Issuu on Google+

7th EDITION – MAY/JUNE 2013


Editorial

3

Pembaca yang budiman, tak terasa kita sampai dipenghujung tahun ajaran 2012-2013. Dalam catatan SKY MAGAZINE, selama tahun ajaran ini segenap keluarga besar Sekolah Kristen Yusuf bahu membahu bekerja-sama membangun CITRA dengan sinergi dan ARAH yang sama, serta berupaya semaksimal mungkin eksis dan menjadi competitor yang fair dan elegant dengan sekolah di sekelilingnya. Seluruh jajaran Sekolah Kristen Yusuf, baik dari koordinator sekolah, Kepala SD-SMP-SMA, Staf, Dewan Guru, staf Tata Usaha, OSIS, dan element sekolah lainnya, dengan segala potensi yang ada, berusaha mengukir prestasi yang membanggakan dan unggul, baik dalam prestasi akademik di internal sekolah, maupun dalam ajang kompetesi eksternal yang bergengsi dalam berbagai lomba dibeberapa perguruan tinggi bergengsi di provinsi DKI JAKARTA. “Tiada gading yang tak retak”, demikian peribahasa ini mengingatkan kita Semua bahwa TAK ADA YANG SEMPURNA dalam diri kita. Dalam catatan SKY MAGAZINE, tahun ajaran 2012-2013 adalah tahun ajaran yang penuh dengan berbagai peristiwa yang mengharu-biru perjalanan proses pendidikan dan pembelajaran di SKY. Kami berpengharapan segala pengalaman ini bisa menjadi bahan evaluasi untuk menjadi bahan ramuan yang afdol bagi pengambilan keputusan sistem pendidikan dan pembelajaran di SKY pada tahun-tahun kedepan. Redaksi SKY MAGAZINE juga mengucapkan selamat bagi siwa-siswi SMA kelas XII- IPA dan XII-IPS, kelas IX, dan kelas VI yang telah menempuh UJIAN, baik UN maupun US. Kita semua bergembira dan berbangga hati karena tahun ajaran 2012-2013 ini SKY kembali berhasil menorehkan tinta emas kegemilangan hasil UJIAN NASIONAL. SKY MAGAZINE tak lupa mengucapkan selamat buat siswa-siswi kelas non UN yang telah menempuh ulangan akhir semester (UAS). Semoga semua bisa naik kelas. Jika kita mengkaji ulang makna pendidikan, tentu kita tahu bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari keberhasilan siswa lulus dengan nilai sangat memuaskan. Ada indikator yang tak kalah pentingnya untuk dikaji dan disikapi secara proporsional, yaitu persoalan moral yang terabaikan. Munculnya kasus bullying bukanlah masalah baru. Tetapi jika kita rekonstruksi ulang kasus ini dari waktu kewaktu, telah mengalami reinkarnasi dalam berbagai bentuk dan modus operandi baru yang muaranya berujung pada kasus bullying. Kalau kita kaji lebih dalam lagi kasus bullying, saat ini menjadi ancaman serius buat anak didik kita, baik pelaku bully maupun korban bully. Dari berbagai temuan SKY MAGAZINE dilapangan, kasus ini terjadi dikalangan siswa, bahkan mulai dari tingkat SD. Tetapi puji syukur kepada Allah Bapa di Sorga, di sekolah yang kita cintai ini tidak terjadi kasus bullying yg melampaui batas ataupun dalam skala besar, yang terjadi barulah occasional conflits. SKY MAGAZINE mencoba mengangkat issue ini dalam topic headline EDISI 07 Bulan mei 2013 untuk kali kedua . Berasal dari kata ‘bully’, kata yang mengacu pada pengertian adanya ‘ancaman’ yang dilakukan seseorang terhadap orang lain (yang umumnya lebih lemah atau ‘rendah’ dari pelaku), berdampak menimbulkan gangguan fisik dan/atau psikis bagi korbannya (para korban disebut bully boy atau bully girl) dalam bentuk stress (misalnya: susah makan, penderitaan fisik, ketakutan, rendah diri, depresi, cemas, dan lainnya). Apalagi bully biasanya berlangsung dalam waktu yang lama (tahunan), sehingga sangat mungkin mempengaruhi korban secara psikis. Sebenarnya, selain perasaan-perasaan di atas, korban bully juga merasa marah dan kesal dengan kejadian yang menimpa mereka. Ada juga perasaan marah, malu dan kecewa pada diri sendiri karena ‘membiarkan’ kejadian tersebut mereka alami. Namun mereka tak kuasa ‘menyelesaikan’ hal tersebut, termasuk tidak berani melaporkan pelaku kepada orang dewasa karena takut dicap penakut, tukang ngadu, atau bahkan disalahkan. Dengan penekanan bahwa bully dilakukan oleh anak usia sekolah, perlu dicatat bahwa salah satu karakteristik anak usia sekolah adalah adanya egosentrisme (segala sesuatu terpusat pada dirinya) yang masih dominan. Sehingga ketika suatu kejadian menimpa dirinya, anak masih menganggap bahwa semua itu adalah karena dirinya. Dalam konteks lain bullying menurut PeKA (Peduli Karakter Anak) adalah penggunaan agresi dengan tujuan menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun mental. Bullying dapat berupa tindakan fisik, verbal, emosional dan juga seksual. Melihat dampaknya yang begitu menakutkan bagi korban, alangkah baiknya kalau kita mulai mewaspadai dan peduli berbagai gejala yang muncul pada anak didik kita, supaya kasus ini tidak berkembang menjadi budaya yang menakutkan. Selamat membaca! Redaksi SKY Magazine

STAF REDAKSI SKY MAGAZINE PEMBINA UTAMA DR. Jasmin Lantang PENANGGUNG JAWAB Dra. Angreine Serli Bala (SMA) | Gathot Sasongko, S.Pd (SMP) Debora Tjijik Soedibjo, S.Pd (SD) PEMIMPIN REDAKSI Lilik Eko Arianto, S.Pd EDITOR Wiharta Adi Putra, S.Si LAYOUT AND DESIGN COORDINATOR Fahmi Hasan, S.S LAYOUT AND DESIGN Adam Jordan | Williams Perdana CREATIVE TEAM Veliscya Agnes JOURNALISTS Julian A. | Febby | Trisha C. Nevita L. | Sevira P. | Rini F. | Vincent M. | Sumastrino | Amelia Karoline SEKRETARIAT /KANTOR PUSAT REDAKSI SEKOLAH TK-SD-SMP-SMA KRISTEN YUSUF - Jl. Arwana II No. 16 Jakarta Utara 14440Telp : (021) 669 3111 | Fax: (021) 667 - 9323 | Email : skymagazine@kristenyusuf.org | Web Edition : kristenyusuf.org/magazine Hot line Iklan: EKO | PHONE 08174930889 pin bb: 275E6CF9


Headline

Bullying - Bahaya laten yang mengancam anak didik kita By: Lilik Eko Ariyanto

4

Berbagai kasus bullying yang merebak di kalangan siswa, baik di tingkat SD, SMP, SMA, bahkan Perguruan Tinggi, cukup menarik perhatian baik dari kalangan siswa, orangtua maupun masyarakat sekitar, dampaknya sangat negatif merugikan berbagai pihak. SKY MAGAZINE mencatat di Jakarta bahkan kota-kota kecil lainnya di Indonesia, sering terjadi kasus bullying, baik dalam skala kecil ataupun besar. Keprihatinan SKY MAGAZINE melihat kejahatan berlangsung tanpa penanganan serius melatar belakangi SKY MAGAZINE mengangkat topik ini untuk yang kedua kalinya. Karena kalau kita kaji lebih ini mulai meresahkan berbagai pihak, baik orangtua, sekolah, ataupun masyarakat luas; terutama kalangan siswa. Harapan kami, dengan pengetahuan kita tentang kasus ini, muncul berbagai wacana dan ide penanganan yang serius dengan formula yang manjur untuk menghentikan budaya bullying ini sekarang. Semoga melalui tulisan ini, akan semakin menjadi perhatian para orang tua, guru dan masyarakat sekitar bahwa bullying adalah bahaya laten yang mengancam anak didik kita. Pelaku bullying, baik individual maupun grup, secara sengaja menyakiti atau mengancam korban dengan cara: - menyisihkan seseorang dari pergaulan; menyebarkan gosip, mebuat julukan yang bersifat ejekan; mengerjai seseorang untuk mempermalukannya; mengintimidasi atau mengancam korban; melukai secara fisik; melakukan pemalakan / pengompasan. Bullying tidaklah sama dengan occasional conflict atau pertengkaran biasa yang umum terjadi pada anak. Konflik pada anak adalah normal dan membuat anak belajar cara bernegosiasi dan bersepakat satu sama lain. Bullying merujuk pada tindakan yang bertujuan menyakiti dan dilakukan secara berulang. Sang korban biasanya anak yang lebih lemah dibandingkan sang pelaku. Menurut Dan Olweus, penulis dari ‘Bullying at School’, bullying bisa dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu Direct bullying (intimidasi secara fisik atau verbal) dan Indirect bullying (isolasi secara sosial) Bullying itu sangat menyakitkan bagi sikorban.Tidak seorangpun pantas menjadi korban bullying. Setiap orang memiliki hak untuk diperlakukan dan dihargai secara pantas dan wajar.Bullying memiliki dampak negatif bagi perkembangan karakter anak, baik bagi si korban maupun pelaku. Berikut ini contoh dampak bullying bagi sang korban : - depresi - rendahnya kepercayaan diri / minder - pemalu dan penyendiri - merosotnya prestasi akademik - merasa terisolasi dalam pergaulan - terpikir atau bahkan mencoba bunuh diri Di sisi lain, apabila dibiarkan, pelaku bullying akan belajar bahwa tidak ada risiko apapun bagi mereka bila mereka melakukan kekerasan, agresi maupun mengancam anak lain. Ketika dewasa pelaku tersebut memiliki potensi lebih besar untuk menjadi preman ataupun pelaku kriminal dan akan membawa masalah dalam pergaulan sosial. Tentu kita masih ingat kasus yang terjadi pada STPDN /IPDN yang sampai menelan korban jiwa. Dan entah sudah berapa ratus dan mungkin bahkan ribuan dan jutaan orang yang pernah mengecap pendidikan di STPDN/IPDN yang rusak mental dan jiwanya karena telah di-bully oleh seniornya dan pada akhirnya sebagai pembalasan, mereka kembali melakukan hal yang sama seperti kakak senior mereka, melakukan bullying. Dan itu akan terus terjadi secara turun temurun dalam lembaga pendidikan yang notabene adalah pencetak pejabat. Sehingga sangat diharapkan, praktek perploncoan hanya dalam batas-batas wajar, tidak melewati ketahanan jasmani seseorang. Alangkah baiknya, tiap peserta perploncoan diwajibkan memberikan keterangan dokter bahwa jasmani mereka cukup tahan menerima gojlokan yang berat. Bullying tidak terjadi hanya antar pelajar dengan para senior mereka, tetapi bisa juga terjadi oleh guru mereka, terutama siswa yang seringkali tidak memenuhi tugas sesuai waktu yang ditentukan. Tindakan langsung bully antara lain yaitu menyakiti, mengancam, atau menjelekkan anak lain. Sementara bentuk tidak langsung adalah menghasut, mendiamkan, atau mengucilkan anak lain. Apapun bentuk bully yang dilakukan seorang anak kepada anak lain, tujuannya adalah sama, yaitu untuk menekan korbannya, dan mendapat kepuasan dari perlakuan tersebut. Pelaku puas melihat ketakutan, kegelisahan, dan bahkan sorot mata permusuhan dari korbannya. Karakteristik korban bully adalah mereka yang tidak mampu melawan atau mempertahankan dirinya dari tindakan bully. Bully biasanya muncul pada usia sekolah. Pelaku bully memiliki karakteristik tertentu. Umumnya mereka adalah pemberani, tidak mudah takut, dan memiliki motif dasar tertentu. Motif utama yang biasanya ditenggarai terdapat pada pelaku bully adalah adanya agresifitas. Salin itu ada motif lain yang juga bisa dimiliki pelaku bully, yaitu rasa rendah diri dan kecemasan. Bully menjadi bentuk pertahanan diri (defence mechanism) yang digunakan pelaku untuk menutupi perasaan rendah diri dan kecemasannya tersebut. Keberhasilan pelaku melakukan tindakan bully bukan tak mungkin berlanjut kedalam bentuk kekerasan lainnya, bahkan yang lebih dramatis. Pelaku bully juga cenderung dilakukan oleh ‘geng’ pelajar dimana para pelaku merasa berani karena mereka dalam jumlah besar. Banyak juga yang melakukan tindakan bully kepada korban karena ‘peer pressure’, ‘geng’ mereka mengharuskan demikian.

Sedangkan korban mungkin memiliki karakteristik yang bukan pemberani, memiliki rasa cemas, rasa takut, rendah diri, yang kesemuanya itu (masing-masing atau sekaligus) membuat si anak menjadi korban bully. Akibat mendapat perlakuan ini, korbanpun seringkali menyimpan dendam atas perlakuan yang ia alami. Selanjutnya, bukan tak


Headline

5

Sedangkan korban mungkin memiliki karakteristik yang bukan pemberani, memiliki rasa cemas, rasa takut, rendah diri, yang kesemuanya itu (masing-masing atau sekaligus) membuat si anak menjadi korban bully. Akibat mendapat perlakuan ini, korbanpun seringkali menyimpan dendam atas perlakuan yang ia alami. Selanjutnya, bukan tak mungkin, korban bully menjadi pelaku bullying kepada anak lain yang ia pandang dapat dijadikan sebagai korban pembalasan dendam. Ada proses belajar yang sudah ia jalani dan ada dendam yang tak terselesaikan. Kasus di sekolah-sekolah, dimana kakak kelas melakukan bully kepada adik kelas, dan kemudian berlanjut ketika si-adik kelas sudah menjadi kakak kelas dan ia kemudian melakukan bully kepada adik kelasnya yang baru. Mata rantai ini akan berjalan terus sampai batas waktu yang tidak diketahui kapan tuntasnya. Hal seperti ini terjadi tidak hanya di dalam negeri, bahkan kita sering mendengar dan melihat terjadi juga di negara-negara lain, sampai di negara-negara yang sangat maju seperti Amerika Serikat. Tindakan bullying bisa terjadi dimana saja, terutama tempat-tempat yang tidak diawasi oleh guru atau orang dewasa lainnya. Pelaku akan memanfaatkan tempat sepi untuk menunjukkan kekuasaan atas anak lain, agar tujuannya tercapai. Tempat yang sering terjadi biasanya di sekitar toilet sekolah, pekarangan sekolah, tempat menunggu kendaraan umum, lapangan parkir, bahkan mobil jemputan. Sebagai orang tua, kita wajib waspada adanya perilaku bullying pada anak, baik sebagai korban atau sebagai pelaku. Beberapa hal yang dapat dicermati dalam kasus bullying adalah mengenali anak yang terindikasi mengalami tindakan intimidasi di sekolahnya. Berikut adalah sejumlah tips yang dirangkum Kompas.com dari berbagai sumber yang diharapkan bisa membantu Anda. * Ciri-ciri yang harus diperhatikan diantaranya: * Jika menemukan ciri-ciri seperti 1. Enggan sekolah disamping, langkah yang harus dilakukan 2. Sering sakit secara tiba-tiba orangtua antara lain : 3. Mengalami penurunan nilai 1. Berbicara dengan orangtua si-anak yang 4. Barang yang dimiliki hilang atau rusak melakukan bully 5. Mimpi buruk atau bahkan sulit terlelap 2. Mengingatkan sekolah tentang masalah ini 6. Rasa amarah dan benci semakin mudah meluap dan meningkat 3. Datangi konselor profesional untuk ikut 7. Sulit berteman dengan teman baru membantu mengatasi masalah ini 8. Memiliki tanda fisik seperti memar atau luka Jika tindakan kekerasan ini masih terus berlanjut dan tidak ada respons yang baik dari sekolah, pikirkanlah cara lain. Salah satu pilihan, jika memungkinkan, pindahkan sekolah anak Anda. Dalam situasi yang ekstrem, mungkin perlu menghubungi polisi atau meminta perlindungan. Namun, hal yang paling penting adalah mendengarkan komplain anak dan tetaplah membuka komunikasi dengan mereka. Bullying tidak boleh diabaikan, mengingat dampak psikis dan mental terhadap anak sangat besar. * Berikut beberapa saran untuk mengetahui anak kita menjadi korban bullying atau tidak : ďƒ˜ Ketahuilah bahwa anak yang sedang diintimidasi kemungkinan besar akan memberitahu rekan pertama, lalu orang tua, dan kemudian guru. “Selalu tahu siapa teman-teman anak Anda,â€? kata Robin D’Antona, pendiri Asosiasi Internasional Pencegahan Bullying. Dengan menjalin persahabatan dengan teman anak kita, banyak bocoran yang akan disampaikannya tentang dia. ďƒ˜ Tanyakan kepada anak kita secara rutin apakah dia suka sekolah. Jika seorang anak menjawab bahwa ia membenci sekolah, tanyakan lebih dalam untuk mengetahui rincian apa yang membuatnya benci sekolah. Apakah ia membenci akademisi? Bisakah dia tidak melihat papan tulis? Lalu buatlah suatu gambaran tentang sikap anak Anda terhadap sekolah. ďƒ˜ Ciptakan komunikasi yang harmonis dalam keluarga kita. Buatlah anak-anak bebas mengungkapkan kata hatinya dan bisa terbuka untuk berbicara setiap saat. Ada kalanya kita harus kontak mata dengannya saat berbiicara, ada kalanya anak juga lebih nyaman bercerita kepada kita tanpa kontak mata. “Perjalanan sambil mengobrol selama kita tengah menyetir, misalnya, membuat anak bebas mengungkapkan apa saja,â€? tambah D’Antona. Beberapa hal yang dapat dicermati dalam kasus Bullying adalah : a. Tanda-tanda anak menjadi Korban : Munculnya keluhan atau perubahan perilaku/emosi anak akibat stres yang ia hadapi karena menjadi korban bullying dan Laporan dari guru / teman / pengasuh anak mengenai tindakan bullying yang terjadi pada anak. b. Tanda-tanda anak sebagai Pelaku 1. Anak bersikap agresif, terutama kepada mereka yang lebih muda usianya, atau lebih kecil atau mereka yang tidak berdaya (binatang, tanaman, mainan). 2. Anak tidak menampilkan emosi negatifnya pada orang yang lebih tua / lebih besar badannya / lebih berkuasa, namun terlihat anak sebenarnya memiliki perasaan tidak senang. 3. Sesekali anak bersikap agresif yang berbeda ketika bersama orang tua. 4. Melakukan tindakan agresif yang berbeda ketika tidak bersama orang tua (diketahui dari laporan guru, pengasuh, atau teman-teman). 5. Ada laporan dari guru/ pengasuh / teman-temannya bahwa anak melakukan tindakan agresif kepada mereka yang lebih lemah atau tidak berdaya. 6. Anak yang pernah mengalami bully mungkin menjadi pelaku bully.


Headline

6

Salah satu bentuk bullying adalah penindasan. Penindasan sendiri bisa dengan atau tanpa kekerasan. Bullying adalah perilaku yang diulangi dari waktu ke waktu yang secara nyata melibatkan ketidak-seimbangan kekuasaan, yang lebih kuat menyerang kelompok anak-anak atau mereka yang kurang kuat. Bullying dapat berupa pelecehan lisan atau penyerangan fisik, atau cara lain yang lebih halus, seperti paksaan dan manipulasi. Bullying biasanya dilakukan untuk memaksa orang lain dengan ancaman sehingga timbul perasaan takut. Bullying dapat dicegah jika anak-anak diajarkan keterampilan sosial agar mampu berinteraksi dengan orang-orang. Hal ini akan membantu mereka untuk menjadi orang dewasa produktif, ketika berinteraksi dengan orang-orang yang mengganggu. Bullying di sekolah dan tempat kerja juga disebut sebagai penyalah-gunaan rekan. Karakter-karakter tertentu pada anak yang biasanya menjadi korban bullying, misalnya: Sulit berteman, Pemalu, Memiliki keluarga yang terlalu melindungi dari suku tertentu, Cacat atau keterbatasan lainnya, Berkebutuhan khusus, Sombong, dll. Anak yang menjadi korban biasanya merasa malu, takut, dan tidak nyaman. Sehingga untuk membuat ia kembali mampu menjalani kegiatannya sehari-hari seperti biasa, ia harus dibekali dengan ‘tools’ yang membuat ia yakin bahwa ia akan mendapatkan pertolongan. Ia harus tahu dan percaya bahwa guru kelas dan temannya akan membantu. Atau ia kemudian mendapatkan teman selama jam istirahat atau kegiatan di luar kelas. Rasa percaya dirinya kembali dipupuk dengan memusatkan perhatian pada hal-hal yang menjadi kelebihan dan potensinya.Yang terakhir ini biasanya berjalan dengan sendirinya jika rasa aman sudah kembali dimiliki. Bullying terjadi ketika seseorang merasa teraniaya, takut, terintimidasi oleh tindakan seseorang baik secara verbal, fisik atau mental. Ia takut bila perilaku tersebut akan terjadi lagi, dan ia merasa tak berdaya mencegahnya. (Andrew Mellor, Anti Bullying Network, Univ. of Edinburgh, Scotland) Perilaku bullying di institusi pendidikan bisa terjadi oleh siswa kepada siswa, siswa kepada guru, guru kepada siswa, guru kepada guru, orang tua siswa kepada guru atau sebaliknya, dan antarcivitas akademika di institusi pendidikan/sekolah. Bullying terjadi apabila memenuhi unsur: 1. Perilaku yang menyebabkan seseorang / siswa / guru terhina, terintimidasi, takut, terisolasi 2. Perilaku yang dilakukan berulang-ulang, verbal / fisik / psikis, yang menimbulkan powerless 3. Adanya aktor yang superior dan inferior dan perilaku yang dilakukan berdampak negatif Bentuk dan modus bullying: 1. Fisik (tendangan, pukulan, jambakan, tinju, tamparan, lempar benda, meludahi, mencubit, merusak, membotaki, mengeroyok, menelanjangi, push-up berlebihan, menjemur, mencuci WC, lari keliling lapangan yang berlebihan/tidak menyelidiki kemampuan ketahanan kondisi siswa, menyundut dengan rokok, dll) 2. Verbal (mencaci-maki, mengejek, memberi label / julukan jelek, mencela, memanggil dengan nama bapaknya, mengumpat, memarahi, meledek, mengancam, dll) 3. Psikis (pelecehan seksual, memfitnah, menyingkirkan, mengucilkan, mendiamkan, mencibir, menghina, menyebarkan gosip) Solusi terhadap kasus bullying : Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kasus kekerasan pada anak mencapai Rp 25 juta, dengan berbagai bentuk, dari yang ringan sampai yang berat. Lalu, data BPS menunjukkan kepolisian mencatat, dari seluruh laporan kasus kekerasan, 30 persen di antaranya dilakukan oleh anak-anak, dan dari 30 persen kekerasan yang dilakukan anakanak, 48 persen terjadi di lingkungan sekolah dengan motif dan kadar yang bervariasi. Plan Indonesia sendiri pernah melakukan survei tentang perilaku kekerasan di sekolah. Survei dilakukan di Jakarta, Jogjakarta, Surabaya, dan Bogor, dengan melibatkan 1.500 siswa SMA dan 75 guru. Hasilnya, 67,9 % menganggap terjadi kekerasan di sekolah, berupa kekerasan verbal, psikologis, dan fisik. Pelaku kekerasan pada umumnya adalah teman, kakak kelas, adik kelas, guru, kepala sekolah, dan preman di sekitar sekolah. Sementara itu, 27,9% siswa SMA mengaku ikut melakukan kekerasan, dan 25,4 % siswa SMA mengambil sikap diam saat melihat terjadi kekerasan. Oleh karenanya, carilah solusi yang bisa dilakukan untuk mencegah dan menangani kasus bullying. Berikut adalah solusi buat orang tua atau wali jika anaknya menjadi korban intimidasi (bullying) di sekolah: 1. Satukan persepsi dengan Istri/Suami Sangat penting bagi suami-istri untuk satu suara dalam menangani permasalahan yang dihadapi anak-anak di sekolah. Karena bila tidak, anak akan bingung dan justru akan semakin tertekan. Kesamaan persepsi yang dimaksud meliputi beberapa aspek, misalnya: apakah orang tua perlu ikut campur, apakah perlu datang ke sekolah, apakah perlu menemui orang tua pelaku intimidasi, termasuk apakah perlu lapor ke polisi. 2. Pelajari dan kenali karakter anak sendiri Perlu kita sadari bahwa satu satu penyebab terjadinya bullying adalah karena ada anak yang memang punya karakter yang mudah dijadikan korban. Salah satunya adalah sikap ‘cepat merasa bersalah’ atau penakut yang dimiliki anak. Dengan mengenali karakter anak kita, kita akan bisa mengantisipasi berbagai potensi intimidasi yang menimpa anak kita, atau setidaknya lebih cepat menemukan solusi (karena kita menjadi lebih siap secara mental). 3. Jalin komunikasi dengan anak Tujuannya adalah anak akan merasa cukup nyaman (meskipun tentu saja tetap ada rasa tidak nyamannya) bercerita kepada kita sebagai orang tuanya ketika mengalami intimidasi di sekolah. Ini menjadi kunci berbagai hal, termasuk untuk memonitor apakah suatu kasus sudah terpecahkan atau belum. Biasanya anak-anak lebih banyak/sering bercerita ke ibunya, meskipun sudah sampai pada tahap pemecahan masalah, ibu yang lebih banyak berperan.


Headline

7

4. Jangan terlalu cepat ikut campur Idealnya, masalah antar anak-anak bisa diselesaikan sendiri oleh mereka, termasuk di dalamnya kasus-kasus bullying. Oleh karena itu, prioritas pertama memupuk keberanian dan rasa percaya diri pada anak-anak kita (yang menjadi korban intimidasi). Kalau anak kita punya kekurangan tertentu, terutama kekurangan fisik, perlu kita tanamkan sebuah kepercayaan bahwa itu merupakan pemberian Tuhan dan bukan sesuatu yang memalukan. Kedua, jangan terlalu ‘termakan’ oleh ledekan teman, karena hukum di dunia ledek-meledek adalah ‘semakin kita terpengaruh ledekan teman, semakin senang teman yang meledek

itu’.

5. Masuklah pada saat yang tepat Jangan lupa, bahwa seringkali anak kita sendiri (yang menjadi korban intimidasi) tidak senang kalau kita (orang tuanya) turut campur. Situasinya menjadi paradoksal: Anak kita menderita karena diintimidasi, tetapi dia takut akan lebih menderita lagi kalau orang tuanya turut campur. Karena para pelaku bullying akan mendapat bahan tambahan, yaitu mencap korbannya sebagai ‘anak mami’, ‘cemen’, dsb. Oleh karena itu, kita mesti benar-benar mempertimbangkan saat yang tepat ketika memutuskan untuk ikut campur menyelesaikan masalah. Beberapa indikator ialah : (1) Kasus tertentu tak kunjung terselesaikan, (2) Kasus yang sama terjadi berulang-ulang, (3) Kasusnya adalah pemerasan, melibatkan uang dalam jumlah cukup besar, (4) Prestasi belajar anak mulai terganggu. 6. Bicaralah dengan orang yang tepat Jika sudah memutuskan untuk ikut campur dalam menyelesaikan masalah, pertimbangkan masak-masak apakah akan langsung berbicara dengan pelaku intimidasi, orang tuanya, atau gurunya. Sebaiknya berbicara langsung dengan anak sendiri, lalu dengan pelaku intimidasi dan sekaligus guru/wali kelasnya dalam satu kesempatan di sekolah. Hindri berbicara dengan orang tua pelaku intimidasi, karena khawatir masalahnya jadi melebar kemana-mana dan situasi menjadi sangat emosional. 7. Kalau perlu, intimidasilah pelaku intimidasi Menjadi pertanyaan memang, koq melawan intimidasi dengan intimidasi. Idealnya memang jangan melakukan itu, tetapi kalau memang diperlukan, saya tak segan melakukannya. Pesan yang perlu disampaikan: (1) Untuk anak sendiri: yakinkan dia bahwa kita berada di sisinya, sehingga dia tidak merasa sendirian (2) Untuk pelaku intimidasi: yakinkan dia kalau dia melakukannya terus, dia akan berhadapan dengan kita (3) Untuk guru/sekolah: mereka harus tahu kalau sekolah/guru tidak bisa menyelesaikan masalah itu, maka kita sebagai orang tua Korban akan ikut campur menyelesaikannya dengan cara saya sendiri. Pendekatan yang agak-agak bergaya ‘preman’ ini sebaiknya menjadi pilihan terakhir (sebelum lapor ke polisi). 8. Jangan ajari anak lari dari masalah Dalam beberapa kasus, anak-anak kadang merespon intimidasi yang dialami di sekolah dengan minta pindah sekolah. Kalau dituruti, itu sama saja dengan lari dari masalah. Jadi, sebisa mungkin jangan dituruti. Kalau ada masalah di sekolah, masalah itu yang mesti diselesaikan, bukan dengan ‘lari’ ke sekolah lain. Jangan lupa, bahwa kasus-kasus bullying terjadi hampir di semua sekolah. 9. Buah Simalakama? Makanlah Salah Satunya. Kadang-kadang kita dihadapkan pada 2 situasi yang sama-sama buruk: (1) Anak kita menjadi korban, atau (2) Anak kita tidak mau menjadi korban dan melawannya dengan kekerasan. Ketika dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama buruk itu, pilihlah yang nomor (2), yaitu membiarkan anak melawan, meskipun dengan cara kekerasan. 10. Jangan larut dalam emosi Ada yang bilang, ‘orang emosi selalu kalah’. Jadi, usahakan semaksimal mungkin tidak larut dalam emosi, baik dalam bentuk ‘menangisi anak kita’ (yang menjadi korban) maupun melabrak teman anak kita atau orang tuanya. Semua langkah yang kita ambil harus terkendali oleh akal sehat. Karena kalau tidak, masalah bisa melebar ke mana-mana. Dan kalau masalahnya sudah selesai, atau dianggap selesai, jangan diungkit-ungkit terus. Jadikan pelajaran dan lupakan saja/ Masih banyak persoalan lain yang menunggu. Selain itu, berikut beberapa penanganan yang bisa dilakukan orang tua yang anaknya menjadi korban bullying: 1. Usahakan mendapat kejelasan mengenai apa yang terjadi. Tekankan bahwa kejadian tersebut bukan kesalahan anak yang menjadi korban. 2. Bantu anak mengatasi ketidak-nyamanan yang ia rasakan, jelaskan apa yang terjadi dan mengapa hal itu terjadi. Pastikan menerangkan dalam bahasa sederhana dan mudah dimengerti anak. JANGAN PERNAH MENYALAHKAN ANAK atas tindakan bullying yang ia alami. 3. Mintalah bantuan pihak ketiga (guru atau ahli profesional) untuk membantu mengembalikan anak ke kondisi normal jika dirasakan perlu. Untuk itu, bukalah mata dan hati sebagai orang tua. Jangan tabu untuk mendengarkan masukan pihak lain. 4. Amati perilaku dan emosi anak anda, bahkan ketika kejadian bully yang ia alami sudah lama berlalu (ingat bahwa biasanya korban menyimpan dendam dan berpotensi menjadi pelaku di kemudian waktu). Bekerja samalah dengan pihak sekolah (guru). Mintalah mereka membantu dan mengamati bila ada perubahan emosi atau fisik anak. Waspadai perbedaan ekspresi agresi yang berbeda yang ditunjukkan anak di rumah dan di sekolah (berada atau tidak berada di hadapan orang tua / guru / pengasuh). 5. Binalah kedekatan dengan teman-teman anak. Cermati cerita mereka tentang anak. Waspadai perubahan atau perilaku yang tidak biasa. Berikut beberapa pencegahan agar anak tidak menjadi korban bullying: 1. Bekali anak dengan kemampuan membela dirinya sendiri, terutama ketika tidak ada orang dewasa/ guru/orang tua di dekatnya. Ini berguna untuk pertahanan diri anak dalam segala situasi yang mengancam atau berbahaya, tidak hanya dalam kasus bullying.


Headline

8

Pertahanan diri ini dapat berbentuk fisik dan psikis. - Pertahanan diri Fisik: bela diri,berenang,kemampuan motorik yang baik (bersepeda, berlari), kesehatan yang prima. - Pertahanan diri Psikis : rasa percaya diri, berani, berakal sehat, kemampuan analisa sederhana, kemampuan melihat situasi (sederhana), kemampuan menyelesaikan masalah. 2. Bekali anak dengan kemampuan menghadapi beragam situasi tidak menyenangkan yang mungkin ia alami dalam kehidupannya. Selain kemampuan mempertahankan diri secara psikis seperti yang dijelaskan di atas. Maka. yang diperlukan adalah kemampuan anak bertoleransi terhadap beragam kejadian. Sesekali membiarkan (namun tetap mendampingi) anak merasakan kekecewaan, akan melatih toleransi dirinya. 3. Walau anak sudah diajarkan untuk mempertahankan diri dan dibekali kemampuan agar tidak menjadi korban tindak kekerasan, tetap beritahukan anak kemana ia dapat melapor atau minta pertolongan atas tindakan kekerasan yang ia alami (bukan saja bullying). Terutama tindakan yang tidak dapat ia tangani atau tindakan yang terus berlangsung walau sudah diupayakan untuk tidak terulang. 4. Upayakan anak mempunyai kemampuan sosialisasi yang baik dengan anak-anak sebaya atau dengan orang yang lebih tua. Dengan banyak berteman, diharapkan anak tidak terpilih menjadi korban bullying karena Kemungkinan ia sendiri berteman dengan pelaku, tanpa menyadari bahwa temannya adalah pelaku bullying kepada teman lainnya dan kemungkinan pelaku enggan memilih anak sebagai korban karena memiliki banyak teman yang mungkin akan membelanya. 5. Sosialisasi yang baik dengan orang yang lebih tua, guru atau pengasuh atau lainnya, akan memudahkan anak ketika ia mengadukan tindakan kekerasan yang ia alami. 6. Anak harus memiliki konsep diri yang baik, dalam arti mengenal betul kelebihan dan kekurangan dirinya, sehingga ia tidak akan terganggu oleh tekanan-tekanan dari teman-teman atau pelaku bullying. Biasanya jika korban atau calon korban tidak menggubris, pelaku bullying tidak akan mendekatinya lagi. 7. Bekali anak dengan keterampilan asertif, sehingga bisa memberikan kesan kepada pelaku bahwa dirinya bukan pihak yang bisa dijadikan korban. Penanganan untuk anak yang menjadi pelaku Bullying: 1. Segera ajak anak bicara mengenai apa yang ia lakukan. Jelaskan bahwa tindakannya merugikan diri sendiri dan orang lain. Upayakan bantuan dari tenaga ahli agar masalah tertangani dengan baik dan selesai dengan tuntas. 2. Cari penyebab anak melakukan hal tersebut. Penyebab menjadi penentu penanganan. Anak yang menjadi pelaku karena rasa rendah diri tentu akan ditangani secara berbeda dengan pelaku yang disebabkan oleh dendam karena pernah menjadi korban. Demikian juga bila pelaku disebabkan oleh agresifitas yang berbeda. 3. Posisikan diri untuk menolong anak dan bukan menghakimi anak. Blaming the Victim Masalah bullying adalah masalah kita semua. Pemerintah, polisi, politisi, masyarakat, guru, orang tua, dan siswa. Seharusnya semua lapisan memiliki kepedulian bersama dalam menyelesaikan masalah bullying ini. Sayangnya, tidak sedikit orang yang menganggap masalah bullying sebagai masalah pelajar itu sendiri. Karenanya, mereka selalu menganggap pelajar sebagai biang masalah. Ini merupakan sikap dan tindakan yang dikenal dengan istilah ‘blaming the victim’ (menyalahkan korban). Blaming the victim sebenarnya mirip dengan cerita petani yang menemukan buah anggur yang ranum di atas pohon tetapi pohonnya sangat tinggi. Sementara itu, si petani tidak bisa memanjat pohon itu. Lalu si petani mencari bambu untuk memetiknya. Sayangnya ia tidak menemukan bambu panjang yang bisa mencapai buah anggur. Tak kehabisan akal, si petani melempari anggur dengan batu dan ternyata tidak ada yang kena. Akhirnya, si petani meninggalkannya, sambil bergumam, ”Hmmm, anggur itu pasti rasanya masam.”Blaming the victim makanya perlu dihindari. Karena bukannya menyelesaikan masalah, melainkan menghindar dari masalah. Blaming the victim merupakan wujud dari ketidak-mampuan (atau ketidak-mauan) seseorang dalam menyelesaikan masalah. Dari masalah ke akar masalah Selain blaming the victim, problem lain yang menghambat penyelesaian bullying adalah terpaku kepada masalah, tanpa menyadari penyebab yang menjadi akar masalah. Padahal, mengetahui dan menyelesaikan akar suatu masalah merupakan salah satu teknik problem solving yang jitu. Penyelesaian suatu kasus tanpa menyelesaikan akar masalahnya akan sia-sia belaka. Kalaupun berhasil, sifatnya hanya sementara. Tidak lama kemudian akan muncul lagi. Demikian juga dalam menghadapi kasus bullying.Tidak cukup hanya menghukum para pelajar yang melakukannya. Sebab, banyak faktor yang dapat dihubungkan sebagai akar masalah yang menjadi penyebab terjadinya bullying. Misalnya, sistem pendidikan yang tidak membebaskan, suasana belajar yang tidak kondusif, langkanya keteladanan guru dan pelajar senior, pengaruh negatif media massa, keluarga yang broken home, serta masih banyak faktor penyebab lainnya. Komunikasi = Muara Solusi Menyelesaikan kasus bullying sesungguhnya bisa dimulai dengan cara membangun komunikasi yang terbuka antara guru, orang tua dan murid. Selama ini, komunikasi antara mereka seringkali tidak berjalan dengan baik dan efektif. Orang tua, misalnya jarang memberi perhatian terhadap anaknya, baik di rumah atau di sekolah. Mereka mungkin terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan, sehingga tidak sempat (atau tidak mau menyempatkan diri) berkomunikasi dengan anak dan pihak sekolah. Sementara itu, di sekolah, guru cenderung ingin didengar oleh murid. Komunikasi yang dibangun hanya satu arah.Tidak banyak guru yang memposisikan dirinya sebagai fasilitator atau mitra berbagi dengan murid. Sedangkan murid-murid lebih suka mengambil jalan sendiri, dan tidak tahu kepada siapa dia harus berkomunikasi. Oleh karena itu, komunikasi sangat penting dalam membangun suasana yang sejuk dan damai. Komunikasi menjadi semacam muara bagi solusi atas kasus-kasus kekerasan di kalangan pelajar. Kesediaan semua pihak, terutama orang tua, guru, dan murid, untuk menjalin komunikasi yang positif, terbuka, dan jujur, akan membuka jalan menuju solusi yang efektif dalam menyelesaikan kasus bullying. Pertanyaannya sekarang, seperti bunyi iklan sebuah vendor komunikasi, ”Mau?”.


Headline

9

Cara paling ideal untuk mencegah terjadinya bullying : • Mengajarkan kemampuan asertif, yaitu kemampuan untuk menyampaikan pendapat atau opini kepada orang lain dengan cara yang tepat. Hal ini termasuk kemampuan untuk mengatakan TIDAK atas tekanan-tekanan yang didapatkan dari teman/pelaku bullying. • Sekolah meningkatkan kesadaran akan adanya perilaku bullying (tidak semua anak paham apakah sebenarnya bullying itu) dan bahwa sekolah memiliki dan menjalankan kebijakan anti bullying. Murid harus bisa percaya bahwa jika ia menjadi korban, ia akan mendapatkan pertolongan. Sebaliknya, jika ia menjadi pelaku, sekolah juga akan bekerjasama dengan orang tua agar bisa bersama-sama membantu mengatasi permasalahannya. • Memutus lingkaran konflik dan mendukung sikap bekerja-sama antar anggota komunitas sekolah, tidak hanya interaksi antar murid dalam level yang sama, tetapi juga dari level yang berbeda. Cara mencegah anak menjadi pelaku bullying : Perilaku ini sebenarnya bisa dicegah jika sekolah dan orang tua memiliki pemahaman yang menyeluruh mengenai anak. Kunci utama dari antisipasi masalah disiplin dan bullying adalah hubungan yang baik dengan anak. Hubungan yang baik akan membuat anak terbuka dan percaya bahwa setiap masalah yang dihadapinya akan bisa diatasi dan bahwa orang tua dan guru akan selalu siap membantunya. Dari sinilah anak kemudian belajar menyelesaikan masalah dengan cara yang tepat. Sementara itu, diskusi tentang ‘Bullying’ di THE CENTER FOR THE BETTERMENT OF EDUCATION, SAVE THE CHILDREN, ikut memberikan beberapa solusi dan rekomendasi dalam rangka mengurangi bullying di sekolah anak anak kita, yaitu: Pencegahan Bullying Secara Preventif : 1. Sosialisasikan anti-bullying kepada siswa, guru, orang tua siswa, dan segenap civitas akademika di sekolah. 2. Terapkan aturan di sekolah yang mengakomodasi aspek anti-bullying. 3. Buatlah aturan anti-bullying yang disepakati oleh siswa, guru, institusi sekolah dan semua civitas akademika institusi pendidikan / sekolah. 4. Tegakkan aturan / sanksi / kedisiplinan sesuai kesepakatan institusi sekolah dan siswa, guru dan sekolah, serta orang tua, dan dilaksanakan sesuai dengan prosedur pemberian sanksi. 5. Membangun komunikasi dan interaksi antar-civitas akademika. 6. Meminta Departeman Pendidikan memasukkan muatan kurikulum pendidikan nasional yang sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif anak/siswa agar tidak terjadi learning difficulties. 7. Adakan pendidikan parenting agar orang tua memiliki pola asuh yang benar. 8. Mendesak Depdiknas memasukkan muatan kurikulum institusi pendidikan guru yang mengakomodasi anti-bullying. 9. Melarang pemuatan dalam media cetak, elektronik, film, dan internet tentang bullying dan mendesak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengawasi siaran yang memasukkan unsur bullying. 10. Akomodasikan kemudahan akses orang tua atau publik ke lembaga terkait, ke institusi pendidikan/sekolah sebagai bentuk pengawasan untuk mencegah dan menyelesaikan bullying atau membentuk pos pengaduan bullying. Solusi setelah terjadi bullying: 1. Adakan pendekatan persuasif danpersonal melalui teman (peer coaching). 2. Adakan penegakan aturan/sanksi/disiplin sesuai kesepakatan institusi sekolah dengan siswa, guru dan sekolah, serta orang tua dan dilaksanakan sesuai dengan prosedur pemberian sanksi, lebih ditekankan pada penegakan sanksi humanis dan pengabdian kepada masyarakat (student service). 3. Lakukan komunikasi dan interaksi antar pihak pelaku dan korban serta orangtua. 4. Eksposlah media yang memberikan penekanan munculnya efek negatif terhadap perbuatan bullying, sehingga menjadi pembelajaran bagi semua pihak agar tidak melakukan perbuatan serupa.

Say ‘no’ to BULLYING, STOP HERE…! ! !


OPINION

Mau dibawa kemana arah pendidikan kita?

10

By: Lilik Eko Ariyanto, S.Pd.

Memperingati hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2013 kemarin, rasanya kita diingatkan kembali akan makna hakiki dari kata ‘pendidikan’. Pendidikan merupakan sebuah kata yang sangat familiar kita dengar dalam hidup sehari-hari, sebab pendidikan merupakan kegiatan penting yang dilakukan oleh hampir semua orang dari berbagai lapisan masyarakat. Pendidikan sebagai sesuatu yang penting memang tidak terlepas dari banyaknya pendapat dan asumsi tentang arti dan definisi pendidikan yang sebenarnya. Karena jika pemahaman tentang pendidikan saja salah, bagaimana pendidikan dapat dilaksanakan.

‘Live long education’ bermakna bahwa pendidikan berlangsung sampai manusia itu meninggal dan kembali ke pangkuan Tuhan. Memahami pendidikan seumur hidup. Prof. Herman H. Horn mengartikan sebagai berikut, ”Pendidikan

adalah proses abadi dari penyesuaian lebih tinggi bagi makhluk yang telah berkembang secara fisk dan mental yang bebas dan sadar kepada Tuhan seperti termanifestasikan dalam alam sekitar, intelektual, emosional dan kemauan dari manusia.” Pendidikan juga bisa terjadi karena pola hubungan antara orang dewasa sebagai subyek pendidikan dan anakanak sebagai obyek pendidikan. Kali ini M.J. Langeveld memberikan pendapat sebagai berikut, “Pendidikan adalah

pergaulan yang terjadi antara orang dewasa dengan anak-anak dalam suatu lapangan atau suatu keadaan dimana pekerjaan mendidik itu berlangsung.”

Pendidikan juga merupakan proses pengalaman yang berjalan melaui fase atau tahapan – tahapan tertentu yang diharapkan mengalami perkembangan progres menjadi semakin lebih cakap. Prof. Dr. John Dewey berpendapat bahwa, “Pendidikan adalah suatu proses pengalaman. Karena kehidupan adalah pertumbuhan, pendidikan berarti

membantu pertumbuhan batin tanpa dibatasi oleh usia. Proses pertumbuhan ialah proses menyesuaikan pada tiap fase serta menambahkan kecakapan dalam perkembangan seseorang.”

Jika kita menilik lebih jauh, pendidikan itu juga diartikan sebagi arah yang sudah dipilih untuk menjadi arah yang sesuai dengan cita-cita obyek didikan. Prof. H. Mahmud Yunus meng-ya-kan dengan pernyataannya, ”Pendidikan adalah

usaha-usaha yang sengaja dipilih untuk mempengaruhi dan membantu anak dengan tujuan peningkatan keilmuan, jasmani dan akhlak; sehingga secara bertahap dapat mengantarkan si anak kepada tujuannya yang paling tinggi agar si anak hidup bahagia, serta seluruh apa yang dilakukannya menjadi bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat.”

Pendididkan juga sebuah proses yang terencana secara baik supaya obyek didikan dapat mengembangkan potensi diri agar bisa mencuat, untuk kemudian bisa dipergunakan bagi kehidupan obyek didikan kelak di masa depannya, baik buat dirinya maupun orang lain di sekitarnya. Hal ini didukung Wikipedia yang berpendapat bahwa, ”Pendidikan

adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.”

Eksistensi obyek didikan perlu diarahkan agar obyek didikan mendapatkan kecakapan dalam pengetahuan dan pemahaman obyek tertentu dan memiliki pola pikir yang progresif dan benar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991) juga dikatakan, ”Pendidikan diartikan sebagai proses pembelajaran bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan

pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek-obyek tertentu dan spesifik. Pengetahuan tersebut diperoleh secara formal yang berakibat individu mempunyai pola pikir dan perilaku sesuai dengan pendidikan yang telah diperolehnya.” Nah, bertolak dari berbagai referensi tersebut, kita mau bawa kemana arah pendidikan dan pengajaran kita ?

(Rata-rata Kelas VI SD = 8,35) Daftar yang mendapat Nilai maksimal 10,00 : Matematika : 1) Adhithana 8) Albert Hermawan 15) Felita Putri G. 2) Anastacia 9) Caroline Yanditama 16) Fellia 3) Aurelia A. W. 10) Sherrica A. S 17) Jetlee Putra 4) Jonathan Adelwin 11) Yuniar Marcella 18) Samuel N. 5) Jovan Frandika 12) Christian Imanuel 19) Stanley Jaya 6) Sherlen Elysia 13) Darren Ngoh 7) Yenny Angkasa 14) Evans Hebert

Bahasa Indonesia : Matthew Alan

Nilai Ujian Nasional Tertinggi : Christian

Imanuel

(rata-rata 9,78)


PENDIDIKAN

IDEAL itu harus diperjuangkan By: REDAKSI PENDIDIKAN SKY MAGAZINE

11

Banyak yang tidak tahu tentang perangkat vital dan ideal dunia pendidkan dan pengajaran di sekolah, kali ini SKY MAGAZINE mencoba memberikan referensi tentang Guru Ideal dan Siswa Ideal, semoga berguna. I. GURU IDEAL Guru ideal adalah dambaan peserta didik, yang mampu menjadi panutan dan selalu memberikan contoh atau keteladanan. Ilmunya seperti mata air yang tak pernah habis. Semakin diambil semakin jernih airnya. Airnya mengalir bening dan menghilangkan rasa dahaga bagi siapa saja yang meminumnya. Guru ideal adalah guru yang mengusai ilmunya dengan baik. Mampu menjelaskan dengan baik apa yang diajarkannya. Disukai oleh peserta didiknya karena cara mengajarnya yang enak didengar dan mudah dipahami. Ilmunya mengalir deras dan terus bersemi di hati para anak didiknya.Tetapi, dia pun harus bisa menerima kritikan dari peserta didiknya. Dari kritik itulah dia dapat belajar dari para peserta didiknya. Guru ideal justru harus belajar dari peserta didiknya. Dari mereka guru dapat mengetahui kekurangan cara mengajarnya dan melakukan umpan balik (feedback). Benarkah sosok itu ada? Lalu seperti apakah sosok guru ideal yang diperlukan saat ini? Apakah guru ideal hanyalah guru yang sudah lulus sertifikasi guru? Benarkah demikian? Dari hasil renungan yang mendalam dan juga hasil wawancara dengan beberapa guru didapatkan pendapat yang beragam dan dapat dikerucutkan pada tiga pendapat. Guru ideal yang diperlukan saat ini adalah: Pertama: Guru yang memahami benar profesinya, padahal profesi guru adalah profesi yang mulia. Dia adalah sosok yang selalu memberi dengan tulus dan tak mengharapkan imbalan apapun, kecuali ridho dari Tuhan pemilik bumi. Falsafah hidupnya adalah tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah. Ia hanya member,i tak harap kembali. Dia mendidik dengan hatinya. Kehadirannya dirindukan oleh peserta didiknya. Wajahnya selalu ceria, senang, dan selalu menerapkan 5-S (Senyum, Salam, Sapa, Syukur, dan Sabar) dalam kesehariannya. Kedua: Guru yang ideal adalah guru yang memiliki sifat selalu 1) berkata benar, 2) penyampai yang baik, 3) kredibel, dan 4)cerdas. Guru yang memiliki keempat sifat itu adalah guru yang mampu memberikan keteladanan dalam hidupnya karena memiliki budi pekerti luhur, selalu berkata benar, mengajarkan kebaikan, dapat dipercaya, dan memiliki kecerdasan yang luar biasa. Sifat-sifat tersebut harus dimiliki oleh guru dalam mendidik anak didiknya karena memiliki motto ‘Iman, Ilmu, dan Amal’. Ia harus memiliki iman yang kuat, menguasai ilmunya dengan baik, dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya kepada orang lain. Ketiga: Selain itu, guru yang ideal adalah guru yang memiliki 5 kecerdasan. Kecerdasan yang dimiliki terpancar jelas dari karakter dan perilaku sehari-hari, baik ketika mengajar ataupun dalam hidup ditengah-tengah masyarakat. Kelima kecerdasan itu adalah: (1) kecerdasan intelektual (2) kecerdasan moral (3) kecerdasan sosial (4) kecerdasan emosional (5) kecerdasan motorik Kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan kecerdasan moral. Bila kecerdasan intelektual tidak diimbangi dengan kecerdasan moral akan menghasilkan peserta didik yang hanya mementingkan keberhasilan daripada proses. Segala cara dianggap halal, yang penting target tercapai semaksimal mungkin. Inilah yang terjadi pada masyarakat kita sehingga kasus plagiarisme (menjiplak karya tulis ilmiah milik orang lain) dan korupsi merajalela di kalangan orang terdidik. Karena itu kecerdasan moral akan mengawal kecerdasan intelektual sehingga akan mampu berlaku jujur dalam situasi apapun. Kejujuran adalah kunci keberhasilan dan kesuksesan. Selain kecerdasan intelektual dan moral, kecerdasan sosial juga harus dimiliki oleh guru ideal agar tidak egois dan selalu memperdulikan orang lain yang membutuhkan pertolongannya. Dia pun harus mampu bekerjasama dengan orang lain yang berkarakter berbeda. Kecerdasan emosional harus ditumbuhkan agar guru tidak mudah marah, tersinggung, dan melecehkan orang lain. Dia harus memiliki sifat penyabar dan pemaaf. Sedangkan kecerdasan motorik diperlukan agar guru mampu melakukan mobilitas tinggi sehingga mampu bersaing dalam memperoleh hasil yang maksimal. Kecerdasan motorik harus senantiasa dilatih agar guru dapat menjadi kreatif dan berprestasi. Guru seperti ini harus memiliki ambisi dan cita-cita tinggi seperti menggapai bintang di langit.Tak salah bila pada akhirnya peserta didik mengatakan, “Guruku mampu menggapai bintang di langit.� Oleh karena itu, sudah sewajarnya bila seorang guru mampu berlomba-lomba menjadi sosok guru ideal, ideal dimata peserta didik, ideal dimata masyarakat, dan ideal dimata Sang Maha Pemberi. Bila semakin banyak guru ideal tersebar di sekolah-sekolah, sudah dapat dipastikan akan banyak pula sekolah-sekolah berkualitas yang mampu membentuk karakter siswa agar memiliki budi pekerti yang luhur. Sehingga kita semua mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang diharapkan oleh para leluhur bangsa. Semoga sosok guru ideal semakin banyak dalam dunia pendidikan kita, khususnya di Sekolah Kristen Yusuf. II. SISWA YANG IDEAL Seorang siswa biasa dijadikan teladan bukan dilihat dari kepintarannya saja, tetapi dilihat juga dari berbagai aspek, yaitu diantaranya kreatifitasnya, atensi, keaktifan cara berbicara, kedisiplinan, kepatuhan, dan sifat-sifat baik lainnya. Keenam sifat utama tersebut adalah creative, attentive, obedient, dan good. Jika disingkat menjadi CAT–DOG, judul sebuah film kartun yang terdiri dari dua makhluk binatang yang bersatu dalam satu tubuh dan tidak terpisahkan. Seperti halnya keenam kriteria siswa yang akan kita bahas, tidak bisa dipisah-pisahkan! Kriteria itu adalah: a. CREATIVE Seorang siswa harus memiliki kreatifitas tinggi jika ingin maju. Siswa harus memiliki kreatifitas tinggi jika ingin maju, jangan hanya ingin disuapi saja oleh guru dalam belajar. Siswa harus bisa menambah ilmu dengan kreatifitas. Misalnya: dalam bahasa Inggris, buatlah kamus sendiri dengan kosa kata yang sudah dipelajari, atau buatlah kumpulan rumus Matematika, Fisika dan hitung-hitungan Ekonomi dalam sebuah buku saku mungil yang bisa dibawa kemana-mana. Sehingga di mana saja bisa dibaca. Selain itu, siswa juga bisa ikut bimbingan belajar tambahan secara gratis dari TV, terutama pelajaran yang di-UNkan. Banyak sekali materi-materi yang disampaikan pada program TV tersebut. Kalau siswa rajin mengikutinya, wawasan akan bertambah, tidak hanya dari guru saja; terutama untuk siswa kelas IX dan XII yang akan sangat terbantu kesiapan menghadapi ujian kelak.


PENDIDIKAN

12

b. ATTENTIVE (=perhatian) Siapkan diri untuk belajar dengan memusatkan perhatian, baik terhadap pelajaran maupun kepada guru. Dengan perhatian yang terpusat ketika guru sedang mengajar, pikiran sepenuhnya akan terfokus. Biasanya jika kita memperhatikan guru, materi pelajaran akan terserap oleh otak, sehingga ingatan menjadi lebih lama terhadap pelajaran. Bandingkan jika kita tidak memperhatikan guru, maka ketika ditanya oleh guru atau ketika ulangan, pikiran siswa akan ‘blank’ karena otak tidak bekerja dengan baik, sehingga pengelolaan pikiran sangat kurang dan akibatnya otak menjadi lemah dalam memahami pelajaran. c. TALK-ACTIVE (=aktif berbicara) Siswa belum bisa dikatakan pintar kalau tidak terbiasa aktif berbicara. Aktif disini adalah ketika ada materi yang kurang di mengerti, harusbiasakan berani mengajukan pertanyaan dan sebaliknya jika guru mengajukan pertanyaan, harus sigap menjawab pertanyaan. Jadi, di dalam kelas ada interaksi antara guru dan siswa, sehingga suasana kelas menjadi hidup. d. DICIPLINE Kesuksesan seseorang tergantung pada kedisiplinannya. Begitupun siswa, jika ingin sukses, biasakan berdisiplin, terutama dalam waktu. Sebagai siswa yang penuh disiplin, harus datang in time dan pulang on time. In time artinya kalian harus datang sebelum pelajaran dimulai, atau sebelum pk 06.10 atau 12.10, sedangkan kalau pulang harus on time atau tepat waktu, yaitu saat bel pulang berbunyi. e. OBEDIENT (=kepatuhan) Siswa harus selalu mematuhi semua peraturan yang berlaku , baik peraturan yang ada di sekolah maupun yang lainnya. Contoh peraturan di sekolah adalah berpakaian seragam yang dilengkapi atribut sekolah, untuk perempuan memakai rok yang panjangnya beberapa cm di bawah lutut , rambut tidak boleh diwarnai , kuku tidak boleh di-kutex , dan lain-lain.I ni semua adalah untuk membedakan sebagai pelajar dengan yang bukan pelajar. Atau berlaku juga tidak membawa HP ke sekolah. Peraturan ini ditujukan agar tidak menggunakan HP di sekolah untuk hal-hal yang tidak diinginkan yang bisa mengganggu kegiatan belajar. Jika membawa HP ke dalam kelas dan tidak di non aktifkan, ketika sedang belajar, atau ketika sedang diskusi, siswa malah asyik mengakses internet atau mendengarkan lagu, atau ber-SMS-ria. f. GOOD (= bersifat baik) Pelajar dituntut bersikap baik. Contoh: selalu berbicara sopan dan lemah lembut,j angan terbiasa melontarkan kata-kata tidak baik, terutama yang berkaitan dengan kosa kata kebun binatang. Ketika bertemu guru , ucapkan salam dan jangan dibiasakan bergosip tentang guru, baik cara mengajarnya ataupun cara menerangkan pelajaran di kelas . Sikap baik lainnya adalah selalu bersikap jujur dan rendah hati, dan masih banyak lagi. Jika keenam sifat yang diuraikan di atas dimiliki dan dilaksanakan oleh para siswa dalam kehidupan sehari-hari, siswa/i tersebut bisa dijadikan panutan oleh teman-teman atau orang-orang di sekeliling mereka, sebab mereka pantas menjadi siswa/i yang ideal dalam segala hal. Kalau sifat-sifat ini sudah tertanam dalam diri, maka tidak akan ada lagi siswa yang dihukum karena tidak mentaati peraturan, tidak akan ada teman yang disakiti, dan yang paling utama adalah mampu menjadi siswa yang baik dalam segala hal. Hai para siswa, terapkanlah keenam sifat CREATIVE, ATTENTIVE, TALK-ACTIVE ,DISCIPLINE, OBEDIENT, dan GOOD dalam keseharian kalian!

(Rata-rata Kelas IX SMP = 8,38) Daftar yang mendapat Nilai maksimal 10,00 : Matematika : 1) Timotius Sumito 4) Hannairne Rosita 2) Andera 5) Julian Adiputra 3) Christofer Devlin 6) Raymond Widjaja

Nilai Ujian Nasional Tertinggi : Julian Adiputra (rata-rata 9,51)


CERPENKU, CERPENMU, CERPEN KITA

13

TAKDIRKU By: REDAKSI

“Sinta… Gusti Allah akhirnya mengantarku ke sini sekarang…. karena memang ini jalan terbaik untuk aku….aku bertekad menyerahkan hidupku disini… di tempat ini…. sampai akhirnya aku kembali kepada sang klaliq..”

Cerita ini aku mulai ketika seseorang menanyakan kembali, aku ini siapa sebenarnya, kenapa aku sekarang di sini, di tempat ini dan menyerahkan hidupku di sini. Sungguh ini sangat berat aku jawab, karena menyangkut banyak hal yang lama aku simpan rapat-rapat agar tiada seorangpun tahu siapa aku ini sebenarnya. Tetapi beban ini harus aku bagi, sekalian berbagi cerita, siapa tahu bisa menjadi referensi bermanfaat bagi orang lain, itu prinsipnya. Maka Ketika aku memulai cerita ini serasa mengangkat batu besar yang selama ini menutup rapat kehidupanku. Dengan menarik nafas panjang, aku mulai ceritaku. Suatu hari menjelang sore, usai pengumuman kelulusan SMA-ku , di sebuah kota kecil kelahiranku, aku duduk lemas menatapi air kolam ikan bapakku yang airnya butek tidak jernih lagi. Jatuhnya air dari pancuran bambu di ujung kali kecil yang dimanfaatkan bapakku buat sumber sirkulasi air kolam itu menimbulkan suara gemericik. Di bawah pancuran beriak ombak kecil melingkar di pusat jatuhnya air pancuran, untuk kemudian perlahan memudar. Sama seperti pudarnya impianku untuk masuk di fakultas kedokteran universitas negeri di kota kecilku yang dari dulu menjadi harapan dan cita-cita bapakku yang hanya seorang guru SD, yang mengandalkan honor bulanan, yang punya cita-cita setinggi bintang di langit untuk anak laki-lakinya. Pikiranku menerawang,mencoba mengulik kenangan-kenangan masa lalu, ketika aku masih usia belasan. Masa yang kata orang bijak adalah masa-masa terindah dalam perjalanan hidup seseorang. Aku melewati masa remaja kecilku seperti layaknya remaja-remaja kecil lain yang penuh canda, bermain, bercita-cita setinggi langit dan lain sebagainya.S ampai akhirnya aku terjebak dalam kepahitan hidup yang akhirnya bermuara pada keputus-asaan yang tiada berkesudahan. Semua ini bermula ketika suatu ketika bapak berkata kepadaku, “Bejo, bapakmu ini rela menjadi apa aja asalkan kamu bisa jadi dokter.” Sebuah pernyataan yang tidak rasional saat ini aku pikir, jika aku melihat kondisi keluarga kami yang miskin. ”Bapak, biaya jadi dokter itu mahal.”, sahutku mencoba mengingatkan bapak, tanpa harus membuatnya kecewa dengan perlawananku, sekaligus membangunkan bapakku dari mimpinya. Aku lihat saat itu wajah bapak begitu tegang dan sangat serius, aku perhatikan kilatan matanya yang tajam, guratan dan lipatan hampir di seluruh wajahnya, menyisakan betapa kerasnya perjalanan hidup bapakku. Jujur saja aku harus akui bapakku memang termasuk laki-laki pekerja keras yang pantang menyerah. Jika sudah punya kemauan, harus terlaksana. Tertatih bapakku menggeser kursi di sampingku saat itu. Setelah duduk dan memandangi aku agak lama, baru dia mulai berbicara, ” Kamu anak laki-laki bapak satu-satunya, kalau kamu berhasil melewati kesulitan ini, bapak yakin adik-adikmu akan mengikuti langkahmu.” , kata bapak sambil menepuk bahuku. Aku menunduk berusaha memahami apa yang dia ucapkan. Aku pikir bapak mulai tidak rasional, dengan biaya apa aku bisa jadi dokter, sedangkan kalau aku jujur, buat makan sehari-hari dan biaya sekolah aku dan adik-adikku saja, bapakku ngutang di koperasi sekolahnya. Kupandangi wajah renta yang ada di sampingku saat itu, kasihan dia, orang kecil bercita-cita besar. Rasanya mustahil, imposible! Seperti pungguk merindukan bulan, tetapi juga tidak selamanya pribahasa itu benar, yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin, misalnya Amstrong akhirnya sampai ke bulan, pikirku mencari pembenaran. Kembali laki-laki itu berucap, “Untuk jadi dokter, yang penting kamu masuk IPA dulu. Selanjutnya biar Gusti Allah yang mengantarmu ke fakultas itu.” , katanya pasrah, kemudian mengelus kepalaku dan beranjak meninggalkan berbagai pertanyaan dalam otakku. Aku masih terduduk di kolam ikan bapak, aku lihat ikan nila berkelebat ke permukaan air kolam, di air yang keruh saja ada ikan yang berwarna indah, kenapa aku harus putus asa dengan keadaanku sekarang, bukankah siapapun berhak bercita-cita dan mengajarkan impiannya sampai kapanpun? “HUK….huk….huk”, suara batuk khas bapak menghentikan lamunanku. Aku menoleh ke arah suara itu. Di kejauhan tubuh renta itu mengangkat seember makanan ikan. Aku berlari mengejarnya, mencoba membantunya mengangkat makanan ikan itu. Wartawan yang dari tadi menulis dan merekam terkaget dan mengikuti langkahku. ”Sedang ngapain kamu di situ, Jo?” , tanya bapak menahan batuknya. Aku diam tidak menyahutnya. “Tiga bulan lagi kolam ini akan panen, mudah-mudahan hasilnya bagus.”, kata bapak penuh harapan. Menurut hitungan kasarku, 3 bulan dari sekarang adalah tahun ajaran baru. Berarti saat itu kami bertiga membutuhkan biaya begitu besar. Aku raup segenggam makanan ikan di ember itu, lalu aku tabur di kolam. Tak lama kemudian ikan-ikanpun bermunculan di atas permukaan air dengan mulutnya yang khas. “Bejo, kamu sekarang sudah besar, sudah hampir lulus SMA, apakah kamu punya pilihan lain setelah kamu lulus?” , pertanyaan bapak lirih aku dengar. Aku tertegun dengan pertanyaan itu, mulutku terkunci, pandanganku nanar ke depan, air mataku hampir tak sanggup kutahan, “Ada apa bapak menanyakan ini?”, pikirku. ”Tahun ini adik-adikmu masuk SMP dan SMA, sedang bapak, Jo……, huk..huk….huk…”, kalimat itu tidak berlanjut. Aku melihat guratan dan kesedihan serta kerapuhan di wajah bapak. ”Bapak sakit?”, pertanyaanku meluncur begitu saja. Bapak menatapku dengan tajam seolah meminta pengertian dan kesanggupanku untuk menerima kenyataan. “Kemarin bapak ke dokter, dan katanya bapak ada sakit yang cukup serius.”, aku tatap kembali kedua matanya, aku lihat dia berusaha keras membendung kegalauan hatinya biar tidak terlihat oleh aku. Sambil menepuk bahuku dia berlalu meninggalkanku. ”Bapak, Bejo sayang sama bapak.”, seruku mencoba menguatkannya. Tubuh renta itu perlahan menjauhiku untuk kemudian menghilang di balik tikungan. Ketika bayangnyanya lenyap seperti air bah, tangisku pecah, airmataku tumpah ruah. Aku tidak kuasa lagi manahan beban dalam batinku selama ini. Sambil terus menangis aku berrteriak sekeras-kerasnya, ”Bbbbbaaaaaaaapppppakkkkkkkk…… .”, teriakanku membelah udara sore itu. Aku bersujud di tanah. Aku pukul tanah sekuat tenagaku. Suaraku parau mengerang. Kutumpahkan segala kemarahananku, kekecewaanku, kesedihanku, keputus-asaanku, yang hampir 3 tahun membelengguku, sampai akhirnya bayangan tubuhkupun ditelan malam. Tak terasa air mataku menetes mengenang sisa-sisa keruntuhanku saat itu. “Sinta…Gusti Allah akhirnya mengantarku ke

sini sekarang…. karena memang ini jalan terbaik untuk aku….aku bertekad menyerahkan hidupku di sini…di tempat ini…. sampai akhirnya aku kembali kepada sang khaliq…” Kalimatku menutup cerita.


14

Movie In MAY By : Constantine untung Sanjaya

FAST & FURIOUS 6 Dom menggulingkan gembong pencurian dan meninggalkan kru mereka dengan 100 juta dollar.Kisah ini sudah tersebar di seluruh dunia. Tetapi mereka tidak bisa kembali ke rumah untuk menemui keluarganya. Sementara itu Hobbs melacak sebuah organisasi mematikan yang dibantu oleh Letty, wanita yang dicintai oleh Dom yang dikira sudah mati. Satusatunya cara menghentikan mereka adalah mengalahkan mereka di jalan, sehingga Hobbs meminta bantuan Dom beserta krunya. Hadiahnya adalah pengampunan penuh untuk mereka semua, sehingga mereka bisa kembali ke rumah dan berkumpul bersama keluarganya. Cast :Vin Diesel,Michelle Rodriguez,Paul Walker,Dwayne Johnson,Gina Carano Director :Justin Lin

Rating :D

STAR TREK : INTO DARKNESS Ketika kru kapal Enterprise kembali ke bumi, mereka menemukan teror dengan kekuatan yang luar biasa dan memutuskan untuk kembali meninggalkan bumi yang sedang dalam kehancuran. Dengan tujuan personal, kapten Kirk (Chris Pine) memimpin menuju zona perang untuk menangkap seorang pemusnah massal. Kirk bertarung antara kematian dan kehidupan yang penuh ujian rasa cinta, persahabatan dan pengorbanan yang harus ia buat untuk satu-satunya kelurga Kirk, yaitu kapal Enterprise. Cast :Chris Pine, Zachary Quinto, Zo Saldana,Karl Urban,Simon Pegg Director :JJ Abrams Rating :NR

THE GREAT GATSBY Nick Carraway (Tobey Maguire), pemuda asal Minnesota, pindah menuju New York untuk belajar bisnis. Ia menyewa sebuah rumah di wilayah West Egg di Long Island.I a bertemu Jay Gatsby (Leonardo Dicaprio), tetangganya, dan terperangkap dalam dunia yang dipenuhi pesta dan masyarakat glamour. CastLeonardo Dicaprio,Tobey Maguire,Carey Murigan,Joel Edgerton,Isla Fisher Director :Baz Luhrmann Rating :D


TOKOH

Mengenal tokoh Pendidikan Nasional

KI HAJAR DEWANTARA

15

“Aku adalah orang Indonesia, biasa bekerja untuk bangsa Indonesia, dengan cara Indonesia.” (Ki Hajar Dewantara) Dalam rangka memperingati hari pendidikan nasional 2 mei 2013 SKY MAGAZINE mengangkat profil tokoh pendidikan yang sekaligus pahlawan pendidikan di Indonesia, KI HAJAR DEWANTARA. Tokoh ini dikenal sebagai pahlawan pendidikan nasional. Pemikiran dalam meletakkan dasar-dasar pendidikan di Indonesia menjadikannya sebagai ‘Bapak Bangsa dalam Dunia Pendidikan’, karena Beliau pendidikan bangsa Indonesia mampu ‘melek pendidikan’. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat yang kemudian menjadi Ki Hajar Dewantara adalah seorang pendorong dan pemimpin Bangsa Indonesia dalam sejarah perjuangan pergerakan kebangsaan Indonesia. Peranannya sangat besar dalam kemerdekaan Bangsa Indonesia, sehingga dapat dibayangkan bahwa keadaan pergerakan kebangsaan Indonesia tidak akan seperti yang kita alami tanpa kehadiran tokoh ini. Pada masa penjajahan, Ki Hajar Dewantara memiliki cara yang berbeda untuk melawan penjajah. Rasa bosan dan muak berada dibawah penjajahan menciptakan suatu perasaan yang mendorong Ki Hajar Dewantara berupaya menemukan bentuk lain untuk perjuangannya. Awalnya Ki Hajar Dewantara merupakan seorang wartawan di beberapa terbitan pada masa kolonial. Kepiawaiannya dalam menulis dimanfaatkan sebagai wadah aspirasinya pada masa itu. Masa kolonial Belanda merupakan masa sulit untuk semua masyarakat Indonesia, tidak terkecuali Raden Mas Soewardi Soerjaningrat ini. Sebagai seorang yang memiliki ledakan aspirasi, pada saat itu ia berada dalam tekanan yang tidak berkesudahan. Hal tersebut mendorongnya menyalurkan semua aspirasi melalui tulisan. Tulisan yang dihasilkan oleh Ki Hajar Dewantara merupakan tulisan aspiratif, komunikastif, dan tajam. Dari tulisan-tulisan ini Ki Hajar menanamkan sikap patriotik kepada pemuda Indonesia. Keberadaannya sempat dianggap mengancam berlangsungnya pemerintahan kolonial Belanda saat itu, sehingga Ki Hajar diasingkan ke beberapa tempat hingga akhirnya ke negeri Belanda. Kesempatan berharga ini tidak disia-siakan Beliau. Ki Hajar Dewantara memang seorang pemuda yang pintar dalam memanfaatkan peluang. Saat diasingkan ke Belanda, hal tersebut diamanfaatkan sebagai ajang mencari informasi dan ilmu. Hingga suatu saat Ki Hajar pulang ke tanah air dengan mengantongi ilmu dan ijazah resmi dari Belanda. Sejak saat itu perjuangan Ki Hajar Dewantara berlanjut dalam bidang pendidikan. Pemikirannya timbul bahwa ilmu merupakan senjata terbaik untuk melawan penjajahan. Akhirnya bersama beberapa rekannya, Ki Hajar Dewantara mendirikan perguruan Taman Siswa, sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan.

Riwayat Hidup

Ki Hajar Dewantara lahir di Jogjakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, ia merupakan putra sulung dari KPA (Kanjeng Pangeran Aryo) III Soeryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Jogyjkarta atau seorang bangsawan dari Paku Alam. Pada tanggal 4 Nopember 1907 dia dinikahkan dengan R.A. Sutartinah, Putri G.P.A. Sasraningrat. Kemudian keluarga baru ini pindah ke Bogor dan tinggal dalam satu rumah dengan R.M. Prawiningrat, kakek tertua Sutartinah. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara. Semenjak saat itu, ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan Bangsa Indonesia. Ia menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda). Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tetapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai wartawan dibeberapa surat kabar, antara lain Sedyotomo, Midden Java, de Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam, dan patriotik, sehingga mampu membangkitkan semangat anti-kolonial bagi pembacanya. Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908, ia aktif dalam seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Setelah zaman kemerdekaan, Ki Hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hajar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan ‘Bapak Pendidikan Nasional’ yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957. Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa, Ki Hajar Dewantara meninggal dunia pada 26 April 1959 dan dimakamkan di Wijayabrata, Jogjakarta. Bagian dari semboyan ciptaannya, Tut Wuri Handayani, menjadi slogan Departemen Pendidikan Nasional. Nama Ki Hajar juga diabadikan sebagai nama kapal perang Indonesia "KRI Ki Hajar Dewantara”. Selain itu, Perguruan Taman Siswa yang ia dirikan telah memiliki sekolah dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan tinggi.

Ki Hajar Dewantara dan Dunia politik

Indische Partij yang berdiri pada tanggal 25 Desember 1912 adalah partai politik pertama di Hindia Belanda. Partai ini didirikan oleh Tiga Serangkai, yaitu E.F.E. Douwes Dekker sebagai ketua, Tjipto Mangunkusumo sebagai wakil ketua, dan Ki Hajar Dewantara sebagai sekertaris. Indische Partij, yang berdasarkan golongan ‘Indo yang Makmur’, merupakan partai pertama dan juga partai radikal yang memiliki asas tujuan perjuangan, yakni: 1. Mempersatukan bangsa-bangsa di Hindia Belanda yang mengakui Hindia Belanda (Indonesia) sebagai tanah air dalam satu Kesatuan Kebangsaan Hindia (Indonesia). 2. Memperjuangkan kemerdekaan Hindia Belanda yang bebas dari penjajahan Belanda.


TOKOH

16

Partai ini berusaha mendaftarkan status badan hukumnya pada pemerintah kolonial Hindia Belanda, tetapi ditolak pada tanggal 11 Maret 1913. Surat Keputusan Penolakan dikeluarkan oleh Gubernur Jendral Idenburg sebagai wakil pemerintah Belanda di negara jajahan. Alasan penolakkannya adalah karena organisasi ini dianggap oleh pemerintah kolonial saat itu dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan bergerak dalam sebuah kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda. Setelah ditolak pendaftaran status badan hukumnya, Indische Partij i ikut membentuk Komite Bumipoetra pada November 1913. Komite itu sekaligus sebagai komite tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda. Komite Boemipoetra melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Perancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut. Sehubungan dengan rencana perayaan itu, ia pun mengkritik lewat tulisan berjudul ‘Als Ik Eens Nederlander Was’ (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan ‘Een voor Allen maar Ook Allen voor Een’ (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Tulisan “Seandainya Aku Seorang Belanda” yang dimuat dalam surat kabar ‘de Express’ milik Dr. Douwes Dekker itu antara lain berbunyi:

"Seadainya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah rampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, apa yang menyinggung perasaanku dan kawankawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun."

Akibat karangannya itu, pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman internering tanpa proses pengadilan. Ia pun dihukum buang ke Pulau Bangka. Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo merasakan rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil, mereka pun menerbitkan tulisan yang bernada membela Soewardi. Tetapi pihak Belanda menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak pada pemerinah kolonial. Akibatnya keduanya juga terkena hukuman internering. Douwes Dekker dibuang ke Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke Pulau Banda. Namun mereka menghendaki dibuang ke Negeri Belanda karena di sana mereka bisa mempelajari banyak hal daripada di daerah terpencil. Akhirnya mereka diijinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman. Kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte.

Ki Hajar Dewantara dan Sekolah Taman Siswa

Setelah Ki Hajar Dewantara kembali ke tanah air di tahun 1918. Di tanah air ia mencurahkan perhatian dalam bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan. Setelah pulang dari pengasingan, bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia pun mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa), pada tanggal 3 Juli 1922. Perguruan ini menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Tidak sedikit rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa. Pemerintah kolonial Belanda berupaya merintangi dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada tanggal 1 Oktober 1932. Tetapi dengan kegigihan memperjuangkan haknya, ordonansi itu kemudian dicabut. Di tengah keseriusannya mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Tamansiswa, ia tetap rajin menulis. Namun tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan.Tulisannya berjumlah ratusan buah. Melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia. Sementara itu, pada zaman Pendudukan Jepang, kegiatan dibidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hajar Dewantara duduk sebagai salah seorang pimpinan disamping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta, dan K.H. Mas Mansur. Ki Hajar Dewantara adalah cucu Sri Paku Alam III. Ia awalnya memiliki nama R.M. Suwardi Suryaningrat. Akan tetapi, setelah menjalani hukuman pengasingan di negeri Belanda, ia mengubah namanya menjadi Ki Hajar Dewantara dan meninggalkan nama lama dan gelar kebangsawanannya. Hal ini menurutnya karena ia tidak ingin merasa terpisah dari rakyat banyak dan selalu ingin berada bersama rakyat banyak, berjuang bersama-sama. Pemahaman seperti ini ia dapatkan dari dua kultur pendidikan yang berbeda yaitu Jawa dan Barat. Sejak kecil ia sudah menerima dua kultur pendidikan tersebut. Ia bersekolah di sekolah Belanda, tetapi tetap mendapatkan pendidikan nasional Jawa. Ki Hajar tampak seperti sosok yang mampu memadukan unsur-unsur positif dari dua kultur tersebut. Meskipun mendapat pendidikan Barat, ia tidak serta merta menjadi individualistik. Sebaliknya, ia justru merupakan tokoh humanis. Paham-paham humanisme Barat tampaknya lebih dominan daripada paham-paham liberalisme Barat. Sementara meskipun ia mendapat pendidikan Jawa, ia juga tidak serta merta menjadi seorang Jawa kolot. Dilepasnya gelar kebangsawanan dan nama Jawanya menjadi bukti ia bukanlah seorang Jawa yang kolot. Pemahamannya bahwa seseorang haruslah bekerja keras untuk melayani dan bukan untuk dilayani juga menjadi bukti lainnya bahwa ia adalah seorang sosok yang mengombinasikan nilainilai luhur dua kultur, yaitu Barat dan Jawa. Oleh karena persentuhan dua kultur itu, perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam Pergerakan Nasional menjadi unik. Awalnya, ia berjuang dengan masuk organisasi gaya Barat. Ia melihat organisasi sebagai bentuk perlawanan rakyat terhadap penjajahan yang paling mungkin pada awal 1910-an. Akan tetapi, setelah ia diasingkan ke negeri Belanda, ia belajar banyak bahwa organisasi tanpa pencerdasan dan kesadaran rakyat adalah makna kosong. Dari sinilah arah perjuangan Ki Hajar Dewantara berubah. Perubahan itu secara radikal ditunjukkan dengan mendirikan sekolah Taman Siswa. Baginya, pendidikanlah yang dapat membuat rakyat sadar akan adanya sebuah penindasan yang menimpa mereka. Dari periode 1920-an inilah kita dapat melihat gagasan Ki Hajar Dewantara tentang pentingnya pendidikan.


TOKOH ki Hajar Dewantara dan pendidikan nasional

17

Sejak lahirnya pergerakan nasional, suatu gejala yang penting adalah adanya keinginan yang bertambah luas akan pendidikan atau pengajaran. Semenjak Budi Utomo lahir, soal pengajaran ini selalu tercantum dalam program setiap partai di Indonesia. Dalam aktivitas politik ini, Ki Hajar Dewantara memakai setiap kesempatan yang ada untuk mengeluarkan pendapatpendapat tentang pengajaran kolonial dan pembaruan-pembaruan yang harus ditempuh sesuai dengan tuntutan kearah kemerdekaan bangsa. Salah satu perjuangan yang sangat berarti yakni tidak menyetujui penggunaan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar di sekolah Indonesia. Menurutnya, apabila kita menghendaki satu bahasa untuk bangsa kita di seluruh Nusantara, maka janganlah memaksakan salah satu bahasa Eropa, sebab bukankah kita mempunyai bahasa Melayu, yang tidak saja mudah untuk dipelajari, tetapi sudah sejak lama menjadi lingua franca di Nusantara. Ki Hajar Dewantara dalam perjuangannya mengenai pendidikan nasional menyatakan bahwa syarat utama pendidikan nasional adalah pendidikan kemerdekaan kepada anak-anak yang akan dapat memberi bekal kuat untuk perjuangan kemerdekaan nasional. Jalan yang ditempuh adalah pendidikan rakyat disamping pergerakan politik. Keadaan pendidikan bagi rakyat Indonesia pada saat itu tidak saja dalam hal sangat kurangnya pengajaran yang diberikan oleh Belanda kepada bangsa Indonesia, tetapi juga isi pendidikannya sangat tidak sesuai dengan kepentingan hidup bangsa Indonesia sendiri, dan bahkan meracuni jiwa anak bangsa, menanamkan jiwa budak pengabdi kepentingan kolonial semata-mata. Oleh karena itu, ide mendirikan sekolah kerakyatan diwujudkan dengan mendirikan Perguruan Taman Siswa. Ki Hajar Dewantara mengajukan konsep pendidikan dan pengajaran yang berpihak pada kepentingan rakyat banyak dan kebangsaan. Dalam hal ini, Ki Hajar Dewantara membagi pendidikan ke dalam dua hubungan, yaitu A) pendidikan dan penghidupan rakyat, B) pendidikan dan kebangsaan. Dalam hubungan yang pertama, antara pendidikan dan penghidupan rakyat, terdapat sembilan poin penting yang ia ajukan, yaitu: (1) kekuatan rakyat (2) mendidik anak adalah mendidik rakyat (3) sistem pengajaran kerakyatan (4) penerimaan perbedaan dan kemerdekaan manusia (5) bersandar pada kekuatan sendiri (6) tugas sebagai rakyat (7) tidak diperintah (8) persatuan pengajaran Sementara itu, dalam hubungan yang kedua, yaitu antara pendidikan dan kebangsaan, ia mengajukan tujuh poin penting yang sebagai berikut: (1) pendidikan nasional yang selaras dengan kehidupan dan penghidupan bangsa (2) pendidikan nasional adalah hak dan kewajiban bangsa (3) tidak menerima subsidi pemerintah (4) tidak terikat lahir dan batin (5) sistem mengongkosi diri sendiri (6) adanya badan pembantu umum (7) adanya steunfonds umum Ki Hajar Dewantara telah merumuskan konsep dan arah pendidikan nasional, dimana tampak dengan jelas bahwa visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara adalah pendidikan yang berasaskan kemerdekaan, kebebasan, keseimbangan, kesesuaian dengan tuntutan zaman, berkepribadian Indonesia, dan kesesuaian dengan kodrat manusia sebagai makhluk yang dimuliakan oleh Tuhan. Dengan mendirikan sekolah Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara mulai mengesampingkan pendekatan politik. Ia dapat mewujudkan keinginan bangsanya, karena usaha untuk mendidik angkatan muda dalam jiwa kebangsaan sesuai dan merupakan bagian penting pergerakan kemerdekaan indonesia. Selain itu, ia dianggap merupakan pejuang meninggikan derajat rakyat. Dalam rangka mendirikan lembaga pengajaran nasional tersebut, Ki Hajar Dewantara memberikan Tujuh Asas Taman Siswa. Asas-asas ini dilengkapi dengan sistem dan cara pendidikan serta tata pergaulan hidup dalam dunia Taman Siswa. Hal ini dinilai sebagai konseps kehidupan manusia baru yang bahagia, damai, dan tertib. Adapun asas-asas Taman Siswa yang diberikan oleh Ki Hajar Dewantara ialah: (1) Zelfbeschikkingsrecht, Orde en Vrede, dan Natuurlijke Groei Hak mengatur diri sendiri (zelfbeschikkingsrecht), bersama secara tertib dan damai (orde en vrede) serta bertumbuh menurut kodrat (natuurlijke groei) merupakan dasar alat pendidikan bagi anak-anak yang disebut among metode. (2) Kemerdekaan batin, pikiran, dan tenaga bagi anak-anak Pengajaran berarti mendidik anak mencari sendiri ilmu pengetahuan yang perlu dan baik untuk lahir, batin, dan umum. Oleh karena itu, guru tidak dibenarkan hanya memberi ilmu pengetahuan, tetapi juga harus diusahakan bahwa guru mampu mendidik anak-anak untuk mandiri dan merdeka. (3) Kebudayaan sendiri Kebudayaan sendiri dimaksudkan sebagai penunjuk jalan mencari penghidupan baru yang selaras dengan kodrat bangsa dan yang akan dapat memberi kedamaian dalam hidup bangsa. Selain itu, juga terkandung makna tidak boleh memisahkan orang-orang terpelajar dari rakyatnya. (4) Pendidikan yang merakyat Pendidikan dan pengajaran harus menjangkau rakyat secara luas. Sebab, hanya dengan cara itu ketertinggalan masyarakat pribumi dapat dihilangkan. (5) Percaya pada kekuatan sendiri Ini adalah azas penting bagi semua orang yang ingin mengejar ketertinggalannya dan meraih kemerdekaan hidup. Itu dapat terwujud melalui kerja yang berasal dari kekuatan sendiri. (6) Zelfbedruipingssysteem atau membelanjai diri sendiri Azas ini sangat dekat dengan azas kelima. Pada azas ini segala usaha untuk perubahan harus menggunakan biaya sendiri. (7) Keikhlasan dari para pendidik dan pengajar dalam mendidik anak-anak Hanya dengan kesucian hati dan keterikatan lahir dan batinlah usaha pendidikan dan pengajaran dapat berhasil. Asas pendidikan Taman Siswa ini menekankan pada ‘kodrat alam’, yang berarti bahwa hak anak akan kebebasannya dinyatakan tidak tanpa batas, termasuk batas lingkungan kebudayaan. Pertumbuhan anak didik menurut kodratnya berarti bertumbuh dan berkembang menurut bakat dan pembawaannya. Konsep pendidikan ini mengembangkan asas pendidikan ‘Pancadarma Taman Siswa’ yang meliputi: 1) asas kemerdekaan, 2) asas kodrat alam, 3) asas kebudayaan, 4) asas kebangsaan, dan 5)asas kemanusiaan.


TOKOH

18

Sesungguhnya pernyataan asas-asas itu merupakan perpaduan pengalaman Ki Hajar Dewantara tentang aliran pendidikan Barat dan aliran kebatinan yang mengusahakan ‘kebahagiaan diri, bangsa, dan kemanusiaan’. Dalam mengembangkan pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara menggunakan pula semboyan dalam pendidikan yang beliau pakai ‘tut wuri handayani’ . Semboyan ini berasal dari ungkapan aslinya "Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani". * Ing Ngarsa Sung Tulada (= di depan memberikan keteladanan sebagai orang tua, guru atau sebagai pimpinan) Anak-anak, para murid dan para bawahan akan memperhatikan tingkah laku orang tua, guru atau pimpinannya. Dakwah yang baik adalah dakwah melalui perbuatan. * Ing Madya Mangun Karsa (= di tengah memberi semangat dalam pergaulan sehari-hari) Ketika melihat anak-anak, murid atau bawahan mulai mandiri dan menjalankan hal yang benar, mereka wajib diberi dorongan dan semangat. Kepedulian terhadap perkembangan anak, murid dan bawahan diwujudkan dengan memberi dorongan kepada mereka untuk menjalankan hal yang benar. Seorang anak, murid atau bawahan perlu diberi semangat dalam menjalankan kewajibannya. * Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dukungan) Anak-anak, murid atau bawahan yang mulai percaya diri perlu didorong untuk berada di depan. Orang tua, guru atau pimpinan perlu memberi dukungan dari belakang. Reaksi masyarakat Indonesia atas pernyataan asas itu berbeda-beda. Ada yang menyambut dengan setuju, ada yang mengatakan bahwa pernyataan asasi itu berarti memutar jam ke belakang dan ada yang menuduh bahwa Ki Hajar Dewantara akan mendirikan sekolah komunis. Setelah tahun 1930-an, terjadi suasana kelumpuhan politik dikalangan pergerakan rakyat karena krisis ekonomi serta akibat politik keras dan kolot Gubernur Jenderal Jhr. B.C. de Jonge yang dibantah dengan terjadinya perlawanan terhadap sekolah-sekolah Partikelir (swasta) yang dikenal dengan Ordonansi Sekolah Liar. Arti politik perlawanan terhadap peraturan pengawasan sekolah-sekolah partikelir (swasta) yang sangat berhasil pada tahun 1932-1933 berkaitan erat dengan perguruan Taman Siswa dan pemimpinnya, Ki Hajar Dewantara, yang merupakan tokoh pusat perlawanan masyarakat Indonesia melawan pembatasan usaha mendidik bangsa sendiri. Masalah itu berlatar belakang sejarah politik pengajaran Hindia Belanda. Ordonansi itu telah menimbulkan reaksi yang luar biasa dalam masyarakat Indonesia. Bagi pergerakan nasional, ordonansi itu tetap merupakan bahaya bagi asas kemerdekaan pengajaran di lingkungan nasional. Masyarakat umum berpendapat bahwa penarikan kembali ordonansi merupaan satu-satunya jalan meniadakan bahaya itu. Oleh karena itu, diputuskan untuk tetap mengambil sikap menolak dan dibebankan kepada setiap orang sebagai suatu kewajiban untuk melakukan itu. Masyarakat Indonesia bertekad membantu aksi Ki Hajar Dewantara, baik secara rohani maupun materi. Akibat adanya ordonansi itu, timbullah suasana persatuan yang menakjubkan. Hal ini nampak bahwa hampir semua partai penting di Indonesia berdiri dibelakang Ki Hajar Dewantara yang dianggap sebagai tokoh nasional. Ini adalah permulaan dari pertumbuhan kearah kerja sama yang lebih erat, rasa bersatu dan senasib, yang bagaimanapun juga terpaksa dihindari oleh suatu pemerintah kolonial, yang hanya dapat berdiri tegak didalam perpecahan lawan-lawannya. Sebagai keseluruhan, aksi Ki Hajar Dewantara berhasil baik. Ini membuktikan bahwa kesatuan pergerakan Indonesia bukan suatu hal yang tak dapat dicapai asal saja, tetapi sesuatu yang harus dibela itu merupakan milik yang berharga dari bangsa Indonesia. Akhirnya pada 1934 ordonansi tersebut dicabut. Segala-galanya adalah mungkin dalam sejarah, baik kemajuan gemilang yang terus-menerus maupun kemunduran yang berkala. Dan sebagai lembaga pendidikan, Taman Siswa juga mengalami pasang surut dalam perjuangannya. Sejarah Taman Siswa ialah sejarah kebangsaan Indonesia. Kelahirannya merupakan titik balik pergerakan Indonesia. Taman Siswa ini memiliki pengaruh yang luar biasa dalam rangka pergerakan perjuangan nasional Indonesia. Hal ini tercermin dalam usaha Ki Hajar Dewantara yang berhasil mewujudkan keinginan bangsa Indonesia, yakni usaha untuk mendidik angkatan muda dalam jiwa kebangsaan Indonesia yang merupakan bagian penting pergerakan Indonesia. Selain itu, usaha ini menjadi dasar perjuangan meninggikan derajat rakyat. Pengaruh lembaga Taman Siswa ini juga dihubungkan dengan politik perjuangan bangsa Indonesia. Hal ini tercermin dalam sejarah hidupnya yang ditandai dengan kenyataan bahwa Taman Siswa selalu ikut mempertimbangkan kehidupan politik dalam sepak terjangnya. * Pertama : dapat dikatakan bahwa berdirinya Taman Siswa merupakan pranata tandingan terhadap politik pengajaran kolonial * Kedua : kedudukannya sebagai wadah swadaya anggota-anggota partai politik yang secara tidak langsung memupuk kaderkader bangsa Indonesia untuk masa mendatang. * Ketiga : perlawanannya terhadap persoalan asasi dengan pemerintah jajahan. Salah satu ciri yang kentara dalam hubungan kolonial ialah kurangnya perhatian pemerintah jajahan dalam usaha kemasyarakatan,terutama dalam pengajaran dan pendidikan. Pengajaran akan membawa suatu bangsa jajahan kearah kemauan dan dapat merupakan bahaya bagi kedudukan pemerintah jajahan. Hubungan corak politk nasionalisme dalam Taman Siswa dijelaskan oleh Ki Hajar Dewantara demikian; “Taman Siswa dan segala lapangan usaha sosial lainnya merupakan ladang atau sawah, tempat orang memupuk apa yang perlu bagi keperluan hidupnya. Gerakan politik merupakan pagar yang melindungi dari gangguan binatang-binatang buas yang akan memakan dan menginjak-injak tunas-tunas tanaman. ”Nampak jelas sekali bahwa secara langsung taman Siswa tidak ikut campur dengan politik praktis, tetapi cara perjuangannya berhasil secara horisontal yakni penghimpun segala golongan masyarakat didalam lingkungan yang dipengaruhinya. Sedangkan berbagai golongan masyarakat dalam lingkungan tersebut berusaha menghapus sistem kolonial dan mendapatkan kemerdekaan bagi tanah air dan bangsa. Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar pamong-pamong (guru) Taman Siswa masuk menjadi anggota partai politik, sedangkan murdi-muridnya menjadi anggota organisasi Pemuda Indonesia, kemudian Indonesia Muda.Nyatalah dengan ini, bahwa Taman Siswa bisa dianggap sebagai tempat pemupukan kader masyarakat Indonesia masa mendatang dan yang sudah pasti berjuang pula untuk menyumbangkan kekuasaan kolonial. Oleh karena itu, pemerintah jajahan berusaha menghalang-halangi perkembangan Taman Siswa khususnya, sekolahsekolah partikelir umumnya. Sejak saat itu Taman Siswa akan menghadapi perjuangan asasi melawan politik pemerintah Hindia Belanda.


TOKOH

19

Saat masa penjajahan, gagasan-gagasan dasar sistem pendidikan yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara telah dicoba dan diimplementasikan sebagai pelaksanaan teori pendidikan ekstra kolonial yang berarti mencoba mengimbangi sistem pendidkan kolonial dengan sistem pendidikan yang bersumber pada kebudayaan sendiri dan kepercayaan atas kekuatan sendiri untuk tumbuh. Kedudukan rumusan dan Taman Siswa tidaklah dianggap berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari usaha bersama pergerakan kebangsaan mencerdaskan bangsa dan menyejahterakan rakyat. Alas dasarnya ialah memberikan isi cinta tanah air (patriotisme), paham kebangsaan (nasionalisme), dan orientasi kearah rakyat banyak (kerakyatan). Anak didik diharapkan dapat menjadi pekerja-pekerja yang mandiri yang berpikiran merdeka, berjiwa merdeka, dan bertenaga merdeka. Artinya di waktu itu tidak mengikatkan diri dengan sistem kolonial, tetapi mencari jalan sendiri untuk mengahpuskan sistem itu dengan membentuk sistem nasional. Pada dasarnya paradigma Ki Hajar Dewantara dalam perjuangan pendidikan nasional memiliki konsep pendidikan yang benar-benar bersifat pribumi (yakni yang nonpemerintah dan non-Islam). Konsep pendidikan seperti itu berarti pendidikan yang memadukan pendidikan gaya Eropa yang modern dengan seni-seni Jawa tradisional. Ia dengan tegas menolak pendidikan yang terlalu mengutamakan intelektualisme dan mengorbankan aspek kerohanian atau jiwa para siswa. Menurutnya, pendidikan yang ditawarkan oleh pemerintah kolonial hanya akan membuat pribumi lupa akan kebudayaannya dan membuat pribumi menjadi tenaga terampil bagi kepentingan pemerintah kolonial. Berkaitan dengan itulah, sekolah yang didirikannya menawarkan pendidikan berorientasi pada kebudayaan timur dan mengedepankan nilai-nilai kerohanian yang dibarengi dengan kekuatan intelektual. Ki Hajar Dewantara hidup ditengah pergolakan bangsa menuju kemerdekaan dan pemikiran tentang dasar-dasar masyarakat barupun tercapai setelah kemerdekaan. Maka dasar-dasar pemikiran tersebut merupakan suatu rangkaian yang ditawarkan kepada segenap bangsa Indonesia untuk dikembangkan sesuai dengan perubahan alam dan zaman. Konsep pendidikan Taman Siswa yang secara operasional dimulai pada tanggal 3 Juli 1922 lebih bersifat positif nasional, pedagogis, serta kulturil. Tujuan awal dari lembaga pendidikan ini adalah jelas membawa bangsa Indonesia mencapai tujuan politik, yaitu kemerdekaan bangsa Indonesia. Pada zaman kolonial, kedudukan pendidikan pernah dirumuskan sebagai ‘dinamit bagi sistem kasta yang dipertahankan dengan ketat di daerah jajahan’ atau ‘merupakan salah satu batu dasar kebijaksanaan kolonial’. Kedua rumusan ini mencerminkan pula kaitan kebijaksanaan dan penyelenggaraan pendidikan dalam masyrakat kolonial. Sejalan dengan itu pergerakan nasional Indonesia sendiri menempatkan pendidikan sebagai salah satu program sebagai usaha mendidik bangsa sendiri. Lebih daripada itu usaha pendidikan yang diselenggarakan Taman Siswa di zaman kolonial bertujuan mewujudkan sistem pendidikan nasional. Hal ini berarti memasukkan kedalam cita-cita segala kepentingan bangsa, baik lahiriah mengenai penghidupannya maupun batiniah yang bertalian dengan kehidupannya.

(Rata-rata Kelas XII SMA Program IPA = 8,44) Daftar yang mendapat Nilai maksimal 10,00 : - Matematika : 1) Charlie Sandewo 2) Hans Christian 3) Iswandi 4) Jessica Christy 5) Vicolas Setio 6) Wilson - Fisika : 1) Alexander Sukono 2) Charlie Sandewo - Kimia : 1) Oktavianus Gozali 2) Richie Wibisono

Nilai Ujian Nasional Tertinggi : Alexander Sukono (rata-rata 9,22) (Rata-rata Kelas XII SMA Program IPS = 7,73) Daftar yang mendapat Nilai maksimal 10,00 : - Matematika :

1) Desi Anwar 2) Fanny Halim 3) Handy Winarto 4) Herliana 5) Listi Lia N. 6) Megaindah M. 7) Ria Lim 8) Sapputra 9) Sherly A. 10) Alfred Susana 11) Chintia A. H. 12) Clara A. 13) Imelda N. 14) Jeffry 15) Juni Astuti 16) Maryanto 17) Meiliyana 18) Paul William 19) Putra Dharma 20) Suryangin 21) William Putra 22) Wynnie

- Ekonomi : Amelia

Nilai Ujian Nasional Tertinggi : Andre Widjaya (rata-rata 8,87)



SKY Magazine - May/June 2013 Color Edition