Page 1

#9 puler o P l a n r Ju

DESA WISATA Pariwisata Kreatif Masyarakat Mandiri


Daftar Isi Daftar isi Editorial Gebrakan Inisiatif Wisata Alternatif Pemerataan Kesejahteraan di Desa Wisata KKN: Mahasiswa Mengabdi, MasyarakatMengamini Jaga Kearifan Lokal, Saring Pengaruh Asing Perubahan Berbuah Positif Desa Wisata Kebon Agung: Wujud Kesuksesan Pemberdayaan Masyarakat Wawancara Eksklusif Dr M Baiquni MA Kepala Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada Parameter: Desa Wisata di Mata Mahasiswa End note

3 4 5 8 10 12 14 16 18

20 22 Foto: Hale/ Bul

3


Editorial Berwisata ke Tempat yang Jujur dan Bernilai Sejak lama manusia diciptakan memiliki hasrat untuk menyukai kenikmatan, keindahan, kesenian, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Semua itu dilakukan untuk mencapai kepuasan. Hasrat tersebut tak pernah lekang oleh waktu karena manusia tak akan pernah puas. Sikap tak pernah puas ini kemudian membuat manusia tak pernah puas mencari, tak pernah lelah mencoba, dan selalu berusaha menciptakan hal baru. Pariwisata menjadi salah satu bagian dari hasrat manusia akan kepuasan tadi. Pada dasarnya manusia ingin merasakan pengalaman baru dan itu dapat diwujudkan salah satunya dengan melakukan kegiatan wisata. Dengan melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, manusia dapat melepas penat dengan suguhan pemandangan berbeda yang dilalui sepanjang perjalanan. Sesampai di tempat yang dikunjungi, banyak lagi yang bisa dinikmati. Tak hanya pemandangan, tapi juga pengalaman, hingga bukti fisik bahwa kita pernah berkunjung—kita menyebutnya oleholeh. Biasanya, ketika akan melakukan kegiatan wisata, terutama wisata alam, yang terbayang adalah sebuah desa. Desa tersebut kental dengan suasana pedesaan dengan hutan, sungai, atau air terjun. Desa membawa

pengunjungnya sejenak kabur dari kesibukan dan kepenatan hidup. Di desa, kita bisa menghirup udara bersih tak seperti di jalanan kota. Di desa, gemericik air rasanya menenteramkan hati, berbeda dengan gemericik air dari kran taman kota. Inilah yang kemudian memunculkan ide untuk menggali sisi potensial desa untuk menjadi objek wisata. Kita mendengarnya dengan nama desa wisata. Desa wisata memang tak punya wahana-wahana permainan spektakuler dan megah seperti di Dufan, Ancol. Desa wisata juga tak selalu punya benda-benda unik seperti arca dan bangunan batu megah seperti di kompleks candi. Mungkin jadi lebih sulit lagi kalau hendak berbelanja karena tak ada toko oleh-oleh berderet-deret layaknya di kota tujuan wisata. Tak memiliki itu semua bukan berarti kemudian tak menarik. Justru tanpa semua itu, desa wisata punya satu kekuatan: kejujuran. Desa wisata tak menawarkan yang muluk-muluk. Desa wisata dengan bersahaja dan apa adanya menawarkan apa yang dimilikinya untuk ikut dirasakan wisatawan. Kehidupan desa yang sarat nilai-nilai budaya, kearifan lokal, dan kepedulian sosial yang tinggi adalah salah satu keunggulannya. Semuanya alami, mengalir, tak dibuat-buat, dan bisa jadi tidak ditemui di kota dengan hingar-

bingar, kepadatan, juga kesibukan. Setelah pulang dari pantai, mungkin kita akan berkata, pantainya indah. Setelah berkunjung dari museum, mungkin kita berkata, banyak barang unik. Kita pun berteriak, menakjubkan, setelah mencoba wahana permainan menegangkan nan canggih di objek wisata perkotaan. Namun setelah berkunjung dari tempat-tempat tersebut, kita tidak akan berkata, saya mendapat pengalaman bernilai, tinggal bersama warga desa dalam rumah sederhana. Bercengkerama meluangkan waktu untuk saling berbagi, hingga mengikuti tuan rumah bekerja di sawah atau membuat barang kerajinan. Hanya di desa wisata kehangatan tersebut bisa didapatkan. Jadi, apabila Anda butuh lebih dari sekedar berwisata dan berkunjung, desa wisata adalah pilihan yang dapat dipertimbangkan. Kami hadirkan informasi menarik dan mendalam tentang desa-desa wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang memiliki keunikannya masingmasing. Semoga Anda menikmati sajian kami dan siap berjalan-jalan mencoba hal baru dengan mencatat desa wisata dalam rencana rekreasi Anda. Selamat membaca! Tim Redaksi

Penerbit: SKM Bulaksumur Pelindung : Prof. Dr Soedjarwadi M Eng, Drs. Haryanto M Si Pembina: Dr Phil Ana Nadhya Abrar MES Pemimpin Umum: Beryl Girsang Sekretaris Umum: Syefi Nuraeni F Penanggung Jawab Redaksi: Rifki AF, Lutfia K, Anindita I, Ontin F Anggota Redaksi: Annisa IT, Amanatia J, Aghnia RS, Dwi AP, Febriani, M Izzudin, Noor RW, Novrita H, Primastuti MW, Risa L, Salsabila S, Sarah K, Shinta DJ, Siti Alifah FD, Tifani WS, Yogi A, Yurianti Anggota Iklan dan Promosi: Diah Sri Utari, Yong WA, Hardita L, Mumpuni GL, Oki PS, Agung A Anggota Litbang: Aziz S, Dwi A, Erik BS, Erwinton S, Isnaini R, Rahmi SF, Rizal Y, Rizkiya AM, Robertus SP, Satria Aji I,Shabrina HP, Sidiq Hari Madya, Tyas NA, Wandi DS Anggota Produksi-Fotografer: Remo Adhy Pradhana, Rizky A, Anditya EF, Hale AW, Imam S, Qholib GHS, Ahmad FR, Novandar DPA, Zakiah I Lay-Outer: Yoana WK, Fitri CSH, M Rohmani, Nisa TL Bulaksumur B-21 Yogyakarta 55281. Telp 085743365952. E-mail: bulaksumur_mail@yahoo.com. Homepage: http://www.bulaksumurugm.com. Rekening bank: Bank Danamon Cabang Kusumanegara Yogyakarta 3518201938 a.n. Diah Sri Utari

4


Gebrakan Inisiatif Wisata Alternatif Oleh: Febriani dan Tifani Windasari Sumirat Pariwisata tak pernah mati menjajal potensi baru. Desa wisata menawarkan alternatif menarik dan inovatif.

Foto : Novan/Bul

Pola konsumsi wisatawan saat ini tak lagi berorientasi menikmati kehidupan alam semata. Para wisatawan, khususnya dari mancanegara, lebih mencari interaksi dengan budaya, masyarakat, maupun alam setempat. Interaksi ini diwujudkan dalam bentuk desa wisata. Menurut Wiendu Nuryanti (1993), desa wisata merupakan integrasi antara atraksi, akomodasi, dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam struktur kehidupan masyarakat. Berdasarkan definisi tersebut, dapat diambil dua konsep penting mengenai desa wisata, yaitu akomodasi dan atraksi. Akomodasi merupakan sebagian dari tempat tinggal penduduk setempat dan atau unit-unit yang berkembang atas konsep tempat tinggal penduduk. Atraksi adalah seluruh kehidupan keseharian penduduk setempat beserta setting fisik lokasi desa. Atraksi memungkinkan wisatawan berperan sebagai partisipan aktif dalam berbagai kegiatan seperti kursus tari, bahasa, dan lain-lain. Inisiatif warga Sebenarnya konsep desa wisata telah banyak dijumpai di beberapa negara di Asia seperti Jepang, Malaysia, Cina, dan lain-lain. Negara-negara tersebut membangun sinergi antara potensi keindahan alam, kebudayaan, dan cara hidup masyarakat menjadi daya tarik pariwisata. “Pada dasarnya

wisatawan jika berkunjung ke suatu tempat ingin merasakan experience (pengalaman,-Red) menjadi bagian dari kehidupan di tempat tersebut,� jelas Tazbir SH MHum, Kepala Dinas Pariwisata DIY. Pencanangan desa wisata secara nasional dimulai sejak 1999 di Tembi, Bantul, oleh Menteri Pariwisata dan Kesenian, Drs H Hidayat Jaelani. Pencanangan ditandai dengan diresmikannya Tembi sebagai desa wisata pertama di Indonesia. Desa wisata Tembi kemudian menjadi pionir tumbuh dan berkembangnya desa-desa wisata lain di Indonesia. Berdasarkan pantauan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar), di Indonesia kini terdapat setidaknya 140 desa wisata. Selanjutnya, Depbudpar membuat program yang disebut pola Pariwisata Inti Rakyat (PIR) untuk mengembangkan pembangunan desa wisata. Dengan berkembangnya program ini diharapkan arus urbanisasi dapat ditekan sehingga warga dapat mengembangkan potensi pariwisata di desanya. Dengan demikian, paradigma masyarakat desa untuk mencari pekerjaan di kota dapat diubah. Tujuan akhir dari program ini adalah pemerataan pembangunan. Tak ada persyaratan maupun izin khusus dari pemerintah untuk mendirikan desa wisata. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Tazbir, “tak perlu izin resmi untuk membuat desa

5


wisata, tugas kami hanya men-select (menyeleksi,-Red) dan mempromosikan desa yang berpotensi.” Dengan demikian pembangunan desa wisata sangat bergantung pada inisiatif masyarakat. Masyarakat harus lebih proaktif dalam menangkap dan mengembangkan potensi desanya. Selanjutnya tugas pemerintah untuk meresmikan dan mempromosikan desa wisata tersebut agar dikenal oleh publik. Meski tak ada persyaratan khusus, ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan oleh sebuah desa wisata. Di antaranya yaitu atraksi, jarak tempuh, luas desa, sistem kepercayaan dan kemasyarakatan, dan ketersediaan infrastruktur. Atraksi wisata mencakup alam, budaya, dan hasil ciptaan manusia yang paling menarik. Jarak tempuh meliputi jauhnya kawasan wisata dari tempat tinggal wisatawan dan ibukota provinsi atau kabupaten. Luas desa berkaitan dengan daya dukung kepariwisataan pada suatu daerah seperti jumlah rumah, penduduk, dan luas wilayah. Sistem kepercayaan dan kemasyarakatan berkaitan dengan aturan khusus pada komunitas sebuah desa seperti agama mayoritas warga. Ketersediaan infrastruktur meliputi fasilitas dan pelayanan sarana prasarana yang diperlukan demi terwujudnya suatu desa wisata. Kriteria ini memunculkan pembagian jenis desa wisata. Di Yogyakarta saja, terdapat enam jenis desa wisata. Desa wisata budaya menonjolkan nilai-nilai budaya dan kesenian seperti di Tembi. Desa pertanian menghadirkan aktivitas bercocok tanam, contohnya yaitu desa wisata Pertanian Jamur. Desa wisata agro mengajak pengunjung untuk merasakan cara berkebun seperti di Desa Wisata Agro Trumpon. Selain itu, ada pula desa wisata fauna yang menonjolkan interaksi dengan hewan seperti di Ketingan. Jenis lainnya yaitu desa wisata kerajinan yang menghadirkan proses pembuatan dan usaha kerajinan masyarakat. Contohnya yaitu desa wisata kerajinan Gamplong yang membuat kerajinan dari alat tenun bukan mesin. Jenis terakhir yaitu desa wisata lereng Merapi. Desa wisata ini memberikan kesempatan bagi wisatawan menikmati keindahan Gunung Merapi seperti di desa wisata lereng Merapi Turgo. Keberadaan desa wisata diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Otonomi Daerah. Berdasarkan undang-undang tersebut, pengelolaan desa wisata diserahkan sepenuhnya pada pemerintah daerah sesuai otonominya. Regulasi ini diperkuat dengan UU Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan yang menyatakan bahwa masyarakat memiliki kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan serta dalam penyelenggaraan kepariwisataan. Pelaksanaan program pembangunan desa wisata berada di bawah pengawasan Badan Pengawas Desa (BPD). BPD sendiri berdiri di bawah pengawasan dan pembinaan Dinas Pariwisata Daerah (Diparda).

6

Aplikasi berbagai bidang Keberadaan desa wisata memberi banyak manfaat terutama sebagai alternatif pariwisata yang baru. Desa wisata dapat membuka peluang sebesar-besarnya bagi masyarakat untuk memanfaatkan potensi desa yang mereka miliki. Manfaat yang timbul dapat dirasakan dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, ilmu pengetahuan dan pendidikan, serta lingkungan. Segi ekonomi diuntungkan dengan timbulnya lahan-lahan usaha baru. Misalnya adalah pengelolaan objek wisata, retribusi parkir, souvenir, rumah makan, tempat penginapan, dan pemandu wisata. Usaha tersebut secara otomatis akan memperkuat kehidupan ekonomi dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. “Jadi perputaran uang dari aktivitas pariwisata jangan hanya berputar di Malioboro saja. Dengan adanya desa wisata, wisatawan bisa membelanjakan uangnya sampai ke desa-desa sehingga masyarakat juga merasakan keuntungan dari kunjungan wisatawatan,” kata Tazbir. Dari segi sosial, desa wisata dapat mengurangi kesenjangan antara orang desa dengan orang kota karena timbulnya rasa empati. “Seringkali, pascakunjungan ke desa wisata, wisatawan itu tumbuh rasa kepekaan sosial untuk berbagi,” tutur Tazbir. Seperti yang diungkapkan H Kohdyat, pariwisata merupakan suatu media atau instrumen bagi terjadinya berbagai interaksi. Interaksi ini meliputi antara manusia dengan manusia, kelompok manusia dengan latar belakang sosial budaya yang berbeda, maupun antara manusia dengan lingkungannya. Dari segi budaya, adanya desa wisata akan 'memaksa' masyarakat desa tersebut untuk menggali kebudayaan yang ada puluhan tahun silam dan hampir dilupakan. Masyarakat juga harus mempertahankan nilai-nilai budaya dan adat istiadat yang telah berlangsung agar tetap lestari dan tidak punah di kemudian hari. Dari segi pengetahuan dan pendidikan, desa wisata dapat membuat masyarakat melek terhadap ilmu kepariwisataan. Selanjutnya masyarakat dapat berinovasi dalam pemanfaatan sumber daya yang ada. Hal itu sejalan dengan manfaat di bidang lingkungan yakni pemahaman masyarakat untuk dapat hidup selaras dengan alam dan bersahabat dengan lingkungan. Tentu saja hal tersebut akan meningkatkan daya tarik wisata. Implementasi di lapangan Kerjasama antara masyarakat, pemerintah, dan swasta mutlak diperlukan agar desa wisata dapat berjalan. Masyarakat dituntut untuk proaktif dalam mengeksplorasi dan mengembangkan potensi desanya menjadi daya tarik wisata. Pemerintah sebagai stakeholder wajib memantau dan mengontrol kondisi desa wisata. Pemerintah juga bertugas mempromosikan desa wisata tersebut melalui acara yang diselenggarakan Dinas Pariwisata. Pada 2010 lalu, Dinas


Pariwisata Provinsi DIY telah menganggarkan dana Rp 200 juta untuk pelatihan masyarakat di desa wisata. Dinas Pariwisata juga mengadakan lomba desa wisata, pelatihan dan pembinaan, pengembangan kuliner lokal, dan penataan lingkungan. Selain itu disediakan pula ahli-ahli bahasa asing di tingkat lokal. Sedangkan pihak swasta berperan sebagai investor untuk pengembangan infrastruktur dan pelayanan jasa bagi wisatawan. Dalam pelaksanaannya, upaya pengembangan desa wisata masih menghadapi banyak kendala. Salah satu penyebabnya adalah pola manajemen pengelolaan yang belum optimal. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar), Hengky Hermantoro, menyatakan produk yang cukup beragam sebenarnya menjadi kekuatan dalam pengembangan desa wisata di Indonesia. Akan tetapi, tidak adanya manajemen pengelolaan menyebabkan produk-produk tersebut gagal dipasarkan. “Kita (Indonesia,-Red) sering kuat di produk, tapi lemah di pemasaran. Itu menjadi kendala utama karena sebetulnya produk-produk kita bagus, tetapi tidak bisa menghubungkan ke pasar,� tutur Hengky. Untuk mengatasi permasalahan ini, pihak Kemenbudpar sedang menyiapkan standar pengelolaan desa wisata. Joko Purwanggono, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), menyatakan bahwa desa wisata tidak berkembang baik karena penanganannya tidak serius. Untuk menjadi desa wisata dibutuhkan waktu yang cukup lama dan kesabaran dalam mengembangkan dan mempromosikannya. Menurutnya, keinginan mengembangkan desa wisata saat ini dapat diumpamakan sebagai obor blarak, semangat di awal dan tidak lama kemudian padam. Padahal, selain strategi yang tepat dan promosi, dibutuhkan kesadaran dari masyarakat untuk membangun desa wisata tersebut. Pada level birokrasi, pemerintah daerah seharusnya memperjelas regulasi terkait dengan perkembangan desa wisata. Selama ini regulasi yang ada dirasa kurang memfasilitasi pengembangan desa wisata. Diperlukan pula pembentukan forum komunikasi desa wisata sebagai wadah koordinasi antara masyarakat, lembaga desa wisata, perguruan tinggi, dan dunia usaha/swasta. Instansi terkait khususnya Depbudpar perlu lebih intensif dalam melakukan pembinaan. Selain itu, instansi seharusnya memfasilitasi pertemuan forum komunikasi desa wisata. Pertemuan ini penting agar koordinasi dan ajang berbagi pengalaman dapat benar-benar terwujud. Desa wisata menunjukkan bahwa banyak peluang yang dapat digali dari suatu desa. Maka tak berlebihan bila desa wisata disebut sebagai alternatif wisata baru. Selanjutnya sinergi yang baik dari masyarakat, pemerintah, maupun pihak

swasta akan memaksimalkan potensi-potensi tersebut. Referensi Buku dan surat kabar: Koran Jakarta, 6 November 2009. Departemen Pariwisata.1999. Pariwisata Inti Rakyat. H. Kodhyat.1996. Sejarah Pariwisata dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Grasindo Nuryanti, Wiendu.1993. Concept, Perspective and Challenges, makalah bagian dari Laporan Konferensi Internasional mengenai PariwisataBudaya . Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Saktiawan. F. Yhani.2010. Pentingnya Membangun Partisipasi Masyarakat Dalam Pengembangan Desa Wisata. Situs: Waluyo.Geografi Pariwisata, terarsip dalam: http://file.upi.edu/Direktori/B%20%20FPIPS/JUR.%20PEND.%20GEOGRAFI/197210242001121 %20%20BAGJA%20WALUYA/GEOGRAFI_PARIWISATA/desa%20wis ata.pdf, diakses 8 April 2011. Putra.Eksotisme Sebagai Modal Dasar Pengembangan Desa Wisata, terarsip dalam: http://tourism.padang.go.id/index.php?tourism=news&id =5 diakses 8 April 2011. Soelistiyono.2010.Puluhan Desa Wisata DIY Belum Layak Dikunjungi, terarsip dalam: http://www.mediaindonesia.com/read/2010/09/27/1710 97/124/101/Puluhan-Desa-Wisata-di-DIY-belum-LayakDikunjungi, diakses 8 April 2011 2010. Kualitas Desa Wisata DIY Harus Ditingkatkan, terarsip dalam: http://www.krjogja.com/news/detail/55409/Kualitas.De sa.Wisata.DIY.Harus.Ditingkatkan.html, diakses 12 April 2011 2011.Kemenbudpar: Desa Wisata Gagal Karena Lemahnya Pemasaran, terarsip di: http://www.kbr68h.com/berita/daerah/4039kemenbudpar--desa-wisata-gagal-karena-lemahnyapemasaran, diakses 8 April 2011.

7


Pemerataan Kesejahteraan di Desa Wisata Oleh: Aghnia Rahmi SA dan Muhammad Izuddin

Desa wisata baru dapat dikatakan berhasil jika mampu mencapai tujuan awalnya, yaitu memberantas kemiskinan dan menyejahterakan masyarakatnya.

Foto : Qolib/Bul

Desa wisata merupakan salah satu program untuk memberdayakan masyarakat desa dalam berbagai aspek kegiatan. Didorong oleh kunjungan wisatawan, desa wisata mampu menggali potensi. Potensi tersebut dapat berupa alam, adat-istiadat, budaya, tradisi, kerajinan, homestay (rumah inap), outbound, dan sebagainya. Potensi ini diharapkan dapat diolah oleh setiap warga dalam bentuk tim sehingga dapat menghasilkan uang dan memperbaiki perekonomian masyarakat sekitar. Pengembangan desa wisata sejalan dengan isu yang diangkat oleh pemerintah, yakni pemberantasan kemiskinan dan penyejahteraan masyarakat. “Kita pengen pengembangan desa wisata adalah suatu upaya mengentaskan kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat desa,� terang Pipo Aruhman Nuri, Kepala Sub Pengembangan Destinasi, Bagian Objek Wisata Daerah, Dinas Pariwisata Provinsi DIY. Perkembangan sektor riil Upaya mengentas kemiskinan berhubungan dengan perkembangan sektor riil yang ada di masing-masing desa wisata. Sektor riil melingkupi berbagai bidang, seperti pertanian, kuliner, kerajinan tangan, dan homestay. Berbagai desa telah mengembangkan keempat sektor riil tersebut, bahkan telah berfungsi sebagai sumber penghasilan. Desa Kebon Agung, Imogiri, Bantul misalnya, telah menjadi percontohan yang perkembangan sektor riilnya bersifat kontinyu dan meningkat dari waktu ke waktu. Di desa tersebut pula, seluruh elemen masyarakat terlibat dalam kegiatan yang ada. Di Desa Kebon Agung, bidang pertanian menjadi salah satu sektor yang mendukung perekonomian masyarakat sekitar.

8

Mereka menyediakan jasa bagi wisatawan yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai kegiatan bercocok tanam. Wisatawan dapat melakukan kegiatan pertanian berupa ngluku (membajak sawah) dan tandur (menanam padi). “Yang kita (Kebon Agung,-Red) jual proses bertaninya,� jelas Bahroni, Ketua Tim Pengelola Desa Wisata Kebon Agung. Selain bidang pertanian, wisata alam juga dikomersialisasikan. Wisatawan dapat menikmati kegiatan menyusur dam (bendungan) dengan menggunakan perahu naga. Nantinya, wisatawan juga dapat menikmati flying fox terpanjang di Yogyakarta yang sekarang masih dalam proses penggarapan. Sektor kerajinan tangan juga menjadi andalan berbagai desa wisata, termasuk Desa Kebon Agung dengan hiasan dinding gerabah, kreasi dari pelepah pisang, dan batik. Begitu pula dengan Desa Tembi yang memiliki beragam kerajinan tangan mulai dari batik tulis, meja, dan kursi anyam. Ada juga tempat sampah, tisu, dan tas yang berasal dari daun pandan laut. Di samping pertanian dan kebudayaan, sektor kuliner juga tak kalah menarik. Kebon Agung dan Tembi memberdayakan masyarakat sekitar untuk membuat kuliner khas masingmasing. Kebon Agung menawarkan berbagai makanan khas, seperti apem, keripik tempe, dan rempeyek kacang. Sedangkan Tembi menawarkan bubur yang berbeda dengan daerah lainnya. Bubur khas Tembi masih dimasak secara tadisional, yaitu menggunakan kayu bakar dan gerabah dari tanah liat. Jasa penginapan menjadi fondasi utama dari keseluruhan penghasilan yang didapat setiap desa wisata. Jika satu kali rombongan yang terdiri dari empat orang wisatawan datang ke


Kebon Agung, maka setiap rumah mampu menghasilkan Rp 400 ribu setiap malam. Nominal itu belum termasuk tip yang diberikan oleh tamu. Jika dikalkulasikan, lebih dari Rp 2 juta dapat diraup dalam rentang waktu lima hari. “Sekitar MeiJuni, minimal pendapatan tiap kunjungan Rp 100 ribu (untuk semalam per orang,-Red), belum lagi kalau dapat fee tambahan dari pengunjung,” ujar Sardi, seksi homestay Desa Kebon Agung. Di Tembi, biaya penginapan sehari semalam bagi satu sampai empat wisatawan adalah Rp 350 ribu. Ongkos tambahan sebesar Rp 150 ribu dikenakan jika wisatawan yang menginap lebih dari lima orang. Sektor lain yang menjadi daya pikat wisatawan adalah kebudayaan daerah. Berbagai kebudayaan daerah yang menjadi andalan di antaranya adalah pementasan jathilan (kuda lumping), tarian Jawa, dan pementasan gamelan. Di Kebon Agung, pementasan sepenuhnya ditampilkan oleh warga. Sedangkan Tembi lebih menampilkan sisi budaya melalui arsitektur yang khas Jawa kuno, juga suasana khas desa. Untuk acara tertentu, Tembi menampilkan pementasan wayang dan gamelan. Pengelolaan keuangan Untuk menjadi desa wisata, dibutuhkan kemauan dari masyarakat untuk mengelola desa secara swadaya atau bersama pihak swasta lokal maupun asing. Hal ini juga terkait dengan pengelolaan keuangan dan manajemen desa wisata. “Desa wisata tumbuh dari masyarakatnya sendiri. Dalam hal ini pemerintah hanya sebagai fasilitator. Baik manajemen maupun keuangan, mereka yang ngatur,” ungkap Pipo ketika ditanya perihal manajemen dan keuangan desa wisata. Untuk memenuhi kebutuhan finansial, mereka mengandalkan kunjungan tamu dan dana pemerintah melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) 2009 sampai 2011. “Jika ada tamu, keuntungan dapat untuk beli pulsa, makan untuk penjaga piket, dan biaya operasional. Keuntungan semuanya kita serahkan pada warga dan sepuluh persen untuk operasional,” papar Bahroni. Sedangkan dana PNPM Mandiri dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata selama tiga tahun belakangan digunakan untuk melengkapi sarana dan prasarana. Seperti dikatakan oleh Bahroni, “pada tahun pertama kami mendapatkan Rp 50 juta dan dibelikan untuk tenda, sound system, gamelan, dan lesung. Sedangkan pada 2010, 20% dana dari uang sejumlah Rp 60 juta kita gunakan untuk pelatihan adik-adik UGM yang KKN di sini (Kebon Agung,-Red). Dari kegiatan ini kita dilatih berbahasa asing, membuat cinderamata, dan membatik. Sedangkan untuk tahun ini, cair bantuan sejumlah Rp 100 juta dan oleh pihak pengelola akan digunakan untuk pengadaan kloset duduk.” Sama halnya dengan Kebon Agung, Tembi juga mendapat kucuran dana dari PNPM Mandiri 2011. “Dana PNPM yang Rp 65 juta akan digunakan untuk membeli gamelan dan dipan (tempat tidur,-Red). Program ini akan dilaksanakan secara bertahap di Tembi 1 dan Tembi 2 (Dusun Tembi 1 dan 2 adalah dusun yang rencananya akan dijadikan ekspansi desa wisata Tembi setelah dana PNPM cair,-Red),” jelas Daud Subrata, pemilik Rumah Tembi. Meski sama-sama mendapat bantuan dana dari kementerian, manajemen dan pengelolaan keuangan Tembi tidak semerata di Kebon Agung. Daerah Tembi dikelola oleh beberapa pihak swasta. Di antaranya adalah Suwantoro (pemilik Rumah Budaya Tembi), Warwick, seorang berkebangsaan Meksiko (pemilik D'Omah Tembi), dan Daud Subrata, warga asli Tembi (pemilik Rumah Tembi). Kepemilikan swasta nantinya berpengaruh pada pengelolaan keuangan Desa Tembi. Tak ada struktur organisasi jelas yang melibatkan warga dalam pengelolaan desa wisata ini. Rumah Tembi milik Daud misalnya, pengelolaan keuangan murni diambil alih oleh Daud dan keluarga. Pola yang sama juga berlaku di D'Omah Tembi maupun Rumah Budaya Tembi, yaitu masing-masing pemiliklah yang mengelola keuangan. Jika berbicara dalam konteks ekonomi kapitalis, para pemilik swasta bisa dikatakan sebagai pemilik modal

sedangkan warga sebagai kaum proletar. Warga hanya dilibatkan dalam beberapa kegiatan, bukan sebagai konseptor. Kegiatan tersebut diantaranya seperti shooting film rumah produksi. “Kadangkala kalau ada shooting film, warga juga diikutkan biar mendapat honorarium,” papar Daud. Mengenai pemasukan melalui sewa tempat untuk shooting film, sebagian besar dikelola oleh Daud. “Untuk shooting film maka harus ngasih ke kas RT (Rukun Tetangga,-Red) dan desa wisata 10 persen dari penghasilan. Misal satu juta, yang lima persen untuk kas RT dan lima persen untuk desa wisata jadi masingmasing mendapatkan Rp 50 ribu,” terang Daud. Jadi, pengelolaan keuangan didominasi oleh pemilik modal yang juga bagian dari warga. Berbeda dengan Tembi, di Kebon Agung pengelolaan manajemen keuangan berada langsung di pihak warga. Dana yang masuk dikelola langsung oleh Tim Pengelola Desa Wisata. Namun, untuk sektor tertentu, seperti homestay, diambil alih langsung oleh setiap warga pemilik rumah inap. “Jadi kalau ada tamu, penerimaan homestay dipotong Rp 2.000,- tiap orang. Umpamanya ada 50 anak jadi ada Rp 100 ribu, dibagi Rp 50 ribu untuk anak muda, Rp 50 ribu untuk kas orang tua. Itu pemasukan kampung. Tetapi kalau pemasukan pribadi ya sudah cukup banyak,” terang Sardi. Pemerataan penghasilan Sejauh ini, dapat disimpulkan bahwa kepemilikan potensi sebuah desa wisata dapat dibedakan menjadi dua jenis. Beberapa desa wisata mengelola keuangan secara bersamasama melalui paket wisata. Ada pula paket wisata yang keuangannya dikelola oleh pemilik modal. Jenis ini bisa disebut sebagai privatisasi desa wisata. Perbedaan pengelolaan keuangan tentu berpengaruh pada ekonomi masyarakat desa tersebut. Pipo mengakui bahwa pengelolaan desa wisata oleh pemilik modal akan lebih maju karena kemungkinan sumber daya manusianya memadai. Sementara desa wisata yang dikelola murni oleh masyarakat setempat menurutnya memiliki kemampuan terbatas karena dikelola apa adanya. Ironis memang ketika komersialisasi terjadi dan dilakukan oleh salah satu pihak. Tidak seluruh masyarakat dapat merasakan dampak dari pengembangan desa wisata. Hal ini dituturkan oleh Legiyem, salah seorang warga desa wisata Tembi. “Belum dapat apa-apa. Warga yang dilibatkan hanya sebagian, warga yang mewah-mewah,” tuturnya. Legiyem merasa tidak ada yang berubah dari segi ekonominya seiring dengan pembangunan desa wisata Tembi. Jadi, keuntungan ekonomi di Tembi didominasi oleh satu pihak, berbeda dengan Kebon Agung yang cenderung lebih merata. Di Kebon Agung, pemberdayaan masyarakat benar-benar ditegakkan. Masyarakat dilibatkan dalam setiap kegiatan. Alhasil, setiap warga merasakan dampaknya. “Nggih kathah, menawi wonten wisatawan (Ya banyak, kalau ada wisatawan,Red),” ungkap Yati, salah seorang warga Kebon Agung yang juga pembuat keripik tempe ketika ditanya perihal banyaknya pembeli. Perputaran uang yang terjadi di Kebon Agung benar-benar diterapkan dari masyarakat dan untuk masyarakat. Bahroni menerangkan misalnya pada suatu waktu sebuah rumah kedatangan tamu sebanyak empat orang. Bila masing-masing tamu membayar Rp 20 ribu saja sudah cukup untuk membayar tagihan listrik si pemilik rumah. Di samping itu, pembagian hasil antarwarga pun kerap kali dilakukan, terlebih untuk warga lanjut usia. Mereka yang memiliki tambahan penghasilan dari homestay, selalu menyisihkan untuk kaum lanjut usia. Memang, pengelolaan secara swadaya yang dipegang langsung oleh masyarakat lebih menekankan aspek pemerataan penghasilan. Sehingga, tujuan awal pendirian desa wisata, yakni untuk mengentaskan kemiskinan, lambat laun akan tercapai. Bagaimanapun juga, kunci keberhasilan desa wisata bukan dari seberapa banyak uang yang didapat. Namun, seberapa meratanya penghasilan tersebut diterima oleh setiap warga.

9


KKN: Mahasiswa Mengabdi, Masyarakat Mengamini Oleh: Novrita Hadriani dan Primastuti Musthika Wardani Meski menghadapi banyak tantangan, mahasiswa turut andil dalam membangun potensi desa wisata melalui peningkatan akses, infrastruktur, maupun peran aktif masyarakat lokal. Di Indonesia, pengembangan desa wisata terasa masih kurang. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah wilayah yang mempunyai potensi pariwisata tetapi belum mendapat perhatian dari pemerintah. Masyarakat memiliki andil yang besar untuk mengembangkan daya tarik wisata daerahnya melalui pemeliharaan sumber daya alam dan budaya. Akan tetapi, terkadang usaha-usaha pengembangan pariwisata yang berorientasi pada masyarakat lokal belum maksimal. Masyarakat belum memiliki kemampuan, baik secara finansial maupun keahlian, dalam mengelola kegiatan pariwisata. Di sinilah diperlukan peran mahasiswa dan pihak lain mulai dari swasta, pemerintah, hingga universitas untuk mengembangkan potensi desa wisata. Sebagai kelompok dengan modal pendidikan dari berbagai ilmu, mahasiswa diharapkan mampu menerapkan kemampuan yang diperoleh di bangku kuliah. Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) kemudian menjadi salah satu wadah bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu mereka di kehidupan sehari-sehari. Minat mahasiswa tinggi KKN-PPM secara umum merupakan program pendidikan yang dilaksanakan perguruan tinggi untuk meningkatkan relevansi universitas dengan kebutuhan masyarakat. Selain itu, KKN juga memberi pendidikan pelengkap bagi mahasiswa sekaligus membantu masyarakat melancarkan pembangunan. Penyelenggaraan KKN bertolak dari permasalahan nyata kehidupan masyarakat melalui pendekatan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Masyarakat dapat memperoleh bantuan terutama sumbangan pemikiran dan dorongan untuk mengubah atau meningkatkan pola pikir, pengetahuan, dan keterampilan. Dengan demikian, tingkat swadaya masyarakat di lokasi KKN yang selama ini menurun dapat meningkat kembali. Dalam pembekalan KKN, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UGM memberikan pedoman dasar apa saja yang akan dilakukan mahasiswa. Dalam pembekalan ini, dijelaskan bahwa KKN dapat meningkatkan pengetahuan, perasaan, kemampuan, dan kesadaran mahasiswa tentang berbagai masalah. Manfaat lainnya, mahasiswa dapat mengetahui bagaimana memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. Mahasiswa juga akan lebih paham bagaimana seharusnya dirinya berperan lebih jauh bagi masyarakat. Dari tahun ke tahun tema pengembangan desa wisata semakin diminati oleh mahasiswa KKN UGM. Terbukti dengan meningkatnya kelompok mahasiswa yang mengambil tema tersebut, baik di Jawa maupun di luar Jawa. Data KKN LPPM UGM 2010 menunjukkan lebih dari 30 judul proposal mengambil tema tentang pengembangan dan pengelolaan desa wisata. Judul-judul ini kemudian akan dianalisis kelayakannya oleh LPPM UGM selaku penyelenggara KKN. Menurut Suharman, Sekretaris Bidang Pengelolaan KKNPPM, tema pengembangan desa wisata banyak diminati oleh mahasiswa karena kondisi geografis Indonesia yang kaya

10

Foto: Eka/Bul

potensi alam dan etnik budaya. Potensi besar yang dimiliki tiap daerah di Indonesia tentu perlu dikembangkan agar tidak bertumpu pada satu daerah wisata saja. Suharman juga menyatakan pandangannya mengenai program KKN yang dilaksanakan di desa wisata. “Pelaksanaan KKN di desa wisata merupakan suatu tindakan pengabdian mahasiswa terhadap masyarakat. Bentuk kegiatannya pembangunan desa wisata yang diharapkan dapat meningkatkan peran aktif masyarakat lokal dalam proses pembangunan,� jelasnya. Salah satu peran mahasiswa adalah mengarahkan suatu perubahan yang terjadi di lokasi KKN. KKN yang bertemakan desa wisata mempunyai nilai tambah dalam membantu pemerintah daerah mengembangkan potensi yang dimiliki wilayahnya. Apresiasi pemerintah daerah terhadap program KKN cukup tinggi. Hal ini terlihat dari respon dalam menyambut kedatangan mahasiswa KKN tersebut. Menurut Suharman, banyak daerah yang memuji hasil kinerja mahasiswa KKN UGM terkait pengembangan desa wisata. Salah satu contohnya terlihat ketika sebuah desa wisata di Gorontalo mengirimkan petugas LPPM Universitas Gorontalo untuk magang di UGM. Kegiatan magang ini dilakukan setelah pengelola desa wisata melihat kinerja dan manajemen pelaksanaan KKN mahasiswa UGM di Gorontalo. Pemerintah Gorontalo juga mengungkapkan keinginan untuk melanjutkan kerjasama KKN. Pengembangan desa wisata melalui KKN dapat dilakukan berkelanjutan hingga beberapa tahap. Artinya, kelompok KKN di tahun berikutnya dapat menjalankan kegiatan di wilayah yang sama dan melanjutkan program tahun sebelumnya. Contohnya mahasiswa KKN di daerah Kebumen yang mengambil tema penghijauan daerah pesisir sebagai pendukung desa wisata. Dari awal pelaksanaannya, KKN ini telah melewati tujuh tahap hingga 2010 lalu. Dengan adanya KKN bertahap, diharapkan pengembangan dan pengelolaan desa wisata lebih fokus pada suatu bidang di setiap tahapannya.


Foto: Eka/Bul Karakter masyarakat Program KKN diproyeksikan untuk pembangunan desa wisata agar dapat berkembang, tidak primitif lagi, dan dikenal oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, ada saja kesulitan dan tantangan yang dihadapi oleh mahasiswa dalam melaksanakan program KKN. Seringkali pada awal program, respon masyarakat terhadap mahasiswa KKN sulit dikendalikan. “Masyarakat tidak merespon program KKN kita pada minggu pertama, tetapi dengan pendekatan personal dapat mendekatkan mahasiswa dengan masyarakat,” terang Iyez (MKP UGM '07) yang telah menjalani KKN di desa wisata Bintet, Bangka. Harapan yang tinggi dari masyarakat juga menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa peserta KKN. Umumnya masyarakat yang desanya menjadi tempat KKN bertahap menganggap keberhasilan program KKN memiliki kesamaan tiap tahunnya. Menurut Kusyanto, Ketua RW 10 Kampung Ndalem, Kotagede, peran dari mahasiswa peserta KKN seperti angin lalu. Kusyanto menyampaikan, KKN yang dilakukan mahasiswa biasanya tidak menciptakan sesuatu yang baru tetapi hanya membantu pelaksanaan kegiatan yang sudah ada. Contohnya adalah Pemberdayan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) atau Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Selain itu, kesulitan yang paling banyak ditemui dalam pelaksanaan KKN di desa wisata adalah karakter masyarakat. “Sebenarnya keberhasilan KKN itu dapat dilihat dari perubahan pola karakter masyarakatnya,” ungkap Rivan (Teknik Sipil UGM '08). Jika setelah KKN selesai hanya tersisa pembangunan fisik sementara pola karakter masyarakat masih sama, maka pengembangan pun akan berhenti begitu saja. “Namun, bila pola karakter untuk selalu mengembangkan desa wisata sudah tertanam pada masyarakat, pengembangan dan pengelolaan dari masyarakat desa itu sendiri akan tetap berjalan,” jelas Rivan yang akan menjalani KKN di Desa Labuhan Haji, Lombok Timur. Kerjasama dan kepercayaan Peran mahasiswa dalam mengembangkan desa wisata akan bernilai positif bila mampu mengarahkan dan mengendalikan suatu perubahan. Kegiatan KKN dapat membuat suatu desa menjadi lebih dikenal daripada sebelumnya. Perubahan ini tak lepas dari usaha mahasiswa KKN untuk meningkatkan jumlah wisatawan dengan memberdayakan potensi yang ada. “Alhamdulillah sekarang Desa Bintet lebih dikenal oleh masyarakat luas sebagai kawasan wisata pantai yang bersih dan asri. Pemberian benih pohon kepada tiap penduduk diharapkan dapat membuat Bintet Asri baik bagi generasi sekarang maupun generasi selanjutnya,” ungkap Iyez.

Ade (JPP UGM '08) berpendapat, KKN desa wisata dapat memberikan kontribusi positif bagi proses pemberdayaan masyarakat lokal. Nilai positif akan sangat terlihat ketika mahasiswa mampu mengembangkan potensi daerah sehingga tidak perlu terlalu bergantung kepada pemerintah. Program KKN yang akan dilaksanakan Ade merupakan program pengembangan pariwisata air danau. Di samping itu, terdapat pula program penggunaan air danau sebagai air besih di Desa Waesono, NTT. Program KKN ini merupakan tahap kelanjutan dari tahun sebelumnya. Pada KKN tahap pertama yang dilaksanakan pada 2010, respon masyarakat NTT cukup bagus. Bahkan pemerintah NTT pun mulai mempublikasikan Desa Waesono sebagai ikon wisata. Selain memberdayakan masyarakat, mahasiswa KKN juga memiliki program pendukung berupa pembangunan infrastuktur sebagai penunjang kegiatan pariwisata di desa wisata tersebut. Program dilaksanakan atas kerjasama dengan pihak swasta maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Peran serta alumni universitas juga berpengaruh dalam kelancaran birokrasi di wilayah tersebut. Rivan mengatakan, selain bekerja sama dengan kepala Dinas Pariwisata, ada pula bantuan dari beberapa alumni yang ada di Lombok. Untuk biaya KKN sendiri, mahasiswa bekerja sama dengan pihak swasta yang memberi dana sponsor atau investasi pengelolaan desa wisata. Dalam pelaksanaan KKN 2010 di Bintet, Bangka, mahasiswa bekerjasama dengan dinas kesehatan dan beberapa dokter dalam pembagian jamban gratis. Fasilitas ini diberikan agar masyarakat lebih menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Pemberian fasilitas tersebut akan percuma jika tidak disertai dengan perubahan pola pikir masyarakat akan pentingnya kebersihan. Oleh karena itu, peran pemerintah daerah juga diperlukan dalam membantu mahasiswa KKN terutama dalam regulasi dan sosialisasi program. Sementara itu, UGM memberi fasilitas berupa dana KKN sebesar masing-masing Rp 12 juta untuk 20 proposal terbaik. Keberhasilan program-program KKN desa wisata tahun sebelumnya juga ingin ditiru oleh KKN di Desa Waesono, NTT. “Kami mengharapkan desa wisata di Waesono dapat dikenal seperti di desa sebelahnya yakni Pulau Komodo,” jelas Ade. Pengembangan desa tersebut mengandalkan Waesono sebagai pusat air untuk NTT.“Kawasan tersebut patut diberdayakan dan dilestarikan agar tercapai peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat,” tukasnya. Senada dengan Ade, Rivan mengatakan bahwa Labuhan Haji mempunyai potensi sebagai sentra perdagangan ikan dan penghasil berbagai jenis makanan khas Lombok. Jadi KKN di Labuhan Haji tetap bisa berjalan meski daerah tersebut di Lombok bagian belakang dan bukan merupakan daerah penangkapan ikan. Masyarakat setempat belum menyusun konsep dan mengatur potensi tersebut sebagai bisnis pariwisata. Mereka hanya menjual tanpa pemikiran bisnis jangka panjang. “Program pengembangan masyarakat dalam bentuk penyuluhan keterampilan tata cara kewirausahaan itulah yang nantinya akan kami berikan,” pungkas Rivan. Pengembangan desa wisata bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Mahasiswa KKN biasanya mengawali pengembangan desa wisata di tempat yang belum memiliki infrastruktur maupun akses yang memadai. Butuh kerja keras dalam melaksanakan program KKN desa wisata. Dalam pelaksanaannya, kerja sama masyarakat setempat juga penting terhadap tercapainya target program KKN. Tanpa kepercayaan masyarakat terhadap mahasiswa, mustahil kerjasama dapat tercipta.

11


Jaga Kearifan Lokal, Saring Pengaruh Asing Oleh: Amanatia Junda, Salsabilla Sakinah

Kedatangan wisatawan, terutama wisatawan mancanegara, sedikit banyak berpengaruh pada budaya dan gaya hidup masyarakat lokal di desa wisata. Berbagai mekanisme penyesuaian pun dilakukan, dengan konsep mengambil yang baik dan menyaring yang buruk. Pembagian baru pariwisata internasional di awal abad ini adalah keberagaman pariwisata alternatif berbasis komunitas di negara berkembang. Eksistensi desa wisata tentu tak dapat dilepaskan begitu saja dari pengaruh para wisatawan yang datang ke sana. Para wisatawan tersebut biasanya memiliki nilai-nilai yang berbeda dari norma yang berlaku dalam masyarakat lokal. Ketika mereka datang, terjadi persinggungan yang saling mempengaruhi karakteristik antarbudaya. Apalagi, desa wisata sebagai bentuk pariwisata berbasis komunitas merupakan wadah akomodasi pertemuan budaya asli dengan budaya luar yang saling bersinergi. Persinggungan budaya “Pengaruh budaya itu pasti ada,” tutur Prof Heddy Shri Ahimsa-Putra, MA, MPhil, PhD. Guru Besar Antropologi Budaya UGM. Untuk wisatawan domestik, pengaruh itu memang tidak terlalu terasa. Latar belakang budaya tidak terlalu berbeda dan masih dalam konteks satu bangsa. Lain halnya ketika yang datang adalah wisatawan mancanegara. “Itu pun tidak bisa digeneralisir karena akan berbeda ketika yang datang adalah wisatawan Amerika, atau Eropa, atau Jepang misalnya,” tambahnya. Berbicara mengenai persinggungan budaya, harus dipahami terlebih dahulu apa definisi budaya itu sendiri. Pengertian budaya seringkali dibatasi pada pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang memenuhi hasratnya akan nilai estetika. Seperti misalnya kesenian, tarian, nyanyian, atraksi panggung, hasil kriya, dan lain-lain. Apabila menggunakan pengertian sempit tersebut, boleh dikatakan tidak ada pengaruh budaya asing yang signifikan pada desa wisata. Hampir tidak ditemukan, atraksi budaya yang menjadi ciri khas suatu desa wisata dipadukan dengan atraksi dari luar negeri. Kalaupun ada yang terkait, bukan berupa akulturasi melainkan degradasi, apabila atraksi dan benda-benda seni yang dipertunjukkan menurun tingkat kesakralannya. Seperti yang terjadi pada suku Batak Toba di kawasan wisata Pulau Samosir. Berkembangnya sektor wisata ini menyebabkan artefak asli yang dulunya bersifat sakral berubah. Artefak-artefak tersebut antara lain tongkat tunggal Panaluan, rumah adat, buku Lak-Lak dan bahkan kain tenun Ulos. Selain definisi sempit tersebut, kebudayaan juga dapat diartikan secara luas. Kebudayaan merupakan totalitas atau keseluruhan pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang tidak berakar pada nalurinya, melainkan dihasilkan dari proses belajar (Koentjaraningrat, 1974). Sementara Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (dalam Soekanto, 2002: 173) merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Kebudayaan lokal tidak hanya berupa produk kesenian atau pun kerajinan, tetapi juga dapat berupa habitus, ritual, rutinitas, dan tradisi warga setempat. Pada definisi kebudayaan secara luas inilah terlihat persinggungan budaya antara budaya luar dan lokal, yang lantas berpengaruh pada masyarakat setempat. Penyerapan budaya Adakalanya persinggungan budaya tersebut melahirkan culture shock atau gegar budaya. Namun, sebagai daerah tujuan wisata, desa wisata tentu telah dipersiapkan untuk dikunjungi orang luar sehingga warga setempat cenderung lebih terbuka terhadap kebudayaan yang masuk. Yang kerap terjadi justru

12

cultural animosity, yaitu pertemuan dua budaya yang seimbang dan saling menolak. Arus wisatawan yang terusmenerus berdatang an bisa Foto: Remo/Bul saja lambat laun mengubah gaya hidup warga lokal dengan adanya proses imitasi atau peniruan. Proses ini terjadi karena nilai budaya wisatawan cenderung dianggap lebih tinggi, modern dan canggih. Misal, seorang wisatawan asal ibukota membawa laptop dan modem untuk mengakses internet di suatu desa. Karena internet masih merupakan suatu hal yang asing bagi warga desa setempat, mereka mulai beradaptasi dengan perilaku wisatawan tersebut bahkan mungkin bisa terjadi proses pengenalan teknologi ini terhadap warga. Setelah kelebihan dari internet mereka ketahui, akhirnya musyawarah desa memutuskan penambahan fasilitas umum, seperti warnet. Contoh paling mudah dapat dilihat pada perubahan gaya hidup masyarakat lokal, seperti makanan, mode, atau desain rumah. Awalnya mungkin perubahan itu dilakukan hanya pada tamu asing, untuk membuat mereka lebih nyaman. Namun lama-kelamaan, selera tersebut diterima masyarakat luas dan diadopsi dalam kehidupan sehari-hari. “Misalnya, wah ada orang asing, ayo kita sediakan roti, buat makanan dari roti. Lalu roti pun menjadi makanan sehari-hari,” jelas Heddy mencontohkan. Pengaruh lain bisa terlihat dalam hal kebersihan dan sanitasi. Pada rumah yang disediakan untuk tamu, misalnya. Gaya rumahnya mungkin tetap berupa rumah tradisional, tetapi diberi sedikit sentuhan modern, dengan kebersihan dan sanitasi yang lebih baik. Kamar mandi dibuat lebih bersih, tidak lagi sebatas jamban di atas sungai dan lantainya terbuat dari keramik. Begitu pun dengan kebersihan makanan dan minuman. “Bule biasanya nggak mau minum air matang (air rebusan-red). Menurut mereka, air matang nggak terjamin kebersihannya. Jadi warga sini pakai air galon biar kelihatan steril,” tutur Edi Suparto, ketua kesenian dan kebudayaan Prawirotaman. Membendung pengaruh negatif Tidak semua pengaruh asing yang merasuk dalam budaya masyarakat setempat merupakan pengaruh positif. Warga Desa Ubud, Bali, meyakini konsep Rwa Bhineda, yakni satu konsepsi dualistis yang merefleksikan bahwa dalam hidup ini selalu ada dua kategori yang berlawanan, seperti baik dan buruk, sakral dan profan, dan sebagainya. Selalu ada positif dan negatif dalam setiap hal, termasuk tentang kedatangan wisatawan


asing di desa mereka. Karena itu, mereka sudah mempersiapkan diri terlebih dahulu, salah satunya dengan melakukan pengawasan ketat terhadap pendatang. Aturan pengawasan tersebut diatur dalam suatu perareman yakni hasil mufakat para tetua desa. Ketahanan budaya masyarakat Ubud juga sangat didukung oleh kuatnya peran aktif tokoh puri, yaitu pimpinan tradisional yang karismatik. Alhasil, tradisi adat seperti makekawin, mekidung, sembahyang di hari Tilem atau Saraswati, dan pembacaan karya sastra dalam lontar tetap terjaga. Padahal masyarakat Ubud juga diserbu arus globalisasi yang dibawa wisatawan asing. Berbeda dengan masyarakat Tuktuk Siadong dan Tomok di kawasan Toba. Mereka tidak memiliki ketahanan yang cukup kuat sehingga nilai-nilai solidaritas turut berubah. Kepentingan

Foto: Remo/Bul

penguasaan akses ekonomi di pihak swasta menimbulkan konflik antargenerasi marga seperti sengketa klaim tanah warisan. Tanah tersebut dulu berupa kawasan hak ulayat desa. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa konsekuensi positif banyaknya turis mancanegara membuat masyarakat Tuktuk Siadong dan Tomok cukup lancar berbahasa asing secara lisan. Salah satu contoh pengaruh buruk yang mungkin dibawa oleh wisatawan asing adalah kebiasaan mabuk-mabukan dan clubbing sampai pagi. Inilah yang terjadi di kawasan Prawirotaman, Yogyakarta. Prawirotaman seringkali dipadankan dengan kawasan Legian di Bali, sebagai pusat para turis mancanegara menginap. Berdasarkan pola pembentukan dan tipe pengelolaannya, Prawirotaman termasuk dalam kategori desa wisata tipe terbuka. Karakter utama dari tipe ini adalah tumbuh menyatunya kawasan wisata, baik pola maupun ruang, dengan struktur kehidupan masyarakat lokal. Dampak positifnya, distribusi pendapatan yang didapat dari wisatawan dapat langsung dinikmati oleh penduduk lokal. Namun pengaruh negatif yang dibawa pengunjung juga cepat menjalar dan melebur dalam kehidupan penduduk lokal sehingga cukup sulit dikendalikan. Di sinilah peran masyarakat lokal dalam membendung pengaruh negatif yang dibawa pengunjung menjadi sangat penting. Di Prawirotaman, terdapat aturan yang membatasi jam beroperasi kafe. “Kalo ada musiknya, dibatasi sampai jam 11 malam. Kalo nggak ada, boleh sampe jam 12,” jelas Susanto, ketua RT Prawirotaman I. Pembatasan itu diterapkan agar tidak mengganggu kenyamanan warga yang ingin beristirahat. Mengenai minuman keras, Susanto tidak melarang penjualannya di Prawirotaman. Namun, teguran akan dilayangkan apabila para tamu itu mabuk dan berbuat onar. ”Minumannya silakan jual. Tapi kalau kebanyakan, sampai mabuk, jadi nggak terkontrol, nah itu yang mengganggu,” ujarnya. Masyarakat sebenarnya juga berhak menolak menyediakan minuman keras dan wisatawan tidak bisa memaksakan hal

tersebut. “Masyarakat bisa bilang, kalau tidak mau mengikuti aturan yang berlaku, ya silakan tidak usah ke sini,” tegas Heddy. Penegasan serupa bisa diberlakukan tak hanya untuk pengunjung tetapi juga untuk pelaku usaha. Bila ada kafe di Prawirotaman yang melanggar aturan jam malam, Susanto sendiri yang akan turun tangan memperingatkan. Kalau nggak mau patuh, ya nggak usah buka usaha di sini,” tandasnya. Lain halnya dengan apa yang dilakukan Zaenuddin di Desa Wisata Sawarna, Kabupaten Lebak, Banten. Khawatir dengan pengaruh gaya hidup bebas yang dibawa wisatawan asing, ia mendirikan pesantren untuk anak-anak muda di sana. Ia ingin kultur Desa Sawarna yang agamis tetap terjaga meski semakin banyak wisatawan dari berbagai negara yang berkunjung ke sana. Pulung Setiosuci Perbawani SIP, MM, staf pengajar Jurusan Ilmu Komunikasi UGM menjelaskan bahwa desa wisata di Yogyakarta pada umumnya mempunyai budaya yang relatif sama. Dengan demikian, yang dimaksud dengan budaya asli Yogyakarta adalah budaya kolektif yang ada di Yogyakarta sendiri. Ia berpendapat konsep yang seharusnya diberlakukan dalam desa wisata adalah bagaimana memberi wawasan budaya baru kepada wisatawan, bukan menerima budaya dari mereka. “Memang, kita bisa gunain ucapan seperti good morning atau ohayou gozaimasu buat wisatawan Jepang misalnya. Tapi mereka akan senang jika bisa ngucapin kalimat sugeng enjing dan mempunyai sesuatu yang baru untuk dibawa pulang,” pungkas wanita yang juga pernah menjadi dosen pembimbing lapangan (DPL) KKN pengembangan desa wisata di Dusun Brayut, Sleman ini. Pada akhirnya, semua memang kembali pada keputusan yang dibuat masyarakat setempat untuk menjaga budayanya. Adat pun merupakan hasil kebudayaan sehingga ia bersifat mengikat siapa pun yang berada dalam otoritas wilayahnya, termasuk wisatawan. Tidak perlu mengkhawatirkan sepinya kunjungan wisatawan apabila memberlakukan aturan dan batasan tertentu. Justru, hal tersebut dapat menjadi nilai budaya asli tersendiri yang ingin dirasakan wisatawan. Budaya asli itulah yang merupakan komoditas utama desa wisata untuk menarik wisatawan. Aktivitas seperti membajak sawah secara manual, menumbuk padi, tradisi nginang (mengunyah sirih), sarapan dengan kuliner daerah yang khas, atau tidur dalam rumah berbentuk joglo merupakan contoh kekayaan budaya tuan rumah yang ingin diakrabi oleh wisatawan asing. Referensi Buku: Koentjaraningrat. 1974. Kebudayaan, Mentaliteit, dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia. Panca, I Made. 1996. Dampak Pengembangan Pariwisata Terhadap Kehidupan Sosial Budaya Daerah Bali. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Soekanto, Soerjono. 2002. Sosiologi; Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Sugiantoro, Ronny. 2000. Pariwisata; Antara Obsesi dan Realita. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Tanjung, Zuraida. 1993. Dampak Pengembangan Pariwisata terhadap Kehidupan Sosial di Daerah Sumatera Utara. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Website: Admin. 2010. Desa Wisata. Diakses dari http://www.id.wikipedia.org/wiki/Desa_Wisata Admin. 2007. Tak Ingin Sawarna Berubah Warna. Diakses dari http://bantencorner.wordpress.com/2007/11/10/khzaenuddin-berjuang-di-tengah-globalisasi-desa-sawarna

13


Perubahan Berbuah Positif Oleh: Annisa Ika Tiwi, Dwi Annisa Putri, dan Siti Alifah Farhana Dinanta Desa wisata membawa pengaruh positif bagi masyarakatnya, terutama jika masyarakat bahumembahu mencari solusi dari perubahan yang terjadi.

Keberadaan desa wisata menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun asing. Adanya pengunjung yang datang tentu saja menimbulkan banyak perubahan bagi kehidupan masyarakat. Perubahan tak hanya terjadi di bidang ekonomi dan lingkungan desa, tetapi juga dalam aspek perilaku maupun pola pikir masyarakat desa setempat. Aturan yang berlaku Sebuah tempat, di mana pun ia berada selalu memiliki aturan. Tak terkecuali desa wisata yang berada di Yogyakarta. Aturan yang dibuat umumnya tidak terlalu menyulitkan pengunjung. Contohnya saja Desa Wisata The New Nglepen di daerah Prambanan, Sleman. Desa wisata yang terkenal dengan rumah dome ini, tidak memiliki peraturan khusus bagi pengunjung. Wisatawan yang datang hanya diminta membayar kontribusi sebesar Rp 2.000,00/orang bagi pengunjung umum dan Rp 5000,00/orang bagi pengunjung rombongan minimal sepuluh orang. Kontribusi tersebut digunakan untuk mengelola fasilitas aula, speaker, dan pemandu yang akan mengajak berkeliling. Pengunjung bebas melakukan apa saja asal masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu masyarakat. Selain membayar kontribusi, pengunjung hanya diwajibkan menjaga lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya. Meski demikian, kebebasan tersebut bukan berarti melegalkan seluruh pengunjung untuk melakukan apa saja tanpa perizinan. Sugiyono, Kepala RT dan pengelola Desa Wisata The New Nglepen, menceritakan pernah ada serombongan pengunjung yang menjadikan musala sebagai tempat makan dan tidur. Bila hanya sehari tidaklah menggusarkan masyarakat, tetapi tatkala hal tersebut berlanjut hingga hari ketiga, pengurus desa pun memutuskan untuk turun tangan. Sempat terjadi bentrok antara masyarakat dan rombongan tersebut karena masyarakat menganggap musala adalah tempat beribadah, bukan tempat makan dan tidur. Terlebih lagi, mereka belum melakukan perizinan kunjungan. Selain kontribusi, Sugiyono mengatakan pengunjung juga perlu melakukan perizinan untuk mempermudah pengelola dalam menyambut dengan baik tamu yang datang. Aturan dalam hal perizinan juga diamini Agus, selaku ketua pelaksana Desa Wisata Garongan yang berada di deaerah Turi, Sleman. “Ya paling aturannya siapa pun yang mau ke sini harus mengurus izin dulu,” ujar Agus menambahkan. Masyarakat menghargai privasi setiap pengunjung yang datang sehingga tidak ada aturan tertulis yang dibuat pengelola untuk para pengunjung. Peraturan yang ada hanyalah aturan lisan menurut kebudayaan masyarakat setempat. “Dulu sih pas tinggal di sana aturannya kalau di atas jam 5 sore enggak boleh turun ke sungai lagi,” ucap Suroyya (Ilmu Komunikasi '07), mahasiswa yang pernah KKN di Desa Wisata Garongan. Ngati, warga yang rumahnya pernah dijadikan live in oleh siswa SMA Alloysious, Surabaya pun menuturkan, “kami enggak pernah ngasih aturan khusus untuk pengunjung yang mau live in.

14

Foto: Eka/Bul

Syaratnya cuma harus mengikuti semua aturan yang ada di rumah yang mereka tinggali saja kok.” Perubahan masyarakat 'Ada berkah di balik sebuah musibah' adalah sebuah kalimat yang tepat bagi masyarakat Desa Wisata The New Nglepen. Maarakat sekitar memberi julukan rumah teletubbies bagi kompleks perumahan dome yang terdiri dari 72 hunian dan 8 tempat umum ini. Bangunan tersebut berbentuk setengah lingkaran dengan diameter 7 m2 untuk hunian dan 9 m 2untuk tempat umum seperti aula dan musala. Bangunan hunian terdiri dari dua ruang tidur, satu ruangan tamu, dapur, ruang makan, dan ruang keluarga yang digabung menjadi satu. Bangunan tersebut juga memiliki dua tingkat, dengan bahan lantai atas dari kayu. Biasanya pada siang hari, di lantai atas terasa panas, tetapi pada malam hari terasa dingin. Di lantai bawah justru sebaliknya, siang sejuk tetapi malam terasa gerah. Kompleks perumahan ini merupakan sumbangan dari sebuah lembaga swadaya masyarakat Jerman dan karya arsitek berkewarganegaraan Amerika Serikat bernama David South. Rumah dome didesain sebagai tempat tinggal tahan gempa, tahan angin, dan tahan kebakaran. Pascagempa Yogyakarta tahun 2006, lahan perkebunan tebu yang ada di daerah ini pun diubah menjadi kompleks perumahan dome satu-satunya di Asia. “Biasanya sih pengunjung tertarik kepada perumahan ini saja, mungkin karena bentuk yang unik sehingga menarik perhatian. Selain merasa terkesan, pengunjung juga merasa prihatin dan simpati. Siapa juga yang sebenarnya mau jadi korban gempa,” Sugiyono kembali menjelaskan. Selain meningkatkan pendapatan masyarakat secara ekonomi, dijadikannya kompleks perumahan dome sebagai desa wisata juga merekatkan kebersamaan masyarakat, misalnya melalui program kerja bakti setiap dua minggu sekali. Bagi masyarakat Desa Wisata Garongan, selain pengaruh


yang tidak mati walaupun saat kemarau, padahal daerah tersebut dikenal daerah susah air. Belik Cangkok adalah kawasan reruntuhan rumah masyarakat Nglepen. Pemandangan matahari tenggelam dapat dilihat dari dataran tertinggi di desa Nglepen, yang juga memiliki situs bersejarah tugu peninggalan Belanda. Menariknya, Situs Kajiman yang hanya berupa tumpukan tanah dan bebatuan, menurut para ahli metafisika dianggap sebagai kerajaan makhluk halus. Lain lagi yang dilakukan Desa Wisata Garongan. Karena terletak di daerah Turi, Sleman, tentu saja salak pondoh adalah fasilitas yang wajib diberikan masyarakat kepada para pengunjung. Selain itu, desa yang terdiri dari dua kring (padukuhan) ini memiliki fasilitas berbeda di tiap kring. Masyarakat Kring Kembang menawarkan camping ground, tracking darat, tracking sungai, dan perikanan. Sedangkan Kring Pojok lebih unggul dalam bidang kesenian seperti jathilan dan gejug lesung. Dalam hal pengelolaan, desa yang terdiri dari tujuh RT ini Foto: Hale/Bul meminta setiap perwakilan RT untuk menjadi pengelola agar masing-masing RT menyatu. dalam bidang ekonomi seperti dapat membuat jembatan Hanya saja, dengan perbedaan komoditas dan fasilitas secara swadaya, perubahan perilaku pun juga terasa. “Dengan dari tiap kring, beberapa kali terjadi selisih pendapat di antara banyak tamu yang datang, masyarakat jadi enggak kuper masyarakat Desa Wisata Garongan. Kini mereka sedang (kurang pergaulan, -Red) karena berinteraksi sama banyak mendiskusikan bagaimana caranya agar masyarakat tiap kring orang terutama anak muda,” tandas Agus. Masyarakat pun mendapatkan hasil yang merata. Penghasilan yang diperoleh dituntut menjadi lebih kreatif dalam berbagai hal. “Ibu-ibunya masyarakat pun berbeda tergantung apa yang dikerjakan. jadi lebih kreatif lagi dalam hal memasak untuk para Beberapa anak muda yang telah mengenyam bangku kuliah pengunjung. Kalau anak mudanya jadi pada semangat buat lebih sering menyumbangkan pikiran, sedangkan anak muda belajar bahasa Inggris,” ungkap Abu, masyarakat setempat yang menempuh pendidikan dasar umumnya bekerja. yang berprofesi sebagai pemandu tracking sungai. “Biasanya perselihan terjadi karena yang mikir minta uang Perubahan yang dirasakan masyarakat Desa Wisata yang lebih, padahal kan kita butuhnya tenaga bukan pikiran,” Garongan umumnya perubahan ke arah yang lebih baik. Hampir tambah Agus kemudian. seluruh masyarakat menyetujui keberadaan desa mereka Walaupun pengelola berusaha memberikan yang terbaik, sebagai desa wisata. Jumari yang telah lama menetap di Desa tetap saja ada pengunjung yang melontarkan komplain. Agus Garongan berpendapat bahwa berkat Desa Garongan menjadi mengatakan, untuk mengatasinya mereka menjelaskan terlebih desa wisata, kehidupan masyarakat pun ikut terangkat. dahulu fasilitas yang dimiliki dan tidak dimiliki. Meski Masyarakat juga dituntut untuk lebih ramah dan menurutnya demikian, rata-rata pengunjung mengutarakan kepuasannya. itu adalah hal positif. Gandung, masyarakat Desa Garongan Mahmood Alsadi, pengunjung asal Uni Emirat Arab mengatakan, lainnya juga sependapat dengan Jumari. Ia senang bisa hidup “Saya rasa tempat ini sangat bagus, apalagi fasilitas tracking berdampingan dengan para pengunjung yang selama ini selalu sungainya. Karena di negara saya tidak ada yang seperti ini.” memberikan respon baik. Indra (Teknik Geodesi' 09) juga menambahkan, “Dulu aku pernah makrab di situ, tempatnya enak kok, airnya bersih. Kesiapan SDM Cuma sarannya kalau bisa kamar mandi di dekat bumi Sayangnya sampai saat ini belum ada perhatian khusus perkemahan ditambah lagi.” dari pemerintah terhadap keberadaan desa The New Nglepen. Pada dasarnya, semua desa wisata menjual keunikan Semua berasal dari swadaya masyarakat. Bahkan alat desanya, baik dari segi geografis maupun budaya. Masyarakat pemotong rumput pun dipinjam masyarakat dari Perusahaan sekitar daerah yang dijadikan sebagai desa wisata sebagian Marc yang dekat dengan kompleks perumahan ini. ”Sejauh ini, besar menyambut dan berbangga hati karena bisa memberikan kami telah mengajukan proposal ke Dinas Pariwisata yang manfaat baik secara ekonomi ataupun manfaat lainnya. mulai tahun ini memiliki anggaran untuk pengembangan desa Perubahan yang terjadi di desa wisata terbatas hanya pada wisata. Proposal telah diterima, tinggal menunggu diproses inisiatif perekonomian masyarakat seperti warung-warung saja. Rencana uang yang akan diberikan kurang lebih sekitar Rp jajan, bukan dalam hal lingkungan. Lingkungan dipertahankan 65 juta,” ungkap Sugiyono. seperti apa adanya karena justru hal itulah yang menjadi daya Walaupun pemerintah belum memberikan dana, bukan jual desa wisata. berarti masyarakat tidak memberikan fasilitas kepada para Perbedaan tiap desa biasanya hanya dari sisi pengelolaan pengunjung. Masyarakat Desa Wisata The New Nglepen karena perbedaan kapasitas SDM. Untuk memajukan desa menawarkan hiburan berupa ronda thek-thek, yaitu hiburan wisata, hal yang pertama kali disiapkan adalah SDM. Jadi kesenian kentongan. Kentongan yang diketok secara berirama seharusnya pemerintah dapat memberi perhatian melalui dan membetuk nada lagu ini dipertontonkan kepada pelatihan SDM kepada pengelola desa agar bisa menyambut rombongan pengunjung di aula. Selain kompleks rumah dome, wisatawan lebih baik lagi. di desa ini juga terdapat beberapa kawasan wisata lainnya yaitu Tanah Amblas, Belik Wunut, Belik Cangkok, sunset (matahari tenggelam), dan Situs Kajiman. Tanah Amblas adalah kawasan tanah bekas gempa yang menjadi longsoran tanah di bukit-bukit desa Nglepen. Belik Wunut merupakan sumber air

15


Setelah lima tahun berjuang, akhirnya pemberdayaan masyarakat di Desa Wisata Kebon Agung mulai menunjukkan hasilnya. Berlokasi di Imogiri, Bantul, atau sekitar 17 km selatan Kota Yogyakarta, terdapat sebuah desa wisata bernama Kebon Agung. Masyarakat desa ini piawai memberdayakan potensi keindahan suasana pedesaan yang agaknya sulit ditemukan, terutama oleh orang-orang yang tinggal di kota. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya prestasi yang diperoleh Desa Kebon Agung. Tahun 1978, desa ini meraih Juara Nasional Budidaya Padi, tahun 1982 Juara Nasional Budidaya Kedelai, dan tahun 2010 Juara Nasional Padi Organik. Sedangkan dalam Kejuaraan Desa Wisata, desa ini juga meraih Juara III Nasional pada tahun 2009 dan Juara II Regional pada tahun 2008.Tak pelak, Desa Wisata Kebon Agung menjadi salah satu contoh sukses desa wisata di Yogyakarta. Awalnya pengasingan Tahun 1971, desa ini merupakan bagian dari Kasunanan Surakarta. Nama Kebon Agung sendiri berasal dari sebuah sejarah unik. Dahulu ada salah seorang garwa selir (istri raja namun bukan permaisuri) yang tidak diakui oleh Keraton dan dikebonkan (diasingkan) di Kebon Agung. Disebut agung, karena daerah ini terkenal subur dan merupakan sumber pemasok makanan Keraton Solo. Di sebelah barat Desa Kebon Agung terdapat Sungai Opak yang menjadi lapangan pekerjaan warga setempat. Sebagian besar warga menggantungkan hidupnya sebagai penambang pasir di sungai ini. Hingga pada tahun 1997 dibangun bendungan di lokasi Sungai Opak untuk mengairi sawah ke wilayah Mundung dan Imogiri Selatan. Daerah yang dibendung kemudian menjadi genangan yang cukup dalam dan tidak bisa ditambang lagi. Warga juga tidak diperbolehkan menambang pasir dalam radius 1 km dari lokasi dibangunnya bendungan. Hal ini mengakibatkan banyak warga kehilangan mata pencahariannya. Warga yang menganggur karena tidak lagi bisa menambang pasir lalu berkumpul dan bermusyawarah. Melihat potensi bendungan yang cukup menjanjikan, masyarakat desa sepakat dengan pemerintah daerah dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) untuk mengangkat bendungan itu sebagai objek wisata. Pada tahun 1998, bendungan ini diresmikan dan diberi nama Wisata Tirta Bendung Tegal. Di bendungan ini masyarakat sering mengadakan berbagai acara dan lomba, seperti lomba lukis, lomba dangdut, lomba campursari, dan lain-lain. Harapan warga, bendungan ini dapat mengundang banyak wisatawan untuk berkunjung ke desa ini sehingga dapat meningkatkan pendapatan mereka. Namun, setelah dikelola selama kurang lebih lima tahun, objek wisata ini tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Warga kemudian berinisiatif untuk mengangkat desa ini menjadi desa wisata pendidikan pertanian kultur budaya. Kegiatan pedesaan Desa Wisata Kebon Agung sendiri berdiri pada 30 September 2003. Di desa ini, tamu-tamu yang datang akan dikenalkan pada berbagai kegiatan tradisional mulai dari bidang agrikultur, kesenian, kerajinan tangan, hingga ritual desa. Di bidang agrikultur, wisatawan dapat merasakan menanam padi, mencangkul, dan ngluku (membajak sawah dengan kerbau). Kegiatan ini langsung dipandu oleh warga yang bekerja sebagai petani. Selain itu, desa Kebon Agung juga melatih semua potensi kesenian dan budaya yang mereka miliki, seperti misalnya seni karawitan, membatik, melukis gerabah, dan membuat riasan janur. Wisatawan juga dapat belajar cara membuat makanan tradisional seperti geplak, apem, gula jawa,

16

Foto: Aldi/Bul

tempe mendoan, cemplon, dan sebagainya. Hasil-hasil karya ini dapat dibawa pulang oleh pengunjung ataupun dijual oleh warga. Bobby Irham, seorang wisatawan asal Bandung sangat terkesan selama beraktivitas di desa ini. ”Waktu di Desa Kebon Agung seru banget, aku bener-bener ngerasain kehidupan di desa, asli banget. Hal-hal kayak gini nggak mungkin aku dapetin di kota,” ungkap Bobby. Hal serupa juga dirasakan oleh Taufik Hidayat, wisatawan asal Yogyakarta, “Aku seneng bisa menghabiskan waktu di sini, apalagi ini dekat rumah jadi aku bisa ke sini kapan aja.” Tak hanya kerajinan tangan, wisatawan juga dapat menjajal berbagai kesenian tradisional seperti tarian gejog lesung, kethoprak lesung, tari reog, dan tari jathilan yang diiringi oleh alunan musik tradisional. Karawitan, adalah salah satu hal yang digemari oleh para wisatawan dan diakomodasi oleh Paguyuban Kesenian Gamelan yang diasuh oleh Sularno, warga setempat yang merupakan abdi dalem keraton. Kegiatan-kegiatan lainnya antara lain, wisata air memancing ikan lele dan nila, serta menaiki perahu naga. Pada malam hari, wisatawan dapat berkumpul saat api unggun sambil makan jagung dan singkong bakar. Pada kesempatan tertentu, wisatawan dapat mengikuti ritual tradisional yang masih dilakukan di desa ini seperti kenduri dan wiwit (ritual Jawa di sawah dengan menghanyutkan satu ingkung nasi, sambel gepeng, dan jajanan pasar). Turis yang datang tidak hanya turis domestik, tetapi juga mancanegara, seperti turis dari Korea, Cina, Inggris, Jepang, Singapura, maupun Jerman. Respon mereka cukup baik seperti yang diungkapkan Bachroni, ketua pengurus Desa Wisata Kebon Agung, “Rata-rata mereka sangat betah dan ingin menghabiskan seluruh waktu liburannya di Yogya untuk berada di Kebon Agung. Padahal di sini mereka melakukan kegiatan-kegiatan biasa. Namun dari kegiatan tersebut, tamu dapat memahami kehidupan di pedesaan yang penuh kesederhanaan, sangat tenteram, dan back to nature sehingga mereka bisa betul-betul menikmati suasana.” Xiao Chang, seorang wisatawan asal Cina mengungkapkan pengalamannya selama berada di Desa Kebon Agung. “You have almost everything here. It's such a great time I spent here. I played gobak sodor, made jamu, eat yellow rice, and plowed the rice field with buffalo. This experience always remains in my heart (Anda mendapatkan hampir semuanya di sini. Waktu yang


Foto: Aldi/Bul

Foto: Aldi/Bul

17


Wawancara:

Dr M Baiquni MA Kepala Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada Pariwisata selalu menjadi hal yang menarik bagi banyak kalangan. Rutinitas sehari-hari terkadang menimbulkan kejenuhan, sehingga banyak orang memilih berwisata untuk merasakan suasana baru. Seiring dengan perkembangan zaman, pilihan tempat wisata pun kian beragam. Tak hanya pusat keramaian, pelosok desa pun kini menjadi pilihan wisata terutama bagi masyarakat yang bosan dengan kehidupan kota besar. Tak dipungkiri, kehidupan di desa memiliki keunikan tersendiri. Keunikan ini kian digemari masyarakat, terbukti dengan semakin berkembangnya desa wisata. Desa wisata muncul seiring adanya perubahan paradigma wisatawan. Semula wisatawan hanya terbiasa melihat, kini mereka juga diajak mengerti dan terlibat langsung dalam interaksi masyarakat. Baik wisatawan lokal maupun asing menjadi tertarik kepada desa wisata. Dr M Baiquni MA, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Pariwisata UGM, menyampaikan komentarnya mengenai desa wisata. Saat ini desa wisata semakin berkembang dan dikenal oleh banyak pihak. Pemahaman akan alternatif wisata ini pun menjadi beragam. Sebenarnya apa yang dimaksud desa wisata itu? Desa wisata merupakan hasil perkembangan pembangunan yang merupakan community based tourism (pariwisata berbasis komunitas,-Red) yang dikelola oleh masyarakatnya sendiri. Desa kan dulu hanya dari pertanian saja tapi ternyata tidak cukup untuk menghidupi masyarakat. Lalu

18

dibuat desa industri, setelah itu baru ada diversifikasi menjadi desa wisata. Ada keunikan kehidupan sehari-hari yang tidak dibuat-buat serta berbagai hal lain yang tidak ditemui dalam masyarakat kota. Selain itu ada juga spesialisasi di desa tersebut seperti misalnya desa agro wisata, desa dengan kehidupan hewan liar, desa perikanan, desa yang kaya kuliner, dan sebagainya. Intinya desa wisata memberikan atraksi kehidupan sehari-hari yang tidak dibuat-buat dan bisa dinikmati oleh wisatawan dengan packaging (kemasan,-Red) yang menarik. Yogyakarta merupakan salah satu tujuan wisata Indonesia yang mulai mengembangkan desa wisata. Apakah daerah lain juga mulai melakukan hal yang sama? Desa wisata saat ini sudah mulai berkembang di daerah lain, tetapi bisa dibilang pionirnya adalah Yogyakarta. Hal ini tidak lepas dari peranan mahasiswa yang KKN ke berbagai daerah untuk mengembangkan pariwisata di daerah tersebut. Kalau dulu KKN itu ke resource management based (berbasis pengelolaan sumber daya,-Red) seperti pertanian, peternakan dan lain-lain. Saat ini KKN lebih ke arah service based (basis jasa,-Red), termasuk pariwisata. Bahkan Pusat Studi Pariwisata terkadang kewalahan dalam melayani KKN pariwisata karena keterbatasan sumber daya manusia. Di Bali, desa wisata juga berkembang pesat. Meski belakangan diketahui kalau desa wisata di Bali itu pada mulanya merupakan inisiasi investor. Siapa yang pertama kali mencetuskan desa wisata, apakah dengan demikian

UGM merupakan pencetusnya? Kami tidak bisa mengatakan kalau kami (UGM,-Red) yang pertama kali mencetuskan desa wisata. Hal ini (pencetusan desa wisata,-Red) bisa ada karena bantuan berbagai pihak. Awalnya pada 1990-an tapi baru terorganisir pada 2000-an. Ini (pembangunan desa wisata,Red) merupakan suatu proses yang tidak mudah seperti membalikkan tangan, harus dikelola dengan baik dan memberikan manfaat bagi desa. Jangan sampai hanya menjadi objek saja. Bahkan sudah ada paguyuban desa wisata untuk wilayah Kabupaten Sleman bernama Forum Komunikasi Desa Wisata Sleman dan diketuai oleh Bapak Haryono. Bagaimana dengan sebaran desa wisata di Kabupaten Sleman khususnya? Sejauh ini terdapat enam kategori desa wisata di Sleman yaitu desa wisata budaya, pertanian, agro, fauna, kerajinan, dan lereng Merapi dengan jumlah 33 desa. Bisa dikatakan desa wisata menjual potensi yang dimiliki daerahnya. Potensi tersebut kemudian menghasilkan pendapatan bagi masyarakat. Lalu sampai saat ini bagaimana peranan desa wisata, baik untuk pemerintah dan warga, bila dilihat dari potensi pendapatan dari wisatawan? Desa wisata merupakan produk kepariwisataan yang berkembang dari dinas pariwisata. Komitmen pemerintah untuk mengembangkan desa wisata juga ada. Bagi masyarakat bisa menjadi sumber penghasilan alternatif selain dari pertanian dan industri. Desa wisata juga


Foto: Zaki/Bul

memberi kesempatan kerja bagi r eil masyarakat. Produk hasil desa teb i anyawi satawan itu royal karena bas dalam membeli sesuatu. Bahkan bisa menjalin kemitraan.Misaln ya ada pihak yang tertarik dengan upacara adat atau i gga terjaln tradisi di suatu desa, sehn i kemitraan antara kedua pihak. Dari t sebut bisa menumbuhkan kemitraan er i dan rasa cinta atas tradisi masing-masng bejru ang untuk mempertahankannya. Promosi dansosi alisasi memegang peranan penting untuk keberhasia l n i isata. Upayaa pa saja suatu paket parw yang sudahd ia l kukan mengenai promosi dan sosialsasi i desawsa i ta? Promosi dan sosa i lisasi penting, termasuk jugab randingd ari desaw isata itu sendiri. Apalagi Yogyakarta dikenal memiilki semua paket pariwisata. Mulai pegunungan hn i gga pantai dengan i kuln i er, wisata topograif yang menark, l nja, serta daya tark i kraton yang bea hingga kini masih bertahan. i i aanitu tidak dmiik i l ole Kestmew i h l yah lainnya karenake terbatasan wia kondisi geografis lingkungan mereka i pa a (daerah lain,-Red). Sa t hu nanti desa wisatabi sa menjadi ikon pariwsi ata layaknyaC andi Borobudur dan Candi Prambanan. i ana perkembangan desa wisata Bagam dari pertamakal i kemunculannya hinggas aat ini? Apabila dilihat dari berapabany ak jumlah wisatawan, Pusat Studi Pariwisata ti dak memiilki angka pastinya. Akan teapi, t i d ibandingkan lma tahun alut l entu saja ada peningkatan. Biasanya paguyuban desa wisata yang memiik l i datapasiny t a. Karena mereka

t di yang mengeo l la sendiir des a wisaa daerahnya. i a menjadi saa Pusat StudiP ariwsat l h satul embagay ang memiliki perhatian khusus mengenai desa wisata. Apasaaj yang selama ini telah dilakukan oleh Pusat Studi Pariwisata danb agaimana upaya ke depanm engenai desaw isata ini? Adab eberapa hal yang dilakukan, l misalnya saja mengembangkan polap - oa kemitraan bersama. Puspar (Pusat Studi r segenap Pariwisata,-Red) mendoong mahasiswaun tuk meneliti dan meil hat langsung apa yang perlu dikembangkan dari desawi sata. Puspar juga menjalin kerjasamad engan berbagai phak i misalnyade ngan hotel berbintang di Jogja untuk memberikan pea l tihan mengenai hospitality (ramah-tamah,Red) dan mengeloat l amu yang baik. t Kemampuan Puspar te rbatas tetapi kia t dan terus berupayam enjadi inovaor l lapo tensi moit vator yang terus mengeo desa wisata.

lifestyle karena banyak sekaini l lai-nilai yang dapat dianut darikeh idupan r desaan.Mi salnya, di masyaakatpe Jakartayang sudah sangatpadat l m hanya masyarakat, dalam melihat aa sekadar seeing saja dari hunian atau tempat kerja.S edangkana pabilad atang r dan mengunjungi desa keY ogyakata wisata dapat merasakan langsung, get the feeling and understanding. Tentu j membawa keuntungan bagi saa beragam pihak mulaidar i penduduk desa i gga wsi atawan yang mengunjunginya. hn NoorRi dha

Sebagai seseorang yang fokus dalam r dunia pariwisata,ba gam i ana haapan Anda mengenai perkembangan desa i a diIndonesia? wsat Diharapkan adapemake tan desa wisata dengan ilmu-ilmu yang dipelajari dis ekolah. Misan l ya bagi murid-murid SMA/SMP yang mengadakan karyawisata i ke Jogja. Sswa dia rahkan unu t k l ngsung pelaa j ran di mempelajari a l h mealu l i desa wisata dan tidak sekoa hanya jalan-jaa l n saa j . Pengayaan dari berbagai sektor yang terkait, agar desa wsi ata menjadi lebih baik lagi. Termasuk memahamkan kehidupan masyarakat desas ebagai

19


Parameter

Desa Wisata di Mata Mahasiswa Oleh: Evie Puspitarini, Rizkiya Ayu Maulida, dan Satria Aji Imawan Peran desa wisata tak sesederhana sebagai tempat berlibur. Pertemuan kepentingan dan pelestarian kearifan lokal ikut mewarnai perkembangan alternatif wisata ini.

Tahukah Anda desa wisata yang ada di DIY? ya

tidak

42% 52%

Padatnya rutinitas sehari-hari membuat waktu berlibur menjadi semakin penting bagi banyak orang. Beragam tujuan mewarnai keputusan seseorang untuk berlibur. Mulai dari menyegarkan pikiran hingga proses pencarian ide sebelum kembali bekerja. Sadar akan kebutuhan masyarakat tentang hiburan, warga pedesaan pun mulai menunjukkan eksistensi di bidang pariwisata. Warga mencoba menggali potensi daerah untuk menyemarakkan dunia pariwisata negeri ini. Pengembangan potensi inilah yang kemudian dikenal sebagai desa wisata. Berbicara mengenai desa wisata, Prof Heddy Ahimsa Putra, Antropolog UGM menyampaikan pandangannya tentang hal ini. Menurutnya, perlu diketahui bahwa desa wisata tidaklah sama dengan wisata desa. Desa wisata lebih menitikberatkan pada potensi desa, bukan wisatanya. Artinya, pemerintah daerah dan masyarakat setempat lebih menekankan pembangunan desa untuk menonjolkan kultur dan kearifan lokal. Sedangkan wisata desa dilihat sebagai kegiatan mengunjungi dan menikmati pemukiman. Fasilitasnya pun cenderung mengikuti tuntutan wisatawan. Berkembang pesat Perkembangan desa wisata sudah dimulai sejak beberapa tahun belakangan. Desa wisata muncul karena masyarakat sadar akan potensi yang dimiliki daerah masing-masing. Potensi yang telah disadari kemudian berusaha dikembangkan dengan berbagai konsep. Masyarakat pun secara mandiri mulai mengembangkan daerah mereka menjadi tempat wisata yang menjanjikan. Konsep desa wisata pada umumnya melibatkan partisipasi semua warga. Dengan begitu, warga dapat sekaligus belajar manajemen untuk pengelolaan jangka panjang. Konsep tersebut diusung untuk mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan. Dilihat dari segi pemerintah, kesempatan masyarakat untuk

20

mengembangkan daerahnya tak lepas dari kebijakan otonomi daerah. Kebijakan ini menimbulkan kemandirian daerah untuk melakukan pengembangan. Tak dipungkiri, sejak kebijakan otonomi daerah digulirkan, berbagai pengembangan wisata mulai muncul di berbagai wilayah Indonesia. Salah satunya adalah Yogyakarta. Wilayah Yogyakarta yang berbasis pada budaya menjadi sangat berpotensi untuk pengembangan desa wisata. Beberapa tahun belakangan, desa wisata di Yogyakarta terus bertambah. Dari data yang dihimpun, di seluruh wilayah Yogyakarta saat ini terdapat 96 desa wisata. Berbagai keunikan daerah ditawarkan oleh desa-desa ini. Mulai dari paket wisata budaya hingga kerajinan. Banyaknya desa wisata di Yogyakarta menunjukkan bahwa minat masyarakat untuk menggali potensi daerah cukup besar. Usaha tersebut kini mulai memperlihatkan hasilnya. Beberapa desa wisata seperti Kasongan dan Tembi sudah cukup dikenal wisatawan, baik domestik maupun asing. Hal ini menunjukkan bahwa hingga kini Yogyakarta masih menjadi salah satu tujuan wisata yang dilirik banyak wisatawan. Pertemuan kepentingan Dilihat dari pengelolaannya, paling tidak ada dua manfaat yang bisa dipetik dari pengembangan desa wisata. Pertama adalah pelestarian kearifan lokal, dan inovasi pariwisata. Namun, di sisi lain ada beberapa kepentingan yang harus diwaspadai, seperti masalah ekonomi. Kepentingan ekonomi wisata harus diperhatikan agar tidak menggusur usaha pelestarian budaya itu sendiri. Di sinilah peran pemerintah sangat diperlukan. Pertemuan banyak kepentingan memerlukan campur tangan pemerintah untuk mencapai keseimbangan. Pemerintah dituntut untuk jeli dan selektif dalam mengembangkan


“Wilayah Yogyakarta yang berbasis pada budaya menjadi sangat berpotensi untuk pengembangan desa wisata.� potensi suatu daerah menjadi desa wisata. Bila hal tersebut dapat dicapai, maka peran desa wisata sebagai sumber pendapatan masyarakat dan pemerintah pun dapat terpenuhi. Banyaknya pilihan tempat berlibur saat ini secara tak langsung menuntut desa wisata untuk terus berbenah. Maka, tak ada salahnya bila evaluasi antara pemerintah, warga, dan pihak swasta dilakukan secara rutin. Beragam upaya tersebut dilakukan agar desa wisata tak hanya berkembang sekali lalu mati. Harapannya, desa –desa tersebut terus menjadi alternatif wisata yang dapat menyejahterakan kehidupan masyarakat sekitar. Pemahaman mahasiswa Banyaknya desa wisata yang muncul tak lepas dari sorotan mahasiswa. Beragam komentar dan penilaian terhadap desa wisata dilontarkan oleh para mahasiswa. Menarik pula untuk mengetahui bagaimana pemahaman mahasiswa akan keberadaan dan manfaat desa wisata. Untuk memperoleh jawaban tersebut, litbang SKM UGM Bulaksumur melakukan survei kepada 100 mahasiswa UGM. Hasilnya, tingkat pengetahuan mahasiswa UGM tentang keberadaan desa wisata di Yogyakarta cukup beragam. Dari total 100 responden yang kami survei, 58% mengaku mengetahui keberadaan desa wisata di Yogyakarta, sementara sekitar 42% mengaku tidak tahu. Responden yang berasal dari Yogyakarta, 81% mengetahui desa wisata di wilayah ini, sementara hanya 18% yang tidak. Sebanyak 47% responden yang berasal dari luar Yogyakarta mengetahi keberadaan desa wisata, sisanya sebanyak 53% tidak tahu. Dari data hasil survei kami, terlihat bahwa seberapa lama mereka tinggal di Yogyakarta mempengaruhi pengetahuan tentang adanya desa wisata di

provinsi ini. Selain pengetahuan mengenai desa wisata, pemahaman akan manfaat alternatif wisata ini juga cukup penting. Desa wisata memiliki kesempatan yang samasama besar untuk memberikan manfaat bagi pemerintah maupun warga. Bagi pemerintah, keberadaan desa wisata jelas dapat memperkuat sektor pariwisata. Pendapatan daerah pun bisa meningkat misalnya melalui pajak retribusi. Sedangkan bagi masyarakat setempat, pembangunan desa wisata dapat membuka lapangan kerja baru untuk meningkatkan pendapatan. Lapangan kerja yang dapat dirintis antara lain usaha penginapan, warung makan, toko souvenir, dan lain-lain. Berbagai manfaat desa wisata tersebut juga mendapat respon yang beragam dari mahasiswa. Dari 100 responden yang kami survei, sebanyak 34% menganggap desa wisata dapat melestarikan kearifan lokal. Sebanyak 28% menjawab desa wisata dapat menambah pendapatan masyarakat. Selain itu, 25% responden berpendapat desa wisata dapat mendukung sektor pariwisata, dan 10% menjawab dapat menambah pendapatan pemerintah daerah. Sementara 3% responden menyebutkan manfaat lainnya seperti pemberdayaaan masyarakat di daerah tersebut. Dari berbagai pendapat ini, dapat disimpulkan bahwa desa wisata memang menjadi alternatif hiburan dengan beragam sisi yang menarik untuk dikaji.

21


End Note

Pemerataan Pembangunan Melalui Desa Wisata Oleh: Ontin Fatmakartika dan Anindita Irnilaningtyas

Foto: Hale/Bul

“Potensi desa wisata di Provinsi DIY memiliki prospek cukup baik sehingga bisa menjadi andalan pariwisata daerah ini. Untuk mengembangkannya, perlu kerja sama semua pihak.� (Widi Utaminingsih, Ketua Yayasan Widya Budaya Yogyakarta) Desa wisata adalah fenomena di dunia pariwisata yang baru muncul satu dasawarsa yang lalu. Awalnya desa wisata didirikan untuk menekan laju urbanisasi yang semakin lama terus meningkat. Masyarakat desa pun didorong untuk memanfaatkan potensi desanya agar menjadi objek wisata. Beberapa desa berhasil mensinergikan kekuatan sumber daya alam dengan sumber daya manusianya, namun beberapa masih berjuang dalam memantapkan visi dan misi pembangunan desa. Di balik target pembangunan 450 desa wisata baru di seluruh Indonesia pada 2011, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata masih memiliki pekerjaan rumah yang tak kalah besar. Pekerjaan itu adalah memaksimalkan potensi desa wisata yang telah ada selama ini. Kuantitas desa wisata yang berbanding terbalik dengan kualitasnya sendiri tidak akan menghasilkan manfaat apapun,

22

baik bagi masyarakat maupun wisatawan. Terlebih, prinsip pokok desa wisata adalah sebagai inisiatif masyarakat untuk memberantas kemiskinan melalui potensi daerahnya. Maka, tolok ukur keberhasilan desa wisata tentunya adalah kemerataan penghasilan yang didapat oleh masyarakatnya. Meskipun pemerintah memberikan hak penuh bagi masyarakat untuk mengelola desa wisata, namun tetep diperlukan peran aktif pemerintah dalam edukasi manajerial desa wisata yang baik. Sementara itu, pihak swasta memiliki dualisme peran dalam desa wisata. Di satu sisi, mereka mampu menggenjot perputaran arus uang dan pembangunan infrastruktur dengan kelebihan modal yang dimiliki. Namun di sisi lain, kehadirannya dapat membatasi peran aktif masyarakat dalam mengolah potensi desanya sendiri. Perlu keseimbangan antara dua peran tersebut agar masyarakat tetap dapat berkembang dan memetik hasil kerja kerasnya sendiri. Lalu di mana peran kita sebagai mahasiswa? Mahasiswa bagaimanapun juga

merupakan bagian dari masyarakat. Sebagai agen perubahan, mahasiswa harus mampu menerapkan pendidikannya di bangku kuliah secara riil ke dalam sendi kehidupan masyarakat. KKN desa wisata hanyalah salah satu dari beragam cara pengabdian yang dapat dilakukan oleh mahasiswa untuk memajukan desa wisata. Hal yang perlu digarisbawahi dalam KKN desa wisata adalah kesinambungan program dan kemampuannya untuk mengubah watak dan perilaku masyarakat setempat. Tanpa kedua hal tersebut, KKN desa wisata tidak dapat dikatakan berhasil. Desa wisata tak dapat dipungkiri lagi adalah potensi dunia pariwisata yang menjanjikan, terutama bagi negara multikultural seperti Indonesia. Untuk dapat mewujudkan desa wisata yang berkualitas, sekali lagi diperlukan sinergi kerja sama antara pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat itu sendiri.


0 85

C

IDI P: D

1 55 7 43 5

44


Telisik  

Jurnal Populer Telisik, Desa wisata

Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you