Issuu on Google+


2

KISAH

PERSPEKTIF

BIAYA SEKOLAH MAHAL, TERPAKSA MEMULUNG PERSPEKTIF- Di kota Pekanbaru masih terdapat ratusan anak yang tidak mendapatkan hak dan kewajiban mereka untuk mengenyam dunia pendidikan. Hal ini menandakan bahwa masih mahalnya bangku sekolah di kota tersebut. Contohnya adalah puluhan anak-anak berusia 8 hingga 11 tahun yang melakukan profesi sebagai pemulung sampah dan barang bekas. Belum lagi mereka yang tinggal di pelosok kota. Kata mereka pekerjaan ini terpaksa dilakoninya karena tidak mempunyai biaya untuk bersekolah. Husni salah satu pemulung cilik di dekat TPA Muara Fajar, Senin (16/10/2012), mengungkapkan bahwa dirinya dulu sempat bersekolah, tapi hanya sampai di bangku kelas 2 Sekolah Dasar “kalau saya lanjutkan bersekolah tidak ada biaya, karena orang tua saya bekerja sebagai pemulung. Jadi saya sekalian membantu orang tua cari uang agar dapat uang jajan. Sebenarnya masih mau sekolah tapi tidak punya biaya” katanya. Dia juga menambahkan kalau keluar memulung bersama dua orang temannya mereka bisa mendapatkan penghasilan Rp.15000 sampai dengan Rp.25000 dalam sehari. Selain itu orang tua Husni yang ditemui juga berharap agar Pemda setempat memberikan peluang pendidikan secara gratis kepada anak-anak mereka “terpaksa anak kami putus sekolah karena tidak punya biaya pendidikan. Sampai saat ini pun belum ada orangnya dinas

pendidikan yang datang sama saya untuk mengajak anak saya sekolah. Kalau bisa pak kami yang tidak mampu ini sedikit diperhatikan lah, khususnya anakanak kami yang putus sekolah” terangnya. Sementara itu Lembaga Missi Reclassering (LMR-RI) Bidang infestigadi dan monitoring, Zackyman mendesak kepada

Dinas Pendidikan kota Pekanbaru agar memberikan hak-hak dari anak pemulung yang putus sekolah “seharusnya pemerintah itu kan memperjatikan yang seperti ini. Tidak peduli mereka itu usia berapa. Selagi anak itu warga negara Indonesia dan ketahuan tidak menempuh pendidikan apalagi terkendala di biaya, pemerintah harus memperhatikan masalah itu” tutupnya.(wk)


3

FEATURE TURE FEA

PERSPEKTIF

KEHIDUPAN GINTING SANG PENGEPUL PLASTIK

PERSPEKTIF- Ginting (47). Dia adalah seorang pengepul plastik di TPA Muara Fajar. Dengan profesinya dia bisa menghidupi keluarganya dengan menjadi pengepul plastik di TPA ini. Dalam sehari Ginting (47) dapat menjual 3 ton plastik yang didapatnya dari para pemulung dan langsung menyalurkan plastiknya kepada pabrik- pabrik di Medan. Plastik- plastik yang dikumpulkan Ginting untuk dijual adalah jenis plastik P.E dan Plastik H.D. Plastik jenis P.E merupakan bahan plastik yang lazim digunakan sebagai botol minuman, sedangkan plastik jenis H.D merupakan bahan plastik yang lazim digunakan

sebagai plastic pembungkus atau kantong kresek. Ginting menjual Plastik jenis P.E seharga Rp.1000/kg, sedangkan plastik jenis H.D seharga Rp.300/ kg kepada pabrik. Dengan penghasilan yang cukup tinggi tersebut, Ginting (47) tidak tampak seperti orang yang berpenghasilan sepertinya kebanyakan, dia tidak memakai setelan kemeja atau jas. Tapi dia hanya memakai baju kaos usang, celana pendek, dan sandal jepit. Hal ini dikarenakan di tempat ia mencari nafkah bukanlah tempat yang biasa orang kunjungi dengan pakaian kemeja atau sepatu mahal, melainkan tempat

pembuangan sampah dari seluruh penjuru kota Pekanbaru yang jauh dari kesan glamor. ....�Saya tidak gengsi kerja di TPA, karena keluarga saya hidup dari sini�... Dari tempat pembuangan sampah tapi mendapatkan mata pencaharian. Dan dari sampah pula mendapatkan rezeki yang tidak sedikit. Itulah yang bisa kita contoh dari pak Ginting (47) dia memang tidak bekerja di kantor, dia juga tidak bekerja di bank, tetapi rupiah yang ia dapat lebih dari para pegawai yang bekerja di ruangan ber-AC.


4

PERSPEKTIF

PKL k e ke Tempat Sampah PULUHAN mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (PDIK) Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim pertengahan Oktober 2012 lalu mengadakan pelatihan ke lapangan khususnya meliput masalah sampah di TPA Muara Pajar Rumbai Pekanbaru. Sebelum berangkat mahasiswa dibekali beberapa materi oleh dosen pembimbing Khairir Anuar Tanjung di Ruang Teater FDIK, Selasa (16/10/ 2012). Selanjutnya dengan mengunakan bus kampus para mahasiswa calon wartawan ini pun berangkat ke lokasi TPA Muara Fajar. Dengan antusias dan semangat yang tinggi para mahasiswa ini pun meliput berbagai sudut kehidupan para pemulung yang mencari kebutuhan melalui sampah.(WK)

GALERI


WENDI KURNIA