Page 3

Medan Metropolitan KPU Buka Pendaftaran Lembaga Pemantau Pemilu WASPADA Selasa 14 Januari 2014

MEDAN (Waspada): Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara mulai membuka pendaftaran bagi lembaga pemantau pemilu yang berminat untuk melakukan pemantauan pemilu di Sumatera Utara. Padahal, batasan untuk mendaftar bagi lembaga pemantau pemilu yakni hingga 27 Maret 2014 atau 14 hari sebelum pelaksanaan pemungutan suara Pemilu Legislatif digelar. “Sudah bisa mulai mengajukan pendaftarannya supaya bisa diproses,” kata anggota KPU Sumut Yulhasni, Senin (13/1).

Yulhasni menyebutkan, mereka akan selektif dalam menentukan lembaga pemantau pemilu yang dianggap layak menjadi pemantau sesuai dengan persyaratan yang ditentukan PKPU No 20 tahun 2012. Beberapa persyaratan tersebut yakni memiliki profil organisasi, memiliki sumber pendanaan sendiri yang ditandai dengan surat pernyataan sumber dana yang ditandatangani oleh ketua lembaga, memiliki anggota yang akan dijadikan pemantau, rancangan alokasi tempat bekerja anggota pemantau, rancangan rencana dan jadwal kegiatan serta daerah, mengajukan nama dan identi-

tas penanggungjawab lembaga pemantau pemilu, memiliki pengalaman pemantauan pemilu, menyampaikan surat pernyataan independensi dalam pemilu, dan memiliki surat rekomendasi dari lembaga resmi jika berasal dari luar negeri. “Persyaratan ini yang akan kita lihat untuk kemudian kita tetapkan layak atau tidak menjadi lembaga pemantau pemilu,” ujar Yulhasni. Bagi lembaga pemantau yang dinyatakan lolos, KPU Sumut akan memberikan tanda pengenal resmi kepada mereka. Dengan demikian, lembaga pemantau tersebut juga akan memiliki kewenangan untuk

mengakses data secara langsung dari seluruh TPS yang mereka pantau. “Tanpa alat pengenal khusus tersebut, mereka tidak dilayani mengambil data dari ketua KPPS kita,” sebutnya. Pemantau Pemilu menjadi salah satu trend yang selalu bermunculan saat pelaksanaan pemilu. Mereka biasanya menuang kan hasil pemantauannya untuk proses hitung cepat (quick count) mengenai hasil pemilu tersebut. “Biasanya mereka bermain untuk proses hitung cepat, meskipun hasil resminya tetap KPU yang memutuskan,” sebutnya. (m34)

A3

Waspada/David Swayana

SALAH seorang anggota tim Waspada memberikan makanan kepada hewan-hewan penunggu Desa Bekerah, Jumat (10/1).

Catatan Perjalanan Tim Waspada

Penunggu Desa Di Lereng Sinabung Yang Kelaparan LAJU mobil yang membawa tim Waspada mulai melambat saat memasuki Desa Bekerah, Kecamatan Namanteran, Kamis (9/1). Maklum saja, kondisi jalan di desa yang berlokasi di lereng Gunung Sinabung itu tidak begitu mulus. Suasana terasa begitu hening ketika mobil berhenti di tengahtengah desa tersebut. Tidak ada satu orang pun warga setempat yang terlihat melakukan aktivitas. Hanya beberapa ekor anjing milik penduduk yang sedari tadi memperhatikan laju mobil tim Waspada. Hewan peliharaan itu terlihat bermalas-malasan dan tidur di teras rumah majikannya masing-masing. Sementara, sang majikan telah mengungsi sejak September 2013 seiring terjadinya erupsi Gunung Sinabung yang memuntahkan material vulkanik seperti debu, lahar dan bebatuan. Malang bagi hewan tersebut yang tidak bisa dibawa ke tempat penampungan pengungsi. Kini, anjing-anjing itu menjadi penunggu desa dan penjaga rumah majikan yang setia. Lalu timWaspada mencoba mengabadikan kesunyian di Desa Bekerah yang tidak lagi dihuni manusia itu. Setelah turun dari mobil, tim Waspada mencoba mengambil gambar setiap sudut desa dengan latar belakang lereng Gunung Sinabung. Baru saja tim Waspada menginjakkan kaki di jalanan berbatu itu, tiba-tiba dua ekor anjing bangkit dari tidurnya sambil menggonggong. Dalam sekejap, suasana desa yang semula hening, mendadak gaduh karena gonggongan anjing yang saling bersahutan. Mendadak beberapa ekor anjing berlari mengejar anggota tim Waspada. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dua anggota tim Waspada segera berlari dan masuk ke dalam mobil.

Namun anjing yang terlihat sedang marah itu terus menggonggong. “Beruntung kita belum jauh dari mobil sehingga bisa menyelamatkan diri. Kalau kita jauh dari mobil, mungkin kita sudah jadi sasaran empuk,” ujar seorang anggota tim Waspada. “Mungkin anjing-anjing itu kelaparan sejak ditinggal majikannya. Karena tidak ada yang memberinya makan, maka anjing-anjing itu terpaksa mencari makan sendiri,” timpal anggota tim Waspada lainnya. Usai dari Desa Bekerah, tim Waspada mencoba mencari tahu tentang nasib hewan yang menjadi penunggu desa lainnya setelah ditinggal mengungsi oleh sang majikan. Diperoleh informasi bahwa pada awal-awal pengungsian, ada sekelompok orang yang secara rutin memberi makanan kepada hewan-hewan penunggu desa. Namun seiring dengan meningkatnya volume erupsi Gunung Sinabung, tidak diketahui lagi apakah pemberian makanan kepada hewan-hewan penunggu desa itu terus berlanjut atau tidak. Keesokan harinya, Jumat (10/1), tim Waspada memutuskan kembali ke Desa Bekerah dengan membawa sejumlah makanan seperti roti dan lainnya. Setelah memasuki desa terpencil itu, tim Waspada langsung melemparkan sejumlah makanan ke tengah jalan. Benar saja, belasan ekor anjing berlari dan keluar dari tempat persembunyiannya. Hewan-hewan kelaparan itu berebut makanan yang diberikan tim Waspada. Begitulah nasib hewan-hewan peliharaan yang menjadi penunggu desa. Mereka tidak bisa ikut mengungsi dan terpaksa bertahan di desa yang sewaktu-waktu bisa luluh lantak akibat erupsi Gunung Sinabung.(m25/m50/a36)

Waspada,selasa 14 januari 2014  
Waspada,selasa 14 januari 2014  
Advertisement