Page 1

Edisi Maret 2012


Edisi Maret 2012

LAPORAN UTAMA BAGAIMANA GIZI DI NEGARA KITA? Gizi merupakan salah satu masalah kesehatan yang mempengaruhi demografi kesehatan di Indonesia. Demografi kesehatan dan gizi di Indonesia kurang diketahui. Hal ini disebabkan oleh akurasi data dengan berbagai keadaan gizi penduduk yang hingga saat ini kurang dilakukan pemetaan, terutama untuk kesehatan dan gizi. Kekurangan maupun kelebihan gizi yang terjadi di Indonesia secara demografi tergambar bahwa adanya ketidakmerataan keadaan gizi. Pemetaan beberapa provinsi di Indonesia dengan masyarakat yang relatif banyak mengalami kekurangan gizi berimplikasi terhadap kesehatan, secara tidak langsung mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat. Tingkat kesehatan masyarakat pasti dipengaruhi oleh interaksi antara kesehatan dengan gizi, baik kekurangan gizi maupun kelebihan gizi. Penyakit infeksi dengan tingkat kejadian yang cukup tinggi adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut), diare, dan angka kesakitan & kematian ibu serta balita di Indonesia. Sementara beberapa provinsi lainnya digambarkan bahwa tingkat kelebihan gizi seperti obesitas relatif lebih tinggi. Gambaran ini menjelaskan pemetaan kesehatan dari beberapa provinsi di Indonesia yang sangat tidak merata. Hal ini dikarenakan pemetaan kesehatan dan gizi yang sangat

sulit untuk dilihat sehingga tidak bisa dilakukan perbandingan secara keseluruhan terutama keadaan gizi dan kesehatan masyarakat serta intervensi yang direncanakan untuk memperbaiki keadaan kesehatan dan gizi di Indonesia. Perhatian khusus harus dilakukan terhadap statistik, terutama demografi kesehatan yang hingga saat ini belum ada data yang secara komprehensif dan valid yang diakui sebagai demografi kesehatan dan gizi. Kenapa harus ada data secara statistik? Kita berbalik sejenak dengan kondisi kesehatan dan gizi. Intervensi yang bagus, intervensi yang mengacu kepada holistik, karena dalam sebuah deskripsi hasil statistik kita akan mendapat gambaran tentang keadaan gizi, namun kita tidak mengetahui faktor apa yang mempengaruhi. Kekurangan gizi yang terjadi di Indonesia tidak terbatas pada makronutrien saja, tapi juga sangat banyak yang dipengaruhi oleh mikronutrien. Namun, seperti yang digambarkan diatas keadaan gizi yang berlebihpun terjadi di Indonesia dengan berbagai faktor, secara dramastis tingkat kejadian kelebihan gizi ini seperti terfokus pada beberapa provinsi. Keadaan gizi ini perlu dicermati dan diberikan pemahaman kepada masyarakat agar lebih berkualitas, sehat, cerdas dan produktif menentukan asupan


Edisi Maret 2012

gizi untuk individu itu sendiri dan keluarganya. Keadaan selanjutnya yang harus kita perhatikan adalah keadaan gizi pada ibu hamil, karena asupan gizi seorang ibu pasti mempengaruhi keadaan janinnya. Hal ini mempengaruhi tingkat kematian dan kesakitan pada neonatus, karena asupan gizi yang kurang dari seorang ibu akan mempengaruhi berat badan, panjang badan, lingkar kepala dan beratnya plasenta yang rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan ibu yang asupan kalori, protein dan zat gizi yang tercukupi. Berbagai penelitian pernah dilakukan, namun kurang mewakili keadaan masyarakat di Indonesia. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa ibu hamil dengan asupan gizi yang cukup rendah akan lebih cenderung melahirkan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). Angka kejadian BBLR ini pernah sangat tinggi pada saat keadaan ekonomi yang tidak stabil di Indonesia, namun sekarang terjadi penurunan angka kejadian BBLR akibat kekurangan energi kronis (KEK) di Indonesia, penurunan yang terjadi tidak merata di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kekurangan gizi pada masa balita merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi angka kematian balita. Kekurangan yang sering terjadi pada balita adalah kekurangan energy, protein dan zat gizi seperti vitamin A, zat besi, iodium dan zinc. Asupan gizi ini harus diperhatikan terutama oleh tenaga medis dan paramedic yang kemudian

mengedukasi kepada setiap ibu terutama kepada ibu-ibu dengan tingkat pengetahuan yang rendah di bagian gizi. Kelebihan gizi dan obesitas merupakan sebuah gambaran yang baru yang mempengaruhi kesehatan dari berbagai penyakit non-infeksi. Seperti penyakit diabetes, hipertensi, obesitas, dislipidemia dan penyakit-penyakit kardiovaskular lainnya serta adanya akulturasi yang kemudian adanya gaya hidup yang dianggap modern seperti penyalahgunaan obat-obatan. Salah satu faktor yang dominan yang sering mempengaruhi tingkat kejadian penyakit kardiovaskular pada laki-laki yang kemudian mempengaruhi status neurologis adalah rokok, karena komponen rokok tersebut mempengaruhi fibrin yang akan mempengaruhi kardiovaskular. Berbagai resiko lainnya yang meningkat pada obesitas adalah back pain, arthritis, infertilitas serta fungsi dari psikososial yang kemudian menurun (WHO 2000). Obesitas pada anak pun mempengaruhi dinamika sosial, psikologis dan kesehatan si anak, terutama terhadap tingkat kesejahteraan dan keluhan si anak. Keadaan-keadaan kelebihan dan kekurangan gizi yang bersifat multifakator diperlukan sebuah gambaran pemetaan keadaan untuk mengkaji lebih lanjut bagaimana kondisi masyarakat terutama terhadap kesehatan dan gizi. Pemetaan inilah yang kemudian digunakan untuk melakukan intervensi masalah gizi di Indonesia untuk


Edisi Maret 2012

menurunkan penyakit infeksi dan noninfeksi terutama berkaitan dengan letak dan posisi daerah serta tingkat ekonomi,

pendidikan, budaya serta sarana dan prasarana.

(Hafizhah Abizar – Fakultas Kedokteran Universitas Riau) OPINI LAPAR DI NEGERI YANG KAYA Mengais tong sampah, meminta belas kasihan bahkan mencuri menjadi headline disetiap warta media di Indonesia kini. Mengais tong sampah dengan harapan dapat menemukan segenggam nasi sisa yang masih dapat dimakan, meminta belas kasihan karena sudah tak mampu lagi untuk beraktifitas karena tidak tercukupinya kebutuhan akan makan, bahkan mencuri demi dapat memuaskan hasrat lambung untuk menikmati secuil rasa makanan pun dilakukan. Lihat saja kenyataan di Indonesia kini, tak usah ditutup-tutupi dengan pernyataan pemerintah bahwa angka kemiskinan telah turun, tingkat kesejahteraan masyarakat sudah meningkat. Coba kita buka mata kita yang selama ini ditutupi oleh tawa licik para pejabat berperut buncit. Kelaparan kini merajalela bak endemik dan tersebar disetiap daerah bahkan kota besar sekalipun. Bukan kita tidak tahu tentang masalah ini, hanya saja kita belum tergerak untuk mengubah ini semua. Sadarkah mereka yang duduk di kursi empuk senayan itu tentang semua ini ?

sadarkah mereka yang duduk di kursi pemerintahan dengan semua kenyataan ini? Kemanakah prioritas Pembangunan Kesehatan 2010-2014 yang tertuang dalam Milenium Development Goal 2015 ? sudah dua tahun berjalan , namun tak kunjung menunjukkan hasil . Kemudian bertuju pada Undangundang nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, khususnya pada Bab VIII tentang Gizi, pasal 141 ayat 1 , “Upaya perbaikan gizi masyarakat ditujukan untuk peningkatan mutu gizi perseorangan dan masyarakat” . kata ‘upaya’ secara harfiah berarti ‘untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar’[1] . konkret nya yang terjadi pada masyarakat kita adalah tidak terjadinya upaya apapun . baik dari pihak pemerintah maupun kementrian yang menaungi masalah ini. Kalau pun ada upaya , itu hanya berupa simbolik . seperti hanya pada saat peringatan hari tertentu atau bahkan sebagai ajang politik . Sudah saatnya disadarkan. haruskah

mereka dengan

harus sebuah


Edisi Maret 2012 demontrasi ? tidak . banyak hal positif yang dapat dilakukan untuk mengurai masalah ini semua. Kitalah para kawula muda yang bergerak, para mahasiswa, terlebih para mahasiwwa di bidang kesehatan. Banyak hal yang mahasiwa dapat lakukan ketimbang demonstrasi, seperti ; Memperbanyak desa binaan, membentuk komunitas peduli gizi dan masih banyak hal lainnya . Mari kita buat perbandingan, jumlah total mahasiswa seluruh Indonesia adalah

sekitar 4,8 juta mahasiswa dan jumlah penderita gizi buruk di Indonesia adalah 56.941. dengan demikian , sebanyak 84 mahasiswa dapat mengurus 1 orang penderita gizi buruk. Dengan ratio tersebut jelas terlihat kita sebagai mahasiswa pada dasarnya mampu membenahi ini semua. Hanya saja, kita belum tergerak. Saatnya kita bergerak, karena mahasiswa adalah Agent of change. mari ubah Indonesia menjadi lebih baik

.

(Shafrizal Razali – Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara) ARTIKEL PEDOMAN UMUM GIZI SEIMBANG CAKRAWALA – Kongres Gizi Internasional di Roma pada tahun 1992 telah merekomendasikan agar setiap negara menyusun Pedoman Umum Gizi Seimbang (PGS) untuk menghasilkan kualitas sumberdaya manusia yang andal. Sejak tahun 2000, Depkes telah memperkenalkan panduan mengenai gizi yang baru ini, namun karena kurangnya sosialisasi, banyak masyarakat yang tidak mengetahui, dan masih berpedoman pada panduan gizi lama, yakni 4-sehat, 5 sempurna.

dalam jenis & jumlah yang sesuai dengan kebutuhan hidup, dengan memperhatikan 4 prinsip yaitu (1) variasi makanan, (2) pentingnya pola hidup bersih, (3) pentingnya pola hidup aktif & olahraga serta (4) memantau berat badan ideal. Berbeda dengan konsep 4 Sehat 5 Sempurna yang menyamaratakan kebutuhan gizi semua orang, pedoman gizi seimbang berprinsip bahwa tiap golongan usia, jenis kelamin, kesehatan & aktifitas fisik memerlukan PGS yang berbeda, sesuai dengan kondisi masing-masing kelompok tersebut.

Pedoman umum gizi seimbang (PGS) sendiri adalah susunan makanan seharihari yang mengandung zat-zat gizi

Disamping itu, PGS juga menekankan proporsi yang berbeda untuk setiap kelompok yang disesuaikan atau


Edisi Maret 2012

diseimbangkan dengan kebutuhan tubuh. Perbedaan lainnya adalah PGS tidak memperlakukan susu sebagai makanan sempurna, melainkan ditempatkan satu kelompok dengan sumber protein hewani lainnya. Untuk mempermudah pemahaman mengenai PGS, setiap negara di dunia memiliki visualisasi yang disesuaikan dengan kebudayaan masing-masing. Di Indonesia, prinsip PGS divisualisasi dalam bentuk tumpeng dengan nampannya yang disebut dengan “Tumpeng Gizi Seimbang� (TGS).

Bentuk Visual Pedoman Gizi Seimbang Indonesia Tumpeng gizi seimbang (TGS) terdiri atas beberapa potongan tumpeng, yaitu : 1 potongan besar, 2 potongan sedang, 2 potongan kecil & di puncak terdapat potongan terkecil. Luasnya potongan TGS menunjukkan porsi konsumsi setiap orang per hari. Potongan TGS dialasi oleh air putih, artinya air putih merupakan bagian

terbesar & zat gizi esensial bagi kehidupan, dalam sehari kebutuhan air putih yang harus dipenuhi minimal adalah 2 liter (8 gelas). Pada potongan tumpeng bagian atas terdapat potongan besar yang merupakan golongan makanan pokok (sumber karbohidrat). Karbohidrat dianjurkan dikonsumsi 3-8 porsi/hari. Diatas bagian ini terdapat golongan sayuran (dianjurkan 3-5 porsi/hari) & buah (dianjurkan 2-3 porsi/hari) sebagai sumber serat, vitamin & mineral. Kemudian diatasnya lagi ada golongan makanan sumber protein, yang dibagi menjadi golongan protein nabati & hewani (dianjurkan dikonsumsi 2-3 porsi/hari). Pada puncak tumpeng terdapat golongan minyak, gula & garam yang dianjurkan untuk dikonsumsi seperlunya. Salah satu tantangan yang juga harus diperhatikan adalah tentang pemenuhan gizi seimbang pada periode tertentu, yang juga dikenal dengan istilah window opportunity. Yaitu suatu kesempatan singkat untuk melakukan sesuatu yang menguntungkan & harus dimanfaatkan. Dalam bidang gizi, kesempatan tersebut berkisar dari sebelum kehamilan sampai anak berumur sekitar 2 tahun. Untuk mencegah masalah dampak kekurangan gizi, maka harus dilakukan upaya perbaikan gizi pada kelompok penduduk yang termasuk dalam window opportunity, yaitu remaja perempuan, ibu hamil, ibu


Edisi Maret 2012

menyusui & bayi sampai anak usia 2 tahun. Ibu hamil sering menghadapi beberapa masalah kesehatan, seperti mual & muntah secara berlebihan, anemia & kekurangan zat besi, sembelit, hipertensi, preeklamsia & eklamsia

serta diabetes gestasional. Padahal kecukupan ibu hamil harus banyak mendapat perhatian karena berpengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak. Periode emas perkembangan otak anak sendiri dimulai sejak dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun.

(Hafiz Hari Nugraha – Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya)

Cakrawala Edisi 2  

Buletin Kastrat ISMKI Wilayah 1

Advertisement