Page 1

LATAR BELAKANG MASALAH Belum ada kata sepakat di antara intelektual muslim dalam merumuskan penggunaan istilah atau terminologi pendidikan Islam. Secara garis besarnya muncul tiga istilah yaitu tarbiyah, ta’lim dan ta’dib. Intelektual muslim yang otoritatif di bidangnya, Syed M. Naquib al-Attas, lebih cendrung menggunakan istilah ta’dib dari pada istilah yang lain dengan argumen yang ilmiah. Baginya, masalah mendasar dalam pendidikan Islam adalah hilangnya nilai-nilai adab dalam arti luas. Hal ini lebih disebabkan oleh rancunya pemahaman konsep tarbiyah, ta’lim, dan adab. Sebab jika konsep ta’dib ini diterapkan secara komprehensif, integral, dan sistematis dalam praktik pendidikan Islam, pelbagai persoalan pengembangan sumber daya manusia Muslim diharapkan dapat diatasi. Lagi pula, dalam sejarah Islam proses pendidikan Muslim lebih cendrung pada pengertian ta’dib daripada terbiyah atau ta’lim. Alasan yang lebih mendasar lagi adalah adab berkaitan erat dengan ilmu, sebab ilmu tidak dapat diajarkan atau ditularkan kepada anak didik kecuali jika orang tersebut memiliki adab yang tepat terhadap ilmu pengetahuan dalam pelbagai bidang1 .Kemudian dalam langkah konkretnya dalam mengaplikasikan ide dan gagasanya lahir International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC). Organisasi Islam yang didirikan pada tahun 1926 di Surabaya yang bernama Nahdlatul Ulama (kebangkitan Ulama) juga memberikan konstribusi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Tentunya dengan konsep yang khas yang melekat pada organisasi ini, Deliar Noer menyebutnya dengan kalangan tradisi. Sudah masyhur kemudian NU dikenal dengan sistem pondok pesantren tradisionalnya. seperti pondok pesantren Tebu Ireng yang didirikan oleh Hasjim Asj’ari, pesantren Tambak Beras oleh Abdul Wahab Hasbullah, dan pesantren Den Anyar tidak jauh dari Tambak Beras oleh KH Bisri. Meraka adalah tokoh dari NU dan pesatren mereka juga sangat identik

1 Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, Bandung: Mizan, 2003, h. 24


dengan pesantren NU. Dalam makalah ini kemudian akan dibahas sistem dan karakteristik lembaga pondok pesantren. Sejarah menulis bahwa pondok pesantren di Indonesia telah ada jauh sebelum NU berdiri sebagai organisasi, bahkan lembaga pendidikan tertua di Indonesia adalah pondok pesantren sehingga sebagian sejarawan menilai sistem pondok pesantren asli (geniun) berasal dari peradaban Indonesia. NU kemudian mengukuhkan identitas dirinya di jalur pendidikan melalui pondok pesantren. Meskipun semua pondok pesantren yang didirikan oleh tokoh-tokoh NU tidak berafiliasi langsung ke Organisasi induknya (NU). Pondok menjadi milik Kiainya (yang berafiliasi NU), sebagai pendiri sekaligus pemimpinnya. Berbicara pendidikan tidak pernah lepas dengan ideologi yang melatar belakanginya. William F. O’Neil dalam bukunya Ideologi-Ideologi Pendidikan, memaparkan dengan jelas berbagai bentuk ideologi-idelogi pendidikan dunia. Berdasarkan pemetaannya ada dua aliran ideologi besar yang cukup berpengaruh, dengan varian masing-masing, yaitu pertama, ideologi konservatif dengan variasi: fundamentalisme, intelektualisme, dan konservatisme; kedua, ideologi liberalis dengan variasi: liberalism, liberasionisme, dan anarkisme.2 Dengan ideologi Aswaja (ahlusunna wal jama’ah) yang sangat kental mempertahankan tradisi tentunya akan sangat jelas masuk pada kategori berideologi konservatif, meskipun NU tidak pernah mungkin menetapkan seperti itu. Usaha-usaha

NU

diawal

sejarahnya

mencakup

pembentukan

lajnah

Wathoniyah (panitia wakaf) disebut cabang NU pada tahun 1936. Badan ini berfungsi sebagai pengelola harta wakaf umat Islam agar terkooedinasi dan teratur pada kebutuhan. Kebutuhan yang paling mendesak, sesuai dengan konsep dasarnya, harta wakaf dan keuntungannya memang diperuntukkan bagi kemashlahatan social umat Islam. Tahun 1973 NU mendirikan usaha koperasi, disebut syirkah Mu’awanah di Surabaya, Singosari, Bangolan dan Persik. Namun demikian kegiatan utama NU tetap 2 Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008, h. 4


dalam bidang keagamaan dan pendidikan. NU berakar dari para ulama/ kia pengasuh pesantren. Charisma dan posisi social para kiya ini jelas berperan besar dalam penyebarluasan NU. Pada awalnya NU belum memiliki rumusan yang jelas tentang reformasi pendidikan. Akan tetapi pesantern-pesanteren asuhan para kiay dengan sendirinya sudah merupakan asset besar dibidang pendidikan yang harus diurus NU. Pembaharuan system pendidikan NU adalah inisiatif dari dua orang tokoh penting K.H Muhammad Ilyas dan K.H Wahid Hasyim. Muhammad Ilyas dengan persetujuan Hasyim Asy’ari yang memasukkan pelajaran umum ke pesantren tebu ireng. Ini mencakup penggunaan aksara latin, pelajaran ilmu bumi, sejarah, dan bahasa melayu. System pengajaran bahasa Arab juga mengalami perubahan serius. Ia menggunakan penggunaan buku-buku sulit dan memperkenalkan model pengajaran baru yang mengacu pada system pengajaran bahasa Belanda yang digunakan di sekolah-sekolah belanda. Dimana bahasa lisan sederhana diajarkan sebelum beranjak pada bahasa tulisan yang lebih sulit. Disamping pesantren sebagai basis kegiatan pendidikan, sejak era 1930-an NU juga merintis pendirian madrasah-madrasah system klasikal. Tahun 1940-an mulai dibuka sekolah-sekolah menengah pertama dan atas. NU mendirikan universitas di Jakarta, Bandung serta sebuah akademi bank di Semarang tahun 1960an. Lalu sejumlah pesantren juga membuka universitas atau akademik. Pada bidang social, NU selalu menekankan pentingnya ukhwah dan saling menolong antar ummat. NU juga dikenal sebagai organisasi yang memperhatikan kelestarian budaya sambil mengisinya dengan nafas keagamaan. Barzanju, shalawatan dan kasidah adalah contoh-contoh yang dengan mudah ditemukan dikalangan NU. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara sederhana tentang kondisi pendidikan di bawah naungan NU mulai dari sejak berdirinya sampai dengan pertumbuhan dan perkembangan serta problem-problem yang melingkupi dan kemungkinan solusinya. Dalam sejarahnya, keberadaan organisasi NU memang tidak lepas dari sejarah pendidikan nusantara di negeri ini. Terdapat visi dan misi khusus


yang diusung oleh NU dalam pendirian organisasinya dan beragam lembaga yang ada di bawah naungannya. Visi tersebut adalah ajaran Aswaja dan misinya adalah pemberdayaan umat. Pengejawantahan visi dan misi tersebut dilakukan melalui media pendidikan, dakwah dan beragam aktualisasi diri lain dengan sarana lembagalembaga yang tersedia. Dalam hal pendidikan, sementara ini NU tidak tertandingi dari aspek kuantitas. Sementara dari aspek kualitas, pendidikan NU masih tertantang untuk terus ditingkatkan keberadaannya. Dalam perjalanannya, pendidikan NU memang tidak steril dari beragam masalah. Salah satu masalah yang masih melekat adalah mengenai SDM para pendidiknya. Oleh karenanya, peningkatan kualitas SDM melalui beragam jalan, misalnya, pelatihan, rekomendasi sekolah, dan sejenisnya, perlu dilakukan oleh NU dan berbagai lembaga yang ada di bawah naungannya.

Latar belakang masalah  

selengkapnya ada di Http://bisnisrumahan19.blogspot.com

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you