Issuu on Google+

dan 9 cerpen pilihan lain

Kumpulan Cerita Pendek Akademi Sinau 2012

K E DA I bu k u SI NAU


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain pemenang Lomba Cerpen Akademi Sinau 2012

K E DA I bu k u SI NAU


lacuo dan 9 cerpen pilihan lain pemenang lomba cerpen Akademi Sinau

4


Visi ruang belajar ruang Misi gerakan literasi dan melek budaya Layanan 1. dokumentasi, riset, dan pengembangan 2. sekolah partisipatif • tata ruang • video partisipatoris 3. kursus dan workshop • penulisan kreatif • metodologi penelitian • seni dan kriya • film

5


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain pemenang lomba cerpen Akademi Sinau @Copyright

Axellina Muara Setyanti g Nur Wijaya g Galih Ramadan Suwito Muhammad Abdul Manaf g Muwaffiqol Fahmi Al-Muttaqin Hilya Fitri Adinda g Nabilla Hefin Rahmawati g Beldra EldrIt Janitra Nur Hasanah Pratiwi g Vita Fitria Ramadhani

Penerbit Kedai Buku Sinau Jalan Simpang Wilis Ruko Retawu B6, Malang 65115 ISBN 978-979-15449-7-9

6


Daftar Isi Catatan Pembuka 8 Cerita Pendek Yang Memesona 11 Lomba Cerpen Tingkat SMA Se-Malang 16 Perihal Kisah Beraroma Kopi Axellina Muara Setyanti

19

Esok 27 Nur Wijaya Gadis Rembulan 43 Galih Ramadan Suwito Terjerat Wajah 51 Muhammad Abdul Manaf Lacuo 63 Muwaffiqol Fahmi Al-Muttaqin Seduhan Yang Berbahasa Hilya Fitri Adinda

75

Secangkir Untuk Yang Tercinta : Ibu Nabilla Hefin Rahmawati Intuisi Serpihan Hati Beldra EldrIt Janitra

85

95

Cangkir Kopi Dan Puisi Terakhir Nur Hasanah Pratiwi

109

Selaksa 121 Vita Fitria Ramadhani Buku, Kopi, dan Puisi Bercangkir-cangkir 132 Biodata Penulis

136 7


Catatan Pembuka

K

egiatan lomba penulisan cerpen yang diadakan Akademi Sinau ini diharapkan dapat menjadi kegiatan tahunan. Kegiatan ini diguna-

kan untuk melihat potensi dan kekuatan karya para penulis muda yang masih memiliki ‘status’ pelajar. Tidak berlebihan jika dibaca lewat kumpulan cerpen ini, ada penanda bahwa tidak ada lagi pusat dalam perkembangan sastra Indonesia kini. Pergeseran estetika sastra-pun yang ditulis oleh para pelajar kita (dalam lomba ini semuanya berasal dari kota-kota di Jawa Timur, menetap dan bersekolah di kota Malang) menyiratkan keragaman tema, nilai, dan tuturan yang dipengaruhi tidak saja oleh karya sastra Indonesia sebelumnya, namun juga oleh karya sastra dunia, hal ini disebabkan oleh semakin terbukanya akses terhadap literatur, baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa asing lainnya, terutama bahasa Inggris dengan perantara media (terutama) internet. Kegiatan penerbitan buku bunga rampai cerpen Akademi Sinau 2012 ini dilakukan setelah melalui seleksi yang dikuratori oleh Sudibyo (seorang guru Bahasa Indonesia), Wirastho (pengasuh anak dan mentor penulisan kreatif), dan W. M. Ahmad (penggiat budaya di Akademi Sinau). Seleksi tersebut dimaksudkan untuk melihat sejauh mana kerangka kuratorial yang digunakan dipenuhi oleh karya yang masuk. Dari 18 karya yang masuk, dipilih 10 karya yang terbagi dalam juara 1, 2, dan 3, serta 7 nominasi. Sebutan juara disini semata-mata untuk kebutuhan capaian ‘need achievement’ bagi para pelajar, sehingga semangat untuk belajar dan berkompetisi secara cerdas terpelihara. Secara berurutan Juara 1, 2, dan 3 adalah cerita pendek dengan judul Terjerat Wajah karya Muhammad Abdul Manaf, Esok karya Nur Wijaya, dan Intuisi Serpihan Hati karya Belda Eldrit Janitra.

8


Selain itu penerbitan dan lomba karya cerpen ini dimaksudkan untuk memulai kembali silaturahmi penulisan kreatif, baik prosa maupun puisi di SMA-SMA yang akan diselenggarakan lewat workshop penulisan kreatif. Sehingga lomba cerpen ini meningkat kebutuhannya, dari capaian prestasi lewat kompetisi, menjadi ‘ruang belajar di komunitas kreatif ’ masing-masing. Dengan beragam media sosial di internet yang menjadi kendaraan untuk berjumpa dan bertukar karya, ‘ruang belajar konvensional’ yang digagas adalah ‘perjumpaan’ Diri-dengan Yang Lain, dimana dalam perjumpaan tersebut terjadi keintiman, yang bukan hanya perjumpaan fisik, namun juga intelektual, bahkan spiritual. Berbagi karya, berbagi kritik, dan berbagi pengalaman pribadi, baik dalam proses kreatif mereka maupun dalam hal-hal lain yang bisa menjadi bahan bakar bagi karya selanjutnya. Sejauh mana maksud dan tujuan lomba cerpen ini tercapai, kumpulan inilah yang akan berkata-kata. Semoga dari lomba dan workshop yang akan diadakan setiap tahunnya, kita dapat memanen harapan-harapan baru. Sangatlah membahagiakan melihat semangat para pelajar, yang bekerja dan bersikap lewat tulisan-tulisan dalam kumpulan ini, dan kumpulan selanjutnya yang dinanti. Seluruh kegiatan lomba penulisan cerpen ini diselenggarakan berkat kerjasama Kedai Sinau, SMA 10 Malang, Sampoerna Academy, Akademi Sinau, dan Sampoena Foundation. Kami dari Akademi Sinau mengucapkan terimakasih kepada para siswa peserta Youth Entrepreneurship ProgramSMA 10 Sampoerna Academy,: Dwi Novanda Sari, Nur Wijaya, Hilya Fitri Adinda, Ary Kusuma Purwadi, Dyah Rizka Paramastuti, Afriza Nandira. Selamat Membaca Akademi Sinau 2012 9


Cerita Pendek yang Memesona Sudibyo /1/

S

etiap cerita pendek memiliki pesonanya sendiri-sendiri. Yang men jadi persoalan adalah seberapa derajat kekuatan pesona yang

dikandungnya. Cerita pendek yang berdaya pesona tinggi mampu membuat pembaca terperangah, terngiang-ngiang, dan sulit melupakan. Cerita pendek yang rendah daya pesonanya menunjukkan kebalikannya. Jadi, tingkat ketertarikan seorang pembaca terhadap sebuah cerita pendek adalah cermin daya pesona yang dikandungnya . Setiap pembaca juga menunjukkan kemampuannya sendiri-sendiri dalam menangkap pesona cerita pendek yang dibaca. Namun pembaca yang sederhana sekalipun mampu merasakan kualitas pesona yang ditampilkan cerita pendek.Barangkali perbedaannya, jika pembaca yang berkemampuan memadai mampu menjabarkan pesona yang ditunjukkan cerita pendek, sebaliknya pembaca yang sederhana tak cukup kemampuan menjelaskan daya pesona cerita pendek yang telah memikatnya. Yang pasti adalah baik pembaca yang berkemampuan memadai maupun pembaca yang berkemampuan sederhana menunjukkan cara yang sama dan alami dalam menangkap pesona sebuah cerita pendek : menangkap pesona sebagai kesan totalitas, kesan keutuhan atau kesan keseluruhan. Kesan menarik atau tidak menarik yang mereka peroleh terhadap sebuah cerpen adalah produk kesan keseluruhan atau gambaran keutuhan terhadap cerita pendek yang ia baca itu, bukan hasil penjumlahan dari upaya pertimbangan setiap unsur yang membangun cerita. Dalam cara membaca seperti itu, mempertimbangkan setiap 11


unsur yang membangun cerita ini mungkin saja dilakukan, namun sifatnya mencari peneguhan terhadap kesan keseluruhan. Demikianlah, penjelasan-penjelasan mengenai kehebatan akan meneguhkan kesan kehebatan, sebaliknya penjelasan-penjelasan mengenai kegagalan akan meneguhkan kesan kegagalan. Para pencinta filsafat menamakan cara kerja ini cara kerja fenomelogis; orang psikologi menyebutnya pendekatan gestalt, dan kritikus seni-sastra, menamakannya sebagai metode ganzheit. Dalam sejarah cerita pendek Indonesia, telah banyak cara ditempuh untuk menunjukkan pesona itu : kisah yang dengan dramatis mendera habis-habisan nasib tokoh, kisah yang memperjuangkan kesetiaannya pada nilai yang merapuh, kisah inspiratif sebuah alternatif cara hidup di tengah cara hidup kebanyakan yang rendah dan memuakkan, kisah tokoh yang menggugat kembali secara kritis mitologi-mitologi yang terasa membodohi, kisah yang menjalin kekayaan kearifan tradisi dengan dilema kecanggihan modernitas kontemporer, maupun kisah mengenai sikap kritis yang dikemas seakan-akan kisah lucu. Demikianlah, maka ada cerita : saat Belanda berkuasa di negeri ini, penjajah itu melakukan pembakaran sebuah penjara yang keadaannya terkunci. Di dalamnya hidup banyak tahanan, termasuk ayah seorang gadis. Setelah peristiwa itu, mayat-mayat dikeluarkan dan seorang gadis panik kebingungan lari ke sana kemari dengan tangis sambil menciumi sebuah kaki yang digendongnya, bagian yang berhasil ditemukan dari bentuk utuh tubuh mayat ayahnya. Lalu ada pula cerita : seorang gadis Dayak mengambil sikap berjuang untuk bisa menikah dengan seorang pemuda atau tidak menikah selamanya dengan si pemuda itu. Sebabnya, ketaatannya pada ajaran nilai tradisi bahwa dalam sejarah hidup seorang wanita Dayak hanya boleh ada seorang lelaki yang boleh melihat tubuhnya. Si gadis itu berjuang mendapatkan cinta si pemuda 12


gara-gara tahu si pemuda pernah mengintip si gadis saat ia mandi. Juga ada cerita : seorang gadis nekat derita menikahi seorang lelaki Tionghoa tua dan bahkan saat meninggal, ia dirawat dengan tata upacara budaya lelakinya itu. Penyebabnya adalah frustasi derita dua belas kali cintanya ditolak laki-laki, bahkan lelaki yang wajahnya tak tampan sama sekali. Ada pula cerita dari Bali : seekor anjing sedang menjalani kisah samsara, hidup bersama seorang nenek tua, sebagai tuannya, yang dulu dalam sebuah pereode hidup sebelum kematiannya adalah wanita yang menjadi istrinya. Ada pula cerita tentang seorang pemuda pedalaman Papua : setelah Trikora, ia dibawa seorang parasutis ke Jakarta, dan menjalani kisah hidup gegar budaya : mengejar-ngejar mobil pegawai kedutaan dari negeri-negeri Afrika, yang kulit pengendaranya hitam-hitam, yang sedang lewat yang dikira teman-teman dari daerah asalnya ,hingga memasuki nihgt club dan ikut menari telanjang yang dikira upacara tradisi di kampungnya.Dengan menjatuhkan pilihan pada kisah-kisah seperti itu, kita bertemu banyak cerita pendek yang menampilkan kualitas pesona yang tinggi, seperti : “Dia yang Menyerah” Pramoedya Ananta Toer, “Robohnya Surau Kami” A.A.Navis, “Kuli Kontrak” Mochtar Lubis, “Mendiang” S.N.Ratmana, “Setangkai Melati di Sayap Jibril” Danarto, “Samsara” Putu Fajar Arcana, “Teluk Wangkey” Korrie Layun Rampan, “Matias Akankari” Gerson Poyk, “Kyai Subli” Gus Tf Sakai, “Ini sebuah Surat” Putu Wijaya , “Jangan Terlalu Maju, Atuh” Iwan Simatupang, dan “Baju” Ratna Indraswari Ibrahim. Cerpen-cerpen ini sangat memesona karena ceritanya dan cara berceritanya menarik, konteksnya unik, dan menampilkan visi dan nilai yang gemilang. Jadi, ada makna, ada perlambangan yang dijahit dengan teknik yang berdaya pikat. Bagaimana dengan cerpen-cerpen kita?

13


/2/

C

erpen-cerpen kita, cerpen-cerpen peserta “Lomba Menulis Cerita

Pendek Tingkat SLTA se-Malang Th.2012” yang diselenggarakan

Akademi Sinau dan SMAN 10 Malang (Sampoerna Academy) ini, jika dilihat dari pesona cerita dan cara berceritanya, menampilkan dirinya dalam tiga kategori, yakni (1) cerpen yang amat menarik dari segi cerita dan cara berceritanya, (2) cerpen yang menarik dari segi ceritanya saja atau cara berceritanya saja, dan (3) cerpen yang kurang berhasil menunjukkan pesonanya dalam hubungannya dengan pesona cerita maupun cara berceritanya. Cerpen berjudul “Lacuo” adalah cerita pendek yang berhasil masuk dalam kategori pertama. Cerpen ini menarik baik dari segi cerita maupun cara berceritanya. Cerpen yang bersifat antropologis ini, meskipun bersifat sastra tipologis, yaitu tokohnya adalah representasi dari sebuah masyarakatnya, namun keunikan kultur masyarakat yang ditampilkan, seperti :laki-laki boleh bekerja setelah berumur 40 tahun, anak-anak dalam sebuah keluarga adalah buah dari tamu laki-laki yang diundang malam hari, paman adalah peran yang menggantikan status ayah anak-anak dalam keluarga, meskipun berciri maternalistik, tetapi maternalistik yang unik, dan ini semua disajikan dalam alur yang sabar dan taktis. Cerpen “Terjerat Wajah” adalah representasi dari cerpen yang telah matang dalam cara bercerita. Cerpen “Esok” adalah cerpen inspiratif yang diusahakan tampil dramatis. Cerpen-cerpen lain, seeperti : “Intuisi Serpihan Hati”, “Selaksa”, “Cangkir Kopi dan Puisi Terakhir”, dan “Seduhan yang Berbahasa” adalah cerita pendek lain yang menarik. Terlepas beberapa keunggulan yang telah ditunjukkan, beberapa kelemahan muncul karena cerita pendek seolah lahir dari asumsi bahwa cerita pendek adalah sekadar cerita yang disusun dari rangkaian kejadian 14


atau peristiwa. Pemilihan atas peristiwa-peristiwa kurang dilakukan dan pengaluran masih disusun seperti dalam realitasnya.Akibatnya, ceritanya terasa datar. Asumsi lain adalah bahwa cerita pendek adalah wacana cerita pengarang belaka.kurang berempati dengan karakter tokoh dan membiarkan tokoh tampil sesuai pengalaman hidup pribadinya. Akibat yang muncul dalam banyak cerita, kalimat-kalimat dan pikiran-pikiran tokoh adalah kalimat-kalimat dan pikiran-pikiran pengarangnya; tokohtokoh tidak menampilkan pikirannya sendiri-sendiri dan pengalamannya sendiri-sendiri. Dengan demikian, ucapan dan pikiran tokoh tidak terlalu fungsional bagi karakternya, tidak natural, dan karikaturis yang tak disengajakan. Akan tetapi konteks kita, semua cerpen adalah karya anak SLTA. Ini berarti pembicaraan perihal kelemahan di atas tidak terlalu penting. Sebab jika dilihat sebagai karya penulis pemula, cerita-cerita pendek itu telah melampaui batas standar yang sering kita pasang dalam praduga kita. Seiring perjalanan para penulis cerita pendek tersebut dalam pergulatan dengan soal-soal kemanusiaan, perjalanan pengalaman kehidupan, dan kematangan dan kecintaan dalam berbahasanya, cerita pendek-cerita pendek yang penuh pesona akan lahir dari tangan mereka. Sengkaling, 25 April 2012

15


Lomba Cerpen Tingkat SMA se-Malang Wirastho, S.pd

K

opi-puisi ide yang mendasari lomba penulisan cerpen dan tematema yang harus diangkat dalam cerpen tiap-tiap peserta. Ada

hal menarik yang terbaca dalam cerpen-cerpen ini; antara lain adalah kecerdasan para peserta dalam merepresentasikan imajinasi dan ide -ide mereka. Cerita pendek yang dihadirkan oleh para peserta memiliki karakteristik tersendiri tentunya tidak lepas dari pada kepribadian penulisnya dan beberapa hal terkait misalnya saja, pengaruh kehidupan berkeluarga, informasi yang dikonsumsinya, lingkungan bahkan sangat dimungkinkan tata cara interaksi dalam keluarga, hal ini sangat terbaca jelas dalam gaya bertutur atau secara samar tergambarkan dalam tulisan mereka. Jika kembali mengingat peserta lomba cerpen ini adalah para remaja, ketertarikan untuk lebih memahami dan mengupas setiap ceritera yang ditampilkan melampaui apa yang seharusnya saya lakukan sebagai juri, tak cukup dengan menyimak ceritera dan gaya berceritera, akan tetapi seolah-olah saya dituntut untuk melakukan kajian sejarah, etnografi, antro-sosiologi, topografi, dan bahkan data-data mengenai jenis-jenis kopi serta karakteristiknya. Hal ini dikarenakan kecerdasan mereka merangsang pembaca untuk memasuki dunia imajinasi mereka. Beberapa hal yang menggambarkan para peserta yang notabene

adalah remaja seolah-olah mampu melepaskan diri dari frame remaja, 16


atau mampu menjadi lebih dewasa dari usia sebenarnya, hal ini dapat kita lihat dari beberapa cerpen berikut; 1)Lacuo; secara normatif ada sisi ketabuan yang dibongkar oleh penulis, akan tetapi kalau kita melihat dari sisi kekaryaan atau terlepas dari itu semua, karya ini sangat mampu menceriterakan secara rinci kondisi geografis sebuah dari dalam setting ceritera, antropologis, sosiokultur. Dengan leluasa penulis ceritera pendek ini menceriterakan keunikan kultur “masyarakat maternalistik� yang memiliki keunikan sendiri; anak-anak dalam keluarga adalah hasil hubungan diluar pernikah secara normatif akan tetapi adalah hasil hubungan dengan para tamu laki - laki yang diundang, dan untuk selanjutnya peran seorang ayah akan digantikan oleh sosok paman. 2) Esok; ada upaya penulisnya untuk menampilkan dramatikal ceritera tokoh utama akan tetapi yang lebih terasa adalah kisah ispiratif terutama dalam dunia pendidikan remaja. 3) Terjerat wajah; salah satu cerpen yang mampu merepresntasikan ide dengan secara matang, ia mampu membolak balik alur secara lues sehingga cerita lebih dinamis. 4) Secangkir kopi untuk yang tercinta, kisah inspiratif dinamika kehidudupan keluarga dari sudut pandang remaja. 5) intuisi serpihan hati dan lain sebagainya. Kegiatan lomba penulisan cerita pendek semacam ini akan lebih bermanfaat jika tidak sekedar mencari pemenang yang kreteria penulis terbaik, akan tetepi tentunya kegiatan semacam ini akan lebih bermanfaat ketika berkesinambungan dan dapat merangsang penulis-penulis muda.

Kepanjen, Malang, 30 April 2012

17


18


Axellina Muara Setyanti

Perihal Kisah Beraroma Kopi Menggiling robusta Mengecap arabika Mencipta bercangkir-cangkir Kata sarat makna Semerdu denging teko Berteriak air telah mendidih Kopi pertama pagi ini1 Berbuih manis dan terasa sampai tandas Seperti cinta yang kian membekas1


20 Korden kedai baru saja dibuka saat seorang pria tua tengah berdiri di depan pintu. Ketujuh kalinya dalam minggu ini.

“Selamat pagi.” Sapanya. “Bisakah saya mendapat secangkir kopi?” Pertanyaan yang sama pula untuk ketujuh kalinya dalam

minggu ini. Air muka pria itu tampak lucu dengan mata berbinar ramah dan perut tambunnya. Kataku ia seperti peran kakek tetangga yang baik hati di film-film yang pernah kutonton di televisi kedai. Cring.. Lonceng di atas pintu kedai memberi salam saat pria itu masuk. Tamu pertama dan ini masih terlalu pagi. Kedai belum dibersihkan. Cangkir-cangkir, teko, dan toples-toples kopi bahkan belum disiapkan. Begitu Ia masuk, kulihat ia menarik nafas dalam-dalam. Seperti menikmati aroma kopi yang menyebar di penjuru ruangan.

“Tolong secangkir arabika dengan sedikit gula dan sesendok

crème diatasnya.” Pesannya kemudian setelah ia memilih duduk nyaman dekat jendela kaca. Aku melihatnya mengeluarkan buku catatan kecil, membolak-baliknya. Menutup, membukanya kembali, bolak-balik, lalu meletakkannya. Pesanannya masih agak lama, 15 menit lagi datang. Sudah kubilang ini masih terlalu pagi untuk kedai menerima tamu pertama. Selama tujuh hari lamanya.

Saat pesanannya datang, senyum ramahnya kembali terpasang.

Setelah mengucapkan terima kasih ia langsung meniup –niup kopinya, sembari tangannya membuka-buka lagi buku catatannya. Kali ini ia menuliskan sesuatu. Sepertinya ia menulis banyak kalimat. Aku mulai curiga, mungkinkah ia seorang pengawas mutu yang -kemarin-kemarin kudengar dari obrolan pemasok kopi-, belakangan suka mengunjungi restoran dan kedai-kedai? Cring..


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

21

Ah, biarlah Bapak itu menikmati kopinya. Tamu kedua pagi ini

datang. Seorang wanita istimewa. ***

Jikalau melihat kedai kopi ini dari luar akan tampak sempit dan

biasa saja. Yang menarik hanyalah papan nama tua bertuliskan Koffiekop dan sebuah pohon rindang yang menaungi teras kedai. Kalau ditanya sejak kapan kedai ini ada, aku juga tak tahu. Hasil usaha turun temurun keluarga. Yang jelas telah sangat lama. Yah, nama kedainya saja Koffiekop. Kalau tak salah diambil dari bahasa Belanda , artinya cangkir kopi.

Saat masuk atau keluar kedai kau akan mendengar gemerincing

lonceng yang dipasang di atas pintu. Bunyi yang khas, juga sebagai komando untuk siapapun pelayan yang berjaga untuk selalu siap menyeduh pesanan tamu. Hanya ada empat set tempat duduk disini. Dua set masing-masing dengan dua kursi dan sebuah meja di dekat jendela dan dua set lainnya punya empat kursi, berada di tengah, dekat kasir. Kami punya lantai parket coklat gelap, kertas dinding floral krem muda, dan yang teristimewa. Pewangi ruangan alami kami. Aroma kopi sangrai yang sangat harum dari dapur kecil kami.

Nah, sejak aku berada di kedai, aku selalu memperhatikan

pengunjung yang datang. Pengunjung yang ramah, pengunjung yang cerewet dan suka membuat pesanan dengan racikan sendiri, atau pengunjung dengan anak-anak yang seringkali menumpahkan kopi di lantai. Telah ratusan yang kuperhatikan namun sayangnya tak banyak yang tinggal di ingatan. Utamanya tamu-tamu setia dan beberapa dari mereka yang nyeleneh. Seperti wanita ini. Sejak satu setengah jam lalu sejak ia mulai menyeruput kopinya, aku terus memperhatikan. ***


22 Menggiling robusta Mengecap arabika Mencipta bercangkir-cangkir Kisah penikmatnya Senyaring denting sendok Beradu dengan cangkir Kopi pertama pagi ini1 Rasa yang baru di awal hari Seperti tahu saatnya mulai mencari Tamu nyeleneh. Seperti wanita ini. Sejak satu setengah jam lalu sejak ia mulai mendapatkan kopinya, aku terus memperhatikan. Rambut coklatnya yang panjang digelung tinggi. Memakai terusan selutut ketat warna hitam, kontras dengan gincunya yang merah menyala. Sepatu hak –sangat- tingginya yang juga merah bertak-tok-tak-tok di lantai. Kini ia mengeluarkan rokok batang kedua dan menyulutnya. Bukan penampilannya saja yang nyeleneh, tapi juga caranya minum kopi. Wanita yang terlihat seperti tante-tante muda ini sedari tadi makan roti kelapa- yang ia bawa sendiri- dengan mencelupkannya ke kopi manis yang telah dingin. Begitu terus sejak tadi, sambil sesekali menghisap rokoknya.

“Apa lagi yang kau mau? Kini aku tahu apa yang harus kulakukan.

Aku akan kembali hidup bahagia seperti dulu, tanpamu.” katanya di telepon genggam beberapa menit kemudian. Ia mematikan rokoknya. Sepertinya ada perbincangan penting.

“Tidak, kau saja yang urus soal harta. Aku sudah putuskan akan

bekerja.”

“Kata siapa? Aku pernah menjadi lulusan terbaik, tak ingat? Dan

Ibuku yang bekerja keras menjadikanku sarjana. Aku akan mencarinya untuk menebus kesalahanku selama ini.”

“Kesalahan telah memilihmu daripada ibuku. Aku akan mencari

ibuku! Titik.” Lalu perempuan itu menutup telepon. Kulihat bibirnya bergetar, seperti telah memutuskan hal berat dalam hidupnya. Matanya


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

23

berkaca-kaca. Ada sebutir air yang menggantung di bulu matanya yang terlalu lentik lalu cepat-cepat ia hapus. Ia mengambil sebutir kue kelapa saat ia menyadari secangkir kopi dingin di hadapannya telah habis. Ia memesan secangkir lagi. *** Cring..

Sekelompok anak muda, tiga perempuan dan satu laki-laki

datang. Si laki-laki sempat menahan pintu saat bapak tua gendut, tamu pertama kami hari ini beranjak pulang.

“Terima kasih, Nak.” ujarnya pada pemuda tadi seraya tersenyum

lembut. Senyum yang sama lembutnya saat ia berterima kasih dan mengobrol sedikit lebih lama dengan kasir kedai. Kulihat juga ia meminta agar kembaliannya disimpan saja lalu menyalaminya.

Empat orang tadi sudah duduk manis di tempat yang tersedia.

Si perempuan berkacamata memulai pembicaraan.

“Baik, hari ini kalian kutraktir. Kalian boleh pesan kopi apa saja

dan sebanyak apapun kalian sanggup minum.”

“Asik, aku arabika kental manis saja.” ujar si Laki-laki

“Aku espresso.” kata si Rambut pendek ikal.

“Aku juga, tapi tanpa coklat. Aku sedang diet.” sahut si Sipit

berambut panjang lurus.

“Please, Mey..” respon ketiga temannya bersamaan.

“Espresso tanpa coklat itu lalu apa namanya? Ayolah, libur

diet sehari saja di hari bahagia Cylla. Oke?” katanya sambil menunjuk perempuan berkacamata. Jadi yang itu namanya Cylla dan yang ini Mey. Cylla hanya tersenyum dengan anggukan setuju.

“Baiklah, Nov. Semua ini demi Cylla. Mungkin ini adalah espresso

dengan coklat terakhir yang pernah kuminum bersama sahabatku ini.”


24 Kata Mey pada si ikal bernama Nova.

“Yaaaahh, jangan ingatkan soal itu. Sebaiknya siang ini kita

bersenang-senang. Ngomongin yang indah-indah aja ya, sahabatsahabatku yang cantik.” Ujar si laki-laki yang belum kuketahui namanya lalu ia beranjak memesankan kopi. Saat tak lama kemudian pesanan datang obrolan mereka menjadi semakin banyak. Seperti mereka tak punya besok untuk bercerita lagi. Sebentar-sebentar diselingi dengan tawa, lalu bergantian dengan desahan kecewa.

“Tenang saja Cyll, biar beda pulau tapi kan masih sama-sama

Indonesia. Apa gunanya ini?” kata Si Laki-laki di tengah percakapan sambil mengacungkan telepon genggamnya.

“Betul Cyll. Sering-seringlah menelepon, dan satu lagi. Kalau

kau sudah kaya, lebih sering traktir-traktir kita ya!” Nova menambahi.

“Emm, dan sekali lagi selamat ya buat cum laudenya. Selamat

buat diterimanya Cylla kerja. Kita bangga punya temen pinter kayak Cylla.” Mey menghentikan minum kopinya.

“Kita bertiga sayang Cylla..!” Mereka berempat berpelukan.

Anak-anak muda yang dilanda sedih dan bahagia bersama-sama. ***

Sepertinya kontras sekali melihat perempuan ‘istimewa’ tadi

jika pandanganku membandingkannya dengan Cylla dan kawan-kawan. Perpisahan yang mengharukan dan perpisahan yang menyedihkan.

Sudah tiga jam lebih perempuan itu betah menikmati dua

atau tiga batang rokok, dua cangkir kopi manis dingin, berkepingkeping biskuit kelapa, dan sebongkah kesedihan. Sendiri. Pelan-pelan ia merapikan roknya, memasukkan beberapa keeping biskuit kelapa yang tersisa di plastik ke dalam tasnya, lalu mengeluarkan selembar uang.

“Kopinya enak sekali. Ehm..tapi boleh kuberi saran? Kalau kedai


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

25

ini jual biskuit kelapa seperti yang kumakan tadi, aku akan lebih sering kesini.” katanya saat sedang membayar kopinya di kasir.

“Dan satu lagi, terima kasih juga untuk suasananya. Terasa

seperti di rumahku dulu, jadi ingat saat aku dan ibuku makan biskuit dicelup kopi dingin bersama-sama. Haha.” Ia tertawa pelan. “Sudah ya, aku harus mengejar bus tercepat agar segera bertemu ibuku.” tambahnya saat berbalik badan sebentar.

Senyumnya amat manis dan tulus. Sosok tante-tante kejam yang

kulihat pagi tadi benar-benar berbeda dengan wanita yang barusan. Cring..

Sampai sosok bersama tak-tok-tak-tok sepatunya menghilang di

balik pintu aku baru menyadari bahwa kebahagiaan dan semangat bisa datang begitu cepatnya. Secepat kenangan-kenangan yang terbuka lagi saat kita melihat, mendengar, merasa, dan mengecap hal yang serupa. *** “Terima kasih sekali untuk kopinya. Saya yakin Anda heran dengan tamu seperti saya tujuh hari ini. Tenang, saya hanya ingin mengenang kebersamaan saya dengan istri saya. Dulu waktu masih pacaran, kami sering sekali kesini. Rasanya cocok lah dengan lidah kami. Setelah menikah kalau tak sempat mampir, istri saya membuatnya sendiri di rumah. Rasanya persis.” katanya sambil menyerahkan selembar uang. “Hari ini tepat setahun kepergiannya dan saya tahu bahwa di sisa hidup saya, saya harus tetap bahagia. Juga bahwa istri saya telah bahagia di sana. Saya akan datang lagi setiap saya merindukannya.” Cring.. Ia pergi bertepatan saat sekelompok anak muda, tiga perempuan dan satu laki-laki datang. Si laki-laki sempat menahankan pintu saat ia, tamu pertama kami hari ini beranjak pulang. Membawa cerita baru. ***


26 Sejak aku berada di kedai, aku selalu memperhatikan pengunjung yang datang. Pengunjung yang ramah, pengunjung yang cerewet dan suka membuat pesanan dengan racikan sendiri, atau pengunjung dengan anakanak yang seringkali menumpahkan kopi di lantai. Telah ratusan yang kuperhatikan namun sayangnya tak banyak yang tinggal di ingatan. Aku memang tak mengingat nama atau tampilan, tapi aku mempelajari kenangan. Dibalik setiap cangkir kopi yang disajikan, setiap catatan yang dipesan, juga orang-orang yang membuat kenangan. Sehari saja kau melihat lebih dekat, akan banyak sekali cerita yang kau dapat. Tahukah bahwa dibalik secangkir kopi terdapat berjuta kisah dari berjuta orang. Pertemuan, perpisahan, kebahagiaan, kesedihan, semuanya. Milik buruh pemetik kopi, milik para pekerja pabrik kopi, pelayan-pelayan kedai kopi, sampai ke setiap penikmat kopi. Setiap jenis kopi. Sekali saja kau memahami lebih dalam, akan banyak sekali pelajaran yang beragam. Sejak aku berada di kedai, aku selalu memperhatikan pengunjung yang datang. Memberi salam untuk kehadirannya demi secangkir kopi dan bercangkir-cangkir kisah baru yang dapat kupelajari. Kuharap gemerincingku tiap ada yang keluar masuk pintu mengingatkan mereka untuk datang dan datang lagi. Kuharap lonceng kecil di atas pintu ini tak pernah diganti. Kuharap aku bisa terus menikmati kisah-kisah beraroma kopi. ***

1 Kopi pertama pagi ini. Dikutip dari tweet Raditya Dika di @radityadika, www.twitter.com


Nur Wijaya

Esok Hidup di dunia tanpa keberanian, Ibarat memasuki perpustakaan tetapi tidak bisa membaca. Bu Dila, wali kelasku, sedang semangat menempelkan lembar – lembar berwarna hijau kripton di papan pengumuman depan ruang guru. Sembari merapikan perekat, teman – teman membentuk kerumunan disana dalam sekejab.

Aku letakkan buku – bukuku sejenak dan memandang ke luar

kelas, ke arah penuh sesak yang dirindangi pohon palem disampingnya. Rintik hujan turun ganjil – sinar matahari masih sangat menyilaukan - .


28 Aku memandang ke kiri, ke area parkir sepeda. Sepedaku jatuh tertimpa. Aku diam saja, namun berontak tidak terima.

Kriing… Kriing… Kriing…

Bel persis tiga kali tersebut membangkitkan sorak sorai seluruh murid sesekolah. Aku malu mengakuinya tapi memang begitulah kenyataannya. Aku segera berkemas, menyingkirkan sepedaku dari porak poranda parkiran. Aku tak percaya. Keranjangnya peok. Aku menyesal sekali. Aku sering berkeinginan untuk meniadakan niatku menaiki sepeda ke sekolah. Tapi apalah dayaku. Hanya itulah kereta ajaib yang mengantarku ke sekolah yang 8 km terlampau jauh untuk memandang dari kampungku. Aku dan aku. Aku, ini semua tentang aku. *** Adzan maghrib bersahut – sahutan. Terasa tenang sekali batinku mendengarkan pekikan tersebut. Sesuai tradisi, aku bersiap ke masjid untuk shalat berjama’ah. Langkahku mulai memelan di samping rumah Zahra, teman sepermainanku. Pengumuman tadi pagi. Jantungku berdetak gugup dan penasaran. Aku lupa membacanya tadi siang. Pulangnya dari masjid, aku tergesa – gesa untuk mengetahui jawabannya. Persis pukul 19.00 WIB, arlojiku melotot. Aku paham apa maksudnya. Ku rapikan meja belajarku yang berantakan dengan bekas lem dimana – mana karena pembuatan kerajinan tangan kemarin malam. Pyarrr! Cangkir kopiku jatuh dari meja, pecah berkeping – keeping. Aku diam saja, tak menjerit. Tumpahan kopi pun tak terasa telah meluber hingga pintu usang kamarku. Ku biarkan saja. Aku pura – pura bodoh. Aku alihkan perhatianku, mengamati tugas untuk besok, tapi benakku masih tertuju pada pengumuman tadi pagi, mencoba mencari cara terbaik dan tercepat untuk menemukan jawabannya. Aku amati rumah di seberang, tapi sosoknya tak kunjung keluar. Ya sudah, ku urungkan saja niatku. Masih ada esok.


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

29

***

Esok. Alarmku berbunyi, menyanyikan lagu idolaku, The Power

of Dream yang dipopulerkan oleh Celine Dion. Aku terbangun linglung. Sang Bagaskara pagi itu memberikan banyak arti dengan sinarnya yang lembut nan hangat. Tampaknya begitu. Dia ingin memecahkan misteri di benakku ini. Aku terkejut, lantai kamarku sudah bersih, tanpa tumpahan kopi tubrukku kemarin malam. Terima kasih, Emak.

Saat berpamitan dengan emak, ku intip bapak tertidur di sofa

usang pemberian paman di dekat dapur. Aku harus mengakui bahwa keadaan semakin kacau. Hari ini adalah langkah pertamaku untuk mengubah semuanya.

Di sekolah. Di jam istirahat pertama, persis seperti pasar, aku

menemukan waktu luang untuk menemukan jawabannya, di papan pengumuman. Di sini terasa sangat lengang karena kantinlah tempat penampungan di saat – saat seperti itu. Pengumuman itu ternyata bertuliskan kalimat – kalimat yang memberiku sebuah optimisme tiada tara. Tentang beasiswa, di perguruan tinggi. ***

Pintu kamar itu memang sudah tak layak. Selalu membuka dan

menutup sendiri ditendang angin semilir dari jendela. Memang kuncinya berkarat, belum diperbaiki – dan memang tak akan pernah diperbaiki - . Dari balik jendela kamarku ini, terlihat Pak Roqib sudah memadamkan lampu ruang tamunya tetapi bapak belum juga pulang. Selalu saja begitu, berjudi, hanya bersenang – senang terpaksa. Semuanya benar – benar kacau. Tapi mulai hari ini, aku akan membawa perubahan.

Aku amati unit – unit persyaratan untuk beasiswa di salah satu

perguruan tinggi terbaik di kotaku ini. Mudah rupanya – tanpa remehan -. “Tak ada biaya pendaftaran yang mahal, aku patut mencobanya”. Aku


30 lirik ke bagian yang lebih bawah, proses seleksi. Tes aplikasi, tes akademik (matematika dan Bahasa Inggris), dan wawancara. Ku fokuskan pikiranku pada formulir aplikasinya. Aku pun punya sedikit masalah.

Aku bingung apa yang harus aku tulis pada bagian isian. Di

sini, aku mulai dengan menggunakan ilmu pengetahuan modern selama ini untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan. Mengapa anda membutuhkan beasiswa ini? Terlintas itu pertanyaan sepele. Tapi benar – benar menjebak. Aku berhasil menggoreskan satu kalimat. Kemudian, aku menemui jalan buntu. Aku kehabisan kata – kata.

“Kakak, dimana ayah?” Aku pun tidak menggubris pertanyaan

Dina, adikku. Dia seperti tidak tahu jawabannya saja. Hanya kulirik saja dia dengan goresan senyuman yang menenangkan batinnya. Dia pun paham. Aku kembali ke kamar tidur. Kadang, aku merasa bersalah. Bapak seperti itu karena aku yang tidak kunjung membanggakannya. Ditambah lagi dengan emakku yang sakit – sakitan dan tidak bisa melakukan pekerjaan rumah yang berat. Aku ingin sekali mengubah kondisi ini.

Ku hampiri cermin lamaku, tersenyum. Dia retak, seakan – akan

karena sudah tak tahan lagi mendengarkan curahan hatiku lagi tentang kehidupan ini. Aku pun memulai memandanginya dalam – dalam jikalau aku memang bisa berkomunikasi 2 arah dengannya. Dia, saksi bisu segala air mataku dan kadang keceriaanku. Aku seka sebutir air mataku di tepi kelopak, menyongsong hari baru. Esok. *** Esok. “Assalamu ‘alaikum, emak. Doakan lancar, ya”, pamitku. “Wa’alaikum salam, nak. Doa emak selalu menyertaimu, ndok.” seraya tersenyum.

Aku senang sekali melihat emak tersenyum. Tapi saat di balikku,

beliau sering merintih tersiksa. Aku kayuh sepedaku yang karatan itu.


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

31

Sepeda yang bapak berikan ke aku saat aku masih kelas 1 SMP yang tak hentinya – hentinya aku jaga, tetapi nyatanya keranjangnya sudah peok juga karena sering jatuh tertimpa sepeda lain di area parkir sekolah, apalagi kemarin lusa.

Aku sengaja tidak memberitahu emak dulu tentang

program beasiswa ini. Sehingga jikalau gagal, aku tak terlalu merasa mengecewakannya. Tetapi alangkah baiknya jika diriku ini terpilih, pasti kondisi keluargaku akan membaik drastis. Dengan bangga.

Aku menantang utara. Kayuhanku semakin kencang seiring irama

jantungku yang berderap kencang saja, teringat program beasiswa yang aku ikuti. Sesosok pria umur 40-an mengenakan kaos biru lengan panjang ngebut ke arah selatan, berpapasan denganku tanpa menghiraukan apa – apa yang ada di sekitarnya. Itulah bapakku. Beliau sebenarnya melihatku, namun pura – pura saja tidak kenal. Perasaanku terasa tersilet, tersayat – sayat karena pengakuan sepeti itulah yang ku alami setiap kali aku berangkat sekolah. Tak dianggap. “Selamat pagi, Pak”, salamku sambil memarkirkan sepeda hitamku. “Selamat pagi, Dik” Pak Mawan dengan tulus menjawab. Beliau adalah satpam sekolahku. Dengan perawakannya besar dan tinggi, beliau masih memiliki hati yang tulus. Semua anak di sekolahku menyadari itu, kecuali Mei. Gadis kaya yang memiliki segalanya namun serba merasa tidak puas. Aku pun akhirnya sadar dan percaya bahwa ada manusia seperti itu.

Saat memasuki kelas, aku mendapati Zahra sedang mengisi

formulir aplikasi yang sama seperti itu. Ternyata dia juga mendaftar. Aku mulai mengkhawatirkan persaingan yang akan terjadi. Aku yang kalut di pagi hari pun menjalani hari di sekolah dengan senyuman yang benar – benar datar. Tiba – tiba seseorang menghampiriku dan berhenti di depan ku persis saat aku makan syomai di kantin. Aku kenal sekali parfumnya. Mei.


32 “Lihat, rek! Seorang anak tukang judi mau melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Ya jelas dengan beasiswa donk. Mau gimana lagi coba?” “Wes ta! ngapain kamu ngurusin segala? nggak usah banyak komentar lagi. Emang nggak boleh?” Mendadak Zahra yang berada 4 meter dariku, membelaku. “O, gini sekarang. Babah! Udah miskin, masih aja ngotot mau ngelanjutin ke sarjana. Diploma aja belum tentu nyampe. Nyadar nggak, sih! Siap – siap aja tisu yang banyak pas pengumuman entar” “Gimana kalo sampe dia keterima? Mau taruhan?” Zahra menantang sangar. “Oke. Kalo dia beneran dapet beasiswanya, aku bakal ngabulin apapun yang dia minta. Tapi kalo dia gagal, nggak usah mikir susah – susah. Dia cuma harus jadi pembokatku selama 1 hari penuh” Mei tanpa ragu. “Siapa takut!”

Itulah Zahra. Benar – benar peduli teman tetapi tetap saja egois.

Masak dia yang buat taruhan seenaknya tanpa meminta pertimbangan dariku sementara korbannya nanti aku doank? Namun aku pun tak lupa mengucapkan terima kasih padanya karena aku takkan tahu apa jadinya aku tadi jika dia tak membelaku. Benar – benar hari yang datar, bahkan bergradien negatif, jika kamu ingin tahu yang sebenarnya. ***

Di kamar yang sesak ini, lampu kamarku memancar terang,

menerangiku yang sedang mengisi formulir aplikasi yang paling lambat harus dikumpulkan besok. Semuanya telah tertidur lelap. Hanya akulah yang tersisa, mencoba merangkai kata dari memori dan ide. Aku dan secangkir kopi yang diracik emak barusan.

Aku tutup mataku perlahan. Mendadak, dalam kegelapan, dan


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

33

yang sangat mengejutkanku, aku menemukan beberapa ide tentang apa yang harus ku tulis di lembaran tadi. Ini bukanlah suatu kesalahan. Aku kini mulai meraba kata – kata untuk menyusun ide – ide yang ku dapat barusan. Kini aku ambil bolpoin merahku dengan tinta hitamnya yang khas, dan aku suka itu, hitamnya tipis dan berkilau. Rasanya, jernih sekali berpikir di dalam keheningan.

Tak terasa, kopiku ternyata sudah habis. Aku ambil kopi tubruk

emak, tanpa gula sebutirpun. Ku aduk pelan – pelan diatas mejaku. Tampak warna putih diatas permukaannya mulai membuat lingkaran – lingkaran spiral yang menghipnotisku. Aromanya wangi, membius otakku dalam kehampaan malam.

Selesai juga! Aku hempaskan badanku keras – keras ke kasur dan

langsung mengantuk. Tapi rasa itu lenyap seketika dengan pintu utama rumahku terdengar ada yang membuka. Dengan derap langkahanya yang menyeret – nyeret, jelaslah itu bapak. Ku lanjutkan rasa kantukku. Dan, pulas. ***

Esok. Ku kumpulkan naskah ini pagi – pagi ke Bu Dila. Beliau

akan mengirim semua formulir yang ada ke perguruan tinggi, hari itu juga. Aku kembali mengecek kelengkapan formulir aplikasiku. Oh, tidak! Aku sontak berteriak, memecah keheningan ruang parkir pagi itu. Terlihat esaiku kotor, penuh bercak tumpahan kopiku tadi malam. Bahkan di baris paling bawah dimana aku membubuhi tanda tangan, tampak jelas sekali suatu cap dengan warna cokelat kopi yang membentuk postur lingkaran meluber. Aku tak sengaja meletakkan cangkir kopiku di atasnya. Aku hanya diam, tak tahu apa langkah apa yang seharusnya aku ambil. Terbesit suatu ide saat aku melihat teman – teman mulai berdatangan ke kelas. Ku goreskan 2 larik puisi tepat dibawah tanda


34 tanganku.

Kopi racikan Emak saya

Semoga menghantarkan suatu berkah atas lembar ini.

Saat pelajaran pertama dimulai, ku lihat Zahra masih baru saja

mengumpulkan formulir ke Bu Dila. Tapi sayangnya, terlambat.Bu Dila telah mengirim semua formulir teman – teman tadi jam 7. Atmosfer tidak menyenangkan mengelilinginya hari ini. Ku biarkan saja dia agar dia dapat menenangkan dirinya terlebih dahulu.

Malamnya, aku berkunjung ke rumahnya. Aku berbincang di

teras depan rumahnya. Dengan nada yang rendah, aku berhati – hati sekali dalam memilih kata - kata. Tetapi aku terpana melihat mimiknya malam itu – begitu sumringah - . Tadinya aku membayangkan mukanya yang tenggelam kelam tapi nyatanya 180 derajat bertolak belakang. Aku pun spontan mengganti topik pembicaraan. ***

Esok. Esok .Hari ini pengumuman.

“Assalamu ‘ alaikum, Bu. Doakan aku beruntung hari ini.” “Wa ‘alaikum salam, ndok. Emak berharap sekali nantinya kamu dapat mengembalikan semuanya, ndok. Kaulah satu – satunya harapan Emak sekarang. Bapakmu sudah tidak dapat diharapkan lagi. Mau kan, ndok?” “Iya, Mak”. Aku pun menghela napas dalam kayuhan pertamaku. Pesan emak tadi sedikit membebaniku. Bahkan hingga saat pelajaran, kata – kata emak masih terngiang di telingaku. Aku meminta izin ke toilet.

Di toilet, aku berusaha mengatur nafas agar siap menerima

kegagalan hari ini. Hal itu samar – samar terjadi. Saat waktu istirahat kedua, seluruh perhatian teman - teman tertuju pada papan pengumuman. Jantungku berdentum seketika, sakit sekali rasanya. Benar – benar sakit.


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

35

Tubuhku mulai pucat, gugup. Zahra menghampiriku. “Tuhan selalu mengetahui perjuangan manusia dan membalasnya berlipat ganda. Selamat! Good things will always come to good people.”

Aku hanya tersenyum dengan menitikkan air mata bahagia ini.

Aku tak ingin membaca pengumumannya agar tidak berkecil hati melihat saingan yang lainnya. ***

Sendirian di dalam bilik dengan cahaya lilin, aku mengepalkan

tanganku di atas kasur empuk kamarku. Aku tidak dapat membayangkan akan apa yang terjadi esok, saat wawancara. Kapan keraguan ini akan lenyap? Ku akui. Satu – satunya kelemahanku adalah dalam mengatasi rasa takut akan kegagalan karena aku tak sanggup. Seiring mengikuti cahaya lilin yang mulai redup dan habis, aku memejamkan mataku, menuntunku tidur. ***

Esok. 10 peserta lolos ke dalam babak selanjutnya, tes akademik.

Namun jumlah peserta yang lolos hanya sebatas itu, sehingga babak selanjutnya merupakan tes wawancara – Tepat seperti apa yang aku pikirkan tadi malam. “Doakan saja, Mak”

Wawancara pun dimulai.

“Apakah pekerjaan orang tua anda?” “Bapak saya seorang kuli bangunan yang sehari – harinya hanya berjudi saja sementara Emak saya seorang ibu rumah tangga seperti pada umumnya tetapi lebih lemah karena emak saya sering jatuh sakit jika terlalu lesu.” Aku jujur – jujur saja saat menjawab. Tidak perlu memakai trik ekspresi seperti ini dan itu yang diterapkan peserta lain. Wawancaraku berlangsung selama 10 menit. Seluruh peserta lain tampak puas dan bangga ketika keluar dari ruang wawancara, menandakan maksimalnya


36 usaha mereka saat wawancara. Aku mulai merasa seakan ini adalah akhir dari usahaku selama ini. Kegagalan.

Malamnya, aku menempatkan lilin di atas kursiku, bukan mejaku,

agar sinarnya sejajar dengan mataku saat aku tidur. Cahayanya terlihat mengilap dan tidak fokus. Aku menggosok – gosok mataku karena sudah mengantuk dan menguap berulang kali. Aku berdoa pada Tuhan agar memberikan aku kesempatan untuk mengembalikan segalanya seperti semula –kondisi keluargaku yang kacau . ***

Esok. Sepulang sekolah. Aku berdiri membisu dalam waktu

yang lama, menatap papan pengumuman di sekolah. Aku merasakan rasa dingin menjalari tubuhku ketika menyadari bahwa hujan mulai turun. Zahra mengulurkan tangannya kepadaku dan berkata, “Jangan sampai kau menjadi budak Mei selama sehari penuh, ya. Aku tidak akan memaafkanmu”. Zahra selalu saja begitu. Mencoba menghemakrku di kala gugup tetapi selalu dengan cara yang salah. Namun, bagaimanapun juga, ku hargai itu.

Aku menatap dinding itu kembali. Bu Dila mendekatinya dengan

membawa selembar kertas dan perekat. Kini jantungku berdentam – dentam liar. Aku cengkeram tangan Zahra yang sedang berharap pula. Rasanya aku ingin sembunyi. Aku hanya terpaku hingga Bu Dila kembali ke ruangannya. Astaga. “Hei! Kau gila? Buruan dilihat pengumumannya!” “Tidak. Aku nggak sanggup”, mengisyaratkan bahwa aku memohon Zahra agar melihatnya terlebih dahulu. Ku lepaskan cengkeramanku.

Keheningan terjadi. Zahra mulai menghampiriku lagi, dan

berkata, “Tuhan memang tidak pernah terlelap. Tuhan selalu melihat perjuangan hamba-Nya. Hidup memang tak pernah adil. Ingat, Diah.


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

37

Saat satu pintu tertutup, janganlah terpaku pada pintu tersebut. Alihkan perhatian dan wajahmu karena sejatinya, ribuan pintu lain yang sudah terbuka telah berada di depan matamu, di tempat kamu berpijak. ”

Mengapa Zahra berkata seperti itu? Aku gagal mendapatkan

beasiswanya? Aku lari menghampiri papan putih itu dan mencari tulisan khusus bagiku, dan ternyata di baris kedua pada tabel itu, terteralah “Rizky Wibowo”, nama peserta lain. Namaku tak tertera disana. Tak satupun dari ketiga peserta yang telah menjadi pemenang beasiswa. Aku diam. Berbagai perasaan berontak di kalbuku. Kecewa. ***

Sang Fajar sudah tak lagi fajar. Ia lambaikan sinarnya seraya

memberiku semangat dari ufuk barat dengan warna merah keemasan yang khas. Aku siapkan rangkaian kata yang akan aku ucapkan pada emakku, dan … bapakku. Ketika melangkah menghampiri emakku yang berada di dapur (dengan penerangan yang suram) dengan ekspresi datar saja, emakku menoleh. “Gimana sekolahnya, ndok?” “Ngapunten, Mak”. Hanya itu yang kuucapkan. Aku masuk kamar dan menguncinya dari dalam. Daripada aku meluapkan emosiku pada orang lain, lebih baik aku mengambil air wudlu dan bergegas tidur. Maaf, Mak. Jelaslah, aku tak akan bisa kuliah. Diriku, akan menjadi lulusan SMA, saja. ***

“Udah siap jadi pembokatku? Ayo! Ikut aku ke Mall sekarang

juga!” Bentak Mei.

Aku hanya mengangguk dan mengerjakan segala perintahnya.

Zahra memandangiku dari luar. Tak tega melihatku yang seperti ini, dia


38 menggeretku. Aku melepaskan cengkeramannya. Zahra mulai menangis. Aku merasa taka pa. Itulah konsekuensi taruhanku. Langit mulai mendung. Dalam hitungan detik saja, hujan telah turun menghantam jalan dengan derasnya.

Aku memang tidak punya payung. Mei dan teman – teman

lainnya pergi ke Mall dengan mengendarai mobilnya. Aku berjalan, menapakkan kaki, langkah demi langkah ke Mall itu, yang terlampau 3 km dari sekolah, dan kehujanan. Sepedaku masih rusak dan aku tidak punya ongkos serupiah pun untuk pergi ke sana. Berjalan di bawah hujan terasa sangat mendepresikan fisikku. Selama di perjalanan, pikiranku kosong. Aku masih saja memikirkan kegagalanku dalam meraih beasiswa itu. *** Tiba – tiba, sebuah sedan berwarna cokelat berkilau mendekatiku dari pinggir jalan raya. Terbukalah jendela depannya yang menampakkan sosok pria dengan aura karisma yang tinggi. “Dik, bisa Tanya sebentar nggak?” “Oh, iya, Pak. Tanya apa?” “Adik tahu dimana letaknya SMA Srengat?” “Oh, tentu, Pak. Saya siswi disana”. “Beneran? Wah! Kebetulan. Adik tahu siswi yang namanya Diah Nurulita?” (Aku bingung) “Ada apa ya, Pak?” “Enggak. Jadi, dia itu ternyata berhasil meraih beasiswa ke perguruan tinggi. Kuotanya telah ditambah.” (Aku hanya terdiam, berdiri terpaku di samping sedan itu. Pandangaku mulai kabur. Pingsan) ***

“Diah, selamat, ya, nak… Emak begitu bangga padamu.” Tangisan


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

39

tak terpendamkan lagi. Emosi, haru, dan kelegaan syukur seakan – akan tercampur dan diledakkan dalam sesaat hingga banjir air mata menggelinang dimana – mana.

“Emak,” Aku tak dapat berbicara apa – apa lagi. Aku yang masih

setengah sadar berusaha melihat sosok pria yang menanyaiku di pinggir jalan tadi. Aku tak ingin bertanya bagaimana emak bisa tahu hal ini. Mungkin beliau memperhatikanku setiap malam. Atau mungkin pria tadi sudah cerita semuanya pada Emak. Aku tak mau merusak suasana.

Dina terpesona melihatku. Gadis kelas 1 SMP itu ikut terharu

dan menangis. Kami bertiga akhirnya duduk di kasurku bercerita dan bersenda gurau bersama pria tadi. Emak sangat bahagia. Tak pernah ku lihat emak sebahagia saat itu. Malam semakin gelap saja namun emak berharap pria itu berkenan bermalam di gubukku ini. Terdengar suara motor bapak yang sedang diparkir di teras. Aku gugup. Aku tak tahu harus berkata apa. Langkah bapak yang terdengar prok prok mantap semakin jelas saja pertanda bahwa beliau mendekati kamarku. Emak hanya tersenyum, aneh.

Astaga. Sesosok pria dengan postur tinggi tegap berkumis

tebal sedang mengenakan busana muslim lengkap dengan kopiahnya, menandakan baru saja shalat. Busana muslim warna putih itu terlihat usang karena sudah lama sekali tidak terpakai tetapi terlihat sedikit bagus oleh alur setrikanya. Sarung kotak – kotak hijau gelap dan hitam itu juga tidak asing bagiku. Tetapi kopyahnya baru, jelas terlihat. Mimiknya hanya tersenyum dewasa menunjukkan kebanggaan.

Itu bapak. Orang yang akhir – akhir ini ku kenal sebagai penjudi

harian dengan modal pas – pasan yang sudah lupa urusan agama dan tidak pernah peduli keluarga, sekarang bermetamorfosis menjadi seorang bapak dewasa yang terlihat dapat menuntun keluarganya kembali kea rah yang benar. Bapak hanya mengangguk sekali. Beliau tahu pertanyaan apa


40 yang ada di benakku. Apakah ini benar – benar bapak?

Aku pun berdiri dari kasur, melangkah perlahan menghampiri

bapak seraya memandangi wajahnya terus menerus. Aku peluk beliau erat – erat. Sudah 6 tahun lamanya aku tidak merasakan pelukan seperti ini. Hangat dan tenang. Ku lirik, emak terharu melihat kembalinya keutuhan keluarga kami malam ini. Beliau menangis. Bapak tak kuasa pula menahan tangis. “Maafkan bapak ya, ndok. Bapak berjudi setiap malam, menghabiskan uang hasil berkuli, dan hanya pulang ke rumah saat tidur dan makan saja. Bapak benar – benar khilaf, ndok. Bapak berjanji, sejak sekarang, bapak akan menjadi ‘bapak’ seperti dahulu kala saat bapak membelikanmu sepeda di kelas 1 SMP. Ayo menjadi keluarga yang bahagia seperti itu lagi ya, ndok. Diah mau kan maafin bapak?” Terlihat ada sebutir air mata di masing – masing kelopak mata beliau. “Tentu, Pak. Diah maafin kok, Pak. Diah juga minta maaf karena baru kali ini Diah bisa nunjukin prestasi ke Bapak.” Kalimatku tersendat – sendat tangisan yang semakin menjadi. “Ya, ndok. Tapi dengan menjadi anak yang penurut dan sopan, itu sudah cukup bagi bapak. Ayo sekarang shalat bareng ya. Dina, Bu, ayou shalat isya’ berjama’ah”. Begitu arifnya bapak sekarang sambil mengajak pria tadi shalat isya’ berjamaah dengan membeber tikar di ruang tamuku yang sempit. ***

Esok. Aku siap songsong lembar kisah keluarga yang baru, yang

damai dan tenteram. Aku menatap cermin curahan hatiku sejenak lebih lama dari biasanya. Tak ada tangis lagi yang ku tunjukkan di depan cermin itu. Lampu – lampu terang di rumahku sekarang selalu menghiasi malamku. Rumahku hidup kembali. Kegelapan yang dingin takkan mampu menyiksaku lagi. Tampaknya, aku telah berhasil menunjukkan


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

41

keberanianku dalam mengahadapi masalah terpahitpun di dunia ini. Kini aku tinggal fokus pada ujian nasional agar aku bisa lulus dan melanjutkan sekolahku dengan jalur beasiswa di perguruan tinggi.

Semuanya berjalan begitu saja. Tanpa terencana. Roda terus

berputar. Tanpa mengenal orang bodoh dan orang pintar. Keberanian harus tertuju pada semangat maju tak gentar. Aku tidak duduk berdiam pasrah melihat roda ini membawaku ke jurang kenistaan dan kegagalan. Sesuatu tentang dunia ini telah mengajarkanku tentang insting yang ampuh dalam memercayai kesuksesan yang pasti datangnya di hari‌ ESOK.


42


GALIH RAMADANA SUWITO

Gadis Rembulan “Jika kau berada di pesarean nasrani itu, pergilah ke bawah flamboyan tua. Berhati-hatilah, jangan sampai membuat aku yang sedang tertidur terperanjat bangun. Katakan pada seorang gadis disana untuk segera pulang.”

Dingin..sunyi..gelap..seorang lelaki jangkung menutup jendela kamar dengan beringas. “Kalau keadaannya sumpek begini,

bagaimana imajinasi dapat mengalir!” keluh kesah si Lelaki berperawakan gempal itu. Kalian tahu? Dikejar deadline itu bukanlah hal yang gampang. Lelaki itu adalah gambaran kecil dari sosok aku yang begitu kompleks.


44 Kompleks dari berbagai masalah mulai dari bisnis, keuangan, instalasi listrik rumah, psikologis, hingga masalah deadline yang terdengar begitu mengerikan di telingaku.

Tok.. tok.. tok.. Pintu kamarku berdecit lirih, masuklah seorang

wanita berparas cantik nan manis melenggak-lenggok mendekatiku. Dibawanya secangkir kopi yang menghembuskan uap panas menyembulnyembul mulut cangkir yang lembut. Ia memandangku penuh cita rasa, ditaruhnya secangkir kopi itu diatas meja antikku. “Ini kopinya,” sambil tersenyum memamerkan dekiknya yang manis. Tak kuasa hati ini menahan, ku cium kening wanita yang membidadari itu. “Terima kasih, Susan,” kataku sembari meneguk kopi buatannya. Sedap.. aromanya yang memikat itu sungguh membuat aku ngefly ditambah ditemani sang bidadari kecil yang menjadi gula ditengah-tengah pahit yang begitu menagihkan ini, sepertinya ada bumbu-bumbu spesial yang diraciknya sengaja ke dalam setiap cangkir kopi yang ia sajikan. “Seperti biasa, nikmat sayang..” pujiku kepada si Manis, yang sedang berdiri menahan malu yang tersipu-sipu. Segera saja ku habiskan secangkir kopi itu dengan nikmatnya. Sepertinya akulah satu-satunya pria beruntung yang bisa merasakan kopi si Bidadari. “Terima kasih atas kopimu hari ini, sayang,” kataku. “Papa jadi tambah semangat nulisnya.” Kata-kata yang selalu membuat pipi Susan memerah. ***

Aku adalah seorang penulis lokal yang selalu dikejar deadline.

Panggil saja aku Zulfikar, nama khas kerajaan Aceh yang mengingatkan siapa saja dengan tajamnya pedang zulfikar milik Sultan Ali Imran II. Tak setajam perasaanku yang selalu tak berdaya dihadapan Pak Editor, tragis. Bagiku, penulis adalah manusia biasa yang harus rela hartanya


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

45

diobrak-abrik oleh dewa berjuluk editor.

Aku diberi kehormatan mengisi rubrik sastra di koran mingguan

Suara Aceh. Dimana cerpen bersambungku yang berjudul “Susan” dimuat setiap akhad. Susan, judul yang kuambil dari nama putriku sendiri. Putri malang yang ditinggal mati ibunya sejak plasenta berubah menjadi pusar. Hanya nama Susan lah yang dititipkan oleh istriku yang nasrani kepadaku yang muslim, cinta tragis yang bukan hanya terpisah oleh keyakinan namun juga oleh maut.

Susan adalah anak yang patuh dan penurut. Anak perempuan

yang ketika malam melarut, ia datang dengan membawa secangkir kopi panas untuk sekedar menghangatkan tubuhku di malam-malamku yang selalu dingin, sayup. Malaikat kecil yang berkeliaran di kamarku untuk menghirupkan nyawa kepada mayat hidup, walau cuma secangkir. *** Ufuk timur cakrawala sudah memerah. Sehelai roti tawar ku ambil dengan sedikit olesan selai coklat di atasnya. Berdiri di pojok kanan depanku, Mbok Yem melontarkan senyum hangatnya yang kejawen, menandakan kebanggaan tersendiri baginya yang selalu sukses menyiapkan hidangan hingga pagi ini. Hanya aku dan putriku yang terduduk di kursi yang disusun berhadapan. Sambil mengusap pipinya yang centil, si Susan yang sudah berpakaian rapi putih-merah itu, tak kuasa menahan tawa yang bertalu-talu. “Ada apa sayang? Kok tertawa sendiri?” tanyaku penasaran. “Tidak apa-apa kok pa, aku Cuma ingin menepati janjiku untuk tertawa bila besok masih bisa sarapan dengan Papa.” Jawabnya polos sambil menonjolkan dekiknya. Susan sangat sayang kepadaku, memang. Mau bagaimana lagi? Yang ia punya hanya aku, tak ada mama, begitu pula aku, hanya Susan tak ada yang lain. Perasaan sayang yang terus berotasi


46 dalam siklus keluarga kecil, Susan dan Papanya. “Gimana, hari ini semangat?” tanyaku. “Seperti biasa, hehe..” jawabnya sambil menunjukan gigi susunya yang masih ranum. “Tapi sepertinya ada yang kelupaan deh..” “Apa itu?” “Gula kopi kemarin belum sempat ku aduk, makanya pahit..haha..” canda kecil Susan yang membuatku begitu bersemangat mengawali hari ini. “Pantesan, gulanya masih ada di depan papa nih..” “Kok gula?” “Susan kan manis seperti gula..haha..” Giliranku berkelakar. Kami tertawa renyah bersama, menyambut tuan matahari mengambil alih langit. Begitulah suasana setiap pagi di ruang makanku, penuh tawa dan kebahagiaan. Suasana yang mengenakkan bagiku di pondok yang sederhana ini. Setidaknya, aku siap berhadapan dengan editor yang akan memorak porandakan tulisanku semalam. * * *

Diceritakan pada suatu hari, aku harus menyesal telah memberi

judul Susan. Aku telah mengikat nama putriku sendiri dengan plot yang harus dimainkan dengan kejam. Nama yang dipermainkan sebagai sebuah saduran di sudut koran mingguan. Nama pemberian orang suci dalam hidupku, Irin-almarhumah istriku. Aku terlalu rancu dalam bermain judul.

Mengutuk Susan dalam sebuah lingkaran hitam sastra. Lingkaran

yang semakin memekat, menghitamkan titik noda yang meranggas. Lingkaran itu terus berputar untuk mencari pengaruh lain dalam kehidupanku. Aku telah terbius oleh sastra, menjadi budak yang kejam. Tok..tok..tok.. Ketokan pintu kamarku khas yang menyulut malamku.


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

47

Masuklah gadis kecil membawa secangkir kopi. Anggun sekali,

ingin kupeluk erat tepat di punggungnya. Kopi itu dibawanya pelan. Hatihati, tertatih. Aku sekarang baru sadar kalau gadis itu memiliki sayap. Sayap itu mulai merangrang penglihatanku. Retinaku telah dibutakan keagungan sang malaikat kecil pembuat kopi. Ingin sekali aku memohon maaf, tapi na`as sekali lagi senyuman itu membuat aku terbius. Tapi aku sudah terlanjur berdosa.

Hingga pada akhirnya ending dari sebuah cerita harus segera

dituliskan. Aku terduduk di kursi panas kamarku kebingungan menentukan bagaimana mengakhiri ceritaku sendiri yang telah susah payah ku bangun. Namun, memang beginilah takdir dari sebuah cerita. Pasti ada akhirnya, sebagai penulis, aku tahu itu. Jujur, aku belum memikirkan ending yang benar-benar apik untuk kisahku yang satu ini. Aku putar otakku, mencari-cari sebuah titik temu. Menghubungkan segalanya tentang segala yang ku punya. Hingga pada akhirnya, lagi-lagi ketokan pintu kamarku memaksaku untuk menjeda pikir yang tiada habisnya. Seperti biasa, Susan membuatkanku secangkir kopi seduh panas yang aromanya begitu kuat memikat.

Ia tersenyum meletakkan kopi disamping tanganku yang sedari

tadi gemetar menggigil. Aku lemparkan balasan senyumku seikhlasnya. Dia meninggalkan kamarku sekali lagi dengan menoleh untuk senyum. “Berjuanglah Pa,� arti senyuman Susan yang berhasil aku tangkap. ***

Aku banting setir motor bebekku yang tak lagi menawan.

Menelusuri setiap sisi jalanan dari rumah ke sekolah. Aku coba bertanya kepada kakek petani namun ia menjawab “tidak tahu�. Jarak rumah ke sekolah kira-kira sekitar 700 meter, itulah mengapa Susan ku belikan sepeda angin warna merah muda kesukaannya. Aku terus mencari tahu


48 dengan hati yang was-was. Aku amati setiap ruas jalan dengan telitinya, bak menghitung sebuah hitungan kalkulus yang rumit. Barangkali masih tertinggal sisa jejak ban sepeda dari anak manis itu. “Susan dimana dikau, nak?” sebuah pertanyaan yang terus–terusan mendenyut selaras dengan dentuman jantungku. Aku terus beralih pandang, dari kiri ke kanan, kanan ke kiri untuk menemukan sosok Susan yang belum juga ku temukan hari ini.

Hingga pada akhirnya di ujung sebuah jalan berplatkan “Jl.

Kartini,” aku menyaksikan sesosok makhluk cantik dengan tunggangan merah jambunya yang anggun. Bando rumbai yang dikenakannya melambai tertiup angin senja. Ia menuntun sepedanya, yang dari jarak sekian terlihat ban belakangnya sudah tak berangin lagi, gembos. Sekarang aku bisa sedikit menghela nafas lega menyaksikan pemandangan seperti itu. Aku juga menjadi sedikit mengerti, mengapa si Susan sampai membuatku was-was terlambat pulang ke rumah. Ban sepedanya bocor. Dia terlihat letih, namun aku lega masih bisa melihatnya.

Tiin.. tin.. tin.. suara klakson cempreng motorku terdengar liar.

Membuat Susan terhipnotis untuk melihat ke arah 45o, disitulah aku yang sedari tadi mencari–cari si Manis pembuat kopi seduh no.1 di dunia itu. Ia tersenyum ke arahku, cantik sekali seperti almarhumah mamanya. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera menghampirinya dengan penuh hasrat, hasrat alamiah seorang ayah dan anak. Namun na`as, laju kencang truck pengangkut barang menyisir jalan utama tanpa memerdulikan aku yang sudah haus akan pelukan si Cantik Susan. ***

Seorang gadis terduduk di bantaran batu yang tersusun rapi,

diteduhi flamboyan tua yang berguguran. Rambutnya indah, menjuntai ke bawah menutup bahunya. Lengkuk tubuhnya begitu indah, karya


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

49

Maha Agung Penguasa langit yang tiada terjamah. Biar aku tebak, gadis itu kira-kira 23 tahunan, setahun lebih tua daripada rumput teki yang ia injak.

Ia memandang langit dengan penuh prasangka. Langit biru

dengan kawanan burung camar yang beterbangan mencari pasangan, musim kawin telah tiba. Para semut hutan berbaris membawa jasad belalang kuning yang telah kaku. Sama kakunya dengan peluh si Gadis yang sudah tak mempunyai daya apa pun untuk keluar. `

Kini, si Gadis bersandar di flamboyan gugur yang telah rapuh

dengan lunglai. Ditaruhnya secangkir kopi seduh panas diatas batu nisan milik “Zulfikar Bin Imronâ€? seperti yang terpahat di bagian atas nisan yang melumut kering itu. Kopi panas menyembulkan aroma yang membuat seisi pesarean takjub dengah hirupan nikmat kopi pekat itu. Ia bersihkan bagian atas nisan dari segala debu yang menempel, sekedar mengelus manja. Ditaburkannya bunga yang semerbak, tak kalah harum dengan aroma kopi seduh. Kini, aroma kopi dan bunga membaur harmonis dengan cicitan burung camar mengiringi suasana khidmat di bawah flamboyan tua sore itu. *** ‌.Akhirnya gerhana kembali datang. Seorang gadis menunggu sang kekasih. Namun, kali ini tak seperti gerhana yang lalu. Pekat oleh kabut. Dibawah santer rembulan yang merangrang, Dia dengan putus asa melawan dinginnya malam ini. Serigala meraung dengan histerisnya, membawa segala ketakutannya. Para burung hantu menyaksikan gerhana yang maha dashyat ini. Daya tarik bulan menarik air laut pasang. Pasang tinggi menjuntai ke atas bulan. Seorang gadis tetap saja menunggu kekasihnya, walau harus berhadapan dengan pantai laut selatan yang sedang pasang. Mengerikan sekali, melihat laut selatan pasang sama saja melihat iblis dari gua taholo. Gemuruh riak ombak menambah mistis malam gerhana ini. Susan terlihat bersitegang dengan


50 angin yang liar. Menari-nari menerbangkan pakaiannya yang tipis. Ia mulai menggigil, sampai kekasihnya datang. Sang kekasih sudah tiba mendarat di sampingnya yang sedari tadi menunggu. Dia menggandengnya dengan lembut untuk menepati janji. Menepati janjinya untuk membawa sang kekasih terbang ke paradiso ke-7, puncak atmosfer dengan segala cinta yang ia miliki. Cinta antara manusia dan malaikat. Sejak saat itu, Gadis rembulan tak pernah terlihat.

Akhirnya selesai juga. Aku menyandarkan kepalaku yang telah

memberat ke kursi panas yang sedari tadi benar-benar memanas. Dengan ini kewajibanku selesai, merampungkan sebuah kisah yang ku tulis sendiri. Seandainya aku masih punya waktu, aku akan menulis lebih baik lagi.

Sayangnya tidak‌


MUHAMMAD ABDUL MANAF

Terjerat Wajah Dia duduk menunggu orang-orang itu datang dan mengisi kursi-kursi yang telah dia tata tadi pagi sambil meminum berteguk-teguk halaman buku yang tak jengah-jengahnya ia baca. Sesekali ia menengok jam tangan birunya dan menatap pintu yang tak bergerak membeku. “Huh..masih sepi�, gumamnya pada diri sendiri. Beberapa orang datang berlipat menit kemudian sambil kepala celingak-celinguk mencari seseorang. Ia taruh buku itu di mejanya, kemudian ia bergegas menyambut mereka dengan senyum, “Silahkan duduk, selamat datang!�. Sekonyong-konyong datang beberapa orang lagi, senyumnya semakin lebar sekarang. Dia menyapu


52 pemandangan di sekitarnya, beberapa poster di meja dan buku-buku yang tertata rapi tersebut entah kenapa membuatnya tersenyum semakin lebar saja. Aku ingat inilah apa yang sebenarnya ia inginkan. Tiba-tiba aku terjatuh ke dalam malam berlipat-lipat tahun kebelakang saat semuanya begitu jelas seperti melihat potret diri di cermin. *** Aku bersamanya sejak ia berumur 7 tahun. Membantunya mengingatkan siapa dirinya dan menemaninya setiap hari. Bercangkir-cangkir pengalaman tersebut meresap dalam diriku, hingga aku tahu apa yang dia pikirkan hanya dengan melihat matanya saja, dan aku tahu apa yang dia inginkan saat dia berumur sembilan tahun. Ia duduk bersama ibunya di depan cermin di dalam kamarnya yang besar berwarna biru. Jam berdetak mengiringi berlalunya waktu. Dengan malu-malu, dia memainkan rambut panjang ibunya dan bertanya-tanya sendiri. Sesekali dia memandangku lewat kaca untuk meminta bantuan, namun aku hanya diam. Dibelakang, ibunya menyisir rambutnya sambil bersenandung pelan. Dengan lembut sang ibu menyisir rambut putri semata wayangnya keatas, kebawah, dan merapikannya pelan. Sekejab dia melihat tatapan putrinya kepadanya, “Ada apa Putri?” Dia bertanya dengan lembut. “Mama, benarkan aku ini putrimu?” Sang anak bertanya dengan takuttakut kepada ibunya. Matanya ragu-ragu memandang ibunya di cermin yang seketika itu juga berhenti menyisir rambut anaknya. Dia tersenyum dan memandang mata putrinya di cermin. “Tentu Putri, kamu adalah anakku. Kenapa kamu ragu?” Entah kenapa jawaban yang terdengar spontan itu malah membuatku merasa seperti kebohongan yang telah sang ibu latih selama bertahun-tahun. Dia sekarang duduk di samping putrinya di depan cermin tersebut. Aku


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

53

melihat mereka dengan bergeming, seakan akan tak mendengarkan perkataan privat ibu dan anak tersebut. Aku bukan apa-apa bagi mereka, meski mereka akan kalang kabut jika kehilangan aku. Sang anak terlihat ragu-ragu sebentar, namun dia tersenyum memandang ibunya dengan kasih yang terpancar tulus lewat matanya. Lalu sang ibu menggenggam tangan kedua anaknya, dan menatap matanya dalam. “Tentu, kamu adalah anakku, Putri. Mata kita sama, warna kulit kita sama, dan cobalah tersenyum�, ia menunjuk cermin dan aku melihat bayangan mereka berdua disana, �Senyum kita sama, iya kan?� Ia terseyum menunjukkan barisan gigi putih yang rata yang diikuti Sang anak. Saat tersenyum mereka memang persis. Hitam dan putih bertaburan dihadapanku, mengaburkan keyakinanku akan mereka, tapi aku hanya bisa diam. Dia menatapku dengan senyum yang sama dengan sang ibu. Matanya memancarkan cahaya kebahagiaan, saat itulah aku melihat mereka benarbenar mirip. Tapi aku tidak tahu, maka karena itulah aku harus mencari tahu. Tapi aku tetap diam dan menatap kosong. *** Halaman kehidupan sang anak segera berlipat kebelakang seiring dengan berlalunya waktu. Sang anak mulai mencicipi cangkir kesebelas dalam hidupnya. Selama ini dia menerima dirinya apa adanya, sesuai dengan apa yang dikatakan ibunya dua tahun yang lalu. Ia adalah Putri yang taat pada sang Ibu. Seperti dia tidak pernah menanyakan siapa ayahnya dan dimana dia sekarang. Karena bagi sang anak, cukuplah menjadi putri sang ibu seorang. Sunggu naif pikirku, pun aku hanya bisa diam kan? Seperti tahun-tahun yang menguning, sang anak dengan setia


54 menunggu sang ibu pulang dengan duduk di depan cermin tempat mereka saling menukar cangkir-cangkir cerita, saling menyesap dan berkomentar. Kadang-kadang, disela-sela menunggu tersebut dia menulis sesuatu di dalam buku biru tebal miliknya. Tetapi lebih banyak kulihat dia hanya merapikan rambutnya, kemudian mengacak-ngacaknya lagi. Mungkin berpikir bahwa jika dia sudah bisa merapikan rambutnya ibunya akan berhenti menyisir seperti tahun-tahun yang telah terlipat kebelakang. Atau kalau tidak, dia akan tersenyum menirukan pose senyum ibunya yang tergantung di cermin itu. Tapi selalu, keraguan membayangi dia. Telinganya terlalu lancip, tidak seperti ibunya. Bibrinya terlalu tebal, sedangnya bibir ibunya tipis, hidungnya seperti bentuk hidung indonesia kebanyakan yang berbentuk seperti jambu air, sedangkan ibunya entah kenapa punya hidung yang mancung, “Tapi lihat senyum itu�, dia menunjuk ke cermin, “Aku adalah putri ibuku kan?�, dia menunjuk foto ibunya yang tersenyum disamping cermin. Pun aku lagi-lagi mengangguk dalam hati, aku hanya bisa diam dan menatap sedih sang anak yang tak pernah berhenti percaya. Tetapi sang ibu yang biasanya tidak pernah telat pulang tersebut entah kenapa pada hari itu ia dibelokkan oleh angin. Padahal seingatku pada denting jam ke 4 di sore hari ia selalu siap di depan cermin bersama putrinya. Menyisir rambut bersama dan melakukan hal yang biasanya dilakukan oleh ibu dan anak. Sang anak menatap gelisah kedalam gelas-gelas kaca jendela pintu kamarnya di lantai dua. Tidak ada suara mobil mendekat, padahal bayangan sudah meninggi diluar. Ia gelisah, menatapku dan memegangku beberapa kali meminta pendapat, namun seperti biasa aku hanya bisa diam dan mencoba tersenyum, meski aku hanya terlihat datar diwajahnya. Tak sabaran, dia akhirnya turun ke lantai bawah sambil membawa


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

55

buku biru besar ditangannya. Wajahnya menyiratkan kegelisahan, dan matanya menerawang bayang-bayang diluar. Berkali-kali bibirnya tertekuk kebawah dan matanya berair. Dia belum pernah ditinggalkan selama ini oleh ibunya. Aku tak tahu, mungkin karena sang anak adalah putri semata wayang maka sang ibu sangat menyayangin sang anak. Aku ingin bercerita mengenai burung-burung gereja yang sering hinggap dirumahnya. Betapa sang anak dari burung tersebut harus segera mandiri karena ibunya sudah menyapihnnya sejak kecil. Bukan karena tidak sayang, pun bukan karena sang ibu malas mengurus sang anak. Karena begitulah ungkapan sayang sang ibu burung ke anaknya. Karena disaat sang ibu telah tiada, maka sanga anak tidak akan punya temapt berpegangan selain sayapnya sendiri yang akan menyelamatkannya. Aku ingin sekali menceritakannya, namun sungguh malang nasibku. Tuhan menganugerahkanku melihat kisah kehidupan orang, tetapi menukarnya dengankemampuan bicaraku. Maka aku hanya bisa diam dan berharap suatu hari nanti cerita ini akan tertulis. “Mama, Mama dimana?�, aku mendengarnya terisak memanggil sang ibu. Aku hanya memohon sang angin agar meneruskannnya kepada sang ibu. Jam berdenting hingga enam kali sekarang. Bayang-bayang diluar sudah tertidur dengan mega merah dilangit senja. Tetapi sang anak tetap saja tak kunjung bersua dengan sang ibu tercinta. “Mama... kenapa Mama tidak pulang-pulang? Aku takut Ma...� Sang anak memohon pada kekosongan ruangan tamu yang berlangit-langit tinggi dengan gorden merah marun dan emas. Tetapi kemewahan itu tidak menolongnya bertemu dengan sang ibu. Angin membawa pertanyaan sanga anak pergi. Air matanya membasahi pipinya dan baju dilengannya telah basah karena berkali-kali mengusap air mata yang tak hentinya mengalir. Putus asa atau lelah meratap, sang anak duduk bersamaku di kursi.


56 Sambil masih sesenggukan mengharapkan sang ibu pulang, ia duduk menyalakan tv. Sejenak dia tidak memperhatikan karena sang anak sedang menuliskan sesuatu pada buku bersampul biru miliknya. Lalu perhatiannya teralihkan kepada televisi yang menyiarkan berita mengenai seorang penyanyi yang sedang pamer kemesraan dengan anak kecil yang dia sadari sebagai putrinya. Ia mengenali jaket bulu yang dipakai artis itu karena ia bisa merasakan jaket itulah yang sering menyapanya waktu dia berada di depan cermin bersama ibunya. Sang anak mulai sadar bahwa dia sedang melihat ibunya di televisi. Di dalam televisi tersebut dia sedang melihat sang ibu melihat anak perempuan seumurnya yang digandengnya dengan kasih. Cahaya lampu dari kamera wartawan berkedap-kedip disamping kamera. Anak itu begitu mirip dengan sang ibu. “Saya tidak sabar untuk memperkenalkan anak saya, dia Lauren”, perempuan tersebut menunjuk anak yang digandengnya tersebut dengan senyum bangga. “Tapi kalian akan melihat hal yang lebih mengejutkan lagi karena aku akan...”. Tiba-tiba televisi itu gelap. Sang anak duduk di kuris dengan wajah bingung dan mulut terbuka. Ibunya bersama seorang anak perempuan, tapi bukan dirinya. “Mama bilang dia anaknya?”. Sang anak tak habis pikir, wajahnya kalut dan air matanya turun di wajahnya yang memucat. Seumur hidupnya dia selalu ingin menjadi seperti ibunya. Berdandan seperti ibunya, berbicara seperi ibunya, tersenyum, menata rambut, cara berpakaian. Karena bagi sang anak ibunyalah kehidupannya. Meski keduanya terlalu berbeda. Tetapi Sang anak tetap bangga sebagai anak sang ibu karena mereka memiliki warna kulit dan senyum yang sama. Tetapi saat melihat tayangan itu, bibirnya bergetar dan air matanya mebanjiri pipinya. Perlahan, ia raih buku biru tebal miliknya, air matanya menetes ke beberapa bagian buku membuatnya samar untuk dibaca. Ia seperti melihat halaman yang ia cari,


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

57

dan dengan penuh amarah ia menyobeknya. “Mama... kenapa Mama seperti itu? Kenapa Ma?” Ratapannya menggema di ruangan besar itu. Aku ingin menghiburnya, tapi aku hanya bisa diam. Sang anak sesenggukan, aku melihat hal apa yang ia sobek. Tertanggal 12 Maret 2001, tertulis, Aku selalu menunggu saat-saat dimana aku bisa duduk bersama ibuku di depan cermin. Tangan ibuku yang hangat menyisir rambut hitam panjangku. Aku hanya terdiam dan menikmati senandungnya yang indah hanya untukku. Aku melihat matanya di cermin dan tersenyum, yang tak lama kemudian dibalas oleh seyuman yang sama denganku seperti bayangan di dalam bayangan. Saat itulah aku merasa bahwa aku benar-benar anak ibuku... Aku hanya bisa membacanya pada paragraf awal saja ketika dia dengan tangan bergetar mencoret-coret dengan tajam tulisan-tulisannya. Aku ingin mencegahnya, tapi sekali lagi apa dayaku, aku tak punya tenaga dan aku hanya bisa diam. Aku hanya bisa mengawasinya dan menangkap sekilas kata-kata aku sayang ibu, cinta, ingin seperti dia, senyuman, cermin, berdua, aku juga melihat foto dia dan sang ibu berpelukan yang sejurus kemudian sudah jatuh ke lantai dan lecek bersama tulisannya yang lain. Air matanya terus mengalir sementara gelap semakin tinggi. Hanya terdengar suara isak tangis sang anak yang menggema di dalam ruangan besar tersebut. *** “Putriku, ayo bangun sayang? Kenapa tidur disini?” Sang ibu menggoyanggoyang tubuh putrinya yang tertidur di atas kursi di ruangan besar. “Putri... ayo bangun Nak!”, suara sang ibu yang lembut membisik di telinga sang anak. Kemudian dia elus wajah putrinya itu, sambil memandangnya dengan kasih. Sudah berkali-kali ia bangunkan putrinya dengan pelan, namun sang putri tidak juga bangun dari tidurnya. Kadang-kadang ia bergumam dalam tidur dan bergetar, “Mama...Mama dimana? Kenapa


58 Ma?”, tubuhnya bergerak-gerak gelisah dan pelupuk matanya basah. Sang ibu hanya mengelus-elus pelan rambut dan pipi putrinya, menghilangkan air mata dari anaknya dengan penuh kasih sambil merasa bingung, apa gerangan yang terjadi. Rasa khawatir mulai merambat kedalam hatinya seperti berlipat tahun-tahun yang lalu. Perlahan ia menyapu pandangannya ke sekelilingnya untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menyelimuti sang anak. Saat itulah dia baru menyadari buku bersampul biru terbuka dengan kertas berserakan di lantai di depan televisi. Kursi di depannya menghalanginya waktu dia duduk di samping sang anak. Namun ketika dia berdiri, ia bisa lihat jelas buku itu terkoyak karena marah. Sang ibu membacanya dengan dengan rakus, dia coba dengan tangannya yang bergetar meraih lebih banyak kertas, meraih lebih banyak tumpahan hati anaknya. Lalu aku melihat matanya menatap khawatir anaknya. Dia berdiri dengan tangan bergetar memegang kertas dan tangisannya tumpah. Sang ibu tidak hanya menangisi sang anak tercintanya, tapi juga menangisi dirinya sendiri. Sesaat tubuhnya limbung dan terpecahlah vas bunga yang ada di meja samping kursi itu. Bersamaan dengan suara kaca yang memecah keheningan malam, terbangunlah sang anak. “Mama... engkaukah itu?” Sang anak terbangun dengan mata merah tangis menatap ibunya. “Putri, kamu sudah bangun?” Sang ibu menatap putrinya dengan kasih, dia mencoba mendekat “Kamu tidak apa-apa kan Sayang? Kenapa harus menangis?” Sang ibu mendekati sang anak dengan tangan terangkat berharap dipeluk oleh putrinya. Putrinya terlihat ragu-ragu sejenak kemudiaan dia berpaling dari ibunya dan berlari pergi. “Pembohong!” “Raina! Kemana kau akan pergi!” Sang ibu berteriak kepada sang anak yang telah mencapai pintu depan rumah. Saat itu aku bisa merasakan hati sang putri berada diantara dua pintu. Satu pintu menuju dunia untuk


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

59

menemukan kenyataan, satu pintu untuk hidup dalam kebohongan dan bayang-bayang sang ibu. “Kenapa Ma? Kenapa Mama tidak bercerita bahwa aku bukan anak Mama? Kenapa?” Suaranya kini sangat tinggi hingga sekaan-akan hanya kelelawar yang bisa mendengarnya. “Aku akan pergi dan menemukan ibuku yang asli. Mama sudah tidak perlu menceritakan segala bubuk palsu kemiripan antara ibu dan anak,. Antara aku dan engkau, Mama. Engkau pembohong!” Sang anak sudah terengah engah sekarang. Katakata terakhir tersebut menusuk hati sang ibu lebih dalam lagi, membuka luka lama yang mulai menutup. “Raina, tunggu! Mama ingin menjelaskan sesuatu!” Tapi sang anak sudah berlari pergi. Rambutnya menyatu dengan kegelapan di luar. “Kamu adalah putriku Raina! Putri kandungku!”, angina mengaburkan suara sang ibu. Tapi sang anak telah menyatu dengan kegelapan, bersamaan dengan pendengarannya dan hatinya yang terpaksa ia bekukan untuk bisa pergi dari rumah yang telah menjeratnya dalam halaman-halaman wajah palsu kehidupan. *** Sang ibu kalut mendengar anaknya pergi. “Anakku, darah dagingku sendiri bahkan tidak mempercayai aku sebagai ibunya?”, dia terduduk sedu sedan di depan pintu dengan tangan memegang kertas yang telah lecek dan nyaris tak terbaca oleh coretan kemarahan dan air mata kesedihan. Dia terus menangis meratapi nasib hidupnya, meratapi pilihannya. Setelah suaminya dulu, kini ia harus rela berlepas dnegan anak kandungnya yang dengan susah payah ia yakinkan bahwa dia adalah putri darah dagingnya. Tapi ternyata takdir membelok dan ia tak bisa melawan. *** Sang anak melihat ibunya di dalam televisi. Ibunya menangis, wajah-


60 nya pucat dan matanya merah. Dia tidak terlihat seperti diva yang biasanya.” Aku benar-benar rindu anakku. Aku pikir, dengan operasi plastik aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan”, dia mengusap matanya sejenak dengan tissue. ”Kau tahu, karir yang cemerlang, suami tampan. Karena tentu saja publik tidak ingin ada artis yang bisa bernyanyi bagus tetapi wajah tidak menjual. Mereka membutuhkan idola. Maka dengan iming-iming tersebut aku terlena dan mulai merubah beberapa bagian tubuhku. Hidungku, bibirku, menaikkan tulang pipi, mengencangkan kulit, memperbesar payudara. Aku melakukan apa yang aku ingin lakukan untuk menciptakan seorang artis paket komplit. Tapi ternyata aku salah. Hal itu tidak membuat hidupku lengkap, tapi malah dengan pelan-pelan merenggut orang-orang yang aku sayang hilang dari hiudpku. Dulu sekali suamiku pergi meninggalkan aku dengan jijik. Aku terpaksa menyembunyikan putri kandungku karena dia tidak mirip denganku dan menyewa anak lain untuk berpura-pura menjadi anakku di depan media. Aku hanya ingin berkata bahwa aku sangat meminta maaf kepadamu, anakku”, Sang artis sesenggukan sekarang. “Raina, kamu adalah anak Mama yang sesungguhnya. Kamu adalah anak Mama. Pulanglah maka aku akan menceritakan apa yang seharusnya kamu ketahui., Aku sayang kamu anakku, pulanglah aku menunggumu di kaca dimana kita selalu bisa bersama”. Maka senja itu, diiringi isak tangis dan kilatan kamera wartawan yang heboh mengabadikan pengakuan yang menggegerkan jagat kehidupan artis, berkumpullah sang ibu yang sekarang berbeda dari dulu. Jika dulu kecantikannya dipuja, sekarang kecantikannya membuat orang yang memandangnya menjadi kasihan. Karena di dalam kecantikan sang artis tersebut, orang-orang bisa melihat derita yang diukir oleh setiap usapan bedak, maskara, dan lipstik yang membungkus wajah palsunya. “Mama,


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

61

aku sayang Mama” “Begitu pula denganku, Putriku” dua orang tersebut saling berpelukan. Senja merah itu mengawali kehidupan mereka yang baru. *** Gadis cilik yang dulu sering menanyakan ibunya kini telah tumbuhh dewasa. Aku dengan setia menunggunya dan menjaganya selama beberap tahun kekosongan ini. Orang-orang di depannya dengan semangat menyimak acara book launching nya yang berjudul Terjerat Wajah, sebuah novel biografi keluarganya. “Apa inspirasi terbesar anda?” Salah seorang yang hadir bertanya. Perempuan tersebut merenung sejenak dan dia menggenggamku dengan erat, perlahan ia menunjukkan aku ke khalayak umum. Aku bisa merasakan setiap mata tertuju padaku. ”Sebuah kalung?” Dia bertanya dengan nada tidak percaya “Oh, bukan!” ia membuka diriku dan didalamnya, Ia perlihatkan foto perempuan modis paruh baya dan fotonya sendiri yang masih kecil. “Orang yang menginspirasku dan menjadikanku seperti sekarang ini adalah ibuku, semoga dia istirahat dengan tenang di alam sana.” Dia diam sejenak dan menghembuskan nafasnya pelan. “Aku rasa aku bisa mewujudkan impiannya sekarang”. Aku tahu impian itu, bahwa Raina akn menerima dirinya apa adanya, bahwa dia orisinil dan dia bangga memiliki ibu seperti itu, “Aku bangga menjadi anak ibuku”.


62


MUWAFFIQOL FAHMI AL-MUTTAQIN

Lacuo Lacuo Ketika aku melihatnya berlari dan menjatuhkan keranjang belanjaanku.

Mata lelaki itu kemudian menatapku tajam, tajam sekali.

Pandangannya seperti merajam seluruh tubuhku. “Dasar bodoh! Kalau bengong jangan ditengah jalan. Ini jalan buat orang lewat!� Aku hanya diam dan tersenyum tipis kepadanya setelah memasang hiasan kepala khas etnis Mosuo milikku yang terjatuh. Lelaki itu masih menatapku dalam kediamannya. Entah apa yang dia pikirkan.


64 “Oh maaf, saya hanya sedang menata barang di sepeda ini karena saya mau pulang” Lelaki itu, dia masih menatapku. Tajam. Tatapan yang menusuk hingga ke titik buta kedua mataku. “Sudahlah, lupakan” lelaki itu membalikkan badan dan berjalan meninggalkanku. Beberapa detik kemudian dia berhenti dan menoleh kebelakang tanpa merubah arah hadap tubuhnya. “Kau berumah di mana?” “Lugoni, desa kecil di sebelah kota Lijiang” jawabku sedikit berteriak. Dahinya mengerut. Dari gayanya berpakaian; kemeja lengan pendek, dasi, dan celana jins gelap bercap Kardinal, juga rambut hitamnya yang disisir menghadap ke atas seluruh ujungnya, sepertinya lelaki itu orang asli daerah sini, Beijing. Aku bisa maklum kalau dia tidak tahu tentang Lugoni, desa yang melahirkan dan memaksaku untuk meninggalinya sampai aku meninggal. … Senja yang merah tak akan pernah sanggup membakar dahan-dahan pinus yang semakin mengerut kehilangan airnya di musim gugur. Begitu pun angin yang dingin, tak akan pernah mampu membekukan helaian daun bambu yang semakin memucat karena sang surya semakin sibuk di musim dingin. Begitu pun aku yang terjepit diantara ideologi pribadi dan tradisi.

Menyusuri jalan di seputaran danau Lugu dengan angin yang

mengajak rambutku menarikan tarian salsa sudah menjadi rutinitasku setiap sore dan minggu pagi -sore aku berbelanja di pasar kota Lijiang dan minggu pagi menjual hasil kebun di Beijing-. Inilah satu-satunya jalan yang menghubungkan desaku dengan kota Lijiang. Kemudian dari Lijiang dengan menumpang truk sayur, aku pergi ke Beijing. Disanalah


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

65

aku biasa menjual bubuk kopi hasil kebunku dengan harga yang cukup mahal dan cepat. Tidak perlu berlama-lama menunggu pembeli untuk datang. Aku hanya cukup menjualnya kepada seorang pedagang yang langsung membeli seluruh bubuk kopi yang kubawa. Para penjual kopi itu sudah akrab dengan pakaian tradisional dan namaku, Lacuo. Di tepi danau Lugu inilah sejak kecil aku hidup. Danau yang menyimpan ribuan ikan dan air yang sangat jernih. Air itulah yang menjadi sumber kehidupan penduduk desa Lugoni -semuanya etnis Mosuo- yang kehidupannya masih sangat tradisional. Banyak tradisi China kunoyang masih dilestarikan oleh penduduk desa ini. Setiap fajar mulai menyingsing dari peraduannya, orang-orang tua - perempuan dan laki-laki窶電engan pakaian khas etnis Mosuo; baju berkerah lebar dan rok atau celana berenda yang penuh pernak-pernik bermotif gurun serta hiasan kepala, selalu berdoa di tepi danau dengan dupa di hadapan mereka, bersamaan dengan terbitnya matahari dari balik gunung Himalaya diatas Danau Lugu. Ketika burung-burung camar mulai berkicauan, para perempuan segera menggiring ternak mereka ke padang rumput yang terletak tak jauh dari perkebunan. Sambil mengawasi ternak, perempuan-perempuan itu mulai menggarap kebun kopi mereka. Ya, hampir satu per empat daerah ini didominasi perkebunan kopi. Hanya ada laki-laki berusia kepala empat ke atas dan para perempuan di kebun, begitu juga untuk pekerjaan-pekerjaan lainnya, sebelum genap berusia empat puluh, para lelaki di sini tidak diperbolehkan bekerja. Begitulah tradisi menggariskan kehidupan etnisku. Mosuo. Melihat mereka, membawa diriku yang masih berusia 19 tahun dengan dua saudara laki-laki seakan menjalani masa depan yang berat dan membosankan. Itu sudah menjadi kewajiban yang digariskan oleh tradisi dan aku menerimanya, tetapi bukan berarti aku hanya akan


66 menerima seperti perempuan-perempuan lain menerimanya. Aku ingin menjalani kehidupanku sesuai dengan apa yang aku inginkan, tanpa melanggar nilai-nilai tradisi etnis Mosuo. Hidupku adalah milikku, begitupula tradisiku. ‌ Lan Se Adakah hari ini, kebebasan yang masih berpihak pada manusiamanusia tanpa sayap? Aku dilahirkan dari rahim ibuku, ya, itu memang benar. Tapi aku tidak dilahirkan untuk ibuku. Begitu pula ibuku. Dia tidak dilahirkan untuk neneku. Dan kini, aku menyesal telah mengikuti semua yang dikatakan mereka; penguasa atas diriku. Menyelesaikan skripsi menjadi sesuatu yang sangat melelahkan dan membosankan bagiku. Sebenarnya mengambil mata kuliah sejarah China bukanlah murni keinginanku, tetapi nenekku. Itulah permintaan terakhirnya sebelum meninggal dunia lima tahun lalu, yang membuat lidahku kelu untuk mengatakan tidak. Aku tak begitu menyukai mata kuliah ini, sebab itulah aku ingin segera lulus agar tidak menyakiti hati orang tuaku, kemudian mencari pekerjaan yang tak berbau sejarah. Tetapi menyelesaikan kuliah bukanlah sesuatu yang mudah. Aku harus membuat skripsi tentang sejarah China yang belum banyak diketahui orangorang. Sedang dosen pembimbingku sudah terlanjur menaruh pandangan buruk terhadapku gara-gara aku sering absen. Tiap dia melihat lembar tugas dengan nama Lan Se, tak pernah diberinya nilai yang lebih tinggi dari pada mahasiswa lain yang memiliki nilai terendah. Satu cara agar skripsiku diterima adalah dengan membuat penelitian yang luar biasa. Senyum tipis gadis itu, yang mengembang ketika dia kusentak membuatku


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

67

tak bisa melupakannya, entah mengapa. Aku tak tahu banyak tentang gadis itu. Ya, gadis aneh yang kutabrak sewaktu aku mencari buku sejarah China kuno di Beijing Chinatown. Hah, mengapa aku terus menerus memikirkannya disaat aku sedang memikirkan obyek untuk skripsiku. Entahlah, tapi sosok gadis itu selalu hadir dalam ingatanku, walaupun aku tak mengenalnya. Seperti ada sesuatu yang tak biasa ketika aku mengingat kejadian itu. Asal kau tahu, dadaku serasa meledak-ledak ketika aku berjalan meninggalkannya. Walaupun aku tak tahu banyak tentangnya. Aah, entahlah perasaan apa ini. Aku menjadi kacau, aku tak tahu, aku tak tahu dan aku tak tahu! Yang kutahu dari pertanyaanku kepadanya dulu, dia tinggal di Desa Lugoni dan dari pakaian tradisional yang ia kenakan, sepertinya dia adalah salah satu dari sekitar tiga puluh ribu orang etnis minoritas Mosuo yang tinggal di kaki Pegunungan Himalaya bagian timur. Aku tak banyak tahu tentang etnis ini, tetapi sepengetahuanku ada sebuah danau yang cukup terkenal di kaki Pegunungan Himalaya timur itu, orang-orang menyebutnya Danau Lugu. Konon katanya, danau itu adalah tempat kebebasan bercinta dengan wanita.

Hal itu membuatku semakin tertarik untuk tahu lebih dalam

tentang gadis itu, pakaian anehnya, senyum kecut tipisnya, tempat tinggalnya, juga etnisnya, selain karena dia cantik dan lekuk tubuhnya yang indah. Apalagi kalau aku bisa menemukan tradisi yang belum diungkap publik tentang etnis gadis itu, aku bisa menjadikannya objek untuk skripsiku dan tak akan ada alasan bagi dosenku untuk tidak meluluskanku.

Aku mulai membaca berbagai macam buku tentang keadaan

geografis daerah itu, juga buku-buku lainnya tentang tradisi-tradisi China kuno. Tetapi tak satupun kutemukan buku menjelaskan tentang pakaian tradisional yang dikenakan gadis itu. Juga yang menguak secara


68 mendalam tentang kehidupan dan sejarah etnis Mosuo. Aku semakin bersemangat untuk kesana. Kaki Gunung Himalaya bagian timur. ‌ Pertemuan dan Peristiwa Tak Logis

Duduk, dan resapilah desah demi desah dedaun bambu yang menggugurkan glugutnya, perlahan, pelan, semakin memelan. Nikmatilah, fikirkanlah. Karena kita tak akan pernah mampu membuka pembatas ruang dan waktu yang membuatnya tak terlihat sekarang. Ketika itu, Lan Se, mahasiswa undergraduate program –sedang

mencari obyek untuk skripsinya- yang membentak Lacuo di Beijing Chinatown memberanikan dirinya untuk menjelajahi daerah kaki gunung Himalaya bagian timur, satu tujuan utamanya adalah menemukan bahan skripsi. Tanpa memungkiri bahwa sebenarnya dia ingin bertemu Lacuo, gadis yang mampu membuat dadanya meledak-ledak. Entah mengapa gadis itu begitu membekas dihatinya walaupun mereka hanya sekali bertemu dan itupun tak lama. Lan memandang sekeliling danau Lugu; para lelaki dengan wajah keriput sebagian, sedang melempar jaring untuk menangkap ikan, perempuan-perempuan dengan peluh bercucuran memanggul sekeranjang rumput untuk makan ternak mereka, dan hanya ada satu dua perahu kayu yang mengantar para wisatawan mengitari danau itu.

Hembusan angin membawanya menyusuri perkebunan kopi

yang terletak sekitar satu kilometer dari danau Lugu. Dilihatnya para perempuan memanggul keranjang sambil memetik buah kopi. Mereka bekerja dalam diam. Tampak begitu serius memilih biji-biji kopi terbaik untuk dipanen. Beberapa langkah kemudian, Lan bertemu dengan para perempuan yang menggiring ternak ke sebuah sungai kecil untuk


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

69

minum. Dia baru menyadari bahwa hampir semua pekerjaan di desa ini dikerjakan oleh perempuan. Pikirannya mulai bertanya-tanya. Tak faham dengan dunia yang seolah-olah terbalik itu.

Sampai pandangannya tertuju pada sesosok gadis yang sedang

bersandar di sebuah gubuk kecil di pinggir kebun. Gadis yang sepertinya tak asing baginya. Lacuo. Lan bergegas menghampirinya dari belakang. “Selamat sore” Lacuo menoleh ke belakang dengan sedikit kaget. “Oh, sore. Anda??” “Ya, kenalkan aku Lan Se. Orang yang memarahimu di Beijing Chinatown dulu. Masih ingatkah?” “Tentu, bagaimana anda bisa kesini?” “Aku ingin bertemu denganmu, selain untuk minta maaf juga untuk mengenal daerah yang tidak banyak dikenal orang ini. Oh iya siapa namamu?” Mereka berdua mulai akrab. Sepertinya ketegangan yang dulu pernah terjadi sudah tidak mereka ingat lagi. Lacuo kemudian mengajak Lan berjalan menyusuri kebun kopinya. “Aku sangat suka minum kopi. Hampir semua macam kopi mulai dari arabika sampai kopi luwak pernah kucoba. Tapi, aku belum pernah mengenal kopi dari daerah ini. Kau juga suka minum kopi?” “Ah tidak lagi, kopi membuat saya selalu ingin berfikir untuk keluar dari desa ini. Jika anda berkenan, mari menikmati seduhan kopi buatan saya” “Sebenarnya aku ingin, tapi tidak enak sama suami atau keluargamu” Lacuo memaklumi kalau Lan masih belum tahu banyak tentang etnisnya. Tanpa merasa risih Lacuo menjelaskan tentang tatanan hidup etnisnya yang menganut sistem matrilineal; dimana tempat para wanita


70 adalah sebagai kepala keluarga dan harta benda diwariskan melalui garis keturunan wanita. “Jadi saya akan sangat senang jika anda berkenan untuk menikmati secangkir kopi panas di gubuk saya”

Mereka berdua menikmati senja yang indah di rumah Lacuo.

Sang surya yang tenggelam perlahan, burung-burung bangau yang sedang minum, lembayung yang melayu. Hingga sinar sang surya pun lenyap. Sedang di sepanjang jalan untuk keluar dari Lugoni tak ada satupun lampu, begitu juga rumah penduduk. Angin malam di daerah ini jauh lebih dingin dan kencang daripada di kota. Akhirnya dengan saran Lacuo yang berusia empat tahun dibawahnya, Lan memutuskan untuk menginap disana. Sepanjang malam sebelum lelap menghampiri, Lacuo menceritakan banyak hal tentang masyarakat desanya -etnis Mosuo-. Terdapat sedikit perkawinan (yang disebut perkawinan berjalan) di komunitas Mosuo. Anak-anak didapat melalui kunjungan-kunjungan malam hari para lelaki yang pergi sebelum fajar, untuk kembali ke keluarga mereka, bahkan jika mereka menjadi pasangan seorang ibu dalam sebuah kesepakatan yang dikenal dengan perkawinan berjalan –seperti kawin kontrak. “Sang ibu menjadi pemimpin, dan salah satu saudara lelakinya menjadi sosok ayah bagi anak-anak saudarinya, yang mungkin memiliki beberapa ayah kandung berbeda dan tidak diketahui siapa. Yah, begitulah kehidupan disini” “Kau senang hidup disini?” “Desa ini miskin dan membosankan. Kota lebih menyenangkan dan hidup di sana sepertinya lebih baik” Jawab lacuo memimpikan Beijing ketimbang Lijiang. “Terkadang saya juga ingin hidup dan berpakaian seperti perempuan pada umumnya tapi saya orang Mosuo dan rok berenda yang penuh


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

71

pernak-pernik, baju lengan pendek bermotif gurun, dan hiasan kepala seperti ekor musang yang dililit membentuk lingkaran adalah bagian dari tradisi etnis saya. saya akan tetap menerimanya, karena saya merasa memilikinya.” “Sepertinya sosok perempuan di daerah ini sangat dihargai dan dijunjung tinggi sebagai penguasa. Tidak direndahkan seperti di era sebelum kemerdekaan.”

“Hidup seorang wanita sangat susah disini, kami bekerja terlalu

keras.Laki-laki baru dibolehkan bekerja ketika mereka sudah berusia 40 tahun. Walaupun saya masih belum menjadi kepala rumah tangga, saya sudah merasa sangat lelah karena harus membantu ibu yang tak memiliki saudara.” “Jika saya mendapat seorang lelaki Mosuo yang pantas ketika saya memiliki saudara perempuan, saya akan melakukan perkawinan berjalan dan tinggal disana. Ini adalah cara Mosuo dan saya menerimanya” lanjut Lacuo. “Tinggal dimana? Desa ini maksudmu?” “Bukan, di kota” “Bagaimana kalau malam ini aku adalah lelaki yang melakukan kunjungan malam untukmu?” “Ah, anda? Anda bukan orang Mosuo. Jangan, anda akan menyesal” “Bukankah kau menginginkan kehidupan yang lebih baik tanpa melanggar tradisi etnismu? Bukankah tradisi etnismu tidak melarang kunjungan dari laki-laki etnis lain? Lacuo, sebenarnya aku datang kesini juga untuk mengutarakan perasaanku bahwa sebenarnya aku mencintaimu. Begitu banyak waktu kuhabiskan untuk memikirkanmu setelah kejadian di Beijing Chinatown dulu. Lacuo?” Lacuo tercekat. Wajahnya memerah padam. Tangannya bergetar. Jantungnya berdegup tak karuan. Matanya terbelalak tak percaya. Keringat


72 dingin mulai menjamah seluruh bagian tubuhnya, membuatnya basah sebasah rerumputan di kala ayam jantan mulai biasa berkokok. “Anda mau saya buatkan secangkir kopi lagi?” “Oh tentu, kopi disini rasanya enak juga. Tak jauh beda dengan kopi Luwak dari Jawa”

Malam itu menjadi sejarah yang sangat penting dan tak pernah

hilang dari ingatan Lacuo. Sebenarnya dia ingin menikah, seperti yang masyarakat umum lakukan. Tetapi dia juga menyadari bahwa tradisi etnisnya tidak mengajarkan hal seperti itu. … Seperti suatu ketika yang tak pernah seorangpun berpikir tentangnya Seperti suatu saat yang tak akan pernah kita alami Seperti suatu hari yang menumpahkan dedarah pada makhluk-makhluk penuh dosa Seperti hari dimana kita akan menikah Yang tak seorangpun menyetujuinya Terkecuali kita sendiri, dan Tuhan yang telah menganugerahkan perasaan ini. Esok dikala senja mulai beranjak, aku akan menunggumu di balik tirai hijau bambu kuning suarga Tempat dimana perahu nelayan biasa menepi “Akankah kau ikut denganku?” “Maaf. Adat tidak mengijinkannya Lan. saya akan menjadi kepala rumah tangga, mengurus rumah, saudara laki-laki, kebun kopi, dan anak-anak saya kelak” “Apakah kau yakin dengan keputusanmu?” “Saya memiliki hidup dan tradisi Mosuo, saya harap anda mau memahaminya, Lan” “Aku tidak bisa memaksamu Lacuo. Tapi ijinkanlah aku untuk berpesan satu hal pada anak kita kelak dan semua anak-anakmu. Ajarkan kepada


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

73

mereka untuk berani mengikuti kata hati mereka, walaupun itu menentang kata hati orang lain. Ajarkan kepada mereka untuk berani menjalani hidup mereka sendiri, karena hidup mereka adalah milik mereka.” “Tentu, Lan” “Maaf dan terimakasih Lacuo. Selamat tinggal” “Selamat tinggal Lan” Tak terasa air mata meleleh di pipi Lacuo. Air mata kerinduan akan impiannya, air mata ketulusan menjaga tradisinya.

Semuanya seperti berakhir begitu saja. Tetapi sungguh, tidak.

Tidak ada yang pernah berakhir untuk sebuah tradisi, etnis, dan cinta yang diakhiri oleh manusia.


74


HILYA FITRIADINDA

Seduhan Yang Berbahasa

Fajar menari. Matanya terpejam menikmati alunan melodi yang

dilantunkan makhluk-makhluk bersayap di depan perhelatan kami. Komunitas kapas di langit pun ikut berdansa seakan berpesta dengan kelopak merah yang tersenyum menambah kehangatan pagi. Aroma seperti ini yang ingin kuhirup. Sekejap mata kubentangkan karpet merah untuk mereka, sang senyum dan canda yang kupikir sudah saatnya mereka berkunjung ke rumah ini. Namun yang di mata tak setali tiga uang dengan anganku. ***


76

Seperti biasa, di ruang keluarga seorang wanita tua duduk sendiri

di kursi goyang. Ia menatap kosong apapun tepat di depan matanya. Aku merinding, terbaca jelas setiap garis kerutan di wajahnya mencerminkan betapa kepahitan demi kepahitan terukir secara alamiah disana. Dan betapa waktu telah mengajarinya banyak hal. “Pecandu kopi memang orang-orang yang penuh pengalaman” kataku dalam hati dengan senyum lebar nan percaya diri.

Sebenarnya wanita tua ini tak sepenuhnya sendiri. Aku melihat

ia ditemani secangkir kopi Gayo favorit dan sepiring pisang goreng yang tersaji di meja bundar pas di sebelah kanannya. Aku tak tahu sudah berapa lama mereka tergeletak begitu saja disana, yang kutahu mereka tak hangat, tak nikmat disantap.

“Prok-prok” dentuman kaki terburu-buru semakin terdengar

jelas. Pasti itu si semata wayang! kataku dalam hati. Adinda, seorang gadis berkulit putih dibalut putih abu-abu dengan mata minimalis terengah-engah langsung meraih tangan wanita tua yang dingin. Tanpa ragu ia menciumnya. “Adinda berangkat dulu ya Bu, Daaah” pamitnya. Ia langsung lari takut terlambat. Tak ada respon, hanya sebuah senyum lebar ketika ia melihat buah hati menghilang dari pandangan. Aku tak berani menebak apa maksud hatinya, yang tersurat hanya sepasang mata tua hilang ditelan pipi.

Adinda Carolina. Aku sangat membencinya jelas karena ia

membenciku. Masih terukir di memori, ia pernah berkicau parau “Aku tak habis pikir mengapa Ibu begitu mencintaimu. Apa ia tak punya selera? Apa yang salah dengan lidahnya? Apa yang menjadikan kepahitan begitu menggoda sementara yang manis berlimpah ruah berharap untuk sekedar dicicipi?”. Aku tak sekata. Namun, tak ingin aku menutup hati. Janjiku, berdamai dengannya. ***


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

77

Pesona angka coba dihidangkan sang pahlawan tanpa tanda jasa

di depan kelas Adinda tak mampu merayu tuk sedikit saja memalingkan wajah dari kertas putih yang dengan pasrah menggelayut lemas tergeletak di atas kayu plituran. Dengan semangat Adinda menggoyangkan pena, terlihat goresan-goresannya tegas, pasti. Jika ada seseorang mampu menerawang di balik dahinya, Ia pasti sudah membaca huruf yang terukir dengan tebal besar-besar “Aku Wanita, dan Dengan Kata Akan Ku Ubah Dunia”. Ribuan judul cerpen telah ia tulis, puluhan novel berhasil ia ramu dengan bahasa terbaiknya. Semuanya tertidur lelap rapi di rak buku pink di sudut kanan belakang kamarnya yang juga pink. Tak ada yang tahu, mungkin karena tak mau tahu, atau Adinda tak ingin ada yang tahu. Entahlah, yang aku tahu, Adinda selalu sendiri. Ia kesepian, teman sejatinya buta, tuli, bisu, Kertas dan pena yang malang. Tapi untuk merekalah Adinda manghirup oksigen. Walau cinta sejatinya tetap sang wanita tua pemberi hidup. Sayangnya wanita penuh kerutan itu tetap menghamba kopi. Jika kau ingin tahu jawabannya jika ditanya “Mengapa?” Ia pasti menjawab dengan desahan dan tatapan tajam “Karena ia pahit... hitam... pekat.... Terkadang ia berpura-pura penuh gula, namun tetap saja aku bisa merasakan sengatan kepahitannya yang mendalam”

“Tidak, ia tidak membenciku” mata Adinda berkata demikian

meyakinkanku seolah ia tahu apa yang sedang kusimpulkan dalam hati. Ia menatapku tajam walau kutahu, rapuh. ”Tidak, Ia tidak membenciku” kali ini ia menuliskannya nyata di salah satu bab di novel teranyarnya. “Hanya saja, satu dosaku. Tercium aroma laki-laki mengalir deras dalam darahku” seketika ia mengernyitkan dahi. Gerakan tangannya semakin cepat dan penuh tekanan ia terus menggores pena “Aku yakin Ibu telah mengerti. Ini semua bukan sepenuhnya salahku.” “Titik” sebuah simbol paling tepat untuk mengakhiri bab yang ia beri judul “Laki-laki, dan


78 Kopi” dua hal yang menyumbang kepahitan terdalam di hidupnya. Aku miris.

Kali ini seorang guru biologi muda mengajar di depan kelas

Adinda. Entah mengapa kaca mata tebal pahlawan pendidikan itu menarik hati gadis cantik bermata minimalis ini. Sepenuh hati ia pasang telinga. “Heriditas*¹” liukan seni tulisan kuno menghiasi bentangan putih sumber ilmu para putih abu-abu. “Jika sel sperma berhasil membuahi ovum, terjadilah fertilisasi. Dilambangkan oleh simbol XX untuk gamet betina dan XY untuk jantan. Maka persentase zygot yang dihasilkan adalah 50% XX dan 50% XY. X disini adalah simbol betina dan Y jantan” ia menjelaskan terlalu menggebu. Aku menganga, kaca matanya hampir jatuh. Adinda bergumam, aku mendengarnya samar-samar. “X untuk perempuan, Y untuk laki-laki. XY untuk laki-laki, ada huruf “X” disana. XX untuk perempuan, tunggu dulu!! Tak ada huruf “Y” HEBAT!!” ini senyum terlebar yang pernah kulihat dari gadis berkulit putih ini. Persis wanita tua pecandu kopi itu, matanya hilang ditelan pipi. *** Langkah pertamanya di teras rumah terasa ringan. Percikan api untuk melelehkan hati batu sang ibunda ada di genggaman. Senyuman masih setia tersungging di bibir tipisnya. Hidungnya tak mancung, namun entah mengapa setiap inchi yang terukir di wajahnya terlihat proporsional. Aku tergoda, ia cantik sekali. “Ibu, Aku pulang!” teriakannya mengejutkanku. Santun ia cium tangan Ibunda yang semakin membeku. “Ibu, aku membawa kabar gembira. Dan jangan meragukan ini, karena sumbernya sangat meyakinkan!” senyumnya ia kulum semakin lebar, sesaat setelah menghembus nafas panjang ia pelan-pelan berkata dalam sepi “Jadi begini, XX, itu genku bu, tak ada huruf “Y” disana, tak ada. Kau tahu apa artinya? Tak ada gen lelaki itu dalam darahku bu, tak ada.


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

79

Aku sepenuhnya anakmu. Sepenuhnya anak perempuanmu.� Adinda tak tahu harus bagaimana lagi menjelaskannya. Sekeras apapun ia mencoba. Tatapan itu masih menerawang. Tetap kosong. Ia menyerah.

Rintik hujan mulai turun di sudut gelap mata Adinda. Haru,

semakin lama semakin ia terisak, jatuh, lemas ia tergeletak ditemani sepasang kaki tua yang di telapaknya ada tempat impian. Lebih indah dari istana para dewa, lebih mempesona dari deskripsi Nirwana, inilah yang sedari kecil Adinda damba. Ia peluk erat-erat anggota gerak bawah ibundanya itu, “Sekarang tak ada alasan lagi bagimu untuk membenciku Bu, tak ada! Cukup sampai disini! Aku muak!� Adinda berteriak liar, aku merinding. Tatapan mata tua itu tetap kosong, ia masih bercumbu dengan sepi seolah tak peduli putrinya sedang bercuap kuat. Lihatlah wahai penghamba kopi, Tidak! Ia tidak sedang mengancam mogok sekolah karena minta beli lolipop warna-warni, atau merengek minta dibacakan cerita Aladin ketika matanya sulit terpejam. Sadarkah kau bahwa masa itu telah lama lenyap. Tahukah sang wanita tua, gadis cantik bermata minimalis ini sedang memohon dibukanya pintu langit.

Angkasa bergemuruh. Melodi yang dimainkannya tak lagi

seindah dulu. Kini ia melontarkan bisikan bak alat pemecah telinga. Malam semakin pekat. Kesetiaan bintang-bintang pada bulan pun sirna. Aku memang melihat sinar. Tetapi ia menggertak udara yang semakin tak bersahabat. Sudah kuduga itu semua awal dari tumpahnya air langit. Menangislah! menangis sampai air matamu habis. Teriaklah! teriak sebelum kepiluan membungkan mulutmu. Tumpahkan, tumpahkan semua agar hatimu tak lagi teriris sembilu. Curahkan semua kepada bulan selagi ia sepenuhnya milikmu. Lalu ketika esok hari mentari mengusirmu, kau telah punya asa baru. ***


80 Sangat mengerikan. Kamar pink itu tak terlihat seperti biasanya. Kertaskertas putih yang penuh goresan gadis bermata minimalis berserakan. Saat tertiup angin, mereka berjuang, bersaing ingin terbang. Aku benarbenar mendengar mereka menangis. Kasihan. Jika ku punya kuasa, ingin hati merapikannya, akan kugenggam satu-persatu, kuletakkan di sudut kamar, singgasana tempat mereka terlelap. Naskah-naskah novelnya pun tak kalah merusak mata. Bak sedang perang, mereka menyebar, ambil ancang-ancang, bersiap membalas serangan dari segala arah. “Dimana Adinda?” Aku bersenandung dalam hati. “Disaat seperti ini, kemanakah ia?” aku semakin penasaran. Masih tercium aroma seragam putih abu-abu, tapi batang hidungnya benar-benar tak terlacak olehku. Jika lebih teliti aku mencari, pastilah sedari tadi kutemukan tubuh putihnya tergeletak tanpa tenaga di samping kaki meja belajar. Ia tertidur. Wajahnya menyimpan seribu misteri. Matanya bengkak, bukti hujan tadi malam. Pelan-pelan ia buka mata kecilnya. Berbaring seraya menatap langitlangit memang cara paling ampuh untuk mencairkan emosi. Namun tidak berlaku kali ini. Mungkin virus luka telah menyebar di seluruh aliran darahnya. Berjuta alasan memenuhi kepalanya jika ia ditanya “ada apa?”. Tahukan kau, ternyata ia tak saja membiarkan mereka lelap tertidur. Tetapi semakin keras ia mencoba, seluruh tulisannya semakin diinjak pilu. Aura jiwanya kelabu. Seluruh naskah novel yang ia kirimkan ke penerbit, satu persatu berbuah permintaan maaf. Jauh dari kata beruntung, semua cerpen yang ia ikutkan lomba pun tak pernah juara. Tak berhenti sampai disini. Prestasinya di sekolah bobrok. Cintanya musnah. Semangat hidupnya, sang wanita tua bertingkah gila. Ingatkan aku kepahitannya apa lagi yang belum aku sebutkan. Untukmu Adinda, aku menitikan air mata. Sekali lagi ia berteriak lemas “Apa lagi yang harus kulakukan?” aku terdiam, bimbang. Hati terketuk ingin meniupkan jawa-


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

81

ban. Otakku bekerja dan balik bertanya, Bagaimana caranya? siapakah aku? apa dayaku? Lalu kucoba dendangkan bahasa perdamaian. Tengoklah melawan tanah pekarangan Yang bersayap jadi balerina Tariannya menemani detak jantung Melompati putihnya komunitas kapas Kerlap kerlip tak sulit mendarat di genggaman Berseru seragam pada yang berakal Tak pernah jadi lengah Tak jua lintah penghisap darah Tak terpikir ia membenci tanah pekarangan Yang bersayap tetap mau singgah

Kulantunkan melodi ballad pemanis bahasa perdamaian

dengannya. Adinda, dengarlah. Kuharap kau mengerti.tak mudah merangkai kata lalu membisikkannya ke kedua telingamu. Melucuti baja pengeras hatimu. Ku ukirkan bahasa terbaikku disana. Bukan sebagai pernghias kata, tak pula untuk pranata laku. Semata-mata kudendangkan simfoni ini untuk melihat Adinda yang baru. Terlepas dari statusnya. Menjauhi kondisi psikologis busuk perusak jiwa mudanya. Aku ingin melihat senyum “mata-ditelan-pipi�nya. Satu dari senyum karena mencintai dan dicintai bagi para pemakai kostum putih abu-abu. Aku mau pemandangan itu menghiasi kedua bola mataku. Aku benar-benar menginginkannya.

Perlahan ia buka kedua bola matanya. Aku berharap ia telah

berubah. Berdamai dengannya memang tak seharusnya mudah. Tak ada alasan yang kuat untuk mencintai laki-laki dan kopi. Aku tak boleh mudah menyerah. Seseorang pernah berkata padaku bahwa Tetesan air yang lembut, mampu menembus kerasnya batu. Akulah zat cair itu, dan engkau batunya. Aku percaya Adinda, kau gadis yang cemerlang. Ia pasti mampu menjawab segala pertanyaan masa galaunya. Satu hari nanti ia kan datang padaku dengan senyum “mata ditelan pipi� lalu berkata,


82 “Terima kasih, bahasamu telah membuka mataku, kini telah ku ubah dunia dengan kata, sesuai dengan anganku. Sekali lagi maafkan aku pernah membencimu. Kini kusadari aku benar-benar tergila olehmu” betapa indah bahasa perdamaian itu terdengar. Harus berapa lama lagi aku menunggu? Lama Adinda terdiam. Aku menebak-nebak apa yang ada di kepalanya. Sudahkan ia pahami alunanku? Ataukan ia malah mencari cara untuk membalas dendam padaku? Adinda, kumohon pikir dengan hatimu sayang. Ia tetap terdiam, aku semakin gila. Tak lama terdengar harmoni lembut dari bibirnya. “Laki-laki, Kopi, aku terlalu benci. Memang tak seharusnya begitu. Inikah penyebab segala kepahitanku. Jika harus aku berdamai dan mencintai mereka. Akan kulakukan asalkan semua kepahitan ini sirna.” Air matanya menetes. Aku tersenyum haru, bahagia rasanya. Akhirnya ia memahami bahasaku. Tak ada lagi permusuhan antara aku dengannya. Kami seutuhnya berdamai.

Hari ini ia memulai perjalanannya setelah mendengar simfoniku.

Aku penasaran, kemanakah ia akan mengayunkan langkah kaki sebagai Adinda yang baru. Sepenuh hati aku memperhatikan. Ia terlihat cantik. Namun tak biasanya bibirku ingin protes. Aku mengomentari seperti waria sang pekerja salon. Taburan bedaknya terlalu tebal. Sejujurnya wajah putih alaminya lebih menarik. Polesan gincunya pun terlalu merah, Bajunya... Biar kutebak, pasti itu adalah baju masa sekolah dasar. Bukankah ia punya banyak baju yang tak kekecilan? Adinda, ada apa denganmu? Kau benar berubah, tetapi penampilanmu.. Aneh. Aku semakin terkejut ketika jam dinding menghentakku. “Ini waktunya Adinda pergi sekolah” teriakkannya semakin menghujam jantungku. Aku mulai berpikir bodoh. Diam-diam aku mengikutinya. Semakin jauh ia melangkah, semakin asing tempat itu bagiku. “Tidak mungkin” aku berkata dalam hati. Ingin hati mencegah, namun kedua kakinya telah tercelup dalam lingkaran setan. Sesuatu yang mereka sebut “lokalisasi*²”.


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

83

Tadinya aku tak mengerti artinya, sampai aku mengintip apa yang terjadi didalamnya.

Tak sulit bagi Adinda menemukan seseorang yang bersedia

berbagi selimut dengannya. Sebentar mengantri, ia telah masuk kamar. Permainan mata-mata terhenti. Aku tak kuasa menahan air mata. Untuk lelaki bodoh macam apa Adinda menyerahkan jiwa raganya? Kalau boleh aku bertaruh, ia sendiri pasti tak tahu huruf pertama dari nama lelaki bejat yang menyentuhnya itu. “Inilah tempat terakhir bagi wanita cantik tapi tak punya otak!� Hujatku dalam hati. Inikah yang kau sebut berdamai dengan lelaki wahai gadis bermata minimalis? Tidakkah kau berfikir bahwa yang begini akan merusak masa depanmu sendiri. Kali ini aku benar-benar marah. ***

Adinda pulang. Wajahnya lebam. Aku tak mau tahu sebabnya.

Pintu hatiku telah tertutup. Aku kecewa. Tiba-tiba saja ia terbahak, keras sekali. Sampai-sampai menyadarkanku dari lamunan. Mungkin ia sudah tak waras.

Kopi Gayo favorit ibunda ada di tangan. Hitam, pekat, tanpa gula.

Aku yakin pahitnya menggigit lidah. Entah apa yang akan ia lakukan. Semoga tak ada yang aneh dari kisah perdamaiannya kali ini. Penuh persiapan, ia tutup hidung. Pelan-pelan ia masukkan ke dalam mulutnya. Tak berhasil. Pantang menyerah, ia masukkan lagi, ia malah muntah. Kasihan. Terlalu keras ia mencoba, banyak yang tumpah di lantai. Ia tetap tak menyerah, berulang kali ia mencoba, seolah mulutnya melarang walau hanya setetes yang masuk. Ia menyerah. Lunglai ia tergeletak di lantai lautan kopi. Berteriak, lemas, terdiam sejenak. Ia berpikir untuk berdamai. Tak habis akal, ia mengambil kotak P3K, memungut satu benda asing bagiku. Ia masukkan cairan kopi ke dalamnya. Lalu, ia


84 injeksikan cairan kopi ke dalam tubuh putihnya. Berulang-ulang, sampai ia merasakan kepahitan bersatu dengan aliran darahnya. Ia tersenyum lemah. Puas telah berhasil berdamai denganku. Aku ingat kata-kata terakhirnya “Ibu, akulah kopi. Dan kopi adalah aku. Kini aku yakin betul kau akan mencintaiku�. Ia tersenyum, matanya perlahan terpejam. Air mataku meleleh.

Akulah sang musisi simfoni maut. Namun pilihanmulah tarian

setan itu. Aku hanya ingin kita berjabat tangan. Engkaulah yang buat dimensi kita menyatu. Dalam cangkir aku berlindung. Tepinya menyaring pandangan, karena aku tak kuasa menatap kebodohan pencabut nyawa. Terima kasih Adinda telah kau hembuskan nafas terakhirmu bersamaku dalam balutan aroma khas pengobat rindu. Semua berakhir pilu, benarbenar tak sekata dengan anganku.

______ 1. Hereditas adalah ilmu yang mempelajari pewarisan watak dari induk ke keturunannya secara biologis melalui gen (DNA) 2. Lokalisasi adalah tempat penampungan wanita penghibur dan Wanita Tuna Susila (WTS)


NABILLA HEFIN RAHMAWATI

SECANGKIR UNTUK YANG TERCINTA : IBU

Ibunya baru saja hendak meraih kunci mobil dari atas meja,

ketika gadis dengan piyama merah muda itu berlari secepat mungkin menuruni puluhan anak tangga . Dengan nafas terengah-engah, ia mencoba menahan ibunya sejenak.

“Ibu, bisa Ibu tinggal beberapa menit lagi ? Temenin aku sarapan

sebentar aja, aku pengen buatin Ibu kopi” ucapnya pelan sambil memegang tangan Ibunya.

“ Sayang, Ibu udah terlambat. Ibu bisa minum kopi di kantor


86 nanti. Kamu sarapan sama Mbok Pri ya” jawab wanita lawan bicaranya tak kalah pelan.

“Tapi ini baru jam enam, ayolah, bentar saja Bu”

“Ibu benar-benar sudah terlambat sayang, maaf ya”. Dengan lemah ia melepaskan tangannya pada lengan wanita itu.

Matanya kini mengikuti langkah ibunya yang ringan menuju pintu depan dengan tinggi dua meter dari kayu. Gadis itu terlihat ingin menangis, sungguh. Tapi ini bukan yang pertama ia alami. Pagi ini, -lagi-, ia mengalah pada Ibunya. Dia ingin berusaha mengerti, seburuk apapun keadaannya. Sylfina Gisellia. Ayahnya meninggal enam tahun yang lalu dan kini Ibunya sedang menjalankan sebuah perusahaan kopi yang terkenal, PT.Arobusta Coffe. Jangan anggap ia broken home, karena ia sama sekali tak ingin merasa seperti itu, meskipun kadang terlihat seperti itu. Hidupnya sangat berkecukupan, ia seorang homeschooling dan segalanya terjamin. Tapi meskipun segalanya butuh uang, ia pikir uang tak pernah mampu memberinya ini : cinta. **** Mbok Pri masih membuat kentang panggang. Sementara Gisel duduk dimeja makan keluarga “Mbak belum mandi ?” ucap Mbok Pri yang tiba-tiba berada disebelahnya. Tangannya membawa nampan dengan dua piring makanan . “Aku males Mbok, hari ini guruku enggak masuk” “Ya tapi mandi dong Mbak, masak cantik-cantik gitu males mandi ?” “Hehe, iya deh, abis sarapan aja ya” . Yang ia ajak bicara hanya mengangguk ringan. Gisel tersenyum dan mulai menghabiskan sarapannya. Biasanya memang seperti ini, Mbok Pri yang selalu menemaninya sarapan. Dia adalah pembantu nomor satu di dunia. Gisel menganggapnya seperti Ibunya sendiri ****


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

87

Gisel masih sibuk menyisir rambutnya yang panjang sepunggung, lalu mengikatnya ekor kuda. Celana jeans warna abu-abu, kaos casual merah dan jaket cardigan abu-abu menutupi tubuhnya. Setelah mengambil dompet, handphone dan kunci motor, Gisel bergegas menuju pintu depan . “Mau kemana Mbak ?” ucap seseorang mengagetkan. Mbok Pri berdiri di sudut ruangan sambil memegang sapu ijuknya. Gisel meringis. “Mau ke Café bentar, boleh ya ?” jawabnya memelas. Biasanya kalau sedang malas homeschooling, Gisel akan pergi ke Café milik keluarga, sekitar empat ratus metes saja dari rumahnya. Melepas semua penat dengan segelas minuman dari olahan biji kopi memang menyenangkan. “Boleh saja kok, tapi harus pulang sebelum Nyonya pulang duluan. Jangan lupa pakai jaket ya Mbak” “iya Mbok, makasih ya” Gisel tersenyum ringan. Mbok Pri memang sangat baik. Bahkan Ibunya sendiri tak pernah begitu memperhatikan Gisel seperti itu. Dia pun membalikkan badan dan segera pergi. **** Setelah mengunci setir motor, Gisel bergegas masuk melewati sebuah pintu kaca dengan hiasan lampu-lampu berkilau membentuk kalimat “North Cafe”, yang kemudian disambut dengan sapaan hangat dari beberapa karyawan disini. Mereka semua mengenal Gisel. Tentu saja. Karena ia adalah pemilik café dan datang kesini hampir setiap hari. Entah siang, malam, bahkan pagi-pagi sekali. Yang pertama dilakukannya adalah masuk ke lorong dapur utama, dan membuat kopi sendiri. Banyak sekali jenis kopi yang dapat ia buat. Tapi yang paling ia suka sedang dibutanya pagi ini. Campuran dari satu sendok teh kopi bubuk robusta, satu sendok makan susu cair, sedikit pasta rasa mocca dan dicampur menjadi satu


88 dengan air panas. Kemudian membawa secangkir kopi ini menuju ruang utama café. Tempat yang biasanya ia duduki adalah yang berada di sudut ruangan, menghadap ke jendela-jendela besar dari kaca. Pemandangan kota Yogyakarta yang mulai ramai dapat dilihat disana. Pukul delapan pagi adalah saat-saat ramai di Café ini. Beberapa orang suka memulai harinya dengan meminum kopi. Apalagi disini juga disediakan beberapa makanan ringan untuk dimakan menemani hangatnya kopi pesanan mereka. Seperti pancake madu yang kini berada di atas meja di hadapan Gisel. Dua buah pancake tipis yang terbuat dari adonan tepung, telur, mentega dan susu yang dipanggang tersusun diatas piring, Kemudian saus kental dari madu dituangkan hampir menutupi seluruh pancakenya. Gisel menikmati sarapannya yang kedua. Menyendok sedikit demi sedikit pancake dan diselingi dengan seteguk kopi. Ketika kemudian seseorang berdiri agak membungkuk didepannya, Gisel menengadah.

“Permisi, boleh aku duduk disini ?” Seorang laki-laki dengan

kemeja putih dan jeans hitam. Satu tangannya membawa secangkir kopi dan tangan yang lainnya menunjuk pada kursi didepan Gisel, memberikan isyarat bahwa ia ingin duduk disana. Gisel melihat sekeliling, banyak kursi yang masih kosong. Tapi memang sudut paling nyaman adalah tempat yang kini didudukinya. Dia hanya mengangguk perlahan. Membiarkan laki-laki berkulit cokelat bersih itu menarik kursi dan duduk disana. Gisel meneruskan makannya, sambil sesekali melihat ke arah jendela, dan ke arah orang asing yang duduk didepannya, bergantian. Laki-laki itu sama sekali tidak meneguk kopinya. Matanya menatap lurus kedepan. Entah memikirkan apa. Seluruh tubuhnya mematung dan bahkan dia hanya berkedip sekali dalam lima detik. “Hey” ucap Gisel sambil mengetuk meja. Pemuda itu masih diam selama beberapa detik. Kemudian menoleh ke arah lawan bicaranya. Tanpa ekspresi.


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

89

“Iya ?” jawabnya singkat. “Kenapa kamu diem aja dari tadi, kayaknya kopimu udah agak dingin.” “Oh, iya, aku lupa” “Hah ? Kamu gak suka kopi ? Kenapa kesini ? Kalo nyari tempat ngelamun bukan disini. Ke Taman Kota sana” ucap Gisel ketus. Laki-laki itu berpaling. Satu helaan nafas terdengar perlahan darinya. Dia tersenyum dengan mengangkat satu sudut bibirnya. Matanya terlihat sayu. Kemudian ia meminum kopinya, satu tegukan, dua tegukan dan meletakkannya cangkirnya lagi. “Aku suka, suka banget, kopi buatan café ini adalah yang terbaik” “Itu benar, menurutku kopi disini dibuat dengan ramuan luar biasa” “Iya, tentu saja, aku bahagia tiap minum kopi disini, karena aku cuma mampu mampir satu kali saja seminggu, dan hanya satu cangkir kopi saja, yang dapat kubeli dengan sisa uang sakuku saat itu” “Benarkah ? Jika minum kopi di café ini selalu membuatmu bahagia, kenapa dari tadi kamu melamun ?” “Aku kehilangan yang disebut kebahagiaan” jawabnya singkat. Matanya menerawang kedepan. Raut wajahnya tiba-tiba saja berubah. Ada air mata di pelupuk matanya. Tangannya mengenggam erat pegangan kayu kursi yang didudukinya. “Maksudmu ? Aku nggak ngerti” ucap Gisel kebingungan “Ibuku, ibuku kemarin pergi, bener-bener pergi, jauh, ninggalin aku, sendirian, disini, aku ….” Pemuda itu tak melanjutkan bicaranya. Ia menundukkan kepala begitu dalam. Tangannya mengepal erat. Gisel kebingungan. Dia juga pernah merasa kehilangan orang yang paling ia sayangi, ayahnya. Yang membuat ibunya bergelar janda dan menjadikan Gisel sebagai anak yatim. Dia tau rasanya. “Hey, jangan sedih. Aku juga pernah kehilangan salah satu orang


90 tuaku. Aku anak yatim. Ayahku udah lama meninggal. Ibuku sekarang sibuk dengan perusahaannya. Kakakku di Jerman dan aku lebih sering berdua dengan pembantuku saja dirumah. Aku, juga kesepian, sama kesepiannya denganmu” “Jangan berharap kamu sama seperti aku. Aku yatim piatu, ayahku juga pergi dalam kecelakaan kerja waktu aku berumur delapan tahun. Aku dilahirkan sebagai anak tunggal. Ibuku bekerja disebuah pasar ikan, membantu para pengepul kepiting yang butuh tenaganya. Para juragan pasar hanya memberikannya upah 20ribu setiap hari, padahal yang dihadapi ibuku adalah puluhan ton kepiting. Aku bersekolah di sebuah SMA yang perlu biaya. Sekarang ibuku nggak ada, aku ngggak punya siapa-siapa lagi. Aku belum punya keahlian apapun dibidang pekerjaan, dan siapa yang mau ngejamin hidupku, kontrakan rumahku, uang sekolahku, bahkan pemakaman Ibuku masih menyimpan hutang satu juta rupiah. Aku nggak tau harus gimana” Gisel menghela nafas. Pemuda ini benar. Kehidupan Gisel dengannya masih sangat jauh untuk dibandingkan. Gisel memang seorang yatim, tapi kehidupannya sangat terjamin dan bahkan seharusnya ia tak perlu susah-susah sekolah karena hartanya mungkin masih cukup untuk ia dan cucu-cucunya. Dia beruntung, jauh lebih beruntung. Tapi gisel tak pernah mendapatkan kasih sayang dari Ibunya. Lebih tepatnya setelah Ayahnya meninggal. “Aku menyayangi Ibuku lebih dari apapun juga. Ibuku membesarkanku seorang diri selama bertahun-tahun. Aku inget, bener-bener inget, tubuh kurusnya yang dibalut kain kafan itu masih saja tampak bahagia. Ibuku benar-benar menepati janjinya, buat nggak akan pernah sedih dihadapanku. Ibuku terlalu berharga untuk Tuhan ambil dariku, aku sangat-sangat belum siap” “Aku juga menyayangi Ibuku. Tapi dia enggak. Dia terus bekerja sepanjang


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

91

waktu dan menyerahkan hidupku pada pembantuku. Dia nggak pernah mengerti kalau aku kesepian dan membutuhkannya” “Nggak ada seorang Ibu yang membenci anaknya. Yang nggak berharap kebahagiaan buat anaknya. Semua Ibu sayang sama anak mereka. Tapi tiap-tiap orang tua selalu memiliki cara yang berbeda dalam memberikan kasih sayang pada anaknya kan ? Ibumu juga begitu” “Lalu apa caranya ? Dengan selalu meninggalkanku buat pekerjaanya ? Membuatku menghabiskan waktu dengan pembantuku ? Aku ingin ibu yang selalu ada buat aku” “Kamu baru akan ngerti betapa berharganya seseorang waktu kamu kehilangannya. Ibumu bekerja buat kamu, bukan buat dia. Seorang Ibu yang kehilangan suaminya wakti dia masih memiliki tanggung jawab atas anaknya nggak akan pasif dalam hidup. Seperti Ibumu, semua yang dia lakukan itu buat kamu, percaya deh” Gisel diam sesaat. Matanya menatap ujung-ujung sepatunya. Yang dipikirkannya saat ini hanya satu : Ibunya. Dia pernah melihat Ibunya menangis saat sholat shubuh. Dan dia mendengar namanya terucap berulang kali. Waktu itu Gisel merasa Ibunya memang benar-benar menyayanginya. Tapi ketika keesokan harinya Gisel harus tetap sarapan bersama Mbok Pri, lagi-lagi ia ingin membenci, Ibunya sendiri. “Aku belum tau namamu” ucap pemuda itu lagi. “Namaku Gisel, kamu ?” “Ezhar. Maaf ya jadi curhat ke kamu.” “No problem kok, aku senang bisa jadi pendengar yang baik. Rumahku ada di Jalan Sultan Agung No.2, kamu bisa mampir kesana kapanpun kamu mau. Kalo butuh apa-apa, aku mau bantu kamu” “Makasih ya, tapi aku lagi gak butuh apa-apa, aku permisi dulu” Gisel membiarkan pemuda itu melangkah agak cepat menuju pintu depan, ia menatapnya tanpa berkedip. Ezhar memang tak setampan


92 Zayn Malik personil One Direction, tapi ia adalah laki-laki pertama yang mampu membuat jantung Gisel berdetak sangat cepat. Pertemuan barusan ini memang singkat, tapi sungguh bermakna untuknya. Dia berpikir untuk mengenal Ezhar lebih jauh, ingin menghiburnya dan menjadi teman yang baik untuknya. Lalu suasana café menjadi gaduh karena tiba-tiba seluruh orang bergegas keluar ruangan. Tidak ada perampok ataupun kebakaran disini. Gisel kebingungan. Namun terjawab sudah ketika terlihat di jendela, puluhan orang menggerombol seperti mengerubungi sesuatu diujung trotoar. Gisel menyentuh dadanya. Perasannya tidak enak. Bergegas ia menuju sumber keramaian tersebut. Mendorong tubuhnya sendiri agar bisa masuk ke kerumunan orang-orang dan melihat apa yang terjadi . Ezhar !! Itu Ezhar !! Pemuda yang baru beberapa menit yang lalu meninggalkannya di café tergeletak penuh cairan warna merah di kepala dan kakinya. Desasdesus kerumunan orang menjelaskan bahwa baru saja terjadi tabrak lari dan Ezhar adalah korbannya ! Baru saja Gisel hendak menyentuh tubuh Ezhar, seseorang mendorongnya agak keras kebelakang. Para petugas dari ambulan yang baru saja datang. Gisel melihat tubuh Ezhar diangkat dan dimasukkan ke ruang belakang ambulans. Segera ia berlari menuju mobil tersebut. “Pak, boleh saya ikut dalam ambulan ini ? Korban adalah teman saya” ucap Gisel terbata-bata. Petugas ambulan hanya mengangguk cepat. Kemudian mobil bersirine itu melaju sangat cepat menuju Unit Gawat Darurat. **** “Gisel ..” Suara lirih itu mengagetkan Gisel yang dari tadi melamun. Ezhar


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

93

sudah bangun. Tapi dengan tubuh sangat lemah. Gadis cantik itu menghampirinya. Tersenyum dengan air mata. “Aku tau ibuku benar-benar mencintaiku. Dia akan menjemputku sekarang. Dia ingin terus bersamaku, Gisel. Dan aku yakin sebenarnya Ibumu juga sangat menyayangimu, dia juga sangat ingin selalu bersamamu, semua ibu seperti itu Gisel” “Kamu ngomong apa sih ? Kamu pasti sembuh Zhar, aku percaya itu. Kamu nggak akan kemana-mana !!” “Aku lebih bahagia bersama Ibuku, aku harus ikut ..” Gisel menggenggam tangan Ezhar dengan sangat kuat. Dia menangis. Ketika tiba- tiba Ezhar bersuara seperti sangat kesakitan. Satu detik, lalu mata Ezhar menatap lurus pada Gisel, dan tertutup lagi. Kali ini tertutup selamanya. Tangan Ezhar melemah dalam genggaman Gisel. Namun tangan itu tetap berada ditangannya. Ia menangis sangat parah. Ia tak mampu berkata apapun lagi. Lalu beberapa orang dokter terburu-buru datang dan Gisel terpaksa keluar. Dia masih menangis. Tapi melangkah menuju pintu utama rumah sakit dan menaiki taksi untuk pulang. Ada yang bercampur aduk di dalam hatinya. **** Pukul lima sore. Dibukanya pintu dengan tangis sesenggukan. Matanya yang sembab menangkap ibunya yang sedang duduk berbaring di atas sofa. “Ibu .. Sudah pulang ?” Gisel duduk disamping ibunya. “Ia sayang, ibu nggak enak badan. Jadi pulang cepet. Kata dokter ibu kecapekan, tapi ibu baik-baik aja. Kamu dari mana aja nak ?” jawab ibunya lirih. Gisel menatap ibunya. Tulus. Tak pernah setulus ini. Teringat semua


94 kalimat-kalimat Ezhar yang saat ini benar-benar membuatnya tenang. Tiba- tiba saja ia memeluk ibunya sangat kuat. “Ada apa sayang ?” Tanya Ibunya kebingungan. “Aku sayang sama Ibu, aku nggak mau kehilangan Ibu, maaf kalo selama ini Gisel suka marah-marah, dan nganggep Ibu nggak sayang sama aku karena Ibu selalu ninggalin aku kerja. Tapi aku baru sadar, kalo semua yang Ibu lakuin itu buat aku, karena Ibu sayang sama aku” Gisel menangis dibahu Ibunya. Dia tak pernah memeluk Ibunya sangat lama seperti ini. Gisel benar-benar merindukan Ibunya, pelukannya, saat-saat bersama Ibunya, seperti ini. Ibunya juga tersenyum, bahagia. “Ibu menyayangimu nak, tentu saja menyayangimu. Ibu ingin selalu bersama anak-anak ibu. Tapi sebelum kakakmu pulang dari jerman, Ibu yang harus menjalankan perusahaan peninggalan Ayahmu. Besok kakakmu pulang dan akan menggantikan Ibu di perusahaan. Sekarang Ibu janji, akan selalu ada dirumah untukmu sayang” Gisel bahagia. Sangat bahagia. Begitu juga Ibunya. Seorang single parent dan anaknya yang merasa kesepian. “Ibu, boleh kubuatkan kopi untukmu ?” Ibunya mengangguk pelan dan Gisel segera melangkah menuju dapur. Selama ini ia tak pernah minum kopi bersama dengan keluarganya yang hidup dengan biji-biji kopi. Gisel selalu menikmati kopinya sendirian. Tapi kini tak akan lagi. Ini kopi pertama yang ia buat untuk Ibunya, yang akan ia buat menjadi secangkir untuk yang tercinta. Ibunya. **** Tentang ibu, biji-biji kopi dan Ezhar yang membuatnya mengerti kebahagiaan. Terima kasih.


BELDRA ELDRIT JANITRA

Intuisi Serpihan Hati Bilur sendu sedikit beringsut Bergantilah kelu bibir mengusut Sontak sekelumit kenangan tertaut Lantas sibuk berjemawa diri Mendulang fragmen buram Bersimbah asa yang terkemas beku

Cream House, 10 Maret 2012 Sore ini langit senja masih sama seperti kemarin. Sama indahnya untuk sekadar dinikmati oleh mata telanjang. Jingga, violet dan sedikit sentuhan kelabu. Perpaduan warna yang sempurna berhasil menikam hiruk-pikuk penduduk kota yang bersiap untuk alih kesibukan. Terdengar suara gagah klakson mobil-mobil mahal yang mulai tidak sabar dengan sesaknya jalan kecil kota ini. Beberapa pengendara motor juga terlihat berpacu dengan sopir angkutan umum kota yang tak mau kehilangan


96 target setorannya sore ini. Aku masih duduk menikmati retorika kota sore ini setelah melayani beberapa pelanggan yang menginginkan hangatnya secangkir Vanilla Latte dan Americano untuk menemani obrolan ringan mereka. Di sudut ruangan ini, bisa kulihat beberapa anak remaja sibuk menekuri teenlit keluaran terbaru yang memang baru kuletakkan buku-buku itu di rak dua hari yang lalu. Setidaknya, membuka “Cream House” dua bulan yang lalu adalah keputusan yang tepat. Selain menghasilkan tambahan pendapatan untuk biaya kuliah dan uang kontrakan setidaknya kegiatan ini dapat mengusir penatku setelah seharian mendengarkan dosen bersuara. “Capuccino satu!” suara seorang lelaki berhasil memecah indahnya suasana senja sore ini dari khayalanku yang terlanjur menerawang jauh. Tatapan Sendu, 17 Maret 2012

Terhitung sudah dua jam lelaki itu duduk memandang jalan

melalui kaca bening Cream House. Dan selama dua jam itu dia belum memutuskan untuk memesan apapun. Tatapan matanya membesat, seperti sedang menyaksikan sekelumit kenangan di benaknya. Itu hanya dugaanku saja, mana aku tahu apa yang sebenarnya dia lakukan selama dua jam dalam bungkam di sudut ruangan ini dan hanya menatap ke arah luar dari balik kaca transparan.

“Capuccino!” Akhirnya kuletakkan segelas Capuccino yang

masih mengepul di hadapannya, setelah batinku tadi merasa galau untuk menghampiri pelanggan ini atau tidak. Tatapannya hanya beralih beberapa detik padaku selebihnya ia kembali hanyut memandang kesibukan manusia menyambut senja hari ini dari balik kaca. Merasa aku mengganggu kesibukan privasinya, aku putuskan untuk kembali ke tempatku sambil menunggu pelanggan lainnya singgah. Dan dia masih


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

97

tak bergeming.

“Ratih!” ternyata dugaanku salah. Aku kira lelaki ini bisu sehingga

tidak ada satu kata pun yang muncul dari bibirnya meski hanya untuk mengucapkan terima kasih atas kopi yang aku letakkan di mejanya. Suara itu terdengar lebih mirip sebuah bisikan saat aku hendak menggeser posisi tubuh, bersiap kembali menuju meja kasir. Aku sedikit jengah mendengar satu nama yang baru saja ia cetuskan. Dia menatapku lekat, dalam, dan dengan berjuta warna sendu yang terbias. Aku hanya terdiam tidak melawan tatapannya, berusaha mencerna maksud ketidaksopanan pelangganku yang satu ini.

“Mbak, Coffee Latte satu!” beruntung teriakan seorang

pelangganku lainnya berhasil memecah kejanggalan ini.

“Baiklah, tunggu sebentar!” aku tersenyum kemudian

beringsut meninggalkan lelaki sendu yang masih menatap punggungku menjauh. Taman Kota, 20 Maret 2012

Pukul 16:25. Hari ini aku pulang sedikit terlambat dari biasanya

karena harus menyerahkan laporan penelitian pada dosen. Alhasil, dengan terlambatnya kepulanganku berarti terlambat pula aku membuka Cream House. Sebenarnya papa sudah pernah menyarankanku agar merekrut karyawan untuk Cream House. Namun, setelah kupertimbangkan pastilah akan mengeluarkan banyak biaya untuk membayar jasa pramuniaga dan pramusaji. Meskipun kadangkala ada enaknya juga tidak perlu repotrepot mengurus berbagai macam permintaan pelanggan sendirian. “Nad, apa perlu papa carikan orang-orang profesional untuk membantumu mengelola kedaimu itu?” tanya papa sebulan yang lalu, khawatir kesibukan baruku akan mengganggu kewajiban utamaku sebagai mahasiswi. “Untuk sementara waktu ini belum perlu, Pa. Lagipula, Cream House


98 kan baru buka sebulan yang lalu belum seberapa ramai. Nanti saja kalau Nadia sudah mulai kewalahan ngurus sendiri�, aku menanggapi simpati papa dengan sesopan mungkin, takut kalau-kalau papa tersinggung dengan jawabanku. “Yakin kamu bisa mengurusnya sendiri, Nad?� papa memastikan tawarannya kembali. “Iya, Pa. Lagipula, teman-teman Nadia juga sering datang untuk membantu. Papa percaya deh sama Nadia�, aku tersenyum meyakinkan papa. Aku kembali melangkah bergegas membuka Cream House dan berharap segera bisa melayani pelangganku sore ini dengan bermandikan sisa-sisa bias mentari senja. Aku menoleh dan tersenyum ramah pada taman kota yang setiap sorenya berubah menjadi arena bermain anakanak. Tampak beberapa muda-mudi masih mengenakan seragam putih abu-abunya bersenda gurau menikmati es krim sambil berayun di atas ayunan tua yang baru dicat ulang. Ada juga beberapa lansia yang tertatihtatih berjalan menggunakan alat bantunya nampak terlihat takdzim menikmati terpaan angin sore. Tapi tunggu sebentar, bukankah itu lelaki sendu yang tiga hari lalu menatap manik mataku secara tidak sopan. Sedang apa ia di sini? Duduk sendiri di sebuah kursi taman merenung sebentar kemudian menulis pada sebuah kertas. Ah, bukan urusanku! Lagipula, siapa aku berani-beraninya ingin tahu apa yang ia kerjakan? Gerimis Sore Ini, 22 Maret 2012 Sudah sejak tadi siang sang fajar menyingsing. Tak ingin melanjutkan bias sinarnya untuk menghangatkan penduduk kota ini. Dan pernyataan garis kegalauan pusat tata surya pun tergambar jelas dalam ramalan berita cuaca tadi pagi bahwa sore ini akan turun hujan. Jadilah, sore ini gerimis yang mengguyur kota kecil ini menambah hikmat sabda alam. Payung


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

99

berwarna-warni terbentang indah menjelma seperti tudung pelangi berjalan. Beberapa pasangan muda terlihat bergandengan dan berjalan berdampingan di bawah satu naungan. Ada juga anak-anak yang tertawa riang mencoba bergurau dengan rintik-rintik hujan ini. Seharusnya aku bersyukur dengan keadaan seperti ini, banyak orang yang membutuhkan kehangatan dan singgah ke Cream House untuk menikmati secangkir kopi panas. Namun, tidak sepenuhnya aku senang dengan gerimis ini yang membuat langit tampak lebih muram dan merusak senjaku sore ini. Aku menghela napas dalam mencoba menikmati bau air langit yang membaur dengan tanah. “Cream House, selamat sore! Secangkir kopi yang akan menghangatkan hari Anda” Adalah sapaan khas ala Cream House yang aku berikan untuk pelangganku. “Capuccino!” pinta suara berat itu terdengar ragu-ragu. “Silakan tunggu sebentar” aku bergegas meracik Capuccino panas. “Silakan Capuccino Anda!” aku mendongak kemudian tersenyum menyerahkan pesanan pelangganku itu. Oh Tuhan! Dia lelaki sendu itu. Dia menyerahkan selembar uang padaku kemudian bergegas mencari tempat duduk pojok kesukaannya. Lagi-lagi dia hanya meletakkan segelas Capuccinonya di meja tanpa ia cicipi sedikit pun kemudian menambatkan fokusnya pada jalanan luar melalui kaca bening. Aku mengamatinya lamat-lamat, penasaran sebenarnya apa yang ia lihat dari sudut itu. Dan begitulah hari terus berulang, setiap sore lelaki sendu itu datang dan memesan Capuccino yang selalu ia biarkan begitu saja. Ratih!, 28 Maret 2012 Sudah dua jam yang lalu aku berusaha menyergah perasaan tidak enak yang berkecamuk dalam dada. Rasa khawatir, takut, penasaran


100 berpadu menjadi satu, membentuk gumpalan rasa sesak. Lelaki sendu itu belum datang hari ini, padahal matahari senja sudah menyingsing beberapa jam yang lalu. Apakah ia sakit? Atau kemungkinan buruk lain telah terjadi padanya? Tuhan, aku juga tidak tahu sejak kapan aku harus repot-repot memikirkan orang lain yang bahkan namanya saja tidak kuketahui hingga saat ini. Aku sendiri heran mulai kapan lelaki sendu itu bisa memboikot pikiranku dengan tatapannya. Aku menyibukkan diri dengan membaca buku berusaha mengusir malaikat jahat yang sudah sedari tadi berperang dengan batinku. Namun, belum lama aku menyelam dalam deretan tulisan pada buku itu, tanganku segera menghempaskan benda persegi simestris itu ke meja. Aku kalah dengan malaikat jahat. Aku tetap tidak bisa mengusir bayangnya. Akhirnya aku putuskan untuk menautkan tatapanku pada kesibukan kota malam ini. Langit mendung malam ini, membuat bintang malu-malu untuk menampakkan keindahannya. Hanya terlihat satu dua yang berani memamerkan pendar cahayanya. Aku menarik napas dalam setelah melirik arloji di tanganku. Pukul 21:45. Berarti lima belas menit lagi, Cream House tutup. Saat aku mulai putus asa menunggunya. Seorang lelaki bertubuh tinggi memakai kemeja krem dengan bagian lengan sedikit dilipat telah berdiri di depan pintu masuk. Itu lelaki sendu yang telah mengobrak-abrik hatiku akhir-akhir ini. Astaga, lihatlah! Dia datang. Namun, tidak seperti biasanya kali ini dia diam lama seperti enggan untuk melangkah masuk. Tak tahan menunggunya tidak segera beringsut akhirnya aku putuskan untuk keluar menemuinya. Aku atur perasaan yang terlanjur membuncah di dada. Sebelum kemudian aku putuskan untuk mengajaknya berbicara. “Ada yang bisa saya bantu, Mas?� aku tersenyum menghampirinya berusaha sebiasa mungkin, menyikapinya seperti pelanggan yang lain. “Ratih!� Bukannya menjawab pertanyaanku, lelaki di hadapanku ini


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

101

malah menatapku tepat di manik mataku kemudian menelusuri wajahku dengan tangannya rasanya seperti ia baru saja menemukan sesuatu yang selama ini ia cari. Aku menahan napas, berusaha memahami apa yang ia lakukan setelah menyebutkan satu nama yang sama saat pertama kali kami bertemu, Ratih. “Ehm! Maaf mas, nama saya Nadia.� Aku berhasil menguasai diri kembali. Dan saat itulah, reaksi yang tak terduga muncul darinya. Lelaki sendu itu tersentak dan menghempaskan tangannya keras dari wajahku. Kemudian ia berlari meninggalkanku sendiri yang masih berusaha memahami selintas adegan yang baru saja terjadi. Berlari dan tak pernah kembali. Intuisi Serpihan Hati, 25 April 2012 Sudah hampir sebulan, lelaki sendu itu tidak datang ke Cream House. Lantas selama hampir sebulan itu aku merasa ada sesuatu yang raib dalam hidupku. Sore ini, sore yang indah. Di mana matahari masih berjuang meneruskan sisa-sisa cahayanya menerpa ujung dedaunan. Desir angin sore yang seakan terkekeh ikut menyemarakkan aktivitas kota sore ini. Benar-benar senja yang sempurna untuk sekadar membungkus kesibukan manusia-manusia berdasi di kota kecil ini. Begitu pula dengan Cream House, hari ini sempurna dipadati oleh pelanggan yang berjubel untuk menikmati secangkir kopi panas. Beruntunglah, hari ini Ardi dan Sarah memutuskan untuk membantuku melayani pelanggan-pelanggan ini. Jadi, aku tidak terlalu repot mengurusnya sendiri. Tiba saatnya melayani seorang ibu berusia sekitar lima puluh tahunan dalam antrean itu. Garis payah tampak jelas dimensi kenyataannya namun, ada secercah sinar yang membuatnya tampak lebih bahagia dibanding semua makhluk yang ada di dunia ini. “Cream House, selamat sore! Secangkir kopi yang akan menghangatkan hari Anda. Ada yang bisa saya bantu ibu?� tanyaku ramah pada


102 wanita paruh baya ini. “Bisakah saya menemui perempuan yang bernama Nadia?” gaya bahasa ibu ini yang formal membuatku sedikit merasa tidak enak. “Iya, saya sendiri,” lagi-lagi aku tersenyum pada seorang wanita di hadapanku. “Engkau rupanya yang bernama Nadia, Nak. Terima kasih…Terima kasih, Nak!” Ibu ini meraba-raba pipiku kemudian menyeka ujung matanya. “Ar…! Sar…! Aku minta tolong ya!” kataku memberikan instruksi kepada kedua temanku untuk menghandle pelanggan yang lain selagi aku menenangkan wanita yang usianya mungkin tidak jauh dari ibuku. *** Sepasang kekasih tengah berbahagia menanti hari diikrarkannya cinta suci mereka. Semua telah siap, mulai dari penyebaran undangan, pemesanan catering untuk para undangan, hingga gaun dan jas yang akan dipakai oleh kedua mempelai. Sang wanita adalah seorang yang cantik, penuh kasih sayang, perhatian, ramah, dan peduli terhadap orang di sekitarnya. Adalah senyuman hangat dan bersahabat yang membuat sang pria merasa sangat beruntung akan segera memiliki kekasihnya itu sepenuhnya tanpa harus ada lagi aral yang dapat memisahkan cinta mereka berdua. Sebenarnya ini adalah perjodohan lama, sejak keduanya dilahirkan. Perjodohan antarsahabat baik, itu menurut kedua orangtua mereka. Setelah keduanya sengaja dipisahkan selama dua puluh dua tahun untuk menimba bekal hidup dan yang paling penting agar perasaan antara keduanya selalu jernih. Sudah tertulis bahwa mereka memang dilahirkan untuk saling mencintai dan memiliki sehingga tak butuh waktu lama untuk menumbuhkan rasa cinta di hati keduanya. Tiga hari menjelang hari paling bersejarah bagi sepasang kekasih


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

103

itu. Keduanya memutuskan untuk membeli sebuah bingkai foto yang rencananya akan mereka letakkan foto terindah momen kebahagiaan mereka. Sang wanita memutuskan untuk membelinya di seberang jalan sendiri, tak mau kekasihnya bersusah payah untuk putar balik lantas baru mereka bisa pulang. Tidak terjadi apa-apa pada sang wanita seperti terkisah dalam drama-drama romantis. Ia baik-baik saja hingga saat menyeberang kembali menuju kekasihnya yang telah menunggu di seberang jalan. Wanita cantik berambut sebahu itu melangkah dengan sebuah tas plastik hitam yang membungkus bingkai foto besar pilihan digenggamannya. Namun, itu terjadi sebelum seorang anak kecil berusia sekitar lima tahun berlari menghambur ke jalan raya sedang ibunya telah berteriak histeris di pinggir trotoar melihat sebuah mobil kijang dengan kecepatan tinggi melesat dari arah lawan buah hatinya. “Awas sayang!” teriak wanita cantik yang mendorong tubuh kecil anak laki-laki itu berguling ke samping roda mobil. Sang anak menangis sejadijadinya, mungkin karena kaget. Sedangkan peri cantik yang menjelma sebagai wanita berhati mulia itu tergolek kaku di bawah badan mobil. “Pyaaar....!” suara bingkai foto impian mereka yang berubah menjadi serpihan kecil. Hanya itu yang sempat terdengar di telinga sang pria sebelum kemudian melihat sang kekasih tergeletak tak berdaya. “Ratiiih....! Ratiiiih....! Ratih bangun...!” sang pria segera mendekap kekasihnya yang telah bersimbah cairan pekat berwarna merah. *** “Sejak saat itulah Galih menjadi sangat pendiam dan tidak bersemangat hidup, Nak. Dia sudah seperti mayat hidup yang kehilangan sebagian jiwanya” ibu ini meneruskan ceritanya sambil sesekali menyeka ujung matanya. “Namun, tidak untuk beberapa bulan terakhir ini. Dia terlihat lebih


104 bersemangat setelah bertemu denganmu, Nadia,� lagi-lagi wanita di hadapanku ini mengusap pipiku dan tak henti-hentinya mengucapkan syukur. “Akan tetapi, bagaimanapun depresi dan trauma beratnya harus disembuhkan, Nak! Galih harus menjalani terapi selama satu tahun untuk memulihkan kondisi kejiwaannya.� “Sudah cukup Ibu merepotkanmu, Nak! Ibu hanya ingin meminta tolong untuk yang terakhir kalinya, jika suatu waktu kau bisa datang menjenguknya tolong hubungilah ibu karena ibu sangat senang jika kau bisa membantu mempercepat proses penyembuhannya� kata ibu ini melanjutkan sebelum kemudian menyerahkan sebuah amplop cokelat dan bergegas pamit. *** Malam harinya, sebelum aku beranjak merebahkan tubuhku. Aku sempatkan untuk membuka amplop cokelat dengan perangko bergambar matahari senja hendak tenggelam, pemberian Bu Titin tadi sore. Di bangku taman kota kesukaan kita, 20 Maret 2012 Untuk Ratih, Bidadari Matahari Senjaku Hai sayang, bagaimana kabarmu di sana? Aku harap kau selalu tersenyum, senyum yang selalu kutunggu kehadirannya di wajah cantikmu. Sudah lama, aku tak menikmati desir angin sore ini di bangku taman kota kesukaan kita. Maka, hari ini aku membawamu untuk menikmati terpaan sang bayu yang menyibak anak-anak rambutmu. Sebenarnya, hari ini aku ingin berterus terang padamu Ratih. Mungkin ini akan menyakitkanmu, namun aku tahu ini akan lebih menyakitkan jika aku terus terkungkung dalam sekelebat kenangan bersamamu tanpa bisa aku melangkah maju menyongsong matahari yang akan terbit esok. Aku melihatnya dua bulan yang lalu, saat aku merasa aku tak pantas lagi untuk menginjakkan kaki ini tanpa kehadiranmu di sisiku. Dia


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

105

tersenyum ramah pada siapa saja yang ia temui. Dia sama sepertimu, memiliki senyuman yang hangat sehangat mentari senja. Sepertinya, dia juga penikmat bias-bias terakhir sang fajar menyingsing sama sepertimu. Dia adalah pemilik kedai kopi di pinggir jalan tak jauh dari taman kota ini. Ratih, aku hanya ingin meminta izin padamu agar aku bisa menuruti bisikan dari serpihan hati yang kau tinggalkan, untuk mencintainya dan membagi sisa hidupku dengannya. Karena aku yakin, engkau di sana pasti tak keberatan dengan hal ini karena kau telah bahagia dengan orang-orang berjiwa suci bersamamu di sana. Terakhir, aku persembahkan sebuah puisi sebab aku tahu bahwa kau selalu senang jika aku membuatkan sajak-sajak indah untukmu.

Intuisi Kapankah saat itu akan tiba? Terasa kelu untuk menjawab hal sekecil itu Lagi-lagi waktu Mengacaukan semuanya Semua hal yang pernah dan sedang bahkan akan diangankan Tak tepat jika mencoba Menghentikan ulah sang waktu Hanya sebuah bisikan Dari serpihan hati yang tertinggal Berharap Sang Fajar mendengar Bermimpi Sang Bayu mengiyakan Ya, hanya angan belaka Meski hanya sedikit pernyataannya Namun cukup meringankannya Tak apalah, selagi sang waktu masih belum Menyita semua yang dimilikinya Tak ada salahnya untuk membumbungkan Semua harapan dan impian ini Yang Selalu Mencintaimu Hingga Mentari Terkoyak Galih Ramdani

Capuccino, hari ini

Aku menarik napas dalam, mencoba menikmati atmosfer yang

berbeda di tempat ini. Tempat yang menarik, dengan beribu jenis bunga


106 tumbuh di sana-sini dan senyuman perawat yang tak jarang tersungging saat berpapasan denganku. Tempat yang selalu Bu Titin harapkan untuk kukunjungi. Sudah dua bulan sejak aku baca surat dalam amplop cokelat itu. Dan sejak saat itu juga, pikiranku selalu dikungkung oleh lelaki sendu itu namun baru kali ini aku merasa berada di garis kemantapan yakni mengunjunginya.

Setelah tadi sempat kutanyakan pada seorang perawat, di mana

pasien bernama Galih Ramdani itu sekarang berada. Aku bergegas menuju sebuah taman yang kelihatannya memang didesain oleh pengelola rumah terapi ini agar seluruh pasiennya dapat merasakan keleluasaan berpikir saat duduk di kursi taman sambil menikmati kicauan burung dan harumnya aroma warna-warni bunga mawar. Sejenak kuedarkan pandangan untuk menemukan sosok yang aku cari. Itu dia! Lelaki senduku sedang duduk memunggungiku dengan posisi sedikit menunduk. Sepertinya dia sedang serius membaca buku. Kuatur irama detak jantungku yang sedari tadi sudah berkontraksi lebih cepat, sebelum akhirnya kuputuskan untuk menghampirinya. “Capuccino!� bisikku di dekat telinganya sambil mengacungkan segelas Capuccino yang sengaja kubawa dari Cream House tadi pagi, entah masih hangat atau tidak. Dia mendongak, beringsut dari buku bacaan yang telah menyita konsentrasinya. Butuh waktu beberapa detik hingga ia bisa mencerna apa yang telah ada di hadapannya saat ini. “Nadia!� katanya kemudian berdiri memelukku. Dia membenamkanku dalam dadanya. Mengempaskan seluruh kehampaan dan kerinduan selama ini. Aku tak memberontak, hanya terdiam merasakan darah yang berdesir cepat dan berpacu dengan irama detak jantungnya. Dan hari ini, semua kejanggalan dan kegundahan terurai jelas layaknya komposisi secangkir Capuccino panas yang terdiri dari 1/3 espresso, 1/3 susu yang dipanaskan, dan 1/3 lagi mikrofoam. Namun pastinya berbeda


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

107

dengan uraian kami hari ini, komposisi yang terdiri dari 1/3 senyuman senja, 1/3 tatapan sendu, dan 1/3 terakhir adalah peraduan serpihan hati yang mampu membuatku menetapkan keberadaan ini dengan status “kami� karena aku yakin setelah ini ia akan menjadi bagian dari hidupku.


NUR HASANAH PRATIWI

Cangkir Kopi dan Puisi Terakhir Matahari bersinar cerah pagi ini. Tidak seperti hari –hari biasa di musim penghujan di tengah bulan September yang terlalu sering jatuh bebas ke bumi. Hari yang sangat cocok untuk merayakan sebuah kebahagiaan untuk seluruh manusia tak terkecuali diriku. Didepan gedung yang berlantai empat itu aku dikelilingi orang – orang yang kusayangi, dari sobat, saudara, dan tak terkecuali kedua orang tuaku. Hari ini adalah hari yang kutunggu – tunggu. Hari dimana masa depan cerah akan menyongsongku dan membawaku kedunia yang selama ini aku impikan. Hari yang sangat bersahabat ini adalah hari kelulusanku


110 dari pendidikan sastra dan tak lama lagi aku akan mewujudkan mimpi – mimpiku menjadi penulis yang terkenal seperti mereka – mereka yang kukagumi. Betapa leganya diriku melihat semua jerih payahku dimasa lalu tidak sia –sia dan membuahkan hasil yang memuaskan.

“Selamat ya, Sya. Akhirnya lulus juga ni sahabatku yang satu

ini. kamu curang ninggalin aku lulus duluan” kata sahabatku Ica dengan tampangnya yang pura – pura sedih karena aku lulus duluan dari dirinya.

“Makanya, ca. Jangan sering keluyuran aja lu. Gak selesai – selesai

kan kuliahnya. Kamu sih gak mau mengikuti sahabatmu yang rajin ini”. timpalku sambil terkikik.

“Halah, Sya. Kamu juga sering juga keluyuran ma aku. cuman

nasibmu aja yang lagi mujur lulus tahun ini. liat aja tahun depan aku bakal lulus dan nyaingi dirimu jadi penulis”. Aku hanya bisa tersersenyum geli melihat sahabatku yang merasa tertinggal oleh diriku. Saat sedang asyik – asyiknya bercerita dan bercanda Mama mamanggilku untuk segera pulang dan merayakan kelulusanku bersama mereka. Tanpa mereka mungkin aku takkan menjadi seperti ini. berdiri disini dan memiliki impian – impian seperti ini. Saat perayaan kelulusanku dirumah, bukan kabahagian yang aku dapatkan. Boro – boro hadiah yang menyenangkan yang kudapat, malah hadiah sebuah bencana yang tak pernah ingin aku dapat dan tepat saat itu menimpaku sekaligus membuatku shock. Sekeras apapun aku protes ke Papa, tak ada kata – kataku yang digubrisnya dan meluluhkan hatinya. Papa adalah seorang pengusaha kopi yang telah berdiri sejak lama dan telah memiliki banyak cabang di kota – kota lain. Dan berhubung aku adalah anak satu – satunya, akulah yang diberi tanggung jawab untuk meneruskan usaha kopi beliau dengan cara mengelola salah satu kedai kopi yang ada di kota ini. Aku hanya bisa menunduk pasrah dan


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

111

menerima kenyataan. Seketika mimpi – mimpiku jadi penulis pecah berantakan digantikan cangkir – cangkir kopi yang akan aku temui setiap hari. “Tasya, lebih cepat lebih baik. Jadi mulai besok kamu sudah bisa ngambil alih kedai kopi yang lagi Papa kelola. Oke ?” kata Papa dengan santainya. Padahal beliau gak tahu didalam pikiran putrinya ini, mimpinya kandas tak bersisa. “Iya, Pa. Terserah Papa aja deh” Jawabku dengan pasrah karena aku sudah tahu semuanya bakal percuma. *** Keesokan harinya, aku bangun dengan setengah sadar. Rasanya malas harus melihat langit yang kelabu dan hujan yang telah sejak kemarin malam menguyur kota. Kuambil air mandi dan bersiap – siap berangkat ketempat kerja baruku, yaitu kedai kopi tua yang menjadi favorit Papa. Kulangkahkan kakiku ditengah genangan – genangan air di sepanjang jalan. Terkadang aku harus menghindari cipratan air ketika kendaraan yang telah lalu lalang tak tahu diri di jalan raya. Akhirnya, berdirilah didepanku toko kopi tua yang telah termakan waktu. Terlihat bercak – bercak di dinding yang tak wajar. Sesekali tumbuhan liar tumbuh di pinggiran pagar. Dipelataran tumbuh pohon besar dan lebat yang semakin menambah suasana suram. Aku begidik melihat bangunan yang diwariskan Papa kepadaku. Sangat tidak layak untuk disebut sebagai toko kopi untuk para pecinta kopi. Kuputuskan untuk make over seluruh bangunan itu hari ini juga. Hari itu, akupun sibuk menjadi mandor di kedai kopi tua tersebut. Memerintah tukang – tukang Papa untuk memake over toko habis – habisan. Dari mengecat ulang tembok dengan warna yang lebih lembut, memperbaiki pintu, menata ulang meja kursi, dan yang paling penting


112 menebang pohon yang ada di depan kedai sampai dahannya tinggal beberapa. Akhirnya hari itu kuhabiskan dengan mendekorasi ulang kedai hingga sesuai seleraku. Dan kedai kopi pun resmi dibuka. *** Keesokan harinya, aku mulai menjalankan kedai kopi tersebut. Kuberi kesan yang menyenangkan agar orang –orang merasa nyaman dan menikmati kopi yang wangi racikan Papa. Mulai pukul 7, aku sudah membuka kedai tersebut. Entah mengapa rasanya menyenangkan melihat dekorasi kedaiku sendiri. Pagi itu cuaca tidak terlalu bagus untuk hari pertama ini. Langit masih tetap kelabu dan menjatuhkan titik air hujan. Tidak ada tanda – tanda matahari akan menampakkan sinarnya. Sambil menunggu pelanggan pertamaku, kubuka novel yang telah kubawa. Tak terasa aku telah tenggelam dalam bacaanku dengan secangkir latte yang hangat. Tiba – tiba ditengah kesibukanku, masuk seorang pria dan wanita yang basah kuyup bermandikan air hujan. Mereka menggambil tempat duduk didekat jendela. Kuhampiri mereka dan menanyakan pesanan. “Kedainya baru buka ya, mbak. Baru liat hari ini?”. kata pria yang sepertinya berumur pertengahan 20-an. “Iya. Hari ini pertama saya membuka kedai, dan kalian sebagai pelanggan pertama saya akan ada harga khusus” kataku menawarkan. “emmmm,,, aku pesan espresso deh satu. Kamu apa, Lin ?” tanya pria kepada wanita didepannya yang kutahui sebagai Linda. “aku pesan kayak biasanya aja deh, Ar. Mochacino”. kata wanita itu.

Kuulangi pesanan mereka dan membuat racikan kopi yang

telah mereka pesan. Walaupun aku belum terlalu mahir dalam membuat kopi, sejak remaja aku sering melihat Papa membuat berbagai macam kopi dan menjelaskannya padaku. Kopi aku hidangkan kepada mereka. Dan aku kembali ke belakang kasir dan membaca buku kembali. Tetapi


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

113

minat bacaku sudah sirna. Diam – diam kuamati pria dan wanita yang sedang bercanda tawa. Dimataku mereka adalah pasangan yang sangat serasi. Wanita yang kutahu bernama Linda sangat cantik dan memiliki pesona. Rambutnya panjang sebahu dan memiliki poni menyamping. Matanya memiliki nuansa coklat yang menyenangkan. Kulihat mereka sangat menikmati kopi mereka. Sang pria tidak henti – hentinya menyunggingkan senyum lebarnya dan memandang wanita itu dengan perasaan yang dalam.

Hujan masih belum juga reda. Mereka menambah pesanan kopi

mereka beberapa kali. Kulihat wanita itu terlihat gelisah dan melihat jam tangannya berulang kali seperti ada yang sesuatu yang menganggunya. Tak berapa lama kemudian hujan reda, dan wanita itu berdiri dan pergi meninggalkan pria itu. Sepertinya ada urusan yang mendadak, tapi mengapa aku harus mencampuri urusan mereka ?. Pria itupun membayar kopi yang mereka minum. Kulihat teryata mereka telah memesan 5 kopi masing –masing. Dalam hatiku, bagaimana mereka bisa begitu menikmati bercangkir – cangkir kopi ? ***

Pria itu kembali lagi keesokan harinya. Perawakannya yang

tinggi dan wajahnya yang khas blasteran hingga bisa memikat wanita manapun mudah kuingat saat dia masuk kedalam kedai. Tetapi dia hanya sendiri tanpa wanita yang kemarin menemaninya. Dia duduk di tempat yang sama seperti kemarin. Kuhampiri pria tersebut dan menanyakan pesanannya.

“Wah, anda datang kembali kesini. Mau pesan apa ?” tanyaku

basa – basi. padaku.

“Espresso satu” jawabnya singat dengan hanya tersenyum


114

“Baiklah. Mohon tunggu sebentar” kataku seraya masuk ke balik

mesin racik.

Setelah espressonya kuhidangkan, dia menikmatinya kopinya

dengan perlahan – lahan dan memandang ke depan dengan khitmat. Wajahnya begitu tenang dan teduh, tetapi ada sesuatu yang sepertinya menganggu pikirannya. Matanya menyiratkan sebuah kerinduan dan penderitaan. Dia alihkan pandangan ke luar jendela dan menghela nafas.

Kedai mulai ramai akan pengunjung. Aku sibuk melayani mereka.

Aku berpikir untuk mencari karyawan agar aku tidak teralu lelah setiap hari. Sudah satu jam lamanya sejak kedai buka dan aku sudah lelah. Kulihat pria yang sejak tadi pagi masih ada di tempatnya dan telah memesan 5 cangkir kopi seperti kemarin. Sebenarnya apa yang dia tunggu hingga selama ini? akhirnya kulihat dia beranjak dari kursinya dan membayar semua kopi yang dia pesan persis sama seperti kemarin.

Kejadian itu terus berlangsung selama hampir 3 hari. Tidak

hanya itu dia selalu mengambil tempat duduk yang sama dan memesan kopi yang sama setiap hari. Aku merasa heran dengan tingkahnya yang begitu aneh. Setiap dia duduk disana selama hampir 1 jam setiap harinya, tak ada apapun yang dilakukannya. Tetap menerawang tak jelas dan menatap ke arah jendela sesekali. Hingga hari keempat, dia menyapaku dan mengajakku menemaninya minum kopi.

“Bisakah kau menemaniku menikmati kopi? Aku merasa kesepian

harus setiap hari sendirian”. katanya padaku saat aku menghampirinya.

Kusanggupi tawarannya untuk menemaninya minum kopisekedar

untuk melayani pelanggan setia yang setiap pagi selalu datang. Tetapi dalam hatiku, aku penasaran juga dengan pria ini. Rasanya ingin mengetahui apa yang dilakukannya akhir – akhir ini. Kubuat espresso yang sudah kutebak akan dia pesan dan membuat secangkir Mochacino. Aku letakkan kopi di


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

115

depannya dan aku mengambil tempat diseberangnya. Selama beberapa saat kami terdiam tengelam dalam pikiran masing – masing. Tiba – tiba dia memecah kesunyian diantara kami.

“Rasa kopinya semakin berubah dilidahku. Apakah kamu tidak

merasakannya ? tanyanya padaku tiba – tiba.

“Maaf, tapi sepertinya espresso yang anda pesan selalu sama bagi

saya”. kataku tanpa bisa memikirkan jawaban yang lain.

“Mungkin hanya perasaanku saja ya. Emmm,,, itu mochacino

kan ? mengapa anda menyukainya ? tanya pria itu lagi.

Aku bingung harus menjawab apa karena jujur saja aku tak tahu

banyak tentang kopi dan aku hanya sekedar menyukainya.

“Jika kau bertanya tentang kopi, aku bukanlah seorang barista

yang akan menjawab pertanyaanmu dengan banyak alasan. Aku hanya sekedar suka saja. Mungkin itu seleraku”. jawabku sekenanya.

“Dia sama sepertimu. Hanya menyukai mochacino. Katanya

Mochacino ini tidak ada coklat didalamnya tetapi ada rasa coklat. Dan dia selalu bertanya –tanya darimana asal coklatnya?” katanya dengan muram.

Aku sudah tahu siapa orang yang dimaksudnya. Pasti wanita

yang dia bawa pertama kali kesini. Tak tahu dari mana keberanianku muncul. Aku memastikan pikiranku kepadanya.

“Apakah yang kau maksud adalah wanita yang bersama dirimu

saat itu ? mengapa dia tak pernah lagi kesini bersamamu.” kataku dengan hati – hati takut menyinggung perasaannya. Dalam hatiku, aku merasa tak enak dan merutuku diriku yang lancang menjarah daerah privasi orang lain yang malah baru saja kukenal. Aku merasa semakin tak enak karena dia diam beberapa saat.

“Kau pasti sudah tahu. Jika bisa aku mungkin akan bersamanya

setiap hari, saat ini, dan disini. Tetapi, selama apapun aku menunggu,


116 dan sesabar apapun sepertinya dia tidak akan datang lagi. Mungkin ini semua percuma, tapi tak ada yang percuma jika untuknya”.

Aku ikut prihatin melihat keadaannya yang sepertinya telah

putus asa dan hilang harapan. Ingin rasanya aku menyemangatinya dan memberitahunya bahwa dia tak pantas menunggu sesuatu yang tidak ada kepastian. Tetapi bukan hakku untuk mengatakannya dan membuatnya lebih merasa tak berguna. Ditengah – tengah kesunyian kami, pelanggan masuk dan aku terpaksa meninggalkannya untuk melayani pelanggan. Saat aku sedang membuat kopi, pria itu menghampiriku.

“Terima kasih atas kopimu selama ini dan mungkin setelah ini

kita tidak akan bertemu lagi dalam waktu yang lama. Jadi jangan khawatir, aku takkan menganggumu lagi setiap pagi”. Katanya sambil menyerahkan uangnya kepadaku. Aku hanya bisa bengong melihat kepergiannya dan tak tahu maksud dari kata – katanya barusan. Saat aku membereskan meja – meja, kulihat ada secarik kertas di meja pria tadi. Kulihat tertulis puisi di kertas putih itu. Kata –katanya tidak terlalu indah, tetapi jujur dan penuh perasaan. Dibawahnya ada tambahan pesan yang kubaca dan langsung kumengerti artinya. Kusimpan kertas itu di dalam laci kerjaku dan melanjutkan bersih – bersih. ***

Sudah 2 hari dia tak datang lagi ke kedai seperti biasanya. Ternyata

benar akan kata – katanya waktu itu. Ada sedikit perasaan kesepian yang melandaku. Biasanya hanya dia yang mendatangiku di pagi hari, tetapi sekarang hanya angin yang samar – samar bertiup di halaman kedai yang menemaniku. Aku buka kembali bukuku yang telah lama terbengkalai karena kesibukan baruku. Baru beberapa saat saja aku membaca. Pintu kedai berderit terbuka. Kukira pria itu datang lagi ke kedaiku dan tidak jadi pergi. Tetapi yang kulihat bukanlah dirinya, tetapi wanita yang waktu


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

117

itu bersamanya saat hari pertama. Kulihat dia melihat sekeliling kedai dan terlihat kecewa tidak menemukan apa yang dicarinya. Dia mengambil tempat yang sama seperti hari pertama dan diam tanpa memanggilku untuk memesan. Beberapa menit, berlalu dan dia tetap tak bergerak masih ditempatnya. Tanpa perlu dia memesan kubuatkan Mochacino untuknya. Kuletakkan cangkir tersebut dihadapannya. Terlihat raut mukanya bingung sekaligus terkejut dengan tindakanku. Aku hanya tersenyum dan kembali ke balik kasir.

Tiba – tiba aku ingat sesuatu, aku ambil secarik kertas yang

telah 2 hari berada di situ. Aku hampir wanita itu yang sedang menyesap kopinya.

“Kalau tidak salah andakan yang bernama Linda ? tanyaku

retoris. Padahal aku sudah tau pasti bahwa itu adalah dirinya.

“Benar, bagaimana anda tahu nama saya? padahal saya hanya

kesini sekali”. katanya dengan bingung.

“Maaf, tapi saat itu aku tak sengaja mendengar namamu disebut

oleh pria yang waktu itu bersamamu”. kataku jujur.

Terlihat dia terkejut dengan perkataanku dan menanyakan

tentang pria itu. Aku hanya mejawab sekananya saja.

“Apakah anda sedang menunggunya sekarang ?” tiba – tiba aku

menanyakan padanya.

“Iya, aku menunggunya sekarang barangkali dia juga akan datang

hari ini. Karena aku tahu dia sangat suka kopi dan kedai ini telah menjadi favoritnya sejak pertama kali. Apakah kau tahu kira – kira kapankah ia akan datang ?”

“Aku sangat menyesal mengatakannya. Tetapi sepertinya

penantianmu akan percuma. Dia sudah tidak datang lagi sejak 2 hari yang lalu dan sepertinya dia meninggalkan ini untukmu”. Aku serahkan kertas puisi itu padanya. Kulihat dia membacanya dengan rasa penuh


118 keterkejutan. Kulihat matanya mulai berkaca – kaca. Tetapi semuanya telah terlambat dan tidak ada dapat yang mengubahnya lagi, kecuali takdir yang mengubah mereka. *** Cangkir pertama,, Kusesap kopiku perlahan Merasakan hangat yang menjalar dalam jiwa Hatiku pun terasa ikut menghangat Karena dirimu yang ada dihadapan Diam tak bergerak, duduk manis mengemaskan Pesonamu sungguh tak dapat terelakkan Sungguh indah didepan mata Cangkir kedua,, Semakin aku merasa kecanduan Akan rasa yang ada dalam dada Terasa semakin melonjak – lonjak riang Karena dirimu yang luar biasa Mata coklatmu telah mengartikan Duniamu yang begitu luas Aku berusaha menjangkaunya Dan tak tahu apakah mampu dalam jangkauan Cangkir ketiga,, Kugoyang – goyang dengan gelisah Menantikan kata yang akan terucap Yang mungkin akan membawa perbedaan dalam sekejab Mungkinkah kau akan menerimanya Dan mengisi ruang kosong didalamya Tetapi, tak tertutup kemungkinan kau menolaknya Secara mentah – mentah Dan memberikan kehampaan Cangkir keempat,, Lidahku mulai mati rasa Tak ada yang dapat terucapkan Ketakutanku terbuktikan, kehampaan menyerang Yang ada dalam pandangan Hanya punggungmu yang berbalik arah Meninggalkan semuanya, meninggalkan luka Cangkir Terakhir,, Berusaha ku tenggaknya


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

119

Dengan rasa ikhlas dan lapang dada Masih dengan rasa sabar Mengharapkan sebuah kesempatan Sabar menunggu dan menunggu Akan kembalinya sebuah harapan Jika memang tak kunjung datang Aku hanya bisa melepaskan, membiarkannya terbang bersama angan – anggan Tetapi, satu hal yang pasti diriku tetap disini takkan hilang kesabaran kuletakkan cangkir kosong terakhir dan berharap kembali terisi Teruntuk : Wanita yang menyesap kopinya bersamaku, yang sangat menyukai Mochacino dan tak mau kopi yang lain. Tunggulah aku jika kau mau. Jika kau tak sanggup lagi pergilah seperti angin lalu yang berhembus. Tetapi, satu hal yang pasti. Aku akan menunggumu sampai kepastian datang darimu. Akan kutunggu kepastianmu di Negeri Kopi. Dari: pria yang menunggumu selalu di kedai kopi.


120


VITA FITRIA RAMADHANI

SELAKSA Sial! dingin ini membuat jaringan kulit jangatku hampir mati rasa, saraf-saraf krause yang tersebar di sekujur tubuh adalah saksinya. Mereka makin memerah, menyala, bahkan sangat merah hingga aku takut dimakannya pula ragaku yang baru seperempat abad hidup. Kalau bukan karena pembunuh bayaran berdarah dingin itu, mungkin hidupku takkan pernah berakhir disini. Di tempat di mana rasa yang paling kubenci dianggap suatu kekekalan dan sikap yang menurutku biadab malah dijadikan tradisi. Di sinilah aku, mencoba bertahan hidup sekuat-kuatnya sambil menunggu bala bantuan yang tak kunjung datang.


122 Rohan, 62 Masehi Rencana pembangunan katedral St. Lupin di tengah-tengah lapangan merah itu sontak membuat publik Rohan tersengat halilintar 9999 volt. Bagaimana sanggup Kaisar kami yang terhormat membangun katedral mewah nan megah di tengah-tengah musim paceklik yang melanda rakyat jelata. Orang-orang masih ramai membicarakannya di pasar, saat aku pulang belajar dari villa baru Prof. Havlinkovich. “Hey anak muda!” Aku menoleh, namun yang ada hanya sekerumun masyarakat kumuh yang berbincang di belakangku.Tanpa ragu, aku kembali melangkahkan kaki dengan santai. Jemariku kini sangat dimanjakan oleh tas kulit buaya yang permukaannya selalu jadi pelampiasan amarah atas semua aneka kejadian yang sama sekali tak pernah kuinginkan, tak pernah terbesit sedikit pun. Perbuatan nonmanusiawi terhadap tas masih tetap berjalan normal. Kucuili, kutarik-tarik, kutekuk, kuhempaskan, bahkan jika hanya tas itu dapat berbicara, mungkin hanya cercaan dan cemoohan yang akan ia lemparkan padaku, si penganiaya tas. “Tali tas itu lama-lama akan rusak juga anak muda. Sama sepertimu!” Seorang pria bertubuh kekar besar, dengan rahang kuat dan gigi mantap menyapaku kasar. Urat-urat syaraf yang keluar di sekitar dahinya, tangannya, bahkan matanya menyiratkan bahwa dia bukanlah orang yang dapat diajak bercanda ringan. Aku tetap berjalan, seolah-olah dia tak pernah menyapaku sebelumnya. “Mau kemana kau? Sini, ada sesuatu yang harus kita bicarakan sebagai dua orang lelaki dewasa.” Dengan ringan dia menarik badanku yang hanya seberat 76 pon sampai aku hampir setengah melayang. Tak jauh dari pasar itu, ada sebuah gubuk jerami lusuh berwarna hitam akibat jelanga yang terusterusan mengeluarkan asap. Dengan suara yang dihalus-haluskan, dia


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

123

menyilahkanku untuk masuk ke dalam istananya itu. Saat pertama kali kakiku menginjakkan kaki di dalam gubuk lusuh miliknya, banyak hal yang membuatku tercengang. Mustahil rasanya, terdapat singgasana, kurtain marun emas menghiasi jendela, lampu ruang dansa di langit-langitnya, karpet merah, dan pilar-pilar yang terlampau lebih bila hanya dijadikan penyangga gubuk lusuh dekat pasar. “Mendekatlah, George ingin melihatmu lebih dekat”, tangan besarnya lagi-lagi mendorong tubuh mungilku yang setengah was-was. George siapa? Aku melangkah malu-malu, separuh berjaga-jaga bahwa mungkin saja mereka, pria dempal dan George adalah kaum kanibal. Sungguhpun aku tak pernah ingin untuk dengan cuma-cuma menyetor nyawa ini pada siapapun, biar statusku sudah jauh merosot. Dan sampailah, aku berhenti tepat di depan singgasana emas yang membelakangiku. Samar-samar terlihat kobaran api dari tungku terpancar ganas, di sela-selanya kilau intan permata mengkilat dari mahkota bertingkat tiga yang sulit untuk tidak kupuji keelokannya. “Jadi kau, Kevin putra Odin. Anak lelaki yang dibesarkan atas darah peperangan di Abraha. Tulang yang ditempa dari besi dan darah dari anggur. Putera mahkota kebanggaan Abraha.” Kalimatnya tercekat pada kata ‘Abraha’, tempat yang sangat ingin kulupakan. Tempat dimana orang-orang yang sangat mengharapkanku akhirnya harus tertunduk malu atas semua perbuatanku. Tempat dimana aku terakhir menggeliat, dan bersumpah tak akan pernah kembali ke singgasana sebelum membersihkan nama baikku dan keluarga kerajaan. “Hai George! Untuk apa kau repot-repot menyuruhnya menjemputku demi datang ke istanamu yang bahkan lebih elok dari Abraha.”, kataku lantang. “Aku yakin kau takkan menolaknya Kevin, jika saja kau tahu hal yang


124 akan kita bicarakan.” “Kalau yang kau maksud adalah merebut tahta kerajaan, maaf aku tak berminat.”, sahutku sambil ingin cepat-cepat melenggang keluar. “Meski demi membersihkan nama baik?” Langkahku terhenti seketika, bertahun-tahun aku mencari cara terampuh untuk melakukannya, namun tetap tak bisa. Orang-orang tak pernah benar-benar memercayaiku sebagai putera mahkota Abraha hanya karena ragaku yang tak lagi dewasa. Tujuh tahun lalu, saat pesta ulang tahunku ke-17, ada seorang penyihir Mesir datang untuk memberiku hadiah yakni sebuah teka-teki. Penyihir itu bernama Jahal, seorang aristokrat memberitahuku agar berhati-hati dalam menjawab pertanyaannya. “Hai Jahal! keluarkan semua pertanyaan terbaikmu, niscaya aku dapat menjawabnya dengan sempurna.” “Baiklah, aku hendak menanyakan sesuatu. Apa tiga barang kesukaan Raja Odin, ayahandamu sendiri?” “Hahaha. mudah sekali. Pastilah pedang, tombak, dan panah untuk berperang.” “Bagaimana kalau kita tanyakan pada Yang Mulia Raja Odin?”, kata Jahal sambil meminta pendapat ayahandaku. “Maaf Kevin, jawabanmu salah.”, jawab ayah sembari dahinya berkerutkerut tua. Tiba-tiba aku merasa bahwa tubuhku kian memampat, tinggiku merosot, dan mataku berkunang-kunang. Jelas aku mendengar suara ledakan tawa Jahal dari bawah singgasanaku. Dan samar-samar Jahal merenggut mahkota yang terlalu besar di kepalaku. “HAHAHA! HAHAHA! Kevin, Putera Mahkota Abraha. Tercerdas dari yang tercerdas, akhirnya takluk atas pertanyaanku. HAHAHA!” “Tapi, ada apa denganku? Kenapa aku badanku jadi kecil begini?”


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

125

“Kau memang pintar Pangeran, namun kau tak cukup pintar untuk menanyakan konsekuensi apabila kau tak sanggup menjawab pertanyaanku ini. Kau tentu telah belajar bahwa ketika seorang pangeran tak mampu menjawab pertanyaan rakyatknya, maka secara ajaib gelar kerajaannya akan hilang. Ditambah dengan konsekuensi yang diajukan oleh si penanya.” Tidak mungkin. Tidak mungkin. Abraha akan hancur jika Jahal yang menguasainya. “Kau memang seorang nasionalis, tapi cukup bodoh untuk menjadi seorang calon Raja Negeri Abraha. Sekarang pergilah dan jangan kembali lagi! HAHAHA!” Saat itu, aku melihat air mata penyesalan, binar mata yang menyurut, harapan yang sirna. Aku melihat rona keputusasaan yang kental, sampai aku benar-benar telah berada jauh di luar Abraha dan terdampar di Rohan. Pembunuh bayaran Jahal mengejarku sampai akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk berlabuh di Rohan dan belajar dari Profesor Havlinkovich. “Bagaimana Kevin? Kita bisa bekerja sama bila hanya kau mau.” Antara percaya dan gundah, senang dan curiga, aku dan semilyar sel di ragaku menyuarakan satu kata, dan kekuatannya tak bisa kutahan lebih lama. Seketika dari mulutku meluncur kata ‘SETUJU’ yang kuanggap sebagai batu loncatan demi kembali pulang ke Abraha. George nyengir puas. *** Perilaku George sangat berbeda dari pikiranku semula, dia telah menyuguhiku dengan makanan dan minuman terbaiknya. Alur pembicaraan yang sangat menyenangkan, berbagai kisah-kisah kami yang ditulis dalam sejarah, sampai rencana perluasan wilayah kekuasaan. Aku


126 sungguh takjub atas luasnya pengetahuan yang dia miliki perihal seluk beluk Abraha. Untuk ukuran orang asing, dia cukup teliti dan cermat. Aku mulai besimpati padanya. Suatu saat, jikalau aku berhasil merebut tahta mahkota Abraha, aku pasti akan bekerja sama dengannya. Seorang yang begitu jujur dan bijaksana. Sesuai dengan permintaannya, aku membuka bingkisan mungil yang dia berikan ketika sampai di rumah. “Begitu kau menemukan apa yang dimaksud, kau akan mengerti.�, kenangku atas ucapan keramat George tadi siang. Lapis demi lapis kotak kubuka, bingkisan ini benar-benar menyerupai Matryoshka. Sampai di lapisan terakhir, terdapat tiga bola berwarna merah, kuning, dan biru. Jika ketiga warna ini digabungkan, maka akan membentuk warna dasar bendera Abraha. Bola merah adalah bola pertama yang ingin kubuka. Kuputar-putar separuh bagiannya dengan arah berbalikan, namun tak mau terbuka. Kulempar, kupukul-pukul, kubelah dengan pisau sekalipun tak mau terbuka. Akhirnya kuputuskan untuk membenamkan bola itu dalam air di kamar mandi, berharap bola itu akan meledak dengan sendirinya. Di luar dugaan, malah muncul sebuah kalimat terukir dengan tinta hitam pekat di atasnya. Dari bentuknya, aku dapat mengetahui bahwa huruf ini adalah huruf Abraha kuno. Ich nema, tor huyae kuiropw. Ihjut Berwq, xlinosta brieowm. Feroyytua Bliwqiur me inamo tes ire.

Yang menurut hasil terjemahanku artinya adalah “Dengan kertas dan tinta yang tercurah. Setiap lembarnya, bercerita padamu tentang sejarah. Atas nama dan darah hitam dari lautan.�


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

127

Tanpa buang waktu, aku mencoba untuk menemui Professor Havlinkovich dengan segera untuk berkonsultasi. “Bagus Kevin! Bagus sekali! Kau telah menemukan artefak langka Abraha yang hampir punah, ngomong-ngomong darimana kamu mendapatkan ini?” “Ceritanya panjang Prof, tidak mungkin saya ceritakan semuanya.” Aku menunggu respon Professor Havlinkovich yang kian mengerutkan dahi dan terkadang berdecak kagum atas temuanku itu. “Ambilkan aku sebuah buku, Kevin!” “Buku? Untuk apa?” “Sudah, ambilkan saja Chronicles of Abraha!” Buku dengan tebal 1000 halaman yang sudah tua ditutupi debu itu tetap mengebulkan debunya walaupun telah kuletakkan dengan sangat lembut di atas meja. “Lebih dekat! lebih dekat, Kevin!” Kedua benda itu, entah karena apa, seperti terjadi hubungan kimiawi yang menyatukan keduanya. Bola merah itu sedikit demi sedikit bercahaya merah, semakin lama semakin merah, sampai akhirnya cahaya tak terbendung dan menutupi permukaan bola. Silaunya kejap dan berakhir, saat berkas cahaya hilang, bola itu juga musnah. “Profesor, apa artinya ini semua?” “Kau telah memecahkan satu teka-teki kuno Abraha, Kevin. Selamat!”, kata Profesor Havlinkovich sambil menepuk-nepuk bahuku dengan bangga. “Apa kau masih punya teka-teki yang lain Kevin?” “Ada dua lagi Profesor, tapi aku tak cukup yakin untuk memecahkan keduanya.” “Kenapa kau masih saja khawatir? Ada dua orang genius berdiri bersama untuk memecahkan teka-teki ini, hahaha.”


128 “Terima kasih banyak Profesor.”, sahutku diam-diam mengagumi semangat Profesor Havlinkovich yang tengah membara. Bola kedua, bola kuning jadi pilihanku. Aku ingin mengulangi apa yang telah kulakukan pada bola pertama yakni membenamkannya di air. Namun, selang beberapa waktu, tak ada yang terjadi. Aku benar-benar bingung. “Kevin, apa warna bola pertama?” “Merah, Prof. Ada apa?” “Jika merah yang merupakan lambang api kau celupkan ke dalam air yang merupakan rivalnya, dia sanggup bereaksi. Mengapa tak coba lakukan hal yang sama dengan bola kuning ini.” “Genius! Benar sekali Profesor, kuning adalah lambang bumi, dan oposisi bumi adalah.... udara!” Aku meniup-niup udara halus ke permukaan bola kuning itu, dan memang benar tulisan-tulisan itu keluar lagi. Namun kali ini, aku harus memastikan udara yang kutiupkan cukup kencang untuk membuat kalimat-kalimat itu muncul dan terbaca jelas. Qureo la postian, vivier de ulna. veroga bes terew kund grepita. horne duhar thuewop “Coba kau terjemahkan, Kevin.” “Air terjun, ke dalam raga manusia. Anggur atas dewa demi air hitam untuk manusia. berjayalah dalam kesegaran terjaga.” “Lantas apa yang terlintas dalam benakmu, Kevin?” “Sepertinya....” Dengan sigap aku berlari ke dapur, mengambil cangkir keramik, tiga sendok bubuk kopi Rohan, dan air hangat secangkir penuh. Aku kembali


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

129

ke ruang kerja Profesor Havlinkovich dengan semangat gigi tiga. Kudekatkan larutan kopi ke dekat bola kuning, dan sesuai dengan dugaanku bola kuning itu mengeluarkan berkas cahaya yang amat berkilau dan menghilang. “Kopi! Brilian anak muda! Brilian!”, seru Profesor Havlinkovich suka cita. “Mari kita selesaikan teka-teki terakhir, Profesor!” Kuambil bola biru, bola terakhir yang ada di dalam bingkisan. Penentu hidup mati dan perubahan nasibku selama ini, akankah menjadi lebih baik atau lebih buruk. Aku berpikir keras, mencari rival mutlak warna biru. Pertama, aku memikirkan warna merah yang berarti api. Namun setelah kudekatkan pada perapian, bola itu tetap tak mau memuntahkan kalimat-kalimat ajaibnya. Kudekatkan pada air, bola itu malah semakin menutup diri. Meniupkan udara lembut pun tak berefek pada bola biru super keras kepala ini. Sampai aku menyerah untuk menyelesaikan tekateki terakhir ini. “Aku tak tahu, Kevin. Kurasa hanya anggota kerajaan Abraha-lah yang mengerti tentang ini.” “Pasti ada Prof, pasti kau tahu sesuatu! Katakan Profesor, aku mohon!” “Maafkan aku Kevin, tapi hal ini terlampau sulit untuk diterjemahkan dengan bahasa sederhana.” Tidak mungkin. Padahal tinggal selangkah lagi, aku dapat mengembalikan semua kejayaan dan keselamatan rakyat Abraha seperti sedia kala. Aku menyesal sedalam-dalamnya, mengetahui bahwa aku telah gagal dan akan terus gagal. Aku memukul-mukul meja ruang kerja Profesor Havlinkovich sembari menyeka air mata yang tak tertahan lagi. “Sudahlah Kevin, masih ada harapan untuk kita semua. Janganlah berputus asa!”


130 “Tapi aku telah gagal, Profesor! Aku telah gagal!” Tak henti-hentinya aku memukuli diriku sendiri yang begitu bodohnya membiarkan semua kesempatan berlalu begitu saja. “Apa hal yang paling kau sukai, Kevin?” “Kembali ke Abraha dan meneruskan tahta!”, jawabku gamblang. “Bukan, bukan itu maksudku. Sesuatu yang paling kau gemari saat kau merasa tak ada jalan lain untuk keluar.” “Aku suka menulis puisi, Profesor.” “Kenapa tak coba mendekatkan puisimu pada bola ini?” “Apa benar-benar bisa?” “Kamu tak akan mengerti kalau belum mencoba. Coba dan percayalah!” Kudekatkan karya tulis puisiku ke arah bola biru itu, tetap tak berefek. Selang beberapa menit, cahaya biru mulai terpancar dari dalam bola. Aku yakin dengan apa yang dikatakan Profesor Havlinkovich. Cahaya itu makin kuat keluar, dan aku makin memercayai semua ini. Pancaran cahaya yang begitu besar menelanku hingga aku merasa bermandikan cahaya. Dan saat aku membuka mata, aku mendapati diriku sendiri berpakaian mewah duduk di singgasana Abraha dengan mahkota yang benar-benar tersemat di kepalaku. Semua rakyatku berkumpul dan tersenyum bahagia melihat Putera Mahkotanya kembali. Namun di atas semua itu, ada seseorang yang membuatku jadi orang paling bahagia di dunia ini, ayahandaku. Aku berbisik, “Yah, mengapa tiba-tiba aku bisa sampai disini?” “Kevin, apa tiga benda yang paling disukai ayahandamu?” “Buku, Kopi, dan...” “Dan..?” “Puisi..”


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

131

“Bagaimana kau tahu bahwa aku suka puisi, Kevin?� “Sederhana, karena aku menyukainya juga, Yah!�, jawabku sambil memeluk erat ayah juara satu seluruh dunia. Ayahandaku. Aku tak pernah peduli tentang nasib Jahal yang dipenjara ataupun sihir yang membelengguku tujuh tahun lamanya. Belakangan kuketahui bahwa George adalah kakak tiriku, rupanya dia yang mengirim Jahal untuk mengusirku dan membantuku untuk merebut tahta Abraha kembali. Profesor Havlinkovich telah menggapai cita-citanya untuk mengajar di Universitas Abraha. Semuanya bahagia dengan buku, kopi, dan puisi bercangkir yang kunikmati bersama orang yang kusayangi, orang yang harusnya kukenali mendalam, Ialah Raja Odin Yang Agung, Ayahandaku. Karena ada selaksa kisah hidup yang harusnya kuhabiskan bersama beliau. Karena kami ada selaksa kehidupan. Karena kehidupan adalah selaksa. Dan selaksa takkan pernah mengeliminasi kehidupan. Dan saat aku merogoh sakuku, kutemukan satu kata termanis yang pernah kubaca dari bingkisan George. Seketika aku paham, ada banyak orang harus lebih kukenal, mungkin benda ajaib macam buku, kopi, dan puisi bercangkir itu dapat menolongku lagi.

Pojok Perpustakaan, 16 Maret 2012


132

Buku, Kopi, dan Puisi Bercangkir-cangkir W.Muttaqien Ahmad

Tema yang diangkat dalam lomba cerpen ini adalah moto Kedai Sinau. Secara mengejutkan tema tersebut menjadi sesuatu yang sangat impresif, sebab bukan hanya diksi yang digunakan secara telanjang mengandung tiga kata yaitu buku, kopi, dan puisi. Namun juga secara utuh ketiga kata tersebut dirangkai menjadi sebuah ide yang jauh dari ‘keterlibatan Kedai Sinau sebagai sebuah tempat’. Imajinasi secara liar menjauh dari ide tentang sebuah tempat yang bernama Kedai Sinau atau yang mirip dengannya, walaupun ada beberapa kisah yang mengisahkan tentang sebuah kafe atau mengambil setting di sebuah kafe. Namun, sekali lagi hanya sebagai sebuah setting, bukan ide utama cerita, sebab itu kumpulan cerpen ini dianggap berhasil mengembangkan gagasan. Tema ini diangkat berdasarkan tujuan mempromosikan kembali Kedai Sinau sebagai sebuah ruang yang memberikan layanan literasi bagi penggemar sastra dan budaya dalam arti luas di kota Malang. Dalam perjalanannya Kedai Sinau akhirnya menginisiasikan Akademi Sinau, sebuah perkumpulan pekerja kreatif yang salah satu layanannya adalah memberikan workshop penulisan kreatif yang bertujuan ‘mengenal diri’. Rata-rata cerpen dalam kumpulan ini berkisar 5-10 halaman kertas ukuran A4 dengan spasi 1,5 dan font 12. Dengan ruang yang terbatas ini (salah satu syarat lomba adalah panjang cerpen kurang dari 2.500 kata), maka terbayang tingkat kesulitan menyatukan tema dengan kecerdasan menjalin cerita. Walaupun sekarang ada istilah ‘fiksi mini’ yang kurang dari 100 kata per kisah. Namun, dalam lomba cerpen ini tidak ada satu pesertapun yang mengambil ‘gaya penulisan’ fiksi mini.


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

133

Pilihan atas cerpen mana yang lolos seleksi atau tidak dapat dibaca dalam tulisan Sudibyo di muka, Cerita Pendek yang Memesona. Setidaknya ada dua kategori yang dijadikan dasar kuratorial (1) Secara teknik penulisan matang-artinya penulis menguasai teknik penulisan mulai dari penokohan, plot, setting, dan gaya bahasa. (2) Memberikan inspirasi bagi pembacanya, terutama pembaca dari kalangan peer groupnya. Dua kategori di atas inilah yang menjadi penapis dalam kumpulan cerpen ini. Lepas dari segala kekurangan dalam setiap cerita (sekali lagi dalam konteks lomba untuk pemula tidak terlalu penting), perlu (kembali) ditekankan bahwa ‘wilayah pengarang’ adalah ‘mencipta’. Chairil Anwar pernah berucap bahwa “mencipta adalah kerja menimbang, memilih, mengupas, dan kadang-kadang sama sekali membuang. Sesudah itu mengumpul satukan/kerja keras menemukan dunia baru kepunyaan sang penulis itu sendiri” (Chairil Anwar, 1943). Menulis untuk ‘mengenal diri sendiri’ adalah kerja keras untuk menulis dengan jujur. Menang bukan segalanya, dalam tradisi pendidikan yang menjadikan kemenangan adalah segalanya maka muncul budaya mencontek atau plagiarisme. Di sisi lain ada juga budaya yang lebih menghargai ketertundukan murid pada sebuah sistem atau stempel ‘anak baik’ dibandingkan secara inovatif menjelajah impuls ‘anak muda’ untuk berontak dan menemukan jiwa dan semangat jaman mereka sendiri, seperti kutipan dalam cerpen Esok, “Hidup di dunia tanpa keberanian, Ibarat memasuki perpustakaan tetapi tidak bisa membaca.” Dalam kumpulan ini kita akan sejenak melancong, menjelajah berbagai imajinasi ‘remaja’ yang sebagian besar memperlihatkan keriangan, optimisme, dan daya lenting untuk bangkit (kecuali mungkin cerita dalam Seduhan Yang Berbahasa- yang cenderung noir - pesimis dalam menerjemahkan ‘pahit’). Lainnya seperti Lacuo, Selaksa, Gadis


134 Rembulan ‘melampaui pengalaman umur remaja mereka’. Beberapa cerpen seperti Esok, Secangkir Untuk Yang Tercinta: Ibu, dan Terjerat Wajah menggambarkan kedekatan penulis dengan dunianya, seperti usaha untuk mengenal lebih baik orang-tua, memahami konflik antargenerasi, memahami kawan sebaya, sesuatu yang khas-yang ada di benak remaja. Perwatakan yang khas, muncul lewat gaya tutur langsung dan tak langsung, seperti dalam Intuisi Serpihan Hati tokoh Ratih digambarkan lewat narasi tokoh Nadia, merupakan contoh gaya tutur yang tak langsung (showing). Artinya dalam beberapa cerpen, seperti Perihal Kisah Beraroma Kopi, tokoh-tokoh dalam cerpen berhasil dihidupkan lewat perantaraan tokoh lainnya. Selain dari kedua cerpen di atas yang menggunakan metode campuran (telling dan showing), rata-rata metode bercerita menggunakan metode tuturan langsung dari pengarang (telling). Ada beberapa cerpen menggunakan metode surat-menyurat dalam mengungkapkan maksud dan menyampaikan pesan dari tokohnya atau berbicara kepada masyarakat (publik pembaca) lewat teknik kutipan (dipisahkan lewat dari cerita atau membuat impresi pada cerita dengan kalimat yang ditulis miring). Perwatakan ini penting jika dihubungkan pada potensi kreatif penulisan selanjutnya, ketika imajinasi semakin bergerak leluasa. Umar Yunus (1981) menyatakan bahwa kekuatan imajinasi membebaskan suatu karya dari keterikatannya terhadap suatu peristiwa. Makin rendah kadar imajinasinya makin dekat hubungannya dengan peristiwa konkrit. Dalam cerita yang memiliki kadar imajinasi rendah kemungkinan adanya kesamaan dalam dua karya atau lebih besar sekali. Mungkin, lewat pernyataan inilah timbul kategori ketiga yang tidak sengaja berperan dalam penapisan cerpen dalam kumpulan ini, pun ketika sebuah tema besar yang bukan saja dekat pada sebuah peritiwa dan tempat tertentu


Lacuo dan 9 cerpen pilihan lain

135

yang dijadikan tema (seperti tema dalam kumpulan ini: buku, kopi, dan puisi bercangkir-cangkir). Dengan semakin maraknya perlombaan penulisan puisi atau prosa di jejaring sosial berbasis virtual, bertumbuhan pula keberanian yang dibutuhkan untuk menyumbang pada kemajuan sastra. Akademi Sinau bermaksud menjadikan ajang lomba, yang nantinya didahului oleh workshop penulisan kreatif untuk membangun semacam infrastruktur di dalam komunitas khususnya pelajar, sehingga energi kreatif yang ada dapat menjadi ledakan berantai. Kami ingin memulainya dari usia dini. Kedai Sinau, Mei 2012


Biodata Penulis

Axellina

Muara Setyanti

Lahir 24 Februari 1994 di Jombang dan tumbuh disana, sampai harus pindah ke Malang untuk melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Atas . Selain menulis, gadis yang lebih akrab disapa Axell ini juga menyukai fotografi, jalan-jalan, dan wisata kuliner. Beberapa cerpennya telah dimuat di majalah remaja dan memenangkan lomba menulis. Penggila warna merah muda dan motif floral. Kenal lebih dekat lewat akun twitternya @AxellinaMuara atau e-mail : axellinamuara@yahoo.co.id

Nur Wijaya

Memang benar, lahir pada tanggal 3 Agustus 1995, sosok “bocah” asal Blitar, Jawa Timur satu ini, menyadari bahwa kesuksesan itu diawali dari sebuah hubungan dan jaringan. Di era digital ini, Nur Wijaya mencoba memasuki rana “tulis - menulis” sejak jenjang pendidikan SMA. Berkomunitas di antara orang – orang hebat dan inspiratif di sekolah dan asramanya, “Jaya”, panggilan akrabnya, mengutarakan motto hidupnya, “Jangan pernah takut selama kamu benar!” Berasal dari background keluarga yang telah menanamkan nilai – nilai kesopanan dan berorientasi tinggi akan suatu cita, Jaya terkesan lembut dalam sikap. Dengan persepsi teman – teman di sekitar yang

136


menganggap bahwa Jaya adalah figure cowok yang tidak begitu macho, Jaya berusaha untuk tetap menjadi apa adanya –diri sendiri- dan kuat dalam tindakan. Karena itu semua, Jaya juga berharap bahwa nama panggilannya tersebut tidak akan hanya menjadi “merek”, tetapi suatu “bunyi mengesankan yang bermakna, manis, dan penting di dalam bahasa dan telinga maupun”.

Galih Ramadan Suwito Lahir di Surabaya pada 28 Januari 1996. Putra pertama dari Drs.Suwito dan Ninik Sumiyanti,S.Pd. Pada tahun 2000, Ia berpindah rumah dari Surabaya ke Magetan hingga sekarang. Sangat terobsesi dengan ilmu alam, terutama fisika dan matematika. Aktif menulis melalui blog sejak tahun 2008, www.grites.co.cc. Remaja yang bercita-cita menjadi insinyur dan penulis ini, sangat mencintai dunia kepenulisan. Mulai dari cerpen hingga Karya Tulis Ilmiah. Berusaha memadukan ilmu ! alam dan ilmu sastra adalah kegemarannya saat ini. Belum banyak karya yang Ia hasilkan. Akan tetapi, Ia selalu optimis bahwa suatu saat karyanya dapat merubah bangsa, bahkan dunia yang sedang dalam berbagai masalah ini. “Jika Anda membaca halaman ini, berarti salah satu karyaku telah sedikit membuatku bangga”. Ia berharap karyanya mendapat apresiasi dari orang lain, yang terpenting adalah bermanfaat. “Karya yang hebat bukan berasal dari pembuatnya, namun apresiasi pembacanya”. E-Mail :galihrsuwito@gmail.com Website: www.grites.co.cc

137


Muhammad Abdul Manaf

Cowok berbintang Gemini ini lahir di Kediri pada 10 Juni 17 tahun silam. Terlahir dalam keluarga yang lulusan tertinggi hanya SMA malah membuatnya semangat untuk membuat masa depan yang lebih baik. Dalam kelurga itulah dia menjadi suka membaca dan menulis. Cowok berbintang Gemini ini biasa dipanggil Manaf oleh teman-temannya ini suka membaca sejak kecil, dari hobi itulah dia jadi suka menulis. Tidak ada patokan pasti buku karangan siapa yang dia suka, namun dia selalu haus akan ideide baru yang diolah dengan indah yang dapat ditemukan dalam buku. Sedangkan hal-hal yang dia tulis bervariasi dari berita, essay, karya ilmiah, hingga fiksi. Selain hobi membaca dan menulis dia juga suka bermusik. Saat ini, dia masih duduk di kelas 11 di SMAN 10 Malang (Sampoerna Academy) dan sedang giat-giatnya mengintropeksi diri, belajar bahasa inggris, pelajaran yang lain, dan bermain biola. Cita-citanya adalah bersekolah di Cambridge atau Oxford dan memiliki toko buku internasional.

Hilya Fitriadinda Hilya Fitriadinda, lahir di Gresik 22 Desember, 17 tahun yang lalu merupakan anak pertama dari 3 bersaudara. Kini ia duduk di kelas 11 SMA Negeri 10 Malang Sampoerna Academy. Tinggal di asrama, membuatnya jauh dari keluarga. Sedari kecil ia memang tumbuh di Tuban. Namun hal ini tidak mengurangi tekadnya dalam mengejar mimpi. Gadis yang bercita-cita ingin menjadi seorang Dokter ini, kini sedang tertarik di bidang menulis, terutama 138


penulisan cerpen. Sebagai buah dari hobbinya, ia sering dijuluki sebagai kutu-buku. Namun, tak mengurangi kecintaannya pada jendela dunia itu. Banyak membaca memang sangat ia yakini dapat membantu perbaikannya dalam menulis. Penulis favoritnya adalah Habibburrahman el Shirazy. “Seduhan yang Berbahasa� merupakan cerpen perdananya yang dikirim untuk kompetisi. Cerpen ini spesial ia peruntukkan bagi kedai sinau, juga kepada mereka yang pantang menyerah dalam menjalani segala kesulitan dalam hidupnya.

Nabilla Hefin Rahmawati Nama lengkapnya Nabilla Hefin Rachmawati. Tapi panggil saja dengan Nabilla. Gadis asli kota Malang kelahiran 24 Juli 1996 ini baru duduk di bangku kelas satu Sekolah Menengah Atas. Ia tinggal di perumahan Sawojajar 2, Kabupaten Malang. Keinginannya untuk menjadi seorang penulis yang diperhitungkan sangatlah besar. Karena itu sudah banyak lomba-lomba menulis yang diikutinya dan hasilnya cukup memuaskan. Pelajar SMA Negeri 1 Malang yang selain sedang sibuk dengan eksktrakulikulernya yaitu paskibra, juga sedang menulis sebuah naskah novel yang diharapkan dapat diterbitkan. Hobinya adalah segala hal berbau sastra dan jurnalistik. Namun kemampuannya dalam bidang akademik juga tidak perlu diragukan. ia berharap dapat menjadi seorang penulis terkenal, menjadi wiraswasta yang dapat membuka lowongan kerja bagi orang lain dan bergerak di bidang sosial.

139


Beldra EldrIt Janitra

Lahir di Sidoarjo, 30 Juni 1995 Sekarang beralamat di Jl. Raya Taman Pinang No. 10 Sidoarjo-Jawa Timur Dapat dihubungi di: HP 085655072550 E-mail: belda.janitra@yahoo.com Facebook: Belda Eldrit Janitra/ janeetraeldritzz@yahoo.com

Nur Hasanah Pratiwi Lahir di Trenggalek, 28 Mei 1995 Dara ini kini bersekolah : SMAN 1 Malang. Memiliki hobby : baca novel dan komik, menulis, mendengarkan musik, main bulutangkis, blogging Dapat dihubungi di : Facebook Nur Hasanah Pratiwwy Twitter @tiwwsuede Website tiwwysreader.blogspot.com

Vita Fitria Ramadhani Outgoing, hardworking, dan selalu tertawa adalah motto dara bernama lengkap Vita Fitria Ramadhani. Lahir di Surabaya, 12 Februari 1996 dan menghabiskan masa kanak-kanak di Gresik. Tahun ini tercatat sebagai siswi kelas XI IPA 4 di SMAN 10 Malang (Sampoerna Academy) serta menjadi bagian dari Manta ray house Sampoerna Academy angkatan kedua. Hobi tulis-menulis telah dia tekuni sejak SMP berkat desakan guru Bahasa Indonesianya untuk menjadi seorang jurnalis. Selain 140


mendalami ilmu di bidang jurnalistik, cewek yang hobi banget berlatih tae kwon do ini memiliki minat khusus pada biologi dan bahasa asing. Cerita pendek “Selaksa� adalah cerpen pertamanya yang berhasil dibukukan setelah mendapat nominasi kedua dalam ajang Lomba Cerpen Kedai Sinau 2012. Apabila tertarik untuk berkirim kritik dan saran, serta berbagi ide silahkan send to vita.ramadhani@ rocketmail.com. Semangat tertawa, hahaha!

Muwaffiqol Fahmi Al-Muttaqin Nama Pena 252, seorang penulis yang masih pemula. Lahir di Nganjuk dan sekarang sedang menyelesaikan sekolah menengah atas di Malang. Sekarang sedang sibuk dengan proyek sosialnya bersama para member Indonesian Future Leader; koperasi serba usaha anak bangsa. Tertarik? muwafah@ yahoo.co.id

141


142


143


Axellina Muara S e t y a n t i Nur Wijaya Galih Ramadan Suwito M u h a m m a d Abdul Manaf Muwaffiqol Fahmi Al-Muttaqin Hilya Fitri Adinda g Nabilla Hefin R a h m a w a t i Beldra EldrIt Janitra Nur Hasanah Pratiwi Vita Fitria Ramadhani kedai sinau didirikan tahun 2002, bergerak di bidang literasi. bertujuan merayakan buku, merayakan pengetahuan, dan merayakan keberagaman. kedai sinau memiliki unit kreatif | kedai buku sinau yang khusus menerbitkan buku prosa, puisi, dan filsafat dan pemikiran kritis | akademi sinau melayani workshop penulisan kreatif, etnografi, dan metode penelitian partisipatif | galeri latifah melayani manajemen seni pertunjukkan dan ruang pamer seni rupa


Lacuo