Page 17

Ekonomi & Bisnis

WASPADA Selasa, 14 Januari 2014

B5

Industri Manufaktur Indonesia Meningkat JAKARTA (Waspada): Pertumbuhan industri di Indonesia mengalami peningkatan. Hal itu terlihat dari data Badan Pusat Stastistik (BPS) yang menunjukkan, industri manufaktur nasional tumbuh 8,99 persen dalam kuartal I-2013. Sementara dalam kuartal II-2013 tumbuh sebesar 6,77 persen dan kuartal II-2013 tumbuh 6,83 persen. Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah, menyebutkan, setidaknya terdapat dua hal yang akan menjadi pendorong dalam pembangunan industri. Pertama terkait dengan integrasi ekonomi global yang menstimuli keterbukaan pasar, sehingga akan menghadirkan peluang, sekaligus tantangan bagi pengembangan industri nasional. “Perluasan pasar ini, akan menjadi peluang industri nasional. Sementara di sisi lain, persaingan industri antar negara akan semakin meningkat menjadi tantangan tersendiri bagi industri nasional,”ungkap Firmanzah, dilansir laman Setkab, Senin (13/1). Kedua, lanjut Firmanzah, program percepatan dan perluasan pembangunan yang sedang berjalan telah mendorong konsumsi domestik terus meningkat seiring mening-

Antara

KINERJA EKSPOR INDONESIA : Suasana aktifitas bongkar muat petikemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (13/1). Badan Pusat Statistik mencatat ekspor kumulatif Indonesia pada bulan Januari?November 2013 sebesar USD165,57 miliar atau turun 5,19 persen dibanding 2012 sebesar USD174,63 miliar.

Rupiah Coba Bangkit Dari Tekanan MEDAN (Waspada): Nilai tukar rupiah, pada perdagangan Senin (13/1), di Medan menguat terhadap dolar AS. Yakni berada di kisaran 12.050-12.100 per dolar AS. Itu berarti menguat 200 poin dari sebelumnya di kisaran 12.215-12.250 per dolar AS.

“Penguatan ini menunjukkan, rupiah mencoba bangkit dari tekanan terhadap dolar AS yang selama ini. Namun pe-

nguatan ini diperkirakan hanya dalam jangka pendek,” ujar analis ekonomi salah satu sekuritas BUMN di Medan Gunawan Benjamin. Gunawan menyebutkan, penguatan rupiah dipicu oleh aksi pemerintah yang menerbitkan global bond atau obligasi berdenominasi dolar AS. Langkah yang diambil pemerintah tersebut tentunya akan membuat rupiah mengalami penguatan terhadap dolar. Namun di sisi lain kebijakan tersebut menyisakan masalah dalam jangka panjang. Karena utang pemerintah ke asing bertambah besar. “Penambahan utang valas ini merupakan bentuk antisipasi kemungkinan melemahnya

Pemerintah Belum Tahu Akuisisi Pertagas – PGN JAKARTA (Waspada): Pemerintah mengaku belum mendapat informasi bahwa PT Pertagas, anak usaha PT Pertamina berhak mengakuisisi PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Kedua Badan Usaha Milik Negara itu, memang sedang dalam perdebatan sengit beberapa waktu terakhir. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa, mengatakan pihaknya belum mengetahui hal tersebut. Untuk itu, lanjutnya, dirinya belum bisa menyatakan bahwa pemerintah mengiyakan langkah bisnis tersebut. “(Akuisisi) belum pernah dibahas. Jadi saya tidak bisa mengatakan setuju atau tidak setuju. Karena memang belum pernah dibahas di menko,” tutur Hatta di kantornya, Jakarta, Senin (13/1). Dia menilai, langkah merger jika akan dilakukan, akan mempengaruhi pemegang saham PGN. Sebab, terang Hatta, BUMN penyedia gas itu sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).”Pemegang saham mereka akan bertanya. Jadi segala sesuatunya harus dipikirkan dengan cermat, enggak gebyah-uyah (menyamaratakan semua),” pungkasnya.(okz)

PP Tentang Nilai Tambah Mineral Sudah Tepat JAKARTA (Waspada): Asosiasi Tembaga Emas Indonesia (ATEI) menilai keputusan pemerintah dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang peningkatan nilai tambah mineral melalui pengolahan dan pemurnian, sudah tepat. Ketua ATEI Natsir Mansyur, menuturkan, kebijakan tersebut telah mengakomodasi semua kepentingan. Baik pemerintah pusat dan daerah, pengusaha pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP), IUP khusus Pengolahan pemurnian serta Kontrak Karya (KK) untuk mineral tembaga. “Keputusan pemerintah ini tepat. Ekspor hasil olahan konsentrat tembaga 15 persen tetap berjalan, PHK besar-besaran dapat terhindar, ekonomi daerah tetap bergerak, tujuan program hilirisasi minerba pun jalan,” kata Natsir, dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Senin (13/1). Ekspor mineral mentah, kata Natsir, semestinya sudah tidak bisa lagi dilakukan. Sementara untuk mineral tembaga 15 persen IUP, IUP pengolahan pemurnian dan KK areanya bisnisnya jelas, walaupun KK selama ini ekspor hasil olahan konsentrat di atas 20 persen. “Itu silakan saja KK-nya. Ini kan jelas nilai tambahnya naik 30 persen dari 0,5 menjadi 15 persen,” jelasnya. Menurut Natsir, khusus penetapan Bea Keluar pihaknya meminta Kementerian Keuangan untuk membahasnya dengan Kadin, ATEI dan Asosiasi Mining Indonesia (AMI). Karena ada pertimbangan teknis dalam penetapannya. “Kami berharap Kemenkeu tidak sepihak menetapkan BK. Semangat PP Nomor 1/2014 dan Permen ESDM Nomor1/2014 sudah tepat mengajak pelaku dunia usaha dalam penetapannya,” ungkapnya. Sebelum PP dan Permen diberlakukan, katanya, dalam menetapkan kadar minimum mineral Kementerian ESDM mengajak Kadin dan pemangku kepentingan lainnya seperti ATEI, AMI, pemilik IUP, IUP khusus pengolahan Pemurnian, KK PT.Freeport dan PT.Newmont. Kami apresiasi langkah pemerintah yang seperti ini, kita harapkan dalam penentuan BK nantinya Menkeu juga dapat memahami semangat Indonesia incorporated,” tutupnya. (okz)

rupiah seiring dengan rencana penghapusan stimulus yang akan dilakukan oleh Bank Sentral AS. Dalam jangka pendek rupiah masih akan berpeluang menguat. Namun, efektifitas kebijakan ini dalam jangka panjang akan lebih mengacu kepada sisi permintaan valas domestik,” ujar Gunawan. Dia menyebutkan, bila permintaan valas mampu diimbangi dengan penambahan cadangan devisa maka ruang rupiah untuk tetap stabil cukup terbuka. Namun, bila nantinya terjadi capital flight (pembalikan modal) dari pasar keuangan domestik, maka pemerintah harus mencari jalan keluar lainnya. “Di saat terjadi pembalikan modal tersebut, volatilitas rupiah akan meningkat dan akan mengalami tekanan,” sebut Gunawan. Menurutnya, IMF mungkin

menjadi alternatif terkahir, namun bila melihat besaran BI Rate sebesar 7,5 persen saat ini, maka selisih imbal hasilnya jauh lebih menarik dibandingkan dengan negara lain. “Dengan begitu potensi pembalikan modal tetap bisa diminimalisir. Akan tetapi tingginya BI Rate tetap bukan garansi bahwa pasar keuangan kita akan tetap aman dari tekanan,” ujarnya. 125 poin Sementara itu, dalan transaksi antarbank di Jakarta, rupiah menguat 125 poin menjadi Rp12.030 per dolar AS. Analis Monex Investindo Futures Zulfirman Basir, mengatakan rendahnya penambahan jumlah tenaga kerja Amerika Serikat pada Desember 2013 menekan dolar AS dan menjadi sentimen positif bagi rupiah.

Me s k i d e m i k i a n , d i a melanjutkan, penguatan rupiah masih bersifat sementara. Karena investor masih mengkhawatirkan tingginya inflasi, defisit neraca transaksi berjalan, dan perlambatan ekonomi Indonesia. Analis pasar uang dari PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong, mengatakan, pelaku pasar uang menanggapi positif keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan level suku bunga acuan (BI rate) di level 7,5 persen. Namun masih mengkhawatirkan dampak kebijakan The Federal Reserve Amerika Serikat. “Tapering merupakan sentimen yang kurang bagus bagi negara-negara berkembang. Sentimen pasar uang masih akan tarik-menarik ke depannya,” kata Lukman. (m41/ ant)

katnya pendapatan perkapita masyarakat. Dengan tingkat permintaan domestik yang tinggi, maka kebutuhan pasok barang-jasa juga semakin meningkat. Firmanzah ,juga menyebutkan, tumbuhnya pendapatan perkapita dan proses pembangunan yang berjalan merupakan hubungan resiprokal yang terjadi saat ini. Dimana proses pembangunan mendorong peningkatan pendapatan masyarakat, dan pendapatan yang tinggi akan menstimuli proses pembangunan di berbagai sektor lainnya. Adapun mengenai program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembanguna Ekonomi Indonesia (MP3EI), menurut Firmanzah, dengan adanya UU Perindustrian yang baru telah mendapatkan energi baru untuk merealisasikan sejumlah agenda khususnya industrialisasi dan hilirisasi. Berdasarkan data yang ada, hingga saat ini, program MP3EI telah menarik investasi pada 259 proyek yang tersebar di enam koridor. Yakni koridor Jawa senilai Rp276,8 triliun, disusul koridor Kalimantan Rp178,1 triliun, Sumatera Rp112 triliun, Bali dan Nusa Tenggara Rp47,6 triliun, Sulawesi Rp23,6 triliun, dan Koridor Maluku dan Papua Rp29 triliun. (okz)

Pemerintah Terus Biarkan Pukat Ilegal Beroperasi MEDAN (Waspada): Keberadaan nelayan tradisional semakin terancam. Itu karena pemerintah terus membiarkan pukat-pukat ilegal beroperasi di perairan Belawan. Senin (13/1), Komunitas Nelayan Belawan, mendatangi gedung DPRD Sumut. Mereka meminta perlindungan, karena kondisi mereka yang samakin trancam. Banyaknya peraturan yang melarang pengoperasian pukat katrol (trawl) dan pukat tarik dua kapal (gerandong) dan lainnya, tidak membuat pengusaha besar itu takut. Lebih dari 100 nelayan tradisional Belawan menyampaikan aspirasinya ke gedung dewan. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya mereka diterima anggota dewan Amsal Nasution, M. Nasir dan T. Dirkhansyah Abu Subhan Ali. Kepada anggota dewan, perwakilan nelayan meminta DPRD dan Gubsu membuat peraturan daerah (Perda), melarang beroperasinya Pukat Grandong dan sejenisnya di wilayah perairan Sumut. Selanjutnya, mereka juga meminta penegak hukum menjalankan dan menindak oknum yang melanggar Kepres No 39 Tahun 1980 dan Peraturan Menteri kelautan dan Perikanan RI No 18/PERMEN-KP/2013. Selain itu, massa juga meminta pertanggungjawaban mantan Ketua Komisi B DPRD Sumut Meilizar Latif, yang berjanji akan merekomendasikan agar Peraturan Menteri Perikanan No 2 Tahun 2011 direvisi. “Kami meminta copot Kepala Stasiun Pengawas Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Belawan, Basri, yang tidak mengindahkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 18/PERMEN-KP/2013.

Kami minta Kepala Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan (PPSB) Januar Manurung, melarang Pukat Tarik Dua Kapal di dermaga PPSB Gabion Sumut,” ungkap Koordinator Aksi, Syaiful Badrun. Mereka juga mendesak Lantamal I Belawan dan Kejatisu untuk mengusut keterlibatan oknum dan petinggi instansi berwenang yang terlibat mem-back-up pengusaha Pukat Harimau yang menjadi pemicu konflik antar nelayan di Kab.Langkat maupun Batubara beberapa waktu lalu. Ketua Komisi B DPRD Sumut M. Nasir, menyebutkan, sebenarnya peraturan yang melarang pukat trawl dan sejenisnya itu beroperasi di zona tangkap nelayan tradisional sudah ada. Namun, di lapangan tidak berjalan sama sekali. “Sayang eksekusi di lapangan tidak berjalan. Padahal, zona tangkap nelayan tradisional harus dilindungi. Ada orang yang harus ditangkap karena melindungi. Kami akan menggelar rapat, termasuk persoalan hukumnya dengan Komisi A,” katanya. Anggota dewan lainnya, T.Dirkhansyah, mengatakan, persoalan yang dialami nelayan merupakan permasalahan puluhan tahun. Kendati peraturan untuk nelayan tegas dalam undang-undang, namun keterlibatan oknum dan sulitnya membuktikan kejahatan terorganisir tersebut, menjadikan kondisi tersebut terus terjadi. “Perjuangan nelayan seperti ini harus terus dilakukan. Karena itu merupakan tanda bahwa persoalan belum selesai. Untuk itu, kami akan menindaklanjutinya dengan rapat di Komisi B dan Komisi A. Kami juga akan menjadwalkan memanggil pihak yang terkait,’’ katanya. (m12)

Harga Elektronik Di Aceh Naik Penjualan Turun 30 Persen BANDA ACEH (Waspada): Harga barang elektronik di Banda Aceh naik. Akibatnya permintaan atas barang-barang itu menurun tajam. Pemilik toko computer di Pasar Keutapang Dua, Aceh Besar, Renol, Senin (13/1), mengatakan kenaikan harga barang-barang elektronik mencapai 30 persen. Kondisi ini diprediksi akan membuat penjualan lesu sepanjang tahun 2014 ini. “Harga laptop dan seluruh aksesorisnya terus naik sejak dua bulan terakhir mengikuti pergerakan rupiah terhadap dolar AS. Naiknya itu 20 sampai 30 persen dan menyebabkan penjualan turun hampir 50 persen, “katanya. Kondisi ini, membuat banyak konsumen yang enggan membeli. Karena, dengan pendapatan yang tidak tambah,

pasti berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat khususnya terhadap barang elektronik. Amri, seorang distributor produk elektronik di Banda Aceh mengatakan, sejak memasuki tahun 2014, angka penjualan barang mulai menurun hingga 40 persen dibanding Desember 2013. “Jika dibandingkan dengan Januari tahun lalu, penjualan juga turun sekitar 30 persen, “katanya. Kenaikan paling tinggi terjadi pada barang mewah seperti LVD TV, LED TV dan AC. Kenaikannya mencapai 20 persen. Untuk kipas angin, kulkas dan lainnya hanya mengalami kenaikan 10 persen. Picu Inplasi Sementara itu, dua pengamat ekonomi Aceh Muhammad Nasir dan Adnan, sepakat menyebut pelemahan rupiah

akhir-akhir ini akan memicu terjadinya inplasi, khususnya barang-barang impor. Barang-barang elektronik khususnya akan mengalami kenaikan harga cukup siginifikan. Bahkan produk elektronik lokal juga akan terkena imbasnya, mengingat tidak semua komponennya di produk di dalam negeri. “Para pedagang menjual barang-barang elektronik tersebut dalam mata uang sehingga terasa sangat memberatkan konsumen yang membeli karena nilainya bertambah lebih besar, “ujar Adnan. Sementara Nasir, menyebutkan, ditengah memburuknya defisit neraca perdagangan akhir-akhir ini, impor alat elektronik cukup mengganggu karena sifat urgensinya yang di bawah impor pangan maupun bahan bakar minyak (BBM).(b09)

Harga Minyak Di Asia Turun SINGAPURA (Waspada): Harga minyak turun dalam perdagangan di Asia Senin (13/ 1), di tengah kekhawatiran data pekerjaan AS yang mengecewakan dapat mempengaruhi permintaan di ekonomi terbesar dunia itu. Kontrak utama New York, minyak mentah West Texas Intermediate ( WTI) untuk pengiriman Februari turun 35 sen menjadi 92,37 dolar. Sementara minyak mentah Brent North Sea, untuk penyerahan Februari merosot 18 sen menjadi 107,07 dolar. Pasar keuangan dikejutkan oleh laporan pekerajaan Departemen Tenaga Kerja AS untuk Desember, yang menunjukkan ekonomi tersebut menambah-

kan 74.000 lapangan pekerjaan, jauh di bawah perkiraan konsensus 197.000. Tingkat pengangguran AS turun menjadi 6,7 persen dari 7,0 persen pada November, tetapi penurunan tampaknya positif terutama mencerminkan kenyataan bahwa lebih banyak orang telah memperoleh pekerjaan, kata para analis . Kesehatan ekonomi AS merupakan pendorong utama untuk harga minyak mentah karena Amerika Serikat adalah negara konsumen minyak terbesar dunia. Tapi sementara data pekerjaan lebih lemah dari yang diharapkan bisa juga mendorong Federal Reserve untuk menunda pengurangan lebih lanjut

dalam program stimulus pada pertemuan mendatang akhir bulan ini. Pada pertemuan terakhir Desember, komite kebijakan bank mengatakan akan memangkas skema pembelian obligasi sebesar 10 miliar sampai 75 miliar dolar per bulan pada Januari, menunjukkan peningkatan dalam perekonomian. Setiap penangguhan pengurangan (tapering off) akan menempatkan tekanan pada mata uang AS dan membuat minyak yang dihargakan dalam dolar lebih murah, sehingga mendorong permintaan. “Fokusnya masih pada data pekerjaan AS,” kata Kelly Teoh, pasar strategi pada IG Markets di Singapura. (ant)

Waspada/Sugiarto

HARGA tomat di pasar tradisional Kota Medan masih mahal dan dijual dengan harga Rp16.000Rp18.000 per kilogram. Sedangkan wortel Rp6.000-Rp10.000 per kilogram.

Harga Tomat Dan Wortel Di Pasar Masih Mahal MEDAN (Waspada): Harga komoditas tomat dan wortel di pasar tradisional Medan masih cukup tinggi, sehingga membuat masyarakat mengeluh dengan kenaikan harga cukup drastis tersebut. Kenaikan harga kedua komoditas tersebut dipicu minimnya pasokan dari sentra produksi di Karo akibat erupsi gunung Sinabung. Pantauan Waspada di beberapa pasar tradisional Medan seperti di Pusat Pasar Medan, harga tomat masih di kisaran Rp13.000Rp16.000 per kilogram. Bahkan di pasar Meranti harga tomat mencapai Rp20.000 per kilogram. Sedangkan untuk wortel mencapai Rp8.000 per kilogram naik 100 persen dari biasanya Rp4.000 per kilogram. “Ngeri kali naiknya harga tomat ini. Biasanya cuma Rp6.000-Rp8.000 per kilogram, sekarang naik mencapai Rp20.000 per kilogram,” kata salah seorang ibu rumah tangga, Nisa, yang berbelanja di Pasar Meranti Medan, Senin (13/1). Mak Pinondang, salah seorang pedagang di Pusat Pasar Medan mengatakan, kenaikan harga tomat dan wortel ini dikarenakan pasokan dari Tanah Karo berkurang akibat erupsi gunung Sinabung. “Pasokan saat ini masih ada dari Sidikalang, Aceh, dan sebagian dari daerah Kabanjahe yang tidak terkena erupsi Sinabung,” ujarnya.

Selain tomat dan wortel, harga kebutuhan pokok lainnya seperti sayur-mayur di beberapa pasar tradisional di Medan belum normal. Erupsinya gunung Sinabung masih menjadi faktor utama penyebab belum stabilnya harga sayur dan kebutuhan pokok lainnya. Seperti di pasar Pringgan Medan, cabai merah sempat naik dari Rp25 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram beberapa waktu lalu, dan Senin kemarin kembali turun menjadi Rp55 ribu perkilogram. “Harga sayuran belum normal. Harganya masih naik turun terus,” ujar salah seorang pedagang. Untuk bawang merah masih bertahan di harga Rp35 ribu, tomat Rp18 ribu, kol naik dari Rp4 ribu menjadi Rp6 ribu per kilogram. Wortel naik dari Rp6 ribu menjadi Rp10 ribu per kilogram. “Sudah hampir tiga bulan ini pedagang sayur sangat terpukul karena sepinya pembeli. Harga sayuran mahal, sudah mahal tetapi tidak segar. Apalagi sayuran yang berasal dari Berastagi, banyak debu dan warnanya tidak segar,” ungkapnya. Dia mengatakan, minat beli masyarakat juga menurun. Biasanya pembeli membeli cabai setengah hingga 1 kilogram, kini hanya membeli per ons saja. “Banyak pembeli yang protes. Tapi mau bagaimana lagi. Kita juga beli sudah mahal dan kualitas memang seperti itu,” katanya. (m41)

Waspada,selasa 14 januari 2014  
Waspada,selasa 14 januari 2014  
Advertisement