Page 10

Keluarga

B2

WASPADA Minggu 5 Januari 2014

Dra Juliani

Warisi Semangat Mendidik Agama Dari Orang Tua KEBAHAGIAAN terpancar dari wajah Azizah SPdI, guru Akidah Ahlak di MTsN 1 Medan. Ia termasuk guru yang menerima satya lencana karya satya saat peringatan Hari Amal Bakti Kementerian Agama di Asrama Haji Pangkalan Mansur Medan. Penduduk Jln Pertahanan Dsn 2 N0 33 Patumbak menyebutkan bahwa penghargaan ini buah dari kinerja yang dia lakoni selama 20 tahun menjadi guru. Bertemu dengannya usai menerima penghargaan, perempuan yang sudah menjadi guru sejak tahun 1985 di Yayasan T.H.Aziddin di Jln Panglima Denai Medan, mengaku bahagia atas anugerah yang dia terima ini. Meskipun dia harus lebih giat dan meningkatkan kinerja untuk mempertahankan prestasi yang dia raih. “Saya dibesarkan oleh keluarga berlatar belakang pendidikan. Karenanya, pilihan saya menjadi guru sangat tepat. Meneruskan apa yang sudah dirintis oleh ayah saya, HT Aziddin yang selalu mengharapkan anak-anaknya memiliki kemauan yang kuat untuk menjadi guru. Sayapun memilih sekolah guru yakni PGA dan melanjutkan pendidikan di Tarbiyah IAIN. Selanjutnya saya berusaha mengembangkan pendidikan dari dasar (Raudathul Athfal) setingkat dengan Taman Kanak-kanak. Sekolah yang mengutamakan pengetahuan agama yang kami rintis mulai nol, akhirnya berkembang. Kalau di Yayasan Aziddin kini tingkatan sekolahnya sudah sampai Madrasah Aliyah,” paparnya. Meski sudah mantap sebagai pengelola yayasan, tetapi Juliani tidak ingin terpaku pada lembaga pendidikan yang dirintis bersama keluarga besarnya. Tahun 1991, saat dia lulus menjadi PNS dan ditempatkan di MAN Diri Sidikalang, diapun merasa sangat beruntung. Meski jauh dari kota Medan dan keluarga besarnya, namun dia yakin bahwa menyebarkan ilmu pengetahuan adalah tugas mulia dan harus dijalani dengan ikhlas. “Setelah bertugas di MTsN 1 Medan, saya dan suami (Syafril Lubis SAg ) merancang untuk mengelola sekolah madrasah. Setelah itu kami membangun sekolah Raudathul Athfal di Patumbak. Alhamdulillah, sekolahnya mengalami perkembangan pesat dan muridnya terus bertambah. Bagi saya, penambahan murid menjadi tantangan tersendiri, karena harus mempersiapkan model dan sistem mendidik yang tepat agar siswa yang lulus, dapat mengamalkan ilmu yang mereka peroleh selama belajar di sekolah,” ucapnya.

Dra Juliani bersama suami Syafril Lubis SAg

Ibu dari Muhazib, Namira dan Masdalinda ini mengakui jika salam mengajarkan ilmu kepada peserta didik sangat perlu memberikan contoh. Selain itu, selalu memberikan perhatian khusus kepada anak agar apa yang disampaikan tidak terlupakan atau diabaikan begitu saja. “Kalau ilmu ahlak tentu saja langsung memberikan penilaian pada anak terkait tingah lakunya. Tak dapat dipungkiri bahwa prilaku yang negatif mudah sekali dicontoh oleh anak, karenanya perlu penyamapaiannya terus menerus dan menunjukkan Bersama para guru dan pejabat di lingkungan sikap atau prilaku yang baik kepada kementerian agama Sumut usai menerima mereka, agar langsung dicontoh,” penghargaan di Asrama Haji Medan. paparnya. Seiring perkembangan waktu, tekadnya untuk menjadi penyelenggara pendidikan agama terus menuai sukses. Bahkan saat ini telah ada Yayasan Bidayatul Hidayah yang ia kelola untuk lembaga pendidikan agama tingkat dasar (RA) di Jln Panglima Denai, Jln Pendidikan Psr 10 Bandar Khalifah, kemudian di Jln Makmur Gg Ujungbatu Tembung dan di Jln Pertahanan Dsn II No 33 Patumbak. “Saya merasa bahagia dapat mengelola lembaga pendidikan dari tingkat dasar. Tempat yang menjadi sarana pembelajaran pada diri anak sejak dini, sehingga mereka mempunyai bekal agama yang kokoh dan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya, karena sudah memiliki bekal dari sekolah agama. Mudah-mudahan mereka akan tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang kuat dan kokoh karena sudah bisa memfilter mana yang baik dan buruk untuk dijalani dalam mengharungi kehidupan,” tuturnya. Naskah dan foto : Anum Saskia

Konsultasi Hukum Perkawinan Dra Jenny Heryani

Inginkan Perda Perlindungan Hak Penyandang Disabilitas PENGURUS Persatuan tuna netra (Pertuni), Dra Jenny menyebutkan, Perda Perlin-dungan hak penyandang disabilitas (cacat) sangat diperlukan para penyandang disabilitas, agar berbagai kesempatan dan kesamaan hak yang seharusnya didapat oleh penyandang disabilitas dapat mereka rasakan. Saat ini, kata Jenny, mesku sudah ada Undang-undang No 4 tahun 1997 tentang penyandang cacat yang mencakup kesempatan yang harus dipenuhi pemerintah untuk penyandang cacat, hingga kini belum seluruhnya teralisasi. “Kami berharap dengan semiloka ini lebih mempercepat proses pengesahan Perda oleh DPRD untuk menjamin hak-hak kami sebagai penyadang disabilitas,” kata Jenny yang menyebutkan diskriminasi terhadap kaimnya masih saja terjadi utamanya bidang pekerjaan dan fasilitas yang belum memadai. Jenny juga menyebutkan sebagai organisasi penyandang disabilitas, Pertuni, akan berupaya memperjuangkan kepentingan kaum disabilitas agar dapat berperan aktif dalam pembangunan dan menikmati hasil pembangunan sebagai warga negara yang seharusnya punya hak yang sama dengan masyarakat lainnya. Keinginan Jenny dan penyandang disabilitas laiannya terungkap dalam kegiatan semiloka sehari para penyandang disabilitas, diselenggarakan DPD Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Sumut. Kegiatan berlangsung di Hotel Putra Mulia Medan, Senin lalu. Hadir Wakil Ketua DPRD Medan dari Fraksi PKS, Ikrima Hamidi, Ketua DPD Pertuni DR Didi,pengurus dan anggota Pertuni se Sumatera Utara. 2015 Terealisasi Wakil Ketua DPRD dari Fraksi PKS, Ikrima Hamidi mengakui untuk pembuatan Perda tentang penyandang disabilitas ini boleh saja mereka usulkan ke DPRD. Tetapi, perlu satu suara dan draf yang jelas dan disepakati organisasi ini tentang Perda yang mereka maksudkan. Apalagi, yang tergabung sebagai disabilitas bukan hanya tuna netra, tetapai ada penyandang disabilitas lainnya.Sehingga dengan kesepakatan para penyandang disabilitas ini, DPRD bisa menerima seperti apa yang mereka inginkan. “Proses pengesahan Perda memang butuh waktu lama. Apalagi

Pengasuh : Dra. Hj. Erma Sujianti Tarigan, SH., MH. (Mediator Bersertifikat).

Z Pertanyaan alamatkan ke Email Litbang Waspada litbangwsp@yahoo.com atau sms ke 08126030294.

terjadi apabila sedari awal sudah dibicarakan dengan istri. Meskipun ayah kandung mereka sudah meninggal dunia, tentu saja masih ada pihak keluarga ayah kandungnya yang berkewajiban membantu menafkahi kelima anak tiri Sdra tersebut. Sebelum mengambil langkah ekstrim, bicarakan secara terbuka dengan istri seberapa besar kemampuan Sdra untuk menafkahi keluarga. Manalah mungkin Sdra memaksakan kemampuan untuk menafkahi semuanya sedangkan gaji tidak mencukupi untuk itu. Jika istri tidak terima atas kelemahan ekonomi Sdra, dan tidak ada titik temu, dan hal itu terus menerus menjadi masalah di dalam rumah tangga, barulah Sdra mengambil langkah ekstrim. Namun jika Sdra mempunyai kemampuan ekonomi, meski bukan merupakan kewajiban, secara moril sebaiknyalah Sdra menafkahi anak tiri tersebut, toh akan menjadi pahala yang besar bagi Sdra, sebab memberi makan hewan saja berpahala apalagi menafkahi manusia mahlukNYA. Carilah titik temu, hindari perceraian. Salam.

Istri Menggugat Cerai Suami saat ini menjelang Pemilu, pastilah anggota dewan sedang sibuk untu persiapan masa pemilihan. Tetapi, keinginan ini tidak akan diabaikan. Mereka tetap punya hak mengajukan Ranperda yang berkaitan dengan disabilitas dan pokok pikiran yang melandasi keinginan membuat Ranperda menjadi Perda. Kalau Pertuni bersungguh-sungguh, saya memperdiksi tahun 2015 akan tercapai,” kata Ikrima. Dia juga berharap kepada seluruh lapisan masyarakat untuk pro aktif terhadap penyandang disabilitas, terutama memenuhi peraturan yang memberi kesempatan penyandang cacat untuk bisa bekerja di perusahaan sesuai kemampuan yang dimiliki. Anum Saskia

Mengembangkan Kepribadian Unggul

Saat ini kita hidup dalam kehidupan yang kompleks, dimana orang menyebut sebagai suatu “era dunia tanpa batas”, menyentuh semua dimensi kehidupan, yang semula hanya berorientasi pada masalah ekonomi tetapi ternyata juga terjadi pada aspek kehidupan yang lain, yaitu aspek sosial dan budaya masyarakat. Manusia secara tidak sadar didorong untuk semakin memuja materi, konsumerisme, individualistik, dan dalam upaya mencapainya. Bergesernya peran dan fungsi lembaga sosial, lembaga perkawinan, dan peran keluarga sebagai media membentuk dan mentransfer nilai-nilai yang paling dasar bagi generasi yang akan datang, digantikan oleh institusi lain, terutana teknologi dan informasi yang mengatasnamakan modernisasi. Tidak ada satu bangsapun yang dapat menghindarkan diri dari pengaruh globalisasi ini, selain memutuskan dan memposisikan diri sebagai pemain atau penonton. Demikian disampaikan Ir Giwo Rubianto Wiyogo atau Sri Wuryaningsih, Pemerhati perempuan dan anak, mantan Ketua KPAI belum lama ini saat menjadi nara sumber dalam kegiatan seminar terkait pentingnya perempuan memiliki kepribadian yang unggul di Jakarta belum lama ini. Dalam paparannya dijelaskan, kondisi tersebut langsung atau tidak sangat berdampak pada kondisi kehidupan perempuan dan para pejuang perempuan masa kini. Faktanya perempuan masa kini mengadapi persoalan yang kian kompleks. Mulai kasus moral, pornografi, eksploitasi ekonomi, korupsi, eksplotasi perempuan di media, eksploitasi di pariwisata, dunia hiduran, trafiking, dan lain sebagainya. Di pihak lain, akibat arus globalisasi yang menggiring masyarakat pada arus informasi posisi perempuan semakin tertantang, karena ia tidak hanya mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi namun pada saat yang sama juga harus selalu berlandaskan pada moralitas. Dalam konteks bangsa dan negara, posisi perempuan se-

Z

Apakah Saya Wajib Menafkahi Anak Tiri? Tanya: Ibu Hj. ErmaYth, begini Bu, saya menikah dengan seorang janda anak 5 (lima), yang ditinggal mati oleh suaminya. Pertanyaan saya Bu, apakah saya wajib menafkahi anak tiri saya itu? Sedangkan ahli warisnya masih ada dua orang lagi, karena saya ekonomi yang kurang mampu menafkahi semua anaknya. Terus dia minta cerai, apakah harus saya ceraikan, apakah tidak? Saya mohon penjelasan dari Ibu. Terima kasih. Dari 085296894xxx Jawab: Buat Sdra yang baik hati menikahi janda dengan lima anak. Sebelum menikahinya tentu Sdra sudah dapat membayangkan hal-hal yang bakal Sdra hadapi dengan anak tiri tersebut. Terbukti saat ini Sdra merasa kewalahan untuk membelanjainya, padahal sikap kewalahan itu tidak perlu

Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd

Giwo Rubiyanto usai kegiatan seminar berpose bersama kaum ibu peserta kegiatan.

Hari ini masalah perkawinan semakin rumit sehingga angka perceraian mengalami peningkatan setiap tahun. Namun perceraian merupakan perbuatan halal yang sangat dibenci Allah SWT. Rubrik ini berupaya membantu mencari solusi agar perceraian dapat dihindari, sebab perceraian tidaklah selalu solusi terbaik bahkan bisa jadi menimbulkan masalah baru. (Red)

sungguhnya sangat strategis. Karena ia tidak hanya sebagai mitra suami, pendidik anak, namun pada saat yang sama juga sebagai bagian dari bangsa yang turut serta menentukan arah masa depan bangsa. Posisi perempuan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari apapun keadaan kondisi negara ini. Dalam ukuran apapun, perempuan menjadi bagian dari numerator dan denominator yang menggambarkan bagaimana keadaan bangsa ini ke depan. Karena jumlah perempuan cukup besar, maka adalah wajar jika isu perempuan seharusnya juga menjadi separuh dari isu kehidupan yang harus mendapat perhatian. Pengembangan kepribadian perempuan merupakan keharusan. Namun kepribadian yang seperti apa yang harus kita tuju. Jika kita berkaca terhadap Negaranegara maju, pengembangan kepribadian manusia yang paling efektif adalah melalui pendidikan. Memang prosesnya terjadi secara evolutif dan membutuhkan waktu cukup panjang. Namun memalui pendidikan merupakan treatmen yang sistematis dan progresnya cukup terukur. Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia yang berkualitas utuh, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa “kepribadian” sangat menentukan masa depan bangsa. Dengan demikian, untuk mewujudkan kepribadian perempuan yang unggul, (berkarakter) perlu keterlibatan semua komponen bangsa, termasuk para pejuang perempuan. Jadi, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan. Sebenarnya bangsa ini memiliki banyak calon pemimpina dan pejuang perempuan yang unggul dari aspek kecerdasan, namun apakah kita sudah berkepribadian?. Banyaknya persoalan kebangsaan, setidaknya menjadi pertanda bahwa pengembangan kepribadian yang unggul sangat mendesak bagi bangsa ini, jika kita ingin menjadi bangsa yang besar, kompetitif, dan bermartabat. Anum Saskia

Tanya: Aswrwb. Saya ibu rumah tangga, usia 38 tahun, mempunyai anak empat orang yang masih kecil-kecil. Masalah saya bu, suami selingkuh dengan wanita lain, sudah saya buktikan dan sudah saya lihat dengan mata-kepala sendiri. Saya tidak kuat menghadapi masalah ini, sebab sudah lama saya bertahan untuk tidak bercerai, namun suami saya tidak berubah. Masalah ini sudah saya sampaikan kepada keluarga suami namun mereka terkesan berpihak pada suami saya (anak mereka), karenanya saya sudah melayangkan Gugat Cerai di Pengadilan Agama. Apakah sikap saya tepat buk, mohon jawabannya. Terima kasih. Dari X di Medan. Jawab: Waalaikumsalamwrwb. Sebagaimana sering saya sampaikan di rubric ini, atau ketika memediasi orang yang hendak bercerai di Pengadilan Agama, bahwa sesungguhnya perceraian merupakan perbuatan halal yang sangat dibenci Allah Ta’ala, dan bahwa tidak ada pribadi yang sempurna, semua ada kelebihan dan kelemahannya. Bahkan untuk urusan rumah tangga saja kita tidak pernah tamat belajar (kalau sekolah ada tamatnya). Saat ekonomi sulit lain masalah yang dihadapi,

saat ekonomi makmur lain pula masalah yang datang, sehingga hidup ini tidak akan pernah berhenti dari belajar, maka benarlah nasihat agama (Islam) bahwa belajar itu dari buaian hingga liang lahat. Buat Sdri yang sudah memajukan Gugat Cerai di Pengadilan Agama, yang dapat mengukur kemampuan Sdri menghadapi suami suka selingkuh, adalah diri Sdri sendiri. Sebab ada juga wanita yang mampu mendampingi suami yang suka selingkuh, dengan prinsip,”di luar suami orang di rumah suamiku,” atau “yang penting dia tahu jalan pulang ke rumah.” Barangkali kesabaran tanpa batas yang diperlukan dalam mendampingi suami yang suka mengulah/selingkuh. Namun jika Sdri sudah merasa tidak mampu dan sudah memajukan Gugat Cerai di Pengadilan Agama, toh sebelum palu diketuk hakim (memutuskan perkara) maka pintu untuk berdamai antara Sdri dengan suami masih terbuka. Bahkan meski sudah diputus oleh Hakim, jika suami Banding maka masih juga terbuka untuk berdamai dengan suami, toh masih jatuh Talak I (satu) Ba’in Sughra. Jika Sdri masih mau bersatu dengan suami, upaya lainnya adalah berdoa secara intensif, semoga Allah Ta’ala mengabulkan. Jika berdamai, perkara dapat dicabut di Pengadilan Agama. Jika betul-betul bercerai maka jadilah wanita yang mandiri, agar anak tidak terlantar. Salam.

Apa Saja Hak Saya ? Tanya: Aswrwb. Buk, saya sedang pikir-pikir untuk bercerai dari suami karena saya sudah tidak tahan dengan sikapnya yang buruk, ringan tangan, kurang bertanggung jawab, Narkoba, bekerja tidak tetap. Apakah anak saya (satu orang umur 3 tahun) bisa sama saya, dan apa saja yang saya minta bu? Terima kasih atas jawabannya. Dari X di Medan.

Jawab: Waalaikumsalamwrwb. Pertama-tama saya ingatkan bahwa perceraian adalah jalan terakhir jika semua pintu damai sudah terkunci, artinya Sdri sudah tidak mau lagi berupaya untuk memperbaiki kepribadian buruk suami Sdri. Baiklah, jika Sdri mengajukan Gugat Cerai maka yang Sdri minta adalah; Cerai, Hak Asuh Anak, Nafkah Anak (sampai si anak dewasa, mandiri atau usia 21 tahun), dan Harta Bersama (jika ada minta dibagi dua). Jika benar-benar bercerai maka bebaskan suami Sdri untuk bertemu anak, sebab perceraian tidak memutuskan hubungan anak dengan orang tuanya. Salam.

Waspada/Anum

JENGUK PESERTA KHITANAN MASSAL : Ketua Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Sumut, Hj Rosmawati Harahap Psi menjenguk dan memberikan dukungan peserta khitanan massal yang dilaksanakan orgnasasi ini bulan Desember lalu. kegiatan sekaligus untuk memberikan kemudahan dan keringan kaum ibu kurang mampu di Sumut, agar tidak mengeluarkan biaya saat mengkhitanan anak-anaknya, bahkan mendapatkan santunan dari penyelenggara digelar rutin oleh BKMT Sumut.

Waspada, minggu 5 januari 2013