaksanakan dengan konsisten dan konsekuen. 4. Hormat pada aturan dan hukum masyarakat. Berbicara tentang aturan dan hukum, kenapa masyarakat kita sepertinya sudah tidak menghormati aturan dan hukum yang ada? Kemungkinan karena mereka tidak tahu, atau sudah tahu tapi pura-pura tidak tahu, atau memang bodoh alias sudah tahu tapi tidak mau menghormati. Akibatnya terjadi banyak kekacauan dan permasalahan pada bangsa dan negara Indonesia.

Prinsip DasarOne Kehidupan Days . . .

65


Melihat kondisi yang sangat parah tersebut, sudah saatnya hukum dan peraturan diajarkan, dilatihkan dan dipraktekan dari sedini mungkin mulai dari lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan kerja hingga lingkungan kehidupan sehari-hari. Ada yang bilang di Indonesia aturan dan hukum dibuat untuk dilanggar? Itu terjadi karena saat pembuatan hukum dan aturan sampai dengan pengesahannya sarat dengan pelanggaran hukum juga. Ada yang bilang lagi karena para penegak hukumnya juga ketika menegakan hukum banyak melakukan pelanggaran. Sebaiknya kita tidak saling menyalahkan, karena itu juga sama dengan tidak menghormati aturan dan hukum. Selagi belum terlambat, sekaranglah saatnya kita memandang ke depan dan berjalan bersama menuju masa depan Indonesia yang memiliki masyarakat yang menghormati aturan dan hukum yang dibuatnya sendiri. 5. Hormat pada hak orang atau warga lain. Sejak bergulirnya reformasi, sikap menghormati hak orang lain di masyarakat Indonesia semakin luntur. Kondisi itu terjadi karena saat proses reformasi, secara gamblang kepada kita semua dipertontonkannya perbuatan tercela dan memalukan yaitu tidak menghormati orang lain, melakukan penjarahan barang-barang milik orang lain dan bahkan sampai ada yang

66

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


berani merampas jiwa orang lain. Itu merupakan perbuatan yang dilakukan kelompok-kelompok yang mengatasnamakan kebebasan, reformasi, keadilan, agama, suku/ras dan namanama lainnya. Agar negara kita maju yang secara signifikan diikuti masyarakatnya, maka semua kebiasaan negatif tersebut harus diubah. Terutama yang perlu dilakukan adalah perubahan pola pikir. Juga harus memiliki rasa hormat pada hak-hak orang lain, saling mengasihi dan menghormati sesama makhluk ciptaan Tuhan. 6. Cinta pada pekerjaan. Pengalaman penulis ketika masih belajar di negara maju, masyarakat di sana walaupun menjadi pelayan rumah makan, kasir atau pelayan di hotel, mereka umunya sangat mencintai pekerjaannya. Ini dapat dilihat dari cara melayani tamu dan sorot mata serta senyum yang tulus dari mereka. Pernah suatu kali penulis tanya apa resepnya, mereka menjawab, “Because I have been loving my job�. Bukannya takut kehilangan pekerjaan atau dipecat, tetapi karena mereka memang cinta sama semua aktivitas yang dilaksanakannya. Karena itu, pantas saja semua berjalan tidak asal-asalan tetapi hampir sempurna.

Prinsip DasarOne Kehidupan Days . . .

67


Kebalikannya yang terjadi di negara kita yakni sangat memprihatinkan sebab banyak masyarakat Indonesia tidak mencintai pekerjaannya, malas, asal-asalan, yang penting selesai, ‘membunuh’ waktu daripada menganggur dan berbagai macam alasan lainnya. Juga ironisnya, sampai ada yang mau diajak dan disulut provokator untuk berbuat hal-hal yang negatif yakni demo, unjuk rasa, mogok kerja sampai tindakan yang anarkis seperti perusakan, penganiayaan dan kejahatan lainnya. Masyarakat Indonesia sudah saatnya mencintai pekerjaan, sedini mungkin harus ditanamkan keyakinan pada diri setiap individu bahwa pekerjaan itu adalah pemberian terindah dari Tuhan untuk manusia. Karena itu, apa pun jenis pekerjaannnya asal itu positif, harus dilaksanakan secara serius dan sungguhsungguh. Hasilnya dipersembahkan juga untuk Tuhan, Sang Pemberi pekerjaan itu. 7. Berusaha keras untuk menabung dan investasi. Jika mengulas soal menabung, waktu penulis masih SD ingat akan lagu “Menabung”-nya karya Titik Puspa. Sedangkan saat ini di setiap bank pasti ada slogan “Ayo ke Bank”, maksudnya ayo kita menabung. Tetapi ironisnya masyarakat dan pemerintah Indonesia bukan berusaha keras menabung

68

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


dan investasi, tetapi terkenal dengan sebutan tukang hutang, tukang kredit dan tukang pinjam. Kondisi itu, tidak jauh berbeda dengan kebiasaan keluarga anggota polisi di Sulut. Hampir 90% pasti mempunyai hutang, mempunyai kredit. Mungkin juga hampir semua anggota Polri seperti itu. Gaji kecil yang merupakan alasan klasik, sehingga menyebabkan itu terjadi. Saatnya kita harus berubah dan berusaha keras untuk menabung. Penulis mengilustrasikan bagi pemegang SIM pasti 99% tidak menabung untuk membayar perpanjangan SIM-nya lima tahun lagi. Jika kita prediksi dan anggaplah biaya perpanjangan SIM itu Rp 200.000 per SIM, pada lima tahun ke depan, kalau Rp 200.000 : 5 = Rp 40.000. Kemudian Rp 40.000 : 12 = Rp 3.400. Artinya si pemegang SIM setiap bulannya cukup menabung Rp 3.400, selama lima tahun. Ketika masa berlaku SIM-nya habis, untuk memperpanjangnya, ia tidak perlu memikirkan lagi mencari dananya. tinggal buka tabungannya yang setiap bulan selama lima tahun ditabungnya. Apa sih beratnya uang 3.400 rupia? Buat beli rokok saja tidak cukup. Untuk beli pulsa telepon aja tidak bisa karena harga pulsa paling rendah adalah Rp 5.000. Buat beli minuman mineral mungkin baru dapat sebotol. Jadi harga SIM itu murah sekali, kalau kita menabung.

Prinsip DasarOne Kehidupan Days . . .

69


8. Mau kerja keras. Setahu penulis, masyarakat Jepang terkenal sebagai pekerja keras. Mereka bukannya mau, tapi suka melakukan semua pekerjaannya. Kalau masyarakat Indonesia kebalikannya yakni suka bekerja santai. Semua pekerjaan kalau bisa ditunda, kalau bisa dipersulit kenapa mesti dipermudah. Nanti saja penuntasannya karena dunia belum kiamat. Masih ada waktu coy... dan slogan lainnya yang menyesatkan. Wajar saja orang Jepang sebagai produsen, sedangkan orang Indonesia konsumen. Beli bahan baku dari negara berkembang dengan harga super murah, diproses, diolah di negaranya atau di pabrik miliknya untuk menjadi barang jadi, kemudian dijual dengan harga super mahal ke negara berkembang. Kenapa itu terjadi? Penyebabnya karena masyarakat kita tidak mau bekerja keras atau belajar keras. Contoh sederhana yang umumnya terjadi di sekolah-sekolah. Kebanyakan para siswa hanya memasukkan ke otaknya yang dijelaskan gurunya, tanpa berusaha bekerja keras mencarinya dari sumber-sumber lainnya. Kebiasaan ini terbawa sampai setelah lulus sekolah, bekerja di perusahaan milik orang lain. Hasil kerjaannya sedikit tetapi meminta dan menuntut upah besar. Sekarang sudah saatnya untuk mengubah kebiasaan negatif tersebut. Negara ini kalau mau maju, membutuhkan

70

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


orang-orang

yang

mau

keluarganya,

membangun

bekerja

keras,

membangun

masyarakatnya,

membangun

bangsanya dan membangun negaranya untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 9. Tepat waktu. Disiplin dan menghargai waktu, merupakan keteladanan yang paling menonjol dari Bekto. Sejak beliau pertama kali bertugas di Sulut hingga sekarang ini, beliau secara konsisten menerapkan itu. Beliau tidak peduli siapa yang mengundangnya untuk datang ke suatu acara. Mulai dari rakyat kecil hingga gubernur, untuk urusan yang satu ini, mendapat perlakuan yang sama. Jika sudah tiba di tempat acara, namun lebih dari 30 menit acaranya tidak dimulai, maka Bekto tanpa ragu-ragu akan meninggalkan tempat tersebut. Beliau sengaja bersikap tegas tersebut, sebab jadwal beliau yang setiap harinya sangat padat, sudah tertata rapi, jelas dan terencana. Jadi kalau molor jamnya, akan mengganggu acara lainnya. Kebiasaan positif Bekto tersebut membuat para pejabat dan masyarakat menjadi lebih disiplin khususnya mengenai waktu. Mereka umumnya akan tepat waktu memulai acaranya terutama jika mengundang Bekto. Bahkan yang kelihatannya konyol tapi nyata yakni undangan untuk

Prinsip DasarOne Kehidupan Days . . .

71


beliau, sering dibedakan dengan untuk undangan lainnya. Contohnya jika Bekto diundang pukul 09.00 Wita maka yang lainnya diundang pukul 08.00 Wita, sehingga ada toleransi telat sekitar satu jam. Ketepatan waktu dalam hidup ini harus dilaksanakan. Ciri orang yang tidak disiplin adalah tidak mengerti membuat perencanaan dan tidak menghargai hak orang lain. Itulah sebutan yang tepat bagi mereka yang suka pakai jam karet. Kalau sudah tidak tepat waktu akibatnya proses ‘roda’ pekerjaan pun tidak berputar dengan baik, bahkan merusak ke bagian lainnya. Untuk itu, Jadilah orang yang selalu menghargai waktu. Waktu yang diberikan kepada setiap orang, tidak akan pernah bisa diulang lagi. Kita tidak akan bisa kembali ke waktu lama. Inga...inga...inga... Ketika penulis datang ke Manado dan menghadiri beberapa undangan dinas dan pribadi, beberapa kali penulis kecele dan kecewa. “Kacian deh,� kata orang yang sudah lama tugas di Manado. Kecelenya begini, undangan pukul 10.00 Wita, tapi ternyata acaranya dimulai satu sampai dengan dua jam kemudiannya. Parah lagi kalau undangan pernikahan pukul 19.00 Wita tertera diundangan, makan resepsinya pukul 23.00 Wita. Ini makan malam atau sahur?

72

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


Time is money tidak berlaku di Manado. Time is late terjadi di mana-mana bahkan sampai ke gereja untuk berbakti kepada TUHAN ada yang terlambat juga. Bekto mengatakan bahwa ternyata di negara-negara terbelakang atau miskin, hanya sebagian kecil (minoritas) masyarakatnya mematuhi prinsip dasar kehidupan tersebut. Kondisi itu berbeda dengan negara-negara maju dan kaya yang mayoritas masyarakatnya melakukan sembilan prinsip dasar kehidupan, dalam hidupnya sehari-hari. Masyarakat kita bukan miskin atau terbelakang karena kurangnya sumber daya alam atau karena alam yang kejam kepada kita. Tetapi kita terbelakang atau lemah atau miskin karena perilaku kita yang kurang terpuji atau tidak baik. Kita kekurangan kemauan untuk mematuhi dan mengajarkan prinsip dasar kehidupan yang berakibat masyarakat kita tidak maju di semua aspek kehidupannya. Bekto menegaskan, “Jika Anda tidak meneruskan pesan ini, tidak akan terjadi apa-apa pada diri Anda. Hewan peliharaan Anda tidak akan mati, Anda pun tidak akan kehilangan pekerjaan, Anda pun tidak akan mendapat kesialan dalam tujuh tahun, juga Anda tidak akan sakit. TETAPI‌ jika Anda tidak meneruskan pesan ini, tidak akan terjadi perubahan apaapa dalam negara kita. Negara kita akan tetap berlanjut dalam kemiskinan‌ dan akan menjadi lebih miskin lagiâ€?.

Prinsip DasarOne Kehidupan Days . . .

73


Bekto mengakhiri arahannya dengan menyampaikan ajakan ke seluruh yang hadir. “Jika Anda mencintai negara ini, teruskan pesan ini kepada teman-teman Anda. Biarlah mereka merefleksikan hal ini. Kita harus mulai dari mana saja. Kita ingin BERUBAH dan BERTINDAK!� PERUBAHAN DIMULAI DARI DIRI KITA SENDIRI Saatnya berubah (change), because the world is change...!!!

74

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


PERMASALAHAN MIRAS

B

eberapa minggu mulai bertugas sebaga Kapolda Sulut, Bekto merasa resah dengan permasalahan kejahatan di

Sulut yang ternyata sumbernya dari kejahatan jalanan (street crimes). Sebelum melakukan aksinya, para penjahat tersebut lebih dulu mengkonsumsi minuman keras (miras).

One Days . . .

75


Mengatasi

itu,

Bekto

mengajak

Bambang

dan

penulis berdiskusi mengenai permasalahan sekitar miras. Sepengetahuan penulis selama ini memang sangat banyak beredar miras di Sulut. Bahkan jumlahnya mungkin hampir sama banyaknya dengan peredaran minuman ringan (soft drink). Lihat saja di seluruh supermarket di Manado, betapa bebasnya, hampir tidak ada batasannya, dalam penjualan miras. Belum lagi yang dijual di warung-warung. Ada yang berijin dan banyak pula yang tidak memiliki ijin. Para pembelinya juga tidak dibatasi usia dan jenis kelamin. Sepertinya semua orang bisa membeli dengan bebas. Situasi ini rasanya lebih parah dibandingkan dengan di Texas, Amerika Serikat (AS). Sewaktu penulis berkesempatan sekolah di New Mexico, AS, pada bulan September-Oktober 2008, penulis melihat bahwa

penjualan dan orang-orang yang mengkonsumsi

miras diatur dengan undang-undang negara bagian yang demikian ketat dan konsekuen. Para pemabuk menjadi target operasi yang utama bagi kepolisian di negara bagian tersebut. Tindakan tegas dan tidak mengenal kompromi dilakukan para penegak hukum di sana. Kembali kepada kegelisahan Bekto. Suatu hari penulis dan beliau sama-sama berada di Jakarta. Waktu itu penulis membawa tim Pameran Inovasi Pelayanan Birokrat di Parkir

76

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


Timur Senayan Jakarta. Sedangkan Bekto menghadiri pelaksanaan penandatanganan kesepakatan bersama di Istana Wakil Presiden di jalan Merdeka Selatan Jakarta. Pada kesempatan itu, kami sempat bertemu untuk diskusi. Bekto membicarakan soal miras dengan penulis. Beliau mengatakan kalau dibiarkan seperti ini maka masyarakat Sulut akan menderita kerusakan kesehatannya. Miras dari mulai cap Tikus sampai cap pabrikan yang memang banyak diberi ijin oleh pemerintah daerah, dalam peredarannya tidak ada yang mengontrol dan mengendalikan persentase kadar alkoholnya. Kemungkinan besar rata-rata di atas 40%. Inikan akan membahayakan bagi kesehatan masyarakat Sulut. Pantas saja di provinsi ini, relatif sulit mencari bibit-bibit calon polisi. Dalam ujian kesehatan mereka sudah pada berguguran dan tidak lulus. Mengenai ini, ada cerita menarik ketika Bekto melakukan tatap muka dengan masyarakat. Pada sesi dialog, ada seorang Ibu yang protes dan mengatakan bahwa, “Banyak anak-anak petani cap Tikus berhasil menjadi pejabat dan sarjana karena dari penjualan miras cap Tikus tersebut. Berkaitan dengan itu, kami keberatan jika Kapolda melarang dan membatasi produksi dan penjualan miras ini.� Cap Tikus adalah nama minuman keras hasil sulingan dari pohon Enau (pohon Aren) yang banyak tumbuh di Sulut

Permasalahan One Days Miras ...

77


terutama di Minahasa. Padahal sebelum disuling, pohon Enau dapat dibuat gula Merah (gula Aren) yang harganya lebih mahal daripada cap Tikus. Namun pembuatan gula Merah sangat melelahkan, memerlukan tenaga dan waktu yang panjang, dibandingkan membuat cap Tikus yang pembuatannya tidak memerlukan tenaga dan waktu khusus. Cukup dipanaskan kemudian uapnya ditampung menjadi air miras cap Tikus. Kembali lagi ke cerita menarik tadi tentang protesnya seorang Ibu kepada Bekto, beliau dengan tenang namun tegas, menjawab, “Coba bayangkan dan renungkan, berapa banyak anak keluarga petani cap Tikus yang menjadi pejabat dan berhasil dalam karirnya. Bandingkan dengan orang-orang yang mati dan masuk penjara gara-gara minum miras cap Tikus buatan petani cap Tikus. Kematian akibat miras tersebut bukan hanya dialami orang-orang yang tinggal di Sulut saja, tetapi juga orang-orang yang di Maluku, Ternate, Papua bahkan tempat lain. Belum lagi yang menjadi korban akibat perbuatan orang yang mabuk tersebut. Pastinya akan lebih banyak yang menderita dibandingkan dengan keluarga petani cap Tikus yang berhasil.� Mendengar jawaban itu, Ibu tersebut dan seluruh yang hadir terdiam. Khusus Ibu yang semula sangat bersemangat menyampaikan protesnya kepada Bekto, kelihatannya malu setelah argumentasinya dipatahkan oleh Bekto.

78

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


Di hari lain, tanpa disengaja, Bekto dan penulis bertemu dengan seorang pemuda yang lulusan dari Oxford University, AS, yang bernama Nico dan adiknya Audi. Ia punya pengalaman dan pengetahuan yang cukup bagus dalam menjelaskan berapa kadar alkohol dan zat berbahaya lainnya yang terkandung dalam air miras cap Tikus. Ia bekerja di pabrik Gulaku dan kesehariannya juga berkutat dengan metanol dari pohon Tebu, bahan dasar gula. Sehingga pantas saja dengan fasihnya dia menjelaskan hal itu kepada kami. Dari penjelasannya, disimpulkan bahwa sebenarnya cap Tikus dapat diolah menjadi zat metanol alternatif pengganti BBM, yang pada waktu kami berdiskusi tersebut, harganya sedang mahal. Namun proses merubah air cap Tikus menjadi pengganti BBM, memerlukan biaya yang mahal dan proses pengolahan yang rumit. Nico mempresentasikannya secara detil prosesnya secara kimia melalui komputer jinjingnya. Dari paparannya, tergambar bahwa untuk memproses menjadi BBM, memerlukan modal investasi yang besar. Namun

hasilnya juga akan cukup

mengembalikan modal investasi yang dikeluarkan tersebut. Sayang sekali rasanya kalau proses pembuatan BBM tersebut tidak dimulai dari sekarang, di tengah krisis BBM yang melanda dunia. Semoga ada investor yang tertarik untuk menanamkan modalnya.

Permasalahan One Days Miras ...

79


Sekembalinya dari Jakarta, Bekto melakukan kebijakan yang cukup ketat dengan mengontrol jumlah produksi pabrik-pabrik miras melalui kerja sama dengan instansi terkait. Rupanya telah terjadi penggelembungan produksi yang dilakukan oleh pabrik-pabrik miras tersebut. Antara ijin produksi dan penjualan produksi tidak sama, terjadi selisih yang cukup signifikan. Selain itu kontrol kadar alkohol juga diperketat dan harus sesuai dengan ketentuan. Koordinasi dengan pemerintah daerah (Pemda) dalam penerbitan ijin produksi petani cap Tikus dan pembeli cap Tikus juga diperketat. Para petugas patroli di semua satuan wilayan (Satwil) diwajibkan untuk menangkap para pemabuk di jalanan. Dalam mengendalikan peredaran miras dan orang-orang yang suka mabuk, polisi mengedepankan para patrolman yang tergabung pada patroli rayon, untuk menangkapi para pelaku yang mabuk di jalan. Bekto mengatakan, meminum miras boleh tapi jangan di jalan atau di area publik yang dapat mengganggu ketertiban umum. Beliau menyarankan agar minumnya di rumah dan di kamar masing-masing. Silakan kunci pintu, minum sepuasnya. Boleh mabuk, asal jangan keluar dari kamar sehingga tidak mengganggu orang lain. Di samping itu, polisi terus mengadakan kerja sama dan

80

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


berkoordinasi secara intens dengan pihak Pengadilan Negeri, untuk mau menerima berkas Tindak Pidana Ringan (Tipiring), cukup dengan berkas yang benar-benar singkat, tidak tebaltebal. Sedangkan pelaksanaan sidangnya setiap hari karena pasti ada saja yang tertangkap sedang mabuk. Setelah semua jajaran yakni kepolisian dan kejaksaan melakukan tindakan konkrit, dengan bantuan informasi dari masyarakat, para pemabuk dan penjual miras liar dapat ditangkap, kemudian didata. Identitasnya dimasukan dalam file data base komputer, lengkap dengan fotonya, sidik jari dan hukumannya. Sejak diterapkannya secara konsisten kebijakan tersebut, kebiasaan mabuk-mabuk di jalan jauh berkurang. Terkait dengan itu, secara signifikan angka kejahatan juga menurun. Ternyata umumnya para penjahat sebelum melakukan aksinya, untuk menimbulkan keberanian dalam dirinya, lebih dulu mengkonsumsi miras. Setelah siang malam dirazia dan ditangkapi, angka kejahatan juga berkurang. Dulu Manado dan sekitarnya terkenal dengan kota yang penuh pemabuk. Sekarang di sudut-sudut kota tidak ditemukan lagi yang mabuk, karena kalau ada yang mabuk pasti masyarakat menelepon dan menghubungi polisi. Kurang dari 10 menit, polisi akan datang dan menangkap pemabuk itu.

Permasalahan One Days Miras ...

81


Ketika perayaan Malam Tahun Baru 2008, angka kejahatan akibat miras dan angka yang mabuk-mabukan jauh berkurang dan hampir dikatakan tidak ada kejadian yang menonjol. Mudah-mudahan ini akan tetap berlangsung, dan masyarakat Sulut semakin sadar bahwa minum miras itu HARAM dilarang AGAMA mana pun juga.

82

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


PERMASALAHAN LALU LINTAS

B

ekto sering mengatakan bahwa masalah lalu lintas (Lantas) di seluruh Indonesia disebabkan faktor manusia

yang tidak melaksanakan prinsip dasar kehidupan. Para sopir banyak yang tidak bertanggung jawab dan tidak menghargai peraturan serta hak-hak orang lain, yang juga memiliki hak dalam memakai jalan.

One Days . . .

83


Kebijakan beliau dalam memecahkan masalah Lantas, seperti kemacetan dan pelanggaran Lantas adalah dengan mengedepankan para petugas yang benar-benar mencintai pekerjaannya sebagai petugas polisi lalu lintas (Polantas). Para Polantas harus sesering mungkin memberikan pendidikan ke masyarakat tentang hal-hal yang preventif seperti pengaturan dan penjagaan Lantas di setiap penggal jalan. Jika ada pemakai jalan yang melakukan pelanggaran Lantas, segera dilakukan peneguran dengan surat teguran melalui sikap simpati. Sedapat mungkin hindari pemberian surat bukti pelanggan (tilang). Tapi jangan tidak memberi teguran karena masyarakat nanti tidak tahu kesalahannya. Dalam

bidang

pelayanan

penerbitan

surat

ijin

mengemudi (SIM), surat tanda nomor kendaraan (STNK) dan bukti kepemilikan kenderaan bermotor (BPKB), Bekto secara tegas melarang para Kapolres, Kapoltabes dan Direktur Lantas mengutip uang di luar pembayaran negara bukan pajak (PNBP) alias melakukan pungutan liar (pungli). Juga harus mengedepankan aspek pelayanan yang lebih cepat (quicker), ebih mudah (easier), lebih murah (cheaper) dan lebih baik (better). Kemudian hari, tindakan dan kebijakan Bekto diadopsi oleh Mabes Polri sebagai contoh dalam melakukan akselarasi program kegiatan membangun reformasi birokrasi pelayanan Polri. Artinya pemikiran Bekto

84

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


dan implementasinya tersebut diapresiasi oleh Mabes Polri dan secara bertahap diterapkan di seluruh Polda di Indonesia. Sebelum Bekto bertugas di Sulut, masih menjadi pembicaraan negatif dan menimbulkan masalah di masyarakat tentang maraknya pungli untuk pengurusan surat-surat tersebut. Pada kenyataannya di lapangan, ada oknum-oknum polisi yang mengambil keuntungan untuk dirinya saat melayani masyarakat mengurus surat-surat tersebut. Bekto dengan gayanya yang khas dan untuk halhal yang prinsip tidak mau kompromi sedikit pun juga, meminta kepada seluruh jajarannya agar menghentikan kebiasaan yang merugikan masyarakat tersebut. Sebaliknya mengkampanyekan pelayanan yang cepat, murah dan lebih baik. Implementasinya adalah melakukan pengawasan melekat di internal masing-masing kantor polisi yang melayani suratsurat tersebut. Setiap perwira mendapat tugas menjadi pengawas secara bergantian pada loket-loket pelayanan. Anggota yang kedapatan melanggar, mendapat sanksi hukuman sesuai dengan pelanggarannya dan memutasikan mereka ke bagian lain. Berkaitan dengan itu terutama untuk mengurangi kemacetan Lantas, Bekto membuat kebijakan berani dan agak kontroversi di internal Polri. Setiap pagi di hari kerja, beliau

Permasalahan One Lalu-lintas Days . . .

85


menurunkan seluruh anggota polisi di jalan-jalan terutama yang rawan kemacetan dan tidak mewajibkan pelaksanaan apel pagi. Menurut perhitungannya kegiatan apel pagi memerlukan waktu waktu sekitar satu jam. Padahal saat itu masyarakat membutuhkan kehadiran polisi untuk mengatur dan menjaga Lantas. Setelah menurunkan seluruh anggota polisi setiap pagi, Bekto juga memerintahkan kepada para Kasatwil untuk mewajibkan seluruh anggota di malam Minggu atau hari Libur, turun bersama-sama memberikan pelayanan penjagaan dan pengaturan Lantas. Mencontoh dan memodifikasi pelaksanaan tugas di mana para Polantas memakai sepatu roller blade (semacam sepatu roda) kemudian menuju daerah macet. Jika memakai mobil patroli atau pun sepeda motor patroli, tentunya akan menambah kemacetan dan jalanan menuju ke tempat macet akan terhambat. Setibanya di lokasi macet, Polantas tersebut tidak perlu cari tempat parkir, untuk memarkirkan kendaraannya namun langsung bertugas mengurai kemacetan. Inilah yang menjadi kebijakan Bekto. Jalanan Manado yang kecil dan sempit (untung saja tidak ada kaki lima), cukup menyulitkan kendaraan patroli yang menggunakan roda empat dalam berakselarasi di jalanan seperti itu. Sehingga sangat tepat

86

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


kalau melaksanakan penguraian kemacetan menggunakan roller blade. Inovasi lainnya yang dilakukan Bekto adalah dengan memerintahkan para Kepala Biro (Karo) dan Direktur pada malam Minggu untuk berpatroli dengan menyalakan lampu rotator dengan rute pergi-pulang Manado-Tomohon, Sekitar Manado, Manado-Amurang dan Manado-Air Madidi. Semua kebijakan di bidang Lantas yang diputuskan Bekto, membuat efek jera terutama bagi mereka yang berniat jahat kepada masyarakat. Di sisi lain, masyarakat akan semakin merasa aman karena banyaknya mobil dan sepeda motor patroli yang melakukan patroli. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan masyarakat yang tidak baik, ketika mengantar jenazah ke pemakaman dengan tanpa pengawalan pihak kepolisian. Akibatnya terjadi kesemrawutan lalu lintas yang menimbulkan kemacetan lalu lintas dan yang berdampak pada kerugian bagi pengguna lalu lintas lainnya. Terobosan dalam bidang pelayanan masyarakat yang dilakukan Bekto adalah mewajibkan para petugas kepolisian terutama fungsi lalu lintas membuka layanan pengawalan gratis kepada masyarakat yang membutuhkan. Ketika di wilayahnya dijumpai adanya rumah kedukaan (orang meninggal), Polisi wajib mendatanginya dan menawarkan untuk melakukan pengawalan lalu lintas

Permasalahan One Lalu-lintas Days . . .

87


dari rumah duka ke tempat pemakaman, ini sebagai bentuk pelayanan masyarakat yang menggunakan management pro aktif policing.

88

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


KEJAHATAN ILLEGAL FISHING

S

uatu terobosan yang menakjubkan dari Bekto adalah selalu menekankan kepada seluruh jajarannya agar

senantiasi berpikir yang luar biasa sehingga menghasilkan sesuatu yang luar biasa juga. Istilah itulah yang sering beliau sampaikan dan tekankan kepada para perwira di Polda Sulut.

One Days . . .

89


Hal yang luar biasa tersebut, dilakukan beliau dalam rangka melakukan penegakkan hukum kejahatan illegal fishing di Polda Sulut. Provinsi ini adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kekayaan hasil laut yang sangat banyak. Jika Anda simak berita-berita di koran dan televisi, di kepulauan Sangihe dan Talaud serta sekitarnya, pada musim-musim tertentu, nelayannya mendapatkan ikan yang melimpah-ruah. Sehingga banyak ikan laut yang dikeringkan dan bahkan dibuang kembali ke laut. Belum lagi kekayaan berupa terumbu karang dan plankton laut yang dapat menghasilkan atau mengeluarkan O2 (oksigen) yang setaraf dengan pohon-pohon di hutan belantara dan menyerap CO2 (karbon dioksida) yang biasanya dikeluarkan manusia dan makhluk lainnya. Sehingga hal ini membantu proses sirkulasi udara dan mencegah terjadinya pemanasan global (global warming) yang ditakutkan oleh negara-negara maju di dunia ini. Hasil laut lainnya banyak, di antaranya adalah rumput laut . Namun sangat disayangkan pada kenyataannya yang menikmati kekayaan laut di Sulut bukan orang daerah ini, tetapi cukong-cukong (oknum penjahat) dari negara tetangga seperti Filipina yang mengambil hasil laut Sulut. Melihat hal tersebut, Polri dan pihak Kepolisian Filipina mengadakan

90

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


kesepakatan

untuk

mencegah

terjadinya

kejahatan

antarnegara (transnasional crime). Dari perjanjian ini, beliau dengan niat yang tulus untuk mencegah kerugian yang lebih besar lagi pada negara dan masyarakat di Sulut, maka diperintahkan kepada Direktur Serse Kriminal (Reskrim) Polda Sulut Kombes Pol Drs Sigit berangkat ke Davao, Filipina, untuk melakukan penyelidikan. Hasilnya, ditemukan bahwa ternyata modus operandi para penjahat adalah setiap kapal yang mereka miliki, mempunyai dua dokumen atau surat-surat yang berlaku di dua negara (Indonesia dan Filipina). Praktek ini sudah bertahun-tahun dilakukan para cukong dan nelayan Indonesia. Tanpa disadari, para nelayan tersebut, dibohongi para penjahat di Davao, Filipina. Tidak hanya berhenti sampai di situ saja, beliau kelihatannya sangat bersemangat untuk menuntaskan masalah pencurian ikan itu. Tindakan beliau berikutnya adalah membawa para Kepala Polisi Resort (Kapolres) kepulauan yang terdiri dari Polres Talaud dan Polres Sangihe serta Polres Bitung dan Direktur Polisi Air Kombes Pol Yulius Hanafi, Direktur Intel dan Keamanan (Intelkam) Kombes Pol Drs Denni Gapril dan Direktur Reskrim Kombes Pol Drs Sigit, untuk membicarakannya hal itu dengan pihak Kepolisian Filipina di Davao dan Manila. Langkah ini merupakan

sebuah terobosan yang brilian. Selama ini,

Kejahatan Illegal One Days Fishing ...

91


belum pernah ada seorang Kapolda mengajak stafnya untuk melakukan perundingan antarnegara. Biasanya, paling banter mengajak jalan-jalan saja ke satu negara. Ketika penulis tanyakan mengapa Bekto melakukan itu? Beliau menjawab, “Para perwira muda juga harus belajar bagaimana bernegoisasi, berkoordinasi dan bekerja sama dengan kepolisian negara lain. Jangan merasa minder atau tidak mampu. Polri disegani oleh negara-negara maju apalagi negara-negara tetangga. Buktinya saya pernah diminta ceramah di kantor-kantor pusat kepolisian di negara maju seperti di Amerika Serikat, Inggris, Australia, Jepang dan tentang kiat dan strategi menangkap teroris yang jumlahnya ratusan orang.� Penjelasan dan contoh nyata yang diberikan beliau tersebut merupakan keteladanan yang luar biasa. Seorang Kapolda yang rendah hati,

yang mau mewariskan ilmu-

ilmunya buat generasi berikutnya. Tindakan tegas dan nyata di lapangan adalah dengan keberhasilan Polda Sulut pada Oktober hingga November 2008 menangkap 26 kapal nelayan yang melakukan pelanggaran dokumen dan kejahatan illegal fishing. Untuk melengkapi informasi itu, di bawah ini kutipan dari berbagai media tentang keberhasilan Polda Sulut tersebut.

92

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


POLRI TAHAN 26 KAPAL FILIPINA JAKARTA (SINDO)–Mabes Polri menahan 26 kapal penangkap ikan milik Filipina karena melakukan kegiatan illegal fishing di perairan Sulawesi Utara (Sulut). Selain puluhan kapal yang mampu memuat 3.000 ton ikan tersebut, Polri juga menahan 19 warga negara Filipina yang menjadi anak buah kapal (ABK) tersebut. Ke-19 warga Filipina itu kini masih ditahan di Polda Sulut sambil menunggu untuk dideportasi pihak Imigrasi. Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Pol Bambang Kuncoko kepada SINDO mengatakan, penangkapan 26 kapal kasus illegal fishing tersebut merupakan yang terbesar selama operasi jaring yang dilakukan Polri sejak 17 November hingga 18 Desember tahun ini. “Polri menyita 26 kapal milik Filipina saat melakukan penangkapan ikan di perairan Indonesia,� katanya, kemarin. Kapolda Sulut Brigjen Pol Bekto Suprapto mengungkapkan, kapal-kapal tersebut ditangkap ketika sedang berlabuh di Pelabuhan Bitung, Sulut. Mantan Kepala Detasemen Khusus 88 Mabes Polri ini menceritakan, untuk menangkap pelaku illegal fishing tersebut, Polri bekerja sama dengan Kepolisian Filipina, yakni Kepolisian Filipina mengirim berkas-berkas kapal yang sering menangkap ikan dan mengubah namanya dengan nama kapal Indonesia.

Kejahatan Illegal One Days Fishing ...

93


“Selanjutnya, Polri melakukan penyelidikan. Hasilnya ditemukan beberapa kapal yang sering berlabuh dan suratnya sudah diubah dengan mengatasnamakan pemilik dari Indonesia. Padahal, kapal tersebut milik pengusaha Filipina,” jelas Bekto kepada SINDO. Menurut Bekto, selama mencari ikan di perairan Indonesia, ke-26 kapal tersebut menggunakan surat-surat palsu seolaholah kapal itu milik warga negara Indonesia. ”Mereka itu berbendara ganda, pakai bendera Indonesia saat di perairan kita, tapi saat di perairan Filipina menggunakan bendera mereka,” tegasnya. Bekto mencurigai ada pejabat Pelabuhan Bitung yang terlibat dalam pembuatan surat- surat tersebut hingga seolah-olah milik warga negara Indonesia. Pasalnya,

kapal-kapal

itu

sudah

bertahun-tahun

melakukan penangkapan ikan secara ilegal di perairan Indonesia. Selain pemalsuan surat, Polri juga menemukan ukuran gross tonase kapal-kapal tersebut juga tidak benar, sehingga negara dirugikan dua kali, yakni karena menangkap ikan secara ilegal dan masalah pajak kapal. Saat diperiksa, para pelaku mengaku jika ikan hasil tangkapan tersebut dikirim ke Bitung untuk dijual. Padahal, penelusuran Polri setelah menangkap ikan, mereka (26 kapal) langsung mengirim ikan tersebut ke Filipina. “Atas ulah warga negara Filipina itu, Indonesia dirugikan triliunan rupiah,” jelas dia.

94

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


Direktur Reserse dan Kriminal Polda Sulut Kombes Pol Sigit Triharjanto menjelaskan, saat akan menangkap pelaku, pihaknya harus bolak-balik ke Filipina untuk mendapatkan data terkait kapal yang berlabuh di Bitung. Sebelum melakukan operasi, Sigit membentuk tim yang berjumlah 10 orang. Tim tersebut dibagi dua, yang pertama, berangkat ke Filipina dan tim yang kedua melakukan penyelidikan di Indonesia. Sebelum berangkat, timnya sudah menyelidiki kapal-kapal yang sering berlabuh di Bitung. �Saya ke Filipina mengambil data-data kapal yang sudah berpindah tangan kepemilikan, mereka biasanya telah mengubah nama kepemilikan dalam surat-surat kapal. Padahal, itu hanya kedok saja untuk mengelabui petugas keamanan kita,� jelasnya. Dengan berbekal data-data tersebut, Polda Sulut berhasil menangkap seluruh kapal yang sudah berganti nama, seolaholah dimiliki warga negara Indonesia itu. Selain 19 ABK asal Filipina yang ditangkap, Polri juga mengamankan seorang pengusaha kapal asal Indonesia yang mengakui kapal tersebut adalah miliknya. �Dia mengaku memiliki kapal tersebut, tapi waktu kita minta menunjukkan surat-surat kapal, pengusaha itu tidak bisa menunjukkan,� tandasnya. Sigit menambahkan, para pengusaha Filipina memang biasa memanfaatkan pengusaha Indonesia untuk tujuan penangkapan ikan di Indonesia. (helmi syarif) dikutip dari : http://www.santaiaja.com/archive/index.php/t-207.html Kejahatan Illegal One Days Fishing ...

95


ASYIKNYA MENJARAH IKAN DI LAUT INDONESIA Oleh : Maya Handhini BITUNG-Hujan yang kerap turun belakangan ini, membuat Kota Bitung, Manado, Sulawesi Utara (Sulut) menjadi sepi dari lalu lintas kendaraan. Padahal, di saat tidak hujan, kota di sebelah selatan Manado ini biasanya cukup ramai dikunjungi para nelayan yang akan berlayar mencari ikan. Tampak di pelabuhan berjejer kapal-kapal nelayan yang tidak turun melaut, saat akhir pekan kemarin. Dari banyaknya kapal yang bersandar pada siang itu, terdapat sejumlah kapal asing hasil tangkapan polisi. Kapal ini melakukan pencarian ikan di wilayah Polda Sulut dengan menggunakan bendera Indonesia. Kapal asing itu memburu ikan jenis tuna, cakalang dan kakap merah di laut Indonesia untuk dijual di luar negeri. Kehadiran kapal berbendera Indonesia ini sebelumnya luput dari pantauan petugas Polda Sulut. Selama dua tahun, kapal asing itu dengan leluasanya mencari ikan tanpa izin di wilayah laut utara dan timur Indonesia. Hasil tangkapan ikan bernilai jual tinggi di pasaran internasional ini diangkut ke beberapa negara, yaitu Filipina, Taiwan, Thailand, Jepang dan negara-negara asing lainnya.

96

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


Dokumen-dokumen Palsu Menurut Kapolda Sulut Brigjen Pol Bekto Suprapto, berdasarkan hasil investigasi aparatnya ditemukan fakta unik. Pada saat kapal telah penuh dengan hasil ikan curian, penampilannya akan berubah seketika bertolak ke negaranegara tujuan. Perubahan ini terletak pada benderanya. Bendera Indonesia yang semula digunakan saat menangkap ikan di laut Indonesia akan berganti dengan bendera-bendera negara tujuan sesampainya di laut lepas. “Kecurigaan inilah yang membuat Polda Sulut melakukan pengamatan selama tiga minggu. Hasilnya, diketahui sebanyak 14 kapal asing itu telah melakukan pencurian ikan di perairan Indonesia. Ikan-ikan berharga jual tinggi, yang bebas beredar di pasaran internasional, mereka jarah selama kurang lebih dua tahun lamanya,� kata Kapolda kepada SH di Manado, akhir pekan lalu. Berbekal kecurigaan, Kapolda memerintahkan jajarannya menelusuri kepemilikan kapal di lima negara. Ternyata, kapalkapal asing itu tidak hanya mengganti benderanya saja agar dapat melakukan illegal fishing di laut Indonesia. Para pelaut asing itu pun telah menggandakan dokumen kepemilikan kapal. Dengan menggandakan dokumen, kapal asing tersebut akan bebas dari pemeriksaan kapal patroli keamanan

Kejahatan Illegal One Days Fishing ...

97


Indonesia. Jadi, selama dua tahun, 14 kapal asing ini tidak pernah membayar pajak dan pungutan lainya saat berlayar di perbatasan laut utara dan laut timur Indonesia. “Akibatnya, negara dirugikan sedikitnya Rp 135 miliar oleh ke-14 kapal asing yang menggunakan bendera Indonesia. Kejahatan yang mereka lakukan tidak hanya soal pemalsuan dokumen saja, namun juga karena kapal asing itu telah memakai bahan bakar minyak (BBM) subsidi yang dibeli dari aparat Pertamina di daerah,� bebernya lagi. Jatah Minyak Selain dokumen kapal, dokumen pembelian minyak subsidi juga mereka gandakan. Terbongkarnya dokumen pembelian minyak ini, menurut Kasat III Direktorat Reserse Umum Polda Sulut AKBP Audy Manus, setelah ada kecurigaan dari data yang ada pada saat ke-14 kapal asing ini mengambil jatah minyak subsidi di Pertamina. “Pengambilan jatah minyak subsidi dari Pertamina oleh 14 kapal asing membuat langkanya minyak di pasaran. Akhirnya, pemerintah sering menambah pasokan BBM subsidi untuk kebutuhan masyarakat yang pada saat itu sangat membutuhkan BBM,� ujar Audy Manus pada akhir Oktober lalu. Baik Kapolda maupun Kasat III Dirserseum menjelaskan, untuk membongkar adanya kejahatan illegal fishing di Manado

98

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


hanya dibutuhkan biaya sehari-hari dari dana kas yang ada. Dari dana kas itulah polisi berhasil menahan empat pengusaha yang telah melakukan kejahatan illegal fishing dengan kerja sama para pemilik kapal asing. Keempat pengusaha tersebut adalah Maya Lengkong (CV Citra Taruna Nusantara), Lina Utiarahman (PT Virgo Internusa), Gerard Kaunang (PT Imanuel Karya) dan Richard Manambing (PT Phindo). Menurut Audy, dari keterangan empat tersangka, selama ini kapal itu tidak pernah berlabuh di pelabuhan Indonesia sebagaimana mestinya. “Coba saja hitung. Sekali tangkap, kapal asing itu dapat sedikitnya 50 ton ikan dengan harga jual yang berbeda-beda,� kata Audy Manus lagi. Angka kerugian negara ini masuk akal. Menurut data yang diperoleh di lapangan, untuk jenis ikan tuna saja, per kilogramnya paling murah Rp 9.000, sedangkan satu kapal asing itu dapat mengangkut ikan hasil jarahan seharga Rp 175 juta. Padahal, di Sulawesi Utara sedikitnya ada 1.000 kapal yang berlabuh setiap hari. Kapolda Brigjen Bekto Suprapto, mantan Kadensus 88 Antiteror Mabes Polri, mengakui tak mudah menangkap pelaku illegal fishing. Ia menggunakan metode untuk membongkar jaringan teroris dalam penanganan kasus tersebut. Penelusuran ini diawali, salah satunya, atas

One Days . . .

99


penerbitan dokumen palsu. Ternyata, banyak juga pemalsuan yang dilakukan secara sistematis terhadap dokumen-dokumen kapal lainnya. Kini, semua kapal beserta awaknya tengah menunggu proses hukum. Polisi pun berharap 14 kapal ini tidak dapat bebas lagi menjarah hasil laut Indonesia dengan berbekal dokumen palsu, bendera, dan bahan bakar subsidi pemerintah. dikutip dari : http://www.sinarharapan.co.id/berita/0811/05/huk04.html

100

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


TENTANG PENULIS

Y

ehu Wangsajaya pernah bercita-cita menjadi Guru dan penulis, namun Tuhan menginginkan lain, dia harus

menjadi seorang perwira Polisi dengan beberapa pengalaman tugas dan karir di Polda Kalimantan Selatan dan Tengah, Polda Sumatera Utara, Aspers Polri, Polda Metro Jakarta Raya dan saat ini mengabdi menjadi Kapolres Minahasa Polda Sulawesi Utara. Pengalaman pendidikan yang pernah ditempuhnya, dia menyempatkan menimba ilmu pengetahuan dengan mengambil S-2 Magister Ilmu Komputer dan pada tahun 2006 telah berhasil menyandang gelar sarjana Mkom (Magister Komputer). Bukan itu saja sempat juga menimba ilmu multimedia di Puslat PT. Telkom, Geger Kalong Bandung; International Law Enforcement Academy Bangkok dan baru saja kembali dari menempuh pendidikan di International Law Enforcement Academy Roswell New Mexico USA. Disela-sela kesibukannya mengabdi dan bertugas menjadi Kapolres Minahasa, dia menyempatkan diri memberi kuliah kepada Mahasiswa S-1 Fakultas Teknik jurusan Informatika di Universitas Negeri Manado, “Tuhan itu Maha Baik, semula cita-

One Days . . .

101


cita jadi guru malah sekarang dikabulkan jadi Dosen !!!“ Selain itu aktif diundang oleh perusahaan IT, menjadi pembicara tentang Security dan IT; keynote speaker pada Lomba Hacker (Panhac Accer) di beberapa kota besar di Indonesia, bahkan tahun 2008 di undang ke Hanoi, Vietnam menjadi pembicara tentang “ IT and Fotographer�. Di kepolisian sendiri karya-karyanya yang tidak tercatat seperti, pada tahun 2000 sewaktu berpangkat Kapten Polisi mengepalai proyek komputerisasi Ujian Teori SIM di Poltabes Medan dan sekitarnya; pada tahun 2001 sewaktu tugas di Spers Polri menjadi anggota Tim penyelesaian Proyek Komputerisasi RHPP; menjadi kepala proyek pengembangan Komputerisasi Control Command Center Polres Jakarta Pusat; menjadi Kepala IT di JIACDOC BNN; mengembangkan Monitoring center Objek Vital di Direktorat Pengamanan Objek Vital Polda Metro Jaya dan menjadi kepala proyek pembangunan Komputerisasi BPKB di Polda Sulut. Pengalaman belajar catat mencatat atau menjadi penulis, dimulai sejak tugas di Medan pernah menulis di koran-koran lokal sampai di Jakarta menerbitkan beberapa buku yang tidak dijual di pasaran alias gratis. Inilah tulisan terkini dari dia untuk dipersembahkan secara gratis kepada masyarakat dan kepolisian tentang sosok seorang pimpinan yang dibanggakannya. www.yehu.or.id

102

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


TENTANG EDITOR

A

qua Dwipayana adalah penulis senior yang telah menerbitkan dan mendapat amanah mengedit banyak

buku. Selain itu, sejak lama sampai sekarang, ratusan artikelnya telah dimuat baik di media-media nasional terbitan Jakarta maupun media-media utama yang terbit di berbagai daerah di Indonesia. Buku yang pernah ditulis Aqua adalah Kiat Menulis di Media, Suhardiman – Menentang Arus Menuai Sukses, Berani Memulai Bisnis, Berani Memulai Bisnis 2 dan Berhenti Kerja Dunia Tidak (Akan) Kiamat. Sebagian dari bukunya tersebut best seller. Selama ini, banyak temannya, baik pengusaha, pejabat sipil maupun militer yang sering meminta masukan kepada Aqua tentang penulisan artikel dan buku. Bahkan di antaranya ada yang memberi amanah kepada Aqua untuk lebih dulu menyempurnakan tulisan yang dibuatnya, sebelum dikirim ke berbagai media dan diterbikan jadi buku. Selain menulis, Aqua juga aktif memberikan ceramah Komunikasi, Kewirausahaan dan Motivasi baik di instansi

One Days . . .

103


swasta, pemerintah, militer maupun kepolisian. Hampir setiap minggu, Aqua ceramah di berbagai kota di Indonesia. Sebagai pembicara, Aqua cukup laris. Karena jadwalnya yang selalu padat, sehingga tidak jarang, Aqua hanya beberapa jam saja berada di satu kota. Kemudian harus pindah ke kota lainnya sebab memberikan ceramah. Semua dilakukannya dengan penuh rasa tanggung jawab, keikhlasan dan ketulusan. Kegiatan Aqua yang lain adalah menjadi dosen tamu di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta. Ia juga aktif mengajar Komunikasi di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara serta Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut. Siswanya yang berpangkat Mayor, Letnan Kolonel dan Ajun Komisaris Besar Polisi yang berasal lebih dari sembilan negara, jumlahnya sudah lebih dari 500 orang. Bahkan sebagian telah ada yang berpangkat Kolonel. Alumni Fisip jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang yang pernah bekerja sebagai wartawan Bisnis Indonesia, Jawa Pos, Suara Indonesia dan Surabaya Minggu ini, sejak 2006 mendirikan perusahaan konsultan Komunikasi yang bernama Image Communication. Melalui perusahaan ini, Aqua telah banyak membantu perusahaan-perusahaan baik swasta maupun milik pemerintah

104

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


untuk memperbaiki dan meningkatkan citra dan reputasi perusahaan-perusahaan tersebut sehingga menjadi lebih baik di mata stakeholder dan shareholder-nya. Lewat perusahaannya tersebut, Aqua juga banyak membantu pemerintah daerah baik tingkat I maupun tingkat II untuk memperbaiki sistem komunikasi di internal dan eksternalnya. Sehingga dalam era otonomi daerah sekarang ini, seluruh pemerintah daerah yang dibantunya, dapat bersaing, tidak hanya dalam perbaikan dan peningkatan citra dan reputasinya tetapi juga yang tidak kalah pentingnya adalah mendatangkan investor untuk menanamkan modalnya di daerah-daerah itu. Sebagai penulis dan konsultan, Aqua selama ini dikenal berani mengemukakan pendapatnya, meskipun tidak jarang bertentangan dengan banyak orang. Sepanjang argumentasi yang mendukung pemikirannya itu kuat, Aqua akan menyampaikan. Niatnya adalah melakukan perubahan ke arah yang lebih baik untuk kebaikan dan kesejahteraan banyak orang.

Tentang One Days Editor ...

105


106

Polisinya Masyarakat, Dalam Rangka Trust Building


Polisi dan masyarakat  

POLISINYA MASYARAKAT DALAM RANGKA TRUST BUILDING

Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you