Issuu on Google+

Alone SPECIAL/ 2010


Dalam edisi spesial ini penulis (Sasha) mengangkat tema Alone. Sebuah perasaan yang pasti dialami oleh setiap orang dalam kondisi yang berbeda tentu saja. Tak banyak yang bilang being Alone itu menyenangkan, termasuk saya. Alone identik dengan perasaan kelam, ruang gelap dan lantunan galau. Namun jangan larut dengan itu saja. Di sisi lain, menjadi 'sendiri' justru membuat kita lebih kuat menghadapi tantangan dan terbiasa berdiri sendiri tanpa uluran tangan orang lain saat tersandung. Alone bagaikan pisau bermata dua. Hal itu bisa 'membunuhmu', akan tetapi ia juga bisa menjadi pemicu untuk kamu bisa lebih melihat dan menghargai hidup. Dengan foto-foto sederhana berikut, saya mencoba untuk menyajikan Alone dalam bentuk rekam visual. Pardon me, seperti yang saya bilang sebelumnya, foto ini sederhana saja. The writer (Sasha) chooses “Alone” as the theme in this special edition. (Loneliness) is a feeling that everyone must have been through, surely, in various condition. Hardly any of us consider being alone as fun, including me. (Being) Alone is identical with gloomy feeling, black space, and poignant recitation. But, remember not to be carried away easily. In the other side, being alone makes us even stronger in facing challenges and capable of standing alone without other people’s hand when we lose our balance. (Being) alone is like a two-side knife. It might kill you but it can also be a trigger for you to see far beyond and appreciate life. With these regular photos, I try to deliver “Alone” visually. Pardon moi, as I mentioned before, these pictures are just as simple as that.

“It happens since my loveliest gone”

wearetwentyfour.blogspot.com


“What exactly is the meaning?”

Alone


“Walk alone”

Alone

03.


“Living alone”

Alone

04.


“Singing a sad song”

Alone

05.


“Being alone is hard, I do realize that�

Alone

06.


"i'm going by myself, I don't mind�

Alone

07.


"So sad, so alone�

Alone

08.


"i'm alone and trapped in it� Alone

09.


Peeking Life through “Codex Code” Approximately 19 artist and art communities from Jogja, Bandung, and Jakarta join this book exhibition titled Codex Code. Book as art media and personal expression of the author were exhibited in various form; from manuscript, drawing and photo compilation, to audio book. The exhibition initiated by Wok the Rock is held in Exhibition Room KKF, Wednesday March 3 to March 27, 2010. A messy wall-scrapbook welcomes the visitor of the exhibition. If we pay a close attention, the scrapbook consist of a compilation of trashes consist of little reminding notes, candy wrapper, old recipes, letters, and mostly invitations. Looking at the art work feels like peeking into the artist’s personal life. In the other artworks, various personal spaces is exposed freely; from short text messages that being rewritten from the cell phone to the notebook, a series of Twitter status and conversation, visual diaries, to an interpretation of a blog content that looks like a work space that being relocated from the room and restructured as the way it was. It’s interesting to see how the gap between the artist and the sightseer is lessen by the artworks that allows communication between two sides. The visitor can easily contribute in several works by coloring the drawing, doodling in the artist’s diary, and say a little prayer using a prayer-book consist of practical and trendy wishes. This exhibition remarks today’s instant life, a tendency of being self-center, interactive, and highly approachable. Interest, culture, and personal history of each artist and art communities are captured in an assortment of artworks to be enjoyed and experienced. (miy)

Mengintip Kehidupan dalam “Codex Code” Sebanyak kurang lebih 19 seniman dan komunitas seni dari Jogja, Bandung, dan Jakarta turut meramaikan pameran buku yang berjudul Codex Code. Buku sebagai media seni dan ungkapan personal pembuatnya dipamerkan dalam bentuk yang beragam; mulai dari naskah, kumpulan gambar dan foto, hingga audio book. Pameran yang digagas oleh Wok the Rock ini berlangsung di Ruang Pamer KKF, Rabu 3 Maret sampai 27 Maret 2010 Sebuah majalah dinding berantakan menyambut pengunjung pameran. Apabila dicermati, mading tersebut berisi kumpulan sampah berupa catatan kecil yang terburu-buru dibuat sebagai pengingat, bungkus permen, nota bekas, surat, dan kebanyakan berupa undangan. Memperhatikan karya tersebut rasanya seperti menyelami kehidupan pribadi sang seniman. Dalam karya lain, berbagai ruang personal dibuka sebebas-bebasnya; baik melalui pesan-pesan singkat yang dipindahkan dari ponsel ke buku catatan, kumpulan status dan percakapan di Twitter, buku harian visual, hingga pencitraan isi sebuah blog yang seperti ruang kerja yang diangkat begitu saja dari kamar dan ditata kembali sesuai aslinya. Menariknya, batas antara seniman, dan pengunjung pameran kian sempit karena terdapat banyak karya yang membiarkan terjadinya komunikasi. Pengunjung dapat turut berkontribusi dalam beberapa karya dengan turut mewarnai gambar, mencorat-coret dalam buku harian, hingga turut berdoa dengan buku kumpulan doa yang sangat praktis dan kekinian. Pameran ini seperti menggambarkan kehidupan masa kini yang instan, cenderung berpusat pada diri, interaktif, dan sangat terbuka. Minat, kebudayaan, dan sejarah masing-masing seniman dan komunitas seni pun terekam dalam berbagai karya yang dipamerkan untuk dinikmati dan dialami. (miy)

Alone

10.



Alone