Page 1

1


KATA PENGANTAR Assalamualaikum,wr.wb. Segala puji milik Allah SWT yang telah memberikan karunia begitu banyak kepada hamba-hambanya,sudah sepatutunya kita mensyukuri segala sesuatu yang telah Allah berikan. Salawat beserta salam kita persembahkan untuk nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini. Dalam makalah ini penulis mencoba membahas mengenai Filsafat Moral. Di dalam makalah ini kami juga membahas tentang pengertian dari pengertian filsafat moral,hubungan antara moral dan agama,dll yang bersangkutan dengan filsafat moral. Semoga makalah ini berguna dan bermanfaat untuk mahasiswa Ilmu komunikasi . Penulis meminta maaf apabila ada kesalahan ataupun kekurangan dalam makalah ini. Atas partisipasinya kami ucapkan banyak terima kasih. Wassalamualaikum ,wr.wb.

Pekanbaru,28 November 2013

PENULIS

2


BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

“filsafat moral” adalah cabang pohon filsafat yang berawal dengan pengajuan pertanyaan dasar mengenai moralitas, seperti: Apakah manusia bebas? Bagaimana kita bisa menetapkan perbedaan antara baik dan buruk? dan Bagaimana etika bisa nirmustahil? Tentu saja, istilah “filsafat moral” tidak mengacu pada “cara berfilsafat yang baik”, seperti yang diperlawankan dengan filsafat “immoral” yang buruk. “Filsuf moral” bisa saja sama immoralnya dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari! Namun bagaimanapun, tujuan hakiki filsafat moral bukan sekadar memahami apakah kebaikan

itu,

melainkan

memanfaatkannya

untuk

membantu

kitamenjadi orang yang lebih baik. Begitu pula, sebagaimana Jonathan Si Camar mulai terbang dengan jauh lebih cepat segera seusai ia pahami penerbangan, pemahaman pondasi moral bagi putusan-putusan etis mesti membantu kita menentukan pilihan yang lebih bijaksana dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu filsafat moral yang paling berpengaruh diajukan oleh Immanuel Kant. Kritik pertama Kant membantu kita dalam meraih beberapa wawasan fundamental mengenai hakikat metafisika pada Bagian Satu, sehingga kita akan mencurahkan sebagian besar waktu kita pada jam ini untuk memeriksa Kritik kedua Kant, yang di dalamnya ia menyarankan cara yang menarik dalam menghadapi kebebalan kita akan kenyataan hakiki. Critique of Pure Reason mengambil sudut pandang “teoretis” untuk menunjukkan bagaimana ruang, waktu, dan kategorikategori membentuk garis tapal batas yang diperlukan secara mutlak (yakni apriori sintetik) demi pengalaman insani (dan karenanya memungkinkan pengetahuan empiris kita tentang obyek-obyek fenomenal) 3


BAB II Pembahasan

A. PENGERTIAN ETIKA DAN MORAL 1. Pengertian Etika a) Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Secara ringkas, pengertian tadi bisa disebut sebagai sistem nilai. Sistem nilai itu bisa berfungsi dalam hidup manusia perorangan maupun pada taraf sosial. b) Kumpulan asas atau nilai moral atau, disebut juga, kode etik. c) Ilmu tentang yang baik dan yang buruk. 2. Pengertian Moral Sama dengan etika, yaitu nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Moralitas merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal, menjadi ciri yang membedakan manusia dari binatang. Pada binatang tidak ada kesadaran tentang baik dan buruk, yang boleh dan yang dilarang, yang harus dan yang tidak pantas dilakukan baik keharusan alamiah maupun keharusan moral. Keharusan alamiah terjadi dengan sendirinya sesuai hukum alam. Sedangkan, keharusan moral bahwa hukum yang mewajibkan manusia melakukan atau tidak melakukan sesuatu. B. KONSEP ETIKA,NORMA,MORAL Etika berasal dari bahasa Yunani ethos, yang berarti tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang; kebiasaan, adat; watak; perasaan, sikap, cara berpikir. dalam bentuk jamak ta etha artinya adat kebiasaan. Dalam arti terakhir inilah (cara berpikir) terbentuknya istilah etika yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat 4


moral. Etika berarti: ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Namun demikian, ada juga kata moral dari bahasa Latin yang artinya sama dengan etika.

Secara istilah etika memunyai tiga arti: pertama, nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Arti ini bisa disebut sistem nilai. Misalnya etika Protestan, etika Islam, etika suku Indoan. Kedua, etika berarti kumpulan asas atau nilai moral (kode etik). Misalnya kode etik kedokteran, kode etik peneliti, dll. Ketiga, etika berati ilmu tentang yang baik atau buruk. Etika menjadi ilmu bila kemungkinan-kemungkinan etis menjadi bahan refleksi bagi suau penelitian sistematis dan metodis. Di sini sama artinya dengan filsafat moral.

Amoral berarti tidak berkaitan dengan moral, netral etis. Immoral berarti tidak bermoral, tidak etis. Etika berbeda dengan etiket. Yang terakhir ini berasal dari kata Inggris etiquette, yang berarti sopan santun. Perbedaan keduanya cukup tajam, antara lain: etiket menyangkut cara suatu perbuatan harus dilakukan, etika menunjukkan norma tentang perbuatan itu. Etiket hanya berlaku dalam pergaulan, etika berlaku baik baik saat sendiri maupun dalam kaitannya dengan lingkup sosial. etiket bersifat relatif, tergantung pada kebudayaan, etika lebih absolut. Etiket hanya berkaitan dengan segi lahiriyah, etika menyangkut segi batiniah. Norma adalah kaidah, ketentuan, aturan, kriteria, atau syarat yang mengandung nilai tertentu yang harus dipatuhi oleh warga masyarakat di dalam berbuat, bertingkah laku agar masyarakat tertib, teratur, dan aman (BP-7,1993: 23). Menurut Poespoprodjo (1999: 133), “norma adalah aturan, standar, ukuran.� Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan norma adalah kaidah, aturan, ketentuan, kriteria, standar, dan ukuran yang berlaku di masyarakat untuk dipatuhi agar tertib, teratur, dan aman. Norma-norma yang berada di masyarakat yaitu norma agama, norma kesopanan, norma kesusilaan, dan norma hukum. 5


Nilai dan norma senantiasa berkaitan dengan moral. Norma moralitas adalah aturan, standar, ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur kebaikan atau keburukan suatu perbuatan. Istilah moral mengandung integritas dan martabat pribadi manusia. Derajat kepribadian seseorang amat ditentukan oleh moralitas yang dimilikinya. Moralitas seseorang tercermin dalam sikap dan perilakunya. Moral berasal dari kata bahasa latin mores yang berarti adat kebiasaan. Kata mores ini mempunyai sinonim; mos, moris, manner mores atau manners, morals (Poespoprodjo,1986: 2). Dalam bahasa Indonesia kata moral berarti akhlak atau kesusilaan yang mengandung makna tata tertib batin atau tata tertib hati nurani yang menjadi pembimbing tingkah laku batin dalam hidup. Kaelan (2001: 180), mengatakan moral adalah suatu ajaran wejangan-wejangan, patokan-patokan, kumpulan peraturan baik lisan maupun tertulis tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang baik. Sedangkan Kohlberg (Reimer,1995: 17), Moralitas bukanlah suatu koleksi dari aturan-aturan, norma-norma atau kelakuan-kelakuan tertentu tetapi merupakan perspektif atau cara pandang tertentu.

Dengan demikian, dari ketiga pendapat tersebut dapat disimpulkan moral adalah ajaran atau pedoman yang dijadikan landasan untuk bertingkah laku dalam kehidupan agar menjadi manusia yang baik atau beraklak. Kajian tentang nilai menjadi kajian yang amat penting mengingat posisinya sebagai masalah awal dalam filsafat moral. Selain itu, kajian nilai menjadi kajian yang menyentuh persoalan subtansial dalam filsafat moral. Pertanyaan yang selalu muncul dalam kajian ini, apakah yang disebut “baik� dan “tidak baik�. Terdapat dua aliran dalam kajian nilai (values) yakni aliran naturalisme dan nonnaturalisme. Dalam pandangan naturalisme, nilai adalah sejumlah fakta yang dapat diuji secara empiris. Misalnya sifat perilaku yang baik seperti jujur, adil dan dermawan atau kebalikannya menjadi indikator untuk menentukan predikat seseorang berperilaku baik atau tidak baik. Degan demimikian dengan konsekuensi dari setiap perbuatan adalah indikator untuk menetapkan apakah perbuatan seseorang itu baik atau tidak baik. 6


Berbeda dengan naturalisme, aliran nonnaturalisme memandang bahwa nilai bukanlah sekedar fakta tetapi lebih bersifat normatif dalam menentukan sesuatu apakah ia baik atau buruk, benar atau salah. Nilai tidak hanya ditentukan oleh konsekuensi dari suatu perbuatan melainkan dipengaruhi oleh intuisi moral yang dimiliki manusia, sebuah kesadaran langsung adanya nilai murni seperti benar atau salah dalam setiap perilaku, objek atau seseorang. Immanuel Kant sebagai tokoh kelompok nonnaturalisme mengemukakan prinsip autonomy dan heteronomy dalam menentukan moralitas. Autonomy merupakan wujud otonomi kehendak (the autonomy of the will). Seseorang melakukan perilaku moral berdasar atas kehendak (the will) -yang teleh menjadi ketetapan bagi dirinya untuk melakukan perilaku moral- dan tidak ditentukan oleh kepentingan atau kecenderungan lain. Sedangkan heteronomy atau disebut juga prinsip heteronomi kehendak (the heteronomy of will) menyatakan bahwa seseorang berperilaku moral karena dipengaruhi oleh berbagai hal di luar kehendak manusia. Pada prinsip ini, kehendak (the will) tidak serta merta menjadikan dirinya sebagai sebuah ketetapan (the law), tetapi sebuah ketetapan (the law) diberikan oleh objek tertentu melalui kaitannya dengan kehendak (the will). Perilaku moral yang ideal dalam kacamata Immanuel Kant adalah perilaku moral yang lahir dan muncul dari desakan kehendak diri manusia sebagai makhluk yang berakal dan berbudi, sehingga setiap perilaku moral yang dilakukannya benar-benar lahir dari dirinya sendiri bukan dari luar dirinya. Menurutnya bahwa yang baik adalah kehendak baik itu sendiri. suatu kehendak menjadi baik sebab bertindak karena kewajiban. Bertindak sesuai dengan kewajiban disebut legalitas. Lalu, apakah kewajiban itu? Kant membagi kewajiban menjadi dua: imperatif kategoris (perintah yang mewajibkan begitu saja, tanpa syarat. dan imperatif hipotetis (perintah yang mewajibkan tapi bersyarat). Imperatif kategorislah yang menurut Kant menjadi hukum moral. Karena itu, Kant sangat menekankan otonomi kehendak. Inilah kebebasan dalam artian Kant. Kebebasan tidak dalam arti bebas dari segala ikatan, tapi bebas dengan taat pada hukum, moral. (K. Bertens, 1999) 7


Sedangkan Aristoteles mengatakan bahwa manusia hidup ini mempunyai tujuan, dan tujuan yang ingin dicapai tidak lain hanyalah suatu tujuan antara untuk mencapai tujuan selanjutnya, dan Aristotelse mengatakan bahwa tujuan yang paling tinggi adalah mencapai kebahagiaan. Tugas etika ialah mengembangkan dan mempertahankan kebahagiaan yang telah dicapai dan ia juga mengatakan bahwa etika sebaiknya tidak dipelajari oleh orang muda, sebab mereka belum mempunyai pengalaman yang boleh disebut matang. Menurut Aristoteles manusia akan mencapai kebahagiaan apabila ia menjalankan aktifitas secara baik, ia harus menjalankan aktifitasnya menurut keutamaan, hanya pemikiran yang disertai keutamaan dapat membuat manusia bahagia, dan dijalankan dalan jangka waktu yang panjang dan sifatnya stabil. Ada 2 keutamaan menurut Aristoteles yaitu Keutamaan Moral,dilukiskan sebagai sikap watak yang memungkinakn manusia untuk memilih jalan tengah antara dua akstrem yang berlawanan. Dan keutamaan lainnya adalah Keutamaan Intelektual, dimana rasio manusai mempunyai dua fungsi, disatu pihak berfungsi untuk mengenal kebenaran, dan dilain pihak rasio dapat memberi petunjuk suapay orang mengetahui apa yang harus diputuskan dalam keadaan tertentu. Dari sini ada dua keutamaan yang menyempurnakan rasio, yaitu kebijaksanaan teoritis, yang merupakan suatu sikap tetap, yang mempunyai kebijaksanaan ini adalah orang yang terpelajar, dan untuk mencapai kebijaksanaan ini harus melalui pendidikan ilmiah yang panjang.Kebijaksanaan praktis, adalah sikap jiwa yang memungkinkan manusia untuk mengatakan yang mana dari barang-barang konkret boleh dianggap baik untuk hidupnya. Berdasarkan pendapat Imanuel Kant dan Aristoteles dapat dikatakan bahwa seseorang berperilaku moral, lahir dan muncul dari desakan kehendak diri manusia sebagai makhluk yang berakal dan berbudi untuk mencapai suatu kebahagiaan. Pada dasarnya, filsafat moral merupakan bagian dari etika yang memilki tiga makna yang berbeda, tergantung pada sudut pandang yang dipergunakan. Keberadaaan etika memberikan pencerahan pada suatu komunitas ataupun individual untuk menjalani hidup dengan aturan yang telah diberlakukan. Jika etika dikaitkan dengan kaidah norma yang

8


dijadikan pegangan suatu individu maupun komunitas untuk mengatur perilaku mereka, maka hal itu disebut pula sistem nilai dan sering dikenal dalam masyarakat sabagai etika islam, etika protestan dan lain-lain. Sedangkan etika yang dikaitkan dengan nilai moral ataupun kumpulan asas bisa dilihat dari kode etik peneliti, kode etik kedokteran dan lain lain. Hal itu akan menjadi berbeda apabila dikaitkan dengan ilmu mengenai hal baik dan buruk. Etika bisa dikaitkan sebagai ilmu apabila beberapa kemungkinan etis dijadikan sebagai bahan refleksi untuk sebuah penelitian yang metodis dan sistematis. Dalam kaitan inilah yang menjadikan etika disebut juga dengan sebutan filsafat moral.

C. PERANAN ETIKA DALAM MASYARAKAT 1. Masyarakat tradisional (homogen dan agak tertutup): nilai-nilai dan norma norma itu tidak pernah dipersoalkan. Secara otomatis orang menerima nilai dan norma yang berlaku. Individu dalam masyarakat itu tidak berpikir lebih jauh. Nila dan norma etis dalam masyarakat ini bersifat implisit. Akat tetapi bisa menjadi eksplisit bila nilai itu ditantang atau dilanggar karena perkembangan baru. 2. Situasi etis pada masyarakat modern ditandai tiga hal: 1) Pluralisme moral (komunikasi/informasi, transportasi/mobilitas, pariwisata, multinational corporation, eduducation) 2) Masalah etis baru (perkembangan iptek, biomedis, manipulasi genetika, reproduksi artifisial) 3) Kepedulian etis yang universal (globalisasi, LSM, ekologi, HAM. Hubungan kepedulian etis dengan pluralisme moral (untuk persoalan publik dan pribadi). Sumber-sumber nilai dan norma: 1) Agama 2) Kebudayaan 3) Nasionalisme 9


D. MORAL DAN AGAMA Agama mempunyai hubungan erat dengan moral. Motivasi terpenting dan terkuat bagi perilaku moral adalah agama. Setiap agama mengandung suatu ajaran moral yang menjadi pegangan bagi perilaku para penganutnya. Jika dibandingkan pelbagai agama, ajaran moralnya barangkali sedikit berbeda, tetapi secara menyeluruh perbedaannya tidak terlalu besar. Atau dengan kata lain, ada nilai-nilai universal yang relatif sama. Mengapa ajaran moral dalam suatu agama dianggap begitu penting? Karena ajaran itu berasal dari Tuhan dan mengungkapkan kehendak Tuhan. Ajaran moral itu diterima karena alasan keimanan. Namun demikian, nilai dan norma moral tidak secara eksklusif diterima karena alasan-alasan keagamaan. Ada juga alasan-alasan lebih umum untuk menerima aturan-aturan moral, yaitu alasan-alasan rasional. Dalam etika filosofis atau filsafat moral justru diusahakan untuk menggali alasan-alasan rasional untuk nilai-nilai dan norma-norma yang dipakai sebagai pegangan bagi perilaku moral. Berbeda dengan agama, filsafat memilih titik tolaknya dalam rasio dan untuk selanjutnya juga mendasarkan diri hanya pada rasio. Filsafat hanya menerima argumen dan alasan logis yang dapat dimengerti dan disetujui oleh semua orang. Ia menghindari setiap unsur nonrasional yang meloloskan diri dari pemeriksaan oleh rasio. Agama berangkat dari keimanan; kebenarannya tidak dibuktikan, tetapi dipercaya. Kebenaranyya tidak diterima karena dimengerti, melainkan karena terjamin oleh wahyu. Bila agama bicara topik etis, ia berusaha memotivasi dan menginspirasi supaya umatnya mematuhi nilai dan norma yang sudah diterimanya berdasarkan iman. Bila filsafat bicara topik etis, ia berargumentasi; ia berusaha memperlihatkan bahwa suatu perbuatan tertentu harus dianggap baik atau buruk, hanya dengan menunjukkan allasan-alasan rasional. Dalam konteks agama, kesalahan moral adalah dosa; orang beragama merasa bersalah di hadapan Tuhan, karena melanggar perintah-Nya. Dari sudut filsafat moral, kesalahan moral adalah pelanggaran prinsip etis yang seharusnya dipatuhi. Kesalahan moral adalah inkonsistensi rasional.

10


Agama – Filosof – Sekular etika Etika humanis dan sekuler tanpa hubungan dengan agama Dalam dunia yang ditandai pluralisme moral semakin mendesak kehadiran etika filosofis yang

berusaha

memecahkan

masalah-masalah

etis

atas

dasar

rasio

saja.

Pluralisme modern yang menandai zaman ini sebagian disebabkan adalanya etika humanistis dan sekular yang tidak lagi mengikutsertakan acuan keagamaan. Adanya pluralisme pandangan etis bukan saja karena adanya pelbagai agama dengan suasana moral yang berbeda-beda, melainkan juga, dan terutama, karena tembok pemisah antara pandangan etis orang beragama dengan dan orang sekuler. Jika ingin dicapai kesepakatan di bidang etis, kita hanya bisa berpedoman pada rasio, sebab sarana lain tidak dipunyai.

11


BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Etika adalah cabang ilmu filsafat yang membicarakan nilai dan moral yang menentukan perilaku seseorang/manusia dalam hidupnya. Etika merupakan sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujud dalam sikap serta pola perilaku hidup manusia baik sebagai pribadi mapun sebagai kelompok. Sebagai makhluk budaya manusia perlu disadari bahwa yang benar, yang indah dan yang baik itu menyenangkan, membahagiakan, menenteramkan dan memuaskan manusia. Sebaliknya yang salah, yang jelek dan yang buruk itu menyengsarakan, menyusahkan, menggelisahkan dan membosankan manusia. Dari dua sisi yang bertolak belakang ini, manusia adalah sumber penentu yang menimbang, menilai, memutuskan untuk memilih yang paling menguntungkan (nilai moral). Dengan demikian pada kenyataanya manusia lebih cenderung

menghendaki nilai kebenaran, nilai kebaikan, nilai keindahan

dikarenakan sangat berguna bagi kehidupannya daripada sebaliknya. Untuk dapat menentukan bahwa perbuatan itu adalah merupakan perbuatan moral yang dilakukan oleh manusia memerlukan penilaian dengan menggunakan norma moral, yakni norma karena norma adalah patokan atau ukuran manusiawi untuk mempertimbangkan perbuatan benar atau salah, baik atau buruk, bermanfaat atau merugikan. Moralitas perbuatan ditentukan oleh motivasi, tujuan akhir dan lingkungan perbuatan itu sendiri. Perbuatan manusia seutuhnya adalah perbuatan yang dilandasi oleh akal yang menyatakan benar atau salah, rasa yang menyatakan baik atau buruk dan karsa menyatakan pilihan berdasarkan kehendak bebas. Kehendak bebas adalah kesadaran dan kesadaran adalah suara hati nurani. Hati nurani selalu menyuarakan baik, benar dan bermanfaat oleh karena itu, perbuatan yang memenuhi ketiga unsur ini disebut perbuatan moral yaitu perbuatan yang bersumber pada hari nurani yang selalu baik, benar dan bermafaat. Perbuatan moral mempunyai nilai moral yaitu nilai manusia seutuhnya. Perbuatan moral menuntun manusia menuju pada kebahagian, ketertiban, kestabilan dan kemajuan. 12


Kebalikan dari perbuatan moral adalah perbuatan amoral yaitu perbuatan tidak baik, tidak benar, tidak bermanfaat karena tidak memenuhi ketiga unsur manusia seutuhnya, tidak menyuarakan hati nurani. Perbuatan amoral adalah perbuatan jahat yang tidak mempunyai nilai moral, karena perbuatan itu jahat, maka pelakunya disebut penjahat. Penjahat adalah musuh masyarakat orang baik-baik sehingga perbuatan amoral menggiring manusia menuju kesengsaraan, kekacauan, kerusakan dan kehancuran. Manusia seutuhnya disebut juga manusiawi dimana perbuatan manusia seutuhnya disebut perbuatan manusiawi yang mempunyai nilai manusiawi sebaliknya perbuatan yang tidak memenuhi unsur-unsur kodrat manusia tidak baik, tidak benar, tidak bermanfaat, tidak menyuarakan hati nurani disebut perbuatan tidak manusiawi dan tidak mempunyai nilai manusiawi.

13


Daftar pustaka http://www.siputro.com/2011/05/mempelajari-lebih-dalam-tentang-filsafat-moral/ Amril M. 2002. Etika Islam Telaah Pemikiran Filsafat Raghib al-Isfahani, Yogyakarta: Pustaka Pelajar K. Bertens. 2002. Etika. Cetakan ke-7. Jakarta: Gramedia. Kamus Besar Bahasa Indonesia Tim Dosen Filsafat Ilmu, Fakultas Filsafat Ilmu Universitas Gajahmada, Filsafat Ilmu, Liberty Yogyakarta, Januari 2010, hlm 178

14


makalah filsafat moral  

wetsi utarii

Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you