Page 18

Cemerlang

B10 Kisah Senja Di Jembatan Tua Cerpen: Sulaiman Rambe ANGIN berhembus menerpa wajah seolah merontokkan seluruh kekecewaanku yang tiada kunjung berkesudahan. Melesat dari celah dedaunan yang kering di musim kemarau yang berkepanjangan. Tidak hanya melanda mahluk hidup yang ada di bumi, namun merasuk hingga ke relung jiwa. Hujan pun nian enggan menitiskan sepercik air hanya sekadar tuk mengobati kerinduanku padanya. Rindu yang telah lama kupendam dalam gejolak asmara yang kian memudar. Di sudut jembatan itu, kulihat engkau menitiskan bulir kerinduan. Isak tangismu pecah menyeruak membelah angkasa. Sisa air mata masih membekas di sudut matamu sebab sinar matahari telah lama memudar dan secara perlahan meredup hingga tak tampak seberkas pun. Kudapati kabar dari angin yang bertiup, bahwa kini engkau telah bersemayamdibaliksentuhanhatinya. Burung cemara tiada lagi bernyanyi seperti biasa dalam menyambut indahnya pagi. Embun pun tiada pernah lagi berkunjung ke bumi hanya sekadar untuk membasahi rerumputan yang bergoyang ditiup angin di kala subuh menyapa.Segalarahasiayangkau simpan menuliskan luka di sepanjang abad yang temaram. Hinggakini,akutiadapercaya bahwa kau masih menyisakan secuil harapan untukku. Namun terkadang aku bertanya dalam hati, mengapa kau menelan semua kerikil tajam yang telah menghancurkan bulir cintamu. Sedangkan ia yang kau sanjung tengah asyik bercumbu bersama dengan cahaya bintang yang sengaja ia rahasiakan padamu. Sungai perih mengalir mengairi dunia anganku. Terkadang aku harus berhenti mengingat semua kenangan manis yang pernah kita jalani bersama. Aku juga harus mampu

menepissemuaharapanitutanpa menyisakan sedikit pun asa, agar kita saling bebas dan tidak ada kekangan untuk mencurahkan seluruh hasrat yang telah lama bersemayam dalam hati kepada siapa pun. Ah,semuainiakibatkepicikan kita masing-masing. Mengapa juga kala itu aku harus menuruti semua permintaanmu untuk berpisah denganku. Meskipun di kala itu kita sudah pernah melakukannya, namun di tengah jalan kita menuai ikatan itu lagi. Kalau terus-menerus seperti ini, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengerti arti kasih yang sesungguhnya. Kau tengadah, langit masih di ubun dan rindang kenanganmu bersama angin semilir yang berhembus. Khairunnisa, begitu aku memanggilmu. Namamu indah, seindah wanita dibalut tasbih kesucian, namun mengapa hatimu tidak secantik namamu. Dunia memang seperti itu, fana dan menipu. Segala sesuatu yang terasa indah di mata belum tentu indah pada yang sesungguhnya. Semuanya laksana fatamorgana. Dari kejauhan, ia seperti memberi seberkas harapan, namun ketika ditelusuri, ia menghilang tanpa meninggalkan jejak. Jembatan itu menjadi saksi bisu pertemuan kita. Pertemuan yang sangat jarang terjadi dan sungguh aneh bagiku. Sebab aku tidaktahudimanakeberadaanku. Seakan semua terjadi secara tiba-

tiba seperti sebuah skenario yang telah di susun rapi oleh sang sutradara. Juga kau terlihat begitu aneh bagiku, kau sudah berada di sana tanpa ku sedari asal muasalmu dandarisudutmanakaumemulai perjalanan hingga sampai ke jembatan tua itu. Di sana kau berdiri sendiri laksana patung penjaga castle yang setia menunggu sang raja. Kau menawarkan senyuman pada sang raja yang berlalu dengan membungkukkan badan sambil menyapa penuh takzim. Embun menyelimuti pagi itu dengan sedikit cahaya mentari, cahaya sisa semalam. Kita berdua berdiripadasisijembatandengan arah saling berhadapan. Ku tatap wajahmu yang di balut kabut, aku tiadamengenalmuseakantempat yang tengah ku jejali bukanlah planet bumi, melainkan planet Pluto yang jauh dari terpaan sinar matahari. Di sana kita tidak mengenal satu sama lain. Kau bersikap acuh tak acuh terhadapku. Tidak sepatah kata pun terbersit dari pucat bibirmu yang di telan kabut embun. Kau begitu asing bagiku, begitu juga denganmu. Kita tidak saling bertegur sapa, seolah kita adalah bukan diri kita sendiri. Kala itu aku melihatmu meringis, menangis sendiri tanpa ada yang menemani. Aku tertegun dan tidak mengerti apa yang harus aku lakukan. Sempat tersemburat angan dalam benak untuk mengusap bulir kesedihan itu, namunentahkenaparasanyaada suatu kekuatan dari dalam diri yang bersikeras menahanku untuk tidak melanjutkan langkah

itu.

Saat aku tersendat dalam mengayuh langkah menuju arahmu, kau melemparkan senyumpadaku,senyummuyang dulu indah, sekarang telah sirna ditelan kabut kepedihan. Kau menumpahkansegalakeresahanmu pada jembatan itu. Perlahan kupaksa kaki ini untuk tetap bisa melangkah mendekapmu. Setengah perjalanan, langkahku terhenti dan bibir ini secara perlahan berucap. “Apa yang kau lakukan di sini dan mengapa kau menangis?” Ucapkumengawalipembicaraan. Hening sejenak. Kutungggu hingga kau memberi jawaban, namun kau enggan mengeluarkan sepatah kata pun. Kusandarkan tangankupadapunggungmu, mencoba untuk membantu mengurangi beban pikiranmu yang telahterkubursejaklama.Sejenak kau berbalik arah menolehku. Kutatap bulir kesedihan itu jatuh satu persatu membasahi lantai bumi. “Mengapa kau baru datang sekarang, tidakkah kau tahu, selama ini aku dilanda kemarau asmara, kering tanpa bulir hujan kasih?” Ucapnya sembari menangis pelan. Sekarang aku yang dilanda kebisuan. Tiada jawaban sedikitpun terbersit dari bibirku. Namun, aku merasa sedikit kecewaketikakaubertanyaseperti itu. Seharusnya aku yang melontarkan pertanyaan seperti itu padamu. Kemana kau selama ini, bukankah aku yang tengah dilanda kemarau ketika kau meminta untuk berpisah dariku dengan dalih yang sama sekali tidak masuk akal.

Semenjak kau bergabung menjadi salah satu anggota pengajian itu, kau berkata bahwa kau merasa tiada pantas menuai cinta di atas keimanan. Awalnya aku maklum dengan keadaanmu bahwa jika memang tuntutan pengajian seperti itu, namun di balik alasan itu, aku tahu bahwa kau menyimpan seberkas sinar yang mampu menerangi gelapnya hatimu. Di kala itu, hatiku perih laksana sembilu menyayat luka ditambah dengan tetesan asam yang semakin memperparah luka ini. Namun, sekarang kau bersimpuh di kakiku, mengharap kuterima cintamu. Setelah pintu hatiku terbuka mengapa kau berpaling dariku. Kini dalam kesendirianku, kucoba melupakan wajahmu. Dalam hati kecilku menyesali mengapa jatuh cinta padamu.Setelahsemuakaumiliki begitu mudahnya kau ingkari. Begitu teganya dirimu melihatku begini, di keramaian aku merasa sepi. “Mengapa kau diam membisu?” Ucapmu memecah lamunku. “Ah, tidak ada apa-apa,” balasku diselingi senyuman ala kadarnya. Hening kembali menyelimutisuasana.Senjamulai kelihatan menggantikan cahaya matahari yang semakin pudar. Awan yang menggantung di atap langit secara perlahan menghilang. Hanya tinggal setitik senja yang tertinggal, itu pun sebentar lagiakandijemputoleh dinginnya malam. Dalam pertemuan kita kali ini, tidak banyak perbincangan yang kita ciptakan. Diam seribu bahasa tanpa kata. Kita laksana melukis alam di balik kelam. Melakukan pekerjaan sia-sia. Hanya berdiri pada sisi jembatan dan tidak saling mengenal. Jembatan pun sudah merasa bosan menyaksikan kita berdua. Hanya isak tangismu yang disaksikan oleh jembatan itu. Kini malam telah menyapa bersama ribuan cahaya yang bertebar di atap langit yang cerah. Dalam keheningan malam, kau kembali mengukir seberkas kenangan hitam antara kita berdua di masa lalu. Kembali kau merajut benang merah yang telah berubah menjadi hitam kelabu di bawah renyahnya sinar gemintang.

Kucoba untuk melupakan semua hal yang kau ucapkan dan berpura-pura tidak mendengar semua kata itu. Namun kau tetap memaksaakuuntukmendengarkan curhatanmu. Bukan hanya itu, kau juga memaksaku untuk mengertikeadaanmusaatiniyang tengah bersedih akibat ditinggal oleh sinar mentari yang kau sanjung selama ini. Kau bermohon dengan mengukirsujuddiatastanahyang lembab. Sembari bermohon kau menggenggam erat lenganku denganharapanagarakukembali menerimamu dan kita kembali menjalin asmara yang sempat tertumpah di atas genangan bulir kasih hingga ikut terhanyut menuju muara perih. Ditengahsujud,darikejauhan terdengar suara yang begitu kuat menghentak bumi dengan alunan nada yang memecah gendang telinga. Ah, seperti suara kereta api, ucapku. Selang beberapa menit, ternyata ucapanku benar. Kereta api itu kini benar-benar telah berada di hadapanku. Namun, ini juga sungguh ajaib bagiku. Bagaimana tidak, Kereta api tibatiba muncul begitu saja tanpa aku memesannya. Apakah kereta itu juga menjadi bagian dari skenario ini. Namun sangat ganjil bagiku, sebab di atas jembatan itu, ada kereta melintas tanpa rel dan masinis. Aku tidak menghiraukan hal itu lagi. “Bukankah dunia ini memang penuh dengan keajaiban?” Gumamku dalam hati. Di kala kereta api ingin beranjak meninggalkan tempat itu, entah mengapa tiba-tiba kakiku terasa ringan untuk dilangkahkan.Tanpa pikir panjang aku melangkah menuju kereta dan ikut bersamanya. Kulihat dari sisi kaca kereta, engkau tertunduk menyesali segala perbuatanmu selama ini yang telah menelantarkan aku seorang diri. Tangismu pecah semakin membahana. Kau ingin ikut bersamaku, perlahan kau menjulurkan tanganmu sambil berlari kecil mengejarku dengan harapan aku akan menggenggamnya. Namun genggaman itu kutepis tanpa menoleh ke arahmu. Aku melaju bersama keretadenganmenyisakansedikit rasa iba. Isak tangismu perlahan menghilang bersama kereta yang melaju kencang. ***

WASPADA Minggu 5 Januari 2014

Puisi Puisi Karya: Arief Sinaga

Subuh Mencari Ibunya Subuh menghadiri upacara semu bergema dawai gitar dari Pak lek tentang sebuah peradaban yang menyisakan satu-dua tarian saja. Di samping rumah Pak lek berdiri spanduk-spanduk para caleg yang entah darimana ia muncul serta bersedia mewakilkan kita semua. Bila pagi membangunkan matahari seperti apakah rupiah yang terbang menemani hari si miskin yang lara padahal kita semua paham, politik negri ini adalah pembunuh yang menyiksa secara perlahan. Gerombolan bayi tanpa ibu menyusuri sungai benalu di antara subuh, ia menangis mencari ibunya dan kita adalah bayi itu, sambil menangis kita bertanya Di mana ibu ? Di mana Ibu ? Di mana aku ? Karya: Siska Elvira Sari Hasibuan

Terhanyut Sendu Senja bukan jadi penghalang Penghalang untuk kita tetap menyapa Menyapa dalam sendu yang amat dalam Dengan alunan yang telah putus di tengah jalan Hariku semakin hampa Ketika kau berpaling dan tak lagi menyapa Cintamu yang dulu tulus Kini bagaikan daun yang telah mengering Tak mampu aku menatap bening matamu Yang akan membuat ku terhanyut dalam kalbumu Dan membuat ku Tak bisa menghapus mu dari benak ku Sekarang akan ku tutup lembaran mihrabku Agar semua anganku Tak lagi ternoda oleh mu

Karya: Dian Novita Sari

Pesan Tempo Hari Di detik ini pernah tersemat janji Ketika langkah pertama kali mengurai mimpi Engkau titip asa dalam diri Kelak membawa serta pulang matahari Dan kini aku kembali Membawa pesanmu tempo hari Lalu, kenapa kau terus memaling muka Membuatku salah tingkah Bahkan detak di jantungmu tak lagi terasa Aku masih butuh ayah

Wakili Sumut Siswa YPSA Serahkan Ulos Pada Abu Rizal Bakrie

Waspada/Ist

Kepala SMAN 1 Medan saat menyerahkan bantuan untuk pengungsi diterima perwakilan di posko Komplek UKA.

SMAN 1 Medan Peduli Pengungsi Erupsi Gunung Sinabung DAMPAK meletusnya Gunung Sinabung mengakibatkan 18.000 ribu jiwa lebih penduduk sekitar Gunung Sinabung harus diungsikan dan ditempatkan di beberapa tempat pengungsian . Bencana tersebut telah menyentuh hati keluarga b esar SMA Negeri 1 Medan melakukan pengumpulan secara suka rela bantuan yang dilakukan Tim Relawan Siswa SMA Negeri 1 Medan dengan Thema “SMA N 1 Medan Peduli Sinabung.” Belum lama ini keluarga besar SMAN 1 dipimpin langsung oleh Kepsek Drs. H. Ahmad Siregar, MM didampingi,Waksek Drs A.S. Sormin, M.Pd, dan Syawal Ritonga, S.Pd. dan Staf (11 orang) dan Pengurus OSIS dipimpin oleh M. Fahrurrozi, Fachri bahrum dan TIM Siswa dipimpin Meralda dan 6 orang siswa lainya menyerahkan bantuan ke lokasipengungsianyangberadadikompleksUniversitas Karo (UKA). Bantuan berupa : Beras 57 nkarung (570 kg) Mi Instan (29 kardus), Gula dan kacang hijau (3kardus), Minyak Goreng (4 kardus dan 1 diriigen), Garam (1 kardus), Telur 1 papan, Pasta Gigi Sabun (1 kardus), ikan asin (2 karung = 15 kg), Biskuit 1 kaleng Obat-Obatan 1 kardus dan susu untuk anak-anak. Bantuan itu diterima oleh perwakilan pengungsi dan didata di Posko

pengungsian, mewakili pengungsi, Ginting . Dia menyampakan terima kasih atas bantuan tersebut dan mohon doa dan dukungan agar tabah menjalaninya dan kejadian ini segera pulih biar kami bisa kerja lagi . Dalam salam sambutannya Drs H. Ahmad Siregar,MM menyampaikan Keluarga Besar SMA N 1 Medan turut prihatin atas dampak letusan gunung sinabung, untuk itulah siswa, orangtua siswa dan guru pegawai secara spontanitas mengumpulkanbantuanini.“Walaupuntidakseberapa mudah-mudahdapatmenringankanbebanseluruh keluarga yg di pengungsian ini. Semoga sekolah lain dapat melakukan yang sama, dan semoga kejadian ini segera berakhir , seluruh pengungsi dapat segera kembali ke rumah masing-masing,” kata Ahmad Siregar. Bantuanituditerimaolehperwakilanpengungsi dan di data di Posko penmgungsian. Mewakili pengungsi Ibu Ginting menyampakan terima kasih atas bantuan yg diterima dan mohon doa dan dukungan agar kami tabah menjalaninya dan kejadian ini segera pulih biar kami bisa kerja lagi . Anum Saskia

WAKILI Sumut siswa-siswi YPSAserahkanUloskepadatokoh Nasional Abu Rizal Bakrie dalam kegiatan Indonesia Student & Youth Forum 5 atau lebih dikenal dengan Forum Pelajar Indonesia 5 (FOR 5) yang diadakan di Jakarta belum lama ini. Francois Fredly Africo Saragi yangmenyerahkanlangsungulus tersebut kepada Abu Rizal Bakrie mengaku sangat senang dan bangga mendapat kesempatan bertemudanbertatapmukaseara langsung dengan tokoh nasional tersebut. Penyerahan ulos dilaksanakanpadasuatukegiatanpertemuan dengan Abu Rizal Bakri yang merupakanbagiandarirangkaian kegiatan ForumPelajarIndonesia yang dikuti siswaYPSA yaitu bertemu dan berdialog langsung dengan tokoh-tokoh nasional. Ida Rahmadhani Siregar, S.Pd., guru pendamping yang mendampingi siswaYPSA dalam kegiatan Forum Pelajar tersebut mengatakan selama kegiatan siswa-siswi di Forum Pelajar sangat padat. Selain berjumpa dan berdialog dengan para tokoh

nasionalsiswajugamenampilkan tarian Batak di hadapan para peserta Forum Pelajar tersebut. Kegiatan lainnya seperti Workshop Keterampilan, kunjungan perusahaan, lembaga negara seperti DPR/MPR, museum danlainnya. Sosialisasitopik-topik gerakan Bundaran HI, media nasional dan lokal, penanaman pohon,baktisosial,diskusikelompok, working group, pentas budaya nusantara, dan lain-lain. Menurut Kepala SMA YPSA Rudi Sumarto, S.Si., mengaku bangga dengan keberhasilan siswanyamengikutikegiatanyang sangat banyak manfaatnya bagi siswa ke depan. Sebab Forum Pelajar Indonesia merupakan kegiatan yang menyediakan ruang seluasluasnya bagi pelajar tingkat SMA, SMKataupunMAuntukberkreasi dan berinovasi menyampaikan ide dan gagasan mereka baik kepada masyarakat, pemerintah ataupun kepada pelaku bisnis. Sehinggainitentunyamerupakan suatu pengelaman yang sangat membanggakan khususnya bagi siswa YPSA.

Waspada/Ist

SISWA YPSA bersama dengan tokoh nasional Abu Rizal Bakrie dalam kegiatan Forum Pelajar Indonesia ke 5 yang dilaksanakan belum lama ini. DiaberharapsiswaYPSAlainnya untuk terus menggali potensi diri dengan cara turut serta di dalamberbagaiajangyangdiselenggarakan baik di tingkat lokal maupun tingkat nasional bahkan ke tingkat internasional, karena me-

nurutnya YPSA selalu berusaha untuk mendorong siswanya untuk berkreatifitas. “Kita selalu membuka ruang yang selebar-lebarnya kepada siswa yang mempunyai potensi untuk berkreatifitas dalam rangka

mengembangkanpotensidirinya, karena itu merupakan tujuan dari pendidikandan dalam rangka menciptakan generasi emas yang religius,” ungkap Rudi. Erzilmarkos

Standar Kompetensi Tingkat Kualitas Lulusan PT

Waspada/Ist

PARA dosen dan segenap civitas Akademika Universitas Dharmawangsa saat menggelar rapat kerja penyusunan standar Kompetensi dan Kerangkat Kualifikasi Nasional Indonesia di Aula Kampus itu baru-baru ini.

STANDAR kompetensi sangat dibutuhkan dalam sebuah Perguruan Tinggi (PT) agar para lulusannyadapatditerimaditengah-tengahmasyarakat sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri (Kepmen) No, 73 tahun 2013, yaitu setiap perguruan tinggi harus memiliki standar kompetensi keilmuan. Hal itu disampaikan Rektor Universitas Dharmawangsa (Undhar) Kusbianto, SH,M.Hum saat menggelar rapat kerja penyusunan standar Kompetensi dan Kerangkat Kualifikasi Nasional Indonesia yang dilaksanakan di Aula Kampus itu dan dihadiri seluruh Pembatu Rektor, dosen, dan seluruh Civitas akademika Universitas Dharmawangsa “Dengan adanya standar kompetensi Perguruan Tinggi tersebut kedepannya setiap Ijazah yang dikeluarga oleh sebuah perguruan tinggi harus disertai surat keterangan terkait kualifikasi atau kemampuan seorang mahasiswa terhadap suatu bidang ilmu,” ujar Kusbianto.

Dengan kegiatan rapat kerja ini diharapkan nantinya akan tercapai suatu rumusan tentang standar kompetensi untuk membekali ijazah mahasiswaUniversitasDharmawangsayangtelahmenyelesaikan pendidikannya. “Misalnya, seorang mahasiswa tamatan Program Studi Hukum. Maka selain ijazah mahasiswa tersebutjugaharusdibekalisertifikattentangstandar kompetensinya.Dengan demikian jika mahasiswa tersebut hendak menjadi pengacara, maka sertifikat tersebut dapat dijadikan sebagai nilai plus, sehingga masyarakat yang akan menggunakan jasanya juga lebih yakin,” jelas Kusbianto. Tentunya orang-orang yang memiliki standar kompetensi tersebut juga harus benar-benar mengaplikasikan ilmunya dengan sebaik-baiknya, sebab Kepmen tersebut juga sebagai upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia sehingga bisa lebih berguna dan berdaya saing. Erzilmarkos

Bangkitkan Gairah Membaca Si Penulis Buku Lokal Terbitkan Buku Cerita Lawas UNTUK membangkitkan gairah membaca pada pelajar SD s/d SMA, Guru SMA Negeri 1Tanjungmorawa Farizal Nasution (foto) guru BP kembali menerbitkan cerita-cerita baru tentang kebudayaan lokal. Untuk saat ini, lanjutnya, dirinya telah menerbitkan buku cerita rakyat dengan judul Putri Pinang Mancung, Kapur Barus, Asal Mula Kerajaan Serbayaman

Sunggal, PutriTelaga Hijau, HikayatDariDeliTua,AsalMulaTanjung Sari,PutriHijauSeorangPanglima Besar dan Raja Sejagat, Nias Negeri Sembilan Cerita, KisahTujuh Putri Karo, Cerita Pande Bosi, Tongkat Emas, Kisah Goa Kemang,HikayatPutriMinakJingga, Asal Usul Tanjung Gam-bus, Kisah Pa-wang Terna-lem, Asal Usul Kotanopan, Kisah Si Tambun Raja, Asal Usul Kapur Barus,

Cerita Datu Cagar Alam, Asal Usul Desa Naga Lawan dan Desa Naga Kisar, Batu Mengerang, Bordah, Hikayat Cikampak Kerajaan Torgamba, Legenda Raja Uti, Marsingkam, Si Tongat, Si Bisuk Na Otto, Si Kantan Menemukan Rebung Emas, dll. Sebagai bukti penulis cerita rakyat Sumut menjuarai lomba menulis naskah cerita rakyat SumutdiBadanPerpustakaan,Arsip

danDokumentasiProvinsiSumatera Utara tahun 2006 juara I, 2007 juara III, 2008 Juara II, 2009 Juara III, 2010 Juara I, 2012 Juara II. BahkanFarizalNasutiondianugrahkan PemustakaTerbaik IITingkat Provinsi Sumatera Utara, selain menulis cerita rakyat beliau juga menulis berbagai persoalan yang terdapat di dalam kehidupan ini. Dari kegiatan menulis tersebut beliau mendapat berbagai

prestasi seperti tahun 1992 dan 1993 juara III dan II lomba karya tulis bidang kependudukan dan lingkungan hidup yang digelar Kanwil Depdikbud Propinsi Sumut, Juara Kedua Lomba PenulisanOpiniLingkunganHidupbagi Tenaga Pendidikan dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2002 yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Pascasarjana USU, Juara II Penulisan

artikel Lingkungan dalam rangka lombapenulisanartikeldanberita lingkungan untuk triwulan I (April s.d. Juni 2001) oleh Bapedalda SU, Juara III Penulisan artikel lingkungan untuk triwulan III (Oktober s.d. Desember 2001) Bapedalda SU, tahun 1992 juara satu lomba karya tulis peringatan hari Ibu ke-64, tahun 2000 juara III Lomba Kreasi membuat modul pendidikan untuk guru SMU Propinsi

Sumut yang diselenggarakan Yayasan ZPG Indonesia bekerjasama dengan Yayasan KeanekaragamanHayatiIndonesia.tahun 1996 Pemenang I Fiksi SLTA pada sayembarapenulisannas-kahyang diselenggarakanPusatPerbukuan Depdikbud, juara II dan III lomba karyatulisnaskahceritarakyattahun 1999 dan 2000. Tahun 2004 juara II(JuaraItidakada)lombaPantun Perang Sunggal. * Hamzah

Waspada, minggu 5 januari 2013